Anda di halaman 1dari 10

Nama : Dwi Cahyo Prasetyo

Nim : 041076887
Jurusan Administrasi Negara
Tugas 2

1. Buatlah artikel mengenai menerapkan prinsip keadilan dalam praktek pengelolaan


pemerintahan menyangkut keadilan dalam promosi pegawai, keadailan dalam
penilaian pegawai dan keadilan dalam sistem remunerasi.

2. Uraikan secara singkat (2-3 halaman, 1.5 spasi) mengenai permasalahan penerapan
nilai-nilai keadilan yang terjadi di pemerintahan saat ini.

3. Seandainya Saudara menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), apa langkah yang akan
Saudara lakukan dalam rangka menegakkan ajaran keadilan di organisasi
pemerintahan.

Jawaban

1. Buatlah artikel mengenai menerapkan prinsip keadilan dalam praktek pengelolaan


pemerintahan menyangkut keadilan dalam promosi pegawai, keadailan dalam
penilaian pegawai dan keadilan dalam sistem remunerasi.

Penerapkan Prinsip Keadilan Dalam Praktek Pengelolaan


Pemerintahan Menyangkut Keadilan Dalam Promosi
Pegawai, Keadailan Dalam Penilaian Pegawai Dan Keadilan
Dalam Sistem Remunerasi

Definis Keadilan
Keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan
kepada setiap orang apa yang semestinya. Konsepsi keadilan sebagai kategori
pemikiran dan entitas yaitu ide, nilai atau kebaikan. Keadilan merupakan suatu
nilai yangs angat luhur, Pada perserikatan manusia yang disebut negara
dengan mekanisme pemerintahan yang mengatur dan mengurus kehidupan
bersama dari sutu bangsa, keadilan merupakan faktor utama bagi terwujudnya
ketertiban umum dan kesejahteraan bersama. Tanpa keadilan sebagai suatu
nilai sangat luhur yang dijunjung tinggi oleh seluruh aparatur negara dan
segenap warga negara maka hanya akan terlaksana suatu pemerintahan yang
mengandung kezaliman dan pertentangan. Dalam suatu kehidupan negara,
keadilan merupakan nilai sangat luhur bagi terwujudnya ketertiban, bangsa
yang bersatu dan kehidupan yang aman, damai dan tenteram. Oleh karenanya
pemerintah wajib menyelenggarakan pengaturan dan pengurusan kehidupan
masyarakat secara adil sehingga terselenggara pemerintahan yang adil.

Keadilan merupakan kebajikan moral yang utama, yang pokok atau


yang terpenting untuk diperkembangkan pada para administrator pemerintahan
sehingga setiap administrator dari kedudukan yang terendah sampai jabatan
yang tertinggi dapat terbina jiwa keadilan dalam budi pikiran, hasrat kemauan,
dan hati sanubarinya secara kokoh. Tanpa jiwa keadilan sebagai landasannya
dan berbagai kebajikan moral lainnya sebagai pedoman, seseorang
administrator pemerintah mudah sekali tergoda oleh kekuasaan jabatannya dan
terjerumus dalam berbagai keburukan. Kebajikan merupakan ganjarannya itu
sendiri karena bilamana dimilki seseorang merupakan sebuah pahala sendiri
bagi diri pribadinya dan sekaligus juga meupakan sutu kesenangan sejati.

Sebuah Negara yang baik dengan pemerintahnya yang bijak harus


memiliki suatu tujuan untuk mengembangkan kebajikan-kebajikan moral pada
segenap administrator pemerintahannya. Setiap administrator pemerintahan
wajib mengembangkan diri sehingga menjadi seseorang yang mempunyai
berbagai kebajikan moral, terutama keadilan. Pengembangan diri menjadi
orang yang adil tergolong sebagai pengembangan watak yang sangat penting
untuk memajukan moral. Setiap administrator pemerintah yang adil wajib
melakukan pula tindakan yang adil dalam pelaksanaan tugasnya. ciri-ciri dari
suatu tindakan yang adil antara lain memperlakukan semua orang secara sma,
memberikan perlakuan yang layak, memperbaiki kesalahan yang terjadi dan
menerapkan ajaran-ajaran keadilan yang telah berkembang dalam kehidupan
masyarakat

Keadilan dalam promosi pegawai dalam pemerintahan


Promosi berasal dari promotion yang berarti peningkatan. Promosi
merupakan salah satu bagian dari upaya pembinaan karir pegawai. Promosi,
menurut Nitisemito (1982: 134) adalah kegiatan pemindahan karyawan dari
satu jabatan kejabatan lain yang lebih tinggi. Promosi akan selalu diikuti oleh
tugas, tanggungjawab dan wewenang yang lebih tinggi dari jabatan yang
diduduki sebelumnya. Pada umumnya promosi juga diikuti dengan
peningkatan income serta fasilitas yang lain. Promosi mempunyai nilai karena
promosi merupakan bukti pengakuan terhadap prestasinya, disamping
pertimbangan-pertimbangan yang lain meskipun mungkin pimpinan
menganggap prestasi yang ada belum memuaskannya. Setiap pegawai
mendambakan promosi karena dipandang sebagai penghargaan atas
keberhasilan seseorang, ini menunjukan prestasi kerja yang tinggi dalam
menunaikan kewajiban pekerjaan dan jabatan yang dipangkunya sekarang,
tidak hanya itu, hal ini sekaligus sebagai pengakuan atas kemampuan dan
potensi yang bersangkutan untuk menduduki posisi yang lebih tinggi dalam
organisasi.

Jabatan di pemerintahan memiliki fungsi strategis untuk mensinergikan


kebijakan dengan tujuan organisasi. Implikasinya adalah penguatan terhadap
pola pengisian jabatan yang didasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan
kinerja tertentu yang sesuai dengan tingkatan dalam jabatan. Secara normatif,
pengisian jabatan berkorelasi dengan metode promosi jabatan yang menurut
UU-ASN terklasifikasi dalam 2 (dua) cara yaitu metode seleksi terbuka dan
kompetetif serta metode seleksi berdasarkan pertimbangan dari tim penilaian
kinerja PNS. Upaya pemerintah menata aparatur negara dengan mengeluarkan
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (UU
Kepegawaian), yang saat ini telah dicabut dengan Undang-Undang Nomor 5
Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UUASN).
Sejak diberlakukannya UU-ASN, pemerintah banyak berupaya
melakukan pembenahan terhadap perilaku administratif dan organisasi pada
jabatan di level puncak, level menengah, maupun level pelaksana. Secara
empiris, perilaku administratif dan organisasi dominan dipengaruhi oleh
pejabat yang mengampu jabatan. Jabatan dalam konteks pemerintahan akan
berkorelasi dengan kewenangan. Adapun kewenangan akan melegitimasi
kekuasaan yang luarannya adalah kepentingan untuk merekayasa organisasi
agar selaras dengan sasarannya. Atas dasar itulah, jabatan menjadi sangat
strategis untuk mencapai tujuan organisasi, melanggengkan kekuasaan dan
karenanya sarat akan kepentingan. Media untuk mendapatkan jabatan dalam
pemerintah melalui mekanisme promosi sebagaimana diatur dalam UU-ASN.

Berdasarkan UU Kepegawaian tersebut titik pokok persoalan dalam


promosi adalah harapan dan kepentingan pemerintah untuk meningkatkan
kualitas PNS yang sejalan dengan tata kelola pemerintahan yang baik.
Sejatinya, kepentingan pembenahan ini bersifat ke dalam (internal organisasi)
sehingga dapat menata dan mengembangkan pola perilaku dan organisasi yang
sejalan dengan tujuannya. Karena itu, konsepk eadilan dalam promosi
sepatutnya difokuskan pada manajemen PNS, bukan pada sistem promosinya.
Mencermati esensinya, maka manajemen PNS lebih ditekankan pada norma,
standar, dan prosedur. Perbaikannya dilakukan dengan cara Pertama,
pemantapan sistem manajemen. Peran PNS lebih difokuskan sebagai agen
pembaharuan, sebagai motivator dan fasilitator untuk peningkatan kualitas
pelayanan; Kedua, peningkatan profesionalisme SDM Aparatur yang
ditunjang dengan integritas yang tinggi dan berorientasi pada komitmen,
tanggung jawab dan memaksimalkan efisiensi, kualitas, dan produktivitas.
Dalam rangka penguatan sistem promosi jabatan berbasis keadilan, perlu
dilakukan inovasi berupa Pertama, penguatan aspek perencanaan dalam
rangka pengembangan karier berdasarkan pola karier nasional; Kedua,
penguatan pola management talent berdasarkan basis data kepegawaian,
sehingga dapat memetakan SDM Aparatur berdasarkan formasi dan
kompetensi; Ketiga, menciptakan standar pelatihan dan terukur, dengan
didasarkan pada penilaian secara berkala dan berkesinambungan
Keadilan Dalam Penilaian Pegawai

Penilaian kerja merupakan suatu proses organisasi dalam melihat


kinerja pegawainya. Tujuannya adalah memberikan masukan kepada pegawai
dalam usaha memperbaiki kinerjanya dan produktivitas organisasi. Oleh
karena itu, penilaian kerja tidak hanya menilai tetapi juga memperbaiki
kinerja. Dalam rangka mencapai tujuan administrasi, khususnya yang
berkenaan dengan tujuan untuk memiliki sejumlah pegawai yang memenuhi
syarat hingga dapat dipergunakan secara efisien untuk membantu pimpinan
dalam penyelanggaraan misi organisasi serta untuk membantu setiap pegawai
dalam meningkatkan kemampuannya baik dalam bidang pengetahuan umum
maupun kemahiran teknis menurut bidang tugasnya, diperlukan suatu alat
yang dapat memberikan informasi mengenai nilai hasil kerja seorang pegawai.
Alat penilaian ini dipergunakan sebagai bahan untuk menjamin objektivitas
dalam pembinaan pegawai. Alat penilaian ini mengandung beberapa aspek
atau unsur pekerjaan yang dinilai untuk mengetahui kinerja dari setiap
pegawai negeri sipil. Hasil penilaian dari beberapa unsur ini dituangkan dalam
suatu daftar penilaian yang disebut Daftar Penilaian Pelakasanaan Pekerjaan
(DP3), DP3 ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembinaan
pegawai negeri sipil. DP3 memberikan informasi secara berkeseinambungtan
tentang kinerja dan kecenderungannya untuk setiap periode tertentu. (setiap
tahun).

Penilaian pelaksanaan pekerjaan pegawai negeri sipil adalah penilaian


secara periodik pelaksanaannya pekerjaan seorang pegawai negeri sipil.
Tujuan penilaian kinerja adalah mengetahui keberhasilan atau
ketidakberhasilan seorang pegawai negeri sipil dan mengetahui kekurangan-
kekurangan dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh pegawai negeri sipil
uyang bersangkutan dalam melaksanakan tugasnya. Hasil penilaian kinerja
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembinaan pegawai negeri sipil
antara lain adalah pengangkatan, kenaikan pangkat, pengangkatan dalam
jabatan, pendidikan dan pelatihan, serta pemberian penghargaan. Penilaian
keinerja pegawai negeri sipil dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 10 Tahun 1979 Tentang Peniliaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai
Negeri Sipil. Dalam peraturan tersebut ditegaskan bahwa sebagai usaha untuk
menjamin objektivitas dalam pembinaan pegawai negeri sipil berdasarkan
sistem karir dan sistem prestasi kerja, diadakan suatu sistem penilaian atas
pelaksanaan pekerjaan tiaptiap pegawai negeri sipil

Keadilan Dalam Sistem Remunerasi


Menurut Sikula (1981), remunerasi diartikan sebagai berikut. A
remuneration is reward payment or reimbursement for services rendered.
Remunerasi dimaksudkan sebagai suatu hadiah pembayaran, atau balas jasa
untuk jasa yang diberikan. Arti harfiah remunerasi adalah payment atau
penggajian. Arti lain adalah uang ataupun substitusi dari uang yang ditetapkan
dengan peraturan tertentu sebagai imbal balik suatu pekerjaan dan bersifat
rutin, tidak termasuk lembur dan honor. Hal ini dilaksanakan guna mendorong
sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, memelihara SDM yang
produktif sehingga tidak pindah ke sektor swasta, membentuk perilaku yang
berorientasi pada pelayanan, serta mengurangi korupsi, kolusi dan nepotisme
(KKN). Menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah pemberian hadiah
(penghargaan atas jasa dan sebagainya); imbalan. Remunerasi dapat pula
didefinisikan sebagai imbalan atau balas jasa yang diberikan organisasi kepada
tenaga kerja sebagai akibat dari prestasi yang telah diberikannya dalam rangka
mencapai tujuan organisasi.

Remunerasi merupakan salah satu fungsi manajemen sumber daya


manusia yang berkaitan dengan masalah penghargaan finansial yang diterima
karyawan sebagai ganti dari pelaksanaan tugas organisasional. Dengan kata
lain, remunerasi pada dasarnya merupakan suatu hubungan tukar-menukar
antara karyawan dan organisasi. Karyawan menukar tenaganya dengan
penghargaan finansial yang disediakan oleh organisasi. Pada instansi
pemerintah, keadilan dalam sistem remunerasi merupakan amanah Undang-
Undang Nomor 43 Tahun 1999. Dengan diterapkannya sistem remunerasi
yang berkeadilan diharapkan pegawai negeri termotivasi untuk bekerja lebih
baik. Selama ini dalam menentukan besarnya gaji, pemerintah telah
memasukkan aspek beban kerja dan tanggung jawab, meskipun dalam
prakteknya aspek kepangkatan dan senioritas masih menjadi komponen utama
dalam penetapan besarnya remunerasi.

Oleh karena itu, ketika semangat reformasi sampai pada sistem


remunerasi, maka pemerintah membuat kebijakan baru dengan memasukkan
aspek tunjangan kinerja dalam komponen remunerasi. Tunjangan kinerja
adalah bentuk insentif yang diberikan kepada pegawai berdasarkan pada
capaian kinerja pegawai yang bersangkutan. Dengan adanya unsur tunjangan
kinerja dalam komponen remunerasi diharapkan sistem remunerasi pegawai
negeri menjadi lebih adil. Dan dengan adanya keadilan dalam remunerasi
diharapkan dapat mencegah kesenjangan kesejahteraan, baik antar Pegawai
Negeri maupun antara Pegawai Negeri dengan pegawai swasta. Secara
sederhana konsep keadilan dalam sistem remunerasi adalah ketika organisasi
mengaitkan nilai input dari suatu pekerjaan atau jabatan dengan besarnya
remunerasi. Artinya, semakin tinggi input maka akan semakin tinggi pula
remunerasi (output). Input suatu jabatan ditunjukkan dari persyaratan suatu
jabatan. Semakin tinggi persyaratan suatu jabatan, maka semakin tinggi pula
harga suatu jabatan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa untuk
menentukan keadilan dalam remunerasi dapat dicapai melalui pembandingan
antara jabatan yang satu dengan jabatan yang lain dalam organisasi yang sama.
Kegiatan membandingkan antara jabatan yang satu dengan jabatan yang lain
dalam suatu organisasi yang sama disebut evaluasi jabatan.

2. Sebuah negara dan pemerintah yang baik harus melaksanakan tujuan


mengembangkan kebajikan-kebajikan moral pada para petugasnya. orang yang adil
menurut plato adalah seorang yang bagian-bagian dari jiwanya yakni akal, emosi dam
hasrat secara selaras menjalankan fungsinya masing-masing dengan dikendalikan oleh
akal. ciri-ciri dari orang yang adil menurut beberapa cendikiawan pemikir ialah
memiliki keutuhan watak, asasasas hidup yang ajek, watak yang tulus dan
berkeinginan menjadi adil. Ciri-ciri dari suatu tindakan yang adil antara lain
memperlakukan semua orang secara sama, memberikan perlakuan yang layak,
memperbaiki kesalahan yang terjadi dan menerapkan ajaran-ajaran keadilan yang
telah berkembang dalam kehidupan masyarakat.

Cita-cita nasional bangsa Indonesia adalah untuk menciptakan masyarakat


yang adil dan makmur. Walaupun cita-cita tersebut sudah dicanangkan sejak
Indonesia merdeka, namun pada kenyataanya pencapaiannya masih sangat jauh dari
yang diharapkan. Perjuangan menuju keadilan dan kesejahteraan sosial ternyata
memang masih banyak kendala. Salah satu faktor yang menjadi penghambat
terbentuknya masyarakat yang adil dan makmur tersebut adalah kurang ditegakannya
keadilan disemua lini kehidupan masyarakat dalam bernegara. Karena jika keadilan
ditegakkan dengan baik, maka kesejahteraan dan kemakmuran suatu negara akan
tercipta. Sila kelima, yang seharusnya sudah terimplementasikan dengan baik dalam
kehidupan, justru pada prakteknya, implementasi dari sila tersebut tidak sesuai dengan
kondisi rakyat Indonesia saat ini, dimana masih ada praktek diskriminasi dari para
penguasa.

Sesunguhnya keadilan itu tidak perlu didefenisikan karena keadilan itu adalah
sebuah keputusan sikap, perasaan nurani dari individu atau kelompok, adil bagi pihak
yang lain belum tentu adil bagi pihak lain merasakan rasa (adil) yang sama, adil bagi
penguasa belum tentu adil bagi masyarkat, dan sebaliknya. Maka konsepnya, keadilan
harus dibalut oleh kepastian hukum yang jelas dengan catatan setiap kepastian hukum
(aturan-aturan) harus memenuhi rasa nurani masyarakat yang lebih banyak. Intinya
adalah betul-betul tercipta penegakan hukum bukan penegakan undang-undang.

Contoh ketidakadilan dibidang kesehatan yaitu Buruknya layanan kesehatan


masih menjadi keluhan dikalangan masyarakat yang kurang mampu di Indonesia. Hal
tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek, mulai dari antrean yang panjang, kerumitan
dalam mengurus syarat-syarat administrasi, bahkan tidak jarang yang mendapat
penolakan dari berbagai rumah sakit. Hingga pungutan liar untuk memperoleh
pengobatan gratis juga masih terjadi. Buruknya pelayanan kesehatan yang diterima
rakyat miskin menjadi potret bahwa keadilan belum bisa ditegakkan dengan baik.
Tapi disisi lain, orang kaya atau orang yang mempunyai jabatan/pangkat tinggi justru
mendapatkan pelayanan yang istimewa. Padahal dalam UUD 1945 pasal (28) H ayat
(2) tentang Hak Asasi Manusia menyebutkan bahwa “setiap orang berhak mendapat
kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang
sama guna mencapai persamaan dan keadilan”. Tetapi pada kenyataannya rakyat
miskin masih banyak mendapatkan perlakuan diskriminasi dari pihak rumah sakit.

Diperlukan upaya yang tidak mudah untuk menciptakan masyarakat yang adil
dan sejahtera, paling tidak untuk menciptakan hal tersebut perlu ada kesadaran dari
masingmasing individu untuk merubahnya, jika perubahan itu bisa terlaksana dengan
baik tentunya keadilan itu akan dapat dengan mudah tercipta, baik dalam bidang
hukum, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain-lainnya. Untuk menciptakan
keadilan yang merata seperti yang tercermin dalam Pancasila tepatnya sila kelima,
peran dari pemerintah untuk mengupayakan hal tersebut sangat diperlukan. Agar
implementasi dari sila tersebut dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh
masyarakat dan bukan malah merugikan masyarakat. Sebagai contoh dalam bidang
kesehatan, pemerintah membebaskan biaya kesehatan dan mengutamakan pelayanan
kesehatan terhadap warga yang kurang mampu, meningkatkan akses dan mutu
pelayanan kesehatan bagi warga yang kurang mampu serta meningkatkan partisipasi
dan konsultasi kesehatan terhadap warga yang kurang mampu.

3. Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam rangka menegakan ajaran keadilan
dilingkungan pemerintahan adalah bersikap adil dalam setiap melaksanakan tugas,
memperlakukan semua orang secara sama tanpa pandang bulu tanpa memperhatikan
atasan, rekan sejawat dan bawahan; memberikan perlakuan yang layak; memperbaiki
kesalahan yang terjadi dan menerapkan ajaran-ajaran keadilan yang telah berkembang
dalam kehidupan masyarakat.

Sumber:
BMP ADPU4533 Etika Administrasi Pemerintahan

Anda mungkin juga menyukai