Anda di halaman 1dari 6

MANAJEMEN TERNAK UNGGAS

Nama : YUSTINA JUITA KANTUR

Nim : 1805020279

Tugas Ringkasan Manajemen Ternak Unggas

Modul I

Nutrient Untuk Ayam Broiler dan Petelur

1. Nutrient untuk ayam broiler


Sekarang ini pakan untuk ayam broiler dibagi ke dalam 2 fase yaitu pakan starter (1-21
hari) dan finisher (22-32 atau 35 hari). Beberapa perusahaan menggolongkan pakan
broiler dalam 3 fase yaitu pakan fase starter untuk ayam dari umur 1-18 hari, pakan
grower 19-30 hari dan pakan finisher 31-42 hari.
o Energi pada pakan broiler
Sumber energi utama pada pakan broiler adalah karbohidrat dan lemak. Protein
dapat juga menjadi sumber energi apabila berlebihan di dalam pakan. Tetapi,
protein sebagai sumber energi tidak ekonomis. Karbohidrat dalam hal ini glukosa
merupakan sumber nutrisi untuk kepentingan metabolisme energi pada awal
pertumbuhan anak ayam.Kebutuhan energi untuk pertumbuhan sangat
dipengaruhi oleh bobot badan dan juga jenis kelamin serta bangsa hewan. Jantan
biasanya mempunyai kecepatan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan
betina, oleh karena itu kebutuhan energi untuk jantan lebih banyak daripada untuk
betina.
o Lemak pada pakan broiler
Nilai dari energi kotor dari lemak kira-kira 2,25 kali lebih tinggi dari karbohidrat
(Coon, 2002a). Oleh karena itu, lemak biasanya ditambahkan pada pakan broiler
untuk meningkatkan nilai energi metabolis pada tingkat tinggi. Apabila lemak
terdapat pada pakan broiler, penggunaan dari semua konsumsi energi menjadi
lebih baik.
Lemak abdominal pada broiler

Produksi broiler komersial dari sejak dulu ditujukan untuk tumbuh lebih cepat
dengan bobot tubuh yang cukup dan konversi pakan yang baik, tetapi
konsekuensinya lemak tubuh meningkat. Penimbunan lemak pada lokasi tertentu
berhubungan dengan umur dan kurva pertumbuhan broiler. Lemak abdominal
terdapat pada tubuh ayam terutama selama fase awal pertumbuhan.

o Protein pada pakan broiler


Menurut teori, pakan broiler sebaiknya mengandung protein 21-22% dengan
energi metabolis 3058-3135 kcal/kg pakan selama 2-3 minggu pertama, dan
setelah itu protein diturunkan secara bertahap. Pada periode grower protein
diturunkan menjadi 19%, dan pada periode finisher, 10-14 hari sebelum
dipasarkan kandungan protein pakan diturunkan menjadi 16%.
o Kebutuhan asam amino untuk broiler
Hasil penelitian Mulyantini (2005) dengan menggunakan ayam broiler yang
diberi pakan yang diformulasikan dengan asam amino tercerna memperlihatkan
hasil yang lebih baik dari pada formulasi pakan berdasarkan total asam amino.
Broiler yang diberi pakan dengan formulasi asam amino tercerna mempunyai
bobot tubuh yang lebih tinggi dan konversi pakan yang lebih baik dibandingkan
dengan broiler yang diberi pakan dengan formulasi pakan berdasarkan total asam
amino.
o Kebutuhan vitamin dan mineral untuk broiler
Vitamin adalah mikronutrien atau senyawa organik yang dibutuhkan dalam
jumlah sedikit, tapi mempunyai peranan yang besar terhadap produktivitas ayam.
Ketersediaan vitamin akan membantu proses metabolisme karbohidrat, protein
dan lemak sehingga dapat dicerna dan diserap oleh tubuh ayam. Sebagai contoh
vitamin E melindungi membran sel dan memacu sistem kekebalan tubuh.
o Konsumsi air minum untuk broiler
Air merupakan zat yang paling penting untuk dikonsumsi ternak. Seekor ayam
dapat bertahan beberapa minggu tanpa pakan, tetapi tanpa air minum tidak bisa
bertahan lama. Broiler minum banyak air, sehingga ketersediaannya harus cukup
sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan. Komposisi badan broiler adalah 60% air.
Selama hidupnya, broiler dengan berat 2,3 kg akan minum sebanyak 8,2 kg air,
bandingkan dengan pakan yang hanya 4,6 kg.

Bobot tubuh dan konversi pakan

Pada waktu menetas, normalnya berat anak ayam sekitar 37-40 g (Lacy, 2002). Laju
pertumbuhan broiler meningkat dengan cepat pada minggu pertama, dan mencapai
puncaknya pada umur 6-7 minggu, kemudian menurun dengan meningkatnya umur
(Lacy, 2002). Jumlah pakan yang diperlukan untuk memproduksi broiler digunakan
untuk membandingkan efisiensi produksi. Pakan merupakan biaya produksi yang paling
besar. Konversi pakan (jumlah pakan yang dikonsumsi dibagi dengan kenaikan bobot
hidup broiler) adalah alat untuk membandingkan performans dari unggas dalam satu
perusahaan, tetapi, tidak dapat digunakan untuk membandingkan antar perusahaan,
karena adanya perbedaan formulasi pakan, iklim, perkandangan, dan umur produksi.

2. Nutrient untuk petelur

Pemberian pakan untuk ayam petelur adalah kelanjutan dari pemberian pakan untuk
ayam grower dengan mensuplai bahan pakan dengan proporsi yang benar sehingga ayam
dapat memproduksi telur dalam jumlah yang banyak. Kebutuhan dasar pakan untuk ayam
petelur adalah untuk:

1. Pertahanan tubuh. Jumlah pakan untuk pertahanan tubuh bervariasi sesuai dengan
bobot tubuh dan lingkungan.
2. Pertumbuhan. Pertambahan berat badan selama tahun bertelur
sebaiknya antara 350-454 g. Untuk tipe medium sebaiknya 454-570 g.
3. Produksi bulu. Produksi bulu termasuk pertumbuhan bulu-bulu yang
baru sebagai pengganti bulu yang rontok.
4. Produksi telur. Pakan yang dibutuhkan untuk produksi telur
ditentukan oleh jumlah dan ukuran telur.
o Kebutuhan energy untuk petelur
Kebutuhan energi metabolis untuk petelur dengan berat 1,6 kg yang dipelihara
pada suhu 21oC, dan pertambahan berat badannya 2 gr/hari adalah 305 kcal/hari.
Kebutuhan ini meningkat pada suhu dingin, dan menurun pada suhu tinggi.
Jumlah energi dalam pakan berpengaruh positif terhadap konsumsi pakan.
o Lemak pada pakan petelur
Penambahan lemak dalam pakan petelur berkisar antara 1-3%. Pakan yang
kelebihan lemak dapat memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap produksi
telur, karena kelebihan lemak akan tertimbun di sekitar ovarium dan mengganggu
ovulasi.
o Kebutuhan protein untuk produksi telur
Kebutuhan protein untuk petelur sangat erat hubunganya dengan kecepatan
produksi telur dan besarnya telur. Pada saat produksi telur mencapai puncaknya
kebutuhan protein yaitu 17-19%. Pada akhir siklus produksi kebutuhan menurun
sampai 14%.
o Kebutuhan mineral untuk produksi telur
Ketika produksi telur dimulai, kebutuhan kalsium lebih besar daripada periode
pertumbuhan, karena pembentukan kulit telur. Tetapi terlalu banyak kalsium
selama produksi telur dapat membahayakan, karena dapat menurunkan nafsu
makan, dan juga tidak ekonomis karena terbuang melalui kotoran.
- Kalsium
Kalsium sebaiknya dalam bentuk partikel butiran (diameter 2-5 mm) atau grit,
seperti campuran limestone dan kulit kerang. Menurut Joseoh (2002c) level Ca
dalam pakan perlu ditingkatkan selama periode pemeliharaan 7-10 hari
sebelum telur pertama ke luar.

Jumlah kalsium pada pakan petelur ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Kecepatan bertelur. Semakin cepat laju bertelur, maka kebutuhan kalsium


semakin tinggi.
2. Besar ayam. Ayam yang besar mengkonsumsi lebih banyak pakan, oleh karena
itu kalsium (%) dalam pakan harus diturunkan untuk memberikan level
kalsium yang sama yang dikonsumsi oleh ayam yang lebih kecil. Level
kalsium dalam pakan harus berdasarkan konsumsi pakan dan produksi telur.
3. Umur ayam. Setelah umur 40 minggu, ayam membutuhkan kalsium lebih
banyak.
4. Suhu kandang. Pada suhu tinggi, ayam mengkonsumsi pakan lebih sedikit, oleh
karena itu kandungan kalsium harus ditingkatkan dalam pakan.
- Fosfor
Ketidakcukupan fosfor dalam pakan dapat menyebabkan demineralisasi
pada kerangka ayam petelur. Ayam petelur membutuhkan sedikit fosfor,
karena ada sedikit fosfor dalam kulit telur. Kelebihan fosfor akan
menghambat pelepasan kalsium tulang dan pembentukan kalsium
karbonat untuk pembentukan kerabang sehingga dapat mengurangi
kualitas kerabang telur. Pakan dengan kandungan total fosfor yang rendah
dapat meningkatkan mortalitas. Rekomendasi dari non-fitat fosfor yaitu
350-450 mg/ekor/hari.
o Kebutuhan vitamin untuk produksi telur
Defisiensi salah satu vitamin akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
produksi telur. Vitamin membantu mengendalikan peningkatan suhu tubuh dan
konsentrasi corticosterone plasma. Juga memperbaiki kualitas kerabang telur
dengan perannya dalam pembentukan matriks organik kerabang.
Vitamin yang berperan dalam kelangsungan ayam petelur yaitu :
 Vitamin B1
 Vitamin B2 dan B6
 Niacin
o Konsumsi air minum untuk petelur

Unggas rata-rata minum 19 liter air/hari/100 ekor. Pada suhu di bawah 19,7 oC konsumsi air
minum yaitu 18,7 liter/hari, dan pada suhu di atas 28oC konsumsi air minum meningkat sampai
21,4 liter/hari.
MANAJEMEN TERNAK UNGGAS

Nama : YUSTINA JUITA KANTUR

Nim : 1805020279

Tugas 1

Pengertian manajemen ternak unggas adalah cara untuk mengelola ternak unggas agar dapat
memberikan hasil panen yang maksimal.
Dalam ternak kita juga perlu menggunakan manajemen yang baik, agar mencapai hasil yang
maksimal serta menggunakan modal secara efisien. Dengan menggunakan modal efisien ini kita
dapat menghemat pengeluaran serta mendapat profit yang maksimal.