Anda di halaman 1dari 7

DOPING

Apa itu doping?


Doping berasal dari kata dope, yakni campuran candu dengan narkotika yang pada
awalnya digunakan untuk pacuan kuda di Inggris.

Menurut UU No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Bab I


Ketentuan Umum Pasal I ayat 22, Doping adalah penggunaan zat dan/atau metode
terlarang untuk meningkatkan prestasi olahraga.

Menurut International Congress of Sport Sciences, Olympiade Tokyo 1964 :


Doping adalah pemberian/penggunaan oleh peserta lomba berupa bahan yang
asing bagi organisme melalui jalan apa saja atau bahan fisiologis dalam jumlah
yang abnormal atau diberikan melalui jalan yang abnormal, dengan tujuan
meningkatkan
Doping : Stimulan substansi yang beraksi di otak, meningkatkan kesiapan,
kemampuan kompetitif, dan daya serang dan mengurangi kelelahan, membuat
atlet merasa lebih kuat, lebih enerjik dan tegas. Efek sampingnya termasuk
meningkatkan tekanan darah dan suhu tubuh, meningkatkan dan membuat tidak
beraturan detak jantung, serangan dan kegelisahan, kehilangan nafsu makan dan
kecanduan. Ini dapat menyebabkan jantung berhenti, stroke dan kematian.
Stimulan ini dapat ditemukan dalam resep dan obat-obat yang dijual di konter
termasuk dalam herbal dan makanan tambahan. Contoh satu obat perangsang
yang dilarang itu termasuk amphetamines, bromantan, cocaine, ephedrines and
salbutamol. STEROID Anabolic steroids merangsang sel otot dan tulang untuk
membuat protein baru. Mereka meningkatkan kekuatan otot dan mendorong
pertumbuhan otot baru, meniru pengaruh dari hormon seks laki-laki testosteron.
Atlet bisa berlatih lebih keras dalam periode yang lebih lama dan pulih lebih cepat
dari cedera. Obat-obat itu sah digunakan dalam kondisi tertentu seperti
osteoporosis, beberapa bentuk anemia dan untuk mendukung pemulihan setelah
operasi besar dan sakit yang serius. Efek samping yang diakibatkan termasuk
membangun ciri-ciri pria pada seorang wanita, kehilangan kesuburan, impoten,
jerawat dan kerusakan ginjal. Mereka juga meningkatkan tekanan darah,
memperkeras arteri dan meningkatkan resiko sakit jantung, sakit lever, dan kanker
tertentu. Contoh dari anabolic steroids adalah androstenedione, nandrolone dan
stanozolol.

Dalam olahraga , *doping* merujuk pada penggunaan obat peningkat


performa oleh para atlet agar dapat meningkatkan performa atlet tersebut.
Akibatnya, doping dilarang oleh banyak organisasi olahraga. Menurut IOC
(International Olympic Committee ) pada tahun 1990 , doping adalah upaya
meningkatkan prestasi dengan menggunakan zat atau metode yang dilarang dalam
olahraga dan tidak terkait dengan indikasi medis. Alasannya terutama mengacu
pada ancaman kesehatan atas obat peningkat performa, kesamaan kesempatan
bagi semua atlet dan efek olahraga "bersih" (bebas doping) yang patut dicontoh
dalam kehidupan umum. Selain obat , bentuk lain dari doping ialah doping darah ,
baik melalui transfusi darah maupun penggunaan hormon eritropoietin atau steroid
anabolik tetrahidrogestrinon . Olahragawan yang terkenal atas penggunaan doping
adalah medalis emas dari Kanada Ben Johnson , olahragawan Rusia Anton Galkin,
pelontar peluru Irina Korzhanenko , petinju asal Kenya David Munyasia , pemain
sepak bola Diego Armando Maradona dan Claudio dari Argentina , Rodrigo Lara ,
Paulo César Chávez , Aarón Galindo dan Salvador Carmona dari Meksiko ,
Clarence Acuña dan Fabián Guevara dari Chili , Josep Guardiola dari Spanyol ,
petenis Petr Korda , olahragawan Maroko Yunus al-'Ainawi , Bohdan Ulihrach dari
Republik Ceko , Guillermo Coria , Mariano Puerta , Juan Ignacio Chela , Guillermo
Cañas , MartÃn RodrÃguez dan Mariano Hood dari Argentina, Viktor Chisleann dari
Moldavia serta pembalap sepeda Roberto Heras dan Tyler Hamilton .

Kegunaan doping
Efek Doping Meskipun atlet sudah tahu akan bahaya doping tetapi mereka
tetap saja melakukannya tanpa berpikir panjang. Atlet yang melakukan doping
biasanya karena stres, ia tidak mencapai hasil latihan yang maksimal. Selain itu
juga dapat dikarenakan tergiur akan hadiah pada turnamen/pertandingan.
Penyesalan memang selalu datang diakhir, setelah atlet pensiun maka ia akan
berpikir dan merasa bahwa doping berpengaruh pada tubuhnya.

*ZAT-ZAT DOPING DIKELOMPOKKAN KE DALAM 7 GOLONGAN* :

1. Stimulan (amphetamine, caffein, cocain, aphedrine, dll)


2. Narkotik-Analgesik (Methadone, Morphine, Oxycodone, dll)
3. Anabolik-Androgenuk (Testosterone, Balasterone, dll)
4. Anabolik Non Steroid (Clenbuterol, Zeranol, dll)
5. Penghalang Beta (Acebutotlol, Atrenolol, Sotalol, dll)
6. Diuretika (Acetazolamid, Amiloride, Chlormerodrin, dll)
7. Peptida hormon (growth hormon, Adrenocortico hormon, dll)
Pengaruh atau efek doping tergantung pada jenis obatnya dan biasanya akan
dirasakan setelah beberapa tahun atau setelah atlet berusia tua. Berikut jenis obat
doping dan pengaruhnya bagi tubuh :
Analgesic. Sebagai penghilang rasa sakit ketika haid menjelang. Tetapi,
dampaknya jika salah memilih obat bisa mengakibatkan sulit bernapas, mual,
kehilangan konsentrasi, dan mungkin menimbulkan adiksi atau kecanduan.
Diuretika contoh : acetazolamide, bumetanide, chlorthalidone. Pada
beberapa jenis olah raga yang memiliki kriteria berat badan, misalnya angkat
besi,diuretika untuk mengeluarkan cairan tubuh. Banyak dan cepatnya pengeluaran
air seni ini akan cepat menurunkan berat badan sebab 60 persen dari berat badan
manusia terdiri atas air. Sayangnya, bersama itu akan terbawa keluar pula
beberapa jenis garam mineral. Akibatnya, timbul kejang otot, mual, sakit kepala,
dan pingsan. Pemakaian yang terlalu sering mungkin akan menyebabkan gangguan
ginjal dan jantung. selain dehidrasi, sakit kepala, mual, dan detak jantung yang
tidak normal, dehidrasi yang parah dapat menyebabkan ginjal dan jantung berhenti
bekerja
Eritropoetin dan menyuntikkan darah ,Kedua cara ini akan meningkatkan
jumlah sel darah merah di dalam tubuh. Fungsi sel darah merah melalui hemoglobin
adalah mengangkut oksigen. Dengan jumlah oksigen yang cukup bagi seluruh
tubuh, proses pembakaran akan berjalan lancar sehingga energi yang dihasilkan
akan bertambah. Cara ini biasanya untuk atlet yang memerlukan daya tahan lama.
Misalnya, untuk lari jauh, maraton, thriatlon, sky, berenang 800 m, dan balap
sepeda jarak jauh. Namun, efek bahaya suntikan eritropoetin darah menjadi lebih
pekat sehingga mudah menggumpal dan memungkinkan terjadinya
stroke(pecahnya pembuluh darah di otak).
Doping dengan suntikan darah akan menimbulkan reaksi alergi,
meningkatnya sirkulasi darah di atas normal, dan mungkin gangguan ginjal.
Golongan obat peptide hormonis dan analognya dapat berakibat atlet menderita
sakit kepala, perasaan selalu letih, depresi, pembesaran buah dada pada atlet pria,
dan mudah tersinggung. Selain sejumlah kerugian tadi, dampak kejiwaan yang
diderita atlet pengguna doping yang ketahuan adalah siksaan tersendiri. Banyak
atlet pemakai doping yang menderita depresi.
Obat-obatan anabolik, termasuk hormon androgenik steorid. Jenis hormon ini
punya efek berbahaya, baik bagi atlet pria maupun atlet perempuan karena
mengganggu keseimbangan hormon tubuh serta meningkatkan risiko terkena
penyakit hati dan jantung. Khusus bagi atlet perempuan, pemakaian hormon ini
akan menyebabkan tumbuhnya sifat pria, seperti berkumis, suara berat, dan serak.
Lalu, timbul gangguan menstruasi, perubahan pola distribusi pertumbuhan rambut,
mengecilkan ukuran buah dada, dan meningkatkan agresivitas. Bagi atlet remaja,
itu akan mengakibatkan timbulnya jerawat dan pertumbuhannya akan berhenti.
Efek samping lainnya yaitu meningkatkan tekanan darah dan suhu tubuh,
meningkatkan dan membuat tidak beraturan detak jantung, serangan dan
kegelisahan, kehilangan nafsu makan dan kecanduan. Ini dapat menyebabkan
jantung berhenti, stroke dan kematian. Stimulan ini dapat ditemukan dalam resep
dan obat-obat yang dijual di konter termasuk dalam herbal dan makanan
tambahan.
Anabolic steroids Contohnya androstenedione, nandrolone dan stanozolol.
Untuk merangsang sel otot dan tulang untuk membuat protein baru. Mereka
meningkatkan kekuatan otot dan mendorong pertumbuhan otot baru, meniru
pengaruh dari hormon seks laki-laki testosteron. Mereka juga meningkatkan
tekanan darah, memperkeras arteri dan meningkatkan resiko sakit jantung, sakit
lever, dan kanker tertentu.
HGH Human Growth Hormone (hormon pertumbuhan manusia),
somatotrophin. menyamai hormon pertumbuhan dalam darah yang dikendalikan
oleh mekanisme kompleks yang merangsang pertumbuhan, membantu sintesa
protein dan menghancurkan lemak. HGH disalahgunakan oleh saingan untuk
merangsang otot dan pertumbuhan jaringan. Efek yang merugikan termasuk
kelebihan kadar glukosa, akumulasi cairan, sakit jantung, masalah sendi dan
jaringan pengikat, kadar lemak tinggi, lemahnya otot, aktivitas thyroid yang rendah
dan cacat.
ERYTHROPOIETIN (EPO) EPO dipeoduksi oleh ginjal untuk merangsang
produksi sel darah merah untuk mengangkut oksigen. Kegunaan utama dari EPO
sintetis adalah untuk mengobati anemia. Ini disalahgunakan oleh atlet jarak jauh,
pemain ski cross-country dan pembalap sepeda untuk meningkatkan daya tahan.
Efek yang merugikan termasuk tekanan darah tinggi, menyumbat pembuluh arteri
dan vena, pembengkakan otak, jantung berdebar, sakit dan luka pada otot dan
mual.
BETA-BLOCKERS, untuk membendung penyampaikan rangsangan ke jantung,
paru-paru dan aliran darah, memperlambat rata-rata detak jantung. Itu dilarang
dalam olahraga seperti panahan dan menyelam karena menghindarkan getaran.
Efek merugikan yang terjadi antara lain mimpi buruk, susah tidur, kelelahan,
depresi, gula darah rendah dan gagal jantung.
Doping darah. Mengatur sel darah merah atau hasil peroduksi yang terkait
untuk menambah jumlah sel darah merah buatan yang ada di dalam tubuh, yang
meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen dalam tubuh. Darah dapat diambil
dari atletnya sendiri dan disimpan selama dua atau tiga bulan menjelang kompetisi.
Efek merugikan termasuk gagal ginjal dan lever dan kerusakan otak.

Efek negatif doping


• Berbahaya bagi kesehatan

Contoh : susah tidur, kelelahan, depresi, gula darah rendah dan gagal
jantung, gagal ginjal dan lever dan kerusakan otak, tekanan darah tinggi,
menyumbat pembuluh arteri dan vena, pembengkakan otak, jantung berdebar,
sakit dan luka pada otot,mual, meningkatkan tekanan darah, memperkeras arteri
dan meningkatkan resiko sakit jantung, sakit lever, dan kanker tertentu.

• Alasan etis : penggunaan doping melanggar norma fairplay dan sportivitas


yang merupakan jiwa olahraga

• Alasan medis : membahayakan keselamatan pemakainya.

Atlet akan mengalami :


o Kebiasaan (Habituation)
o Kecanduan (Addiction)
o Ketergantungan obat (Drug Abuse)
• Senyawa anfetamin: anfetamin, metamfetamin (“speed”) MTA, dan
ectasy. Pada waktu perang dunia ke-II, senyawa ini banyak digunakan
untuk efek stimulansnya, antara lain meningkatkan daya tahan prajurit
dan penerbang, menghilangkan rasa letih, mengantuk, maupun lapar, dan
meningkatkan kewaspadaan dan aktivitas. Selain itu zat ini juga
meningkatkan tekanan darah dan rate jantung, yang dapat menyebabkan
stroke maupun serangan jantung. Seusai perang zat ini, yang juga disebut
“pep-pills”, sering sekali disalahgunakan oleh mahasiswa dan
pengemudi truk untuk memberikan perasaan nyaman (euphoria), serta
menghilangkan rasa kantuk dan lelah.Dikalangan atletik zat ini digunakan
sebagai “doping” untuk meningkatkan prestasi yang melampai
batas kemampuan normal. Keadaan ini tidak wajar dan berbahaya, karena
rasa letih merupakan peringatan dari tubuh bahwa seseorang tersebut
telah sampai batas kemampuannya. Jika dipaksakan bisa menimbulkan
“exhaustion” yang membahayakan kesehatan. Overdose dapat
berbahaya, dapat menimbulkan kekacauan pikiran, delirium, halusinasi,
perilaku ganas, dan juga aritmia jantung yang dapat menimbulkan
masalah serius. Untuk mengatasi gejala ini digunakan sedative misalnya
diazepam.

Jadi, keuntungan yang didapat tidaklah seimbang dengan kerugian yang


akan diderita bertahun-tahun kemudian. Belum lagi kalau ketahuan, si atlet
dan pembinanya harus menanggung rasa malu. Keberadaan doping di
kalangan atlet agak sulit dibendung selama si atlet tidak mengakui
keberadaan dan kemampuan fisiknya sendiri. Sudah banyak peraturan dan
batasan-batasan yang sengaja dibuat untuk selalu menjaga kejujuran,
bahkan sudah banyak sanksi tegas, mulai dari yang ringan sampai yang
berat, diberlakukan pada mereka yang terbukti melanggar. Hingga kini, jenis
obat yang masuk doping adalah golongan stimulant (perangsang), golongan
narkotik analgesic, golongan anabolik steroid, golongan betablocker,
golongan diuretika, dan golongan peptide hormons dan analognya. Selain itu,
ada cara tertentu yang termasuk doping yaitu doping darah, manipulasi
secara fisik, dan farmakologi. Adapun, bahan obat yang dibatasi adalah
alkohol, mariyuana, anestesi lokal, dan kortikosteroid. Salah satu jenis doping
yang paling sering digunakan para atlet adalah obat-obatan anabolik,
termasuk hormon androgenik steorid. Jenis hormon ini punya efek berbahaya,
baik bagi atlet pria maupun atlet perempuan karena mengganggu
keseimbangan hormon tubuh serta meningkatkan risiko terkena penyakit hati
dan jantung.
TUGAS BIOLOGI
“DOPING”
Ogi Rizkia Putra
XI IPA 1
SMAN 2 PADANG
T.P. 2010/2011