Anda di halaman 1dari 9

Judul makalah : Faraidh

Nama Pemakalah : A.Rosi Milania (200303106)


B. Wirda Yasri (200303015)

A.Dalil dan Hikmah di Perbolehkan Muamalah ini


a.Pengertian Faraidh
Faraidh jamak dari faridhah.kalimat faridhah berasal dari Bahasa arab yang di ambil dari
kata fardh,artinya ketentuan.Allah berfirman surat Al Baqarah ayat 237 yang artinya “Maka
(bayarlah) ½ dari yang telah kamu tentukan.
Adapun makna fardh dari segi istilah adalah bahagian yang di tentukan oleh syara’
kepada ahli waris.Sedangkan ilmu yang mempelajarinya di sebut dengan ilmu Faraidh 1. Kalau
seseorang mati meninggalkan harta,maka diambilah dari harta itu untuk keperluan
mengubur,kemudian di penuhi wasiatnya kalau ia berwasiat yang lebih dari sepertiga dari
hartanya.Dalam Al qur’an disebutkan sebagai berikut :

...)11 : ‫ص ْينَ بِهَااَوْ َد ْي ٍن (النساء‬ ِ ‫ِم ْن بَ ْع ِد َو‬


ِ ْ‫صيَّ ٍة يُو‬
Artinya :
“…Sesudah di penuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.”
(Q.S.An-nisa,ayat 11)
Sesudah itu,wajiblah di bagikan hartanya diantara ahli warisnya menurut Al-qur’an dan
sunnah nabi Muhammad SAW.
Firman Allah dalam Al qur’an:

)188 : ‫َوالَ تَأْ ُكلُوْ ااَ ْم َوالَ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم بِ ْالبَا ِط ِل (البقرر ة‬


Artinya :
“ Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan
jalan yang batil”. (QS. Al-Baqarah 188)²
Pada masa permulaan islam, kebiasaan orang arab adalah memberikan warisannya hanya
untuk anak laki-laki saja dan itupun hanya diperuntukkan kepada anak yang sudah dewasa.

1
Sayyi Sabiq, Fiqih Sunnah, hlm 43
² Drs. H.Moh.Rifa’I, Ilmu Fiqih Islam Lengkap, hlm 513
Selain itu ada juga yang dikenal dengan warisan dengan sumpah. Hingga islam datang
menghapuskan semua itu dan menurunkan ayat,

‫ك‬ َ ْ‫لذ َك ِر ِم ْث ُل َحظِّ األُنثَيَيَنِج فَا ِ ْن ُك َّن نِ َسا ًء فَو‬


َ ‫ق ْاثنَتَ ْي ِن فَلَه َُّن ثُلُثَا َماتَ َر‬ َّ ِ‫ص ْي ُك ْم هللاُ فِى أَوْ لَ ِد ُك ْم ل‬
ِ ْ‫يُو‬
Artinya:
“ Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian
2

seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan ; dan jika anak itu semuanya
perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan”.
(QS. An-nisa’ 11)3
Sebab Turunnya Ayat
Sebab diturunkannya ayat ini adalah riwayat jabir bahwa istri Sa’ad bin Rabi’ datang
kepada Rasulullah SAW dengan membawa dua anak perempuan Sa’ad. Dia berkata, “ Wahai
Rasulullah, ini dua anak perempuan Sa’ad bin Rabi’. Bapak keduanya telah terbunuh bersamaan
sebagai syahid pada perang uhud. Dan sesungguhnya, paman keduanya telah mengambil harta
kedua anak ini tanpa meninggalkan sedikit pun harta untuk mereka, padahal keduanya tidak bisa
menikah tanpa harta. Beliau pun berkata, “ Allah akan memberi keputusan tentang hal ini”. Lalu
turunlah ayat warisan Rasulullah pun mengirimkan utusan kepada paman keduanya dan berkata,
“ Berikanlah dua pertiga kepada dua anak perempuan sa’ad dan seperdelapan kepada ibu mereka.
Dan apa yang tersisa adalah milikmu.”4
b. Keutamaan Ilmu Fara’idh
a. Dari Ibnu Mas’ud ia meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda

‫فَاِنِّي ا ْم ُر ٌؤ َم ْقبُوْ ضٌ َوال ِع ْل ُم َمرْ فُوْ ع‬،‫ض َو َعلِّ ُموْ هَا‬ َ ِ‫االفَ َرا ئ‬ْ ْ‫وتَ َعلَّ ُمو‬، َ ِّ‫تَ َعلَّ ُموْ ا ْالقُرْ آنَ َو َعلِّ ُموْ هُ الن‬
َ ‫اس‬
‫ْض ِة َوال َمسْأ َ لَ ِة فَالَيَ ِجدَا ِن أَ َحدًا ي ُْخبِ ُرهُ َما‬
َ ‫ك اَ ْن يَ ْختَلِفَ ا ْس َما ِن فِي ْالفَ ِري‬ ُ ‫وي ُِش‬،ُ
َ .

23
Sayyi Sabiq, Fiqih Sunnah, hlm 43
4
Hadis riwayat At-Tirmizi di dalam sunan At-Tirmidzi, Kitab al-Fara’idh, Bab Ma ja a fi Miratsil-Banat, jilid IV,
hlm. 414 ; Abu Dawud di dalam Sunan Abi Dawud, kitab al-Fara’idh, Bab Ma ja fi Miratsi ash-Shulb, jilid III, hlm.
314-315 ; Ibnu Majah di dalam Sunan Ibni Majah, kitab al-Fara’idh , Bab Fara’idh ash-shulb, jilid II, hlm. 908 ; dan
Ahmad di dalam Musnad Ahmad (al-Fath ar-Rabban li Tartibi Musnad al-imam Ahmad, jilid XV, hlm. 195). At-
Tirmidzi berkata, “ Hadits ini shahih. Kita tidak mendapatinya kecuali dari riwayat Abdullah bin Muhammad bin
Uqail.”
“Pelajarilah Al-Qur’an dan ajarkanlah ia kepada manusia. Pelajarilah fara’idh dan ajarkanlah ia.
Sesungguhnya aku adalah seorang laku-laki yang akan dimatikan dan ilmu akan diangkat. Tidak
3

lama lagi dua nama akan berselisih dalam faridhah (bagian) dan perkara, lalu keduanya tidak
mendapatkan seorang pun yang memberi tahu keduanya.”5
b. Dari Abdulullah bin Amru meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

َ ‫آيَةٌ ُمحْ َك َمةٌاَوْ ُسنَّةٌقَا ئِ َمةٌأَوْ فَ ِر ْي‬:ٌ‫ال ِع ْل ُم ثَالَ ثَةٌ َو َما ِس َوى َذلِكَ فَه َُو فَضْ ل‬.
ٌ‫ضةٌعَا ِدلَة‬ ْ
“Ilmu itu ada tiga dan yang selain itu hanyalah keutamaan : ayat yang sempurna, sunnah yang
tegak, atau faradhah (bagian) yang adil.”6
c. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,

‫ع ِم ْن أُ َّمتِ ْي‬
ُ ‫ف ْال ِع ْل ُم َوهُ َو يُ ْن َسى َوهُ َواَ َّو ُل َش ْي ٍء يُ ْن َز‬ َ ِ‫تعلَّ ُموْ ا ْالفَ َرائ‬.
ُ ْ‫فَاِنَّهَانِص‬،‫ض َو َعلِّ ُموْ اهَا‬
“ Pelajarilah fara’idh dan ajarkanlah ia. Sesungguhnya ia separuh dari ilmu, sedangkan ia akan

dilupakan dan ia adalah perkara pertama yang akan dicabut dari umatku.”7َ

a) 2/3 (dua pertiga)

35
Dalam majma’uz-Zawa’id, jilid IV, hlm. 226, Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Al-Bazzar.
Dan di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang tidak aku ketahui.”
6
Hadits riwayat Abu Dawud di dalam Sunnah Abi Dawud, kitab al-Fara’idh, Bab Ma ja a fi Ta’limil-Fara’idh, jilid
III, hlm. 306-307 ; Ibnu Majah di dalam Sunan Ibni Majah, kitab al-Muqaddimah, Bab Ijtinab ar-Ra’yi wal-Qiyas,
jilid I, hlm. 21 ; dan Hakim di dalam Mustadrak Al-Hakim, jilid IV, hlm. 332. Adz-Dzahabi mendhaifkan hadits ini.
7
Hadits riwayat Ibnu Majah di dalam Sunan Ibni Majah, kitab al-Fara’idh, Bab al-Hakim di dalam Nustadrak
Al-“Dia sama sekali lemah.” Dan dia mendhaifkan hadidt ini.
1/6 (seperenam)
B.Syarat dan rukun muamalah ini
a.rukun pembagian warisan
Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pembagian warisan.Sebagian mengikuti rukun
dan sebagian berdiri sendiri.Rukun pembagian warisan ada tiga,yaitu :
1. Al-Muwarris,yaitu orang yang diwarisi harta peninggalannya atau orang yang
mewariskan hartanya.Syaratnya adalah al-muwarris benar-benar telah meninggal
dunia.Apakah meninggal secara hakiki,secara yuridis (hukmy) atau secara taqdiry
berdasarkan perkiraan.
 Mati hakiki artinya tanpa melalui pembuktian dapat diketahui dan dinyatakan bahwa
seseorang seseoranh telah meninggal dunia.
 Mati hukmy adalah seseorang yang secara yuridis melalui keputusan hakim dinyatakan
telah meninggal dunia.Ini bisa terjadi seperti kasus seseorang yang di nyatakan hilang
(mafqud) tanpa di ketahui di mana dan bagaimana keadaannya.Melalui keputusan
hakim,setelah melalui upaya-upaya tertentu,ia dinyatakan meninggal. Sebagai
keputusan hakim mempunyai kekuatan hokum yang mengikat.
 Mati taqdiry yaitu anggapan bahwa seseorang telah meninggal dunia. Misalnya karena
ia ikut ke medan perang, atau tujuan lain yang secara lahiriyah mengancam dirinya.
Setelah sekian tahun tidak diketahui kabar beritanya dan melahirkan dugaan kuat
bahwa ia telah meninggal maka dapat dinyatakan bahwa dia telah meninggal.
2. Al-waris atau ahli waris. Ahli waris adalah orang yang dinyatakan mempunyai hubungan
kekerabatan baik karena hubungan darah,hubungan sebab perkawinan,atau akibat
memerdekakan hamba sahaya. Syaratnya ahli waris pada saat meninggalnya al-muwarris
dalam keadaan hidup. Termasuk dalam pengertian ini adalah bayi di dalam kandungan.
Meskipun masih berupa janin,apabila dapat di pastikan hidup,melalui gerakan (kontraksi)
atau cara lainnya,baginya berhak mendapatkan warisan.
3. Al- maurus atau al-miras yaitu harta peninggalan si mati setelah di kurangi biaya
perawatan jenazah,pelunasan utang,dan pelaksanaan wasiat. Persoalannya adalah
bagaimana jika si mati meninggalkan utangb yang besarnya melebihi nilai harta
peninggalannya. Maka ahli warisnya lah yang akan bertanggung jawab untuk melunasi
hutang tersebut.1
4

b.Syarat pewarisan
Syarat dalam pewarisan ada tiga,yaitu :
1. Kematian pewaris secara hakiki,secara hukum,atau secara asumtif. Kematian secara
hukum,misalnya,qadhi menetapkan kematian orang yang hilang sehingga ketetapan ini
menjadikannya seperti orang yang mati secara hakiki. Dan kematian
asumtif,misalnya,seseorang menyerang seorang perempuan hamil dengan pukulan hingga
janinnya gugr dalam keadaan mati,lalu di asumsikan bahwa janin ini pernah hidup
meskipun itu tidak dapat di buktikan.
2. Kehidupan ahli waris setelah kematian pewaris,meskipun secara hukum, seperti
kandungan. Kandungan di anggap hidup secara hukum karena bisa jadi ruh belum di
tiupkan kedalamnya. Jika kehidupan ahli waris setelah kematian pewaris tidak
diketahui,misalnya pada orang-orang tenggelam,orang-orang terbakar,atau orang-orang
yang tertimpa bangunan,maka tidak ada pewarisan di antara mereka seandainya sebagian
dari mereka mewarisi sebagian yang lain. Harta masing-masing dari mereka di bagikan
kepada ahli waris mereka yang masih hidup.
3. Tidak ada salah satu hal-hal yang menghalangi pewarisan seperti :
 Perbedaan agama ; orang islam tidak mendapatkan warisan dari orang yang tidak
beragama islam,begitupun sebaliknya.
 Pembunuh ; orang yang membunuh ahli warisnya tidak berhak menerima warisan dari
yang dibunuhnya
 Orang yang jadi budak tidak mendapat warisan dari orang yang merdeka.

c. Laki-laki yang menjadi ahli waris


1. Anak laki-laki
2. Anak laki-laki dari anak laki-laki (cucu) terus ke bawah
3. Ayah
4. Kakek dan terus ke atas

41
Drs.Ahmad rofiq,M.A.,Fiqih mawaris,hlm 22-23
2
Sayyid sabiq,Fiqih sunnah,hlm 513-514
5. Saudara laki-laki dan terus ke atas
6. Anak laki-laki saudara laki-laki dan terus kebawah
7. Paman (adik laki-laki dari ayah)
8. Anak laki-laki dari paman tersebut,dan seterusnya
9. Suami
10. Laki-laki yang memerdekakan.
Apabila dalam pembagian warisan terdapat bersama anak laki-laki berkumpul dengan
anak perempuan sama-sama mengambil harta tersebut,maka cara membaginya ialah laki-
laki mendapat dua bagian dan peempuan mendapatkan satu bagian

d. Perempuan yang menjadi ahli waris


1. Anak perempuan
2. Anak perempuan dari anak laki-laki
3. Ibu
4. Nenek perempuan
5. Saudara perempuan
6. Istri
7. Perempuan yang memerdekakan3 5

e. Golongan ahli waris


Ahli waris terbagi dua golongan,yaitu :
1. Dzu fardlin.Dzu fardlin artinya yang mempunyai bagian tertetu. Pembagian tertentu
dalam Al-qur’an ada enam :
b) ½ (setengah)
c) ¼ (seperempat)
d) 1/8 (seperdelapan)
e) 1/3 (sepertiga)
f) 1/6 (seperenam)
Ahli waris yang mendapatkan bagian salah satu dari enam macam bagian tersebut dinamakan
ahli waris dzu fardlin.

53
Drs.H.Mohd.Rifa’I,Ilmu fiqih islam lengkap,hlm 514-515
2. Ashabah ialah orang yang berhak mendapatkan warisan dan pembagiannya tidak di
tetapkan dalam salah satu enam macam pembagian tersebut diatas. Ahli waris ‘ashabah
menerima warisan dari salah satu di antara dua,yaitu menerima seluruh warisan atau
menerima sisa warisan.jika ahli dzu fardlin tidak ada,ia menerima seluruh
warisan,tetapikalau ada dzu fardlin ia menerima sisa warisan setelah ahli dzu fardlin
mengambil bagiannya.

Adapun susunan ‘ashabah ialah :

a) Anak laki-laki
b) Anak laki-laki dari anak laki-laki (cucu) laki-laki terus kebawah
c) Ayah
d) Kakek laki-laki terus keatas
e) Saudara laki-laki seibu seayah
f) Saudara laki-laki seayah
g) Anak laki-laki dari saidara laki-laki seayah seibu
h) Ank laki-laki dari saudara laki-laki seayah
i) Paman seibu seayah
j) Paman seayah
k) Anak laki-laki dari paman laki-laki seibu seayah
l) Anak laki-laki dari paman laki-laki seayah
m) Laki-laki yang memerdekakan
n) Perempuan yang memerdekakan
Keterangan :
 Ahli waris ‘ashabah mendapat bagian menurut urutan tersebut. Jika ada ‘ashabah
yang terdekat maka ‘ashabah yang kemudian tertutup.Umpamanya ‘ashabah no.2
(cucu laki-laki dari anak laki-laki) tertutup karena ada ‘ashabah no.1 (anak laki-
laki). Demikian juga cucu laki-laki dengan ayah dan seterusnya. Dalam hal ini di
kecualikan kakek laki-laki dan saudara laki-laki seibu seayah atau seayah. Artinya
kakek laki-laki tidak menutup saudara laki-laki tersebut apabila kakek laki-laki
berkumpul dengan saudara laki-laki maka keduanya memperoleh bagian.
 Ayah dan kakek laki-laki sebagai ahli waris dzu fardlin,tetapi juga dapat duduk
sebagai ahli waris ‘ashabah,apabila anak atau cucu aki-laki tidak ada.
Jika anak atau cucu laki-laki atau ayah tidak ada,maka kakek laki-laki sebagai
‘ashabah. Tetapi jika ahli waris yang tersebut ada,maka ayah dan kakek tetap
berkedudukan sebagai ahli waris dzu fardlin.

Pendapatan ahli waris ‘ashabah

‘Ashabah-‘ashabah itu mendapat atau tidaknya terbagi atas beberapa hal :

1. Ada ‘ashabah yang dapat seluruh harta mayit,jika si mati tidak meninggalkan ahli waris
melainkan dia seorang.
2. Harta di bagi rata di antara ‘ashabah- ashabah,jika si mati meninggalkan lebih dari
seorang ‘ashabah yang sepangkat,yaitu umpama dua anak laki-laki saudara laki-laki atau
seumpamanya.
3. Ada yang dapat semua sisa selebihnya dari bagian ahli waris dzu fardlin.
4. Kalau ada perempuan yang sepangkat dengannya,maka laki-laki dapat dua bagian dan
perempuan dapat satu bagian.
5. Ada yang kosong tak dapat apa-apa,jika tidak ada sisa dari harta itu,yakni kalau sudah
terbagi habis kepada ahli waris dzu fardlin.

Pendapatan ahli waris dzu fardlin

1. Yang dapat setengah (1/2) harta :


a) Anak perempuan apabila hanya seorang diri,tidak mempunyai saudara.
b) Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan),apabila hanya seorang
diri, tidak ada anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.
c) Saudara perempuan seayah,jika hanya seorang diri.
d) Suami jika tidak ada anak,atau tidak ada cucu laki-laki dari anak laki-laki
2. Yang mendapat seperempat (1/4) harta :
a) Suami, jika ada anak atau cucu laki-laki dari anak laki-laki
b) Isteri atau beberapa orang istri jika tidak ada anak atau cucu dari anak laki-
laki
3. Yang mendapatkan seperdelapan (1/8) harta :
Seperdelapan dari harta warisan menjadi bagian istri beberapa orang istri,apabila ada
anak atau anak dari anak laki-laki (cucu).
4. Yang mendapat 2/4 harta :
Yang mendapat 2/3 harta di bagi menjadi empat bagian ;
a) Dua orang anak perempuan (atau lebih),jika ereka tidak mempunyai saudara
laki-laki
b) Dua orang anak perempuan (atau lebih) dari anak laki-laki(cucu) jika mereka
tidak ada anak perempuan atau saudara laki-laki
c) Dua orang saudara perempuan sekandung (atau lebih), jika tiak ada anak
perempuan atau anak perempuan dari anak laki-laki atau saudara laki-laki
mereka.
d) Dua orang anak perempuan seayah (atau lebih) jika tidak ada saudara laki-laki
mereka
5. Yang mendapat sepertiga (1/3) harta :
a) Ibu,jika tidak terhalang (artinya jika tidak meninggalkan anak atau cucu laki-
laki dari anak laki-laki atau tidak pula meninggalkan dua orang saudara,baik
laki-laki atau perempuan baik seibu atau seayah.6
b) Dua orang atau lebih dari saudara-saudaranya laki-laki dan perempuan yag
seibu.
6. Yang mendapat seperenam (1/6) harta :
a) Ibu jika ada anak,atau cucu laki-laki dari anak laki-laki atau dua orang atau
lebih dari saudara laki-laki dan perempuan.
b) Ayah,jika ada anak atau cucu dari anak laki-laki.
c) Cucu perempuan dari anak laki-laki jika bersama-sama dengan seorang anak
perempuan sekandung
d) Saudara perempuan seayah,jika brsama-sama seorang saudara sekandung
e) Kakek laki-laki tidak ada ayah

Anda mungkin juga menyukai