Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

PERAWATAN LUKA

OLEH :

NAMA : ANGGI AINUN NISA

NIM : PO714201171006

PRODI : D.IV KEPERAWATAN

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR

2017/2018
KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT . Shalawat serta salam
semoga tetap tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita Nabi besar
Muhammad SAW sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang
berjudul “Perawatan Luka.”

    Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Saya menyadari bahwa tugas makalah ini jauh dari sempurna. Oleh
karena itu kami sangat mengharap segala bentuk saran dan kritik yang
membangun guna penyempurnaan tugas makalah ini. Sebagai akhir kami
berharap agar tugas makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi kajian bagi
banyak pihak.

Makassar, 10 Desember 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................i

DAFTAR ISI..............................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN
A. LatarBelakang......................................................................................................1

B.Tujuan...................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian luka………………………………..……………………….………………..3

B.Penyebab luka………………………………….………………………………............ 4

C.Klasifikasi luka…………………………………………….……………………………..5

D.Proses penyembuhan luka……………………………………………………………...6

E.Prosedur mengganti verban…………......................................................................7

F.Teknik heatcing dan aff………………………............................................................8

G. Prosedur Memasang verban……………………...……………………………………9

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan...........................................................................................................10

B. Saran……………………………………………………………………………………11

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..................12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Luka merupakan suatu kerusakan integritas kulit yang dapat terjadi ketika kulit terpapar
suhu atau pH, zat kimia, gesekan, trauma tekanan dan radiasi. Respon tubuh terhadap
berbagai cedera dengan proses pemulihan yang kompleks dan dinamis yang menghasilkan
pemulihan anatomi dan fungsi secara terus menerus disebut dengan penyembuhan luka
(Joyce M. Black, 2001). Penyembuhan luka terkait dengan regenerasi sel sampai fungsi organ
tubuh kembali pulih, ditunjukkan dengan tanda-tanda dan respon yang berurutan dimana sel
secara bersama-sama berinteraksi, melakukan tugas dan berfungsi secara normal. Idealnya
luka yang sembuh kembali normal secara struktur anatomi, fungsi dan penampilan.

Metode perawatan luka berkembang cepat dalam 20 tahun terakhir, jika tenaga
kesehatan dan pasiennya memanfaatkan terapi canggih yang sesuai dengan perkembangan,
akan memberikan dasar pemahaman yang lebih besar terhadap pentingnya perawatan luka.
Semua tujuan manajemen luka adalah untuk membuat luka stabil dengan perkembangan
granulasi jaringan yang baik dan suplai darah yang adekuat., hanya cara tersebut yang
membuat penyembuhan luka bisa sempurna.

Untuk memulai perawatan luka, pengkajian awal yang harus dijawab adalah, apakah
luka tersebut bersih, atau ada jaringan nekrotik yang harus dibuang, apakah ada tanda klinik
yang memperlihatkan masalah infeksi, apakah kondisi luka kelihatan kering dan terdapat
resiko kekeringan pada sel, apakah absorpsi atau drainage objektif terhadap obat topical dan
lain-lain.

Terjadinya peradangan pada luka adalah hal alami yang sering kali memproduksi
eksudat; mengatasi eksudat adalah bagian penting dari penanganan luka. Selanjutnya,
mengontrol eksudat juga sangat penting untuk menangani kondisi dasar luka, yang mana
selama ini masih kurang diperhatikan dan kurang diannggap sebagai suatu hal yang penting
bagi perawat, akibatnya bila produksi eksudat tidak dikontrol dapat meningkatkan jumlah
bakteri pada luka, kerusakan kulit, bau pada luka dan pasti akan meningkatkan biaya
perawatan setiap kali mengganti balutan.

B. Tujuan

1. Mengetahui pengertian luka


2. Mengetahui penyebab luka
3. Mengetahui klasifikasi luka
4. Mengetahui proses penyembuhan luka
5. Mengetahui prosedur mengganti verban
6. Mengetahui teknik heatcing dan aff
7. Mengetahui prosedur memasang verban
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Luka
Secara definisi suatu luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena
adanya cedera atau pembedahan yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi tubuh
sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Luka ini bisa diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis, sifat, proses


penyembuhan dan lama penyembuhan. Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan,
dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang. Jenis luka terbagi
atas 2 yaitu :

1. Luka kering adalah luka yang tidak mengeluarkan cairan. Dibersihkan dengan teknik
swabbing, yaitu ditekan dan digosok pelan-pelan menggunakan kasa streril atau atau
kain bersih yang dibasahi dengan air bersih atau NaCl 0,9 %.
2. Luka basah adalah luka yang mengeluarkan cairan. Dibersihkan dengan teknik irrigasi
yaitu disemprot lembut dengan air steril atau NaCl 0,

Beberapa Perbedaan luka basah dan luka kering yaitu :

Luka Kering :

* Metode Konvensional manajemen perawatan luka lama (tertua)

* Tujuanya melindungi luka dari infeksi sekunder, dilakukan pada luka bersih dan kering,
serta untuk meminimalkan makroorganisme.

* Indikasi: untuk luka/insisi yang mempunyai drainase minimal/tidak ada jaringan yang
hilang.

Hal-hal yang terjadi jika menggunakan perawatan luka kering yaitu:

* harus sering ganti balutan

* timbul nyeri ketika balutan diganti

* balutan kadang tidak sesuai dengan kondisi luka

* biaya yang dikeluarkan banyak

Luka Basah :
* Metode Modern (Moist wound healing) à metode yg mempertahankan luka agar tetap
lembab.

* Lebih baik dari pada metode konvensional à dua kali lebih cepat dalam epitelisasi luka

*Dilakukan pada luka bersih yang terkontaminasi dan luka infeksi dengan debridement.

Hal yang terjadi jika menggunakan metode perawatan luka basah/lembab, yaitu:

* balutan tidak perlu diganti setiap hari

* mempercepat proses penyembuhan luka

* Balutan disesuaikan dgn kebutuhan luka

* Efektif dan efisien dalam biaya

B. Penyebab Luka
Penyebab luka antara lain :

1. Luka insisi (Incised wounds),terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam.
Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura
seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi).

2. Luka kontusio ,terjadi akbibat pukulan benda tumpul.

3. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan


dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.

4. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain
yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.

5. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau
pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.

6. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh
kaca atau oleh kawat.

7. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh


biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung
biasanya lukanya akan melebar.

8. Luka Bakar (Combustio)


C. Klasifikasi Luka

Menurut Dorland (2006), luka dibagi 2 jenis, yaitu:

a. Luka tertutup
Luka tertutup merupakan luka dimana korban tetap utuh dan tidak ada kontak
antara jaringan yang ada dibawah dengan dunia luar, kerusakanya diakibatkan oleh
trauma benda tumpul.Luka tertutup dikenal sebagai luka memar yang dapat
digolongkan menjadi dua jenis yaitu :
1. Kontusio , kerusakan jaringan di bawah kulit yang mana dari luar hanya tampak
sebagai benjolan.
2. Hematoma, kerusakan jaringan di bawah kulit disertai pendarahan sehingga dari
luar tampak kebiruan.

b. Luka terbuka
Luka terbuka adalah luka dimana kulit atau jaringan di bawahnya mengalami
kerusakan.penyebab luka ini adalah benda tajam, tembakan, benturan benda keras dan
lain-lain. Macam-macam luka terbuka antara lain yaitu luka lecet (ekskoriasi), luka
gigitan ( vulnus marsum), luka iris/sayat (vulnus scisum), luka bacok (vulnus
caseum), luka robek (vulnus sclipetinum),luka hancur (vulnus lacerum) dan luka
bakar.

Luka iris atau sayat biasanya ditimbulkan oleh irisan benda yang bertepi tajam
seperti pisau, silet, dan sejenisnya. Luka yang timbul biasanya berbentuk memanjang,
tepi luka berbentuk lurus, tetapi jaringan kulit disekitar luka tidak mengalami
kerusakan.
(Dorland, 2006).

D. Proses Penyembuhan Luka


Setiap kejadian luka, mekanisme tubuh akan mengupayakan mengembalikan komponen-
komponen jaringan yang rusak tersebut dengan membentuk struktur baru dan fungsional
sama dengan keadaan sebelumnya. Proses penyembuhan tidak hanya terbatas pada proses
regenerasi yang bersifat lokal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor endogen (seperti:
umur, nutrisi, imunologi, pemakaian obat-obatan, kondisi metabolik).
Pada dasarnya proses penyembuhan ditandai dengan terjadinya proses pemecahan atau
katabolik dan proses pembentukan atau anabolik. Dari penelitian diketahui bahwa proses
anabolik telah dimulai sesaat setelah terjadi perlukaan dan akan terus berlanjut pada keadaan
di mana dominasi proses katabolisme selesai.
Setiap proses penyembuhan luka akan terjadi melalui 3 tahapan yang dinamis, saling
terkait dan berkesinambungan serta tergantung pada tipe/jenis dan derajat luka. Sehubungan
dengan adanya perubahan morfologik, tahapan penyembuhan luka terdiri dari :
1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respons vaskuler dan seluler yang terjadi akibat
perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak dicapai adalah
menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing, sel-sel mati dan
bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan. Pada awal fase ini, kerusakan
pembuluh darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi hemostasis. Platelet
akan menutupi vaskuler yang terbuka (clot) dan juga mengeluarkan substansi
“vasokonstriksi” yang mengakibatkan pembuluh darah kapiler vasokonstriksi, selanjutnya
terjadi penempelan endotel yang yang akan menutup pembuluh darah.
Periode ini hanya berlangsung 5-10 menit, dan setelah itu akan terjadi vasodilatasi
kapiler stimulasi saraf sensoris (local sensoris nerve ending), local reflex action, dan adanya
substansi vasodilator : histamin, serotonin dan sitokin. Histamin selain menyebabkan
vasodilatasi juga mengakibatkan meningkatnya permeabilitas vena, sehingga cairan plasma
darah keluar dari pembuluh darah dan masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi edema
jaringan dan keadaan lokal lingkungan tersebut asidosis.
Eksudasi ini juga mengakibatkan migrasi sel lekosit (terutama netrofil) ke ekstra
vaskuler. Dengan berhasilnya dicapai luka yang bersih, tidak terdapat infeksi atau kuman
serta terbentuknya makrofag dan fibroblas, keadaan ini dapat dipakai sebagai
pedoman/parameter bahwa fase inflamasi ditandai dengan adanya: eritema, hangat pada kulit,
edema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4.

2. Fase Proliferasi
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan
menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat besar pada
proses perbaikan, yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur
protein yang akan digunakan selama proses rekonstruksi jaringan.
Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel fibroblas sangat
jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan penunjang. Sesudah terjadi luka,
fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan
berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin, hyaluronic
acid, fibronectin dan profeoglycans) yang berperan dalam membangun (rekonstruksi)
jaringan baru.

3. Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12
bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru
menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan
jaringan grunalasi, warna kemerahan dari jaringan mulai berkurang karena pembuluh mulai
regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut.
Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah
perlukaan. Sintesa kolagen yang telah dimulai sejak fase proliferasi akan dilanjutkan pada
fase maturasi. Kecuali pembentukan kolagen juga akan terjadi pemecahan kolagen oleh
enzim kolagenase. Kolagen muda (gelatinous collagen) yang terbentuk pada fase proliferasi
akan berubah menjadi kolagen yang lebih matang, yaitu lebih kuat dan struktur yang lebih
baik (proses re-modelling).
E. Prosedur Mengganti Verban

1. Pengertian
  Mengganti balutan atau verban adalah suatu tindakan keperawatan untuk untuk
mencegah infeksi dengan cara mengganti balutan yang kotor dengan balutan yang bersih.

2. Tujuan

(1)   Meningkatkan penyembuhan luka dengan mengabsorbsi cairan dan dapat menjaga
kebersihan luka

(2)   Melindungi luka dari kontaminasi

(3)   Dapat menolong hemostatis ( bila menggunakan elastis verband )

(4)   Membantu menutupnya tepi luka secara sempurna

(5)   Menurunkan pergerakan dan trauma

(6)   Menutupi keadaan luka yang tidak menyenangkan

1. Indikasi
(1)   Pada balutan yang sudah kotor

(2)   Pada penderita yang lukanya akan diperiksa oleh dokter atau akan diberi obat konpres
yang baru.

2. Kontra Indikasi 
(1)   Pembalut dapat menimbulkan situasi gelap, hangat dan lembab sehingga
mikroorganisme dapat hidup

(2)   Pembalut dapat menyebabkan iritasi pada luka melalui gesekan – gesekan pembalut.

3. Persiapan Alat
 (1)   Alat-alat steril

a)      Pinset anatomis 1 buah

b)      Pinset sirugis 1 buah


c)      Gunting bedah/jaringan 1 buah

d)     Kassa kering dalam kom tertutup secukupnya

e)      Kassa desinfektan dalam kom tertutup

f)       sarung tangan 1 pasang

g)      korentang/forcep

 (2)   Alat-alat tidak steril

a)      Gunting verban 1 buah

b)      Plester

c)      Pengalas

d)     Kom kecil 2 buah (bila dibutuhkan)

e)      Nierbeken 2 buah

f)       Kapas alcohol

g)      Aceton/bensin

h)      Sabun cair anti septic

i)        NaCl 9 %

j)        Cairan antiseptic (bila dibutuhkan)

k)      Sarung tangan 1 pasang

l)        Masker
m)    Air hangat (bila dibutuhkan)

n)      Kantong plastic/baskom untuk tempat sampah

4. Pelaksanaan
 (1)   Jelaskan kepada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan

(2)   Dekatkan alat-alat ke pasien

(3)   Pasang sampiran

(4)   Perawat cuci tangan

(5)   Pasang masker dan sarung tangan yang tidak steril

(6)   Atur posisi pasien sesuai dengan kebutuhan

(7)   Letakkan pengalas dibawah area luka

(8)   Letakkan nierbeken didekat pasien

(9)   Buka balutan lama (hati-hati jangan sampai menyentuh luka) dengan menggunakan
pinset anatomi, buang balutan bekas kedalam nierbeken. Jika menggunakan plester lepaskan
plester dengan cara melepaskan ujungnya dan menahan kulit dibawahnya, setelah itu tarik
secara perlahan sejajar dengan kulit dan kearah balutan. ( Bila masih terdapat sisa perekat
dikulit, dapat dihilangkan dengan aceton/ bensin )

(10)  Bila balutan melekat pada jaringan dibawah, jangan dibasahi, tapi angkat balutan
dengan berlahan

(11)  Letakkan balutan kotor ke neirbeken lalu buang kekantong plastic, hindari kontaminasi
dengan permukaan luar wadah

(12)  Kaji lokasi, tipe, jumlah jahitan atau bau dari luka
(13)  Membuka set balutan steril dan menyiapkan larutan pencuci luka dan obat luka dengan
memperhatikan tehnik aseptic

(14)  Buka sarung tangan ganti dengan sarung tangan steril

(15)  Membersihkan luka dengan sabun anti septic atau NaCl 9 %

(16)  Memberikan obat atau antikbiotik pada area luka (disesuaikan dengan terapi)

(17)  Menutup luka dengan cara:

 Balutan kering
a)      lapisan pertama kassa kering steril untuk menutupi daerah insisi dan bagian sekeliling
kulit

b)      lapisan kedua adalah kassa kering steril yang dapat menyera

c)      lapisan ketiga kassa steril yang tebal pada bagian luar

 Balutan basah – kering


a)      lapisan pertama kassa steril yang telah diberi cairan steril atau anti mikkrobial untuk
menutupi area luka

b)      lapisan kedua kasa steril yang lebab yang sifatnya menyerap

c)      lapisan ketiga kassa steril yang tebal pada bagian luar 

 Balutan basah – basah


a)      lapisan pertama kassa steril yang telah dilembabkan dengan cairan fisiologik untuk
menutupi area luka

b)      lapisa kedua kassa kering steril yang bersifat menyerap

c)      lapisan ketiga (lapisan paling luar) kassa steril yang sudah dilembabkan dengan cairan
fisiologik.
 (18)  Plester dengan rapi

(19)  Buka sarung tangan dan masukan kedalam nierbeken

(20)  Lepaskan masker

(21)  Atur dan rapikan posisi pasien

(22)  Buka sampiran

(23)  Evaluasi keadaan umum pasien

(24)  Rapikan peralatan dan kembalikan ketempatnya dalam keadaan bersih, kering dan rapi

(25)  perawat cuci tangan

(26)  Dokumentasikan tindakan dalam catatan keperawatan

1. Hal – hal yang harus diperhatikan


 (1)   Membalut harus rata, jangan terlalu longgar dan jangan terlalu erat, hal ini untuk
mencegah terjadinya pembendungan. Contoh pada kaki dan tangan

(2)   Pembalut harus sesuai dengan tujuan, contoh : untuk menjaga agar luka jangan
terkontaminasi, untuk merapatnya luka, atau untuk menghentikan perdarahan

(3)   Menggunting plester jangan terlalu panjang/ terlalu pendek

(4)   Pembalut yang kotor/ basah segera diganti. Pada luka operasi tanpa drain sampai angkat
jahitan ( minimal 5 hari ), pembalut yang tepat berada di atas luka tidak boleh diganti. Jadi
bila pembalut kotor/ basah hanya bagian atasnya saja yang diganti, atau pembalut diganti
sesuai dengan instruksi dokter

(5)   Memperhatikan apakah ada perdarahan, atau kotoran – kotoran yang lain untuk
menetukan kapan drain dapat diangkat
(6)   Memperhatikan komplikasi luka operasi, contoh haematom, adanya pus, pengerasan,
perdarahan, kemerahan atau lecet – lecet pada kulit sekitarnya.

F. Teknik Heatcing dan Aff

Definisi

1.Jahitan digunakan untuk hemostasis atau untuk menghubungkan struktur anatomi yang
terpotong (Sabiston,1995).

2.Menurut Sodera dan Saleh (1991), jahitan merupakan hasil penggunaan bahan berupa
benang untuk mengikat atau ligasi pembuluh darah dan menghubungkan antara dua tepi luka.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penjahitan merupakan tindakan


menghubungkan jaringan yang terputus atau terpotong untuk mencegah pendarahan dengan
menggunakan benang.

PENGENALAN ALAT DAN BAHAN PENJAHITAN

Alat dan bahan yang diperlukan pada penjahitan luka :

Alat (Instrumen)

a. Tissue forceps ( pinset ) terdiri dari dua bentuk yaitu tissue forceps

bergigi ujungnya ( surgical forceps) dan tanpa gigi di ujungnya yaitu

atraumatic tissue forceps dan dressing forceps.

b. Scalpel handles dan scalpel blades

c. Dissecting scissors ( Metzen baum )

d. Suture scissors

e. Needleholders

f. Suture needles ( jarum ) dari bentuk 2/3 circle, Vi circle , bentuk

segitiga dan bentuk bulat


g. Sponge forceps (Cotton-swab forceps)

h. Hemostatic forceps ujung tak bergigi ( Pean) dan ujung bergigi (Kocher)

i. Retractors, double ended

j. Towel clamps

Bahan

a. Benang (jenis dan indikasi dijelaskan kemudian )

b. Cairan desifektan : Povidon-iodidine 10 % (Bethadine )

c. Cairan Na Cl 0,9% dan perhydrol 5 % untuk mencuci luka.

d. Anestesi lokal lidocain 2%.

e. Sarung tangan.

f. Kasa steril.

g. tissue forceps

h. scalpel handles

i.dissecting scissors

j.suture scissors

k. needle holder

l.suture needles

J. Jarum

Terdapat dua jenis jarum yaitu :

1.Lurus (Straight)

2.Bengkok (Curved)

Kedua-dua jenis jarum ini dapat dikelaskan kepada

1.Cutting –Untuk kulit


2.Non cutting- lain-lain tisu lembut

CARA MEMEGANG ALAT

a. Instrument tertentu seperti pemegang jarum, gunting dan pemegang kasa: yaitu ibu jari dan
jari keempat sebagai pemegang utama, sementara jari kedua dan ketiga dipakai untuk
memperkuat pegangan tangan. Untuk membuat simpul benang setelah jarum ditembuskan
pada jaringan, benang dilingkarkan pada ujung pemegang jarum.

b. Pinset lazim dipegang dengan tangan kiri, di antara ibujari serta jari kedua dan ketiga.
Jarum dipegang di daerah separuh bagian belakang .

c. Sarung tangan dipakai menurut teknik tanpa singgung.

PERSIAPAN ALAT

Sterilisasi dan cara sterilisasi :

Sterilisasi adalah tindakan untuk membuat suatu alat-alat atau bahan dalam keadaan steril.

Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara :

a. Secara kimia : yaitu dengan bahan yang bersifat bakterisid , seperti formalin, savlon,
alkohol.

b. Secara fisik yaitu dengan :

1) Panas kering ( oven udara panas )


♦ Selama 20 menit pada 200° C

♦ Selama 30 menit pada 180° C

♦ Selama 90 menit pada 160° C

2). Uap bertekanan ( autoclave): selama 15 menit pada 120° C dan tekanan 2 atmosfer

3). Panas basah, yaitu di dalam air mendidih selama 30 menit. Cara ini hanya dianjurkan bila
cara lain tidak tersedia.

Pengepakan

Sebelum dilakukan sterilisasi secara fisik, semua instrument harus dibungkus dengan
dua lapis kain secara rapat yang diikutkan dalam proses sterilisasi. Pada bagian luar
pembungkus , ditempelkan suatu indikator ( yang akan berubah warna ) setelah instrument
tersebut menjadi steril. Untuk mempertahankan agar instrument yang dibungkus tetap dalam
keadaan steril, maka kain pembungkus dibuka menurut” teknik tanpa singgung.

PERSIAPAN PENJAHITAN ( KULIT)

a. Rambut sekitar tepi luka dicukur sampai bersih.

b. Kulit dan luka didesinfeksi dengan cairan Bethadine 10%, dimulai dari bagian tengah
kemudian menjauh dengan gerakan melingkar.

c. Daerah operasi dipersempit dengan duk steril, sehingga bagian yang terbuka hanya bagian
kulit dan luka yang akan dijahit.

d. Dilakukan anestesi local dengan injeksi infiltrasi kulit sekitar luka.

e. Luka dibersihkan dengan cairan perhydrol dan dibilas dengan cairan NaCl.

f. Jaringan kulit, subcutis, fascia yang mati dibuang dengan menggunakan pisau dan gunting.

g. Luka dicuci ulang dengan perhydrol dan dibilas dengan NacCl.

h. Jaringan subcutan dijahit dengan benang yang dapat diserap yaitu plain catgut atau
poiiglactin secara simple interrupted suture. i. Kulit dijahit benang yang tak dapat diserap
yaitu silk atau nylon.
TEKNIK PENJAHITAN KULIT

Prinsip yang harus diperhatikan :

a. Cara memegang kulit pada tepi luka dengan surgical forceps harus dilakukan secara halus
dengan mencegah trauma lebih lanjut pada jaringan tersebut.

b. Ukuran kulit yang yang diambil dari kedua tepi luka harus sama besarnya.

c. Tempat tusukan jarum sebaiknya sekitar 1-3 cm dari tepi lukia.Khusus” daerah wajah 2-
3mm.

d. Jarak antara dua jahitan sebaiknya kurang lebih sama dengan tusukan jarum dari tepi luka.

e. Tepi luka diusahakan dalam keadaan terbuka keluar ( evferted ).

Cara Melakukan Aff Heatcing


Sebelum kita melakukan up heatcing, terlebih dahulu kita persiapkan alat dan bahan
dari aff hetacing tersebut diantaranya adalah :
1. Bak Instrument kecil
2. Handscoon steril
3. pinset anatomis steril
4. Pinset cirurgis
5. Gunting Benang
6. Bengkok (Nierbekken)
7. Gunting Verband
8. Kassa Steril
9. Lidi Wotton
10. Plester
11. Larutan NACI 0,9%
12. Betadin dalam tempatnya
13. Larutan klorin 0,5%
14. Kapas alkohol dalam tempatnya

Cara melakukan up hecting dalam melingkupi langkah sebagai berikut:


1. Menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan. Jelaskan pula tujuan
dilakukan aff hecting pada pasien.
2. Menyiapakan, menyusun dan mendekatkan alat yang akan digunakan.Susun alat
secara ergonomis dimulai dan diurutkan berdasarkan urutan penggunaan untuk aff
hecting.
3. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
4. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir lalu keringkan dengan handuk.
5. Membuka bak instrument dan memakai handscoon.
6. Membuka plester dan kassa dengan menggunakan pinset. Sebelumnya plester
diberi kapas beralcohol, dengan tujuan agar mudah dan tidak sakit pada saat plester
dibuka. Angkat secara hati – hati (jangan sampai kulit ibu terjepit). Buang balutan ke
dalam nierbekken.
7. Mengkaji keadaan luka. Tekan daerah sekitar luka, lihat luka sudah kering/basah,
keluar pus/cairan dari tempat luka serta penutupan kulit dan integritas kulit. Pastikan
luka kering.
8. Membersihkan luka dengan larutan garam faal. Gunakan kasa terpisah untuk setiap
usapan membersihkan. Bersihkan luka dari area yang kurang terkontaminasi ke area
terkontaminasi. Lakukan dengan menggunakan teknik satu arah. Kassa yang telah
digunakan dibuang ke dalam nierbekken.
9. Mengangkat jahitan dengan menarik simpul jahitan sedikit ke atas. Kemudian
gunting benang dan tarik dengan hati – hati. Hal ini merupakan langkah inti dari aff
hecting. Angkat jahitan satu per satu apabila teknik jahitan menggunakan teknik satu-
satu. Apabila teknik jahitan menggunakan teknik jelujur maka lakukan aff heacting
diujung simpul jahitan.
10. Membersihkan luka dengan garam faal dan membiarkannya kering.
G. Prosedur Memasang Verban
Prosedur yang harus dilakukan pada proses pemasangan verban yaitu :
1. Ketahui saatnya luka harus mendapatkan pertolongan medis segera. Walaupun
sebagian besar luka minor dapat diatasi dengan memasang plester luka, dan sebagian
besar luka sedang di permukaan kulit dapat dibalut dengan perban dan plester medis,
beberapa kasus luka berat mungkin terlalu serius untuk ditangani di rumah. Misalnya,
luka kulit yang disertai dengan patah tulang harus mendapatkan perawatan medis
segera, begitu pula luka berat pada pembuluh darah yang tidak berhenti mengeluarkan
darah.
2. Kendalikan pendarahan. Sebelum Anda membersihkan dan membalut luka, cobalah
untuk mengendalikan aliran darah yang keluar. Gunakan perban bersih (atau kain
bersih apa saja yang dapat menyerap) untuk menekan lembut bagian atas luka untuk
mengendalikan pendarahan. Dalam sebagian besar kasus, tekanan pada luka akan
memicu pembekuan darah dan pendarahan seharusnya dapat dihentikan dalam waktu
20 menit, walaupun mungkin akan tetap mengalir sedikit hingga 45 menit. [2][3]
Perban atau kain juga akan melindungi luka dari bakteri penyebab infeksi. Dalam
kasus luka yang cukup berat, Anda bisa membuat torniket dari dasi atau sehelai kain
panjang untuk mengikat bagian atas luka.
3. Keluarkan benda yang ada di dalam luka. Jika ada tanah, kaca, atau benda lain yang
melekat pada luka, cobalah untuk mengeluarkannya dengan penjepit. Bersihkan
penjepit dengan alkohol medis terlebih dahulu untuk membantu mencegah
perpindahan bakteri dan mikrobia lainnya.[4] Berusahalah untuk tidak menekan
penjepit masuk ke dalam luka dan memperparahnya.
4. Lepaskan atau singkirkan pakaian dari luka. Agar luka lebih mudah ditangani, setelah
pendarahan berhasil dihentikan, lepaskan pakaian dan perhiasan dari permukaannya.
Langkah ini harus dilakukan, agar pakaian ketat dan perhiasan tidak mengganggu
aliran darah saat luka membengkak.
5. Bersihkan luka secara menyeluruh. Dalam kondisi ideal, bersihkan luka secara
menyeluruh dengan larutan salin selama paling tidak beberapa menit hingga tampak
bersih dari kotoran atau debu.
6. Bersihkan luka dengan waslap atau kain lembut lainnya. Usapkan dengan lembut,
tepuk-tepuk luka dengan kain bersih untuk memastikan kebersihannya setelah Anda
aliri larutan salin atau air biasa. Jangan menekan atau menggosok luka terlalu kuat,
cukup pastikan seluruh kotoran pada luka berhasil dibersihkan. Ingatlah bahwa
usapan lembut saja dapat membuat pendarahan terjadi kembali, jadi bersiaplah untuk
menekan luka lagi setelah membersihkannya.
7. Membalutkan Perban ke Luka. Carilah perban yang sesuai. Pilih perban steril (yang
masih terbungkus rapat) dengan ukuran yang sesuai dengan luka. Jika luka berukuran
kecil, plester luka (seperti Hansaplast) kemungkinan adalah pilihan yang terbaik
untuk menutupnya. Namun, jika luka berukuran cukup besar untuk ditutup dengan
plester, Anda harus menggunakan perban yang lebih besar. Anda mungkin harus
melipat atau memotong perban hingga dapat menutupi luka. Berusahalah untuk tidak
menyentuh bagian bawah perban yang akan bersentuhan dengan luka untuk
mengurangi risiko infeksi. Jika Anda tidak punya perban yang dapat merekat, siapkan
plester untuk merekatkannya. Sisakan sebagian perban di setiap sisi luka sehingga
plester tidak langsung menempel di atasnya.
8. Rekatkan perban dan pasangkan pelindung.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya cedera atau
pembedahan. Luka ini bisa diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis, sifat, proses
penyembuhan dan lama penyembuhan. Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan,
dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang. Ketika luka timbul,
beberapa efek akan muncul :

1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ

2. Respon stres simpatis

3. Perdarahan dan pembekuan darah

4. Kontaminasi bakteri

5. Kematian sel

Penggunaan ilmu dan teknologi serta inovasi produk perawatan luka dapat memberikan
nilai optimal jika digunakan secara tepat. Prinsip utama dalam manajemen perawatan luka
adalah pengkajian luka yang komprehensif agar dapat menentukan keputusan klinis yang
sesuai dengan kebutuhan pasien. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan klinis
diperlukan untuk menunjang perawatan luka yang berkualitas

B. Saran

1.Pergunakanlah makalah ini sebagai pedoman dalam pembelajaran perawatan luka modern

2.Jadilah calon perawat yang berkompeten dan berdaya saing.


DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar
Klien. Jakarta: Salemba Medika

Bobak, K. Jensen. 2005. Perawatan Maternitas. Jakarta: EGC.

Dudley HAF, Eckersley JRT, Paterson-Brown S. 2000. Pedoman Tindakan Medik dan
Bedah. Jakarta: EGC.

Effendy, Christantie dan Ag. Sri Oktri Hastuti. 2005. Kiat Sukses menghadapi Operasi.
Yogyakarta: Sahabat Setia.

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC

Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan :
Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.
Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.