Anda di halaman 1dari 4

JIHAN SAFIRA

1806139374
HUKUM ACARA MAHKAMAH KONSTITUSI KELAS B REGULER

1. Pada awalnya, memang Mahkamah Konstitusi tidak berwenang menangani perselisihan


pemilihan kepada daerah melalui pasal 106 ayat (1) dan ayat (2) UU 32/2004 tentang
Pemerintah Daerah, yang mana bahwa perselisihan mengenai hasil penghitungan suara
calon kepala daerah diserahkan ke Mahkamah Agung.
Kemudian muncullah Pasal 236C UU 12/2008 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 mengatur bahwa, “Penanganan sengketa hasil
penghitungan suara pemilihan kepala daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan kepada
Mahkamah Konstitusi paling lama 18 (delapan belas) bulan sejak Undang-Undang ini
diundangkan”. Sehingga atas aturan tersebut beralilah perselisihan pemilukada ke MK.
Polemik kembali mencuat dengan adanya Putusan MK Nomor 97/PUU-XI/2013 yang
mengatakan bahwa Pemilihan Kepala Daerah bukanlah rezim pemilu karena tidak
disebutkan dalam UUD 1945.
Namun lahirlah UU 8/2015 UU Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota yang
sekaligus mengubah diksi Pemilihan Kepala Daerah menjadi Pemilihan, Gubernur,
Bupati, dan Walikota. Dalam pasal 157 ayat (3) dan ayat (4) UU Pemilihan Gubernur,
Bupati, dan Walikota tersebut memberikan kembali kewenangan menyelesaikan
perselisihan hasil pemilihan kepala daerah kepada MK. Pasal 157 ayat (3) a quo
menyatakan, “perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil Pemilihan diperiksa
dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi sampai dibentuknya badan peradilan khusus”.
Sehingga sebenarnya perselisihan hasil pemilihan di daerah diselesaikan dengan
Badan Peradilan Khusus, namun karena sejauh ini belum diadakan, maka
kewenangannya masih pada di MK hingga hari ini.

2. A. Makna dari Judicial Review atau JR adalah pengujian peraturan perundang undangan
yang lebih rendah terhadap peraturan perundang undangan yang lebih tinggi. Sementara
Constitusional Review hanya terbatas pada pengujian perundang undangan terhadap
konstitusi. Constitusional Review merupakan bagian dari Judicial Review, sehingga
muatan Judicial Review lebih luas disbanding dengan Constitusional Review.
JIHAN SAFIRA
1806139374
HUKUM ACARA MAHKAMAH KONSTITUSI KELAS B REGULER

B. Bedanya JR di MK dengan JR di MA adalah JR di MK hanya berwenang menguji UU


terhadap UUD NRI 1945, sedangkan JR di MA hanya menguji peraturan di bawah UUu
terhadap UU.

3. A. Proses permakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden di Indonesia diatur dalam pasal
7 UUD NRI 1945. Dimulai dengan adanya pendapat DPR bahwa diduga keras Presiden
dan/atau Wakil Presiden melakukan salah satu atau lebih tindakan seperti pengkhianatan
terhadap negara, korupsi, tindak pidana berat, perbuatan tercela dan tidak lagi memenuhi
syarat pasal 6 UUD NRI 1945. Kemudian DPR akan mengadakan rapat terlebih dahulu
untuk menentukan apakah DPR meminta pertimbangan kepada MK untuk memeriksa,
mengadili, dan memutus dugaan atas Presiden dan/atau Wakil Presiden. Apabila
Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden terbukti
melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau terbukti bahwa
Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau
Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat menyelenggarakan sidang paripurna untuk
meneruskan usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden kepada Majelis
Permusyawaratan Rakyat. Majelis Permusyawaratan Rakyat wajib menyelenggarakan
sidang untuk memutuskan usul Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling lambat tiga
puluh hari sejak Majelis Permusyawaratan Rakyat menerima usul tersebut. Keputusan
Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil
Presiden harus diambil dalam rapat paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat yang
dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan disetujui oleh
sekurangkurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir, setelah Presiden dan/atau Wakil
Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna Majelis
Permusyawaratan Rakyat.
B. Peran MK di sini sebagai pemeriksa dan pemutus apakah benar pendapat DPR atas
Presiden dan/atau Wakil Presiden yang melakukan tindakan tindakan di luar undang
undang. Sebenarnya, putusan akhirnya kembali lagi pada Rapat Paripurna MPR yang
nantinya harus disetujui dengan kuorum tertentu.
JIHAN SAFIRA
1806139374
HUKUM ACARA MAHKAMAH KONSTITUSI KELAS B REGULER

C. Putusan Mahkamah yang mengabulkan permohonan DPR dapat dimungkingkan bagi


Presiden dan/atau Wakil Presiden untuk mengajukannya dalam persidangan pidana,
perdata, dan/atau tata usaha negara sesuai dengan hukum acaranya masing masing. Hal
ini berdasarkan pada pasal 20 Putusan MK Nomor 21 tahun 2009.

4. Upaya hukum untuk pembubaran partai politik haruslah sesuai dengan prinsip due
process of law yang mana artinya harus menerapkan asas proposionalitas, keterbukaan,
dan pengadilan yang adil. Sehingga harus benar benar dibuktikan dengan jelas bahwa
ketika hendak membubarkan partai politik tertentu, benar diketahui dan terbukti partai
politik tersebut melakukan pelanggaran konstitusional. Pemutusan pembubaran partai
politik yang sesuai dengan UUD 1945 adalah hanya MK yang berwenang untuk
memutuskannya untuk menjamin due process of law tersebut. Hal ini berdasarkan dengan
pasal 24C ayat (1) UUD NRI 1945.
Contoh pembubaran partai politik yang pernah terjadi di Indonesia di antaranya adalah
partai Masyumi melalui Keppres Nomor 200/1960, partai PSI melalui Keppres 201/1960,
partai Murba melalui Keppres Nomor 21/1965.
5. A. Putusan MK No 004/SKLN-IV/2006 menyatakan bahwa Pemerintahan Daerah yaitu
Bupati dan DPRD adalah merupakan lembaga negara yang memperoleh kewenangannya
untuk menjalankan Pemerintahan Daerah dalam otonomi seluas-luasnya, dari UUD 1945,
yang diberikan oleh Pasal 18 ayat (4), yaitu wewenang sebagai kepala daerah untuk
memimpin sebagian tugas pemerintahan, dan DPRD mengesahkan Peraturan Daerah.
Pada Putusan MK No 027/SKLN-IV/2006 menyatakan “...baik subjectum litis maupun
objectum litis perkara a quo memenuhi syarat yang disebut dalam Pasal 24C ayat (1)
UUD 1945 dan Pasal 61 ayat (1) UU MK, terutama dengan Peraturan Mahkamah
Konstitusi Nomor 8 Tahun 2006 yang ada dalam Pasal 2. Dari rumusan Pasal 2 tersebut,
Ayat (1) huruf g bahwa lembaga negara yang disebutkan tidaklah bersifat limitatif atau
exhaustive sehingga masih dibuka tafsiran ke arah yang lebih luas. Kemudian, dalam
Putusan MK No 027/SKLN-VI/2008 yang menyatakan mengingat dinamika yang terjadi
karena kebutuhan untuk memecahkan persoalan bangsa yang tidak dapat diserahkan
kepada lembaga lain, maka tafsir yang sempit dan restriktif harus ditinggalkan, untuk
JIHAN SAFIRA
1806139374
HUKUM ACARA MAHKAMAH KONSTITUSI KELAS B REGULER

menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan zaman. Namun, penafsiran


yang paling berbeda mengenai lembaga negara adalah dalam Putusan MK No
027/SKLN-VI/2008 juga memberikan tafsir terkait sengketa kewenangan lembaga
negara. Menurut putusan ini, untuk memahami lembaga negara, tidak dapat ditafsirkan
secara sempit sebagaimana pendapat Montesquieu dengan doktrin trias politica-nya yang
mengatakan bahwa lembaga negara adalah institusi kenegaraan yang menjalankan salah
satu cabang kekuasaan negara, yang mencakup lembaga eksekutif, legislatif, dan
yudikatif. Sehingga hanya terbatas pada lembaga negara yang masuk ke dalam trias
politica tersebut dan yang hanya disebutkan dalam UUD NRI 1945, maka lembaga
daerah tidak termasuk dalam kewenangan SKLN.
Sehingga kesimpulannya bahwa makna lembaga negara yang menjadi subjek
dalam SKLN masih diperdebatkan dan bahkan tiap hakim konstitusi memiliki
pandangannya sendiri sendiri mengenai lembaga negara mana yang dapat mengajukan
sengketanya ke MK.

B. Dalam SKLN, berdasarkan UU MK, dimungkinkan untuk adanya putusan sela, yang
mana putusan sela ini diberikan apabila pihak Termohon meminta untuk dihentikan
sementara pelaksanaan kewenangan yang disengketakan