Anda di halaman 1dari 22

ASAM AMINO DAN PROTEIN

(Laporan Praktikum Struktur dan Fungsi Biomolekul)

Oleh:

Acika Putri Yunianda

1713023056

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

2020
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum : Asam Amino dan Protein

Tanggal Praktikum :

1) Komposisi Erlenmenter dari Protein dan Pengendapan protein oleh


Logam/Mineral Logam dilaksanakan pada Selasa, 20 Oktober 2020
2) Pengaruh Asam Mineral Kuat (Uji Heller) dan Kelarutan Protein
dilaksanakan pada Selasa, 27 Oktober 2020
3) Uji Biuret dan Denaturasi Protein oleh Suhu dan pH dilaksanakanSelasa, 3
Oktober 2020

Tempat Praktikum :

Nama : Acika Putri Yunianda

NPM : 1713023056

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Jurusan : Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Program Studi : Pendidikan Kimia

Kelompok :-

Bandar Lampung, 10 Oktober 2020


Mengetahui,
Asisten
I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengkomsumsi berbagai macam


makanan yang membantu kita dalam proses peningkatan energi. Makanan-
makanan itu mengandung berbagai jenis zat yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti
lemak, Vitamin, Karbohidrat , Protein dll. Secara umum, sumber dari protein
adalah dari sumber nabati dan hewani. Protein sangat penting bagi kehidupan
organisme pada umumnya. Maka, penting bagi kita untuk mengetahui tentang
protein dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Protein adalah polimer biologi yang tersusun atas molekul-molekul kecil


(asam amino) Selain tersusun atas asam amino, banyak protein juga mengandung
komponen lain seperti ion logam (misalnya Fe2+, Zn2+, Cu2+, dan Mg2+) atau
mengandung molekul organik kompleks, biasanya turunan dari vitamin. Protein
terkadang rentang rusak terhadap beberapa faktor, salah satunya adalah suhu.

Asam amino merupakan suatu senyawa organik yang terdiri dari gugus amina
dan gugus karboksil ( asam ). Asam amino adalah sembarang senyawa organik
yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2).
Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit: keduanya terikat pada satu
atom karbon (C) yang sama (disebut atom C "alfa" atau α). Gugus karboksil
memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk
larutan, asam amino bersifat amfoterik, cenderung menjadi asam pada larutan
basa dan menjadi basa pada larutan asam.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mengharapkan mahasiswa dapat


mengidentifikasi Asam amino dan protein pada suatu sampel.
II TINJAUAN PUSTAKA

Kata protein berasal dari kata protos atau proteos yang berarti pertama atau
utama. Protein merupakan komponen penting sel hewan atau manusia sehingga
fungsi utama protein yaitu sebagai zat pembentukan dan pertumbuhan tubuh.
Protein adalah komponen yang terdiri atas atom karbon, hydrogen, oksigen,
nitrogen, dan beberapa ada yang mengandung sulfur dan fosfor. Tersusun dari
serangkaian asam amino dengan berat molekul yang relatif sangat besar, yaitu
berkisar 8.000 sampai 10.000. Protein yang tersusun dari hanya asam amino
disebut protein sederhana. Adapun protein yang mengandung bahan selain asam
amino, seperti turunan vitamin, lemak, dan karbohidrat, disebut protein kompleks.
Secara biokimiawi, 20% dari susunan tubuh orang dewasa terdiri dari protein.
Kualitas protein ditentukan oleh jumlah den jenis asam aminonya (Devi, 2010).

Struktur protein dapat dibedakan dalam empat level. Struktur primer


menyatakan susunan linear asam-asam amino sepanjang rantai polipeptida.
Struktur sekunder menggambarkan pola pelipatan (folding) bagian-bagian
polipeptida ke dalam struktur teratur, misalnya alfa heliks dan lembaran terlipat
beta pleated sheet. Struktur tersier menggambarkan pelipatan bagian-bagian antara
alfa helix dan lembaran beta serta interaksi non kovalen yang menyebabkan
terjadinya pelipatan yang sesuai pada suatu rantai polipeptida. Interaksi non
kovalen tersebut antara lain ikatan hidrogen, ikatan hidrofobik, interaksi van der
waals. Struktur keempat yaitu struktur kuartener menunjukkan interaksi non
kovalen yang mengikat beberapa rantai polipeptida ke dalam satu molekul tunggal
protein, misalnya hemoglobin (Yuwono, 2010).

Asam amino pembangun atau penyusun protein adalah alfa asam amino, yaitu
asam amino yang gugus aminonnya terikat pada atom karbon alfa. Jika gugus
aminonnya terikat pada atom karbon beta maka disebut asam beta amino. Hanya
alfa asam amino yang ditemukan bebas di alam (Sumardjo, 2009).

Putih telur mengandung 86% air di dalamnya. Biasanya putih telur yang lebih
dekat dengan kuning telur bersifat lebih kental daripada putih telur yang dekat
dengan cangkang/kulit telur. Kandungan nutrisi pada putih telur antara lain:
karbohidrat 0,8 g; mineral 0,60 g; kalsium 6,0 mg; fosfor 17,0 mg; Besi 0,2 mg;
vitamin A (retinol) 0 mcg; vitamin B1 (tiamin) 0,01 mg; dan vitamin C (asam
askorbat) 0 mg. Putih telur juga kaya akan asam amino esensial seperti Lisin,
Threonin, Valin, Isoleusin, Leusin, Metionin, Fenilalanin, Tryptophan, dan
Histidin. Leusin sendiri merupakan asam amino penting yang berperan dalam
merangsang pembentukan otot. (Paran, 2009).

1. Komposisi erlementer dari protein


Protein berasal dari kata proteos (Yunani) yang berarti pertama/ terutama.
Maksudnya adalah senyawa organik yang mengandung nitrogen yang sangat
kompleks yang struktumya terdiri dari satuan-satuan asam amino yang terikat
oleh ikatan peptida. Komposisi elementernya menunjukkan bahwa selain
karbon, hidrogen dan nitrogen kompleks dalam jumlah bervariasi, juga
ditemukan belerang dan fosfor.
2. Pengendapan Protein oleh Logam/Mineral Logam
Pada suatu pH tertentu (asam/basa) protein akan bermuatan negatif (anion)
sehingga dapat bereaksi dengan ion logam berat. Protein jika dalam larutan dapat
berupa sebuah koloid. Dengan zat-zat tertentu dapat diendapkan (irreversibel)
atau hanya sebagai emulsi (reversibel).
3. Pengaruh Asam Mineral Kuat (Uji Heller)
Uji Heller digunakan untuk mengetahui adanya kandungan protein dalam
bahan uji dengan cara mendenaturasikan menggunakan pH asam. Perubahan
pH yang terjadi karena penambahan asam mineral atau penambahan basa
pada protein dapat merusak ikatan garam yang terdapat pada protein tersebut.
Ikatan garam dalam molekul protein adalah secara ionie dan terjadi karena
gaya tarik-menarik Antara ggus COO dan gugus NH3- yang berdekatan.
Penambahan asam berarti penambahan ion IH- akan mengubah -COO-
menjadi COOH dan mengakihatkan gaya tanik menank hilang atau kerusakan
ikatan garam dala molekal protein Penambahan basa yang berarti
penamhahan ion OH akan mengubah NH3- menjach NH3dan air, yang
mengakibatkan hilangnya gaya tarik-menarik atau rusaknya ikatan garam
pada protein tersebut. Penambahan asam atau basa pada kondisi ekstrem ke
dalam larutan protein tidak hanya merusak ikatan garam tersehut, tetapi
ikatan peptide yang terdapat dalam molekul protein. Produk denaturasi
disebut protein memutus ikatan- terkoagulasi yang tidak larut dalam air tapi
larut dalam larutan basa kuat dan asam kuat karena terhidrolisis menjadi
bagian-bagran yang lebih sederhana. (Sumardjo, Damin. 191).
4. Kelarutan Protein
Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asan maupun
basa. Daya larut protein berbeda didalam air asam dan basa. Sebagian ada
yang mudah larut dan ada pula yang sukat larut. Namun. semua potein tidak
larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform. Apabila protein
dipanaskan atau ditambah etanol absolute, maka protein akan menggmpal
(terkoagulasi). hal ini disebahkan etanol menarik mantel air yang
melingngkupi molekul-molekul potein.
5. Uji Biuret
lon Cu2+ (dari pereaksi biuret) dalam suasuna basa akan bereaksi dengan
polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yung manyusun protein membentuk
senyawa kompleks berwarna ungu. Reaksi biuret positif terhadap dua buah
ikatan peptida atau lebih. tetapi negatir untuk asam amino bebas if terhadap
senyawa-senyawa yang atau dipeptida. Reaksi pun positif mengandung dua
gugus CH2NH2, CSNH2, C(NH)NH2, dan CONH2. Biuret adalah senyawa
dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua melekul urea.
6. Denaturasi Protein oleh Suhu dan pH
Denaturasi protein merupakan perubahan struktur protein akibat pengaruh
dari perubahan suhu, perubahan pH, radiasi, deterjen, dan perubahan jenis
pelarut. Protein yang terdenaturasi hamper selalu mengalami kehilangan
fungsi biologis. Hal ini paling mudah diperlihatkan oleh sifat protein. Jika
larutan protein secara perlahan-lahan dipanaskan sampai kira-kira 60 atau
70oC, larutan tersebut lambat laun akan menjadi keruh dan membentuk
koagulasi berbentuk seperti tali. Produk yang terjadi tidak akan melarut lagi
dengan pendinginan dan tidak membentuk larutan jernih seperti semula
sebelum dipanaskan. Pengaruh panas terjadi pada semua protein globular,
tanpa memandang ukuran atau fungsi biologinya, walaupun suhu yang tepat
bagi fenomena ini mungkin bervariasi . Protein dalam keadaan alamiahnya
disebut protein asli (natif); setelah perubahan menjadi protein terdenaturasi.
Denaturasi protein dapat diakibatkan bukan hanya oleh panas, tetapi juga pH
ekstrim; oleh beberapa pelarut organic seperti alcohol atau aseton; oleh zat
terlarut tertentu seperti urea; oleh detergen; atau hanya dengan
pengguncangan intensif larutan protein dan bersingungan dengan udara
sehingga berbentuk busa.
Denaturasi protein merupakan suatu proses dimana terjadi perubahan atau
modifikasi terhadap konformasi protein, lebih tepatnya terjadi pada struktur
tersier maupun kuartener dari protein. Pada struktur tersier protein misalnya,
terdapat empat jenis interaksi pada rantai samping seperti ikatan hidrogen,
jembatan garam, ikatan disulfida, interaksi non polar pada bagian non
hidrofobik. Adapun penyebab dari denaturasi protein bisa berbagai macam,
antara lain panas, alkohol, asam-basa, maupun logam berat
Ciri-ciri suatu protein yang mengalami denaturasi bisa dilihat dari berbagai
hal. Salah satunya adalah dari perubahan struktur fisiknya, protein yang
terdenaturasi biasanya mengalami pembukaan lipatan pada bagian-bagian
tertentu. Selain itu, protein yang terdenaturasi akan berkurang kelarutannya.
Lapisan molekul yang bagian hidrofobik akan mengalami perubahan posisi
dari dalam ke luar, begitupun sebaliknya. Hal ini akan membuat perubahan
kelarutan.
Selain itu, masing-masing penyebab denaturasi protein juga mengakibatkan
ciri denaturasi yang spesifik. Panas, misalnya. Panas dapat mengacaukan
ikatan hidrogen dari protein namun tidak akan mengganggu ikatan
kovalennya. Hal ini dikarenakan dengan meningkatnya suhu akan membuat
energi kinetik molekul bertambah. Bertambahnya energi kinetik molekul akan
mengacaukan ikatan-ikatan hidrogen. Dengan naiknya suhu, akan membuat
perubahan entalpi sistem naik. Selain itu bentuk protein yang terdenaturasi
dan tidak teratur juga sebagai tanda bahwa entropi bertambah. Entropi sendiri
merupakan derajat ketidakteraturan, semakin tidak teratur maka entropi akan
bertambah. Pemanasan juga dapat mengakibatkan kemampuan protein untuk
mengikat air menurun dan menyebabkan terjadinya koagulasi.
Selain oleh panas, asam dan basa juga dapat membuat protein terdenaturasi.
Seperti telah diketahui bahwa protein dapat membentuk struktur zwitter ion.
Protein juga memiliki titik isoelektrik dimana jumlah muatan positif dan
muatan negatif pada protein adalah sama. Pada saat itulah, protein dapat
terdenaturasi yang ditandai dengan membentuk gumpalan dan larutannya
menjadi keruh. Pada saat ini entalpi pelarutannya akan menjadi tinggi, karena
jumlah kalor yang dibutuhkan untuk melarutkan sejumlah protein akan
bertambah. Mekanismenya adalah penambahan asam dan basa dapat
mengacaukan jembatan garam yang terdapat pada protein. Ion positif dan
negatif pada garam dapat berganti pasangan dengan ion positif dan negatif
dari asam ataupun basa sehingga jembatan garam pada protein yang
merupakan salah satu jenis interaksi pada protein, menjadi kacau dan protein
dapat dikatakan terdenaturasi.
III METODOLOGI PERCOBAAN

A. Komposisi Erlementer dari Protein

1) Masukkan 2 mL larutan putih telur ke dalam sebuah tabung reaksi yang


bersih dan kering, panaskan tabung sampai tercium bau rambut yang
terbakar. Catatlah bau khas yang tercium dan amati perubahan warna dalam
tabung serta apa yang terjadi pada dinding tabung?
2) Masukkan 1 mL larutan putih telur ke dalam tabung reaksi, tambahkan 1
kali volume kristal NaOH dan panaskan hati-hati. Letakan kertas lakmus
merah yang telah dibasahi air di mulut tabung dengan menggunakan
penjepit/pinset.. Catatlah bau yang tercium dari uap yang terbentuk. .Apa
yang terjadi pada kertas lakmus?
3) Masukkan 1 mL larutan putih telur ke dalam tabung reaksi, tambahkan 1
mL NaOH 10%. Didihkan campuran itu, kemudian tambahkan 10 tetes
larutan Pb-asetat 2%.. Apakah wama yang terjadi pada larutan? Kemudian
dengan hati-hati' tambahkan 10 tetes HCI pekat dan amati bau khas yang
keluar apa?

B. Pengendapan Protein oleh Logam/Mineral Logam


1) Masukkan 1 mL larutan sampel protein (larutan putih telur) dalam tabung
reaksi yang pHnya telah disesuaikan kira-kira 7 (dengan menambahkan
Na2CO3 1% sebanyak 3 tetes).
2) Tambahkan tetes demi tetes pereaksi larutan AgNO3 2% sampai 0,5 mL-1
mL sambil dikocok hati-hati dan perhatikan tiap tetes penambahan.
3) Perhatikan apakah terbentuk endapan yang tetap atau melarut kembali.
4) Ulangi cara kerja dengan menggunakan pereaksi lain sebagai pengganti
AgNO3, yaitu: Pb-asetat 2%, CuSO 4 2%, HgCl 2 2%, FeCl 3 2%.

C. Pengaruh Asam Mineral Kuat (Uji Heller)


1) Ke dalam tabung reaksi masukkan 1 mL larutan putih telur
2) Tuangkan dengan hati-hati 1 mL HNO3 pekat melalui dinding tabung
yang dimiringkan sampai horizontal supaya tidak tercampur.
3) Ujilah kepekaan reaksi ini dengan mengencerkan larutan putih telur
hingga hanya menghasilkan reaksi dengan endapan yang sangat tipis.

D. Kelarutan Protein
- Bahan
1) Protein: albumin/putih telur, gelatin, casein, pepton
2) Air suling
3) HCI (0,1 mol/L)
4) NaOH (0,1 mol/L)
5) Etanol 70%
6) Larutan NaCl 2 g/L
7) (NH4)2SO4 jenuh
8) NaCl jenuh

- Cara Kerja
1) Larutan sedikit protein di atas tabung reaksi yang berbeda dengan
menggunakan pelarut akuades, HCl, etanol 95%, NaCI, (NH4)2SO4
jenuh, NaCl jenuh.
2) Catat hasil pengamatan dalam bentuk table. Apakah ada endapan yang
ter-bentuk. Lakukan uji kelarutan dalam air dari sedikit endapan yang
terbentuk

E. Uji Biuret
- Bahan:
1) CuSO4
2) NaOH
3) Protein: albumin (dalam NaCI), casein (dalam NaOH), gelatin (dalam
NaCl),

- Cara Kerja
1) Ke dalam tabung reaksi yang berbeda masukkan 2 ml larutan protein di atas.
2) Tambahkan 5 tetes larutan CUSO4 lalu 2 ml larutan NaOH.
3) Kocok larutan di atas sampai tercampur sempurna.
4) Amati perubahan yang terjadi.
5) Catatlah hasil pengamatan saudara dalam bentuk Label!

F. Denaturasi Protein oleh Suhu dan pH


- Bahan
1) Larutan protein (albumin, casein, gelatin dan pepton)
2) Sediakan larutan dengan pH berbeda yaitu : HCI 1M (asam), akuades (netral),
HNO3 pekat (asam pekat), NaOH 1M (basa) dan NaOH 12M.
3) Sediakan akuades dengan suhu yang berbeda yaitu:0,25,50,75, dan l00 ºC.

- Cara Kerja
1) Tentukan pH dari semua larutan di atas sebanyak 2 mL dalam tabung reaksi
yang berbeda dengan menggunakan kertas pH universal.
2) Masukkan masing-masing 2 mL larutan protein ke dalam tabung reaksi yang
berbeda-beda. Kemudian uji dengan menggunakan 5 larutan dengan pH
berbeda dan juga uji dengan 5 akuades dengan suhu yang berbeda.
3) Bandingkan hasil yang anda peroleh terhadap protein pada larutan pH yang
berbeda, demikian juga pada suhu yang berbeda.
4) Buat grafik dari hasil pengamatan anda.
IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Komposisi Erlementer dari Protein


a) Uji adanya C, H, dan O

Hasil Pengamatan
Zat Uji Pengarangan Bau rambut
Pengembunan
C terbakar
Putih Telur + + +

b) Uji adanya atom N


Hasil pengamatan
NO Perlakuan Bau ammonia Kertas lakmus
(N) merah (N)
Putih telur + NaOH 10 % + + Biru
1
dipanaskan

c) Uji adanya atom S


Hasil pengamatan
NO Perlakuan
PBS S
Putih telur + NaOH 10 % +
+ +
dipanaskan

2. Pengendapan Protein oleh Logam/Mineral Logam


Perlakuan I

No Perlakuan Hasil

Argumin 3ml + 5 tetes HgCl2


1. Terdapat endapan putih
0,2 M lalu dihomogenkan

2. Susu beruang 3ml + 5 tetes Tidak terjadi perubahan


HgCl2 0,2 M lalu
dihomogenkan

Kedelai 3ml + 5 tetes HgCl2


3. Tidak terjadi perubahan
0,2 M lalu dihomogenkan

Perlakuan II
No Perlakuan Hasil

Argumin 3ml + Pb asetat lalu


1. Terdapat endapan putih
dihomogenkan

Susu beruang 3ml + Pb asetat


2. Tidak terjadi perubahan
lalu dihomogenkan

Kedelai 3ml + Pb asetat lalu


3. Tidak terjadi perubahan
dihomogenkan

3. Pengaruh Asam Mineral Kuat (Uji Heller)

No Perlakuan Hasil
1. Memasukkan HNO3 kedalam Larutan HNO3 berwarna bening
tabung reaksi
2. Menambahkan urine sample Terdapat lapisan cincin
tetes demi tetes kedalam berwarna putih.
larutan HNO3

4. Kelarutan Protein

No Perlakuan Hasil
1. Tabung 1 : Tabung 1 : Larut
2ml aquades + 2ml albumin Tabung 2 : Larut
Tabung 2 : Tabung 3 : Larut
2m HCl 10% + 2ml albumin Tabung 4 : Tidak Larut
Tabung 3 : Tabung 5 : Tidak Larut
2mlNaOH 40% + 2ml
albumin
Tabung 4 :
2ml etanol 96% +2ml albumin
Tabung 5 :
2ml kloroform + 2ml albumin

5. Uji Biuret

No Perlakuan Hasil
1. 3ml Albumin + 1ml NaOH Larutan berubah warna dari
2,5N + 1 tetes CuSO4 1,1M kuning ke bening lalu menjadi
violet
2. 3ml susu kedelai + 1ml Tidak terjadi perubahan
NaOH 2,5N + 1 tetes CuSO 4
1,1M
3. 3ml susu beruang + 1ml Larutan menjadi lebih keruh
NaOH 2,5N + 1 tetes CuSO 4
1,1M
4. 3ml Alanin + 1ml NaOH Tidak terjadi perubahan
2,5N + 1 tetes CuSO4 1,1M

6. Denaturasi Protein oleh Suhu dan pH

No Perlakuan Hasil
2 ml algumin + HCl 0,1 M Menjadi bening, Terdapat 2
1.
lalu dihomogenkan lapisan bening dan keruh

2 ml algumin + NaOH 0,1 M Menjadi bening, Terdapat 2


2.
lalu dihomogenkan lapisan bening dan keruh

2 ml algumin + 2 ml etanol
3.
95% lalu dihomogenkan Terdapat endapan putih

4.2 Pembahasan

1. Komposisi Erlementer dari Protein


Pada percobaan ini, putih telur yang dipanaskan membentuk embun pada gelas
obyek, ini menunjukkan bahwa putih telur mengandung hydrogen dan oksigen.
Selain itu tercium pula bau rambut terbakar, ini menunjukkan adanya nitrogen.
Setelah dipanaskan terdapat pengarangan berwarna hitam pada putih telur, ini
membuktikan bahwa adanya atom karbon.

Putih telur yang ditambahkan NaOH dan akuades setelah dipanaskan uap yang
dihasilkan mengubah warna kertas lakmus merah menjadi biru dan tercium bau
amoniak, ini membukatikan bahwa putih telur mengandung atom nitrogen. Pada
putih telur yang dipanaskan dengan NaOH, dan menambahkan larutan Pb-asetat
dan HCl pekat mengubah warna menjadi hitam dan tercium bau belerang, karena
terbentuknya PbS dan teroksidasinya belerang , hal ini membuktikan putih telur
mengandung belerang

2. Pengendapan Protein oleh Logam/Mineral Logam

Argumin yang ditambahkkan HgCl2 dan dan juga argumin yng ditambahkan Pb
asetat membentuk endapan. Endapan ini terjadi karena protein mengalami
denaturasi. Denaturasi yang disebabkan oleh logam bersifat irreversible yang
berarti protein tidak dapat kembali ke wujud semula. Protein mengalami
denaturasi irreversible karena adanya logam-logam berat pada larutan yaitu Hg2+
dan Pb2+

3. Pengaruh Asam Mineral Kuat (Uji Heller)

Pada Video ke 3 yaitu tentang uji heller. Langkah yang dilakukan ialah
menyiapkan larutan HNO3 kedalam tabung reaksi, lalu menambahkan urine
sample kedalam tabung tersebut. Hasilnya ialah terdapat lapisan cincin berwarna
putih. Hal ini menunjukkan adalanya albumin di dalam sampel. HNO3
menyebabkan denaturasi protein dengan ditandai adanya lapisan cincin berwarna
putih.

4. Kelarutan Protein

Pada masing masing tabung berisi albumin ditambahkan aquades, HCl, NaOH,
Etanol dam kloroform. Pada tabung yang ditambahkan aquades, HCl dan NaOH
larutan nya larut karena protein bersifat amforter yaitu larut dalam air asam dan
basa. Selanjutnya saat tabung berisi albumin ditambahkan etanol larutan
terdispersi karena protein sukar larut dalam etanol dan apabila dipanaskan akan
menggumpal. Selanjutnya pada tabung yang ditambahkan kloroform tidak larut
karena kloroform termasuk pelarut organik non polar

5. Uji Biuret

Langkah-langkahnya ialah Memasukkan 1ml sampel kedalam tabung reaksi.


Sampel terdiri dari Albumin 2%, pepton 2%, Kasein 2%, Gelatin 2% dan
Aquades. Lalu menambahkan 1ml larutan NaOH 10% kedalam masing-masing
sampel, lalu mengocoknya hingga homogen dan menambahkan 1 tetes CuSO. Uji
positif ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi ungu lembayung.
Hasilnya ialah pa Sampel Albumin, pepton, dan gelatin berubah menjadi berwarna
lembayun ungu. Sedangkan pada sampel Kasein dan aquades tidak terjadi
perubahan warna.

Hal ini terjadi karena adanya ikatan peptide mengindikasikan adanya protein,
ikatan peptide tersebut yang akan bereaksi dengan reagen biuret menghasilkan
perubahan warna. Uji positif ditandai dengan munculnya warna ungu atau merah
muda akibat adanya persenyawaan antara Cu+2 dari reagen biuret NH dari ikatan
peptide dan O dari air. Uji biuret akan menghasilkan negative pada asam amino
bebas, karena tidak memiliki ikatan peptide.

6. Denaturasi Protein oleh Suhu dan pH

Uji denaturasi protein ada tiga perlkuan yaitu oleh pemanasan, oleh asam kuat,
dan oleh logam berat. Untuk pemanasan, langkahnya ialah Memasukkan 2ml
sampel kedalam tabung reaksi. Sampel terdiri dari Albumin 2%, Pepton 2%,
Kasein 2%, Gelatin 2% lalu Dipanaskan selama ±10-15 menit. Hasilnya ialah
pada larutan sampel berubah menjadi keruh. Lalu selanjutnya oleh asam kuat,
langkahnya ialah Memasukkan 2ml sampel kedalam tabung reaksi. Sampel terdiri
dari Albumin 2%, Pepton 2%, Kasein 2%, Gelatin 2%, lalu menambahkan 2ml
H2SO4 pekat melalui dinding tabung reaksi pada masing-masing sampel. Hasilnya
ialah terdapat endapan pada semua sampel. Lalu yang ketiga ialah oleh logam
berat, langkahnya ialah Memasukkan 2ml sampel kedalam tabung reaksi. Sampel
terdiri dari Albumin 2%, Pepton 2%, Kasein 2%, Gelatin 2%, lalu menambahkan
tetes demi tetes larutan reagen yang terdiri dari AgNO3, HgCl3, Pb Asetat dan
CuSO4. Hasilnya ialah Setelah penambahan AgNO3 terdapat endapan pada larutan
sampel. Setelah penambahan HgCl3, Pb Asetat, CuSO4 larutan sampel berubah
menjadi keruh.
V KESIMPULAN

Adapun hal-hal yang dapat disimpulkan dari percobaan ini yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengidentifikasi suatu asam amino dapat dilakukan dengan uji
Ninhidrin.
2. Untuk mengidentifikasi adanya suatu protein dapat dilakukan dengan uji
biuret.
3. Denaturasi protein dapat disebabkan oleh pemanasan, penambahan asam kuat
dan penambahan logam berat
4. Untuk mengetahui adanya inti benzene dalam suatu protein dapat dilakukan
dengan uji Xantroprotein
5. Protein bersifat amfoter sehingga dapat larut pada air, asam dan basa
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar., Konsep Inti Jilid I edisi ketiga. Erlangga :
Jakarta

Devi, Nirmala. 2010. Nutrition and Food Gizi untuk Keluarga. Jakarta: PT


Kompas Media Nusantara.

Ditjen, POM. l975. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Depkes RI.

Hartono. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. : Jakarta: EGC

Poedjiadi. 2009. Dasar-dasar Biokimia. : Jakarta: UI – Press

Sastrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Organik. Yogyakarta: UGM.

Wilbraham, Antony,C., Matta, Michael. 2007. Pengantar Kimia Organik dan


Hayati. Bandung: Penerbit ITB.

Suhara. (2008). Dasar-Dasar Biokimia. Bandung: Prisma Press.

Sumardjo, Damin. 2008. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa


Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Yuwono, T. 2010. Biologi Molekuler. Jakarta : Erlangga.


LAMPIRAN
PERTANYAAN

1. Unsur-unsur apakah yang menyusun asam amino?


Jawab :
Unsur H, O, C, N dan S

2. Reaksi apakah yang terbentuk antara logam/ mineral logam dengan


protein?
Jawab :
Reaksi Millon

3. Protein yang mengadung asam amino apa yang dapat berikat dengan
logam berat?
Jawab :
Asam amino yang memiliki gugus –SH (Sistein), -OH (Tirosin) dan
guanidium (Arginin)

4. Bagaimanakah pengaruh asam mineral kuat pada protein?


Jawab :
Semua asam kuat akan menghasilkan endapan jika dilarutkan dengan protein

5. Bagaimanakah kelarutan protein dengan pereaksi di atas?


Jawab :
Tidak larut dan akan menggumpal

6. Apakah yang dimaksud dengan ikatan peptida? Bagaimana reaksi kimia yang
terjadi antara protein dengan pereaksi Biuret?
Jawab :
Ikatan peptida merupakan ikatan yang terbentuk ketika atom karbon pada
gugus karboksil suatu molekul berbagi elektron dengan atom nitrogen pada
gugus amina molekul lainnya.
Adanya ikatan peptide mengindikasikan adanya protein. Ikatan peptide
tersebut yang akan bereaksi dengan reagen biuret menghasilkan prubahan
warna. Ditunjukkan adanya muncul warna ungu atau merah muda akibat
adanya persenyawaan antara Cu2+ dari reagen dengan NH dari ikatan
peptide dari O dan air.

7. Bagaimana pengaruh suhu pada denaturasi protein?


Jawab :
Dengan adanya pemanasan membuat protein menjadi tidak larut dengan air
dan terjadi denaturasi.