Anda di halaman 1dari 3

Analisis Fakta dan Identifikasi Masalah

Pada gambar B merupakan peristiwa kerusakan lahan akibat erosi yang terjadi di Desa
Sumberbrantas, Kota Batu. Erosi yang terjadi di daerah tersebut dikarenakan adanya alih
fungsi lahan yaitu dari lahan hutan menjadi lahan pertanian, dimana kegiatan manusia di
bidang pertanian ini mengakibatkan pengikisan tanah sehingga mempercepat laju erosi.
Berdasarkan pengamatan pada gambar bahwa Desa Sumberberantas memiliki kelerengan
yang curam. Erosi akan meningkat seiring dengan meningkatnya panjang dan kemiringan
lereng. Menurut Ardianto dan Amri (2017) yang menyatakan bahwa semakin curam suatu
lereng akan semakin cepat aliran air yang akan berakibat pada besarnya erosi tanah. Dilihat
dari penggunaan lahan pada daerah tersebut, para petani melakukan kegiatan pertanian yang
berada di lereng-lereng. Hal ini lah yang dapat memicu terjadinya erosi, karena adanya proses
pengelolaan tanah yang di lakukan oleh petani. Jenis tanaman atau vegetasi yang di tanaman
oleh petani juga mempengaruhi persentase terjadinya erosi tanah. Apabila komoditas yang
dibudidayakan di lahan lereng memiliki akar yang tidak kuat untuk menahan dan menyerap
air, maka persentase terjadinya erosi semakin besar atau dengan mudah lahan tersebut akan
mengalami erosi. Selain itu juga curah hujan yang tinggi dapat menjadi salah satu faktor
penyebab terjadinya erosi, hal ini terjadi karena tidak adanya penutup lahan sehingga
hantaman air hujan yang langsung mengenai lapisan tanah yang mengakibatkan agregat
tanah menjadi pecah atau hancur. Sehingga, kapasitas infiltrasi tanah berkurang dan aliran
bertambah besar yang mengakibatkan terjadinya erosi tanah. Dampak terjadinya erosi di
lahan pertanian akan menurunkan hasil produksi dan akan terjadinya kekritisan tanah.
Dampak lainnya berupa memburuknya keadaan ekosistem lingkungan tersebut.

Interaksi Antar Stakeholder dalam Menentukan Solusi untuk Pengelolaan Manajemen


Agroekosistem
Peran peneliti dalam permasalahan tersebut adalah melakukan sebuah observasi di
lahan tersebut yang kemudian memberikan edukasi dan saran kepada pihak-pihak pelaksana
manajemen untuk melakuakn rehabilitasi lahan dan pemulihan keadaan ekosistem yang sehat,
dengan cara menerapkan agroforesty seperti menggabungkan antara tanaman pohon-
pohonan/ tanaman tahunan dengan komoditas lain yang sedang di tanam. Akar dari tanaman
pepohonan inilah yang akan membantu dalam menahan kekuatan tanah dari tekanan tekanan
yang diberikan oleh aktifitas manusia maupun aktifitas alam. Hal ini sesuai dengan pendapat
Devianti (2018) bahwa melalui pengelolaan tanaman pertanian di bawah tegakan tanaman
tahunan dapat menurunkan tingkat erosi.Sebagai pihak yang mengembangkan dan meneliti
bidang ini, peneliti dapat memberikan ilmu-ilmunya kepada para petani, selain itu peneliti
juga dapat berperan dalam meberikan masukan-masukan pada upaya konservasi lahan yang
akan dilakukan. Dengan begitu tingkat terjadinya erosi akan berkurang dan kualitas tanah
akan kembali menjadi baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Kiki dan Amri, Al Ikhsan. 2017. Pengukuran dan Pendugaan Erosi pada Lahan
Perkebunan Kelapa Sawit dengan kemiringan yang berbeda. JOM Faperta. 4(1):1-
15.
Devianti. 2018. Kajian Tingkat Laju Limpasan Permukaan dan Erosi Berdasarkan
Pengelolaan Tanaman Pertanian Sistem Agroforestry di DAS Cianten Cipancar,
Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Jurnal Keteknikan Pertanian. 6(1): 109-116.