Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KPERAWATAN PADA An.

S DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN UTAMA POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF PADA
PASIEN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME DI RS

Disusun Oleh :
Dewi Anggraeni
A32020025

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
GOMBONG
2020

i
HALAMAN PENGESAHAN

ASUHAN KPERAWATAN PADA An. S DENGAN MASALAH


KEPERAWATAN UTAMA POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF PADA
PASIEN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME DI RS

Yang dipersiapkan dan disusun oleh:


Dewi Anggraeni
A32020025

Mengetahui,
Fasilitator

(Ning Iswati, M. Kep.)

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................i


HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................iii
BAB I LAPORAN PENDAHULUAN.............................................................1
A. Pengertian ...............................................................................................1
B. Etiologi ...................................................................................................1
C. Batasan Karakteristik .............................................................................2
D. Fokus Pengkajian ...................................................................................2
E. Patofisiologi dan Pathway ......................................................................6
F. Diagnosa Yang Muncul ..........................................................................10
G. Intervensi................................................................................................. 10
BAB II ASUHAN KEPERAWATAN.............................................................16
A. Pengkajian Neonatus ..............................................................................16
B. Analisa Data ...........................................................................................21
C. Prioritas Diagnosa ..................................................................................22
D. Intervensi ................................................................................................23
E. Implementasi ..........................................................................................24
F. Evaluasi ...................................................................................................26
BAB III PEMBAHASAN................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................31

iii
BAB 1
LAPORAN PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN
RDS adalah istilah yang biasanya digunakan untuk masalah
penyakit disfungsi pernapasan pada neonatus atau bayi. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan imaturitas paru sehingga
tidak berkembang dengan baik atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan
dalam paru (Marmi & Rahardjo, 2015). Hal ini dapat menyebabkan bayi
mengalami pola napas tidak efektif.
Pola napas tidak efektif adalah insprirasi dan ekspirasi yang tidak
memberikan ventilasi yang adekuat (Tim Pokja SDKI, 2016). Pola nafas
tidak efektif suatu keadaan dimana inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak
memberikan ventilasi adekuat (PPNI, 2016)
Pola napas tidak efektif pada bayi dengan RDS merupakan
kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea dan hiperpnea dengan frekuensi
pernapasan lebih dari 60 kali per menit dengan sianosis, rintihan, dan
ekspirasi serta kelainan otot – otot pernapasan pada saat inspirasi (Keliat et
al., 2018).
Pola napas tidak efektif adalah pernapasan yang sangat cepat pada
bayi dengan RDS yang mengalami sianosis perioral, merintih waktu saat
ekspirasi, dan terjadi retraksi substrernal 9 serta intercostal. Ketidak
efektifan pola napas pada bayi dengan RDS yaitu terjadinya inspirasi dan
ekspirasi yang tidak memberi ventilasi secara adekuat.

B. ETIOLOGI
Kegagalan pernafasan pada neonatus terdiri dari faktor ibu, faktor
plasenta, faktor janin dan faktor persalinan. Faktor ibu meliputi hipoksia
pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, gravida
empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit pembuluh
darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi,
penyakit jantung, diabetes melitus, dan lain-lain. Faktor plasenta terdiri

1
dari solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis,
dan plasenta tidak menempel pada tempatnya. Faktor janin meliputi tali
pusat melilit leher, tali pusat menumbung, kompresi tali pusat antara janin
dan jalan lahir, prematur, dan kelainan kongenital pada neonatus. Faktor
persalinan meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain-lain.
Penyebab terjadinya pola napas tidak efektif antara lain (Tim Pokja SDKI,
2016)
a. Depresi pusat pernapasan
b. Hambatan upaya napas (mis. Nyeri saat bernapas, kelelahan otot
pernapasan)
c. Deformitas dinding dada
d. Deformitas tulang dada
e. Gangguan neuromuscular
f. Gangguan neurologis (mis. Elektroensefalogram [EEG] positif, cedera
kepala, gangguan kejang)
g. Imaturitas neurologis
h. Penurunan energi
i. Obesitas
j. Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru
k. Syndrome hipoventilasi
l. Kerusakan inervasi diagfragma (kerusakan saraf C5 ke atas)
m. Cedera pada medulla spinalis
n. Efek agen farmakologis
o. Kecemasan

C. BATASAN KARAKTERISTIK
Batasan karakteristik menurut SDKI, 2016 meliputi :
1. Mayor
a. Subjektif
a) Dispnea
b. Objektif
a) Penggunaan otot bantu pernafasan

2
b) Fase ekspirasi memanjang
c) Pola nafas abnormal (misal takipnea, bradipnea, hiperventilasi,
kussmaul, cheyne-stokes)
2. Minor
a. Subjektif
a) Ortopnea
b. Objektif
a) Pernapasan pursed-lip
b) Pernapasan cuping hidung
c) Diameter thorak anterior-posteriormeningkat
d) Ventilasi semenit menurun
e) Kapasitas vital menurun
f) Tekanan ekspirasi menurun
g) Tekanan inspirasi menurun
h) Ekskursi dada berubah

D. FOKUS PENGKAJIAN
Pengkajian diawali dari fungsi pernafasan, mengobservasi
kemampuan paru-paru bayi untuk bernafas pada fase transisi dari
kehidupan intra-uteri ke kehidupan ekstra-uteri. Bayi BBLR terutama yang
premature mempunyai kesulitan pada fase transisi ini karena jumlah
alveoli yang berfungsi masih sedikit, defisiensi surfaktan, lumen sistem
pernapasan yang kecil, kolaps atau obstruksi jalan napas, insufisiensi
klasifikasi dari tulang thoraks, lemah atau tidak adanya refleks dan
pembuluh darah paru yang immature. Hal tersebut dapat mengganggu
usaha bayi untuk bernafas dan mengakibatkan distress 16 pernafasan.
Dalam melakukan pengkajian dasar, data dapat dikelompokan menjadi
data subjektif dan data objektif yang dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Data Subjektif
Data subjektif adalah data yang menggambarkan hasil pengumpulan
data pasien melalui anamnesa atau wawancara. Hasil anamesa yang
berhubungan dengan bayi RDS dapat dikelompokan sebagai berikut:

3
b. Data Objektif
Data objektif adalah data yang menggambarkan hasil pemeriksaan
fisik, hasil laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan
dalam data fokus. 17 Pengkajian pada bayi RDS bertujuan untuk
mengetahui fisiologis dasar pada bayi RDS.
Pengkajian dapat dilakukan secara sistematik berawal dari pengkajian
data mengenai identitas pasien, identitas penanggung jawab, keluhan
utama, riwayat perjalanan penyakit, riwayat penyakit sebelumnya, riwayat
kehamilan dan kelahiran, riwayat penyakit keluarga, riwayat tumbuh
kembang, psikologi keluarga, pola kebiasaan sehari hari, dan pemeriksaan
fisik sesuai dengan sistem tubuh, sebagai berikut:
1) Pengkajian Pernafasan pada bayi RDS Pengkajian pada bayi RDS
diawali dengan fungsi pernafasan. Pengkajian pernafasan dilakukan
dengan:
a. Observasi bentuk dada (barrel, cembung) kesimetrian, adanya
insisi, selang dada, atau penyimpangan lainnya.
b. Observasi otot aksesori: Pernafasan cuping hidung, retraksi dada .
c. Tentukan frekuensi dan keteraturan pernafasan.
d. Auskultasi bunyi pernafasan: Stridor, mengi, ronchi, area yang
tidak ada bunyinya, keseimbangan bunyi nafas.
e. Observasi saturasi oksigen dengan oksimetri nadi dan tekanan
parsial oksigen dan karbon dioksida.
f. Secara singkat, perhatikan: Bentuk cuping hidung, dada simetris
atau tidak, otot-otot pernafasan retraksi intercostae, subclavicula,
frekuensi pernafasan, bunyi nafas ada ronchi atau tidak.
Hal-hal yang biasanya ditemukan pada pengkajian pernafasan bayi
RDS adalah jumlah penafasan rata-rata 40 - 60 per menit dibagi
dengan periode 18 apneu, pernafasan tidak teratur dengan flaring nasal
(nasal melebar) dengkuran, retraksi (interkostal, supra sternal,
substernal), terdengar suara gemerisik pada auskultasi paru-paru,
takipnea sementara dapat dilihat, khususnya setelah kelahiran cesaria

4
atau persentasi bokong, pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan
gerakan sinkron dari dada dan abdomen, dan perhatikan adanya sekret
yang mengganggu pernafasan, mengorok, pernafasan cuping hidung
(Maryunani, 2013).
2) Pengkajian kardiovaskuler pada bayi RDS
Pengkajian sistem kardiovaskuler dilakukan untuk mengukur tekanan
darah, menghitung denyut jantung, dan menilai pengisian kembali
kapiler pada bayi.
a) Tentukan frekuensi, irama jantung, dan tekanan darah
b) Auskultasi bunyi jantung, termasuk adanya mur-mur
c) Observasi warna kulit bayi seperti adanya sianosis, pucat, dan
ikterik pada bayi
d) Kaji warna kuku, membrane mukosa, dan bibir
e) Gambaran nadi perifer, pengisian kapiler (< 2-3 detik)
3) Pengkajian gastrointestinal pada bayi RDS
Pengkajian yang dapat dilakukan adalah mengecek refleks mengisap
dan menelan, menimbang berat badan bayi, mendengarkan bising usus
dan observasi pengeluaran meconium
4) Pengkaian genitourinaria pada bayi RDS
Masalah pada sistem perkemihan yaitu ginjal bayi pada bayi RDS
tidak dapat mengekresikan hasil metabolisme dan obat obatan dengan
akurat, memekatkan 19 urin, mempertahankan keseimbangan cairan,
asam basa dan elektrolit. Pengkajian dilakukan dengan cara
menghitung intake dan output.
5) Pengkajian neurologis – muskulusteletal pada bayi RDS
Pada bayi RDS sangat rentan terjadi injuri susunan saraf pusat.
Pengkajian yang dilakukan adalah observasi fleksi, ekstensi, reflex
hisap, tingkat respon, respon pupil, gerakan tubuh dan posisi bayi.
6) Pengkajian suhu pada bayi RDS
Banyak faktor yang menyebabkan suhu tidak stabil pada bayi RDS
terutama pada bayi BBLR salah satunya yaitu kurangnya lemak
subkutan pada bayi. Pengkajian suhu yang dapat dilakukan adalah

Ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi


tentukan suhu kulit melalui aksila bayi, tentukan dengan suhu
lingkungan.
7) Pengkajian kulit pada bayi RDS
Dalam pengkajian kulit bayi yang dikaji yaitu monitor adanya
perubahan warna kulit, area kulit yang kemerahan, tanda iritasi,
mengkaji tekstur atau turgor kulit bayi, ruam, lesi pada kulit bayi.
8) Pengkajian respon orang tua pada bayi RDS
Respon orangtua yang bayinya dengan RDS umunya merasa sedih,
cemas, dan takut kehilangan. Hal hal yang dapat dikaji perawat adalah
ekspresi wajah orangtua bayi dengan RDS, mengkaji perilaku dan
mekanisme pemecahan masalah yang dilakukan orang tua bayi
(Maryunani, 2013).

E. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAY KEPERAWATAN


1. Patofisologi
Bayi prematur lahir dengan kondisi paru yang belum siap
sepenuhnya untuk berfungsi sebagai organ pertukaran gas yang efektif.
Hal ini merupakan faktor kritis dalam terjadinya RDS. Ketidaksiapan
paru menjalankan fungsinya tersebut terutama disebabkan oleh
kekurangan atau tidak adanya surfaktan.
Surfaktan adalah substansi yang merendahkan tegangan permukaan
alveolus sehingga tidak terjadi kolaps pada akhir ekspirasi dan mampu
memohon sisa udara fungsional (kapasitas residu fungsional).
Surfaktan juga menyebabkan ekspansi yang merata dan jarang
ekspansi paru pada tekanan intraalveolar yang rendah. Kekurangan
atau ketidakmatangan fungsi sufaktan menimbulkan
ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi dan kolaps alveoli saat
ekspirasi tanpa surfaktan, janin tidak dapat menjaga parunya tetap
mengembang. Oleh karena itu, perlu usaha yang keras untuk
mengembangkan parunya pada setiap hembusan napas (ekspirasi),
sehingga untuk bernapas berikutnya dibutuhkan tekanan negatif
intratoraks yang lebih besar dengan disertai usaha inspirasi yang lebih

6
kuat. Akibatnya, setiap kali perapasan menjadi sukar seperti saat
pertama kali pernapasan (saat kelahiran). Sebagai akibatnya, janin
lebih banyak menghabiskan oksigen untuk menghasilkan energi ini
daripada ia terima dan ini menyebabkan bayi kelelahan. Dengan
meningkatnya kekelahan, bayi akan semakin sedikit membuka
alveolinya, ketidakmampuan mempertahankan pengembangan paru ini
dapat menyebabkan atelektasis.
Tidak adanya stabilitas dan atelektasis akan meningkatkan
pulmonary vaskular resistem (PVR) yang nilainya menurun pada
ekspansi paru normal. Akibatnya, terjadi hipoperfusi jaringan paru dan
selanjutnya menurunkan aliran darah pulmonal. Di samping itu,
peningkatan PVR juga menyebabkan pembalikan parsial sirkulasi,
darah janin dengan arah aliran dari kanan ke kiri melalui duktus
arteriosus dan foramen ovale.
Kolaps paru (atelektasis) akan menyebabkan gangguan vektilisasi
pulmonal yang menimbulkan hipoksia. Akibat dari hipoksia adalah
kontraksi vaskularisasi pulmonal yang menimbulkan penurunan
oksigenasi jaringan dan selanjutnya menyebabkan metabolisme
anaerobik. Metabolisme anaerobik menghasilkan timbunan asam laktat
sehingga terjadi asidosis metabolik pada bayi dan penurunan curah
jantung yang menurunkan perfusi ke organ vital. Akibat lain adalah
kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolus yang
menyebabkan terjadinya transudasi ke dalam alveoli dan terbentuknya
fibrin. Fibrin bersama-sama dengan jaringan epitel yang nekrotik
membentuk suatu lapisan yang disebut membran hialin. Membran
hialin ini melapisi alveoli dan menghambat pertukaran gas.
Atelektasis menyebabkan paru tidak mampu mengeluarkan karbon
dioksida dari sisa pernapasan sehingga terjadi asidosis respiratorik.
Penurunan pH menyebabkan vasokonstriksi yang semakin berat.
Dengan penurunan sirkulasi paru dan perfusi alveolar, PaO 2 akan
menurun tajam, pH juga akan menurun tajam, serta materi yang
diperlukan untuk produksi surfaktan tidak mengalir ke dalam alveoli.

7
Sintesis surfaktan dipengaruhi sebagian oleh pH, suhu dan perfusi
normal, asfiksia, hipoksemia dan iskemia paru terutama dalam
hubungannya dengan hipovolemia, hipotensi dan stress dingin dapat
menekan sintesis surfaktan. Lapisan epitel paru dapat juga terkena
trauma akibat kadar oksigen yang tinggi dan pengaruh penatalaksanaan
pernapasan yang mengakibatkan penurunan surfaktan lebih lanjut.

8
2. Pathway

Primer Sekunder

bayi
premature Perdarahan Ibu SC Aspirasi Asfiksia Resusitasi Pneumotorak,
antepartum, diabetes mekonium neonatorum neonatus sindrom wilson,
hipertensi (pneumonia mikity
hipotensi aspirasi)
(pada ibu)

Penurunan produksi surfaktan

Meningkatnya tegangan permukaan alveoli

Ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi

Kolaps paru (atelektasis) saat ekspirasi


Surfaktan menurun

Janin tidak dapat IDIOPATIC RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME / IRDS


menjaga rongga paru
tetap mengembang Peningkatan pulmonary
Kolaps paru
vaskular resistence (PVR)

Tekanan negatif intra


Gangguan ventilasi pulmonal
toraks yang besar Hipoperfusi jaringan paru

Masukan oral Hipoksia


Usaha inspirasi yang Me↓nya aliran darah
tidak adekuat/
lebih kuat
menyusu buruk Kontriksi vaskularisasi

MK : kerusakan pertukaran
- Dispena MK : Perubahan
P↓ oksigenasi jaringan gas
- Takipnea nutrisi kurang dari
- Apnea kebutuhan tubuh
- Retraksi dinding
Penurunan curah jantung
dada
- Pernapasan
cuping hidung
- Mengorok
MK : Resti
penurunan curah
MK : Pola nafas tidak efektif, jantung
intoleransi aktivitas

9
F. MASALAH KEPERAWATAN LAIN YANG MUNCUL
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakadekuatan
kadar surfaktan, ketidakseimbangan perfusi ventilasi
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan energi/
kelelahan, keterbatasan pengembangan otot
3. Termoregulasi tidak efektif berhubungan dengan penurunan lemak
subkutan, peningkatan upaya pernafasan sekunder akibat RDS
4. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan
ventilasi pulmonal
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

G. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Kerusakan pertukaran Setelah dilakukan Acid Base Management
gas berhubungan dengan tindakan keperawatan 1. Pertahankan kepatenan
ketidakadekuatan kadar 3x24 jam diharapkan jalan nafas
surfaktan, hasil AGD pasien dalam 2. Posisikan pasien untuk
ketidakseimbangan batas normal dengan mendapatkan ventilasi
perfusi ventilasi kriteria hasil : yang adekuat(mis., buka
a. PaO2 dalam batas jalan nafas dan tinggikan
normal (80-100 kepala dari tempat tidur)
mmHg) 3. Monitor hemodinamika
b. PaCO2 dalam batas status (CVP & MAP)
normal (35-45 4. Monitor kadar pH, PaO2,
mmHg) PaCO2 darah melalui hasil
c. pH normal (7,35- AGD
7,45) 5. Monitor tanda-tanda gagal
d. SaO2 normal (95- napas
100%) Monitor
e. Tidak ada sianosis 1. Monitor status neurologis
f. Tidak ada 2. Monitor status pernapasan
penurunan dan status oksigenasi klien
kesadaran 3. Atur intake cairan

10
4. Auskultasi bunyi napas
dan adanya suara napas
tambahan (ronchi,
wheezing, krekels, dll)
5. Kolaborasi pemberian
nebulizer, jika diperlukan
6. Kolaborasi pemberian
oksigen, jika diperlukan.

2 Pola napas tidak efektif Setelah di lakukan Intervensi utama :


berhubungan dengan intervensi keperawatan Manajemen jalan napas
hambatan upaya napas selama 3 x 24 jam 1. Monitor pola napas
(kelelahan otot diharapkan pola napas (frekuensi, kedalaman,
pernapasan), dibuktikan dapat membaik dengan usaha napas)
dengan dipsnea, kriteria hasil : 2. Monitor bunyi napas
penggunaan otot bantu a. Dipsnea menurun tambahan (gurgling,
pernapasan, pola napas b. Penggunaan otot mengi, wheezing, ronkhi)
abnormal, pernapasan napas bantu menurun 3. Berikan oksigen, jika
cuping hidung, retraksi c. Pernapasan cuping perlu
dada hidung menurun 4. Kolaborasi pemberian
d. Frekuensi napas bronkodilator,ekspe
membaik ktoran,mukolitk, jika perlu
e. Kedalaman napas Pemantauan respirasi
membaik 1. Monitor frekuensi, irama,
kedalaman, dan upaya
napas
2. Monitor pola napas
(seperti bradipneu,
takipneu, hiperventilasi)
3. Monitor adanya sumbatan
jalan napas
4. Auskultasi bunyi napas
5. Monitor saturasi oksigen

11
6. Paplasi kesimetrisan
ekspansi paru
7. Atur interval pemantauan
respirasi sesuai kondisi
pasien
8. Monitor adanya
pernafasan cuping hidung
9. Monitor adanya
kelemahan otot
diagfragama
3 Termoregulasi tidak Setelah dilakukan Regulasi temperature
efektif berhubungan tindakan intervensi observasi
dengan penurunan lemak keperawatan selama 1. Monitor suhu bayi sampai
subkutan, peningkatan 3x24 jam di harapkan stabil
upaya pernafasan masalah keperawatan 2. Monitor suhu tuuh
sekunder akibat RDS termogulasi tidak efektif 3. Monitor tekanan darah
dapat teratasi dengan 4. Monitor warna kulit dan
kriteria hasil : suhu kulit
a. Menggigil menurun 5. Monitor tanda gejala
b. Kejang menurun hipertermi
c. Akrosianosis
menurun
d. Konsumsi oksigen
menurun
e. Pucat menurun
f. Takikardi menurun
g. Takipnea menurun
h. Bradikardi menurun
i. Hipoksia menurun
j. Suhu tubuh membaik
k. Suhu kulit membaik
4 Resiko tinggi penurunan Setelah di lakukan Cardiac Care
curah jantung intervensi keperawatan 1. Evaluasi adanya nyeri

12
berhubungan dengan selama 3 x 24 jam dada (Intesitas, lokasi,
gangguan ventilasi diharapkan resiko tinggi rambatan, durasi, serta
pulmonal penurunan curah jantung faktor yang
daapat menurun dengan menimbulkan dan
kriteria hasil : meringankan gejala).
a. Tekanan darah 2. Monitor EKG untuk
sistolik (TDS) dalam perubahan ST, jika
batas normal (< 120 diperlukan.
mmHg) 3. Lakukan penilaian
b. Tekanan darah komprehenif untuk
diastolik (TDD) sirkulasi perifer (Cek
dalam batas normal nadi perifer, edema,CRT,
(< 80 mmHg) serta warna dan
c. Frekuensi jantung temperatur ekstremitas)
(Heart rate, HR) secara rutin.
dalam batas normal 4. Monitor tanda-tanda vital
(60-100 x/menit) secara teratur.
d. Peningkatan fraksi 5. Monitor status

ejeksi kardiovaskuler.

e. Peningkatan nadi 6. Monitor disritmia

perifer jantung.

f. Oliguria (-) 7. Dokumentasikan

g. Dispnea dengan disritmia jantung.


8. Catat tanda dan gejala
aktivitas sedang (-)
dari penurunan curah
h. Penurunan berat
jantung.
badan
9. Monitor status repirasi
i. Sianosis (-)
sebagai gejala dari gagal
jantung.
Circulation Status
10. Monitor abdomen
a. Tekanan darah
sebagai indikasi
sistolik (TDS) dalam
penurunan perfusi.
batas normal (< 120

13
mmHg) 11. Monitor nilai
b. Tekanan darah laboratorium terkait
diastolik (TDD) (enzim jantung).
dalam batas normal
(< 80 mmHg) Cardiac Care : Acute
c. Tekanan nadi yang 1. Evaluasi adanya nyeri
melebar (-) dada (Intesitas, lokasi,
d. MAP dalam batas rambatan, durasi, serta
normal (60-70 faktor yang menimbulkan
mmHg) dan meringankan gejala).
e. PaO2 dalam btas 2. Monitor EKG untuk
normal (80-95 perubahan ST, jika
mmHg atau 10,6- diperlukan.
12,6 kPa) 3. Lakukan penilaian
f. PaCO2 dalam batas komprehenif untuk
normal (35-45 sirkulasi perifer.
mmHg atau 4,66- 4. Monitor kecepatan pompa
5,98 kPa) dan ritme jantung.
g. SpO2 dalam batas 5. Auskultasi bunyi jantung.
normal (> 95%) 6. Auskultasi paru-paru
h. Capillary Refill untuk crackles atau suara
Time (CRT) dalam nafas tambahan lainnya.
batas normal (< 3 7. Monitor efektifitas terapi
detik) oksigen, jika diperlukan.
8. Monitor faktor-faktor
yang mempengaruhi
aliran oksigen (PaO2, nilai
Hb, dan curah jantung),
jika diperlukan.
9. Monitor status neurologis.
10. Monitor EKG (12-leads),
jika diperlukan.

14
11. Monitor fungsi ginjal
(Nilai BUN dan
kreatinin), jika
diperlukan.
12. Monitor hasil tes untuk
fungsi hati, jika
diperlukan.
13. Monitor nilai
laboratorium elektrolit
yang bisa meningkatkan
risiko disritmia (serum K
dan Mg), jika diperlukan.

BAB II
TINJAUAN KASUS

STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG


PENGKAJIAN NEONATUS

15
A. IDENTITAS NEONATUS
Nama Bayi : An. S
Tanggal Lahir : 23 September 2020 Jam : 09.15 WIB
Jenis : Laki – Laki / Perempuan
Umur : 1 hari
Ruang : Melati
Kelahiran : Tunggal, hidup
Tanggal MRS : 23 September 2020 Jam : 02.00 WIB
Tanggal Pengkajian : 23 September 2020 Jam: 11.00 WIB
Diagnosa medis : BBLR dengan Respiratory Distress Syndrome (RDS)

B. IDENTITAS ORANG TUA


Nama Ibu : Ny. D Nama Ayah : Tn.A
Umur Ibu : 35 th Umur Ayah : 38 th
Pekerjaan Ibu : Ibu rumah tangga Pekerjaan Ayah: Swasta
Pendidikan Ibu : SMA Pendidikan Ayah: SMA
Agama : Islam
Alamat :-
Dikirim Oleh : Ruang Operasi

C. RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN


1. Riwayat Kehamilan
Ibu (G) P3 A0
BB 48 kg , Umur Kehamilan 32 minggu/bulan
TB 158 cm
Pemeriksaan antenatal 4 kali di bidan
Teratur, sejak kehamilan 4 minggu
Penyakit/komplikasi kehamilan tidak ada

Kebiasaan makanan : Memiliki nafsu makan yang baik sehari 4x


Merokok : Tidak
Jamu : Tidak
Kebiasaan minum obat : Tidak
Periksa terakhir :
Hb 11 gr/dl
Golongan Darah : B
Gula Darah 116 mg/dl
Pernah mendapat terapi : Tidak
Alergi obat : Tidak

2. Riwayat Persalinan

16
Riwayat persalinan didapatkan keterangan bayi lahir sekitar pukul 09.10
WIB, lahir dengan Sectio Cesear Trens Profunda atas indikasi hemorrhagic
ante partum et cause previa totalis, dengan BB lahir 1800 gram dan PB
lahir 45 cm, letak kepala, menangis setelah di resusitasi, pergerakan lemah.
Letak plasenta menutupi jalan lahir sehingga dilakukan tindakan seksio
sesarea. Tidak ada kelainan bawaan dan anus (+). Kesan didapatkan ibu
melahirkan dengan tindakan karena adanya penyulit.

D. RIWAYAT KEPERAWATAN
1. Riwayat Keperawatan Sekarang :
a. Keluhan utama : Pasien mengalami sesak nafas kurang lebih 2 jam
setelah lahir riwayat pemberian asi di sangkal oleh ibu.
b. Riwayat penyakit Sekarang : Bayi laki-laki, usia 1 hari, baru lahir
dikirim dari Ruang Operasi dengan diagnosis kurang bulan dan berat
badan lahir rendah. Bayi lahir secara per abdominal atas indikasi
perdarahan ante partum karena plasenta previa totalis. Bayi laki-laki
lahir dengan berat badan 1800 gram, panjang badan 45 cm, dengan
apgar scor 5/6/7. Bayi menangis setelah diresusitasi, bayi mengalami
sesak nafas, pergerakan bayi tidak aktif dan menangis lemah, namun
tidak ditemukan kelainan bawaan. Bayi tampak sianosis, pernafasan
cuping hidung (+), retraksi suprasternal dan subcostal, merintih (+)
deangan stetoskop, pernafasan vesikuler (+/+)
2. Riwayat Keperawatan Sebelumnya :
a. Riwayat Kesehatan yang lalu tidak ada
b. Imunisasi : HB 0
3. Riwayat Keluarga
Genogram :

Keterangan

17
Laki-laki garis perkawinan klien

Perempuan garis keturunan

4. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan


Tahap Pertumbuhan
a. Berat badan lahir : 1800 gr
Berat badan sekarang : 1800 gr
b. Lingkar Kepala : 34 cm
Lingkar Dada : 32 cm
Lingkar Abdomen : 34 cm
Lingkar Lengan Atas : cm
c. Panjang Badan : 48 cm
Tahap Perkembangan
a. Psikososial : -
b. Psikoseksual : -
c. Kognitif :-
5. Pengkajian fisik
a. Tanda – Tanda Vital :
Nadi : 138 x/menit
Suhu : 36,9 °C
Pernafasan : 64 x/menit, tipe :
CRT :-
b. Pemeriksaan Fisik : Bayi tampak sianosis, pernafasan cuping hidung
(+), retraksi suprasternal dan subcostal, merintih (+) dengan stetoskop,
pernafasan vesikuler (+/+)

 Refleks ; (Beri tanda √ pada hasil pemeriksaan)


Sucking (menghisap) : Ada tetapi lemah (  ) Tidak ( )

Palmar Grasping (menggenggam) : Ada (  ) Tidak ( )

Tonic Neck (leher) : Ada (  ) Tidak ( )

Rooting (mencari) : Ada (  ) Tidak ( )

Moro (kejut): Ada ( ) Tidak ( )

Babinsky : Ada ( ) Tidak ( )

Gallant (punggung) : Ada (  ) Tidak ( )

18
Swallowing (menelan) : Ada tetapi lemah (  ) Tidak ( )

Plantar Grasping (telapak kaki) : Ada (  ) Tidak ( )

Tonus / aktivitas
a. Aktif ( ) Tenang (  ) Letargi ( ) Kejang ( )
b. Menangis Keras ( ) Lemah (  )Melengking ( )
Kepala / leher
a. Fontanel anterior: Lunak (  ) Tegas ( ) Datar ( )
Menonjol ( ) Cekung ( )
b. Sutura sagitalis: Tepat (  ) Terpisah ( ) Menjauh ( )
Tumpang tindih ( )
c. Gambaran wajah: Simetris (  ) Asimetris ( )
d. Molding ( ) Caput succedaneum ( ) Cephalhematoma ( )
Mata
Bersih (  ) Sekresi ( )
Jarak interkanus________ Sklera : __________
THT
a. Telinga : Normal (  ) Abnormal ( )
b. Hidung: Simetris (  ) Asimetris ( )
Wajah
a. Bibir sumbing ( )
b. Sumbing langit-langit / palatum ( )
Abdomen
a. Lunak (  ) Tegas ( ) Datar ( ) Kembung ( )
b. Lingkar perut……cm
c. Liver : teraba ( ) kurang 2 cm ( ) lebih 2 cm ( )
Toraks
a. Simetris (  ) Asimetris ( )
b. Retraksi derajat 0 (  ) derajat 1 ( ) derajat 2 ( )
c. Klavikula normal (  ) Abnormal ( )
Paru-paru
a. Suara nafas kanan kiri sama ( ) Tidak sama ( )
b. Suara nafas bersih ( ): ronchi ( ) sekresi ( ): wheezing ( )
vesikuler ( )
c. Respirasi : spontan ( ) Tidak spontan (  )
Alat bantu nafas : ( ) Oxihood: ( ) Nasal kanul: ( ) O2 /
incubator
Konsentrasi O2 : _________ liter / menit

Jantung
a. Bunyi Normal Sinus Rhytm (NSR) ( )

19
Frekuensi : _________________
b. Murmur ( ) Lokasi _____________
c. Waktu pengisian kapiler : __________
d. Denyut nadi : 138 x /menit

Nadi Perifer Keras Lemah Tidak ada


Brakial kanan 
Brakial kiri 
Femoral kanan
Femoral kiri 

Ekstremitas
Gerakan bebas ( ) ROM terbatas (  ) Tidak terkaji ( )
Ekstremita atas Normal (  ) Abnormal ( )
Sebutkan : ___________
Ekstremitas bawah Normal (  ) Abnormal ( )
Sebutkan : ___________
Panggul Normal (  ) Abnormal ( ) Tidak terkaji ( )

Umbilikus
Normal (  ) Abnormal ( )
Inflamasi ( ) Drainase ( )

Genital
Perempuan normal ( ) Laki-laki normal (  )
Abnormal ( )
Sebutkan : ________________

Anus Paten (  ) Imperforata ( )


Kulit
Warna Pink ( ) Pucat (  ) Jaundice ( )
Sianosis pada Kuku ( ) Sirkumoral ( )
Periorbital ( ) Seluruh tubuh ( )
Kemerahan (rash) ( )
Tanda lahir : ( ); sebutkan ______________
Turgor kulit : elastis (  ) tidak elastis ( ) edema ( )
Lanugo ( )
Suhu
a. Lingkungan
Penghangat radian ( ) Penmgaturan suhu (  )
Inkubator ( ) Suhu ruang ( ) Boks terbuka ( )
0
b. Suhu kulit : 36,9 C

20
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tgl 23 September 2020
Pemeriksaan Laboratorium
Darah lengkap didapatkan hasil
Hb : 16,8 gr/dl
Leukosit : 24.400/ul
Trombosit : 255.000/ul
1. Pemeriksaan antropometri dan dilakukan analisa kurva NCHS didapatkan
status gizi BB/usia = -3,71 (< -3 SD, kesan gizi buruk), PB/usia = -2,67(-3
SD -<-2 SD, kesan pendek), BB/PB = -3,46 (<-3 SD, kesan sangat kurus)

F. TERAPI: belum di beri terapi obat

ANALISA DATA

Data Klien Pathway Masalah Etiologi


Keperawatan
DS : -- Surfaktan menurun Pola nafas tidak Imaturitas
DO : efektif neurologis
- Pasien mengalami Janin tidak dapat
sesak nafas kurang menjaga rongga paru
lebih 2 jam setelah tetap mengembang
lahir, riwayat Tekanan negatif
pemberian ASI intra toraks yang
disangkal oleh ibu besar
pasien
- Nadi : 138x/menit Usaha inspirasi yang
- Pernafasan : 64 lebih kuat
x/menit
- Dispena
- Nafas cuping hidung
- Takipnea
- Sianosis
- Apnea
- Pernafasan vesikuler
- Retraksi dinding
dada
- Pernapasan cuping
hidung
- Mengorok

Pola nafas tidak


efektif, intoleransi
aktivitas

21
DS : Ibu pasien Surfaktan menurun Defisit Nutrisi Kurang asupan
mengatakan bayinya makanan (ASI)
menyusu dengan daya Janin tidak dapat
hisap yang lemah menjaga rongga paru
DO : tetap mengembang
- Bayi menetek lemah Tekanan negatif
- Pemeriksaan intra toraks yang
antropometri dan besar
dilakukan analisa
kurva NCHS Usaha inspirasi yang
didapatkan status gizi lebih kuat
BB/usia = -3,71 (< -3
Masukan oral tidak
SD, kesan gizi buruk),
adekuat/ menyusu
PB/usia = -2,67(-3 SD
buruk
-<-2 SD, kesan
pendek), BB/PB = Perubahan nutrisi
-3,46 (<-3 SD, kesan kurang dari
sangat kurus) kebutuhan tubuh

Defisit Nutrisi

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas neurologis
2. Defisit nutrisi berhubungan dengan kurangnya asupan makanan (ASI)

INTERVENSI

NO NOC NIC RASIONAL


DX
1. Setelah di lakukan Manajemen jalan nafas Manajemen jalan nafas
tindakan keperawatan (I.01011)
selama 3 x 24 jam 1. Monitor pola nafas 1. Mengetahui status
diharapkan pola napas 2. Berikan oksigenasi perkembangan

22
dapat membaik dengan 3. Pertahankan pasien
kriteria hasil : kepatenan jalan nafas 2. Untuk mencegah
4. Monitor saturasi terjaadinya
Pola nafas (L01002) oksigen komplikasi lanjut
Indikator A T 5. Monitor adanya 3. Untuk
pernafasan cuping mempertahankan
Dipsnea 4 2 hidung kepatenan jalan
menurun 6. Anjurkan asupan nafas supaya pasien
Pernafasan 4 2 cairan jika perlu dapat terus bernafas
cuping Pemantauan respirasi 4. Untuk mengetahui
hidung (I.01014) perkembangan status
menurun 1. Monitor frekuensi, kesehatan pasien dan
irama, kedalaman mencegah
Pernafasan 4 2 dan upaya nafas komplkasi lanjutan
vesikuler 2. Monitor status 5. Mengoptimalkan
oksigen keseimbangan cairan
Frekuensi 4 2
3. Dokumentasi hasil Pemantauan respirasi
nafas
pemantauan 1. Megetahui
Keterangan : perkembangan status
1. Menurun pasien
2. Cukup menurun 2. Mencegah terjadinya
3. Sedang kompliksi
4. Cukup meningkat 3. Mengetahui bukti
5. Meningkat tindakan yang telah
dilakukan
2. Setelah di lakukan Manajemen nutrisi Manajemen nutrisi
tindakan keperawatan (I.03119) 1. Mengetahui
selama 3 x 24 jam 1. Identifikasi status perkembangan status
diharapkan devisit nutrisi bayi nutrisi pada bayi
nutrisi membaik 2. Monitor berat 2. Mengetahui
dengan kriteria hasil : badan bayi perkembangan berat
Status nutrisi (L.03030) 3. Monitor hasil badan bayi
Indikator A T pemeriksaan 3. Mengetahui
Kekuatan 4 2 laboratorium peubahan dalam
otot 4. Kolaborasi pemeriksaan
menelan dengan tenaga lanjutan
Berat 4 2 kesehatan lain 4. Mengoptimalkan
badan dalam pemberian nutrisi
memberikan pada bayi
Keterangan : terapi
1. Menurun
2. Cukup menurun

23
3. Sedang
4. Cukup meningkat
5. Meningkat

IMPLEMENTASI

NO TGL/JAM IMPLEMENTASI TTD


DX
1 Rabu, 23 - Melakukan resusitasi bayi baru lahir, 30
September kompresi dada dengan kecepatan 100-
2020 120 x/menit selama
1 11.10 WIB
11.15 WIB - Memasang CPAP dengan FiO2 30%

1 11. 20 - Memberikan terapi oksigen pada bayi


WIB

1 12.00 WIB - Memonitor pola nafas bayi, RR : 62


x/menit
1 12.05 WIB - Memasukan bayi ke inkubator untuk
mempertahankan suhu bayi 36,5
derajat- 37,5 derajat celcius
1 12.20 WIB - Memberikan asupan cairan 144 cc/hari
terdiri dari IVFD D 10%
1 12.35 WIB - Memberikan injeksi ceftazidime 90
mg/12 jam, aminophilin dengan dosis
loading 13 mg dan dosis maintenance
4,5 mg/12 jam
2 12.40 WIB - Memonitor berat badan bayi yaitu 1800
gram
1 13.00 WIB - Memonitor frekuensi nafas bayi, RR :
61x/menit
2 13.15 WIB - Mengidentifikasi status nutrisi bayi

2 13.20 WIB - Memasang OGT pada bayi

2 13.30 WIB - Pemberian susu lewat OGT

1 14.00 WIB - Mendokumentasikan hasil pemantauan

24
1 Kamis, 24 - Memonitor pola nafas bayi 60 x/menit
September
2020
07.00 WIB
2 07.30 WIB - Memberikan susu lewat OGT
1 09.00 WIB - Memonitor berat badan bayi 1800
gram
2 12.00 WIB - Memberikan susu lewat OGT
1 13.00 WIB - Memonitor frekuensi nafas
59x/menit
14.00 WIB - Mendokumentasi hasil pemantauan

1 Jumat, 25 - Memonitor pola nafas bayi 58 x/menit


September
2020
14.00 WIB
2 15.00 WIB - Memonitor berat badan bayi 1800 gram

1 16.00 WIB - Memonitor frekuensi nafas 55x/menit

2 19.00 WIB - Memberikan susu lewat OGT


20.00 WIB - Mendokumentasi hasil pemantauan

EVALUASI

NO TGL/JAM EVALUASI
DX
1 Rabu, 23 S : -
September O : Cuping hidung berkurang, bayi masih terlihat
2020 sesak dengan terpasang CPAP, frekuensi nafas 62
x/menit dan terpasang OGT.
A : Masalah belum teratasi
- Pernafasan cuping hidung
- Frekuensi nafas
P : Lanjutkan intervensi

25
- Monitor status pernafasan
2 Rabu, 23 S : -
September O : berat badan bayi masih rendah, bayi menerima
2020 nutrisi melewati selang OGT
A : Masalah belum teratasi
- Kekuatan otot menelan
- Berat badan rendah

1 Kamis, 24 S : -
September O : Cuping hidung berkurang, bayi masih terlihat
2020 sesak dengan terpasang CPAP, frekuensi nafas 61
x/menit dan terpasang OGT.
A : Masalah belum teratasi
- Pernafasan cuping hidung
- Frekuensi nafas
P : Lanjutkan intervensi
- Monitor status pernafasan
2 Kamis, 24 S : -
September O : berat badan bayi masih rendah, bayi menerima
2020 nutrisi melewati selang OGT
A : Masalah belum teratasi
- Kekuatan otot menelan
- Berat badan rendah

26
1 Jumat, 25 S : -
September O : Cuping hidung sudah tidak ada, bayi masih
2020 terpasang CPAP, frekuensi nafas 55 x/menit dan
terpasang OGT.
A : Masalah pola nafas tidak efektif teratasi
P : Stop Intervensi
2 Jumat, 25 S : -
September O : berat badan bayi masih rendah, bayi menerima
2020 nutrisi melewati selang OGT
A : Masalah belum teratasi
- Kekuatan otot menelan
- Berat badan rendah

27
BAB III
PEMBAHASAN

Pada pasien ini didapatkan keluhan berat bayi lahir rendah dengan usia
gestasi kurang bulan sesuai masa kehamilan. Pasien lahir secara SC atas
indikasi perdarahan antepartum karena letak plasenta yang menutupi jalan lahir
(plasenta previa totalis). Berdasarkan anamnesis didapatkan pasien lahir dalam
usia gestasi 32 minggu dengan berat lahir 1.800 gr. Hal ini menunjukkan bahwa
pasien merupakan BBLR dengan Prematuritas Murni. BBLR adalah bayi yang
dilahirkan dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa
gestasi (Kosim, 2010). Sedangkan prematuritas murni adalah bayi lahir dengan
umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai
dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang
Bulan–Sesuai Masa Kehamilan (NKB-SMK). Usia gestasi didapatkan
berdasarkan dari HPHT dan disesuaikan dengan pemeriksaan fisik pada
neonatus dengan menggunakan BALLARD SCORE dimana didapatkan skor
22.
Dari pemeriksaan antropometri & dilakukan analisa kurva NCHS
didapatkan status gizi: BB/usia= -3,71 (<-3 SD; kesan gizi buruk), PB/usia=
-2,67 (-3 SD — <-2 SD; kesan pendek), BB/PB= -3,46 (<-3 SD; kesan sangat
kurus). Dari pemeriksaan fisik didapatkan BB sekarang 1.800 gram, PB 45 cm,
Ballard score 22 (usia gestasi 32 minggu), keadaan tampak sakit berat,
kesadaran compos mentis, suhu per aksila 36,9 oC, frekuensi denyut jantung
138 x/menit, frekuensi pernapasan 64 x/menit, bayi tampak sianosis, pernapasan
cuping hidung (+), retraksi suprasternal dan subcostal, merintih (+) dengan
stetoskop, pernafasan vesikuler (+/+). Pemeriksaan laboratorium darah lengkap
didapatkan hasil Hb: 16,8 gr/dl; leukosit: 24.400/ul; Trombosit: 255.000/ul;
CRP: (-).
Pasien didiagnosis dengan neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan
post Sectio Cesarea (SC) atas indikasi perdarahan ante partum et causa Plasenta
Previa Totalis dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan respiratory distress
syndrome.

28
Penatalaksanaan pasien pada kasus ini yaitu rawat inkubator untuk
mempertahankan suhu bayi 36,5%-37,5% 0C; Pasang CPAP dengan FiO2 30%;
Penuhi kebutuhan cairan 144 cc/ hari terdiri dari IVFD D10% 144cc. Diberikan
obat- obatan yaitu Injeksi Ceftazidime dengan dosis 90 mg/12 jam, Aminophilin
dengan dosis loading 13 mg dan dosis maintenance 4,5mg/12 jam. Pemeriksaaan
laboratorium darah dan rontgen torakoabdominal bedside. Juga dilakukan
monitor suhu, pernafasan, sesak, saturasi.
Resusitasi Bayi Baru Lahir (BBL) adalah prosedur yang diaplikasikan
pada BBL yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir
atau beberapa saat setelah lahir. Tujuan dilakukan resusitasi ialah untuk
memperbaiki fungsi pernapasan dan jantung bayi yang tidak bernapas (Ghofar,
2012).

Pasien mengalami sesak nafas ± 2 jam setelah lahir, riwayat pemberian asi
disangkal oleh ibu pasien. Hal ini menunjukkan bahwa sesak bukan karena
pneumoni akibat aspirasi ASI, namun pasien mengalami sindrom gawat nafas
karena paru-paru yang belum matang. Sindrom gawat napas adalah suatu
keadaan meningkatnya kerja pernapasan yang ditandai dengan:
1. Takipnea, frekuensi napas > 60-80 kali/menit
2. Retraksi, cekungan atau tarikan kulit antara iga (interkostal) dan atau di
bawah sternum (sub sternal) selama inspirasi
3. Napas cuping hidung, kembang kempis lubang hidung selama inspirasi
4. Merintih atau grunting, terdengar merintih atau menangis saat inspirasi
5. Sianosis, sianosis sternal yaitu warna kebiruan pada bibir (berbeda dengan
biru lebam atau warna membran mukosa).
6. Apnue atau henti napas.
7. Dalam jam-jam pertama sesudah lahir, empat gejala distres respirasi
(takipneu, retraksi, napas cuping hidung, dan grunting) kadang dijumpai pada
BBL normal tetapi tidak berlangsung lama. Gejala ini disebabkan karena
perubahan fisiologik akibat reabsorbsi cairan dalam paru bayi dan masa
transisi dari sirkulasi neonatal.
8. Bila takipneu, retraksi, cuping hidung dan grunting menetap pada beberapa
jam setelah lahir, ini merupakan indikasi adanya gangguan napas atau

29
distress respirasi yang harus dilakukan tindakan segera.
Permasalahan lain pada kasus ini yaitu bayi menetek lemah di mana daya
hisapnya lemah. Keterampilan oral motor bayi prematur dibagi dalam 4 fase,
yaitu
1. Perkembangan refleks menghisap
2. Pematangan proses menelan
3. Kematangan fungsi pernafasan
4. Koordinasi gerakan menghisap, menelan, dan bernafas.
Kemampuan refleks menghisap sudah mulai ada sejak usia gestasi 28
minggu, namun singkronisasi masih tidak teratur dan bayi mudah mengalami
kelelahan, sejalan dengan proses pematangan maka mekanisme yang lebih
teratur akan di dapatkan pada usia gestasi 32-36 minggu (Hall, 2010)
Pada pasien ini, didapatkan usia gestasi 32 minggu (sesuai HPHT)
sehingga mencerminkan bahwa proses pematangan oral motor bayi belum
matang dan menimbulkan keluhan susah menyusui. Selain itu, pada pemeriksaan
fisik refleks premitif bayi, didapatkan bahwa terdapat kecenderungan ke arah
pematangan yang tidak sempurna dari refleks oral motor yaitu berupa refleks
rooting dan menghisap yang lemah sehingga nutrisi susu lewat Oro-Gastric Tube
(OGT). Saat bayi sudah berusia kronologis (32 minggu + 18 hari) daya hisap
sudah baik sehingga nutrisi bisa lewat oral.
Menurut kami pemberian nutrisi secara enteral pada pasien ini sudah
tepat karena memberi keuntungan berupa memberi makan sel-sel usus dan
menstimulasi produksi hormon- hormon usus yang akan mempercepat
proliferasi sel-sel usus yang penting untuk adaptasi usus setelah lahir.
Pemberian juga diberikan dengan dosis yang lebih rendah dahulu dengan tujuan
agar pasien tidak berlebihan menerima makanan.

30
DAFTAR PUSTAKA

Hall. (2010). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran . Jakarta: EGC.


Keliat, et. al. (2018). Asuhan Keperawatan Neonatus . Jakarta : EGC.
Kosim. (2010). Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir untuk
Dokter, Bidan dan Perawat di Rumahsakit. Jakarta: IDAI .
Marmi. (2015). Asuhan Neonatus, Bayi, Anak, Prasekolah. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar .
Nugraha , S. A. (2014). Bayi Berat Badan Lahir Rendah dengan Respiratory
Distress Syndrome , 190-194.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Definisi dan Indikator Diagnostik . Jakarta : Dewan Pengurus PPNI .

31

Anda mungkin juga menyukai