Anda di halaman 1dari 5

Batubara di indonesia

Batubara adalah batuan sedimen organik, yang dapat terbakar


sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi. Batubara terbentuk dari hasil pengawetan sisa
- sisa tanaman purba dan menjadi padat setelahtertimbun oleh lapisan di atasnya. Batubara
merupakan bahan galian strategis dan salah satu sumber energi yang mempunyai peran besar
dalam pembangunan nasional.

Secara umum batubara dapat dikenal dari kenampakan sifat fisiknya yaitu berwarna coklat
sampai hitam, berlapis, padat, mudah terbakar, kedap cahaya, non kristalin, berkilap kusam
sampai cemerlang, bersifat getas, pecahan kasar sampai konkoidal. Unsur kimia utama
pembentuk batubara adalah karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N) dan sulfur (S). Proses
pembentukan Batubara

Proses pembentukan batubara diawali oleh adanya pertumbuhan tanaman pembentuk batubara
di lingkungan rawa-rawa. Tumbuhan tersebut kemudian mati dan terbenam di rawa. Tumbuhan
baru hidup dan mati. Pada akhirnya sisa-sisa tumbuhan yang mati membentuk suatu lapisan,
yang kemudian menghilang di bawah permukaan air. Dan terawetkan melalui proses biokimia.
Ketebalan lapisan tumbuhan tersebut tergantung dari lamanya tumbuhan hidup. Lapisan
tumbuhan yang telah mati dapat ditemukan dalam ketebalan yang bervariasi mulai dari beberapa
meter hingga lebih dari 60 meter.

Jika diakibatkan oleh adanya penurunan muka tanah (subsidence) yang disebabkan oleh proses
tektonik, hutan berakhir dibawah muka air, kehidupan tumbuhanpun berakhir. Selanjutnya
material klastik yang dibawa oleh sungai diendapkan diatas sisa-sisa tumbuhan yang telah mati
tersebut. Material klastik tersebut dapat berupa lapisan batupasir, batulempung atau batulanau
yang kemudian menjadi tebal jika pengendapan terjadi dalam kurun waktu yang lama. Lapisan-
lapisan tersebut dikenal sebagai lapisan pembawa batubara yang ketebalannya bisa mencapai
ratusan meter. Jika penurunan tanah (subsidence) berkurang atau adanya proses pengangkatan
tanah, daratan dapat muncul kembali diatas muka air sehingga tumbuhan dapat hidup kembali.
Daurpun berulang kembali. Dengan cara seperti ini akan terbentuk beberapa lapisan sisa-sisa
tanaman dengan kehadiran batupasir, batulanau atau batulempung berselingan mengendap
diatasnya.

Dalam proses biokimia, adanya aktifitas bakteri mengubah bahan sisa-sisa tumbuhan menjadi
gambut (peat). Gambut yang telah terbentuk lambat laun tertimbun oleh endapan-endapan
lainnya seperti batulempung, batulanau dan batupasir. Dengan perjalanan waktu yang mungkin
berpuluh juta tahun, gambut ini akan mengalami perubahan sifat fisik dan kimia akibat pengaruh
tekanan (P) dan temperatur (T), sehingga berubah menjadi batubara. Proses perubahan dari
gambut menjadi batubara dikenal dengan nama proses pembatubaraan (coalification). Sebagai
gambaran untuk batubara dengan tebal +2m, dibutuhkan lapisan sisa-sisa tumbuhan dengan
ketebalan + 60m. Pada tahap ini proses pembentukan batubara lebih didominasi oleh proses
fisika dan geokimia. Pada proses pembatubaraan, gambut berubah menjadi batubara lignit,
batubara bituminous sampai batubara antrasit.

Gambar 1. Gambaran hutan


dimana tumbuhan pembentuk batubara hidup
(Sumber: www.citg.tudelf.nl)

Gambar 2: Sketsa rawa dengan tumbuhan yang hidup diatasnya


(Sumber: www.citg.tudelf.nl )

Gambar 3: Sketsa yg menggambarkan sisa tumbuhan yg telah mati


& berada di bawah permukaan laut (Sumber: www.citg.tudelf.nl )
Gambar 4: Sketsa hutan dgn beberapa lapisan sisa tumbuhan &
& material klastik di bawahnya (Sumber: www.citg.tudelf.nl )

Gambar 5: Sketsa perubahan dari lapisan sisa-sisa tumbuhan


menjadi lapisan batubara (Sumber: www.citg.tudelf.nl )

Kondisi paleogeografi, tektonik, serta iklim berperan penting dalam proses pembentukan
batubara. Kondisi Paleogeografi dan Tektonik harus membentuk suatu cekungan yang
memudahkan proses penumpukan sisa-sisa tumbuhan disamping melindungi rawa-rawa dari laut
terbuka. Kondisi paleografi dan tektonik juga harus mendukung agar rawa-rawa tempat
penumpukan tumbuhan yang mati, mengalami kenaikan muka air tanah secara perlahan dan
lambat. Kondisi ini akan sangat mendukung bagi perkembangan endapan gambut yang tebal,
yang pada akhirnya akan menentukan pembentukan lapisan-lapisan batubara. Sedangkan iklim
berpengaruh besar terhadap jenis tumbuhan sebagai sumber pembentuk batubara. Iklim juga
berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman serta kecepatan dekomposisi.

Sekitar 90% batubara didunia termasuk Indonesia terbentuk pada lingkungan paralism yaitu
rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai,
laguna, paparan dan fluviátil/sungai.

Pengendapan batubara di dataran pantai terjadi pada rawa-rawa dibelakang pematang pasir
pantai, yang kearah darat berasosiasi dengan sistem laguna. Daerah ini tertutup hubungan dengan
laut terbuka, pengaruh oksidasi air laut tidak ada, sehingga menunjang pembentukan batubara.

Pengendapan batubara pada lingkungan sungai (fluviátil) dapat terjadi pada rawa-rawa
dataran banjir (flood plain) dan belakang tanggul alam (natural levee). Batubara yang terbentuk
pada lingkungan seperti ini biasanya membentuk lensa-lensa yang membaji ke segala arah
mengikuti bentuk cekungan limpahnya. Ditinjau dari proses terbentuknya, batubara dapat dibagi
atas dua golongan yaitu:
• Batubara insitu atau autochtonous, yaitu batubara yang terbentuk ditempat dimana
tanaman itu berasal. Pada umumnya batubara jenis ini memiliki lapisan yang cukup tebal
dengan kandungan abu rendah.
• Batubara tertransportasi (transported) atau allochthonous, yaitu batubara yang terbentuk
tidak pada tempat dimana tanaman asal terdapat, sehingga harus melalui proses
transportasi ke tempat pengendapan. Batubara jenis ini biasanya memiliki lapisan yang
tipis dan mengandung mineral (abu) cukup tinggi dibandingkan dengan batubara insitu.

Jenis Batubara

Berdasarkan tahapan pembentukannya, batubara dapat dikelompokan kedalam 5 jenis, mulai


dari yang memiliki kalori terendah sampai tertinggi, yaitu :

• Gambut
• Lignit
• Batubara sub bituminous
• Batubara bitominous
• Batubara antrasit

Standar Nasional Indonesia menetapkan jenis batubara berdasarkan nilai kalorinya, yaitu :

Batubara Kalori Rendah : < 5100 (gambut dan lignite)


Batubara Kalori Sedang : 5100 – 6100 (batubara sub bituminous)
Batubara Kalori Tinggi : 6100 - 7100 (batubara bituminus)
Batubara Kalori Sangat Tinggi : > 7100 (batubara bituminus dan antrasit)

Gambar 6: Kenampakan Fisik Gambut, Lignite, Batubara Bituminus dan Batubara Antrasit
Sumber: www.citg.tudelf.nl

Dalam penggunaannya di dunia industri, batubara dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu
batubara kokas (coking coal) dan batubara uap (steaming coal). Batubara kokas dipergunakan
untuk pembuatan kokas (metallurgical coke), sedangkan batubara uap adalah bahan baku untuk
menghasilkan uap yang selanjutnya dipergunakan menggerakkan turbin untuk menghasilkan
listrik.

Batubara Indonesia

Di Indonesia batubara terbentuk pada cekungan-cekungan sedimentasi berumur Permo-


Karbon sampai Terrier (Neogen dan Paleogen). Sebagian besar batubara Indonesia berumur
muda (Neogen), berupa batubara lignite dan subbituminus dengan nilai kalori yang rendah dan
sedang. Akan tetapi di beberapa tempat, seperti di daerah Bukit Asam dan Kubah Pinang
(Sangata), batubara peringkat rendah tersebut mendapat pengaruh panas dari intrusi magma,
yang menyebabkan kualitasnya meningkat, sehingga ada yang mencapai peringkat antrasit.

Endapan batubara Neogen yang bernilai ekonomis ditemukan di Cekungan Sumatra Selatan,
Cekungan Bengkulu, Cekungan Kutai dan Tarakan (Kalimantan Timar) serta Cekungan Barito
(Kalimantan Selatan). Sedangkan batubara Indonesia yang berumur Paleogen dengan nilai kalori
yang tinggi serta bernilai ekonomis lebih sedikit jumlahnya daripada batubara Neogen,
diantaranya terdapat di Cekungan Ombilin Sumatra Barat, Cekungan Sumatra Tengah (Riau),
Cekungan Pasir dan Asam-Asam (Kalimantan Timar dan Selatan), Cekungan Barito (Kalimantan
Tengah dan Selatan) serta Cekungan Ketungau ( Kalimantan Barat). Endapan batubara Paleogen
juga ditemukan di Sulawesi dan Jawa Barat, walaupun tidak terdapat dalam jumlah yang
banyak.

Pada tahun 2006, jumlah sumberdaya batubara Indonesia tercatat sebanyak 90.451,87 juta ton.
Dari jumlah tersebut sebanyak 67% berupa batubara dengan kalori sedang, 22% berupa batubara
dengan kalori rendah, 10% berupa batubara dengan kalori tinggi dan 1% berupa batubara dengan
kalori sangat tinggi.

Batubara Indonesia ditinjau dari penggunaannya dalam dunia industri dan perdagangan
termasuk kedalam jenis batubara uap (steam coal/termal coal).Hingga saat ini, di Indonesia
belum pernah ditemukan batubara kokas. Walaupun demikian batubara bituminus Indonesia
sangat bagus digunakan sebagai bahan campuran kokas.

Batubara Indonesia tergolong batubara yang bersih dengan kandungan abu (<5%) dan
kandungan sulfur yang rendah (<1%), sehingga tidak terlalu mencemari lingkungan.
Karakteristik tersebut membuat batubara Indonesia mampu bersaing di dunia perdagangan
Internasional. Batubara Indonesia yang memiliki kalori tinggi sebagian besar diekspor ke luar
negeri, sedangkan batubara peringkat rendah dan sedang dipergunakan sebagai sumber energi
pembangkit tenaga listrik maupun sebagai bahan bakar pada berbagai industri di Indonesia,
seperti industri semen, teksil maupun pupuk.