Anda di halaman 1dari 6

Tugas

Era reformasi dengan kebijakan desentralisasi menjadikan politik lokal di Indonesia


dinamis. Pilkada langsung, pemberdayaan masyarakat dan memaksimalkan potensi ekonomi
lebih mudah untuk dilakukan.

Buatlah makalah atau Paper  terkait politik lokal yang ada di daerah Anda tinggal!

Anda dapat memfokuskan pada salah satu isu/persoalan saja seperti Pilkada, Pembangunan
Daerah, Pemberdayaan Masyarakat atau lainnya!
 

Analisis ilmu politik dapat mengambil bentuk analisis berbasiskan pada institusi dan
atau objek ilmu politik. Dalam konteks tersebut, analisisnya difokuskan pada persoalan yang
ingin ditelaah. Misalnya saja: membahas perihal perilaku memilih dalam sebuah pemilu,
membahas konflik antara Presiden dan DPR pada periode tertentu, atau membahas mengenai
peran kelompok kepentingan dalam memperjuangkan aspirasi dalam penyusunan sebuah
rancangan undang-undang Di samping fokus analisis berbasiskan pada institusi dan atau
objek ilmu politik, dapat juga analisis ilmu politik berbasiskan pada kajian perwilayahan.

Pembagian wilayah yang dimaksud dapat berupa politik di tingkat nasional ataupun
lokal. Politik tingkat nasional artinya semua hal yang berkaitan dengan persoalan politik yang
berada di tingkat pemerintahan pusat. Sedangkan politik lokal adalah semua hal yang
berkaitan dengan persoalan politik yang berada di tingkat pemerintahan daerah atau di bawah
pemerintah pusat. Kajian mengenai politik lokal di Indonesia mendapatkan perhatian khusus
sejak berakhirnya rezim Orde Baru di pertengahan tahun 1998. Sejak tahun 1999 sampai
dengan saat ini kebijakan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah beralih, dari
sebelumnya bersifat sentralisasi menjadi desentralisasi. Sejak saat itulah kajian mengenai
politik lokal di Indonesia menjadi berkembang secara dinamis.

Menurut UNDP (1999: 2) desentralisasi atau pemerintahan yang di desentralisasi,


mengacu pada restrukturisasi atau reorganisasi otoritas sehingga ada sistem tanggung jawab
yang dibagi antara institusi pemerintah pada tingkat pusat, regional, dan lokal mengacu pada
prinsip pembantuan.

Desentralisasi bisa juga diharapkan untuk memberikan kontribusi pada elemen kunci
tata pemerintahan yang baik, seperti: menambah kesempatan orang untuk berpartisipasi
dalam keputusan ekonomi, sosial, atau politik; membantu dalam mengembangkan kapasitas
orang; meningkatkan responsivitas, transparansi, dan akuntabilitas pemerintah. Masih
menurut UNDP (1999: 2), desentralisasi tidak seharusnya dilihat sebagai akhir dari dirinya
sendiri atau tujuan akhir. Desentralisasi dapat berarti alat untuk menciptakan pemerintahan
lokal yang terbuka, responsif, dan efektif untuk meningkatkan sistem perwakilan dalam
pengambilan keputusan yang berbasis komunitas.

Dengan mengizinkan komunitas lokal dan entitas regional mengelola urusan mereka
sendiri, memfasilitasi hubungan yang lebih dekat antara otoritas pusat dan lokal, maka sistem
pemerintah lokal diharapkan lebih efektif. Efektivitas ini terjadi dalam hal: kemudahan
respons terhadap kebutuhan masyarakat, menentukan prioritas yang harus didengar, serta
memastikan bahwa intervensi pemerintah langsung berhadapan dengan bermacam kebutuhan
sosial masyarakat.

Selain desentralisasi, dikenal pula konsep pemerintah dan pemerintahan lokal.


Pemerintah lokal (local govemment) mengacu kepada lembaga- lembaga atau entitas-entitas
khusus yang dibentuk oleh: undang-undang nasional, konstitusi negara bagian, legislasi
umum dari pemerintah pusat yang lebih tinggi, legislasi provinsi atau negara, atau keputusan
lembaga eksekutif untuk menyampaikan serangkaikan pelayanan khusus untuk area yang
secara geografis relatif kecil. Sedangkan konsep pemerintahan lokal (local governance)
mencakup formulasi dan eksekusi dari tindakan kolektif pada tingkat lokal, dengan kata lain
aktivitas atau tindakan kolektif yang dilakukan di tingkat lokal. Maka pemerintahan lokal
mencakup peran langsung ataupun tidak langsung dari institusi formal pemerintah lokal dan
hierarki pemerintah, termasuk peran informal dari norma, jaringan, organisasi

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang No.32 Tahun 2004 ini untuk pertama kali
dilaksanakan pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat. Salah satu alasan
diterapkannya pemilihan kepala daerah langsung karena sistem pemilihan di banyak tingkat
(Presiden, DPR, DPR, DPRD, bahkan kepala desa) dilaksanakan secara langsung. Jika
pemilihan kepala daerah dilaksanakan secara tidak langsung, tentu merupakan sebuah
kejanggalan. Pasca amandemen UUD 1945 antara tahun 1999 sd. tahun 2002, tata cara
pemilihan kepala daerah kembali diubah dari dipilih oleh DPRD menjadi dipilih secara
langsung oleh rakyat.

Menurut Agustino, sejumlah alasan perubahan sistem pemilihan kepala daerah dari
dipilih oleh DPRD menjadi dipilih langsung oleh masyarakat adalah karena mekanisme
pemilihan secara langsung akan menghadirkan legitimasi yang lebih kuat bagi kepala daerah
dibanding pemilihan oleh DPRD, melibatkan partisipasi politik masyarakat secara nyata,
serta mengukuhkan akuntabilitas pemimpin kepada rakyatnya. Ketiga alasan tersebut diikat
oleh satu konsep yaitu mengukuhkan demokrasi di tingkat lokal (Agustino, 2011:90).

Substansi dasar dari Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan


Daerah menurut Pratikno mencakup tujuh hal. Pertama, semangat otonomi daerah yang lebih
besar terlihat pada perubahan nama pada daerah otonom. Kedua, jangkauan asas
dekonsentrasi menjadi pendek di mana dibatasi hanya sampai pemerintah provinsi. Ketiga,
bupati dan Walikota tidak lagi bertanggung jawab kepada pemerintah provinsi maupun
pemerintah pusat karena bupati dan Walikota dipilih oleh DPRD kabupaten/kota. Keempat,
menghilangkan posisi wilayah administratif pada tingkat daerah kabupaten dan daerah kota.
Kelima, memosisikan pemerintahan kecamatan dan kelurahan sebagai perangkat daerah
otonom, yaitu daerah kabupaten dan daerah kota. Keenam, mengatur keberadaan Badan
Perwakilan Desa. Ketujuh, daerah otonom diberikan kewenangan yang lebih luas.
Selanjutnya lahirnya Undang-Undang No.32 Tahun 2004 dapat dikatakan sebagai bagian dari
rekayasa kelembagaan (institusional Engineering) untuk mempercepat proses demokratisasi
di Indonesia, termasuk demokratisasi di daerah yang dilaksanakan melalui pemilihan kepala
daerah langsung oleh rakyat.

Salah satu contoh Pembangunan Daerah di kota tempat tinggal saya yaitu adanya
revitalisasi jalan trotoar di beberapa jalan di kota Pangkalpinang.

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW.CO.ID – Walikota Pangkalpinang Maulan


Aklil mengakui pembangunan trotoar sepanjang Jalan Jenderal A Yani merupakan inisiatif
dari Pemkot Pangkalpinang, dengan cara melobi Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung dan pemerintah pusat.

 “Jadi gini, membangun trotoar di Jalan Sudirman dan A Yani itu sebenarnya bukan
tugas Pemkot Pangkalpinang, karena jalan itu punya Pemprov Babel. Tetapi kita ambil
inisiatif untuk melobi Pak Gubernur dan pemerintah pusat bagaimana membangun ini.
Karena secara aturan kami tidak diperbolehkan dan kami tidak punya anggaran untuk
membangun trotoar tersebut,” kata Walikota yang akrab disapa Molen ini.

Melihat hasil yang memuaskan ini, Molen mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada Gubernur Provinsi Babel Erzaldi Rosman yang telah membantu Pemkot
Pangkalpinang membangun trotoar di Jalan A Yani dan Depati Hamzah.

“Kami bersinergi dengan pemprov. Kami membeli bolanya. Sebagai etalase nya
Provinsi Babel, kami ingin ibu kota provinsi ini menjadi cantik,  pak gubernur enak
melihatnya, kami pun enak,” kata Molen.

Molen menuturkan, fungsi bola semen agar masyarakat tidak parkir kendaraan
sembarangan serta memberikan keindahan sepanjang trotoar. Untuk itu Pemkot
Pangkalpinang terus berupaya merawat serta memompa kesadaran kepada masyarakat untuk
menjaga aset negara tersebut.

“Penegak hukum kita juga sudah menempel spanduk imbauan tidak boleh berjualan di
atas trotoar. Untuk Dishub kita sudah menertibkan kendaraan yang parkir-parkir di trotoar.
Kedepanya pembangunan trotoar ini akan terus berjalan, tahun depan Insya Allah kita dapat
dana lagi dari pusat sekitar Rp 17 miliar,” bebernya.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Pangkalpinang, Arnadi mengapresiasi Pemprov
Babel karena beberapa ruas jalan provisi saat ini kondisinya sudah cukup bagus, ditambah
dengan adanya bola beton yang bisa menghindari kendaraan parkir dan menambah keindahan
trotoar itu. “Ini merupakan suatu prestasi yang patut kita apresiasi, memang provinsi
seharusnya bertanggung jawab bagaimana kemudian Kota Pangkalpinang ini dari sisi
estetikanya semakin lebih baik sebagai ibu kota Provinsi Babel”, kata Arnadi.

Dikatakanya, pemanfaatannya trotoar ini harus sesuai atuaran dari Pemkot


Pangkalpinang misalnya, tidak digunakan untuk berjualan dan parkir kendaraan sehingga
Kota Pangkalpinang menjadi rapi dan tertata.

Arnadi juga menyebutkan, walaupun aset ini milik Pemprov Babel, namun Pemkot
Pangkalpinang bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat trotoar. Dirinya selaku
legislatif berharap, Pemkot Pangkalpinang dapat menerapkan perda-perda yang sudah
dibentuk agar nantinya aset ini bisa bertahan lama.

“Harapan kita kepada pemerintah dan masyarakat Kota Pangkalpinang khususnya,


dengan kondisi yang seperti ini tentunya mari kita jaga bersama aset ini. Jangan ada tangan
jahil yang kemudian merusak keindahan tersebut, saya pikir ini belum selesai. Ini baru
awalan dan perlu kita dukung”, ujarnya.

Menurut Arnadi, trotoar ini dapat menjadi percontohan bagi Pemkot Pangkalpinang
untuk membuat trotoar yang menjadi tanggung jawab Kota Pangkalpinang, agar lebih bagus,
rapi dan tertata.

“Ketika jalan provinsi bagus, jalan kota nya harus bagus. Trotoar ini juga menjadi hal
menarik, ini bisa jadi spot wisata baru bagi anak muda kita”, jelas Arnadi.

Arnadi menyebutkan, dalam membantu Pemkot Pangkalpinang pihak Legislatif akan


mendukung program apa saja yang menjadi skala prioritas terkait pembangunan di Kota
Pangkalpinang.

“Kalau program prioritas Pemkot Pangkalpinang salah satunya adalah penataan


trotoar, tentunya tidak ada alasan bagi kami dari legislatif untuk tidak mendukung dari sisi
anggaran selama itu untuk kepentingan masyarakat. Selama ini kami tidak pernah
menghambat-hambat anggaran yang diajukan, karena DPRD dan Eksekutif sama-sama
penyelenggara anggaran yang harus berjalan seiring. Kami juga meminta semua kegiatan
yang dilksanakan pemerintah kota harus mempunyai payung hukum yang kuat, untuk
melindungi aset-aset ini,” tukas Arnadi. (gusti/BBR
Sumber : Modul ISIP4213

https://babelreview.co.id/trotoar-kota-pangkalpinang-mulai-cantik-ibu-kota-pun-
mulai-menarik