Anda di halaman 1dari 25

1

MAKALAH

KEBUTUHAN KHUSUS PADA KELOMPOK RENTAN

DARI SEGI / ASPEK GEOGRAFIS

Disusun oleh:

1. IVI LAELY NIM 110320008

2. UMI WAHIDAH NIM 110320011

3. LAIFA NURMALA NIM 110320012

4. RINA DWI F NIM 110320013

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AL-IRSYAD AL-ISLAMIYAH


CILACAP

PROGRAM STUDI KEBIDANAN

2020
2

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa karena telah
memberikan kesempatan pada penulis untuk menyelesaikan makalah ini.
Atas rahmat dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah
tepat waktu.

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Asuhan


Kebidanan Pada Perempuan dan Anak dalam kelompok rentan. Selain itu,
penulis juga berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi
pembaca tentang kelompok rentan.

Penulis juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang


telah membantu proses penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima demi
kesempurnaan makalah ini.

Penulis
3

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................................1
KATA PENGANTAR....................................................................................................2
DAFTAR ISI..................................................................................................................3
BAB I............................................................................................................................4
PENDAHULUAN..........................................................................................................4
A. Latar Belakang..................................................................................................4
C. Tujuan...............................................................................................6
D. Manfaat..............................................................................................................6
BAB II...........................................................................................................................7
TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................................7
A. Pengertian kelompok rentan...........................................................................7
B. Macam macam kelompok rentan...................................................9
C. Kebutuhan khusus pada kelompok rentan pada permasalahan
geografis...............................................................................................10

BAB III.....................................................................................................................24
PENUTUP...................................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................25
4

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia selain sebagai mahkluk individu, juga sebagai mahkluk
sosial. Artinya bahwa selain manusia itu sebagai mahkluk yang
mempunyai kebutuhan dan/atau kepentingan akan pribadinya sendiri,
manusia juga memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan
untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain,
selanjutnya interaksi ini berbentuk kelompok.

Kelompok rentan adalah masyarakat yang memiliki keterbatasan


dalam menikmati kehidupan yang layak. Faktor aksesibilitas terhadap
sumber-sumber pemenuhan kesejahteraan sosial merupakan salah
satu hal baik sebagai penyebab juga menjadi akibat. Memetakan
populasi dan kondisi kelompok rentan secara tapat dan partisipatif
merupakan awal dalam menentukan kegiatan dalam rangka
penanganan untuk membantuk kelompok ini.

Perempuan dan anak merupakan kaum rentan akan kejahatan


yang perlu untuk dilindungi. Anak adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan
keberlangsungan sebuah bangsa dan negara. Dalam konstitusi
Indonesia, anak memiliki peran strategis yang secara tegas
dinyatakan bahwa negara menjamin hak setiap anak atas
kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta atas
pelindungan dari kekerasan dan diskriminasi ,oleh karena itu
kepentingan terbaik bagi anak patut dihayati sebagai kepentingan
terbaik bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Kerentanan adalah suatu keadaan atau kondisi lingkungan dari


suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan
ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bencana. Tercantum
5

dalam Pasal 5 ayat (3) UndangUndang No.39 Tahun 1999 yang


menyatakan bahwa setiap orang yang termasuk kelompok
masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan
perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya. Dalam
penjelasan pasal tersebut, yang dimaksud dengan kelompok rentan
adalah orang lanjut usia, anakanak, fakir miskin, wanita hamil, dan
penyandang cacat (Hoesin, n.d.). Anak-anak merupakan salah satu
kelompok rentan karena usia dan fisik mereka yang masih tergolong
lemah. Anak-anak pada usianya juga belum dapat memutuskan
tindakan yang tepat untuk dilakukan saat terjadi bencana secara
mandiri. Hal ini menyebabkan anak-anak sangat rentan terdampak
apabila terjadi bencana.

Secara geografis kepulauan Indonesia merupakan daerah yang


rawan bencana karena termasuk dalam wilayah Pacific Ring of Fire
(deretan gunung berapi Pasifik) yang bentuknya melengkung dari
utara Pulau Sumatera - Jawa – Nusa Tenggara hingga ke Sulawesi
Utara. Kepulauan Indonesia juga terletak di pertemuan dua lempeng
tektonik dunia dan dipengaruhi oleh 3 gerakan, yaitu Gerakan Sistem
Sunda di bagian barat, Gerakan Sistem pinggiran Asia Timur dan
Gerakan Sirkum Australia (http://www.walhi.or.id). Kedua faktor
tersebut menyebabkan Indonesia rentan terhadap bencana. Maka
dalam kurun waktu lima tahun, 1998 - 2004 terjadi 1.150 kali bencana.
Kesadaran tentang potensi bencana di Indonesia dan fakta ilmiah di
sekitar bencana yang menimpa negara ini menjadi alasan utama
perlunya dilakukan usaha - usaha penanganan yang tepat. Peran aktif
semua pihak yang terkait merupakan sikap terbaik yang diperlukan
untuk menanggulangi masalah ini.

Sebaran daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami di


Indonesia hampir semuanya berada pada daerah yang tingkat
populasinya sangat padat. Daerah-daerah ini sering merupakan pusat
6

aktifitas, sumber pendapatan masyarakat dan negara, serta menjadi


pusat pencurahan dana pembangunan.

Tingkat kerentanan fisik (infrastruktur) menggambarkan perkiraan


tingkat kerusakan terhadap fisik (infrastruktur) bila ada faktor
berbahaya (hazard) tertentu, Kerentanan sosial menunjukkan
perkiraan tingkat kerentanan terhadap keselamatan jiwa/kesehatan
penduduk apabila ada bahaya, Dari beberapa indikator antara lain
kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, persentase
penduduk usia tua-balita dan penduduk wanita, maka letak geografis
sangat berpengaruh terhadap kebutuhan dari kelompok rentan
terhadap resiko kesehatan yang ada.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
makalah ini adalah bagaimana kebutuhan khusus pada kelompok
rentan dari aspek / segi geografis ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari kelompok rentan
2. Untuk mengetahui kebutuhan khusus pada permasalahan
geografis tentang masalah lingkungan berpolusi
3. Untuk mengetahui kebutuhan khusus pada permasalahan
geografis tentang masalah dataran tinggi dan rendah
4. Untuk mengetahui kebutuhan khusus pada permasalahan
geografis tentang masalah radiasi
5. Untuk mengetahui kebutuhan khusus pada permasalahan
geografis tentang tenaga kesehatan

D. Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan
tentang kelompok rentang serta bagaimana kebutuhan khusus pada
kelompok rentan dari aspek/segi geografis.
7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian kelompok rentan
Kelompok rentan menurut Departemen Hukum dan Hak Asasi
Manusia adalah semua orang yang menghadapi hambatan atau
keterbatasan dalam menikmati standar kehidupan yang layak.
Kelompok rentan berhak mendapatkan perlakuan khusus untuk dapat
memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Olivier Serrat kerentanan merupakan perasaan tidak


aman di kehidupan individu, keluarga dan komunitas ketika
menghadapi perubahan diluar lingkungannya. Kerentanan dapat
dikatakan sebagai kondisi yang ditentukan oleh faktor fisik, sosial
ekonomi dan lingkungan atau suatu proses yang meningkatkan
kerentanan masyarakat terhadap dampak bahaya.

Kerentanan biasa dirasakan oleh individu atau kelompok yang


tinggal di wilayah tertentu yang dapat membahayakan jiwa dan aset
yang dimilikinya. Kerentanan dapat digambarkan sebagai situasi
perubahan yang membingkai kehidupan manusia baik individu,
keluarga maupun masyarakat (Humaedi, 2018)

Kelompok rentan adalah masyarakat yang memiliki keterbatasan


dalam menikmati kehidupan yang layak. Faktor aksesibilitas terhadap
sumber-sumber pemenuhan kesejahteraan sosial merupakan salah
satu hal baik sebagai penyebab juga menjadi akibat. Memetakan
populasi dan kondisi kelompok rentan secara tapat dan partisipatif
8

merupakan awal dalam menentukan kegiatan dalam rangka


penanganan untuk membantuk kelompok ini.

Kelompok rentan merupakan bagian dari keberagaman. Istilah


kelompok rentan memiliki arti yang sangat beragam. Kelompok rentan
terdiri dari dua kata yaitu kelompok dan rentan. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), kata rentan artinya mudah terkena penyakit
atau peka; mudah merasa: ketimpangan dan dominasi produksi
swasta telah membuka peluang situasi pasar menjadi -- terhadap
perubahan. Namun, ada beberapa ragam pengertian kelompok rentan
yang harus ketahui yaitu:

1. Menurut UU Republik Indonesia


Kelompok rentan adalah orang lanjut usia, anak-anak, fakir miskin,
perempuan hamil, dan orang dengan Disabilitas.
2. Yasonna Laoly, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Kelompok rentan adalah perempuan, anak, orang dengan
Disabilitas, dan masyarakat hukum adat.
3. Puji Pujiono, Sekretariat Jaringan antar Organisasi Masyarakat
Sipil
Kelompok rentan adalah orang dengan Disabilitas, kelompok
minor, kelompok lansia, masyarakat suku terasing, dan masih
banyak lagi. Menurut Puji, kelompok rentan merupakan bagian
dari masyarakat yang paling terdampak terjadinya krisis.
4. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)

Kelompok rentan di Indonesia yang menjadi prioritas adalah


kelompok orientasi seksual dan identitas gender, minoritas ras,
minoritas etnis, minoritas orang dengan Disabilitas, serta minoritas
agama, dan keyakinan.
9

Setelah dijelaskan dengan berbagai pengertian kelompok rentan,


pada dasarnya yang disebut dengan kelompok rentan jauh lebih
kompleks dari pada yang didefinisikan dengan undang-undang.

Berdasarkan laporan tahunan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia


(KOMNAS HAM) 2016. Rendahnya kepedulian terhadap kelompok
rentan merupakan pekerjaan rumah yang harus ditingkatkan oleh
seluruh daerah, agar pembangunan yang inklusif yaitu pembangunan
yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat yang luas.

B. Macam-macam Kelompok Rentan

Kelompok rentan merupakan lapisan masyarakat yang paling


mendesak yang membutuhkan perhatian lebih untuk memperbaiki
kondisi kehidupannya. Kelompok rentan tersebut adalah kelompok
masyarakat yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri yang
dapat mengakibatkan permasalahan karena ketidakmampuannya
tersebut (Humaedi, 2018).Pada dasarnya kondisi rentan dapat
disebabkan karena kurangnya aset (apa yang dimiliki), akses
(geografis), dan sistemik (sistem sumber yang dikuasi oleh golongan
tertentu). Kelompok rentan tersebut antara lain : orang lanjut usia,
anak-anak, fakir miskin, wanita hamil, dan penyandang cacat.
Walaupun tidak secara implisit undang-undang ini menegaskan
bahwa wanita sebagai salah satu kelompok rentan, tetapi secara
eksplisit dapat disimpulkan bahwa wanita sebagai kelompok
rentan.Memperkuat kesimpulan diatas, dalam Human Rights
Reference menyebutkan bahwa yang tergolong dalam kelompok
rentan adalah Refugees (Pengungsi), Internally Displaced
Person/IDP’s (Pengungsi Internal), National Minorities (Minoritas
Nasional), Migrant Workers (Pekerja Migran), Indigenious Peoples
(Penduduk Asli), Children (Anakanak), dan Women (Wanita). Menurut
Olivier Serrat terdapat tiga jenis kerentanan yaitu sebagai berikut:
10

1. Kejutan/kaget/guncangan (Shocks) yang dapat meliputi konflik,


penyakit, banjir, badai, kekeringan, hama pada tumbuhan
2. Perubahan musiman (Seasonalities) meliputi penetapan harga
dan kesempatan bekerja
3. Kecenderungan (Critical trends) yaitu kependudukan, lingkungan,
ekonomi, pemerintah, dan kecenderungan teknologi

Dari segi geografis, permasalahan kelompok rentan dibedakan


menjadi:

1. Lingkungan berpolusi
2. Lingkungan dataran rendah dan dataran tinggi
3. Lingkungan radiasi
4. Permasalahan tenaga kesehatan ( Petugas Rontgen, Lab, dll )
C. Kebutuhan khusus kelompok rentan pada permasalahan
geografis

Secara sederhana kualitas lingkungan hidup diartikan sebagai


keadaan lingkungan yang dapat memberikan daya dukung optimal
bagi kelangsungan hidup manusia pada suatu wilayah. Kualitas
lingkungan dicirikan antara lain dari suasana yang membuat orang
merasa betah atau kerasan tinggal di tempatnya sendiri. Lingkungan
hidup yang baik dapat memungkinkan manusia berkembang secara
optimal, secara selaras, serasi, dan seimbang.

Pembangunan di Indonesia berhasil meningkatkan pendapatan


nasional, akan tetapi keadaan ini mulai menimbulkan pencemaran dan
kerusakan lingkungan hidup. Jika pencemaran dan kerusakan terus
berlangsung, terbuka kemungkinan rusaknya lingkungan hidup.
Kondisi sekarang menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas dan
daya dukung lingkungan yang cukup signifikan (Palupi, 2014).
Selama ini, penilaian secara kuantitatif kualitas lingkungan hidup di
Indonesia dapat didasarkan pada pedoman yang ada, yaitu laporan
11

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang berupa


Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Indonesia yang diterbitkan
setiap tahun. Dalam laporan ini kualitas lingkungan hidup
diindikasikan dengan tiga (3) kriteria, yaitu Indeks Kualitas Udara
(IKU), Indeks Kualitas Air (IKA) dan Indeks Kualitas Tutupan
Hutan/Lahan (IKTL)

1. Kebutuhan Khusus Pada Lingkungan berpolusi

Polusi atau pencemaran dibedakan menjadi:

a. Polusi udara
Pencemaran udara adalah proses masuknya atau
dimasukkannya zat pencemar ke udara oleh aktivitas
atau alam yang menyebabkan berubahnya tatanan udara
sehingga kualitas udara turun sampai ke tingkat tertentu dan
tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya.
b. Polusi air
Kualitas air dinyatakan dalam bentuk Indeks Pencemaran Air
(IPA). Parameter kualitas air yang dihitung dalam IPA guna
memperoleh IKLH hanya mencakup tiga (3) parameter saja,
yaitu TSS (Total Suspended Solid), DO (Dissolved Oxygen),
dan COD (Chemical Oxygen Demand). Pemilihan parameter
TSS, DO, dan COD didasarkan pada ketersediaan data setiap
tahunnya. Sebagai perbandingan, parameter kualitas air
yang ada dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air mencakup 47 parameter yang terdiri dari tiga
(3) parameter fisika, 27 parameter kimia anorganik, dua (2)
12

parameter mikrobiologi, dua (2) parameter radioaktivitas, dan


13 parameter kimia organik
c. Polusi tanah
Tutupan hutan dinyatakan dalam bentuk Indeks Tutupan
Hutan (ITH) yang dihitung berdasarkan jumlah luas hutan
primer (LHP) dan luas hutan sekunder (LHS) yang ditetapkan
oleh Menteri Kehutanan terhadap Luas Wilayah Provinsi
(LWP). LHP ditambah LHS sama dengan LTH. Hutan primer
adalah hutan yang belum mendapatkan gangguan manusia
atau sedikit sekali mendapat gangguan. Hutan sekunder
adalah hutan yang tumbuh melalui suksesi sekunder alami
pada lahan hutan yang telah mengalami gangguan berat
seperti lahan bekas pertambangan, peternakan, dan pertanian
menetap.

kesehatan masyarakat menurut Winslow (dalam


Notoatmodjo, 2007) bahwa kesehatan masyarakat (Public
Health) merupakan ilmu dan seni: mencegah penyakit,
memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui
“usaha-usaha pengorganisasian masyarakat “ untuk:

a. Perbaikan sanitasi lingkungan


b. Pemberantasan penyakit-penyakit menular
c. Pendidikan untuk kebersihan perorangan
d. Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan
perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan
e. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap
orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam
memelihara kesehatannya

Masalah kesehatan lingkungan di negara- negara sedang


berkembang adalah berkisar pada sanitasi (jamban),
penyediaan air minum, perumahan, pembuangan sampah, dan
13

pembuangan air limbah (Notoatmodjo, 2007). Di Indonesia, ruang


lingkup kesehatan lingkungan diterangkan dalam Pasal 22 ayat (3)
UU No 23Tahun 1992 terdiri dari 8 aspek, yaitu:

a. Penyehatan air dan udara


Contoh: penanaman pohon, mencegah terjadinya kebakaran
hutan, penggunaan masker pada daerah kualitas udara buruk
b. Pengamanan limbah padat/sampah
Contoh: pemisahan limbah organic dan non organic agar bisa
di daur ulang dengan benar
c. Pengamanan limbah cair
Contoh: pencegahan pembuangan limbah cair ke dalam
sungai-sungai
d. Pengamanan limbah gas
Contoh: mengontrol emisi gas buang, menghilangkan materi
partikulat dari udara pembuangan dengan filter udara,
pengendap silicon, filter basah, pengendap system gravitasi
dan pengendap elektrostatik
e. Pengamanan vector penyakit
Contoh: Pembersihan sarang nyamuk dengan 3 M,
memasang kawat kasa pada ventilasi rumah agar nyamuk
tidak masuk dalam rumah.
f. Pengamanan dan penyehatan lain seperti keadaan pasca
bencana
Contoh: evakuasi, perbaikan daerah pasca bencana,
perbaikan tempat pelayanan umum, perawatan lanjut korban
bencana, dan rekonsialisasi

2. Kebutuhan khusus Pada lingkungan dataran rendah dan dataran


tinggi

a. Dataran Rendah
14

Dataran rendah adalah hamparan luas tanah dengan


tingkat ketinggian yang di ukur dari permukaan laut adalah
relatif rendah (sampai dengan 200 m dpl). Istilah ini diterapkan
pada kawasan manapun dengan hamparan yang luas dan
relatif datar yang berlawanan dengan dataran tinggi.

Suhu udara di dataran rendah, khususnya untuk wilayah


Indonesia berkisar antara 23 derajat Celsius sampai dengan
28 derajat Celsius sepanjang tahun. Kondisi wilayah yang
datar mamudahkan manusia untuk beraktivitas dalam
menjalankan kebidupannya. Di Indonesia daerah dataran
rendah merupakan daerah yang penuh dengan kedinamisan
dan kegiatan penduduk yang sangat beragam.

Sebagian besar penduduk lebih memilih bertempat tinggal


di dataran rendah. Terlebih wilayah ini memiliki sumber air
yang cukup. Daerah dataran rendah cocok dijadikan wilayah
pertanian, perkebunan peternakan, kegiatan, industri, dan
sentra Lokasi yang datar, menyebabkan pengembangan
daerah dapat dilakukan seluas mungkin. Keanekaragaman
aktivitas pendududuk ini menunjukkan adanya heterogenitas
mata pencaharian penduduk. Petani, pedagang, buruh, dan
pegawai kantor adalah beberapa contoh mata pencaharian
penduduk daerah dataran rendah. Adapun ciri dataran rendah
diantaranya adalah:

1) Tanahnya relatif datar, memiliki ketinggian kurangdari 200


meter diatas permukaan laut.
2) Tanah biasanya ditemukan disekitar pantai, tetapi ada
juga yang ditemukan di daerah pedalaman.
3) Terjadinya akibat proses sedimentasi. Di Indonesia sendiri
dataran rendah terjadi akibat sedimentasi sungai.
15

4) Tanahnya lebih subur dan banyak ditempati penduduk jika


dibandingkan dengan daerah pegunungan.
5) Memiliki tekanan udara yang lebih tinggi dari pada daerah
pegunungan.

Kebutuhan khusus pada penduduk di daerah dataran rendah


biasanya berupa:

1) Pakaian yang tipis atau berbahan baku dari kain yang tipis
yang tidak panas , karena suhu di daerah ini panas.
2) Rumah-rumah di dataran rendah juga dibuat banyak
ventilasinya dan atap dibuat dari genting tanah untuk
mengurangi suhu yang panas.
3) Makanan yang dikonsumsi sehari-hari lebih banyak jenis
makanan yang mengandung air meskipun zat gizi yang
lain juga harus terpenuhi seperti sayur dan buah.
4) Kebutuhan cairan juga meningkat dibandingkan dengan
penduduk didaerah dataran tinggi.
b. Dataran Tinggi

Wilayah Indonesia pada daerah dataran tinggi memiliki


system pegunungan yang memanjang dan masih aktif. Relief
dataran dengan banyaknya pegunungan dan perbukitan,
menyebabkan Indonesia memiliki kesuburan tanah vulkanik,
udara yang sejuk, dan alam yang indah. Dataran tinggi
biasanya dijadikan sebagai daerah tangkapan air hujan
(catchment area). Selain dapat memenuhi kebutuhan air tanah
di wilayah sekitar, daerah tangkapan air hujan dapat
mencegah terjadinya banjir pada daerah bawah.

Dataran tinggi yang ditumbuhi pepohonan besar dengan


kondisi hutan yang masih terjagaberfungsi mencegah erosi,
digunakan sebagai suaka margasatwa, cagar alam, atau
16

bahkan tempat wisata. Pada wilayah dataran tinggi, suhu


udara jauh lebih dingin dibandingkan dengan dataran rendah
maupun daerah pantai. Tingkat kelembapan udara dan curah
hujan yang berlangsung juga cukup tinggi.

Adapun ciri-ciri dataran tinggi diantaranya adalah:

1) Beriklim Sejuk
2) Pertanian Dibuat Terasering
3) Memiliki Udara Yang Kering
4) JarangTurun Hujan
5) Memiliki Kelembapan Udara Sangat Rendah

Kebutuhan khusus pada penduduk di daerah dataran rendah


biasanya berupa:

1) Untuk menghangatkan tubuhnya mereka banyak


mengkomsumsi makanan yang hangat.
2) Untuk menghangatkan tubuhnya penduduk didataran
tinggi lebih tertutup dalam cara berpakaian.
3) Bentuk rumah yang berbeda dengan daerah pantai,
rumah di daerah ini berventilasi sedikit dan atapnya
terbuat dari seng.
4) Ventilasi yang sedikit mengakibatkan udara dingin tidak
masuk ke dalam rumah. Atap terbuat dari seng agar
panas matahari yang diterima dapat disimpan dan dapat
menghangatkan bagian dalamnya.
5) Konsumsi iodium dalam jumlah yang cukup, karena
didataran tinggi kejadian gondok mencapai 30.3 %
menurut untoro dibanding didataran rendah hanya 7.0%.
6) Pemberian vitamin A yang rutin pada bayi dan balita untuk
mengurangi kejadian GAKY (Gangguan Akibat
Kekurangan Yodium).
17

3. Kebutuhan khusus pada lingkungan radiasi

Radiasi adalah proses dikeluarkannya energi radiasi dalam


bentuk gelombang (partikel) atau dapat didefenisikan sebagai
proses kombinasi dari pengeluaran dan pancaran energi radiasi.
Sinar – X adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang
sejenis dengan gelombang radio, panas, cahaya, dan sinar
ultraviolet , tetapi dengan panjang gelombang yang sangat
pendek . sinar – X bersifat heterogen, panjang gelombangnya
bervariasi dan tidak terlihat. Perbedaan sinar – X dengan sinar
elektromagnetik lainnya juga terletak pada panjang gelombang,
dimana panjang gelombang sinar – X sangat pendek, yaitu hanya
1/10.000 panjang cahaya yang kelihatan. Karena panjang
gelombang yang pendek itu, maka sinar – X dapat menembus
benda – benda. Sinar-X mempunyai beberapa sifat fisik adalah :
daya tembus, pertebaran, penyerapan, efek fotografik, pendar
fluor ( fluorosensi ), ionisasi, dan efek biologik.

a. Daya tembus
Sinar – X dapat menembus bahan, dengan daya tembus
sangat besar dan digunakan dalam radiografi. Makin tinggi
tegangan tabung (besarnya KV) yang digunakan, makin besar
daya tembusnya. Makin rendah berat atom atau kepadatan
suatu benda, makin besar daya tembus sinarnya.
b. Pertebaran
Apabila berkas sinar – X melalui suatu bahan atau zat, maka
berkas tersebut akan bertebaran ke segala jurusan,
menimbulkan radiasi sekunder ( radiasi hambur ) pada
bahan/zat yang dilaluinya. Hal ini akan mengakibatkan
terjadinya gambar radiografi dan pada film akan tampak
pengaburan kelabu secara menyeluruh. Untuk mengurangi
18

akibat radiasi hambur ini, maka di antara subjek dengan film


rontgen diletakkan grid.
c. Penyerapan
Sinar – X dalam radiografi diserap oleh bahan atau zat sesuai
dengan berat atom atau kepadatan bahan atau zat tersebut.
Makin tinggi kepadatan berat atomnya, makin besar
penyerapannya.
d. Efek fotografik
Sinar – X dapat menghitamkan emulsi film ( emulsi perak-
bromida ) setelah diproses secara kimiawi ( dibangkitkan ) di
kamar gelap.
e. Pendar fluor ( fluorosensi )
Sinar – X menyebabkan bahan – bahan tertentu seperti
kalsiumtungstat atau zing-sulfid memendarkan cahaya
( luminisensi ), bila bahan tersebut terkena radiasi.
Luminisensi ada dua jenis yaitu :
Fluorosensi
Yaitu akan memendarkan cahaya sewaktu ada radiasi sinar –
X saja.b. Fosforisensi Pemendaran cahaya akan berlangsung
beberapa saat walaupun radiasi sinar – X sudah dimatikan
( after-glow).
f. Ionisasi
Efek primer sinar – X apabila mengenai suatu bahan atau zat
akan
menimbulkan ionisasi partikel – partikel bahan atau zat
tersebut.
Efek biologik

Sinar – X akan menimbulkan perubahan – perubahan biologik


pada jaringan. Efek biologik ini dipergunakan dalam pengobatan
19

Gangguan kesehatan dalam bentuk apapun merupakan akibat


dari paparan radiasi yang bermula dari interaksi antara radiasi
dengan sel maupun jaringan tubuh manusia. Akibat interaksi itu,
sel – sel dapat mengalamii perubahan struktur normal semula.

Menurut Rudiyanto ( 2002 ) untuk melaksanakan SMK3 di tempat


kerja,

terdapat ketentuan – ketentuan yang wajib dilakukan yaitu :

1) Menetapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja serta


menjamin komitmen terhadap SMK3.
2) Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran
penerapan K3
3) Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan
mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung
yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan, dan
sasaran K3.
4) Mengukur, memantau, dan mengevaluasi kinerja K3 serta
melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan.
5) Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan K3
secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan
kinerja K3

Peraturan Pemerintah RI No. 63 tahun 2000 pasal 7 menyatakan


bahwa pengusaha instalasi harus menerapkan Sistem Manajemen
KeselamatanRadiasi. Kesehatan dan Keselamatan terhadap
pemanfaatan radiasi pengion yang selanjutnya disebut Keselamatan
Radiasi adalah upaya yang dilakukan untuk menciptakan kondisi yang
sedemikian agar efek radiasi pengion terhadap manusia dan
lingkungan hidup tidak melampaui nilai batas yang
ditentukanPembentukan organisasi proteksi dimaksudkan agar ada
kejelasan kewajiban atau tugas dan tanggung jawab yang
20

berhubungan dengan keselamatan kerja terhadap radiasi. Proteksi


radiasi yang baik bergantung pada organisasi proteksi yang efisien
dan efektif ( Depkes RI, 1984)

4. Kebutuhan khusus dengan permasalahan tenaga kesehatan


( Rontgen, Lab, dll )
a. Ruang Rontgen

Penggunaan alat sinar x untuk diagnosa dan pengobatan


memerukankehati-hatian kare tingginya resiko bahaya yang
dapat ditimbulkan dari penggunaannya atau hal lain yang
diakibatkan radiasi ionisasi. Semua jaringan pada hewan dan
manusia peka terhadap radiasi. Bagaimana reaksi sel
terhadap radiasi :

Disini ada berbagai reaksi sel yang ditimbulkan, reaksi sel


tersebut dibagi menjadi 3 bagian:

1) Sel mengalami kematian dan menimbulkan gejala


sepertierytema.
2) Sel kembali sehat dan berfungsi sebagai mana mestinya
3) Sel tetap rusak dan mengalamikelainan yang
dapatmengakibatkan kanker pad si penderita.
Penangananya dapat dilakukan dengan rekognisi.
Rekognisi merupakan serangkaian kegiatan untuk
mengenali suatu bahaya lebih detil dan lebih
komprehensif dengan menggunakan suatu metode yang
sistematis sehingga dihasilkan suatu hasil yang objektif
dan bisa dipertanggung jawabkan.

a. Penilaian resiko dimulai dari perkiraaan Potensi resiko


bahaya,

b. Jenis bahaya dan b esarnya resiko,


21

c. Jumlah dan karakteristik tingkat pemaparan

d. Dampak terhadap lingkungan

b. Ruang Laboratorium

Risiko bahaya, sekecil apapun kadarnya, dapat muncul di


saat kapan pun, di manapun, dan dapat menimpa siapapun
yang sedang melakukan pekerjaan. Bahaya kerja di
laboratorium dapat berupa bahaya fisik, seperti infeksi,
terluka, cidera atau bahkan cacat, serta bahaya kesehatan
mental seperti stres, syok, ketakutan, yang bila intensitasnya
meningkat dapat menjadi hilangnya kesadaran (pingsan)
bahkan kematian (Winarni, 2014)

Sumber bahaya dapat dibedakan menjadi sumber dari :

Perangkat/alat-alat laboratorium, seperti pecahan kaca, pisau


bedah, korek api, atau alat-alat logam.

Bahan-bahan fisik, kimia dan biologis, seperti suhu (panas-dingin),


suara, gelombang elektromagnet, larutan asam, basa, alkohol,
kloroform, jamur, bakteri, serbuksari atau racun gigitan serangga.

Proses kerja laboratorium, seperti kesalahan prosedur,


penggunaan alat yang tidak tepat, atau faktor psikologi kerja (terburu-
buru, takut dan lain-lain) (Hidayati, 2011).

Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis yaitu :

 Kecelakaan medis, jika yang menjadi korban adalah pasien.


 Kecelakaan kerja, jika yang menjadi korban adalah petugas
laboratorium itu sendiri.
 Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di
laboratorium :
22

Terpeleset, biasanya karena lantai licin. Terpeleset dan terjatuh


adalah bentuk kecelakaan kerja yang dapat terjadi di laboratorium.
Akibatnya :

Ringan: memar

Berat: fraktura, dislokasi, memar otak, dan lain-lain.

Pencegahannya :

Pakai sepatu anti slip, jangan pakai sepatu dengan hak tinggi, tali
sepatu longgar, hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel
(basah dan licin) atau tidak rata konstruksinya dan pemeliharaan
lantai dan tangga.

Risiko terjadi kebakaran (sumber: bahan kimia, kompor) bahan


desinfektan yang mungkin mudah menyala (flammable) dan beracun.
Kebakaran terjadi bila terdapat 3 unsur bersama sama yaitu: oksigen,
bahan yang mudah terbakar dan panas. Akibatnya :

 Timbulnya kebakaran dengan akibat luka bakar dari ringan


sampai berat
 bahkan kematian.
 Timbul keracunan akibat kurang hati-hati.

Pencegahannya :

Konstruksi bangunan yang tahan api, sistem penyimpanan yang


baik dan terhadap bahan-bahan yang mudah terbakar, pengawasan
terhadap terjadinya kemungkinan timbulnya kebakaran didalam
laboratoruim (Anonim, 2010).

Sistem tanda kebakaran :

Manual yang memungkinkan seseorang menyatakan tanda


bahaya dengan segera.
23

Otomatis yang menemukan kebakaran dan memberikan tanda


secara

Pengantar kecelakaan kerja ini dilakukan supaya dapat


mengurangi dan menghindari terjadinya kecelakan dilabolatorium
supaya dapat dikurangi sampai tingkat paling minimal jika setiap
orang yang menggunakan labolatorium mengetahui tanggung
jawabnya. Menurut (Hidayati, 2011) berikut adalah orang yang
seharusnya bertanggug jawab terhadap keamanan labolatorium :

Lembaga atau staf labolatorium bertanggung jawab atas fasilitas


labolatorium yaitu kelengkapannya, pemeliharaan, dan keamanan
labolatorium.

Dosen atau guru bertanggung jawab didalam memberikan semua


petunjuk yang diperlukan kepada mahasiswa atau siswa termasuk
didalamnya aspek keamanan.

Mahasiswa atau siswa yang bertanggung jawab untuk


mempelajari aspek kesehatan dan keselamatan dari bahan-bahan
kimia yang berbahaya, baik yang digunakan maupun yang dihasilakan
dari suatu reaksi, dan keselamatan dari teknik dan prosedur yang
akan dilakukannya. Dengan demikian mahasiswa atau siswa dapat
menyusun peralatan dan mengikuti prosedur yang seharusnya,
sehingga bahaya kecelakaan dapat dihindari atau dikurangi.

Selain hal diatas dalam pengantar kecelakaan kerja kita harus


mengetahui pokok-pokok tindakan Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (P3K) yang berguna untuk membantu dalam proses
penanganan apabila terjadi kecelakaan dilaboratorium. Pertolongan
pertama pada kecelakaan dimaksudkan untuk memberikan perawatan
darurat bagi korban sebelum pertolongan yang lebih lanjut diberikan
ke dokter (Hudori, 2010). Beberapa hal penting yang harus
diperhatikan dalam melakukan tindakan P3K yaitu :
24

 Jangan panik tidak berarti boleh lamban.


 Perhatikan pernafasan korba
 Hentikan pendarahan.
 Perhatikan tanda-tanda shock.
 Jangan memindahkan korban terburu-buru

BAB III

PENUTUP
A.KESIMPULAN
Kelompok adalah semua orang yang menghadapi hambatan atau
keterbatasan dalam menikmati standar kehidupan yang layak.
Kelompok rentan berhak mendapatkan perlakuan khusus untuk dapat
memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kebutuhan khusus pada permasalahan geografis pada kelompok


rentan meliputi lingkungan berpolusi,lingkungan dataran tinggi dan
rendah, lingkungan radiasi, tenaga kesehatan .
25

DAFTAR PUSTAKA
 Sahadi Humaedi1 , Budi Wibowo2 Santoso T. Raharjo3 1,3 Pusat
Studi CSR, Kewirausahaan Sosial & Pemberdayaan Masyarakat,
Universitas Padjadjaran 2PT. Indonesia Power UPJP Kamojang
(sahadi.humaedi@unpad.ac.id
 https://news.unika.ac.id/2021/01/prioritaskan-kelompok-rentan-
dalam-mitigasi-bencana/
 yemima nora sitohang,sistem manajemen keselamatan terhadap
radiasi sinar x, 2017
 yudistira,bahaya fisik radiasi bagi tenaga medis dan upaya
pencegahannya,jurnal keperawatan
 http://himatekkim.ulm.ac.id/id/kesehatan-dan -keselamatan-kerja-
pengantar-kecelakaan-kerja-di-laboratorium/

Anda mungkin juga menyukai