Anda di halaman 1dari 6

Rai Galih Muta’ali 1208010163 AP-2D

PERADABAN ISLAM MASA KHULAFAURRASYIDIN

Perkembangan Islam pada Zaman Nabi Muhammad SAW dan para sahabat
merupakan masa keemasan Islam, hal itu bisa terlihat bagaimana kemurnian Islam itu sendiri
dengan adanya pelaku dan aktor/faktor utamanya yaitu Rasulullah, kemudian pada zaman
selanjutnya yaitu pada zaman sahabat yang membawa misi peradaban yang lebih baik.
Peradaban merupakan konotasi positif pada diri manusia yang berkembang secara sadar
menjadi manusia yang ideal. Istilah peradaban sering digunakan untuk menunjukkan
pendapat serta penilaian terhadap perkembangan kebudayaan yang pada masanya mencapai
puncak kejayaan. Pada setiap kepemimpinan Islam tentunya memiliki kemajuan-kemajuan
(peradaban) yang berbeda dan punya ide dan gagasan yang berbeda serta kebijakan-kebijakan
yang berbeda pula baik itu sebelumnya atau sesudahnya. Karena karakter dan sikap setiap
pemimpin menentukan sebuah wilayah.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW status sebagai Rasulullahtidak dapat diganti
oleh siapapun (khatami al-anbiya’ wa al-mursalin),tetapi kedudukan beliau yang kedua
sebagai pimpinan kaum musliminmesti segera ada gantinya. Orang itulah yang dinamakan
“Khalifah”artinya yang menggantikan Nabi menjadi kepala kaum Muslimin (pimpinan
komunitas Islam) dalam memberikan petunjuk ke jalan yang benar dan melestarikan hukum-
hukum Agama Islam. Dialah yang menegakkan keadilan yang selalu berdiri di atas
kebenaran.

Pemerintahan dan Metode Dakwah Masing-Masing Khalifah


Tokoh-tokoh yang terkenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin antara lain ialah Abu
Bakar ash-Shidiq (573-634 M, menjadi Khalifah 632-634 M), Umar bin Khattab (586-590 M,
menjadi khalifah 634-644 M), Utsman bin Affan (644-655 M), dan Ali bin Abi Tholib (655-
661 M).

A. Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H/632-634 M)


Khalifah pertama sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah Abu Bakar as
Shiddiq. Nama aslinya adalah Abdullah bin Abi Ghufah. Dipanggil Abu Bakar yang berarti
ayah dari seorang gadis, karena memang Abu Bakar mempunyai anak gadis yang bernama
Aisyah yang kemudian menjadi istri Rasulullah SAW.
Dia termasuk Assabiqunal awwalun yaitu orang yang mula-mula masuk agama
Islam. Mendapat julukan as Shiddiq karena dialah yang selalu membenarkan apa yang ada
pada diri Rasulullah SAW. Diantara para sahabat Nabi, dialah yang tertua dan yang paling
dekat hubungannya dengan Nabi. Dialah yang menemani Nabi saat berhijrah dari Mekkah
menuju Madinah. Usianya 3 tahun lebih muda daripada Nabi.
Melihat kedekatan hubungan dengan Nabi tersebut, maka para sahabat baik sahabat
Muhajirin (orang yang ikut hijrah bersama Nabi atau penduduk asli Mekkah) dan sahabat
Anshor (penolong / penduduk asli Madinah) semuanya sepakat untuk mengangkat Abu Bakar
sebagai khalifah yang pertama.
Pada masa pemerintahannya, usaha-usaha yang telah dilakukannya, yaitu:
a) Menghadapi para pemberontak yang terdiri atas orang-orang yang murtad (keluar dari
agama Islam) serta orang-orang yang enggan membayar zakat.
b) Menghadapi orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi (nabi palsu), seperti
Musailamah Al-Kadzab, Al-Aswad, Tulaihah dan Sajjah Tamamiyah.
Rai Galih Muta’ali 1208010163 AP-2D

c) Mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an mennjadi satu kumpulan, mengingat banyak


para sahabat penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam peperangan menghadapi orang-
orang yang murtad.
Abu Bakar hanya memimpin selama 2 tahun, karena pada tahun 13 H Abu Bakar
meninggal dunia karena sakit yang dideritanya dalam usia 63 tahun dan dikubur di samping
makam Rasulullah.
Pola pendidikan pada masa Khulafah Abu Bakar Sidiq tidak jauh berbeda dengan
masa nabi yang menekan pada pengajaran baca tulis dan ajaran ajaran Islam yang bersumber
pada Alquran dan Hadist Nabi. Kurikulum yang di gunakan pada zaman Abu Bakar, selain
berisi materi pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan, isi Al-Qur’an, Al-
Hadits, hukum islam, kemasyarakatan, ketatanegaraan, pertahanan, keamanan, dan
kesejahteraan. Peserta didiknya di zaman Khalifaurrasyidin terdiri dari masyarakat yang
tinggal di Mekkah dan Madinah.Yang menjadi pendidik di zaman khulafaurrasyidin antara
lain adalah Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Ibn Abbas, Siti Aisyah, Anas bin Malik, Zaid
bin Tsabit, Abu Dzar Al-Ghifari. Adapun metode yang di gunakan dalam mengajar selain
dengan bentuk halaqah, dan lembaga pendidikannya yaitu di mesjid, suffah, kuttab dan
rumah.

B. Umar Bin Khatthab (13-23 H/634-644 M)


Umar bin Khatab adalah keturunan Quraisy dari suku Bani Adiy. Suku Bani Ady
terkenal sebagai suku yang terpandang mulia dan berkedudukan tinggi pada masa Jahiliah.
Umar bekerja sebagai saudagar, juga sebagai duta penghubung ketika terjadi suatu masalah
antara kaumnya dengan suku Arab lain. Sebelum masuk Islam beliau adalah orang yang
paling keras menentang Islam, tetapi setelah beliau masuk Islam dia pulalah yang paling
depan dalam membela Islam tanpa rasa takut dan gentar.
Pengangkatan Umar sebagai khalifah sangat lancar tanpa ada pertentangan di
kalangan kaum muslimin. Hal tersebut terjadi karena menjelang ajal, Abu Bakar telah
mengajukan Umar bin Khattab sebagai pemimpin kaum muslimin untuk penggantinya. Di
antara sahabat yang dimintai pertimbangan adalah Usman binAffan, Ali bin Abi Thalib,
Abdurahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah dan Usaid bin Kundur. dan Meskipun peristiwa
diangkatnya Umar sebagai khalifah itu merupakan fenomena yang baru, tetapi haruslah
dicatat bahwa proses peralihan kepemimpinan tetap dalam bentuk musyawarah, yaitu berupa
usulan atau rekomendasi dari Abu Bakar yang diserahkan kepada persetujuan umat Islam.
Untuk menjajaki pendapat umum, khalifah Abu Bajkar melakukan serangkaian konsultasi
terlebih dahulu dengan beberapa orang sahabat, antara lain ialah Abdurrahman ibn Auf dan
Usman ibn Affan.
Usaha-usaha Khallifah Umar bin Khathab antara lain:
a) Pembagian wilayah kekuasaan islam menjadi beberapa bagian (propinsi) yang masing-
masing propinsi di pimpin oleh seseorang Amirul mukminin. Hal ini mengingat
semakin luasnya daerah kekuasaan Islam.
b) Pembentukan dewan-dewan pemerintahan seperti dewan perbendaharaan negara (Baitul
Maal), dewan peradilan (Qadhil Qudhah), dewan pertahanan dsb.
c) Penetapan tahun Hijriyah yang dimulai penanggalannya dari hijrah nabi dari Mekkah
ke Madinah.
d) Pembemtukan urusan kehakiman dan pembangunan Masjidil Haram, Masjid Nabawi,
Masjid Aqsha, dll.
Rai Galih Muta’ali 1208010163 AP-2D

e) Memperluas daerah kekuasaan Islam dan penyebaran agama Islam ke beberapa daerah
seperti: Damaskus, Mesir, Babilonia dan beberapa bekas jajahan Romawi Timur.

Umar memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/ 634-644 M). Masa jabatannya
berakhir dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang budak dari Persia bernama Abu
Lu’lu’ah. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan abu
Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah
seorang diantaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Usman, Ali, Thalhah,
Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqas, dan Abdurrahman ibn Auf. Setelah Umar wafat, tim ini
bermusyawarah dan berhasil menunjuk Ustman sebagai khalifah, melalui persaingan yang
agak ketat dengan Ali bin Abi Thalib.

C. Utsman Bin Affan (23-36 H/644-656 M)


Di antara Khulafa al-Rasyidin adalah Ustman Ibnu Affan (Khalifah ketiga) yang
memerintah umat Islam paling lama dibandingkan ketiga Khalifah lainnya, yang memerintah
selama 12 tahun. Dalam pemerintahannya, sejarah mencatat telah banyak kemajuan dalam
berbagai aspek yang dicapai untuk umat Islam. Akan tetapi juga tidak sedikit polemik yang
terjadi di akhir pemerintahannya.
Saat diangkat menjadi khalifah Usman telah berusia70 tahun, namun demikian usaha
dan jasa-jasanya selama menjadi khalifah sangat besar sekali bagi umat Islam khususnya
yang menyangkut usaha pembukuan Al quran menjadi satu mushaf.
Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi perbedaan di kalangan umat Islam
mengenai bacaan Al Quran. Melihat kondisi seperti ini, khalifah kemudian membentuk suatu
panitia khusus yang bertugas membukukan Al Quran menjadi satu mushaf yang sama ejaan
maupun bahasanya. Yang termasuk panitia ini adalah Zaid bin Tsabit sebagai ketua dibantu
oleh Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Ash, dan Abdur Rahman bin Haris bin Hisyam.

Perjuangan Dakwah Islam:


a) Usman menjadi Khalifah
Pemerintahan Ustman berlangsung selama 12 tahun. Pada masaawal
pemerintahannya, beliau berhasil memerintahan Islam dengan baik sehingga Islam
mengalami kemajuan dan kemakmuran dengan pesat. Namun pada paruh terakhir masa
kekhalifahannya muncul perasaan tak puas dan kecewa umat Islam terhadapnya. Khalifah
Ustman adalah pemimpin yang sangat sederhana, berhati lembut dan sangat shaleh, sehingga
kepemimpinan beliau dimanfaatkan oleh sanak saudaranya dari keluarga besar Bani Umayah
untuk menjadi pemimpin di daerah-daerah. Oleh karena itu, orang-orang menuduh Khalifah
Ustman melakukan nepotisme, dengan mengatakan bahwa beliau menguntungkan sanak
saudaranya, Bani Umayyah, dengan jabatan tinggi dan kekayaannya. Mereka juga menuduh
pejabat-pejabat Umayyah suka menindas dan menyalahkan gunakan harta baitul maal. Di
samping itu Khalifah Utsman dituduh sebagai orang yang boros mengeluarkan belanja, dan
kebanyakan diberikan kepada kaum kerabatnya sehingga hampir semuanya menjadi orang
kaya.

b) Perluasan Wilayah Islam


Pada masa ini islam berhasil tersebar hampir ke seluruh belahan dunia mulai dari
Anatolia, dan Asia kecil, Afganistan, Samarkand, Tashkent, Turkmenistan, Khurasan dan
Thabrani Timur hingga Timur Laut seperti Libya, Aljazair, Tunisia, Maroko dan Ethiopia.
Rai Galih Muta’ali 1208010163 AP-2D

Maka islam lebih luas wilayahnya jika dibandingkan dengan Imperium sebelumnya yakni
Romawi dan Persia karena islam telah menguasai hampir sebagian besar daratan Asia dan
Afrika. Serta melakukan Perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi karena semakin ramai
umat Islam yang menjalankan Rukun Haji

c) Pembentukan Armada Laut Islam Pertama


Ide atau gagasan untuk membuat sebuah armada laut islam sebenarnya telah ada sejak
masa kekhalifahan Umar Ibn khattab namun beliau menolaknya lantaran khawatir akan
membebani kaum muslimin pada saat itu. Setelah kekhalifahan berpindah tangan pada
Utsman maka gagasan itu diangkat kembali kepermukaan dan berhasil menjadi kesepakatan
bahwa kaum muslimin memang harus ada yang mengarungi lautan meskipn sang khalifah
mengajukan syarat untuk tidak memaksa seorangpun kecuali dengan sukarela. Berkat armada
laut ini wilayah islam bertambah luas setelah menaklukkan pulau Cyprus meski harus
melewati peperangan yang melelahkan.

d) Kodifikasi Alquran
Masa penyusunan Al – qur’an memang telah ada pada masa Khalifah Abu Bakar atas
usulan Umar bin Khaththab yang kemudian disimpan ditangan istri Nabi Hafsah binti Umar.
Berdasar pertimbangan bahwa banyak dari para penghafal Al-Qur’an yang gugur usai
peperangan Yamamah. Kini setelah Ustman memegang tonggak kepemimpinan dan
bertambah luas pula wilayah kekuasaan Islam maka banyak ditemukan perbedaan lahjah dan
bacaan terhadap Al-Qur’an. Inilah yang mendorong beliau untuk menyusun kembali Al-
Qur’an yang ada pada Hafsah dan menyeragamkannya kedalam bahasa Quraisy agar tidak
terjadi perselisihan antara umat dikemudian hari. Seperti halnya kitab suci umat lain yang
selalu berbeda antar sekte yang satu dengan yang lainnya. Maka diutuslah beberapa orang
kepercayaannya untuk menyebarkan Al-Qur’an hasil kodifikasinya ke beberapa daerah
penting antara lain Makkah, Syiria. Kuffah, Syam, Bashrah dan Yaman. Kemudian Beliau
menginstruksikan untuk membakar seluruh mushaf yang lain dan berpatokan pada mushaf
yang baru yang diberi nama Mushaf Al-Iman..

D. Ali Bin Abi Thalib (36-41 H/656-661 H)


Ali bin Abu Thalib adalah anak dari paman Nabi Muhammad SAW yang bernama
Abu Thalib. Sejak kecil telah bergaul dengan Rasulullah SAW karena Nabi juga diasuh oleh
Abu Thalib. Setelah Nabi Muhammad SAW berkeluarga, maka Ali ikut dengan Nabi
Muhammad SAW.
Proses pengangkatan Ali sebagai khalifah melalui musyawarah di kalangan umat
Islam, namun demikian keadaan umat Islam pada waktu itu sudah mengalami perpecahan
yang hebat. Banyak bermunculan golongan-golongan yang disebabkan oleh perbedaan
pandangan mereka dalam hal kepemimpinan umat Islam.
Banyak peperangan yang terjadi ketika masa pemerintahan khalifah Ali, dan yang
terpenting adalah Perang Jamal dan Perang Shiffin.
a) Perang Jamal
Dinamakan peperangan Jamal (unta) karena Siti Aisyah, istri Rasulullah SAW dan
puteri Abu Bakar as Shiddiq ikut dalam peperangan ini dengan mengendarai unta. Ikut
campurnya Aisyah memerangi Ali terpandang sebagai hal yang luar biasa sehingga orang
Rai Galih Muta’ali 1208010163 AP-2D

menghubungkan peperangan ini dengan Aisyah dan untanya, walaupun peranan yang
dipegang Aisyah tidak begitu besar.
Sesungguhnya peperangan ini adalah peperangan yang pertama kali terjadi antara dua
laskar dari kaum Muslimin, di mana seorang Muslim menghadapi seorang Muslim dengan
amarahnya hendak menumpahkan darah saudaranya seagama.
Peperangan Jamal terjadi karena keinginan dan nafsu perseorangan yang timbul pada
diri Abdullah bin Zubair dan Thalhah serta perasaan benci Aisyah terhadap Ali. Dosa
Thalhah agak ringan dibanding dosa Abdullah karena Thalhah tidak sampai mempengaruhi
kaum Muslimin. Dan tak ada pengaruhnya terhadap Aisyah yang dapat mendorong Aisyah
agar mempengaruhi kaum Muslimin dengan menggunakan kedudukannya sebagai Ummul
Mukminin.
Akan tetapi, Abdullah bin Zubair sangat bernafsu untuk menduduki
kursi khalifah dan berupaya dengan sungguh-sungguh menghasut Aisyah menghidupkan api
peperangan agar keinginannya menduduki kursi khalifah dapat tercapai.
Ali disalahkan karena dia dipandang tidak dapat menguasai laskarnya
seluruhnya. Ketika ada usahanya hendak mencari perdamaian, diantara pengikut-pengikutnya
ada yang membuat komplotan untuk menyalakan api peperangan. Andai kata beliau
berwibawa penuh terhadap laskarnya, mungkin peperangan dapat dihindarkan. Yang
memikul tanggung jawab atas terjadinya peperangan Jamal yang telah menelan korban
puluhan ribu umat manusia adalah Abdullah bin Zubair dan Aisyah.

b) Perang Shiffin
Peperangan Shiffin adalah peeprangan antara khalifah Ali dan Mu’awiyah. Ali dan
pengikut-pengikutnya mulanya mengira bahwa peperangan yang pertama dan itu pun akan
merupakan peperangan penghabisan haruslah untuk menundukkan Mu’awiyah bin Abu
Sufyan yang didukung penduduk Syam.
Mu’awiyah adalah anak Abu Sufyan (paman Usman) pemuka Bani Umayah yang
amat disegani dan dipatuhi oleh laskarnya. Thalhah dan Zubair sebelumnya tidak dipandang
musuh oleh Ali, terlebih sesudah keduanya memberikan bai’ah dan sumpah setianya kepada
Ali. Begitu pula tidak seorang pun menyangka bahwa kebencian Aisyah terhadap Ali akan
sampai sedemikian rupa sehingga Aisyah menceburkan diri ke dalam peperangan memimpin
bala tentara melawan Ali.
Peperangan Jamal mengakibatkan gugurnya ribuan tentara Ali. Sementara itu,
Mu’awiyah memperkuat laskarnya dengan membagi-bagi uang kepada mereka dan
pengikutnya sehingga ikatan kesatuan mereka menjadi kuat.
Pertempuran terjadi antara kedua laskar beberapa hari lamanya. Ali dengan
keberanian pribadinya dapat membangkitkan semangat dan kekuatan laskarnya, sehingga
kemenangan sudah membayang baginya. Ahli-ahli sejarah yang mempelajari sejarah
kehidupan Ali di bidang kemiliteran menemukan bahwa dalam setiap pertempuaran Ali
selalu menang. Menang dalam peperangan Jamal, Shiffin dan beberapa peperangan dengan
Khawarij. Akan tetapi, beliau kalah dalam diplomasi dan tak dapat mengelak dari tipu daya.
Ketika akhir hayat khalifah Usman bin Affan menghadapi berbagai kelompok
pemberontak, maka demikian pula dengan keadaan yang dialami oleh khalifah Ali bin Abu
Thalib. Oleh karena itu, pada masa pemerintahannya Ali lebih banyak menghadapi para
pemberontak ini terutama pemberontakan yang dilakukan oleh gubernur Mesir yang
bernama Muawiyah bin Abu Sufyan.
Rai Galih Muta’ali 1208010163 AP-2D

Hampir seluruh masa pemerintahannya habis untuk menghadapi para pemberontak,


sehingga usaha dan jasa-jasa khalifah Ali tidak begitu banyak diketahui. Khalifah Ali
meninggal dunia karena dibunuh oleh salah seorang golongan Khawarij yang bernama Ibnu
Muljam pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.
Dengan wafatnya khalifah Ali, maka masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin telah
selesai karena sesudah itu pemerintahan Islam dipegang oleh khalifah Muawiyah bin Abu
Sufyan secara turun-temurun, sehingga disebut Daulat / Bani Umayyah.

Anda mungkin juga menyukai