Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ORGANIK


DOSEN PENGAMPU MATA KULIAH:
Dr. AMAN SANTOSO, M.Si
DARATU EVIANA KUSUMA PUTRI, S.Si, M.Sc.

IDENTIFIKASI SENYAWA ORGANIK YANG MENGANDUNG OKSIGEN

DISUSUN OLEH KELOMPOK 5:


SITI NUR MUFALLA (190332622448)
SITI SHOHIBUL W (190332622402)*
WILDANNA ROHMA (190332622504)
YAHYA HENGKY P (190332622437) *

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2021
A. TUJUAN PERCOBAAN
Melalui percobaan ini, diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan mengidentifikasi
suatu senyawa organik yang mengandung oksigen yang belum dikenal.

B. DASAR TEORI
Pada percobaan yang lalu, Anda telah melakukan berbagai reaksi atau uji yang
membantu Anda untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa organik. Dalam percobaan
ini,Anda akan menggabungkan uji-uji tersebut dengan maksud agar Anda dapat
mengidentifikasi senyawa organik.
Uji seri amonium nitrat dapat membedakan alkohol, fenol, dan asam hidroksi
dari senyawa-senyawa lain. Hasil positif untuk alkohol ditunjukkan oleh perubahan
warna dari kuning ke merah, sedangkan fenol memberikan warna merah sampai
coklat dalam larutan dioksana. Beberapa aldehida dapat memberikan warna sebentar,
yang kemudian memudar dalam tiga sampai lima menit. Uji ini tidak dapat digunakan
untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa yang mengandung atom karbon lebih dari
sembilan buah, karena warna yang dihasilkan terlalu pucat. Untuk mempermudah
klasifikasi pada percobaan ini dengan uji senyawa organik yang mengandung oksigen
tak dikenal dapat dilihat melalui bagan dibawah.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat-Alat:
i. Tabung reaksi
ii. Lampu spiritus
iii. Beaker glas
iv. Kaki tiga
v. Kawat kasa
vi. Penjepit tabung reaksi
vii. Lakmus biru
viii. Pereaksi Lucas
2. Bahan-bahan:
i. Larutan iodium dalam kalium iodida
ii. Senyawa yang belum dikenal (sampel)
iii. Larutan seri amonium nitrat
iv. Dioksana
v. Larutan besi (III) klorida 1 %
vi. Pereaksi Benedict
vii. Larutan natrium karbonat 0,5 M
viii. Larutan natrium hidroksida 1 M
ix. Larutan natrium hidroksida 3 M

D. METODE PERCOBAAN
1. Uji seri amonium nitrat

(NH4)2Ce(NO3)6

− Dimasukkan 10 tetes ke dalam sebuah tabung reaksi.


− Ditambahkan 2-3 tetes larutan yang diuji.
− Dikocok campuran tsb.
− Dicatat perubahan warna yang terjadi. Warna merah atau coklat
menunjukkan zat yang diuji mengandung gugus hidroksil..

Hasil
I

2. Uji besi (III) klorida

sampel

− Diuji dengan menambahkan 1 atau 2 tetes larutan besi (III) klorida 1%


− Warna ungu menunjukkan adanya gugus hidroksil fenolik.

Hasil
3. Uji Lucas

sampel

− Ditambahkan 1 ml pereaksi Lucas ke sebuah tabung reaksi, kemudian


ditambahkan 10 tetes cairan yang diuji yang kemungkinan adalah alcohol.
− Dikocok campuran tsb.
− Diamati pembentukan larutan berawan atau pemisahan larutan menjadi 2
lapisan. Alkohol tersier bereaksi dalam 1 menit, alkohol sekunder bereaksi
setelah 5 menit, sedangkan alkohol primer tidak bereaksi (larutan tetap
jernih dan tidak terpisah) setelah 1 jam

Hasil

4. Uji natrium karbonat untuk asam

natrium karbonat

− Dimasukkan 10 tetes ke dalam tabung reaksi


− Ditambahkan 1 ml larutan natrium karbonat 0,5 M (dapat pula digunakan
beberapa kristal natrium karbonat padat, tetapi memerlukan 1 ml larutan
zat yang tidak diketahui).
− Jika zat yang diuji merupakan asam, akan dibebaskan gas karbon dioksida.
− Dicek dengan menambahkan 5 tetes air pada 5 tetes larutan zat yang tidak
diketahui tersebut, kemudian uji dengan kertas lakmus biru.

Hasil
5. Uji Benedict

Pereaksi Benedict

− Dipanaskan air
− Diambil 1 mL, kemudian ditambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida
1M.
− Dikocok larutan tsb.
− Dibagi reagen tsb ke tabung-tabung yang dipergunakan untuk menguji zat-
zat yang tidak bereaksi dengan natrium karbonat atau seri amonium nitrat.
Jangan lupa menAndai tabung dengan identitas sampel.
− Ditambahkan 5 atau 6 tetes larutan zat yang diuji ke tabung reaksi yang
berisi pereaksi Benedict.
− Dimasukkan tabung ke penangas air
− Dicatat perubahan warna yang terjadi. Perubahan warna dapat bervariasi
dari hijau ke kuning atau jingga atau merah, jika terdapat aldehida. Uji ini
negatif untuk keton, eter dan ester
Hasil

6. Uji Iodoform

Sampel

− Dimasukkan 10 tetes ke dalam satu tabung reaksi.


− Ditambahkan 15 tetes larutan KI pada tabung reaksi tersebut.
− Dikocok campuran tersebut.
− Ditambahkan larutan natrium hipoklorit sampai timbul warna kuning pucat
(biasanya memerlukan 20 tetes).
− Dimasukkan tabung dalam penangas air pada suhu 60˚C. Akan terbentuk
endapan kuning iodoform. Zat ini dapat pula diidentifikasi dari baunya.
− Jika tidak terbentuk iodoform, sementara Anda yakin zat Anda adalah
metil keton, Anda perlu menambahkan larutan iodium dalam kalium
iodidaberlebih

7.Hasil
7. Hidrolisis ester

Sampel

− Dimasukkan 1 ml ke sebuah tabung reaksi yang bersih.


− Ditambahkan 1 ml aquades.
− Dikocok tabung untuk mensuspensikan cairan.
− Dibiarkan tabung selama 15 menit sambil sekali-kali dikocok.
Diuji dengan lakmus biru. Ester terhidrolisis menghasilkan asam yang
mengubah lakmus biru menjadi merah dan alkohol yang tidak
mempengaruhi kertas lakmus.
Jika zat tidak terhidrolisis, Anda dapat menyimpulkan bahwa zat yang
Anda uji adalah eter.

Hasil

E. Data Pengamatan
Lembar Pengamatan :
Nama : SITI NUR MUFALLA (190332622448) *
SITI SHOHIBUL W (190332622402)*
WILDANNA ROHMA (190332622504) *
YAHYA HENGKY P (190332622437) *
Kelompok :5
Sampel Pengujian dengan Kesimpula
CAN FeCl3 R.Lucas Na2CO3 Lakmus R.Benedict Iodoform Hidrolisis
A Tidak - - Terbentuk Warna - - - Asam
terbentuk gelembung lakmus Karboksil
warna gas biru at
merah/coklat berubah
menjadi
merah
B Terbentuk Warna Tidak - - - - - Alkohol
warna merah larutan terbentuk Primer
FeCl3 larutan
tetap berawan
C Tidak - - Tidak - Terbentuk - - Aldehida
terbentuk timbul endapan
warna gelembung berwarna
merah/coklat gas orange
D Terbentuk Terbentuk - - - - - - Fenol
warna merah berwarna
ungu
E Tidak - - Tidak - Larutan Terbentuk - Metil
terbentuk timbul tetap endapan Keton
warna gelembung berwarna berwarna
merah/coklat gas biru kuning
F Terbentuk Warna Terbentuk - - - - - Alkohol
warna merah larutan larutan Tersier
FeCl3 berawan
tetap

F. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Uji seri ammonium nitrat
Pada uji ini, senyawa organik akan terbagi menjadi alcohol, fenol, asam, aldehid,
keton, ester dan eter. Uji ini merupakan uji khusus untuk mengidentifikasi adanya
gugus hidroksil (-OH) pada suatu sampel. Hasil yang diharapkan adalah dengan
terbentuknya larutan berwarna merah atau coklat. Uji seri amonium nitrat ini
memberikan hasil positif terhadap fenol dan alkohol, sehingga dapat diketahui bahwa
sampel B, D, dan F merupakan golongan fenol dan alkohol. Hal ini sesuai dengan
persemaan reaksi berikut: Persamaan reaksi yang terjadi adalah

R-OH + (NH4)2Ce(NO3)6 → (NH4)2CeOR(NO3)5 + HNO3


Ar-OH + (NH4)2Ce(NO3)6 → (NH4)2CeOAr(NO3)5 + HNO3
Pada sampel A, C, dan E tidak terbentuk warna merah/coklat karena sampel tidak
bereaksi dengan larutan seri amonium nitrat diartikan bahwa sampel tersebut bukan
merupakan senyawa golongan alkohol.. Hal ini menunjukkan bahwa hasil ujinya pada
sampel adalah negatif. Sesuai dengan teori, maka ketiga sampel ini kemungkinan
pada salah satu di antara asam, aldehida, keton, ester dan eter.
2. Uji besi (III) klorida
Uji besi klorida digunakan untuk menentukan keberadaan fenol dalam sampel atau
senyawa tertentu (misalnya fenol alami dalam ekstrak tumbuhan). Uji besi(III) klorida
ini dapat dilakukan untuk identifikasi alkohol dan fenol. Senyawa dengan gugus fenol
akan membentuk warna biru, ungu, ungu, hijau, atau merah kecokelatan setelah
penambahan besi(III) klorida encer. sampel yang diuji pada praktikum ini merupakan
sampel-sampel yang menunjukkan hasil positif terhadap uji seri ammonium nitrat.
Dari ketiga sampel yang diuji dengan besi(III) klorida, didapatkan sampel D
menunjukkan perubahan warna campuran menjadi warna ungu. Hal ini menunjukkan
bahwa larutan sampel D merupakan golongan fenol. Perubahan warna ini terjadi
karena pembentukan kompleks ion besi fenol yang berwarna ungu. Sesuai dengan
persamaan reaksi berikut :
6C6H5OH(aq) + FeCl3(aq) → [Fe(OC6H5)6]3+(aq) + 3HCl(aq) + 3H+ (aq)
Sedangkan sampel B dan F tidak menunjukkan perubahan warna disebabkan
alkohol tidak akan bereaksi apabila ditambahkan besi(III) klorida sehingga tidak
menghasilkan perubahann warna. Hal ini kemungkinan sampel B dan F adalah
alkohol.
3. Uji Lucas
Pada uji ini bertujuan untuk membedakan antara alcohol primer, sekunder dan
tersier.
R-OH + HCl → RCl + H2O
Prinsip uji lucas adalah dengan penambahan reagen lucas HCl dan 2nCl2. Alkohol
diprotonasi oleh campuran ini dan gugus H2O yang terikat pada karbon digantikan
oleh nukleofil Cl- yang menyebabkan terbentuknya awan atau kabut, Pada uji ini
dihasilkan terbentuk larutan berawan setelah 1 menit yang menandakan bahwa
termasuk dalam alcohol tersier. Sedangkan alkohol primer tidak akan bereaksi,
alkohol sekunder akan bereaksi lambat, dan alkohol tersier akan bereaksi dengan
cepat secara spontan membentuk larutan berawan, dan alkohol primer perlu
pemanasan agar terbentuk larutan berawan.. Hal ini didasarkan pada perbedaan
reaktivitas dari ketiga jenis alkohol tersebut dengan hidrogen halida. Reagen Lucas
merupakan campuran asam klorida pekat dan seng klorida. Dalam praktikum ini
larutan seng klorida berperan sebagai katalis asam lewis.
Identifikasi Sampel B dan F yang diperkirakan merupakan senyawa alkohol
alifatik kemudian direkasikan dengan pereaksi Lucas. Untuk sampel B tidak
membentuk larutan awan. Maka dapat kemungkinan bahwa sampel B adalah alkohol
alifatik primer. Untuk sampel F Ketika direaksikan dapat membentuk larutan awan.
Maka sampel F ini kemungkinan merupakan senyawa alkohol tersier.

4. Uji natrium karbonat untuk asam


Pada uji ini dilakukan penambahan Na2CO3 untuk mengelompokkan menjadi
asam, aldehid, keton, ester atau eter. Setelah sebelumnya fenol telah diidentifikasi
dengan alkohol melalui uji besi(iii) klorida, maka asam yang diperkirakan ada dalam
sampel ini merupakan asam karboksilat. Asam karboksilat lebih kuat dari fenol dan
alkohol, maka dapat larut dalam basa lemah seperti NaHCO3.Pada saat uji seri
ammonium nitrat, sampel A tidak terjadi perubahan warna merah atau coklat yang
artinya sampel A tidak mengandung gugus hidroksil (-OH) dalam bentuk alcohol
maupun fenol. Dilanjutkan dengan uji natrium karbonat untuk asam, pada sampel A
terlihat mengeluar gas. Gas tersebut adalah gas karbon dioksida yang dilepaskan, sesuai
reaksi berikut.
RCOOH(aq) + Na2CO3(aq) → RCOONa(aq) + H2O(l) + CO2(g)
Sampel A kemungkinan mengandung asam karboksilat. Kemudian dengan
melakukan uji menggunakan lakmus biru. Lakmus biru tersebut berubah warna menjadi
merah yang menunjukkan bahwa larutan tersebut bersifat asam. Sehingga
kemungkinan sampel A merupakan asam karboksilat.

5. Uji Benedict
Uji benedict merupakan uji khusus untuk mengidentifikasi adanya gugus
pereduksi yaitu -CHO bebas atau golongan aldehid. Hasil positif uji ini ditandai
dengan terbentuknya endapan merah bata. Setelah dilakukan percobaan diperoleh
hasil bahwa tidak terbentuk endapan berwarna merah bata yang berarti sampel
merupakan golongan keton/eter/ester. uji benedict.
Pada Sampel C terbentuk endapan berwarna orange. Untuk warna hijau ke kuning
atau jingga ke merah menunjukkan sampel tersebut merupakan aldehida. Ion tembaga
(II) dalam larutan benedict direduksi menjadi tembaga (I), yang menyebabkan
perubahan warna pada uji tersebut. Dengan semakin meningkatnya kosentrasi gula
reduksi, maka semakin dekat untuk menjadi warna merah kecoklatan. Persamaan
reaksinya sebagai berikut:
Sehingga kemungkinan sampel C merupakan aldehida

6. Uji Iodoform
Uji iodoform bertujuan untuk mengetahui adanya gugus metil yang terikat pada
atom C suatu gugus fungsi. Uji iodoform digunakan untuk memeriksa keberadaan
senyawa karbonil dengan struktur R- CO-CH3 atau alkohol dengan struktur R-
CH(OH)-CH3 dalam zat diketahui yang diberikan. Reaksi iodium, basa dan metil
keton menghasilkan endapan kuning bersama dengan bau Pada percobaan ini uji
iodoform dapat untuk menguji sampel E. Pada uji iodoform ini, sampel E
ditambahkan dengan larutan KI dimana larutan
Penambahan KI berfungsi untuk bereaksi dengan larutan NaOCl membentuk KCl
dan NaOI. NaOI nantinya terurai menjadi Na-O- dengan reaksi tersebut yang dapat
bereaksi dengan sampel E membentuk iodoform. Pada reaksi ini akan timbul warna
kuning pucat, setelah itu larutan tersebut dimasukkan dalam penangas air agar
terbentuk endapan kuning iodoform yang mengandung gugus metil keton. Sehingga
kemungkinan sampel E tersebut merupakan gugus metil keton. Persamaan reaksi
sebagaia berikut:

7. Uji Hidrolisis Ester


Hidrolisis ini untuk membedakan antara ester dan eter. Ester terhidrolisis
menghasilkan asam yang mengubah lakmus biru menjadi merah dan alcohol yang
tidak mempengaruhi kertas lakmus. Sedangkan eter tidak mengalami hidrolisis. Ester
dapat terhidrolisis dalam air membentuk asam karboksilat,
Setelah dilakukan pengujian, dengan uji menggunakan kertas lakmus. Jika larutan
dapat memerahkan kertas lakmus biru, maka pada sampel tersebut diperkirakan
mengandung senyawa ester yang telah terhidrolisis menjadi asam karboksilat. yang
menandakan bahwa sampel ini merupakan golongan ester. Persamaannya sebagai
berikut:

G. KESIMPULAN
1. sampel A merupakan senyawa golongan asam karboksilat
2. sampel B merupakan senyawa golongan alkohol primer
3. Sampel C merupakan senyawa golongan aldehida
4. Sampel D merupakan senyawa golongan Fenol
5. Sampel E merupakan senyawa golongan metil keton
6. Sampel F merupakan senyawa golongan alkohol tersier

H. TINJAUAN PUSTAKA
[1] Tim Kimia Organik. 2020. Petunujuk Praktikum Analisis dan Identifikasi Senyawa
Organik. Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang.
[2] Parlan dan Wahyudi. 2003. Kimia Organik II. Malang : Universitas Negeri
Malang
[3] Parlan dan Wahyudi. 2003. Kimia Organik I. Malang : Universitas Negeri Malang
[4] Hadamu, Ruslin.2019.Kimia Organik (Pengantar, Sifat, Struktur Molekul, Tata
Nama, Reaksi, Sintesis dan Kegunaan).Makassar:Leisyah
I. LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai