Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM PERUNDANG-UNDANGAN

NAMA : SILVI NOFITA SARI


NIM : 011700020
PRODI : TEKNOKIMIA NUKLIR 2017

Dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional Nomor 16 Tahun 2013
tentang Keselamatan Radiasi Dalam Penyimpanan Technologically Enhanched Naturally
Occurring Radioactive Material, pemegang izin harus menyampaikan verifikasi keselamatan
untuk memastikan keselamatan TENORM. Selain itu pemegang izin harus menyampaikan
dan menyimpan rekaman verivikasi keselamatan radiasi.  Pemegang Izin dalam menerapkan
Proteksi dan Keselamatan Radiasi harus menyusun, melaksanakan, dan mengembangkan
program proteksi dan keselamatan radiasi. Kajian keselamatan meliputi :

1. Sifat, besar, dan kemungkinan terjadinya Paparan Potensial; b. batasan dan kondisi
teknis untuk pengoperasian Sumber; c.kemungkinan terjadinya kegagalan struktur,
sistem,

2. Komponen yang terkait dengan Proteksi dan Keselamatan Radiasi yang mengarah
pada terjadinya Paparan Potensial dan konsekuensi jika terjadi kegagalan;

3. Kemungkinan kesalahan prosedur operasi yang terkait dengan proteksi dan


keselamatan dan konsekuensi jika terjadi kesalahan;

4. Perubahan rona lingkungan yang mempengaruhi Proteksi dan Keselamatan Radiasi;


dan

5. Dampak dilakukannya modifikasi Sumber terhadap Proteksi dan Keselamatan


Radiasi.

Laporan verifikasi keselamatan radiasi untuk x-ray radiografi Industri, x-ray diagnostik, well
logging, iradiator, gauging, dan kamera gamma industri adalah sebagai berikut :

No Dasar Hukum Penggunaan Isi Laporan Verifikasi Keselamatan


1.  Hasil pemantauan paparan
radiasi

 Penggantain tabung sinar-X


Perka Bapeten No. Pesawat Sinar-X untuk
6 Tahun 2009 Peralatan Gauging
 Hasil perawatan peralatan
gauging dengan keselamatan
radiasi

2.  Data zat radioaktif

 Hasil pemantauan paparan


radiasi

Perka Bapeten No.  Hasil pengujian kebocoran zat


Well Logging
5 Tahun 2009 radioaktif

 Hasil perawatan well loging


terkait dengan keselamatan
radiasi

3. Perka Bapeten No.  Hasil pemeriksaan indikator


3 Tahun 2020 status sistem keselamatan
Iradiator Kategori I
 Hasil pemeriksaan sistem
dengan Sumber
pengaman saling kunci
Radioaktif dan
Pembangkit Radiasi
 Hasil pemeriksaan peralatan
Pengion
penghenti darurat

 Hasil uji kebocoran sumber


radioaktif

Iradiator Kategori II,  Hasil pengujian terhadap


III, IV dengan Sumber parameter keselamatan
Radioaktif
 Hasil uji kebocoran sumber
radioaktif

Iradiator Kategori II  Hasil pengujian terhadap


dengan Pembangkit parameter keselamatan
Radiasi Pengion
4.  Hasil pemantauan paparan
radiasi

Pesawat Sinar-X untuk  Hasil uji kesesuaian pesawat


Perka Bapeten No.
Radiologi Diagnostik sinar-X
8 Tahun 2011
dan Intervensional
 Hasil identifikasi terjadinya
paparan potensial

5. Perka Bapeten No.  Hasil pemantauan paparan


7 Tahun 2009 radiasi.

 Penggantian tabung sinar-X


Pesawat Sinar-X untuk
Radiografi Industri
 Hasil perawatan peralatan
radiografi yang terkait dengan
keselamatan radiasi

Kamera Gamma  Data zat radioaktif


Industri
 Hasil pemantauan paparan
radiasi

 Hasil pengujian kebocoran zat


radioaktif

 Data penggantian zat radioaktif

 Hasil perawatan peralatan


radiografi yang terkait dengan
keselamatan radiasi

1. Perka Bapeten No. 6 Tahun 2009

pemantauan paparan radiasi terhadap personil harus sesuai prosedur yang


ditetapkan oleh Pemegang Izin serta pemantauan paparan radiasi di sekitar daerah kerja
harus dilakukan secara periodik paling kurang 1 (satu) kali dalam 2 (dua) minggu oleh
Petugas Proteksi Radiasi. Penggantian tabung sinar-x harus dilakukan untuk menjamin
performa tabung sinar-x dalam keadaan baik saat digunakan sehingga keselamatan selama
pemakaian alat pun dapat terjaga. Selain itu juga sebagai data yang digunakan untuk
mengetahui banyaknya penggantian tabung sinar-x yang telah dilakukan. Pada pasal pasal
43 dijelaskan bahwa pemeriksaan komponen peralatan Gauging guna dilakukan
perawatan sehingga kondisi peralatan gauging dalam keadaan baik, paling kurang
dilakukan terhadap:

a. kolimator;

b. detektor;

c. sistem pengkabelan; dan

d. parameter yang tertera pada panel kendali.

2. Perka Bapeten No. 5 Tahun 2009

Data zat radioaktif perlu diketahui agar lebih mudah dalam penelusuran zar radioaktif
tersebut sehingga tidak disalah gunakan. Zat radioaktif yang digunakan untuk well
logging sesuai dengan Perka Bapeten, meliputi:
a. Zat Radioaktif Terbungkus;
b. Zat Radioaktif Terbuka; dan
c. Penanda Radioaktif.

Zat radioaktif terbungkus tidak termasuk zat radioaktif untuk kalibrasi (calibration
source) peralatan well logging. Zat radioaktif terbuka hanya digunakan untuk kegiatan
perunut (Tracer) yang merupakan bagian dari well logging.
uji kebocoran zat radioaktif harus dilakukan paling kurang sekali dalam 6 (enam)
bulan. Pengambilan sampel uji kebocoran dapat dilakukan oleh Petugas Proteksi Radiasi.
Sampel uji kebocoran dikirim ke dan dibaca oleh laboratorium yang terakrediatasi untuk
dievaluasi. Serta pada pasal 41 juga dijelaskan bahwa hasil evaluasi sampel uji kebocoran
harus disampaikan oleh Pemegang Izin kepada Kepala BAPETEN. Dalam hal hasil
evaluasi uji kebocoran melebihi 185 Bq (seratus delapan puluh lima becquerel) atau 5 nCi
(lima nano curie), maka zat radioaktif dilarang digunakan. Lalu pada pasal 42 jika zat
radioaktif dilarang digunakan maka Pemegang Izin harus mengirim zat ke:

a. negara asal; atau


b. fasilitas pengelolaan limbah.

Penggantian tabung zat radioaktif harus dilakukan untuk menjamin performa zat
radioaktif dalam keadaan baik saat digunakan sehingga keselamatan selama pemakaian
alat pun dapat terjaga. Selain itu juga untuk mendata berapa banyak zat radioaktif yang
telah digunakan sehingga lebih tertelusur zat radioaktifnya. Pemeriksaan kondisi
peralatan utama dan peralatan penunjang guna melakukan perawatan harus dilakukan
sehingga peralatan tetap dalam kondisi baik.

3. Perka Bapeten No. 3 Tahun 2020

a. Iradiator Kategori I dengan Sumber Radioaktif dan Pembangkit Radiasi


Pengion

Indikator status sistem keselamatan sangat penting untuk menunjukan status


keselamatan saat alat dioperasikan. Dengan begitu keselamatan operator iradiator
akan terjaga saat mengoperasikan alat. Maka dari itu pemeriksaan indikator status
sistem keselamatan perlu dilakukan agar indikator ini dapat menunjukan bahaya
saat terjadi kecelakaan saat pengoperasian alat.

Sistem pengaman saling kunci diperlukan untuk mencegah adanya kecelakaan


saat pengoperasian alat iradiator. Dengan adanya sistem ini maka jika terjadi
kecelakaan maka operator tidak langsung terkena dampaknya karena ada sistem
pengaman yang saling mengunci dampak dari kecelakaan tersebut. Maka dari itu
pemeriksaan sistem pengaman saling kunci pentimg untuk dilakukan.

Sama seperti sistem pengaman saling kunci, peralatan penghenti darurat juga
diperlukan untuk mencegah adanya kecelakaan saat pengoperasian alat iradiator.
Dengan adanya peralatan ini maka jika terjadi kecelakaan, operator bisa langsung
menghentikan beroperasinya alat menghentikan operasi yang berlangsung
sehingga kecelakaan bisa dihindari. Maka dari itu pemeriksaan penghenti darurat
penting utnuk dilakukan.

Uji kebocoran sumber radioaktif harus dilakukan sekali dalam 6 (enam) bulan.
Pengambilan sampel uji kebocoran dapat dilakukan oleh Petugas Proteksi Radiasi.
Sampel uji kebocoran harus dievaluasi oleh laboratorium yang terakreditasi atau
yang telah ditunjuk oleh Kepala Badan. Serta pada pasal 77 juga dijelaskan bahwa
hasil evaluasi sampel uji kebocoran sumber radioaktif harus disampaikan oleh
Pemegang Izin kepada Kepala Badan. Jika hasil evaluasi uji kebocoran melebihi
185 Bq (seratus delapan puluh lima becquerel) atau 5 nCi (lima nano curie), maka
sumber radioaktif dilarang digunakan.

b. Iradiator Kategori II, III, IV dengan Sumber Radioaktif

Pemegang Izin wajib secara periodik melakukan pengujian terhadap paramater


keselamatan, yang meliputi:

 uji mingguan;

 uji bulanan; dan

 uji enam bulanan.

Dalam pasal 80 dijelaskan bahwa uji mingguan meliputi:

 pemantauan tingkat radiasi pada filter udara;

 pemantuan sistem pengondisian air;

 pemeriksaan panel kendali;


 pemeriksaan peralatan penghenti darurat pada ruangan iradiasi; dan/atau

 pemeriksaan akses personel ke ruangan iradiasi.

Selain uji mingguan diatas, Pemegang izin dapat menambahkan uji bulanan
sesuai dengan rekomendasi yang berasal dari pabrikan Iradiator. Dalam pasal 81
dijelaskan bahwa uji bulanan, meliputi pemeriksaan:

 monitor radiasi di ruangan iradiasi dengan menggunakan sumber radiasi


standar (check source);

 pintu akses ke ruangan iradiasi dengan menggunakan sumber radiasi


standar pada

 monitor radiasi yang memicu alarm sehingga berbunyi;


c. monitor radiasi di tempat keluar kontainer barang dengan menggunakan
sumber radiasi standar;

 kontainer barang dan sistem penggerak;

 sistem deteksi suhu ruangan iradiasi;

 sistem indikator posisi rak Sumber Radioaktif; mekanisme sistem


penggerak rak Sumber Radioaktif;

 sistem ventilasi;

 tombol penghenti operasi di panel kendali dan di ruangan iradiasi;

 alarm yang dapat didengar dan dilihat, tanda dan peringatan, dan lampu-
lampu indikator

 pada panel kendali;

 catu daya bebas gangguan;


 sistem pemadam kebakaran, termasuk peralatan untuk mendeteksi panas
dan asap;

 pengatur waktu tunda; dan

 sistem pengaman saling kunci secara menyeluruh untuk memastikan


operasi tidak dapat dilakukan jika terdapat fitur keselamatan yang
dilanggar.

Selain uji bulanan, untuk Iradiator Kategori III dengan Sumber Radioaktif dan
Iradiator Kategori IV dengan Sumber Radioaktif, uji bulanan juga harus meliputi:

 pemeriksaan monitor radiasi terpasang tetap di sistem pengondisian air;

 pemeriksaan sensor ketinggian air kolam; dan

 pemeriksaan cadangan air (makeup water).

Selain uji bulanan diatas, Pemegang izin dapat menambahkan uji


bulanan sesuai dengan rekomendasi yang berasal dari pabrikan Iradiator.
Dalam pasal 82 dijelaskan bahwa uji enam bulanan berupa pemeriksaan sistem
penggerak rak Sumber Radioaktif.

Pada Pasal 89 dijelaskan jika dalam hal hasil pengujian sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 79 menunjukkan adanya ketidaksesuaian data yang
dapat memicu terjadinya kondisi abnormal, Pemegang Izin wajib
melaksanakan perawatan khusus. Perawatan khusus dapat dilakukan oleh
Pemegang Izin dengan berkoordinasi dengan pabrikan. Pelaksanaan perawatan
khusus wajib dilaporkan secara tertulis kepada Kepala Badan paling lambat 3
(tiga) hari setelah pelaksanaan perawatan khusus.

Pasal 83 dijelaskan bahwa untuk Iradiator Kategori II dengan Sumber


Radioaktif, uji kebocoran Sumber Radioaktif harus dilakukan sekali dalam 6
(enam) bulan. Pengambilan sampel uji kebocoran Sumber Radioaktif harus
dilakukan oleh Petugas Proteksi Radiasi. Sampel uji kebocoran Sumber
Radioaktif harus dievaluasi oleh laboratorium yang terakreditasi atau yang
telah ditunjuk oleh Kepala Badan. Serta pada pasal 84 dijelaskan bahwa hasil
evaluasi sampel uji kebocoran Sumber Radioaktif wajib disampaikan oleh
Pemegang Izin kepada Kepala Badan. Jika hasil evaluasi sampel uji kebocoran
Sumber Radioaktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melebihi 185 Bq
(seratus delapan puluh lima becquerel) atau 5 nCi (lima nanocurie), Sumber
Radioaktif dilarang digunakan.

c. Iradiator Kategori II, III, IV dengan Sumber Radioaktif

Pada pasal 85 dijelaskan bahwa Pemegang Izin wajib secara periodik melakukan
pengujian terhadap paramater keselamatan, yang meliputi:

 uji mingguan;

 uji bulanan; dan

 uji enam bulanan.

Dalam pasal 86 dijelaskan bahwa uji mingguan meliputi:

 pemantauan tingkat radiasi pada filter udara;

 pemeriksaan panel kendali;

 pemeriksaan peralatan penghenti darurat pada ruangan iradiasi; dan/atau

 pemeriksaan akses personel ke ruangan iradiasi.

Dalam pasal 87 dijelaskanu ji bulanan meliputi pemeriksaan:

 monitor radiasi di ruangan iradiasi dengan menggunakan sumber radiasi


standar;

 pintu akses ke ruangan iradiasi dengan menggunakan sumber radiasi


standar pada monitor radiasi yang memicu alarm sehingga berbunyi;
 monitor radiasi di tempat keluar kontainer barang dengan menggunakan
sumber radiasi standar;

 kontainer barang dan sistem penggerak;

 sistem ventilasi;

 peralatan penghenti darurat di panel kendali dan di ruangan iradiasi;

 alarm yang dapat didengar dan dilihat, tanda dan peringatan, dan lampu-
lampu indikator pada panel kendali;

 catu daya bebas gangguan;

 sistem pemadam kebakaran, termasuk peralatan untuk mendeteksi panas


dan asap;

 pengatur waktu tunda; dan

 sistem pengaman saling kunci secara menyeluruh untuk memastikan


operasi tidak dapat dilakukan jika terdapat fitur keselamatan yang
dilanggar.

Selain uji bulanan diatas, Pemegang Izin dapat menambahkan uji bulanan
sesuai dengan rekomendasi yang berasal dari pabrikan Iradiator.

 Pada pasal 88 dijelaskan bahwa uji enam bulanan meliputi: a. pengujian


energi elektron; dan

 pengujian titik berkas (beam spot).

4. Perka Bapeten No. 8 Tahun 2011

Dalam Perka Bapeten No. 8 Tahun 2011 pasal 59 dijelaskan bahwa


pemantauan paparan radiasi harus dilakukan oleh Pemegang Izin terhadap:
 fasilitas yang baru dimiliki sebelum digunakan; dan

 fasilitas yang mengalami perubahan.

Kemudian pemantauan paparan radiasi harus dilakukan oleh petugas proteksi


radiasi pada:

 ruang kendali pesawat sinar-X;

 ruang di sekitar pesawat sinar-X; dan

 personil yang sedang melaksanakan prosedur fluoroskopi.

uji kesesuaian pesawat sinar-X harus dilakukan oleh Pemegang Izin dan
ketentuan mengenai uji kesesuaian pesawat sinar-X diatur dalam peraturan Kepala
BAPETEN tersendiri. identifikasi terjadinya paparan potensial dilakukan dengan
mempertimbangkan kemungkinan kecelakaan sumber atau suatu kejadian atau
rangkaian kejadian yang mungkin terjadi akibat kegagalan peralatan atau kesalahan
operasional serta seberapa berpotensi sehingga dapat menjadi paparan darurat.

5. Perka Bapeten No. 7 Tahun 2009

Pasal 43 dijelaskan bahwa pemantauan paparan radiasi harus sesuai prosedur


yang ditetapkan oleh Pemegang Izin serta pemantauan paparan radiasi di sekitar
daerah kerja harus dilakukan oleh Petugas Proteksi Radiasi. untuk menjamin performa
tabung sinar-x dalam keadaan baik saat digunakan sehingga keselamatan selama
pemakaian alat pun dapat terjaga. Selain itu juga sebagai data yang digunakan untuk
mengetahui banyaknya penggantian tabung sinar-x yang telah dilakukan. pemeriksaan
kondisi peralatan utama dan peralatan penunjang guna melakukan perawatan sehingga
tetap baik kondisi alat dapat meliputi:

 pemeriksaan mekanisme penguncian zat radioaktif;

 pengujian pigtail;

 pemeriksaan sambungan antara peralatan dan kabel;


 pemeriksaan seluruh kabel dan guide tube;

 pemeriksaan label peringatan; dan

 pengukuran tingkat paparan radiasi pada permukaan peralatan.

Data zat radioaktif perlu diketahui agar lebih mudah dalam penelusuran zar
radioaktif tersebut sehingga tidak disalah gunakan. Zat radioaktif yang digunakan
untuk kamera gamma biasanya menggunakan zat radioaktif terbungkus misalnya Cs-
137 dengan spek sebagai berikut :

 Zat Radioaktif : Cesium 137

 Aktivitas : 97,8 Ci / 13 November 2017

 Sifat : Padat

 Waktu Paro : 30,17 tahun

Pemantauan paparan radiasi harus sesuai prosedur yang ditetapkan oleh Pemegang
Izin serta pemantauan paparan radiasi di sekitar daerah kerja harus dilakukan oleh Petugas
Proteksi Radiasi. uji kebocoran zat radioaktif harus dilakukan sekali dalam 6 (enam) bulan.
Pengambilan sampel uji kebocoran dapat dilakukan oleh Petugas Proteksi Radiasi. Sampel uji
kebocoran dikirim ke dan dibaca oleh laboratorium yang terakrediatasi untuk dievaluasi.
Serta pada pasal 46 juga dijelaskan bahwa hasil evaluasi sampel uji kebocoran harus
disampaikan oleh Pemegang Izin kepada Kepala BAPETEN. Dalam hal hasil evaluasi uji
kebocoran melebihi 185 Bq (seratus delapan puluh lima becquerel) atau 5 nCi (lima nano
curie), maka zat radioaktif dilarang digunakan. Penggantian tabung zat radioaktif harus
dilakukan untuk menjamin performa zat radioaktif dalam keadaan baik saat digunakan
sehingga keselamatan selama pemakaian alat pun dapat terjaga. Selain itu juga untuk
mendata berapa banyak zat radioaktif yang telah digunakan sehingga lebih tertelusur zat
radioaktifnya. pemeriksaan kondisi peralatan utama dan peralatan penunjang guna melakukan
perawatan sehingga tetap baik kondisi alat dapat meliputi:

 pemeriksaan mekanisme penguncian zat radioaktif;


 pengujian pigtail;

 pemeriksaan sambungan antara peralatan dan kabel;

 pemeriksaan seluruh kabel dan guide tube;

 pemeriksaan label peringatan; dan

 pengukuran tingkat paparan radiasi pada permukaan peralatan.