Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PRAKTIKUM FITOFARMASI

SHIFT C1

Latihan 2. Sediaan Kapsul

LABORATORIUM BIOLOGI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JEMBER

2021
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................................... 1


BAB I ...........................................................................................................................................2
PENDAHULUAN .......................................................................................................................2
1.1 Tujuan Praktikum .......................................................................................................2
1.2 Latar Belakang .............................................................................................................2
BAB II ..........................................................................................................................................4
TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................................4
2.1 Lada Hitam (Piperis nigri Fructus) ............................................................................4
2.2 Macam-macam Metode Ekstraksi .............................................................................5
2.3 Metode Analisis Ekstrak dengan KLT-Densitometri ...............................................7
2.4 Bentuk Sediaan ............................................................................................................8
2.5 Formula Sediaan ..........................................................................................................9
2.6 Evaluasi Sediaan Kapsul ........................................................................................... 10
BAB III ......................................................................................................................................15
METODE ..................................................................................................................................15
3.1 Alat dan bahan ...........................................................................................................15
3.2 Cara pembuatan ........................................................................................................16
BAB IV ......................................................................................................................................22
HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................................................22
4.1 Hasil Praktikum .........................................................................................................22
4.2 Pembahasan ................................................................................................................32
BAB V ........................................................................................................................................38
PENUTUP .................................................................................................................................38
5.1 Kesimpulan .................................................................................................................38
5.2 Saran ........................................................................................................................... 39
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................................40

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum


Mahasiswa dapat membuat sediaan kapsul bahan alam yang terstandar.

1.2 Latar Belakang


Lada hitam (Piper nigrum) disebut juga dengan merica, merupakan jenis tanaman yang
banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah menjadi pepper oil. Buah lada
hitam mengandung bahan aktif seperti amida fenolat, asam fenolat, dan flavonoid yang
bersifat antioksidan sangat kuat. Selain mengandung bahan-bahan antioksidan, lada hitam
juga mengandung piperin yang diketahui berkhasiat sebagai obat analgesik, antipiretik, anti
inflamasi, serta memperlancar proses pencernaan.
Berbagai manfaat lada sangat berhubungan dengan senyawa metabolit sekunder terutama
alkaloid. Piperin merupakan senyawa metabolit sekunder yang juga merupakan suatu
senyawa alkaloid utama yang terkandung dalam buah lada hitam. Piperin adalah komponen
pembentuk oleoresin berupa campuran antara minyak atsiri dengan resin yang diperoleh
dengan isolasi. Zat lain yang terdapat pada buah lada hitam yaitu lignan jenis hinokinin.
Kandungan lada hitam sangat beranekaragam dan piperin merupakan kandungan utama serta
kavisin yang merupakan isomer dari piperin. Piperin adalah senyawa alkaloid (Evan, 1997)
yang paling banyak terkandung dalam lada hitam dan semua tanaman yang termasuk dalam
famili Piperaceae. Senyawa amida (piperin) berupa kristal berbentuk jarum, berwarna
kuning, tidak berbau, tidak berasa, lama-kelamaan pedas, larut dalam etanol, asam cuka,
benzena, dan kloroform (Amaliana, 2008). Piperin memiliki manfaat sebagai anti-inflamasi,
antiarthritik (Bang et al., 2009; Sudjarwo, 2005), analgesik (Sudjarwo, 2005), depresan
sistem safaf pusat dan anticonvulsan (Deepthi et al., 2012)
Ekstraksi dalam percobaan ini yaitu mengambil senyawa piperin yang terdapat pada lada
hitam melalui ekstraksi ultrasonikasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstraksi
merupakan proses penarikan komponen zat aktif dari bagian tanaman obat. Ekstraksi
senyawa aktif piperin, alkaloid yang terkandung dalam lada hitam dilakukan berdasarkan
sifatnya yaitu dalam suasana asam, basa maupun netral. Pada suasana asam digunakan
alkohol, sedangkan pada kondisi netral juga bisa digunkan alcohol dan air. Factor – factor
yang mempengaruhi kinerja ekstraksi adalah suhu, lama ekstraksi, jenis pelarut, ukuran
partikel, pH media ekstraksi, jumlah ekstraksi dan degredasi senyawa selama ekstraksi.
2
Metode ekstraksi juga mempengaruhi rendemen dan kandungan kimia yang dihasilkan
dalam proses ekstraksi bahan. Piperin merupakan senyawa polar dan untuk etanol juga
termasuk dalam senyawa polar sehingga etanol mampu melarutkan piperin yang terdapat
dalam lada hitam. Berdasarkan literatur bahwa piperin merupakan senyawa alkaloid yang
dapat larut dalam alkohol yaitu etanol, dimana antara piperin dengan etanol mampu
membentuk ikatan hidrogen.
Sediaan yang dibuat adalah kapsul piperin. Adapun alasan dipilihnya sediaan kapsul
antara lain dapat menutupi rasa pahit dan tidak enak dari bahan obat (ekstrak). Sebagian
besar ekstrak tumbuhan memiliki rasa yang pahit atau getir sehingga dengan pemilihan
kapsul dapat menutupi rasa yang tidak enak dan dapat meningkatkan keberterimaan
(akseptabilitas) pasien terhadap sediaan yang telah diformulasi.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lada Hitam (Piperis nigri Fructus)


2.1.1 Taksonomi dan Morfologi Lada Hitam
Tanaman lada berfamili Piperaceae yang berasal dari India dan telah menyebar luas
diberbagai benua, terutama Benua Asia. Adapun taksonomi tanaman lada hitam adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Kelas : Magnoliophyta
Sub kelas : Magnolidae
Super ordo : Magnolidae
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Genus : Piper L.
Spesies : Piper nigrum
Tanaman lada memiliki morfologi yaitu akar pendek/akar adventif, dimana akar
ini dapat berfungsi sebagai pemasok nutrisi. Buah lada hitam yang dikeringkan kaya akan
komponen bioaktif fitokimia antara lain, alkaloid, minyak esensial, fenol dan derivat
tanin, kumarin, antrakuinon, karbohidrat dan berbagai protein dari metabolit sekunder
yang memiliki efek teraupetik (Kadam et al, 2013). Flavonoid dan tanin pada buah lada
hitam dikenal dengan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri. Mekanisme kerja
flavonoid (berifat lipofilik) dalam menghambat fungsi membran sel adalah dengan
membentuk senyawa kompeks dengan protein ekstraseluler sehingga dapat merusak
membran sel bakteri dan diikuti dengan keluarnya senyawa intraseluler (Nuria &
Faizatun., 2009)
2.1.2 Kandungan kimia dan bioaktivitas
Kandungan utama alkaloid pada Piper nigrum yaitu piperin, piperidin, piperetin,
dan piperenin. Piperin adalah suatu alkaloid yang banyak dihasilkan oleh buah dan akar
Piper nigrum (Vasavirama & Upender., 2014) dan merupakan suatu alkaloid mayor yang
telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus (Pundir & Pranay., 2010;
Al-Shahwany, 2014). Selain itu buah lada hitam juga memiliki kualitas polifenol yang
lebih baik dibandingkan dengan lada putih. Pada penelitian sebelumnya (Kumar et al,

4
2014), ekstrak buah lada hitam telah terbukti memiliki efek antimikroba terhadap
beberapa bakteri patogen dengan diameter zona hambat masing-masing yaitu Eschericia
coli (22,6 mm), Pseudomonas aeruginosa (23 mm), Staphylococcus warneri (26,3 mm),
Klebsiella pneumonie (23,6 mm), Shigella dysentriae (22,9 mm) dan Salmonella typi
(13,5). Adanya perbedaan inhibisi bakteri gram positif & negatif disebabkan karena
adanya perbedaan komponen dinding sel pada masing-masing bakteri (Akrayi &
Abdulrahman., 2013). Hal ini terbukti bahwa ekstrak etanol buah lada hitam memiliki
efek antimikroba dengan spektrum yang luas dan efek anti bakteri yang signifikan
terhadap bakteri gram positif dan negatif (Zarai et al, 2013).
Selain itu, piperin juga memiliki khasiat sebagai analgesik, antiinflamasi,
antimalaria, menurunkan berat badan, menurunkan demam, menetralkan racun bisa ular,
antiepilepsi, dan membantu meningkatkan penyerapan vitamin tertentu (Kolhe et al.,
2011). Aktivitas analgesik dan antipiretik pada senyawa piperin menunjukkan hasil yang
sebanding dengan indometasin sebagai obat standar (Sabina et al., 2013). Kualitas
ekstrak buah lada hitam dipengaruhi oleh kandungan dan kadar senyawa kimia di
dalamnya, sehingga diperlukan ekstraksi yang sesuai untuk memisahkan senyawa
identitas (piperin) secara selektif.

2.2 Macam-macam Metode Ekstraksi


Menurut Departemen Kesehatan RI (2006), ekstraksi adalah proses penarikan kandungan
kimia yang dapat larut dari suatu serbuk simplisia, sehingga terpisah dari bahan yang tidak
dapat larut. Beberapa metode yang banyak digunakan untuk ekstraksi bahan alam antara lain:

2.2.1 Maserasi
Maserasi adalah proses ekstraksi simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa
kali pengadukan pada suhu ruangan. Prosedurnya dilakukan dengan merendam simplisia
dalam pelarut yang sesuai dalam wadah tertutup. Pengadukan dilakukan dapat
meningkatkan kecepatan ekstraksi. Kelemahan dari maserasi adalah prosesnya
membutuhkan waktu yang cukup lama. Ekstraksi secara menyeluruh juga dapat
menghabiskan sejumlah besar volume pelarut yang dapat berpotensi hilangnya metabolit.
Beberapa senyawa juga tidak terekstraksi secara efisien jika kurang terlarut pada suhu
kamar (27oC). Ekstraksi secara maserasi dilakukan pada suhu kamar (27oC), sehingga
tidak menyebabkan degradasi metabolit yang tidak tahan panas (Departemen Kesehatan
RI, 2006).

5
2.2.2 Perkolasi
Perkolasi merupakan proses mengekstraksi senyawa terlarut dari jaringan selular
simplisia dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan
pada suhu ruangan. Perkolasi cukup sesuai, baik untuk ekstraksi pendahuluan maupun
dalam jumlah besar (Departemen Kesehatan RI, 2006).
2.2.3 Soxhlet
Metode ekstraksi soxhlet adalah metode ekstraksi dengan prinsip pemanasan dan
perendaman sampel. Hal itu menyebabkan terjadinya pemecahan dinding dan membran
sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel. Dengan demikian, metabolit
sekunder yang ada di dalam sitoplasma akan terlarut ke dalam pelarut organik. Larutan
itu kemudian menguap ke atas dan melewati pendingin udara yang akan mengembunkan
uap tersebut menjadi tetesan yang akan terkumpul kembali. Bila larutan melewati batas
lubang pipa samping soxhlet maka akan terjadi sirkulasi. Sirkulasi yang berulang itulah
yang menghasilkan ekstrak yang baik (Departemen Kesehatan RI, 2006).
2.2.4 Refluks
Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi berkesinambungan. Bahan
yang akan diekstraksi direndam dengan cairan penyari dalam labu alas bulat yang
dilengkapi dengan alat pendingin tegak, lalu dipanaskan sampai mendidih. Cairan
penyari akan menguap, uap tersebut akan diembunkan dengan pendingin tegak dan akan
kembali menyari zat aktif dalam simplisia tersebut. Ekstraksi ini biasanya dilakukan 3
kali dan setiap kali diekstraksi selama 4 jam (Departemen Kesehatan RI, 2006).
2.2.5 Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada suhu yang lebih
tinggi dari suhu ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada suhu 40-50oC (Departemen
Kesehatan RI, 2006).
2.2.6 Infusa
Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada suhu penangas air (bejana infus
tercelup dalam penangas air mendidih), suhu terukur (96-98oC) selama waktu tertentu
(15-20 menit) (Departemen Kesehatan RI, 2006).
2.2.7 Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan suhu sampai titik didih air, yaitu
pada suhu 90-100oC selama 30 menit (Departemen Kesehatan RI, 2006).

6
2.3 Metode Analisis Ekstrak dengan KLT-Densitometri
Densitometri merupakan metode analisis instrumental yang mendasarkan pada interaksi
radiasi elektromagnetik dengan analit yang merupakan bercak pada plat KLT. Densitometri
lebih dititikberatkan untuk analisis kuantitatif analit-analit dengan kadar kecil, yang mana
diperlukan pemisahan terlebih dahulu dengan KLT (Rohman, 2009). Penetapan kadar suatu
senyawa dengan metode ini dilakukan dengan mengukur kerapatan bercak senyawa yang
dipisahkan dengan cara KLT. Dan pada umumnya pengukuran kerapatan bercak tersebut
dibandingkan dengan kerapatan bercak senyawa standar yang dielusi bersama-sama
(Hardjono, 1983).

Berikut langkah-langkah pengukuran penetapan kadar piperin dengan metode KLT-


densitometri :

1. Pembuatan larutan Baku standar piperin


Larutan induk (2000 µg/mL) dibuat dengan menimbang seksama 50,0 mg standar
piperin, kemudian dilarutkan dalam etanol p.a sampai tanda batas 25 mL. Dibuat
larutan deret standar piperin dengan 5 tingkat konsentrasi berbeda yaitu 200, 400,
600, dan 800 µg/mL dengan cara memipet sejumlah larutan dari larutan induk standar
piperin dan dicukupkan dengan etanol p.a dalam labu ukur.
2. Pembuatan kurva kalibrasi standar piperin
Larutan deret standar piperin kemudian ditotolkan masing-masing 5 µl pada plat
KLT silika gel 60 F254. Plat KLT selanjutnya dielusi dengan fase gerak campurann-
heksana : etil asetat (1:1) dan di-scanning sehingga dihasilkan data area standar
piperin. Berdasarkan area terukur (y) pada berbagai baku kerja piperin (x), maka
dapat dihitung harga koefisien korelasi (r). Bila ada hubungan linear antara y dengan
x maka dihitung persamaan garis regresi y= bx+a.
3. Pembuatan larutan uji
Ditimbang seksama kurang lebih 50 mg ekstrak buah lada hitam, dilarutkan
dengan etanol dalam labu ukur 50 mL sehingga diperoleh konsentrasi 1000 µg/mL.
Dibuat larutan uji konsentrasi 800 µg/mL, dengan memipet 20 mL dalam labu terukur
25 mL lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas.
4. Pengukuran kadar piperin
Ditotolkan masing-masing 5 µL larutan standar yang telah diencerkan dan larutan
uji pada plat KLT silika gel 60 F254. Plat selanjutnya dielusi dengan fase gerak n-
heksana : etil asetat (1:1), dan diukur dengan densitometer pada panjang gelombang
7
254 nm. Data luas area yang didapatkan dari baku standar piperin kemudian dibuat
persamaan kurva baku dengan bantuan Microsoft Excel 2007. Persamaan kurva baku
yaitu y= bx + a dengan y= luas area, x= kadar piperin (µg/mL). Luas area sampel
yang didapatkan dari hasil scan pada alat densitometer kemudian dimasukkan ke
dalam persamaan garis kurva baku, maka didapatkan masing-masing persentase
kadar piperin pada ekstrak buah lada hitam (Murrukmihadi dkk., 2013).

2.4 Bentuk Sediaan


Pada praktikum kali ini, bentuk sediaan yang dibuat adalah kapsul. Menurut Farmakope
Indonesia VI, Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau
lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga terbuat
dari pati atau bahan lain yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi dari nomor
paling kecil (5) sampai nomor paling besar (000). Kapsul cangkang keras biasanya diisi
dengan serbuk, butiran atau granul.
Keuntungan dari penggunaan kapsul adalah sebagai berikut:
1. Bentuknya menarik dan praktis.
2. Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang enak.
3. Mudah ditelan dan cepat hancur di dalam perut sehingga bahan segera diabsorbsi usus.
4. Dokter dapat memberikan resep kombinasi dari bermacam-macam bahan obat dan
dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan seorang pasien.
5. Kapsul dapat diisi dengan cepat, tidak memerlukan bahan penolong seperti pada
pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi bahan obatnya.
Sementara itu, kekurangan dari penggunaan kapsul adalah sebagai berikut:
1. Tidak dapat digunakan untuk diisi dengan zat-zat mudah menguap sebab pori-pori
cangkang tidak menahan penguapan, bersifat higroskopis (mudah mencair), dan yang
bereaksi dengan cangkang kapsul.
2. Tidak dapat diberikan kepada balita.
3. Tidak bisa dibagi (misal ¼ kapsul).

Komponen dalam sediaan kapsul terdiri dari bahan aktif dan bahan tambahan yang jenis
dan fungsinya berbeda-beda. Bahan aktif merupakan zat yang memberikan respon terapetik
setelah dikonsumsi kedalam tubuh dengan dosis yang sesuai. Sedangkan, bahan tambahan
adalah bahan yang memmbantu memperbaiki keadaan formula yang kurang memenuhi
persyaratan, supaya hasil produk kapsul dapat memenuhi kriteria yang diharapkan dan sesuai
tujuan yang diinginkan. Bahan-bahan tambahan tersebut antara lain:
8
1. Pengisi atau diluen, berfungsi untuk menambah bobot dan volume dari campuran yang
dibuat. Bahan pengisi yang sering digunakan adalah laktosa, mikrokristalin selulosa, dan
amilum.
2. Pengikat atau binder, berfungsi untuk menyatukan partikel-partikel bahan sehingga
menjadi suatu massa yang kompak dan agregat yang lebih besar yang membuat
campuran serbuk dapat mengalir bebas. Bahan pengikat yang sering digunakan adalah
gelatin, pati (amilum), polivinilpirolidon (PVP), dan metilselulosa.
3. Penghancur atau disintegran, berfungsi agar kapsul yang ditelan dapat hancur atau
terdisintegrasi di dalam lambung supaya bahan aktif dapat diabsorbsi. Bahan penghancur
yang sering digunakan adalah amilum dan selulosa.
4. Pelicin atau lubrikan, berfungsi untuk mencegah perlekatan antara massa granul yang
akan dimasukkan ke dalam kapsul dengan alat pengisi kapsul. Bahan pelicin yang sering
digunakan adalah magnesium stearate, talcum, dan magnesium lauril sulfat.
5. Pelincir atau glidan, berfungsi agar granul yang akan dimasukkan ke dalam kapsul tidak
terjadi gesekan dan dapat mengalir dengan baik. Bahan pelincir yang sering digunakan
adalah pati, talcum, dan aerosol.

2.5 Formula Sediaan


Formulasi sediaan kapsul ekstrak lada hitam pada praktikum kali ini adalah sebagai
berikut:
R/ Ekstrak lada hitam 38 gram
Avicel 16,62 gram
Amilum oryza 48,62 gram
Aerosil 0,76 gram (2% dari bobot ekstrak)
Dari 38 gram ekstrak lada hitam yang dihasilkan, apabila diasumsikan bahwa satu kapsul
nomor 0 berisi serbuk sebanyak 500 mg, maka jumlah sediaan kapsul yang dapat dibuat
sebanyak 200 kapsul. Adapun sifat fisika kimia bahan yang digunakan untuk formulasi
sediaan kapsul, sebagai berikut:
1. Ekstrak lada hitam
Ekstrak kental buah lada hitam adalah ekstrak yang dibuat dari buah Piper nigrum L.,
suku Piperaceae, mengandung piperin tidak kurang dari 48,60%.
Rendemen = Tidak kurang dari 11,3%.
Pemerian = Ekstrak kental, warna cokelat tua, bau khas, rasa pedas.
Senyawa identitas = Piperin.

9
Kadar piperin = Tidak kurang dari 48,60%
2. Avicel
Pemerian = Serbuk kristal putih dengan partikel berpori, tidak berbau,
tidak berasa.
Fungsi = Adsorben, pengisi, penghancur, pelincir.
Alasan pemilihan = Avicel memiliki sifat alir yang baik, sehingga dapat
memperbaiki laju alir saat pengisian serbuk ke dalam cangkang
kapsul.
3. Amilum oryza
Pati beras adalah pati yang diperoleh dari biji Oryza sativa L. (Familia Poaceae).
Mikroskopis = Butir bersegi banyak ukuran 2 µm sampai 5 µm, tunggal atau
majemuk bentuk bulat telur ukuran 10 µm sampai 20 µm.
Hilus di tengah, tidak terlihat jelas; tidak ada lamela konsentris.
Amati di bawah cahaya terpolarisasi, tampak bentuk silang
berwarna hitam, memotong pada hilus.
Fungsi = Pengisi.
Alasan pemilihan = Dapat tercampurkan dan memiliki sifat inert dengan sebagian
besar bahan obat.
4. Aerosil
Pemerian = Serbuk amorf, berwarna putih kebiruan, mengkilap, tidak
berbau, tidak berasa.
Fungsi = Adsorben, pelincir, penghancur.
Alasan pemilihan = Dapat mengatasi lengketnya partikel satu sama lainnya sehingga
mengurangi gesekan antar partikel, melindungi bahan obat dari
pengaruh lembab, dan mencegah pembasahan cangkang kapsul
oleh solven yang terdapat di dalam ekstrak
2.6 Evaluasi Sediaan Kapsul
Semua produk dalam sediaan farmasi yang dihasilkan harus bermutu, untuk itu semua
proses dari bahan awal sampai produk akhir harus mengikuti kaidah Cara Pembuatan Obat
yang Baik (CPOB). Sediaan kapsul yang selesai diproduksi harus dilakukan evaluasi sesuai
dengan parameter uji yang disyaratkan.

10
a. Syarat / Karakteristik Sediaan Kapsul
 Homogen : setiap bagian campuran kapsul harus mengandung bahan yang sama
dalam perbandingan yang sama pula
 Kering : tidak boleh menggumpal atau mengandung air karena mengandung bahan
yang higroskopis, efloresen, delliquesen ataupun campuran eutektik.
 Derajat kehalusan tertentu, bila ukuran partikel kapsul sangat halus, maka kapsul
lebih mudah untuk homogen.
b. Parameter Uji Kapsul
Kapsul yang sudah diformulasi selanjutnya akan dilakukan serangkaian uji terhadap
massa kapsul, serbuk, atau granul sebelum diisikan kedalam kapsul yakni : sifat alir,
sudut istirahat dan kompresibilitas. Selain itu, juga dilakukan uij terhadap kapsul yang
sudah diisikan massa serbuk atau granul yaitu keseragaman bobot, waktu hancur, disolusi
dan kadar.
c. Proses Evaluasi Kapsul
1. Massa Serbuk/Granul
Salah satu hal penting dalam produksi sediaan padat adalah sifat alir serbuknya
atau granulnya. Aliran massa akan mempengaruhi keseragaman bobot dalam sediaan.
Kecepatan aliran serbuk ini ditentukan oleh faktor ukuran partikel, distribusi ukuran
partikel, bentuk partikel, bobot jenis. Uji terhadap sifat alir ini dilakukan dengan
menggunakan flow meter. Timbang sejumlah serbuk/granul (50gram) lalu
dimasukkan kedalam flow meter, buka bagian bawah dan catat waktu alir.
Laju alir (gram/detik) Keterangan
>10 Sangat baik
4-10 Baik
1,6-4 Sukar
<1,6 Sangat sukar
Tabel. Laju alir dan kategorinya
2. Sudut Istirahat
Cara uji ini digunakan untuk menentukan sifat aliran massa. Uji ini dilakukan
dengan menggunakan corong, dimana serbuk atau massa dialirkan melalui corong,
kemudian diukur jari-jari dan tinggi serbuk yang jatuh kebawah.
Sudut diam dapat ditentukan dengan rumus :
𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑢𝑐𝑢𝑡 (𝑐𝑚)
Sudut diam (tg α) = 𝑗𝑎𝑟𝑖−𝑗𝑎𝑟𝑖 (𝑐𝑚)

11
Sudut Istirahat (α) Keterangan
25-30 Istimewa
31-35 Baik
36-40 Cukup baik
41-45 Agak baik
46-55 Buruk
56-65 Sangat buruk
>66 Sangat buruk sekali
Tabel. Sudut istirahat dan kategorinya
3. Kompresibilitas
Volume dan kerapatan serbuk ditentukan dari ukuran dan bentuk partikel. Ukuran
partikel dan kerapatan serbuk berpengaruh dengan volume serbuk. Sehingga uji ini
berguna untuk penentuan ukuran cangkang kapsul yang akan digunakan. Bobot
serbuk ditimbang dan dituang hati-hati kedalam suatu gelas ukur kemudian
permukaannya diratakan, volume yang terbaca adalah volume tuang. Bobot ketukan
diperoleh melalui ketukan vertikal timbunan serbuk yang diisikan ke sebuah gelas
ukur tertutup yang terletak diatas dasar lunak. Ketukan tersebut dilakukan sampai
diperoleh volume konstan.
Indeks kompresibiltas (%) Keterangan
<10 Istimewa
11-15 Baik
16-20 Cukup baik
21-25 Agak baik
26-31 Buruk
32-37 Sangat buruk
>38 Sangat buruk sekali
Tabel. Indeks kompresibilitas (%) dan kategorinya
d. Evaluasi Kapsul
A. Uji keseragaman bobot
Uji ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian keseragaman bobot sediaan
kapsul yang dihasilkan dengan persyaratan keseragaman bobot dan kandungan dari
Farmakope Indonesia Edisi IV.

12
Timbang 20 kapsul lalu timbang satu-persatu yaitu dengan cara :
 Keluarkan isi semua kapsul, timbang seluruh bagian cangkang kapsul
 Hitung bobot isi kapsul dan rata-rata tiap isi kapsul
 Perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata-rata tiap
kapsul tidak boleh melebih dari yang ditetapkan dalam kolom A dan untuk
setiap 2 kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan pada kolom B.

Perbedaan bobor isi kapsul dalam %


Bobot rata-rata isi A B
kapsul
≤ 120 mg 10 20
≥ 120 mg 7,5 15
Tabel. Keseragaman Bobot

B. Uji waktu hancur


Uji ini dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur yang
tertera dalam masing-masing monografi, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa
kapsul digunakan untuk pelepasan kandungan obat secara bertahap dalam jangka
waktu tertentu atau melepaskan obat dalam dua periode berbeda atau lebih dengan
jarak waktu yang jelas di antara periode pelepasan tersebut.
Uji waktu hancur tidak menyatakan bahwa sediaan atau bahan aktifnya terlarut
sempurna. Sediaan dinyatakan hancur sempurna bila sisa sediaan, yang tertinggal
pada kasa alat uji merupakan masa lunak yang tidak mempunyai inti yang jelas,
kecuali bagian dari penyalut atau cangkang kapsul yang tidak larut.
Cara pengujiannya yaitu :
 Masukkan 1 kapsul yang akan diuji pada masing-masing tabung dari
keranjang, tanpa menggunakan cakram
 Sebagai pengganti cakram, digunakan suatu kasa berukuran 10mesh
seperti yang diuraikan pada rangkaian keranjang. Kasa ini ditempatkan
pada permukan lempengan atas dari rangkaian keranjang
 Amati kapsul dalam batas waktu yang dinyatakan dalam masing-masing
monografi-semua kapsul harus hancur kecuali bagian dari cangkang
kapsul

13
 Bila 1 atau 2 kapsul tidak hancur sempurna, maka ulangi uji pengujian
dengan 12 kapsul lainnya, tidak kuerang dari 16 dan 18 kapsul yang diuji
harus hancur sempurna.
 Persyaratan waktu hancur kapsul tidak lebih dari 15 menit
C. Uji disolusi
Uji disolusi dimaksudkan untuk mengetahui seberapa banyak persentase bahan
aktif dalam sediaan obat (kapsul) yang terabsorpsi dan masuk kedalam peredaran
darah untuk memberikan efek terapi. Persyaratan dalam waktu 30 menit harus larut
tidak kurang dari 85% (Q) dari jumlah yang tertera pada etiket.
D. Penetapan Kadar
Penetapan kadar dilakukan untuk memastikan bahwa kandungan bahan aktif
yang terkandung dalam kapsul telah memenuhi persyaratan dan sesuai dengan yang
tertera pada etiket. Metode penetapan kadar yang digunakan sesuai dengan bahan
aktif yang terkandung dalam sediaan kapsul. Cara penetapan :
 Timbang 10-20 kapsul,
 Isinya digerus dan bahan aktif yang larut diekstraksi menggunakan pelarut
yang sesuai menurut prosedur yang ssudah ditetapkan.
 Secara umum rentang kadar bahan aktif yang ditentukan berada diantara 90-
110% dari pernyataan pada etiket.

14
BAB III
METODE

3.1 Alat dan bahan


3.1.1 Alat
 Maserator  Pipa kapiler
 Corong Buchner  Batang pengaduk
 Rotavapor  Stamper
 Vortex mixer  Mortir
 Labu ukur  Timbangan
 Kertas saring  Tissue
 Silica gel F254  Alat perata
 Chamber  Alas
 Erlenmeyer  Corong
 Pipet volume  Cangkang kapsul
 Ball filler  Pipet tetes
 Beaker glass  Vial
3.1.2 Bahan
 Piperis nigri Fructus  Senyawa marker piperin
 Toluena  Aerosil
 Etanol 96%  Avicel
 Etil asetat  Pati beras atau singkong
 Ekstrak lada hitam  Larutan baku piperin

15
3.2 Cara pembuatan
3.2.1 Pembuatan Ekstrak dan Penetapan Kadar Ekstrak Dari Buah Lada Hitam
(Piperis nigri Fructus)
 Pembuatan Ekstrak
Metode ekstraksi yang digunakan adalah kombinasi sonikasi dan maserasi
Ditimbang simplisia lada hitam sebanyak 400,67 gram, dilarutkan dalam
erlenmeyer, ditambahkan etanol 96% dengan perbandingan 1:5

Diukur etanol 96% sebanyak 2 liter dan ditambahkan pada erlenmeyer yang
berisi simplisia lada hitam

Diaduk menggunakan batang pengaduk dengan arah yang berlawan jarum jam
selama kurang lebih 3 menit

Dilakukan sonifikasi selama 1 jam kemudian erlenmeyer dipindahkan untuk


didiamkan selama 24 jam

Dilakukan maserasi selama 24 jam

Dilakukan penyaringan melakukan corong buchner

Kemudian maserat dipindahkan ke labu las bulat untuk dilakukan pemekatan


ekstrak dengan rotary evaporator dengan suhu 50 ̊C.
Untuk menghasilkan ekstrak yang kental hingga kering maka ekstrak yang masih
mengandung etanol dipekatkkan kembali menggunakna oven

 Penetapan Kadar Senyawa Aktif Ekstrak

Ekstrak lada hitam ditimbang sebanyak 2 mg. Penimbangan dilakukan sebanyak


3 kali replikasi

Dilarutkan etanol untuk melarutkan ekstrak lada hitam

Vial divortex untuk mempercepat larutnya ekstrak dengan etanol

Setelah ekstrak larut kemudian dituang kedalam labu ukur untuk dilakukan
penambahan etanol hingga tanda batas

Larutan ekstrak dipindahkan ke vial baru untuk dilakukan penotolan pada


lempeng KLT

16
 Pembuatan Larutan Pembanding Piperin

Senyawa standar piperin ditimbang sebanyak 25 mg menggunakan vial

Senyawa standar piperin dilarutkan menggunakan etanol

Pengenceran 100ppm .Larutan induk piperin dipipet 0,5 ml kemudian


ditambah etanol ad tanda batas labu ukur

Pengenceran 200 ppm. Larutan induk piperin dipipet 1 ml kemudian ditambah


etanol ad tanda batas labu ukur

Pengenceran 400 ppm. Larutan induk piperin dipipet 2 ml kemudian ditambah


etanol ad tanda batas labu ukur

Pengenceran 800 ppm. Larutan induk piperin dipipet 4ml kemudian ditambah
etanol ad tanda batas labu ukur

Larutan baku piperin yang telah ditambah etanol ad tanda batas kemudian
dihomogenkan, lalu dipindahkan ke vial

 Penetapan Kadar Piperin Menggunakan Metode KLT Densitometri

Perbandingan toluena : etil asetat yaitu 7:3. Dipipet toluena sebanyak 21 ml

Dipipet etil asetat sebanyak 9 ml

Eluen yang telah homogen dituang ke chamber yang telah diberi kertas saring.

Standar 100 ppm, 200 ppm, 400 ppm, dan 800 ppm replikasi 1 ditotolkan
sebanyak 2 mikroliter

Sampel replikasi 2 ditotolkan sebanyak 2 mikroliter

Sampel replikasi 3 ditotolkan sebanyak 2 mikroliter

Setelah chamber jenuh, lempang dimasukkan untuk eluasi hingga tanda batas

17
3.2.2 Formulasi dan Evaluasi Kapsul Dari Buah Lada Hitam (Piperis nigri Fructus)
 Penimbangan bahan kapsul

Ditimbang Amilum oryzae sebanyak 48,63 gram

Ditimbang Aerosil sebanyak 0,7609 gram

Ditimbang Avicel sebanyak 12,62 gram

Ditimbang ekstrak lada hitam sebanyak 38,08 gram

 Pembuatan Kapsul

Dimasukkan ekstrak lada hitam ke dalam mortir

Dimasukkan Aerosil sedikit demi sedikit hingga ekstrak menjadi kering,


digerus

Ditambahkan Avicel, digerus

Ditambahkan Amilum oryzae digerus hingga menjadi serbuk

18
 Pengisian Kapsul

Campuran ekstrak kering diisikan ke dalam kapsul secara manual menggunakan


alat pengisi kapsul

Ambil sejumlah cangkang kapsul dan buka tutupnya.

Letakkan badan kapsul ke dalam lubang-lubang pengisi kapsul.

Atur ketinggian alat, sesuaikan dengan panjang badan kapsul hingga lubang
kapsul rata dengan lubang alat pengisi kapsul.

Tara berat isi badan kapsul

Timbang campuran ekstrak kering sesuai dengan jumlah kapsul yang


direncanakan, letakkan di atas permukaan lubang-lubang alat pengisi kapsul.

Ratakan campuran ekstrak kering dengan bantuan penggaris bersih atau alat
perata lain di atas lubang-lubang alat pengisi kapsul hingga campuran
memenuhi/mengisi seluruh badan kapsul.

Tutup badan kapsul dengan tutup kapsul, bersihkan seluruh permukaan cangkang
kapsul dengan tisu bersih.

3.2.3 Penetapan Kadar Sediaan Kapsul Buah Lada Hitam (Piperis nigri Fructus)
 Pembuatan larutan uji

Diambil kapsul secara acak, keluarkan dan ditimbang isinya. Hasil penimbangan
yaitu 0,4728 gram, 0,4872 gram dan 0,4785 gram

Ditambahkan etanol untuk melarutkan serbuk kapsul

Pindahkan kedalam labu ukur 25 ml untuk dilakukan penambahan etanol hingga


tanda batas
Larutan disaring untuk mendapatkan larutan tanpa endapan serbuk yang tak
larut
Dilakukan pengenceran menjadi 1/10 konsentrasi sediaan kapsul kemudian
ditambahkan etanol hingga batas labu ukur 5 ml
Larutan yang telah diencerkan kemudian dipindah ke vial baru untuk dilakukan
penotolan pada lempeng KLT

19
 Pembuatan Larutan Standar Piperin

Senyawa standar piperin ditimbang sebanyak 25 mg menggunakan vial

Senyawa standar piperin dilarutkan menggunakan etanol hingga tanda batas


labu ukur 25 ml

Larutan piperin dipipet 0,5 ml kemudian ditambah etanol ad tanda batas labu
ukur 5ml

Pengenceran 100 ppm : Larutan piperin dipipet 0,5 ml kemudian ditambah


etanol ad tanda batas labu ukur 5 ml

Pengenceran 200 ppm : Larutan piperin dipipet 1 ml kemudian ditambah etanol


ad tanda batas labu ukur 5 ml

Pengenceran 400 ppm : Larutan piperin dipipet 2 ml kemudian ditambah etanol


ad tanda batas labu ukur 5 ml

Pengenceran 800 ppm : Larutan piperin dipipet 4 ml kemudian ditambah etanol


ad tanda batas labu ukur 5 ml

Larutan baku piperin yang telah ditambah etanol ad tanda batas kemudian
dihomogenkan

Larutan baku piperin dipindah ke vial untuk dilakukan penotolan lempeng KLT

 Pembuatan Eluen

Perbandingan toluena:etil asetat yaitu 7:3 . Dipipet toluena sebanyak 21 ml

Dipipet etil asetat sebanyak 9 ml,kemudian dihomogenkan

Eluen yang telah homogen dituang ke chamber yang tekah diberi kertas saring

20
 Penotolan

Pentoloan sampel replikasi 1 : ditotolkan sebanyak 2 mikroliter

Standar 100 ppm , 200 ppm, 400 ppm, dan 800 ppm : ditotolkan sebanyak 2
mikroliter

Penotolan sampe replikasi 2 : ditotolkan sebanyak 2 mikroliter

Penotolan sampe replikasi 3 : ditotolkan sebanyak 2 mikroliter

 Eluasi KLT

Setelah chamber jenuh,lempeng dimasukkan untuk eluasi hingga tanda batas

21
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum


4.1.1 Ekstraksi dan Penetapan Kadar Ekstrak

Jarak eluasi = 8 cm
Noda Jarak Perhitungan Nilai Rf
3,8 cm
S1 3,8 cm 0,475
8 cm
3,8 cm
Std1 3,8 cm 0,475
8 cm
3,7 cm
Std2 3,7 cm 0,4625
8 cm
3,7 cm
Std3 3,7 cm 0,4625
8 cm
3,7 cm
Std4 3,7 cm 0,4625
8 cm
3,6 cm
S2 3,6 cm 0,45
8 cm
3,9 cm
S3 3,9 cm 0,4875
8 cm

22
TUGAS 1
Berapakah nilai % rendemen ekstrak piperin?
Bobot ekstrak = 38,6 gram
Bobot simplisia = 400,67 gram
bobot ekstrak
% rendemen = bobot simplisia × 100%
38,6 gram
= 400,67 gram × 100%

= 9,634%

TUGAS 2

Berapakah kadar piperin dalam ekstrak dan berapakah banyak ekstrak yang dibutuhkan
untuk pembuatan 30 kapsul dengan kandungan piperin (5 mg/kapsul)?
a. Perhitungan “amount fraction”
 Standar 1 = 100 ppm
100 μg 100 μg
100 ppm = = 1000 μl
ml
100 μg X μg 2 μl
= →X = 1000 μl × 100 𝜇g
1000 μl 2 μl

= 0,2 μg
= 200 ng
 Standar 2 = 200 ppm
200 μg 200 μg
200 ppm = = 1000 μl
ml
200 μg X μg 2 μl
= →X = 1000 μl × 200 𝜇g
1000 μl 2 μl

23
= 0,4 μg
= 400 ng
 Standar 3 = 400 ppm
100 μg 400 μg
400 ppm = = 1000 μl
ml
400 μg X μg 2 μl
= →X = 1000 μl × 400 𝜇g
1000 μl 2 μl

= 0,8 μg
= 800 ng
 Standar 4 = 800 ppm
100 μg 800 μg
800 ppm = = 1000 μl
ml
800 μg X μg 2 μl
= →X = 1000 μl × 800 𝜇g
1000 μl 2 μl

= 1,6 μg
= 1600 ng
b. “Amount fraction” diregresikan dengan “luas area standar” sehingga didapat
persamaan regresi → y = 5,148x + 584,7
c. “Luas area sampel” dimasukkan dalam persamaan regresi dan didapat kadar
 Sampel 1 = 858,52 ng
 Sampel 2 = 621,50 ng
 Sampel 3 = 623,89 ng
 Rata-rata = 701,30 ng = 0,7 μg
d. Sehingga, setiap penotolan 2 μl mengandung senyawa piperin sebesar 0,7 μg
e. Ditimbang 25 mg ekstrak dan dilarutkan kedalam etanol 25 ml (25000 µl), maka
dalam 25 mg ekstrak tersebut mengandung senyawa piperin sebanyak
2 μl 25000 μl 25000 μl
= →X = × 0,7μg
0,7 μg X μg 2 μl

= 8750 μg
= 8,750 mg
f. Untuk mendapat 5 mg piperin dalam setiap kapsul, ekstrak dibutuhkan sebanyak
5 mg
× 25 mg = 14,286 mg/kapsul
8,750 mg

g. Sehingga untuk 30 kapsul dibutuhkan ekstrak sebanyak


14,286 mg/kapsul × 30 = 428,58 mg
8,750 mg
h. Persentase = × 100% = 35%
25 mg

24
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan ekstrak dan penetapan kadar ekstrak
dari buah lada hitam (Piperis nigri Fructus). Simplisia yang digunakan seberat 400,67
gram. Metode ekstraksi yang digunakan adalah sonikasi selama 1 jam lalu dilanjut
dengan maserasi selama 24 jam. Pelarut yang digunakan adalah etanol 96% sebanyak 5
kali dari bobot simplisia. Setelah diekstraksi, hasil ekstrak disaring menggunakan corong
Buchner lalu dipekatkan dengan rotavapor untuk mendapatkan ekstrak kental. Untuk
penetapan kadar, diuji dengan KLT menggunakan ekstrak sebanyak 25 mg dengan
replikasi 3 kali dan pelarut etanol. Fase diam yang digunakan adalah silika gel F254 dan
fase gerak atau eluen yang digunakan adalah toluene dan etil asetat dengan perbandingan
7:3. Masing-masing standar dan sampel ditotolkan sebanyak 2 μl. Dari hasil uji KLT
didapatkan noda dengan nilai Rf sampel sebesar 0,475; 0,45; 0,4875 dan Rf standar
sebesar 0,475 dan 0,4625. Piperin mampu meredam UV sehingga fluoresens pada silika
gel tidak memancar dan terlihat seperti noda gelal. Karena hasil Rf-nya mendekati, maka
dapat disimpulkan bahwa senyawa yang dideteksi adalah piperin.

Bobot ekstrak yang dihasilkan sebesar 38,6 gram, sedangkan bobot simplisia awal
sebesar 400,67 gram. Sehingga persen rendemen yang dihasilkan 9,634%. Pada
Farmakope Herbal Indonesia, rendemen ekstrak kental buah lada hitam tidak kurang dari
11,3%. Apabila dibandingkan dengan rendemen hasil praktikum kali ini, maka hasilnya
tidak memenuhi. Dalam 25 mg ekstrak mengandung senyawa piperin sebanyak 8,750
mg, sehingga persentasenya sebesar 3,5%. Dalam Farmakope Herbal Indonesia, buah
lada hitam mengandung piperin tidak kurang dari 5,80%. Apabila dibandingkan dengan
persentase kadar piperin dari ekstrak yang dipraktikumkan, maka hasilnya sudah
memenuhi. Kadar senyawa aktif yang akan digunakan harus diperhatikan, karena akan
berpengaruh pada keamanan dan keefektifan bahan aktif dalam tubuh.

25
Formulasi dan Evaluasi

1. Formulasi sediaan kapsul ekstrak lada hitam


 Ekstrak lada hitam 38 gram
 Avicel 16,62 gram
 Amilum Oryza 48,62 gram
 Aerosil 0,76 gram
2. Pengujian sifat alir campuran ekstrak untuk kapsul
Variabel Data
Berat serbuk campuran 100 gram
Waktu alir 14 detik
Tinggi kerucut 6,4 cm
Jari-jari kerucut 7 cm
3. Data uji keragaman bobot
Berat Kapsul Berat Kapsul Kosong
0,5732 0,0933
0,5847 0,0954
0,5775 0,0948
0,5738 0,0982
0,5798 0,0971
0,5799 0,0959
0,5833 0,0979
0,5820 0,0972
0,5626 0,0976
0,5950 0,0965

Pada praktikum kali ini, dilakukan formulasi sediaan kapsul ekstrak lada hitam.
Bahan-bahan yang digunakan adalah ekstrak lada hitam, avicel, amilum oryza, dan
aerosil. Avicel berfungsi sebagai bahan pelincir. Amilum oryza atau pati beras berfungsi
sebagai pengisi. Aerosil berfungsi sebagai bahan pengering. Semua bahan ditimbang lalu
dicampur sedikit demi sedikit hingga terbentuk serbuk campuran ekstrak.
Setelah serbuk campuran ekstrak selesai diformulasi, dilakukan uji sifat alir.
Didapatkan data sebagai berikut:

26
- Berat serbuk campuran 100 gram
- Waktu alir 14 detik
- Tinggi kerucut 6,4 cm
- Jari-jari kerucut 7 cm
Dari data tersebut, dapat ditentukan kecepatan alir dan sudut diam
w
- Kecepatan alir = g/detik
t
100
= g/detik
14

= 7,14 g/detik
h
- Tangen sudut diam =r
6,4 cm
= 7 cm

= 0,914
- Sudut diam = tan-1 (0,914)
= 42,4⁰
Menurut Aulton (1988), apabila kecepatan alir >10 g/detik maka sifat alirnya sangat
baik, 4-10 g/detik sifat alir baik, 1,6-4 g/detik sukar mengalir dan <1,6 sangat sukar
mengalir. Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan kecepatan alir sebesar 7,14 g/detik.
Hal ini menunjukkan campuran serbuk yang diuji memiliki sifat alir yang baik. Aulton
(1988) juga menjelaskan bahwa sudut diam berhubungan dengan sifat alir. Apabila sudut
diam <25⁰ maka sifat alirnya sangat baik, 25-30⁰ sifat alir baik, 30-40⁰ memiliki sifat alir
yang cukup dan >40⁰ sifat alir yang sangat sukar. Berdasarkan hasil perhitungan,
didapatkan sudut diam sebesar 42,4⁰ sehingga dapat diketahui bahwa menurut sudut
diamnya, campuran serbuk memiliki sifat alir yang buruk.
Setelah dilakukan uji sifat alir, serbuk dimasukkan ke dalam cangkang kapsul dengan
bantuan alat pengisi kapsul. Dilakukan uji keragaman bobot dengan menimbang bobot
kapsul dan kapsul kosong, sehingga didapatkan hasil sebagai berikut:

27
Berat Kapsul Kosong Berat Bersih Berat Bersih
No. Berat Kapsul (g)
(g) (g) (mg)
1. 0,5732 0,0933 0,4799 479,9
2. 0,5847 0,0954 0,4893 489,9
3. 0,5775 0,0948 0,4827 482,7
4. 0,5738 0,0982 0,4756 475,6
5. 0,5798 0,0971 0,4827 482,7
6. 0,5799 0,0959 0,4840 484
7. 0,5833 0,0979 0,4854 485,4
8. 0,5820 0,0972 0,4848 484,8
9. 0,5626 0,0976 0,4650 465
10. 0,5950 0,0965 0,4985 498,5
Rata-rata bobot bersih 0,4828 482,8

Simpangan = 8,68%

N = 10, maka K = 2,4

NP =k×s
= 2,4 × 8,68%
= 20,832%

L1% = 15%

Nilai penerimaan kapsul yang didapatkan adalah 20,832%, NP ini lebih dari L1%
sehingga perlu pengujian pada 20 unit sediaan tambahan, dan hitung nilai keberterimaan
Memenuhi syarat jika nilai keberterimaan akhir dari 30 unit sediaan lebih kecil atau sama
dengan L1% dan tidak ada satu unitpun kurang dari [1 – (0,01)(L2)]M atau tidak satu
unitpun lebih dari [1 + (0,01)(L2)]M seperti tertera pada Perhitungan nilai keberterimaan
dalam Keseragaman kandungan atau Keragaman bobot. (FI VI, 2020).

28
Penetapan Kadar Sediaan

 Hasil penimbangan
1. 0,4728 gram
2. 0,4872 gram
3. 0,4785 gram
 Hasil penotolan KLT
1. Jarak eluasi = 8 cm
2. Sampel 1 = 4 cm
3. Standar 1 = 4 cm
4. Standar 2 = 3,9 cm
5. Standar 3 = 3,9 cm
6. Standar 4 = 3,8 cm
7. Sampel 2 = 3,8 cm
8. Sampel 3 = 3,8 cm
 Data Kromatogram

 TUGAS
Tentukan jumlah senyawa marker piperin yang terkandung dalam sediaan kapsul (untuk
setiap 1 kapsul)!
Perhitungan sampel R1
Penimbangan = 0,4728 gram = 472,8 mg  dilarutkan ad 25 ml
Penotolan = 2 μl
2 μl
× 472,8 𝑚𝑔 = 0,0378 𝑚𝑔 = 37,8 𝜇𝑔
25000 μl

Diencerkan 1/10 konsentrasi

29
1
× 37,8 𝜇𝑔 = 3,78 𝜇𝑔
10
Bobot piperin = 816,81 ng
Jadi, dalam 3,78 μg sampel mengandung piperin sebanyak 0,81681 μg
Jumlah senyawa marker piperin dalam kapsul sampel R1:
472800 𝜇𝑔
× 0,81681 μg = 102166,07 μg = 102,17 mg
3,78 μg
102,17 mg
Persentase kadar piperin = × 100% = 21,61%
472,8 mg

Perhitungan sampel R2
Penimbangan = 0,4872 gram = 487,2 mg  dilarutkan ad 25 ml
Penotolan = 2 μl
2 μl
× 487,2 mg = 0,038976 = 38,98 𝜇𝑔
25000 μl

Diencerkan 1/10 konsentrasi


1
× 38,98 𝜇𝑔 = 3,898 𝜇𝑔
10
Bobot piperin = 719,71 ng
Jadi, dalam 3,898 μg sampel mengandung piperin sebanyak 0,71971 μg
Jumlah senyawa marker piperin dalam kapsul sampel R2:
487200 𝜇𝑔
× 0,71971 μg = 89954,52 μg = 89,95 mg
3,898 μg
89,95 mg
Persentase kadar piperin = × 100% = 18,46%
487,2 mg

Perhitungan sampel R3
Penimbangan = 0,4785 gram = 478,5 mg  dilarutkan ad 25 ml
Penotolan = 2 μl
2 μl
× 478,5 mg = 0,03828 = 38,28 𝜇𝑔
25000 μl

Diencerkan 1/10 konsentrasi


1
× 38,28 𝜇𝑔 = 3,828 𝜇𝑔
10
Bobot piperin = 639,76 ng
Jadi, dalam 3,828 μg sampel mengandung piperin sebanyak 0,63976 μg
Jumlah senyawa marker piperin dalam kapsul sampel R3:
30
478500 𝜇𝑔
× 0,63976 μg = 79970 μg = 79,97 mg
3,828 μg

79,97 mg
Persentase kadar piperin = × 100% = 16,71%
478,5 mg

Sebelum melakukan penetapan kadar, isi kapsul ekstrak lada hitam ditimbang untuk
dibuat menjadi larutan uji (sampel). Larutan pembanding juga dibuat dengan
menggunakan standar baku piperin. Penetapan kadar kapsul esktrak lada hitam dilakukan
menggunakan metode KLT Densitometri. Dimana fase diam yang digunakan adalah
silica gel F254 dan fase gerak yang digunakan adalah toluena : etil asetat. Sampel dan
standar ditotolkan sebanyak 2 μl. Dari hasil perhitungan, didapat bobot piperin dalam
kapsul sebagai berikut:
R1 = 102,17 mg

R2 = 89,95 mg

R3 = 79,97 mg

SD = 11,12

Rata-rata = 90,7

𝑆𝐷
CV = 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑥 100%

11,12
= 𝑥 100%
90,7

= 12,26%
Syarat nilai Koefisien Variasi (KV) menurut Gandjar dan Rohman (2007) adalah
antara nilai 1-2%. Nilai CV yang didapat pada praktikum kali ini tidak memenuhi syarat.
Nilai CV yang tidak memenuhi syarat ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti
kurangnya ketelitian dalam pengisian kapsul sehingga selisih bobot isi kapsul jauh
berbeda, kurang teliti dalam mengencerkan larutan uji maupun larutan pembanding, dan
pada penotolan di lempeng KLT.

31
4.2 Pembahasan
4.2.1 Mekanisme zat aktif lada hitam
Senyawa fitokimia lain dalam buah lada hitam yang juga memiliki peran penting
selain piperin, yaitu piperamida, piperamin, piperisida, sarmentosin, sarmentin
(Ahmad, N. et al. 2012).
Dalam dunia pengobatan, buah lada hitam biasa digunakan untuk mengatasi
gangguan pencernaan seperti racun pada usus besar yang menyebabkan diare. Buah
lada hitam juga biasa digunakan untuk mengatasi gangguan pernafasan termasuk flu,
demam, dan asma. Di Afrika Barat, buah lada hitam digunakan untuk mengobati
bronchitis, gastritis, rematik, dan sebagai agen antivirus (Ahmad, N. et al. 2012).
Piperin dalam buah lada hitam dapat menstimulasi enzim pencernaan pada
pankreas dan usus halus serta dapat meningkatkan sekresi asam bilirubin jika
diberikan peroral. Metabolit sekunder yang terkandung dalam buah lada hitam
berperan dalam menghambat infeksi yang disebabkan oleh mikroba, serangga dan
hewan.
Menurut beberapa penelitian, ekstrak etanol 96% buah lada hitam memiliki
potensial sebagai antiinflamasi, thermogenic action, stimulator hormon
pertumbuhan, antitiroid, dan chemopreventive. Pada percobaan in vivo (pada tikus),
piperin dapat mencegah dan mengurangi diare dengan memproduksi bermacam-
macam minyak (castor oil) dan zat kimia yang dapat menurunkan dan mencegah
penumpukan cairan intestinal. Selain itu, piperin dapat menghambat atau membunuh
bakteri (Escherichia coli) sebagai penyebab diare (Laurina, D., 2008). Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui kadar piperin di dalam ekstrak etanol 96% buah lada
hitam. Kadar yang diperoleh dapat digunakan pada penelitian selanjutnya untuk
mengetahui kegunaan buah lada hitam lebih terperinci.
Buah Lada hitam mengandung sejumlah mineral seperti kalium, kalsium, seng,
mangan, besi, dan magnesium. Kalium merupakan komponen penting dari sel dan
cairan tubuh yang membantu mengontrol detak jantung dan tekanan darah. Mangan
digunakan oleh tubuh sebagai faktor rekan untuk enzim antioksidan, superoksida
dismutase. Besi sangat penting untuk respirasi sel dan produksi sel darah. Buah lada
juga merupakan sumber vitamin B-komplek seperti piridoksin, riboflavin, tiamin dan
niasin. Di dalam buah lada terdapat beberapa sumber vitamin yang berkhasiat sebagai
antioksidan seperti vitamin C dan vitamin A, dan polifenol flavonoid antioksidan,
seperti: karoten, criptoxantin, zeaxantin, dan likopen. Senyawa tersebut membantu
32
tubuh menghilangkan radikal bebas berbahaya dan melindungi dari kanker dan
penyakit. Minyak dan oleoresin lada menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat
dibandingkan dengan hidroksianisole butilate (BHA) dan butilate hidroksitoluen
(BHT). Piperin sebagai komponen utama alkaloid yang terkandung di dalam lada,
selain berperan sebagai antioksidan juga memiliki antivitas anti hipertensi.
4.2.2 Pemilihan Pelarut dan Metode Ekstraksi
4.2.2.1 Pemilihan Pelarut
Ektraksi dapat dilakukan menggunakan pelarut tunggal atau pelarut campuran.
Syarat pelarut yang digunakan yaitu harus selektif, mempunyai titik didih yang cukup
rendah, bersifat inert dan mudah didapatkan serta murah. Selektif artinya pelarut
harus bisa melarutkan senyawa dengan cepat. Pelarut harus memiliki titik didih yang
cukup rendah supaya pelarut mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi, tapi
tidak boleh terlalu rendah karena dapat menyebabkan kehilangan akibat penguapan.
Inert artinya pelarut tidak bereaksi dengan komponen minyak (Agoes, 2007). Pelarut
yang dipilih untuk ekstraksi juga harus berdasarkan kemampuan dalam melarutkan
jumlah maksimum dari zat aktif atau senyawa metabolit yang diinginkan dan
seminimal mungkin bagi unsur yang tidak diinginkan (Depkes RI, 2000).
Pelarut yang digunakan pada praktikum adalah etanol 96%. Digunakan pelarut
etanol 96% karena sifatnya yang mampu melarutkan hampir semua zat, baik yang
non polar, semi polar dan polar (Arifin dkk., 2006). Etanol 96% adalah senyawa polar
yang mudah diuapkan pada suhu sekitar 78,4 °C (Yazid., 2005). Selain itu, data
kelarutan piperin yaitu larut dalam pelarut organic seperti etanol, petroleum eter,
kloroform, metanol, dan tidak larut dalam air (Kolhe dkk., 2011).
4.2.2.2 Pemilihan Metode Ekstraksi
Metode ekstraksi yang digunakan pada praktikum adalah ektraksi kombinasi
maserasi dengan sonikasi. Metode ekstraksi kombinasi dilakukan untuk menyari atau
mengekstraksi senyawa metabolit sekunder dengan optimal dengan waktu yang
cepat. Pembuatan ekstrak dimulai dengan pencampuran simplisia dan pelarut etanol
96% dengan perbandingan simplisia dan pelarut (1:5). Setelah tercampur,
simplisia+pelarut diaduk menggunakan batang pengaduk dengan arah berlawanan
jarum jam selama ± 3 menit.
Selanjutnya dilakukan ekstraksi dengan metode sonikasi, yaitu campuran
simplisia+pelarut dimasukkan ke dalam sonikator selama 1 jam. Prinsip kerja dari
sonikasi adalah perambatan gelombang ultrasonik dari alat sonikator dalam medium
33
pelarut secara longitudinal. Gelombang ultrasonik saat merambat melalui medium
cair akan menyebabkan molekul air mengalami peregangan dan membentuk
gelembung-gelembung mikro. Gelembung mikro ini jika secara terus menerus
menerima gelombang ultrasonik nantinya akan pecah dan melepaskan energi yang
besar yang disebut kavitasi. Kavitasi dengan energi yang besar akan memberikan
gangguan fisik pada dinding maupun membran sel biologis dan penurunan ukuran
partikel serta memperbesar diameter pori. Efek-efek yang disebabkan tersebut
menyebabkan penetrasi pelarut ke dalam sel lebih baik dan meningkatkan laju
perpindahan massa pada jaringan serta memfasilitasi perpindahan senyawa aktif ke
pelarut (Santos dkk., 2009; Novak dkk., 2008). Oleh karena itu, tujuan dari ekstraksi
dengan metode sonikasi yaitu untuk mempercepat ekstraksi senyawa metabolit
sekunder dengan mengganggu dinding sel maupun membran sel oleh gelombang
ultrasonik sehingga kandungan yang ada di dalamnya dapat berdifusi dengan mudah.
Setelah disonikasi, selanjutnya dilakukan maserasi selama 24 jam. Prinsip kerja
dari maserasi yaitu diperolehnya kesetimbangan konsentrasi di dalam dan di luar sel
simplisia, sehingga simplisia mampu melarutkan atau mengeluarkan konstituen aktif
atau senyawa metabolit sekunder yang diinginkan dari dalam sel simplisia melalui
mekanisme difusi menuju ke luar sel (Istiqomah, 2013). Metode maserasi dipilih
karena cara pengerjaan dan alat yang digunakan sederhana serta tidak perlu
pengawasan yang intensif (Vadliyanto, 2017). Kekurangan dari metode maserasi
adalah membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup lama dan membutuhkan banyak
pelarut. Metode ekstraksi yang ditetapkan oleh BPOM sebagai standar mutu ekstrak
tanaman obat dengan metode ektraksi adalah maserasi selama 72 jam. Oleh karena
itu, perlu dikembangkan atau dikombinasi dengan metode ektraksi yang lain untuk
mempersingkat waktu, salah satunya yaitu dikombinasi dengan metode ekstraksi
sonikasi yang memanfaatkan gelombang ultrasonik (Melecchi dkk., 2006).
4.2.3 Penetapan Kadar dengan Metode KLT Densitometri
Kadar suatu obat dalam sediaan farmasi menunjukkan bahwa banyaknya obat
yang terabsorbsi dalam tubuh sehingga menimbulkan efek terapi (Muttaqin, et al.,
2016). Metode yang banyak digunakan untuk penetapan kadar bahan aktif adalah
KLT-Densitometri (Sugihartini, et al., 2012). Begitu juga untuk kadar suatu ekstrak.
Penetapan kadar dilakukan untuk mengetahui kadar senyawa dalam ekstrak tersebut.
Senyawa yang ditentukan kadarnya, dapat berupa senyawa aktif maupun senyawa
identitas. Senyawa aktif merupakan senyawa yang dapat memberikan efek
34
farmakologi sedangkan senyawa identitas merupakan senyawa khas yang terdapat
dalam suatu tanaman. Pada ekstrak ini, ditetapkan kadar senyawa piperin yang
merupakan senyawa aktif sekaligus sebagai senyawa identitas dari buah lada hitam
(Piperis nigri Fructus). Penetapan kadar pada praktikum ini dilakukan dengan
metode kromatografi lapis tipis (KLT) Densitometri. Kromatografi lapis tipis adalah
metode pemisahan senyawa kimia secara kimia fisika bedasarkan perbedaan
kecepatan migrasi atau rasio distribusi dari komponen campuran fase diam dan fase
gerak (Kusumaningtyas et al., 2008). KLT Densitometri digunakan untuk
menentukan kadar senyawa dengan cara noda yang terpisah pada plat KLT tersebut
dimasukkan kedalam instrument yang kadarnya ditentukan berdasarkan hubungan
Area Under Curve (AUC) masing-masing noda pada plat (Sherma, 1994). Dalam
menggunakan alat KLT Densitometri yang memiliki kepekaan yang tinggi untuk
menganalisis senyawa yang dideteksi maka dalam pengerjaan diperhatikan teknik
penotolan ekstrak serta volume ekstrak yang ditotolkan dalam jumlah yang sama
(Waris, et al., 2013). Pada praktikum ini, senyawa piperin dipisahkan dengan
senyawa-senyawa lain yang terdapat pada ekstrak lada hitam, kemudian menentukan
kadarnya menggunakan KLT densitometri.
Penetapan kadar senyawa piperin dilakukan dengan membuat larutan standart
terlebih dahulu dengan konsentrasi 100, 200, 400 dan 800 ppm. Kemudian,
ditotolkan pada lempeng KLT sebanyak 2 µL, begitu juga untuk sampel dengan 3
kali replikasi masing-masing sebanyak 2 µL. Kemudian, dieluasi dan discanning
menggunakan densitometer pada panjang gelombang 254 nm (Farmakope Herbal,
2009). Kondisi analisis dalam penetapan kadar ini sudah merupakan hasil dari
optimasi. Secara kuantitatif, kita dapat menghitung kadar dari piperin dalam ekstrak
dari luas area yang dihasilkan dari scanning dengan densitometer. Luas area tersebut
diekstrapolasikan dalam kurva kalibrasi yang didapat. Kurva kalibrasi dibuat dengan
menggunakan persamaan regresi linear. Penetapan kadar piperin dengan KLT
densitometri diperlukan proses validasi metode untuk memastikan metode tersebut
akurat dan dapat digunakan sebagai metode penetapan kadar, sehingga kadar yang
dihasilkan konsisten dan dapat dipercaya. Salah satu parameternya yaitu linearitas.
Linearitas merupakan salah satu parameter untuk menilai kesahihan metode analisis
dengan melihat nilai hubungan respon dari berbagai konsentrasi zat baku pada suatu
kurva baku yang dilihat sebagai nilai koefisien korelasi (Murrukmihadi, 2013). Dari
hasil analisis didapatkan persamaan regresi linier y = 7,182x + 512,8 dengan
35
koefisien korelasi (R) = 0,99784. Syarat minimum untuk linearitas adalah 0,996, jadi
dapat dikatakan bahwa data tersebut sudah linier.
Dari praktikum ini didapatkan bobot piperin dalam kapsul pada 3 replikasi, yaitu
102,17 mg, 89,95 mg, dan 79,97 mg dengan rata-rata yang diperoleh sebesar 90,697
mg. Parameter yang digunakan dalam menilai hasil pengujian keseragaman bobot
adalah koefisien variasi (CV). Nilai dari koefisien variasi (CV) menunjukan bahwa
data yang diperoleh dari penimbangan bobot adalah homogen, CV dianggap
berpengaruh terhadap kualitas sebaran data. Nilai CV yang baik kurang dari 5%
(DepKes RI, 1995). Nilai CV yang diperoleh pada praktikum sebesar 12,26%. Nilai
CV tersebut tidak memenuhi syarat apabila dibandingkan dengan literatur. Nilai CV
yang tidak memenuhi syarat ini dapat disebabkan oleh distribusi ukuran partikel
bahan-bahan yang terjadi dalam massa kapsul kurang homogen, serta kecepatan alir
massa kapsul kurang seragam. Kemudian juga dapat disebabkan oleh kurangnya
ketelitian pemipetan dalam melakukan preparasi sampel saat dilakukan uji penetapan
kadar dan pengenceran yang belum optimal serta homogen.
4.2.4 Hasil Uji Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan dalam pembuatan kapsul ekstrak lada hitam adalah uji
keseragaman bobot dan uji sifat alir. Tujuan dari uji keseragaman bobot yaitu agar
diketahui bobot dari setiap kapsul seragam sehingga tiap kapsul dapat memiliki
kandungan bahan aktif yang sama. Uji keseragaman bobot dilakukan dengan
penimbangan 10 kapsul sekaligus dan ditimbang lagi satu persatu isi tiap
kapsul.Kemudian timbang seluruh cangkang kosong dari 10 kapsul tersebut. Lalu
dihitung bobot isi kapsul dan bobot rata-rata tiap isi kapsul. Perbedaan bobot isi tiap
kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul, tidak boleh melebihi dari yang
ditetapkan pada kolom A dan untuk setiap 2 kapsul tidak lebih dari yang ditetapkan
pada kolom B (Depkes RI, 1979). Hasil uji didapatkan bahwa perbedaan bobot antar
kapsul sebesar 0,47% sehingga dikatakan bahwa tiap kapsul memiliki keseragaman
bobot yang sama.
Uji sifat alir dilakukan agar pada proses pencetakan serbuk dapat mengalir
dengan baik sehingga didapatkan kapsul yang memiliki bobot yang sama. Sifat alir
serbuk berpengaruh pada peningkatan reprodusibilitas pengisian ruang pencetakan
kapsul, sehingga menyebabkan keseragaman bobot sediaan lebih baik, demikian pula
efek farmakologinya. Caranya yaitu dengan meletakkan massa cetak dalam corong
alat uji kecepatan alir yang bagian bawahnya ditutup. Massa cetak yang keluar dari
36
alat tersebut dihitung kecepatan alirannya dengan menghitung waktu yang diperlukan
oleh sejumlah serbuk untuk turun melalui corong alat penguji dengan menggunakan
stopwatch dari mulai dibukanya tutup bagian bawah hingga semua massa granul
mengalir keluar dari alat uji. Timbunan granul dapat digunakan untuk menghitung
sudut istirahat. Diameter rata-rata timbunan granul dan tinggi puncak timbunan
granul diukur.Untuk 100 g granul waktu alirnya tidak boleh lebih dari 10 detik.Waktu
alir berpengaruh terhadap keseragaman bobot tablet. Dan pada hasil praktikum kali
ini menunjukan waktu alir 14 detik. Sehingga tidak memenuhi persyaratan. Dari hasil
pengujian didapatkan kecepatan alir yaitu 7,14 g/s dan sudut diam sebesar 42,4°.
Berdasarkan hasil pengujian disimpulkan bahwa serbuk memiliki sifat alir yang
buruk karena persyaratan sifat alir yang baik yaitu kecepatan alir sebesar 10g/s dan
sudut diam <30° (Liebermann & Lachman, 1986)

37
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Buah lada hitam dimanfaatkan untuk mengobati diare, antiinflamasi, antioksidan, dan
antihipertensi. Memiliki kandungan utama piperin, selain piperin, terdapat senyawa
lain yaitu piperamida, piperamin, piperisida, sarmentosin, sarmentin.
2. Syarat pelarut yang digunakan yaitu harus selektif, mempunyai titik didih yang cukup
rendah, bersifat inert dan mudah didapatkan serta murah.
3. Digunakan pelarut etanol 96%, pelarut ini dipilih karena sifatnya yang mampu
melarutkan hampir semua zat, baik yang non polar, semi polar dan polar.
4. Metode ekstraksi yang digunakan pada praktikum adalah ektraksi kombinasi
maserasi dengan sonikasi. Metode ekstraksi kombinasi dilakukan untuk
mengekstraksi senyawa metabolit sekunder dengan optimal dengan waktu yang cepat
5. Prinsip kerja metode sonikasi adalah perambatan gelombang ultrasonik dari alat
sonikator dalam medium pelarut secara longitudinal. Metode sonikasi digunakan
untuk mempercepat ekstraksi senyawa metabolit sekunder dengan mengganggu
dinding sel maupun membran sel oleh gelombang ultrasonik sehingga kandungan
yang ada di dalamnya dapat berdifusi dengan mudah.
6. Prinsip kerja dari maserasi yaitu diperolehnya kesetimbangan konsentrasi di dalam
dan di luar sel simplisia, sehingga simplisia mampu melarutkan atau mengeluarkan
konstituen aktif atau senyawa metabolit sekunder yang di inginkan dari dalam sel
simplisia melalui mekanisme difusi menuju ke luar sel
7. Keunggulan metode maserasi adalah cara pengerjaan dan alat yang digunakan
sederhana serta tidak perlu pengawasan yang intensif. Kekurangannya adalah
membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup lama dan membutuhkan banyak pelarut.
8. Bobot piperin dalam kapsul pada 3 replikasi, yaitu 102,17 mg, 89,95 mg, dan 79,97
mg dengan rata-rata yang diperoleh sebesar 90,697 mg. Dan diperoleh nilai CV
sebesar 12,26% (tidak memenuhi syarat)
9. Nilai CV yang tidak memenuhi syarat dapat disebabkan oleh distribusi ukuran
partikel bahan-bahan yang terjadi dalam massa kapsul kurang homogen, serta
kecepatan alir massa kapsul kurang seragam, dan juga dapat disebabkan oleh

38
kurangnya ketelitian pemipetan dalam melakukan preparasi sampel saat dilakukan
uji penetapan kadar dan pengenceran yang belum optimal serta homogeny
10. Hasil uji didapatkan perbedaan bobot antar kapsul sebesar 0,47% sehingga dikatakan
bahwa tiap kapsul memiliki keseragaman bobot yang sama.
11. Dari hasil pengujian didapatkan kecepatan alir yaitu 7,14 g/s dan sudut diam sebesar
42,4°. Berdasarkan hasil pengujian disimpulkan bahwa serbuk memiliki sifat alir
yang buruk karena persyaratan sifat alir yang baik yaitu kecepatan alir sebesar 10g/s
dan sudut diam <30°
5.2 Saran
Untuk hasil yang optimal, sebaiknya dilakukan pengendalian faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi hasil analisis.

39
DAFTAR PUSTAKA

Agbor, G.A., J.A. Vinson, J.E. Oben, J.Y. Ngogang. 2006. Comparitive Analysis of the in Vitro
Antioxidant Activity of White and Black Pepper. Nutrition Research. 26: 659-663.

Agoes. 2007. Teknologi Bahan Alam. Bandung: ITB.

Ahmad, N. et al. 2012. Biologogical Role of Piper Nigrum L. (Black Pepper): A Review.
Departement of Biotechnology. Islamabad. Pakistan

Akrayi, H. F. S., & Abdulrahman, Z. F. A. 2013. Evaluation of the Antibacterial Efficacy and
the Phytochemical Analysis of some Plant Extract againt Human Patogenic Bacteria.
Journal of Physics Cinference series. 29-39.

Al-Shahwany, A. W. 2014. Alkaloids and Phenolic Compound Activity of Piper nigrum against
some Human Pathogenic Bacteria. Biomedicine and Biotecnology. 2(1):20-28.

Amaliana, L. N. 2008. Uji Sitotoksik Ekstrak Etanol 70 % Buah Merica Hitam (Piper nigrum
L.) terhadap Sel Hela. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah
Surakarta. Surakarta.

Anief, Moh. 2007.Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Arifin, Helmi., Nelvi Anggraini., Dian Handayani, dan Roslinda Rasyid. 2006. Standarisasi
Ekstrak Etanol Daun Eugenia Cumini Merr. J. Sains Tek. Far. 11(2):88-93.

Departemen Kesehatan, 2006, Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia, Vol.2, 124,
Jakarta, Depkes RI.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Direktorat
Jenderal POM-Depkes RI.

Depkes RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia Ed I. Depkes RI : Jakarta.

Evan, W.C. 1997. Trease and Evan’s Pharmacognosy. Edition 14. W.B. Saunders. London.
hal.363-364

40
Hardjono, 1983, Kromatografi, Laboratorium Analisis Kimia Fisika Pusat, UGM, Yogyakarta,
pp. 32-34.

Istiqomah. 2013. Perbandingan metode ekstraksi maserasi dan sokletasi terhadap kadar piperin
buah Cabe Jawa (Piperis retrofracti fructus). Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kadam, Y. K. N., F. A Patel, & Karjikar. 2013. Pharmacognostic, Phytochemical Studies of


Piper nigrum Linn. Friut (Piperaceace). International Research Journal of Pharmacy. (4):
189-193.

Kemenkes RI. 2017. Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.

Kemenkes RI. 2020. Farmakope Indonesia Edisi VI. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia.

Khaidir, S., Murrukmihadi, M. and Kusuma, A. P. 2015. Formulasi Tablet Ekstrak Kangkung
Air (Ipomoea aquatica F.) dengan Variasi Kadar Amilum Manihot sebagai Bahan
Penghancur. Jurnal Ilmiah Farmasi, 11(1), pp. 1–8.
Kolhe, S. R., P. Borole, & U. Patel. 2011. Extraction and Evaluation of Piperine from Piper
nigrum. International Journal of Applied Biology and Pharmaceutical Tecnology. 144-
149.

Kolhe, S.R., B. Priyanka, dan P. Urmi. 2011. Extraction and Evaluation of Piperine from Piper
nigrum Linn. International Journal of Applied Biology and Pharmaceutical Technology.
2: 144-149.

Kumar, B., H. K. Sandhar, S. Prasher, P. Tiwari, M. Salhan, & P. Sharma. 2014. A. Review of
Phytochemistry and Pharmacological of Flavonoid. International Pharmaceutical Science

Kusumaningtyas, E., Astuti, E., & Darmono. 2008. Sensitivitas Metode Bioautografi Kontak dan
Agar Overlay dalam Penentuan Senyawa Antikapang, Jurnal Ilmu Kefarmasian
Indonesia, 6 (2), 75-79.
Lachman, L., Lieberman, H.A., and Kanig, J.L., 1986, The Theory and Practice of Industrial
Pharmacy,2nd ed., Lea and Febiger, Philadelphia. 648 - 659
Laurina, D., 2008. Isolasi Piperin dari Lada Hitam dan Sintesis Asam Piperat serta Uji
Aktivitasnya sebagai Antibakteri Escherichia coli. (Abstrak). Universitas Negeri
Malang.

41
Meghwal, M. dan T. K. Goswami, 2012. Nutritional Constituent of Black Pepper as Medicinal
Molecules: A Review. 1: 129 doi:10.4172/scientificreports.12.

Melecchi, M. I. Soares., V. F. Péres., C. Dariva., C. A. Zini., F. C. Abad., M. M. Martinez, dan


E. B. Caramão. 2006. Optimization of the sonication extraction method of Hibiscus
tiliaceus L. flowers. Ultrasonics Sonochemistry. 13 (3): 242-250.

Murrukmihadi, M., Wahyuono, S., Marchaban, dan Martono, S., 2013, Penetapan Kadar
Alkaloid dari Ekstrak Etanolik Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.),
Traditional Medicine Journal, 18 (2): 118-120.

Namara, F.M. 2005. Effect of Piperine, the Pungent Component of Black Pepper, at the Human
Vanilloid Receptor (TRPV1); British Journal of Pharmacology. 144, 781-790.

Novak, Ivana., P. Janeiro., M. Seruga, dan A. M. Oliveira-Brett. 2008. Ultrasound extracted


flavonoids from four varieties of Portuguese red grape skins determined by reverse-phase
high-performance liquid chromatography with electrochemical detection. Analytica
Chimica Acta. 630(2):107-115.

Nuria, M. C., & A. Faizatun. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Jarak Pagar
terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923, Eschericia coli ATCC 25922, dan
Salmonella typi ATCC 1408. Mediargo, 5.

Pundir, R. K., & P. Jain. 2010. Comparative Studies on The Antimicrobial Activity of Black
Paper (Piper nigrum) and Tumeric (Curcuma longa) Extract. International Journal of
Applied Pharmaceutical Science. 1(2): 491-500.

Rohman, 2009. Kromatografi Untuk Analisis Obat, Graha Ilmu, Yogyakarta. Pp. 47

Rowe, R.C. et Al. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed. London: The
Pharmaceutical Press.

Sabina, E. P., A. Nasreen, M. Vedi, & M, Rasool. 2013. Analgesic, Antipyretic and Ulcerogenic
Effects of Piperine: An active Ingredient of Pepper. Journal of Pharmaceutical Science
and Research. 5(10):203-206.

Santos, H. M., C. Lodeiro, dan J.L. Capelo-Martinez. 2009. The Power of Ultrasound Dalam
J.L. Capelo-Martinez (Ed). Ultrasound in Chemistry: Analytical Applications. Weinhem:
WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA.

42
Selvendiran, K., V.S.J. Prince dan D. Sakthisekaran. 2006. In Vivo Effect of Piperine on Serum
and Tissue Glycoprotein Levels in Benzo(a)pyrene Induced Lung Carcinogenesis in
Swiss Albino Mice. Plum. Pharmacol. Ther., 19(2): 107-111.

Sherma, J., 1994. Hanbook Of Thin Layer Chromarography. 3nd ed. New York: Marcel Dekker
Inc.

Sudjarwo, S.A. 2005. The Potency of Piperine as Anti-inflammatory and Analgesic in Rats and
Mice. Folia Medica Indonesiana 2005; 41(3):190-194.

Sugihartini, N., Fudholi, A., Pramono, S. & S., 2012. Validasi Metode Analisa Penetapan Kadar
Epigalokatekin Galat Dengan KLT Densitometri. Jurnal Ilmiah Kefarmasian, Volume 2,
pp. 81-87.
Vadliyanto, M. Zulkhaq. 2017. Skrining aktivitas antibakteri berbagai ekstrak buah Jambu Wer
(Prunus persica Zieb&Zucc.) terhadap bakteri Escherichia coli. Skripsi. UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang.

Vasavirama, K., dan M. Upender. 2014. Piperin: A Valuable Alkaloid from Piper Species.
International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 6(4): 34-38.

Voight, R. 1995.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press.

Waris, R., Kadir, A. & Akbar, C., 2013. Identifikasi dan Penetapan Kadar Sildenafil Sitrat Pada
Jamu Kuat Lelaki Yang Beredar di Kota Makassar. As-syifaa, 05(01), pp. 95- 102.

Yazid, E. dan Nursanti, L. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Zarai, Z., E. Boujelbene, N. B. Salem, Y. Gargouri. 2013. Antioxidant and antimicrobial


activies of various solvent extract, piperine and piperic acid from Piper nigrum. LWT-
Food Sci Technology. 50: 634-641.

43

Anda mungkin juga menyukai