Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN OTITIS MEDIA AKUT

A. Definisi
Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh
periosteum telinga tengah (Kapita selekta kedokteran, 1999). OMA (Otitis Media
Akut) adalah peradangan akut atau seluruh pericilium telinga tengah (Mansjoer,
2001). OMA adalah infeksi atau inflamasi (peradangan) di telinga tengah.

B. Epidemiologi
Otitis Media Akut (OMA) pada anak-anak sering kali disertai infeksi pada
saluran pernapasan atas. Pada penelitian Zackronik dkk di Arab Saudi tahun
2001 terhadap 112 pasien infeksi saluran pernapasanatas (ISPA) (6-35 bulan),
didapatkan 30% mengalami otitis media akut dan 8% sinusitis. Epidemiologi
seluruh dunia terjadinya Otitis Media berusia 1 tahun sekitar 62% sedangkan
anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83% (Zackzouk,2001). Di Amerika Serikat
diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu episode otitis media sebelum
usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih.
Di Inggris setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia
10 tahun. Insiden OMA tertinggi terjadi pada usia 2 tahun pertama kehidupan
dan yang kedua pada waktu berusia 5 tahun bersamaan dengan anak masuk
sekolah (Abidin,2008).
Puncak usia anak mengalami OMA didapatkan pada pertengahan tahun
pertama sekolah, di Swedia mendapatkan 16.611 anak penderita OMA dan
didapatkan anak usia 7 tahun dengan prevalensi terbanyak. Resiko kekambuhan
otitis media terjadi pada beberapa factor, antara lain usia <5 tahun, otitis prone
(pasien yang mengalami otitis pertama kali pada usia <6 bulan terakhir), infeksi
pernafasan, perokok, dan laki-laki (Abidin, 2008; Cassellbrent, 2005).
C. Etiologi
Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke
dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Paling sering terjadi bila
terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi
saluran pernafasan atas, inflamasi jaringan disekitarnya (eg : sinusitis, hipertrofi
adenoid) atau reaksi alergik (eg: rhinitis alergika). Bakteri yang umum ditemukan
sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae, Hemophylus
influenzae, Streptococcus pyogenes, dan Moraxella catarrhalis.

D. Patofisiologi
OMA sering diawali dengan infeksi saluran napas seperti radang
tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran
eustachius. Saat bakteri melalui saluran eustachius, bakteri bisa menyebabkan
infeksi saluran tersebut. Sehingga terjadilah pembengkakan di sekitar saluran,
tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri.
Sel darah putih akan melawan sel-sel bakteri dengan mengorbankan diri
mereka sendiri, sedikitnya terbentuk nanah dalam telinga tengah. Pembengkakan
jaringan sekitar sel eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel jika
lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena
gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan
organ pendengaran di telinga dalam bergerak bebas. Cairan yang terlalu banyak
tersebut, akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

E. Stadium
1. Stadium oklusi tuba eustachius
a. Terdapat gambaran retraksi membran timpani
b. Membran timpani berwarna normal atau keruh pucat
c. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa virus
2. Stadium hiperemis
a. Pembuluh darah tampak lebar dan edema pada membran timpani.
b. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa
sehingga sukar terlihat
3. Stadium supurasi
a. Membran timpani menonjol ke arah luar
b. Sel epitel superfisila hancur
c. Terbentuk eksudat purulen di kavum timpani
d. Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di
telinga tambah hebat
4. Stadium perforasi
a. Membran timpani ruptur
b. Keluar nanah dari telinga tengah
c. Pasien lebih tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak
5. Stadium resolusi
a. Bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan normal
kembali
b. Bila terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan mengering
c. Resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan bila virulensi rendah dan daya
tahan tubuh baik.
F. Pathway
infeksi saluran napas Kurang
Pengetahuan

menyebar ke telinga tengah

bakteri masuk

Nyeri Akut peradangan / infeksi Hipertermi

Pembengkakan

Sel darah putih menyerang

Penumpukan nanah dan lendir Kecemasan

Gangguan pendengaran sementara

Perubahan Sensori Persepsi

G. Gejala Klinis
Gejala klinis OMA tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien.
Biasanya gejala awal berupa sakit telinga tengah yang berat dan menetap. Biasa
tergantung gangguan pendengaran yang bersifat sementara. Pada anak kecil dan
bayi dapat mual, muntah, diare, dan demam sampai 39,50 oC, gelisah, susah tidur
diare, kejang, memegang telinga yang sakit. Gendang telinga mengalami
peradangan yang menonjol. Keluar cairan yang awalnya mengandung darah lalu
berubah menjadi cairan jernih dan akhirnya berupa nanah (jika gendang telinga
robek).
H. Diagnosis
1. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga tengah
dengan otoskop.
2. Diagnosis OMA harus memenuhi 3 hal berikut :
a. Penyakitnya muncul mendadak (akut).
b. Ditemukannya tanda efusi (pengumpulan cairan) di telinga tengah.
Berikut tanda-tanda terjadi efusi :
1) Menggembungnya gendang telinga.
2) Terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga.
3) Adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga.
c. Adanya tanda-tada gejala peradangan telinga tengah yang
dibuktikan dengan adanya salah satu tanda berikut :
1) Kemerahan pada gendang telinga
2) Nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.

I. Pemeriksaan Fisik

Lakukan Inspeksi,palpasi,perkusi dan  di daerah telinga,dengan menggunakan


senter ataupun alat-alat lain nya apakah ada cairan yang keluar dari
telinga,bagaimana warna, bau, dan jumlah.apakah ada tanda-tanda radang.

1. Kaji adanya nyeri pada telinga


2. Leher, Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di daerah leher
3. Dada / thorak
4. Jantung
5. Perut / abdomen
6. Genitourinaria
7. Ekstremitas
8. Sistem integumen
9. Sistem neurologi
10. Data pola kebiasaan sehari-hari
J. Pemeriksaan Diagnostik/penunjang
1. Pemeriksaan dengan atoskop (alat untuk memeriksa liang-liang gendang
telinga dengan jelas).
2. Melihat ada tidaknya gendang telinga yang menggembung, perubahan   warna
gendang telinga menjadi kemerahan / agak kuning dan suram, serta cairan di
liang telinga.
3. Otoskopi pneumatik (pemeriksaan telinga dengan otoskop untuk melihat
gendang telinga yang dilengkapi dengan udara kecil). Untuk menilai respon
gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara. Untuk melihat
berkurangnya atau tidak ada sama sekali gerakan gendang telinga.
4. Timpanogram : untuk mengukur kesesuaian dan kekuatan membran timpani.
5. Kultur dan uji sensitifitas : dilakukan timpano sintesis (aspirasi jarum dari
telinga tengah melalui membran timpani).

K. Komplikasi
1. Komplikasi yang serius adalah :
a. Infeksi pada tulang sekitar telinga tengah (mastoiditis atau   petrositis).
b. Labirinitis (infeksi pada kanalis semisirkuler).
c. Kumpulan pada wajah.
d. Tuli
2. Tanda-tanda terjadi komplikasi :
a. Sakit kepala
b. Tuli yang terjadi secara mendadak
c. Vertigo (perasaan berputar)
d. Demam dan menggigil

L. Therapy
OMA umurnya adalah penyakit yang sembuh dengan sendirinya dalam 3 hari
tanpa antibiotic (80% OMA). Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau
terjadi perburukan gejala, antibiotic diberikan. American Academic of Pediatrics
(AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi harus segera di terapi
dengan antibiotic sebagai berikut :
Usia Diagnosis Pasti Diagnosis
Meragukan

< 6 Bulan Antibiotik Antibiotik

6 bulan – 2 tahun Antibiotik Antibiotik jika gejala


berat, observasi jika
gejala ringan.

2 tahun Antibiotik jika gejala berat, Observasi


observasi jika gejala ringan.

Gejala ringan            : nyeri telinga ringan dan demam < 39 oC dalam 24  jam
terakhir.
Gejala berat  : nyeri telinga sedang – berat / demam 39oC.
Diobati dengan antibiotik per-oral, yaitu dengan :
1. Amoxilin, atau penisilin dosis tinggi untuk penderita dewasa.
2. Phenilephrine (dalam obat flu) dapat membuka tuba eustachius.
3. Jika nyeri menetap atau hebat, demam, muntah, atau diare, dan tau jika
genang telinga menonjol. Dilakukan miringotomi.
4. Terapi bergantung stadium penyakit.
a. Stadium Oklusi
1) Untuk membuka kembai tuba eustachius, agar tekanan di telinga
tengah hilang.
2) Obat tetes telinga HCl efedrin 0,5% (anak < 12 tahun) atau HCl
efedrin 1% dalam fisiologis (anak > 12 tahun dan dewasa).
3) Antibiotik jika penyebabnya kuman.
b. Stadium Presupurasi
1) Diberikan antibiotik, (golongan penisilin / eritromisin) tetes hidung,
analgesik.
2) Miringotomi jika, membran timpani sudah terlihat hiperemis difus.
3) Pada anak diberikan ampisilin 4 x 40 mg/ kg BB/ hari, amoxilin
4x40mg/kgBB/hari, atau eritromisin 4 x 40 mg/kg BB/hari.
c. Stadium peforasi
1) Obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari dan antibiotik adekuat
sampai 3 minggu.
d. Stadium Supurasi
Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi
bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan terjadi
ruptus.
e. Stadium Resolusi
Bila tidak terjadi perbaikan/ pemulihan/ kesembuhan berikan
antibiotik dilanjutkan sampai 3 minggu.
M. Laporan Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Data yang muncul saat pengkajian:

a. Sakit telinga/nyeri
b. Penurunan/tak ada ketajaman pendengaran pada satu atau kedua telinga
c. Tinitus
d. Perasaan penuh pada telinga
e. Suara bergema dari suara sendiri
f. Bunyi “letupan” sewaktu menguap atau menelan
g. Vertigo, pusing, gatal pada telinga
h. Penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga
i. Tanda-tanda vital (suhu bisa sampai 40o C), demam
j. Kemampuan membaca bibir atau memakai bahasa isyarat
k. Reflek kejut
l. Toleransi terhadap bunyi-bunyian keras
m. Tipe warna 2 jumlah cairan
n. Cairan telinga; hitam, kemerahan, jernih, kuning
o. Dengan otoskop tuba eustacius bengkak, merah, suram
p. Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan atas, infeksi telinga sebelumnya,
alergi.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermi yang berhubungan penyakit ditandai dengan peningkatan suhu
tubuh.
b. Nyeri akut yang berhubungan dengan proses inflamasi.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan respon inflamasi
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan pada penampilan
tubuh (sekret berbau)
e. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
pengobatan dan tindak lanjut terapi
3. Intervensi dan Evaluasi

No Diagnosa Keperawata NOC NIC


1. Hipertermia Outcome Untuk Mengukur Penyelesaian dari Perawatan Demam
Definisi: Suhu inti tubuh diatas Diagnosis: 1. Pantau suhu dan tanda-tanda
kisaran normal karena kegagalan Termoregulasi vital lainnya
termoregulasi. 1. Merasa merinding saat dingin 2. Beri obat atau cairan IV
Batasan Karakteristik: 2. Berkeringat saat panas 3. Tingkatkan sirkulasi udara
1. Apnea 3. Menggigil saat dingin 4. Dorong konsumsi cairan
2. Gelisah 4. Denyut jantung apikal 5. Lembabkan bibir dan mukosa
3. Hipotensi 5. Tingkat pernapasan yang kering
4. Kejang Outcome tambahan untuk mengukur batasan 6. Fasilitasi istirahat, terapkan
5. Koma karakteristik: pembatasan
6. Kulit kemerahan Tanda-Tanda Vital 7. Berikan oksigen, yang sesuai
7. Takikardia 1. Suhu tubuh Manajemen Syok
8. Vasodilatasi 2. Denyut apical 1. Monitor tanda-tanda vital
Factor yang Berhubungan: 3. Irama jantung apical 2. Berikan terapi diuretic
1. Aktivitas berlebih 4. Denyut nadi radial 3. Berikan oksigen dan atau
2. Dehidrasi 5. Tingkat pernapasan ventilasi
3. Iskemia Outcome yang berkaitan dengan faktor yang 4. Ambil gas darah arteri
4. Pakaian yang tidak sesuai berhubungan atau outcome menengah: 5. Berikan vasopressor
5. Peningkatan laju metabolisme Tingkat Ketidaknyamanan 6. Berikan dukungan emosi pada
penyakit 1. Nyeri pasien dan keluarga
2. Cemas Pengaturan Suhu:
3. Menderita 1. Identifikasi pada pasien
4. Memukul adanya factor risiko
5. Tidak dapat beristirahat mengalami suhu tubuh yang
6. Hiperaktivitas abnormal (misalnya., anastesi
7. Keteganngan wajah general, umur, trauma besar,
pasien dengan luka bakar,
berat badan rendah, factor
pribadi atau risiko keluarga
mengalami hipertermi
maligna)
2. Berikan dan atur penggunaan
penghangat
3. Monitor tanda vital, termasuk
suhu tubuh inti secara kontinu
4. Monitor peningkatan dan
penurunan suhu tubuh yang
abnormat atau yang tidak
disengaja.
2. Nyeri akut Outcome untuk mengukur penyelesaian Management nyeri:
Definisi: masalah: 1.
Pengalamana sensori dan emosional 1. kontrol komprehensif termasuk lokasi,
tidak menyenangkan berkaitan nyeri karakteritik, durasi frekuensi,
dengan kerusakan jarinan aktual 2. Tingkat kualitas dan faktor presipitasi
atau potensial, atau yang nyeri 2.
digambarkan sebagai kerusakan; Outcome tambahan untuk mengukur batasan ketidaknyamanan
awitan yang tiba-tiba atau lambat karakteristik: 3.
dengan intensitas ringan hingga 1. Kepuasan klien: management nyeri 4.
berat, dengan berkahirnya dapat 2. Kepuasan klien: kontrol gejala 5.
diantisipasi atau dipresiksi dan 3. Status kenyamanan obat fungsi dan dosisnya
dengan durasi yang kurang dari 3 4. Nyeri: respon psikologis tambahan 6.
bulan. 5. Nyeri: efek yang menggangu 7.
Batasan karakteristik: 6. Kontrol gejala 8.
1. Perubahan selsera makan 7. Keprahana gejala tanda dan gejala.
2. Perubahan pada parameter 8. Tanda-tanda vital 9.
fisiologis Outcome yang berkaitan dengan faktor yang
3. Diaphoresis berhubungan atau outcome menegah:
4. Perilaku distraksi 1. Peng
5. Bukti nyeri dengan etahuan: management penyakit akut
menggunakan standar periksa 2. Peng
pasien untuk pasien yang tidak etahuan: manajemen nyeri
dapat mengungkapkannya
6. Perilaku ekspresif
7. Ekspresi wajah nyeri
8. Sikap tubuh melindungi area
nyeri
9. Putus asa
10. Keluhan tentang intensitas
menggunkan skala nyeri
11. Keluhan tentang karakteristik
nyeri dengan menggunakan
standar instrument nyeri
Batasan karakteristik:
1. Agen
cedera biologis
2. Agen
cedera kimiawi
3. Agen
cedera fisik
3. Resiko infeksi Outcome untuk menilai dan mengukur Manajemen lingkungan
1. Difungsi imun kejadian aktual dari diagnosis 1.
1. 2.
2.
Outcome yang behubungan dengan faktor
risiko:
1.
2.
3.
4.
5.
DAFTAR PUSTAKA

Efiaty Arsyad, S, Nurbaiti Iskandar. 1997. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan, Edisi III, Jakarta: FKUI.

Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta: EGC.

Doenges E. Marylin dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3.
Jakarta : EGC.

NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC.

George L, Adams. 1997. BOEIS : Buku ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : EGC.

Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab/UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan
Tenggorokan RSUD Dr Soetomo Surabaya

Rukmin, Sri dan Sri Herawati. 1999. Teknik Pemeriksaan THT. Jakarta : EGC.