Anda di halaman 1dari 16

TUGAS 1

PENGEMBANGAN KURIKULUM

Dosen Pengampu :

Hendra Budiono, S.Pd., M.Pd

Ditulis Oleh :

DONALISA (A1D118080)
R-003/Semester 4

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI

2020

1
A. RESUME 1

ASPEK KTSP
(KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN)

1. Pengertian
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan
oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang
akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.
Secara yuridis (hukum), KTSP diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan
KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi
(SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah
sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
masing-masing Nomor 22 Tahun 2006, dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan
Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP). KTSP merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan
otonomi kepada sekolah dan satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum
sesuai dengan potensi, tuntunan, dan kebutuhan masing-masing. Dalam KTSP,
pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta Komite Sekolah
dan Dewan Pendidikan. Pengembangan yang dilakukan sekolah ini disebut dengan
silabus.
Alasan kenapa kemudian pemerintah (dalam hal ini BSNP) menyuruh sekolah sendiri
yang menyusun kurikulum:
a. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi
dirinya ssehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang
tersedia untuk memajukan lembaganya.
b. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan
yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai
dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
c. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi
kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik
bagi sekolahnya.
2
d. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan
kurikulum menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat, serta lebih efisien
dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat sekitar.
e. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing
kepada pemerintah, orang tua peserta didik dan masyarakat pada umumnya,
sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan
mencapai sasaran KTSP.
f. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain
untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan
dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.
g. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang
berubah dengan cepat, serta mengakomodasikannya dalam KTSP.

2. Prinsip-Prinsip Penyusunan KTSP


a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik
dan lingkungannya.
b. Beragam dan terpadu
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
e. Menyeluruh dan berkesinambungan
f. Belajar sepanjang hayat
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

3. Acuan Operasional Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


KTSP disusun dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1) Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia
2) Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat
perkembangan dan kemampuan peserta didik
3) Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan
4) Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
5) Tuntutan dunia kerja
6) Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
7) Agama
8) Dinamika perkembangan global
3
9) Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
10) Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
11) Kesetaraan Jender
12) Karakteristik satuan pendidikan

4. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan


Tujuan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah meningkatkan kinerja
pendidikan dan mengurangi beban pusat, karena dikhawatirkan jika pemerintah pusat
terus-terusan dibebani tanggung jawab pengelolaan pendidikan, maka mutu
pendidikan akan terus merosot. Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar
dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

5. Orientasi KTSP
Menurut Majid (2004), orientasi KTSP dapat dilihat dari beberapa aspek, di antaranya
yaitu:
a. Aspek tujuan; lebih menitikberatkan pada pencapaian target kompetensi,
berupa pengetahuan dengan memperhatikan keragaman potensi rohani agar
dapat memaksimalkan kompetensi religiusnya.
b. Aspek isi; menekankan pada hal-hal yang bersifat tematik dan menggali
sumber-sumber belajar yang bersifat kenyataan di lingkungan siswa. Materi
disusun secara sistematis, mudah dipahami, dan terhindar dari pengulangan
materi atau tumpang tindih.
c. Aspek metode; mentransmisikan nilai-nilai ke dalam bentuk kompetensi
secara utuh. Kurikulum bertujuan membekali peserta didik memiliki
kesadaran baik secara normatif maupun historis empiris.
4
d. Aspek guru; tenaga pendidik lebih berperan sebagai fasilitator (guru tidak
dominan) dan memanfaatkan banyak sumber belajar serta mengadakan
kerjasama yang terpadu dengan lingkungan sekitarnya.
e. Aspek siswa; peserta didik lebih ditempatkan sebagai subjek, berperan aktif
menggali potensi rohaninya sendiri untuk lebih menyadari fungsi dan
kedudukannya.
f. Aspek penilaian; kegiatan pembelajaran dinilai secara komprehensif, tidak
hanya pada satu aspek saja dari suatu materi tetapi juga dengan materi-materi
yang berhubungan dengan kegiatan religiusnya.

6. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang
tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut.
(1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia
(2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
(3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
(4) Kelompok mata pelajaran estetika
(5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan
Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan
pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7. Muatan KTSP
meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban
belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal
dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum.

7. Model Penilaian KTSP


a. Tes Tertulis
Tes tertulis merupakan tes dalam bentuk bahan tulisan (baik soal maupun
jawabannya). Contoh tes tertuli misalnya, pilihan ganda, benar-salah,
menjodohkan, isian singkat, jawaban singkat atau isian singkat, uraian
obyektif (esai berstruktur), uraian bebas (esai bebas), dan pertanyaan lisan.
b. Penilaian Kinerja (Performance Asessment)
Performance Asessment merupakan penilaian dengan berbagai macam tugas
dan situasi di mana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman

5
dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam
berbagai macam konteks.
c. Penilaian Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan atas berkas pilihan yang dapat memberikan
informasi bagi suatu penilaian. Tujuan penilian portofolio adalah menghargai
perkembangan yang dialami siswa, mendokumentasikan proses pembelajaran
yang berlangsung, memberi perhatian pada prestasi kerja siswa yang terbaik.
Contoh alat penilaian portofolio: puisi, karangan, gambar/tulisan, peta/denah,
makalah, laporan observasi, sinopsis, naskah pidato, naskah drama, dan
sebagainya.
d. Penilaian Proyek
Yang dimaksud proyek adalah tugas yang harus diselesaikan dalam periode/
waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari
pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Hasil
belajar dapat dinilai ketika siswa sedang melakukan proyek, misalnya pada
saat merencanakan dan mengorganisasikan investigasi, bekerja dalam tim,
arahan diri.
e. Penilaian Hasil Kerja (Product Asessment)
Penilaian hasil kerja siswa merupakan penilaian terhadap keterampilan siswa
dalam membuat suatu produk/benda tertentu dan kualitas produk tersebut.
Hasil kerja dapat berupa produk kerja siswa yang bisa saja terbuat dari kain,
kertas, metal, kayu, plastik, keramik, dan hasil karya seni seperti lukisan,
gambar, dan patung. Hasil kerja yang berupa aransemen musik, koreografi,
karya sastra tidak termasuk hasil kerja yang dimaksud di sini.
f. Penilaian sikap
Penilaian sikap merupakan penilaian terhadap perilaku dan keyakinan siswa
terhadap suatu objek, fenomena/masalah. Secara umum, penilaian sikap dalam
berbagai mata pelajaran dapat dilakukan berkaitan dengan berbagai objek
sikap, diantaranya sikap terhadap mata pelajaran, sikap guru terhadap mata
pelajaran, sikap terhadap proses pembelajaran, dan lain-lain. Penilaian ini
dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain observasi perilaku.
g. Penilaian Diri (Self Assessment)
Penilaian diri di tingkat kelas (PDK) atau Classroom Self Assessment (CSA)
adalah penilaian yang dilakukan sendiri oleh guru atau siswa yang
6
bersangkutan untuk kepentingan pengelolaan kegiatan belajar mengajar
(KBM) di tingkat kelas.

8. Kelebihan dan Kekurangan KTSP


KTSP memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengatur dan mengurus
sendiri urusan rumah tangganya. Kekuatan KTSP adalah sebagai sarana untuk
mengembangkan kreativitas sekolah dan sarana mengembangkan keunggulan lokal.
KTSP memiliki potensi integrasi bangsa yang sangat besar, sebab hanya melalui 
KTSP, tema-tema menyangkut keanekaragaman sosial-budaya dan toleransi dimuat
ke dalam materi, seperti pemilihan contoh-contoh, studi kasus, dan bahasa. Akan
tetapi, selain beberapa keunggulan di atas, dalam pelaksanaanya, KTSP menggunakan
Ujian Nasional (UN) sebagai satu-satunya alat untuk mengukur kompetensi lulusan.
Padahal mekanisme ini sendiri masih belum sesuai dengan aturan. Sebagaimana
dinyatakan dalam ketentuan hanya menggunakan UN sebagai patokan dalam
menentukan kelulusan siswa, padahal kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan
ditetapkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan sesuai dengan kriteria yang
dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri sebagaimana
tercantum dalam PP 19/2005 pasal 72 ayat (1) yakni “Peserta didik dinyatakan lulus
dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah menyelesaikan
seluruh program pembelajaran; memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir
untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia,
kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan
kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan; lulus ujian
sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
dan lulus Ujian Nasional”. Di sini tampak belum konsistennya pemerintah, pada satu
sisi menyerahkan tanggung jawab kepada pihak sekolah, tetapi pada sisi lain
pemerintah ikut menentukan kelulusan.
9. Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata


pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi
pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk
penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar (Kunandar, 2011: 244).
Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut,

7
seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran dan
pengembangan sistem penilaian. Silabus merupakan sumber pokok dalam penyusunan
rencana pembelajaran, kaib rencana pembelajaran untuk satu Standar Kompetensi
maupun satu Kompetensi Dasar.

Langkah-langkah pengembangan silabus (Trianto, 2010: 99):

a. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Mengkaji SK dan KD mata


pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi.
b. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran. Mengidentifikasi materi
pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian KD.
c. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk
memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik dalam
rangka pencapaian KD.
d. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi. Indikator merupakan penanda
pencapaian KD. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat
penilaian.
e. Menentuan Jenis Penilaian. Penilaian pencapaian kompetensi dasar siswa
dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes
dalam bentuk tertulis.
f. Menentukan Alokasi Waktu. Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan
pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu. Alokasi
waktu merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan
oleh siswa yang beragam.

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi


dasar dengan mempertimbangkan:

a. potensi peserta didik;

b. relevansi dengan karakteristik daerah,

c. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta


didik;

d. kebermanfaatan bagi peserta didik;

e. struktur keilmuan;

8
f. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;

g. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan

h. alokasi waktu.

Isi Silabus

a. Identitas mata pelajaran


b. Identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan kelas;
c. kompetensi inti,
d. kompetensi dasar
e. tema (khusus SD/MI/SDLB/Paket A/dll);
f. materi pokok, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan
ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian
kompetensi;
g. pembelajaran,yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik untuk
mencapai kompetensi yang diharapkan
h. penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk
menentukan pencapaian hasil belajar
i. alokasi waktu
j. sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau
sumber belajar lain yang relevan

Prinsip Pengembangan Silabus

a. Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar
dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
b. Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam
silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional,
dan spritual peserta didik.
c. Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam
mencapai kompetensi.

9
d. Konsistensi
Adanya hubungan yang konsisten antara kompetensi dasar, indikator, materi
pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
e. Kecukupan
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem
penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
f. Aktual & Kontekstual
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem
penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam
kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
g. Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengako-modasi keragaman peserta didik,
pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan
masyarakat.
h. Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (Kognitif, afektif,
Psikomotor) atu sesuai degan esensi mata pelajaran masing-masing.

B. RESUME 2

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN KURIKULUM

Pegembangan kurikulum meliputi empat langkah, yaitu merumuskan tujuan pembelajaran


(instructional objective), menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar (selection of
learning experiences), mengorganisasi pengalaman-pegalaman belajar (organization of
learning experiences), dan mengevaluasi (evaluating).

1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran (instructional objective)


Terdapat tiga tahap dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tahap yang pertama
yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan adalah memahami tiga sumber,
yaitu siswa (source of student), masyarakat (source of society), dan konten (source of
content). Tahap kedua adalah merumuskan tentative general objective atau standar
kompetensi (SK) dengan memperhatikan landasan sosiologi (sociology), kemudian
di-screen melalui dua landasan lain dalam pengembangan kurikulum yaitu landasan

10
filsofi pendidikan (philosophy of learning) dan psikologi belajar (psychology of
learning), dan tahap terakhir adalah merumuskan precise education atau kompetensi
dasar (KD).
2. Merumuskan dan Menyeleksi Pengalaman-Pengalaman Belajar (selection of learning
experiences)
Dalam merumuskan dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar dalam
pengembangan kurikulum harus memahami definisi pengalaman belajar dan landasan
psikologi belajar (psychology of learning). Pengalaman belajar merupakan bentuk
interaksi yang dialami atau dilakukan oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk
memperoleh pengetahuan dan ketrampilan. Pengalaman belajar yang harus dialami
siswa sebagai learning activity menggambarkan interaksi siswa dengan objek belajar.
Belajar berlangsung melalui perilaku aktif siswa; apa yang ia kerjakan adalah apa
yang ia pelajari, bukan apa yang dilakukan oleh guru. Dalam merancang dan
menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar juga memperhatikan psikologi
belajar.Ada lima prinsip umum dalam pemilihan pengalaman belajar, yaitu:
a. pertama, pengalaman belajar yang diberikan ditentukan oleh tujuan yang akan
dicapai,
b. kedua, pengalaman belajar harus cukup sehingga siswa memperoleh kepuasan dari
pengadaan berbagai macam perilaku yang diimplakasikan oleh sasaran hasil,
c. ketiga, reaksi yang diinginkan dalam pengalaman belajar memungkinkan bagi
siswa untuk mengalaminya (terlibat),
d. keempat, pengalaman belajar yang berbeda dapat digunakan untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang sama, dan
e. kelima, pengalaman belajar yang sama akan memberikan berbagai macam
keluaran (outcomes).
3. Mengorganisasi Pengalaman Pengalaman Belajar (organization of learning
experiences)
Pengorganisasi atau disain kurikulum diperlukan untuk memudahkan anak didik
untuk belajar. Dalam pengorganisasian kurikulum tidak lepas dari beberapa hal
penting yang mendukung, yakni: tentang teori, konsep, pandangan tentang
pendidikan, perkembangan anak didik, dan kebutuhan masyarakat. Pengorganisasian
kurikulum bertalian erat dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Oleh karena itu
kurikulum menentukan apa yang akan dipelajari, kapan waktu yang tepat untuk

11
mempelajari, keseimbangan bahan pelajaran, dan keseimbangan antara aspek-aspek
pendidikan yang akan disampaikan.
a. Jenis Pengorganisasian Kurikulum
Pengorganisasian kurikulum terdiri atas beberapa jenis, yakni:
1. Kurikulum berdasarkan mata pelajaran (Subject curriculum) yang mencakup
mata pelajaran terpisah-pisah (separate subject curriculum), dan mata
pelajaran gabungan (correlated curriculum).
2. Kurikulum terpadu (integrated curriculum) yang berdasarkan fungsi sosial,
masalah, minat, dan kebutuhan, berdasarkan pangalaman anak didik,
3. Kurikulum inti (core curriculum).
Tujuan dari kurikulum ini untuk mempermudah anak didik mengenal hasil
kebudayaan dan pengetahuan umat manusia tanpa perlu mencari dan
menemukan kembali dari apa yang diperoleh generasi sebelumnya.
b. Kriteria Pengorganisasian Pengalaman Belajar yang Efektif
Terdapat tiga kriteria utama dalam mengorganisasi pengalaman belajar, yaitu
kontinuitas (continuity), berurutan (sequence), dan terpadu (integrity). Kriteria
kontinuitas mengacu pengulangan elemen kurikulum yang penting pada
kelas/level yang berbeda. Artinya pada waktu berikutnya pada kelas/level yang
lebih tinggi pengetahuan dan skil yang sama akan diajarkan dan dilatihkan
kembali dengan dikembangkan sesuai dengan psikologi belajar dan psikologi
perkembangan anak. Kriteria berurutan (sequence) adalah berhubungan dengan
kontinuitas tetapi lebih ditekankan kepada bagaimana urutan pengalaman belajar
diorganisasi dengan tepat pada kelas/level yang sama. Pengetahuan yang menjadi
prasyarat akan disajikan sebelum pengetahuan lain yang memerlukan pengetahuan
prasyarat tersebut. Kriteria terpadu (integrity) artinya mencakup ruang
lingkup/scope pengetahuan dan skill yang diberikan kepada siswa, apabila
pengetahuan diperoleh dari berbagai sumber, maka akan dapat saling
menghubungkannya, saat menghadapi suatu masalah.
c. Elemen-elemen yang Diorganisasi
Elemen-elemen yang diorganisasi ada tiga yaitu konsep (concept), nilai (values),
dan ketrampilan (skill). Konsep adalah berhubungan konten pengalaman belajar
yang harus dialami siswa, nilai adalah berhubungan dengan sikap pebelajar baik
terhadap dirinya sendiri maupun sikap pebelajar kepada orang lain. Sedangkan
ketrampilan dalam hal ini adalah kemampuan menganalisis, mengumpulkan fakta
12
dan data, kemampuan mengorganisasi an menginterpretasi data, ketrampilan
mempresentasikan hasil karya, ketrampilan berfikir secara independen,
ketrampilan meganalisis argumen, ketrampilan berpartisipasi dalam kelompok
kerja, ketrampilan dalam kebiasaan erja yang baik, mampu mengiterpretasi situasi,
dan mampu memprediksi konsekuesi dari tujuan kegiatan.
d. Prinsip-prinsip Pengorganisasian
Terdapat dua prinsip dalam mengorganisasikan kurikulum sekolah atau
pengalaman belajar. Pengorgaisasian kurikulum harus bersifat kronologis
(chronological) dan aplikatif. Kronologis artinya pengalaman belajar harus
diorganisasi secara tahap demi tahap sesuai dengan pskologi belajar dan
psoikologi perkembangan siswa. Sedangkan aplikatif berarti pengalaman belajar
harus benar-benar dapat diterapkan kepada siswa.
4. Mengevaluasi (evaluating) Kurikulum
Langkah terakhir dalam pengembangan kurikulum adalah evaluasi. Evaluasi adalah
proses yang berkelanjutan di mana data yang terkumpul dan dibuat pertimbangan
untuk tujuan memperbaiki sistem. Evaluasi yang seksama adalah sangat esensial
dalam pengembangan kurikulum. Evaluasi dirasa sebagai suatu proses membuat
keputusan , sedangkan riset sebagai proses pengumpulan data sebagai dasar
pengambilan keputusan. Perencana kurikulum menggunakan berbagai tipe evaluasi
dan riset. Tipe-tipe evaluasi adalah konteks, input, proses, dan produk. Sedagkan tipe-
tipe riset adalah aksi, deskripsi, historikal, dan eksperimental. Di sisi lain perencana
kurikulum menggunakan evaluasi formatif (proses atau progres) dan evaluasi sumatif
(outcome atau produk). Evaluator kurikulum yang dipekerjakan oleh sistem sekolah
dapat berasal dari dalam maupun dari luar. Banyak evaluasi kurikulum dibebankan
pada guru-guru di mana mereka bekerja. Dalam mengevaluasi harus memenuhi empat
standar evaluasi yaitu utility, feasibility, propriety, dan accuracy. Evaluasi kurikulum
merupakan titik kulminasi perbaikan dan pengembangan kurikulum. Evaluasi
ditempatkan pada langkah terakhir, evaluasi mengkonotasikan akhir suatu siklus dan
awal dari siklus berikutnya. Perbaikan pada siklus berikutnya dibuat berdasarkan hasil
evaluasi siklus sebelumnya.

C. JAWAB SOAL

13
1. Mengapa perlu mempertimbangkan prinsip pengembangan kurikulum dalam
pengembangan KTSP?
Jawab: Menurut saya mengapa perlu mempertimbangkan prinsip pengembangan
kurikulum dalam pengembangan KTSP, karena melalui prinsip ini sudah terbaca
secara jelas tujuan atau pedoman yang akan didapat dalam penerapan kurikulum ini,
jika dalam pengembangan KTSP ini sendiri tidak mengacu pada prinsip
pengembangannya maka akan terjadi penyimpangan dari tujuan dan dasar kurikulum
ini sendiri.

2. Salah satu langkah pengembangan silabus KTSP adalah mengidentifikasi materi


pokok/pembelajaran. jelaskan maksud point A, C, dan G!
Jawab: Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian
kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

A, Potensi peserta didik


Maksudnya disini potensi peserta didik itu adalah kapasitas atau kemampuan dan
karakteristik/sifat individu yang berhubungan dengan sumber daya manusia yang
memiliki kemungkinan dikembangkan atau menunjang pengembangan potensi lain
yang terdapat dalam diri peserta didik. Untuk itu perlu memperhatikan potensi peserta
didik ini dalam mengembangkan potensi peserta didik agar penerapan KTSP mampu
menyesuaikan peserta didik sebagai objek dari sasaran kurikulum itu sendiri, agar
dalam prosesnya peserta didik mampu menerima perubahan kurikulum ini.

B, Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta


didik
Dalam pengembangan silabus KTSP ini sendiri perlu diperhatikan tingkat
perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik agar
kurikulum yang diterapkan ini mampu menyesuaikan dengan kondisi peserta didik,
misalnya dalam tingkat perkembangan fisiknya harus sesuai, jika peserta didik itu
berumur 9tahun maka dalam pengembangan silabusnya harus sesuai porsi anak yang
fisiknya masih berusia 9 tahun. Begitupun dengan tingkat intelektual, emosional,
sosial dan spritualnya, karna jika tak sesuai dengan porsi anak itu sendiri maka
penerapan kurikulum itu dalam hakikatnya akan gagal karena anak tidak mampu
menerima atau menyerapnya dengan baik.
14
C, Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan
Dalam pembuatan silabus dalam pengembangan kurikulum sangat penting halnya
memperhatikan relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan,
karena jika dalam pembuatan silabus memperhatikan relevansi atau keterkaitan
silabus itu sendiri dengan kebutuhan peserta didik dan lingkungannya maka
penerapan kurikulum tersebut akan sesuai dengan keseharian anak, dimana dapat
dilogikakan bahwa kurikulum atau dalam hal ini silabus itu sendiri dapat diterima
lansung oleh anak karena sesuai dengan kebutuhan peserta didik itu sendiri yang
mengikuti lingkungan kesehariannya. Jika tidak maka anak akan kebingungan dengan
yang diajarkan karena jauh dri kebutuhan dan lingkungan anak itu sendiri.

15
DAFTAR PUSTAKA

https://bsnp-indonesia.org/wp-content/uploads/kompetensi/Panduan_Umum_KTSP.pdf

https://www.academia.edu/35495734/LANGKAH_LANGKAH_PENGEMBANGAN_KURIKULUM_PAI_R
ESUME_MATERI_VIII

https://www.ariesrutung.com/2018/11/kurikulum-tingkat-satuan-pendidikan-ktsp.html

https://www.researchgate.net/publication/333338198_TAHAPAN_PENGEMBANGAN_KURIKULUM

http://www.pendidikanekonomi.com/2013/03/pengertian-kurikulum-tingkat-satuan.html

http://widiya.blogs.uny.ac.id/2015/09/21/8/

https://www.silabus.web.id/teori-silabus-dan-rpp/

16

Anda mungkin juga menyukai