Anda di halaman 1dari 92

PENGARUHINDEKS DJI, FTSE 100,NKY 2250DAN HSI

TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN SEBELUM,


KETIKA, DAN SESUDAHSUBPRIMEMORTAGAGE
PADA TAHUN 2006.2OO9

Thesis
untukmemenuhisebagian persyaratan
mencapaiderajatSprjanaS-2

ProgramStudi MagisterManajemen
JurusanIlmu-ilmu Sosial

diajukanoleh
Fajar Budhi Darmawan
20939lPSl}i4Ml06

Kepada
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2009
MAG]I TE]R MANAJEAdH{
UNIVERSITAS GAD'AII MADA

PENGARUHINDEKS DJI, FTSB 1OO,NKY 225,DAN HSI


TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN SEBELUM,
I(ETIKA, DAN SESUDAHSUBPRIMEMORTAGAGE
PADA TAHUN 2006- 2OO9

yang dipersiapkandan disusun oleh


Fajar Budhi Darmawan
20e39 /PS/MM/06
telah dipertahankandi depan Dewan Penguji
pada tanggal 1,6Juni 2009
dan dinyatakan telah lulus memenuhi syarat

Yogyakarta,L6 ]uni 2009

DosenPenguji I DosenPenguji II

--Xuailclf--
t7

tiyono, SE.,M.Com. Sukmawati Sukamulja, Prof., Dr.

DosenPembimbing

---\g
r,. I ^ -t I
/'l/l,lCN}-Y"------
a-

Sukmawati Sukamulj a, Pr of..,Dr.


PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat katya

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaandi suatu Perguruan

Tinggi, dan sepanjangpengetahuansayajuga tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secaratertulis

diacu dalam naskahini dan disebutkandalam daftar pustaka.

Yogyakarta,
16Juni2009

tu,
Fajar Budhi Darmawan
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyajikan

penyusunan tesis ini yang berjudul “Pengaruh Indeks DJI, FTSE 100, NKY

225, dan HSI terhadap Indeks Harga Saham Gabungan sebelum, ketika, dan

sesudah Subprime Mortgage pada Tahun 2006-2009”.

Tujuan dari penulisan tesis ini adalah untuk memenuhi salah satu

persyaratan pada Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, guna

mencapai gelar Sarjana S-2.

Terselesaikannya tesis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak.

Sehubungan dengan itu, disampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak/Ibu Pimpinan dan Pembantu Pimpinan di Program Pasca Sarjana

Universitas Gadjah Mada, atas segala kebijakan yang telah diterapkan

khususnya kebijakan akademik yang sangat menunjang keberhasilan penulis

dalam menyelesaikan studi di Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah

Mada.

2. Ibu Prof. Dr. Sukmawati Sukamulja selaku pembimbing tesis, atas segala

bimbingan yang diberikan selama penyusunan tesis ini.

3. Bapak/Ibu Dosen dan karyawan di Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah

Mada atas pendidikan dan bantuannya yang telah diberikan selama Penulis di

Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.

iv
4. Manajemen Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) yang telah banyak

membantu penulis dalam mengumpulkan data dan informasi yang terkait

dengan penelitian.

5. Teman-teman angkatan 9A kelas akhir pekan yang telah memberikan

dorongan dan semangat sehingga dapat terselesaikan tesis ini.

6. Semua pihak yang mungkin tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah

memberikan bantuan moril maupun materil kepada penulis hingga

terselesaikannya tesis ini.

Akhirnya, semoga segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis

dalam menyelesaikan tesis ini dapat diberikan ganjarannya oleh Allah Subhanahu

Wata’ala. Amin.

Yogyakarta, Juni 2009

Penulis

(Fajar Budhi Darmawan)

v
DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL.................................................................................. i

HALAMAN PENGESAHAN................................................................... ii

LEMBAR PERNYATAAN...................................................................... iii

KATA PENGANTAR...…………..……….……..................................... iv

DAFTAR ISI….……….……….………...……….…………................... vi

DAFTAR TABEL…………………….……………….……………....... ix

DAFTAR GAMBAR…..………………...………..……….……….…… xi

DAFTAR LAMPIRAN…………………...…………………..……….... xii

INTISARI………………………………...………………….………….. xiii

ABSTRACT………………..……………………………………….......... xiv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang…………………………………..….……… 1

B. Perumusan Masalah………...…………….…………….…… 4

1. Pembatasan Masalah……..…..…………......………...... 4

2. Pokok Masalah…………………..…….……….….…… 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian…...….…………….……….. 7

1. Tujuan Penelitian…….……..…………………….......... 7

2. Manfaat Penelitian……….…..…………………………. 7

D. Keaslian Penelitian……...…..……………....………..…….. 7

vi
E. Sistematika Penulisan............................................................... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu................................................ 10

B. Pengertian Saham dan Jenis-jenis Saham…………………... 15

C. Pengertian dan Aspek Pasar Modal………………………… 20

D. Pengertian, Proses, dan Risiko Investasi................................ 27

E. Landasan Analisis................................................................... 34

F. Hipotesis……………..…….....................…...….……..….... 35

BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian………………..…………....….………..... 36

B. Metode Pengumpulan Data…………..…………..…....…… 36

C. Operasionalisasi Variabel………….........................…..……. 37

D. Jenis Data…………………………………………………… 39

E. Analisis Data………………………………………………... 39

F. Model Penelitian……………………………………………. 40

G. Alat Analisis………………………………………………... 40

H. Alur Penelitian……………………………………………… 43

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Perkembangan Indeks Harga Saham

Regional 2006-2009……...............................................….... 44

B. Analisis Pokok Masalah………………………..…...……… 56

1. Uji Chow Break Point...................................................... 57

2. Uji Dickey-Fuller............................................................. 58

vii
3. Uji Kausalitas Granger.................................................... 65

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan............………………………..……….....…….. 71

B. Saran…………….………………....………..………...……. 72

DAFTAR PUSTAKA………………..……………….…....……………. 74

LAMPIRAN...……………………..…………..…….……...….………... 77

viii
DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 1 Metode Pengumpulan Data………………….………………… 37

Tabel 2 Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa New York……….. 46

Tabel 3 Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa London………….. 48

Tabel 4 Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa Jepang..………….. 50

Tabel 5 Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa Hong Kong..…….. 52

Tabel 6 Perkembangan Indeks Harga Saham

Bursa Efek Indonesia...............................................………….. 54

Tabel 7 Batas Kritis F-Tabel................................................................... 57

Tabel 8 Hasil Uji Chow Bursa Saham Regional terhadap IHSG........... 58

Tabel 9 Uji Stasioner Dickey-Fuller Sebelum Differencing

pada Dow Jones Industrial Average......................................... 59

Tabel 10 Uji Stasioner Dickey-Fuller Setelah First Differencing

pada Dow Jones Industrial Average......................................... 60

Tabel 11 Uji Stasioner Dickey-Fuller Sebelum Differencing

pada Financial Times Stock Exchange 100............................. 60

Tabel 12 Uji Stasioner Dickey-Fuller Setelah First Differencing

pada Financial Times Stock Exchange 100............................. 61

Tabel 13 Uji Stasioner Dickey-Fuller Sebelum Differencing

pada Nikkei 225...................................................................... 61

ix
Tabel 14 Uji Stasioner Dickey-Fuller Setelah First Differencing

pada Nikkei 225...................................................................... 62

Tabel 15 Uji Stasioner Dickey-Fuller Sebelum Differencing

pada Hangseng Index.............................................................. 62

Tabel 16 Uji Stasioner Dickey-Fuller Setelah First Differencing

pada Hangseng Index.............................................................. 63

Tabel 17 Uji Stasioner Dickey-Fuller Sebelum Differencing

pada Indeks Harga Saham Gabungan...................................... 64

Tabel 18 Uji Stasioner Dickey-Fuller Setelah First Differencing

pada Indeks Harga Saham Gabungan...................................... 64

Tabel 19 Uji Kausalitas Granger antara IHSG dengan DJIA,

FTSE, HSI, dan NKY 225 Sebelum Subprime Mortgage....... 66

Tabel 20 Uji Kausalitas Granger antara IHSG dengan DJIA,

FTSE, HSI, dan NKY 225 Ketika Subprime Mortgage.......... 67

Tabel 21 Uji Kausalitas Granger antara IHSG dengan DJIA,

FTSE, HSI, dan NKY 225 Setelah Subprime Mortgage........ 68

Tabel 22 Jenis Hubungan Kausalitas Granger antara

IHSG dengan DJIA, FTSE, HSI, dan NKY 225................... 69

x
DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar 1 Proses Transaksi Saham di Bursa Efek Indonesia.……….…… 20

Gambar 2 Hubungan antara Total, Sistematik, dan

Risiko Tidak Sistematik............................................................. 33

Gambar 3 Diagram Jalur Antar Variabel.................................................... 40

Gambar 4 Bagan Alur Penelitian................................................................ 43

Gambar 5 Grafik Perkembangan Indeks

Bursa Regional 2006-2009......................................................... 56

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Hal

Lampiran 1 Hubungan Antara DJI dengan IHSG 2006-2009.......……...... 77

Lampiran 2 Hubungan Antara FTSE dengan IHSG 2006-2009....……...... 77

Lampiran 3 Hubungan Antara HSI dengan IHSG 2006-2009.......……...... 78

Lampiran 4 Hubungan Antara N225 dengan IHSG 2006-2009....……...... 78

xii
INTISARI

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis dan mengetahui


perkembangan indeks harga saham bursa global dalam hubungannya dengan
besarnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI)
serta untuk mengetahui besarnya pengaruh indeks harga saham bursa global
secara simultan maupun parsial yang diwakili oleh empat bursa saham global
terhadap IHSG BEI sebelum, ketika, dan sesudah subprime mortgage. Adapun ke
empat bursa saham global tersebut adalah Dow Jones yang mewakili bursa saham
New York, FTSE 100 yang mewakili bursa saham London Inggris, Nikkei 225
yang mewakili bursa saham Jepang, dan Hang Seng Stock Index (HSI) yang
mewakili bursa saham Hong Kong.
Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan ketika terjadi krisis
keuangan global yang bermula dari subprime mortgage yang berdampak tidak
hanya di wilayah Amerika saja tetapi juga berdampak pada perekonomian global
seperti di Indonesia. Metode pegumpulan data yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu dengan mengumpulkan data selama 3 tahun dari tahun 2006 sampai
tahun 2009 secara harian. Penelitian dilakukan menggunakan uji kausalitas
Granger dan uji Chow-Break Point sebagai satu model analisis. Model analisis
Granger menguji hubungan antara dua variabel yang saling mempengaruhi,
sedangkan uji Chow-Break Point digunakan untuk menguji perubahan struktural
antara indeks regional dengan IHSG selama tiga tahun terakhir.
Hasil penelitian ini menunjukkan indeks Dow Jones, FTSE, dan NKY 225
memiliki pengaruh terhadap IHSG. Sedangkan indeks Hang Seng tidak memiliki
pengaruh kausalitas terhadap IHSG dan IHSG juga tidak memiliki pengaruh
terhadap HSI.

Kata kunci: Bursa Saham, Subprime Mortgage, Augmented Dickey-Fuller,


Kausalitas Granger, Chow Break Point test

xiii
ABSTRACT

This study was intended to know and analyze the fluctuations of the global
stock price index and the correlation with Jakarta Composite Index and to find
the proportion of the global stock markets influence toward Jakarta Composite
Index before, during, and after subprime mortgage. The global stock markets
represented by Dow Jones which represents New York USA stock-market, FTSE
100 which represents London England stock-market, Nikkei 225 which represent
Tokyo Japan stock-market, and Hang Seng Stock Index (HSI) which represents
Hong Kong stock-market.
This study was conducted when the global financial crisis that began from
the subprime mortgage which affect not only the United States in the region but
also affect in the global economy such as in Indonesia. The research method used
in this study is to collect data during 3 years from 2006 to year 2009 by daily
basis. This study conducted using the Granger test and Chow Break-point test as
a model. Granger test the relationship between two variables that affect each
other, while the test-Chow Break Point test is used to measure structural changes
between global stock price index and Jakarta Composite Index during the last
three years.
This empirical result show that, Dow Jones, FTSE, and NKY 225 has
influence toward Jakarta Composite Index. While Hang Seng Index doesn’t have
Granger causality toward JCI and vice versa.

Keyword: Stock Exchange, Subprime Mortgage, Augmented Dickey-Fuller,


Granger Causality, Chow Break Point test

xiv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Peristiwa subprime mortgage yang terjadi pada bulan Agustus 2007

(Soros, 2008: 52) diyakini sebagai awal dari terjadinya krisis keuangan.

Peristiwa tersebut telah mempengaruhi mekanisme investasi dan perdagangan

secara global di pasar modal dunia dan telah berdampak terhadap investor di

Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Asia (Crouhy dan Turnbull, 2008).

Peristiwa subprime mortgage merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat di

prediksi sebelumnya dan memberikan sinyal negatif dan reaksi yang beragam

pada beberapa pasar modal dunia.

Krisis yang terjadi telah menyebabkan beberapa bursa saham global

mengalami penurunan yang cukup signifikan, dimana pasar saham dunia

mengalami koreksi besar pada 2 periode. Periode pertama dimulai sejak awal

Februari 2007 dan berakhir pada pertengahan Maret 2007, sedangkan periode

kedua dimulai sejak akhir Juli 2007 dimana menurut Soros terjadi puncaknya

pada bulan Agustus 2007.

Awal dari krisis ini bermula pada tahun 2001-2005, dimana

pertumbuhan perumahan di Amerika Serikat menggelembung seiring

rendahnya suku bunga perbankan akibat kolapsnya indutri dotcom. Sejak

1995, industri dotcom (saham-saham teknologi) di AS lebih dulu booming,

1
2

namun kolaps dan menyebabkan banyak perusahaan jenis ini tak mampu

membayar pinjaman ke bank. Untuk menyelamatkan mereka, The Fed

menurunkan suku bunga, sehingga suku bunga menjadi rendah. Suku bunga

yang rendah dimanfaatkan pengembang dan perusahaan pembiayaan

perumahan untuk membangun perumahan murah dan menjualnya melalui

skema subprime mortgage. Gelembung perumahan ini terjadi di banyak

negara bagian, seperti California, Florida, New York, dan banyak negara

bagian di barat daya.

Saat bisnis perumahan mulai booming pada tahun 2001 ini, banyak

warga AS berkantong tipis yang membeli rumah murah melalui skema

subprime mortgage (KPR murah). Subprime mortgage adalah mortgage

dengan risiko yang lebih tinggi. Subprime mortgage diberikan kepada

peminjam yang memiliki sejarah kredit yang kurang bagus.

Munculnya industri subprime mortgage memungkinkan orang-orang

yang tadinya tidak bisa membeli rumah menjadi bisa membeli rumah. Tidak

semua warga negara AS memiliki uang yang cukup untuk membeli rumah

atau memiliki sejarah kredit yang baik. Mereka adalah orang dengan latar

belakang non-income non-job non-activity (NINJA) yang tidak mempunyai

kekuatan ekonomi untuk menyelesaikan tanggungan kredit yang mereka

pinjam. Sebenarnya mereka dianggap tidak layak mendapatkan pinjaman

untuk memiliki rumah murah, karena sejarah kreditnya kurang baik dan tidak

memiliki pendapatan yang cukup untuk mencicil, untuk itulah diadakan

subprime mortgage.
3

Pembiayaan jenis ini sebenarnya berisiko, baik bagi kreditor maupun

debitor, karena risiko subprime mortgage yang lebih tinggi maka bunganya

yang dikenakan kepada peminjam juga lebih tinggi, sejarah kredit peminjam

yang buruk, dan kemampuan keuangan peminjam yang rendah. Akibatnya,

menjelang 2007, pembeli rumah dengan skema ini tak sanggup mencicil kredit

rumah murah tersebut lantaran semakin sulitnya perekonomian AS.

Ketika ini terjadi, maka subprime lenders mengumpulkan berbagai

mortgage dan menjual sekumpulan mortgage tersebut kepada bank komersial.

Bank komersial kemudian menjual sebagian portfolio mortgage tersebut

kepada bank investasi. Subprime mortgage itu bisa juga dikumpulan dan

dikemas ulang dalam bentuk Mortgage-Backed Securitites. Namun, karena

penawaran perumahan ternyata melebihi permintaan seiring gelembung

industri perumahan dalam 2001-2005, nilai rumah-rumah itupun turun, tidak

sesuai lagi dengan nilai yang dijaminkan dalam MBS. Sementara bank

investasi dan hedge fund harus tetap memberi pendapatan berupa bunga

kepada para investornya.

Beberapa MBS ini, bersama instrumen utang lainnya, kemudian

dikemas ulang lagi menjadi Collateralized Debt Obligations (CDOs). CDOs

ini kemudian dijual ke berbagai bank, perusahaan asuransi, hedge funds, reksa

dana (mutual funds), dll baik di Amerika Serikat maupun di luar. Inilah asal

mula terjadinya krisis subprime mortgage yang berimbas ke seluruh dunia.

Bahkan total kerugian yang disebabkan subprime terkait dengan hutang

sebesar $300 - $400 juta (BCA research).


4

Selama tahun 2008 hampir semua bursa global mencatat penurunan

yang besar sekaligus menorehkan catatan terburuk. Indeks Harga Saham

Gabungan (IHSG) sendiri ketika pada bulan Desember 2008 tercatat turun

51,17% ke level 1.340,89. IHSG di bursa efek Indonesia mencatat penurunan

yang terburuk ke empat setelah indeks saham di Shenzen, Shanghai, dan

Mumbai (www.detikfinance.com).

Dari uraian di atas, perlu dianalisis pengaruh indeks regional (DJI,

FTSE 100, NKY 225, dan HSI) terhadap indeks harga saham gabungan

(IHSG) sebelum, ketika, dan sesudah subprime mortagage pada tahun 2006-

2009.

B. Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Untuk lebih memfokuskan pembahasan dalam tesis ini, akan

dibuat beberapa pembatasan masalah, sebagai berikut:

a. Objek Penelitian

Objek penelitian dalam tesis ini diantaranya indeks regional

pada beberapa negara seperti Dow Jones Index (DJI), Financial Times

Stock Exchange (FTSE 100), Indeks Nikkei (NKY 225), Indeks

Hangseng (HSI), dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada

Bursa Efek Indonesia (BEI).


5

b. Durasi Penelitian

Dalam rangka penulisan tesis ini dilakukan penelitian selama tiga

bulan terhitung dari bulan Februari 2008 sampai dengan April 2009.

Selama masa penelitian tersebut peneliti melakukan beberapa kegiatan

seperti persiapan, riset, penelitian pustaka, penelitian lapangan melalui

pengamatan dan pengumpulan data sekunder ke galeri Bursa Efek

Indonesia (BEI) melalui pengelolaan Pusat Referensi Pasar Modal

(PRPM).

c. Perioda Data

Perioda data yang dianalisis dalam tesis ini meliputi jangka

waktu terhitung dari tahun 2006-2009. Data termaksud dalam bentuk

perkembangan indeks harga saham gabungan seperti Dow Jones Index

(DJI), FTSE 100, Indeks Nikkei (NKY 225), Indeks Hangseng (HSI),

dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek Indonesia

(BEI) selama tiga tahun terakhir. Data tersebut dimaksudkan untuk

menghitung pengaruh indeks regional terhadap indeks harga saham

gabungan yang ada di Bursa Efek Indonesia selama tiga tahun terakhir

secara harian.

d. Pendekatan Kajian

Pendekatan kajian dalam penulisan tesis ini dengan

menggunakan pengujian secara statistik dengan menggunakan

software EVIEWS 4.1.


6

e. Aspek Kajian

Aspek kajian dalam penulisan ini terfokus pada pengaruh

pengaruh indeks regional (DJI, FTSE 100, NKY 225, dan HSI)

terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) sebelum, ketika, dan

sesudah subprime mortagage pada tahun 2006-2009. Hubungan ini di

ukur dengan menggunakan hubungan kausalitas Granger dengan

menggunakan data time-series.

f. Lingkup Kajian

Lingkup kajian dari tesis ini adalah manajemen keuangan dan

pasar modal.

2. Pokok Masalah

Pokok masalah dalam tesis ini adalah:

a. Bagaimana pengaruh indeks regional (DJI, FTSE 100, NKY 225, dan

HSI) terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) sebelum, ketika,

dan sesudah subprime mortgage pada tahun 2006-2009?

b. Bursa saham mana saja yang mengalami perubahan struktural selama

periode yang dikaji?


7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini meliputi:

a. Terketahuinya asal mula terjadinya krisis subprime mortgage;

b. Terketahuinya dampak yang ditimbulkan oleh krisis subprime

mortgage;

c. Terketahuinya pengaruh indeks regional terhadap indeks harga saham

gabungan.

2. Manfaat Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:

a. Mengetahui perkembangan indeks regional yang dapat bermanfaat

bagi pelaku pasar modal dalam pengambilan keputusan di masa yang

akan datang;

b. Mendapatkan hasil pengujian hipotesis secara statistik terhadap

hubungan dari beberapa variabel; dan

c. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat mendorong timbulnya ide

penelitian baru yang berkaitan dengan bidang pasar modal serta

bagaimana mengantisipasi terhadapa kejadian subprime mortgage.

D. Keaslian Penelitian

Peneliti menyatakan bahwa penelitian ini adalah asli, bukan plagiat

dari penelitian yang lain. Masalah yang diajukan dalam penelitian ini belum
8

pernah dipecahkan oleh peneliti terdahulu. Berdasarkan pengamatan peneliti,

sejauh ini belum ada penelitian yang meneliti pola hubungan yang serupa

dengan pola hubungan yang ingin diteliti dalam penelitian ini. Penelitian ini

lebih merupakan pengembangan dari beberapa penelitian sebelumnya yang

meneliti berbagai hubungan antara variabel-variabel penelitian yaitu DJI,

FTSE 100, NKY 225, HSI, dan IHSG.

Penelitian ini sebelumnya pernah dilakukan oleh Mohamad Mansur

(2005) yang meneliti pengaruh indeks bursa global terhadap indeks harga

saham gabungan pada Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 2000-2002.

Penelitian yang dilakukan oleh Mohamad Mansur tersebut dilakukan ketika

dunia belum mengalami kejadian subprime mortgage. Namun penelitian

tersebut menjadi masukan dalam penelitian ini.

E. Sistematika Penulisan

Secara garis besar sistematika penulisan tesis ini dibagi ke dalam lima

bab, untuk lebih detailnya dapat dijelaskan sebagai berikut.

Bab I: Pendahuluan, menguraikan mengenai latar belakang masalah,

perumusan masalah yang meliputi pembatasan masalah, pokok masalah,

tujuan dan manfaat penelitian, keaslian penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II: Tinjauan Pustaka, ini membahas mengenai penelitian

terdahulu, pengertian saham dan jenis-jenis saham, pengertian pasar modal,

metode ekonometrika, permodelan dari suatu variabel, serta pengujian data.


9

Bab III: Metode Penelitian, bab ini membahas mengenai metode

penelitian yang digunakan, desain penelitian yang meliputi variabel

independen dan dependen, analisis data, model penelitian, alur penelitian,

serta metode pengumpulan data.

Bab IV: Analisis dan Pembahasan, menguraikan tentang

perkembangan indeks bursa global, uji Chow Break Point, uji Dickey-Fuller,

uji kausalitas Granger, dan pembuktian hipotesis secara statistik dengan

menggunakan alat analisis.

Bab V: Kesimpulan dan Saran, ini berisi simpulan dari hasil analisis

dan pembahasan pada bab sebelumnya serta akan disampaikan saran-saran

serta keterbatasan penelitian yang diharapkan dapat bermanfaat bagi para

pelaku pasar modal maupun bagi para akademisi di masa yang akan datang.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

1. Hubungan Kausalitas Granger

Uji Kausalitas Granger memanfaatkan hubungan time series yang

mengidentifikasikan kausalitas sebagai berikut suatu variabel X dikatakan

mempengaruhi Y, jika variasi Y dapat dijelaskan dengan lebih baik

menggunakan nilai masa lalu X dibandingkan jika tidak menggunakannya

(Gujarati, 2004: 697).

Hooi-Hooi Lean et all (2003) dalam penelitiannya yang berjudul

Bivariate Causality between Exchage Rate and Stock Price on Major

Asean Countries dengan menggunakan metode kausalitas dan kointegrasi

menyatakan bahwa selama krisis terdapat pergerakan secara bersama-sama

dalam jangka panjang namun dengan arah yang berkebalikan. Hal ini

dapat dilihat dari terus menurunnya indeks saham saat nilai tukar terus

naik pada periode ini dan sebaliknya. Penjelasan lain yang memungkinkan

adalah adanya kepanikan dari investor yang menjual saham serta mata

uang pada saat yang sama secara terus menerus sehingga indeks saham

terus menurun sementara nilai tukar terus meningkat. Selain itu dari

penelitiannya dapat diketahui bahwa negara-negara Asia yang pada

periode sebelum krisis dan setelah serangan terorisme tidak memiliki

10
11

hubungan kausalitas justru memiliki hubungan kausalitas pada masa

setelah krisis dan sebelum serangan terorisme.

Penelitian yang dilakukan oleh Hooi-Hooi Lean membagi ke dalam

2 periode yaitu periode I sebelum krisis ekonomi yakni 1 Januari 1991- 31

Desember 1996 dan periode II yakni selama krisis dari 1 Januari 1997 – 31

Desember 2002. Periode II dibagi ke dalam 2 periode lain yakni periode

sebelum serangan terorisme di Amerika Serikat yakni 1 Januari 1997 – 10

September 2001 dan Periode setelah serangan terorisme di Amerika

Serikat yakni 11 September 2001 – 31 Desember 2002.

Penelitian tersebut menggunakan data mingguan dengan objek

penelitian di negara Hongkong, Indonesia, Singapura, Filipina, Jepang,

dan Thailand.

Penelitian tersebut menginspirasikan peneliti untuk meneliti ke

penelitian selanjutnya. Penelitian tersebut memiliki beberapa kendala

diantaranya penelitian tersebut hanya menggunakan data mingguan bukan

data harian. Selain itu penelitian tersebut dilakukan ketika dunia belum

mengalami krisis subprime mortgage.

Penelitian lainnya yang membahas mengenai keterkaitan bursa

global terhadap Bursa Efek Indonesia pernah dilakukan oleh Mohamad

Mansur pada tahun 2005 yang berjudul ”Pengaruh Indeks Bursa Global

terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek Jakarta

(BEJ) Periode tahun 2000-2002”. Penelitian tersebut bertujuan untuk

menganalisis dan mengetahui perkembangan indeks harga saham bursa


12

global dan untuk mengetahui besarnya pengaruh indeks bursa global

terhadap IHSG. Sampel penelitian tersebut mencakup tujuh bursa global

diantaranya KOSPI, HSI, Nikkei 225, TAIEX, Dow Jones, FTSE, dan

ASX. Penelitian tersebut menggunakan Path Analysis sebagai satu model

analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh ketujuh indeks

bursa saham global secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan

tetapi secara individual hanya indeks bursa KOSPI, Nikkei 225, TAIEX,

dan ASX saja yang mempengaruhi IHSG.

Peneltitian yang dilakukan oleh Mohamad Mansur memiliki

beberapa keterbatasan diantaranya terbatasnya sampel yang diteliti dan

penelitian tersebut dilakukan ketika dunia belum mengalami krisis

subprime mortgage.

Hasil penelitian Aktar (2009) menunjukkan bahwa bursa saham

Hungaria memiliki pengaruh terhadap bursa saham Turki, tetapi tidak

sebaliknya. Selanjutnya bursa saham Rusia memiliki pengaruh terhadap

bursa saham Hungaria tetapi tidak sebaliknya. Periode yang di kaji dalam

penelitian tersebut mulai dari tanggal 5 januari 2000 sampai dengan

tanggal 22 Oktober 2008. Hasil pengujian dengan menggunakan uji

kointegrasi Johansen menghasilkan terdapat hubungan jangka pendek dan

kausalitas diantara ketiga bursa saham.

2. Contagion Effect Theory

Para ahli berpendapat bahwa kondisi perekonomian suatu negara

akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian negara. Kondisi krisis


13

negara-negara Asia tahun 1997 menurut penelitian Bank Dunia terutama

disebabkan oleh adanya contagion effect (domino effect) dari negara lain

(Tan, Jose Antonio, 1998). Berdasarkan hal tersebut, maka dalam

penelitian ini akan di bahas apakah dalam kasus subprime mortgage yang

bermula di Amerika Serikat dapat mempengaruhi terhadap pasar modal

dunia. Menurut riset yang dilakukan oleh Eun dan Shim (1989) pasar

Amerika Serikat adalah pasar modal yang paling berpengaruh, sehingga

perubahan pasar AS akan dapat mempengaruhi pergerakan pasar modal

lainnya.

Penelitian Forbes dan Rigabon (2001) yang berjudul No

Contagion, Only Interdependence: Measuring Stock Market Co-

movements yang meneliti contagion dalam krisis keuangan di Asia tidak

menemukan peningkatan korelasi dengan pasar lain saat suatu pasar

mengalami penurunan. Menurutnya yang ada hanyalah hubungan

interdependensi antar pasar saja. Tidak ada mekanisme perambatan baru

karena reaksi berlebihan pelaku pasar terhadap informasi buruk di suatu

pasar sehingga korelasi dengan pasar lain meningkat. Adanya

interdependensi pasar saham dunia, seperti yang ditemukan dalam

penelitian Forbes dan Rigabon (2001), menurunkan manfaat diversifikasi

portfolio antar pasar untuk mengurangi risiko.


14

3. Perubahan Struktural

Park (1999) dalam penelitiannya yang berjudul Analysis of

Structural Changes in the US Stock Market ingin mengetahui pada periode

mana kah yang mengindikasikan adanya perubahan struktural, dimana

periode penelitian tersebut dilakukan pada tahun 1959 sampai tahun 1998.

Data yang digunakan dalam penelitian Park menggunakan data kuartalan

dengan menggunakan metode VAR dan CUSUM of square test.

Perubahan struktural ini dapat berupa perubahan yang disebabkan

seperti Monday effect. Penelitian tersebut pernah dilakukan oleh Antariksa

Budileksamana mengenai fenomena Monday effect yang dilakukan di

Bursa Efek Indonesia periode pengamatan 1999-2004. Hasil penelitian

tersebut adalah terdapat return yang negatif secara signifikan pada hari

senin atau dengan kata lain terdapat gejala Monday effect. Sementara itu

penelitian yang dilakukan oleh Pindyck dan Rotemberg (1993)

menunjukkan bahwa pergerakan bursa yang di refleksikan oleh harga

saham itu dipengaruhi oleh faktor fundamental ekonomi. Penelitian yang

serupa juga pernah dilakukan oleh Goh, et al (2005) terhadap 5 bursa

saham yang ada di ASEAN, yang menyatakan bahwa terdapat perubahan

struktural pada bursa saham Indonesia setelah pertengahan tahun 1997.


15

B. Pengertian Saham dan Jenis-jenis Saham

1. Pengertian Saham

Menurut Dahlan Siamat (2005: 507) saham atau stock adalah surat

bukti tanda kepemilikan bagian modal pada suatu perseroan terbatas.

Keuntungan yang dinikmati para pemegang saham berasal dari dividen

yang diterima dan kenaikan harga saham. Besar kecilnya dividen yang

diterima tergantung kebijakan dividen melalui Rapat Umum Pemegang

Saham (RUPS).

Dalam transaksi jual beli di bursa efek, saham atau shares

merupakan instrumen yang paling dominan diperdagangkan. Saham

tersebut dapat diterbitkan atas nama atau atas unjuk. Untuk menarik minat

investor yang potensial suatu perusahaan selain mengeluarkan saham biasa

juga mengeluarkan saham preferen yang mempunyai hak-hak prioritas

lebih dari saham biasa.

2. Jenis-jenis Saham

Saham dapat dibedakan antara saham biasa (common stock) dan

saham istimewa (preferred stock).

a. Saham Biasa (common stock)

Saham merupakan bukti kepemilikan suatu perusahaan. Saham

biasa tidak memiliki jaminan hasil karena dividen yang diberikan

perusahaan nilainya tidak tetap sesuai dengan laba yang diperoleh

perusahaan. Bila manajemen perusahaan tidak dijalankan dengan baik


16

sehingga harga saham melemah maka kemungkinan terburuk bagi para

investor adalah kehilangan investasinya (tidak mendapat pembagian

dividen). Akan tetapi bila perusahaan memperoleh penaikan laba,

terdapat kemungkinan adanya peningkatan dividen yang diterima oleh

investor.

Menurut Dahlan Siamat (2005: 508) saham biasa dapat

dibedakan dalam berbagai jenis antara lain:

1) Saham unggul (blue chips), yaitu saham yang diterbitkan oleh

perusahaan besar dan terkenal yang lebih lama memperlihatkan

kemampuannya memperoleh keuntungan dan pembayaran dividen.

2) Growth stocks, yaitu saham yang dikeluarkan oleh perusahaan

yang baik penjualannya, perolehan labanya, dan pangsa pasarnya

mengalami perkembangan yang lebih cepat dari rata-rata industri.

3) Emerging growth stocks, yaitu saham yang dikeluarkan oleh

perusahaan yang relatif lebih kecil dan memiliki daya tahan yang

kuat meskipun dalam kondisi ekonomi yang kurang mendukung.

4) Income stocks, yaitu saham yang membayar dividen lebigh dari

jumlah rata-rata pendapatan.

5) Cyclical stocks, yaitu saham perusahaan yang keuntungannya

sangat berfluktuasi.
17

6) Defensive stocks, yaitu saham yang perusahaannya dapat bertahan

dan tetap stabil dari suatu perioda atau kondisi yang tidak menentu

dan resesi.

b. Saham Istimewa (Preferred Stock)

Saham istimewa merupakan saham yang mempunyai sifat

gabungan antara obligasi dan saham biasa. Seperti pada obligasi,

pemegang saham preferen juga memberikan hasil (dividen) yang tetap

dan jumlahnya tidak akan bertambah walaupun perusahaan mengalami

keuntungan. Seperti saham biasa, apabila perusahaan terlikuidasi klaim

pemegang saham preferen dibawah klaim pemegang obligasi.

Saham preferen dapat dibedakan menjadi tiga macam:

1) Convertible Preferred Stock, yaitu jenis saham preferen yang

memungkinkan bagi pemegangnya untuk menukar menjadi saham

biasa dengan rasio penukaran yang sudah ditentukan.

2) Callable Preferred Stock, yaitu bentuk saham perferen yang

memberikan hak kepada perusahaan yang mengeluarkan untuk

membeli saham ini dari pemegang saham pada tanggal tertentu

dimasa mendatang dengan nilai tertentu.

3) Floating atau Adjustable-rate Preferred Stock, yaitu saham yang

tidak membayar dividen secara tetap, tetapi tingkat dividen yang

dibayar tergantung dari tingkat return dari sekuritas Treasury bills.


18

Saham ini merupakan saham inovasi baru di Amerika Serikat yang

baru dikenalkan pada tahun 1982.

3. Proses Perdagangan Saham

Pada dasarnya proses perdagangan efek tidak berbeda dengan

kegiatan pasar pada umumnya, yang melibatkan penjual dan pembeli,

hanya saja aktivitas ini tidak dapat dilakukan secara individual melainkan

harus melalui anggota bursa yang kemudian bertindak sebagai pembeli

atau penjual. Aktivitas jual dan beli saham di lantai bursa dilakukan

perusahaan pialang melalui orang yang ditunjuk sebagai Wakil Perantara

Pedagang Efek (WPPE).

Apabila investor bermaksud membeli atau menjual efek

perusahaan go publik, tahap-tahapnya sebagai berikut:

a. Tahap Pertama

Untuk mendapatkan informasi mengenai saham atau obligasi,

serta untuk membantu dalam melaksanakan transaksi jual beli di

Bursa, investor dapat mendatangi perantara pedagang efek (broker)

atau perusahaan pialang (securities company) yang mempunyai izin

dari Bapepam dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

b. Tahap kedua

Investor yang sudah menentukan jenis saham atau obligasi

yang akan dijual atau dibeli dengan harga tertentu harus membuka

rekening pada perusahaan pialang yang telah dipilih untuk kemudian

mengisi formulir pemesanan. Selanjutnya perusahaan pialang


19

meneruskan pesanan kepada Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE)

atau biasa di sebut Pialang atau floor trade untuk dilaksanakan.

Pialang melakukan tawar menawar melalui layar komputer

sampai terjadi kecocokan harga dan jumlah saham atau obligasi yang

dipesan sebelum memutuskan menjual atau membeli di lantai bursa.

Kemudian terjadilah transaksi diantara para perusahaan pialang

tersebut untuk kemudian diberitahukan kepada investor bahwa

pemesanan telah dilaksanakan.

c. Tahap ketiga

Setelah terjadi transaksi, perusahaan pialang akan menerima

saham/obligasi atau uang dari investor dengan jangka waktu paling

lambat 4 hari (T+4). Apabila dalam jangka waktu lebih dari T+4

investor tidak menyerahkan saham/obligasi atau uang maka hal

tersebut dianggap sebagai kelalaian dari investor sendiri.

d. Tahap keempat

Tahap ini merupakan tahap penyelesaian transaksi yang

dilakukan melalui PT Kliring Deposit Indonesia (PT KDEI) antara

Pialang jual dan Pialang beli.

e. Tahap kelima

Penyerahan saham kepada investor yang membeli dan

penyerahan uang kepada investor yang menjual.


20

Gambar 1 Proses Transaksi Saham di Bursa Efek Indonesia

Sumber: Pusat Referensi Pasar Modal, Bursa Efek Indonesia, 2008

C. Pengertian dan Aspek Pasar Modal

1. Pengertian Pasar Modal

Pasar modal merupakan sarana yang memungkinkan bagi investor

untuk melakukan pilihan investasi pada berbagai alternatif aset;

sedangkan bagi perusahaan, pasar modal merupakan sarana yang

digunakan untuk mendapatkan tambahan dana jangka panjang guna

membiayai kegiatan usahanya.


21

Pasar modal sebagai salah satu alternatif investasi berfungsi

sebagai penyalur dana dari lender (pihak yang kelebihan dana) kepada

borrower (pihak yang membutuhkan dana) dalam jangka panjang. Hal ini

sesuai dengan yang diungkapkan Lawrence J. Gitman dalam bukunya

Principles of Manajement Finance (2003: 38). “The capital market is

financial relationship created by number of institutions and arrangements

that allows the suppliers and demanders of long-term funds transactions”.

Berdasarkan definisi tersebut jelas bahwa pasar modal merupakan

tempat yang mempertemukan pihak penjual dan pembeli untuk

memperjualbelikan dana yang terdiri dari berbagai instrumen keuangan

(atau sekuritas) yang berjangka waktu lebih dari satu tahun dalam satu

bentuk institusi resmi yaitu bursa efek.

Menurut keputusan Menteri Keuangan RI No.1548/KMK/90,

tentang Peraturan Pasar Modal, pengertian pasar modal sacara umum

adalah suatu sistem keuangan yang terorganisasi termasuk didalamnya

adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara di bidang

keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga berupa saham yang

beredar.

Sementara itu, menurut UU No.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal,

Pasal 1 ayat 13, pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan

penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang

berkaitan dengan efek yang diterbitkannya dan lembaga serta profesi yang

berkaitan dengan efek.


22

Efek yang dimaksud dalam definisi diatas adalah setiap surat

berharga berupa surat pengakuan hutang, surat berharga komersial, saham,

obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan kontrak kolektif, kontrak

berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.

Efek-efek yang terdapat dalam pasar modal diperdagangkan pada

dua jenis pasar.

a. Pasar Perdana

Menurut Dahlan Siamat (1999: 199), pasar perdana merupakan

pasar tempat perusahaan pertama kali menawarkan efek secara

langsung oleh emiten kepada investor tanpa melalui bursa efek.

Pemasaran efek dalam pasar perdana dilakukan oleh penjamin emisi

(underwriter), broker, atau perusahaan efek sehingga harga perdana

atau harga yang pertama ditawarkan merupakan keputusan bersama

antara perusahaan go publik dengan underwriter.

Selain sebagai pemberi saran (advisory function), underwriter

juga berfungsi sebagai pembeli saham (underwriting function) dan

sebagai pemasar saham ke investor (marketing function). Sebagai

underwriting function, apabila sebagian saham atau obligasi yang

ditawarkan dalam pasar perdana tidak terjual, underwriter akan

membeli sendiri efek yang tidak terjual. Ini memang merupakan salah

satu resiko penjamin emisi, oleh karena itu biasanya penjamin

merupakan kelompok (konsorsium) yang secara bersama-sama


23

menjamin penjualan saham atau obligasi emiten dengan tujuan untuk

memperkecil resiko penjamin emisi.

b. Pasar Sekunder

Menurut Dahlan Siamat (1999: 199) pasar sekunder merupakan

tempat terjadinya transaksi jual-beli efek antar investor, baik secara

langsung maupun melalui Perantara Pedagang Efek (PPE) di bursa

efek. Bila pada pasar perdana harga efek adalah tetap, maka di pasar

sekunder harga masing-masing efek berfluktuasi sesuai dengan

kekuatan permintaan dan penawaran atas efek tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa pasar

modal adalah kegiatan yang berhubungan dengan efek atau surat-surat

berharga mulai dari transaksi dipasar perdana dan pendaftaran

sekuritas di pasar sekunder, serta pasar-pasar publik yang menerbitkan

saham seperti Bursa Efek Indonesia (BEI).

2. Pengertian Bursa Efek

Bursa efek atau stock exchange adalah suatu sistem yang

terorganisasi yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang

dilakukan baik seara langsung maupun dengan melalui wakil-wakilnya.

Fungsi bursa efek ini antara lain menjaga komunitas pasar dan

menciptakan harga efek yang wajar melalui mekanisme permintaan dan

penawaran (Dahlan Siamat, 1999: 197)

Agar kegiatan emisi dan transaksi di bursa efek dapat berlangsung

dengan cepat, efisien dan bisa dipercaya maka diperlukan peran lembaga-
24

lembaga pendukung pasar modal. Menurut Dahlan Siamat (1999: 200)

lembaga penunjang pasar modal di Indenesia meliputi lembaga penunjang

pasar perdana, lembaga penunjang pasar sekunder, dan lembaga penunjang

dalam emisi obligasi.

Stock index merupakan suatu indikator pasar yang mencatat rata-

rata perubahan sebagian atau seluruh harga saham (common stock) yang di

transaksikan di bursa saham. Berikut ini akan dijelaskan indeks dari

masing-masing Negara yang akan dijadikan obyek penelitian:

a. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

IHSG adalah penggambaran secara keseluruhan keadaan

harga-harga saham pada suatu bursa untuk waktu tertentu

dibandingkan dengan harga saham secara keseluruhan pada waktu

yang berbeda sehingga dapat dilihat kecenderungan kenaikan atau

penurunan.

IHSG di BEI meliputi pergerakan-pergerakan harga untuk

saham biasa dan saham preferen. Pada tanggal 1 April 1983 IHSG

diperkenalkan untuk pertama kali, dengan menggunakan landasan

dasar (baseline) tanggal 10 Agustus 1982 yang bernilai 100 dan jumlah

saham yang tercatat pada waktu itu sebanyak 13 saham.

Agar indeks benar-benar mencerminkan pergerakan harga

saham yang sesungguhnya, maka perlu diadakan penyesuaian terhadap


25

berbagai kejadian seperti IPO, rigth issue, company listing dan

delisting.

IHSG merupakan indeks gabungan dari seluruh saham yang

terdaftar, yang dikeluarkan oleh BEI. Tujuannya untuk memudahkan

investor mengukur kinerja portofolio global mereka. Indeks tersebut

memasukan hasil-hasil dari perdagangan saham yang telah

dikelompokkan dalam sektornya masing-masing.

Adapun rumus untuk menghitung IHSG adalah sebagai berikut.

Nilai Pasar
IHSG = x 100 ……………………….(1)
Nilai Dasar

b. Dow Jones Industrial Average Index (DJIA)

Dow Jones Industrial Average adalah salah satu dari beberapa

indeks pasar saham, yang dibuat pada abad. Indeks Dow merupakan

gabungan untuk mengukur kinerja sektor industri di Amerika pasar

saham. DJIA juga termasuk indeks pasar AS tertua kedua setelah Dow

Jones Transportasi Rata-rata.

c. Indeks FTSE 100

Indeks FTSE 100 atau yang biasa disebut "footsie" adalah

indeks saham dari 100 perusahaan-perusahaan yang terdaftar di

London Stock Exchange yang memiliki kapitalisasi paling tinggi.


26

Indeks FTSE 100 dikelola oleh FTSE Group, sebuah

perusahaan independen yang berasal sebagai suatu joint venture antara

Financial Times dan London Stock Exchange.

Indeks FTSE 100 mewakili sekitar 81% dari kapitalisasi pasar

dari seluruh London Stock Exchange. Walaupun FTSE All-Share

Index lebih komprehensif, dengan FTSE 100 adalah jauh yang paling

banyak digunakan Inggris indikator pasar saham.

d. Indeks Nikkei 225

Nikkei 225 adalah sebuah indeks pasar saham di Bursa Efek

Tokyo (Tse). Indeks Nikkei 225 telah dihitung oleh harian Nihon

Keizai Shimbun (Nikkei) koran sejak 1950. Saat ini, Nikkei adalah

yang paling banyak dikutip dari rata-rata Jepang equities, mirip dengan

Dow Jones Industrial Average. Bahkan, ia dikenal sebagai "Dow

Jones Nikkei Stock Average" 1975-1985.

e. Indeks Hang Seng

Indeks Hang Seng (HSI) adalah indeks yang mencatat

kapitalisasi pasar indeks saham di Hong Kong. Indeks Hang Seng ini

merupakan indikator utama dari keseluruhan performa pasar di Hong

Kong. HSI terdiri dari 45 perusahaan yang tercatat di dalam Bursa

Efek Hong Kong dimana HSI sendiri mewakili sekitar 67% dari
27

kapitalisasi pasar dari semua perusahaan yang listing di bursa saham

Hong Kong.

HSI dimulai pada tanggal 24 November 1969 yang dikelola

oleh HSI Services Limited, yang merupakan anak perusahaan dimiliki

Hang Seng Bank, bank terbesar yang terdaftar di Hong Kong dalam

hal kapitalisasi pasar.

D. Pengertian, Proses, dan Risiko Investasi

1. Pengertian Investasi

Dalam arti luas investasi diartikan sebagai penundaan konsumsi

sekarang untuk digunakan didalam produksi yang efisien selama periode

waktu yang tertentu. Sedangkan dalam arti sempit investasi adalah suatu

kegiatan menempatkan dana pada satu atau lebih dari suatu asset selama

periode tertentu dengan harapan memperoleh penghasilan atau return.

Investasi dapat dilakukan pada aktiva riil (real assets) dan aktiva

keuangan (financial assets). Pada aktiva riil, investasi dapat dilakukan baik

dalam bentuk berwujud (tangible assets) seperti membangun pabrik,

mesin, kantor, kendaraan, maupun dalam bentuk tidak berwujud seperti

(intangible assets) seperti merek dagang (trade mark) dan keahlian teknis

(technical expertise).
28

Investasi ke dalam aktiva keuangan dapat berupa investasi

langsung yaitu investasi yang dilakukan dengan membeli langsung aktiva

keuangan dari suatu perusahaan baik melalui perantara atau dengan cara

lain seperti pembelian sertifikat deposito, saham atau obligasi, maupun

investasi tidak langsung yaitu investasi yang dilakukan dengan membeli

saham dari perusahaan investasi yang mempunyai portofolio aktiva-aktiva

keuangan dari perusahaan-perusahaan lain.

2. Proses Investasi

Proses investasi menjelaskan bagaimana sebaiknya seorang

investor melakukan investasi dalam sekuritas dengan membuat keputusan

mengenai jenis sekuritas yang akan dipilih, berapa besar dan kapan

investasi tersebut akan dilakukan. Menurut Suad Husnan (1993: 23)

terdapat lima langkah yang mendasari pengambilan keputusan dalam

investasi, yaitu menentukan kebijakan investasi, analisis sekuritas,

pembentukan portofolio, revisi portofolio, dan evaluasi kinerja portofolio.

a. Menentukan Kebijakan Investasi

Pada tahap ini investor perlu menentukan apa tujuan

investasinya dan berapa banyak investasi tersebut dilakukan. Disini

investor harus benar-benar memahami bahwa terdapat hubungan yang

positif antara tingkat risiko dan return (imbal hasil) yang akan

diperoleh. Artinya bila investor hanya ingin menanggung risiko

minimal maka ia akan mendapat return dalam tingkat tertentu,


29

sebaliknya bila investor ingin mendapat return maksimal maka ia

harus menanggung risiko dalam tingkat tertentu. Oleh karena itu

sebaiknya tujuan investasi harus dinyatakan dalam return (imbal hasil)

maupun risiko.

b. Analisis Sekuritas

Tahap ini merupakan proses dimana investor melakukan

analisis terhadap penilaian sekuritas secara individual (atau beberapa

kelompok sekuritas) yang masuk dalam kategori luas dari asset

finansial yang telah diidentifikasikan sebelumnya. Salah satu tujuan

dari penilaian ini adalah untuk mengidentifikasi sekuritas mana yang

nampaknya salah harga (mispriced).

Dari banyaknya pendekatan yang digunakan untuk

menganalisis sekuritas, terdapat dua pendekatan yang lazim digunakan

yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal

adalah analisis yang menggunakan data perubahan harga dimasa lalu

sebagai upaya untuk memperkirakan harga dimasa yang akan datang.

Analisis fundamental adalah analisis yang mengidentifikasikan

prospek perusahaan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya

untuk bisa memperkirakan harga saham dimasa mendatang.

c. Pembentukan Portofolio

Portofolio diartikan sebagai kombinasi penanaman dana pada

dua sekuritas atau lebih. Pada tahap ini investor harus melakukan
30

identifikasi terhadap jenis-jenis sekuritas yang akan dipilih dan berapa

proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas

tersebut. Tujuan dari pembentukan portofolio ini adalah untuk

mengurangi unsystematic risk yang ditanggung oleh perusahaan

dengan kata lain investor melakukan diversifikasi.

d. Revisi Portofolio

Tahap ini merupakan pengulangan periodik dari tahap

pembentukan portofolio. Revisi portofolio dimaksudkan untuk

melakukan perubahan terhadap jenis portofolio yang telah dimiliki

seiring dengan dirubahnya tujuan dari investasi. Motivasi lain dari

langkah ini adalah dengan berjalannya waktu, akan terjadi perubahan

harga dari masing-masing sekuritas sehingga investor memiliki

portofolio yang bernilai optimal.

e. Evaluasi Kinerja Portofolio

Dalam tahap ini investor melakukan penilaian periodik

terhadap kinerja (performance) dari portofolio yang dimiliki. Penilaian

ini tidak hanya ditinjau dari return yang diperoleh tetapi juga dari

risiko yang dihadapi. Oleh karena diperlukan ukuran yang tepat

tentang return dan risiko serta standar yang relevan.

3. Risiko Investasi

Dalam melakukan investasi saham, investor akan memperkirakan

tingkat penghasilan yang diharapkan (expected return) atas investasinya

untuk perioda tertentu dimasa yang akan datang. Akan tetapi belum tentu
31

hasil yang diharapkan akan sama dengan hasil yang terealisasi hal ini

disebabkan adanya suatu ketidakpastian yang oleh investor dianggap

sebagai risiko investasi.

Dalam kaitannya dengan investasi, terdapat dua tipe risiko yang

harus diperhatikan oleh investor.

a. Risiko Sistematik (systematic risk)

Risiko sistematik atau sering disebut juga market risk adalah

bagian dari risiko sekuritas yang tidak dapat dihilangkan. Umumnya

risiko ini berasal dari faktor-faktor yang secara sistematik

mempengaruhi perusahaan, seperti perang, inflasi, resesi seperti yang

terjadi akhir-akhir ini, dan suku bunga yang tinggi. Karena faktor-

faktor ini cenderung menimbulkan akibat buruk bagi semua saham,

maka risiko ini tidak dapat dieleminasi melalui diversifikasi (non

diversifiable risk). Risiko sistematis ini dapat dibedakan menjadi tiga

kategori yaitu:

1) Risiko Suku Bunga

Risiko suku bunga merupakan risiko yang timbul dari

ketidakpastian dari nilai pasar dan imbal hasil dimasa depan yang

diakibatkan oleh fluktuasi suku bunga, harga surat berharga, atau

pergerakan harga saham yang berkebalikan dengan suku bunga

pasar.
32

2) Risiko Daya Beli

Risiko daya beli adalah ketidakpastian mengenai daya beli

dari penghasilan yang akan diterima di masa yang akan datang

sebagai tingkat pengembalian dari suatu investasi. Risiko ini

umumnya dikenal sebagai dampak dari inflasi dan deflasi dari

suatu investasi. Inflasi adalah kondisi di mana terjadi peningkatan

harga tinggi menyebabkan daya beli konsumen menurun,

sedangkan deflasi merupakan kondisi yang berbeda seperti dari

inflasi, yang merupakan koreksi dari harga tinggi.

3) Risiko Pasar

Risiko pasar adalah ketidakpastian terhadap harga saham

yang disebabkan oleh antisipasi masyarakat terhadap tingkat

pengembalian dari investasi. Perubahan perilaku masyarakat

terhadap return saham dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,

misalnya iklim politik, sosial budaya, ekonomi, dan juga oleh

faktor intangible, yang biasanya terkait dengan psikologi pasar.

Risiko pasar ini biasanya disebabkan oleh reaksi masyarakat

(semua investor) menuju kejadian yang sebenarnya, misalnya

penurunan laba perusahaan, panic selling sehingga menyebabkan

para investor menjual sahamnya, yang akan menyebabkan koreksi

terhadap harga saham.


33

b. Risiko Tidak Sistematik

Risiko tidak sistematik adalah risiko yang dapat dihilangkan

dengan menambah jumlah saham yang dimiliki. Risiko ini

bersangkutan dengan risiko khusus perusahaan seperti gugatan hukum,

pemogokan, program pemasaran yang gagal dan kejadian-kejadian lain

yang unik bagi perusahaan tertentu. Karena kejadian tersebut pada

hakikatnya adalah bersifat acak, maka pengaruhnya terhadap

portofolio dapat dieleminasi melalui diversifikasi (diversifiable risk).


STANDARD DEVIATION OF PORTFOLIO RETURN

Unsystematic risk

Total risk
Systematic risk

NUMBER OF SECURITIES IN PORTFOLIO

Gambar 2 Hubungan antara Total, Sistematik, dan Risiko Tidak

Sistematik

Sumber: Van Horne dan Wachowicz (1998: 111)


34

E. Landasan Analisis

Kamus online Wikipedia menjelaskan, Subprime Lenders (Pemberi

pinjaman), biasanya adalah lembaga pembiayaan perumahan, mengumpulkan

berbagai utang itu (pool) dan menjualnya kepada bank komersial. Oleh bank

komersial, sebagian portofolio tersebut dijual lagi kepada bank investasi. Oleh

bank investasi, kumpulan utang tersebut dijual kepada investor di seluruh

dunia seperti bank komersial, perusahaan asuransi, maupun investor

perorangan.

Metode analisis data yang dipergunakan untuk menganalisis data pada

penelitian ini adalah:

1. Uji Chow Break Point

Metode ini digunakan untuk menguji ada atau tidaknya perubahan

struktural.

2. Uji Stasioner Dickey-Fuller

Metode ini digunakan agar data time series yang teliti menjadi

stasioner.

3. Metode Hubungan Kausalitas Granger

Metode ini digunakan untuk menguji hubungan antar variabel yang

saling mempengaruhi (searah atau simultan).


35

F. Hipotesis

1. Hipotesis antara indeks regional terhadap IHSG sebelum subprime

mortgage

Ha Indeks regional berpengaruh terhadap IHSG sebelum subprime

mortgage;

2. Hipotesis antara indeks regional terhadap IHSG ketika subprime mortgage

Ha Indeks regional berpengaruh terhadap IHSG ketika subprime

mortgage;

3. Hipotesis antara indeks regional terhadap IHSG sesudah subprime

mortgage

Ha Indeks regional berpengaruh terhadap IHSG sesudah subprime

mortgage;
BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini membahas mengenai metode penelitian yang digunakan. Bahasan

meliputi desain penelitian, metode pengumpulan data, variabel dependen dan

independen, metode analisis, dan alur penelitian.

A. Desain Penelitian

Sampel dalam penelitian ini meliputi indeks Dow Jones Industrial

Average (DJI) yang mewakili bursa saham New York Amerika Serikat, indeks

FTSE 100 yang mewakili bursa saham London, Nikkei 225 yang mewakili

bursa saham Jepang, Hang Seng Index (HSI) yang mewakili bursa saham

Hongkong, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek

Indonesia (BEI). Penentuan sampel dalam penelitian ini guna mengetahui

tingkat signifikasi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

B. Metode Pengumpulan Data

Populasi target penelitian adalah indeks harga saham di 5 negara dari

bulan April tahun 2006 sampai Maret 2009. Data historis yang digunakan

dalam penelitian ini adalah harga indeks saham waktu penutupan perdagangan

36
37

hari pertama sampai dengan harga saham pada waktu penutupan setiap

harinya sampai dengan hari ke tiga puluh.

Data time series indeks diperoleh dari dengan cara men down load dari

website Yahoo Finance, Bloomberg, serta dari Pusat Referensi Pasar Modal

Bursa Efek Indonesia.

Tabel 1
Metode Pengumpulan Data
2006-2009

Periode Observasi
No Data Cakupan Interval
Sebelum Ketika Sesudah

Apr 06- Apr 07- Apr 08-


1 DJIA New York Harian
Mar 07 Mar 08 Mar 09
FTSE Apr 06- Apr 07- Apr 08-
2 London Harian
100 Mar 07 Mar 08 Mar 09
NKY Apr 06- Apr 07- Apr 08-
3 Jepang Harian
225 Mar 07 Mar 08 Mar 09
Apr 06- Apr 07- Apr 08-
4 HSI Hong Kong Harian
Mar 07 Mar 08 Mar 09
Apr 06- Apr 07- Apr 08-
5 IHSG Jakarta Harian
Mar 07 Mar 08 Mar 09

Sumber: www.finance.yahoo.com

C. Operasionalisasi Variabel

Variabel-variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen

(X) dan variabel dependen (Y). Terdapat empat variabel dependen dalam

penelitian ini yaitu:


38

1. Indeks Dow Jones (X1)

Menggunakan metode price weighted dimana Dow Jones adalah indeks

utama pada bursa saham New York dan perhitungannya menggunakan

sampel seluruh saham yang listing di bursa saham NYSE;

2. Indeks FTSE (X2)

Menggunakan metode price weighted dimana saham-saham yang menjadi

sampel pada perhitungan indeks ini terdiri dari 100 perusahaan ranking

tertinggi di Bursa Saham Inggris;

3. Indeks Nikkei 225 (X3)

Indeks Nikkei 225 memakai metoda price weighted dimana saham-saham

yang menjadi sampel pada perhitungan indeks ini terdiri dari 225

perusahaan ranking tertinggi pada seksi pertama di Bursa Saham Tokyo.

Indeks ini diperkenalkan pada tanggal 16 Mei 1949, dengan harga rata-rata

176,21 dan dengan pembagi 225.

4. Indeks Hang Seng (X4)

Hang Seng memakai metode value weighted yang terdiri dari 33 saham

terlikuid dan terbesar, dimana ke-33 saham tersebut mewakili 70 persen

dari kapitalisasi pasar dari Bursa Saham Hong Kong. Indeks ini dihitung

berdasarkan nilai dasar pada tanggal 31 Juli 1964.

Variabel dependen (Y) dalam penelitian ini adalah Index Harga Saham

Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG BEI dihitung dengan

menggunakan metode value weighted berdasarkan kapitalisasi pasar.

Perhitungan IHSG mencakup seluruh saham yang terdaftar di BEI.


39

D. Jenis Data

Penulis dalam penelitian ini menggunakan data sekunder. Data

sekunder adalah data yang sudah dipublikasikan untuk konsumsi umum

ataupun yang belum dipublikasikan yang diperoleh dari pihak ketiga. Data

sekunder dijadikan sebagai bahan di dalam penelitian ini seperti data yang

diambil dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, jurnal

ilmiah, serta literatur yang dipublikasikan secara lepas, baik berupa buku

referensi, artikel dari majalah, maupun situs-situs internet yang relevan, serta

melalui proses seleksi menurut kualitas dan kesesuaiannya dengan penelitian

ini.

E. Analisis Data

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan perangkat lunak

aplikasi statistik EVIEWS versi 4.1.


40

F. Model Penelitian

Dow
Jones
(X1)

PYX1
FTSE
100
(X2) PYX2
IHSG
(Y)
Nikkei PYX3
225
(X3)
PYX4

Hang
Seng
(X4)

Gambar 3 Diagram Jalur Antar Variabel

G. Alat Analisis

1. Uji Chow Break Point

Metode Chow Break Point dilakukan untuk mengidentifikasi

perubahan struktural. Metode ini dilakukan dengan cara membandingkan

hasil dari F-stat dengan hasil dari Ftabel, Null Hypothesis bahwa tidak

terjadi perubahan struktural akan ditolak jika F-stat > Ftabel. Jika nilai F

hitung tersebut lebih besar dari nilai F kritis maka kita menolak hipotesis

tidak adanya perubahan struktural atau terjadi perubahan struktural dan


41

sebaliknya jika F hitung lebih kecil dari nilai F kritis maka tidak terjadi

perubahan struktural.

Pengujian dilakukan dengan uji F. Rumusan yang digunakan adalah:

( RSS R − RSSUR ) / k
F= …………………………......….(2)
( RSSUR ) /(n1 + n 2 − 2k )

2. Uji Stasioner

Pengujian stasioner data yang akan dianalisis dilakukan dengan

menggunakan uji Dickey-Fuller. Dengan menggunakan tabel yang sesuai

dengan salah satu model time series maka hipotesis yang akan di uji:

Ho : δ ≥ 0 , model tersebut tidak stasioner

H 1 : δ < 0 , model tersebut stasioner

Null hypothesis yang menyatakan tidak adanya sifat stasioner

dalam model akan ditolak, apabila nilai t-statistik yang diperoleh berkaitan

dengan koefisien regresi model ini lebih kecil dari nilai t-tabel pada

tingkat signifikan tertentu.

3. Uji Kausalitas Granger

Tes kausalitas Granger adalah suatu pengujian untuk melihat

hubungan kausalitas antar variabel. Secara matematis, untuk melihat

apakah X menyebabkan Y atau tidak, dapat dilakukan dengan beberapa

tahapan:
42

a. H0: X tidak menyebabkan Y

Dalam regresi tentunya hal ini berarti bahwa semua koefisien regresi

bernilai 0, sehingga hipotesis dapat dituliskan dengan:

H0:β1= β2= β3=.... =βm=0

b. Buat regresi penuh dan dapatkan Sum Square of Error (SSE)

Yt=ΣαiYt-i+ ΣβiXt-i+εt

c. Buat regresi terbatas dan dapatkan pula Sum Square of Error (SSE)

Yt=ΣαiYt-i+εt

d. Lakukan uji F berdasarkan SSE yang didapat

e. Bila H0 ditolak, berarti X mempengaruhi Y. Cara yang sama juga

dapat dilakukan untuk melihat apakah Y mempunyai pengaruh

terhadap X.
43

H. Alur Penelitian

Identifikasi Kerangka
Masalah Pemikiran

Metode
Penelitian dan Desriptif :
Analisis Tabel
Grafik

Kuantitatif :
Chow Break Point
Model Kausalitas Granger
Dickey-Fuller

Pengujian awal model


{bentuk I(0)}
Uji stasioneritas

Tidak Stasioner
stasioner

Uji Kausalitas Granger


Uji Unit
Root

Kesimpulan dan Analisis:


Pengujian awal model Unidirectional
{bentuk I(1)} Bilateral
Independence

Gambar 4 Bagan Alur Penelitian


BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Perkembangan Indeks Harga Saham Regional 2006-2009

Indeks saham di suatu negara pada dasarnya merupakan cerminan dari

kinerja bursa saham di negara tersebut. Sebagai contoh perkembangan Indeks

Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI)

merupakan perkembangan dari kegiatan trading, likuiditas pasar, dan

kapitalisasi pasar dari bursa saham. Semakin besar kegiatan transaksi harian di

lantai bursa maka indeks saham cenderung akan naik, penurunan kegiatan

transaksi harian di lantai bursa akan menyebabkan indeks saham menjadi flat

atau bahkan menjadi koreksi apabila terjadi aksi jual yang besar-besaran.

Pergerakan bursa saham pada dasarnya didasari oleh perkembangan

harga saham yang terdaftar dan diperdagangkan di lantai bursa, oleh karena itu

maka perlu untuk menganalisis hubungan antara indeks saham dengan harga

saham yang tercatat di bursa secara periodik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ada di Bursa Efek

Indonesia (BEI) tentunya tidak terlepas dari pengaruh indeks harga saham di

negara-negara lain, telebih negara-negara lain yang menjadi acuan dari IHSG

ini memiliki kapitalisasi yang besar dan cenderung lebih likuid. Pengaruh

secara eksternal ini dapat disebabkan oleh kondisi ekonomi, lingkungan

politik, dan juga sosio kultural. Berdasarkan hal tersebut maka pembahasan

44
45

dalam tesis ini akan mengacu pada pengaruh indeks saham regional terhadap

indeks harga saham gabungan di Indonesia.

Tesis ini akan membahas empat indeks saham di beberapa Negara

dengan alasan memiliki kapitalisasi yang besar dan juga termasuk likuid

sehingga sering kali dijadikan acuan oleh beberapa investor terhadap indeks

harga saham yang ada di Indonesia. Keempat indeks saham tersebut

diantaranya Dow Jones yang mewakili bursa saham New York, FTSE 100

yang mewakili bursa saham London Inggris, Nikkei 225 yang mewakili bursa

saham Jepang, dan Hang Seng (HSI) yang mewakili bursa saham Hong Kong.

Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dianalisis perkembangan indeks

Dow Jones, FTSE 100, NKY 225, HSI, dan IHSG selama tiga tahun terakhir

(2006-2009).

1. Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa New York 2006-2009

Perkembangan periodik bursa saham New York selama tiga tahun

terakhir merupakan analisis dasar dan perhitungan yang didasarkan pada

imbal hasil pasar dan juga risiko sistematis, data perkembangan bursa

saham New York selama tiga tahun terakhir akan disajikan dalam tabel

berikut ini.
46

Tabel 2
DOW JONES INDUSTRIAL AVERAGE
Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa New York
2006-2009

Bulan Tahun
(n) 2006 2007 2008 2009

Des (n-1) - 12.463,15 13.264,82 8.776,39


Januari - 12.621,69 12.650,36 8.000,86
Februari - 12.268,63 12.266,39 7.062,93
Maret - 12.354,35 12.262,89 7.608,92
April 11.367,14 13.062,91 12.820,13 -
Mei 11.168,31 13.627,64 12.638,32 -
Juni 11.150,22 13.408,62 11.350,01 -
Juli 11.185,68 13.211,99 11.378,02 -
Agustus 11.381,15 13.357,74 11.543,55 -
September 11.679,07 13.895,63 10.850,66 -
Oktober 12.080,73 13.930,01 9.336,93 -
November 12.221,93 13.371,72 8.829,04 -
Desember 12.463,15 13.264,82 8.776,39 -

Sumber: www.finance.yahoo.com

Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa bursa saham Dow Jones

cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun selama tiga tahun terakhir. dari

11.367,14 pada bulan April 2006 menjadi 7.608,92 pada bulan Maret

2009. Selama tahun 2006 bursa saham Dow Jones cenderung mengalami

penguatan dari 11.367,14 pada bulan April 2006 menjadi 12.463,15 pada

bulan Desember 2006.

Tahun 2007, DJIA mengalami kecenderungan penguatan dari

12.621,69 pada bulan Januari 2007 menjadi 13.264,82 pada bulan

Desember 2007. DJIA mencapai titik terendah pada bulan Februari 2007

dan mencapai titik tertinggi pada bulan Oktober 2007.


47

Tahun 2008, DJIA mengalami kecenderungan penurunan yang

cukup signifikan dari 12.650,36 pada bulan Januari 2008 menjadi 8.776,39

pada bulan Desember 2008.

Tahun 2009, DJIA mengalami volatilitas yang cukup tinggi dari

8.000,86 pada bulan Januari 2009 menjadi 7.608,92 pada bulan Maret

2009. Sedangkan pada bulan Februari 2009 DJIA sempat menyentuh level

7.062,93.

Secara keseluruhan DJIA pada tahun 2006-2009 telah mencatat

penurunan sebesar 33,06% dari bulan April 2006 sampai bulan Maret

2009. Pada awal tahun 2009, pemilihan presiden Amerika Serikat yakni

Barrack Obama telah memberikan sentimen positif ditengah

ketidakpastian bursa global diantaranya dengan memberikan stimulus

finansial.

2. Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa London 2006-2009

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini dengan

menggunakan data harian bursa saham London. namun agar lebih jelas

dalam melihat perkembangan bursa saham London maka akan disajikan

dalam Tabel 4-2 yang memuat data bursa saham London secara bulanan.
48

Tabel 3
FINANCIAL TIMES STOCK EXCHANGE 100
Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa London
2006-2009

Bulan Tahun
(n) 2006 2007 2008 2009

Des (n-1) - 6.220,80 6.456,90 4.434,20


Januari - 6.203,10 5.879,80 4.149,60
Februari - 6.171,50 5.884,30 3.830,10
Maret - 6.308,00 5.702,10 3.926,10
April 6.023,10 6.449,20 6.087,30 -
Mei 5.723,80 6.621,40 6.053,50 -
Juni 5.833,40 6.607,90 5.625,90 -
Juli 5.928,30 6.360,10 5.411,90 -
Agustus 5.906,10 6.303,30 5.636,60 -
September 5.960,80 6.466,80 4.902,50 -
Oktober 6.129,20 6.721,60 4.377,30 -
November 6.048,80 6.432,50 4.288,00 -
Desember 6.220,80 6.456,90 4.434,20 -

Sumber: www.finance.yahoo.com

Data yang disajikan pada Tabel 3 menunjukkan bahwa indeks

harga saham FTSE 100 di bursa saham London fluktuatif dan cenderung

mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2006, FTSE

100 cenderung mengalami kenaikan dari 6.023,10 pada bulan April 2006

menjadi 6.220,80 pada bulan Desember 2006. Indeks terendah terjadi pada

bulan Mei 2006 yaitu 5.723,80 dan indeks tertinggi terjadi pada bulan

Desember 2006 yakni 6.220,80.

Tahun 2007, FTSE 100 bergerak fluktuatif dan cenderung

mengalami kenaikan dari 6.203,10 pada bulan Januari 2007 menjadi

6.456,90 pada bulan Desember 2007. Indeks terendah terjadi pada bulan
49

Februari 2007 yakni 6.171,50 sementara indeks tertinggi terjadi pada

bulan Oktober 2007 yaitu 6.721,60.

Tahun 2008, FTSE 100 cenderung mengalami penurunan

sepanjang tahun dari 5.879,80 pada bulan Januari 2008 menjadi 4.434,20

pada bulan Desember 2008 walaupun sempat mengalami kenaikan pada

bulan April dan Mei. Penurunan yang terjadi di bursa saham London ini

lebih diakibatkan oleh dampak dari krisis finansial subprime mortgage

dimana terjadi aksi jual secara besar-besaran.

Tahun 2009, pola konsolidasi masih terjadi pada FTSE 100. Hal

tersebut dapat dilihat pada indeks yang pada bulan Januari 2009 berada

pada 4.149,60, bulan Februari pada 3.830,10 kemudian pada bulan Maret

2009 FTSE 100 berada pada 3.926,10. Selama tiga tahun terakhir FTSE

100 telah mencatatkan penurunan sebesar 34,81%.

3. Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa Jepang 2006-2009

Berikut ini akan disajikan perkembangan indeks harga saham bursa

Jepang dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 secara bulanan.
50

Tabel 4
NIKKEI 225
Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa Jepang
2006-2009

Bulan Tahun
(n) 2006 2007 2008 2009

Des (n-1) - 17.225,83 15.307,78 8.859,56


Januari - 17.383,42 13.592,47 7.994,05
Februari - 17.604,12 13.603,02 7.568,42
Maret - 17.287,65 12.525,54 8.109,53
April 16.906,23 17.400,41 13.849,99 -
Mei 15.467,33 17.875,75 14.338,54 -
Juni 15.505,18 18.138,36 13.481,38 -
Juli 15.456,81 17.248,89 13.376,81 -
Agustus 16.140,76 16.569,09 13.072,87 -
September 16.127,58 16.785,69 11.259,86 -
Oktober 16.399,39 16.737,63 8.576,98 -
November 16.274,33 15.680,67 8.512,27 -
Desember 17.225,83 15.307,78 8.859,56 -

Sumber: www.finance.yahoo.com

Tabel 4 menunjukkan bahwa indeks Nikkei 225 cenderung

mengalami penurunan yang signifikan selama tiga tahun terakhir, dari

16.906,23 pada bulan April 2006 menjadi 8.109,53 pada bulan Maret

2009. Tahun 2006, Nikkei 225 cenderung fluktuasi dan mengalami

kenaikan dari 16.906,23 pada bulan April 2006 menjadi 17.225,83 pada

bulan Desember 2009. Indeks terendah terjadi pada bulan Juli 2006 yaitu

15.456,81 sementara indeks tertinggi tercatat pada bulan Desember

17.225,83 pada bulan Desember 2006.

Tahun 2007, indeks Nikkei 225 mengalami kecenderungan

pelemahan dari 17.383,42 pada bulan Januari 2007 menjadi 15.307,78


51

pada bulan Desember 2007. Nikkei 225 mencapai level terendah pada

bulan Desember 2007 dan mencapai level tertinggi pada bulan Juni 2007.

Tahun 2008, Nikkei 225 mengalami penurunan yang cukup

signifikan terlebih di akhir tahun 2008 dari 13.592,47 pada bulan Januari

2008 menjadi 8.859,56 pada bulan Desember 2008.

Tahun 2009, Nikei 225 cenderung mengalami kenaikan walaupun

pada bulan Februari sempat mengalami koreksi. Nikkei 225 mencatat level

tertinggi pada bulan Maret yaitu 8.109,53, sementara mencapai level

terendahnya pada bulan Februari 2009 yaitu 7.568,42.

Pelemahan yang terjadi di bursa Jepang, tidak terlepas dari

pengaruh dari bursa regional dimana bursa regional juga memiliki pola

yang hampir sama dengan bursa Jepang. Secara keseluruhan Nikkei 225

pada tahun 2006-2009 telah mencatat penurunan sebesar 52,03% dari

bulan April 2006 sampai bulan Maret 2009.

4. Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa Hong Kong 2006-2009

Perkembangan indeks harga saham gabungan yang ada di bursa

Hong Kong atau yang lebih dikenal dengan Hang Seng Index merupakan

cerminan dari kumulasi saham-saham yang di perdagangkan di bursa

saham Hong Kong. Perkembangan indeks harga saham bursa Hong Kong

secara bulanan dapat di jelaskan pada tabel berikut ini.


52

Tabel 5
HANG SENG INDEX
Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa Hong Kong
2006-2009

Bulan Tahun
(n) 2006 2007 2008 2009

Des (n-1) - 19.964,72 27.812,65 14.387,48


Januari - 20.106,42 23.455,74 13.278,21
Februari - 19.651,51 24.331,67 12.811,57
Maret - 19.800,93 22.849,20 13.576,02
April 16.661,30 20.318,98 25.755,35 -
Mei 15.857,89 20.634,47 24.533,12 -
Juni 16.267,62 21.772,73 22.102,01 -
Juli 16.971,34 23.184,94 22.731,10 -
Agustus 17.392,27 23.984,14 21.261,89 -
September 17.543,05 27.142,47 18.016,21 -
Oktober 18.324,35 31.352,58 13.968,67 -
November 18.960,48 28.643,61 13.888,24 -
Desember 19.964,72 27.812,65 14.387,48 -

Sumber: www.finance.yahoo.com

Data yang disajikan pada Tabel 5 menunjukkan bahwa indeks

harga saham HSI di bursa saham Hong Kong fluktuatif dan cenderung

mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir terutama pada kuartal ke

IV pada tahun 2008. Pada tahun 2006, HSI cenderung mengalami

kenaikan dari 16.661,30 pada bulan April 2006 menjadi 19.964,72 pada

bulan Desember 2006. Indeks terendah terjadi pada bulan Mei 2006 yaitu

15.857,89 dan indeks tertinggi terjadi pada bulan Desember 2006 yakni

19.964,72.

Tahun 2007, HSI bergerak fluktuatif dan cenderung mengalami

kenaikan dari 20.106,42 pada bulan Januari 2007 menjadi 27.812,65 pada
53

bulan Desember 2007. Indeks terendah terjadi pada bulan Februari 2007

yakni 19.651,51 sementara indeks tertinggi terjadi pada bulan Oktober

2007 yaitu 31.352,58.

Tahun 2008, HSI mengalami penurunan yang cukup signifikan dari

23.455,74 pada bulan Januari 2008 menjadi 14.387,48 pada akhir tahun

2008 walaupun sempat mengalami kenaikan pada bulan April dan Mei.

Tahun 2009, pola konsolidasi masih terjadi pada HSI. Hal tersebut

dapat dilihat pada indeks yang pada bulan Januari 2009 berada pada

13.278,21 sementara pada bulan Februari mengalami koreksi pada level

12.811,57 kemudian pada bulan Maret 2009 HSI berada pada 13.576,02.

Selama tiga tahun terakhir HSI telah mencatatkan penurunan sebesar

18,51%.
54

Tabel 6
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN
Perkembangan Indeks Harga Saham Bursa Efek Indonesia
2006-2009

Bulan Tahun
(n) 2006 2007 2008 2009

Des (n-1) - 1.805,52 2.745,83 1.355,41


Januari - 1.757,26 2.627,25 1.332,67
Februari - 1.740,97 2.721,94 1.285,48
Maret - 1.830,92 2.447,30 1.434,07
April 1.464,41 1.999,17 2.304,52 -
Mei 1.330,00 2.084,32 2.444,35 -
Juni 1.310,26 2.139,28 2.349,10 -
Juli 1.351,65 2.348,67 2.304,51 -
Agustus 1.431,26 2.194,34 2.165,94 -
September 1.534,61 2.359,21 1.832,51 -
Oktober 1.582,63 2.643,49 1.256,70 -
November 1.718,96 2.688,33 1.241,54 -
Desember 1.805,52 2.745,83 1.355,41 -

Sumber: www.finance.yahoo.com

Tabel 6 menunjukkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan

(IHSG) cenderung bergerak konsolidasi dimana pada akhir tahun 2007

mengalami rally namun pada tahun 2008 terutama pada kuartal IV

mengalami kecenderungan yang menurun. Tahun 2006, IHSG cenderung

fluktuasi dan mengalami kenaikan dari 1.464,41 pada bulan April 2006

menjadi 1.805,52 pada bulan Desember 2006. Indeks terendah terjadi pada

bulan Mei 2006 yaitu 1.330,00 sementara indeks tertinggi tercatat pada

bulan Desember yaitu 1.805,52.

Tahun 2007, IHSG mengalami kecenderungan kenaikan yang

signifikan dari 1.757,26 pada bulan Januari 2007 menjadi 2.745,83 pada
55

bulan Desember 2007. IHSG mencapai level terendah pada bulan Februari

2007 dan mencapai level tertinggi pada bulan Desember 2007.

Tahun 2008, IHSG mengalami penurunan yang cukup signifikan

hampir 50 % terlebih di akhir tahun 2008 dari 2.627,25 pada bulan Januari

2008 menjadi 1.355,41 pada bulan Desember 2008.

Tahun 2009, IHSG cenderung mengalami kenaikan walaupun pada

bulan Februari sempat mengalami koreksi. IHSG mencatat level tertinggi

pada bulan Maret yaitu 1.434,07, sementara mencapai level terendahnya

pada bulan Februari 2009 yaitu 1.285,48.

Secara keseluruhan IHSG pada tahun 2006-2009 telah mencatat

penurunan sebesar 2,07% dari bulan April 2006 sampai bulan Maret 2009.

Selama tiga tahun terakhir IHSG mengalami penurunan yang kurang

berarti bila dibandingkan dengan bursa saham lainnya, walaupun sempat

mengalami kecenderungan bearish pada akhir tahun 2008.

Indeks harga saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks

harga saham gabungan yang menunjukan kinerja pasar saham di tiap negara

yang dijadikan obyek penelitian. Masing-masing indeks tersebut adalah IHSG

untuk Indonesia, DJI untuk Amerika, FTSE untuk Inggris, N225 untuk

Jepang, dan HSI untuk Hong kong. Perkembangan masing-masing indeks dari

tahun ke tahun diperlihatkan dalam grafik berikut:


56

Gambar 5 Grafik Perkembangan Indeks Bursa Regional 2006-2009

Sumber: www.finance.yahoo.com

B. Analisis Pokok Masalah

Pada bagian ini penulis akan mengungkapkan hubungan kausalitas

Granger antara variabel bursa regional yang meliputi Dow Jones yang

mewakili bursa saham New York, FTSE 100 yang mewakili bursa saham

London Inggris, Nikkei 225 yang mewakili bursa saham Jepang, dan Hang

Seng (HSI) yang mewakili bursa saham Hong Kong terhadap Indeks Harga

Saham Gabungan (IHSG) di bursa efek Indonesia pada tiga periode yang

berbeda.

Periode pertama, adalah masa sebelum subprime mortgage yakni dari

April 2006 sampai Maret 2007. Periode kedua, adalah masa ketika subprime

mortgage yakni dari April 2007 sampai Maret 2008, dimana terjadinya

subprime mortgage diperkirakan pada bulan Agustus 2007 (Soros, 2008: 52).
57

Periode ketiga, adalah masa sesudah subprime mortgage yakni dari April 2008

sampai Maret 2009. Analisis data time series pada penelitian ini menggunakan

metode kausalitas Granger dan pengujian-pengujian pendahuluan seperti uji

akar unit (unit root test) dan uji Chow Break Point. Pengolahan data dilakukan

dengan menggunakan Eviews 4.1, sedangkan data yang digunakan pada

model kausalitas Granger adalah data rata-rata harian selama tiga tahun

terakhir dimana seluruh variabel menggunakan bentuk first difference.

1. Uji Chow Break Point

Uji Chow Break Point ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa

terdapat perubahan struktural. Dalam uji Chow data dipisahkan menjadi

dua atau lebih bagian (Kuncoro, 2002: 7). Jika nilai F hitung tersebut lebih

besar dari nilai F kritis maka kita menolak hipotesis tidak adanya

perubahan struktural atau terjadi perubahan struktural dan sebaliknya jika

F hitung lebih kecil dari nilai F kritis maka tidak terjadi perubahan

struktural.

Berikut nilai dari F-tabel dan hasil Chow test pada masing-masing

negara dengan bulan Maret 2007 dan Maret 2008 sebagai bulan

perpotongan untuk dijadikannya uji Chow.

Tabel 7
Batas Kritis F-Tabel

α = 0,1 α = 0,05 α = 0,01


2,309422 3,007312 4,632573

Sumber: data diolah dengan Microsoft Excel


58

Tabel 8
Hasil Uji Chow Bursa Saham Regional terhadap IHSG

Negara F-Stat

Amerika 1,452851
Inggris 1,787207
Jepang 10,13892*
Hong Kong 7,674860*

Sumber: Eviews 4.1

Keterangan:
* menunjukan Ho ditolak pada level 1%, 5%, dan 10%

Berdasarkan hasil dari Tabel 8 menunjukkan bahwa nilai F-Stat>F-

Tabel untuk kedua negara yaitu untuk negara Jepang dan Hong Kong yang

menunjukkan untuk menolak Ho, hal tersebut mengindikasikan bahwa

terdapat perubahan struktural untuk tingkat signifikansi baik itu untuk 1%,

5%, dan 10 %. Sementara itu untuk negara Amerika dan Inggris

menunjukkan nilai F-Stat<F-Tabel, hal tersebut mengindikasikan bahwa

tidak ada perubahan struktural.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua negara yang

mengalami perubahan struktural yaitu Jepang dan Hingkong. Hal tersebut

mengindikasikan bahwa pasar modal tersebut sangat sensitif.

2. Uji Dickey-Fuller

Uji Dickey-Fuller diperlukan agar data menjadi stasioner

mengingat dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data yang

sifatnya time series. Suatu data time series dapat cenderung non-stasioner

disebabkan karena trend waktu pengamatannya linier atau eksponensial.


59

Stasioneritas merupakan salah satu pra-syarat penting dalam model

ekonometrika untuk data runtun waktu (time series).

Hipotesis untuk pengujian ini adalah:

H0 : δ ≥ 0 (terdapat unit root, tidak stasioner)

H1 : δ < 0 (tidak terdapat unit root, stasioner)

Tabel 9
DOW JONES INDUSTRIAL AVERAGE
Uji Stasioner Dickey-Fuller Sebelum Differencing
2006-2009

Null Hypothesis: DJIA has a unit root


Exogenous: Constant
Lag Length: 2 (Automatic based on SIC. MAXLAG=20)
t-Statistic Prob.*
Augmented Dickey-Fuller test statistic 0,357170 0,9810
Test critical values: 1% level -3,438518
5% level -2,865035
10% level -2,568686
Sumber: Eviews 4.1

Tabel 9 menunjukkan hasil uji stationeritas untuk variabel DJIA.

Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai probability sebesar 0,9810. Nilai

tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dinyatakan bahwa pada taraf level

data tidak stasioner sehingga harus dilakukan differencing 1 kali. Hasil

yang diperoleh ditampilkan pada tabel di bawah ini:


60

Tabel 10
DOW JONES INDUSTRIAL AVERAGE
Uji Stasioner Dickey-Fuller Setelah First Differencing
2006-2009

Null Hypothesis: D(DJIA) has a unit root


Exogenous: Constant
Lag Length: 1 (Automatic based on SIC. MAXLAG=20)
t-Statistic Prob.*
Augmented Dickey-Fuller test statistic -23,68631 0,0000
Test critical values: 1% level -3,438518
5% level -2,865035
10% level -2,568686
Sumber: Eviews 4.1

Tabel 10 menunjukkan hasil uji stasioneritas setelah dilakukan

dengan differencing 1 kali. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai

probability sebesar 0,0000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan hasil ini

disimpulkan bahwa DJIA stasioner dengan differencing level 1.

Tabel 11
FINANCIAL TIMES STOCK EXCHANGE 100
Uji Stasioner Dickey-Fuller Sebelum Differencing
2006-2009

Null Hypothesis: FTSE has a unit root


Exogenous: Constant
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC. MAXLAG=20)
t-Statistic Prob.*
Augmented Dickey-Fuller test statistic -0,556863 0,8771
Test critical values: 1% level -3,438497
5% level -2,865026
10% level -2,568681
Sumber: Eviews 4.1

Tabel 11 menunjukkan hasil uji stationeritas untuk variabel FTSE.

Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai probability sebesar 0,8771. Nilai

tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dinyatakan bahwa pada taraf level
61

data tidak stasioner sehingga harus dilakukan differencing 1 kali. Hasil

yang diperoleh ditampilkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 12
FINANCIAL TIMES STOCK EXCHANGE 100
Uji Stasioner Dickey-Fuller Setelah First Differencing
2006-2009

Null Hypothesis: D(FTSE) has a unit root


Exogenous: Constant
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC. MAXLAG=20)
t-Statistic Prob.*
Augmented Dickey-Fuller test statistic -30,60702 0,0000
Test critical values: 1% level -3,438508
5% level -2,865030
10% level -2,568684
Sumber: Eviews 4.1

Tabel di atas menunjukkan hasil uji stasioneritas setelah dengan

differencing 1 kali. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai probability

sebesar 0,0000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan hasil ini disimpulkan

bahwa FTSE stationer dengan differencing level 1.

Tabel 13
NIKKEI 225
Uji Stasioner Dickey-Fuller Sebelum Differencing
2006-2009
Null Hypothesis: NKY225 has a unit root
Exogenous: Constant
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC. MAXLAG=20)
t-Statistic Prob.*
Augmented Dickey-Fuller test statistic -0,214911 0,9340
Test critical values: 1% level -3,438497
5% level -2,865026
10% level -2,568681
Sumber: Eviews 4.1

Tabel di atas menunjukkan hasil uji stasioneritas untuk variabel

NKY225. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai probability sebesar


62

0,9340. Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dinyatakan bahwa

pada taraf level data tidak stationer sehingga harus dilakukan differencing

1 kali. Hasil yang diperoleh ditampilkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 14
NIKKEI 225
Uji Stasioner Dickey-Fuller Setelah First Differencing
2006-2009
Null Hypothesis: D(NKY225) has a unit root
Exogenous: Constant
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC. MAXLAG=20)
t-Statistic Prob.*
Augmented Dickey-Fuller test statistic -28,49276 0,0000
Test critical values: 1% level -3,438508
5% level -2,865030
10% level -2,568684
Sumber: Eviews 4.1

Tabel di atas menunjukkan hasil uji stasioneritas setelah dengan

differencing 1 kali. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai probability

sebesar 0,0000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan hasil ini disimpulkan

bahwa NKY225 stasioner dengan differencing level 1.

Tabel 15
HANG SENG INDEX
Uji Stasioner Dickey-Fuller Sebelum Differencing
2006-2009

Null Hypothesis: HSI has a unit root


Exogenous: Constant
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC. MAXLAG=20)
t-Statistic Prob.*
Augmented Dickey-Fuller test statistic -1,084325 0,7237
Test critical values: 1% level -3,438497
5% level -2,865026
10% level -2,568681
Sumber: Eviews 4.1
63

Tabel di atas menunjukkan hasil uji stasioneritas untuk variabel

HSI. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai probability sebesar 0,7237.

Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dinyatakan bahwa pada taraf

level data tidak stasioner sehingga harus dilakukan differencing 1 kali.

Hasil yang diperoleh ditampilkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 16
HANG SENG INDEX
Uji Stasioner Dickey-Fuller Setelah First Differencing
2006-2009

Null Hypothesis: D(HSI) has a unit root


Exogenous: Constant
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC. MAXLAG=20)
t-Statistic Prob.*
Augmented Dickey-Fuller test statistic -29,55961 0,0000
Test critical values: 1% level -3,438508
5% level -2,865030
10% level -2,568684
Sumber: Eviews 4.1

Tabel di atas menunjukkan hasil uji stasioneritas setelah dengan

differencing 1 kali. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai probability

sebesar 0,0000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan hasil ini disimpulkan

bahwa HSI stasioner dengan differencing level 1.


64

Tabel 17
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN
Uji Stasioner Dickey-Fuller Sebelum Differencing
2006-2009

Null Hypothesis: IHSG has a unit root


Exogenous: Constant
Lag Length: 1 (Automatic based on SIC. MAXLAG=20)
t-Statistic Prob.*
Augmented Dickey-Fuller test statistic -1,223058 0,6662
Test critical values: 1% level -3,438508
5% level -2,865030
10% level -2,568684
Sumber: Eviews 4.1

Tabel di atas menunjukkan hasil uji stasioneritas untuk variabel

IHSG. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai probability sebesar 0,6662.

Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dinyatakan bahwa pada taraf

level data tidak stasioner sehingga harus dilakukan differencing 1 kali.

Hasil yang diperoleh ditampilkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 18
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN
Uji Stasioner Dickey-Fuller Setelah First Differencing
2006-2009

Null Hypothesis: D(IHSG) has a unit root


Exogenous: Constant
Lag Length: 0 (Automatic based on SIC. MAXLAG=20)
t-Statistic Prob.*
Augmented Dickey-Fuller test statistic -24,56868 0,0000
Test critical values: 1% level -3,438508
5% level -2,865030
10% level -2,568684
Sumber: Eviews 4.1
65

Tabel di atas menunjukkan hasil uji stationeritas setelah dengan

differencing 1 kali. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai probability

sebesar 0,0000 yang lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hal terserbut maka

dapat disimpulkan bahwa IHSG stasioner dengan differencing level 1.

Tabel 9 hingga tabel 18 diperlihatkan hasil uji stasioneritas dengan

metode Augmented Dickey-Fuller test di tingkat level atau I(0) dan first

difference atau I(1). Hasil analisis pada tingkat I(0) hampir seluruh

variabel pada tiap negara tidak menolak null hypothesis bahwa terdapat

unit root. Namun sebaliknya seluruh variabel pada tiap negara stasioner

pada I(1).

3. Uji Kausalitas Granger

Kausalitas Granger merupakan pengujian hubungan bolak-balik

antara dua atau lebih variabel pada data time series. Uji kausalitas

Granger yang dilakukan pada tabel berikut ini merupakan uji yang sudah

dilakukan differencing level 1 dengan menggunakan α = 5% untuk seluruh

kriteria pengujian.
66

Tabel 19
Uji Kausalitas Granger antara IHSG dengan DJIA, FTSE, HSI,
dan NKY 225 Sebelum Subprime Mortgage

Pairwise Granger Causality Tests


Date: 05/23/09 Time: 15:46
Sample: 4/03/2006 3/30/2007
Lags: 2
Null Hypothesis: Obs F-Statistic Probability
D(IHSG) does not Granger Cause D(DJIA) 257 2,38485 0,09418
D(DJIA) does not Granger Cause D(IHSG) 39,8636 0,00000
D(IHSG) does not Granger Cause D(FTSE) 257 2,86088 0,05908
D(FTSE) does not Granger Cause D(IHSG) 10,0479 0,00006
D(IHSG) does not Granger Cause D(HSI) 257 1,53995 0,21640
D(HSI) does not Granger Cause D(IHSG) 0,00025 0,99975
D(NKY225) does not Granger Cause D(IHSG) 257 0,62827 0,53435
D(IHSG) does not Granger Cause D(NKY225) 1,50128 0,22483
Sumber: Eviews 4.1

Tabel di atas menunjukkan hasil analisis kausaliti antara IHSG

dengan DJIA, FTSE, HSI, dan NKY225 pada periode April 2006 hingga

Maret 2007. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa:

a. DJIA mempengaruhi IHSG dengan signifikan. Nilai probabilitas yang

diperoleh sebesar 0,00000 menunjukkan bahwa DJIA mempengaruhi

IHSG pada periode April 2006 hingga Maret 2007.

b. FTSE mempengaruhi IHSG dengan signifikan. Nilai probabilitas yang

diperoleh sebesar 0,00006 menunjukkan bahwa FTSE mempengaruhi

IHSG pada periode April 2006 hingga Maret 2007.


67

Tabel 20
Uji Kausalitas Granger antara IHSG dengan DJIA, FTSE, HSI,
dan NKY 225 Ketika Subprime Mortgage

Pairwise Granger Causality Tests


Date: 05/23/09 Time: 15:47
Sample: 4/02/2007 3/31/2008
Lags: 2
Null Hypothesis: Obs F-Statistic Probability
D(IHSG) does not Granger Cause D(DJIA) 261 2,66547 0,07150
D(DJIA) does not Granger Cause D(IHSG) 25,7272 0,00000
D(IHSG) does not Granger Cause D(FTSE) 261 1,53197 0,21808
D(FTSE) does not Granger Cause D(IHSG) 17,5870 0,00000
D(IHSG) does not Granger Cause D(HSI) 261 0,87432 0,41839
D(HSI) does not Granger Cause D(IHSG) 1,77741 0,17116
D(NKY225) does not Granger Cause D(IHSG) 261 1,12513 0,32621
D(IHSG) does not Granger Cause D(NKY225) 6,48769 0,00178
Sumber: Eviews 4.1

Tabel di atas menunjukkan hasil analisis kausaliti antara IHSG

dengan DJIA, FTSE, HSI, dan NKY225 pada periode April 2007 hingga

Maret 2008. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa:

a. DJIA mempengaruhi IHSG dengan signifikan. Nilai probabilitas yang

diperoleh sebesar 0,00000 menunjukkan bahwa DJIA mempengaruhi

IHSG pada periode April 2007 hingga Maret 2008.

b. FTSE mempengaruhi IHSG dengan signifikan. Nilai probabilitas yang

diperoleh sebesar 0,00000 menunjukkan bahwa FTSE mempengaruhi

IHSG pada periode April 2007 hingga Maret 2008.

c. NKY225 mempengaruhi IHSG dengan signifikan. Nilai probabilitas

yang diperoleh sebesar 0,00178 menunjukkan bahwa NKY225

mempengaruhi IHSG pada periode April 2007 hingga Maret 2008.


68

Tabel 21
Uji Kausalitas Granger antara IHSG dengan DJIA, FTSE, HSI,
dan NKY 225 Setelah Subprime Mortgage

Pairwise Granger Causality Tests


Date: 05/23/09 Time: 15:43
Sample: 4/01/2008 3/31/2009
Lags: 2
Null Hypothesis: Obs F-Statistic Probability
D(IHSG) does not Granger Cause D(DJIA) 261 2,08418 0,12652
D(DJIA) does not Granger Cause D(IHSG) 9,42184 0,00011
D(IHSG) does not Granger Cause D(FTSE) 261 1,34229 0,26308
D(FTSE) does not Granger Cause D(IHSG) 1,13753 0,32223
D(IHSG) does not Granger Cause D(HSI) 261 0,68051 0,50727
D(HSI) does not Granger Cause D(IHSG) 0,24232 0,78498
D(NKY225) does not Granger Cause D(IHSG) 261 0,75100 0,47293
D(IHSG) does not Granger Cause D(NKY225) 4,98695 0,00750
Sumber: Eviews 4.1

Tabel di atas menunjukkan hasil analisis kausaliti antara IHSG

dengan DJIA, FTSE, HSI, dan NKY225 pada periode April 2008 hingga

Maret 2009. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa:

a. DJIA mempengaruhi IHSG dengan signifikan. Nilai probabilitas yang

diperoleh sebesar 0,00011 menunjukkan bahwa DJIA mempengaruhi

IHSG pada periode April 2008 hingga Maret 2009.

b. NKY225 mempengaruhi IHSG dengan signifikan. Nilai probabilitas

yang diperoleh sebesar 0,00750 menunjukkan bahwa NKY225

mempengaruhi IHSG pada periode April 2008 hingga Maret 2009.


69

Jenis hubungan kausalitas Granger antara IHSG dengan DJIA,

FTSE, HSI, dan NKY 225 dapat dibedakan menjadi tiga jenis hubungan

yaitu hubungan unidirectional, bilateral, dan independence (Gujarati,

2004: 697). Untuk lebih jelasnya maka dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 22
Jenis Hubungan Kausalitas Granger antara IHSG dengan DJIA,
FTSE, HSI, dan NKY 225
DJIA FTSE NKY HSI
Periode terhadap terhadap terhadap terhadap
IHSG IHSG IHSG IHSG

Sebelum Unidirectional Unidirectional Independen Independen

Ketika Unidirectional Unidirectional Unidirectional Independen

Setelah Unidirectional Independen Unidirectional Independen

Sumber: Data diolah

Keterangan: Independen: Tidak ada hubungan kausalitas

Unidirectional: Terdapat hubungan satu arah

Tabel 22 menunjukkan hubungan kausalitas Granger antara bursa

regional dengan IHSG. Periode sebelum subprime mortgage menunjukkan

hanya DJIA terhadap IHSG dan FTSE terhadap IHSG saja yang memiliki

hubungan satu arah (unidirectional).

Periode ketika subprime mortgage menunjukkan DJIA terhadap

IHSG, FTSE terhadap IHSG, dan NKY 225 terhadap IHSG saja yang

memiliki hubungan satu arah (unidirectional). Hal ini berlaku comovement

theory, yang berarti pergerakan bursa saham bergerak secara seiring.


70

Sedangkan hubungan antara HSI terhadap IHSG memiliki hubungan yang

independen.

Periode setelah subprime mortgage menunjukkan DJIA terhadap

IHSG dan NKY 225 terhadap IHSG saja yang memiliki hubungan satu

arah (unidirectional). Sedangkan hubungan antara FTSE terhadap IHSG

dan HSI terhadap IHSG memiliki hubungan yang independen.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Sebagai penutup dari tesis ini akan disajikan kesimpulan dari hasil

penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya. Kemudian, akan disampaikan

pula saran yang didasarkan pada hasil kesimpulan. Saran dalam hasil penelitian

ini diharapkan dapat bermanfaat bagi investor dan beberapa pihak sebagai

masukan atau dasar pengambilan keputusan terkait dengan pengaruh bursa

regional terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Berdasarkan analisis kuantitatif dan deskriptif yang dilakukan pada bab-

bab sebelumnya dapat dilihat bahwa penelitian ini bermaksud untuk melihat

hubungan kausalitas Granger antara bursa saham DJIA, FTSE 100, NKY225, dan

HSI terhadap IHSG pada tiga periode yang berbeda, yakni periode sebelum

subprime mortgage (April 2006–Maret 2007), periode ketika subprime mortgage

(April 2007–Maret 2008), dan periode setelah subprime mortgage (April 2008-

Maret 2009).

A. Kesimpulan

1. Perkembangan bursa saham yang diteliti selama tiga tahun terakhir

menunjukkan pergerakan yang cenderung menurun baik itu untuk indeks

Dow Jones, FTSE 100, NKY225, HSI, dan IHSG. Pergerakan saham

71
72

kelima bursa regional tersebut memiliki pola yang hampir sama yang

cenderung menurun selama periode yang dikaji.

2. Data yang digunakan dalam penelitian ini mendapatkan stasoneritas

setelah dilakukan differencing pada level pertama. Ini menunjukkan bahwa

data pergerakan saham pada kelima Indeks yang diteliti memiliki data

yang stasioner setelah dilakukan differencing 1 kali.

3. Dari keempat bursa yang diteliti, terlihat bahwa bursa Dow Jones yang

paling kuat dalam memberikan pengaruh terhadap Bursa IHSG. Ini

ditunjukkan dengan diperolehnya model yang signifikan selama tiga

periode yang diteliti.

4. Selain Dow Jones, FTSE dan NKY225 juga memiliki pengaruh yang

cukup kuat dalam mempengaruhi IHSG, meskipun tidak sekuat Dow

Jones. Ini terlihat dari nilai signifikansi yang diperoleh pada dua dari tiga

periode yang diteliti.

5. Dari ketiga periode penelitian, terlihat bahwa indeks HSI tidak memiliki

nilai signifikan yang baik dalam kausalitasnya dengan terhadap IHSG,

dengan kata lain HSI tidak memiliki pengaruh terhadap IHSG dan IHSG

juga tidak memiliki pengaruh terhadap HSI.

B. Saran

Penelitian ini dilakukan dengan beberapa pembatasan antara lain

penelitian ini menggunakan metode uji kausalitas Granger dimana pengujian

dalam penelitian ini hanya didasarkan hanya kausalitas dan penelitian ini
73

hanya menguji terhadap 5 negara saja yakni Amerika, Inggris, Jepang, Hong

Kong, dan Indonesia. Oleh karena itu, hasil penelitian ini belum dapat

mengungkap hubungan antar variabel seperti hubungan antara bursa Dow

Jones dengan bursa FTSE 100, hubungan bursa Dow Jones dengan bursa

saham Nikkei 225, atau hubungan bursa saham Dow Jones dengan bursa

saham Hong Kong. Atas kelemahan atau keterbatasan penelitian ini, maka

beberapa saran untuk penelitian mendatang yaitu dengan menggunakan

pengujian hubungan antar variabel yang diteliti.

Periode penelitian ini hanya menguji sampai bulan Maret 2009. Oleh

karena itu untuk penelitian selanjutnya di sarankan dapat menggunakan jangka

waktu yang lebih panjang di luar tahun krisis sehingga keakuratan pengujian

dapat ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA

Aktar, Ismail, (2009), Is there any Comovement Between Stock Markets of


Turkey, Russia and Hungary? International Research Journal of Finance
and Economics.

BCA research, (2008), a Vicious Circle of Credit Retention, Jakarta.

Budileksmana, Anatriksa, (2005), Fenomena the Monday Effect di Bursa Efek


Jakarta, SNA VIII September, Solo.

Crouhy, Michel dan Stuart M. Turnbull, (2008), the Subprime Credit Crisis of 07.

Demyanyk, Yuliya dan Otto Van Hemert, (2008), Understanding the Subprime
Mortgage Crisis.

Eun, Cheol S. dan Sangdal Shim, (1989), International Transmission of Stock


Market Movement, Journal of Financial Quantitative Analysis, June, pp.
241-255.

Forbes, Kristin J. dan Roberto Rigobon, (2000), No Contagion, Only


Interdependence: Measuring Stock Market Comovement, Journal of
Finance.

Gitman, Lawrence J, (2003), Principles of Managerial Finance, tenth edition,


USA: Pearson Education, Inc.

Gujarati, Damodar N (2004), Basic Econometrics, fourth edition, New York:


McGraw-Hill, Inc.

Goh, Kim-Leng et all. (2005), Financial Crisis and Intertemporal Linkages Across
the ASEAN-5 Stock Markets, Review of Quantitative Finance and
Accounting, 24, pp. 359-377

Husnan, Suad, (1996), Manajemen Keuangan-Teori dan Penerapan, edisi


keempat, bagian satu, Yogyakarta: BPFE.

Kuncoro, Mudrajad, (2002), Adakah Perubahan Konsentrasi Spasial Industri


Manufaktur di Indonesia, 1976-2001.

-------------------------, (2003), Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi:


Bagaimana Meneliti & Menulis Tesis? Jakarta: Erlangga.

74
75

Lean, Hooi-Hooi et all. (2003). Bivariate Causality between Exchange Rate and
Stock Price on Major Asian Countries. Department of Economics
National University of Singapore.

Mansur, Mohamad, (2005), Pengaruh Indeks Bursa Global terhadap Indeks


Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek Jakarta (BEJ)
Periode Tahun 2000-2002, Sosiohumaniora, Vol. 7, No. 3, November
Bandung.

Park, Hee Seok, (1999), Analysis of Structural Changes in the US Stock Market,
Kansas State University.

Pindyck, Robert S. dan Julio J. Rotemberg, (1993), The Comovement of Stock


Price, The Quarterly Journal of Economic, November.

Schall, Lawrence D. dan Charles W. Haley, (1995), Introduction to Financial


Management, seventh edition, New York: McGraw-Hill International
Editions.

Siamat, Dahlan, (1999), Manajemen Lembaga Keuangan, edisi kedua, Jakarta:


Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

-------------------, (2005), Manajemen Lembaga Keuangan Kebijakan Moneter


dan Perbankan, edisi kelima, Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.

Soros, George, (2008), the New Paradigm for Financial Markets: the Credit
Crisis of 2008 and what it means. New York: Public Affairs.

Tan, Jose Antonio R, (1998), Contagion Effects During the Asian Financial Crisis:
Some Evidence from Stock Price Data (Pacific Basin Working Paper
Series, Center for Pacific Basin Monetary and Economic Studies Economic
Research Department Federal Reserve Bank of San Francisco.

Van Horne, James C. and John M. Wachowich, Jr, (1998), Fundamentals of


Financial Management, tenth edition, New Jersey 07458: Prentice-Hall,
Inc.

---------------------------, (1998), Financial Management and Policy, eleventh


edition, New Jersey 07458: Prentice-Hall International Edition.

Winarno, Wing Wahyu, (2007), Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan


Eviews, Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
76

Wondabio, Ludovicus Sensi, (2006), Analisa Hubungan Index Harga Saham


Gabungan (IHSG) Jakarta (JSX), London (FTSE), Tokyo (Nikkei) dan
Singapura (SSI). Simposium Nasional Akuntansi Padang.

www.detikfinance.com

www.finance.yahoo.com

www.wikipedia.org
77

DAFTAR LAMPIRAN

Pada gambar berikut akan disajikan pergerakan indeks di 5 negara yang

menjadi objek penelitian.

Lampiran 1 Hubungan Antara DJI dengan IHSG 2006-2009

Sumber: www.finance.yahoo.com

Lampiran 2 Hubungan Antara FTSE 100 dengan IHSG 2006-2009

Sumber: www.finance.yahoo.com
78

Lampiran 3 Hubungan Antara HSI dengan IHSG 2006-2009

Sumber: www.finance.yahoo.com

Lampiran 4 Hubungan Antara N225 dengan IHSG 2006-2009

Sumber: www.finance.yahoo.com