Anda di halaman 1dari 3

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

KANTOR WILAYAH JAKARTA


KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA KEMANGGISAN
KERTAS KERJA PEMERIKSAAN
Nama Wajib Pajak : PT. Sakti Farma Indonesia
IDENTIFIKASI MASALAH NPWP : 01.234.567.8-999.000
Masa/ Tahun Pajak Januari - Desember 2016
I. ANALISIS BERDASARKAN DATA YANG TERSEDIA

A. DATA KEUANGAN/HARTA
Berdasarkan komparasi atas data keuangan berupa neraca dan laba rugi terdapat hal-hal yang perlu dilakukan
analisis:
1. Terjadi peningkatan penjualan sebesar 21,8%, peningkatan harga pokok penjualan sebesar 28,8%, pembelian
sebesar 22,8%, penurunan biaya usaha sebesar 9,6%, dan laba usaha mengalami penurunan sebesar 10,5% dari
tahun sebelumnya.
2. Biaya-biaya yang terkait dengan penjualan mengalami peningkatan yaitu gaji pegawai sebesar 114,9%, Biaya
Promosi sebesar 72,6%, Jasa Professional sebesar 142,5%, Sewa Gudang 690%, Biaya Penjualan sebesar 53%
yang tidak sebanding dengan kenaikan penjualan yang hanya 21,8%

3 Laba usaha mengalami penurunan sebesar 10,5% yang tidak sejalan dengan peningkatan penjualan dan biaya-
biaya yang terkait dengan penjualan
4 Terdapat penambahan saldo laba akhir tahun di neraca dibanding dengan laba tahun berjalan setelah ditambah
dengan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 5.000.000.000
5 Biaya pajak mengalami penurunan yang signifikan sebesar 80% sedangkan aset mengalami peningkatan baik aset
lancar sebesar 15,92% dan aset tidak lancar sebesar 27,25%

B. DATA SPT
1. SPT PPh Badan
Berdasarkan komparasi yang dilakukan dengan tahun sebelumnya dan laporan laba rugi diperoleh hal-hal sebagai
berikut :
a. Penjualan yang dilaporkan pada SPT Tahunan PPh Badan tahun 2016 sebesar 449.925.282.393 yang
meningkat 21,8% dan Harga Pokok Penjualan sebesar 390.084.418.692 yang meningkat sebesar 28.8%
sehingga menyebabkan penurunan Laba bersih sebesar 28.8%
b. Selisih penambahan saldo akhir tahun dengan saldo akhir tahun menurut neraca yang dilaporkan wp terdapat
selisih sebesar 5.000.000.000 yang diindikasikan ada dividen yang belum dilaporkan
c. Tidak dilakukan koreksi fiskal terhadap biaya bunga sedangkan wajib pajak menerima penghasilan dari bunga
deposito

2. SPT PPh Pasal 21


a. Terdapat perbedaan pembayaran gaji pegawai yang digunakan sebagai DPP PPh 21 sebesar 1.597.941.091
dengan biaya gaji pada laporan laba rugi sebesar 1.737.941.091
b. Biaya promosi dan dan iklan didalamnya terdapat pembayaran komisi kepada karyawan marketing sebesar
2.000.000.000 dan dalam biaya penjualan terdapat biaya penjualan yang merupakan komisi pegawai dan
komisi dokter sebesar 585.600.000

3. SPT PPh Pasal 23 / 26


Objek pajak yang dilaporkan dalam SPT PPh 23 sebesar 862.793.636 sedangkan dari CALK menunjukkan
atas jasa pemasangaan iklan, jasa pengiriman, sewa kendaraan, jasa konsultan, jasa pemeliharaan, jasa
penyedia tenaga kerja, jasa keamanan dan jasa percetakan yang belum dilakukan pemotongan pajak.
a.
Atas jasa pemasaran yang dilakukan oleh MP Pte. Ltd. Di Singapura sebesar 1.124.813.210 belum dilakukan
b. pemotongan PPh 26.

4. SPT PPh Pasal 4 ayat (2)


a. SPT PPh Ps 4 ayat (2) menunjukkan pembayaran pajak atas sewa kendaraan/bangunan sebesar 7.500.000
sedangkan dari laporan keuangan terdapat biaya sewa bangunan sebesar 395.000.000 yang naik 690% dari
tahun sebelumnya
-

5. SPT PPN DN
a. Wajib Pajak melaporkan SPT PPN selama tahun 2016 dengan penjualan sebesarr 449.358.536.831
sedangkan dalam laporaan keuangan penjualan diakui sebesar 449.956.776.483

halaman 1 dari 3
b. DPP PPN Masukan atas Impor dilaporkan WP sebesar 341.626.500.000 selama tahun 2016, sedangkan
dalam laporan keuangan Pembelian dilaporkan sebesar 349.938.582.778
c. Atas pemanfaatan JKP di wilayah pabean atas pemberian jasa pemasaran dari produsen obat di Singapura
belum dilaporkan dalam SPT

C. PROFIL WAJIB PAJAK


Nama Wajib Pajak : Sakti Farma Indonesia
NPWP : 01.234.5567.8-999.000
Bidang Usaha : Perdagangan Farmasi
NO Telp : 021 2505430

D. HASIL PEMERIKSAAN SEBELUMNYA

Tidak ada pemeriksaan tahun sebelumnya

E. DATA LAIN YANG TERSEDIA


- Data Alket (bersumber dari profil WP) :
- Laporan Keuangan
- SPT PPh Badan, SPT PPN, SPT 4 ayat (2), SPT PPh 21, SPR PPh 23
- Hasil Wawancara dengan Account Representative
- CALK
- Dokumen Induk WP
- Data Aplikasi SIDJP dan Portal DJP

II. IDENTIFIKASI MASALAH

a. PPh Badan
a. Berdasarkan laporan PPh Badan tahun 2016, penjualan dilaporkan sebesar 449.925.282.393 dan Beban Pokok
penjualan sebesar 390.084.418.692 yang meningkat masing-masing sebesar 21.8% dan 28.8%. Kenaikan Beban
Pokok Penjualan yang melebihi peningkatan Penjualan menyebabkan penurunan Laba Kotor sebesar -10.2%. Dari
data tersebut perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menguji pos penjualan dan beban pokok penjualan.

b. Biaya-biaya yang dilaporkan dalam SPT menunjukkan kenaikan yang signifikan dari pos gaji,upah, bonus sebesar
114.9%, Biaya pengiriman naik 51%, Biaya promosi 72.6%, biaya outsource 42.3%, Biaya perjalanan dinas 50.4%
yang semuanya diatas kenaikan penjualan maupun kenaikan beban pokok penjualan.

c. Dalam SPT tahunan Badan tidak dilaporkan adanya dividen, sedangkan dari data laporan laba rugi dan neraca
wajib pajak diindikasikan terdapat dividen perusahaan sebesar 5.000.000.000 sehingga diperlukan pemeriksaan
lebih lanjut.

b. PPh Pasal 21
a. Terdapat perbedaan pembayaran gaji pegawai yang digunakan sebagai DPP PPh 21 sebesar 1.597.941.091
dengan biaya gaji pada laporan laba rugi sebesar 1.737.941.091 sedangkan koreksi fiskal yang dilakukan wajib
pajak hanya sebesar 112.600.662. data ini tidak sesuai sehingga perlu dilakukan koreksi.

b. Biaya promosi dan dan iklan didalamnya terdapat pembayaran komisi kepada karyawan marketing sebesar
2.000.000.000 dan dalam biaya penjualan terdapat biaya penjualan yang merupakan komisi pegawai dan komisi
dokter sebesar 585.600.000 yang seharusnya terutang PPh 21 tetapi dalam SPT PPh 21 perusahaan tidak
dilaporkan.

c. PPh Pasal 23
a. Dalam SPT PPh Pasal 23 yang dilaporkan objek pajaknya sebesar Rp 862,793,636,- sementara objek yang dijelaskan di CALK
atas jasa outsourcing, jasa pemasangan iklan, jasa pengiriman, jasa percetakan, jasa pemeliharaan dan perbaikan belum
dilakukan pemotongan sehingga perlu dilakukan penelitian dan pengujian
b. Jasa pemasaran dari Singapura perlu dilakukan equalisasi dengan PPh 23/26 dan Penjualan untuk menentukan
PPh 23/26 serta memastikan ketentuan P3B Indonesia dan Singapura.

d. PPh Pasal 4 ayat (2)


a. SPT PPh Pasal 4 ayat (2) mengakui objek pajak sebesar Rp 75,000,000,- atas sewa gedung, tetapi biaya sewa gedung yang
dilaporkan dalam Laporan laba rugi sebesar Rp 395,000,000,- naik sebesar 690% dari tahun sebelumnya sedangkan
peningkatan pembelian hanya sebesar 23,24% dan peningkatan penjualan 21,82% sehingga perlu dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut.

halaman 2 dari 3
SPT PPh Pasal 4 ayat (2) mengakui objek pajak sebesar Rp 75,000,000,- atas sewa gedung, tetapi biaya sewa gedung yang
dilaporkan dalam Laporan laba rugi sebesar Rp 395,000,000,- naik sebesar 690% dari tahun sebelumnya sedangkan
peningkatan pembelian hanya sebesar 23,24% dan peningkatan penjualan 21,82% sehingga perlu dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut.

e. PPN
a. DPP Pajak keluaran yang dilaporkan dalam SPT sebesar 449.358.537.445 sedangkan laporan keuangan
perusahaan menunjukkan penjualan sebesar 449.956.776.483, perbedaan pelaporan dalam SPT dan Laporan
keuangan ini perlu diperiksa.
b. Atas Jasa pemasaran dari Singapura seharusnya terutang PPN atas pemanfaatan jasa dari luar pabean tetapi
tidak dilaporkan dalam SPT PPN perusahaan, selain itu perlu dilakukan pengecekan tax treaty antara Indonesia
dan Singapura terkait hak pemajakan atas transaksi tersebut.

e. Lokasi/cabang WP yang akan dimintakan pemeriksaan


- Tidak ada lokasi/cabang yang akan dimintakan pemeriksaan

Disusun oleh:
Supervisor Paraf Tanggal

Nathanael Septadi 13 Oktober 2018

INDEKS: A.1.1

halaman 3 dari 3