Anda di halaman 1dari 3

DISKUSI 8

PAJAK PENGHASILAN II
OLEH JUNIO LILIANTO PRATOMO / NIM 042717988

1. Kekuasaan Pengadilan Pajak yang anda ketahui!


Kewenangan dan kekuasaan lembaga peradilan pajak ini telah diatur dalam Pasal 31, 32, dan 33
Undang-Undang No. 14 Tahun 2002, sebagai berikut:
a. Pengadilan Pajak mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan memutus Sengketa Pajak.
b. Pengadilan Pajak dalam hal Banding hanya memeriksa dan memutus sengketa atas keputusan
keberatan, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Pengadilan Pajak dalam hal Gugatan memeriksa dan memutus sengketa atas pelaksanaan
penagihan Pajak atau Keputusan pembetulan atau Keputusan lainnya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor
16 Tahun 2000 dan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

Selain tugas dan wewenang sebagaimana yang disebut diatas, Pengadilan Pajak mengawasi kuasa
hukum yang memberikan bantuan hukum kepada pihak-pihak yang bersengketa dalam sidang-sidang
Pengadilan Pajak. Pengawasan tersebut diatur lebih lanjut dengan Keputusan Ketua.

Pengadilan Pajak merupakan Pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam memeriksa dan memutus
Sengketa Pajak. Untuk keperluan pemeriksaan Sengketa Pajak, Pengadilan Pajak dapat memanggil
atau meminta data atau keterangan yang berkaitan dengan Sengketa Pajak dari pihak ketiga sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Upaya hukum pajak yang dilakukan di Pengadilan Pajak!


a. Banding
Upaya hukum banding dapat ditempuh setelah wajib pajak menjalani proses keberatan terlebih
dahulu. Apabila wajib pajak masih belum puas dengan surat keputusan keberatan yang dikeluarkan
otoritas pajak, wajib pajak dapat mengajukan banding ke Pengadilan Pajak.
Berdasarkan Pasal 1 angka 6 UU No. 14/2002 tentang Pengadilan Pajak, banding didefinisikan
sebagai upaya hukum yang dapat dilakukan oleh wajib pajak atau penanggung pajak terhadap
pelaksanaan penagihan pajak atau terhadap keputusan yang dapat diajukan banding.

Syarat dan ketentuan mengajukan banding adalah sebagai berikut:


Dalam mengajukan permohonan banding, wajib pajak harus menyusun surat banding dengan
sebaik-baiknya. Wajib pajak harus memastikan surat tersebut telah memenuhi persyaratan formal
maupun materiil. Pada Pasal 35 juncto Pasal 36 UU No. 14/2002, telah disebutkan beberapa syarat
dan ketentuan pengajuan banding.
1. Pertama, banding dilakukan dengan mengajukan surat banding yang ditulis dalam Bahasa
Indonesia. Surat banding tersebut kemudian diajukan kepada Pengadilan Pajak.
2. Kedua, banding diajukan dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal diterima keputusan yang
dibanding. Contohnya, apabila keputusan yang dibanding diterima tanggal 10 Mei 2020 maka
batas terakhir pengiriman surat banding adalah 9 Agustus 2020.
Pada prinsipnya, jangka waktu tersebut ditetapkan agar pemohon mempunyai waktu yang
memadai untuk mempersiapkan surat banding, alasan-alasan, beserta bukti yang menguatkan
alasan hukumnya.
Jika setelah lewat tiga bulan tidak diajukan banding, wajib pajak dianggap setuju dengan isi
keputusan keberatan yang diterimanya. Namun, jangka waktu tersebut dapat diperpanjang
apabila terdapat keadaan di luar kekuasaannya (force majeur) pemohon banding.
3. Ketiga, dalam satu surat banding hanya dapat diajukan terdapat satu keputusan keberatan saja.
Artinya, dalam hal ini tidak dapat dilakukan permohonan banding atas dua keputusan atau lebih.
Surat banding juga harus dicantumkan tanggal diterima surat keputusan yang dibanding.
4. Keempat, pada surat banding wajib pajak juga perlu melampirkan keputusan keberatan yang
diajukan banding.

Surat banding yang dibuat harus mengandung posita dan petitum yang jelas. Posita memuat alasan-
alasan mengapa surat banding itu diajukan. Selain itu, dalam posita juga diuraikan mengenai fakta-
fakta, seperti pembukuan atau pencatatan, perhitungan pajak, ataupun hal-hal materiil lainnya
(Pudyatmoko, 2009).
Uraian tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam mengajukan petitum (hal yang dimohonkan).
Pemohon banding dapat melengkapi surat bandingnya untuk memenuhi ketentuan yang berlaku
sepanjang masih dalam jangka waktu yang telah disebutkan di atas.
Permohonan banding dapat diajukan oleh wajib pajak, ahli waris, seorang pengurus, atau kuasa
hukumnya. Apabila pemohon banding meninggal selama proses banding berjalan, banding dapat
dilanjutkan oleh wahli waris, kuasa hukum, ataupun pengampunya dalam hal pemohon banding
pailit.
Dalam hal terdapat proses penggabungan, peleburan, atau likuidasi, pihak yang menerima tanggung
jawab hal tersebut dapat melanjutkan proses banding.
Permohonan banding dapat diupayakan pencabutannya dengan mengajukan surat pernyataan
pencabutan kepada Pengadilan Pajak. Banding yang dicabut nantinya akan dihapus dari daftar
sengketa dengan menggunakan penetapan Ketua Pengadilan Pajak atau Putusan Majelis/Hakim
Tunggal. Jika permohonan banding telah dicabut, wajib pajak tidak dapat mengajukan kembali
permohonan banding atas perkara yang sama.

b. Gugatan
Berdasarkan Pasal 1 angka 7 Undang-Undang (UU) No. 14/2002 tentang Pengadilan Pajak, gugatan
didefinisikan sebagai upaya hukum yang dapat dilakukan oleh wajib pajak atau penanggung pajak
terhadap pelaksanaan penagihan pajak atau terhadap keputusan yang dapat diajukan gugatan
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Terdapat empat objek pengajuan gugatan di pengadilan pajak
1. Pertama, pelaksanaan surat paksa, surat perintah melaksanakan penyitaan, atau pengumuman
lelang.
2. Kedua, keputusan pencegahan dalam rangka penagihan pajak.
3. Ketiga, keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan, selain yang
ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26 UU No.16/2009.
4. Keempat, penerbitan surat ketetapan pajak atau surat keputusan keberatan yang dalam
penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang telah diatur dalam peraturan.

Syarat dan ketentuan mengajukan permohonan gugatan adalah sebagai berikut:


Dalam mengajukan permohonan gugatan, wajib pajak harus menyusun surat gugatan berdasarkan
syarat dan ketentuan yang tertuang dalam peraturan yang berlaku. Adapun syarat dan ketentuan
pengajuan gugatan diatur dalam Pasal 40 UU. 14/2002.
1. Pertama, gugatan diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia kepada Pengadilan Pajak.
2. Kedua, jangka waktu untuk mengajukan gugatan terhadap pelaksanaan penagihan pajak ialah 14
hari sejak tanggal pelaksanaan penagihan.
3. Ketiga, jangka waktu untuk mengajukan gugatan terhadap keputusan selain gugatan adalah 30 hari
sejak tanggal diterima keputusan yang digugat. Namun, jika batas waktu tidak dapat dipenuhi
penggugat karena keadaan di luar kekuasaannya (force majeur) maka jangka waktu yang dimaksud
dapat dipertimbangkan untuk diperpanjang oleh majelis atau hakim tunggal.

Perpanjangan waktu diberikan selama 14 hari terhitung sejak berakhirnya keadaan di luar kekuasaan
penggugat. Keempat, terhadap satu pelaksanaan penagihan atau satu keputusan hanya dapat diajukan
satu surat gugatan.
Permohonan gugatan dapat diajukan oleh penggugat, ahli warisnya, seorang pengurus, atau kuasa
hukumnya dengan disertai alasan-alasan yang jelas. Selain itu, dalam gugatan juga dicantumkan
tanggal diterima, pelaksanaan penagihan, atau keputusan yang digugat dan dilampiri salinan dokumen
yang digugat.
Jika selama proses gugatan, penggugat meninggal dunia, gugatan dapat dilanjutkan oleh ahli waris,
kuasa hukum ahli waris, atau pengampunya dalam hak penggugat pailit. Lebih lanjut, dalam hal
penggugat melakukan penggabungan, peleburan, pemecahan atau pemekaran usaha, atau likuidasi,
permohonan gugatan juga dapat dilanjutkan oleh pihak yang menerima pertanggungjawabannya.
Terhadap permohonan gugatan dapat dicabut dengan mengajukan surat pernyataan pencabutan
kepada pengadilan pajak. Pencabutan tersebut dapat dilakukan sepanjang belum adanya pemeriksaan
atau sedang dilakukan pemeriksaan.

Selanjutnya, gugatan tersebut akan dihapus dari daftar sengketa dengan dua acara yaitu antara lain:
1. Pertama, menggunakan penetapan ketua dalam hal surat pernyataan pencabutan diajukan sebelum
sidang.
2. Kedua, pencabutan dapat menggunakan putusan majelis atau hakim tunggal melalui pemeriksaan
dalam hal surat pernyataan pencabutan diajukan setelah sidang atas persetujuan tergugat. Gugatan
yang sudah dicabut tidak dapat diajukan kembali.

Perlu dipahami bahwa pengajuan gugatan tidak menunda atau menghalangi dilaksanakannya
penagihan pajak dan kewajiban perpajakan penggugat. Akan tetapi, penggugat dapat mengajukan
permohonan agar pelaksanaan penagihan pajak ditunda selama pemeriksaan sengketa pajak sedang
berjalan. Penundaan diberikan sampai ada putusan pengadilan pajak yang mengikat.
Permohonan penundaan pelaksanaan penagihan dapat diajukan sekaligus dalam gugatan. Selanjutnya,
permohonan penundaan akan diputus terlebih dahulu dari pokok sengketanya melalui putusan sela.
Permohonan penundaan tersebut dikabulkan jika terdapat keadaan yang sangat mendesak sehingga
menyebabkan penggugat dirugikan jika pelaksanaan penagihan tetap berlangsung.

Dasar hukum:
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak

Referensi:
Bahan Ajar Pajak Penghasilan II Universitas Terbuka
http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_14_02.htm