Anda di halaman 1dari 6

Kepada Yang Terhormat,

KETUA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

Di Jalan Medan Merdeka Barat No. 6

Jakarta Pusat 10110

Perihal: Permohonan Untuk Memutus Sengketa Kewenangan antar Lembaga Negara


terhadap Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mengenai pengangkatan
Duta Besar untuk Negara Zimbabwe

Dengan hormat,

Perkenankanlah saya:

Jihan Safira, S.H., M.H., M.Kn

Yang mana adalah Advokat/Pengacara Publik/Asisten Advokat/Asisten Pengacara Publik,yang


memilih domisili hukum pada kantor Konsultan Hukum Indonesia, yang beralamat di Jl.
Boulevard No. 4 Bekasi, Jawa Barat 12345, Telp/Fax. 021-7810265, bertindak untuk dan atas
nama Para Pemberi Kuasa di bawah ini, berdasarkan surat kuasa khusus tertanggal 1 Maret 2020
dalam hal ini bertindak sendiri untuk dan atas nama:

1. Supardi, Warga Negara Indonesia, Lahir di Tangerang, 9 September 1953, Jabatan


Presiden Republik Indonesia Tahun 2020, Agama Islam, Bertempat tinggal di Jl. Sunarmo,
RT/RW 003/002, Cibitung, Bekasi, Jawa Barat

Selanjutnya disebut sebagai ____________________________Pemohon I (Bukti P-1)

Dengan ini mengajukan permohonan untuk memutus Sengketa Kewenangan antar Lembaga
Negara terhadap;

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), yang beralamat di Jalan Gatot
Subroto Nomor 1, Jakarta Pusat 10270, yang selanjutnya disebut sebagai Termohon;
A. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI

1. Bahwa dalam Pasal 24C Ayat (1) UUD 1945 menyatakan, “Mahkamah Konstitusi
berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk
menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan
lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum”;

2. Bahwa berdasarkan Pasal 10 ayat (1) huruf c Undang Undang Nomor 24 Tahun 2004
tentang Mahkamah Konstitusi menyatakan, “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada
tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk memutus sengketa
kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang Undang Dasar
Republik Indonesia Tahun 1945”;

B. KEDUDUKAN HUKUM PEMOHON

1. Bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor


08/PMK/2006 Tentang Pedoman Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional
Lembaga Negara menyatakan “Lembaga negara yang dapat menjadi pemohon atau termohon
dalam perkara sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara adalah; Dewan Perwakilan
Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Presiden, Badan
Pemeriksa Keuangan, Pemerintah Daerah, atau Lembaga negara lain yang kewenangannya
diberikan oleh UUD 1945”;

2. Bahwa berdasarkan ketentuan di atas, maka Presiden dan DPR dapat menjadi pemohon
atau termohon dalam perkara sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara;
3. Bahwa berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor
08/PMK/2006 Tentang Pedoman Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional
Lembaga Negara menyatakan Pemohon adalah lembaga negara yang menganggap kewenangan
konstitusionalnya diambil, dikurangi, dihalangi, diabaikan, dan/atau dirugikan oleh lembaga
negara yang lain.;
4. Bahwa berdasarkan ketentuan di atas, maka Presiden dapat menjadi sebagai pihak
Pemohon yang menganggap DPR telah mengambil kewenangan konstitusional Presiden dalam
Pasal 13 ayat (1) dan (2) UUD NRI 1945 tentang kewenangan untuk mengangkat duta dan
konsul.;

5. Bahwa berdasarkan Pasal 3 ayat (3) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor


08/PMK/2006 Tentang Pedoman Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional
Lembaga Negara menyatakan Termohon adalah lembaga negara yang dianggap telah
mengambil, mengurangi, menghalangi, mengabaikan, dan/atau merugikan pemohon. ;
6. Bahwa berdasarkan ketentuan di atas, DPR menjadi pihak Termohon yang dianggap telah
mengambil dan mengurangi kewenangan konstitusional Presiden dalam Pasal 13 ayat (1) dan (2)
UUD NRI 1945 tentang kewenangan untuk mengangkat duta dan konsul.;

7. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka permohonan mengenai Sengketa


Kewenangan antar Lembaga Negara, yakni terhadap Presiden dan DPR, telah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang telah disebutkan, maka Mahkamah Konstitusi
berwenang untuk memeriksa dan mengadili permohonan sengketa kewenangan lembaga negara
ini;

C. POKOK PERMOHONAN

1. Bahwa pada tanggal 6 Februari 2020, Presiden hendak mengangkat dan memilih Duta
Besar untuk Negara Zimbabwe;

2. Bahwa pada tanggal 7 Februari 2020, Presiden mengadakan rapat beserta stafnya untuk
membicarakan pemilihan dan pengangkatan Duta Besar untuk Negara Zimbabwe; (Bukti P-2)

3. Pada tanggal 9 Februari 2020, Presiden mengajukan calon Duta Besar untuk Negara
Zimbabwe kepada DPR sebagai syarat pengangkatan dan pemilihan duta dan konsul oleh
Presiden berdasarkan Pasal 13 ayat (2) UUD NRI 1945 yang mana harus memperhatikan
pertimbangan DPR; (Bukti P-3)
3. Bahwa pada tanggal 17 Februari 2020, DPR mengeluarkan keputusan mengenai
pengadaan fit and proper test kepada calon yang bersangkutan yang diajukan oleh Presiden;
(Bukti P-4)

4. Bahwa pada tanggal 24 Februari 2020 telah dilaksanakan fit and proper test terhadap
Duta Besar untuk Negara Zimbabwe; (Bukti P-5)

5. Bahwa DPR menganggap dilakukannya fit and proper test kepada calon tersebut sebagai
bagian dari permusuan “pertimbangan” yang akan diserahkan pada Presiden;

6. Bahwa Pasal 13 ayat (2) UUD NRI 1945 memberikan peran Dewan Perwakilan Rakyat
dalam pengangkatan Duta Besar hanyalah sebatas kata “pertimbangan” yang tidak dijelaskan
oleh undang undang maksud dari kata pertimbangan tersebut sehingga tidak mempunyai
kekuatan hukum yang mengikat terhadap pengangkatan Duta Besar;
7. Bahwa berdasarkan ketidaktetapan hukum atas pertimbangan yang seperti apa yang
dimaksud dalam UUD NRI 1945, maka apapun hasil dari pertimbangan DPR tidak mengikat
bagi Presiden;

D. PETITUM

Berdasarkan uraian di atas, tindakan tindakan Termohon yang telah mengambil, mengurangi,
menghalangi, mengabaikan dan/atau merugikan kewenangan konstitusional Pemohon merupakan
suatu tindakan inkonstitusional, sehingga Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga yang bertugas
dan berwenang dalam menjaga dan menegakkan konstitusi patut mengoreksi tindakan
inkonstitusi Termohon tersebut.

Berdasarkan hal hal tersebut di atas, Pemhon memohon kepada Majelis Hakim Konstitusi untuk
memutus sebagai berikut:

1. Mengabulkan seluruh permohonan yang diajukan oleh Pemohon;

2. Menyatakan tindakan Termohon bertentangan dengan kewenangan Termohon;

Atau apabila Majelis Mahkamah Konstitusi berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya
(ex aquo et bono).
Jakarta, 14 Maret 2020

Jihan Safira, SH., M.H.,M.Kn


DAFTAR BUKTI
BUKTI P-1 Kartu Tanda Penduduk Pemohon

BUKTI P-2 Notula Rapat Presiden mengenai Pengangkatan Duta Besar

BUKTI P-3 Surat Pengantar Pengajuan Calon Duta Besar untuk Negara Zimbabwe beralamat
kepada DPR

BUKTI P-4 Surat Keputusan mengenai Pengadaan Fit and Proper Test terhadap Calon Duta
Besar RI untuk Negara Zimbabwe yang dikeluarkan oleh DPR

BUKTI P-5 Berita Acara mengenai Rangkaian Pengadaan Fit and Proper Test terhadap Calon
Duta Besar RI untuk Negara Zimbabwe yang dicatatkan oleh DPR