Anda di halaman 1dari 32

MATERIALITAS, RISIKO AUDIT, DAN STRATEGI AUDIT AWAL

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengauditan I


Dosen Pengampu: Drs. Agus Bandang, M.Si., Ak., CA

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1:

MULIATI A031191148

ASMAH G. A031191099

NURUL AMELIA AZ ZAHRA A031191153

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Pengauditan I ini yang berhubungan dengan
materi presentasi kami, yaitu “Materialitas, Risiko Audit, dan Strategi Audit Awal” dengan
tepat waktu. Tidak lupa penyusun sampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah
Pengauditan I yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam pembuatan makalah ini,
orang tua yang selalu mendukung kelancaran tugas kami, serta pada anggota tim kelompok 1
yang selalu kompak dan konsisten dalam penyelesaian tugas ini, juga terima kasih atas
kesempatan waktu para anggota yang telah membantu terselesainya makalah ini.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah
Pengauditan I dan dipresentasikan dalam pembelajaran di kelas. Dalam makalah ini memuat
hal-hal yang berkaitan dengan Materialitas, Risiko Audit dan Strategi Audit Awal. Dalam
penyusunan makalah ini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin dengan kemampuan
yang kami miliki. Namun, kami selaku penyusun juga adalah manusia biasa yang tak luput
dari kesalahan.

Makalah ini tentunya masih sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, dengan
segala kerendahan hati, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat tim penulis
harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah yang lain pada waktu
mendatang.

Makassar, 18 April 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 3

A. MATERIALITAS............................................................................................................ 3

B. RISIKO AUDIT ............................................................................................................. 11

C. STRATEGI AUDIT AWAL ......................................................................................... 24

BAB III PENUTUP ................................................................................................................ 28

A. KESIMPULAN .............................................................................................................. 28

B. SARAN ........................................................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 29

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Audit merupakan suatu proses sistematis untuk memperoleh serta
mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa
ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut
dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya
kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Audit harus direncanakan untuk diperoleh
bahan bukti kompeten yang cukup dalam situasi saat itu, membantu menekan biaya
audit dan menghindari salah pengertian dengan klien.
Perencanaan audit memiliki beberapa langkah penting, yakni memperoleh
pemahaman tentang bisnis dan industri klien, melaksanakan prosedur analitis,
membuat pertimbangan awal tentang tingkat materialitas, mempertimbangkan risiko
audit, mengembangkan strategi audit awal untuk asersi signifikan, dan memperoleh
pemahaman tentang pengendalian internal.
Materialitas mempunyai pengaruh yang mencakup semua aspek dalam audit
atas laporan keuangan. Risiko audit merupakan risiko yang melekat pada kegiatan
audit yang merupakan ketidakpastian yang di alami oleh auditor berupa planned
detection risk, inherent risk, control risk dan engagement risk. Perencanaan audit dan
penilaian atas risiko merupakan hal yang sangat penting dalam proses audit untuk
menunjang kesuksesan audit untuk mengurangi risiko dan mencapai efektivitas dan
efisiensi kegiatan audit.
Oleh karena itu pentingnya Materialitas, risiko dan strategi audit awal guna
memeperlancar tugas seorang auditor serta sebagai bahan pertimbangannya untuk
selanjutnya akan dibahas pada bab II makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dari materialitas?
2. Mengapa konsep materialitas penting dalam audit atas laporan keuangan?
3. Bagaimana langkah-langkah dalam menerapkan materialitas?
4. Bagaimana hubungan materialitas dengan bukti audit?
5. Apa pengertian risiko audit?

1
6. Bagaimana prosedur penilaian risiko?
7. Bagaimana model risiko audit?
8. Bagaimana menilai komponen risiko audit?
9. Bagaimana hubungan materialitas, risiko dan bukti audit?
10. Apa saja komponen dalam strategi audit awal?
11. Apa saja yang termasuk strategi audit tambahan?
12. Bagaimana hubungan strategi dan siklus transaksi?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi materialitas
2. Untuk mengetahui pentingnya konsep materialitas dalam audit atas laporan
keuangan
3. Untuk mengetahui langkah-langkah dalam menerapkan materialitas
4. Untuk mengetahui hubungan audit dengan materialitas, konsep materialitas, dan
penggunaan materialitas dalam mengevaluasi bukti audit
5. Untuk mengetahui pengertian risiko audit
6. Untuk mengetahui prosedur penilaian risiko
7. Untuk mengetahui model risiko audit
8. Untuk mengetahui bagaimana menilai komponen risiko audit
9. Untuk mengetahui hubungan materialitas, risiko, dan bukti audit
10. Untuk mengetahui komponen dalam strategi audit awal
11. Untuk mengetahui strategi audit tambahan
12. Untuk mengetahui hubungan strategi dan siklus transaksi

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. MATERIALITAS
Tanggung jawab auditor dalam laporan auditor independen mencakup dua frasa,
yaitu (1) memperoleh keyakinan yang memadai, (2) bebas dari kesalahan penyajian
material. Frasa Memperoleh keyakinan yang memadai dimaksudkan untuk
memberi informasi kepada pengguna laporan audit bahwa auditor tidak menjamin
kewajaran penyajian laporan keuangan. Ada sejumlah risiko bahwa laporan keuangan
tidak disajikan secara wajar, walaupun auditor memberikan pendapat wajar tanpa
pengecualian. Frasa Bebas dari kesalahan penyajian material dimaksudkan untuk
memberi informasi kepada pengguna laporan audit bahwa tanggung jawab auditor
terbatas pada informasi keuangan yang material saja. Materialitas penting karena
tidaklah praktis jika auditor harus memberikan kepastian menyangkut jumla hyang
tidak material.
1. Konsep Materialitas
Materialitas adalah pertimbangan utama dalam menentukan ketepatan laporan
audit yang harus dikeluarkan. FASB Concept Statement 2 mendefinisikan
materialitas sebagai besarnya suatu penghapusan atau salah saji informasi
akuntansi yang dalam kaitannya dengan keadaan sekitarnya, memungkinkan
bahwa pertimbangan seseorang yang bergantung pada informasi tersebut akan
berubah atau terpengaruh oleh penghapusan atau salah saji tersebut. Dari definisi
tersebut mensyaratkan auditor untuk mempertimbangkan baik (1) keadaan yang
berkaitan dengan entitas dan (2) informasi yang dibutuhkan oleh mereka yang
bergantung pada laporan keuangan yang diaudit.
SPA 320 dalam SPAP (2013) mendefinisikan materialitas sebagai: “Suatu
jumlah yang ditetapkan oleh auditor, pada tingkat yang lebih rendah daripada
materialitas untuk laporan keuangan secara keseluruhan, untuk mengurangi ke
tingkat rendah yang semestinya kemungkinan salah saji yang tidak dikoreksi dan
yang tidak terdeteksi secara agregat melebihi materialitas untuk laporan keuangan
secara keseluruhan.”
Materialitas merupakan pertimbangan penting dalam menentukan jenis
laporan yang tepat untuk diterbitkan dalam keadaan Tertentu. Kesalahan
3
penyajian laporan keuangan dapat dianggap material jika kesalahan penyajian
tersebut mempengaruhi keputusan para pengguna laporan.
Materialitas terdiri dari 3 tingkatan yaitu:
(1) Jumlahnya tidak material, jika ada salah saji dalam laporan keuangan
cenderung tidak mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan, karena
itu jenis pendapatnya wajar tanpa pengecualian.
(2) Jumlahnya material tetapi tidak memperburuk laporan keuangan secara
keseluruhan, akan mempengaruhi keputusan jika informasi penting terhadap
keputusan yang akan diambil. Laporan keuangan secara keseluruhan tetap
disajikan secara wajar, karena itu jenis pendapatnya wajar dengan
pengecualian.
(3) Jumlahnya sangat material atau begitu pervasif sehingga kewajaran
keseluruhan laporan keuangan diragukan, sebagian besar keputusan yang
didasarkan pada laporan keuangan akan sangat berpengaruh, maka auditor
harus menolak memberikan pendapat atau pendapat tidak wajar.
Konsep materialitas diterapkan oleh auditor pada tahap perencanaan dan
pelaksanaan audit, serta pada saat mengevaluasi dampak kesalahan penyajian
yang teridentifikasi dalam audit dan kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi,
jika ada, terhadap laporan keuangan dan pada saat merumuskan opini dalam
laporan auditor.
2. Pentingnya Konsep Materialitas dalam Audit atas Laporan Keuangan
Audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan bagi
klien atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan auditan
adalah akurat. Auditor tidak dapat memberikan jaminan karena ia tidak
memeriksa setiap transaksi yang terjadi dalam tahun yang diaudit dan tidak dapat
menentukan apakah semua transaksi yang telah dicatat, diringkas, digolongkan,
dan dikompilasi secara semestinya kedalam laporan keuangan. Oleh dalam audit
atas laporan keuangan, auditor memberikan keyakinan berikut ini (Mulyadi,
2002):
(1) Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa jumlah-jumlah yang disajikan
dalam laporan keuangan beserta pengungkapannya telah dicatat, diringkas,
digolongkan, dan dikompilasi.

4
(2) Auditor dapat memberikan keyakinan bah!a ia telah mengumpulkan bukti
audit kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk memberikan
pendapat atas laporan keuangan auditan.
(3) Auditor dapat memberikan keyakinan, dalam bentuk pendapat bahwa laporan
keuangan sebagai keseluruhan disajikan secara wajar dan tidak terdapat salah
saji material karena kekeliruan dan kecurangan.
3. Langkah-langkah dalam menerapkan materialitas
Auditor mengikuti lima langkah yang saling terkait dalam menerapkan
materialitas, yaitu:
(1) Menetapkan materialitas untuk laporan keuangan secara keseluruhan
(2) Menentukan materialitas kinerja
(3) Mengestimasi total salah saji dalam segmen
(4) Mengestimasi salah saji gabungan
(5) Membandingkan estimasi salah saji gabungan dengan pertimbangan
pendahuluan atau yang direvisi tentang materialitas.
Dua langkah awal merupakan bagian dari perencanaan. Langkah 3 berlangsung
selama penugasan, dimana auditor mengestimasi salah saji dalam setiap segmen
ketika sedang mengevaluasi bukti audit. Menjelang akhir audit, yaitu selama tahap
penyelesaian penugasan, auditor menjalankan dua langkah terakhir. Ketiga
langkah penutup ini merupakan bagian dari pengevaluasian hasil pengujian audit.
4. Menetapkan Pertimbangan Pendahuluan Tentang Materialitas
SAS 107 (AU 312) mengharuskan auditor memutuskan jumlah salah saji
gabungan dalam laporan keuangan yang akan mereka anggap material pada awal
audit ketika sedang mengembangkan strategi audit secara keseluruhan, hal ini
disebut sebagai pertimbangan pendahuluan tentang materialitas (preliminary
judgment about materiality). Pertimbangan pendahuluan tentang materialitas
adalah jumlah maksimum yang membuat auditor yakin bahwa laporan keuangan
akan salah saji tetapi tidak mempengaruhi keputusan para pengguna.
Auditor menetapkan pertimbangan tersebut untuk membantu merencanakan
pengumpulan bukti yang tepat. Adapun yang disebut pertimbangan tentang
materialitas yang direvisi (revised judgment about materiality) yaitu selama
pelaksanaan audit, auditor seringkali mengubah pertimbangan pendahuluan
tentang materialitas.
5
Beberapa faktor yang mempengaruhi pertimbangan pendahuluan auditor
tentang materialitas, yaitu:
a) Materialitas adalah konsep yang bersifat relatif daripada absolut.
Salah saji mengingat jumlah yang besar mungkin menjadi material bagi
perusahaan kecil, sedangkan kesalahan pernyataan dalam dolar yang sama
dapat menjadi tidak material bagi perusahaan besar. Hal ini membuat tidak
mungkin untuk menetapkan pedoman nilai dolar untuk pertimbangan
pendahuluan tentang materialitas yang berlaku untuk semua klien audit.
b) Tolak ukur yang diperlukan untuk mengevaluasi materialitas.
Karena materialitas adalah relatif, diperlukan tolak ukur untuk
menentukan apakah salah saji itu material. Laba bersih sebelum pajak sering
kali menjadi tolok ukur utama untuk menentukan berapa jumlah yang material
bagi perusahaan yang berorientasi laba, karena dianggap sebagai item
informasi penting bagi pengguna. Beberapa perusahaan menggunakan tolok
ukur utama yang berbeda, karena laba bersih sering kali berfluktuasi cukup
besar dari tahun ke tahun, sehingga tidak memberikan tolok ukur yang stabil,
atau bila entitas tersebut adalah organisasi nirlaba. Tolok ukur utama lainnya
termasuk penjualan bersih, laba kotor, dan total aset atau aset bersih. Setelah
menetapkan tolok ukur utama, auditor juga harus memutuskan apakah salah
saji dapat memengaruhi secara material kewajaran tolok ukur lainnya seperti
aset lancar, total aset, kewajiban lancar, dan ekuitas pemilik. Standar audit
mengharuskan auditor mendokumentasikan dalam file audit dasar yang
digunakan untuk menentukan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas.
c) Faktor-faktor kualitatif juga mempengaruhi materialitas
Bagi para pemakai laporan keuangan, jenis salah saji tertentu mungkin
merupakan hal yang sangat penting dibandingkan dengan salah saji yang
lainnya, meskipun mempunyai nominal yang sama. Sebagai contoh:
 Jumlah yang melibatkan kecurangan biasanya dianggap lebih penting
daripada kesalahan yang tidak disengaja dengan nilai nominal yang
sama, karena kecurangan mencerminkan kejujuran serta reliabilitas
manajemen atau personil lain yang terlibat. Misalnya, sebagian besar
pengguna menganggap salah saji persediaan yang disengaja lebih

6
penting daripada kesalahan administrasi dalam persediaan dengan
jumlah uang yang sama.
 Salah saji yang sebenarnya kecil bisa menjadi material jika ada
konsekuensi yang mungkin timbul dari kewajiban kontraktual.
Katakanlah modal kerja bersih yang tercantum dalam laporan
keuangan hanya beberapa ratus dolar lebih tinggi dari jumlah
minimum yang disyaratkan dalam perjanjian pinjaman. Jika modal
kerja bersih yang benar lebih kecil dari jumlah minimum yang
disyaratkan, menyebabkan pinjaman gagal bayar, klasifikasi kewajiban
lancar dan tidak lancar akan terpengaruh secara material.
 Salah saji yang sebenarnya tidak material dapat saja menjadi material
jika mempengaruhi tren laba. Misalnya, jika pendapatan yang
dilaporkan meningkat tiga persen setiap tahun selama lima tahun
terakhir tetapi pendapatan untuk tahun berjalan telah menurun satu
persen, perubahan itu mungkin material. Demikian pula, kesalahan
penyajian yang akan menyebabkan kerugian dilaporkan sebagai laba
mungkin menjadi perhatian.
Empat indikator yang harus dipertimbangkan dalam melakukan
pertimbangan awal tentang materialitas pada setiap tingkat (Mulyadi, 2002),
yaitu:
a) Pertimbangan awal materialitas
Dalam melakukan perencanaan auditnya auditor harus melakukan
pertimbangan awal tentang tingkat materialitas. Penentuan materialitas ini
seringkali disebut sebagai materialitas perencanaan, dapat berbeda dengan
tingkat materialitas yang digunakan pada saat pengambilan kesimpulan audit
dan dalam mengevaluasi temuan audit karena: Keadaan yang melingkupi
berubah dan Informasi tambahan tentang klien dapat diperoleh selama
berlangsungnya audit.
b) Materialitas pada tingkat laporan keuangan.
Materialitas laporan keuangan adalah salah saji agregat minimum dalam
suatu laporan keuangan yang cukup penting untuk mencegah laporan
keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang

7
berlaku umum. Dalam konteks ini, salah saji bisa saja diakibatkan karena
penerapan yang salah dari GAAP.
c) Materialitas pada tingkat saldo akun.
Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang
mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji
material. Konsep materialitas pada timgkat saldo akun tidak boleh
dicampuradukkan dengan istilah saldo akun material. Saldo akun material
adalah besarnya saldo akun yang tercatat, sedangkan konsep materialitas
berkaitan dengan jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi keputusan
pemakai informasi keuangan.
d) Alokasi materialitas laporan keuangan ke akun.
Dalam melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan (1)
kemungkinan terjadinya salah saji dalam akun tertentu dan (2) biaya yang
harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut.
Standar akuntansi dan auditing tidak menyediakan pedoman khusus tentang
materialitas bagi praktisi. Pertimbangannya bahwa pedoman pedoman semacam
itu mungkin diterapkan tanpa memperhitungkan semua kompleksitas yang dapat
mempengaruhi keputusan akhir auditor.
Sampai dengan saat ini, tidak terdapat panduan resmi tentang ukuran
kuantitatif materialitas. Berikut ini diberikan contoh beberapa panduan
kuantitatif yang digunakan dalam praktik (Boynton, 2001):
a) Laporan keuangan dipandang mengandung salah saji material jika terdapat
salah saji 5% sampai 10% dari laba sebelum pajak.
b) Laporan keuangan mengandung salah saji material jika terdapat salah saji
½% sampai 1% dari total aset.
c) Laporan keuangan dipandang mengandung salah saji material jika terdapat
salah saji 1% dari ekuitas.
d) Laporan keuangan dipandang mengandung salah saji material jika terdapat
salah saji ½% sampai 1% dari pendapatan bruto.
5. Menentukan Materialitas Kinerja
Materialitas kinerja didefinisikan sebagai jumlah yang ditetapkan oleh auditor
kurang dari materialitas untuk laporan keuangan secara keseluruhan demi
menguranginya ke tingkat probabilitas yang rendah dan tepat bahwa jumlah
8
agregat dari salah saji yang belum dikoreksi dan tidak terdeteksi melebihi
materialitas untuk laporan keuangan sebagai keseluruhan. Menentukan
materialitas kinerja diperlukan karena auditor mengakumulasi bukti berdasarkan
segmen daripada laporan keuangan secara keseluruhan, dan tingkat materialitas
kinerja membantu auditor dalam memutuskan bukti audit yang tepat untuk
dikumpulkan.
Untuk saldo piutang sebesar $ 1.000.000, misalnya, auditor harus
mengumpulkan lebih banyak bukti jika salah saji $ 50, 000 dianggap material
dibandingkan jika $ 300,000 dianggap material. Namun, jika auditor menetapkan
tingkat materialitas yang sama untuk setiap segmen audit yang ditugaskan untuk
laporan keuangan secara keseluruhan, kemungkinan akan ada kesalahan penyajian
yang tidak teridentifikasi yang melebihi materialitas untuk laporan keuangan
secara keseluruhan. Materialitas kinerja dapat bervariasi untuk berbagai kelas
transaksi, saldo akun, atau pengungkapan, terutama jika ada fokus pada area
tertentu.
6. Mengalokasikan Pertimbangan Pendahuluan tentang Materialitas ke
Segmen-Segmen
Alasan Mengacu pada proses menentukan materialitas kinerja sebagai alokasi
peertimbangan pendahuluan tentang materialitas ke segmen dalam diskusi
kita yang berikut. Misalnya, kelebihan penyajian piutang usaha sebesar $ 20.000
juga merupakan pernyataan penjualan yang berlebihan sebesar $ 20.000. Jadi,
tidak tepat mengalokasikan pertimmbangan pendahuluan baik ke akun laporan
laba rugi dan neraca karena jika dilakukan akan menimbulkan perhitungan ganda.
Karena sebagian besar prosedur audit berfokus pada akun neraca, materialitas
biasanya hanya dialokasikan ke akun neraca.
Penentuan materialitas kinerja didasarkan pada pertimbangan profesional dan
mencerminkan jumlah kesalahan penyajian yang ingin diterima auditor dalam
segmen tertentu. Misalnya, jika auditor memutuskan untuk mengalokasikan $
100.000 dari total penilaian awal tentang materialitas $ 200.000 ke piutang, ini
berarti auditor bersedia untuk mempertimbangkan piutang yang dinyatakan secara
wajar jika salah saji sebesar $ 100.000 atau kurang. Standar audit PCAOB
mengacu pada jumlah ini sebagai salah saji yang dapat ditoleransi, sedangkan

9
standar AICPA mendefinisikan salah saji yang dapat ditoleransi sebagai
penerapan materialitas kinerja pada prosedur pengambilan sampel tertentu.
Alokasi dilakukan karena auditor mengumpulkan bukti per segmen dan bukan
untuk laporan keuangan secara keseluruhan. Jika auditor memiliki pertimbangan
pendahuluan tentang materialitas untuk setiap segmen, pertimbangan tersebut
akan membantu auditor dalam memutuskan bukti audit yang tepat yang harus
dikumpulkan.
Auditor menghadapi 3 kesulitan utama dalam mengalokasikan materialitas
ke akun-akun neraca:
(1) Auditor memperkirakan akun-akun tertentu yang mengandung lebih banyak
salah saji dibanding akun-akun lainnya.
(2) Baik lebih saji dan kurang saji harus dipertimbangkan
(3) Biaya audit relatif mempengaruhi pengalokasian ini
Dalam praktiknya, seringkali sulit untuk memprediksi sebelumnya akun mana
yang paling mungkin salah saji dan apakah salah saji kemungkinan besar
merupakan pernyataan berlebihan atau pernyataan yang terlalu rendah. Demikian
pula, biaya relatif untuk mengaudit saldo akun yang berbeda seringkali tidak dapat
ditentukan. Oleh karena itu, pertimbangan profesional yang sulit untuk
mengalokasikan pertimbangan pendahuluan tentang materialitas ke akun. Tujuan
alokasi pertimbangan pendahuluan tentang materialitas ke akun-akun neraca
adalah membantu auditor memutuskan bukti yang tepat yang harus dikumpulkan
bagi setiap akun dalam neraca serta laporan laba-rugi. Salah satu sasarannya
adalah meminimalkan biaya audit tanpa mengorbankan mutu audit. Tanpa
menghiraukan bagaimana alokasi dilakukan, apabila audit telah selesai, auditor
harus yakin bahwa salah saji gabungan dalam semua akun lebih kecil dari atau
sama dengan pertimbangan pendahuluan (atau yang direvisi) tentang materialitas.
7. Mengestimasi Salah Saji dan Membandingkan dengan Pertimbangan
Pendahuluan
Ketika melaksanakan prosedur audit untuk tiap segmen audit, auditor
membuat kertas kerja untuk mencatat semua salah saji yang ditemukan. Salah saji
tersebut dapat dibedakan menjadi 2, yaitu salah saji yang diketahui dan salah saji
yang mungkin.

10
a) Salah saji yang diketahui (known misstatement) adalah salah saji dalam
akun yang jumlahnya dapat ditentukan oleh auditor.
b) salah saji yang mungkin (likely misstatement) terbagi lagi menjadi 2,
yaitu:
(1) salah saji yang berasal dari perbedaan antara pertimbangan manajemen
dan auditor tentang mengestimasi saldo akun.
(2) proyeksi salah saji berdasarkan pengujian auditor atas sampel dari
suatu populasi.
Estimasi untuk kesalahan sampling timbul karena auditor hanya mengambil
sampel dari sebagian populasi dan ada risiko bahwa sampel itu tidak secara akurat
mewakili populasi. Misalnya, diasumsikan estimasi untuk kesalahan sampling
adalah 50% dari proyeksi langsung atas jumlah salah saji dalam akun-akun yang
diuji dengan sampling (piutang usaha dan persediaan). Tidak ada kesalahan
sampling untuk kas karena total salah saji sudah diketahui, bukan diestimasi.
8. Hubungan antara Materialitas dengan Bukti Audit
Materialitas merupakan satu di antara berbagai faktor yang mempengaruhi
pertimbangan auditor tentang kuantitas (kecukupan) bukti audit. Dalam membuat
generalisasi hubungan antara materialitas dengan bukti audit, perbedaan istilah
materialitas dan saldo akun material harus tetap diperhatikan. Semakin rendah
tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan dengan kata lain
antara materialitas dan jumlah bukti memiliki(hubungan terbalik). Semakin besar
atau semakin signifikan suatu saldo akun, semakin banyak jumlah bukti yang
diperlukan.

B. RISIKO AUDIT
1. Pengertian dan Risiko Audit
Risiko dalam auditing berarti bahwa auditor menerima suatu tingkat
ketidakpastian tertentu dalam pelaksanaan audit. Risiko audit yaitu risiko bahwa
auditor secara tidak sadar gagal untuk menyesuaikan pendapatnya atas laporan
keuangan yang salah saji secara material. Auditor menyadari bahwa risiko
tersebut ada karena adanya hal-hal sebagai berikut, misalnya ketidakpastian
mengenai kompetensi bukti, efektivitas struktur pengendalian intern klien, serta

11
ketidakpastian apakah laporan keuangan memang telah disajikan secara wajar
setelah audit selesai.
2. Prosedur Penilaian Risiko
Prosedur Penilaian Risiko meliputi sebagai berikut:
a. Membuat pertanyaan manajemen dan orang lain di dalam entitas
Auditor harus berdiskusi dengan manajemen klien tentang tujuan dan
harapannya, dan rencananya untuk mencapai tujuan tersebut.
b. Prosedur analitik
Auditor harus melakukan prosedur analitis yang dirancang untuk:
Meningkatkan pemahaman auditor tentang bisnis klien dan transaksi dan
peristiwa penting yang telah terjadi sejak akhir tahun sebelumnya; dan
identifikasi area yang mungkin mewakili risiko spesifik yang relevan dengan
audit, termasuk keberadaan transaksi dan peristiwa yang tidak biasa, dan
jumlah, rasio, dan tren yang memerlukan investigasi.
c. Pengamatan dan inspeksi
Bukti yang diperoleh melalui pengamatan umumnya melibatkan auditor yang
melihat proses atau prosedur yang dilakukan oleh orang lain. Belajar tentang
bisnis dan lingkungannya, auditor juga mengamati klien yang melakukan
proses penting terkait pelaporan keuangan untuk membantu mereka
memahami desain pengendalian internal terkait. untuk laporan keuangan
secara keseluruhan dan untuk tujuan audit spesifik yang terkait dengan kelas
transaksi, saldo akun, dan penyajian dan pengungkapan
d. Diskusi antara anggota tim yang terlibat
Diskusi di antara anggota tim perikatan kunci harus mencakup :
- Pertukaran ide, atau "brainstorming," di antara anggota tim perikatan
utama, termasuk mitra perikatan, tentang bagaimana dan di mana
mereka percaya laporan keuangan perusahaan mungkin rentan
terhadap salah saji material karena penipuan, bagaimana manajemen
dapat melakukan dan menyembunyikan penipuan keuangan. pelaporan,
dan bagaimana aset perusahaan dapat disalahgunakan, termasuk (a)
kerentanan laporan keuangan terhadap salah saji material melalui
transaksi pihak terkait dan (b) bagaimana penipuan dapat dilakukan

12
atau disembunyikan dengan menghilangkan atau menyajikan
pengungkapan yang tidak lengkap atau tidak akurat;
- Suatu pertimbangan dari faktor-faktor eksternal dan internal yang
diketahui mempengaruhi perusahaan yang mungkin (a) menciptakan
insentif atau tekanan bagi manajemen dan pihak lain untuk melakukan
penipuan, (b) memberikan peluang bagi penipuan untuk dilakukan, dan
(c) menunjukkan budaya atau lingkungan yang memungkinkan
manajemen untuk merasionalisasi penipuan yang terjadi;
- Pertimbangan risiko penggantian manajemen; dan
- Pertimbangan atas tanggapan audit potensial terhadap kerentanan
laporan keuangan perusahaan terhadap salah saji material karena
penipuan.
e. prosedur penilaian risiko lainnya
3. Mempertimbangkan Risiko Penipuan
Dalam konteks audit atas laporan keuangan, kecurangan didefinisikan sebagai
salah saji laporan keuangan yang disengaja. Dua kategori yang utama adalah
pelaporan keuangan yang curang dan penyalahgunaan aktiva.
Pelaporan keuangan yang curang
Yaitu salah saji atau pengabaian jumlah atau pengungkapan yang disengaja
dengan maksud menipu para pemakai laporan itu. Meskipun kebanyakan kasus
pelaporan keuangan yang curang melibatkan upaya melebih sajikan laba, namun
ada juga perusahaan yang sengaja merendah sajikan laba. Hal ini dimaksudkan
dalam upaya mengurangi pajak penghasilan atau merendah sajikan laba ketika
laba itu tinggi untuk membentuk cadangan laba atau “cookie jar reserve”, yang
dapat digunakan untuk memperbesar laba dalam periode mendatang. Praktik ini
disebut income smoothing (perataan laba) dan earnings management (pengaturan
laba). Pengaturan laba menyangkut tindakan manajemen yang disengaja untuk
memenuhi tujuan laba. Perataan laba merupakan salah satu bentuk pengaturan
laba dimana pendapatan dan beban ditukar- tukar diantara periode-periode untuk
mengurangi fluktuasi laba.
Penyalahgunaan aktiva
Yaitu kecurangan yang melibatkan pencurian aktiva entitas. Dalam banyak kasus,
jumlah yang terlibat tidak material terhadap laporan keuangan. Pencurian aktiva
13
perusahaan seringkali mengkhawatirkan manajemen , karena pencurian bernilai
kecil menggunung seiring berjalannya waktu. Istilah penyalahgunaan aktiva
mengacu pada pencurian yang melibatkan pegawai dan oran lain dalam lain
organisasi.

Terdapat tiga kondisi kecurangan yang berasal dari pelaporan keuangan yang
curang dan penyalahgunaan aktiva diuraikan dalam SAS 99 (AU 316), disebut
segitiga kecurangan.
 Insentif/tekanan. Manajemen atau pegawai lain merasakan insentif atau
tekanan untuk melakukan kecurangan.
 Kesempatan. Situasi yang membuka kesempatan bagi manajemen atau
pegawai untuk melakukan kecurangan.
 Sikap/rasionalisasi. Ada sikap, karakter, atau serangkaian nilai-nilai etis
yang membolehkan manajemen atau pegawai untuk melakukan tindakan
yang tidak jujur, atau mereka berada dalam lingkungan yang cukup
menekan yang membuat mereka merasionalisasi tindakan yang tidak jujur.
4. Identifikasi Risiko Signifikan
Risiko signifikan ialah risiko salah saji material yang diidentifikasi dan dinilai
menurut pandangan auditor harus memerlukan pertimbangan khusus. Sebagian
besar dari penilaian risiko, auditor wajib menentukan apakah risiko tersebut
merupakan bagian dari risiko signifikan atau tidak. Dalam menentukan hal ini,
auditor wajib menyampingkan dampak pengendalian yang diidentifikasi terkait
dengan risiko tersebut.
Dalam menentukan apakah risiko tersebut termasuk risiko signifikan, auditor
setidaknya wajib mempertimbangkan hal – hal berikut yaitu:
 Apakah risiko tersebut merupakan risiko kecurangan
 Apakah risiko tersebut berkaitan dengan ekonomi akhir – akhir ini,
perkembangan akuntansi atau pekembangan lain yang signifikan, dan
memerlukan perhatian khusus
 Komplesitas transaksi
 Apakah risiko itu melibatkan transaksi signifikan dengan pihak terkait

14
 Tingkat subjektivitas dalam pengukuran informasi keuangan terkait
dengan risko tersebut, khususnya pengukuran yang melibatkna banyak
ketidakpastian
 Apakah risiko tersebut melibatkan transaksi signifikan diluar jalur bisnis
entitas, atau yang terlihat “aneh”
Jika auditor sudah menentukan bahwa risiko signifikan memang ada, auditor
wajib memperoleh pemahaman mengenai pengendalian entitas, termasuk kegiatan
pengendalian yang relevan (untuk menangkal) risiko tersebut. (lihat alinea A124 –
A126)
Jika auditor sudah menentukan bahwa risiko salah saji material yang dinilai,
pada tingkat asersi merupakan risiko signifikan, auditor wajib melaksanakan
prosedur subtantif yang khusus menanggapi risiko tersebut. dalam hal pendekatan
terhadap risiko signifikan itu hanya terdiri atas prosedur substantif, prosedur wajib
uji rincian. (lihat alinea A53)
Auditor wajib mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji yang terkait
dengan hubungan pihak terkait dan transaksi pihak terkait menentukan apakah
risiko tersebut merupakan risiko signifikan. Dalam hal ini auditor wajib
memperlakukan transaksi pihak terkait yang signifikan diluar jalur bisnis yang
normal, sebagai risiko signifikan
Jika auditor mengidentifikasi faktor risiko kecurangan (termasuk situasi terkait
dengan pengaruh dominan) ketika melaksanakan prosedur penilaian risiko dan
kegiatan terkait, sehubungan dengan pihak terkait, auditor wajib
mempertimbangkan informasi tersebut ketika mengidentifikasi dan menilai risiko
salah saji material karena kecurangan, sesuai ISA 240 (lihat alinea A6, A29 –
A30)
5. Model Risiko Audit
Auditor menerima beberapa tingkat risiko atau ketidakpastian dalam
melaksanakan fungsi audit, seperti mengakui ketidakpastian yang melekat tentang
ketepatan bukti, ketidakpastian tentang keefektifan pengendalian internal klien,
serta ketidakpastian tentang apakah laporan keuang telah disajikan secara wajat
ketika audit selesai dilakukan. Auditor yang efektif akan mengakui bahwa
memang ada risiko dan akan menangani risiko tersebut dengan cara yang tepat.
Model risiko audit membantu auditor memutuskan seberapa banyak dan jenis
15
bukti apa yang harus dikumpulkan dalam setiap siklusnya. Model ini dinyatakan
sebagai berikut :

Ket :

PDR = Risiko deteksi yang direncanakan (planned detection risk)


AAR = risiko audit yang dapat diterima (acceptable audit risk)
IR = risiko inheren (inherent risk)
CR = risiko pengendalian (control risk)
a. Risiko deteksi yang direncanakan (planned detection risk)
Risiko deteksi yang direncanakan merupakan risiko bahwa bukti audit untuk
suatu tujuan audit akan gagal mendeteksi salah saji yang melebihi materialitas
kinerja. Risiko deteksi yang direncanakan tergantung pada tiga factor lain
dalam model ririko audit. Risiko deteksi yang direncanakan menentukan
jumlah audit substantif yang direncanakan akan dikumpulkan auditor, yang
besarnya berlawanan dengan risiko deteksi yang direncanakan. Jika risiko
deteksi yang direncanakan dikurangi, auditor harus mengumpulkan lebih
banyak bukti untuk mencapai rencana pengurangan risiko itu.
b. Risiko inheren (inherent risk)
Risiko inheren mengukur penilaian auditor atas kerentanan asersi salah saji
yang material, sebelum memperhitungkan keefektifan pengendalian internal.
Jika auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan besar akan ada salah saji,
dengan mengabaikan pengendalian internal, auditor akan menyimpulan
bahwa risiko inheren adalah tinggi. Pengendalian internal diabaikan dalam
penetapan risiko inheren karena pengendalian internal ini diperhitungkan
secara terpisah dalam model risiko audit sebagai risiko pengendalian. Risiko
inheren berbanding terbalik dengan risiko deteksi yang direncanakan dan
bersidatlangsung dengan bukti.
c. Risiko Pengendalian
Mengukur penilaian auditor mengenai risiko bahwa salah saji yang material
akan terjadi dalam suatu asersi dan tidak dapat dicegah atau terdeteksi secara
tepat waktu oleh pengendalian internal klien. Semakin efektif auditor
melakukan pengendalian internal, maka semakin rendah factor risiko yang
16
dapat ditetapkan untuk risiko pengendalian. Model risiko audit menunjukkan
hubungan yang erat antara risiko inheren dan risiko pengendalian, kombinasi
ini disebut dengan risiko salah saji yang material (risk of material
misstatement). Hubungan antara risiko pengendalian dan risiko deteksi yang
direncanakan adalah berbanding terbalik, sedangkan hubungan antara risiko
pengendalian dan bukti substantive bersifat langsung. Jika auditor
menyimpulkan bahwa pengendalian internal efektif, risiko deteksi yang
direncanakan dapat diperbesar sehingga bukti dapat dikurangi. Auditor
perusahaan public memilih untuk mengandalkan secara ekstensif pada
pengendalian, karena mereka harus menguji keefektifan pengendalian internal
atas pelaporan keuangan demi memenuhi persyaratan UU Sarbanes-Oxley.
Dan juga mengandalkan pengendalian yang efektif, terutama bila pemrosesan
transaksi sehari-hari melibatkan prosedur yang sangat terotomasi
d. Risiko yang Dapat Diterima
Ukuran kesediaan auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan mungkin
mengandung salah saji yang material setelah audit selesai, dan pendapat wajar
tanpa pengecualian telah dikeluarkan. Apabila auditor memutuskan risiko
audit yang dapat diterima lebih rendah, auditor ingin lebih yakin bahwa
laporan keuangan tidak disalah sajikan secara material.
Terdapat hubungan langsung antara risiko audit yang dapat diterima dan risiko
deteksi yang direncanakan, serta hubungan berbanding terbalik antara risiko
audit yang dapat diterima dan bukti yang direncanakan. Jika auditor
memutuskan untuk mengurangi risiko audit yang dapat diterima, risiko
deteksi yang direncanakan juga dikurangi, dan bukti yang direncanakan harus
ditambah.
6. Menilai Risiko Audit yang Dapat Diterima
Risiko penugasan (engagement risk) adalah risiko bahwa auditor atau kantor
akuntan public akan menderita kerugian setelah audit selesai, walaupun laporan
audit sudah benar.
Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Audit yang Dapat Diterima
1) Derajat ketergantungan Pemakai Eksternal pada Laporan Keuangan
Jika pemakai eksternal sangat tergantung pada laporan keuangan, maka tepat
untuk mengurangi risiko audit yang dapat diterima. Jika laporan keuangan
17
sangat diandalkan, mungkin saja timbul kerugian social yang besar jika salah
saji yang signifikan dalam laporan keuangan tetap tidak tertdeteksi. Beberapa
factor yang merupakan indicator yang baik mengenai derajat ketergantungan
pemakai eksternal pada laporan keuangan :
 Ukuran klien Secara umum,
semakin besar operasi klien, semakin luas pemakaian laporan
keuangan. Ukuran klien, yang diukur menurut total aktiva atau total
pendapatan, akan mempengaruhi risiko audit yang dapat diterima
 Distribusi kepemilikan
Laporan keuangan perusahaan terbuka umumnya diandalkan oleh lebih
banyak pemakai ketimbang laporan keuangan perusahaan tertutup.
Bagi perusahaan- perusahaan ini, pihak-pihak yang berkepentingan
mencakup SEC, para analis keuangan, serta masyarakat umum
 Sifat dan jumlah kewajiban
Apabila dalam laporan keuangan terdapat kewajiban berjumlah besar,
laporan keuangan tersebut kemungkinan besar akan digunakan secara
luas oleh kreditor actual maupun calon kreditor, ketimbang apabila
kewajiban berjumlah kecil
2) Kemungkinan Bahwa Klien akan mengalami Kesulitan Keuangan Setelah
Laporan Audit dikeluarkan
Jika klien terpaksa mengajukan permohonan kebangkrutan atau menderita
kerugian yang besar setelah audit selesai, auditor menghadapi kemungkinan
yang lebih besar untuk membela mutu audit ketimbang jika klien tidak tidak
mengalami tekanan keuangan.
Beberapa faktor yang merupakan indicator yang baik bahwa probabilitasnya
meningkat :
 Posisi likuiditas
Jika klien terus mengalami kekurangan kas serta modal kerja, hal ini
mengindikasikan ada masalah dalam membayar tagihan di masa depan.
Auditor harus menilai kemungkinan dan signifikansi posisi likuiditas
yang terus menurun
 Laba (rugi) tahun-tahun sebelumnya

18
Jika suatu perusahaan mengalami penurunan laba atau kenaikan
kerugian yang pesat selama beberapa tahun, auditor harus mengetahui
masalah solvensi yang mungkin dihadapi klien di masa depan. Auditor
juga harus mempertimbangkan perubahan laba relative terhadap saldo
laba ditahan yang tersisa
 Metode pembiayaan pertumbuhan
Jika klien semakin mengandalkan utang sebagai alat pembiayaan,
semakin besar risiko kesulitan keuangan jika keberhasilan operasi klien
menurun. Auditor harus mengevaluasi apakah asset tetap klien dibiayai
dengan pinjaman jangka pendek atau jangka panjang karena kebutuhan
arus kas keluar yang berjumlah besar dalam jangka pendek dapat
membuat perusahaan pailit.
 Sifat operasi klien
Jenis bisnis tertentu memiliki risiko inheren yang lebih besar dari yang
lainnya.
 Kompetensi manajemen
Manajemen yang kompeten akan selalu waspada terhadap potensi
kesulitan keuangan dan akan memodifikasi metode operasinya untuk
meminimalkan dampak masalah jangka pendek. Auditor harus menilai
kemampuan manajemen sebagai bagian dari evaluasi atas
kemungkinan terjadinya kepailitan.
3) Evaluasi Auditor atas Integritas Manajemen
Jika klien memiliki integritas yang meragukan, auditor mungkin akan menilai
risiko audit yang dapat diterima yang lebih rendah. Perusahaan yang memiliki
integritas yang rendah seringkali menjalankan urusan bisnisnya dengan cara
yang akhirnya menimbulkan konflik dengan para pemegang saham, pembuat
peraturan, serta pelanggan
7. Risiko Bawaan (Inherent Risk)
Inherent risk didefinisikan sebagai suatu ukuran yang dipergunakan oleh auditor
dalam menilai adanya kemungkinan terdapat sejumlah salah saji yang material
dalam suatu segmen sebelum auditor mempertimbangkan keefektifan dari
pengendalian intern yang ada (Arens, 2001) Dengan mengasumsikan tidak adanya
pengendalian intern, maka risiko inheren dapat dinyatakan sebagai kerentanan
19
laporan keuangan terhadap salah saji yang material. Maka auditor akan
menyimpulkan tingkat risiko inherennya tinggi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Inherent Risk
Menurut Arens, terdapat beberapa faktor yang perlu ditelaah oleh auditor dalam
menetapkan risiko bawaan, yaitu:
 Sifat bisnis klien
Auditor harus memperoleh pemahaman yang memadai tentang entitas dan
lingkungannya, termasuk pengendalian internalnya, untuk menilai risiko
salah saji yang material pada laporan keuangan baik karena kekeliruan atau
kecurangan, dan baik untuk merancang sifat, penetapan waktu serta luas
prosedur audit selanjutnya.
 Temuan audit yang diperoleh dari audit-audit sebelumnya
Salah saji yang dikemukakan pada audit tahun sebelumnya kemungkinan
besar akan ditemukan kembali pada penugasan audit tahun berjalan. Hal ini
diakibatkan karena sebagian besar jenis salah saji umumnya bersifat
sistematik atau teratur, serta organisasi -organisasi seringkali mengalami
keterlambatan dalam melakukan sejumlah perubahan dalam menghapuskan
salah saji tersebut. Oleh karena itu, auditor akan dianggap cerolboh jika ia
mengabaikan temuan audit yang diperoleh pada tahun sebelumnya, pada
saat ia melakukan penyusunan program audit atas penugasan audit tahun
berjalan.
 Penugasan awal versus penugasan ulang
Para auditor memperoleh pengetahuan serta pengalaman tentang
kemungkinan terjadinya salah saji satelah mereka melaksanakan penugasan
audit selama beberapa tahun. Kurangnya penemuan audit yang diperoleh
dari penugasan audit sebelumnya dapat menyebabkan para auditor
menetapkan suatu tingkat risiko inheren yang lebih tinggi daripada tingkat
risiko inheren yang ditetapkan atas penugasan audit ulangan, dimana pada
penugasan audit sebelumnya tidak ditemukan salah saji yang material.
Mayoritas auditor menetapkan suatu tingkat risiko inheren yang tinggi pada
tahun pertama penugasan auditnya serta pada tahun-tahun berikutnya akan
mengurangi tingkat risiko tersebut setelah mereka memperoleh sejumlah
pengalaman.
20
 Pihak-pihak terkait
Berbagai transaksi yang terjadi antara perusahaan induk dan perusahaan
anak serta transaksi transaksi yang terjadi antara pihak manajemen dengan
entitas perusahaan merupakan contoh- contoh dari transaksi dengan pihak
terkait sebagaimana yang terdefinisikan dalam SFAS 57. Karena berbagai
transaksi ini tidak terjadi pada berbagai pihak yang independen yang
bertransaksi sejauh jangkauan tangan saja, maka kemungkinan transaksi
transaksi tersebut mengalami salah saji yang lebih besar akan
mengakibatkan peningkatan nilai risiko inheren.
 Berbagai transaksi non rutin
Berbagai transaksi yang tidak umum dilakukan oleh klien memiliki
kemungkinan lebih besar akan dicatat secara tidak benar oleh pihak klien
daripada pencatatan atas berbagai transaksi yang rutin karena pihak klien
kurang memiliki pengalaman dalam melakukan pencatatan atas transaksi
tersebut. Sebagai contoh atas transaksi mencakup kerugian akibat
kebakaran, sejumlah akuisisi properti yang besar, serta perjanjian-perjanjian
leasing.
 Pertimbangan yang diperlukan untuk mengkoreksi pencatatan berbagai
saldo dan transaksi akun
Beberapa saldo akun memerlukan sejumlah estimasi dan suatu
pertimbangan yang besar dari pihak manajemen. Contoh-contoh atas jenis
akun ini adalah cadangan atas piutang tak tertagih, nilai persediaan yang
usang, kewajiban atas pembayaran warrant, serta cadangan kerugian kredit
bank. Serupa dengan itu, berbagai transaksi atas perbaikan utama atau
penggantian sejumlah aktiva merupakancontoh-contoh dimana sejumlah
pertimbangan diperlukan agar dapat mencatat transaksi tersebut dengan
benar.
 Penyusunan populasi

21
Seringkali, berbagai item individual yang menyusun total populasi turut
memberikan pengaruh pada ekspetasi auditor yang akan salah saji yang
material. Sebagai contoh, mayoritas akan mempergunakan tingkat risiko
yang tinggi pada risiko inheren yang tinggi pada piutang dagang ketika
sebagian besar tagihan piutang dagangnya telah jatuh tempo, yang
mengharuskan ditetapkan suatu tingkat risiko inheren yang tinggi dan
selanjutnya dibutuhkan investigasi yang lebih mendalam karena umumnya
pada situasi-situasi tersebut terdapat sejumlah kemungkinan yang lebih
besar akan terjadinya salah saji daripada mayoritas transaksi yang umum.

8. Hubungan Risiko dengan Bukti dan Faktor yang Mempengaruhi Risiko


Auditor merespons risiko terutama dengan mengubah luas pengujian dan
jenis prosedur audit, termasuk memasukkan unsur ketakterdugaan dalam
proseusr audit yang digunakan. Selain memodifikasi bukti audit, ada dua cara
lain yang dapat dipakai auditor untuk mengubah audit guna merespons risiko:
1) Penugasan mungkin membutuhkan staf yang lebih berpengalaman.
Untuk setiap penugasan, kantor akuntan public harus menugaskan staf
yang berkualifikasi. Untuk klien dengan risiko audit dapat diterima yang
rendah, perhatian khusus harus diberikan dalam memilih staf, dan
pentingnya skeptisisme professional harus ditekankan.
22
2) Penugasan akan direview secara lebih seksama dari biasanya.
Kantor akuntan public harus memastikan bahwa file audit yang
mendokumentasikan rencana auditor, bukti yang dikumpulkan serta
kesimpulan, dan masalah-masalah lain dalam audit, direview dengan
memadai. Bila risiko audit tyang dapat diterima rendah, sering kali harus
dilakukan review yang lebih ekstensif, termasuk review oleh personil yang
tidak ditugaskan dalam penugasan itu. Jika risiko salah saji yang material
tinggi untuk akun-akun tertentu, staf yang mereview mungkin akan
menghabiskan lebih bayak waktu untuk memastikan bukti sudah tepat dan
sudah dievaluasi dengan benar.
Risiko Audit untuk Segmen-segmen
Risiko salah saji yang material, risiko pengendalian, dan risiko inheren
dinilai untuk setiap tujuan audit dalam setiap segmen audit. Dalam audit yang
sama penilaian ini mungkin akan bervariasi dari sikluas ke siklus, dari akun ke
akun, serta dari tujuan ke tujuan. Risiko audit yang dapat diterima biasanya
dinilai oleh auditor selama tahap perencanaan dan tidak berubah pada setiap
siklus serta akun utama. Auditor umumnya menggunakan tingkat risiko audit
yang dapat diterima yang sama untuk setiap segmen.
Akan tetapi, dalam beberapa kasus risiko audit yang dapat diterima yang
lebih rendah mungkin lebih tepat untuk satu akun ketimbang untuk akun-akun
lainnya. Jika auditor memutuskan untuk menggunakan tingkat risiko audit
yang dapat diterima menengah untuk keseluruhan audit, auditor itu dapat saja
memutskan untuk menurunkan risiko audir dapat diterima ke tingkat yang
rendah untuk persediaan, jika persediaan digunakan sebagai agunan atas
pinjaman jangka pendek. Beberapa auditor menggunakan risiko audit yang
dapat diterima sama untuk semua segmen berdasarkan keyakinannya. Namun,
perhatikan bahwa mengubah risiko untuk segmen-segmen yang berbeda juga
boleh dilakukan.
Seperti risiko pengendalian dan risiko inheren, risiko deteksi yang
direncanakan serta bukti audit yang dibutuhkan akan bervariasi dari siklus ke
siklus, akun ke akun, atau tujuan ke tujuan. Walaupun menilai risiko inheren
dan risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit yang berkaitan dengan saldo
merupakan praktik yang umum, mengalokasikan materialitas ke tujuan
23
tersebut bukan merupakan hal yang umum. Para auditor dapat mengaitkan
sebagian besar risiko dengan tujuan yang berbeda secara efektif dan relative
mudah untuk menentukan hubungan antara risiko dengan satu atau dua tujuan.
Merevisi Risiko dan Bukti
1) Auditor harus mervisi penilaian awal atas tingkat risiko yang tepat. Jika
auditor mengetahui bahwa penilaian awalnya tidak tepat tetapi dibiarkan
tidak berubah, itu melanggar standard kemahiran.
2) Auditor harus memperitmbangkan dampak revisi tersebut terhadap
kebutuhan bukti, tanpa menggunakan model risiko audit.
9. Hubungan Materialitas dan Risiko dengan Bukti Audit
Konsep materialitas dan risiko dalam auditing berkaitan erat dan tidak
terpisahkan. Risiko adalah ukuran ketidakpastian, sedangkan materialitas
mengukur besarannya. Secara bersama- sama, keduanya mengukur ketidakpastian
jumlah dengan besaran tertentu.
Hubungan antara materialitas kinerja dan keempat risiko dengan bukti audit
yang direncanakan diamati bahwa materialitas kinerja tidak mempengaruhi
keempat risiko itu, dan risiko-risiko itu tidak mempengaruhi materialitas kinerja,
tetapi bersama-sama menentukan bukti yang direncanakan. Dengan kata lain,
materialitas kinerja bukan merupakan bagian dari model risiko audit, tetapi
kombinasi materialitas kinerja dan factor-faktor model risiko audit menentukan
bukti audit yang direncanakan.

C. STRATEGI AUDIT AWAL


Karena adanya hubungan antara tingkat materialitas, risiko audit, dan bukti audit, auditor
dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit atas asersi individual atau
sekelompok asersi. Strategi audit awal dibagi menjadi dua macam, yaitu pendekatan terutama
substantif (primarily substantive approach), dan pendekatan tingkat risiko pengendalian
taksiran rendah (lower assessed level of control risk approach).
1. Komponen Strategi Audit Pendahuluan
Dalam mengembangkan strategi audit pendahuluan untuk asersi-asersi, auditor
menspesifikasikan empat kompopnen sebagai berikut:
a. Tingkat risiko bawaan yang dinilai
b. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai dengan
mempertimbangkan:
24
1) Luas pemahaman mengenai pengendalian intern yang diperoleh
2) Pengujian pengendalian yang dilaksanakan dalam mengukur risiko pengendalian
c. Tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai dengan
mempertimbangkan:
1) Luas pemahaman tentang bisnis dan industri yang diperoleh
2) Prosedur analitis yang akan dilaksanakan yang menyediakan bukti mengenai
penyajian wajar dari suatu asersi.
d. Tingkat pengujian rincian yang direncanakan, apabila dikombinasikan dengan
prosedur lain, mengurangi risiko audit hingga tingkat rendah yang sesuai.
Pedoman audit AICPA mengenai Consideration of Internal Control Structur in a
Financial Statement Audit memperkalkan dua strategi audit utama yang ekuivalen
dengan (1) suatu pendekatan substantif utama yang menekankan pengujian rincian dan
(2) suatu tingkat risiko pengendalian yang dinilai lebih rendah.
a. Pendekatan Substantif Utama dengan Penekanan terhadap Pengujian Terinci
Menurut pendekatan substantif utama yang menekankan pengujian terinci (primarily
substantive approach emphasizing tests of details), auditor menspesifikasikan
komponen-komponen strategi audit sebagai berikut :
1) Gunakan tingkat risiko prosedur analisis yang direncanakan untuk dinilai pada
tingkat yang tinggi.
2) Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada
tingkat yang tinggi (atau pada tingkat maksimum).
3) Rencanakan untuk memperoleh pemahaman minimum mengenai bagian-bagian
yang relevan dari pengendalian intern.
4) Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
5) Rencanakan pengujian substantif yang luas atas transaksi dan saldo berdasarkan
pada tingkat risiko deteksi yang direncanakan dapat diterima yang rendah.
Auditor dapat memilih pendekatan ini ketika ia mengetahui dari awal, mungkin dari
pengalaman masa lalu berhadapan dengan klien atau dari langkah awal perencanaan
awal, bahwa pengendalian intern yang berkaitan dengan asersi tidak ada atau tidak
efektif.
Strategi ini juga dapat dipilih ketika auditor menyimpulkan bahwa biaya
melaksanakan prosedur tambahan untuk memperoleh suatu pemahaman yang lebih
mendalam mengenai pengendalian intern dan pengujian pengendalian untuk
mendukung tingkat risiko pengendalian yang lebih rendah akan melebihi biaya
pelaksanaan substantif yang lebih luas. Kondisi tersebut dapat berhubungan dengan

25
esersi untuk akun-akun yang memiliki populasi relatif kecil atau transaksi yang tidak
sering terjadi.
b. Tingkat Risiko Pengendalian yang Dinilai Lebih Rendah
Menurut pendekatan tingkat risiko pengendalian yang dinilai lebih rendah (lower
assessed level of control risk), auditor mensfesifikasikan komponen-komponen dari
strategi audit sebagai berikut :
1) Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai pada
tingkat yang tinggi.
2) Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada
tingkat sedang atau rendah.
3) Rencanakan pengujian pengendalian, mungkin pengujian pengendalian
komputer yang berada dalam sistem klien.
4) Rencanakan pengujian substantif atas transaksi atau saldo yang terbatas
berdasarkan tingkat risiko deteksi yang direncanakan untuk diterima pada
tingkat sedang atau tinggi.
Auditor dapat memilih strategi ini ketika ia percaya bahwa pengendalian yang
berhubungan dengan suatu asersi telah dirancang dengan baik dan berjalan dengan
sangat efektif. Selain itu, auditor harus percaya bahwa biaya pelaksanaan prosedur
yang lebih luas untuk memperoleh pemahaman mengenai pengendalian intern,
termasuk aspek komputer dari pengendalian intern, dan untuk menguji pengendalian
akan lebih besar daripada yang diimbangi oleh penghematan biaya dari pelaksanaan
pengujian substantif atas transaksi dan saldo yang lebih sempit.
2. Strategi Audit Tambahan
Pendekatan Substantif Utama yang Menekankan Pada Prosedur Analitis. Menurut
pendekatan substantive utama yang menekankan pada prosedur analitis, auditor
menspesifikasikan komponen-komponen strategi audit berikut:
1) Memperoleh pengetahuan yang luas mengenai proses bisnis klien yang releven
dengan asersi
2) Auditor mengantisipasi bahwa dia dapat memperoleh bukti kompeten dari
prosedur analitis untuk mendukung suatu penilaian risiko sedang atau rendah
dari bukti tersebut.
3) Gunakan suatu tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai
4) Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum mengenai bagian
relevan dari pengendalian intern.
5) Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum mengenai bagian
relevan dari pengendalian intern.
26
6) Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
7) Rencanakan pengujian substantive atas transaksi dan saldo yang lebih sempit
sebagai akibat dari pengurangan risiko yang diberikan dari pengurangan risiko
yang diberikan prosedur analitis.
3. Penekanan pada Risiko Bawaan dan Prosedur Analitis
Penekanan pada risiko bawaan dan prosedur analitis juga mngasumsikan bahwa prosedur
analitis lebih murah dari pada prosedur audit lainnya, oleh karena itu, pendekatan auditor
menspesifikasikan komponen-komponen strategi audit sebagai berikut:
1) Risiko bawaan dinilai pada tingkat di bawah maksimum.
2) Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai serendah
mungkin.
3) Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada tingkat
yang tinggi (atau pada tingkat maksimum)
4) Rencanakan untuk memperoleh pemahaman minimum mengenai bagian yang
relevan dari pengendalian intern.
5) Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
6) Rencanakan pengujian substantive atas transaksi dan saldo yang lebih sempit
sebagai akibat dari pengurangan risiko yang diberikan dari pengurangan risiko
bawaan dan prosedur analitis yang lebih rendah.
4. Hubungan antara Strategi dan Siklus Transaksi
Seringkali suatu strategi yang serupa diterapkan pada sekelompok asersi yang
dipengaruhi oleh golongan transaksi dalam suatu siklus transaksi. Logikanya adalah
bahwa banyak pengendalian intern berfokus pada pemrosesan satu jenis transaksi dalam
satu siklus. Meskipun, kantor akuntan menggunakan nama yang berbeda untuk golongan
transaksi, dan dalam beberapa kasus bahkan berbeda dalam menspesifikasikan golongan
transaksi mana yang masuk dalam siklus tertentu.
siklus Golongan transaksi utama
Pendapatan Penjualan, penerimaan kas, dan penyesuaian penjualan
Pengeluaran Pembelian dan pengeluaran kas
Jasa personel Penggajian
Produksi Memproses persediaan
Investasi Investasi dalam aktiva jangka panjang atau investasi moneter dari
kelebihan kas
Pembiayaan Pembiayaan dari hutang lancar dan hutang jangka panjang serta
modal saham

27
BAB III
PENUTUP

D. KESIMPULAN
Ada dua konsep yang melandasi keyakinan yang diberikan oleh auditor, yaitu
konsep materialitas dan konsep risiko audit. Konsep materialitas menunjukkan
seberapa besar salah saji yang dapat diterima oleh auditor agar para user laporan
keuangan tdak terpengaruh dengan salah saji tersebut. Sedangkan konsep risiko audit
menunjukkan tingkat risiko kegagalan auditor untuk mengubah pendapatnya atas
laporan keuangan walaupun terdapat salah saji material.
Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji suatu
informasi akuntasi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya. Dimana hal
tersebut dapat mengakibatkan perubahan atau pengaruh terhadap pertimbangan pihak-
pihak yang berkepentingan. Langkah-langkah dalam menerapkan materialitas yaitu
menetapkan materialitas untuk laporan keuangan secara keseluruhan, menentukan
materialitas kinerja, mengestimasi total salah saji dalam segmen, mengestimasi salah
saji gabungan, serta membandingkan estimasi salah saji gabungan dengan
pertimbangan pendahuluan atau yang direvisi tentang materialitas.
Risiko dalam auditing berarti bahwa auditor menerima suatu tingkat
ketidakpastian tertentu dalam pelaksanaan audit. Risiko audit terdiri atas 4 yaitu risiko
deteksi yang direncanakan (planned detection risk), risiko inheren (inherent risk),
risiko pengendalian, serta risiko yang dapat diterima. Adanya hubungan antara tingkat
materialitas, risiko audit dan bukti audit, auditor dapat memilih strategi audit awal
dalam perencanaan audit atas asersi individual atau kelompok asersi.

E. SARAN
Meskipun kelompok kami menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan
dan pembuatan makalah ini akan tetapi pada kenyataannya masih banyak kekurangan
yang perlu kami perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan kami
dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu kami harapkan kritik dan saran dari
pembaca dan dosen pengampu mata kuliah Pengauditan I ini dapat memberikan kami
motivasi, kritik dan saran yang membangun sebagai bahan evaluasi makalah ini untuk
kedepannya.

28
DAFTAR PUSTAKA

Alvin A. Arens, R. J. (2015). Auditing dan Jasa Assurance (15 ed.). (S. Saat, Ed.) Jakarta:
Erlangga.

Institut Akuntan Publik Indonesia. (2013). Standar Profesional Akuntan Publik. Retrieved
from iapi.or.id: https://iapi.or.id/Iapi/detail/362

Johnson, W. C. (2006). Modern Auditing: Assurance Services and the Integrity of Financial
Reporting (8 ed.). New York: John Wiley & Sons, Inc.

Mulyadi. (2002). Auditing (6 ed.). Jakarta: Salemba Empat.

29

Anda mungkin juga menyukai