Anda di halaman 1dari 38

PROBLEM SOLVING Mathematics

Belajar lewat Melakukan bukan Menghafalkan Learning by Doing is not memorized

H. H. Mutadi, S.Pd., M.Ed. Mutadi, S.Pd., M.Ed.

Pendahuluan Preliminary

Pengajaran matematika selama ini sebagaimana yang digambarkan oleh


Griffith dan Clyne (1994, h. 17) cenderung dikembangkan melalui pola pengajaran teori
– contoh – latihan. Teaching mathematics for this as described by Griffith and Clyne
(1994, h. 17) tend to be developed through the teaching pattern theory - example -
exercises. Pola ini perlu ditinjau kembali sebab, pertama, sebagaimana yang dinyatakan
oleh Groves (1989, h. 11) pengajaran matematika yang didasarkan pada “teori – contoh –
latihan” hanya menyajikan suatu pandangan yang sempit tentang matematika, dan tidak
pernah menyarankan bahwa mathematics is something done by people and it can be used
in our real life. This pattern needs to be reviewed because, first, as stated by Groves
(1989, p. 11) the teaching of mathematics that is based on "theory - for example -
exercises" only presents a narrow view of mathematics, and never suggested that
mathematics is something done by people and it Can be Used in our real life. Alasan
yang lain adalah, dari pandangan para constructivist, sebagaimana Burton (1992, h. 16)
katakan bahwa proses belajar mengajar harus memungkinkan murid untuk
mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri tentang matematika secara mendalam yang
didasarkan pada apa yang mereka telah ketahui (previous knowledge) dari pada hanya
sekedar melalui cara penyampaian yang formal. The other reason is that, from the
Constructivist view, as Burton (1992, p. 16) say that teaching and learning process should
enable students to construct their own understanding of mathematics in depth, based on
what they already know (previous knowledge) than merely by way of a formal
submission.

Problem Solving Sebuah Alternatif An Alternative Problem Solving

Istilah problem solving ada pada berbagai profesi dan disiplin ilmu dan memiliki
pengertian yang berbeda. The term problem solving on a variety of professions and
disciplines and have a different understanding. Problem solving dalam pengajaran
matematika memiliki arti yang khusus (Branca, 1980, h. 3). Problem solving in
mathematics teaching has a special meaning (Branca, 1980, p. 3). 'Problem solving dalam
matematika adalah proses dimana seorang siswa atau kelompok siswa (cooperative
group) menerima tantangan yang berhubungan dengan persoalan matematika dimana
penyelesaiannya dan caranya tidak langsung bisa ditentukan dengan mudah dan
penyelesaiannya memerlukan ide matematika' (Mathematics Course Development
Support Material 1989: Dikutip di Blane dan Evans, 1989, h. 367). 'Problem solving in
mathematics is a process where a student or group of students (cooperative group)
accepted the challenge of dealing with math problems and the way in which the solution
can be determined indirectly with the easy and the solution requires mathematical ideas'
(Mathematics Support Materials Development Course 1989: Quoted in Blane and Evans,
1989, p. 367). Dalam problem solving, biasanya, permasalahan-permasalahan tidak
tersajikan dalam peristilahan matematika. In problem solving, usually, no tersajikan
problems in mathematical terminology. Permasalahan yang digunakan dapat diangkat
dari permasalahan kehidupan nyata (real life situation) yang pemecahannya memerlukan
ide matematika sebagai sebuah alat (tool). The problem that is used can be removed from
the problems of real life (real life situation), whose solution requires the idea of
mathematics as a tool (tool).

Problem Solving dalam Pengajaran Kelas Problem Solving in Classroom Teaching

Ada sejumlah alasan kuat mengapa problem solving perlu ditekankan sebagai aspek
penting dan sangat berarti dalam menciptakan pengajaran matematika yang efektif. There
are several good reasons why the problem solving should be emphasized as an important
and very significant aspect in creating an effective mathematics teaching. Alasan pertama
adalah harapan untuk membuat matematika lebih dapat diterapkan (more applicable)
dalam kehidupan murid diluar pengajaran kelas atau dalam situasi baru yang belum
familiar (Penglley, 1989, h. 10). The first reason is the hope to make math more
applicable (more applicable) in the lives of students outside the classroom or teaching in
the new situation which is not that familiar (Penglley, 1989, p. 10). Alasan yang kedua
adalah problem solving memberikan kesempatan (opportunities) dan dapat mendorong
siswa berdiskusi tentang dengan siswa yang lainnya, yaitu pada proses menemukan jawab
dari permasalahan (Gervasoni, 1998, h. 23). A second reason is the problem solving
provides an opportunity (opportunities) and can encourage students to discuss with other
students, namely in the process of finding answers to problems (Gervasoni, 1998, p. 23).
Alasan lebih lanjut mengapa pendekatan problem solving sangat berharga (valuable)
adalah karena problem solving dapat mendorong murid untuk menyusun teorinya sendiri
(their own theories), mengujinya, menguji teori temannya, membuangnya jika teori
tersebut tidak konsisten dan mencoba yang lainya (NCTM 1989: Dikutip di Taplin,
2001). Further reason why the approach to problem solving is very valuable (valuable) is
because problem solving can encourage students to formulate his own theory (their own
theories), testing, testing his theory, throw it away if the theory is not consistent and try
the others (NCTM 1989: Quoted in Taplin, 2001).

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan Aspects that need attention

Dalam upaya untuk mengembangakan strategi pengajaran problem solving, ada beberapa
aspek yang perlu difikirkan. In an effort to mengembangakan problem solving teaching
strategies, there are several aspects that need to difikirkan. Sebagaimana Pengelly (1989,
h. 2) menyatakan bahwa ketika mengembangkan problem solving skills, terutama dalam
hal mendesain permasalahan, guru perlu memperhatikan latar belakang matematika anak.
As Pengelly (1989, p. 2) states that when developing problem solving skills, especially in
terms of design problems, the teacher needs to consider the mathematical background of
the child. Disamping, strategi pembelajaran problem solving perlu melakukan
penyeleksian persoalan yang layak (appropiate) untuk muridnya. In addition, problem
solving learning strategies need to conduct a proper selection problems (appropiate) for
students. Permasalahan yang dipilih harus menantang (challenging), terbuka untuk
berbagai cara penyelesaian (variety of method of solution), dan nampak sedikit
matematikanya (low in mathematical content) (Hodgson, 1989, h. 350). The selected
problems should be challenging (challenging), open to various ways of completion
(variety of methods of solution), and seem a little math (low in mathematical content)
(Hodgson, 1989, p. 350).
Berkaitan dengan hal ini, Thompson (1989, h. 275) menyarankan bahwa perlu
menyeimbangkan tingkat kesulitan. In this regard, Thompson (1989, p. 275) suggest that
the need to balance the difficulty level. Jika problem terlalu sulit dan murid murid tidak
mampu memecahkan maka mereka mungkin akan menjadi putus asa (disillusioned) dan
motivasinya menjadi melemah (waiver). If the problem is too difficult and students are
not able to solve the students they might become desperate (disillusioned) and motivation
to be weak (waiver). Jika permasalahan yang dihadapi oleh murid terlalu mudah,
menyebabkan mereka tidak tertantang dan sekali lagi mereka akan kehilangan motivasi.
If the problems faced by students too easily, cause they are not challenged and once again
they will lose motivation. Sebagai tambahan, Schoenfeld (dikutip di Taplin, diakses: 5
Maret 2001) juga menyarankan bahwa permasalahan yang baik haruslah sebuah
persoalan yang dapat diperluas untuk dieksplorasi secara matematik (mathematical
explorations) dan digeneralisasikan. Additionally, Schoenfeld (cited in Taplin, accessed:
March 5, 2001) also suggests that the problem must be either a problem that can be
expanded to be explored in a mathematical (mathematical Explorations) and generalized.

Implementasi problem solving Implementation of problem solving

Dalam diskusi kemungkinan implementasi matematika problem solving, saya yakin


bahwa sekurang-kurangnya ada tiga faktor penting yang harus difikirkan. In the
discussion the possibility of implementation of mathematical problem solving, I am sure
that there are at least three important factors to be difikirkan. Pertama, merubah peranan
guru (changing the role of teacher). First, the changing role of teachers (changing the role
of teacher). Kedua, merubah susunan kelas (changing classroom management) dan,
ketiga, menganalisa topik dalam kurikulum matematika Indonesia yang mungkin dapat
mengakomodasi dan lebih efektif jika menggunakan pendekatan problem solving.
Second, change the composition of the class (changing classroom management) and,
thirdly, to analyze the topic in the mathematics curriculum in Indonesia that may be able
to accommodate and be more effective if you use the problem solving approach.
Dalam hal merubah peran guru, perlu disadari bahwa strategi pembelajaran problem
solving telah merubah gaya murid belajar (students' style learning) dari sebagai murid
pasif belajar menjadi murid yang aktif belajar (construct their own concepts). In the event
that changed the role of teachers, we need to realize that problem solving learning
strategies has changed the style of student learning (students' learning style) than as a
passive student learning to be an active student learn (construct their own concepts).
Sebagai konsekuensi menuntut berubahnya peran guru. As a consequence of the changing
role of teachers' demands. Dalam hal berubahnya peran guru, Groves (1990, h. 11)
menyatakan bahwa peranan guru adalah sesuatu yang crusial, guru perlu benar-benar
terlibat dalam menstimulasi murid untuk aktif berfikir (stimulating children to think),
menjaga semangat belajar siswa (maintaining interest), menjaga rasa percaya anak
(confidence) dan mengelolanya (organizing) jika diperlukan. In terms of the changing
role of teachers, Groves (1990, p. 11) states that the role of teachers is something that
crusial, teachers need to be really involved in stimulating students to think actively
(stimulating children to think), keep the spirit of student learning (maintaining interest) ,
keeping the child confidence (confidence) and manage (organizing) if necessary. Lebih
jauh lagi, Stacey and Groves (1985, h. 5) menambahkan bahwa peranan guru adalah:
Furthermore, Stacey and Groves (1985, p. 5) adds that the role of teachers is:

1. 1. Membawa murid pada suasana siap menerima tantangan atau permasalahan, sebab
sebuah masalah bukanlah masalah sampai murid menyadari dan ingin memecahkannya.
Bringing students in an atmosphere ready to accept the challenge or problem, because a
problem is not a problem until the students are aware of and want to solve it.
2. 2. Membangun atmosper kelas yang mendukung, dimana murid disiapkan untuk
memecahkan permasalahan yang asing dan tidak merasa tertekan ketika mereka
menghadapi kebuntuan (stuck). Build a class that supports atmosper, where students are
prepared to solve the problems of foreign and do not feel depressed when they face a
deadlock (stuck).
3. 3. Mempersilahkan anak untuk mengikuti cara mereka dalam menemukan solusi dan
membantu mereka ketika memerlukan, tanpa memberikan jawaban. Invite children to
follow their way in finding solutions and helping them when needed, without giving
answers.

Merubah susunan tempat duduk di kelas. Changing the seating arrangement in the
classroom. Yang maksudkan di sini adalah bagaimana mengorganisasi murid sesuai
dengan aktivitas yang ada pada problem solving. Which meant here is how to organize
student activities in accordance with the existing problem solving on. Berdasarkan
pengalaman pada pengajaran matematika di sekolah, murid-murid di kebanyakan sekolah
duduk secara berbaris (sit in a row) dan hal itu kemungkinan membuat sulit untuk
melakukan diskusi dengan teman yang lainnya dalam mengeksplorasi gagasan dan
konsep yang tersembunyi di balik (beyond) permasalahan yang diberikan — dan ini
sering disebut sebagai salah satu karakteristik (key feature) dari problem solving. Based
on the experience of teaching mathematics at school, students in most schools sat in a line
up (sit in a row) and it probably makes it difficult to conduct discussions with other
friends in exploring ideas and concepts are hidden behind (beyond) the problems given -
and this is often referred to as one of the characteristics (key features) from solving
problems. Hodgson (1989, h. 350) menyarankan bahwa kelompok kerja (group work)
adalah sesuatu yang esensi dalam pengajaran problem solving. Hodgson (1989, p. 350)
suggested that the working group (group work) is something that is the essence of the
problem solving teaching. Lebih lanjut, Burns (1990, h. 25) menyatakan bahwa belajar
bersama dalam group kecil (small group) memberikan banyak kesempatan kepada siswa
untuk berinteraksi dengan konsep dibanding dengan apabila murid diskusi kelas besar
(class discussion). Furthermore, Burns (1990, p. 25) states that learning together in small
groups (small group) provides many opportunities for students to interact with the
concept when compared with the large class discussion of students (class discussion).
Keuntungan lain dari grup kecil ini, dintaranya murid memiliki kesempatan untuk bisa
berbicara banyak, lebih nyaman untuk ambil resiko (taking the risks) dalam menguji coba
pemikirannya selama aktivitas problem solving. Another advantage of this small group,
dintaranya students have the opportunity to speak much more comfortable to take the risk
(taking the risks) in testing the ideas for problem solving activities. Oleh karena itu, perlu
merubah posisi tempat duduk siswa agar memungkinkan mereka aktif berpartisipasi
dalam diskusi. Therefore, the need to change the seating positions of students to enable
them to actively participate in discussions.

Kesulitan yang mungkin dihadapi Difficulties that may face

Beberapa kesulitan yang berarti mungkin ditemukan ketika mengasimilasikan problem


solving matematika ke dalam praktek pengajaran di kelas. Some difficulties may be
found when solving math problems assimilating into the practice of classroom teaching.

1. Kurangnya pengetahuan dan keahlian guru dalam menerapkan problem solving


(teachers lack of the problem solving and modelling skills). Lack of knowledge
and expertise in applying problem solving teachers (Teachers lack of the problem
solving and modeling skills).
2. Isi dari kurikulum sangat padat dan tidak ada celah untuk problem solving (the
curriculum content is very full and there is no room for problem solving). The
contents of the curriculum is very solid and there is no room for problem solving
(the curriculum content is very full and there is no room for problem solving).
3. Sistem pengujian (assessment system) masih disentralkan dan ini tidak relevan
dengan gagasan problem solving dikarenakan jenis tesnya cenderung dan
dominan berbentuk pilihan ganda (multiple choice form). System testing
(assessment system) are still disentralkan and this is not relevant to the idea of
problem solving because the type of test is likely and dominant form of multiple
choice (multiple choice form). Jenis tes ini tidak memberikan kesempatan pada
anak untuk berfikir sebagaimana yang mereka lakukan pada proses problem
solving. Type of test does not give children the opportunity to think as they do on
the problem solving process.
4. Besarnya jumlah siswa (the large number of students) dalam setiap kelas juga
merupakan salah satu hambatan yang cukup berarti. The large number of students
(the large number of students) in each class is also one significant obstacle.
Karena ini bisa menyebabkan sulitnya bagi guru untuk berinteraksi dengan
muridnya ketika problem solving matematika diimplementasikan. Since this could
cause difficulties for teachers to interact with his students when solving
mathematical problems is implemented.
5. Perlu waktu yang lebih (need more time) baik dalam pencarian atau pendesainan
problem (sebab setiap problem perlu disusun dengan hati-hati untuk mencapai
hasil belajar siswa) maupun berlangsungnya aktivitas problem solving (problem
solving progress) di kelas. It takes more (need more time) either in search or
design problem (because each problem must be arranged carefully to achieve
student learning outcomes) as well as ongoing activities of problem solving
(problem solving progress) in the class.

Dari penjelasan tersebut di atas, memang tidak ada keraguan bahwa ada sejumlah
kesulitan dalam asimilasi problem solving ke dalam pengajaran matematika, tapi
keuntungan yang ada jauh melebihi dari pada hambatan yang ditemukan. From the
explanation above, there is no doubt that there are some difficulties in the assimilation
problem solving into mathematics teaching, but the benefits are far in excess of the
obstacles found.

Kesimpulan Conclusion

Dari diskusi tersebut di atas, dapat dirangkum bahwa problem solving matematika
memiliki sejumlah keuntungan (benefits). From the above discussion, problem solving
can be summarized that mathematics has a number of advantages (benefits). Strategi
problem solving tidak hanya mampu mengubah gaya belajar anak dari sebagai pelajar
yang pasif menjadi pelajar yang aktif dalam mengkonstruksi konsep mereka, tetapi juga,
membuat pembelajaran matematika lebih berarti (more meaningful), masuk akal (make
sense), menantang dan menyenangkan (challenge and fun), cocok buat siswa (relevant for
students), dan memberikan cara berfikir yang fleksibel (thinking flexibility). Problem
solving strategies are not only able to change the learning styles of children as passive
learners into active learners in constructing their concepts, but also, to make learning
math more meaningful (more meaningful), it makes sense (make sense), challenging and
fun (and challenge fun), suitable for students (relevant for students), and provides a
flexible way of thinking (thinking flexibility). Karenanya problem solving matematika
dapat dipandang sebagai suatu pendekatan yang penting untuk meningkatkan pemahaman
matematika anak. Because of mathematical problem solving can be viewed as an
important approach to improve understanding of math kids.

REFERENSI REFERENCES

Blane, D. Blane, D. and Evans, M. and Evans, M. 1989, 'VCE Problem Solving and
Modelling – Starting Points', in B. 1989, 'Problem Solving and Modelling VCE - Starting
Points', in B. Doig (ed.), Everyone Counts, The Mathematical Association of Victoria for
Twenty-sixth Annual Conference, December 7th & 8th, 1989, pp. Doig (ed.), Everyone
Counts, The Mathematical Association of Victoria for Twenty-sixth Annual Conference,
December 7th & 8th, 1989, pp. 367-371. 367-371.

Branca, NA, 1980, 'Problem Solving as a Goal, Process, and Basic Skills', in S. Branca,
NA, 1980, 'Problem Solving as a Goal, Process, and Basic Skills', in S. Krulik and RE
Reys (eds.), Problem Solving in School Mathematics, National Council of Teachers of
Mathematics, Virginia, pp. Krulik and RE Reys (eds.), Problem Solving in School
Mathematics, National Council of Teachers of Mathematics, Virginia, pp. 3-8. 3-8.
Burns, M. Burns, M. 1990, 'The Math Solution', in N. 1990, 'The Math Solution', in N.
Davidson (Ed.), Cooperative Learning in mathematics: A Handbook for Teachers,
Addison-Wesley, California, pp. Davidson (Ed.), Cooperative Learning in mathematics:
A Handbook for Teachers, Addison-Wesley, California, pp. 21-46. 21-46.

Burton, L. Burton, L. 1992, 'Working Together', in Mathematics Teaching, 140,


September 1992, pp. 1992, 'Working Together', in basic reproduction Teaching, 140,
September 1992, pp. 16–19. 16-19.

Dirjen Binbaga Depag RI, 1993, Garis-garis Besar Program Pengajaran MTs:
Matematika (Cetakan pertama), Dirjen Binbaga Depag RI, Jakarta. Institutions Guidance
Director General of Religious Affairs of Indonesia, in 1993, Outlines of MTs Teaching
Program: Mathematics (First Matter), Institutions Guidance Director General of
Religious Affairs of Indonesia, Jakarta.

Galbraith, PL and Haines, CR 1997, 'Some Mathematical Characteristics of Students


Entering Applied Mathematics Degree Courses', in SK Houston, et al. Galbraith, PL and
Haines, CR 1997, 'Some Mathematical Characteristics of Students Entering Applied
Mathematics Degree Courses', in SK Houston, et al. (eds.), Teaching and Learning
Mathematical Modelling: Innovation, Investigation and Application, Albions Publishing,
Chichester, pp. (Eds.), Teaching and Learning Mathematical Modelling: Innovation,
Investigation and Application, Albions Publishing, Chichester, pp. 77–92. 77-92.

Griffiths, R. Griffiths, R. and Clyne, M. and Clyne, M. 1994, Maths Makes Sense:
Teaching and Learning in Context, Eleanor Curtain, Armadale. 1994, Maths Makes
Sense: Teaching and Learning in Context, Eleanor Curtain, Armadale.

Gervasoni, A. Gervasoni, A. 1998, 'Using Problem Solving to Enhance Numeracy


Learning', in Prime Number, 13(2), June 1998, pp. 1998, 'Using Problem Solving to
Enhance Numeracy Learning', in Prime Number, 13 (2), June 1998, pp. 21–23. 21-23.

Groves, S. Groves, S. and Stacey, K. and Stacey, K. 1990, 'Problem Solving – A Way of
Linking Mathematics to Young Children's Reality', in Australian Journal of Early
Childhood, 15(1), March 1990, pp. 1990, 'Problem Solving - A Way Of Linking
Mathematics to Young Children's Reality', in Australian Journal of Early Childhood, 15
(1), March 1990, pp. 5–11. 5-11.

Groves, S. Groves, S. 1989, 'Problem-solving and Modelling – Years 7 to 12', in B. 1989,


'Problem-solving and Modelling - Years 7 to 12', in B. Doig (ed.), Everyone Counts, The
Mathematical Association of Victoria for Twenty-sixth Annual Conference, December
7th & 8th, 1989, pp. Doig (ed.), Everyone Counts, The Mathematical Association of
Victoria for Twenty-sixth Annual Conference, December 7th & 8th, 1989, pp. 10–17. 10-
17.

Groves, S. Groves, S. 1999, 'An Introduction to Mathematical Modelling', in Deakin


University, Problem Solving and Modelling: Study Guide, Faculty of Education,
Geelong, pp. 1999, 'An Introduction to the Mathematical Modelling', in Deakin
University, Problem Solving and Modelling: Study Guide, Faculty of Education,
Geelong, pp. 33-47. 33-47.

Hodgson, B. Hodgson, B. 1989, 'Problem Solving and Modelling Activities for the VCE',
in B. 1989, 'Problem Solving and Modelling Activities for the VCE', in B. Doig (ed.),
Everyone Counts, The Mathematical Association of Victoria for Twenty-sixth Annual
Conference, December 7th & 8th, 1989, pp. Doig (ed.), Everyone Counts, The
Mathematical Association of Victoria for Twenty-sixth Annual Conference, December
7th & 8th, 1989, pp. 350–357. 350-357.

Lamon, SJ 1997, 'Mathematical Modelling and the Way the Mind Works', in SK
Houston, et al. Lamon, SJ 1997, 'Mathematical Modelling and The Way the Mind
Works', in SK Houston, et al. (eds.), Teaching and Learning Mathematical Modelling:
Innovation, Investigation and Application, Albions Publishing, Chichester, pp. (Eds.),
Teaching and Learning Mathematical Modelling: Innovation, Investigation and
Application, Albions Publishing, Chichester, pp. 23–37. 23-37.

Pengelly, H. Pengelly, H. 1989, 'Becoming Mathematical Problem Solvers', in B. 1989,


'Becoming Mathematical Problem Solvers', in B. Doig (ed.), Everyone Counts, The
Mathematical Association of Victoria for Twenty-sixth Annual Conference, December
7th & 8th, 1989, pp. Doig (ed.), Everyone Counts, The Mathematical Association of
Victoria for Twenty-sixth Annual Conference, December 7th & 8th, 1989, pp. 1-5. 1-5.

Stacey, K. Stacey, K. and Groves, S. and Groves, S. 1985, Strategies for Problem
Solving: Lesson Plans for Developing Mathematical Thinking, Latitude Publications,
Glen Waverley-Victoria. 1985, Strategies for Problem Solving: Lesson Plans for
Developing Mathematical Thinking, Latitude Publications, Glen Waverley, Victoria.

Taplin, M., 2001, 'Mathematics Through Problem Solving', available in: Taplin, M.,
2001, 'Mathematics Through Problem Solving', available in:

http://www.mathgoodies.com/articles/problem_solving.shtm
http://www.mathgoodies.com/articles/problem_solving.shtm

..
Thompson, L. Thompson, L. 1989, 'Problem Solving', in B. 1989, 'Problem Solving', in
B. Doig (ed.), Everyone Counts, The Mathematical Association of Victoria for Twenty-
sixth Annual Conference, December 7th & 8th, 1989, pp. Doig (ed.), Everyone Counts,
The Mathematical Association of Victoria for Twenty-sixth Annual Conference,
December 7th & 8th, 1989, pp. 275– 84. 275-84.
MATHEMATICS IN THE REAL WORLD Mathematics IN THE REAL
WORLD

H. H. Mutadi, S.Pd., M.Ed. Mutadi, S.Pd., M.Ed.

Pendahuluan Preliminary

Dua tantangan yang selalu dihadapi oleh guru adalah, pertama mampu
memberikan dorongan kepada muridnya agar tertarik dalam pembelajaran mereka dan
membuat mereka merasa bahwa apa yang dipelajarinya itu benar-benar sangat berguna (
worthwhile ). Two challenges faced by the teacher always is the first capable of giving
encouragement to his students so interested in their learning and make them feel that
what he had learned it's really very useful (worthwhile). Dan yang kedua , adalah
bagaimana mereka memperoleh gagasan ( ideas ), konsep( concept ) dan keahlian (
skills ) melalui proses pembelajaran yang benar-benar bermakna (Floyd, et al., 1972, h.
1). And second, is how they get ideas (ideas), concept (concept) and expertise (skills)
through the learning process truly meaningful (Floyd, et al., 1972, p. 1). Untuk menjawab
semua tantangan tersebut Freudental (1973: dikutip di Reusser & Stebler, 1977)
menyarankan bahwa pembelajaran matematika hendaknya diubah ke dalam konteks yang
akrab dengan kehidupan anak ( structuring of reality which is familiar with students daily
life ). To answer all these challenges Freudental (1973: cited in Reusser & Stebler, 1977)
suggest that mathematics instruction should be modified into a context familiar to the
child's life (structuring of reality Which is familiar with students daily life). Hal serupa
juga diketengahkan oleh Burton (di Mathematics Teacher 140, 1993) bahwa melalui
belajar matematika di dunia nyata ( the real world ) diharapkan murid akan merasa lebih
akrab dan senang dengan materi yang dipelajarinya serta mampu memahami ( make
sense ) materi itu melalui aktivitasnya. It is also presented by Burton (in Mathematics
Teacher 140, 1993) that through the learning of mathematics in the real world (the real
world) expected students will feel more familiar and happy with the material learned and
be able to understand (make sense) the material through its activities.

Dengan membawa dunia nyata dalam pengajaran matematika diharapkan guru tidak
memaksa muridnya untuk selalu mengikuti cara berfikirnya dan cara yang ada dalam
buku teks ( the teacher does not push students to follow their thinking and textbook ).
Oleh karena itu proses pembelajaran matematika yang baik menurut Burton (di
Mathematics Teacher 140, 1993) dan Davis et al. By bringing the real world in the
teaching of math teachers are not expected to force his students to always follow the
ways and means that there berfikirnya in text books (the teacher does not push students
to follow on their thinking and textbook). Therefore, a good mathematical learning
process according to Burton ( Teacher in Mathematics 140, 1993) and Davis et al. (1991;
di Mathematics Teacher 137, 1991) adalah mampu mendorong murid untuk menciptakan
dan membangun pemahamannya sendiri ( construct and develop their own understanding
). (1991; in Mathematics Teacher 137, 1991) was able to encourage students to create and
build their own understanding (construct and develop their own understanding).

Pengajaran di kelas membutuhkan konteks Requires the context of classroom


teaching

Sebagaimana disarankan oleh Lovitt dan Clarke (1980: dikutip di Smith, 2000) bahwa
guru matematika perlu melakukan langkah inovatif ( innovative ways ) dalam
mengajarkan matematika. As recommended by Lovitt and Clarke (1980: quoted in Smith,
2000) that mathematics teachers need to conduct innovative measures (innovative
Airways) in the teaching of mathematics. Guru perlu menyajikan model pengajaran
matematika yang melibatkan aktivitas fisik ( physically involved ), menggunakan
teknologi informasi, mendorong murid untuk melakukan penulisan matematika ( writing
about the mathematics ). Teachers need to present the teaching of mathematical models
that involve physical activity (physically Involved), using information technology,
encourage students to perform mathematical writing (writing about the mathematics).

Adapun langkah inovatif yang diarahkan untuk terciptanya pembelajaran matematika


dalam dunia nyata tersebut, dapat dilihat pada bentuk-bentuk pembelajaran berikut ini:
The innovative steps aimed at the creation of learning mathematics in the real world, it
can be seen in the forms of learning the following:

1. Menggunakan tema ( theme ) untuk materi matematikanya ( use a theme as a


focus for mathematics contents ) Using the theme (theme) for mathematical
material (use a theme as a focus for mathematics contents)
2. Menggunakan video ( making use of video snippets ) Using the video (making use
of video snippets)
3. Menghubungkan matematika dengan masalah-masalah sosial dan lingkungan
hidup ( linking mathematics to social and environment issues ) Linking
mathematics with social issues and the environment (linking mathematics to
social and environment issues)
4. Membawa pengajaran matematika di luar kelas ( taking mathematics outside the
classroom ) Bringing the teaching of mathematics outside the classroom (taking
mathematics outside the classroom)
5. Pengajaran matematika dengan menggunakan spreadsheet Teaching mathematics
using a spreadsheet
6. Pemodelan matematika ( mathematics modelling ) Mathematical modeling
(modeling mathematics)
7. Investigasi penerapan matematika dalam dunia kerja ( investigating mathematics
application in the workplace ) Investigating the application of mathematics in the
world of work (investigating mathematics application in the workplace)

(Smith, 2000, h. 3) (Smith, 2000, p. 3)

Peran guru (the role of teacher) The role of the teacher (the role of teacher)

Dalam pembelajaran matematika dunia nyata lebih menekankan pada keaktifan siswa,
oleh karenanya akan terjadi pergeseran peran guru dari 'guru akting di depan kelas dan
murid menonton' ke 'siswa aktif bekerja untuk membangun pengetahuan baru'. In the real
world of mathematics learning more emphasis on students 'activeness, and therefore will
be a shift in the role of teachers' acting in front of the classroom teacher and students
watch 'to' actively working to build students 'new knowledge'. Oleh karenanya, tugas
guru dalam pembelajaran matematika dunia nyata lebih terfokus pada membantu siswa
dalam menciptakan dan membangun pengetahuan barunya ( the role of teachers is as a
fellow learner ). Therefore, the task of teachers in the real world of mathematics
instruction is more focused on assisting students in creating and building new knowledge
(the role of Teachers is as a fellow learner).

Keuntungan pembelajaran matematika dunia nyata Gain real-world mathematics

Beberapa keuntungan dalam pembelajaran matematika dunia nyata diantaranya: Some


gains in the real world of mathematics learning such as:

1. Pembelajaran matematika dunia nyata lebih memberikan makna pada siswa


karena dikaitkan dengan kehidupan dunia nyata. Konteks dunia nyata yang
digunakan untuk sumber pembelajaran dapat berperan sebagai penguat kesan ( a
memory jogger ). Learning math is more real world gives meaning to the students
as it is associated with the life of the real world. The context of the real world that
are used for learning resources can act as reinforcing the impression (a memory
jogger).
2. Siswa lebih senang dan lebih termotivasi. Students are happier and more
motivated.
3. Aplikasi mata pelajaran benar-benar terdemonstrasikan Applications subject
really terdemonstrasikan
Penutup Cover

Pembelajaran matematika di dunia nyata akan lebih dapat, pertama , meningkatkan


motivasi siswa, sebab model pembelajaran ini berusaha menghadirkan matematika
sebagai sesuatu yang akrab dengan kehidupan anak. Kedua , pembelajaran ini akan lebih
bermakna ( meaningful ) dan sekaligus memberikan pemahan yang sebenarnya ( real
understanding ) pada diri siswa. Learning math in the real world will be better able to,
first, to increase student motivation, because the model is trying to present the learning of
mathematics as something that is familiar with the child's life. Second, this learning will
be more meaningful (meaningful) and simultaneously provide pemahan the actual (real
understanding) on students' self.

REFERENSI REFERENCES

Smith, R., 2000, Applying Mathematics to the Real World (Study Guide) , Deakin
University, Melbourne. Smith, R., 2000, applying Mathematics to the Real World (Study
Guide), Deakin University, Melbourne.

Burton, L., 1993, 'Working Together', in Mathematics Teacher 140, September 1993.
Burton, L., 1993, 'Working Together', in Mathematics Teacher 140, September 1993.

Reusser, K and Stebbler, R., 1997, 'Every Word Problem has a Solution: The Social
Rationality of Mathematics Modelling in School', in Learning and Instruction , Elsevier
Science, Ltd., Great Britain, Vol. Reusser, K and Stebbler, R., 1997, 'Every Word
Problem has a Solution: The Social Rationality of Mathematics Modeling in School', in
Learning and Instruction, Elsevier Science, Ltd.., Great Britain, Vol. 7 No. 7 No. 4,
1997, pp. 4, 1997, pp. 309-327. 309-327.

Floyd, PJ et al., 1972, Mathematics from Outdoors , Chatto & Windus (Educational)
Floyd, PJ et al., 1972, Mathematics from Outdoors, Chatto & Windus (Educational)
Ltd., London. Ltd., London.

Davis, R, Maher, C & Nodding, N (eds.), 1991, 'Constructivism View on the Teaching
and Learning Mathematics', in Mathematics Teacher 137, December 1991. Davis, R,
Maher, C & Nodding, N. (eds.), 1991, 'constructivism View on the Teaching and
Learning Mathematics', in Mathematics Teacher 137, December 1991.

PORTOFOLIO ASSESSMENT PORTFOLIO Assessment


Sebuah Alternatif Evaluasi pada Pelajaran Matematika An Alternative Evaluation
in Mathematics Lessons

H. H. Mutadi, S.Pd., M.Ed. Mutadi, S.Pd., M.Ed.

Pengantar Introduction
Tes model pilihan berganda (multiple choice) sampai saat ini masih dan
terus digunakan secara meluas dalam evaluasi matematika. Model of multiple-choice
tests (multiple choice) to date and still remains widely used in the evaluation of
mathematics. Sebagai contoh di Amerika, tes pilihan ganda ini masih mendominasi
dalam sistem evaluasi matematika di negara itu (Garet & Mills: Dikutip Ellerton &
Clements, 2000). For example in America, this multiple-choice tests still dominate the
math evaluation system in the country (Margaret & Mills: Quoted Ellerton & Clements,
2000). Sementara itu berkaitan dengan sistem evaluasi pilihan ganda (Frary; Gays &
Thomas; Hembree; Thongtawat: Dikutip Ellerton & Clements, 2000) mengatakan bahwa
dari hasil riset diketemukan ada sejumlah siswa yang bisa menjawab dengan benar pada
sistem evaluasi multiple choice namun kenyataannya dia “tidak menguasai” konsep
matematika yang berhubungan dengan soal itu, bahkan ironisnya dia tidak paham
terhadap soal yang ia jawab tersebut. Meanwhile, related to the multiple choice
evaluation system (Frary; Gays & Thomas; Hembree; Thongtawat: Quoted Ellerton &
Clements, 2000) says that the research found there are some students who can correctly
answer the multiple choice evaluation system but in fact he was "not master
"mathematical concepts related to matter, even she does not understand the irony of
which he answered those questions. Penelitian (research) lainnya dilakukan oleh Ellerton
dan Clement – Mathematics Education Research Group of Australia (MERGA), Lismore
— terhadap 115 siswa di Year 8 dengan menggunakan 16 soal diperoleh ada 7% siswa
yang memilih jawaban dengan benar tapi tidak paham terhadap konsep matematika yang
terkait dengan soal itu bahkan soal itu sendiri . Research (research) done by other
Ellerton and Clement - Mathematics Education Research Group of Australia (MERGA),
Lismore - to 115 students in Year 8 by using 16 questions showed that there was 7% of
students who chose the correct answer but do not understand the concept of mathematical
related to a matter that even matter itself.
Masih terkait dengan permasalahan tersebut, Trihastuti (2002, h. 4) menegaskan bahwa
penilain hasil belajar yang hanya menekankan pada hasil akhir belajar saja dianggap
kurang memadai. Still associated with these problems, claire (2002, p. 4) asserted that the
judgment learning outcomes that merely focuses on learning outcomes alone is
considered inadequate. Oleh karena perlu dilakukan langkah penyempurnaan terhadap
sistem evaluasi yang ada (multiple choice), yaitu dicarikan alternatif evaluasi lain.
Therefore, necessary step toward improving the existing evaluation system (multiple
choice), which looked for an alternative other evaluations. Adapun sistem evaluasi yang
lain ini diharapkan tidak untuk mengganti keberadaan multiple choise test tetapi
diharapkan dapat melengkapi keberadaan sistem evaluasi yang telah ada dan mampu
mengatasi kekurangan atau kelemahan yang selama ini terjadi. The other evaluation
system is expected not to change the existence of multiple choise test but is expected to
complement the presence of existing evaluation systems and be able to overcome the
shortcomings or weaknesses that have been happening. Salah satunya adalah dengan
menggunakan sistem evaluasi portofolio (portfolio). One way is to use a portfolio
evaluation system (portfolio). Sistem evaluasi portofolio adalah penilaian lengkap yang
memantau perkembangan siswa dari awal hingga akhir dalam upaya menguasai materi
pembelajaran baik dalam proses (on going records process) maupun hasil akhir (output)
belajar. Portfolio evaluation system is a complete assessment that monitors student
progress from beginning to end in an effort to master the learning material either in the
process (on going process records) as well as the final result (output) study.

Portofolio Portfolio

Portofolio berasal dari kata portare yang berarti tas, dan folio yang berarti kertas.
Portfolio is derived from portare, meaning the bag, and a folio which means the paper.
Apabila dilihat asal katanya, portofolio dapat diartikan sebagai tempat atau map yang
digunakan oleh siswa untuk menyimpan hasil kerjanya atau bukti-bukti yang merupakan
hasil kerja siswa (Trihastuti, 2002, h. 1). If the visits home he said, the portfolio can be
interpreted as the place or folder that is used by students to save their results or evidence
that is the result of students' work (claire, 2002, p. 1). Sementara menurut Mousley
(2001): Meanwhile, according Mousley (2001):

“A portfolio typically contains a collection of a student's work which provides a


permanent and ongoing record of progress. "A portfolio typically contains a collection of
a student's work Which provides a permanent and ongoing record of progress. In
mathematics, as in other areas such as art, portfolios can be used to show-case students'
work. In mathematics, as in other areas Poor 'art, portfolios Can be Used to show-case
students' work. Therefore, students may have a large say in what is included in their
portfolios. Therefore, students May have a large say in what is Included in on their
portfolios. Often, portfolios contain additional comments by students about the pieces of
work in the collection.” Often, portfolios contain additional comments by students about
the pieces of work in the collection. "

Dari definisi yang telah dikemukakan oleh Mousley dapat ditarik kesimpulan, pertama,
bahwa tujuan portofolio adalah untuk melihat kemajuan siswa (ongoing record of
progress) selama proses mengikuti mata pelajaran tertentu. From the definitions that have
been put forward by Mousley can be concluded, first, that the purpose of the portfolio is
to see student progress (ongoing record of progress) during the process of following this
particular subject. Kedua, portofolio digunakan untuk menunjukkan hasil kerja siswa
dalam mata pelajaran itu. Second, the portfolio is used to show the work of students in
that subject. Disamping, portofolio bisa menumbuhkan refleksi diri siswa lewat
memberikan komentar (additional comments) tambahan bahkan memunculkan pola pikir
yang kreatif (lateral thinking) dalam tiap-tiap kerja yang dilakukannya. In addition,
portfolios can foster self-reflection by students to comment (additional comments) raises
even more creative thinking (lateral thinking) in each work he was doing.

Hal-hal yang perlu ada dalam portofolio Things that need to exist in the portfolio
Menurut Robinson (2000) bahwa model portofolio pada dasarnya tidak memiliki struktur
tertentu dalam penyusunannya. According to Robinson (2000) that the portfolio model
basically has no particular structure in the formulation. Portofolio hanya memberikan
kesempatan pada siswa untuk berkreasi dalam mendesainnya yang ditujukan untuk
memperlihatkan kemajuannya dalam mata pelajaran itu. Portfolio is only providing the
opportunity for students to be creative in designing aimed to show progress in that
subject. Robinson (2000) menambahkan bahwa dalam setiap portofolio murid diminta
melakukan setidaknya lima hal pokok (five entries), misalnya: menjawab 5 buah
pertanyaan dari sebuah tugas portofolio yang diberikan atau melampirkan 5 buah hal atau
bukti dari hasil praktek (experiment) yang dilakukan oleh siswa. Robinson (2000) adds
that in any portfolio of the student being asked to do at least five main points (five
entries), for example: answering five questions from the fruit of a given task or attach a
portfolio of five pieces of evidence from the case or practice (experiment) conducted by
students . Kelima buah pertanyaan atau kelima buah hal yang perlu dilaporkan dalam
praktek tugas portofolio ini bisa dibuat oleh guru terlebih dulu dengan atau tanpa
melibatkan muridnya. The five pieces of fruit a question or fifth thing that must be
reported in this portfolio assignment practices can be made by the teacher first with or
without involving the pupil.
Robinson (2000) menambahkan dalam portofolio dapat berisi: Robinson (2000) adds in a
portfolio may contain:
a. a. Group project (proyek yang dikerjakan dalam kelompok) Group projects (projects in
progress within the group)
b. b. Daily homework assignment (PR harian) Daily homework assignment (PR Daily)
c. c. Tests (Hasil tes yang perlu dilampirkan) Tests (Test results that need to be attached)
d. d. Essay (Menulis essay yang terkait dengan mata pelajaran) Essay (Writing essays
related subjects)
e. e. A mathematical autobiography (Biografi tokoh matematika yang terkait topik) A
mathematical Autobiography (Biographies of math-related topics)
f. f. Class note (Catatan di kelas) Class notes (notes in class)
g. g. An assignment from a science class (Mengerjakan soal tes dari kelas IPA dari
tinjauan matematika) An assignment from a science class (Doing the test in science class
from a review of mathematics)
h. h. Quizzes (Teka-teki) Quizzes (Puzzle)
i. i. Problem solving (Materi-materi matematika untuk problem solving) Problem solving
(mathematics materials for problem solving)
Robinson (2000) menambahkan bahwa satu hal yang sangat penting dalam portofolio
adalah daftar isi (table of contents), dimana siswa menuliskan gambaran kemajuan yang
telah diperolehnya pada setiap aktivitasnya. Robinson (2000) adds that one thing is very
important in the portfolio is a list of contents (table of contents), in which students write a
description of the progress that has been earned in each activity. Disamping, siswa perlu
menuliskan rangkuman (summary) yang berisi pemikirannya (thoughts) dan refleksinya
(reflection) terhadap tugas portofolio tersebut. In addition, students need to write a
summary (summary), which contains the thoughts (thoughts) and reflection (reflection)
of the portfolio assignment.
Kelebihan menggunakan portofolio Excess use of portfolio

Ada beberapa keuntungan yang bisa diberikan dari model evaluasi portfolio (Robinson,
2000): There are several benefits that can be provided from the portfolio evaluation
model (Robinson, 2000):

1. For teacher, porfolio assignment give an opportunity to stand back and look at the
big picture of the progress that students has made in the course. For teacher,
porfolio assignments give an opportunity to stand back and look at the big picture
of the progress That has made students in the course. (Untuk guru, evaluasi
portofolio memberikan kesempatan untuk melihat kembali gambaran kemajuan
yang telah dicapai muridnya secara keseluruhan). (For teachers, evaluation of the
portfolio provides an opportunity to look back on progress made picture of his
students as a whole).
2. Porfolio challenges the teacher to give students opportunity to engage in a variety
of tasks in addition to such traditional assessments. Porfolio challenges the
teacher to give students opportunity to engage in a variety of tasks in Addition to
Standard and Poor Assessments traditional. (Evaluasi portofolio memberikan
tantangan pada guru untuk dapat memberikan variasi latihan atau soal atau
penugasan praktek). (Evaluation of the portfolio provides a challenge to teachers
to be able to exercise or a matter of variation or assignment of the practice).
3. For students, the goals include taking responsibility for learning, gaining self-
confidence and communicating effectively. For students, the goals include taking
responsibility for learning, Gaining self-confidence and Communicating
effectively. (Keuntungan yang diperoleh siswa, siswa memiliki rasa tanggung
jawab dalam belajarnya baik secara pribadi maupun dalam kelompok kecilnya,
diperolehnya rasa percaya diri, dan bisa mengkomunikasikan hasil belajarnya di
depan kelas secara efektif). (Profits earned by students, students have a sense of
responsibility in both personal and learning in small groups, gained confidence,
and could communicate the results of studies in front of the class effectively).
4. Overall, portofolios give the teacher concrete evidence of how students are
progressing, but more important, they give students opportunity to assemble their
own collection of work demonstrating their mathematical power and progress.
Overall, the teacher portofolios give concrete evidence of how students are
progressing, but more Important, they want to give students opportunity
Assembly of their own collection of work demonstrating on their mathematical
power and progress. (Secara keseluruhan, portofolio memberikan guru akan bukti
yang nyata tentang kemajuan muridnya, tetapi lebih penting lagi, portofolio
memberikan kesempatatan pada murid untuk menyusun koleksinya yang
mencerminkan kehebatannya dan kemajuannya dalam matematika). (Overall, the
portfolio will give teachers a clear proof of student progress, but more
importantly, the portfolio provides kesempatatan on preparing students for their
collections reflect the prowess and progress in mathematics).
Langkah-langkah implementasi evaluasi portofolio Step-by-step implementation of
portfolio evaluation

Berdasarka berbagai pendapat di atas, maka dapat ditarik beberapa langkah praktis dalam
menerapkan evaluasi portofilio dalam pelajaran matematika. Berdasarka various opinions
on the above, it can draw some practical steps in implementing the evaluation portofilio
in math.

1. 1. Buat portfolio study guide (Buku Arahan Penugasan Portofolio) Create a portfolio
of study guide (Book Referral Assignment Portfolio)

Buku arahan penugasan portofolio ini dibuat oleh guru yang berisi tentang Teka-teki,
soal-soal problem solving, proyek matematika, soal-soal matematika yang sulit,
matematika di koran atau majalah, matematika dalam sains, matemati dalam
kehidupanseharai-hari dan lain sebagainya Book this portfolio assignment referrals made
by teachers which contains puzzles, problems problem solving, math projects, math
problems that are difficult, in newspapers or magazines mathematics, mathematics in
science, matemati in kehidupanseharai-day, etc.

2. 2. Hand out (Lembar penugasan) Hand out (assignment sheet)

Hand out adalah berisi arahan mengerjakan portfolio yang didasarkan pada portfolio
study guide. Hand outs are working on a portfolio which contains directives based on the
portfolio of a study guide. Dengan kata lain, portfolio study guide hanya merupakan
kumpulan soal dan kumpulan aktivitas, sementara hand out inilah yang digunakan untuk
memberi penjelasan pada siswa mana soal yang perlu dikerjakan dan mana aktivitas yang
perlu dilakukan untuk portofolionya. In other words, portfolio only study guide is a
collection of questions and collection activities, while the hand-out is used to give an
explanation on where students' questions that need to be done and where activity needs to
be done for his portfolio.

Hand out ini setidaknya berisi: Hand these out at least contain:
a. a. Ada berapa Bab yang harus dikerjakan atau dibuat. How many Chapters to be done
or made.
b. b. Hal-hal apa yang harus disertakan atau dikerjakan di Bab 1, Bab 2 dan seterusnya.
Things what should be included or treated in Chapter 1, Chapter 2 and onwards.
c. c. Penjelasan tentang berapa persen portofolio ini akan mempengaruhi nilai akhir
dalam pelajaran matematika. An explanation of what percentage of this portfolio will
affect the ultimate value in math.
d. d. Kapan tanggal akhir pengumpulan (Due date). When the collection end date (Due
date).
e. e. Menginformasikan tentang kerangka penilaian. Informing about the assessment
framework. Baik berupa observation assessment form (Penilaian observasi kelas) maupun
marking scheme (kerangka penilaian secara detail), yaitu kriteria-kriteria mana yang
menjadi penekanan penilaian portofolio. Neither form of assessment observation form
(Valuation class observation) or marking scheme (assessment framework in detail), ie the
criteria which the emphasis of portfolio assessment.
f. f. Memberikan contoh Submission form (lembar penyerahan) yang perlu dibuat siswa.
Provide examples of Submission form (sheet delivery) that need to be made of students.
Submission form merupakan sampul (cover) untuk portofolio anak sekaligus tempat
penilaian dan komentar guru (Teacher's Comments) terhadap kualitas portofolio
siswanya. Submission form is a cover (cover) for the portfolio as well as the assessment
of child and teacher comments (Teacher's Comments) on the quality of student portfolios.

Kesimpulan Conclusion

Evaluasi portofolio adalah sebuah bentuk evaluasi yang tidak hanya menekankan pada
hasil belajar melainkan proses belajarnya. Portfolio evaluation is an evaluation form
which not only emphasizes on learning outcomes but rather the learning process.
Portofolio diharapkan dapat sebagai alternatif evaluasi yang dapat mengatasi kelemahan
sistem evaluasi multiple choice, disamping memberikan rasa tanggung jawab (take
responsibility) dalam belajarnya pribadi maupun dalam belajar kelompoknya
(cooperative learning group) dan diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri
(self-confidence) pada diri peserta melalui sejumlah presentasi portofolio yang dilakukan
di kelasnya. Portfolio evaluation is expected to be as an alternative that can overcome the
weaknesses of the evaluation system of multiple choice, besides giving a sense of
responsibility (take responsibility) in their study of personal and group learning
(cooperative learning group) and is expected to increase self-confidence (self-confidence)
on self participants through a number of presentations conducted in-class portfolio.

REFERENSI REFERENCES

Ellerton, N. Ellerton, N. & Clements, K., 2000, “Challenging the effectiveness of pencil-
and-paper tests in mathematics”, dikutip di: Deakin University, Evaluation and
Assessment in Mathematics and Science Education (Reader), Deakin University,
Melbourne Australia. & Clements, K., 2000, "Challenging the effectiveness of pencil-
and-paper tests in mathematics", quoted in: Deakin University, Evaluation and
Assessment in Mathematics and Science Education (Reader), Deakin University,
Melbourne Australia.

Mousley, J., 2001, “Assessment of Problem Solving and Modelling”, Dikutip di: Deakin
University, Problem Solving and Modelling (Study Guide), Melbourne. Mousley, J.,
2001, "Assessment of Problem Solving and Modelling", Quoted in: Deakin University,
Problem Solving and Modelling (Study Guide), Melbourne.

Robinson, D., 2000, “Student Portfolios in Mathematics”, Dikutip di: Deakin University,
Evaluation Assessment in Mathematics and Science Education (Reader), Deakin
University, Melbourne. Robinson, D., 2000, "Student Portfolios in Mathematics", Quoted
in: Deakin University, Evaluation Assessment in Mathematics and Science Education
(Reader), Deakin University, Melbourne.

Trihastuti, S., 2002, Portofolio, Balai Penataran Guru (BPG) Yogyakarta, Yogyakarta.
Claire, S., 2002, Portfolio, Teacher Training Institute (BPG), Yogyakarta, Yogyakarta.

STAD SEBAGAI SALAH SATU BENTUK STAD AS AN INVESTMENT


COOPERATIVE LEARNING Cooperative learning
H. H. Mutadi, S. Mutadi, S. Pd., M. Pd., M. Ed Ed

Cooperative Learning Cooperative Learning

Cooperative learning adalah sebuah grup kecil yang bekerja bersama


sebagai sebuah tim untuk memecahkan masalah ( solve a problem ), melengkapi latihan (
complete a task ), atau untuk mencapai tujuan tertentu ( accomplish a common goal ).
Cooperative learning is a small group who work together as a team to solve the problem
(solve a problem), complete the exercises (complete a task), or to achieve certain goals
(accomplish a common goal). Ada beberapa tehnik coperative learning yang berbeda,
tetapi, kesemuanya memiliki ciri-ciri dasar yang sama. There are several different
techniques coperative learning, but, all of which have characteristics the same basis.
Salah satu ciri dasar yang dimaksud adalah bahwa ketika siswa melakukan pekerjaan
dalam grupnya, mereka lakukan dengan saling bekerja sama ( they work cooperatively ).
One of the basic features meant is that when students do the work in a group, they do
cooperate with each other (they want work cooperatively).
Sedangkan ciri-ciri dasar yang lainnya adalah, pertama, setiap anggota dalam sebuah
grup harus menerima bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim yang mempunyai
tujuan tertentu. While the basic features of the others are, first, each member in a group
must accept that they are part of a team that has a specific purpose. Kedua, setiap anggota
dalam grup harus menyadari bahwa permasalahan yang mereka pecahkan adalah
permasalahan grup. Second, every member in the group should realize that the problems
they solve the problems of the group. Sukses atau gagalnya sebuah grup (the success or
failure of group) tersebut menjadi tanggungjawab setiap anggota. Success or failure of a
group (the success or failure of the group) is the responsibility of each member. Ketiga,
untuk menyelesaikan atau melengkapi tugas kelompoknya, setiap siswa harus berbicara
satu dengan yang lain – terlibat aktif dalam mendiskusikan setiap permasalahan. Third, to
complete or complement their group assignment, each student must speak with one
another - are actively involved in discussing any problems. Terakhir, yang perlu
dijelaskan pada semua adalah, bahwa hasil pekerjaan setiap anggota memiliki andil yang
besar dalam sukses atau tidaknya sebuah grup. Lastly, who needs to be explained at all, is
that the results of the work each member has a big share in the success or not a group.
Bukanlah cooperative learning jika sekelompok siswa duduk bersama dalam sebuah grup
dan memecahkan permasalahan secara individual. Cooperative learning is not if a group
of students sitting together in a group and solve problems individually. Bukanlah
cooperative learning jika sekelompok siswa duduk bersama dalam sebuah grup dan
membiarkan seorang anggota melakukan seluruh pekerjaan. Cooperative learning is not if
a group of students sitting together in a group and allow a member to do the whole job.
Dengan demikian peranan seorang guru dalam cooperative learning sangat diperlukan
untuk mendinamisasikan setiap grup dan mendorong murid untuk saling berinteraksi satu
dengan yang lainnya. Thus the role of a teacher in cooperative learning is indispensable
for mendinamisasikan each group and encourage students to interact with each other.

Keuntungan Cooperative Learning Cooperative Learning Gains

Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari aktivitas Cooperative Learning


diantaranya: Some benefits can be obtained from cooperative learning activities such as:
1. 1. Mengurangi kecemasan (Reduction of Anxiety), seperti: Reduce anxiety (Reduction
of Anxiety), such as

• menghilangkan perasaan “terisolasi” dan panik. eliminate the feeling of "isolated"


and panicked.
• menggantikan bentuk persaingan (competition) dengan saling kerja sama
(cooperation) replace the form of competition (competition) with each other
cooperation (Cooperation)
• melibatkan siswa untuk aktif di dalam proses belajar to actively involve students
in the learning process
• menciptakan suasana kelas yang lebih rilek dan tidak terlalu resmi (more relaxed
and informal classroom) create a more relaxed classroom atmosphere and not too
formal (more Relaxed and informal classroom)
• karena bekerja di dalam grup yang kecil hambatan rasa malu (barriers of shyness)
dan rasa kurang percaya diri (lack of confidence) dapat dikurangi. because
working in small groups shyness barriers (barriers of shyness) and a sense of lack
of confidence (lack of confidence) can be reduced.

2. 2. Belajar melalui komunikasi (Learning through communication), seperti: Learning


through communication (learning through communication), such as:

• mereka belajar dengan berbicara dan mendengarkan satu dengan yang lainnya.
they learn by talking and listening to each other.
• mereka dapat berdiskusi (discuss), berdebat (debate), adu gagasan (wrestle with
idea), konsep dan keahlian sampai benar-benar mamahaminya. they can discuss
(discuss), argue (debate), fights the idea (wrestle with ideas), concepts and
expertise to truly mamahaminya.
• mereka memiliki rasa peduli (care), rasa tanggung jawab (take responsibility)
terhadap teman lain dalam proses belajarnya they have a sense of care (care),
sense of responsibility (take responsibility) to another friend in the learning
process
• mereka dapat belajar menghargai (learn to appreciate) perbedaan etnik (ethnicity),
perbedaan tingkat kemampuan (performance level), dan cacat fisik (disability)
they can learn to appreciate (learn to appreciate) ethnic differences (ethnicity),
differences in levels of ability (performance level), and physical handicap
(disability)

3. 3. Dengan cooperative learning memungkinkan siswa dapat belajar bersama, saling


membantu, mengintegrasikan pengetahuan baru (new knowledge) dengan pengetahuan
yang telah ia miliki (prior knowledge) dan menemukan pemahamannya sendiri lewat
eksplorasi, diskusi, menjelaskan, mencari hubungan (relate), dan mempertanyakan
gagasan-gagasan baru yang muncul dalam kelompoknya. With cooperative learning
allows students to study together, help each other, integrate new knowledge (new
knowledge) with the knowledge that he had (prior knowledge) and finding their own
understanding through exploration, discussion, explains, looking for a relationship
(relate), and question ideas new ideas that emerged in the group.

Students Team – Achievement Divisions (STAD) Students Team - Achievement


divisions (STAD)

Students Team – Achievement Divisions (STAD) dikembangkan oleh Robert E. Students


Team - Achievement divisions (STAD) was developed by Robert E. Slavin dari Johns
Hopkins University, berinduk pada kajian beberapa metode yang ia namakan Students
Team Learning (STL) tahun 1980-an. Slavin of Johns Hopkins University, descended on
the study of several methods that he calls the Student Team Learning (STL) in the 1980s.
STAD tersusun dari lima komponen utama: Persentasi kelas (class presentation), belajar
dalam grup (teams), pengerjaan kuis (quizzes), perhitungan peningkatan skore individu
(individual improvement scores), penghargaan tim (team recognition).

1. 1. Presentasi kelas (Class presentation) Class presentation (Class presentations)


Bentuk presentasi kelas dapat berupa pengajaran langsung (direct instruction), kelas
diskusi (a lecture-discussion) yang dikondisikan langsung oleh guru dan juga presentasi
audio-visual. Presentasi kelas di STAD berbeda dari pengajaran biasanya. Siswa harus
memberikan perhatian penuh selama presentasi kelas, sebab akan membantu mereka
untuk menjawab kuis dengan baik nantinya, dan skor kuisnya akan menentukan skor
timnya.
2. 2. Grup atau tim (teams)
Setiap grup terdiri dari empat sampai lima anggota yang merepresentasikan perpaduan
berbagi tingkat kemampuan akademik siswa (academic performances), jenis kelamin
(sex), ras (race) ataupun etnik (ethnicity). Fungsi utama dari grup ini adalah untuk
mempersiapkan setiap anggotanya agar dapat mengerjakan kuis dengan baik. Setelah
guru menyajikan materi, anggota grup bertemu dan mengerjakan lembar kerja
(worksheets) atau materi yang lain. Yang sering terjadi, adalah berdiskusi untuk
memecahkan permasalahan (discussing problem together), membandingkan jawaban
(comparing answer), dan mengoreksi beberapa kesalahan konsep (misconceptions) jika
anggota dalam grupnya melakukan pengerjaan yang salah.
Grup adalah hal yang teramat penting dalam STAD. Dalam banyak hal, penekanan
diberikan pada setiap anggota grup (team members) untuk melakukan sesuatu yang
terbaik buat grupnya. Sebaliknya, pentingnya peranan sebuah grup adalah melakukan hal
yang terbaik dalam membantu meningkatkan kemampuan setiap anggotanya. Grup
memberikan bantuan dari teman sebaya (peer support) untuk meningkatkan pemahaman
atau kemampuan akademik (academic performance).
3. 3. Kuis (Quizzes).
Setelah satu atau dua periode pengajaran (teacher presentation) dan satu atau dua periode
grup melakukan praktek (atau diskusi memecahkan permasalahan), murid mengambil
kuis pribadi (individual quizzes). Siswa “tidak diijinkan” untuk saling membantu selama
mengerjakan kuis pribadi ini. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin agar setiap siswa
memiliki tanggungjawab untuk benar-benar memahami materi pelajaran.
4. 4. Peningkatan skor individual (Individual Improvement Scores)
Gagasan yang berada dibalik ide tentang “peningkatan skor individual” adalah
memberikan kesempatan pada siswa untuk mencapai tingkat kemampuan (performance
goal) yang lebih tinggi dari yang telah dicapai sebelumnya. Beberapa siswa dapat
menyumbangkan point maksimum (maximum points) pada grupnya dalam sistim
penskoran STAD apabila mereka menunjukkan peningkatan yang berarti dibanding
kemampuannya yang lalu. Setiap siswa diberikan “skor dasar” (base score) berdasarkan
rata-rata skor kuis sebelumnya. Points yang bisa disumbangkan untuk grupnya
didasarkan pada berapa besar skor kuisnya melampaui atau berada di bawah “skor
dasar”-nya.
5. 5. Penghargaan grup (team recognition)
Grup akan menerima penghargaan jika rata-rata skor mereka memenuhi atau melampaui
kriteria tertentu.

Persiapan dalam STAD

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam STAD adalah:


1. 1. Materi Materials
Membuat lembar kerja dan lembar jawaban (a worksheet and a worksheet answer), dan
kuis untuk setiap unit yang anda rencanakan untuk diajarkan.

2. 2. Mengelompokkan murid dalam grup (Assigning students to teams)


Sebuah grup di dalam STAD adalah grup yang anggotanya terdiri dari empat atau lima
orang siswa. Grup tersebut hendaknya merepresentasikan perpaduan berbagai tingkat
kemampuan akademik, ras, etnik dan jenis kelamin. Setiap grup diharapkan terdiri dari
murid yang berkemampuan tinggi (high performer), berkemampuan rendah (low
performer), dan kelas berkemampuan menengah (two averages performers). Istilah
“berkemampuan tinggi” adalah sesuatu yang sangat relatif, tentu saja hal ini dimaksudkan
untuk siswa yang berkemampuan tinggi dalam kelasnya.

Dalam pembentukan grup sebaiknya dilakukan oleh guru dari pada dipilih oleh timnya
sendiri. Sebab murid cenderung memilih temannya yang disukai. Dalam
mengelompokkan siswa tersebut, ikutilah langkah-langkah berikut ini:
1. 1. Meranking siswa
Rangkinglah siswa yang ada dalam kelasmu dari yang berkemampuan tertinggi sampai
yang terendah. Gunakan apapun informasi yang kamu miliki untuk melakukan
perankingan ini, skor hasil tes adalah yang terbaik. Namun hal itu perlu didukung oleh
keputusan pribadimu. Tidak perlu perankingan yang paling sempurna tapi lakukan yang
terbaik yang kamu bisa.
2. 2. Memutuskan banyaknya grup (Decide on the number of teams).
Setiap grup harus memiliki empat anggota jika mungkin. Untuk memutuskan berapa grup
yang akan kamu miliki, bagilah jumlah murid dalam kelas dengan empat, hasil
pembagian tersebut merupakan jumlah grup yang harus kamu punyai. Sebagai contoh,
jika ada 32 siswa dalam suatu kelas, kamu akan memiliki 8 grup dengan masing-masing
empat anggota. Jika jumlah siswa bukan bilangan yang habis dibagi empat, sisanya
mungkin akan satu, dua atau tiga. Selanjutnya kamu akan memiliki satu, dua atau tiga
grup yang anggotanya terdiri dari lima orang. Sebagai contoh, apabila ada 30 siswa
dalam kelasmu, kamu akan mempunyai tujuh grup, dimana lima grup akan memiliki
empat anggota dan dua grup akan memiliki lima anggota.
3. 3. Menempatkan siswa dalam kelompok (Assigning Students to Teams)
Ketika kamu melakukan pengelompokan, ciptakan sebuah kelompok yang seimbang
(balance) yaitu (a) Setiap kelompok terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan dari
tingkat terendah, menengah (average), dan tinggi, dan (b) rata-rata tingkat kemampuan
dalam semua kelompok yang ada di kelas itu adalah “hampir sama”. Dalam
mengelompokkan siswa, gunakan daftar peringkat kemampuan siswa. Berikan huruf tim
pada setiap siswa. Sebagai contoh, jika suatu kelas ingin dibuat menjadi delapan
kelompok gunakan huruf tim dari A sampai H. Mulailah dari bagian atas dari daftarmu
denga huruf “A”, lanjutkan pemberian huruf sampai pada bagian tengah daftarmu. Ketika
anda mendapati huruf terakhir dari huruf tim tersebut yaitu H, lanjutkan pemberian huruf
tim dari arah yang berlawanan yaitu H, G, F, …. Ketika anda mendapati huruf tim “A”,
berhentilah dan ulangi proses ini dari bawah ke atas (button up) atau mulai dari ranking
yang terendah. Sekali lagi mulai dan berakhir dengan huruf “A”.

Misalkan dalam suatu kelas terdapat jumlah murid (17 atau 18) maka murid yang tidak
terlabeli dengan huruf tim akan ditambahkan ke dalam kelompok tertentu dengan
memperhatikan ras atau etnik (race or ethnicity) dan keseimbangan jenis kelamin (sex
balance). Setelah anda selesai melabeli setiap siswa dengan huruf tim selanjutnya:
a. a. Ambil lembar daftar anggota kelompok. Tuliskan nama siswa dalam daftar anggota
kelompok itu. Biarkan “nama timnya” tidak terisi.
b. b. Tuliskan skor dasarnya (base score). Skore dasar merepresentasikan skore rata-rata
siswa setelah mengerjakan beberapa kuis sebelumnya. Jika anda memulai STAD setelah
anda memberikan tiga atau lebih kuis, gunakan rata-rata skor kuis tersebut sebagai skor
dasarnya. Jika tidak, gunakan hasil akhir dari kelas sebelumnya.

Peningkatan point (Improvement points)

Murid menyumbangkan point untuk timnya berdasarkan berapa banyak skor kuis mereka
melampaui atau berada di bawah skor dasarnya. Kriterianya sebagai berikut:
Sebagai contoh, misalkan seorang siswa memiliki skor dasar = 83; skor kuis = 90; maka
point peningkatannya = 20. Kemudian tuliskan point peningkatannya tersebut dalam
Lembar Rekapitulasi Tim (Students' Team Summary Sheets)
Kriteria penghargaan (Criteria for awards)

Ada tiga tingkat penghargaan yang dapat diberikan berdasarkan pada rata-rata skor yang
dicapai oleh suatu tim, yaitu sebagai berikut:

Ketika anda
pertama kali memberikan kuis pada siswa, anda perlu menjelaskan aturan peningkatan
point (the improvement point system), dalam penjelasan anda, hal yang perlu ditekankan
adalah sebagai berikut:

1. Tujuan utama dari sistem peningkatan point adalah memberikan skor minimum
untuk dilampaui. Skor minimum didasarkan pada kemampuan sebelumnya
sehingga semua murid memiliki kesempatan yang sama (an equal chance) untuk
sukses jika mereka melakukan yang terbaik dalam bidang akademiknya.
2. Tujuan yang kedua dari sistem peningkatan point ini adalah untuk membuat
murid menyadari bahwa skor setiap individu dalam timnya adalah penting —
bahwa seluruh anggota dalam tim dapat menyumbangkan peningkatan point yang
maksimum apabila mereka melakukan yang terbaik.
3. Sistem peningkatan point adalah sesuatu yang adil (fair), sebab setiap siswa
berkompetisi hanya dengan dirinya sendiri (competing only with himself or
herself) untuk meningkatkan prestasinya.

Menghitung kembali skor dasar (Recomputing Base Scores)


dan Merubah anggota tim (Changing Teams)

Pada selang waktu tertentu (setelah lima atau enam minggu dari STAD ini) hitung
kembali rata-rata skor kuis murid dan berikan skor dasar yang baru (student's new base
score) bagi murid tersebut. Susunlah murid dalam kelompok yang baru. Hal ini
diharapkan dapat memberikan kesempatan baru pada siswa yang berada pada tim yang
skornya rendah. Disamping, memberikan kesempatan pada siswa untuk bekerja dengan
teman yang lainnya dan juga membuat program ini tetap segar (fresh).

Penilaian (Grading)

Ketika memberikan nilai pada murid (report card grades), nilai hendaknya didasarkan
pada skor kuis siswa sebenarnya (students' actual quiz scores), bukan pada peningkatan
point mereka atau skor tim (kecuali jika anda mau menghadiahkan bonus lima point
berdasarkan pada tim yang sukses tersebut di atas). Tetapi ini bukanlah ide yang baik
memberikan penilaian berdasarkan kemampuan tim, sebagai anggota yang
berkemampuan tinggi akan merasa bahwa ini adalah sesuatu yang tidak adil (unfair).

REFERENSI

Artzt, AF dan Newman, CM,1993, How to Use Cooperative Learning in the Mathematics
Class, National Council of Teachers of Mathematics (NCTM), Virginia
Anania, L., 2000, Cooperative Problem Solving, MAV Conference, Melbourne.
Slavin,RE, 1994, A Practical Guide to Cooperative Learning, Allyn and Bacon A
Division of Paramount Publishing, Massachusetts.

MICROSOFT EXCEL DALAM PENGAJARAN MATEMATIKA


H. H. Mutadi, S. Pd., M. Ed

Pengantar Introduction

Beberapa tahun terakhir ini muncul pemikiran tentang keinginan


bagaimana murid dapat memahami matematika dengan baik. Beberapa pendekatan yang
berbeda ( different approaches ) telah dan sedang dilakukan sebagai upaya untuk
meningkatkan pemahaman anak. Salah satu pemikiran pendekatan tersebut adalah
perlunya matematika diperkenalkan ke anak sebagai sesuatu yang relevan dengan
kehidupannya ( they perceive it as relevant ). Konsep dan isi perlu disajikan ke dalam
sesuatu yang memungkinkan murid memahami makna bahasa simbol matematika
(Horne, 1994, p. 347).
Pengajaran tradisional matematika terlalu menekankan pada simbol semata ( symbol
manipulation ) dan hanya memberikan sedikit arti pada anak. Sehingga matematika
sering terlihat oleh anak sebagai cara berfikir yang formal dan abstrak ( abstract-formal
thinking ) juga tidak relevan dengan objek kehidupan mereka. Beberapa guru dan ahli
riset dalam pengajaran matematika setuju bahwa metode pengajaran matematika
tradisional kurang efektif, dimana murid hanya memiliki kemampuan untuk
memanipulasi simbol-simbol belaka tapi kurang memahami makna dari simbol-simbol
tersebut (Arnold 1992, p. 28). Akibatnya, sebagaimana dikatakan oleh Roblyer, Edwards
dan Havriluk (1997, p. 58) bahwa beberapa guru mulai mengkritik dan berharap agar
pengajaran matematika mampu melepaskan diri dari keterbatasannya, yaitu kurang
menanamkan keahlian ( isolated skills ) pada anak dan hanya terjebak pada sistim
menghafal rumus-rumus ( memorize facts ). Mereka berharap agar pengajaran
matematika memiliki penekanan yang lebih pada kemampuan memecahkan masalah (
problem solving ), memperoleh informasi, dan berfikir kritis terhadap informasi yang
telah diperolehnya tersebut. Dalam hal ini, Noris (dikutip dalam Roblyer, Edward dan
Havriluk 1997, p. 86) berargumentasi bahwa pengajaran akan lebih efektif jika komputer
mengambil alih sebagian peran guru ( computer were to take over much of the traditional
role of teacher ). Secara khusus, Roblyer, Edward dan Havriluk (1997, p. 83) menyatakan
bahwa spreadsheet ( Cont: Microsoft Excel ) dapat juga digunakan sebagai alat
pengajaran alternatif matematika yang menguntungkan.

Kemungkinan penerapan

Dalam diskusi kemungkinan penerapan lembar kerja Excel dalam pelajaran matematika,
ada dua hal penting yang perlu difikirkan. Pertama , guru perlu memahami Spreadsheed
Excel dan kemampuan yang dimilikinya. Kedua , menganalisa kurikulum matematika
yang mungkin bisa dan lebih efektif apabila diajarkan dengan menggunakan kemampuan
Spreadsheed Excel .

Gambaran umum Spreadsheet Excel

Sebagaimana Jones (1997, h. 485) menganalisa bahwa fungsi utama daripada


Spreadsheet Excel adalah dapat digunakan untuk menyajikan data ke dalam bentuk tabel.
Masih terkait dengan fungsi utama Spreadsheet Excel, Parker (1986, dikutip di Jones,
1997) menambahkan bahwa spreadsheet dapat digunakan untuk memasukan dan
mengedit angka dan label; untuk memasukkan data dan merekam hasil suatu perhitungan
tertentu. Sementara, Roblyer, Edward dan Havriluk (1997, h. 139) menyatakan bahwa
spreadsheet dapat digunakan untuk melakukan penjumlahan (adding), pengurangan
(subtracting), perkalian ( multiplying ) dan pembagian ( dividing ). Spreadsheet juga
dapat digunakan untuk memanipulasi data ke dalam cara yang sangat komplek melalui
function commands -nya.

Adapun fungsi-fungsi yang dimiliki oleh Microsoft Excel diantaranya:

1. Fungsi matematika seperti logaritma dan akar ( Mathematical functions such as


logarithms and roots )
2. Fungsi Statistik seperti penjumlahan, rata-rata dan permutasi ( Statistical
functions such sum, average and permutation )
3. Fungsi Trigonometri seperti sin dan tangen ( Trigonometric functions such as sine
and tangent )
4. Fungsi Matriks seperti determinan matriks, invers matriks, hasil perkalian matriks
( Matrix functions such as matrix determinant, inverse matrix, matrix product )
5. Fungsi Logika seperti komparasi Boolean ( Logical functions such as Boolean
comparisons [if…then] ), dan
6. Fungsi keuangan seperti periode pembayaran dan suku bunga ( Financial
functions such as period payment and rates )

Excel juga memberikan fungsi khusus seperti lookup table, fungsi melukis grafik (
graphing function ) yaitu dengan cara mengaktifkan Chart Wizard Command-nya. 1)

1) Sumber: http://wwwstaff.murdoch.edu.au/~kissane/Spreadsheets.htm
Di sisi lain, Vermay (1998, h. 501) telah menemukan spinner dalam Microsoft Excel
yang dapat digunakan untuk merubah nilai dari cell tertentu yang ada dalam spreadsheet
melalui “tombol yang sudah diprogram” ( programmed button ). Langkahnya adalah
Klick View , Toolbar dan Forms dan diperoleh sebagai berikut:

Jika cell yang nilainya dapat diubah-ubah ( changable cell ) diasosiasikan dengan nilai
suatu koefisien dari sebuah persamaan, dan asosiasi itu digunakan untuk memproduksi
sejumlah data yang pada akhirnya dapat digunakan untuk membuat grafik, maka dengan
scroll bar tool tersebut grafik yang tercipta dapat dianimasikan ( Animated graphs ). Dan
ini tentunya akan menjadi sesuatu yang sangat menarik buat siswa dalam
mengekplorisasi konsep matematika melalui model animasi excel.

Sebuah refleksi dalam kurikulum matematika

Dalam analisis ini saya akan coba ketengahkan sejumlah topik dalam pelajaran
matematika dan temukan Excel commands yang sesuai untuk pengajaran tersebut. Dan
dari sejumlah topik tersebut akan saya pilih beberapa topik untuk disajikan sebagai
contoh dalam pembelajaran matematika. Berikut adalah sejumlah topik dan Excel
commands-nya:

• Topik : Persamaan kuadrat, Fungsi kuadrat; Excel Commands yang dapat


digunakan : Chart Wizard , dan (mendesain formula untuk memecahkan
persamaan kuadrat)
• Topik : Logika Matematika; Excel Commands yang dapat digunakan : True ,
False dan Or
• Topik : Sistem persamaan Linier; Excel Commands yang dapat digunakan :
Mdeterm , Minverse
• Topik : Probabilitas; Excel Commands yang dapat digunakan : Rand , Int ,
Permut , Combin
• Topik : Satistika; Excel Commands yang dapat digunakan : Chart Wizard ,
Average , Max , Median , Mode , Percentile , Quartile , StDev
• Topik : Matriks; Excel Commands yang dapat digunakan : Mdeterm , Minverse ,
Mmult
• Topik : Trigonometri; Excel Commands yang dapat digunakan : Pi , Degree ,
Radians , Sin , Cos , Tan
• Topik : Fungsi logaritma; Excel Commands yang dapat digunakan : Log , Chart
Wizard , Exp , dan (mendisain formula)
• Topik : Lingkaran, Parabola, Ellips, Hiperbola; Excel Commands yang dapat
digunakan : Chart Wizard , dan (mendesain formula)
• Topik : Matriks Transformation; Excel Commands yang dapat digunakan : Chart
Wizard , Mdeterm , Minverse , Mmult

Dari diskusi di atas saya akan memilih dua topik, yaitu matriks transformasi dan fungsi
kuadrat. Tujuan utama mengetengahkan pengajaran matriks transformasi dengan
menggunakan spreadsheet adalah untuk menemukan hubungan antara aljabar dan
geometri. Sebab pengajaran matriks transformasi — selama ini — cenderung hanya
memanipulasi bilangan dan kehilangan makna. Dengan spreadsheet excel ini diharapkan
guru dapat menciptakan laborat matematika ( mathematics laboratory ) dimana murid
dapat melakukan eksplorasi ( explore ) dan menemukan ( discover ) konsep matematika
2) .
2) Sumber: http://www.feicht.com/lou/matst2.htm

Yang kedua, tujuan dari pengajaran topik fungsi kuadrat ini adalah bagaimana murid
dapat dengan cepat mengenali karakteristik yang menarik dari sebuah grafik fungsi
kuadrat ( the interesting behaviour of quadratic function ) dengan cara merubah-rubah
nilai koefisien maupun konstantanya. Seperti, apa yang akan terjadi pada grafik fungsi y
= ax 2 + bx + c jika nilai koefisien 'a'-nya bilangan positif sementara coefisien 'b'-nya
adalah bilangan negatif.

Disamping itu, murid dapat menghindari perhitungan yang monoton dan melelahkan
dalam pelukisan grafik fungsi kuadrat. Mereka juga dapat menemukan kesan dan
pemahaman tentang grafik yang lebih mendalam melalui alat animasi ini. Akhirnya,
melalui aktivitas ini murid dapat memperkirakan seperti apakah grafiknya jika ia
menemukan fungsi kuadrat tertentu.
Keuntungan dan kelemahan

Spreadsheet memberikan banyak kesempatan pada siswa untuk mengeksplorasi konsep


dibandingkan dengan pengajaran matematika secara tradisional (Glaserfeld, 1995: di
http://www.feicht.com/lou/matst2.htm ). Disamping, dengan menggunakan spreadsheet,
guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong siswa melakukan
transformasi mental terhadap konsep tertentu dan menggeneralisasikannya.

Sementara kelemahan yang dapat dijumpai diantaranya, pertama , spreadsheet tidak


dapat secara langsung memanipulasi variabel-variabel aljabar ke dalam sebuah bentuk
grafik, namun harus merubahnya ke dalam bentuk perhitungan angka terlebih dahulu.
Sebagai contoh y = sin x, harus memasukkan nilai untuk x terlebih dahulu (gunakan
perintah fill down ) setelah itu ditemukan nilai y-nya (gunakan perintah fill down juga).
Setelah nilai x dan y-nya ditemukan selanjutnya baru dipresentasikan dalam bentuk
grafik.

Kesimpulan Conclusion

Dari diskusi sebagaimana tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa spreadsheet


(microsoft excel) dapat digunakan sebagai alat yang potensial dalam proses
pembelajaran matematika. Excel memberikan makna yang luar biasa dalam membangun
model matematika. Tetapi, satu hal yang perlu diperhatikan bahwa keefektifkan dalam
menggunakan spreadsheet juga tergantung dari keahlian ( skills ) dan daya imaginasi (
imaginations ) guru matematika itu sendiri.

REFERENSI

Arnold, S., 1992, 'Algebra by Computer', in The Australian Mathematics Teacher, Vol.
48 No. 4, 1992, pp. 28-32.
Creating a Mathematical Laboratory Using Spreadsheet to Investigate the Connection
between Matrices and Geometric Transformation, http://www.feicht/lou/matst2.htm ,
accessed 14 August 2000.

Horne, M., 1994, 'The Use of Spreadsheet as an Algebraic Environment', in Mathematics


Education Research Group of Australia , Lismore Australia, 17 th Annual Conference 5-8
July 1994, pp. 347-354.

Jones, AJ, 1997, 'Spreadsheet in Mathematics for CSF Levels 2, 3 and 4', in D. Clarke et
al. (eds.), Mathematics: Imagine the Possibilities , The Mathematical Association of
Victoria, Thirthy-Fourth Annual Conference, December 4 th & 5 th 1997, pp. 483-486.

Roblyer, MD, Edwards, J., and Havriluk, M. A, 1997, Integrating Educational


Technology into Teaching, Prentice-Hall, Inc., New Jersey.

Spreadsheet and Mathematics Education,


http://wwwstaff.murdoch.edu.au/~kissane/Spreadsheets.htm , accessed 4 August 2000.

Vermay, R., 1998, 'Let Excel Bring Some Life to Your Functions', in J.Gough & J.
Mousley (eds.), Exploring all Angles, The Mathematical Association of Victoria, Thirty –
fifth Annual Conference, December 3rd & 4th 1998, pp. 501-506.
Introduction Introduction to Problem Solving
Problem 1
This web site contains a collection of problems, with solutions and strategies, laid
Problem 2
out in a systematical manner to assist students / teachers with problem solving.
Problem 3 These problems are designed with grade 9 - 12 students in mind; however, they
Review (1-3) may be suitable for an even wider range of people.
Problem 4
Problem 5 What is a Problem?
Problem 6
A mathematical problem, like any problem in life, is defined as a problem because
Review (1-6) it causes us much difficulty in attaining a solution. If the solution, or even the
procedure for solving it, is obvious to you then it is no longer a problem but just an
exercise. Much of our classroom mathematics is composed of repetitive exercises. (
This teaching method does have a useful purpose but it should not be all that
mathematics is about. )

A question is a problem if the procedure or method of solution is not immediately


known to you but requires you to apply creativity and previous knowledge in new
and unfamiliar situations. In a problem, you are not aware of any algorithm that
will guarantee a solution.

"To have a problem means to search consciously for some action appropriate to
attain some clearly conceived but not immediately attainable aim. To solve a
problem means to find such an action." (George Polya)
Algorithms vs. Heuristics

Algorithms are special methods specifically designed for solving a certain type of
question. We have all learnt algorithms for specific situations, such as, the FOIL
method for multiplication of binomials. This method has been developed for that
specific situation.

Heuristics are general suggestions that may be applicable to all types of questions.
They contain a series of tasks, each containing a series of decisions, that are loosely
combined to form a model which can assist in problem solving.
The set of heuristics below is based on the work of Krulik & Rudnick (1989).
Read the
Explore Select a StrategySolve Look Back
Problem
Note key words. Here are just a
few: Carry out your
What is Pattern strategy.
Organize the info. Check your answer(s)
known? recognition. Think of the big
Picture the problem. Does it make sense?
What is Working steps
Draw diagram / table. Reflect on solution.
unknown? backwards. then do little
Do you know a related The process used is key,
What do you Guess and steps.
problem that helps? not the answer.
want ? check. Always think
Restate the Reduce or ahead.
problem. simplify.

The five components above do not guarantee a solution. They are simply meant as
a guide, not an algorithm, since problem solving is a process which has no set
method. However, the use of a set of heuristics and familiarity with various
strategies can combine with previous knowledge, creativity and perseverance to
form a strong arsenal for attacking problems.

Site layout

• Starting at Problem 1, you are encouraged to first attempt to solve the


problem.
• Do not be discouraged, they are meant to be problems and do require time!
• If unsuccessful after trying for some time, read the hint provided. (You
must try first)
• After a good effort you should view the strategy and solution page.
• The strategy shown on the solution page represents just one of the various
ways in which the problem could be solved. Most problems can be solved in
various different ways.
• Study the process so that you may use the strategy in future problems.
• After being introduced to three problems and strategies, try the review
problems.
• These involve the strategies which you have previously been introduced to.
• Hopefully you will find the review problems easier since you are now
equipped with strategies for solving them. However, remember they are
problems and therefore they should take time so be persistent and do not
get discouraged. Rise to the challenge!

Strategies

The following is a list of common strategies that can be used in solving the
problems within this web site. This is not meant to be an exhaustive list of
strategies.

• draw a diagram
• look for a pattern
• Simplify: solve a simplified problem
• solve for critical or extreme cases
• make an organized list or table
• Estimation: guess and check
• work backwards
• use logical reasoning
• write equations or ratios

The review problems have strategy hints and answers provided. If you need
additional help or wish to see a solution, please feel free to contact me by email.

Teacher Resource Page: Check out my list of helpful books on problem solving.

{Return to top of page}

March 30, 2000

Created by Doug Crews


Problem 1
The Cynical Grandpa
In his will, a cynical Grandfather leaves his two grandchildren land. Bill gets a plot
measuring 25m by 50m by 75m and Jane gets a plot measuring 15m by 20m by 25m.
Who is his favorite grandchild ? ( who gets the most land )

Problem 1: Solution
The Cynical Grandpa - Strategy: Draw a picture

This problem is designed to show you the importance of visualizing the problem
before you try to solve it with abstract equations. Many people try to solve this
problem by using area formulas, however, much time would be saved if they tried to
draw the two plots of land.

Bill's dimensions are 25m by 50m by 75m.


Using a scale, this can become 2.5cm by 5.0cm by 7.5cm.
If you draw a line 7.5cm, the 2.5cm side and the 5.0cm side must be flat along the
7.5cm side in order to reach the two ends.
This would give you a flat triangle with no area. Try to draw it for yourself.
Grandpa has left Bill no land ! ( Grandpa's sarcasm never dies. )

Jane's dimensions of 15m by 20m by 25m do give a triangular area of land.


We have not been asked to find the area, we just want to know who got the bigger
plot.

Thus, the answer to our problem is Jane. She is the favorite grandchild.
Problem 2
Intersecting Lines

Using seven distinct straight lines, what is the maximum number of points of
intersection ?

Problem 2: Solution
Intersecting Lines - Strategy: Look for a pattern. Also, draw and use table.
To begin this problem many people start by drawing the lines. Drawing is always a
good strategy to use; however, sometimes the drawing becomes tricky and too
detailed.

Due to this, you should always be thinking about the problem as you draw and
perhaps you may find a pattern within the madness. This could save you time and
frustration!

Recording data in a table will help you to see any patterns that may exist. As you
draw each line, record the # of points of intersection. Look for a pattern in the
number of additional new points that are created by each new line.

# of points of
# of lines # of new points
intersection
1 line drawn 0 pts of intersection --------------
2 lines drawn 1 pts of intersection 1 more than previous
3 lines drawn 3 pts of intersection 2 more than previous
4 lines drawn 6 pts of intersection 3 more than previous
5 lines drawn
6 lines drawn
7 lines drawn

From our table we see that each additional line drawn can only intersect each of the
previous lines once. Thus, the number of new intersection points is always equal to
the number of previously drawn lines. Due to this the fifth line drawn will intersect
the previous four lines and create a maximum of four new points of intersection.

Once we have recognized and double checked our pattern we can abandon trying to
draw the complex diagram. We can now proceed with our pattern and use our
table.

# of lines # of points of # of new points


intersection
4 lines drawn 6 pts of intersection 3 more than previous
5 lines drawn 6 + 4 = 10 pts 4 more than previous
6 lines drawn 10 + 5 = 15 pts 5 more than previous
7 lines drawn 15 + 6 = 21 pts 6 more than previous

The answer to our problem is 21 points of intersection.