Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN TUMOR OTAK

DI RUANG ICU RST dr. SOEDJONO MAGELANG

OLEH :

RAZIN HABIBUR RAHMAN

D3.KP.17.00498

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

STIKES WIRA HUSADA

YOGYAKARTA

2019
LAPORAN PENDAHULUAN
TUMOR OTAK
DI RUANG ICU RST dr. SOEDJONO MAGELANG

Laporan Pendahuluan ini telah dibaca dan diperiksa pada


Hari/Tanggal :…………………………………….

Mahasiswa Praktikan

(……………………)

Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik

(…………..…...) (………………………)
BAB I
KONSEP DASAR TUMOR OTAK

A. DEFINISI
Tumor otak merupakan salah satu tumor susunan saraf pusat, baik ganas maupun
tidak. Tumor ganas disusunan saraf pusat adalah semua proses neoplastik yang terdapat
dalam ruang intrakranial atau dalam kanalis spinalis, yang mempunyai sebagian atau
seluruh sifat-sifat proses ganas spesifik seperti yang berasal dari sel-sel saraf di meningen
otak, termasuk juga tumor yang berasal dari sel penunjang (neuroglia), sel epitel
pembuluh darah dan selaput otak (Fransisca, 2008). Tumor otak adalah tumor yang
menyerang otak, baik dari otak itu sendiri, central nervus system, maupun selaput
pembungkus otak (selaput meningen). (American Brain Tumor Association (ABTA),
2012).
Tumor otak disebut sebagai “lesi desak ruang”. Ini berarti bahwa tumor otak
menggeser jaringan normal. Ketika jaringan otak normal tertekan, aliran darah terganggu
dan terjadi iskemia. Jika tidak ditangani akan menyebabkan nekrosis. Tumor juga dapat
mengiritasi jaringan sekitar, sehingga menghasilkan edema cerebral yang cukup parah.
Oleh karena itu hanya sedikit ruang untuk ekspansi dari organ intraranial, edema dan
tumor akan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) secara progresif yang
menyebabkan herniasi dari otak (Fransisca, 2008).
Tumor otak atau tumor intracranial adalah neoplasma atau proses desak ruang
yang timbul didalam rongga tengkorak baik didalam kompartemen supratentotrial
maupun infratentotrial. (Satyanegara, dkk. 2010).

B. KLASIFIKASI
Klasifikasi tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Berdasarkan jenis tumor
1) Jinak: acoustic neuroma, mengioma, pituitary adenoma, astrocytoma (grade II).
2) Malignant: astrocytoma (grade 2,3,4), oligodendroglioma, apendymoma.
b. Berdasarkan lokasi
1) Tumor Intradural
a. Ekstramedular: cleurofibroma, meningioma
b. Intramedular:oligodendroglioma,hemangioblastoma,apendyma, astrocytoma
2) Tumor Ekstradural
Merupakan metastase dari lesi pimer, biasanya pada payudara, prostal, tiroid,
paru-paru, ginjal dan lambung.
Beberapa jenis tumor primer:
a. Glioma
Glioma adalah tumor otak yang berasl dari sel glia, yaitu glioblastoma,
arteositoma, cligodendroglioma, dan epend moma dan jenis sel astrosit.
b. Glioblastoma multiform
Glioblastoma multiform (GBM) adalah jenis glioma paling ganas. Tumor ini
paling banyak terjadi pada usia dewasa muda dengan predileksi di lobus frontal
dan temporal. namun, tumor ini dapat mengenai semua usia dan semua bagian
otak.
Glioblastoma multiform dapat tumbuh primer berasal dari GBM primer yang
tumbuh secara de novo dan GBM sekunder yang berasal dari transformasi
astrositoma log grad. GBM primer lebih banyak terjadi pada pasien yang lebih tua
dan sifatnya lebih agresif dibanding GBM sekunder.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan imejing dan
hispatologi. Berdasarkan pemeriksaan imejing, didapatkangambaran masa
irregular dengan densitas yang bervariasi disertai dengan kavitas dan dikelilingi
oleh edema yang sangat luas.ciri spesifik GBM adalah dengan ditemukannya
nekrosis dan hemoragic intra tumor.
c. Meningioma
Meningioma adalah tumor meningen disusunan saraf pusat yang berasal dari
neuroektodern, yaitu muncul dari sel-sel meningoendotelial yang banyak
terkonsentrasi di vili arachoid. Kebanyakan meningioma bersifat jinak, tetapi
beberapa tumor dapat menjadi ganas. Meningioma dapat ditemukamn di dalam
otak atau saraf tulang belakang. Tumor ini tumbuh dengan lambat dan terjadi pada
usia berapa saja. Paling sering pada usia pertengahan dan pada wanita.
Klasifikasi tumor otak menurut (Tarwoto, 2013) adalah:
a. Berdasarkan lokasi:
1) Tumor supratentorial:
a) Hemisfer otak:
- Glioma:gliomablastomamultiforme,astrositoma,oligodedroglioma.
- Meningioma:tumor metastasis
b) Tumor stuktur median:adenoma hipofisis, tumor grandula
pinealis,vkraniofaringioma.
2) Tumor infratentorial:
a) Schwannoma akustikus.
b) Tumor metastasis.
c) Meningioma.
d) Hemangioblastoma.
3) Tumor medulla spinalis:
a) Ekstradural: metastasis
b) Intradural
c) Ekstramedular:meningioma, neurofriboma.
d) Intramedural: ependinoma, astrositoma.

C. ETIOLOGI
Menurut Devi, (2014) penyebab tumor hingga saat ini belum diketahui secara pasti,
walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu
ditinjau, yaitu :
a. Predisposisi :
1) Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada
meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota
sekeluarga.
2) Sisa-sisa sel embrional ( Embrionic Cell Rest)
Embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi
dan fungsi yang terintegasi dalam tubuh.
3) Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami
perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya
suatu glioma.
4) Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang
dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam terjadinya
neoplasma, tetapi sampai saat ini belum diketahui hubungannya
b. Presipitasi
1) Peningkatan TIK yang terlalu tinggi
2) Kejang serta tanda-tanda neurologi fokal
3) Perdarahan intrakranial
4) Gangguan system kekebalan tubuh
5) Hidrosefalus
6) Gangguan hipofisis yang ada dalam otak

D. MANIFESTASI KLINIS
a. Menurut Lokasinya :
1) Lobus frontali : Status mental yang terganggu, apatis, dan perilaku menyimpang,
demensia, depresi, emosi labil, tidak mampu memusatkan perhatian, bingung,
kehilangan kontol diri dan perilaku social, gangguan ingatan jangka panjang,
gangguan bicara ekpresif pada hemisfer dominan
2) Lobus temporalis : Afasia reseptif, kejang psikomotor menyeluruh, gangguan
lapang pandang, perubahan kepribadian, ataksia, sakit kepala, tinnitus, gangguan
memori singkat.
3) Lobus parietalis : Defisit sensoris, kejang fokal motorik dan sensoris, sakit kepala,
apraksia, gangguan taktil, disorientasi kanan/kiri
4) Lobus oksipitalis : Sakit kepala, tanda-tanda peningkatan TIK, gangguan
penglihatan, halusinasi, kejang.
5) Serebelar : Langkah tidak stabil, terjatuh, ataksia, koordinasi buruk, tremor,
kepala terangkat, nistagmus.
6) Batang otak : Vertigo, pusing, muntah, palsi/disfungsi saraf cranial III-XII,
nistagmus, penurunan refles kornea, sakit kepala, ketulian, kematian mendadak
karena henti jantung atau gagal napas
7) Hipofisis dan hipotalamus : Gangguan penglihatan, sakit kepala, disfungsi
hormonal, gangguan tidur, ketidakseimbangan air.
8) Ventrikel : Obstruksi pada sirkulasi CSS, hidrosefalus, peningkatan TIK dengan
cepat, sakit kepala postural

b. Menurut Tanda dan Gejala Umum


1) Perubahan status mental
Perubahan status mental dan emosional, seperti latergi dan mengantuk,
kebingungan, disorientasi, serta perubahan kepribadian dapat ditemukan.
2) Sakit kepala
Durasi dapat meningkat apabila berubah posisi dan mengejan, sakit kepala parah
dan berulang pada klien sebelumnya bebas sakit kepala.
3) Mual dan muntah
Terjadi karena tekanan pada medulla, yang terletak pusat muntah. Selama muntah
pasien dapat mengalami hiperventilasi yang menurunkan pembengkakan otak dan
setelah episode muntah biasanya nyeri kepala akan berkurang.
4) Papiledema
Peningkatan tekanan intracranial menganggu aliran balik vena dari mata dan
menumpuk darah di vena retina sentralis (choked disc).
5) Kejang
Kejang, fokal atau umum, sering ditemui pada klien dengan tumor hemisfer
serebral. Kejang dapat parsial atau menyeluruh. Kejang parsial biasanya
membantu membatasi lokasi tumor (Satyanegara, dkk. 2010).
E. PATOFISIOLOGIS

Tumor otak menyebabkan gangguan neurologik progresif. Gangguan neurologik


pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh dua faktor : gangguan fokal
disebebkan oleh tumor dan kenaikan tekanan intracranial.

Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak, dan
infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang bertumbuh
menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya
bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan
dengan gangguan serebrovaskuler primer. Serangan kejang sebagai gejala perunahan
kepekaan neuron dihubungkan dengan kompesi invasi dan perubahan suplai darah ke
jaringan otak.

Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor :


bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor, dan perubahan
sirkulasi cairan serebrospinal. Beberapa tumor dapat menyebabkan perdarahan. Obstruksi
vena dan edema yang disebabkan oleh kerusakan sawar darah otak, semuanya
menimbulkan kenaikan volume intracranial dan meningkatkan tekanan intracranial.
Obstruksi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel lateral ke ruangan subaraknoid
menimbulkan hidrosefalus. Peningkatan tekanan intracranial akan membahayakan jiwa.
Mekanisme kompensasi memerlukan waktu lama untuk menjadi efektif dan oleh karena
itu tak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini
antara lain bekerja menurunkan volume darah intracranial, volume cairan serebrospinal,
kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim, kenaikan tekanan yang tidak
diobati mengakibatkan herniasi unkus atau serebelum yang timbul bilagirus medialis
lobus temporalis bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam
hemisfer otak. Herniasi menekan mesensenfalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan
menekan saraf otak ketiga. Kompresi medula oblogata dan henti pernafasan terjadi
dengan cepat. (Setyawan, 2013)
F. PATHWAY

Etiologi Pertumbuhan sel Tumor otak


otak abnormal

Obstruksi sirkulasi Penekanan jaringan Massa dalam otak


cairan serebrospinal otak terhadap bertambah
dari ventrikel lateral sirkulasi darah dan
ke sub arachnoid O2

Mengganggu
spesifik bagian otak
tempat tumor

Hidrochepalus Penurunan suplai O2 Timbul manifestasi


kejaringan otak klinik/gejala lokal
Kerusakan aliran akibat obstruksi sesuai lokal tumor
darah ke otak sirkulasi otak

Perpindahan cairan Tumor di cerebellum


Hipoksia cerebral
intravaskuler hipotalamus,
kejaringan serebral fossaposterior

Volume intracranial Resiko Tubuh melakukan


naik ketidakefektifan kompensasi dengan
perfusi jaringan mempercepat
otak pernapasan

Ketidakefektifan
pola nafas
Risiko Gangguan
Jiwa
G. PENATALAKSANAAN
Menurut Widagdo (2012) penatalaksanaan dari tumor otak yaitu:
a. Pertahankan intake nutrisi yang adekuat
b. Kemoterapi : dilakukan dengan indikasi tertentu sesuai dengan umur, status
neuorologi, tipe tumor. Biasanya dilakukan sesudah pembedahan dengan radioterapi.
c. Stereotaktik radiasi : dilakukan pada tumor yang pertumbuhannya lambat
d. Pembedahan
1) Kraniotomi : dilakukan pada tumor yang berada disupratentorial
2) Kraniektomi : dilakukan pada tumor yang berada di infratentorial
3) Transphenoidal prosedur : dilakukan pada tumor pituitary
4) Shunting prosedur : dilakukan jika terjadi komplikasi seperti adanya
hidrosephalus.
e. Pengobatan
1) Kortikosteroid : misalnya deksametason
2) Anti kejang : delantin
3) Analgetik : Acetaminopen

H. 12 NERVUS KRANIAL
1. Saraf I (Nervus Olfaktorius)
Saraf ini berasal dari epithelium olfaktori mukosa nasal. Berkas sarafnya menjalar
ke bulbus olfaktorius dan melalui traktus olfaktori sampai ke ujung lobus temporal
(girus olfaktori). Nervus Olfaktorius adalah jenis saraf sensoris. Fungsinya adalah
untuk menerima rangsang dari hidung dan menghantarkannya ke otak untuk diproses
sebagai sensasi bau.
2. Saraf II (Nervus Optikus)
Saraf ini bekerja membawa impuls (rangsangan)dari sel kerucut dan slel batang di
retina mata untuk dibawa ke badan sel akson yang membentuk saraf optic di bola
mata. Lalu, setiap saraf optic keluar dari bola mata pada bintik buta dan masuk ke
rongga kranial melalui foramen optic. Nervus Optikus adalah jenis saraf sensoris.
Fungsinya adalah untuk menerima rangsang dari mata lalu menghantarkannya ke otak
untuk diproses sebagai persepsi visual (penglihatan).
3. Saraf III (Nervus Occulomotorius)
Merupakan saraf gabungan, yaitu jenis saraf sensoris dan motoris, tetapi sebagian
besar terdiri dari saraf motorik. Neuron motorik berasal dari otak tengah dan
membawa impuls ke seluruh otot bola mata (kecuali otot oblik superior dan rektus
lateral), ke otot yang membuka kelopak mata dan ke otot polos tertentu pada mata.
Serabut sensorik membawa informasi indera otot (kesadaran perioperatif) dari otot
mata yang terinervasi ke otak. Fungsinya adalah untuk menggerakkan sebagian besar
otot bola mata.
4. Saraf IV (Nevrus Trochlearis)
Merupakan saraf gabungan , tetapi sebagian besar terdiri dari saraf motorik dan
merupakan saraf terkecil dalam saraf kranial. Neuron motorik berasal dari langit-
langit otak tengah dan membawa impuls ke otot oblik superior bola mata. Serabut
sensorik dari spindle (serabut) otot menyampaikan informasi indera otot dari otot
oblik superior ke otak. Fungsinya adalah untuk menggerakkan beberapa otot bola
mata
5. Saraf V (Nervus Trigeminus)
Saraf cranial terbesar, merupakan saraf gabungan tetapi sebagian besar terdiri dari
saraf sensorik. Bagian ini membentuk saraf sensorik utama pada wajah dan rongga
nasal serta rongga oral. Nervus trigeminus memiliki 3 cabang, yaitu :
a. Cabang optalmik membawa informasi dari kelopak mata, bola mata, kelenjar air
mata, sisi hidung, rongga nasal dan kulit dahi serta kepala.
b. Cabang maksilar membawa informasi dari kulit wajah, rongga oral (gigi atas, gusi
dan bibir) dan palatum.
c. Cabang mandibular membawa informasi dari gigi bawah, gusi, bibir, kulit rahang
dan area temporal kulit kepala.
Fungsi Nervus trigeminus adalah :
a. Sensoris untuk menerima rangsangan dari wajah lalu diproses di otak sebagai
rangsang sentuhan.
b. Motorik untuk menggerakkan rahang
6. Saraf VI (Nervus Abdusen)
Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari saraf motorik.
Neuron motorik berasal dari sebuah nucleus pada pons yang menginervasi otot
rektus lateral mata. Serabut sensorik membawa pesan proprioseptif dari otot
rektus lateral ke pons. Fungsinya adalah untuk melakukan gerakan abduksi mata.
7. Saraf VII (Nervus Fasialis)
Merupakan saraf gabungan. Meuron motorik terletak dalam nuclei pons.
Neuron ini menginervasi otot ekspresi wajah, termasuk kelenjar air mata dan
kelenjar saliva. Neuron sensorik membawa informasi dari reseptor pengecap pada
dua pertiga bagian anterior lidah. Fungsinya adalah :
a. Sensorik untuk menerima rangsang dari bagian anterior lidah untuk diproses
di otak sebagai persepsi rasa.
b. Motorik untuk mengendalikan otot wajah untuk menciptakak ekspresi wajah
8. Saraf VIII (Nervus Vestibulocochlearis)
Hanya terdiri dari saraf sensorik dan memiliki dua cabang, yaitu :
a. Cabang koklear atau auditori menyampaikan informasi dari reseptor untuk
indera pendengaran dalam organ korti telinga dalam ke nuclei koklear pada
medulla, ke kolikuli inferior, ke bagian medial nuclei genikulasi pada
thalamus dan kemudian ke area auditori pada lobus temporal.
b. Cabang vestibular membawa informasi yang berkaitan dengan ekuilibrium
dan orientasi kepala terhadap ruang yang diterima dari reseptor sensorik pada
telinga dalam.
Fungsinya adalah :
a. Sensoris sistem vestibular untuk mengendalikan keseimbangan tubuh
b. Sensoris koklea untuk menerima rangsang dari telinga untuk diproses di
otak sebagai suara
9. Saraf IX (Nervus Glosofaringeal)
Merupakan saraf gabungan. Neuron motorik berawal dari medulla dan
menginervasi otot untuk wicara dan menelan serta kelenjar saliva parotid. Neuron
sensorik membawa informasi yang berkaitan dengan rasa dari sepertiga bagian
posterior lidah dan sensasi umum dari faring dan laring. Neuron ini juga membawa
informasi mengenai tekanan darah dari reseptor sensorik dalam pembuluh darah
tertentu. Fungsinya adalah :
a. Sensoris untuk merima rangsang dari bagian posterior lidah untuk diproses di otak
sebagai sensasi rasa.
b. Motoris untuk mengendalikan organ-organ dalam
10. Saraf X (Nervus Vagus)
Merupakan saraf gabungan. Neuron motorik berasal dari dalam medulla dan
menginervasi hampir semua organ toraks dan abdomen. Neuron sensorik membawa
informasi dari faring, laring, trakea, esophagus, jantung dan visera abdomen ke
medulla dan pons. Fungsinya adalah :
a. Sensoris untuk menerima rangsang dari organ-organ dalam
b. Motoris untuk mengendalikan organ-organ dalam
11. Saraf XI (Nervus Asesorius)
Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari serabut motorik.
Neuron motorik berasal dari dua area : bagian cranial berawal dari medulla dan
menginervasi otot volunteer faring dan laring, bagian spinal muncul dari medulla
spinalis serviks dan menginervasi otot trapezius dan sternokleidomastoideus. Neuron
sensorik membawa informasi dari otot yang sama yang terinervasi oleh saraf
motorik ; misalnya otot laring, faring, trapezius dan otot sternokleidomastoid.
Fungsinya adalah untuk Mengendalikan pergerakan kepala.
12. Saraf XII (Nervus Hipoglosus)
Termasuk saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari saraf motorik. Neuron
motorik berawal dari medulla dan mensuplai otot lidah. Neuron sensorik membawa
informasi dari spindel otot di lidah. Fungsinya adalah untuk mengendalikan
pergerakan lidah.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, alamat, no. register, tanggal MRS,
diagnose medis.
2. Keluhan Utama
Pada penderita tumor otak mengalami nyeri kepala yang hebat, mual muntah kadang
disertai kejang.
3. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit tumor biasanya terjadi tanpa diketahui oleh penderita. Biasanya
penderita mengeluh nyeri kepala yang hebat terus menerus dan semakin bertambah
berat saat melakukan aktivitas dan disertai mual muntah dan kadang ada juga yang
mengalami kejang.
4. Riwayat penyakit dahulu
Penderita biasanya sering keluhkan nyeri kepala
5. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada salah satu anggota keluarga yang menderita tumor atau kanker dan pola
hidup yang kurang menyehatkan.
6. Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada pasien tumor otak kebanyakan bed rest total sehingga personal hygiene
mengalami gangguan.
b. Pola nutrisi dan metabolism
Pasien mengalami muntah karena adanya nyeri hebat sehingga mengakibatkan
asam lambung meningkat
c. Pola eliminasi
Pada pola eliminasi tidak terjadi gangguan.
d. Pola istirahat tidur
Pasien mengalami gangguan pada pola istirahat tidur karena adanya nyeri kepala
hebat.
e. Pola aktivitas dan latihan
Pada pasien tumor otak terjadi gangguan pola aktivitas karena nyeri kepala yang
dirasakan oleh pasien.
f. Pola persepsi dan konsep diri
Pada pola ini mengalami gangguan persepsi dan konsep diri karena pasien merasa
sudah tidak berguna lagi dan merasa dirinya orang lemah
g. Pola sensori dan kognitif
Pasien mengalami nyeri kepala terus menerus dan biasanya pasien tidak mengerti
tentang penyebab rasa nyeri kepala yang dialaminya.
h. Pola reproduksi
Tidak ada gangguan pada pola reproduksi
i. Pola hubungan peran
Tidak ada gangguan pada pola hubungan peran
j. Pola koping stress
Tidak ada gangguan pada pola koping stress
k. Pola tata nilai kepercayaan
Tidak ada gangguan pada pola tata nilai kepercayaan.

B. Pemeriksaan Fisik
1. Status kesehatan umum
Pada pasien tumor otak terjadi peningkatan tekanan darah, bradicardi, penurunan
kesadaran, juga kaji frekuensi pernafasan, iramanya dan suhu tubuh.
2. Kepala dan leher
Pada pasien tumor otak pasien merasa nyeri kepala terus menerus dan pada daerah
muka mengalami penebalan atau oedem, dan pada mata biasanya juga nebgalami
gangguan mata kabur, dan pada telinga, hidung, mulut dan faring tidak
mengalami gangguan dan biasanya terjadi nyeri pada sisi wajah yang sama.
3. Paru dan jantung
Pada paru biasanya mengalami gangguan sesak nafas karena peningkatan tekanan
intracranial dan pada jantung tidak mengalami gangguan.
4. Abdomen
Pada pasien tumor otak tidak terjadi gangguan pada abdomen
5. Inguinal, genetalia dan anus
Pada pasien tumor otak tidak terjadi gangguan pada inguinal, genetalia dan anus
6. Integument
Integument pada tumor otak permukaan kulit kering, kasar, turgor kulit menurun.
7. Ekstermitas
Mengalami gangguan neurologis.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik
2. Ketidakseimbangan nurtisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kurang asupan makanan
3. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan tumor otak
4. Hambatan mobilitas fisik

D. INTERVENSI

No. DIAGNOSA
TUJUAN INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. Nyeri akut Kriteria hasil: 1. (1400) Kaji nyeri secara
berhubungan dengan 1. (160511) melaporkan komprehensif
agen cidera fisik nyeri yang terkontrol 2. (6680) Monitor tanda-tanda
dari derajad 6 menjadi 4 vital (TD, Nadi, RR)
2. (210204) panjangnya 3. (1400) Berikan pasien
episode nyeri berangsur lingkungan yang tenang dan
berkurang. mendukung
3. (210212) TTV dalam 4. (1400) Ajarkan penggunaan
batas normal teknik non farmakologi
(relaksasi nafas dalam)
5. (2210) Kolaborasi pemberian
analgesic sesuai waktu paruh

2. Ketidakseimbangan Kriteri hasil : Konseling Nutrisi (5246)


nutrisi : kurang dari Status Nutrisi (1004) 1. Kaji ulang pengukuran intake
kebutuhan tubuh b.d - (100402) Asupan dan output cairan pasien, dan
kurang asupan makanan dari skala 3 penambahan atau penurunan
makanan (cukup menyimpang dari berat badan pasien
rentang normal) menjadi 2. Bantu pasien untuk mencatat
skala 4 (sedikit makanan yang biasanya
menyimpang dari dimakan dalam 24 jam
rentang normal) 3. Diskusikan makanan yang
disukai dan tidak disukai
4. Sediakan konsultasi/rujukan
dengan anggota kesehatan
lain sesuai kebutuhan

3. Resiko Kriteria hasil : Monitor tekanan intrakranial


ketidakefektifan Perfusi jaringan (2590)
perfusi jaringan otak serebral (0406) 1. Monitor status neurologis
b.d tumor otak 1. (040602) Tekanan di setiap 2 jam (tingkat
intrakranial tetap dalam kesadaran, pupil, reflex,
kisaran normal kemampuan motorik, nyeri
(skala 5) kepala)
2. Letakkan kepala dan leher
pasien dalam posisi netral,
hindari fleksi pinggang yang
berlebihan
3. Sesuaikan kepala tempat
tidur untuk mengoptimalkan
perfusi serebral
Monitor tanda-tanda vital
[6680]
4. Monitor ttv setiap 2 jam

4. Hambatan Mobilitas Setelah dilakukan tindakan Terapi Latihan : Mobilitas


Fisik selama 3x24 jam Sendi (0224)
diharapkan masalah pasien 1. Monitor lokasi
dapat teratasi dengan kecenderungan adanya nyeri
Kriteria Hasil: dan ketidaknyamanan
1. (0208) Pasien dapat selama pergerakan dan
menggerakan sendi dari aktivitas
skala 3 ke 4 2. Bantu pasien mendapatkan
2. (0212) Pasien dapat posisi tubuh yang optimal
menyeimbangkan untuk pergerakan sendi
gerakan pada skala 4 Terapi Latihan :
Keseimbangan (0222)
3. Diskusi tentang faktor-
faktor yang mempengaruhi
ketakutan jatuh
4. Kolaborasi dengan terapis
fisik dalam pengembangan
latihan yang sesuai

DAFTAR PUSTAKA
ABTA. 2012. About Brain Tumors a Primer For Patients and Caregivers. Chicago: ABTA. Pp
76-78
Ariani. 2012. Sistem Neurobehavior. Jakarta: Salemba Medika
Bulechek, Gloria M, dkk. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC).
CV. Mocomedia.
Fransisca, Batticaca. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Ganggung Sistem
Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika
Ginsberg, Lionel. 2011. Lecture Note Neurologi. Jakarta: Erlangga.
Harsono. 2008. Buku Ajar Nurologis. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Herdman, T. H. & Kamitsuru, S.2015. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017
Edisi 10 (Nursing Diagnoses: Definitions and Clasification). Jakarta : EGC
Indonesia: CV. Mocomedia
Moorhead, Sue, dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Indonesia:
Pearce, Evelyn. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia
Setyanegara, dkk. 2010. Ilmu Bedah Saraf Satyanegera Edisi IV. Jakarta: PT Gramedia.
Setyawan, dwi budhi. 2013. Pathway Post Operasi Craniotomy. Dengan alamat website
https://www.scribd.com/doc/142578859/Pathway-Post-Operasi-Craniotomy diakses pada
tangal 9 Oktober 2018
Tarwoto. 2013. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: CV Sagung Seto

Anda mungkin juga menyukai