Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ILMU BAHAN

DISUSUN OLEH :

NAMA :1. Riyan Aditiya


2. Agallio Jozef Mengga
3. Silvi Nofita Sari
4. Ilhami Ariyanti
5. Putra Oktavianto
6. Risdiyana Setiawan
KELOMPOK :4

PROGRAM STUDI :D-IV TEKNOKIMIA NUKLIR

ACARA :Pembuatan Bahan Struktur Grafena


Oksida dan Grafena Oksida Tereduksi
dari Kulit Singkong dengan Metode
Hummer

PEMBIMBING :LUTFI ADITYA HASNOWO, M.Sc

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2021
Pembuatan Bahan Struktur Grafena Oksida dan Grafena Oksida Tereduksi dari Kulit
Singkong dengan Metode Hummer

I. TUJUAN
1. Mempelajari fenomena pembuatan bahan struktur grafit dan grafena oksida
tereduksi.
2. Mempelajari karakterisasi bahan struktur grafit dan grafena oksida tereduksi.
3. Menentukan nilai kapasitasi bahan struktur grafit dan grafena oksida tereduksi.

II. DASAR TEORI


Dalam memahami struktur atom grafena, akan sangat membantu untuk mengenal
struktur atom karbon beserta alotropnya. Karbon memiliki nomor atom 6 dan
menyebabkan elektron menempati 1s2, 2s2, 2px1 and 2py1 dalam orbital atom (Schaffel,
2013). Grafena adalah salah satu alotrop karbon berskala nanometer. Tidak seperti grafit
yang merupakan alotrop karbon paling umum, grafena adalah lapisan dua dimensi yang
hanya dapat bergerak diantara atom-atom karbon dalam kisi dua dimensi (Pollard, 2011).
Wujud grafit berwarna hitam sedangkan grafena berwarna kecoklatan. Grafena
memiliki struktur dua dimensi yang terdiri dari ikatan karbon sp2 membentuk struktur
heksagonal dimana menjadi dasar yang potensial untuk dijadikan berbagai aplikasi seperti
sifat mekanik, termal dan listrik yang sangat baik (Park, 2011). Grafit memiliki
konduktivitas listrik 0,1x106 S/m, sementara bahan semikonduktor memiliki rentang nilai
konduktivitas listrik sebesar 1x10-8 S/m hingga 0,1x106 S/m. Jadi grafit dapat digolongkan
ke dalam bahan semikonduktor. Oleh karena itu, untuk grafena yang merupakan lembaran
penyusun grafit juga merupakan material yang mampu menghantarkan arus listrik cukup
baik (Nasrullah, 2014).
Dua permasalahan utama dalam memproduksi lapisan grafena adalah yang
pertama mendapatkan lapisan grafena yang memiliki skala ketebalan yang cukup. Seperti
yang diketahui bahwa walaupun grafit tersedia sangat melimpah di alam, tetapi untuk
dapat menyayat menjadi lapisan tunggal grafena sangatlah sulit. Permasalahan kedua,
lapisan grafena sangat sulit bercampur dan terdistribusi secara homogen. Grafit oksida
mengandung ikatan-ikatan oksigen dengan karbon yang tidak hanya sangat mudah
diperoleh dengan proses oksidasi tetapi juga sangat mudah terlepaskan akibat adanya
proses penyayatan menggunakan alat ultrasonik. Grafena oksida digunakan sebagai bahan
dasar dalam pembentukan grafena oksida tereduksi (rGO) dengan cara reduksi kimia dan
reduksi termal.
Proses preparasi grafena oksida tereduksi ditunjukkan pada Gambar.1 (Kehayias,
2013). Lapisan oksida karbon tersebut dapat disayat dalam media air dengan ultrasonik
(Kim, 2010). Penyayatan uktrasonik pada umumnya dilakukan selama 2 jam
(Loryuenyong, 2013).

Gambar 1. Preparasi grafena oksida tereduksi (Kehayias, 2013)

Grafena merupakan alotrop karbon dengan bentuk dua dimensi dan berikatan
secara heksagonal. Grafena merupakan penyusun dasar dari alotrop karbon lainnya seperti
grafit, arang, carbon nanotubes dan fullerenes. Panjang ikatan C – C pada grafena sebesar
1,42 A, dengan ikatan yang kuat dalam satu bidang lapisan tetapi lemah antar lapisan lain.
Grafena merupakan senyawa dua dimensi yang hanya terdiri dari satu lapisan, sedangkan
untuk struktur ikatan yang terdapat pada grafena sama seperti alotrop karbon yang
berbentuk tiga dimensi (Royal Academy Sciences, 2010).
Luas permukaan dari satu lapisan grafena dapat mencapai 2630 m2/g, nilai ini jauh
lebih besar dari carbon black 900 m2/g atau carbon nanotubes yang memiliki luas
permukaan 100-1000 m2/g. Grafena berikatan secara heksagonal dengan luas permukaan
sebesar 0,052 nm2, dengan massa jenisnya yang sebesar 0,77 mg/m 2. Sehingga
berdasarkan hipotesis hammock, grafena dengan berat 0,77 mg memiliki luas permukaan
sebesar 1 m2. Pada sisi optis, grafena memiliki sifat yang unik dan luar biasa dimana
dapat mentransmisikan cahaya hingga >97,7%. Nilai konduktivitas untuk material
berdimensi dua dimensi diukur menggunakan persamaan 𝜎=𝑒𝑛𝜇 dengan nilai 𝜇=200.000
cm2V-1s-1 dan 𝑛= 1012 cm-2. Nilai tahanan dalam untuk material grafena per luas area
adalah sebesar 31Ω. Sehingga dengan menggunakan ketebalan grafena didapatkan bulk
konduktivitas listrik grafena sebesar 0,96x106 Ω-1cm-1, nilai ini lebih besar jika
dibandingkan dengan konduktivitas listrik tembaga yang hanya bernilai 0,6x106 Ω-1cm-1.
Selain itu grafena juga memiliki nilai konduktivitas panas yang lebih besar tembaga
dengan nilai konduktivitas panas grafena mencapai 5000 Wm-1K-1 sedangkan nilai
konduktivitas panas dari tembaga hanya sebesar 402 Wm-1K-1, dengan nilai ini maka
konduktivitas panas grafena mencapai 10 kali dibandingkan dengan tembaga. Grafena
memiliki nilai modulus young yang mencapai 1000 Gpa dengan rapat massa yang empat
kali lebih kecil jika dibandingkan dengan tembaga. Grafena memiliki kekuatan sebesar 42
N/m, sedangkan baja memiliki kekuatan sebesar 0,25 - 1,2x109 N/m2, sehingga dengan
ketebalan yang sama dengan grafena makan baja memiliki kekuatan (pada 2 dimensi)
sebesar 0,084-0,4 N/m sehingga grafena memiliki kekuatan 100 kali dibandingkan dengan
baja dan grafena bersifat fleksibel. Grafena diyakini dapat menjadi bahan penyusun utama
dari berbagai alotrop grafit (Ray, 2015).
Singkong (Manihot utillisima) merupakan makanan pokok ketiga setelah padi dan
jagung bagi masyarakat Indonesia. Tanaman ini dapat tumbuh sepanjang tahun di daerah
tropis dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi berbagai tanah. Tanaman
ini memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap. Kandungan kimia dan zat gizi pada
singkong adalah karbohidrat, lemak, protein, serat makanan, vitamin (B1, C), mineral (Fe,
F, Ca), dan zat non gizi, air. Selain itu, umbi singkong mengandung senyawa non gizi
tanin (Soehardi, S., 2004).
Kulit singkong merupakan limbah agroindustri pengolahan ketela pohon seperti
industri tepung tapioka, industri fer mentasi, dan industri pokok makanan. Komponen
kimia dan zat gizi pada kulit singkong adalah protein 8,11 gram, serat ksasar 15,2 gram,
pektin 0,22 gram, lemak 1,29 gram, dan kalsium 0,63 gram (Rahmat, R., 1997). Kulit
singkong merupakan salah satu limbah padat yang dihasilkan pada pembuatan keripik
singkong hasil olahan industri rumah tangga (Suherman, I., Melati, 2009). Kulit singkong
memiliki usur karbon cukup banyak yaitu sebesar 59,31% serta kemampuan untuk
mengadsorpsi ion logam karena mengandung protein, selulosa nonreduksi, dan serat
kasar. Kulit singkong tersebut juga memiliki banyak gugus fungsi –OH, -NH 2, -SH, dan –
CN yang dapat digunakan sebagai ligan untuk mengikat ion logam (Sadewo, 2010).
Kandungan yang dimiliki kulit singkong tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk
pembuatan arang aktif.
Karbon aktif merupakan padatan amorf berbentuk heksagonal datar dengan sebuah
atom C pada setiap sudutnya serta mempunyai permukaan yang luas dan jumlah pori yang
sangat banyak (Baker, F.S., Miller, C.E., Repik A.J., dan Tollens, E.D., 1997). Karbon
aktif adalah bentuk umum dari berbagai macam produk yang mengandung karbon yang
telah diaktifkan untuk meningkatkan luas permukaannya (Manes, M., 1998). Karbon aktif
berbentuk kristal mikro karbon grafit dengan pori-pori yang telah berkembang
kemampuannya dalam mengadsorpsi gas dan uap dari campuran gas dan zat-zat yang
tidak larut atauyang terdispersi dalam cairan (Roy, G.M., 1995).
Keaktifan daya menyerap dari karbon aktif tergantung dari jumlah senyawa
karbonnya. Daya serap karbon aktif ditentukan oleh luas permukaan partikel. Dan
kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi, jika karbon aktif tersebut telah dilakukan
aktivasi dengan faktor bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur
tinggi. Dengan demikian, karbon akan mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia.
Karbon aktif yang berwarna hitam, tidak berbau, tidak berasa dan mempunyai daya serap
yang jauh lebih besar dibandingkan dengan karbon aktif yang belum menjalani proses
aktivasi, serta mempunyai permukaan yang luas, yaitu memiliki luas antara 300 – 200
m2 /gram. Luas permukaan yang luas disebabkan karbon mempunyai permukaan dalam
(internal surface) yang berongga, sehingga mempunyai kemampuan menyerap gas dan
uap atau zat yang berada di dalam suatu larutan.
Secara garis besar, ada 3 tahap pembuatan karbon aktif, yaitu:
1) Proses Dehidrasi adalah proses penghilangan air pada bahan baku. Bahan baku
dipanaskan sampai temperatur 170°C.
2) Proses Karbonisasi adalah proses pembakaran bahan baku dengan menggunakan
udara terbatas dengan temperatur udara antara 300ºC sampai 900ºC sesuai dengan
kekerasan bahan baku yang digunakan. Proses ini menyebabkan terjadinya penguraian
senyawa organik yang menyusun struktur bahan membentuk metanol, uap asam
asetat, tar, dan hidrokarbon. Material padat yang tertinggal setelah proses karbonisasi
adalah karbon dalam bentuk arang dengan permukaan spesifik yang sempit.
3) Proses Aktivasi dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu:
a. Proses Aktivasi Fisika, biasanya karbon dipanaskan didalam furnace pada
temperatur 800°C-900°C. Beberapa bahan baku lebih mudah untuk diaktifasi jika
diklorinasi terlebih dahulu. Selanjutnya dikarbonisasi untuk menghilangkan
hidrokarbon yang terklorinasi dan akhinya diaktifasi dengan uap.
b. Proses Aktivasi Kimia merujuk pada pelibatan bahan-bahan kimia atau reagen
pengaktif. Menurut Kirk and Othmer (1978), bahan kimia yang dapat digunakan
sebagai pengaktif diantaranya CaCl2, Ca(OH)2, NaCl, MgCl2, HNO3, HCl,
Ca3(PO4)2, H3PO4, ZnCl2, dan sebagainya. Hessler (1951) dan Smith (1992)
menyatakan bahwa unsur-unsur mineral aktivator masuk diantara plat heksagon
dari kristalit dan memisahkan permukaan yang mula-mula tertutup. Dengan
demikian, saat pemanasan dilakukan, senyawa kontaminan yang berada dalam
pori menjadi lebih mudah terlepas. Hal ini menyebabkan luas permukaan yang
aktif bertambah besar dan meningkatkan daya serap karbon aktif Hessler, J.W.,
1951 ) ( Smith, K.S., 1992).
Kapasitansi
Kapasitansi adalah kemampuan sutau perangkat untuk menampung atau
menyimpan muatan listrik. Umumnya, kapasitansi ditemukan dalam medan
elektromagnetik, yang menggunakan jenis tertentu dari gaya fisik pada partikel. Gaya ini
membuat partikel akan menampilkan gerakan sebagai hasil dari interaksi muatan listrik.
Satuan kapasitansi adalah Farad dan satu farad adalah satu coulomb per volt. Sifat
untuk menyimpan muatan listrik diukur dalam farad. Farad adalah jumlah potensi muatan
listrik yang dapat mengubah satu volt dalam kapasitor.

III. ALAT DAN BAHAN


A. Alat
Alat yang digunakan :
1. Neraca analitik
2. Oven
3. Furnace
4. Sieve screen
5. Magnetic stirer hot plate
6. Statif
7. Termometer
8. Kertas saring
9. Sonikator
10. Kapasitansi meter
11. Corong
12. Penyangga corong
13. Alumunium foil
14. Centrifuge
15. Wadah plastik
16. Alat-alat gelas

B. Bahan
Bahan yang digunakan:
1. Kulit singkong
2. Aquadest
3. H2SO4
4. KMNO4
5. NaNO3
6. H2O2
7. HCl

IV. CARA KERJA


a) Persiapan Sampel
Sampel yang digunakan dalam praktikum ini ialah kulit singkong. Kulit singkong
dikupas terlebih dahulu dari kulit luarnya, kemudian dicuci kulit singkong tersebut
dengan menggunakan air bersih lalu dipotong dengan ukuran rata-rata (3x4 cm) dan
kemudian dijemur selama ± 12 jam dibawah sinar matahari.
b) Preparasi Sampel
Potongan kulit singkong didehidrasi menggunakan oven pada suhu 70oC selama 2
jam.
c) Pengarangan
Proses pengarangan dilakukan dengan cara menyangrai potongan kulit singkong
hingga berubah warna menjadi hitam, hal ini harus selalu diawasi agar tidak banyak
kulit singkong yang berubah menjadi abu.
d) Karbonisasi
Potongan kulit singkong dibungkus terlebih dahulu menggunakan alumunium foil,
setelah itu dilakukan proses karbonisasi pada suhu 500°C selama 2 jam.
e) Uji Lolos Mesh
Serbuk grafit kulit singkong diayak dengan ayakan ukuran 120 mesh.
f) Grafit Oksida
Sebanyak 1 gram serbuk grafit dicampur dengan 70 mL H2SO4 pekat sampai larut dan
0,5 gram NaNO3. Lalu ditempatkan dalam ice bath dan diaduk secara terus menerus
dengan magnetic stirer selama 2 jam awal pada kondisi suhu <20°C. Selanjutnya
ditambahkan KMnO4 sebanyak 9 gram sedikit demi sedikit. Selama 2 jam larutan
dipanaskan dan dijaga pada suhu 35°C. Kemudian ditambahkan H2O sebanyak 50 mL
secara perlahan-lahan dan diteruskan semuanya hingga 2 jam. Ditambahkan H 2O2 30%
sebanyak 30 mL sampai tidak terbentuk gelembung dan diperoleh suspensi berwarna
kekuningan. Suspensi yang diperoleh lalu disaring dengan HCl 5% dan didekantasi
dengan akuades. Lalu dikeringkan dengan oven pada suhu 80-100°C hingga diperoleh
serbuk grafit oksida padat.
g) Grafena Oksida
Grafit oksida dilarutkan dengan akuades 100 mL dan disonikasi selama 2 jam agar
terjadi eksfoliasi. Kemudian diendapkan dan dilanjutkan dengan disaring. Selanjutnya
endapan dicuci dengan HCl 5% lalu H2O dengan perbandingan 1:3, dan dikeringkan.
h) Penentuan Kapasitansi
Sampel (grafit dan grafena oksida tereduksi) disiapkan dalam bentuk dipress. Lalu
sampel diukur nilai kapasitansinya dengan kapasitansimeter sampai menunjukkan
angka yang stabil dengan menghubungkan probe alat.

V. DATA PENGAMATAN
Tabel 1. Data konduktansi dan kapasitansi
Grafit Grafit Oksida
Konduktansi (μS) 12,4 30,4
12,3 30,7
Rata-rata 12,35 30,55

Kapasitansi (nF/g) 753 778


745 783
Rata-rata 749 780,5

VI. PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari fenomena pembuatan bahan struktur,
karakterisasi bahan struktur, dan menentukan nilai kapasitasi bahan struktur grafit dan
grafena oksida tereduksi dari arang tempurung kelapa. Metode Hummers digunakan untuk
mensintesis grafena dari kulit singkong.
Metode Hummers mengoksidasi grafit dengan cara mereaksikan grafit dengan
kalium permanganat (KMnO4) dan natrium nitrat (NaNO3) dalam larutan asam sulfat
(H2SO4). Proses oksidasi dilakukan pada suhu di bawah 20 °C sehingga diperlukan ice
bath, karena ketika penambahan dalam campuran akan menghasilkan reaksi eksotermis
sehingga terjadi kenaikan suhu dan letupan.
Reaksi yang terjadi ketika KMnO4 mereduksi Grafit Oksida, menurut Dreyer et
al, sebagai berikut :
KMnO4 + 3 H2SO4 → K+ + MnO3+ + H3O+ + 3 H2SO4-
MnO3+ + MnO4- → Mn2O7
Fungsi KMnO4 adalah untuk mengoksidasi grafit, sehingga terjadi penyusupan
atom oksigen ke dalam lapisan grafit dan membentuk ikatan seperti ikatan seperti C=O,
C-H, COOH, C-O-O, dan OH dengan atom karbon pada lapisan grafit, sedangkan fungsi
H2SO4 adalah untuk membuat reaksi berlangsung dalam suasana asam. Ketika reaksi
berlangsung pada suhu rendah, ujung grafit akan teroksidasi dan tersusupi dengan
bantuan oksidator, pada tahap ini terbentuk gugus OH. Ketika reaksi yang berlangsung
pada suhu sedang (35 °C), semakin bertambahnya suhu proses reaksi, maka kemampuan
untuk mengoksidasi meningkat, dan pada proses ini terbentuk gugus fungsi yang
mengandung oksigen lainnya, serta oksidator mampu menetrasi sampai pada lapisan
dalam grafit. Ketika reaksi berjalan pada suhu tinggi, asam sulfat konsentrat melepaskan
jumlah panas yang banyak yang mengakibatkan gaya antar lapisan rusak dan akhirnya
grafit oksida terkelupas menjadi lapisan tunggal. Penggunaan Ice bath dilakukan untuk
menjaga suhu karena pada saat penambahan aquadest dalam campuran akan terjadi reaksi
eksotermis sehingga akan terjadi kenaikan temperatur hingga 98°C yang dapat
menimbulkan letupan atu ledakan.
Hasil reaksi oksidasi terlihat sebagai suspensi berwarna hijau kehitaman dan
merupakan bukti fisik telah terjadi proses oksidasi. Setelah proses oksidasi selesai,
campuran ditambahkan 320 mL aquadest dan H 2O2 sampai tidak terbentuk lagi
gelembung untuk menghentikan proses oksidasi. Ketika hidrogen peroksida ditambahkan,
residu permanganat dan mangan dioksida direduksi menjadi larutan tak berwarna,
mangan sulfat dan warnanya akan berubah dari hitam kecoklatan menjadi kuning. Larutan
ini terlihat berwana kuning ketika disaring atau dipisahkan dari fase padat dengan
menggunakan kertas whatman. Fasa padat yang sudah terpisah dari liquid dicuci
menggunakan HCl 5% yang bertujuan untuk menghilangkan ion logam sisa yang
dihasilkan selama proses oksidasi dan aquades beberapa kali sampai pH larutan netral.
Ketika pH larutan netral dan tidak ada lagi SO4- maka dilakukan proses drying pada grafit
oksida pada temperatur 80˚C selama 24 jam.
Dari hasil pengukuran diperoleh nilai kapasitansi rata-rata grafit sebesar 749
nF/gram dan nilai kapasitansi rata-rata grafit oksida diperoleh 780,5 nF/gram. Nilai
kapasitansi grafit oksida lebih besar dibanding dengan nilai kapasitansi grafit dikarenakan
grafit oksida memiliki konduktivitas termal rata-rata yang lebih besar yaitu 30,55 μS,
sedangkan grafit memiliki konduktivitas termal sebesar 12,35 μS. Selain itu juga karena
berbedanya struktur kristal grafit dan grafit oksida, untuk bahan grafit struktur kristalnya
kurang teratur (dibandingkan dengan struktur kristal grafit oksida, struktur kristal grafit
oksida sangat teratur) dan luas permukaan grafit lebih kecil dibandingkan luas permukaan
grafit oksida. Konduktivitas termal, struktur kristal dan luas permukaan mempengaruhi
nilai kapasitansi yaitu semakin luas permukaan maka nilai kapasitansinya semakin
meningkat. Luas permukaan grafit yang lebih kecil dibandingkan luas permukaan grafit
oksida mengakibatkan mobilitas elektron menurun yang berakibat pada kecilnya nilai
kapasitansi yang dimiliki oleh grafit, begitu juga dengan konduktivitas termal yang
nilainya lebih besar akan memiliki kapasitansi yang lebih besar.

VII. KESIMPULAN
1. Metode yang digunakan adalah metode Hummer, yaitu mengoksidasi grafit sehingga
menjadi grafena oksida.
2. Karakterisasi dilakukan dengan mengukur konduktivitas dan kapasitansi.
Konduktansi adalah ukuran kemampuan suatu bahan untuk mengalirkan muatan dan
dalam standar SI mempunyai satuan siemens (S). Kapasitansi adalah kemampuan
suatu benda atau sistem benda untuk menyimpan muatan listrik (satuan secara SI
adalah farad).
3. Dari hasil pengukuran diperoleh nilai kapasitansi rata-rata grafit sebesar 749 nF/gram.
Lalu nilai kapasitansi rata-rata grafit oksida diperoleh 780,5 nF/gram. Nilai
kapasitansi grafit oksida lebih besar dibanding dengan nilai kapasitansi grafit
dikarenakan grafit oksida memiliki konduktivitas termal yang lebih besar yaitu 30,55
μS, sedangkan grafit memiliki konduktivitas termal sebesar 12,35 μS serta struktur
kristal yang lebih teratur dan juga luas permukaan yang lebih luas dibandingkan
dengan grafit.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Baker, F.S., Miller, C.E., Repik A.J., Dan Tollens, E.D. 1997. Encyclopedia of
Separation Technology : Activated carbon, Volume 1 (A kirkOthmer
Encyclopedia). J Wiley : New York.
Dian, A.R., Unggul, P.J., Lailatin N. 2015. Pengukuran Efektivitas Kulit Singkong, Kulit
Ubi Jalar, Kulit Pisang, dan Kulit Jeruk Sebagai Bahan Penyerap Besi (Fe)
dan Mangan (Mn) Pada Air Lindi TPA. Universitas Brawijaya : Malang.
Fuadi, R., Halim, A., Mirah, Dan Handi, Jo. 2008. Pembuatan Karbon Aktif Dari Pelepah
Kelapa (Cocus nucifera). Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Sriwijaya : Sumatra Selatan.
Hessler, J.W. 1951. Active Carbon. Chemical Publishing Co Inc.
Manes, M. 1998. Encyclopedia of Environmental Analysis and Remediation : Activated
carbon adsorption fundamental, Volume 1. J Wiley : New York.
Maulinda, L., Z.A., Nasrul, Dan Nurfika S., D. 2015. Pemanfaatan Kulit Singkong
Sebagai Bahan Baku Karbon Aktif. Universitas Malikussaleh : Aceh.
Nasrullah, M. 2014. Analisis Fasa dan Lebar Celah Pita Energi Karbon Pada Hasil
Pemanasan Tempurung Kelapa. FMIPA-ITS : Surabaya.
Rahmat, R.. 1997. Usaha Tani Jagung. Penerbit Kanisius : Jogjakarta.
Ray, Sekhar Chandra. 2015. Applications of Grafena and Grafena-Oxide Based
Nanomaterials. Elsevier : Oxford.
Roy, G.M. 1995. Activated Carbon Applications in The Food and Pharmaceutical
Industries. Technomic : Pennsylvania.
Royal Swedish Academy, O. F. Sciences. 2010. Grafena: Scientific Background on the
Nobel Prize in Physics 2010. The Royal Swedish Academy of Sciences
50005(October):0–10.
Soehardi, S. 2004. Memelihara Kesehatan Jasmani Melalui Makanan. ITB : Bandung.
Suherman, I., Melati. 2009. Pembuatan Karbon Aktif Dari Limbah Kulit Singkong. UKM
Tapioka Kabupaten Pati, Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia, Bandung.
Taufantri,Yudha, dkk. 2016. Sintesis dan Karakterisasi Grafena dengan Metode Reduksi
Grafit Oksida menggunakan Pereduksi Zn. Jurnal Kimia VALENSI: Jurnal
Penelitian dan Pengembangan Ilmu Kimia 2 (1): 17-23.