Anda di halaman 1dari 3

SF

PT SAKTI FARMA INDONESIA


Jl. Purnawarman 99 Jakarta Selatan
Telepon 021-2405430 , Fax 021-7244912

I
Jakarta, 5 November 2015

Surat No : V/11/KS

Kepada Yth.
Kepala KPP Pratama Kemanggisan
Jalan Sakti Raya No. 1 Kemanggisan
Jakarta Selatan

Dengan hormat,

Sehubungan telah diterbitkannya Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan Nomor S-


176/WPJ.06/KP.10/2018, dengan ini perkenankanlah kami selaku pengurus dari:

Nama : PT Sakti Farma Indonesia


NPWP : 01.234.567.8-999.0
Alamat : Jl. Purnawarman 99 Jakarta Selatan

untuk menyampaikan tanggapan hasil pemeriksaan yang tercantum dalam SPHP Nomor
S-176/WPJ.06/KP.10/2018 tersebut Pajak Penghasilan Badan (“PPh Badan”)

Menurut Pemeriksa

Pemeriksa telah melakukan koreksi positif objek PPh Badan sebesar Rp 20.355.916.446
berdasarkan pengujian terhadap arus barang sebagaimana terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Pengujian Arus Barang


Objek WP Pemeriksa Koreksi
Penjualan Bruto 449.925.282.393 470.312.692.929 20.355.916.446

Tanggapan Wajib Pajak

Kami tidak setuju dengan koreksi pemeriksa sebesar Rp 20.355.916.446 karena dalam
koreksi pemeriksa

Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak.

Hormat kami,
PT Sakti Farma Indonesia
Aditya Kusuma
Direktur

1. Pajak Penghasilan Masa (“PPh Pasal 4(2)”)

Menurut Pemeriksa

Pemeriksa telah melakukan koreksi positif atas objek PPh Pasal 4(2) sebesar Rp
300.000.000 berdasarkan ekualisasi antara data di SPT PPh Badan dan SPT Masa
Januari – Desember 2010 PPh Pasal 4(2) sebagaimana terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Objek PPh Pasal 4(2) cfm Pemeriksa


Nomor
Nama Akun WP Pemeriksa Koreksi
Akun
Sewa Ruangan 645 Rp 545.787.496 Rp 545.787.496 -
Biaya Listrik 650 - Rp 300.000.000 Rp 300.000.000
Gedung
Sewa Gedung 655 Rp 3.900.000.000 Rp 3.900.000.000 -
Total Rp 4.445.787.496 Rp 4.745.787.496 Rp 300.000.000

Tanggapan Wajib Pajak

Kami setuju dengan koreksi pemeriksa sebesar Rp 300.000.000 karena sesuai


dengan UU PPh Pasal 4(2) huruf (d), persewaan tanah dan/atau bangunan
dikenakan PPh final 10%. Dasar perhitungan PPh 4(2) sendiri dalam memori
penjelasan Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008 adalah (Jumlah bruto nilai
persewaan adalah semua jumlah yang dibayarkan atau terutang oleh penyewa
dengan nama dan dalam bentuk apapun juga yang berkaitan dengan tanah dan atau
bangunan yang disewa termasuk biaya perawatan, biaya pemeliharaan, biaya
keamanan, biaya fasilitas lainnya termasuk listrik dan service charge baik yang
perjanjiannya dibuat secara terpisah maupun disatukan) sebagaimana Nilai Bruto
sendiri didefinisikan dalam KEP - 227/PJ./2002 Tentang Tata Cara Pemotongan
Dan Pembayaran.Serta Pelaporan Pajak Penghasilan Dari Persewaan Tanah Dan
Atau Bangunan.
Besarnya Pajak Penghasilan yang wajib dipotong atau dibayar sendiri atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari persewaan
tanah dan/atau bangunan adalah sebesar 10% (sepuluh persen) dari jumlah
bruto nilai persewaan tanah dan/atau bangunan dan bersifat final.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka atas biaya listrik yang ditagihkan pada
penyewa setiap bulan termasuk dalam objek PPh Pasal 4(2) yang harus dipotong
oleh pemilik gedung

2. Pajak Penghasilan Masa (“PPh Pasal 21”)

Menurut Pemeriksa

Pemeriksa telah melakukan koreksi positif atas objek PPh Pasal 21 sebesar Rp
150.000.000 berdasarkan ekualisasi antara data di SPT PPh Badan dan Masa
Januari – Desember 2010 PPh Pasal 21. Data biaya-biaya terkait dengan
pembayaran gaji / uang jasa kepada orang pribadi di dalam SPT Badan PT Kartika
Sukmatullahi sebagaimana terlihat pada Tabel 3

Tabel 3 Objek PPh Pasal 21 cfm Pemeriksa


Nomor
Nama Akun WP Pemeriksa Koreksi
Akun
Biaya konsultan 620 Rp 500.000.000 Rp 500.000.000 -
Biaya gaji 621 Rp 1.500.000.000 Rp 1.500.000.000 -
karyawan
PPh Pasal 21 635 - Rp 150.000.000 Rp 150.000.000
ditanggung
perusahaan
Total Rp 2.000.000.000 Rp 2.150.000.000 Rp 150.000.000

Tanggapan Wajib Pajak

Kami tidak setuju atas koreksi yang ditetapkan oleh pemeriksa sebesar positif Rp
150.000.000. Alasan ketidaksetujuan kami didasarkan pada ketentuan PER-
31/PJ/2015 Pasal 8 ayat 2 juncto pasal 4 ayat 3 Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2008 yang menyatakan bahwa Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi
kerja, termasuk yang ditanggung oleh Pemerintah, merupakan penerimaan dalam
bentuk kenikmatan sehingga saat perhitungan PPh 21 yang terhutang, PPh pasal 21
yang ditanggung perusahaan bukan merupakan tunjangan yang menambah
penghasilan karyawan dan menambah Penghasilan Kena Pajak (objek PPh 21)
melainkan termasuk dalam benefit in kind yang tidak termasuk dalam proses
perhitungan pph 21 terhutang karena langsung dibayarkan sendiri oleh pemberi
kerja sejumlah pph 21 terhutang karyawan sehingga atas PPh Pasal 21 yang
ditanggung perusahaan bukan merupakan objek PPh 21 sebagaimana ditetapkan
oleh pemeriksa

Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak.

Hormat kami,
PT. Kartika Sukmatullahi
NPWP : 01.061.584.7-092.000

Kartika Sukmatullahi
Direktur

Lampiran :
1. Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan Pajak Nomor 123 tanggal 3 November
2015
2. Kertas kerja rekonsiliasi