Anda di halaman 1dari 13

ACARA I

GLOBAL MIGRASI, GRAMATUR, DENSITAS,


DAN KETAHANAN JATUH

I. TUJUAN
Tujuan dari praktikum Acara I ini adalah :
1. Menentukan global migrasi, gramatur dan
densitas kemasan.
2. Menentukan ketahanan jatuh dari kemasan
gelas plastik.

II. DASAR TEORI


Global migrasi merupakan jumlah keseluruhan komponen senyawa –
senyawa yang berpindah ke dalam makanan dengan atau memperhatikan sifat
– sifat racun atau juga aspek – aspek bahaya lain dari segi fisiologi. Konsep
global migrasi meniadakan perlunya identifikasi dari setiap migran, karena
bahan pangan merupakan gabungan berbagai unsur (konponen) yang dapat
menyulitkan dalam pendekatan aspek matematika dalam migrasi
(Syarif dan Isyana, 1988).
Plastik adalah bahan kemasan yang kini berkembang pesat, khususnya
di negara berkembang. Keuntungan dari plastik adalah sifatnya yang fleksibel
untuk dibentuk, lebih murah, transparan dan efisien dari sisi bahan baku
maupun transportasi. Dengan semakin majunya teknologi, kemasan plastik
sudah memiliki kekuatan yang lebih besar dan tidak mudah pecah, pecah,
penyok maupun sobek. Menurut penelitian, kemasan plastik ini sudah 80
persen lebih ringan dan kuat dibandingkan 20 tahun lalu. Ada dua macam
kemasan plastik, yakni kemasan plastik kantong dan kemasan yang dibentuk
dari bahan plastik. Bentuk apapun seperti botol, gelas ataupun kotak bias
dibentuk dari plastik. Sejenis bahan plastik yang biasanya dipergunakan untuk
kemasan botol atau gelas sering disebut sebagai kemasan PET. Kemasan ini
juga dianggap ramah lingkungan karena bisa didaur ulang (Anonim, 2007).
Pengaruh suhu dan waktu terhadap migrasi telah banyak diteliti oleh
Van der Heide, yang menemukan bahwa penyimpanan selama 10 hari pada
suhu 45oC menghasilkan migrasi yang tidak berbeda nyata dengan
penyimpanan selama 6 bulan pada suhu 25oC. Dan Mc Guiness melaporkan
bahwa semakin panas bahan makanan yang dikemas, tinggi peluang terjadinya
migrasi zat – zat plastik ke dalam makanan. Meskipun polimer karena
besarnya molekul jarang mengalami migrasi, tetapi beberapa oligopolimer
dengan berat molekul kurang dari 500 dapat mengalami migrasi ke dalam
makanan (Winarno dan Sulistyowati, 1994).
Adanya keragaman dalam gramatur mengindikasikan pada fluktuasi
pemakaian bahan baku kertas per satuan luas. Semakin kecil gramatur maka
penggunaan bahan baku semakin sedikit, konsumsi energi untuk pengolahan
kertas lebih rendah, mengurangi polusi pabrik, biaya penanganan bahan dan
produk rendah, efisiensi ruang penyimpanan, memperkecil gulungan atau
potongan yang nantinya akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses
pembuatan kertas (karton) secara keseluruhan. Dalam pengukuran gramatur,
pengukuran tebal dilakukan pada beberapa titik yang berbeda dan dilakukan
lebih dari satu kali pengukuran. Hal ini disebabkan karena dalam satu lembar
kertas nilai ketebalannya tidak merata, sehingga dilakukan pengukuran pada
beberapa titik. Sedangkan pengukuran dilakukan lebih dari satu kali (pada
kertas yang berbeda) dimaksudkan untuk mendapatkan nilai/data yang cukup
valid, karena setiap lembar kertas yang diproduksi memiliki ketebalan yang
berbeda-beda. Ketidakteraturan ketebalan lembaran kertas sangat
berhubungan dengan bahan baku dan proses produksi kertas itu sendiri
(Harper, 1985).
Gramatur adalah nilai yang menunjukkan bobot bahan per satuan luas
bahan (g/m2). Pengukuran gramatur bahan kemasan plastik dan kertas
digunakan contoh bahan berukuran 10 x 10 cm. Gramatur ditentukan dengan
menimbang contoh bahan dan membagi bobot dengan luasannya melalui
persamaan berikut:

Gramatur (g/m2) = bobot contoh (g) x 10000 cm2


100 cm2 1 m2

Gramatur kertas dipengaruhi oleh kadar air pada kelembaban udara


relatif di sekitar kertas. Karena gramatur selalu dinyatakan sebagai total berat
kertas termasuk kadar air maka pengukuran harus dilakukan pada kondisi
standar. Gramatur kertas mempengaruhi semua sifat-sifat kertas. Dalam hal ini
yang terpenting adalah membedakan antara variasi yang disebabkan oleh berat
atau gramatur dan variasi yang disebabkan oleh perbedaan yang memang ada
pada kertas. Pada pengukuran gramatur kertas pengaruh yang mungkin
disebabkan oleh kadar air sangat kecil karena kertas telah dikondisikan dengan
kelembaban tertentu sehingga kandungan air dalam kertas homogen
(Casey, 1981).
Densitas diperoleh dengan membagi gramatur contoh bahan dengan
tebal bahan. tebal bahan diukur menggunakan mikrometer sekrup di lima
tempat yang berbeda pada satu lembar contoh bahan dan diambil nilai rata-
ratanya. Nilai densitas kertas dipengaruhi oleh nilai gramatur dan tebal kertas.
Secara teknis rapat massa mempunyai hubungan erat dengan daya ikatan antar
serat dan derajat fibrilisasi serat pulp yang nantinya berpengaruh pada saat
pencetakan (opasitas cetak). Dalam prosesnya, peranan dan pengaruh filler
Kaolin (clay) sangat berpengaruh pada sifat fisik lembaran kertas khususnya
rapat massa dan gramatur kertas (karton). Kaolin berfungsi sebagai bahan
pengisi antar serat, menambah berat kertas dan menghaluskan kertas
(Nurminah, 2002).
Kertas tidak dapat digunakan sebagai pembungkus makanan dengan
sempurna, oleh karena itu biasanya bahan pembungkus kertas harus dilapisi
lagi dengan lilin, damar, lak (lacquer), plastik atau lapisan aluminium untuk
mencegah keluar masuknya gas atau uap air (Anonim, 2006).

III. METODOLOGI
1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum Acara I ini adalah beker
glass, penangas air, neraca analitik, oven, penangas listrik, dan jangka
sorong.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum Acara I ini adalah air
minum dalam kemasan gelas plastik, kemasan plastik, kemasan kertas,
aquadest, etanol 20%, dan asam asetat 4%.
3. Cara Kerja
a. Penentuan global
migrasi kemasan kembang gula.

Ditimbang masing-masing 1-2 gram kemasan plastik (W)

Dimasukkan masing-masing pelarut (simulan) sebanyak 120


ml, yaitu aquadest dan asam asetat 4% ke dalam beker glass
yang telah diketahui beratnya (A gram)

Dipanaskan beker glass tersebut dalam penangas air sampai


suhu 60oC, kemudian masukkan sampel ke dalam beker
glass, dan diamkan selama 30 menit

Dikeluarkan sampel , beker glass kemudian dipanasksn di


atas penangas listrik untuk menguapkan pelarut (simulan)

Dimasukkan beker glass ke dalam oven setelah simulan


teruapkan, yaitu pada suhu 105oC selama 2 jam kemudian
dinginkan dalam desikator

Ditimbang sampai berat konstan


(selisih penimbangan 0,2 gram) (B gram)

Ditentukan global migrasinya


b. Penentuan
gramatur dan densitas kemasan kertas.

Dipotong kemasan kertas dengan ukuran 10 × 10 cm


sebanyak 3 buah

Ditimbang tiap-tiap kemasan tersebut

Diukur tebal tiap-tiap potongan pada 5 tempat dengan


menggunakan jangka sorong, dihitung rata-ratanya

Ditentukan luas kemasan (m2)

Ditentukan gramaturnya = berat kemasan(gr)/luas


kemasan (m2)

Ditentukan densitas kemasan = gramatur (gr/m2)/ rerata


Disiapkan 16tebal
buahkemasan
air minum dalam kemasan

Dilakukan pengujian pertama sebanyak 8 buah, diletakkan gelas


c. Penentuan
plastik satu persatu pada ketinggian 75 cm dari lantai beton datar
dengan
ketahanan posisi
jatuh vertikal
kemasan kemudian
gelas jatuhkan
plastik untuk secara bebas
minuman.

Diamati hasil jatuhan secara visual ada tidaknya kerusakan


(bocor, pecah maupun retak)

Bila semua sampel pada pengujian pertama hasilnya bagus maka


dianggap memenuhi syarat lulus uji. tetapi bila dari 8 buah sampel
terdapat 3 buah rusak maka tidak memenuhi syarat lulus uji dan tidak
dilakukan pengujian lagi

Bila dari 8 gelas terdapat 1 atau 2 buah rusak, maka dilakukan


pengujian yang sama terhadap 8 gelas plastik yang lainnya

Gelas plastik dinyatakan lulus uji jika dari 16 sampel yang diuji
maksimal 3 yang rusak
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1.1 Penentuan Global Migrasi Kemasan Kembang Gula
Sampel Simultan Berat Berat Berat Global
Sampel Beker Akhir Migrasi
(W) (gr) Glass (B) (gr) (ppm)
(A) (gr)
Bungkus Aquadest 1,063 101,375 101,416 3,857 x 104
Permen As.Asetat 4% 1,363 96,393 96,407 1,027 x 104
Plastik Aquadest 1,632 106,004 106,006 1,225 x 103
Gula As.Asetat 4% 2,144 94,333 94,366 1,539 x 104
Plastik Aquadest 1,994 98,413 98,422 4,514 x 103
Roti As.Asetat 4% 1,992 94,965 94,970 2,510 x 103
Mika Aquadest 1,667 102,132 102,148 9,598 x 103
As.Asetat 4% 1,735 94,185 94,204 1,095 x 104
Sumber : Laporan Sementara

Global migrasi merupakan suatu ukuran yang menyatakan jumlah


senyawa dalam kemasan yang termigrasi (terlarut) dalam produk atau bahan
yang dikemas. Ketika dalam proses distribusi maupun penyimpanan, sangat
dimungkinkan terjadinya kenaikan temperatur yang dapat mengakibatkan
komponen – komponen dalam bahan pengemas termigrasi ke dalam produk.
Jika hal ini dapat terjadi, maka dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi
konsumen.
Dalam praktikum kali ini yang bertujuan menentukan global migrasi
dari berbagai kemasan plastik, antara lain plastik bungkus permen, plastik
gula, plastik roti dan plastik mika. Serta dalam percobaan ini digunakan 2
macam stimulan yaitu aquadest dan asam asetat 4%, sehingga dapat diketahui
berapa ppm senyawa dari plastik yang berpindah ke produk. Dari praktikum
yang telah dilakukan, berat sampel yang dipakai antara 1 – 2 gram. Sampel
yang dipakai dilarutkan dalam aquadest atau asam asetat 4% yang telah
dipanaskan sampai suhu ± 60oC. Setelah itu dibiarkan selama ± 30 menit. Hal
ini dimaksudkan agar proses global migrasi dapat berlangsung dengan cepat.
Dari hasil perhitungan diketahui bahwa nilai global migrasi pada plastik
bungkus permen dengan stimulan aquadest sebesar 3,857 x 104 ppm dan
dengan stimulan asam asetat 4% sebesar 1,027 x 104 ppm. Global migrasi
pada plastik gula dengan stimulan aquadest sebesar 1,225 x 103 ppm dan
dengan stimulan asam asetat 4% sebesar 1,539 x 104 ppm. Global migrasi
pada plastik roti dengan stimulan aquadest sebesar 4,514 x 103 ppm dan
dengan stimulan asam asetat 4% sebesar 2,510 x 103 ppm. Sedangkan global
migrasi pada plastik mika dengan stimulan aquadest sebesar 9,598 x 103 ppm
dan dengan stimulan asam asetat 4% sebesar 1,095 x 104 ppm.
Nilai global migrasi terbesar terdapat pada pengemas plastik bungkus
permen dengan stimulan aquadest yaitu sebesar 3,857 x 104 ppm. Sedangkan
nilai global migrasi terkecil terdapat pada plastik gula dengan stimulan
aquadest yaitu sebesar 1,225 x 103 ppm. Besarnya global migrasi yang
diperoleh dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu luas permukaan yang kontak
dengan makanan, kecepatan migrasi, jenis bahan plastik dan suhu. Semakin
besar luas permukaan kontak dan kecepatan migrasi maka nilai global migrasi
yang dihasilkan juga semakin besar. Semakin tinggi suhu ketika produk
kontak dengan kemasan plastik semakin besar global migrasi yang terjadi.
Jenis bahan plastik juga mempengaruhi besarnya global migrasi.

Tabel 1.2 Penentuan Gramatur dan Densitas Kemasan Kertas


Sampel Percobaan Berat Rerata Tebal Gramatur Densitas
Kemasan Kemasan (gr/m2) (gr/m3)
(cm)
Bungkus Kelompok 0,139 2 × 10-4 53,44 267.204,92
Rokok 1 dan 5 0,138 2 × 10 -4
53,66 265.282,58
0,139 2 × 10-4 53,44 267.204,92
Rata – rata 53,51 266.564,14
Kertas Kelompok 0,813 2 × 10-4 81,30 406.500
Minyak 2 dan 6 0,872 2 × 10 -4
87,20 436.000
0,852 2 × 10-4 82,50 412.500
Rata – rata 83,67 418.333,33
Kardus Kelompok 4,783 6,0 × 10-4 478,3 789.000,00
Susu 3 dan 7 4,790 6,8 × 10-4 479,0 704.411,76
4,741 6,4 × 10-4 474,1 740.781,25
Rata – rata 477,1 744.731,01
Kertas Kelompok 4,661 0,25 × 10-2 466,1 186.440,000
Gelombang 4 dan 8 4,617 0,25 × 10-2 461,7 174.886,364
4,650 0,25 × 10-2 465,0 181.640,625
Rata – rata 464,27 180.988,996
Sumber : Laporan Sementara

Gramatur merupakan nilai yang menunjukkan bobot bahan per satuan


luas bahan (g/m2), sedangkan densitas merupakan nilai yang menunjukkan
berat bahan per satuan volume (gram/cm3). Pengukuran gramatur bahan
kemasan plastik dan kertas digunakan contoh bahan berukuran 10 x 10 cm.
Gramatur ditentukan dengan menimbang contoh bahan dan membagi bobot
dengan luasannya. Sedangkan densitas diperoleh dengan membagi gramatur
contoh bahan dengan tebal bahan, dimana tebal bahan diukur menggunakan
mikrometer sekrup di lima tempat yang berbeda pada satu lembar contoh
bahan dan diambil nilai rata-ratanya.
Dalam praktikum penentuan gramatur dan densitas kemasan ini
digunakan sampel berbagai jenis kemasan kertas yaitu bungkus rokok, kertas
minyak, kardus susu dan kertas gelombang. Pada proses pengujian dilakukan
tiga kali pengulangan agar hasil yang didapatkan cukup akurat. Dalam
pengukuran ini ukuran kertas yang digunakan adalah 10 x 10 cm kecuali
bungkus rokok.
Dari hasil pengamatan pada sampel bungkus rokok yang dilakukan oleh
kelompok 1 dan 5 diperoleh nilai gramatur pada ulangan pertama sebesar
53,44 (gr/m2), ulangan kedua sebesar 53,66 (gr/m2) dan ulangan ketiga sebesar
53,44 (gr/m2) sehingga diperoleh rata – rata gramatur yaitu sebesar 53,51
(gr/m2). Sedangkan nilai densitasnya pada ulangan pertama sebesar
267.204,92 (gr/m3), ulangan kedua sebesar 265.282,58 (gr/m3) dan ulangan
ketiga sebesar 267.204,92 (gr/m3) sehingga diperoleh rata – rata densitasnya
yaitu sebesar 266.564,14 (gr/m3).
Pada sampel kertas minyak yang dilakukan oleh kelompok 2 dan 6
diperoleh nilai gramatur pada ulangan pertama sebesar 81,30 (gr/m2), ulangan
kedua sebesar 87,20 (gr/m2) dan ulangan ketiga sebesar 82,50 (gr/m2)
sehingga diperoleh rata – rata gramatur yaitu sebesar 83,67 (gr/m2).
Sedangkan nilai densitasnya pada ulangan pertama sebesar 406.500 (gr/m3),
ulangan kedua sebesar 436.000 (gr/m3) dan ulangan ketiga sebesar 412.500
(gr/m3) sehingga diperoleh rata – rata densitasnya yaitu sebesar 418.333,33
(gr/m3).
Pada sampel kardus susu yang dilakukan oleh kelompok 3 dan 7
diperoleh nilai gramatur pada ulangan pertama sebesar 478,3 (gr/m2), ulangan
kedua sebesar 479,0 (gr/m2) dan ulangan ketiga sebesar 474,1 (gr/m2)
sehingga diperoleh rata – rata gramatur yaitu sebesar 477,1 (gr/m2).
Sedangkan nilai densitasnya pada ulangan pertama sebesar 789.000 (gr/m3),
ulangan kedua sebesar 704.411,76 (gr/m3) dan ulangan ketiga 740.781,25
sebesar (gr/m3) sehingga diperoleh rata – rata densitasnya yaitu sebesar
744.731,01 (gr/m3).
Pada sampel kertas gelombang yang dilakukan oleh kelompok 4 dan 8
diperoleh nilai gramatur pada ulangan pertama sebesar 466,1 (gr/m2), ulangan
kedua sebesar 461,7 (gr/m2) dan ulangan ketiga sebesar 465,0 (gr/m2)
sehingga diperoleh rata – rata gramatur yaitu sebesar 464,27 (gr/m2).
Sedangkan nilai densitasnya pada ulangan pertama sebesar 186.440 (gr/m3),
ulangan kedua sebesar 174.886,364 (gr/m3) dan ulangan ketiga 181.640,625
sebesar (gr/m3) sehingga diperoleh rata – rata densitasnya yaitu sebesar
180.988,996 (gr/m3).
Dari perhitungan diperoleh bahwa nilai rerata gramatur terbesar terdapat
pada kardus susu yaitu sebesar 477,1 (gr/m2), sedangkan nilai rerata gramatur
terkecil terdapat pada sampel bungkus rokok yaitu sebesar 53,51 (gr/m2). Nilai
rerata densitas terbesar terdapat pada sampel kardus susu yaitu sebesar
744.731,01 (gr/m3), sedangkan nilai rerata densitas terkecil terdapat pada
sampel kertas gelombang yaitu sebesar 180.988,996 (gr/m3).
Gramatur kertas dipengaruhi oleh berat bahan dan luasan bahan.
Semakin besar berat bahan/kertas, semakin besar nilai gramaturnya.
Luasanyan bahan yang semakin lebar menyebabkan nilai gramatur semakin
kecil. Densitas kertas dipengaruhi oleh nilai gramatur dan tebal kertas.
Semakin besar nilai gramaturnya maka semakin besar pula densitasnya.
Semakin besar tebal bahan menyebabkan nilai densitas semakin kecil.
Gramatur dan densitas ditentukan untuk mengetahui mengetahui seberapa
besar kemampuan kemasan untuk menahan benturan selama penyimpanan dan
distribusi.
Tabel 1.3 Penentuan Ketahanan Jatuh Kemasan Gelas Plastik untuk Minuman
Sampel Percobaan Jumlah Rusak Keterangan
Ulangan I
Aqua Ulangan I - Tidak ada yang rusak
(lulus uji)
Atlantik Ulangan I 1 Sobek
Ulangan II - Tidak ada yang rusak
Sumber : Laporan Sementara

Ketahanan jatuh merupakan indikasi ketahanan kemasaan untuk tidak


rusak baik berupa bocor, pecah maupun retak jika dijtuhkan dari ketinggian
minimal 75 cm. Selama pengangkutan dan distribusi, sangat memungkinkan
air minum dalam kemasan gelas mengalami benturan maupun tekanan. Maka
ketahanan jatuh kemasan gelas plastik sangat penting diketahui untuk
menghindari tingkat kerusakan sehingga tidak merugikan konsumen maupun
produsen.
Pada pengujian ketahanan jatuh air minum dalam kemasan ini
digunakan sampel yaitu masing – masing 16 sampel air minum dalam
kemasan merk Aqua dan Atlantik. Pengujian pertama pada 8 sampel dengan
menjatuhkan secara vertiksl sampel tersebut satu persatu dari ketinggian 75
cm. Jika dari 8 kemasan air minum tersebut tidak ada yang mengalami
kerusakan, maka dianggap memenuhi persyaratan lulus uji. Apabila terdapat 1
atau 2 kemasan yang rusak maka dilakukan pengujian ulang. Jika terrdapat 3
kenasan yang rusak maka dianggap tidak memenuhi syarat lulus uji.
Dari pengujian yang telah dilakukan, pada pengujian pertama air minum
kemasan gelas merk Aqua tidak ada yang mengalami kerusakan sehingga
memenuhi persyaratan lulus uji. Sedangkan pada air minum kemasan gelas
merk Atlantik pada pengujian pertama terdapat 1 buah sampel yang rusak
sehingga dilakukan pengujian ulang, dan pada pengujian kedua tidak ada yang
mengalami kerusakan.
Dari hasil tersebut diketahui bahwa kedua merk air minum kemasan
gelas tersebut memenuhi persyaratan lulus uji karena kemasan yang rusak
kurang dari 3. Dan dari hasil tersebut dapat diketahui pula bahwa air minum
kemasan gelas merk Aqua lebih baik jika dibandingkan dengan air minum
kemasan gelas merk Atlantik.

V. KESIMPULAN
Dari praktikum Acara I “Global Migrasi, Gramatur, Densitas dan
Ketahanan Jatuh” dapat diambil kesimpulan :
1. Nilai global migrasi terbesar terdapat pada pengemas plastik
bungkus permen dengan stimulan aquadest yaitu sebesar 3,857 x 104 ppm
2. Nilai global migrasi terkecil terdapat pada plastik gula dengan
stimulan aquadest yaitu sebesar 1,225 x 103 ppm.
3. Nilai rerata gramatur terbesar terdapat pada kardus susu yaitu
sebesar 477,1 (gr/m2).
4. Nilai rerata gramatur terkecil terdapat pada sampel bungkus rokok
yaitu sebesar 53,51 (gr/m2)
5. Besarnya nilai gramatur dipengaruhi oleh berat bahan dan luasan
bahan.
6. Besarnya nilai gramatur berbanding lurus dengan berat kertas dan
berbanding terbalik dengan luasannya.
7. Densitas kertas dipengaruhi oleh nilai gramatur dan tebal kertas.
8. Besarnya nilai densitas berbanding lurus dengan gramatur dan
berbanding terbalik dengan rerata tebalnya.
9. Nilai rerata densitas terbesar terdapat pada sampel kardus susu
yaitu sebesar 744.731,01 (gr/m3),
10. Nilai rerata densitas terkecil terdapat pada sampel kertas
gelombang yaitu sebesar 180.988,996 (gr/m3).
11. Ketahanan jatuh air minum kemasan gelas merk Aqua semuanya
lulus uji (tidak ada yang rusak).
12. Ketahanan jatuh air minum kemasan gelas merk Atlantik semuanya
lulus uji (sampel rusak < 3).
13. Ketahanan jatuh air minum kemasan gelas merk Aqua lebih baik
daripada air minum kemasan gelas merk Atlantik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Kemasan Makanan www.ti.or.id/news/details.php? newID = 36-


24 k
Anonim. 2007. Identifikasi Plastik. www.marketing.co.id (diakses tanggal 23
desember 2007)
Casey, J.P. 1961. Pulp and Paper, vol.II Second Ed. International Publisher Inc.
NewYork
Harper. 1975. Handbook of Plastic and Elastomer. Westing House Electric
Corporation. Baltimore. Maryland.
Nurminah, Mimi.2002. Penelitian Sifat Berbagai Bahan Kemasan Plastik dan
Kertas serta Pengaruhnya terhadap Bahan yang Dikemas. Jurusan
Teknologi Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan.
Syarief, R., Santausa, S. dan B.S. Isyana. 1988. Buku dan Monograf Teknologi
Pengemasan Pangan. Lab. Rekayasa Proses Pangan, PAU Pangan dan
Gizi IPB. Bogor.
Winarno dan Titi Sulistyowati Rahayu. 1994. Bahan Tambahan untuk Makanan
dan Kontaminan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.