Anda di halaman 1dari 22

SPESIFIKASI TEKNIS

Pasal 1
LINGKUP PEKERJAAN

1. Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah Pembangunan Tman Baca Masyarakat (TBM)
Beserta Perabotnya (SKB) Jl. Tanjung Keramat, Kel Dondo dengan lingkup pekerjaan sebagai
berikut :
1.1.1. Pekerjaan Persiapan
1.1.2. Pekerjaan Tanah dan Pasir
1.1.3. Pekerjaan Pasangan
1.1.4. Pekerjaan Plesteran dan Lantai
1.1.5. Pekerjaan Beton
1.1.6. Pekerjaan Kusen, Pintu, Jendela, ventilasi dan Jalusi
1.1.7. Pekerjaan Atap, Kap, dan Plafond
1.1.8. Pekerjaan Instalasi Listrik
1.1.9. Pekerjaan Pengecetan
1.1.10. Pekerjaan Akhir
2. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah mendatangkan segala bahan bangunan, peralatan dan
tenaga kerja serta pekerjaan-pekerjaan lain yang nyata-nyata ada kaitannya dengan pekerjaan
ini

Pasal 2
PENJELASAN TEKNIK

1. Lokasi atau Lapangan kerja akan diserahkan kepada Kontraktor dalam keadaan seperti waktu
pemberian penjelasan dengan membuat berita acara penyerahan Lapangan dan sebelum
memulai pekerjaan dianggap mengetahui benar letak, batas-batas Pekerjaannya.
2. Kontraktor wajib menyelesaikan pekerjaan hingga lengkap yaitu dengan membuat, memasang
dan menyediakan bahan-bahan, alat-alat dan sebagainya yang berhubungan dengan
pelaksanaan pembangunan tersebut.
3. Setiap pekerjaan yang akan dimulai kontraktor maupun yang sedang dilaksanakan kontraktor
wajib berhubungan dengan pengawas untuk menyaksikan sejauh tidak ditentukan lain untuk
mengesahkannya.
4. Penimbunan bahan-bahan dilapangan harus memenuhi syarat-syarat teknis serta dapat
dipertanggung jawabkan, dan tidak menimbulkan bahaya.
5. Dalam hal terdapat bagian pekerjaan tidak disebut dalam uraian ini, maka pelaksanaannya satu
dan lainnya sesuai dengan gambar atau menurut petunjuk direksi.
6. Jika terdapat perbedaan antara gambar dengan uraian ini, Kontraktor wajib menghubungi
Pengawas guna mendapatkan pemecahannya.
7. Jika terdapat gambar kerja dan penjelasan yang kurang atau kurang jelas kontraktor boleh
melengkapi atas petunjuk dan persetujuan pengawas.
Pasal 3
PEKERJAAN PERSIAPAN

1. Segera setelah Surat Perintah Kerja diterbitkan oleh Pemimpin Kegiatan, Kontraktor harus
membuat Direksi Keet (Kantor Direksi) yang berukuran 4 x 6 m dari bahan-bahan yang
sederhana, lantai dicor semen dan dapat dikunci dengan baik.
2. Kantor Direksi tersebut dilengkapi dengan kelengkapan - kelengkapan untuk mendukung
kegiatan/pekerjaan yang dianggap perlu anatar lain :
 Kursi dan meja tamu : Secukupnya
 Kursi dan meja Rapat : Secukupnya
 Kursi dan meja tulis : Secukupnya
 Kotak P3K : Secukupnya
 Papan tulis : 1 buah
 Tempat menempel gambar : 1 buah
 Almari kayu : 1 buah
 Kalender : 1 buah
 Kotak Obat obatan (P3K) : 1 buah
 Dan lain-lain yang menurut Direksi diperlukan
Pemborong diwajibkan menyediakan alat komunikasi agar hubungan antara Direksi Keet
Kontraktor dan Site Engineer dapat berjalan dengan lancar.
3. Ayat 1 dan 2 pada pasal 2 syarat Teknik ini merupakan tanggung jawab Kontraktor.
4. Untuk menampung tenaga kerja dan penyimpanan bahan-bahan material yang diperlukan,
Kontraktor harus membuat barak kerja dan gudang material yang memenuhi syarat, dapat
dikunci dan perletakannya mengikuti petunjuk Direksi.
5. Kantor Direksi, Barak Kerja dan Gudang Material tersebut pengadaan dan pembongkarannya
menjadi beban dan tanggung jawab Kontraktor, dan selanjutnya Kantor Direksi, barak kerja
dan gudang material serta perlengkapan direksi keet menjadi milik Kontraktor.
6. Kantor direksi, barak kerja dan gudang material tidak dibenarkan dibongkar sebelum pekerjaan
selesai, terkecuali atas perintah Pemimpin Kegiatan/Direksi.
7. Kontraktor harus membuat papan nama proyek berukuran 1,20 x 1,20 meter dari bahan
multipleks yang mencantumkan antara lain :

a. Intansi : .............................
b. Nama Kegiatan : .............................
c. Nama Pekerjaan : .............................
d. Tahun Anggaran : .............................
e. Sumber Dana : .............................
f. Jangka Waktu Pelaks. : .............................
g. Pelaksana/Kontraktor : .............................
h. Konsultan Perencana : .............................
i. Konsultan Pengawas : .............................

Pasal 4
BESTEK DAN GAMBAR

1. Kontraktor diwajibkan meneliti semua gambar-gambar dan bestek mengenai pekerjaan ini.
2. Bila ternyata ada perbedaan antara gambar dan RKS, antara gambar satu dengan gambar
lainnya maka yang berlaku adalah :

B e s t e k ( RKS ).
Gambar dengan skala yang lebih besar (detail).

3. Bila perbedaan itu menimbulkan keragu-raguan yang mungkin menimbulkan kekeliruan atau
bahaya dikemudian hari, Kontraktor wajib menanyakan terlebih dahulu kepada direksi untuk
mendapatkan ketegasan.

Pasal 5
RENCANA KERJA

1. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor harus menyusun suatu rencana kerja (jadwal
waktu pelaksanaan) sebanyak empat rangkap yang diajukan paling lambat dalam satu minggu
setelah diterbitkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), untuk diketahui dan disetujui oleh
Direksi.
2. Setelah rencana kerja disetujui Direksi, 3 (tiga) salinan untuk Direksi dan 1 (satu) salinan
ditempel pada ruang Direksi Keet.
3. Kontraktor harus mengikuti rencana kerja tersebut yang menjadi dasar bagi Direksi untuk
menilai prestasi pekerjaan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kelambatan pekerjaan

Pasal 6
PEKERJAAN PEMBONGKARAN DAN PEMBERSIHAN

1. Sebelum memulai pekerjaan Kontraktor harus membongkar bangunan yang lama serta bagian-
bagian bangunan yang akan direnovasi dan dibersihkan dari segala puing-puing dan brangkal-
brangkal yang terdapat pada lokasi pekerjaan.
2. Tanah-tanah yang berbukit harus diratakan, tanah humus pada permukaan tanah pada garis
bangunan harus dikupas, dan tanah kupasan harus dibuang keluar lokasi pekerjaan.
3. Jika pada halaman pekerjaan terdapat konstruksi atau utility yang masih berfungsi seperti pipa-
pipa, kabel-kabel, tiang-tiang listrik yang ada dibawah atau diatas tanah, Kontraktor harus
melindungi jangan sampai terjadi kerusakan selama pelaksanaan.
4. Apabila untuk pelaksanaan pekerjaan ini diperlukan kendaraan atau peralatan-peralatan lain
yang dipandang perlu untuk menunjang pelaksanaan, maka hal ini menjadi kewajiban
Kontraktor untuk menyediakannya dan seluruh biaya yang timbul menjadi beban dan kewajiban
Kontraktor.

Pasal 7
PENGUKURAN DAN PEMASANGAN BOUWPLANK

1. Pengukuran dan pemasangan bouwplank dilakukan sekaligus untuk seluruh site, agar
pengaturan perletakan bangunan tidak meleset serta menjaga kemungkinan perubahan-
perubahan atau pergeseran-pergeseran sesuai keadaan.
2. Untuk mendapatkan ukuran yang tepat sesuai rencana, pengukuran wajib dilaksanakan dengan
menggunakan waterpass dan atau theodolite.
3. Sebelum dipasang papan untuk bouwplank harus diserut rata dan lurus.

Pasal 8
TINGGI TITIK DUGA ( PEIL )

1. Ukuran tinggi titik duga (peil) 0,00 yang dinyatakan dalam gambar disesuaikan dengan keadaan
site.
2. Ukuran tinggi titik duga (peil) dinyatakan dengan suatu tanda tetap dan dipasang pada tempat
yang tidak mudah terganggu.
3. Pembuatan/pemasangan tanda tetap ini dikerjakan oleh Kontraktor dengan petunjuk dan
persetujuan Direksi/Pengawas Teknik.

Pasal 9
GAMBAR DAN UKURAN

1. Denah, tampak-tampak dan potongan-potongan dinyatakan dalam gambar-gambar rencana


arsitektur dan struktur, dan dijelaskan pula dalam gambar detail lengkap dengan ukuran-
ukurannya.
2. Apabila terdapat ketidakjelasan dalam ukuran pada gambar, maka Kontraktor wajib meminta
penjelasan dan petunjuk kepada Direksi/ Pengawas Teknik sebelum pekerjaan dilaksanakan.

Pasal 10
PENGADAAN BAHAN BANGUNAN

1. Bahan-bahan yang boleh ditempatkan didalam kompleks pekerjaan hanyalah bahan-bahan yang
disyaratkan dalam RKS maupun gambar-gambar.
2. Cara dan tempat penimbunan/penyimpanan bahan harus memenuhi syarat atau menurut
petunjuk Direksi/Pengawas Teknik.
3. Bahan bangunan yang dipakai adalah yang sesuai dengan kualitas dan kuantitas serta dimensi
yang disyaratkan dalam RKS maupun gambar.
4. Apabila suatu bahan yang disyaratkan tidak terdapat dipasaran, sebelum diganti Kontraktor
harus konsultasi terlebih dahulu dengan Direksi / Pengawas Teknik, dan penggantian bisa
dilakukan setelah ada persetujuan secara tertulis.
5. Penggantian bahan bangunan yang tidak terdapat dipasaran dengan bahan bangunan lain harus
setara/setingkat kualitasnya.
6. Bahan bangunan yang dinyatakan afkeur oleh Direksi/Pengawas Teknik karena cacat atau tidak
sesuai dengan persyaratan yang ditentukan harus segera dipindahkan dan dikeluarkan dari
kompleks pekerjaan selambat-lambatnya dalam waktu 2 x 24 jam.

Pasal 11
STANDAR YANG DIPAKAI

Semua pekerjaan yang ditentukan dalam dokumen ini mengacu dan harus mengikuti persyaratan
tersebut pada Bab II pasal 1 dan Standar Nasional Indonesia (SNI), Standar Konsep Nasional
Indonesia (SK SNI), Normalisasi Indonesia serta peraturan-peraturan Nasional dan Internasional
lain yang ada hubungannya dengan pekerjaan ini, seperti :

1. SNI 1728-1989; SKBI 1.3.53.1989, tentang Tata Cara Pelaksanaan mendirikan Bangunan
Gedung
2. SNI 03-1734-1989; SNI 03-1734-189-F, tentang Tata Cara Perencanaan Beton Bertulang dan
Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung;
3. SNI 03-3233-1992; UDC.674.048. tentang Panduan Pengawetan Kayu dengan Cara
Pemulasan, Pencelupan dan Perendaman;
4. SKBI-4.3.53.1987; UDC. 699.048.004.1. tentang Spesifikasi Kayu Awet untuk Perumahan
dan Gedung;
5. SNI 03-2404-1991; SK SNI T-05-1990-F tentang Tata Cara Pencegahan Rayap pada
Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung;
6. SNI 03-2410-1991; SK SNI T-11-1990-F, tentang Tata cara Pengecatan Dinding Tembok
dengan Cat Emulsi;
7. SNI 03-2417-1991; SK SNI T-08-1990-F, tentang Tata Cara Pengecatan Kayu untuk
Bangunan Rumah dan Gedung;
8. SK SNI S-04-1989-F tentang Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian C (Bahan Bangunan dari
Logam Besi/Besi).
9. SKBI 1.3.53.1987; UDC. 699.887 tentang Pedoman Perencanaan Penangkal Petir;
10. SNI 03-1735-1989; SKBI-2.5.53.1987, tentang Tata Cara Perencanaan Bangunan dan
Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung;
11. Standar Industri Indonesia ( SII );
12. Pedoman Plumbing Indonesia;
13. ASTM, JIS dll yang ada hubungannya dengan pekerjaan ini.

Apabila suatu persyaratan disebutkan secara khusus didalam persyaratan ini, maka ketentuan itu
yang harus diutamakan.

Pasal 12
PENGGUNAAN PERSYARATAN TEKNIS

1. Persyaratan teknis ini merupakan pedoman dalam pelaksanaan-pelaksanaan pekerjaan (yang


disebut sebagai proyek) termasuk seluruh bangunan-bangunan dan pekerjaan-pekerjaan
lainnya satu kesatuan yang tidak terpisahkan;
2. Kecuali disebutkan lain, maka setiap bagian dalam persyaratan teknis ini berlaku untuk
seluruh bangunan yang termasuk dalam pekerjaan proyek ini, disesuaikan dengan gambar-
gambar, keterangan-keterangan tambahan tertulis dan perintah-perintah direksi/pengawas.
3. Standar-standar utama yang dipakai adalah standar-standar yang dibuat dan berlaku resmi di
Negara RI, apabila tidak terdapat standar yang dapat diberlakukan terhadap pekerjaan tersebut,
maka harus digunakan standar internasional yang berlaku atas pekerjaan-pekerjaan tersebut
atau setidak-tidaknya standar dari negara produsen bahan yang menyangkut pekerjaan tersebut
yang diberlakukan.
Pasal 13
PEKERJAAN GALIAN

1. Lingkup Pekerjaan :

Pekerjaan Galian ini meliputi galian tanah untuk pondasi bangunan baru, Pondasi Poer dan
penambahan pondasi bangunan renovasi serta pekerjaan galian yang nyata-nyata tertera dalam
gambar dan syarat-syarat teknik ini.

2. Pelaksanaan :

2.1. Galian Tanah Pondasi Dimensi minimal sama dengan gambar atau maksimal sampai
mencapai tanah dasar/keras. Kecuali tanah dasar/keras melebihi dua kali dimensi yang
telah ditentukan, maka Direksi/Pengawas Teknik dapat mengambil kebijaksanaan untuk
merubah konstruksi dan atau dimensi tanpa mengurangi kekuatan.
2.2. Untuk menjaga keamanan pekerjaan, tanah galian dibuang sejauh minimal 1 meter dari
tepi lubang galian.
2.3. Jika pada galian terdapat air menggenang, harus dipompa keluar. Untuk ini Kontraktor
harus menyediakan pompa air yang siap untuk dipakai.
2.4. Semua tanah galian yang tidak dipakai harus diangkat keluar lokasi pekerjaan.
2.5. Apabila terjadi kesalahan dalam penggalian tanah untuk dasar pondasi sehingga dicapai
kedalaman yang melebihi apa yang telah ditentukan dalam gambar, maka kelebihan pada
galian harus diurug kembali dengan pasir, biaya akibat pekerjaan tersebut menjadi beban
Kontraktor.

Pasal 14
PEKERJAAN URUGAN

1. Lingkup Pekerjaan :

Pekerjaan ini meliputi semua penimbunan kembali bekas galian, urugan pasir bawah pondasi,
urugan pasir dibawah lantai, urugan tanah dibawah lantai, urugan tanah pilihan dan pekerjaan
urugan lainnya yang tertera dalam gambar.

2. Pelaksanaan :

2.1. Pada tempat-tempat tertentu untuk lokasi bangunan yang menurut Direksi perlu
ditimbun, maka Kontraktor harus menimbun sampai mencapai ketinggian yang
ditentukan, dengan menggunakan bahan timbunan yang cukup baik, bebas dari rumput,
akar-akar dan lain-lain serta harus mencapai nilai CBR minimal 4 % rendam air. Dalam
hal ini harus mengikuti petunjuk-petunjuk pengawas teknik.
2.2. Urugan kembali bekas galian harus disertai dengan pemadatan, sehingga minimal sama
dengan keadaan tanah sebelum digali.
2.3. Ketebalan lapisan urugan tanah yang diperkenankan maksimum 30 cm setiap lapis,
kemudian dipadatkan sehingga pada ketebalan yang ditentukan urugan tanah tersebut
mencapai tingkat kepadatan yang diinginkan.
2.4. Semua urugan pasir harus dipadatkan dengan penyiraman air, sehingga mendapatkan
angka kepadatan maksimal.
2.5. Pasir yang dipakai harus pasir kali dan bukan pasir laut, dengan persyaratan bahwa pasir
harus dalam keadaan bersih dari lumpur, tanah dan tidak mengandung garam atau
mineral lainnya.

Pasal 15
PASANGAN BATU GUNUNG/KALI

1. Lingkup Pekerjaan :

Bagian pekerjaan ini meliputi pasangan pondasi batu kali/gunung yang dibuat untuk pondasi
dibawah sloof, pasangan batu kali/gunung sebagaimana dinyatakan dalam gambar, dan
sebelumnya dibawah pasangan pondasi harus diberi urugan pasir dan batu kosong.

2. Material :

2.1. Batu kali/gunung yang dipakai harus dari jenis yang keras yang tidak keropos, serta
mempunyai gradasi baik dengan diameter maksimum 25 cm.
2.2. Adukan yang dipakai terdiri dari campuran 1 PC : 5 pasir.
2.3. Baik batu, pasir maupun air adukan yang dipakai pada pekerjaan ini harus bersih dari
lumpur dan kotoran-kotoran lainnya.
2.4. Kontraktor tidak dibenarkan menggunakan jenis batu lain kecuali atas izin Direksi.

3. Pelaksanaan :

3.1. Pekerjaan pasangan batu kali/gunung dilaksanakan sesuai dengan ukuran dan bentuk-
bentuk yang ditunjukan dalam gambar.
3.2. Setiap batu harus dipasang di atas lapisan adukan dan diketok ditempatnya hingga penuh.
3.3. Adukan harus mengisi penuh rongga-rongga antara batu, untuk mendapatkan massa yang
kuat dan integral.

Pasal 16
PASANGAN BATU BATA

1. Lingkup Pekerjaan :

Bagian pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, pemasangan untuk semua pasangan bata
seperti yang tertera pada gambar, pelaksanaan pemasangannya harus benar-benar mengikuti
garis-garis ketinggian dan bentuk-bentuk yang terlihat pada gambar dan disebutkan dalam
spesifikasi ini.
2. Referensi :

Persyaratan-persyaratan standar mengenai pekerjaan ini tertera pada PUBI N-3 1970 dan N-10
1973 dan SNI 1728-1989; SKBI 1.3.53.1989, tentang Tata Cara Pelaksanaan mendirikan
Bangunan Gedung
3. Material :

3.1. Batu bata yang digunakan harus baru, terbakar keras dan tidak patah-patah. Ukuran yang
dianjurkan adalah 5,5 cm x 11 cm x 22 cm dengan toleransi 0,5 cm.
3.2. Adukan yang digunakan untuk pasangan bata biasa adalah campuran 1 PC : 4 Pasir,
sedangkan untuk daerah kedap air (transram) menggunakan campuran 1 PC : 2 Pasir.

4. Pengerjaan dan Penyimpanan :

Bahan-bahan yang akan digunakan pada pekerjaan ini disimpan dengan cara-cara yang disetujui
Direksi Pengawas, untuk menghindari dari segala hal yang dapat mengakibatkan kerusakan
pada bahan-bahan tersebut.

5. Contoh-contoh :

Contoh bahan yang diusulkan untuk dipakai harus diserahkan kepada Direksi Pengawas dan
persetujuan atas bahan-bahan tersebut sudah didapat sebelum bahan yang dimaksud
dipergunakan. Pengambilan contoh atas bahan yang telah ada dilapangan akan diadakan
sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan Direksi Pengawas guna keperluan pengujian.

6. Pelaksanaan :

6.1. Pasangan dinding batu bata umumnya adalah 1/2 batu, kecuali Direksi memberikan
petunjuk lain.
6.2. Pemasangan batu bata harus lurus dan tegak, lajur penaikannya diukur tepat dengan tiang
lot, kecuali bilamana tidak diperlihatkan dalam gambar maka setiap lajur bata harus
putus sambungan dengan lajur dibawahnya. Selain itu pola ikatan pasangan harus terjaga
baik diseluruh pekerjaan.
6.3. Pada jarak-jarak tertentu pasangan batu tersebut perlu diperkuat dengan kolom praktis
(beton), dengan dimensi, penulangan dan penempatan sesuai gambar.
6.4. Segera setelah pasangan batu bata selesai, siar-siarnya dikeruk sedalam 1 cm agar
plesteran dapat melekat dengan baik.
6.5. Sebelum bata dipasang hendaknya direndam dalam air sampai jenuh, dan
pemasangannya harus rapi sesuai dengan syarat pekerjaan yang baik. Batu bata potongan
tidak boleh dipakai/dipasang, terkecuali pada pertemuan-pertemuan dengan
kosen/kolom.

Pasal 17
PEKERJAAN BETON BERTULANG

1. Lingkup Pekerjaan :

Bagian pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan dari semua macam beton biasa,
beton bertulang dengan penulangannya termasuk bekisting, finishing dan pekerjaan-pekerjaan
lain yang nyata-nyata termasuk dalam pekerjaan ini.

Pekerjaan beton bertulang dengan adukan 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr dilaksanakan untuk :


1.1. Pondasi Plat, Balok, Plat Lantai, Sloof, Kolom, Ringbalk dan Sun Screen.
1.2. Lain-lain seperti ditentukan dalam gambar.

2. Referensi :

Kecuali ditentukan lain, maka semua pekerjaan beton harus mengikuti ketentuan-ketentuan
seperti tertera dalam :

2.1. SNI 1734-1989-F


2.2. SKBI – Pedoman Perencanaan untuk Rumah dan Gedung
2.3. Pedoman Beton
2.4. Spesifikasi Bahan Bangunan
2.5. Pedoman Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Rumah dan Gedung

3. Material :

Bahan-bahan/material yang dipergunakan untuk pekerjaan ini harus memenuhi syarat-syarat


sebagai berikut :

3.1. Agregat :

Agregat harus terdiri dari gradasi-gradasi yang halus sampai kasar, dan harus sesuai
dengan persyaratan dalam ketentuan-ketentuan beton. Penyimpanan harus dilaksanakan
sedemikian rupa, sehingga bebas dari kontaminasi dengan bahan-bahan yang dapat
merusak.

3.2. Semen:

3.2.1. Semen yang dipakai harus bermutu baik, tidak berbatu, seperti disyaratkan dalam
NI-8 Bab 3-2;
3.2.2. Semen ini harus dibawah ketempat pekerjaan dalam kemasan standard dari
pabrik dan terlindung.
3.2.3. Untuk pelaksanaan pekerjaan beton ini Kontraktor harus mengusahakan hanya
menggunakan satu merk semen saja.

3.3. Besi Tulangan :

3.3.1. Besi untuk tulangan penyimpanannya harus bebas dari kontaminasi langsung
dengan udara, tanah lembab, aspal, olie (minyak) dan gemuk.
3.3.2. Pengikat tulangan beton harus menggunakan kawat beton yang berukuran garis
tengah minimal 1 mm.

3.4. Air :

Air yang dipakai untuk pengecoran harus bersih, dalam arti tidak mengandung lumpur
dan bahan-bahan kimia yang dapat mempengaruhi kekuatan beton.
3.5. Bekisting :

Bahan cetakan beton (bekisting) menggunakan kayu klas III, kecuali Direksi/Pengawas
menegaskan lain.

4. Pelaksanaan :

Proporsi :

Kecuali gambar menentukan lain, maka adukan beton harus mencapai Kekuatan Tekan Beton
karakteristik K-225 untuk semua struktur beton.
Sebelum pelaksanaan pekerjaan beton dimulai, pihak Kontraktor harus mengadakan Mix Design
untuk menjadi acuan dalam komposisi campuran, terutama pada gedung bertingkat.
Untuk mengontrol kekuatan/mutu yang dicapai pada pelaksanaan, Kontraktor harus mengambil
contoh kubus untuk diadakan test laboratorium menurut syarat-syarat PBI 1987 pasal 4.6 dan 4.7.

4.1. Pengecoran Beton :

4.2.1. Sebelum pengecoran dilaksanakan, bekisting harus bersih dari kotoran-kotoran dan
bahan-bahan lain. Alat-alat pengaduk beton (beton molen) dan alat pembawa juga
harus bersih. Penulangan harus dimatikan pada posisinya, serta harus diperiksa
terlebih dahulu.
Dimensi semua bagian beton tertera pada gambar bestek dan detail. Jika terdapat
ketidak cocokan pada ukuran Kontraktor diwajibkan untuk minta pertimbangan
terlebih dahulu dari Direksi.
4.2.2. Besar diameter besi tulangan harus sesuai dengan ketentuan dalam gambar. Jika
suatu diameter tidak terdapat dipasaran, Kontraktor diwajibkan membicarakan
terlebih dahulu dengan Direksi
4.2.3. Adukan beton tidak boleh dijatuhkan dari ketinggian lebih dari 1,50 meter dan
segera sesudah pengecoran dimulai, lapisan-lapisan beton dipadatkan dengan
penggetar (internal concrete vibrator). Kecepatan vibrator dalam adukan harus
tetap dan konstan serta penggunaannya tidak boleh mengenai besi tulangan.
Peraturan-peraturan mengenai pelaksanaan pekerjaan beton yang tidak tercantum
dalam RKS ini, dipakai peraturan yang termuat dalam PBI 1971 sebagai syarat.
Agar pemeriksaan dan persetujuan dari Direksi atas pelaksanaan pengecoran beton
dapat diberikan pada waktunya, Kontraktor diwajibkan menyampaikan
pemberitahuan tentang rencana pengecoran 2 x 24 jam sebelumnya.
Bekisting baru boleh dibongkar setelah beton bersangkutan mengalami periode
pengerasan sebagaimana diatur pada PBI 1971, dan sementara itu penyiraman
beton harus selalu dilaksanakan.

4.3. Penyambungan Beton :

Apabila oleh karena sesuatu dan lain hal pengecoran beton diputuskan sebelum selesai
sebelum melanjutkan pengecoran pada beton yang telah mengeras permukaan yang akan
disambung harus dikasarkan dan dibersihkan, bekisting dikencangkan kembali dan
penyambungannya menggunakan air atau bonding agent yang disetujui Direksi/Pengawas.
Slump:

Slump yang diijinkan untuk beton dalam keadaan mix normal adalah sesuai dengan PBI
1971
Pemakaian nilai slump harus teratur dan disesuaikan dengan kebutuhannya, misalnya
daerah-daerah yang pembesiannya rapat dipergunakan slump yang tinggi.

Lantai Kerja

Semua beton yang berhubungan dengan tanah sebagai dasarnya, harus diberi urugan dan
lantai kerja masing-masing setebal 5 cm dengan komposisi adukan 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr dan
dipasang dibawah konstruksi beton tersebut.

4.6. Pemeliharaan Beton :

Beton yang sudah dicor pada tempatnya harus dijaga agar selalu lembab dengan jalan
menutup beton dengan karung basah atau menyiraminya dengan air secara rutin, sampai
beton berumur satu minggu.
Pada umur sampai dengan 24 jam, beton harus dijaga dari air hujan deras, air mengalir,
getaran-getaran dan sinar matahari.

5. Bahan Additive :

Pemakainan bahan additive harus disertai percobaan laboratorium guna mendapatkan hasil
yang baik dan disetujui Direksi/Pengawas. Bahan additive ini harus memenuhi persyaratan
ASTM atau JIS.

6. Bekesting :

Seluruh bahan pekerjaan bekisting menggunakan papan terentang (kayu klas III) dan balok
5/10 cm, kecuali Direksi/Pengawas menegaskan lain, dan untuk mendapatkan hasil cetakan
yang menenuhi syarat pekerjaan bekisting harus dikerjakan oleh tukang yang ahli.
Celah-celah anatar papan bekisting harus cukup rapat, agar waktu mengecor tidak ada air
adukan yang lolos, sebelum mulai mengecor bagian dari dalam bekisting harus disiram air dan
dibersihkan dari kotoran.
Bekesting harus direncanakan, dilaksanakan dan diusahakan sedemikian rupa agar waktu
pengecoran dan pembongkaran tidak mengakibatkan cacat-cacat, gelombang-gelombang
maupun perubahan-perubahan betuk, ukuran-ukuran, ketinggian-ketinggian serta posisi dari
pada beton yang dicor.
Penyangga-penyangga harus diberi jarak antara, yang dapat mencegah defleksi bahan-bahan
bekesting. Bekesting serta sambungan-sambungan harus rapat, sehingga mencegah kebocoran-
kebocoran adukan selama pengecoran. Lubang-lubang permukaan sementara harus disediakan
didalam bekesting untuk memudahkan pembersihan.
Pembongkaran Bekest ing :
Bekesting harus dibongkar dengan cara sedemikian rupa, sehingga dapat menjamin
keselamatan penuh atas struktur-struktur yang dicetak dengan memperhatikan syarat-syarat
minimum sebagai berikut :
Bagian struktur beton vertikal boleh dibongkar bekesting setelah 7 (tujuh) hari, dengan syarat
bahwa betonnnya cukup keras dan tidak cacat karena pembongkaran tersebut.
Bagian struktur beton yang disangga dengan penumpu tidak boleh dibongkar sebelum
betonnya mencapai kekuatan yang cukup untuk menyangga beratnya sendiri dan beban-beban
pelaksanaan atau beban-beban lain yang akan menimpa bagian struktur beton tersebut.
Dalam hal apapun bekesting pada jenis struktur ini tidak boleh dibongkar sebelum berumur 14
(empat belas) hari, demikian pula bekesting-bekesting yang dipakai untuk mematangkan
(curing) beton tidak boleh dibongkar sebelum beton ditentukan matang.

7. Contoh-contoh :

Sebelum pelaksanaan pemasangan, terlebih dahulu Kontraktor harus memberikan contoh-


contoh material yang akan dipakai guna mendapatkan persetujuan dari Direksi/Pengawas.

8. Koordinasi dengan Pemasangan Instalasi :

Sebelum pengecoran dimulai, Kontraktor harus sudah mengkoordinasikan pemasangan dan


letak-letak instalasi listrik, plumbing dan lain-lainnya.

Pasal 18
PEKERJAAN BETON TAK BERTULANG

1. Lingkup Pekerjaan :

Bagian pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan-bahan, pemasangan dan semua pekerjaan
beton tak bertulang dan campuran yang dipergunakan adalah 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr, dan
dilaksanakan untuk neut-neut kosen, neut-neut kolom kayu, lantai kerja, lantai cor beton, rabat
beton dan lainnya yang ditentukan dalam gambar.

2. Material :

Lihat uraian pasal 16 ayat 3.

Pasal 19
PEKERJAAN PLESTERAN

1. Lingkup Pekerjaan :

Bagian ini meliputi seluruh pekerjaan plesteran dan kebutuhan persyaratan adukan sebagai
berikut :
1.1. Untuk semua plesteran dinding biasa terdiri dari 1 Pc : 5 Ps.
1.2. Plesteran kedap air (transram) menggunakan adukan 1 Pc : 2 Ps.
1.3. Untuk semua plesteran beton dan kaki pondasi digunakan 1 Pc : 3 Ps.

2. Material :

2.1. Pasir untuk plesteran harus diayak cukup halus, dan pasir laut atau pasir yang memiliki
kandungan tanah tidak diperkenankan untuk digunakan.
2.2. Semen yang digunakan harus baru, tidak ada bagian yang membatu serta dalam kemasan
standard pabrik dan terlindung.

3. Pelaksanaan :

3.1. Sebelum pekerjaan plesteran dikerjakan, semua bidang yang akan diplester harus disiram
air sampai jenuh, dan siar-siarnya telah dikeruk sedalam lebih kurang 1 cm.
3.2. Tebal plesteran dinding ditentukan ketebalannya 1 cm dikerjakan dengan lurus dan rata
dan bidang-bidang yang berombak/retak harus dibongkar dan diperbaiki.
3.3. Semua bidang plesteran yang kelihatan harus diaci menggunakan adukan 1 Pc : 7 Kpr,
terkecuali plesteran kaki pondasi dan beton diaci dengan air semen.

Pasal 20
PEKERJAAN KAYU

1. Lingkup Pekerjaan :

Bagian pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan kayu-kayu untuk konstruksi kuda-
kuda/kap, gording, rangka plafond, listplank, bingkai pintu dan jalusi kayu, kosen pintu,
jendela, ventilasi, dinding partisi, dan pekerjaan kayu lainnya yang nyata-nyata tertera dalam
gambar.

2. Material :

2.1. Jenis : Kayu yang dipakai pada pekerjaan ini seluruhnya adalah Kayu Palapi Merah yang
mempunyai kelas keawetan II dan kelas kuat II sesuai dengan SKBI-3.6.53.1987 UDC :
674.048.
2.2. Mutu : Kayu yang dipakai harus lurus kering, memiliki serat yang teratur, tidak terdapat
mata-mata kayu/cacat-cacat lainnya serta tidak terdapat bidang-bidang yang lemah.
2.3. Ukuran : Ukuran-ukuran kayu yang dipergunakan harus sesuai dengan yang terdapat
pada gambar detail.
2.4. Kadar Air : Kayu-kayu yang dipergunakan hanya boleh mengandung kadar air
maksimum 25 % untuk ukuran tebal lebih dari 7 cm dan kadar air maksimum 19 %
untuk tebal kurang dari 7 cm.
2.5. Playwood dengan Veneer (Teakwodd) : Playwood dengan lapisan veneer lebih kurang 1
mm dari jenis "teak" atau rose "wood" yang terrekat ke badan plywood dan dipasang
pada daerah-daerah sesuai gambar rencana. Bahan-bahan yang dipakai harus produksi
dalam negeri dengan kualitas terbaik.
2.6. Formika : Tebal minimum 1,5 mm dengan tebal laminasi 0,5 mm kualitas setaraf
produksi "Formica USA". Type dan bentuk akan ditentukan oleh Direksi/Pengawas.
2.7. Pengikat-pengikat : Bahan pengikat digunakan dari kayu paku galvanis, baut atau plat
besi. Apabila menggunakan perekat, bahan perekat yang digunakan harus terbuat dari
lem tahan air setaraf dengan merk "Herferin".
3. Pelaksanaan :

3.1. Semua pekerjaan kosen, pintu, lisplank, kuda-kuda dan jalusi kayu pada bagian-bagian
tertentu harus diserut rata dan halus, dan pada bagian-bagian pertemuan harus dikerjakan
dengan rapi dan tidak berongga.
3.2. Untuk pekerjaan kap/kuda-kuda dan gording, ukuran kayu, konstruksi dan cara
penyambungannya mengikuti petunjuk yang tertera pada gambar, serta diberi penguat
cawat/beugel besi plat dan angker.
3.3. Semua pekerjaan harus bertaraf kelas satu dengan hasil yang baik dan rapi, untuk profil
panjang harus menggunakan mesin potong.
3.4. Semua lubang-lubang bekas paku, baut dan sebagainya harus ditutup dengan dempul
hingga rapi kembali.

Pasal 21
PEKERJAAN ATAP

1. Lingkup Pekerjaan :

Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, tenaga kerja dan pemasangan atap, nok/bubungan
pada tempat-tempat sesuai dengan yang ditunjukan dalam gambar rencana.

3. Material :

2.1. Bahan atap yang akan dipergunakan untuk bangunan adalah atap metal roof ketebabalan
0.2 mm dan Bahan nok/bubungan menggunakan bumbungan atap metal roof.

3. Pemasangan :

3.1. Sebelum pemasangan atap dilaksanakan, seng harus diperiksa terlebih dahulu dengan
tidak mengalami kerusakan untuk menjaga kebocoran dan kap/kuda-kuda/gording harus
diresidu.
3.2. Pemborong diharuskan mengajukan contoh-contoh bahan untuk mendapatkan
persetujuan Direksi/Pengawas.

Pasal 22
PEKERJAAN PLAFOND

1. Lingkup Pekerjaan :

Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, tenaga kerja dan pemasangan penggantung, rangka,
dan penutup plafond pada tempat-tempat yang sesuai dengan yang ditunjukan dalam gambar.

4. Material :

2.1. Semua material kayu untuk penggantung dan rangka plafond menggunakan kayu palapi
merah dengan kelas keawetan II dan kelas kuat II sesuai dengan SKBI-3.6.53 1987 UDC
: 674.048; dengan ukuran-ukuran yang sesuai dengan yang ditentukan dalam gambar.
2.2. Kayu yang dipakai harus lurus kering, tidak terdapat mata-mata kayu/cacat-cacat lainnya
serta tidak terdapat bidang-bidang yang lemah.

2.3. Untuk penutup plafond menggunakan TRIPLEKS tebal 3 mm buatan dalam negeri,
tidak cacat dan diusahakan warna yang digunakan seragam.
5. Pelaksanaan :

3.1. Ketinggian, ukuran, pembidangan dan konstruksi plafond dilaksanakan sesuai ketentuan-
ketentuan dalam gambar.
3.2. Kayu untuk rangka plafond harus diserut rata, terutama pada bidang- bidang bawah yang
akan ditutup dengan tripleks, dan diberi penggantung dalam jumlah yang cukup.

3.3. Nat-nat plafond sebelum ditutup tripleks harus diberi cat warna hitam.

3.4. Pada sudut pertemuan antara plafon dan dinding tembok dipasang list Kayu profil yang
dicat kayu, warna ditentukan kemudian.

3.5. Pemasangan plafond harus dilaksanakan oleh tukang yang ahli, lurus dan tidak lentur.
Apabila terjadi plafond terpasang ternyata tidak lurus, retak dan lentur, Direksi berhak
menolak dan Kontraktor harus segera membongkar dan memperbaiki kembali.

Pasal 23
PEKERJAAN LANTAI

1. Lingkup Pekerjaan :

Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan/material, tenaga kerja dan pemasangan lantai dan
dinding sesuai yang ditentukan dalam gambar. Pekerjaan mencakup Pekerjaan lantai cor 1 : 3 : 5
dan diaci, lantai keramik 40 x 40, Plint Keramik 10 x 40, Dinding keramik 25 x 30, Dinding keramik 30
x 30 dan lantai keramik WC/KM, dan pekerjaan lantai keramik yang nyata – nyata terdapat dalam
gambar.

2. Material :

2.1. Lantai Cor diaci licin dengan air semen pada semua lantai bangunan gedung.

4. Pelaksanaan :

3.1. Sebelum pekerjaan lantai dikerjakan, pasir timbunan harus benar-benar padat sehingga
tidak terjadi penurunan/keretakan pada lantai.
3.2. Pelaksanaan cor lantai diaci licin dengan air semen.
3.3. Pada sudut-sudut pertemuan antara dinding dengan lantai cor, dicat dengan cat minyak
warna hitam setinggi 10 cm.
3.4. Peralatan yang digunakan adalah peralatan tukang batu, seperti : sendok semen, palu, martil,
sekop, Pacul Parang dan Linggis serta kereta dorong, molen, water pump dan truck untuk
mengangkut material/bahan bamgunan.
Pasal 24
PEKERJAAN KACA

1. Lingkup Pekerjaan :

Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja pemotongan dan pemasangan
kaca bingkai, maupun kaca mati seperti yang ditunjukan dalam gambar.

2. Material :

2.1. Kaca yang digunakan pada pekerjaan ini adalah jenis kaca bening dengan tebal 3 mm,
dan 5 mm.
2.2. Kaca yang digunakan adalah kaca buatan dalam negeri, tidak cacat dan tidak retak.

3. Pelaksanaan :

3.1. Ukuran dan ketebalan kaca yang akan dipasang dilaksanakan mengikuti petunjuk-
petunjuk yang ditentukan dalam gambar.
3.2. Kaca harus dipasang sedemikian rupa sehingga dengan lubang sponing yang sesuai
dengan ketebalan kaca, serta dipasang list dengan rapi sehingga tidak goyang/longgar.
3.3. Pada saat pekerjaan diserahkan, kaca yang terpasang dalam keadaan utuh dan tidak
pecah/retak. Apabila berdasarkan pemeriksaan terdapat kaca yang retak, Kontraktor
harus segera mengganti.

Pasal 25
KUNCI DAN PENGGANTUNG

1. Lingkup Pekerjaan :

Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja dan pemasangan kunci serta
alat-alat penggantung, seperti : engsel, kunci, handle dan sebagainya.

2. Material :

2.1. Semua daun pintu dipasang kunci tanam buatan dalam negeri 2 (dua) slag kualitas baik,
setara Yale.
2.2. Engsel yang digunakan pada pekerjaan ini adalah engsel nylon ring 4" untuk pintu-pintu,
dan engsel pintu nylon ring 3" untuk jendela bingkai.
2.3. Grendel Tanam Lengkap untuk Pintu 2 daun, dan grendel biasa buatan dalam negeri
untuk jendela.
2.4. Haq Angin Lengkap buatan dalam negeri untuk jendela bingkai.
2.5. Sebelum dipasang, kunci-kunci dan alat-alat penggantung harus diperlihatkan contohnya
kepada Direksi/Pengawas.
3. Pelaksanaan :

3.1. Semua daun pintu menggunakan engsel nylon ring 4" buatan dalam negeri masing-
masing 3 (tiga) buah.
3.2. Untuk pintu-pintu 2 (dua) daun harus dilengkapi dengan grendel tanam yang dipasang
pada bagian atas dan bawah.
3.3. Semua daun jendela bingkai menggunakan engsel nylon ring 3" buatan dalam negeri
masing-masing 2 (dua) buah, haq angin 2 (dua) buah dan untuk pengunci dipasang
grendel 1 (satu) buah.
3.4. Kunci-kunci harus berfungsi dengan baik dan pada saat diserahkan anak kunci harus
diserahkan lengkap dengan cadangannya.

Pasal 26
PEKERJAAN CAT DAN POLITUR

1. Lingkup Pekerjaan :

Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja dan pengecatan kayu, tembok,
plafond, atap dan residu kap, kuda-kuda dan gording.

2. Material :

2.1. Jenis cat kayu yang digunakan adalah merk AVIAN.


2.2. Jenis Cat tembok yang digunakan adalah merk AVITEX METROLAID.
2.3. Plamur atau dempul yang digunakan adalah merk BOYO.
2.4. Residu dengan kekentalan yang cukup untuk kap, kuda-kuda dan gording.
2.6. Politur/teakoil untuk permukaan teakwood dan pada pekerjaan kayu yang diekspos
seperti yang ditunjukan pada gambar.

3. Pelaksanaan :

3.1. Pekerjaan Cat Kayu :

3.1.1. Bidang-bidang yang akan dicat/dipolitur harus bersih dari segala macam kotoran,
dan sebelum pekerjaan pengecatan dilaksanakan Kontraktor harus
memperlihatkan bagian -bagian yang akan dicat kepada Direksi untuk diperiksa.
3.1.2. Semua permukaan kayu yang akan dicat/dipolitur harus diamplas, dan lobang-
lobang bekas paku harus didempul dan diamplas kembali sampai rata.
3.1.3. Pengecetan kayu dilaksanakan satu kali menie, satu kali cat dasar dan satu kali
plamur, kemudian digosok dengan amplas, dan akhirnya dua kali cat akhir.
3.1.4. Warna Cat kayu yang digunakan untuk kosen, daun pintu, bingkai jendela dan
listplank akan ditentukan kemudian.
3.1.5. Untuk kap/kuda-kuda dan gording harus dicat dengan residu sampai rata pada
seluruh permukaannya.
3.2. Pekerjaan Cat Tembok/Plafond :

3.2.1. Permukaan dinding dan plafond sebelum dicat harus diplemur kemudian
diamplas dengan kertas pasir sampai rata dan halus.
3.2.2. Semua bidang tembok dan plafond dicat tembok minimal 2 (dua) kali sampai
kelihatan rata dan cukup tebal.
3.2.3. Cat tembok yang digunakan adalah warna putih untuk plafond dan tembok bagian
dalam, sedangkan tembok bagian luar, warna ditentukan kemudian.

3.3. Pekerjaan Politur :

Semua daun pintu teakwood dan dinding papan harus dipolitur. Persiapan dilakukan
dengan membersihkan dan mengamplas bagian/permukaan yang akan dipolitur.
Selanjutnya dapat dipolitur dengan menggunakan Ultra Politur P-01.

Pasal 27
PEKERJAAN SANITAIR

1. Lingkup Pekerjaan :

Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan pipa-pipa, aksesoris pipa, kran air, dan bahan
lainnya termasuk pemasangan dan mengujinya.

2. Material :

(a) Pipa yang dipakai pada pekerjaan instalasi air bersih di luar bangunan adalah pipa GIP
sedangkan di dalam bangunan pipa PVC kelas AW buatan dalam negeri dengan dimensi
sesuai yang tertera dalam gambar.
(b) Aksesoris pipa yang digunakan menggunakan type yang setara dengan pipa yang
dipakai.
(c) Pipa-pipa dan aksesoris yang dipakai dalam pekerjaan ini harus memenuhi Standar
Nasional Indonesia ( SNI ).

3. Pelaksanaan :

(a) Pipa GIP penyambungannya dilakukan dengan sambungan (draad) berulir dan pada
bagian ulir jantannya dilapisi dengan seal tape. Sedangkan pipa PVC
penyambungannya dilakukan dengan memakai lem yang sesuai, dan sebelum pipa
dibubuhi lem bagaian-bagian yang akan dilem harus dikasarkan dengan kertas pasir.
(b) Pemasangan harus dilaksanakan dengan baik dan tertutup, khusus untuk
penyambungan pipa yang menggunakan watermoer penempatannya harus dilakukan
pada tempat yang mudah dicapai, tidak tertutup oleh dinding maupun lantai.
(c) Semua instalasi pipa yang terpasang sebelum ditutup harus diuji terlebih dahulu untuk
menghindari terjadinya kebocoran.
(d) Bila dalam pengujian ditemukan adanya kerusakan, kebocoran atau penyumbatan,
Pemborong harus segera memperbaiki / mengganti kerusakan tersebut dan kemudian
dilakukan pengujian ulang.
Pasal 28
PEKERJAAN SALURAN PEMBUANGAN

1. Saluran Air Kotor :

1.1. Pipa pembuangan air kotor dari KM/WC menggunakan pipa PVC diameter 2" yang
untuk selanjutnya dihubungkan ke saluran air hujan sedangkan pipa pembuangan dari
WC menggunakan PVC diameter 4" dan dihubungkan ke septictank.
1.2. Pemasangan pipa-pipa tersebut dibuat dengan kemiringan 2% dan sambungan
dilaksanakan dengan menggunakan sambungan pipa serta lem PVC.
1.3. Pemasangan harus dilakukan dengan baik, tertutup/tidak kelihatan. Dalam arah mendatar
pipa-pipa tidak boleh membuat siku-siku ditempat-tempat percabangan dan tiap jarak
maksimum 12 meter pada pipa- pipa dibawah tanah harus dibuat bak kontrol.
1.4. Untuk menghindari adanya penyumbatan dikemudian hari, pada tiap- tiap lobang
pembuangan KM harus dipasang floordrain.
1.5. Cara penyambungan pipa-pipa PVC untuk saluran air kotor mengikuti ketentuan tata cara
penyambungan yang ditentukan pabrik pembuatnya..
1.6. Pemasangan pipa-pipa PVC untuk saluran air kotor / saluran limbah, mengikuti
ketentuan dalam gambar rencana, pipa-pipa PVC harus tertanam dengan aman dan
penempatannya sewaktu-waktu dapat dilakukan perbaikan, pipa-pipa PVC tidak
diperbolehkan melintasi / memotong saluran atau melintas diatas permukaan
lantai/rabat/tanah. Perletakan instalasi air kotor/air buangan disesuaikan dengan gambar
rencana/detail.
1.7. Perletakan instalasi air kotor/air buangan disesuaikan dengan gambar rencana/detail.

2. Septictank dan Peresapan :

2.1. Pembuatan septictank disesuaikan dengan gambar detail dengan menggunakan pasangan
batu bata kedap air adukan 1 PC : 2 Ps.
2.2. Untuk penghawaan, septictank harus dilengkapi dengan pipa udara diameter 1,25" dan
sebagai penutup dibuat plat beton bertulang adukan 1 Pc : 2 Psr : 3 Kr. Pada penutup
septictank harus dibuat lubang kontrol dilengkapi dengan handle pengangkat. Ukuran
dan perletakan disesuaikan dengan gambar rencana dan detail.
2.3. Sebagai penampungan air dari septictank, dibuat peresapan dan saluran dari septictank ke
peresapan menggunakan pipa PVC diameter 4" yang diberi lubang-lubang dengan
pemasangan sesuai gambar rencana/detail.
2.4. Peresapan yang dikerjakan sebelum ditimbun harus diberi lapisan-lapisan batu, karang,
ijuk, urugan pasir sebagaimana ditentukan dalam gambar rencana (gambar kerja)

Pasal 29
PEKERJAAN INSTALASI AIR

1. Lingkup Pekerjaan :

Termasuk dalam pekerjaan ini adalah :


1.1. Sistem Pemipaan Air Bersih : Sistem pemipaan air bersih dari jaringan air bersih
keseluruh bangunan, yang terdiri dari : Kamar mandi, WC, Wastafel, kran-kran dalam
ruangan dsbnya.
1.2. Pengujian (test run) sistem plumbing air bersih secara keseluruhan untuk mengetahui
sistem itu bekerja baik, benar dan aman.
1.3. Pengadaan dan pemasangan perlengkapan-perlengkapan lainnya agar instalasi bekerja
dengan baik, benar, aman walaupun dalam gambar dan spesifikasi tekniknya tidak
dicantumkan secara jelas, misalnya fitting-fitting dan accesoriesnya.

2. Bahan yang dipakai :

2.1. Semua instalasi air bersih menggunakan pipa GIP dari jenis medium.
2.2. Pipa GIP yang digunakan untuk air bersih harus menggunakan yang memenuhi Standar
Nasional Indonesia (SNI)
2.3. Semua kran yang terpasang harus menggunakan kran stainless stell yang berkepala
kristal, penempatan dan ukurannya harus sesuai dengan gambar rencana/detail.

3. Pemasangan :

3.1. Pipa GIP penyambungannya dilakukan dengan sambungan (draad) berulir, dan pada
bagian ulir jantannya dilapisi dengan seal tape.
3.2. Pemasangan pipa harus dilaksanakan dengan baik dan tertutup, terkecuali apabila
menggunakan water moer harus dipasang pada tempat yang mudah dicapai dan tidak
tertutup oleh dinding maupun lantai.
3.3. Pemasangan dan perletakan pipa-pipa PVC GIP mengikuti ketentuan dalam gambar ,
pipa-pipa harus aman dari beban dan serta tidak menggangu aktivitas disekitarnya serta
penempatannya dapat dengan mudah dilakukan perbaikannya.
3.4. Setiap penyambungan dari pipa distribusi ke pipa instalasi dalam bangunan harus
dipasang stop kran guna menutup aliran air pada saat terjadi kerusakan pada instalasi
dalam bangunan dan dapat dengan melakukan perbaikan.

4. Pengujian :

4.1. Semua instalasi pipa yang terpasang sebelum ditutup harus diuji terlebih dahulu untuk
menghindari terjadinya kebocoran.
4.2. Bila dalam pengujian ditemukan adanya kerusakan, kebocoran atau penyumbatan,
Kontraktor harus segera mengganti/memperbaiki kerusakan tersebut, kemudian
dilakukan pengujuian/pemeriksaan kembali.

5. Sumber Air Bersih :

Pengadaan dan sumber air bersih diambil dari sumber air terdekat atau pompa.

Pasal 30
DOKUMENTASI

Untuk kelengkapan laporan, Kontraktor harus membuat foto-foto dokumentasi dibuat sebelum
pekerjaan di mulai ( 0 % ), tahap pelaksanaan hingga selesai ( 25 %, 50 %, 75 % dan 100 % ), foto
dokumentasi harus selalu diambil pada posisi yang sama untuk setiap kemajuan (tampak depan,
samping dan belakang) dan setiap bagian yang penting antara lain penulangan, pondasi dan lain-
lain.
Foto-foto tersebut dimasukan kedalam album dan diserahkan kepada Pemimpin Proyek serta
Direksi/Konsultan Pengawas sebanyak 2 (dua) set.

Pasal 31
GAMBAR PELAKSANAAN (AS BUILT DRAWING)

1. Setelah selesainya seluruh pekerjaan, Kontraktor harus membuat gambar terlaksana (as built
drawing) dari seluruh sistem, termasuk apabila terjadi perubahan letak, denah maupun
konstruksi.
2. Instalasi listrik, instalasi air bersih dan instalasi air kotor harus dibuat oleh Kontraktor sesuai
dengan keadaan yang terpasang dan diserahkan kepada Pemberi Tugas pada saat Serah Terima
Pekerjaan.

Pasal 32
PENGAWASAN

1. Pengawasan setiap hari terhadap pelaksanaan pekerjaan akan dilakukan oleh Direksi/Pengawas.
2. Setiap saat Direksi/Pengawas atau petugas-petugasnya harus dapat mengawasi, memeriksa atau
menguji setiap bagian pekerjaan, bahan dan peralatan. Untuk itu pemborong harus mengadakan
fasilitas-fasilitas yang diperlukan.
3. Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari pengamatan
Direksi/Pengawas adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor. Pekerjaan tersebut bila
diperlukan harus dapat diperiksa sebagian atau seluruhnya untuk keperluan/kepentingan
pemeriksaan.
5. Jika diperlukan pengawasan oleh Pengawas Harian diluar jam kerja yang resmi, maka segala
biaya yang diperlukan untuk hal tersebut menjadi beban Kontraktor. permohonan untuk
mengadakaan pemeriksaan tersebut harus dengan surat yang disampaikan kepada
Direksi/pengawas.

Pasal 33
PEKERJAAN AKHIR

1. Pada akhir pekerjaan, seluruh ruangan termasuk dinding, plafond, lantai dan sebagainya harus
bersih dari sisa-sisa semen, cat dan kotoran lainnya.
2. Halaman bangunan harus dibersihkan dari sisa-sisa bahan-bahan bangunan, kotoran-kotoran
dan gundukan-gundukan tanah bekas galian harus diratakan serta bahan-bahan yang tidak
terpakai lagi harus diangkut keluar lokasi pekerjaan.

Pasal 34
PERUBAHAN-PERUBAHAN

1. Semua ketentuan-ketentuan dalam Dokumen ini dan gambar-gambar kerja dapat dirubah,
ditambah sesuai kebutuhan dimana perlu, akan tetapi semua hal tersebut harus dilakukan pada
waktu pemberian penjelasan pekerjaan ini (aanwizing) dan dituangkan dalam berita acara.
2. Perubahan – perubahan pada waktu pelaksanaan apabila menurut direksi diperlukan akan
diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pasal 35
PENUTUP

1. Pekerjaan-pekerjaan yang belum/tidak tercantum/dijelaskan dalan RKS ini dapat dilihat pada
gambar atau di tanyakan pada saat Rapat Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing)
2. Perubahan-perubahan yang terjadi terhadap KRS ini pada saat Rapat Penjelasan Pekerjaan akan
dibuat suatu Berita Acara Penjelasan Pekerjaan yang mengikat, dan merupakan satu kesatuan
dengan RKS ini.

Ampana, April 2021


Konsultan Perencana
CV. GLEEND PRATAMA CONSTRUCTION

ttd

SURAHMAN, ST
Direktur