PROPOSAL PENELITIAN

PERBANDINGAN ANGKA HARAPAN HIDUP DAN ANGKA KUALITAS HIDUP PADA PENGOBATAN KOMPLEMENTER ALTERNATIF ASLI INDONESIA BERDASARKAN TIPE HISTOPATOLOGIK KARSINOMA NASOFARING

Diusulkan oleh: AMARILLA RIANDITA (G2A008016) DIAH AYU SUSANTI (G2A008055) ELFIAN RACHMAWATI (G2A008065) ERIKA KUSUMAWARDANI (G2A008072) ESTICA TIURMAULI KRISTIANA S (G2A008075)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010 i

ABSTRAK Latar Belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) adalah salah satu karsinoma kepala leher yang bersifat sangat invasif dan sangat mudah bermetastasis serta telah menempati urutan keempat dari sepuluh besar keganasan pada pria dan wanita. WHO menggolongkan kanker nasofaring menjadi 3 kriteria, yaitu WHO tipe I (kanker sel skuamosa berkeratinisasi), WHO tipe II (kanker sel skuamosa tidak berkeratinasasi), dan WHO tipe III (kanker berdeferensiasi buruk, termasuk jenis limfoepitelioma dan anaplastik). Pengobatan komplementer alternatif (obat tradisional) di Indonesia merupakan bagian dari sosial budaya yang memiliki keterikatan yang sulit dilepaskan. Namun, obat tersebut masih belum diakui di dunia kedokteran untuk mendampingi obat-obatan kimia penghambat kanker karena belum ada yang teruji secara klinis. Beberapa tahun terakhir masyarakat dunia, khususnya negara maju lebih menyukai pengobatan tradisional berbahan dasar tumbuh-tumbuhan daripada menggunakan obat sintetik terkait efek sampingnya (Kompas, 2009). Untuk itu, diperlukan suatu penelitian yang bertujuan untuk menjawab masalah-masalah yang timbul di masyarakat mengenai angka harapan hidup dan angka kualitas hidup pengobatan kanker komplementer alternatif asli Indonesia berdasarkan tipe histopatologi karsinoma nasofaring. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain kasus-kontrol terhadap blok paraffin hasil biopsy nasofaring yang didiagnosis sebagai kanker nasofaring. Diagnosis kanker nasofaring dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kasus (penderita kanker nasofaring tipe WHO 3 yang menggunakan komplementer alternatif asli Indonesia) dan kelompok control (penderita kanker nasofaring tipe WHO 1 dan WHO 2 yang menggunakan komplementer alternatif). Cara pengukuran angka harapan hidup dan kualitas hidup adalah dengan melakukan Kaplan-Meirer test dengan perangkat kuesioner perkiraan kelangsungan hidup dari data kehidupan pasien. Kata kunci : Angka harapan hidup, Angka kualitas hidup, Karsinoma nasofaring, Keratinizing Skuamos Cell Carcinoma (WHO 1), Non-Keratinizing Carcinoma (WHO 2), Undifferentiated Carcinoma (WHO 3)

2008).2010).. 2007). Angka ini meningkat dari tahun ke tahun khususnya pada usia >15 tahun.1 Latar Belakang Perkembangan kanker nasofaring dewasa ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. WHO tipe II (kanker sel skuamosa tidak berkeratinasasi). Badan Registrasi Kanker Indonesia menyatakan bahwa kanker kepala leher menempati urutan keempat dari sepuluh besar keganasan pada pria dan wanita. Tang et al. genetik. Salah satu faktor risiko yang telah menjamur di masyarakat Indonesia baik perkotaan maupun pedesaan adalah merokok. dan Wiratno. serta menempati urutan kedua tersering dari pria (Soekamto. dan karsinoma yang paling sering ditemukan adalah karsinoma epidermoid nasofaring WHO 3 (Prasetyo A. Banyaknya faktor risiko yang menunjang perkembangan kanker tak mampu dibatasi oleh masyarakat. Karsinoma nasofaring (KNF) adalah salah satu karsinoma kepala leher yang bersifat sangat invasif dan sangat mudah bermetastasis (menyebar) dibanding karsinoma kepala leher yang lain (Ma et al. WHO menggolongkan kanker nasofaring menjadi 3 kriteria. Hasil penelitian menunjukan bahwa 65 juta penduduk Indonesia (28%) adalah perokok (Rasmin. . gaya hidup dan okupasi (Dwi. Secara umum. termasuk jenis limfoepitelioma dan anaplastik). KNF WHO tipe III menempati prosentase tertinggi. Pada studi Prasetyo A. Penggolongan kanker nasofaring ini penting untuk menentukan derajat suatu penyakit dan jenis pengobatan yang akan diberikan (American Joint Committee on Cancer. Kariadi tahun 2002–2006. Dari data yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menduduki urutan ketiga di dunia setelah Cina dan India sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak. Insiden meningkat setelah usia 30 tahun dan mencapai puncak pada usia 40-60 tahun. 2002). 2008). dan WHO tipe III (kanker berdeferensiasi buruk. 2007. yaitu WHO tipe I (kanker sel skuamosa berkeratinisasi). 2008).BAB I PENDAHULUAN 1. Hal ini terjadi karena pola hidup masyarakat semakin tak terkontrol. dan Wiratno menyebutkan bahwa KNF adalah karsinoma terbanyak di kepala dan leher berdasarkan diagnosis histopatologi di RSUP Dr. Etiologi bersifat multifaktor dan faktor resiko diantaranya faktor lingkungan.

2%. Walaupun tujuan utamanya adalah menyembuhkan kanker.4% dan penderita KNF berusia di bawah 40 tahun selama 14 bulan sebesar 80.33%. belum ada data yang akurat tentang angka kualitas hidup hasil evaluasi respon terapi penderita kanker nasofaring secara komplementer alternatif. Penelitian intensif di daerah endemik. 2010). Selain itu juga banyak beredar artikel yang memberikan informasi yang menjanjikan kesembuhan kanker kepada pasien. berhasil mengidentifikasi populasi berisiko tinggi menderita KNF. sehingga biaya semakin mahal dan kadang hasil pengobatan tidak memuaskan.2007). termasuk bagaimana perasaan pasien.. dengan gejala-gejala tertentu di daerah kepala leher (yang juga sering dikaitkan dengan gejala klinis umum).6% dan pada pasien wanita sampai akhir penelitian adalah 100% (Puspa Zuleika.. Angka harapan hidup laki-laki penderita KNF selama 18 bulan sebesar 74. studi mengenai faktor etiologi utama KNF masih belum dipahami secara detail namun hal pasti yang telah diketahui adalah adanya keterkaitan kuat antara infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) dengan KNF.Sampai saat ini. kepercayaan pasien terhadap diagnosa dokter. Sampai saat ini. diperlukan juga kemoterapi. dan biaya pengobatan yang tinggi (American Society of Clinical Oncology. yaitu individu dengan keluarga pengidap KNF. Gejala dan tanda pada kanker nasofaring tidak spesifik. Angka harapan hidup penderita KNF dengan usia di atas 40 tahun selama 18 bulan sebesar 76. seperti Cina dan Taiwan (Lee et al. Ji et al. Selain operasi. 2005). Sejauh ini angka harapan hidup pada penderita kanker nasofaring dengan kombinasi kemoterapi dan radioterapi di Rumah Sakit Umum dr. Sarjito selama 18 bulan sebesar 79. Pengobatan komplementer alternatif (obat tradisional) di Indonesia merupakan bagian dari sosial budaya yang memiliki keterikatan yang sulit dilepaskan. Hal ini menyebabkan masyarakat beralih dengan mengkombinasi pengobatan komplementer alternatif yang lebih ekonomis. Namun.6%) dan tanpa penyebaran ke kelenjar getah bening (75%) secara statistik. efek samping yang tidak diinginkan. pasien sering mengalami salah diagnosis atau berobat ke dokter dalam kondisi stadium lanjut. juga belum ada data angka harapan hidup pada penderita kanker dengan pengobatan komplementer alternatif di Indonesia. Ada perbedaan yang signifikan antara penderita KNF dengan penyebaran ke kelenjar getah bening (81. obat tersebut . Penatalaksanaan kanker nasofaring yang menyulitkan pasien menyebabkan pasien mengalami penurunan ketaatan terhadap pengobatan modern konvensional. 1997. seorang dokter tetap perlu untuk mempertimbangkan bagaimana pengobatan dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. sehingga terapi menjadi lebih rumit. dan titer IgA terhadap komponen EBV yang tinggi.

. Menristek Kusmayanto Kadiman pada Simposium Penelitian Bahan Obat alami XIV Pendayagunaan Produk Bahan Alami dalam mengatasi Kanker di Jakarta menyatakan bahwa dokter tidak mau mengakui obat herbal secara de jure. serta perkembangan pendapat umum baik di negara Barat maupun Timur.3. tapi secara de facto mereka biasa memanfaatkannya.3. misalnya tradisi minum jamu atau pijat. 1.masih belum diakui di dunia kedokteran untuk mendampingi obat-obatan kimia penghambat kanker karena belum ada yang teruji secara klinis.3 Tujuan 1. diperlukan suatu penelitian yang mendalam mengenai masalah ini yang diharapkan mampu menjawab masalah-masalah yang timbul di masyarakat mengenai angka harapan hidup dan angka kualitas hidup pengobatan kanker dengan pengobatan komplementer alternatif asli Indonesia berdasarkan tipe histopatologi karsinoma nasofaring.2 Rumusan Masalah Bagaimana perbandingan angka harapan hidup dan angka kualitas hidup pengobatan komplementer alternatif asli Indonesia berdasarkan tipe histopatologi? 1. Kecenderungan kembali menggunakan obat-obatan tradisional alami ini dikenal sebagai "gelombang hijau baru".1 Tujuan umum Memperoleh gambaran mengenai perbandingan angka harapan hidup dan angka kualitas hidup pengobatan komplementer alternatif asli Indonesia berdasarkan tipe histopatologi Karsinoma Nasofaring.2 Tujuan khusus i) Menghitung angka harapan hidup dan angka kualitas hidup penderita kanker nasofaring yang mendapatkan pengobatan komplementer alternatif asli Indonesia berdasarkan tipe histopatologi. 2009). Sebenarnya beberapa tahun terakhir masyarakat dunia. Kondisi itu dipicu adanya efek samping dari obat-obatan sintetik dan antibiotika. 1. Untuk itu. bahwa pemanfaatan bahan alami lebih aman dibandingkan bahan kimia. khususnya negara maju lebih menyukai pengobatan tradisional berbahan dasar tumbuh-tumbuhan daripada menggunakan obat sintetik terkait efek sampingnya (Kompas.

iii) Sebagai landasan untuk pengembangan dan pemanfaatan pengobatan tradisional di bidang kesehatan terutama dalam penanganan berbagai jenis kanker. Artikel tersebut dapat menjadi dasar untuk pengembangan penelitian yang akan ditujukan ke penerbitan paten tentang pengaruh pengobatan komplementer alternatif asli Indonesia pada penderita kanker nasofaring. 1. ii) Sebagai landasan untuk penelitian lebih lanjut mengenai metode pengobatan berbagai jenis kanker lain.ii) Membandingkan angka harapan hidup dan angka kualitas hidup penderita kanker nasofaring yang mendapatkan pengobatan komplementer alternatif asli Indonesia berdasarkan tipe histopatologi.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat: i) Memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat mengenai peranan pengobatan komplementer alternatif asli Indonesia pada penderita kanker nasofaring. . 1.5 Luaran yang Diharapkan Artikel ini akan dikirim ke jurnal internasional.

Berdasarkan data epidemiologi. yaitu bagian dari faring/tenggorokan yang terletak diantara antara belakang hidung sampai esofagus. Di Indonesia sendiri kanker nasofaring lebih sering menyerang warga etnis tiongha dibandingkan dengan etnis lain. lebih seringnya tumbuh di daerah Fossa Rusenmuller yang merupakan daerah transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi epitel skuamosa. 25 kali lebih tinggi dari daerah manapun di dunia (Yu and Yuan. . di Indonesia kanker ini menempati urutan keempat diantara keganasan yang terjadi di seluruh tubuh dan urutan pertama untuk seluruh keganasan di daerah kepala dan leher dengan prosentase 60% (Soekamto. Bahkan karena angka kejadian yang tinggi ini. karena kanker ini menimpa 25 dari 100. kanker nasofaring sering disebut sebagai cantonese cancer.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. kanker ini banyak terjadi di daerah Cina Selatan. Kanker ini biasanya berasal dari epitel atau mukosa yang melapisi permukaan nasofaring (F.000 orang di daerah tersebut.2003).2002). Kanker ini lebih banyak menyerang laki-laki daripada wanita (Kentjono. Lebih jauh lagi.2003). kanker nasofaring jarang menyerang penderita di bawah usia 20 tahun dan usia terbanyak antara 45-54 tahun. Secara umum.1 Kanker Nasofaring Kanker nasofaring merupakan kanker ganas yang terdapat di daerah nasofaring. namun di Afrika kanker ini banyak menimpa anak-anak. Dubrulle. 2007).

sel ganas membentuk sinsitial dengan batas sel tidak jelas (WHO 3) Berikut adalah gambaran histopatologi Karsinoma Nasofaring 2.2. kadar DNA EBV juga . Lebih penting lagi. Keratinizing Skuamos Cell Carcinoma atau kanker sel skuamosa dengan keratinisasi (WHO 1) 2. Namun diduga Epstein-Barr Virus (EBV) sebagai penyebab utama kanker nasofaring. Non-Keratinizing Carcinoma atau Kanker tidak berkeratin dengan sebagian sel berdiferensiasi sedang dan sebagian lainnya dengan sel yang lebih kearah diferensiasi baik (WHO 2) 3.1 Klasifikasi Histopatologi Karsinoma Nasofaring Berdasarkan gambaran histopatologisnya. Deteksi antigen nuclear yang berhubungan dengan EBV pada kanker nasofaring WHO tipe 2 dan 3 menunjukkan bahwa EBV dapat menginfeksi sel epitel dan dapat menimbulkan keganasan sel epitel tersebut.2 Faktor-faktor pemicu Karsinoma Nasofaring Secara etiologis.1. Undifferentiated Carcinoma atau Kanker yang sangat heterogen. penyebab kanker nasofaring ini belum jelas benar. Lo et al menunjukkan bahwa DNA EBV dapat dideteksi pada 96% plasma darah orang dengan kanker nasofaring non-keratinisasi.1. kanker nasofaring diklasifikasikan kedalam 3 golongan : 1. dibandingkan dengan hanya 7% pada kelompok kontrol.

yaitu di daerah leher. besar kemungkinan untuk terkena kanker nasofaring daripada orang yang tak ada riwayat kanker dalam keluarganya. Gejalanya berupa telinga berdengung. Makanan Penelitian di Cina Selatan menunjukkan bahwa orang yang lebih sering mengkonsumsi makanan. VI. Lebih lanjut lagi. dan suara sengau. X. gejala yang biasa timbul adalah gejala pada hidung.1999). Selain itu faktor-faktor seperti kebiasaan merokok. dalam hal ini biasanya ikan. tumor juga dapat menyebar melalui pembuluh getah bening ke kelenjar-kelenjargetah bening. bahkan sampai saraf ke IX. seperti saraf ke III.3 Klasifikasi Stadium pada Karsinoma Nasofaring Pada penderita kanker nasofaring.berkorelasi dengan respon dari terapi kanker yang menunjukkan bahwa EBV bisa jadi merupakan penyebab bebas dalam terjadinya kanker nasofaring (Lo. konsumsi alkohol serta paparan terhadap bahan karsinogenik diduga juga dapat memicu timbulnya kanker nasofaring.sumbatan pada hidung. yang diawetkan dengan cara diasinkan lebih rentan terkena kanker nasofaring. Keturunan Dalam keluarga dengan riwayat terkena kanker. rasa penuh tidak nyaman. Gejala yang timbul berupa pembengkakan pada leher (Soepardi. 2007). 2.1. terutama kanker nasofaring. V. XI dan XII. telinga. Namun selain itu. dapat pula berperan faktor-faktor lain seperti: 1. Gejala pada saraf dapat terjadi karena meluasnya tumor ke rongga tengkorak. IV. yang merupakan tempat lewatnya saraf otak. Gejala pada hidung berupa ingus bercampur darah dan kadang bercampur sedikitingus kental. nyeri dan kadang tuli akibat penutupan dari tuba eustachii. mulai dari yang paling dekat di kelenjar limfe daerah leher. Kerusakan saraf V dapat menyebabkan nyeri di bagian leher dan wajah (neuralgia trigeminal) serta lebih lanjut dapat menimbulkan kerusakan mata berupa pandangan yang kabur dan double vision. . Gejala pada telinga merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor yang berada di dekat muara tuba eustachii (saluran penghubung hidung dan telinga). saraf dan gejala menyebarnya tumor ke kelenjar limfe yang paling dekat. mata. 2.

CT-Scan dan Sinar X untuk melihat penyebaran kanker. . adalah sebagai berikut : Stadium T (ukuran/luas tumor): T0 T1 T2 T2a T2b T3 T4 Tak ada kanker di lokasi primer Tumor terletak/terbatas di daerah nasofaring Tumor meluas ke jaringan lunak oraofaring dan atau ke kavum nasi. diatas fossa supraklavikula Metastasis nodus : N3a N3b Metastasis jauh (M) : M0 M1 Tak ada metastasis jauh Metastasis jauh > 6 cm meluas sampai ke fossa supraklavikula Kemudian dari hasil grading dan staging tersebut dapat ditentukan stadium dari kanker pada tabel di bawah ini (Tabel 1): Tabel 1. dokter juga bisa melakukan pemeriksaan radiologik seperti MRI. Kemudian dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan tersebut. dan/atau melibatkan syaraf kranial. fossa infratemporal atau orbita. Tanpa perluasan ke ruang parafaring Dengan perluasan ke parafaring Tumor menyeberang struktur tulang dan/atau sinus paranasal Tumor meluas ke intrakranial. maka pemeriksaan dilanjutkan dengan menggunakan endoskopi untuk melihat kondisi mukosa nasofaring. hipofaring. Kemudian sebagai standart baku emas penegakan diagnosis adalah dengan diagnosis histopatologi spesimen biopsi nasofaring yang diambil untuk kemudian dilihat dibawah mikroskop. Klasifikasinya yang terbaru berdasarkan Union Internationale Contre Cancer (IUCC) tahun 1997. Lebih lanjut lagi. Jika kecurigaan timbul. Limfonodi regional (N) : N0 N1 N2 N3 Tidak ada metastasis ke limfonodi regional Metastasis unilateral dengan nodus < 6 cm diatas fossa supraklavikula Metastasis bilateral dengan nodus < 6 cm. dapat ditentukan tingkatan keganasan atau grading dan staging dari kanker tersebut. Perubahan yang jelas berupa penonjolan mukosa. dan ulseratif yang disertai perdarahan ringan merupakan tanda-tanda kondisi mukosa yang jelek dan curiga akan terjadinya kanker.Diagnosis klinik kanker nasofaring mulanya didapatkan dari anamnesis dan gejala klinis tumor. peradangan. Data Grading dan Staging berdasarkan AJCC* 1998.

Angka harapan hidup 5 tahun dibawah ini berdasarkan the American Joint Committee on Cancer. Angka harapan hidup 5 tahun menunjukkan persentase pasien yang dapat hidup dalam kurun waktu 5 tahun setelah mereka terdiagnosa kanker. Kadang pasien ingin mengetahui angka harapan hidup menurut statistik dari pasien dengan kondisi yang sama.T1 T2a T2b N0 I IIA IIB N1 IIB IIB IIB N2 III III III N3 IVB IVB IVB M1 IVB IVB IVB (*. Tentu saja banyak orang yang hidup lebih dari 5 tahun ( dan banyak diantaranya yang sembuh).2 Angka harapan hidup dan Kualitas Hidup Penderita Karsinoma Nasofaring 2. seperti umur. maka praktisi kesehatan dapat menggambarkan prospek yang lebih akurat untuk pasien dengan tipe dan stadium kanker tertentu. Tabel 2. Perbaikan dalam pengobatan saat ini meningkatkan prognosis yang lebih menguntungkan bagi pasien yang terdiagnosa kanker nasofaring. dan respon pengobatan. Angka harapan hidup ini merupakan pedoman standar bagi praktisi kesehatan untuk menentukan prognosis dari pasien. Angka kelangsungan hidup relatif disesuaikan bagi pasien dengan kanker nasofaring yang meninggal oleh karena sebab lain. Banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi prognosis dari pasien. Tingkat kelangsungan hidup seringkali didasarkan pada hasil sebelumnya sejumlah orang yang mempunyai penyakit ini. tetapi mereka tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada tiap-tiap pasien tersebut. praktisi kesehatan harus menelusuri pasien-pasien yang dirawat minimal 5 tahun yang lalu.1998) T3 III III III IVB IVB T4 IVA IVA IVA IVB IVB 2. Data angka harapan hidup 5 tahun berdasarkan stadium . Guna mendapatkan angka harapan hidup 5 tahun. pada pasien yang didiagnosa pada tahun 1998 dan 1999 (Tabel2).2.1 Angka harapan hidup Penderita Karsinoma Nasofaring Angka harapan hidup adalah nilai rata-rata tahun hidup yang dijalani seseorang dalam kondisi mortalitas tertentu berlaku di masyarakat. kesehatan secara keseluruhan.American Joint Committee on Cancer. Dengan ini. seperti penyakit jantung.

Grade 3 . 2. . : hambatan melakukan banyak pekerjaan. betul-betul hanya di kursi atau tiduran terus. dimana penyait kanker semakin berat pasti akan mempengaruhi penampilan pasien.2. Skala status penampilan menurut ECOG ( Eastern Cooperative Oncology Group) adalah sbb : . lebih dari 50% waktunya untuk tiduran. pengobatan kanker nasofaring (NPC) baik melalui kemampuannya untuk mengaktifkan virus Epstein-Barr (EBV) atau melalui efek mempromosikan langsung terhadap EBV-sel berubah telah dilakukan.Grade 0 . : Sepenuhnya tidak bisa melakukan aktifitas apapun. Angka kualitas hidup ini mengambil indikator kemampuan pasien. : hambatan pada perkerjaan berat. tidak dapat melakukan pekerjaan lain.3 Pengobatan Kanker Nasofaring dengan Komplementer Alternatif Beberapa abad yang lalu.Grade 4 : Hanya mampu melakukan perawatan diri tertentu. 50 % waktunya untuk tiduran dan hanya bisa mengurus perawatan dirinya sendiri. Untuk menyelidiki .Stadium I II III IV Angka Harapan Hidup 5 Tahun 72% 64% 62% 38% 2. Hal ini juga menjadi faktor prognostik dan faktor yang menentukan pilihan terapi yang tepat pada pasien dengan sesuai status penampilannya. namun masih mampu bekerja kantor ataupun pekerjaan rumah yang ringan.Grade 1 -Grade 2 : masih sepenuhnya aktif.2 Klasifikasi Kualitas Hidup Penderita Karsinoma Nasofaring Angka kualitas hidup merupakan suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pengobatan yang telah dilakukan. tanpa hambatan untuk mengerjakan tugas kerja dan pekerjaan sehari-hari.

shiatsu. Jenis pelayanan pengobatan komplementer – alternatif berdasarkan Permenkes RI. Pengobatan farmakologi dan biologi : jamu. Mekanisme sitotoksik dan antineoplastik dari senyawa molekul tinggi agak berbeda dari senyawa-senyawa molekul rendah. 1992) Salah satu bahan yang digunakan dalam pengobatan herbal ini adalah jamur. Nomor : 1109/Menkes/Per/2007 adalah : 1. keamanan dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik tapi belum diterima dalam kedokteran konvensional(Yanmedik. Polisakarida memiliki aktivitas imunostimulan dapat digunakan sebagai ajuvan dalam pengobatan tumor. mediasi. Tingginya senyawa molekul dari obat-obatan herbal Cina. osteopati. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) : Hipnoterapi. preventif. doa dan yoga 2. Berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tentang penggunaan pengobatan tradisional termasuk di dalamnya pengobatan komplementer – alternatif yang meningkat dari tahun ke tahun (digunakan oleh 40% penduduk Indonesia). Ribosom-inactivating protein adalah kelompok protein mengerahkan aktivitas sitotoksik melalui penghambatan sintesis protein. penyembuhan spiritual. 104 histologis dikonfirmasi kasus cancer nasofaring dan 205 kontrol yang sesuai di Filipina. ayurveda 3. Jamur yang mengandung polisakarida seperti biasanya jamur atau tonik dalam Pengobatan Tradisional Cina. herbal.2010). gurah . healing touch. termasuk ribosom-inactivating protein dan polisakarida dari jamur telah diuji untuk pengobatan penyakit ganas. Pengobatan komplementer alternatif disebut juga sebagai suatu perpaduan pengobatan modern konvensional dengan pengobatan tradisional (NCCAM. tuina.lebih lanjut. (Allan Hildesheim. Sistem pelayanan pengobatan alternatif : akupuntur.2010). pijat urut 4. Beberapa protein ribosominactivating telah digunakan sebagai bagian sitotoksik dalam konjugasi dengan antibodi monoklonal sebagai penargetan tumor obat. Cara penyembuhan manual : chiropractice. homeopati. akupresur. Bagian dari tanaman tinggi seperti Radix Astragali dan Lycii Fructus polisakarida yang mengandung terutama digunakan sebagai tonik dalam Pengobatan Tradisional Cina. naturopati. aromaterapi. kuratif dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan komplementer tradisional – alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif.

Perpaduan antara pengobatan herbal dan pengobatan modern banyak menjadi sorotan masyarakat luas. mikro nutrient 6. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan : diet makro nutrient. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan : terapi ozon. pengobatan herbal tidak begitu saja ditinggalkan. hiperbarik. EECP Seiring dengan perkembangan era globalisasi. perkembangan pengobatan untuk kanker terutama kanker nasofaring juga berkembang pesat. .5. Namun.

KERANGKA TEORI PENGOBATAN KOMPLEMENTER ALTERNATIF Staging Status gizi Karsinoma Nasofaring WHO1 WHO 3 WHO2 Riwayat Penyakit Penyakit kronik ANGKA HARAPAN HIDUP ANGKA KUALITAS HIDUP KERANGKA KONSEP Karsinoma Nasofaring WHO 1 &WHO2 WHO3 ANGKA HARAPAN HIDUP ANGKA KUALITAS HIDUP PENGOBATA N KOMPLEMEN TER .

Kariadi Semarang dan FK UNDIP selama 5 bulan dan menyangkut bidang ilmu patologi anatomi. Skema desain penelitian kasus-kontrol . onkologi dan ilmu kesehatan THT-KL.2 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain kasuskontrol terhadap blok paraffin hasil biopsy nasofaring yang didiagnosis sebagai kanker nasofaring. Diagnosis kanker nasofaring dibagi menjadi 2 kelompok. yaitu kelompok kasus (penderita kanker nasofaring tipe WHO 3 yang menggunakan komplementer alternatif asli Indonesia) dan kelompok control (penderita kanker nasofaring tipe WHO 1 dan WHO 2 yang menggunakan komplementer alternatif) (Gambar 1). patobiologi.BAB III METODE PELAKSANAAN 3. 3. Angka Harapan Hidup dan Angka Kualitas Hidup Pengobatan Komplementer Alternatif Karsinoma epidermoid nasofaring tipe WHO 3 Kelompok Kasus Angka Harapan Hidup dan Angka Kualitas Hidup Pengobatan Komplementer Alternatif Karsinoma epidermoid nasofaring tipe WHO 1 & WHO 2 Kelompok Kontrol Gambar 1.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rekam Medik RSUP dr.

ii) Cara pengukuran risiko lingkungan adalah dengan melakukan deep interview dengan perangkat kuesioner terhadap riwayat paparan lingkungan pada kehidupan penderita . preventif.1 Variabel bebas (independen) i) Pengobatan komplementer alternatif asli indonesia 3.2 Variabel tergantung (dependen) i) Angka harapan hidup ii) Angka kualitas hidup 3.3 Variabel perancu i) Infeksi kronis ii) Status gizi iii) Staging TNF iv) Riwayat penyakit 3.3.5 i) Cara dan Skala Pengukuran Cara pengukuran risiko genetik adalah dengan melakukan deep interview dengan perangkat kuesioner terhadap riwayat karsinoma nasofaring pada keluarga terdekat. merupakan pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif. Angka kualitas hidup ini mengambil indikator kemampuan pasien ii) Angka harapan hidup adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang dalam situasi mortalitas tertentu yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.4 Definisi Operasional Variabel i) Angka kualitas hidup adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pengobatan yang telah dilakukan. keamanan dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik tapi belum diterima dalam kedokteran konvensional. 1) risiko genetik positif dan 2) risiko genetik negatif. Skala pengukuran risiko genetik adalah nominal.3. iv) Tipe histopatologi Kanker Nasofaring adalah 3.3. kuratif dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas.3 Variabel Penelitian 3. iii) Pengobatan komplementer alternatif asli indonesia adalah suatu perpaduan pengobatan modern konvensional dengan pengobatan tradisional.3.

P2) 2 2 3.6 Populasi dan Sampel 3. iii) Cara pengukuran angka harapan hidup adalah dengan melakukan Kaplan-Meirer test dengan perangkat kuesioner perkiraan kelangsungan hidup dari data kehidupan pasien. Skala pengukuran penggunaan komplementer alternatif adalah nominal. yaitu mencari blok parafin yang memenuhi kriteria inklusi sampai jumlah sampel minimal terpenuhi.6. meliputi. dan usia pemilik sampel.6. n = = Z1-α/2√2P(1-P) + Z1-β √P1(1-P1) + P2(1-P2) (P1 .3 Besar sampel/jumlah sampel minimal ditetapkan berdasarkan rumus untuk penelitian kasus-kontrol yang menilai rasio odds (RO). iv) Cara pengukuran penggunaan komplementer alternatif adalah dengan melakukan deep interview dengan perangkat kuesioner terhadap riwayat karsinoma nasofaring pada keluarga terdekat. nama. 3. Skala pengukuran risiko lingkungan adalah nominal. 1) komplementer alternatif positif dan 2) komplementer negatif. Kariadi Semarang. 3.sehari-hari.6. yaitu menggunakan rumus sampel untuk studi kasus kontrol berpasangan. .5 Kriteria inklusi dan eksklusi i) Blok parafin dengan sampel biopsi nasofaring berukuran cukup besar. alamat. minimal 5 mm. jenis kelamin. 3.6. ii) Blok parafin yang melalui pemrosesan jaringan yang baik.2 Populasi terjangkau adalah populasi target yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.6. 1) risiko lingkungan positif dan 2) risiko lingkungan negatif. 3.1 Populasi target adalah semua blok parafin hasil biopsi nasofaring yang didiagnosis karsinoma nasofaring selama tahun 2005 sampai 2010 di pusat laboratorium patologi anatomi FK UNDIP/RSUP Dr. iii) Data rekam medik yang lengkap.4 Cara pengambilan sampel dilakukan secara consecutive. Dalam penelitian digunakan untuk mengukur fraksi pasien hidup untuk jangka waktu tertentu setelah pengobatan.

3 . 3. Wawancara/pemeriksaan langsung atau hasil pengukuran dari laboratorium merupakan data primer. termasuk alur penelitian.10 Alur Penelitian Blok parafin kasus KNF Diagnosis PA KNF WHO 1. dimana sebelumnya difiksasi dengan formalin. serta analisis inferensial dengan uji Chi-square dan logistik regresi dengan menggunakan SPSS for Windows 11.7 Materi/Bahan/Alat Penelitian Spesimen: hasil biopsi nasofaring yang sudah dilakukan pemrosesan jaringan dan diblok parafin.5. 3. Waktu dan tempat pengumpulan data dan cara pengumpulan data.8 Prosedur Penelitian/Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan dapat berasal dari rekam medik atau merupakan data sekunder.9 Pengolahan dan Analisis Data Penjelasan tentang langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mengolah data. 2. penyajian data secara deskriptif dengan tabel dan grafik. 2. pengelompokkan data. yang meliputi. tabulasi data.3. 3 Kuesioner Analisis Korelasi WHO 1. 3.

00 1) Transportasi 2) Alat tulis (kertas. Deep interview sampel menggunakan kuesioner. dll.000.11 JADWAL KEGIATAN Kegiatan Persiapan penelitian dan pengumpulan blok parafin hasil biopsi nasofaring yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.000 x 250 hari 4) Foto copy 6) Komunikasi 5) Tanda terima kasih untuk responden @ 50.000.000.750. Waktu Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 3.000. Pembuatan laporan akhir.00 500.000. Pembuatan kuesioner.000 x 60 org = Rp Total Biaya =Rp 7.00 1. tinta.12 RANCANGAN BIAYA = Rp = Rp = Rp = Rp = Rp 650. Pengumpulan data rekam medik yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.000.000.00 .000.) 3) Internet @ 7.000.00 500.3.00 3.00 600.

American Society of Clinical Oncology. Dietz. Chen CJ. Obat Herbal Antikarsinoma Belum Diakui. RW. F. M.nih. In International journal of epidemiology 29: 991-8. . Allan. et al.et al. Neil Risch. The enigmatic epidemiology of nasopharyngeal carcinoma. Cho. Result from a case control study conducted in Taiwan. Hildesheim A. Cheng YJ. W. Chen CJ. Logothetis. Masalah kanker payudara dan pemecahannya. and Risk of Nasopharyngeal Carcinoma. 2000. Neil EC.net/patient/Cancer+Types/Head +and+Neck+Cancer? sectionTitle=Staging>[Accessed 11 September 2010].C. Yang CS. Wallner. Darryl Carter. [online] Available at:<http://www. Dollner.com/read/2009/08/14/22095386/ Obat. Prognostic impact of EBV-Related LMP-1.abstract> Accessed [24 June 2010]. 2009.. Head and Neck Cancer. 2002.1992.kompas. F. [online] Available at :<http://www. Jefrey ID. [online] Available at : <http://cancerres. W. Data histopatologik kanker di Indonesia tahun 2003.nlm. Hildesheim. C. Y. Elizabeth B. J Natl Cancer Inst. 1990. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia Tahun XIX (1): 9. Association of HLA class I and II alleles and extended haplotypes with nasopharyngeal carcinoma in Taiwan. ANT. Rudat. Helbig. R. Claus.A. Flechtenmacher. Cytochrom P4502E1 genetic polymorphism and risk of nasopharyngeal carcinoma.aacrjournals. and Chen.Antikarsinoma.ncbi. and environmental factors in nasopharyngeal carcinoma in a German population. 1993. Hsu M. 1995. 2003. Cancer 71:147-53. Clinical efficacy of traditional Chinese medicine as a concomitant therapy for nasopharyngeal carcinoma: a systematic review and meta-analysis. Armstrong. Herbal Medicine Use. 2009. Jakarta: Yayasan Kanker Indonesia. Onkologie 27:345-350. et al. Paul H. histologic type.gov/pubmed/19212827> [ Accessed 2 July 2010]. Hildesheim A. J Natl Cancer Inst 94: 1780 – 9. H.org/content/ 52/11/3048. Chen HI. Epstein-Barr Virus.cancer. Robert NH. Faisol. 2010.Belum. 4: 607-610. [online] Available at: <http://sains. V.Diakui> [ Accessed 21 June 2010 ]. C. Ama. 2004.Herbal.X. Nasopharyngeal carcinoma in Malaysian chinese: Occupational exposures to particles. Apple RJ.DAFTAR PUSTAKA A. formaldehyde and heat. Bosch. Kompas. Badan Registrasi Kanker Ikatan Ahli Patologi Indonesia. Ann KD. Douglas Thompson. Relationship between breast histopathology and family history of breast cancer.

.19(12):3080-90. Khang.com/ejournals/abstract/plantamedica/doi/10.. Knipe DM. Zong J. Neuro-opthalmological manifestation in nasopharyngeal carcinoma. Lu T. Lancet 350: 1087-1091. Lee. Kieff E. Tang L. Association of combined CYP2E1 gene polymorphism with the risk for esopharingeal squamous cell carcinoma in Huaian population. Tang. 1995. Lippincott-Raven Publishers Philadelphia. Singapore.J. 1997. Nicholson J. Br. Editors. Weichselbaum RR. Prosiding Konas Perhati-KL. J. In: Proceeding of the third Asia-Oceania Congress of Otolarrhino-laryngology 6: 244-52.. Johnson PJ.J.S. Wiratno. Lin A. Sham JST. Histopathology 30: 234-42. Cho. 1996. Jang. 1997. Ellershaw C. Genomic alterations in nasopharyngeal carcinoma. 1997..84. Loss of heterozygosity an Epstein barr virus infection..Kentjono WA. J Cancer 76: 770-776. Vokes EE. Jakarta : FK UI: 71. Epstein-Barr virus 3rd ed. K. 2007. [online] Available at:<https://www. Program Passcasarjana Universitas Airlangga Surabaya: 18-36. High Molecular Compounds. Roberts P. Kariadi tahun 2002 –2006. Hemm. 2007. Dalam: Nurbaiti Iskandar. Tanuyuttwongesse C. Liu L. Editor. Part II. In Bishop J. Liebowitz DN. eds. Mutiarangura A. Prasad U. Mazzocco K.. Surabaya. Soetjipto. Li-hong Yin.: 13(5).thiemeconnect. New Jersey. Pengaruh vaksinasi BCG dalam meningkatkan respons T helper 1 (Th1) dan respon tumor terhadap radiasi pada karsinoma nasofaring.W. Karsinoma nasofaring. Comprehensive genetic and histopathologic study reveals three types of neuroblastoma tumors. Kim. London. Clin cancer Res. Prasetyo A. Rickinson AB. . Fields BN. Lastowska M. Chinese Medical Journal 120 (20): 1797-1802. Nasopharyngeal carcinoma. In: Fields Virology. 2001. and Soo KC. 2001. Baltimore.Recent Development of Antitumor Agents from Chinese Herbal Medicines. Epstein-Barr Virusassociated primary gastrointestinal lymphoma in non-immunocompromised patients in Korea. S. S.K. J Clin Oncol 15. Ma J. Tumor telinga-hidung-tenggorok diagnosis dan penatalaksanaan. Treatment of NPC. Pearson AD. Ingrid. Barbara Bertram. World Scientific. Bown N. Howley PM. and C. Retropharyngeal lymphnode metastasis in NPC: prognostic value and staging categories. Ran Liu. Cancer Reviews. Kanker kepala leher berdasarkan diagnosis patologi anatomi di RSUP Dr. 2003. Yue-pu Hue. China. Wee J. 1989. Inaugural Issue. Weici.. Kerkhanjanarong V. Jackson MS. O'Neill S. 2007. Sriuranphong V. et al.. 2003. Cotterill S. Huang Peng. Variend S.1055/s-2003-38494> Accessed [ 24 June 2010 ]. Damayanti. Hong Kong: 93-102. Porthanakasem W. Cullinane C.

. 2nd ed. Lippincott-Raven Publisher: 163753. 1996. limfositsertaproduksiTNF- IFN- .PengaruhPolifenolTehHijauTerhadapSistemImunPenderitaKarsinomaNasofari ng yang MendapatRadioterapiKajianjumlahmonosit. In: Bailey.. Fraumeni JF. Second edition. In: Schottenfeld D. 2002. editors. Yuan. Mark C. Head and neck surgery otolaryngology. Semin Cancer Biol 12:421-9. Nasopharyngeal Cancer. New York: Oxford University Press: 603– 18. Cancer epidemiology and prevention.undip.2009. (eds).pdf> Accessed [ 24 June 2010 ].ac. Henderson BE. Bryan Nell III. 2002. M. . [online] Available at: <http://eprints. Semin Cancer Biol 12: 443– 50. Yu. dan IL-2 ex vivo.and J. Yu MC. Jia WH..id/15225/1/vol_43_4_2008_175_-_181.C. 1998. Witte. Nasopharyngeal cancer. Byron J. Zeng YX.Wiratno.M. Epidemiology of nasopharyngeal carcinoma. Familial nasopharyngeal carcinoma. Jr. H.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.