Anda di halaman 1dari 4

Selamat Siang tutor dan teman-teman,

Mohon ijin menjawab.

Soal :

1. Jelaskan perbedaan private domain dan public domain!


2. Barang milik negara dapat dimanfaatkan di luar tugas pokok dan fungsi lembaga
negara. Sebutkan dan jelaskan pemanfaatan barang milik negara tersebut!

Jawab :

1. Dalam upaya menciptakan kesejahteraan bagi warga negaranya, negara dengan


pemerintah sebagai perwujudannya menjalankan pemerintahan sehari-hari. Dalam
keseharian pemerintahan tersebut dibutuhkan sarana yang terdiri atas ketersediaan dana
atau keuangan negara yang berupa uang kartal ataupun uang giral dipenuhi dengan pola
penerimaan pendapatan negara. Kedua ketersediaan sumber daya manusia atau aparatur
negara dipenuhi dengan melakukan penerimaan aparatur sipil negara. Ketiga ketersediaan
peraturan yang dipenuhi dengan dilakukannya proses PROLEGNAS (program legislasi
nasional). Keempat ketersediaan barang milik negara, dimana barang adalah bagian dari
kekayaan yang merupakan satuan tertentu yang dapat dinilai/dihitung/diukur/ditimbang
dan dinilai, tidak termasuk uang dan surat berharga. Pengertian akan barang milik negara
diatur dalam ketentuan PP Nomor 6 Tahun 2006 sebagai berikut “barang milik negara
adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari
perolehan lainnya yang sah”. Pada dasarnya, barang milik negara dapat diklasifikasikan
dalam dua jenis utama yaitu :
a. Benda privat atau privat domain adalah barang-barang milik negara yang
pemanfaatannya hanya untuk peningkatan pegawai. Contohnya adalah mobil
dinas pegawai. Barang-barang itu, seperti rumah dinas atau mobil dinas,
diperuntukkan bagi aparat yang diberikan fasilitas khusus tersebut. Dengan
demikian, masyarakat umum tidak bisa menikmati barang milik negara tersebut.
b. Barang atau benda public domain merupakan benda atau barang milik negara
yang digunakan untuk kepentingan umum. Artinya masyarakat umum dapat
memanfaatkan atau menggunakan barang public tersebut, seperti jalan raya,
jembatan, gedung-gedung pemerintahan, jaringan-jaringan listrik, ataupun
bentuk-bentuk barang dinas yang digunakan oleh umum, tanpa memerlukan izin.

2. Dalam pengelolaan barang atau benda milik negara dibedakan pola utilitas terhadap
barang milik negara menjadi dua hal yaitu penggunaan yang dimaksud adalah lembaga
negara dan digunakan untuk menjalankan fungsi dan tugas lembaga negara tersebut.
Sedangkan pemanfaatannya dimaksud adalah pemanfaatannya dilakukan diluar tugas
pokok fungsi kementrian ataupun lembaga negara tersebut. Misalnya gedung pertemuan
yang dimiliki oleh sebuah kementrian bukanlah satu barang milik negara yang
pemanfaatnya berkaitan langsung dengan tugas pokok fungsi dari kementrian atau
lembaga tersebut. dalam pemanfaatan barang milik negara, pemakainya bisa saja pihak
ketiga yang bukan pengguna barang, yakni pejabat pemegang kewenangan pengunaan
barang milik negara. Tentu saja hal itu diperkenankan sepanjang pemanfaatan oleh pihak
ketiga tersebut tidak mengubah status kepemilikan barang milik negara tersebut yang
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan RI no. 96/PMK.06/2007 :
a. Sewa, menurut Peraturan Menteri Keuangan RI No. 96/PMK.06/2007 yaitu “sewa
adalah pemanfaatan barang milik negara oleh pihak lain dalam jangka waktu
tertentu dan menerima imbalan uang tunai”. Dalam pengelolaan barang atau
benda milik negara, salah satu tujuannya adalah upaya agar barang atau benda
milik negara dapat bermanfaat sebesar mungkin, baik bagi negara maupun bagi
masyarakat yang memerlukannya. Salah satu upaya untuk mengoptimalkan
kemanfaatan barang atau benda milik negara dilakukan dengan mempersilahkan
ppihak ketiga untuk turut memanfaatkannya dengan cara menyewa. Untuk
menjaga kepentingan pengelola ataupun penguna barang milik negara, BMN yang
dapat disewakan kepada penyewa diatas tidak boleh barang milik negara yang
masih digunakan untuk kepentingan, baik pengelola maupun penguna barang.
Barang yang disewa harus benar-benar dipastikan tidak atau belum digunakan
oleh pengguna ataupun pengelola barang milik negara, selain itu untuk menjaga
kepentingan negara ditentukan bahwa sewa barang milik negara memiliki jangka
waktu maksimum lima tahun sejak ditandatanganinya perjanjian sewa-menyewa
barang milik negara tersebut, namun sewa-menyewa tersebut masih dapat
diperpanjang.
b. Pinjam Pakai BMN, menurut Peraturan Menteri Keuangan RI No.
96/PMK.06/2007 yaitu pinjam pakai barang milik negara adalah penyerahan
penggunaan barang milik negara antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah
dalam waktu tertentu, tanpa menerima imbalan, setelah jangka waktu berakhir,
BMN tersebut diserahkan kembali kepada pemerintah pusat. Pinjam pakai ini
dilakukan oleh pihak ketiga yaitu pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dalam
proses pinjam pakai sifatnya adalah Cuma-Cuma karena tidak ada biaya yang
harus dibayar oleh pemerintah daerah sebagai pihak penyewa. Dasar utama
pertimbangan dilakukannya pemanfaatan barang milik negara melalui model
pinjam pakai adalah satu upaya pengelola ataupun pengguna barang untuk dapat
mengoptimalkan penggunaan barang-barang milik negara, baik beruapa tanah,
bangunan maupun barang lainnya guna menunjang pelaksannaan pemerintahan
daerah. Untuk pinjam pakai yang dilakukan oleh pemerintah pusat dengan
pemerintah daerah, objeknya hanya sebatas tanah dan bangunan saja. Sementara
jika pinjam pakai penggunaan BMN dengan pemerintah daerah objeknya tidak
hanya tanah dan bangunan melainkan juga peralatan-peralatan ataupun sarana dan
prasarana lainnya. Jangka waktu pinjam pakai BMN tersebut paling lama dua
tahun sejak ditandatanganinya perjanjian pinjam pakai dan dapat diperpanjngan.
c. Kerjasama Pemanfaatan BMN, menurut Peraturan Menteri Keuangan RI No.
96/PMK.06/2007 yaitu pendayagunaan BMN oleh pihak lain dalam jangka waktu
tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan negara bukan pajak dan sumber
pembiayaan lainnya.motivasi utama dalam proses kerja sama pemanfaatan barang
milik negara adalah sisi keuntungan finansial guna memenuhi penerimaan negara
bukan pajak (PNBP) dan bukan dari sisi tujuan pemanfaatan barang itu sendiri,
pengelolaan BMN dilakukan oleh para pohak yang menandatangani perjanjian
secara bersama-sama Dasar pertimbangan dilaksanakan pemanfaatan dengan
model kerja sama pemanfaatan adalah mengoptimalkan pemanfaatan barang milik
negara yang tidak atau belum dipergunakan dalam tugas pokok pemerintahan. Hal
ini guna meningkatkan penerimaan negara serta mengamankan barang milik
negara dari penggunaan atau pemanfaatan barang milik negara tanpa dasar hukum
yang jelas. Dalam kerja sama pemanfaatan barang milik negara, satu hal yang
harus diajaga bahwa status BMN yang menjadi obyek perjanjian tidak boleh
berubah. Lamanya perjanjian kerja sama pemanfaatnya memang cukup panjang
yakni 30 tahun, hal ini mengingat bahwa dalam pemanfaatan ini ada sisi
keuntungan yang harus diperoleh oleh para pihak sehingga dibutuhkan waktu
yang cukup agar para pihak mempunyai kesempatan untuk bersama-sama
mengupayakan dan mendapatkan keuntungan.
d. Kerjasama Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna,
1) menurut Peraturan Menteri Keuangan No. 96/PMK.06/2007 tentang
Bangun guna serah yaitu Pemanfaatan tanah milik pemerintah pusat oleh
pihak lain dengan mendirikan bangunan dan/atau sarana, berikut
fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam
jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya tanah serta
bangunan dan/atau sarana, berikut fasilitanya diserahkan kembali kepada
pengelola barang setelah berakhirnya jangka waktu. Hal ini dimaksudkan
bahwa pihak pemerintah pusat hanyalah menyediakan lahan
pembangunannya, sedangkan pihak mitra membangun sendiri
gedung/bangunan beserta fasilitasnya. Setelah gedung atau bangunan itu
selesai dibangun, pihak mitra diperkenankan memanfaatkannya sampai
batas waktu tertentu sesuai perjanjian yang telah dibuat dan disepakati
oleh para pihak.
2) Menurut Peraturan Menteri Keuangan No. 96/PMK.06/2007 tentang
Bangun Serah Guna yaitu pemanfaatan tanah milik pemerintah pusat oleh
pihak lain dengan mendirikan bangunan dan/atau sarana, berikut
fasilitasnya dan setelah selesai pembangunannya diserahkan kepada
pengelola barang untuk kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut
selama jangka waktu yang disepakati. Hal ini dimaksudkan bahwa pihak
pemerintah pusat hanya menyediakan lahan untuk pembangunan gedung.
Sementara itu, pihak mitra membangun gedung/bangunan beserta segenap
fasilitasnya. Perbedaannya terletak pada Bangun Guna serah, penyerahan
bangunan diserahkan setelah digunakan oleh mitra sampai batas waktu
selesai sementara pada bangun serah guna penyerahan justru dilakukan
setelah bangunan rampung didirikan atau sebelum
digunakan/dimanfaatkan oleh pihak mitra sampai batas waktu yang
disepakati oleh para pihak.

Sumber :
Utama, Yos Johan. 2020. Hukum Administrasi Negara. Tanggerang Selatan : Universitas
Terbuka