Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kebijakan penyimpanan suatu komoditas tertentu di gudang mempunyai beberapa tujuan


di antaranya untuk cadangan/stok nasional jika terjadi musibah/bencana seperti gempa bumi dan
banjir baik yang terjadi secara lokal maupun nasional dan sebagai penstabil harga di pasar
(Dadang 2006).

Kegiatan penyimpanan menurut Sidik (1997) paling banyak mengakibatkan kerusakan yang
nyata pada beberapa komoditas simpanan. Menurut data yang disajikan oleh Food and
Agriculture Organization (FAO) tahun 1947 kehilangan hasil yang diakibatkan oleh adanya
infestasi serangga pada biji-bijian dan sereal lainnya mencapai 8% di tempat penyimpanan, dan
dapat mencapai 10% apabila infestasi serangga telah diawali dari lapang. Pada tahun 1998
dilaporkan bahwa kehilangan hasil pasca panen pada sereal dan kacang-kacangan berkisar antara
10% - 15% dan dapat mencapai 50% di beberapa negara Afrika dan Amerika latin, sedangkan di
Asia kehingan hasil beras akibat serangan hama pasca panen mencapai 15% (Kalshoven, 1981).

Upaya untuk menekan adanya susut kualitas dan kuantitas dapat dilakukan dengan melakukan
pemantauan terhadap serangga gudang yang berpotensi menjadi hama pasca panen pada gudang-
gudang penyimpanan. Menurut Champ (1989 dalam Sidik 2000) pemantauan (monitoring)
terhadap komoditas simpanan dan serangga hama dapat dilakukan secara terstruktur sehingga
mudah dilakukan tindakan pengendalian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi.
Lebih lanjut dijelaskan oleh McFarlane (1989dalamSidik 2000) bahwa pengetahuan dan
pemantauan (monitoring) hama yang efektif dan efisiensi akan memungkinkan dilaksanakan
penyesuaian yang tepat dengan waktu, pemilihan dan intensitas pengendalian serangga hama.

Monitoring merupakan salah satu kegiatan yang baik untuk mencegah terjadinya infestasi dan
serangan hama di gudang pada suatu waktu tertentu sehingga dapat memperkirakan terjadinya
suatu kerusakan yang akan timbul. Upaya pemantauan tidak akan berhasil dengan baik apabila
tidak diikuti dengan pengetahuan tentang keberadaan dan penyebaran serangga hama di gudang
(McFarlane1989dalam Sidik 2000)

Inventarisasi hama merupakan salah satu kegiatan pemantauan


(monitoring)
untuk
mengetahui
persebaran
Organisme

Pengganggu
Tanaman/Karantina (OPT/K) di wilayah Republik Indonesia. OPTK yang dilaporkan telah
terdapat di wilayah Republik Indonesia (A2) adalah organisme pengganggu tumbuhan yang
mempunyai potensi merugikan ekonomi nasional, penyebarannya sedang dikendalikan. Untuk
itu mengenal jenis-jenis serangga dan memahami perilaku setiap spesies serangga yang dapat
menyerang di gudang sangat diperlukan (SKTSH 2001)

Berbagai serangga yang telah dilaporkan dapat terinfestasi dan tersebar pada komoditas
yang disimpan di gudang. Serangga-serangga hama yang biasanya ditemukan di gudang
penyimpanan biji-bijian atau kacang-kacang- kacangan, misalnya kumbang Lasioderma
serricorne, Stegonium paniceum,

Araerus fasculatus De Geer, Rhyzopertha dominica, Sitophilusspp. Tribolium


castaneum(Herbst) Corcyra cephalonica, Ephestia cautella (Walker) (Surahmat
dkk. 2006).

Salah satu serangga yang juga dilaporkan sering ditemukan dan menyebabkan kerusakan
pada biji-bijian dan serealia lainnya adalah kumbang Khapra (Trogoderma granariumEverts),
yang tergolong ke dalam Ordo Coleoptra dan Famili Dermestidae. Kumbang T. granarium
merupakan salah satu hama yang menyebabkan kerusakan pada komoditas simpanan dan dapat
terikut pada saat pengiriman dalam perdagangan internasional (Banks 1977). Serangga ini
termasuk hama penting dan banyak ditemukan pada kondisi daerah yang panas dan kering.
Selain menyerang serealia, serangga ini juga dapat menginfestasi rempah-rempah dan beras
(Surahmat dkk. 2006). T. granarium saat ini dilaporkan telah tersebar di beberapa negara Asian,
termasuk Asia Tenggara, negera-negara Afrika, Australia dan USA (Morallo-Rejesus dan
Rejesus 2001).

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan untuk kumbang Khapra tersebut dapat dilakukan
dengan menggunakan feromon sehingga bermafaat juga dalam memantau keberadaan serangga
tersebut (Plarre dan Vanderwel 1999). Selain itu, insektisida dari jenis piretroid sintetik dapat
digunakan untuk membatasi terbentuknya progeni serangga T. granarium pada batasmax imum

residue limit (MRL) (Ong et al. 1994). Selanjutnya dikemukakan oleh Morallo-
Rejesus dan Rejesus (2001) bahwa saat ini fosfin dan methyl bromida banyak
digunakan sebagai fumigant untuk pengendalian hama kumbang Khapra.
Di Indonesia telah pula dilaporkan adanya keberadaanTrogoderma
granarium Everts dan dikategorikan sebagai OPTK A2. Berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Pertanian No.38/Kpts/ HK.060/1/2006 bahwa kumbang
Trogoderma granarium ditetapkan sebagai Organisme Pengganggu Tumbuhan

Karantina (OPTK ) A2 di wilayah Jawa (Deptan2006). Laporan tentang hasil pemantauan yang
dilaksanakan oleh Balai Karantina Pertanian Jakarta pada tahun 1991, menyatakan bahwa OPTK
T. granarium telah ditemukan di wilayah Jakarta dan Tangerang pada komoditas beras dan
makanan ternak. Sebaliknya, didapatkan hasil yang berbeda dari laporan pemantauan pada tahun
2001 yang meliputi wilayah Jakarta, Tangerang oleh Stasiun Karantina Tumbuhan Kelas I
Soekarno- Hatta, yang menyatakan tidak ditemukan keberadaan T. granarium (SKTSH 1991,
2001).

Namun untuk mengantisipasi terjadinya infestasi dan penyebaran serangga hama ini
secara meluas di wilayah Jakarta atau perpindahan ke daerah lain melalui pengiriman komoditas
maka dipandang perlu untuk melakukan suatu kegiatan pemantauan/pengamatan terhadap
keberadaan serangga hama tersebut. Pemantauan dapat dilakukan dengan menggunakan metode
survey ke beberapa gudang penyimpanan komoditas di wilayah Jakarta. Hal tersebut perlu
dilakukan untuk mendapatkan informasi status kumbang khapra di Wilayah Jakarta sebelum
melakukan tindakan pengendalian atau tindakan karantina lainnya agar serangga hama tidak
meluas ke wilayah lain.

Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan suatu penelitian mengenai kumbang khapra
(T. garanarium) untuk mengetahui, menelusuri dan menganalisis keberadaan dan kerusakan yang
diakibatkan kumbang khapra tersebut pada gudang-gudang penyimpanan di wilayah Jakarta.
Hasil pemantauan tersebut di harapkan akan menjadi sumber informasi penting dalam
melakukan pemetaan dan penyebaran kumbang T. granarium. Informasi yang didapatkan dari
hasil penelitian ini akan menjadi dasar untuk upaya pengendalian atau tindakan karantina
terhadap serangga hama tersebut.

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk memantau dan menelusuri keberadaan
Trogoderma granarium Everts. di wilayah Jakarta dan sekitarnya, serta mengkaji
status keberadaanT.granarium sebagai serangga hama yang digolongkan pada
OPTK A2

TINJAUAN PUSTAKA
Trogoderma granarium Everts. sinonim Trogoderma affrumPriesne r,

termasuk dalam kelas Insecta (Hexapoda), ordo Coleoptera, famili Dermestidae. Nama umum
serangga ini adalah kumbang khapra (khapra beetle). Kumbang khapra pertama kali dilaporkan
keberadaannya di India dan sampai saat ini telah ditemukan dan tersebar di beberapa negara
Asia, Australia, Eropa dan Amerika (Rahman et al. 1945, Morallo-Rejesus dan Rejesus2001).
Hinton (1945) melaporkan kumbang ini tersebar di Sri Langka, Malaysia, Rusia, China, Jepang,
Korea, Filipina, Australia, dan Madagaskar. Selanjutnya Howe mengemukakan bahwa Kumbang
ini ditemukan di berbagai tempat penyimpanan jagung di Nigeria 1948 dan juga ditemukan di
tempat penyimpanan kacang tanah pada sekitar tahun 1944 (Howe 1952). Di Amerika ditemukan
pada tahun 1953 di negara bagian Tulare, California, kemukinan sengaja masuk sejak tahun 1946
(Armitage 1954).

Secara alami kumbang ini penyebarannya relatif dalam jarak pendek dan terbatas karena
serangga dewasanya tidak dapat terbang (Lindgren et al. 1995). Menurut Pruthi dan Singh (1950)
imago dan larva tersebar dengan bantuan angin, dan dapat meluas dengan bantuan material yang
terinfestasi oleh kumbang khapra serta alat transportasi. Larva dan imago menyenangi retakan
atau celah material, pembungkus material, dinding alat transportasi.

USDA-APHIS (1981) menyatakan dalam peraturan perundang- undangannya ada 25


negara yang telah terinfestasi oleh kumbang khapra seperti Afganistan, Algeria, Bangladesh,
Burkina Faso, Cyprus, Egypt, India, Iran, Irak, Israel, Libya, Mali, Mauritania, Morocco,
Myanmar, Niger, Nigeria, Pakistan, Saudi Arabian, Sinegal, Sri Lanka, Sudan, Syria, Tunisia,
dan Turkey.
Biologi

Serangga dewasa T. granariumhidup dalam periode waktu yang sangat singkat yang
berkisar antara 5 sampai 14 hari. Menurut Ress (1996) serangga dewasa T. granariumberukuran
panjang yang berkisar antara 1.5 mm sampai 12 mm. Selanjutnya dijelaskan bahwa kumbang
tersebut memiliki rambut halus berukuran panjang 2 mm sampai 3 mm berwarna kecoklatan.
Selama periode waktu 5 sampai 14, serangga dewasa betina dapat meletakkan berkisar 50 butir
telur pada tumpukan makanan pada suhu 25ºC sampai 35 ºC. Sedangkan pada suhu di atas 40ºC
dapat meletakkan telur sebanyak 100 butir selama 3 sampai 4 hari. Serangga dewasa betina
berumur 8 sampai 12 hari dan akan mati setalah meletakkan telur (Partida dan Strong 1975).

Telur
Telur berbentuk silindris dengan satu pusat yang melingkar berwarna putih susu,
kemudian berubah menjadi kuning pucat, dan berukuran panjang 0.7 mm dan lebar 0.25 mm,
bentuk silindris (Lindgren et al 1955). Menurut Partida dan Strong (1975) telur serangga tersebut
berukuran panjang 0.2 mm, edangkan menurut Telur memiliki sedikit rambut dan akan berubah
warna dari warna kemerahan atau kuning kecoklatan pada saat telur semakin matang.

LarvaLarva instar pertama berwarna kuning kecoklatan, dan berubah menjadi

coklat kemerahan pada instar berikutnya dan berukuran panjan 6 mm pada larva instar terakhir.
Tubuh larva ditutupi rambut yang panjang pada ruas abdomen, sedangkan bagian posterior
rambut-rambutnya menyerupai ekor (Beal 1956). Larva yang masih muda tidak dapat memakan
biji-bijian yang utuh dan tergantung pada kerusakan biji – bijian atau produk makanan yang
terbuat dari biji-bijian.

Pada biji-bijian yang rusak selalu ditemukan larva muda. Larva dewasa dapat
memakan biji-bijian yang utuh.

Ketersediaan dan jumlah makanan mempengaruhi


kecepatan pertumbuhan, tetapi larva dapat bertahan hidup tanpa makan pada periode yang lama
(sekitrar 13 bulan). Fase dormansi larva lebih kurang 3 minggu dan diikuti periode makan yang
teratur. Proses tersebut memberikan hasil produksi sekitar 41% dari produksi telur yang normal.
Proses kelaparan tidak mempengaruhi lama proses pembentukan pupa dari larva dorman(Beal
1956).

Pupa

Setelah selesaiecdysis, larva berganti kulit , tetapi pupa tetap tinggal dalam kulit yang
tersisa selama hidupnya. Pupa memiliki tipe exarate, jantan lebih kecil daripada betina, rata-rata
panjangnya berturut-turut 3.5 mm dan 5 mm (Hinton 1945). Larva dan pupa memiliki ruas yang
sangat berbeda.

Imago
Serangga dewasa T. granariumdewasa berbentuk oval panjang, berukuran panjang 1.6 – 3.0 mm,
lebar 0.9 – 1.7 mm. Ukuran serangga dewasa betina sekitar 1.4 lebih panjang dari pada ukuran
serangga dewasa jantan (Hinton 1945). Serangga dewasa jantan berwarna coklat sampai
berwarna hitam dengan pola yang kurang jelas pada elitra yang berwarna coklat kemerahan.
Serangga dewasa memiliki kepala yang relatif kecil, memiliki antena yang pendek yang dan
terdiri dari 11 ruas. Pada ruas ketiga sampai kelima dari antena berbentuk seperti gada dan
bagian permukaan bagian atasnya ditutupi oleh rambut dan kelihatan mengkilat (Hinton 1945).
Imago memiliki waktu hidup yang singkat, apabila imago betina kawin hanya hidup 4 – 7 hari,
sedangkan bila tidak melakukan perkawinan 20-30 hari. Imago jantan dapat hidup 7-12 hari.
Imago tidak dapat terbang dan memiliki tungkai yang pendek. Perkawinan terjadi setelah
serangga berumur 5 hari. Kumbang ini dapat menghasilkan telur dengan sempurna pada
perkawinan pertama. Pada perkawinan kedua jumlah telur yang dihasilkan semakin meningkat.
Pada perkawinan pertama imago betina menghasilkan telur sekitar 66 butir, sedangkan pada
perkawinan kedua imago dapat mencapai lebih dari 500 butir telur. Apabila terjadi penundaan
perkawinan selama 15-20 hari maka kemampuan menghasilkan telur serangga ini akan menurun
sebesar 25% (Hinton 1945).

Ekologi

Siklus hidup dari kumbang khapra mulai dari telur sampai serangga dewasa adalah rata-
rata 220 hari pada suhu 21°C. Pertumbuhan normal serangga ini berkisar antara 21°C sampai
dengan 40°C. Serangga dewasa memiliki masa hidup antara 39 - 45 hari pada suhu 30°C dengan
kelembaban 75%. Pada suhu optimum yakni suhu 35°C, siklus hidupnya mencapai 26 hari dapat.
Kumbang khapra dapat bertahan hidup pada kondisi lingkungan yang ekstrim, baik pada kondisi
suhu yang rendah ataupun pada suhu yang sangat tinggi (Pingale 1976). Namun pada saat fase
larva, suhu di bawah 25°C larva akan bergerombol, dan berdiapause selama 6 tahun (Burges
1962). Larva dapat bertahan pada suhu - 8°C dalam kondisi tidak aktif. Pertumbuhan dapat
terjadi pada kelembaban 2%. Pada kelembaban relatif yang tinggi dapat menjadi faktor pembatas
kumbang khapra untuk dapat bertahan hidup. Pada keadaan yang lembab, kompetisi antar spesies
tidak dapat berjalan dengan baik (Burges 1962).
Kisaran inang
Kumbang khapra mengifestasi hampir seluruh hasil tanaman kering, bahan
yang berasal dari hewan, tetapi lebih menyukai biji-bijian seperti gandum,barl ey,
oats, jagung rye, dan produk olahan seperti tepung, malt, dan mie. Kumbang ini

dapat memakan produk dengan kadar air 2% (Hinton 1945). Kumbang ini juga dapat
berkembang pada material hewan seperti tikus mati, darah kering, dan serangga kering.

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat

Penelitian ini akan dilaksanakan di beberapa gudang penyimpanan komoditas beras dan
pakan ternak di wilayah Jakarta mulai dari bulan Agustus sampai dengan Nopember 2008.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah :yellow trappingyakni perangkap yang terbuat dari kertas atau
fiber kuning ukuran 8cm x 15cm, permukaan perangkap dilapisi vaseline, digantungkan di
gudang penyimpanan setinggi 2 m, carton trapping adalah karton bergelombang dengan ukuran 5
cm x 15 cm, karton diletakkan diantara dua karung dan bait trap (perangkap umpan) yakni
perangkap umpan terbuat dari kantong nilon berlubang-lubang yang diisi dengan beras pecah
kulit. Diletakkan pada celah-celah diantara karung tumpukan dalam beberapa hari. Perangkap
umpan dicampur dengan pheromon.

Metode Penelitian
Komoditas yang diamati, adalah komoditas yang umumnya diifestasi oleh
T.granarium dan komoditas yang pernah diifestasi sebelumnya di wilayah
Republik Indonesia yaitu : Beras dan Pakan Ternak.
Wilayah survei dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Wilayah Jakarta untuk memperoleh data primer yang diperoleh dari hasil
survei di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
2. Wilayah yang pernah menemukanT.granarium untuk memperoleh data
sekunder berdasarkan laporan pemantauan

Setiap karung dilakukan 3 kali pengambilan sampel acak sistematik yakni bagian atas,
tengah dan dasar karung dengan mengambil titik – titik yang sesuai dengan ekologi T.
granarium. Pengambilan sampel disesuaikan dengan bentuk stapel dan jumlah karung dalam
gudang penyimpanan. Teknik pengambilan sampel dalam gudang adalah sebagai berikut :

Masing-masing sampel yang terambil ditempatkan dalam wadah untuk mendapatkan


populasi seragga yang ditemukan. Bilamana kesulitan mendapatkan serangga yang dari sampel,
maka dapat dilakukan pemasangan perangkap seperti yellow trapping, carton trapping dan
menggunakan bait trapping.

Penentuan Gudang Simpan

Penentuan gudang simpan untuk survei dilakukan berdasarkan kepemilikan yaitu gudang
pemerintah, gudang swasta, dan gudang perorangan. Daftar gudang yang akan disurvei antara
lain :
Parameter Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan menghitung padat populasi seranggaT.
granarium yang ditemukan pada masing-masing sampel. Jenis serangga hama

gudang yang ditemukan. Pengamatan terhadap sistem manajemen gudang seperti : jalur masuk
stok barang di gudang, asal bahan simpan, upaya pengendalian yang dilakukan secara reguler
yang digunakan sebagai data sekunder.

Analisis Data
Data yang diperoleh dikaji dengan menggunakan Analisis Korelasi yang
diolah dalam program MINITAB 14.
Hasil dari analisis korelasi menjadi bahan untuk :

Mengkaji keberadaan T. granarium terhadap daerah asal bahan simpan lokal
dan impor

Mengkaji jenis bahan simpan terhadap keberadaanT.granarium

Korelasi perlakuan terhadap bahan simpan di gudang dengan keragaman jenis
hama gudang
DAFTAR PUSTAKA
Armitage HM. 1954. Current insect notes.California Dept. Agri. Bull. 43(1):41-
43.

Anonimus. 1991. Laporan hasil pemantauan organisme pengganggu tumbuhan karantina lingkup
Balai Karantina Pertanian Jakarta Tahun 1990-1991. Balai Karantina Pertanian Jakarta. Jakarta.

Anonimus. 2001. Laporan hasil pemantauan Stasiun Karantina Tumbuhan Kelas


I Soekarno-Hatta. Jakarta. 2001.
Anonimous
2006.
Surat
Keputusan
Menteri
Pertanian

No.
38/Kpts/HK.060/1/2006. Jakarta. Departemen Pertanian. Departemen Pertanian.

Barak AV. 1989. Development of a new trap to detect and monitor khapra beetle
(Coleoptera: Dermestidae).J Econ Entomol 82: 1470-1477
Bailey SW. 1957. The position of khapra beetle in Australia. FAO Plant
Protection . Bull6(2): 72-73.
Beal RS. 1956. Synopsis of the economic species of Trogoderma occurring in the
United States with description of a new species (Coleoptera: Ermestidae).Anals
of the Entomol Society of America 49: 559-566.
Beal, R.S. 1960. Description, biology, notes on the identification of some
Trogoderma larvae (Coleoptera, Dermastidae). USDA Tech. Bull. No. 1228, 26pp.
Burges DH. 1962. Diapause, pest status and control of the khapra beetle,
Trogoderma granarium Everts.Ann.Appl. Biol. 50:47:445-462.
Burges HD. 1963. Studies on the dermestid beetle, Trogderma granarium. VI.
Factors inducing diapause.Bull of Entomol Research 54: 571-587.
Dadang. 2006. Monitoring Populasi Serangga Hama Gudang.DalamPengelolaan
Hama Gudang Terpadu. KLH, UNINDO, SEAMEO BIOTROP. Jakarta.
Halid H. 2000. Monitoring populasi hama pascapanen. Di dalam:Bahan
Pelatihan Teknologi Alternatif Metil Bromida; Bogor 25-29 Agustus 2000.
Bogor: Seameo Biotrop-Indonesia.
Hinton HE. 1945. A Monograph of The Beetle Associated with Stored Producs.
British Museum (Natural History ) London. 443 pp
Howe RW. 1952. Entomological problems of food storage in northern Nigeria.
Bulletin of Entomological Research 43: 111-144.
Kalshoven LGE. 1981. The Pest of Crops In Indonesia. PT. Ichtiar Baru – Van Hoeve.
Jakarta.
Karnavar GK. 1972. Mating behavior and fecundity in Trogoderma granarium
(Coleoptera: Dermestidae). J Stored Product Research 8: 65-69.
Lindgren DL, Vincent LE, Krohne HE. 1955. The khapra beetle,Tro g o d erm a
granariumEverts. Higardia 24 ( 1): 1-36.

Morallo-Rejesus, B. and Rejesus, B.S. 2001. Biology and management of stored product and
postharvest insect pests. PhilippinesCouncil for Forestry, Agriculture and Natural Resources
Research and Development. El Guapo Printing Press.laguna.

Surahmat, E.C., Milantina, M., Arifin, S., Sunjaya, Widayanti, S. 2006. Buku Panduan Fumigasi
Fosfin Yang Baik dan Benar. SEAMEO BIOTROP, Bogor. 33 hal.

Partida, G.J. and Strong, R.G. 1975. Comparative studies on the biologies of six species ofTro g o d e r m
a : T. variable. Ann. Entomol. Soc. of America 68 (1) : 115-125.

Pruthi HS, Singh M. 1950. Pest of stored grain and their control, third resvised
edition, Replaces Indian.J.Agri.S ci. 18(4): 1-88 (1948).

Rahman KA, Sohi GS, and Sapra AN. 1945. Studies on stored granin pests in the Punjab. VI.
Biology of Trogoderma granrium Everts.India J.Agri. Sci.15(II): 85-92.

Rees, D.P. 1996. Coleoptera.In Integrated Management of Insect in Stored Product, eds
Subramaniam, B. and Hagstrum, D.W. Marcel Dekker, Inc., New York. 1-39 pp.

Sidik M. 1997. State of the art of storage management. Dalam Proceedings of the Symposium on
Pest Management for Stored Food and Feed. Bogor, 5-7 September 1995. Seameo-Biotrop.
Bogor.
http://www.scribd.com/doc/8952798/Tesis-4