Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

DINAMIKA FLUIDA

Oleh :

KELOMPOK 23
SONIA ALFIONIKA MEGA PRATAMA
(H3113088)

PROGRAM DIII TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013
ACARA II
DINAMIKA FLUIDA

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Dinamika fluida adalah pergerakan / perpindaham zat yang dapat
mengalir. Dinamika fluida sering dikatakan sebagai persoalan fisika klasik
terbesar yang belum terpecahkan. Upaya untuk mengungkapkan fenomena
dinamika fluida tercatat sejak Da Vinci melakukan observasi aliran pada
abad ke-16, diikuti Newton pada akhir abad ke-17 dengan konsep
viskositis Newtonian, lalu beberapa ilmuan besar seperti Bernoulli, Euler,
Navier, Cauchy, Poisson, Saint Venant, dan Stokes. Dua konstribusi
penting diberikan secara terpisah oleh Navier pada tahun 1823 dan Stokes
pada tahun 1845 yang menurunkan persamaan diferensial parsial fluida
viskos, persamaan ini membahas tentang persamaan gerak fluida viskos,
membahas tentang persamaan gerak ini dengan persamaan Navier-Stokes,
dan persamaan inilah yang menjadi dasar kajian dinamika fluida saat ini.
Fluida adalah zat-zat yang mampu mengalir dan yang menyesuaikan
diri dengan bentuk wadah tempatnya. Bila berada dalam keseimbangan,
fluida tidak dapat menahan gaya tangensial atau gaya geser. Dalam
pengertian ini kita dapat menganggap cairan dan gas sebagai fluida. Aliran
fluida dapat berupa aliran garis arus (streamline) atau aliran turbulen.
Garis arus ialah aliran fluida yang mengikuti suatu garis (lurus
melengkung) yang jelas ujung dan pangkalnya. Aliran turbulen ditandai
oleh adanya aliran berputar. Ada partikel-partikel yang memiliki arah
gerak berbeda bahkan berlawanan dengan arah gerak keseluruhan fluida.
Tegangan geser hanya ada bila sebuah fluida sedang menjalani
deformasi. Air dalam sebuah wadah yang digerakkan atau dirotasikan
dengan percepatan dan kecepatan konstan tidak akan menunjukkan
deformasi sehingga tidak mengalami tegangan geser. Untuk memunculkan
tegangan geser itu ada, fluida harus viscous, sebagaimana karakteristik
yang ditunjukkan oleh semua fluida sejati. Fluida yang ideal boleh
didefinisikan sebagai fluida yang tidak viskous, jadi tegangan geser dalam
fluida ideal tidak ada, bahkan meskipun fluida itu mengalami deformasi.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum acara II Dinamika Fluida adalah :
a. Menghitung besar debit saluran dengan pendekatan laju aliran dan luas
penampang.
b. Mengetahui besarnya faktor koreksi / correction factor (Cf) dari
pengukuran sistem yang digunakan.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara II Dinamika Fluida dilaksanakan pada hari Selasa,
tanggal 10 September 2013 pada pukul 13.30 – 15.00 WIB bertempat di
Laboratorium Rekayasa Proses Pengolahan Pangan, Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
Gas memiliki sifat – sifat khas sebagai hasil dari kemampuan
pengembangannya, sedangkan zair mempunyai sifat – sifat khas sebagai hasil
dari permukaan yang dimilikinya. Kata zalir (fluida) digunakan untuk mengacu
paad gas dan zair (zat cair) bila membicarakan sifat-sifat yang dimiliki kedua –
duanya. Tekanan adalah kakas per satuan luas yang dikenakan secara tegak
lurus pada suatu permukaan. Kakas yang dikenakan suatu zalir pada sekitarnya
dicirikan oleh besaran tunggal, tekanan dalam zalir yang memegang peranan
analog dengan tegangan dalam tali lentur. Suatu zalir bagaimanapun tidak
memiliki ketegaran sehingga akan mengalir. Suatu zalir tidak dapat tetap rehat
jika ada kakas – kakas sejajar yang diterapkan padanya, dan karenanya zalir
yang rehat tidak dapat mengenakan kakas sejajar suatu permukaan. Dengan
demikian, pada kesetimbangan tekanan yang dikenakan oleh zalir pada
pengisap adalah P = F/A, yang dengan hukum Pascal juga merupakan tekanan
dimana saja dalam zalir itu (Cromer, 1994).
Prinsip Pascal apabila tekanan pada fluida (cairan atau gas) dalam ruang
tertutup diubah, maka tekanan pada segenap bagian fluida berubah dalam
jumlah yang sama. Prinsip archimedes benda yang seluruhnya atau seagian
tenggelam dalam fluida mengalami gaya apung sebesar berat fluida yang
dipindahkan. Gaya apung ini dianggap bekerja dalam arah vertikal ke atas dan
melalui titik pusat gravitasi fluida yang dipindahkan. Gaya mengapung
(buoyant force) pada sebuah benda dengan volume V yang keseluruhannya
atau sebagian dicelupkan dalam zat alir (fluida) dengan massa jenis dan berat
(Bueche, 1999).
Aliran atau debit fluida (J) ketika suatu fluida yang mengisi sebuah pipa
mengalir di dalam pipa dengan laju rata-rata dimana A adalah luas penampang
melintang pipa. Satuan J dalam satuan umum Amerika. Kadang – kadang J
disebut sebagai laju aliran atau laju debit. Laju geser suatu fluida adalah laju
dimana regangan geser di dalam fluida berubah. Karena regangan tidak
memiliki satuan. Hukum poiseuille aliran fluida melalui sebuah pipa silinder
dengan panjang L dan jari-jari penampang melintang R. Usaha yang dilakukan
oleh tekanan (P) yang bekerja pada sebuah permukaan dengan luas A saat
permukaan bergerak dengan jarak normal terhadap permukaan (Hecht, 2006).
Kerapatan suatu benda didefinisikan sebagai massa per satuan volume.
Tekanan didefinisikan sebagai gaya per satuan luas, dengan syarat F dianggap
bekerja secara tegak lurus terhadap luas permukaan A. Konsep tekanan sangat
berguna terutama dalam berurusan dengan fluida. Sebuah fakta eksperimental
menunjukkan bahwa fluida menggunakan tekanan ke semua arah. Hal ini
sangat dikenal oleh perenang dan juga penyelam yang secara langsung
merasakan tekanan air pada seluruh bagian tubuhnya. Sifat penting lain pada
fluida diam adalah bahwa gaya yang disebabkan oleh tekanan fluida selalu
bekerja secara tegak lurus terhadap setiap permukaan yang bersentuhan.
Komponen ini akan menyebabkan fluida tersebut mengalir, ini kontradiksi
dengan asumsi kita bahwa fluida tersebut dalam keadaan diam. Dengan
demikian, tekanan tegak lurus terhadap permukaan. Prinsip pascal menyatakan
bahwa tekanan yang dikerjakan pada suatu fluida akan menyebabkan tekanan
ke segala arah dengan sama rata. Sejumlah perlengkapan praktis dibuat dengan
menggunakan prinsip pascal. Dua contoh, yaitu rem hidraulis pada sebuah
mobil dan perangkat hidraulis (Giancoli, 1997).
Perbedaan pokok antara zat cair dan gas (keduanya digolongkan sebagai
fluida) adalah bahwa gas akan menyebar dan mengisi seluruh wadah yang
ditempatinya. Definisi yang lebih tepat untuk membedakan zat padat dengan
fluida adalah dari karakteristik deformasi bahan – bahan tersebut. Umumnya
makin besar laju deformasi fluida, semakin besar pula tegangan geser untuk
menyatakan hambatan atau ketahanan fluida terhadap deformasi. Semua fluida
sejati mempunyai atau menunjukkan sifat – sifat atau karakter yang penting
dalam dunia rekayasa. Kerapatan, kompresibilitas, kapilaritas, dan tekanan uap
adalah sifat – sifat yang diminati untuk fluida – fluida yang dalam keadaan
diam namun untuk fluida – fluida sejati yang bergerak masih ada sebuah sifat
lagi yang penting yaitu viskositas. Beberapa dari sifat – sifat fluida itu
sesungguhnya adalah perpaduan beberapa sifat yang telah disebutkan.
Difusifitas termal, misalnya melibatkan konduktivitas termal, kerapatan dan
kapasitas panas jenis pada tekanan konstan sedangkan konduktivitas termal
melibatkan viskositas dan kerapatan dinamik. Semua bahan tentu saja terdiri
dari molekul – molekul masing – masing tidak terikat di tempat tertentu tetapi
saling bergerak terhadap yang lain. Bahkan meskipun semua fluida tersusun
dari partikel – partikel yang diskret, kita akam mangandaikan bahwa fluida –
fluida itu mempunyai sifat – sifat yang menyeluruh atau bahwa kita dapat
mendefinisikan karakteristik – karakteristik semua itu, bukan menurut sifat
molekuler masing – masing, tetapi menurut sifat yang ditunjukkan oleh agregat
bersangkutan (Olson, 1993).
Suatu pendekatan yang lain untuk analisis aliran fluida tunak tak mampu
telah dikembangkan dengan teknik Elemen Hingga dengan formulasi akar
terkecil. Dengan metode MEH ini debit dalam pipa dapat langsung dihitung
bersamaan dengan variabel lain di titik simpul yaitu tekanan atau debit yang
keluar / masuk di titik tersebut. Metode elemen hingga yang menggunakan
formulasi Galerkin sebagai analogi dari model elemen hingga dari struktur
batang, penghitungan debit dalam pipa dilakukan sebagai analisis lanjut (post-
analysis). Debit aliran dalam pipa dengan Metode Cross-Hardy juga didapat
setelah iterasi koreksi debit (Jamal, 2003).
Menurut Cengel (1997), hampir pada semua heat exchanger, perpindahan
panas didominasi oleh konveksi dan konduksi dari fluida panas ke fluida
dingin, dimana keduanya dipisahkan oleh dinding. Perpindahan panas secara
konveksi sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri heat exchanger dan tiga
bilangan tak berdimensi, yaitu bilangan Reynold, bilangan Nusselt dan
bilangan Prandtl fluida. Besar konveksi yang terjadi dalam suatu double-pipe
heat exchanger akan berbeda dengan cross-flow heat exchanger atau shell-and-
tube heat exchanger atau compact heat exchanger atau plate heat exchanger
untuk beda temperatur yang sama. Sedang besar ketiga bilangan tak berdimensi
tersebut tergantung pada kecepatan aliran serta properti fluida yang meliputi
massa jenis, viskositas absolut, panas jenis dan konduktivitas panas. Besar
kecepatan aliran menentukan jenis aliran, yaitu aliran laminer atau turbulen
(Handoyo, 2000).
Fluida merupakan salah satu materi penting dari bumi ini. Salah satu jenis
fluida yang menjadi bagian penting dari bumi ini adalah fluida berwujud liquid.
Fluida dapat mengalir dan akan memiliki bentuk sama seperti bentuk yang
ditempati oleh fluida tersebut. Fluida yang mengalir dapat diakibatkan oleh
berbagai macam gaya yang bekerja pada fluida tersebut. Besar kecilnya gaya
luar dari fluida, dapat mempengaruhi pergerakan fluida tersebut. Fluida dapat
berada di permukaan bumi maupun di dalam bumi. Fluida menempati suatu
daerah yang dikelilingi oleh lapisan impermeable (sulit dilewati oleh fluida),
sehingga fluida sulit menuju ke permukaan bumi. Diantara lapisan batuan
impermeable tersebut, terdapat celah-celah atau pori-pori diantara batuan yang
terhubung satu sama lain yang dapat menghantarkan fluida menuju ke
permukaan bumi (medium berpori). Ketika medium berpori tersebut dekat
dengan sumber panas dari dalam bumi, maka fluida akan mengalami
perubahan temperatur. Fenomena seperti ini dapat ditemukan pada kasus panas
bumi (Rahmayani, 2012).
Stokes ( 1851 ) adalah orang pertama yang mengakui bahwa parameter
berdimensi tunggal, unik menentukan medan aliran untuk geometri yang
diberikan. Kemudian bekerja dengan Reynolds (1883) pada awal turbulensi
dalam aliran melalui tabung menyebabkan ini yang disebut bilangan Reynolds.
Sejak itu, konsep kesamaan dinamis telah mapan dan telah diatur
perkembangan dinamika fluida selama lebih dari satu abad. Misalnya, laminar -
dikembangkan sepenuhnya aliran tabung adalah fungsi dari hanya dan
independen dari kondisi hulu. Demikian pula, untuk keseimbangan aliran
tabung turbulen atau lapisan batas turbulen, bilangan Reynolds unik
menentukan arus rata-rata mereka dan sifat statistik. Kondisi aliran hulu hanya
dapat mempengaruhi aliran transient, yang akan segera terlupakan saat mereka
mencapai negara keseimbangan mereka. Ini adalah konsep keunikan dalam
dinamika fluida yang kita telah diajarkan dan aturan yang memandu kemajuan
dalam dinamika fluida (Yao, 1995).
Cairan permukaan Newtonian telah dipertimbangkan dalam berbagai
aplikasi. Pekerjaan tanggal kembali ke Scriven (1960) yang tertarik pada
pentingnya antarmuka reologi pada stabilitas busa dan diturunkan formulasi
umum dari dinamika fluida di permukaan Newtonian , yang membentuk
kondisi batas antarmuka untuk masalah aliran dua fase embedding pelarut.
Persamaan gerak dirumuskan intrinsik dalam manifold dua dimensi dengan
waktu - bervariasi metrik dan membuat ekstensif menggunakan turunan
kovarian , dan perhitungan dalam koordinat lokal, yang melibatkan koefisien
dari koneksi Riemann dan turunannya. Kompleksitas persamaan dapat
menjelaskan mengapa mereka sering ditulis tetapi tidak pernah diselesaikan
untuk permukaan sewenang-wenang. Dengan meningkatnya minat dalam
cairan kompleks yang sifat permukaan mendominasi karena rasio daerah
volume besar tetesan kecil, misalnya dalam emulsi atau fase cair dalam
membran sel, sekarang ada juga kebutuhan untuk pengobatan numerik efisien
persamaan (Nitschke, 2012).
C. Alat, Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
a. Set pompa beserta selangnya
b. Model saluran (yang telah dimodifikasi)
c. Alat ukur panjang, volume dan waktu
d. Penampung air
e. Pelampung
f. beban
2. Bahan
a. Air
3. Cara Kerja
a. Menyusun peralatan dan bahan sesuai dengan susunan percobaan.
(pastikan bahwa unit percobaan siap dan dapat dioperasikan)

Gambar 2.2 Set Pompa dan Selang


Keterangan : PA = pompa air
S = saluran model
P = penampung
b. Mengukur besarnya debit di output saluran dilakukan dengan
menampung air pada volume yang sudah ditentukan dan waktu yang
diperlukan selama penampungan tersebut.
c. Mengukur debit aluran dilakukan dengan mengukur luas penampang
aliran dan kecepatan aliran. Menentukan kecepatan aliran dengan
membagi jarak tempuh pelampung dengan waktu tempuh.
d. Mengulang percobaan untuk mendapatkan data yang valid.
Pengulangan dengan memvariasi debit, kedalaman dan jenis
pelampung.
DAFTAR PUSTAKA

Bueche, Frederick. 1999. Teori dan Soal-soal Fisika. Jakarta : Erlangga.

Cromer , Alan H. 1994. Fisika untuk ilmu - ilmu hayati.Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.

Giancoli, Douglas C. 1997. Edisi Keempat Fisika. Jakarta: Erlangga.

Handoyo, Ekadewi. 2000. Pengaruh Kecepatan Aliran Terhadap Efektivitas


Shell-and-Tube Heat Exchanger. Jurnal Teknik MesinVol. 2, No. 2,
Oktober 2000: 86 – 90.

Hecht, Eugene. 2006. Teori dan Soal-soal Fisika Edisi Kesepuluh. Jakarta.2006.

Jama, Ade. Model Matematika dan Numerik dari Aliran fluida dalam Jaringan
Pipa Berbasis Mer dengan Formulasi Akar Terkecil. Risalah Lokakarya
Kornputasi dalam Teknologi Nuklir XIV, Juli 2003 (217-228).

Nitschke. 2012. A finite element approach to incompressible two-phase flow on


manifolds.Journal of Fluid Mechanics / Volume 708 / October 2012, pp 41
8  438 DOI: 10.1017/jfm.2012.317.

Olson, Reuben M. 1993. Dasar Dasar Mekanika Fluida Teknik. Jakarta.Erlangga.

Rahmayani, Nur’aeni. 2012. Simulasi Dinamika Fluida pada Medium Berpori


Dua Dimensi Menggunakan Metode Lattice Boltzmann. Lokakarya
Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir, 10 Oktober 2012 (401-
412).

Yao, L.S. 1995. Nonlinear Instability of Travelling Waves With a Continuous


Spectrum. International Journal of Heat & Mass Transfer, Vol. 38, pp.
1751- 1772.