Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN FARINGITIS

I. Konsep Dasar Penyakit


A. Anatomi Fisiologi
Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti
corong, yang besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah serta
terletak pada bagian anterior kolum vertebra (Arjun S Joshi, 2011).
Kantong ini mulai dari dasar tengkorak terus menyambung ke
esophagus setinggi vertebra servikal ke-6. Ke atas, faring berhubungan
dengan rongga hidung melalui koana, ke depan berhubungan dengan
rongga mulut melalui ismus orofaring, sedangkan dengan laring di bawah
berhubungan melalui aditus laring dan ke bawah berhubungan dengan
esophagus. Panjang dinding posterior faring pada orang dewasa kurang
lebih 14 cm; bagian ini merupakan bagian dinding faring yang
terpanjang.Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam keluar) selaput lendir,
fasia faringobasiler, pembungkus otot dan sebagian fasia bukofaringeal
(Rusmarjono dan Bambang Hermani, 2007).
Faring terbagi atas nasofaring, orofaring dan laringofaring
(hipofaring) (Arjun S Joshi, 2011).Unsur-unsur faring meliputi mukosa,
palut lendir (mukosa blanket) dan otot (Rusmarjono dan Bambang
Hermani, 2007).

Gambar 2.1. Anatomi Faring


Faring terdiri atas :
1. Nasofaring
Batas nasofaring di bagian atas adalah dasar tengkorak, di bagian
bawah adalah palatum mole, ke depan adalah rongga hidung
sedangkan ke belakang adalah vertebra servikal. Nasofaring yang
relatif kecil, mengandung serta berhubungan erat dengan beberapa
struktur penting, seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding lateral
faring dengan resesus faring yang disebut fosa Rosenmuller, kantong
Rathke, yang merupakan invaginasi struktur embrional hipofisis
serebri, torus tubarius, suatu refleksi mukosa faring di atas penonjolan
kartilago tuba Eustachius, koana, foramen jugulare, yang dilalui oleh
n.glosofaring, n. vagus dan n.asesorius spinal saraf cranial dan
v.jugularis interna bagian petrosus os temporalis dan foramen laserum
dan muara tuba Eustachius (Rusmarjono, 2007; Arjun S Joshi, 2011;
Rospa Hetharia, 2011).
2. Orofaring
Orofaring disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah
palatum mole, batas bawah adalah tepi atas epiglottis, ke depan adalah
rongga mulut, sedangkan ke belakang adalah vertebra sevikal. Struktur
yang terdapat di rongga orofaring adalah dinding posterior faring,
tonsil palatine, fosa tonsil serta arkus faring anterior dan posterior,
uvula, tonsil lingual dan foramen sekum (Rusmarjono dan Bambang
Hermani, 2007; Rospa Hetharia, 2011).
3. Laringofaring (Hipofaring)
Batas laringofaring di sebelah superior adalah tepi atas epiglotis, batas
anterior ialah laring, batas inferior ialah esofagus, serta batas posterior
ialah vertebra servikal.Struktur pertama yang tampak di bawah lidah
ialah valekula. Bagian ini merupakan dua cengkungan yang dibentuk
oleh ligamentum glosoepiglotika medial dan ligamentum
glosoepiglotika lateral pada tiap sisi.
Valekula disebut juga “kantong pil” (pill pockets) sebab pada beberapa
orang, kadang – kadang bila menelan pil akan tersangkut di situ. Di
bawah valekula terdapat epiglotis. Pada bayi epiglotis ini berbentuk
omega dan pada perkembangannya akan lebih melebar, meskipun
kadang – kadang bentuk infantile (bentuk omega) ini tetap sampai
dewasa. Dalam perkembangannya, epiglotis ini dapat menjadi
demikian lebar dan tipisnya.Epiglotis berfungsi juga untuk melindungi
glotis ketika menelan minuman atau bolus makanan, pada saat bolus
tersebut menuju ke sinus piriformis dan ke esophagus (Rusmarjono
dan Bambang Hermani, 2007).
Ruang Faringal
1. Ada dua ruang yang berhubungan dengan faring yang secara klinis
mempunyai arti penting, yaitu ruang retrofaring dan ruang parafaring.
Ruang retrofaring( Retropharyngeal space), dinding anterior ruang ini
adalah dinding belakang faring yang terdiri dari mukosa faring, fasia
faringobasilaris dan otot – otot faring. Ruang ini berisi jaringan ikat
jarang dan fasia prevertebralis. Ruang ini mulai dari dasar tengkorak di
bagian atas sampai batas paling bawah dari fasia servikalis. Serat –
serat jaringan ikat di garis tengah mengikatnya pada vertebra.Di
sebelah lateral ruang ini berbatasan dengan fosa faringomaksila
(Rusmarjono dan Bambang Hermani, 2007).
2. Ruang parafaring (Pharyngomaxillary Fossa), ruang ini berbentuk
kerucut dengan dasarnya yang terletak pada dasar tengkorak dekat
foramen jugularis dan puncaknya pada kornu mayus os hioid. Ruang
ini dibatasi di bagian dalam oleh m. konstriktor faring superior, batas
luarnya adalah ramus asenden mandibula yang melekat dengan m.
pterigoid interna dan bagian posterior kelenjar parotis. Fosa ini dibagi
menjadi dua bagian yang tidak sama besarnya oleh os stiloid dengan
otot yang melekat padanya. Bagian anterior (presteloid) adalah bagian
yang lebih luas dan dapat mengalami proses supuratif sebagai akibat
tonsil yang meradang, beberapa bentuk mastoiditis atau petrositis, atau
dari karies dentis. Bagian yang lebih sempit di bagian posterior (post
stiloid) berisi a.karotis interna, v. jugularis interna, n. vagus yang
dibungkus dalam suatu sarung yang disebut selubung karotis (carotid
sheath). Bagian ini dipisahkan dari ruang retrofaring oleh sesuatu
lapisan fasia yang tipis (Rusmarjono dan Bambang Hermani, 2007).

Gambar 2 . Anatomi Faring


B. Definisi
Faringitis akut adalah radang akut pada mukosa faring dan
jaringan limfoid pada dinding faring (Rospa, 2011). Menurut Vincent
(2004) Faringitis akut adalah infeksi pada faring yang disebabkan oleh
virus atau bakteri, yang ditandai oleh adanya nyeri tenggorokan, faring
eksudat dan hiperemis, demam, pembesaran limfonodi leher dan malaise.
Pendapat lain di kemukakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (2008)
Faringitis merupakan peradangan akut membrane mukosa faring dan
struktur lain di sekitarnya. Karena letaknya yang sangat dekat dengan
hidung dan tonsil, jarang terjadi hanya infeksi local faring atau tonsil.Oleh
karena itu, pengertian faringitis secara luas mencakup tonsillitis,
nasofaringitis, dan tonsilofaringitis.
Faringitis akut dan tonsillitis akut sering ditemukan
bersamasamadan dapat menyerang semua umur. Penyakit ini ditular
melalui kontak darisekret hidung dan ludah ( droplet infections)
(Rusmarjono, 2001).
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa
Faringitis akut adalah suatu peradangan akut yang menyerang
tenggorokan atau faring yang disebabkan oleh virus atau bakteri tertentu
yang di tandai dengan nyeri tenggorokan.

C. Epidemiologi
Menurut Arif Mansjoer (2007) pathofisiologi dari faringitis akut
adalah penularan terjadi melalui droplet.Kuman menginfiltrasi lapisan
epitel kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial
bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear.Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian oedem
dan sekresi yang meningkat.Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi
menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding
faring.Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi
lebar.Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih, atau abu – abu
terdapat folikel atau jaringan limfoid.Tampak bahwa folikel dan bercak –
bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral menjadi
meradang dan membengkak sehingga timbul radang pada tenggorok atau
faringitis.

D. Etiologi
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2008) Virus merupakan etiologi
terbanyak faringitis akut, terutama pada anak berusia < 3 tahun
(prasekolah).Virus penyebab penyakit respiratori seperti Adenovirus,
Rhinovirus, dan virus parainfluenza dapat menjadi penyebab faringitis.
Virus Epstein Barr (Epstein Barr virus,EBV) dapat menyebabkan
faringitis, tetapi disertai dengan gejala infeksimononikleosis seperti
splenomegali dan limfadenopati genelisata. Infeksi sistemik seperti infeksi
virus campak, virus Rubella, dan berbagai virus lainnya juga dapat
menunjukan gejala faringitis akut. Streptococcus ß hemolitikus grup A
adalah bakteri penyebab terbanyak faringitis akut. Bakteri tersebut
mencakup 15 – 30 % dari penyebab faringitis akut pada anak.
Pendapat lain dikemukakan oleh Bibhat K Mandal (2006) etiologi dari
faringitis akut adalah :
1. Streptococcus pygenes
2. Virus EPSTEIN-BARR (EBV)
3. Corynebacterium diphtheria
Selain itu, Candida dapat tumbuh di mukosa rongga mulut dan
faring danmenyumbang terjadinya faringitis fungal.Faringitis gonorea
hanya terdapat padapasien yang menlakukan kontak orogenital
(Rusmarjono dan Efiaty ArsyadSoepardi, 2007).
Faktor resiko lain penyebab faringitis akut yaitu udara yang
dingin,turunnya daya tahan tubuh yang disebabkan infeksi virus influenza,
konsumsimakanan yang kurang gizi, konsumsi alkohol yang berlebihan,
merokok, danseseorang yang tinggal di lingkungan kita yang menderita
sakit tenggorokan ataudemam (Jill Gore, 2013).
E. Tanda dan gejala
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2008) Faringitis streptokokus
sangat mungkin jika di jumpai tanda dan gejala berikut:
a. Awitan akut, disertai mual dan muntah
b. Faring hiperemis
c. Demam
d. Nyeri tenggorokan
e. Tonsil bengkak dengan eksudasi
f. Kelenjar getah bening leher anterior bengkak dan nyeri
g. Uvula bengkak dan merah
h. Ekskoriasi hidung disertai lesi impetigo sekunder
i. Ruam skarlantina
j. Petikie palatum mole
Menurut Wong (2010) manifestasi klinik dari faringitis akut :
a. Demam (mencapai 40°C)
b. Sakit kepala
c. Anorexia
d. Dysphagia
e. Mual, muntah
f. Faring edema atau bengkak

F. Patofisiologi
Menurut Arif Mansjoer (2007) pathofisiologi dari faringitis akut
adalah penularan terjadi melalui droplet.Kuman menginfiltrasi lapisan
epitel kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial
bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear.Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian oedem
dan sekresi yang meningkat.Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi
menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding
faring.Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi
lebar.Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih, atau abu – abu
terdapat folikel atau jaringan limfoid.Tampak bahwa folikel dan bercak –
bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral menjadi
meradang dan membengkak sehingga timbul radang pada tenggorok atau
faringitis.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2008) patogenesis dari
faringitis akut yaitu bakteri maupun virus dapat secara langsung
menginfasi mukosa faring yang kemudian menyebabkan respon
peradangan lokal.Rhinovirus menyebabkan iritasi mukosa faring sekunder
akibat sekresi nasal.Sebagian besar peradangan melibatkan nasofaring
uvula, dan palatum mole.Perjalanan penyakitnya ialah terjadi inokulasi
dari agen infeksius di faring yang menyebabkan peradangan local,
sehingga menyebabkan eritema faring, tonsil, atau keduanya.Infeksi
streptokokus ditandai dengan invasi local serta penglepasan toksin
ekstraseluler dan protease.Transmisi dari virus yang khusus dan SBHGA
terutama terjadi akibat kontak tangan dengan secret hidung di bandingkan
dengan kontak oral. Gejala akan tampak setelah masa inkubasi yang
pendek, yaitu 24-72 jam.
G. Pathway
FARINGITIS

Inflamasi

Demam Edema mukosa Mukosa Demam


Kemerahan
Peningkatan Suhu Suputum sulit
Nafsu dikeluarkan
edema
makan
menurun
Hipertermia
Nyeri Ketidakefektifan bersihan
jalan nafas
Ketidakseim
bangan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan

Kurangnya Defisiensi
pengetahuan pengetahuan
G. Komplikasi
Menurut Kazzi (2006) Biasanya faringitis dapat sembuh sendiri.Namun
jika faringitis ini berlangsung lebih dari 1 minggu, masih terdapat demam,
pembesaran nodus limfa, atau muncul bintik kemerahan.Hal tersebut
berarti dapat terjadi komplikasi dari faringitis, seperti demam reumatik.
Beberapa komplikasi faringitis akut yang lain adalah :
1. Demam scarlet, yang di tandai dengan demam dan bintik kemerahan.
2. Demam reumatik, yang dapat menyebabkan inflamasi sendi, atau
kerusakan pada katup jantung. Demam reumatik merupakan
komplikasi yang paling sering terjadi pada faringitis akut.
3. Glomerulonefritis, komplikasi berupa glomerulonefritis akut
merupakan respon inflamasi terhadap protein M spesifik. Komplek
antigen- antibody yang terbentuk berakumulasi pada glomerulus ginjal
yang akhirnya menyebabkan glomerulonefritis ini.
4. Abses peritonsilar biasanya disertai dengan nyeri faringeal, disfagia,
demam dan dehidrasi.

H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
1. Kultur tenggorok : merupakan suatu metode yang dilakukan untuk
menegaskan suatu diagnosis dari faringitis yang disebabkan oleh
bakteri GABHS. Untuk mencapai hasil yang akurat, pangambilan swab
dilakukan pada daerah tonsil dan dinding faring posterior. Spesimen
diinokulasi pada agar darah dan ditanami disk antibiotik.
2. Kriteria standar untuk penegakan diagnosis infeksi GABHS adalah
persentase sensitifitas mencapai 90-99 %. Kultur tenggorok sangat
penting bagi penderita yang lebih dari 10 hari. GABHS rapid antigen
detection test merupakan suatu metode untuk mendiagnosa faringitis
karena infeksi GABHS. Tes ini akan menjadi indikasi jika pasien
memiliki resiko sedang, atau jika seorang dokter tidak nyaman
memberikan terapi antibiotik dengan resiko tinggi untuk pasien. Jika
hasil yang diperoleh adalah positif maka pengobatan antibiotik yang
tepat, namun jika hasilnya negatif maka pengobatan antibiotik
dihentikan kemudian dilakukan follow – up
a. Hasil kultur tenggorok negative
b. Rapid antigen detection tidak sensitive untuk Streptococcus Group
C dan G atau jenis bakteri patogen lainnya (Kazzi, et.al.,2006).

I. Penatalaksanaan
Menurut Wong (2009) penatalaksanaan terapeutik dari faringitis
akut jika terjadi infeksi tenggorokan akibat streptococcus, penisilin oral
dapat diberikan dengan dosis yang cukup untuk mengendalikan
manifestasi local akut. Penisillin memang tidak mencegah perkembangan
glomerunefritis akut pada anak-anak yang rentan namun dapat mencegah
penyebab strein nefrogenik dari streptococcus hemolitik ß grup A ke
anggota keluarga lainnya. Antibiotic lain yang di gunakan untuk
mengobati streptococcus hemolitik ß grup A adalah eritromisin,
azitromisin, klaritromisin, sefalosporin seperti sefdinir (omnicef) dan
amoksisilin.
Pendapat lain dikemukakan oleh Natalia (2003) jika diduga
faringitis streptokokus (biasanya pada anak usia 3 tahun atau lebih),
berikan Benzatin penisilin (suntikan tunggal) 600.000 unit untuk anak usia
di bawah 5 tahun, 1.200.000 unit untuk usia 5 tahun atau lebih. Ampisilin
atau amoksisilin selama 10 hari atau penisilin V (fenoksimetilpenisilin) 2-
4 kali sehari selama 10 hari.Kortrimolsasol tidak direkomendasikan untuk
nyeri tenggorok yang disebabkan oleh streptokokus karena tidak efektif,
jika penisilin V digunakan berikan 125mg dua kali sehari selama 10 hari.
II. Konsep Tumbuh Kembang & Hospitalisas
A. Pengertian Tumbuh Kembang
Pertumbuhan (growth) adalah merupakan peningkatan jumlah dan
besar sel di seluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri
dan mensintesis protein-protein baru, menghasilkan penambahan jumlah
dan berat secara keseluruhan atau sebagian. Dalam pertumbuhan manusia
juga terjadi perubahan ukuran, berat badan, tinggi badan, ukuran tulang
dan gigi, serta perubahan secara kuantitatif dan perubahan fisik pada diri
manusia itu. Dalam pertumbuhan manusia terdapat peristiwa percepatan
dan perlambatan.Peristiwa ini merupakan kejadian yang ada dalam setiap
organ tubuh.
Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada
individu,yaitu secara bertahap,berat dan tinggi anak semakin bertambah
dan secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara
kognitif, psikososial maupun spiritual ( Supartini, 2000).
Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur-
angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh, meningkatkan dan
meluasnya kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, kematangan atau
kedewasaan (maturation), dan pembelajaran (learning).Perkembangan
manusia berjalan secara progresif, sistematis dan berkesinambungan
dengan perkembangan di waktu yang lalu.Perkembangan terjadi
perubahan dalam bentuk dan fungsi kematangan organ mulai dari aspek
fisik, intelektual, dan emosional.Perkembangan secara fisik yang terjadi
adalah dengan bertambahnya sempurna fungsi organ.Perkembangan
intelektual ditunjukan dengan kemampuan secara simbol maupun abstrak
seperti berbicara, bermain, berhitung.Perkembangan emosional dapat
dilihat dari perilaku sosial lingkungan anak.

B. Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang


Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang
berbeda-beda antara satu dengan manusia lainnya, bisa dengan cepat
bahkan lambat, tergantung pada individu dan lingkungannya. Proses
tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor di antaranya :
1. Faktor heriditer/ genetik
Faktor heriditer Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi
pada individu, yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak semakin
bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan untuk
berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual
( Supartini, 2000).
Merupakan faktor keturunan secara genetik dari orang tua kepada
anaknya. Faktor ini tidak dapat berubah sepanjang hidup manusia,
dapat menentukan beberapa karkteristik seperti jenis kelamin, ras,
rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, dan beberapa keunikan sifat
dan sikap tubuh seperti temperamen.
Faktor ini dapat ditentukan dengan adanya intensitas dan kecepatan
dalam pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap
rangsangan, umur pubertas, dan berhentinya pertumbuhan
tulang.Potensi genetik yang berkualitas hendaknya dapat berinteraksi
dengan lingkungan yang positif agar memperoleh hasil yang optimal.
2. Faktor Lingkungan/ eksternal
Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu setiap
hari mulai lahir sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi
tercapinya atau tidak potensi yang sudah ada dalam diri manusia
tersebut sesuai dengan genetiknya. Faktor lingkungan ini secara garis
besar dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Lingkungan pranatal (faktor lingkungan ketika masihdalam
kandungan)
Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain gizi ibu pada waktu
hamil, faktor mekanis, toksin atau zat kimia, endokrin, radiasi,
infeksi, stress, imunitas, dan anoksia embrio.
b. Lingkungan postnatal ( lingkungan setelah kelahiran )
Lingkungan postnatal dapat di golongkan menjadi :
1) Lingkungan biologis, meliputi ras, jenis kelamin, gizi,
perawatan kesehatan, penyakit kronis, dan fungsi metabolisme.
2) Lingkungan fisik, meliputi sanitasi, cuaca, keadaan rumah, dan
radiasi.
3) Lingkungan psikososial, meliputi stimulasi, motivasi belajar,
teman sebaya, stress, sekolah, cinta kasih, interaksi anak
dengan orang tua.
4) Lingkungan keluarga dan adat istiadat, meliputi pekerjaan atau
pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, stabilitas rumah
tangga, kepribadian orang tua.
3. Faktor Status Sosial ekonomi
Status sosial ekonomi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang
anak.Anak yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan status sosial
yang tinggi cenderung lebih dapat tercukupi kebutuhan gizinya
dibandingkan dengan anak yang lahir dan dibesarkan dalam status
ekonomi yang rendah.
4. Faktor nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen penting dalam menunjang
kelangsungan proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh
kembang, anak sangat membutuhkan zat gizi seperti protein,
karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air. Apabila kebutuhan
tersebut tidak di penuhi maka proses tumbuh kembang selanjutnya
dapat terhambat.
5. Faktor kesehatan
Status kesehatan dapat berpengaruh pada pencapaian tumbuh
kembang.Pada anak dengan kondisi tubuh yang sehat, percepatan
untuk tumbuh kembang sangat mudah. Namun sebaliknya, apabila
kondisi status kesehatan kurang baik, akan terjadi perlambatan.

C. Ciri Proses Tumbuh Kembang


Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa
konsepsi sampai dewasa memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu :
1. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai
maturitas (dewasa) yang dipengaruhi oleh faktor bawaan daan
lingkungan.
2. Dalam periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan dalam
proses tumbuh kembang pada setiap organ tubuh berbeda.
3. Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda
antara anak satu dengan lainnya.
4. Aktivitas seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh yang khas oleh
setiap organ.
Secara garis besar menurut Markum (1994) tumbuh kembang dibagi
menjadi 3 yaitu:
1. Tumbuh kembang fisis
Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam ukuran besar dan
fungsi organisme atau individu. Perubahan ini bervariasi dari fungsi
tingkat molekuler yang sederhana seperti aktifasi enzim terhadap
diferensi sel, sampai kepada proses metabolisme yang kompleks dan
perubahan bentuk fisik di masa pubertas.
2. Tumbuh kembang intelektual
Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian
berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat
abstrak dan simbolik, seperti bermain, berbicara, berhitung, atau
membaca.
3. Tumbuh kembang emosional
Proses tumbuh kembang emosional bergantung pada kemampuan bayi
umtuk membentuk ikatan batin, kemampuan untuk bercinta kasih.
Prinsip tumbuh kembang menurut Potter & Perry (2005) yaitu:
1. Perkembangan merupakan hal yang teratur dan mengikuti arah
rangkaian tertentu
2. Perkembangan adalah suatu yang terarah dan berlangsung terus
menerus, dalam pola sebagai berikut Cephalocaudal yaitu
pertumbuhan berlangsung terus dari kepala ke arah bawah bagian
tubuh, Proximodistal yaitu perkembangan berlangsung terus dari
daerah pusat (proksimal) tubuh kearah luar tubuh (distal),
Differentiation yaitu perkembangan berlangsung terus dari yang
mudah kearah yang lebih kompleks.
3. Perkembangan merupakan hal yang kompleks, dapat diprediksi, terjadi
dengan pola yang konsisiten dan kronologis.

D. Tahap-Tahap Tumbuh Kembang Manusia


Tahap-tahap tumbuh kembang pada manusia adalah sebagai berikut :
1. Neonatus (bayi lahir sampai usia 28 hari)
Dalam tahap neonatus ini bayi memiliki kemungkinan yang sangat
besar tumbuh dan kembang sesuai dengan tindakan yang dilakukan
oleh orang tuanya.Sedangkan perawat membantu orang tua dalam
memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi yang masih belum
diketahui oleh orang tuanya.
2. Bayi (1 bulan sampai 1 tahun)
Dalam tahap ini bayi memiliki kemajuan tumbuh kembang yang
sangat pesat. Bayi pada usia 1-3 bulan mulai bisa mengangkat
kepala,mengikuti objek pada mata, melihat dengan tersenyum dll. Bayi
pada usia 3-6 bulan mulai bisa mengangkat kepala 90°, mulai bisa
mencari benda-benda yang ada di depan mata dll. Bayi usia 6-9 bulan
mulai bisa duduk tanpa di topang, bisa tengkurap dan berbalik sendiri
bahkan bisa berpartisipasi dalam bertepuk tangan dll. Bayi usia 9-12
bulan mulai bisa berdiri sendiri tanpa dibantu, berjalan dengan
dtuntun, menirukan suara dll. Perawat disini membantu orang tua
dalam memberikan pengetahuan dalam mengontrol perkembangan
lingkungan sekitar bayi agar pertumbuhan psikologis dan sosialnya
bisa berkembang dengan baik.
3. Todler (usia 1-3 tahun)
Anak usia toddler ( 1 – 3 th ) mempunyai sistem kontrol tubuh yang
mulai membaik, hampir setiap organ mengalami maturitas maksimal.
Pengalaman dan perilaku mereka mulai dipengaruhi oleh lingkungan
diluar keluarga terdekat, mereka mulai berinteraksi dengan teman,
mengembangkan perilaku/moral secara simbolis, kemampuan
berbahasa yang minimal. Sebagai sumber pelayanan kesehatan,
perawat berkepentingan untuk mengetahui konsep tumbuh kembang
anak usia toddler guna memberikan asuhan keperawatan anak dengan
optimal.
4. Pra Sekolah (3-6 tahun)
Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun
( Wong, 2000), anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri
dalam segi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam hal
pertumbuhan, secara fisik anak pada tahun ketiga terjadi penambahan
BB 1,8 s/d 2,7 kg dan rata-rata BB 14,6 kg.penambahan TB berkisar
antara 7,5 cm dan TB rata-rata 95 cm.
Kecepatan pertumbuhan pada tahun keempat hampir sama dengan
tahun sebelumnya.BB mencapai 16,7 kg dan TB 103 cm sehingga TB
sudah mencapai dua kali lipat dari TB saat lahir. Frekuensi nadi dan
pernafasan turun sedikit demi sedikit. Pertumbuhan pada tahun kelima
sampai akhir masa pra sekolah BB rata-rata mencapai 18,7 kg dan TB
110 cm, yang mulai ada perubahan adalah pada gigi yaitu
kemungkinan munculnya gigi permanent ssudah dapat terjadi.
5. Usia sekolah (6-12 tahun)
Kelompok usia sekolah sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya.
Perkembangan fisik, psikososial, mental anak meningkat.Perawat
disini membantu memberikan waktu dan energi agar anak dapat
mengejar hoby yang sesuai dengan bakat yang ada dalam diri anak
tersebut.
6. Remaja ( 12-18/20 tahun)
Perawat membantu para remaja untuk pengendalian emosi dan
pengendalian koping pada jiwa mereka saat ini dalam menghadapi
konflik.
7. Dewasa muda (20-40 tahun)
Perawat disini membantu remaja dalam menerima gaya hidup yang
mereka pilih, membantu dalam penyesuaian diri, menerima komitmen
dan kompetensi mereka, dukung perubahan yang penting untuk
kesehatan.
8. Dewasa menengah (40-65 tahun)
Perawat membantu individu membuat perencanaan sebagai antisipasi
terhadap perubahan hidup, untuk menerima faktor-faktor risiko yang
berhubungan dengan kesehatan dan fokuskan perhatian individu pada
kekuatan, bukan pada kelemahan.
9. Dewasa tua
Perawat membantu individu untuk menghadapi kehilangan
(pendengaran, penglihatan, kematian orang tercinta).

E. Perkembangan Psikoseksual
Dalam perkembangan psikoseksual dalam tumbuh kembang dapat
dijelaskan beberapa tahap sebagai berikut :
1. Tahap oral-sensori (lahir sampai usia 12 bulan)
Dalam tahap ini biasanya anak memiliki karakter diantaranya
aktivitasnya mulai melibatkan mulut untuk sumber utama dalam
kenyamanan anak, perasaannya mulai bergantung pada orang lain
(dependen), prosedur dalam pemberian makan sebaiknya memberkan
kenyamanan dan keamanan bagi anak.
2. Tahap anal-muskular (usia 1-3 tahun / toddler)
Dalam tahap ini anak biasanya menggunakan rektum dan anus sebagai
sumber kenyamanan, apabila terjadi gangguan pada tahap ini dapat
menimbulkan kepribadian obsesif-kompulsif seperti keras kepala,
kikir, kejam dan temperamen.
3. Tahap falik (3-6 tahun / pra sekolah)
Tahap ini anak lebih merasa nyaman pada organ genitalnya, selain itu
masturbasi dimulai dan keinggintahuan tentang seksual.Hambatan
yang terjadi pada masa ini menyebabkan kesulitan dalam identitas
seksual dan bermasalah dengan otoritas, ekspresi malu, dan takut.
4. Tahap latensi (6-12 tahun / masa sekolah)
Tahap ini anak mulai menggunakan energinya untuk mulai aktivitas
intelektual dan fisik, dalam periode ini kegiatan seksual tidak muncul,
penggunaan koping dan mekanisme pertahanan diri muncul pada
waktu ini.
5. Genital (13 tahun keatas / pubertas atau remaja sampai dewasa)
Tahap ini genital menjadi pusat kesenangan seksual dan tekanan,
produksi horman seksual menstimulasi perkembangan heteroseksual,
energi ditunjukan untuk mencapai hubungan seksual yang teratur, pada
awal fase ini sering muncuul emosi yang belum matang, kemudian
berkembang kemampuan untuk menerima dan memberi cinta.

F. Perkembangan Biologis
Teori biologisme, biasa disebut teori nativisme menekankan
pentingnya peranan bakat.Pendirian biologisme ini dimulai lebniz (1646-
1716) yang mengemukakan teori kontunuitas yang dilanjutkan dengan
evoluisionisme. Selanjutnya Haeckel (1834-1919) seorang ahli biologi
Jerman mengemukakan teori biogenese, yang menyatakan bahwa
perkembangan ontogenese (individu) merupakan rekapitulasi dari
filogesenasi.
Para penganut bilogisme menekankan pada faktor biologis,
menekankan fase-fase perkembangan yang harus dilalui.Sedangkan
penganut sosiologisme atau empirisme menekankan peranan lingkungan
pada perkembangan pribadi.
Wolf menentang teori biogenese dan mengemukakan teori
epigenese, yang menyatakan bahwa perkembangan organisme itu tidak
ditentukan oleh performansinya, melainkan ada sesuatu yang baru.William
Stern mengemukakan teori konvergensi yang berusaha mensitesakan
kedua teori tersebut.
Sebagai makhluk kodrati yang kompleks, manusia memiliki
inteligensi dan kehendak bebas.Dalam hal perkembangan, pada awalnya
manusia berkembang alami sesuai dengan hukum alam. Kemudian
perkembangan alami manusia ini menjadi jauh melampui perkembangan
makhluk lain melalui intervensi inteligensi dan kebebasannya.

G. Perkembangan Psikososial
Erik H Erickson mengungkapkan pendapatnya tentang teori tentang
perkembangan psikososial diantaranya :
1. Trust vs mistrust -- bayi (lahir – 12 bulan)
Anak memiliki indikator positif yaitu belajar percaya pada orang lain,
tetapi selain itu ada segi negatifnya yaitu tidak percaya, menarik diri
dari lingkungan masyarakat,dan bahkan pengasingan. Pemenuhan
kepuasan untuk makan dan menghisap, rasa hangat dan nyaman, cinta
dan rasa aman itu bisa menghasilkan kepercayaan. Pada saat
kebutuhan dasar tidak terpenuhi bayi akan menjadi curiga, penuh rasa
takut, dan tidak percaya. Hal ini ditandai dengan perilaku makan, tidur
dan eliminasi yang buruk.
2. Otonomi vs ragu-ragu dan malu (autonomy vs shame & doubt) –
toddler (1-3 tahun)
Gejala positif dari tahap ini adalah kontrol diri tanpa kehilangan harga
diri, dan negatifnya anak terpaksa membatasi diri atau terpaksa
mengalah.Anak mulai mengembangkan kemandirian dan mulai
terbentk kontrol diri.Hal ini harus didukung oleh orang tua, mungkin
apabila dukungan tidak dimiliki maka anak tersebut memiliki
kepribadian yang ragu-ragu.
3. Inisiatif vs merasa bersalah (initiative vs guilt) -- pra sekolah ( 3-6
tahun)
Anak mulai mempelajari tingkat ketegasan dan tujuan mempengaruhi
lingkungan dan mulai mengevaluasi kebiasaan diri sendiri.Disamping
itu anak kurang percaya diri, pesimis, pembatasan dan kontrol yang
berlebihan terhadap aktivitas pribadinya. Rasa bersalah mungkin
muncul pada saat melakukan aktivitas yang berlawanan dengan orang
tua dan anak harus diajari memulai aktivitas tanpa mengganggu hak-
hak orang lain.
4. Industri vs inferior (industry vs inferiority) -- usia sekolah (6-12 tahun)
Anak mendapatkan pengenalan melalui demonstrasi ketrampilan dan
produksi benda-benda serta mengembangkan harga diri melalui
pencapaian, anak biasanya terpengaruhi oleh guru dan sekolah.Anak
juga sering hilang harapan, merasa cukup, menarik diri dari sekolah
dan teman sebaya.
5. Identitas vs bingung peran (identity vs role confusion) -- remaja (12 -
18 tahun)
Teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar yang kuat
terhadap perilaku anak, anak mengembangkan penyatuan rasa diri
sendiri, kegagalan untuk mengembangkan rasa identitas dengan
kebingungan peran,sering muncul dari perasaan tidak adekuat, isolasi
dan keragu-raguan.
6. Intimasi vs isolasi (intimacy vs isolation) – dewasa muda (18-
25sampai 45tahun)
Individu mengembangkan kedekatan dan berbagi hubungan dengan
orang lain, yang mungkin termasuk pasangan seksualnya,
ketidakpastian individu mengenai akan mempunyai kesulitan
mengembangkan keintiman, individu tidak bersedia atau tidak mampu
berbagi mengenai diri sendiri hal ini akan menjadikan individu meraa
sendiri.
7. Generativitas vs stagnasi atau absorpsi diri – dewasa tengah (45 – 65
tahun)
Absorpsi diri orang dewasa akan direnungi selanjutnya,
mengekspresikan kepedulian pada dunia di masa yang akan datang,
perenungan diri sendiri mengarah pada stagnasi kehidupan. Orang
dewasa membimbing generasi selanjutnya, mengekspresikan kepada
dunia dimasa yang akan datang.
8. Integritas ego vs putus asa -- dewasa akhir (65 tahun keatas)
Masa lansia dapat melihat kebelakang dengan rasa puas dan
penerimaan hidup dan kematian, pencaian yang tidak berhasil dalam
krisis ini bisa menghasilkan perasaan putus asa karena individu
melihat kehidupan sebagai bagian dari ketidakberuntungan.
Selain teori tersebut menurut, diketahui bahwa gejolak emosi remaja
dan masalah remaja lain pada umumnya disebabkan antara lain oleh
adanya konflik peran sosial. Di satu pihak ia sudah ingin mandiri
sebagai orang dewasa, di pihak lain ia masih harus terus mengikuti
kemauan orang tua. Rasa ketergantungan pada orang tua di kalangan
anak anak Indonesia lebih besar lagi, karena memang dikehandaki
demikian oleh orang tua.Konflik peran yang yang dapat menimbulkan
gejolak emosi dan kesulitan kesulitan lain pada amasa remaja dapat
dikurangi dengan memberi latihan latihan agar anak dapat mandiri
sedini mungkin. Dengan kemandiriannya anak dapat memilih jalannya
sendiri dan ia akan berkembang lebih mantap. Oleh karena ia tahu
dengan tepat saat saat yang berbahaya di mana ia harus kembali
berkonsultasi dengan orang tuanya atau dengan orang dewasa lain
yang lebih tahu dari dirinya sendiri

H. Perkembangan Moral
Moral merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja.
Sebagian orang berpendapat bahwa moral bisa mengendalikan tingkah
laku anak yang beranjak dewasa ini sehingga ia tidak melakukan hal hal
yang merugikan atau bertentangan dengan kehendak atau pandangan
masyarakat.Di sisi lain tiadanya moral seringkali dituding sebagai faktor
penyebab meningkatnya kenakalan remaja.
Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri punya peran
penting dalam pembentukan moral. W.G. Summer (1907), salah seorang
sosiolog, berpendapat bahwa tingkah laku manusia yang terkendali
disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri yang
mempunyai sanksi sanksi tersendiri buat pelanggar pelanggarnya.Bayi
berada dalam tahap perkembangan moral yang oleh Piaget (Hurlock,
1980) disebut moralitas dengan paksaan (preconventional level) yang
merupakan tahap pertama dari tiga tahapan perkembangan moral.
Menurut teori Kohlberg (1968) menyatakan bahwa perkembangan
moral meliputi beberapa tahap meliputi :
1. Tingkat premoral (prekonvensional) : lahir sampai 9 tahun
Anak menyesuaikan minat diri sendiri dengan aturan, berasumsi
bahwa penghargaan atau bantuan akan diterimanya, kewaspadaan
terhadap moral yang bisa diterima secara sosial, kontrol emosi
didapatkan dari luar.
2. Tingkat moralitas konvensional : 9-13 tahun
Usaha yang dilakukan untuk memyensngkan orang lain, kontrol emosi
didapat dari dalam, anak menyesuaikan diri untuk menghindari
penolakan dan menghindari kritikan dari yang berwenang.
3. Tingkat moralitas pasca konvensional : 13 tahun sampai meninggal
Individu memperoleh nilai moral yang benar, pencapaian nilai moral
yang benar terjadi setelah dicapai formal operasional dan tidak semua
orang mencapai tingkatan ini.
Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori
Kohlberg, ialah internalisasi (internalization), yakni perubahan
perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal
menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.

I. Perkembangan spiritual
Sejalan dengan perkembangan social, perkembangan keagamaan
mulai disadari bahwa terdapat aturan-aturan perilaku yang boleh, harus
atau terlarang untuk melakukannya.Perkembangan spiritual anak sangat
bepengaruh sekali dalam tumbuh kembang anak. Agama sebagai pedoman
hidup anak untuk masa yang akan datang. Selain itu, moral seorang anak
juga dapat dibentuk melalui perkembangan spiritual.Anak diberi
pengetahuan adanya kepercayaan terhadap Tuhan YME sesuai dengan
kepercayaan yang dianut orang tua.Karena agama seorang anak itu
diturunkan/diwariskan oleh orang tuanya.
Para ahli berpendapat bahwa perkembangan spiritual dibagi menjadi 3
tahapan yaitu :
1. Masa kanak-kanak (sampai tujuh tahun)
Tanda-tandanya antara lain : sikap keagamaan resepsif meskipun
banyak bertanya, pandangan ke- Tuhanan masih dipersonifikasikan,
penghayatan secara rohaniah masih belum mendalam meskipun
mereka telah melakukan kegiatan ritual.
2. Masa anak sekolah
Tanda-tandanya antara lain : sikap keagamaan resepsif tetapi disertai
pengertian, pandangan dan faham ke-Tuhanan diterangkan secara
rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang bersumber pada
indikator alam semesta sebagai manifestasi dari eksistensi dan
keagungan-Nya, pengahayatan secara rohaniah makin mendalam
dalam melaksanakan ritual.
3. Masa remaja (12-18 tahun)
a. Tanda-tanda masa remaja awal : sikap negatif disebabkan alam
pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama
secara hypocrit yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu sama
dengan perbuatannya, pandangan dalam hal ke-Tuhanan menjadi
kacau karena ia bingung terhadap berbagai konsep tentang aliran
dan paham yang saling bertentangan.
b. Tanda-tanda masa remaja akhir : sikap kembali kearah positif
dengan tercapainya kedewasaan intelektual, pandangan dalam hal
ke-Tuhanan dipahamkan dalam konteks agama yang dianut dan
dipilih, penghayatan rohaninya kembali tenang setelah melalui
proses identifikasi dan membedakan agama sebagai doktrin bagi
para penganutnya.

J. Pengertian Hospitalisasi
1. Definisi Hospitalisasi
Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan
yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di
rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya
kembali ke rumah. (Supartini, 2004).
Hospitalisasi adalah bentuk stresor individu yang berlangsung
selama individu tersebut dirawat di rumah sakit.(Muhaj, 2009).
Hospitalisasi pada anak-anak (Hospitalisme in children) adalah
suatu sindrom yang berkaitan erat dengan depresi (depresen) analitik,
terjadi pada di rumah sakit yang dirawat secara terpisah dari ibunya
atau pengganti peran ibu dalam kurun waktu yang lama.Kondisi ini
ditandai dengan tidak adanya kegairahan, tidak responsif, kurus, pucat,
nafsu makan buruk, tidur terganggu, episode demam, hilangnya
kebiasaannya menghisap dan nampak tidak bahagia.Gangguan ini
dapat pulih kembali dengan anak dalam waktu 2-3 minggu.(Bastman
dkk, 2004).
2. Reaksi Orang Tua Terhadap Hospitalisasi Anak
Menurut Supartini (2004), reaksi orang tua terhadap perawatan anak di
rumah sakit dan latar belakang yang menyebabkan dapat diuraikan
sebagai berikut :
a. Perasaan Cemas dan Takut
Perasaan yang sering ditunjukkan orang tua berkaitan dengan
adanya perasaan cemas dan takut ini adalah sering bertanya atau
bertanya tentang hal yang sama secara berulang pada orang
berbeda, gelisah, ekspresi wajah tegang, dan bahkan marah.

b. Perasaan Sedih
Perasaan ini muncul terutama pada saat anak dalam kondisi
terminal dan orang tua mengetahui bahwa tidak ada lagi harapan
anaknya untuk sembuh. Bahkan, pada saat menghadapi anaknya
yang menjelang ajal, rasa sedih dan berduka akan dialami oleh
orang tua. Disatu sisi orang tua dituntut untuk berada disamping
anaknya dan memberi bimbingan spiritual pada anaknya, dan disisi
lain mereka menghadapi ketidakberdayaan karena perasaan
terpukul dan lebih yang amat sangat. Pada kondisi ini orang tua
menunjukkan perilaku isolasi atau tidak mau didekati orang lain
bahkan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan.
c. Perasaan Frustasi
Pada kondisi anak yang telah dirawat cukup lama dan dirasakan
tidak mengalami perubahan serta tidak ada kuatnya dukungan
psikologi yang diterima orang tua baik dari keluarga maupun
kerabat lainnya maka orang tua akan merasa putus asa, bahkan
frustasi. Oleh karena itu, seringkali orang tua menunjukkan
perilaku tidak kooperatif, putus asa, menolak tindakan, bahkan
menginginkan pulang paksa.
Sedangkan menurut Nursalam (2005), reaksi keluarga terhadap anak
yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit antara lain
a. Reaksi orang tua
Reaksi orang tua terhadap anaknya yang sakit dan dirawat di
rumah sakit di pengaruhi oleh berbagai macam faktor antara lain :
1) Tingkat keseriusan penyakit anak
2) Pengalaman sebelumnya terhadap sakit dan dirawat di rumah
sakit.
3) Prosedur pengobatan.
4) Sistem pendukung yang tersedia.
5) Kekuatan ego individu.
6) Kemampuan dalam penggunaaan koping.
7) Dukungan dari keluarga.
8) Kebudayan dan kepercayaan.
9) Reaksi saudara kandung (sibling)
Reaksi saudara sekandung terhadap anak yang sakit dan di rawat di
rumah sakit adalah kesepian, ketakutan, kekhawatiran, marah,
cemburu, benci, dan merasa bersalah. Orang tua sering kali
mencurahkan perhatian yang lebih besar terhadap anak yang sakit
di bandingkan dengan anak yang sehat. Hal ini akan menimbulkan
perasaan cemburu pada anak yang sehat dan anak merasa ditolak.
b. Penurunan peran anggota keluarga.
Dampak dari perpisahan terhadap peran keluarga adalah kehilangan
peran orang tua, saudara, dan anak cucu. Perhatian orang tua hanya
tertuju pada anak yang sakit. Akibatnya saudara-saudaranya yang
lain menganggap bahwa hal tersebut tidak adil. Respon tersebut
biasanya tidak disadari dan tidak disengaja. Orang tua sering
menyalahkan perilaku saudara kandung tersebut sebagai perilaku anti
sosial. Sakit akan membuat anak kehilangan kebersamaan mereka
dengan anggota keluarga yang lain atau teman sekelompok
c. Mencegah atau meminimalkan dampak dari perpisahan
1) Roming in
Roming in berarti orang tua dan anak tinggal bersama. Jika tidak
bisa, sebaiknya orang tua dapat melihat anak setiap saat untuk
mempertahankan kontak/komunikasi antara orang tua anak.
2) Partisipasi orang tua
Orang tua diharapkan dapat berpartisipasi dalam merawat anak
yang sakit, terutama dalam perawatan yang bisa dilakukan.
Perawat dapat memberikan kesempatan pada orang tua untuk
menyiapkan makanan anak dan memandikannya. Dalam hal ini,
perawat berperan sebagai pendidik kesehatan (health educator)
bagi keluarga.
Membuat ruangan perawatan seperti situasi di rumah dengan
mendekorasi dinding memakai poster/kartu bergambar sehingga
anak merasa aman jika diruang anak tersebut.
3. Intervensi Keperawatan pada Keluarga dalam Hospitalisasi
Menurut Muhaj (2009), bentuk intervensi keperawatan pada keluarga
yang terkait dengan hospitalisasi antara lain:
a. Memberi informasi
Salah satu intervensi keperawatan yang penting adalah
memberikan informasi. Sehubungan dengan penyakit, prosedur
pengobatan serta prognosis, reaksi emosional anak terhadap sakit
dan dirawat, serta reaksi emosional anggota keluarga terhadap anak
yang sakit dan ditawar.
b. Melibatkan saudara kandung.
Keterlibatan saudara kandung sangat penting untuk mengurangi
stres pada anak misalnya, keterlibatan dalam program bermainan,
mengunjungi saudara yang sakit secara teratur dan sebagainya.
Suliswati (2004), walaupun hospitalisasi sangat membuat stres bagi
anak dan keluarga, namun perawat harus mampu mengoptimalkan
manfaat positif dari hospitalisasi bagi hubungan antara anak dan
anggota keluarganya, antara lain dengan mengembangkan nilai-
nilai berikut:
c. Membantu perkembangan hubungan orang tua dan anak.
Hospitalisasi memberikan kesempatan pada orang tua untuk belajar
mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak.
d. Memberi kesempatan untuk pendidikan.
Hospitalisasi memberikan kesempatan pada anak dan anggota
keluarga untuk belajar mengenai tubuh dan profesi kesehatan.
e. Meningkatkan pengendalian diri
Pengalaman menghadapi krisis seperti penyakit atau hospitalisasi
akan memberi kesempatan untuk pengendalian diri (self mastery).

f. Memberikan kesempatan untuk sosialisasi


Jika anak yang dirawat dalam satu ruangan usianya sebaya, maka
hal tersebut akan membantu anak untuk belajar mengenai diri
mereka.
III. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan
a. Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya: batuk,
pilek, demam.
b. Riwayat alergi dalam keluarga
c. Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti
malnutrisi
d. Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran
pernapasan
e. Ada/tidak riwayat merokok
2. Pemeriksaan Fisik
a. Pernapasan
Pernapasan dangkal, dipneu, takipneu, tanda bunyi napas
ronchi halus dan melemah, wajah pucat atau sianosis bibir atau
kulit
b. Aktivitas atau Istirahat
Kelelahan, malaise, insomnia, penurunan toleransi aktivitas,
sirkulasi takikardi, dan pucat
c. Makanan dan cairan
Gejala :Kehilangan nafsu makan, disfagia, mual dan muntah.
Tanda :Hiperaktivitas bunyi usus, distensi abdomen, turgor
kulit buruk.
d. Observasi
1) Adanya retraksi atau pernapasan cuping hidung
2) Adanya kepucatan atau sianosis warna kulit
3) Adanya suara serak, stridor, dan batuk
4) Perilaku: gelisah, takut
5) Adanya sakit tenggorok, adanya pembesaran tiroid,
pengeluaran sekret, kesulitan menelan.
6) Tanda-tanda: nyeri dada, nyeri abdomen, dyspnea
B. Diagnosa Keperawatan.
1. Hipertermia berhubungandengan adanya peradangan
2. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada tenggorokan
3. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan
peningkatan secret
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kesulitan menelan.
5. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan
.
C. Intervensi
NO Diagnosa Keperawatan Tujuan & KH Intervensi Keperawatan
1 Hipertermi berhubungan Setelah diberikan asuhan NIC : Treatment Fever
dengan proses penyakit keperawatan selama …x 24 jam, a. Kaji tanda dan gejala awal hipertermi
ditandai dengan peningkatan diharapkan Termoregulasi klien b. Cek tanda vital sign klien
suhu tubuh diatas kisaran adekuat dengan kriteria hasil : c. Kolaborasikan dengan tim medis untuk pemberian anti
normal. NOC : Thermoregulasi piretik
d. Selimuti klien
1. Suhu tubuh (5) dalam rentang
e. Kolaborasi untuk pemberian cairan intravena
normal 36-37˚ C
f. Kompres klien pada lipat paha dan aksila dengan air hangat
2. Nadi dan RR (5) dalam rentang
Heat / Cold Application
normal
a. Jelaskanpenggunaan kompres hangatatau dingin, alasan
3. Tidak ada perubahan warna kulit
untuk pengobatan, dan bagaimana hal tersebut dapat
dan tidak ada pusing (5)
mempengaruhigejala nyeri klien
b. Kaji kemungkinan kontraindikasi terhadap kompres
dingin atau hangat, seperti penurunan atau tidak ada
sensasi, penurunan sirkulasi, dan penurunan kemampuan
untuk berkomunikasi
c. Tentukan ketersediaan dan kondisi kerja yang aman
terhadap semua peralatan yang digunakan untuk aplikasi
kompres hangat atau dingin
d. Pilih bagian yang akan di kompres, pilih daerah alternatif
ketika aplikasi langsung tidak memungkinkan
e. Gunakan kain lembab diatas permukaan kulit untuk
menambah sensasi dari terapi kompres dingin / hangat,
bila perlu
f. Intruksikan kepada klien atau keluarga klien untuk
menghindari penggunaan kompres hangat atau dingin di
daerah kulit yang terdapat luka
g. Pantau temperatur terapi, terutama ketika menggunakan
kompres hangat
h. Tentukan durasi yang tepat dari tindakan ini sesuai dengan
respon klien
i. Periksa daerah yang di kompres dengan hati-hati untuk
mengetahui adanya tanda-tanda iritasi kulit atau kerusakan
jaringan pada 5 menit pertama dan kemudian lanjutkan
selama prosedur masih diterapkan
j. Evaluasi kondisi umum, keamanan, dan kenyamanan klien
terhadap pengobatan
k. Evaluasi dan dokumentasikan respon terhadap terapi
hangat / dingin yang telah dilakukan
2 Nyeri Akut Setelah dilakukan asuhan NIC:
Definisi: Pengalaman sensori keperawatan 3x24 jam diharapkan 1. Pemberian analgesik :
dan emosional tidak nyeri terkontrol a. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, keparahan
menyenangkan yang muncul NOC: nyeri sebelum mengobati pasien
akibat kerusakan jaringan 1. Kontrol nyeri b. Cek perintah pengobatan meliputi obat, dosis, dan
actual atau potensi yang a. Mengenali kapan terjadi frekuensi obat analgesic yang diresepkan
digambarkan sebagai nyeri (5) secara konsisten c. Cek adanya riwayat alergi obat
kerusakan yang tiba-tiba atau menunjukkan. d. Pilih analgesic atau kombinasi analgesic yang sesuai
lambat dari intensitas ringan b. Menggambarkan factor ketika lebih dari satu diberikan
hingga berat dengan akhir penyebab (5) secara e. Dokumentasikan respon terhadap pemberian analgesic
yang dapat di antisipasi atau konsisten menunjukkan. dan adanya efek samping
diprediksi c. Menggunakan tindakan 2. Manajemen nyeri
Batasan karakteristik: pengurangan (nyeri) tanpa a. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi
1. Ansietas analgesik (5) secara lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
2. Menangis konsisten menunjukkan. intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
3. Gangguan Pola Tidur d. Menggunakan analgetik b. Pastikan perawatan analgesic bagi pasien dilakukan
4. Takut yang di rekomendasikan (5) dengan pemantauan yang ketat
5. Ketidakmampuan secara konsisten c. Gali pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai
Untuk Rileks menunjukkan. nyeri
6. Iritabilitas e. Melaporkan perubahan d. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab
7. Merintih terhadap gejala nyeri pada nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan dan antisipasi
8. Melaporkan Merasa professional kesehatan (5) akibat ketidaknyamanan akibat prosedur
Dingin secara konsisten e. Kendalikan factor lingkungan yang dapat
9. Melaporkan Merasa menunjukkan. mempengaruhi respon pasien terhadap
Panas f. Melaporkan nyeri yang ketidaknyamanan
10. Melaporkan Perasaan terkontrol (5) secara f. Ajarkan prinsip – prinsip manajemen nyeri
Tidak Nyaman konsisten menunjukkan. g. Kolaborasi dengan pasien, orang terdekat dan tim
11. Melaporkan Gejala kesehatan lainnya untuk memilih dan
Distress mengimplementasikan tindakan penurunan nyeri
12. Melaporkan Rasa nonfarmakologi dan farmakologi.
Lapar
13. Melaporkan Rasa Gatal
14. Melaporkan Kurang
Puas Dengan Keadaan
15. Melaporkan Kurang
Senang Dengan Situasi
Tersebut
16. Gelisah
Faktor Yang Berhubungan:
1. Agen Cidera Biologis
(Misalnya, infeksi,
iskemia, neoplasma)
2. Agens Cedera Fisik
(Misalnya, abses, luka
bakar, amputasi,
prosedur bedah, trauma
olahraga berlebihan).
3. Ketidakefektifan bersihan NOC NIC
jalan napas 1. Status pernapasan: kepatenan 1. Manajemen jalan napas
Definisi: ketidakmampuan jalan napas. a. Buka jalan nafas dengan tehnik chin lift atau jaw
membersihkan sekresi atau a. Frekuensi pernafasan (5) thrust, sebagai mana mestinya.
obstruksi dari saluran napas tidak ada deviasi dari kisaran b. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
untuk mempertahankan normal. c. Identifikasi kebutuhan actual/potensial pasien untuk
bersihan jalan nafas. b. Irama pernafasan (5) tidak memasukkan alat membuka jalan nafas.
Batasan Karakteristik: ada deviasi dari kisaran d. Masukka alat NPA atau OPA sebagaimana mestinya.
1. Batuk yang tidak normal. e. Lakukan fisioterapi dada,sebagaimana mestinya
efektif c. Kedalaman inspirasi(5) tidak f. Buang secret dengan memotivasi pasien untuk
2. Dispnea ada deviasi dari kisaran melakukan batuk atau menyedot lendir
3. Gelisah normal. g. Motivasi klien untuk bernafas pelan, dalam, berputar
4. Kesulitan verbalisasi d. Kemampuan untuk dan batuk.
5. Mata terbuka lebar mengeluarkan secret (5) h. Instruksikan bagaimana agar bisa melakukan batuk
6. Ortopnea tidak ada deviasi dari kisaran efektif
7. Penurunan bunyi nafas normal. i. Austkultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya
8. Perubahan frekuensi e. Suara nafas tambahan (5) menurun atau tidak ada dan adanya suara nafas
nafas tidak ada. tambahan
9. Perubahan pola nafas f. Pernafasan cuping hidung j. Lakukan penyedotan melalui eudotrakea atau
10. Sianosis (5) tidak ada. nasotrakea sebagaimana mestinya
11. Sputum dalam jumlah g. Penggunaan otot bantu nafas k. Kelola pemberian bronkodilator sebagaimana
yang berlebih (5) tidak ada. mestinya
12. Suara napas tambahan h. Batuk (5) tidak ada. l. Ajarkan pasien bagaimana menggunakan inhaler
13. Tidak ada batuk sesuai resep sebagaimana mestinya
Faktor yang berhubungan m. Kelola pengobatan aerosol sebagaimana mestinya
Lingkungan n. Kelola nebulizer ultrasonic sebagaimana mestinnya
1. Perokok o. Monitor status pernafasan dan oksigen sebagaimana
2. Perokok pasif mestinya.
3. Terpajan asap 2. Terapi oksigen
Obstruksi jalan nafas a. Bersihkan mulut, hidung, dan skresi trakea dengan
1. Adanya jalan napas tepat
buatan b. Batasi merokok
2. Benda asing dalam c. Pertahankan kepatenan jalan nafas
jalan napas d. Siapkan peralatan oksigen dan berikan melalui sistem
3. Eksudat dalam alveoli humidifier
4. Hyperplasia pada e. Berikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan
dinding bronkus f. Monitor aliran oksigen
5. Mucus berlebih g. Monitor efektifitas terapi oksigen (misalnya tekanan
6. Penyakit paru oksimetri, ABGs) dengan tepat
obstruktif kronis h. Pastikan penggantian masker oksigen/kanul nasal
7. Sekresi yang tertahan setiap penggantian perangkat
8. Spasme jalan napas i. Amati tanda-tanda hipoventilasi induksi oksigen
Fisiologi j. Pantau adanya tanda-tanda keracunan oksigen
1. Asma k. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan lain mengenai
2. Disfungsi penggunaan oksigen tambahan selama kegiatan/tidur.
neuromuscular 3. Monitor pernafasan`
3. Infeksi a. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan
4. Jalan napas alergik bernafas
b. Catat pergerakan dada, ketidaksimetrisan, penggunaan
otot bantu nafas, dan retraksi pada otot supraclavikula
dan intercostal
c. Monitor suara nafas tambahan seperti ngorok dan
mengi
d. Monitor pola nafas (misalnya bradipneu, takipneu,
hiperventilasi, pernafasan kusmaul, pernafasan 1:1,
apneustik, respirasi biot, dan pola ataxic)
e. Auskulatasi suara nafas, catat area dimana dimana
terjadi penurunan atau tidak adanya ventilasi dan
keberadaan suara nafas tambahan
f. Berikan bantuan resusitasi jika diperlukan
g. Berikan bantuan nafas jika diperlukan (misalnya
nebulizer).
4 Ketidakseimbangan nutrisi NOC : NIC :
kurang dari kebutuhan 1. Status
1. Manajemen
Nutrisi Gangguan Makan
tubuh a. Asupan gizi (5) tidak a. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain utuk
Definisi : Intake nutrisi tidak menyimpang. mengembangkan rencana keperawatan dengan
cukup untuk keperluan b. Asupan makanan (5) tidak melibatkan klien dan orang – orang terdekat dengan
metabolisme tubuh. menyimpang. tepat
Batasan karakteristik : c. Asupan cairan (5) tidak b. Rundingkan dengan tim dan klien untuk mengatur
1. Berat badan 20 % atau menyimpang. target pencapaian berat badan jika berat badan klien
lebih di bawah ideal d. Energy (5) tidak tidak berada dalam rentang berat badan yang
2. Bising usus hiperaktif menyimpang. direkomendasikan sesuai umur dan bentuk tubuh
3. Cepat kenyang setelah e. Rasio BB/TB (5) tidak c. Tentukan pencapaian berat badan harian sesuai
makan menyimpang. keinginan
4. Diare 2. Status Nutrisi: Asupan d. Rundingkan dengan ahli gizi dengan menuntukan
5. Gangguan sensasi rasa Nutrisi asupan kalori harian yang diperlukan untuk
6. Kehilangan rambut a. Asuan kalori (5) sepenuhnya mempertahankan berat badan yang sudah ditentukan
berlebihan adekuat. e. Ajarkan dan dukung konsep nutrisi yang baik dengan
7. Kelemahan otot b. Asupan protein (5) klien (dan orang terdekat klien dengan tepat)
pengunyah sepenuhnya adekuat. f. Dorong klien untuk mendiskusikan makanan yang
8. Kelemahan otot untuk c. Asupan lemak (5) disukai bersama dengan ahli gizi
menelan sepenuhnya adekuat. g. Kembangkan hubungan yang mendukung dengan klien
9. Kerapuhan kapiler d. Asupan karbohidrat (5) h. Monitor tanda – tanda fisiologis (tanda – tanda vital ,
10. Kesalahan informasi sepenuhnya adekuat. elektrolit), jika diperlukan
11. Kesalahan persepsi e. Asupan serat (5) sepenuhnya i. Timbang berat badan klin secara rutin (pada hari yang
12. Ketidakmampuan adekuat. sama dan setelah BAB/BAK)
memakan makanan f. Asupan vitamin (5) j. Monitor intake/asupan dan asupan cairan secara tepat
13. Kram abdomen sepenuhnya adekuat. k. Monitor asupan kalori makanan harian
14. Kurang informasi 3. Nafsu Makan l. Dorong klien untuk memonitor sendiri asupan
15. Kurang minat pada a. Hasrat/ keingian untuk makanan harian dan menimbang berat badan secara
makanan makan (5) tidak terganggu. tepat
16. Membran mukosa b. Menyenangi makanan (5) m. Bangun harapan terkait dengan perilaku makanan yang
pucat tidak terganggu. baik, intake/asupan makanan/cairan dan jumlah
17. Nyeri abdomen c. Merasakan (5) tidak aktivitas fisik
18. Penurunan BB dengan terganggu. n. Observasi klien selama dan setelah pemberian
asupan makanan d. Energi untuk makan (5) tidak makanan/makanan ringan untuk meyakinkan bahwa
adekuat terganggu. intake/asupan makanan yang cukup tercapai dan
19. Sariawan rongga mulut. e. Intake Nutrisi (5) tidak dipertahankan
20. Tonus otot menurun. terganggu. o. Berikan dukungan terhadap peningkatan berat badan
Faktor-faktor yang f. Rangsangan untuk makan (5) dan perilaku yang meningkatkan berat badan
berhubungan : tidak terganggu. p. Beri dukungan (misalnya, terapi relaksasi, latihan
1. Faktor biologis desensitisasi, kesempatan untuk membicaraan
2. Faktor ekonomi perasaan) sembari klien juga berusaha
3. Gangguan psikososial mengintegrasikan perilaku makan yang baru,
4. Ketidakmampuan perubahan citra tubuh dan perubahan gaya hidup
makan q. Batasi aktifitas fisik sesuai kebutuhan untuk
5. Ketidakmampuan meningkatkan berat badan
mencerna makanan r. Monitor berat badan klien sesuai secara rutin.
6. Ketidakmampuan 2. Manajemen Nutrisi
mengabsorpsi nutrient a. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan (pasien )
7. Kurang asupan makan untuk memenuhi kebutuhan gizi
b. Identifikasi (adanya) alergi atau intoleransi makanan
yang dimiliki pasien
c. Tentukan apa yang menjadi preferensi makanan bagi
pasien
d. Instruksikan pasien mengenai kebutuhan nutrisi (yaitu:
membahas pedoman diet dan piramida makanan)
e. Bantu pasien dalam menentukan pedoman atau
piramida makanan yang paling cocok dalam
memenuhi kebutuhan nutrisi dan prefensi (misalnya.,
Piramida Makanan Vegetarian, Piramida Panduan
Makan, dan Piramida Makanan untuk Lanjut Usia
Lebih dari 70 tahun)
f. Berikan pilihan makanan sambil menawarkan
bimbingan terhadap pilihan (makanan) yang lebih
sehat, jika diperlukan
g. Atur diet yang diperlukan (yaitu: menyediakan
makanan protein tinggi; menyerahkan menggunakan
bumbu dan rempah – rempah sebagai alternative untuk
garam, menyediakan pengganti gula; menambah atau
mengurangi kalori, menambah atau mengurangi
vitamin, mineral, atau suplemen)
h. Ciptakan lingkungan yang optimal pada saat
mengkonsumsi makanan (misalnya, bersih,
berventilasi, santai, dan bebas dari bau yang
menyengat)
i. Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan
mulut sebelum makan
j. Beri obat – obatan sebelum (misalnya, penghilang rasa
sakit, antiseptic) jika diperlukan
k. Anjurkan pasien untuk duduk pada posisi tegak di
kursi, jika memungkinkan
l. Pastikan makan disajikan dengan cara yang menarik
dan pada suhu yang paling cocok untuk konsumsi
secara optimal
m. Anjurkan keluarga untuk membawa maknan favorit
pasien sementara pasien berada di rumah sakit atau
fasilitas perawatan, yang sesuai
n. Anjurkan pasien terkait dengan kebutuhan diet untuk
kondisi sakit(yaitu: untuk pasien dengan penyakit
ginjal, pembatasan natrium, kalium, protein, dan
cairan)
o. Tawarkan makanan ringan yang padat gizi
p. Monitor kalori dan asupan makan
q. Monitor kecenderungan terjadinya penurunan dan
kenaikan berat badan.
3. Monitor Nutrisi
a. Timbang berat badan pasien
b. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
c. Lakukan pengukuran antropometrik pada komposisi
tubuh (misalnya; indeks massa tubuh, pengukuran
pinggang, dan lipatan kulit)
d. Monitor kecenderungan turun dan naiknya berat badan
(misalnya; pada pasien anak – anak, pola tinggi dan
anak – anak sesuai standar growth chart)
e. Identifikasi perubahan berat badan terakhir
f. Monitor tugor kulit dan mobilitas
g. Monitor adanya mual dan muntah
h. Monitor diet dan asupan kalori
i. Tentukan pola makan (misalnya; makan yang disukai
dan tidak disukai, konsumsi yang berlebihan terhadap
makanan siap saji, makan yang terlewati, makan
tergesa – gesa, interaksi anak dan orang tua selama
makan, dan frekuansi serta lamanya bayi makan)
j. Tentukan faktor – faktor yang mempengaruhi asupan
nutrisi (misalnya; peneggetahuan, ketersediaan dan
kemudahan memperolrh produk – produk makanan
yang berkualitas, pengaruh agama dan budaya, gender,
kemampuan menyiapkan makanan, isolasi sosial,
hospitalisasi, mengunyah tidak adekuat, gangguan
menelan, penyakit peridominal, gigi yang busuk,
penurunan dalam merasakan makanan, penggunaan
obat, dan status penyakit atau setelah pembedahan.
4. Bantuan Perawatan Diri: Pemberian Makan
a. Monitor kemampuan pasien untuk menelan
b. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama
waktu makan (misalnya; jauhkan dari pandanan benda
– benda seperti pispot, urinal, dan suksion)
c. Beri penurun nyeri yang cukup sebelum makan,
dengan tepat
d. Berikan kebersihan mulut sebelum makan
e. Posisikan pasien dalam posisi makan yang nyaman
f. Berikan makanan dengan suhu yang paling sesuai
g. Sediakan makanan dan minuman yang disukai dengan
tepat
h. Monitor berat badan pasien dengan tepat
i. Monitor status dehidrasi pasien dengan tepat
5. Manajemen Berat Badan
a. Diskusikan dengan pasien mengenai kondisi medis apa
saja yang berpengaruh terhadap berat badan
b. Diskusikan dengan pasien mengenai kebiasaan,
budaya, dan faktor herediter yang mungkin
mempengauhi berat badan
c. Diskusikan risiko yang mungkin muncul jika terdapat
kelebihan berat badan atau berat badan kurang
d. Kaji motivasi pasien untuk mengubah pola makannya.
5. Defisiensi Pengetahuan NOC: NIC :
Definisi : ketiadaan atau  Knowlwdge : disease process 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
defisiensi informasi kognitif  Knowledge : health Behavior 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal
yang berkaitan dengan topik Setelah dilakukan tindakan ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan
tertentu. keperawatan selama …. pasien cara yang tepat.
Batasan karakterisitik : menunjukkan pengetahuan tentang 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada
 Perilaku hiperbola proses penyakit dengan kriteria penyakit, dengan cara yang tepat
 Ketidakauratan mengikuti hasil: 4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
perintah 1. Pasien dan keluarga menyatakan 5. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang
 Ketidakakuratan mengikuti pemahaman tentang penyakit, tepat
tes kondisi, prognosis dan program 6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan
 Pengungkapan masalah pengobatan cara yang tepat
Faktor yang berhubungan : 2. Pasien dan keluarga mampu 7. Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan
 Keterbatasan kognitif melaksanakan prosedur yang pasien dengan cara yang tepat

 Salah interpretasi informasi dijelaskan secara benar 8. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

 Kurang pajanan 3. Pasien dan keluarga mampu 9. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan
menjelaskan kembali apa yang second opinion dengan cara yang tepat atau
 Kurang minat dalam belajar
dijelaskan perawat/tim kesehatan diindikasikan
 Kurang dapat mengingat
lainnya 10.Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan
 Tidak familiar dengan
cara yang tepat
sumber informasi
D. Evaluasi

NO Diagnosa Keperawatan Evaluasi


1 Hipertermia Thermoregulasi

1. Suhu tubuh (5) dalam rentang normal 36-37˚ C


2. Nadi dan RR (5) dalam rentang normal
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada
pusing (5)

2 Nyeri Akut NOC:


1. Kontrol nyeri
a. Mengenali kapan terjadi nyeri (5) secara
konsisten menunjukkan.
b. Menggambarkan factor penyebab (5)
secara konsisten menunjukkan.
c. Menggunakan tindakan pengurangan
(nyeri) tanpa analgesik (5) secara
konsisten menunjukkan.
d. Menggunakan analgetik yang di
rekomendasikan (5) secara konsisten
menunjukkan.
e. Melaporkan perubahan terhadap gejala
nyeri pada professional kesehatan (5)
secara konsisten menunjukkan.
f. Melaporkan nyeri yang terkontrol (5)
secara konsisten menunjukkan.
3 1. Status
Nutrisi
a. Asupan gizi (5) tidak menyimpang.
b. Asupan makanan (5) tidak menyimpang.
c. Asupan cairan (5) tidak menyimpang.
d. Energy (5) tidak menyimpang.
e. Rasio BB/TB (5) tidak menyimpang.
2. Status Nutrisi: Asupan Nutrisi
a. Asuan kalori (5) sepenuhnya adekuat.
b. Asupan protein (5) sepenuhnya adekuat.
c. Asupan lemak (5) sepenuhnya adekuat.
d. Asupan karbohidrat (5) sepenuhnya
adekuat.
e. Asupan serat (5) sepenuhnya adekuat.
f. Asupan vitamin (5) sepenuhnya adekuat.
3. Nafsu Makan
a. Hasrat/ keingian untuk makan (5) tidak
terganggu.
b. Menyenangi makanan (5) tidak terganggu.
c. Merasakan (5) tidak terganggu.
d. Energi untuk makan (5) tidak terganggu.
e. Intake Nutrisi (5) tidak terganggu.
f. Rangsangan untuk makan (5) tidak
terganggu.
4 Ketidakseimbangan nutrisi NOC :
kurang dari kebutuhan 1. Status Nutrisi
tubuh a. Asupan gizi (5) tidak menyimpang.
b. Asupan makanan (5) tidak menyimpang.
c. Asupan cairan (5) tidak menyimpang.
d. Energy (5) tidak menyimpang.
e. Rasio BB/TB (5) tidak menyimpang.

2. Status Nutrisi: Asupan Nutrisi


a. Asuan kalori (5) sepenuhnya adekuat.
b. Asupan protein (5) sepenuhnya adekuat.
c. Asupan lemak (5) sepenuhnya adekuat.
d. Asupan karbohidrat (5) sepenuhnya
adekuat.
e. Asupan serat (5) sepenuhnya adekuat.
f. Asupan vitamin (5) sepenuhnya adekuat.
3.Nafsu Makan
a. Hasrat/ keingian untuk makan (5) tidak
terganggu.
b. Menyenangi makanan (5) tidak terganggu.
c. Merasakan (5) tidak terganggu.
d. Energi untuk makan (5) tidak terganggu.
e. Intake Nutrisi (5) tidak terganggu.
f. Rangsangan untuk makan (5) tidak
terganggu.
5 Defisiensi Pengetahuan 1. Pasi
en dan keluarga menyatakan pemahaman
tentang penyakit, kondisi, prognosis dan
program pengobatan
2. Pasi
en dan keluarga mampu melaksanakan
prosedur yang dijelaskan secara benar
3. Pasi
en dan keluarga mampu menjelaskan kembali
apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan
lainnya
DAFTAR PUSTAKA

Burns, C. E. (2004). Pediatric Primary Care.USA : Elsevier


Crain, William. (2007). Teori Perkembangan Konsep dan Aplikasi Edisi
Ketiga.Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Carpenito, Lynda Juall. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi
10.Jakarta : EGC
Herdman & Kamitsuru. (2018). NANDA-I Diagnosa Keperawatan Difinisi dan
Klasifikasi 2018-2020. Jakarta : EGC.
Hetharia,Rospa.(2011).Asuhan Keperawatan Gangguan THT
( Telinga,Hidung,Tenggorokan ).Jakarta:TRANS INFO MEDIA.

Ikatan Dokter Indonesia.(2008). Respirologi Anak Edisi Pertama.Jakarta : EGC


Jill Gore, (2013). Acute Pharyngitis.In: Journal of the American Academy of
Physician Assistants: February 2013- Volume 26-Issue 2- p 57-58.
AvailableFrom:http://journals.lww.com/jaapa/Fulltext/2013/02000/Acute_
Pharyngitis . Accessed: 04 November 2018

Mandal, B.K,dkk. (2006). Penyakit Infeksi Edisi Keenam.Jakarta : Erlangga


Masjoer, Arif, dkk. (2007). Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta : Media
Aesculapius
Potter, Perry. (2005). Fundamental Keperawatan.Jakarta : EGC
Rusmarjono Dan Bambang Hermani. (2007). BAB IX Nyeri Tenggerok.Dalam :
Efiatiaty A.S., Nurbaiti I., Jenny B dan Ratna D.R. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggerokan Kepala & leher. Efisi Keenam.
Jakarta : FK UI.

Roxsana & Intisari (2016).Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi


Keenam.Singapore : Elsevier.

Roxsana & Intisari (2016).Nursing Outcame Classification (NOC) Edisi Kelima.


Singapore : Elsevier.
Susi, Natalia. (2003). Penanganan ISPA pada anak di Rumah Sakit Kecil Negara
Berkembang.Jakarta : EGC
Wong, Donna L. (2008). Clinical Manual of Pediatric Nursing.USA : Elsevier
Wong, Donna L. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6.Jakarta : EGC
Wong, Donna L. (2004). Keperawatan Anak. Jakarta : EGC