Anda di halaman 1dari 6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Evaluasi Jaringan Stasiun Hujan


Jaringan stasiun hujan harus direncanakan sesuai dengan keperluan kemanfaatan data curah
hujan yang akan dikumpulkan. Di wilayah yang telah berkembang dengan tingkat kepadatan yang
tinggi, jumlah alat penakar hujan yang diperlukan juga seharusnya lebih banyak. Hal ini
disebabkan karena tingkat perkembangan pembangunan yang berlangsung di tempat tersebut
menuntut informasi tentang curah hujan yang lebih akurat dibandingkan dengan wilayah kurang
atau belum berkembang dengan tingkat kepadatan penduduk rendah (Pariarta 2012).
Kesalahan dalam pemantauan data dasar hidrologi dalam suatu daerah pengaliran sungai
akan menghasilkan data siap pakai yang tidak benar dan mengakibatkan hasil perencanaan,
penelitian, dan pengelolaan sumber daya air yang tidak efisien dan efektif. Kesalahan tersebut
biasanya disebabkan oleh jumlah stasiun hujan dalam DAS yang kurang memadai dan pola
penyebaran stasiun hujan yang tidak merata.Untuk mengatasi masalah tersebut menurut WMO
(World Meteorological Organization), maka suatu DAS harus memiliki stasiun hujan yang
mewakili kerapatan jaringan stasiun hujan minimum seluas 100-250 km2 /stasiun. Kerapatan
jaringan stasiun hujan dapat dinyatakan sebagai luas DAS yang diwakili oleh satu stasiun
hujan.Sedangkan pola penyebaran stasiun hujan menyatakan lokasi penempatan stasiun hujan
dalam DAS. Secara teoritis, semakin tinggi kerapatan stasiun hujan yang digunakan maka akan
semakin tinggi pula ketelitian data yang diperoleh (Junaidi 2015).
Dalam merencanakan suatu jaringan stasiun hujan agar diperoleh data hujan yang
mempunyai tingkat ketelitian cukup, maka perlu dilakukan evaluasi kerapatan dan pola
penyebaran stasiun hujan yang sudah ada. Sehingga dapat diketahui perlu dan tidaknya dilakukan
penambahan dan pengurangan stasiun hujan, atau perlu tidaknya dilakukan pemindahan stasiun
lama ke tempat baru (Rodhita 2012).

2.2 Kerapatan Jaringan Stasiun Hujan


Data hujan merupakan hal yang sangat penting dalam penentuan kualitas dan ketepatan
perencanaan sumber daya air. Data hujan yang memiliki kesalahan yang minimum merupakan
salah satu komponen penentu dalam hitungan selanjutnya. Dalam praktek setiap negara
mempunyai cara tertentu dalam pengembangan jaringan stasiun hujan. Pada dasarnya terdapat
empat persoalan yang perlu dijawab (Sri Harto, 1993) yaitu :
a. Bagaimana pengukuran akan dilakukan,
b. Berapa banyak tempat yang akan diukur,
c. Dimana tempat yang akan diukur,
d. Berupa jaringan tetap atau sementara.
Untuk pengukuran kerapatan jaringan untuk tiap-tiap DAS digunakan metode Kagan
dikarenakan jumlah stasiun hujan yang optimal dan pola penempatannya dapat diperoleh.
Perhitungan kerapatan jaringan dengan metode Kagan ini dimulai dengan menentukan koefisien
korelasi antar stasiun hujan untuk masukan (input) hujan bulanan, dalam melakukan analisis ini
dihindarkan adanya “complete dry days”, jadi hanya untuk hari-hari atau bulan-bulan basah yang
mempunyai intensitas hujan yang besar yang dikorelasikan. Evaluasi jaringan kagan menunjukkan
keluaran (output) yaitu pertama hubungan antara jumlah stasiun hujan yang dibutuhkan dengan
tingkat kesalahan tertentu (kesalahan perataan dan kesalahan interpolasi), dan kedua lokasi stasiun
hujan sesuai dengan pola jaringan tertentu.
Keluaran dari perhitungan dengan metode Kagan ini adalah jumlah dan pola penempatan
stasiun hujan yang optimal. Apabila stasiun hujan existing ternyata lebih banyak daripada hasil
perhitungan Kagan maka tidak semua stasiun hujan digunakan dalam analisis selanjutnya dan
stasiun hujan dapat dikurangi. Pemilihan dilakukan dengan memilih stasiun hujan yang paling
dekat dengan simpul Kagan yang dianggap mewakili jaringan Kagan. Apabila stasiun hujan
ternyata lebih sedikit dibandingkan dengan perhitungan Kagan maka stasiun hujan perlu ditambah.

2.3 Penentuan Rancangan Jaringan Pos Hidrologi


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan rencana lokasi pos duga air sebagai
tempat pengukuran aliran, antara lain :
1. Jaringan lokasi pos hidrologi yang telah ada digambarkan pada peta topografi (bersekala
1:50.000), antara lain untuk :
a. Menghindari adanya penggandaan pos hidrologi;
b. Memperkirakan kemudahan ataupun kesulitan yang mungkin ditemui dalam
pengoperasian pos hidrologi yang akan dibangun; dan
c. Memperkirakan beberapa lokasi alternatif yang akan dipilih sebagai lokasi pos hidrologi.
2. Kondisi fisik daerah lokasi pos hidrologi perlu dievaluasi, misalnya distribusi curah hujannya,
struktur geologi, dan vegetasinya, dimaksudkan agar lokasi pos hidrologi dapat mewakili
kondisi hidrologi.
3. Latar belakang budaya masyarakat setempat di daerah rencana pos hidrologi harus dikenal
dengan baik agar tidak diperoleh hambatan dalam pengoperasian pos hidrologi.
4. Rencana anggaran biaya survei dan pembangunan pos hidrologi, pengadaan alat duga airnya
juga perlu direncanakan biaya tambahan.

2.4 Penakar Hujan


Jumlah hujan yang terjadi dalam suatu DAS merupakan besaran yang sangat penting dalam
sistem DAS tersebut, karena hujan merupakan masukan utama ke dalam satu DAS. Jumlah hujan
yang dimaksud tersebut adalah seluruh hujan yang terjadi dalam DAS yang bersangkutan, karena
hujan ini akan dialihragamkan (transformed) menjadi aliran disungai (Sri Harto, 1993). Dengan
demikian, ini berarti bahwa seluruh hujan yang terjadi setiap saat harus dapat diukur.
Lokasi alat penakar hujan sebaiknya dapat diamati secara teratur. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui apakah ada perubahan terjadi pada alat penakar tersebut atau mungkin ada tanaman
pengganggu yang perlu dibersihkan, Gambar 2.1 menunjukkan sketsa jarak pos hujan dengan
lingkungan sekitar, jarak antara rumah warga dan pepohon adalah 10 meter atau lebih dari titik
tengah alat. Gagal melakukan hal tersebut dapat menimbulkan gangguan pengukuran, misalnya
perubahan arah angin, alat penakar hujan terhalang pohon dengan demikian merubah data curah
hujan yang diamati.
Gambar 2.1 Sketsa jarak pos hujan dengan lingkungan sekitar

2.5 Kerapatan dan Penyebaran Jaringan Hujan


Jumlah stasiun hujan bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh terhadap ketelitian
perkiraan hujan. Selain jumlah, pola penyebaran stasiun-stasiun hujan dalam suatu DAS berperan
dalam menentukan ketelitian hitungan (Sri Harto, 1993). Jaringan stasiun hujan yang relatif
renggang cukup untuk hujan besar yang biasa atau untuk menentukan nilai rerata tahunan di atas
daerah luas yang datar. Sedangkan jaringan yang sangat rapat dibutuhkan guna menentukan pola
hujan dalam hujan yang lebat disertai guntur.
Kemungkinan tercatatnya lokasi pusat hujan oleh suatu alat ukur berubahubah menurut
kerapatan jaringannya. Kerapatan jaringan adalah jumlah stasiun tiap satuan luas dalam DAS.
Suatu jaringan harus direncanakan untuk menghasilkan suatu gambaran yang mewakili distribusi
daerah hujan. Di lain pihak, biaya pemasangan dan perawatan suatu jaringan dan aksesibilitas
lokasi alat ukur bagi pengamat selalu menjadi pertimbangan yang penting.
Untuk memperoleh hasil pengukuran yang baik, beberapa syarat harus dipenuhi untuk
pemasangan alat ukur hujan, antara lain (Sri Harto, 1993) :
a. Tidak dipasang di tempat yang terlalu terbuka (over exposed), seperti dipuncak bangunan atau
dipuncak bukit;
b. Tidak dipasang di tempat yang terlalu tertutup (under exposed), misalnya diantara dua gedung
tinggi;
c. Paling dekat berjarak 4 x tinggi bangunan / rintangan yang terdekat.
d. Mudah memperoleh tenaga pengamat.
Menurut Sri Harto 1993, kerapatan minimum jaringan hujan yang telah direkomendasikan
guna dimaksudkan untuk hidrometeorologis umum terangkum dalam Tabel 2.1 berikut.
Tabel 2.1 Kerapatan jaringan stasiun hujan
Kerapatan jaringan
Daerah minimum
(km2/sta)
Daerah datar pada zona beriklim sedang, mediteranean, dan
600 - 900
tropis
Daerah pegunungan pada zona beriklim sedang, mediteranean,
100 - 250
dan tropis
Pulau-pulau dengan pegunungan kecil dengan hujan yang tak
25
beraturan
Daerah kering dan kutub 1500 – 10000
Sumber: (Sri Harto, 1993)

2.6 Metode Kagan Rodda


Dalam merekomendasikan stasiun hujan baru pada DAS ada beberapa metode yang
digunakan yaitu metode Kagan Rodda, krigging dan lai-lain. Tetapi dalam pelaksanaan
rasionalisasi sebaiknya dipergunakan hasil rekomendasi dari metode Kagan-Rodda. Sebab selain
memenuhi kriteria teknis, jumlah stasiun hujan rekomendasi metode Kagan-Rodda jauh lebih
sedikit dibandingkan dengan kondisi eksisting maupun hasil rekomendasi metode Kriging
(Rodhita 2012).
Junaidi (2015), meneliti tentang Kajian rasionalisasi Jaringan Stasiun Hujan Pada WS
Parigi-Poso Sulawesi Tengah Dengan Metode Kagan Rodda dan Krigging. Studi dilakukan pada
WS Parigi Poso Provinsi Sulawesi Tengah. Hasil analisis yang sesuai dengan lokasi penelitian
adalah analisis Metode Kriging yang lebih rasional karena kesalahan relatif terkecil terdapat pada
metode Kriging. Analisis metode Kagan Rodda tidak cocok diterapkan sehingga diambil
kesimpulan metode Kagan Rodda lebih cocok digunakan pada daerah yang memiliki tingkat
perbedaan elevasi / kontur yang tidak terlalu besar.
Ranesa (2015), meneliti tentang Analisis Rasionalisasi Jaringan Pos Hujan Untuk Kalibrasi
Hidograf Pada DAS Babak Kabupaten Lombok Tengah. Dari hasil analisis jaringan stasiun hujan
rekomendasi dari metode Kagan-Rodda dan Kriging menurut standar kerapatan WMO, metode
Kagan-Rodda lebih direkomendasikan karena hasil rekomendasi Kagan-Rodda telah memenuhi
standar kerapatan yang disyaratkan WMO sedangkan metode Kriging masih memiliki 2 stasiun
yang belum memenuhi standar yang disyaratkan.
Harto, Br. Sri, 1993, Analisis Hidrologi, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Hermawan, 1989, Hidrologi Untuk Insinyur, Penerbit Erlangga, Jakarta. Limantara, Lily Montarcih,
2010, Hidrologi Praktis, Penerbit Lubuk Agung, Bandung. Suyono, Sosrodarsono. 2003, Hidrologi Untuk
Pengairan, Penerbit PT. Pradnya Paramita, Jakarta.
Junaidi Rahmad (2015), “Kajian Rasionalisasi Jaringan Stasiun Hujan Pada Ws Parigi-Poso Sulawesi
Tengah Dengan Metode Kagan Rodda Dan Kriging”. Malang : Universitas Briwijaya Malang.

Rodhita Muhammad (2012),“Rasionalisasi Jaringan Penakarhujan Di Das Kedungsoko Kabupaten


Nganjuk”. Malang : Universitas Briwijaya Malang.

Rodda, J.C., 1972, Planning The Apatial Distribution of Hydrometeorological Stations to Meet an Error
Criterion, Cassbook on Hydrological Network Design Practice, WMO-NO 324, Geneva.