Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL

REVIEW JURNAL TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL (TABLET)


Formulasi dan Evaluasi Sediaan Tablet Asam Mefenamat menggunakan
Eksipien Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran dengan Metode
Granulasi Basah

KELOMPOK 3 / A3D FARMASI KLINIS

ALMA LYSTIA SAVITRI MAHAYASA (18021116)


MADE FLORETA ASRI SANJIWATI (18021117)
NI KADEK INDIRA INDRAYANI (18021118)
PUTU SANITHA JAYANTI (18021119)
WIANGGA ALMATIN FAUZI (18021120)

Dosen Pengampu : I Gusti Ngurah Jemmy Anton Prasetia, S.Farm.,M.Si.,


Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI KLINIS


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BALI INTERNASIONAL
DENPASAR
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur dihaturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang
Maha Esa) karena atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat
pada waktunya. Tulisan ini disusun dalam rangka menempuh mata kuliah Teknologi
Sediaan Non Steril. Adapun tujuan penyusunan tulisan ini adalah mahasiswa
diharapkan mampu merangkum dan menampilkan literatur-literatur yang digunakan
dalam menyusun makalah terkait dengan teknologi sediaan non steril yaitu sediaan
tablet
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan tulisan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga
dapat diselesaikan dengan baik. Melalui pengantar ini penulis menyampaikan terima
kasih kepada:
1. Ibu Ida Ayu Manik., S.Farm., M.Farm. Apt. Ketua Program Studi Farmasi
Klinis, Institut Ilmu Kesehatan Medika Persada Bali;
2. I Gusti Ngurah Jemmy Anton Prasetia, S.Farm., M.Si., Apt. Dosen pengampu
mata kuliah Teknologi Sediaan Non Steril yang telah membimbing penyusunan
karya tulis ini;
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari yang sempurna, oleh
karena itu segala kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan demi
sempurnanya tulisan ini. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat
kepada semua pihak.

Denpasar, 29 Mei 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL. .......................................................................................... i


KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 3
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................ 4
1.4 Manfaat Penulisan.............................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 6
2.1 Tujuan Penelitian Jurnal ..................................................................... 6
2.2 Metode Penelitian ............................................................................... 6
2.3 Monografi Obat .................................................................................. 6
2.4 Formulasi ............................................................................................ 7
2.5 Evaluasi .............................................................................................. 7
2.6 Interpretasi Data Formulasi ................................................................ 10
2.7 Kekurangan dan Kelebihan ................................................................ 14
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 15
3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 15
3.2 Saran ................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dari jenis sediaan obat yang ada, tablet dan jenis-jenis modifikasinya
merupakan sediaan yang paling popular. Bentuk sediaan tablet terbukti sangat
menguntungkan, karena dapat dibuat dengan mesin dan harganya relatif murah,
takarannya tepat, dikemas secara baik, praktis transportasi dan penyimpanannya serta
mudah ditelan (Voigt, 1995).
Asam mefenamat merupakan obat analgesik, anti inflamasi dan antireumatik.
Karakteristik kimia fisika asam mefenamat yang praktis tidak larut dalam air,
bersifat hidrofob, sehingga sukar terbasahi, serta mempunyai kompresibilitas yang
jelek. Oleh karena itu, untuk pembuatan tablet asam mefenamat diperlukan bahan
pengikat yang baik, yang dapat memperbaiki pembasahan dan pengikatan antar
partikel yang hidrofob (Ansel, 1989).
Tablet yang baik harus memenuhi persyaratan mutu fisik dan mutu kimiawi
serta harus dapat memberikan efek terapi untuk mencapai efek tersebut. Bahan obat
harus diabsorpsi oleh tubuh. Sebelum diabsorpsi tablet akan mengalami proses
disintegrasi, disolusi, dan selanjutnya diabsorpsi melalui saluran cerna (Shargel dan
Yu, 1988).
Bahan tambahan memegang peranan penting dalam pembuatan tablet, agar
diperoleh konsistensi, bentuk dan bobot tablet yang dikehendaki. Bahan tambahan
terdiri dari bahan pengikat, bahan penghancur atau disintegran, bahan pengisi dan
bahan pelicin atau dapat juga ditambahkan pemanis. Jenis dan jumlah bahan
pengikat yang digunakan sangat mempengaruhi ketahanan mekanik serta waktu
hancurnya. Bahan tambahan lainnya adalah bahan penghancur atau disintegran, yang
berfungsi untuk mengembangkan tablet kemudian akan dihancurkan untuk diserap
oleh tubuh (Banker & Anderson, 1986).
Salah satu bahan tambahan dalam tablet adalah bahan pengikat. Efektifitas
bahan pengikat digambarkan oleh ketahanan mekanik tablet. Bahan pengikat

1
berfungsi memberi daya adhesi pada massa serbuk pada granulasi dan kempa
langsung serta untuk menambah daya kohesi yang telah ada pada bahan pengisi.
Bahan pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk kering dan bentuk larutan.
Banyaknya larutan pengikat yang diperlukan dalam proses granulasi bervariasi
tergantung pada jumlah bahan, ukuran partikel, kompresibilitas, luas permukaan,
porositas, hidrofobisitas, kelarutan dalam larutan pengikat, dan metode
penggranulan. Pada pembuatan tablet Asam mefenamat digunakan metode granulasi
basah karena memiliki beberapa keuntungan yaitu, meningkatkan fluiditas dan sesuai
untuk sifat aliran atau kompaktibilitas yang buruk, mengurangi penjeratan udara,
mengurangi debu, pembasahan granul sesuai dengan homogenitas sediaan dosis
rendah, meningkatkan keterbatasan serbuk melalui hidrofilisasi (granulasi basah),
dan memungkinkan penanganan serbuk tanpa kehilangan kualitas campuran. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan disintegran
Croscarmellose Sodium terhadap mutu fisik dan laju disolusi tablet Asam mefenamat
yang dibuat dengan metode granulasi basah.
Pada umumnya, bila bahan pengikat yang digunakan terlalu banyak atau
konsentrasinya terlalu tinggi, maka akan menyebabkan tablet menjadi keras sehingga
waktu hancurnya lama. Sebaliknya jika bahan pengikat yang ditambahkan
konsentrasinya kurang, maka gaya pengikatan yang ada pada massa serbuk rendah
dan cenderung akan menyebabkan terjadinya capping. Pada granulasi basah, bahan
pengikat biasanya ditambahkan dalam bentuk larutan, namun dapat juga
ditambahkan dalam bentuk kering, setelah dicampur dengan massa yang akan
digranul baru ditambahkan pelarut. Konsentrasi bahan pengikat dalam bentuk larutan
dapat berbeda-beda tergantung pada jenis bahan pengikat. Pada granulasi basah
bahan pengikat yang digunakan dalam pembuatan sediaan tablet antara lain: amilum,
gelatin, polivinilpirolidon, derivate selulose (hidroksi propil metil selulose, karboksi
metil selulose, metil selulose) (Agoes, 2006).
Untuk menghasilkan suatu sediaan tablet yang memenuhi persyaratan, jumlah
atau konsentrasi dari bahan tambahan yang digunakan harus benar-benar
diperhitungkan termasuk bahan pengikat dan bahan penghancur. Jika bahan pengikat

2
yang digunakan terlalu banyak atau konsentrasinya terlalu tinggi maka tablet
menjadi keras dan waktu hancurnya lama. Tetapi jika digunakan dalam jumlah kecil,
sediaan menjadi rapuh. Demikian juga dengan disintegran, jika digunakan dalam
jumlah banyak, bahan penghancur pada umumnya berbentuk partikel halus (fines)
akan memberikan masalah dalam proses pengempaan tablet, misalnya terjadinya
capping dan laminating. Sebaliknya jika digunakan dalam jumlah kecil, maka tablet
akan sulit hancur atau waktu hancurnya lama, dan akan mempengaruhi disolusi
tablet.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut.
1. Bagaimana tujuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam jurnal
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Tablet Asam Mefenamat menggunakan
Eksipien Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran dengan Metode
Granulasi Basah?
2. Bagaiman metode penelitian farmakokinetika yang digunakan dalam jurnal
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Tablet Asam Mefenamat menggunakan
Eksipien Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran dengan Metode
Granulasi Basah?
3. Bagaimana kajian monografi obat yang ada dalam jurnal Formulasi dan
Evaluasi Sediaan Tablet Asam Mefenamat menggunakan Eksipien
Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran dengan Metode Granulasi
Basah?
4. Bagaimana interpretasi data farmakokinetik yang ada dalam jurnal Formulasi
dan Evaluasi Sediaan Tablet Asam Mefenamat menggunakan Eksipien
Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran dengan Metode Granulasi
Basah?

3
5. Apa sajakah kekurangan dan kelebihan jurnal Formulasi dan Evaluasi
Sediaan Tablet Asam Mefenamat menggunakan Eksipien Croscarmellose
Sodium sebagai Disintegran dengan Metode Granulasi Basah?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin
dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui tujuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam
jurnal Formulasi dan Evaluasi Sediaan Tablet Asam Mefenamat
menggunakan Eksipien Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran
dengan Metode Granulasi Basah
2. Untuk memahami metode penelitian farmakokinetika yang digunakan
dalam jurnal Formulasi dan Evaluasi Sediaan Tablet Asam Mefenamat
menggunakan Eksipien Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran
dengan Metode Granulasi Basah.
3. Untuk mengetahui kajian monografi obat yang ada dalam jurnal Formulasi
dan Evaluasi Sediaan Tablet Asam Mefenamat menggunakan Eksipien
Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran dengan Metode Granulasi
Basah.
4. Untuk memahami dan mengetahui interpretasi data farmakokinetik yang
ada dalam jurnal Formulasi dan Evaluasi Sediaan Tablet Asam Mefenamat
menggunakan Eksipien Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran
dengan Metode Granulasi Basah
5. Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari jurnal Formulasi dan
Evaluasi Sediaan Tablet Asam Mefenamat menggunakan Eksipien
Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran dengan Metode Granulasi
Basah

4
1.4 Manfaat Penulisan
Beberapa manfaat yang ingin dicapai melalui penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut.
1. Pembaca menambah wawasan mengenai formulasi tablet obat asam
mefenamat
2. Pembaca memperoleh informasi mengenai metode penelitian formulasi tablet
obat asam mefenamat
3. Pembaca menambah wawasan mengenai monografi obat asam mefenamat
4. Panbaca mendapatkan informasi mengenai interpretasi data formulasi tablet
obat asam mefenamat

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Penelitian Jurnal


Tujuan dari penelitan jurnal “Formulasi dan Evaluasi Sediaan Tablet Asam
Mefenamat menggunakan Eksipien Croscarmellose Sodium sebagai Disintegran
dengan Metode Granulasi Basah” adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan
disintegran Croscarmellose Sodium terhadap mutu fisik dan laju disolusi tablet Asam
mefenamat yang dibuat dengan metode granulasi basah.
2.2 Metode Penelitian Jurnal
Pembuatan tablet Asam mefenamat digunakan metode granulasi basah karena
memiliki beberapa keuntungan yaitu, meningkatkan fluiditas dan sesuai untuk sifat
aliran atau kompaktibilitas yang buruk, mengurangi penjeratan udara, mengurangi
debu, pembasahan granul sesuai dengan homogenitas sediaan dosis rendah,
meningkatkan keterbatasan serbuk melalui hidrofilisasi (granulasi basah), dan
memungkinkan penanganan serbuk tanpa kehilangan kualitas campuran. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan disintegran
Croscarmellose Sodium terhadap mutu fisik dan laju disolusi tablet Asam mefenamat
yang dibuat dengan metode granulasi basah
2.3 Monografi Obat

(Gambar 2.3 Struktur Asam Mefenamat)

6
Nama Bahan : Acidum Mefenamicum
Sinonim : Asam Mefenamat
Rumus molekul : C15H15NO2
Titik Lebur : 230-231 °C
Khasiat : Antiinflamasi
Pemerian : Serbuk hablur, putih atau hampir putih, melebur pada suhu
lebih kurang 230o disertai peruraian.
Kelarutan : Larut dalam larutan alkali hidroksida, agak sukar larut dalam
kloroform, sukar larut dalam etanol dan dalam metanol, praktis
tidak larut dalam air.
Berat Molekul : 241,29
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.
(Depkes RI, 1995)
2.4 Formulasi
Formula tablet Asam mefenamat yang direncanakan adalah formula dengan
bobot tablet 600 mg (570 mg-630 mg) yang mengandung 500 mg Asam mefenamat
tiap tablet.

Tabel 2.4 Rancangan Formulasi Tablet

2.5 Evaluasi
1. Evaluasi tablet
a. Keseragaman Bobot
Ditimbang 20 tablet satu persatu, kemudian dihitung bobot rata-rata tiap tablet

7
Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari dua tablet yang bobotnya
menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari kolom A, dan tidak boleh
satu tablet pun yan,g menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari kolom B
(Depkes RI, 1979).
b. Keseragaman Ukuran
Dipilih 20 tablet dari masing-masing formula, diukur tebal dan diameter
masing-masing tablet menggunakan alat ukur.
c. Kekerasan Tablet
Diambil 10 tablet lalu diberikan beban pada tablet. Saat tablet pecah, pada alat
akan tertera beban yang dapat diterima tablet yang dinyatakan dalam satuan
kP. Persyaratan kekerasan tablet adalah 5-12 kP (annual preformulate survey,
2003).
d. Friability dan Frixibility Tablet
Sebanyak 10 tablet ditimbang/ sebesar bobot 6 gr, kemudian alat dipasang dan
tablet dimasukkan kedalamnya. Alat diputar dengan kecepatan 25 rpm selama
4 menit. Standar maksimum kerapuhan tablet kurang dari 1%, dilakukan
replikasi 3 kali (Remington, 1995).
e. Waktu Hancur Tablet
Diambil 6 tablet kemudian ke dalam masing-masing tabung basket yang akan
diperiksa satu persatu, disusul dengan cakram penuntun. Kemudian basket
dimasukkan ke dalam beaker berisi 1 liter air pada suhu (37± 2)oC sebagai
media. Basket dijalankan dengan frekuensi 30 kali permenit. Waktu yang
dipersyaratkan adalah tidak boleh lebih dari 15 menit (Depkes RI, 1995).
f. Keseragaman Kadar
Pembuatan kurva kalibrasi: Larutan baku asam mefenamat dibuat dengan
menimbang dengan seksama 50 mg asam mefenamat, dilarutkan dalam dapar
Tris pH 9,0 ± 0,05, dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, kemudian
diencerkan dibuat dengan berbagai kadar yaitu 7 ppm, 8 ppm, 9 ppm, 10 ppm,
11 ppm, dan 12 ppm. Dipilih 10 tablet secara acak, tablet diserbukkan,
ditimbang setara 50 mg Asam mefenamat. Serbuk dilarutkan dengan larutan

8
dapar Tris pH 9,0±0,05 dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL Dipipet
0,5 mL dimasukkan labu ukur 25 mL. Diamati serapannya dengan
Spektrofotometer UV-Vis. Tablet memenuhi syarat keseragaman kadar
terletak antara 90-110% (Depkes RI, 1995).
g. Disolusi Tablet
Wadah disolusi dicelupkan dalam suatu penangas air, lalu diisi dapar Tris pH
9,0±0,05 sebanyak 900 mL. Atur suhu media disolusi 37±0,5oC. Alat
dijalankan dengan kecepatan putaran 100±4 rpm. Sampel sebanyak 5,0 mL
diambil dengan jarak waktu 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, dan 50 menit.
Setiap pengambilan cuplikan dilakukan penggantian media disolusi dengan
jumlah sama. Dilakukan replikasi 3 kali untuk tiap formula. Untuk
mendapatkan kadar yang sebenarnya dengan memperhitungkan pengenceran
(pengambilan 0,5 mL diencerkan menggunakan labu ukur 25 mL).
Pengenceran pengambilan sampel dilakukan dengan larutan dapar Tris pH
9,0±0,05 ( USP 38,2015; Hadimoelyo, 1990).

2. Evaluasi Granul
a. Kecepatan Alir dan Sudut Istirahat
Ditimbang 50,0 g granul, dimasukkan kedalam corong dengan dasar lubang
ditutup, waktu pengukuran dilakukan pada saat dibukanya lubang corong
sampai semua serbuk mengalir (gram/setik) (Cartensen, 1977). Pengukuran
sudut istirahat dilakukan dengan cara mengukur tinggi dan jari-jari lingkaran
kerucut granul yang terbentuk setelah pengaliran.
b. Kandungan Air
Sampel 0,5 – 1 g diletakkan pada wadah sampel dan dicatat beratnya,
kemudian sampel dipanaskan sampai tidak terjadi lagi perubahan berat
(beratnya konstan).
c. Kompresibilitas
Ditimbang 50 gram masssa granul tablet dimasukkan dalam gelas ukur 100
ml, lalu diukur volumenya (V1). Berat jenis bulk yaitu massa dalam gelas

9
diketuk ketuk sebanyak 250 kali dari ketinggian 2,5 cm sampai volumenya
tetap (V2). Berat jenis mampat= Kompresibilitas (Wikarsa dan Siregar, 2010).
d. Granulometri
Granulometri adalah analisis ukuran dan repartisi granul (penyebaran ukuran
granul) dengan menggunakan susunan pengayak dengan berbagai ukuran
Mesh terbesar diletakkan paling atas dan dibawahnya disusun pengayak
dengan mesh yang paling kecil (Resty, 2015).

2.6 Interpretasi Data Formulasi


Dari data formulasi tersebut tablet dibuat dengan menimbang Asam
mefenamat, Laktosa, Crosscarmellose sodium, Povidon K-30, Koloidal silicon
dioxide, Magnesium stearat, dan Talk sesuai dengan formula (sebelumnya telah di
ayak dengan pengayak ukuran 40 mesh). Dicampur sampai merata dalam alat
pencampur selama 15 menit (zat aktif, pengisi, dan penghancur), kemudian tambahkan
dengan larutan pengikat (povidon K-30 yang telah dilarutkan dalam alkohol) sedikit
demi sedikit, lalu larutan pewarna sampai didapatkan massa granul yang baik.
Massa granulat kemudian diayak dengan pengayak 18 mesh, lalu dikeringkan
menggunakan oven selama 20 menit pada suhu 60oC hingga kadar air granul diperoleh
mencapai 1-2%. Hasil granulat kering diayak dengan pengayak ukuran 20 mesh untuk
diperoleh partikel-partikel granul yang merata. Granul kemudian dicampur dengan
Talk, Magnesium stearat, dan Koloidal silikon dioksisa lalu massa cetak siap untuk
dicetak (Lachman, 1970).
Secara organoleptis hasil granul yang diperoleh memiliki bentuk berupa
butiran halus berwarna kuning.
Tabel 2.6.1 Karakterisasi Mutu Fisik Granul

10
*)Data merupakan hasil rata-rata 3 kali replikasi ± S
Hasil evaluasi kadar air memenuhi syarat (< 2%). Rentang rata-rata kadar air
minimal 1,10 dan maksimal 1,62 dengan standar deviasi maksimal yaitu 0,1. Uji
statistik ANOVA sig 0 (sig < 0,05) sehingga kadar air antar formula menunjukkan
ada perbedaan bermakna. Hasil evaluasi laju alir memenuhi persyaratan (>5 gr/detik).
Rentang rata-rata laju alir minimal 8,13 gr/detik, dan maksimal 14,57 gr/detik dengan
standar deviasi maksimal yaitu 0,22. Uji statistik ANOVA sig 0,00 (sig < 0,05)
sehingga laju alir granul antar formula menunjukkan ada perbedaan bermakna.
Hasil evaluasi sudut diam dapat mengalir dengan baik (sudut α : 25o-30o).
Rentang rata-rata sudut diam minimal 21,48o, dan maksimal 28,71odengan standar
deviasi maksimal yaitu 0,58. Uji statistik ANOVA sig 0,00 (sig < 0,05) sehingga
dapat dikatakan bahwa sudut diam antar formula menunjukkan ada perbedaan
bermakna. Hasil evaluasi kompresibilitas menunjukan hasil yang memenuhi
persyaratan (<20%) . Rentang rata-rata kompresibilitas minimal 3,33%, dan
maksimal 5,33% dengan standar deviasi maksimal yaitu 0,58. Uji statistik ANOVA
sig 0,001 (sig < 0,05) sehingga kompresibilitas antar formula menunjukkan ada
perbedaan bermakna.
Hasil evaluasi granulometri menunjukan hasil yang tidak memenuhi (<10%).
Rentang rata-rata granulometri minimal 29,86%, dan maksimal 50,91% dengan
standar deviasi maksimal yaitu 2,45. Uji statistik ANOVA sig 0,000 (sig < 0,05)
sehingga granulometri antar formula menunjukkan ada perbedaan bermakna.
Tabel 2.6.2 Karakterisasi Mutu Fisik Tablet

*)Data merupakan hasil rata-rata 3 kali replikasi ± SD

11
Rentang rata-rata keseragaman ukuran (panjang) pada minimal 17,10 mm, dan
maksimal 17,19 mm. Rentang rata-rata keseragaman ukuran (lebar) minimal 8,20
mm, dan maksimal 8,28 mm. Rentang rata-rata keseragaman ukuran (tebal) minimal
5,42 mm, dan maksimal 5,51 mm dengan standar deviasi maksimal tiap formula yaitu
0,05. Uji statistik ANOVA sig 0,000 (sig < 0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa
keseragaman ukuran antar formula menunjukkan ada perbedaan bermakna.
Hasil evaluasi keseragaman bobot tablet menunjukan hasil yang memenuhi
persyaratan yaitu 570 mg - 630 mg. Rentang rata-rata keseragaman bobot minimal
583,10 mg, dan maksimal 610,09 mg dengan standar deviasi maksimal yaitu 7,44. Uji
statistik ANOVA sig 0,001 (sig < 0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa
keseragaman bobot antar formula menunjukkan ada perbedaan bermakna.
Hasil evaluasi kekerasan tablet menunjukan hasil yang memenuhi persyaratan
yaitu 7-12 kP . Rentang rata-rata kekerasan tablet minimal 8,48 kP, dan maksimal
11,34 kP dengan standar deviasi maksimal yaitu 0,83. Uji statistik ANOVA sig 0,001
(sig < 0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa kekerasan antar formula menunjukkan
ada perbedaan bermakna.
Hasil evaluasi waktu hancur tablet, formula 2-6 menunjukan hasil yang
memenuhi persyaratan yaitu kurang dari 15 menit, sedangkan formula 1 tidak
memenuhi syarat karena tidak mengandung penghancur (kontrol negatif). Rentang
rata-rata kekerasan tablet minimal 1,87 menit, dan maksimal 16,67 menit dengan
standar deviasi maksimal tiap formula yaitu 1,68. Uji statistik ANOVA sig 0,001 (sig
< 0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa waktu hancur antar formula menunjukkan
ada perbedaan bermakna.
Hasil evaluasi friability tablet menunjukan hasil yang memenuhi persyaratan
yaitu kurang dari 1% . Rentang rata-rata friability minimal 0,16%, dan maksimal
0,21% dengan standar deviasi maksimal yaitu 0,08%. Hasil evaluasi frixibility tablet
menunjukan hasil yang memenuhi persyaratan yaitu kurang dari 1% . Rentang rata-
rata frixibility tablet minimal 0,14%, dan maksimal 0,19% dengan standar deviasi
maksimal yaitu 0,07%. Uji statistik ANOVA sig 0,607 (sig < 0,05) sehingga dapat
dikatakan bahwa friability antar formula menunjukkan tidak ada perbedaan

12
bermakna.
Hasil evaluasi kadar zat aktif tablet, terdapat formula yang tidak memenuhi
syarat (90%-110%) yaitu F1 dan F3, kecenderungan data mendekati batas atas. Hal
ini disebabkan karena saat proses pencampuran massa granul kurang homogen.
Rentang rata-rata kadar zat aktif tablet pada minimal 106,209%, dan maksimal
111,176% dengan standar deviasi maksimal yaitu 1,93. Uji statistik ANOVA sig
0,005 (sig < 0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa kadar zat aktif antar formula
menunjukkan ada perbedaan bermakna.

Gambar 2.6.1 Kurva Kalibrasi


Pada uji disolusi tablet Asam mefenamat dengan perbedaan konsentrasi
Croscarmellose Sodium menunjukkan bahwa peningkatan Croscarmellose Sodium
dapat meningkatkan laju disolusi tablet Asam mefenamat karena mempunyai
mekanisme ganda yaitu penyerapan air (waterwicking) dan pembengkakan secara
cepat (rapid swelling). Formula 1 menghasilkan disolusi 34,536% selama 45 menit
dan Formula 2 menghasilkan disolusi 76,399%. Sesuai dengan persyaratan
farmakope selama 45 menit jumlah Asam mefenamat yang terdisolusi tidak kurang
dari 80%, maka disolusi Formula 1 dan Formula 2 tidak memenuhi persyaratan. Pada
Formula 3 persyaratan Q% disolusi telah memenuhi syarat di menit ke- 40, Formula 4
di menit ke- 25, Formula 5 di menit ke- 20, dan Formula 6 di menit ke- 15. Dilakukan
pula pengujian terhadap kontrol positif tablet Asam mefenamat yang beredar di
pasaran (Asam mefenamat generik PT. Kalbe Farma) menghasilkan disolusi 93,607%
(Formula 7) dimenit ke-45.

13
Gambar 2.6.2 Grafik Profil Disolusi
Uji statistik ANOVA sig 0,000 (sig < 0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa
disolusi antar formula menunjukkan ada perbedaan bermakna. Hal tersebut
menunjukkan adanya pengaruh penggunaan konsentrasi bahan penghancur yang
berbeda pada setiap formula. Formula dengan kadar Croscarmellose sodium 5% (F6)
merupakan formula dengan mutu fisik dan laju disolusi yang terpilih, karena
mempunyai mutu fisik dan laju disolusi tablet yang memenuhi syarat.

2.7 Kekurangan dan Kelebihan Jurnal


a. Kekurangan
Penulisan dari jurnal ini kurang rapi sehingga agak menyusahkan pembaca
jurnal untuk memahami dan melihat ini dari isi jurnal ini.
b. Kelebihan
Jurnal ini sudah lengkap, mulai dari penulisan abstrak hingga metode
penelitian dan hasil dari penelitian semua sudah terpapar jelas sehingga
informasi yang diberikan sudah sangat jelas.

14
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat kami simpukan asam mefenamat merupakan obat
analgesik, anti inflamasi dan antireumatik. Pada pembuatan tablet asam mefenamat
digunakan metode granulasi basah karena memiliki beberapa keuntungan yaitu,
meningkatkan fluiditas dan sesuai untuk sifat aliran atau kompaktibilitas yang buruk,
mengurangi penjeratan udara, mengurangi debu, pembasahan granul sesuai dengan
homogenitas sediaan dosis rendah, meningkatkan keterbatasan serbuk melalui
hidrofilisasi (granulasi basah), dan memungkinkan penanganan serbuk tanpa
kehilangan kualitas campuran. Pada granulasi basah bahan pengikat yang digunakan
dalam pembuatan sediaan tablet antara lain: amilum, gelatin, polivinilpirolidon,
derivate selulose (hidroksi propil metil selulose, karboksi metil selulose, metil
selulose).
Formula tablet Asam mefenamat yang direncanakan adalah formula dengan
bobot tablet 600 mg (570 mg-630 mg) yang mengandung 500 mg Asam mefenamat
tiap tablet. Yang pertama melakukan Evaluasi tablet yang dilakukan yaitu :
keseragaman ukuran, kekerasan tablet, friability dan frixibility tablet, waktu hancur
tablet, keseragaman kadar, disolusi tablet. Kedua melakukan evaluasi granul yang
harus diperhatikan yaitu : kecepatan alir dan sudut istirahat, kandungan air,
kompresibilitas, granulometri. Dari data formulasi tersebut tablet dibuat dengan
menimbang Asam mefenamat. Secara organoleptis hasil granul yang diperoleh
memiliki bentuk berupa butiran halus berwarna kuning. Hasil evaluasi kadar air
memenuhi syarat (< 2%), Hasil evaluasi laju alir memenuhi persyaratan (>5
gr/detik). Hasil evaluasi sudut diam dapat mengalir dengan baik (sudut α : 25o-30o),
Hasil evaluasi kompresibilitas menunjukan hasil yang memenuhi persyaratan
(<20%), Hasil evaluasi granulometri menunjukan hasil yang tidak memenuhi
(<10%), Hasil evaluasi keseragaman bobot tablet menunjukan hasil yang memenuhi
persyaratan yaitu 570 mg - 630 mg. Rentang rata-rata keseragaman bobot minimal

15
583,10 mg, dan maksimal 610,09 mg dengan standar deviasi maksimal yaitu 7,44.
Hasil evaluasi kekerasan tablet menunjukan hasil yang memenuhi persyaratan yaitu
7-12 kP . Rentang rata-rata kekerasan tablet minimal 8,48 kP, dan maksimal 11,34
kP dengan standar deviasi maksimal yaitu 0,83.
Hasil evaluasi waktu hancur tablet, formula 2-6 menunjukan hasil yang
memenuhi persyaratan yaitu kurang dari 15 menit, sedangkan formula 1 tidak
memenuhi syarat karena tidak mengandung penghancur (kontrol negatif). Rentang
rata-rata kekerasan tablet minimal 1,87 menit, dan maksimal 16,67 menit dengan
standar deviasi maksimal tiap formula yaitu 1,68. Hasil evaluasi friability tablet
menunjukan hasil yang memenuhi persyaratan yaitu kurang dari 1%. Rentang rata-
rata friability minimal 0,16%, dan maksimal 0,21% dengan standar deviasi maksimal
yaitu 0,08%. Hasil evaluasi frixibility tablet menunjukan hasil yang memenuhi
persyaratan yaitu kurang dari 1% . Rentang rata-rata frixibility tablet minimal 0,14%,
dan maksimal 0,19% dengan standar deviasi maksimal yaitu 0,07%. Sehingga dapat
dikatakan bahwa waktu hancur antar formula menunjukkan ada perbedaan bermakna
dan dapat dikatakan bahwa keseragaman bobot antar formula menunjukkan ada
perbedaan bermakna, sehingga dapat dikatakan bahwa kekerasan antar formula
menunjukkan ada perbedaan bermakna. Dikatakan bahwa friability antar formula
menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna.
Hasil evaluasi kadar zat aktif tablet, terdapat formula yang tidak memenuhi
syarat (90%-110%) yaitu F1 dan F3, kecenderungan data mendekati batas atas. Hal
ini disebabkan karena saat proses pencampuran massa granul kurang homogen.
Rentang rata-rata kadar zat aktif tablet pada minimal 106,209%, dan maksimal
111,176% dengan standar deviasi maksimal yaitu 1,93 sehingga dapat dikatakan
bahwa kadar zat aktif antar formula menunjukkan ada perbedaan bermakna. Pada uji
disolusi tablet Asam mefenamat dengan perbedaan konsentrasi Croscarmellose
Sodium menunjukkan bahwa peningkatan Croscarmellose Sodium dapat
meningkatkan laju disolusi tablet Asam mefenamat karena mempunyai mekanisme
ganda yaitu penyerapan air (waterwicking) dan pembengkakan secara cepat (rapid
swelling). Pada Uji statistik ANOVA sig 0,000 (sig < 0,05) sehingga dapat

16
dikatakan bahwa disolusi antar formula menunjukkan ada perbedaan bermakna.
maka menunjukkan adanya pengaruh penggunaan konsentrasi bahan penghancur
yang berbeda pada setiap formula. Formula dengan kadar Croscarmellose sodium
5% (F6) merupakan formula dengan mutu fisik dan laju disolusi yang terpilih, karena
mempunyai mutu fisik dan laju disolusi tablet yang memenuhi syarat.

3.2 Saran
Saran yang dapat kami sampaikan yaitu :
1. Penulisan dari jurnal ini kurang rapi sehingga sedikit menyusahkan pembaca
jurnal untuk memahami dan melihat dari isi jurnal ini.
2. Untuk pembaca lebih memperbanyak membaca jurnal-jurnal sebagai referensi
tambahan yang memiliki keterkaitan dengan jurnal yang sedang kalian
review agar makalah yang kalian buat lebih banyak meningkatkan wawasan
bagi yang membaca.

17
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Goeswin. 2006. Pengembangan Sediaan Farmasi. Bandung : ITB


Ansel, H.C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida
Ibrahim, Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, 255-271, 607-608, 700.
Jakarta : UI Press.
Banker, S.G., and Anderson, R.N., 1986. Tablet In Lachman, L. Lieberman, The
Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 3 rd ed., Lea and Febiger.
Philadelphia. 643-704.
Depkes RI, 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia,
Shargel, L., dan Yu, A. B. C., 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan
diterjemahkan oleh Siti Sjamsiah, Edisi Kedua. Surabaya : Airlangga
University Press
Voigt, R., 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Diterjemahkan oleh Soendani
N. S. Yogyakarta : UGM Press