Anda di halaman 1dari 79

LAPORAN AKHIR

LOMBA KARYA ILMIAH MAHASISWA ITB BIDANG ENERGI


PENGHARGAAN PT. REKAYASA INDUSTRI

PRODUKSI ISOPROPIL ALKOHOL MURNI UNTUK ADITIF


BENSIN YANG RAMAH LINGKUNGAN
SEBAGAI WUJUD PEMANFAATAN PRODUK SAMPING
PADA INDUSTRI GAS ALAM

Diusulkan oleh
Jauhar Maghza Khaeruddin (NIM.13003081)
Edo Cathaputra (NIM.13003058)
Haryo Pandu Winoto (NIM.13004028)

Kerjasama ITB dengan PT. Rekayasa Industri


Tahun 2007
ABSTRAK

Bahan bakar yang baik adalah bahan bakar yang tinggi angka oktannya (mampu mencegah
ketukan mesin) dan rendah emisinya. Salah satu zat aditif pengungkit angka oktan (octane
booster) adalah isopropil alkohol (IPA). IPA merupakan produk turunan dari propana yang
banyak diproduksi di industri gas alam. IPA yang dapat dijadikan zat aditif adalah IPA dengan
kemurnian 99,8%-v, sedangkan IPA yang banyak dijual adalah IPA dengan kemurnian 95%-v.
Oleh karena itu, perlu dilakukan penyingkiran air dari IPA 95%-v untuk menjadi IPA 99,8%-v.

Salah satu metode penyingkiran air tersebut adalah adsorpsi. Tujuan dari penelitian ini adalah
membuat dan menguji unjuk kerja kolom adsorpsi untuk mendehidrasi IPA 95%-v menjadi IPA
99,8%-v secara partaian, mengetahui kondisi operasi yang paling optimum untuk proses
tersebut, serta mengetahui unjuk kerja IPA yang dihasilkan.

Proses adsorpsi dilakukan dengan kolom adsorpsi yang dibangun untuk penelitian ini. Umpan
IPA cair diuapkan di dalam boiler kemudian dialirkan ke unggun adsorben di dalam kolom. Air
akan terserap pada adsorben. Kemurnian produk IPA kemudian dianalisis menggunakan Gas
Chromatograph. Variasi yang dilakukan adalah waktu desorpsi dan laju alir adsorpi. Juga diuji
pengaruh pencampuran IPA pada unjuk kerja bensin.

Kolom yang dibuat untuk penelitian ini telah teruji dapat dengan baik menjalankan proses
adsorpsi namun masih memerlukan perbaikan untuk proses desorpsi. Kondisi optimum proses
adsorpsi IPA pada kolom yang dibuat adalah pada laju alir adsorpsi 1000 mL/jam dan waktu
regenerasi 3 jam. Penambahan IPA pada bensin jenis premium terbukti dapat memberikan
peningkatan angka oktan dan penurunan emisi pada gas buang yang dihasilkan.

Kata kunci : adsorpsi, octane booster, isopropil alkohol

ii
KATA PENGANTAR

“Bacalah atas nama Tuhan-mu yang menciptakan (QS. Al-‘Alaq : 1).” Demikian
terjemahan dari ayat pertama yang Alloh swt turunkan kepada Nabi Muhammad saw
melalui perantaraan Malaikat Jibril. Perintah untuk belajar, berpikir, dan memahami.
Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang harus belajar untuk memperbaiki diri.
Dengan semangat itu pulalah, penelitian ini dilaksanakan. Maka, syukur alhamdulillah
penulis panjatkan kepada Alloh swt karena berkat keridhaan-Nya, penelitian ini bisa
penulis selesaikan. Tak terlupa, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan
kita Nabi Muhammad saw, keluarga, shahabat, dan juga kita selaku umatnya.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Azis Trianto selaku dosen pembimbing
atas bimbingannya selama ini. Kepada kedua orang tua penulis, tak terbayang apa yang
harus penulis ungkapkan. Semoga Alloh senantiasa memberikan perlindungan dan kasih
sayang kepada keduanya. Kepada ikhwah di Gamistek, rekan-rekan Teknik Kimia
khususnya angkatan 2003, Himatek, dan Departemen Pengabdian Masyarakat Kabinet
KM-ITB, dan tentu teman-teman di Sadang Serang, Pancasila 9, dan Kebon Bibit
terima kasih atas dukungannya selama ini. Kepada Mbak Lely terima kasih atas
kebersamaannya. Kepada Mas Susilo, Pak Hendy, Pak Karna, Pak Asep, Pak Ate, dan
Mas Hernindya, terima kasih atas bantuannya selama proses pembuatan alat. Tak
terlupa, terima kasih penulis ucapkan kepada Prof. Dr. V.S. Praptowidodo, Lab. Migas,
dan BPPT Lampung atas bantuan yang telah diberikan selama penelitian berlangsung.
Penulis juga bersyukur karena pada bulan Juli 2007 yang lalu salah satu dari penulis,
Jauhar Maghza Khaeruddin, telah menyelesaikan kuliahnya dan lulus dari Departemen
Teknik Kimia ITB dengan baik dan lancar.

Tulisan ini dibuat dengan kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna kecuali
Nabi Muhammad saw. Tidak ada pula suatu buku yang berani mengatakan bahwa di
dalam buku tersebut tak luput dari kesalahan kecuali Al-Qur’an. Kesadaran akan hal
tersebut membuat penulis senantiasa mengharap kritik dan saran dari pembaca. Semoga
apa yang penulis lakukan ini dapat bermanfaat. Amiiin.

iii
LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul Penelitian : Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang
Ramah Lingkungan sebagai Wujud Pemanfaatan Produk
Samping pada Industri Gas Alam
2. Himpunan Mahasiswa : Teknik Kimia
3. Bidang Penelitian : Energi
4. Ketua Pelaksana Penelitian
a. Nama Lengkap : Jauhar Maghza Khaeruddin
b. NIM : 13003081
c. Program Studi/Fakultas : Teknik Kimia / Fakultas Teknologi Industri
d. Alamat Rumah dan No. Telp/HP : Gg. Pancasila no. 9 Kebon Kembang Taman Sari
Bandung, HP.08156272982
e. Alamat e-mail : 13003081@stud.che.itb.ac.id
5. Anggota Pelaksana Penelitian : 2 orang
6. Biaya Kegiatan Total : Rp. 6.000.000,00
6. Jangka Waktu Pelaksanaan : 4 bulan
7. Waktu untuk pelaksanaan kegiatan : 12 jam/minggu

Bandung, 1 Oktober 2007


Pembimbing, Ketua Pelaksana Penelitian

(Dr. Ir. Azis Trianto MSc.) (Jauhar Maghza Khaeruddin)


NIP. 132046551 NIM. 13003081

Menyetujui
Ketua Program Studi Dekan Fakultas Teknologi industri

(Dr. Sanggono Adisasmito) (Dr. Dwiwahju Sasongko)


NIP. 132049401 NIP. 130931163

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan iv
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
DAFTAR ISI

Halaman
Abstrak ii
Kata Pengantar iii
Lembar Pengesahan iv
Daftar Isi v
Daftar Tabel viii
Daftar Gambar ix
I Pendahuluan 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Perumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.4 Luaran yang Diharapkan 3
1.5 Manfaat Penelitian 4
II Tinjauan Pustaka 5
2.1 Standar Emisi EURO II 5
2.2 Kualitas Bahan Bakar Cair 5
2.3 Isopropil Alkohol dan Manfaatnya sebagai Aditif Bahan Bakar 7
2.4 Penghilangan Air pada IPA 10
2.4.1 Metode Distilasi 10
2.4.2 Metode Pervaporasi dengan Membran 11
2.5 Adsorpsi 11
2.5.1 Definisi Adsorpsi 11
2.5.2 Jenis-Jenis Adsorpsi 12
2.5.2.1 Adsorpsi Fisik 12
2.5.2.2 Adsorpsi Kimia 12
2.6 Prinsip Desain Sistem Adsorpsi 12
2.6.1 Kesetimbangan Adsorpsi 12

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan v
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
2.6.2 Karakter Dinamis 12
2.6.3 Isoterm Adsorpsi 15
2.7 Adsorben 17
2.7.1 Unjuk Kerja Adsorben 18
2.7.2 Penggolongan Adsorben 18
2.7.2.1 Berdasarkan Sifatnya terhadap Air 18
2.7.2.2 Berdasarkan Bahannya 19
2.7.2.3 Berdasarkan Ukuran Pori 20
2.7.3 Regenerasi Adsorben 21
2.7.4 Molecular Sieve 23
III Metode Penelitian 25
3.1 Metodologi 25
3.2 Percobaan 25
3.2.1 Bahan 25
3.2.2 Alat 25
3.2.3 Prosedur 27
3.2.4 Variasi 28
3.3 Interpretasi Data 29
3.4 Biaya 30
3.4.1 Anggaran Pengeluaran 30
3.4.2 Anggaran Pemasukan 31
3.5 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan 31
IV Hasil dan Pembahasan 33
4.1 Konstruksi Kolom Adsorpsi 33
4.2 Hasil Proses Adsorpsi 37
4.2.1 Pengaruh Variasi Waktu Regenerasi dan Laju Alir terhadap Kurva
Breakthrough 37
4.2.2 Analisis Laju Alir Adsorpsi dan Waktu Regenerasi yang Paling
Optimum 40
4.3 Pengaruh Penambahan IPA pada Unjuk Kerja Bahan Bakar Kendaraan 44
4.3.1 Pengaruh pada Angka Oktan (RON) 44
Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan vi
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
4.3.2 Pengaruh pada Emisi yang Dihasilkan 44
V Kesimpulan dan Saran 46
5.1 Kesimpulan 46
5.2 Saran 46
Daftar Pustaka 48
Daftar Simbol 49
Lampiran A Biodata Ketua Kelompok 50
Lampiran B Biodata Anggota Kelompok 54
Lampiran C Biodata Pembimbing 58
Lampiran D MSDS Isopropanol 59
Lampiran E Inventarisasi Alat dan Bahan 64
Lampiran F Data Penelitian 65
Lampiran G Hasil Antara 67

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan vii
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Perbandingan RON dan MON 6
Tabel 2.2 Perbandingan nilai RON dan MON untuk beberapa senyawa 7
Tabel 2.3 Karakteristik isopropanol 7
Tabel 2.4 Metode analisis transisi pada unggun tetap 13
Tabel 2.5 Penggolongan adsorben berdasarkan kemampuan menyerap air 18
Tabel 2.6 Penggolongan adsorben berdasarkan ukuran pori 20
Tabel 3.1 Variasi penelitian 28
Tabel 3.2 Jadwal kegiatan penelitian 31
Tabel 4.1 Volume produk dalam satu hari untuk waktu regenerasi 3 jam 40
Tabel 4.2 Volume produk dalam satu hari untuk waktu regenerasi 2 jam 41
Tabel 4.3 Volume produk dalam satu hari untuk waktu regenerasi 1 jam 41
Tabel 4.4 Pengaruh penambahan IPA pada RON bensin 44
Tabel 4.5 Pengaruh pencampuran IPA pada emisi Kijang 1991 44
Tabel 4.6 Perbandingan emisi pada Kijang 1991 dan Kijang 2000 45

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan viii
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Kurva MTZ dan zona breakthrough 14
Gambar 2.2 Perbandingan kurva breakthrough antara uap dan cairan 15
Gambar 2.3 Molecular sieve ukuran 4 A 20
Gambar 2.4 Silika gel 20
Gambar 2.5 Bentuk molekul molecular sieve 23
Gambar 3.1 Gambar rancangan alat penelitian (adsorber) 26
Gambar 3.2 Proyeksi kolom adsorpsi tampak atas 27
Gambar 4.1 Detail perancangan kolom adsorpsi 33
Gambar 4.2 Hasil konstruksi kolom adsorpsi 34
Gambar 4.3(a) Boiler tampak atas 35
Gambar 4.3(b) Boiler tampak samping 35
Gambar 4.4 Boiler dan pompa 36
Gambar 4.5 Pengaruh variasi waktu regenerasi terhadap kurva breakthrough 37
Gambar 4.6 Pengaruh variasi laju alir terhadap kurva breakthrough 38
Gambar 4.7 Pengaruh waktu siklus terhadap total volume produksi dalam satu
hari 41
Gambar 4.8 Toyota Kijang tahun1991 45

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan ix
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Bahan bakar adalah salah satu unsur yang sangat penting bagi kendaraan bermotor.
Bahan bakar yang umum dipakai kendaraan bermotor adalah bahan bakar cair, seperti
bensin. Setiap negara memiliki standar untuk emisi bahan bakar. Indonesia
menggunakan standar euro II sebagai standar emisi bahan bakar. Disamping standar
emisi, bensin yang digunakan juga harus dapat mencegah ketukan (knocking).
Kemampuan bensin dalam mencegah terjadinya ketukan pada mesin biasanya diukur
dengan angka oktan, RON (Research Octane Number), dan MON (Motor Octane
Number). Semakin besar ketiga angka tersebut maka semakin baik kualitas suatu
bensin.

Angka oktan, RON, dan MON bensin dapat ditingkatkan dengan ditambahkan bahan
aditif ke dalam bensin tersebut. Semula, ketiga angka ini ditingkatkan dengan
menambahkan TEL (Tetra Ethyl Lead) dan TML (Tetra Methyl Lead). setelah selama
beberapa waktu dipakai, para peneliti menemukan kelemahan TEL dan TML yaitu
dapat menimbulkan emisi bahan bakar yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Lalu dilakukan beberapa penelitian mengenai bahan aditif bahan bakar sebagai
pengganti TEL dan TML. Kemudian para peneliti menemukan MTBE sebagai
pengganti TEL dan TML. Tetapi, kelarutan MTBE dalam air tinggi, sehingga dapat
menimbulkan kerugian kepada manusia. Apabila terjadi kebocoran tangki SPBU maka
bensin akan meresap ke dalam tanah. Air tanah yang terminum manusia ini berbahaya
karena sudah tercemari dengan MTBE yang bersifat karsinogenik (zat penyebab
penyakit kanker).

Setelah itu dikembangkan beberapa penelitian tentang bahan aditif bahan bakar yang
dapat meningkatkan angka oktan, RON, dan MON serta dapat memenuhi standar emisi.
Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 1
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Bahan yang ditemukan adalah metanol dan etanol. Metanol dapat memberikan hasil
yang lebih baik dibandingkan etanol dalam hal peningkatan angka oktan, RON, dan
MON, namun metanol tidak dapat dipakai karena sifatnya yang korosif sehingga
berbahaya bagi mesin. Etanol adalah bahan yang ramah lingkungan karena tidak
mengeluarkan emisi gas racun.

Pembuatan etanol, atau yang lebih sering disebut alkohol dalam perdagangan, sebagai
aditif bahan bakar tidak jarang disalahgunakan menjadi minuman. Penyebabnya, harga
jual etanol sebagai minuman lebih tinggi dibandingkan harga jual etanol sebagai bahan
aditif bahan bakar. Oleh karena itu, penelitian dilanjutkan untuk menemukan alternatif-
alternatif lainnya yang memiliki resiko penyimpangan yang lebih kecil. Salah satunya
adalah isopropil alkohol (IPA). IPA adalah zat yang tidak beracun. Zat ini berpotensi
menjadi bahan aditif bahan bakar karena merupakan salah satu hasil samping dari
produksi berbahan baku gas alam, sehingga tersedia dalam jumlah yang cukup besar.

IPA yang biasanya dihasilkan adalah IPA dengan kandungan 95%-v dalam larutan,
Padahal, agar dapat menjadi aditif bahan bakar, kemurniannya harus mencapai minimal
99,85%-v sehingga agar IPA tersebut dapat digunakan sebagai bahan aditif perlu
dilakukan upaya untuk mendehidrasi IPA 95%-v menjadi IPA 99,85%-v. Salah satu
caranya adalah dengan menggunakan metode adsorpsi. Metode adsorpsi merupakan
metode yang sederhana dan tidak membutuhkan biaya operasi yang terlalu tinggi.
Namun, untuk merancang suatu kolom adsorpsi yang memberikan kinerja maksimal,
baik untuk skala pilot maupun komersial, dibutuhkan data empiris dari percobaan. Oleh
karena itu, diperlukan suatu penelitian untuk memberikan data empiris adsorpsi
isopropil alkohol yang dapat digunakan untuk merancang kolom adsorpsi baik untuk
skala pilot maupun skala komersial.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 2
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
1.2. Perumusan Masalah

IPA yang biasanya dihasilkan adalah IPA 95%-v. Padahal, syarat minimum kemurnian
IPA agar dapat menjadi bahan aditif adalah 99,85%-v. Oleh karena itu, rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana cara mendehidrasi IPA 95%-v menjadi IPA 99,85%-v?
2. Adsorben dan laju penguapan berapakah yang paling efektif untuk
mendehidrasi IPA 95%-v menjadi IPA 99,85%-v?
3. Bagaimana unjuk kerja campuran bensin dan IPA anhidrat yang dihasilkan?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.


1. Membuat dan menguji unjuk kerja kolom adsorpsi untuk mendehidrasi IPA
95%-v menjadi IPA 99,85 % secara partaian.
2. Mengetahui adsorben, laju pemanasan dan periode pergantian arah aliran gas
pengering (N2) saat regenerasi yang paling efektif untuk mendehidrasi IPA
95%-v menjadi IPA 99,85%-v.
3. Mengetahui unjuk kerja campuran bensin dan IPA anhidrat yang dihasilkan.

1.4. Luaran yang Diharapkan

Luaran yang diharapkan dari percobaan ini adalah artikel sekaligus paten baik mengenai
data percobaan adsorpsi isopropil alkohol maupun hasil analisis mengenai adsorben,
laju pemanasan, dan periode pergantian arah aliran gas pengering saat regenerasi yang
paling efektif. Data-data tersebut dapat digunakan sebagai referensi untuk merancang
kolom adsorpsi untuk skala yang lebih besar.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 3
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
1.5. Manfaat Penelitian

Kegunaan dari program penelitian ini adalah sebagai berikut.


1. Untuk kalangan industri proses, hasil dari penelitian ini dapat digunakan
sebagai bahan referensi untuk merancang suatu kolom adsorpsi isopropil
alkohol yang efektif dalam skala industrial. Rancangan tersebut akan
bermanfaat terutama untuk industri gas alam dan industri proses pengilangan
minyak yang berada di daerah Kalimantan. Industri pengilangan minyak di
Kalimantan saat ini mendatangkan sebagian bahan aditif untuk bensin dari
industri pengilangan minyak di Pulau Jawa. Sementara itu, industri gas alam
di Kalimantan memproduksi gas propana yang bisa dimanfaatkan untuk
memproduksi isopropil alkohol sebagai bahan aditif bensin. Sehingga, kedua
jenis industri tersebut dapat melakukan kerjasama yang menguntungkan di
bidang penyediaan isopropil alkohol.
2. Untuk kalangan industri kecil dan menengah, hasil penelitian ini dapat
digunakan untuk membuat suatu kolom adsorpsi isopropil alkohol skala
menengah dengan bahan baku IPA teknis yang harganya lebih murah jika
dibandingkan dengan IPA yang dapat digunakan sebagai bahan aditif bensin.
Hasil produksi tersebut dapat dijual secara eceran. Masyarakat dapat
mencampur sendiri IPA murni eceran tersebut dengan bensin yang akan
meningkatkan kinerja bensin dengan harga lebih murah.
3. Untuk lingkungan hidup, bensin dengan bahan aditif IPA akan mengurangi
emisi dari bahan bakar tersebut.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 4
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Standar Emisi EURO II

Standar emisi diperlukan untuk membatasi jumlah polutan yang dibuang ke lingkungan.
Pada umumnya standar emisi difokuskan pada polutan yang dihasilkan oleh kendaraan
bermotor. Standar ini mengatur emisi dari NOx, jelaga, CO, dan hidrokarbon yang
mudah menguap. Standar emisi suatu negara mencerminkan kemajuan suatu negara dan
tingginya tingkat polusi negara tersebut. Standar emisi yang digunakan oleh Indonesia
adalah Euro II. Standar tersebut khususnya diterapkan untuk kendaraan jalan raya,
seperti motor, mobil roda empat, dan truk kecil. Standar Euro II membatasi emisi
sampai 4.0 g CO /kWh, 1.1 g HC / kWh, 7.0 g NOx /kWh, 0.15 g partikel /kWh.

Salah satu cara untuk mencapai standar tersebut adalah dengan cara mencampur bahan
bakar dengan bahan aditif yang berfungsi sebagai Octane Booster Agent (OBA). Fungsi
OBA diantaranya adalah untuk meningkatkan angka oktan dan kinerja pembakaran
pada kendaraan bermotor. Salah satu contoh OBA adalah isopropil alkohol anhidrat.

2.2. Kualitas Bahan Bakar Cair

Bahan bakar cair yang beredar di pasar, misalnya bensin, terdiri dari beberapa tingkatan.
Pada umumnya untuk mengetahui kualitas dari suatu bahan bakar, parameter yang
dipakai adalah angka oktan dan indeks anti-ketukan.

Angka oktan menunjukkan kadar isooktan yang terdapat dalam campuran isooktan dan
n-heptan. Angka ini mempresentasikan kesukaran bahan bakar untuk terbakar secara
spontan dan kemampuan untuk meredam ketukan yang mungkin akan terjadi pada
mesin. Jadi semakin tinggi angka oktan, semakin baik perfomansi dari suatu bahan
bakar.
Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 5
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Indeks anti-ketukan (anti-knocking index) bensin ditunjukkan dengan Research Octane
Number (RON) dan Motor Octane Number (MON). RON ditentukan dengan uji mesin
saat berkecepatan rendah atau biasanya pada saat berkendaraan di dalam kota.
Sedangkan MON diukur pada saat kendaraan berada pada kecepatan tinggi yang
mensimulasikan berkendaraan di jalan bebas hambatan. Pada sebagian besar komponen
bahan bakar, nilai RON lebih besar daripada nilai MON. Perbedaan antara RON dan
MON ditunjukkan pada tabel berikut

Tabel 2.1 Perbandingan RON dan MON


No Parameter RON MON
1 Kondisi Uji Mesin Research Octane Motor Octane
ASTM D2699-92 ASTM D2700-92
2 Metode Uji
[105] [104]
Cooperative Fuels Cooperative Fuels
3 Mesin
Research ( CFR ) Research ( CFR )
4 RPM Mesin 600 RPM 900 RPM
Bervariasi
tergantung tekanan
Temperatur Udara barometrik (misal
5 38 oC
Masuk 88kPa = 19.4 oC,
101.6kPa = 52.2
o
C)
Kelembaban Udara 3.56 - 7.12 g H2O / 3.56 - 7.12 g H2O /
6
Masuk kg udara kering kg udara kering
Temperatur
7 Tidak terspesifikasi 149 oC
Campuran Masuk
Temperatur
8 100 oC 100 oC
Pendingin
Temperatur
9 57 oC 57 oC
Pelumas

Semakin tinggi angka RON dan MON suatu bahan bakar berarti semakin baik pula
kualitasnya. Angka RON dan MON ini dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan
oksigenat ke dalam suatu bahan bakar bensin. Sampai sekarang sudah terdapat banyak
oksigenat, diantaranya adalah metanol, etanol, IPA (Isopropil Alkohol), MTBE (Metil
Tersier Etil Eter), ETBE (Etil Tersier Butil Eter) dan TAME ( Tersier Amil Metil Eter).

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 6
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Perbedaan berbagai macam oksigenat tersebut disajikan pada tabel berikut ini

Tabel 2.2 Perbandingan nilai RON dan MON untuk beberapa senyawa
No Senyawa RON MON Titik Didih Normal (oC)
1 Metanol 133 105 65
2 Etanol 129 102 78
3 IPA 118 98 82
4 MTBE 116 103 55
5 ETBE 118 102 72
6 TAME 111 98 86

Dari tabel 2.2 dapat dilihat bahwa metanol dan etanol memiliki angka RON dan MON
yang lebih besar dari IPA, namun kedua senyawa tersebut memiliki kelemahan
dibandingkan IPA. Kelemahan kedua bahan tersebut bila dibandingkan IPA akan
dijelaskan pada bagian 2.3.

2.3. Isopropil Alkohol dan Manfaatnya sebagai Aditif Bahan Bakar

Isopropil alkohol (IPA) atau isopropanol adalah nama lain dari 2-propanol. Rumus
kimianya adalah CH3CHOHCH3. Senyawa ini merupakan turunan kedua setelah
propilen dari propana. Isopropil alkohol dapat membentuk azeotrop dengan air pada
87,4% isopropanol. IPA adalah zat yang sangat mudah menguap, mudah terbakar,
berbau khas dan beracun.

Senyawa ini memiliki karakteristik sebagai berikut.

Tabel 2.3 Karakteristik isopropanol


BESARAN/
NO KARAKTERISTIK
KETERANGAN
1 berat molekul relatif 60,10 g/mol
2 wujud cairan tak berwarna

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 7
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Tabel 2.3 (lanjutan) Karakteristik isopropanol
BESARAN/
NO KARAKTERISTIK
KETERANGAN
3 densitas 0.78 g/cm3
4 larut baik dalam air, etanol, eter, bensin
5 dapat larut dalam aseton, toluena
6 titik didih 82 oC (355K)
7 titik lebur -88 oC (185 K)
2,86 cP pada 15 oC
8 Viskositas
1,77 cP pada 30 oC
9 momen dipol 1,66 D (gas)
10 kemudahan terbakar mudah
11 flash point 12 oC

Kegunaan IPA adalah sebagai berikut.


1. Pembersih dan pelumas (gemuk) peralatan elekronik dan komponen PC
(personal computer),
2. Disinfektan pada permukaan keras,
3. Antiseptik dan antibakterial,
4. Pembersih yang baik untuk permukaan kaca dan gelas,
5. Sterilizer tangan sebelum makan,
6. Sterilizer jarum akupunktur,
7. Pewarna ulang sepatu,
8. Penyingkir air dalam bahan bakar cair,
9. Pembersih lem (atau bekas lem),
10. Anti-foam atau penghambat pembentukan busa,
11. Dapat dicampur dengan fragrance untuk membuat deodorant dan penyegar
ruangan,
12. Penghilang bau yang disemprotkan ke dalam sepatu,
13. Pelarut untuk pernis cair, addesive PVC, cat, dan tinta cetak,
14. Pembersih coretan seperti tinta, spidol, lipstick, pelapis kuku, dsb,

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 8
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
15. Anti-freeze agent,
16. Sebagai Octane Booster Agent dan oksigenat,
17. Pengurang ketegangan pada otot.

Zat ini berpotensial sebagai bahan aditif bahan bakar karena memiliki beberapa
keunggulan. Keunggulan-keunggulan IPA adalah sebagai berikut.
1. Tersedia dalam jumlah yang cukup besar dalam bentuk propana karena
merupakan salah satu hasil samping dari kilang minyak bumi. Jumlah produksi
propana pada kilang PT. Badak adalah sekitar 125.000 m3/hari atau sekitar 1.250
ton/hari.
2. IPA kering, yaitu IPA dengan kemurnian 99,8%-v, dapat digunakan sebagai
penghilang air dalam bahan bakar sehingga dapat mencegah pembekuan pada
bahan bakar.
3. IPA kering (anhidrous) dapat meningkatkan kinerja kendaraan bermotor karena
merupakan komponen pencampur beroktan cukup tinggi (nilai RON 118 dan
nilai MON 98)
4. Tidak korosif pada mesin kendaraan bensin sehingga memiliki keunggulan bila
dibandingkan metanol. Metanol memiliki sifat korosif pada mesin bensin
sehingga apabila digunakan sebagai zat aditif, mesin kendaraan harus diganti
dengan mesin baru yang tahan korosi terhadap metanol. Penggantian mesin
tersebut membutuhkan biaya mahal, sehingga metanol tidak dapat dipakai
sebagai aditif bensin. Jadi, walaupun metanol memiliki angka RON dan MON
yang lebih besar daripada IPA tetapi metanol tidak dapat digunakan karena
alasan di atas.
5. Tidak dapat dikonsumsi dalam bentuk minuman sehingga memiliki nilai lebih
bila dibandingkan etanol. Harga jual etanol bila dibuat menjadi minuman keras
lebih tinggi dibandingkan harga jual etanol bila dibuat menjadi aditif bahan
bakar, sehingga pembuatan etanol menjadi aditif memungkinkan untuk
disalahgunakan menjadi bahan minuman keras.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 9
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
2.4. Penghilangan Air pada IPA

IPA yang biasanya dijual adalah IPA dengan kandungan 95%-v dalam larutan,
sedangkan untuk aditif bahan bakar harus memakai IPA dengan kemurnian minimal
99,8%-v. Untuk mencapai IPA 99,8%-v harus dilakukan permurnian lebih lanjut, yaitu
dengan cara dehidrasi IPA sehingga menjadi IPA anhidrat (atau kering). Beberapa
metode yang biasa dipakai untuk mengeringkan adalah metode distilasi, pervaporasi
dengan membran dan adsorpsi.

2.4.1. Metode Distilasi

Pengeringan dengan metode distilasi dilakukan dengan tujuan untuk mengatasi masalah
azeotrop yang terjadi pada campuran air-IPA. Pada umumnya, distilasi memerlukan
energi yang cukup besar. Metode distilasi dibagi lagi menjadi beberapa metode, yaitu:
1. Distilasi azeotrop homogen : pemisahan dua zat cair yang memiliki kondisi
azeotrop dimana agen pemisahnya tercampur secara sempurna
2. Distilasi azeotrop heterogen : pada distilasi ini digunakan agen pemisah yang
akan membentuk satu atau lebih kondisi azeotrop dengan komponen-komponen
campuran yang akan dipisahkan sehingga menghasilkan dua fasa cair yang
memiliki perbedaan konsentrasi cukup besar. Sifat fisik yang menentukan disini
adalah kelarutan.
3. Distilasi pressure-swing : pada distilasi ini kondisi operasi distilasi dilakukan
pada tekanan yang berbeda. Beda tekan ini digunakan untuk memisahkan
larutan yang memiliki kondisi azeotrop yang sangat dipengaruhi oleh tekanan.
Komposisi azeotrop akan berbeda apabila tekanan operasinya berbeda.
4. Distilasi reaktif : yaitu distilasi azeotrop yang menggunakan agen pemisah yang
dapat bereaksi secara selektif terhadap salah satu komponen azeotrop. Produk
akhir reaksi kemudian didistilasi dari komponen-komponen yang tidak ikut
bereaksi.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 10
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
2.4.2. Metode Pervaporasi dengan Membran

Pervaporasi adalah proses pemurnian dengan memanfaatkan penguapan parsial


melewati membran tidak berpori. Fungsi membran adalah sebagai penghalang yang
selektif diantara dua fasa, fasa cairan (umpan) dan fasa uap (permeat). Membran akan
melewatkan IPA dengan jalan penguapan. Prinsip pemisahan yang digunakan antara
lain ultra filtrasi, nano filtrasi dan reverse osmosis. Metode ini dapat menghasilkan IPA
kering dengan kemurnian yang cukup tinggi namun biaya pembuatan dan perawatan
peralatannya sangat mahal.

2.5. Adsorpsi

2.5.1. Definisi Adsorpsi

Adsorpsi adalah proses dimana satu atau lebih unsur-unsur pokok dari suatu larutan
fluida akan lebih terkonsentrasi pada permukaan suatu padatan tertentu (adsorben).
Dengan cara ini, komponen-komponen dari suatu larutan, baik itu dari larutan gas
ataupun cairan, bisa dipisahkan satu sama lain (Treybal, 1980). Adsorpsi melibatkan
proses perpindahan massa dan menghasilkan kesetimbangan distribusi dari satu atau
lebih larutan antara fasa cair dan partikel. Pemisahan dari suatu larutan tunggal antara
cairan dan fasa yang diserap membuat pemisahan larutan dari fasa curah cair dapat
dilangsungkan.

Fasa penyerap disebut sebagai adsorben. Bahan yang banyak digunakan sebagai
adsorben adalah karbon aktif, molecular sieves dan silika gel. Permukaan adsorben pada
umumnya secara fisika maupun kimia heterogen dan energi ikatan sangat mungkin
berbeda antara satu titik dengan titik lainnya. Pada praktiknya, proses adsorpsi bisa
dilakukan secara tunggal namun bisa pula merupakan kelanjutan dari proses pemisahan
dengan cara distilasi.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 11
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
2.5.2. Jenis-Jenis Adsorpsi

2.5.2.1. Adsorpsi Fisik

Adsorpsi fisik adalah adsorpsi yang terjadi akibat gaya interaksi tarik-menarik antara
molekul adsorben dengan molekul adsorbat. Adsorpsi ini melibatkan gaya-gaya Van der
Wals (sebagai kondensasi uap). Jenis ini cocok untuk proses adsorpsi yang
membutuhkan proses regenerasi karena zat yang teradsorpsi tidak larut dalam adsorben
tapi hanya sampai permukaan saja.

2.5.2.2. Adsorpsi Kimia

Adsorpsi kimia adalah adsorpsi yang terjadi akibat interaksi kimia antara molekul
adsorben dengan molekul adsorbat. Proses ini pada umumnya menurunkan kapasitas
dari adsorben karena gaya adhesinya yang kuat sehingga proses ini tidak reversibel.

2.6. Prinsip Desain Sistem Adsorpsi

2.6.1. Kesetimbangan Adsorpsi

Fasa kesetimbangan antara cairan dan fasa yang diserap oleh satu atau lebih komponen
dalam proses adsorpsi merupakan faktor yang menentukan di dalam kinerja proses
adsorpsi tersebut. Dalam hampir semua proses, faktor ini jauh lebih penting daripada
laju perpindahan. Peningkatan kapasitas stoikiometrik adsorben memiliki pengaruh
yang lebih besar daripada peningkatan laju perpindahan.

2.6.2. Karakter Dinamis

Karena proses adsorpsi dilangsungkan secara partaian, baik itu pada unggun tetap
ataupun unggun bergerak, maka proses adsorpsi akan memiliki sifat dinamik. Sifat
dinamik tersebut dapat didekati dengan kondisi periodik yang disebut cyclic steady state
Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 12
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
(kondisi tunak bersiklus). Kondisi tersebut disebabkan adanya kemungkinan perbedaan
tahap pada umpan. Jumlah transisi yang terjadi pada unggun tetap sebelum menjadi
jenuh karena komposisi konstan sebanding dengan jumlah varian di dalam sistem.
Berikut adalah metode analisis proses transisi pada unggun tetap.

Tabel 2.4 Metode analisis transisi pada unggun tetap (Perry, 1999)
Metode Tujuan Pendekatan

• Menunjukkan gelombang karakter • Perpindahan massa


(berupa gelombang dan kejut dan panas terjadi
Teori
sederhana) dengan sangat cepat
kesetimbangan
• Mengindikasikan kinerja terbaik • Terjadinya dispersi
lokal
yang mungkin diabaikan
• Dapat dimengerti lebih baik

• Isotermal
Zona
• Panjang MTZ
perpindahan
Didesain berdasarkan pada diukur secara
massa (Mass
stoikiometri dan pengalaman empiris
Transter Zone,
• Regenerasi diukur
MTZ)
secara empiris
Constant pattern
Memberi bentuk transisi asimtotik Dalam unggun
and related
dan ikatan diatas MTZ berdasarkan transisi
analyses
• Deskripsi transisi akurat
Model laju alir • Cocok untuk unggun yang dangkal
Beragam ke seragam
penuh • Solusi numerik dengan
collocation methode

Untuk memodelkan proses adsorpsi, ada beberapa asumsi yang harus digunakan.
Pertama, zat yang akan diadsorpsi cukup kecil dibandingkan dengan fasa ruahnya dan

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 13
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
zat ini teradsorpsi jauh lebih kuat dibandingkan dari zat-zat lain dalam fasa ruah.
Adsorben diasumsikan tidak larut dalam fasa ruah (Perry, 1999).

MTZ adalah rentang wilayah unggun adsorben dimana proses penyerapan adsorbat ke
adsorben berlangsung. MTZ disebut juga sebagai zona kritis adsorpsi Jika adsorben
yang berada di daerah influent sudah menjadi jenuh maka MTZ akan bergerak ke arah
effluent dimana adsorben belum jenuh. Dalam desain, tinggi kolom adsorpsi harus lebih
besar dari nilai MTZ-nya. Secara umum, MTZ dapat digambarkan dalam grafik berikut.

Gambar 2.1 Kurva MTZ dan zona breakthrough

Selain MTZ, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah zona breakthrough. Kurva
breakthrough dapat didefinisikan sebagai hubungan antara konsentrasi adsorbat pada
effluent dengan waktu atau volume. Titik breakthrough adalah titik saat konsentrasi
bahan yang diserap pada adsorbat mencapai titik batas maksimum penyerapan adsorbat
terhadap efluent tersebut. Kapasitas adsorpsi dipengaruhi oleh laju alir, temperatur dan
tingkat keasaman. Adsorpsi sudah tidak terjadi ketika konsentrasi effluent pada adsorbat

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 14
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
mencapai 95-100% dari konsentrasi influent. Berikut ini adalah contoh perbandingan
kurva breakthrough antara uap dan cairan.

Gambar 2.2 Perbandingan kurva breakthrough antara uap dan cairan

2.6.3. Isoterm Adsorpsi

Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fasa
teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan fasa ruah saat kesetimbangan pada
temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan
untuk menjelaskan isoterm adsorpsi.
1. Isoterm Langmuir (www.wikipedia.org)
Isoterm ini berdasar asumsi bahwa:
a. Adsorben mempunyai permukaan yang homogen dan hanya dapat
mengadsorpsi satu molekul adsorbat untuk setiap molekul
adsorbennya. Tidak ada interaksi antara molekul-molekul yang
terserap.
b. Semua proses adsorpsi dilakukan dengan mekanisme yang sama.
c. Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorpsi maksimum.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 15
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Namun, biasanya asumsi-asumsi sulit diterapkan karena hal-hal
berikut: selalu ada ketidaksempurnaan pada permukaan, molekul
teradsorpsi tidak inert dan mekanisme adsorpsi pada molekul
pertama sangat berbeda dengan mekanisme pada molekul terakhir
yang teradsorpsi.
Langmuir mengemukakan bahwa mekanisme adsorpsi yang terjadi

adalah sebagai berikut: A(g) + S ⇌ AS, dimana A adalah molekul gas dan

S adalah permukaan adsorpsi (www.wikipedia.org/wiki/Adsorption)


2. Isoterm Brunauer, Emmet, and Teller (BET)
Isoterm ini berdasar asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan
yang homogen. Perbedaan isoterm ini dengan Langmuir adalah BET
berasumsi bahwa molekul-molekul adsorbat bisa membentuk lebih dari
satu lapisan adsorbat di permukaannya. Pada isoterm ini, mekanisme
adsoprsi untuk setiap proses adsorpsi berbeda-beda. Mekanisme yang
diajukan dalam isoterm ini adalah:

A(g) + S ⇌ AS

A(g) + AS ⇌ A2S

A(g) + A2S ⇌ A3S dan seterusnya

Isoterm Langmuir biasanya lebih baik apabila diterapkan untuk adsorpsi


kimia, sedangkan isoterm BET akan lebih baik daripada isotherm
Langmuir bila diterapkan untuk adsoprsi fisik
3. Isoterm Freundlich
Untuk rentang konsentrasi yang kecil dan campuran yang cair, isoterm
adsorpsi dapat digambarkan dengan persamaan empirik yang
dikemukakan oleh Freundlich. Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa
adsorben mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul
mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda. Persamaan ini
merupakan persamaan yang paling banyak digunakan saat ini.
Persamaannya adalah
Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 16
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
1
x
= kC n (2-1)
m
dengan x = banyaknya zat terlarut yang teradsorpsi (mg)
m = massa dari adsorben (mg)
C = konsentrasi dari adsorbat yang tersisa dalam kesetimbangan
k,n,= konstanta adsorben
Dari persamaan tersebut, jika konstentrasi larutan dalam kesetimbangan
diplot sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai
absis pada koordinat logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersep k.
Dari isoterm ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air.
Isoterm ini akan digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan,
karena dengan isoterm ini dapat ditentukan efisiensi dari suatu adsorben.

Hal-hal yang dapat dilihat dari kurva isoterm adalah sebagai berikut.
1. Kurva isoterm yang cenderung datar mengindikasikan MTZ yang kecil. Artinya,
isoterm yang digunakan menyerap pada kapasitas konstan melebihi daerah
kesetimbangan.
2. Kurva isoterm yang curam mengindikasikan MTZ yang luas dimana kapasitas
adsorpsi meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi kesetimbangan.

2.7. Adsorben

Kebanyakan zat pengadsorpsi atau adsorben adalah bahan-bahan yang sangat berpori,
dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding-dinding pori atau pada daerah tertentu
di dalam partikel itu. Karena pori-pori adsorben biasanya sangat kecil maka luas
permukaan dalamnya menjadi beberapa kali lebih besar dari permukaan luar. Adsorben
yang telah jenuh dapat diregenerasi agar dapat digunakan kembali untuk proses
adsorpsi.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 17
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
2.7.1 Unjuk Kerja Adsorben

Suatu adsorben dipandang sebagai suatu adsorben yang baik untuk adsorpsi dilihat dari
sisi waktu. Lama operasi terbagi menjadi dua, yaitu waktu penyerapan hingga
komposisi diinginkan dan waktu regenerasi / pengeringan adsorben. Makin cepat dua
varibel tersebut, berarti makin baik unjuk kerja adsorben tersebut. Dalam penelitian ini,
optimasi untuk kerja proses adsorpsi dilihat dari seberapa banyak produk IPA murni
yang bisa dihasilkan dalam satu hari proses produksi.

2.7.2. Penggolongan Adsorben

2.7.2.1. Berdasarkan Sifatnya Terhadap Air

Adsorben merupakan bahan yang digunakan untuk menyerap komponen dari suatu
campuran yang ingin dipisahkan. Secara umum, hal yang mempengaruhi kinerja
adsorben adalah struktur kristalnya (zeolit dan silikat) dan sifat dari molecular sieve
adsorben tersebut. Zeolit dalam jumlah yang banyak telah ditemukan baik dalam bentuk
sistetis ataupun alami. Berikut adalah klasifikasi umum adsorben.

Tabel 2.5 Penggolongan adsorben berdasarkan kemampuan menyerap air (Perry,1999)


Jenis Penyusun Struktur
Molecular sieve Karbon,
Hidrofobik Polimer Karbon Aktif
Silikat

Zeeolit : 3A (KA),
4A (NaA), 5A (CaA),
Silika Gel 13X (NaX),
Hidrofilik
Alumina Aktif Mordenite, Chabazite,
dll.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 18
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
2.7.2.2. Berdasarkan Bahannya

Klasifikasi adsorben berdasarkan bahannya dibagi menjadi dua , yaitu:


1. Adsorben Organik
Adsorben organik adalah adsorben yang berasal dari bahan-bahan yang
mengandung pati. Adsorben ini sudah mulai digunakan sejak tahun 1979
untuk mengeringkan berbagai macam senyawa. Beberapa tumbuhan yang
biasa digunakan untuk adsorben diantaranya adalah ganyong, singkong,
jagung, dan gandum. Kelemahan dari adsorben ini adalah sangat bergantung
pada kualitas tumbuhan yang akan dijadikan adsorben. Oleh karena itu,
adsorben ini tidak dipilih dalam penelitian yang akan dilakukan.
2. Adsorben Anorganik
Adsorben ini mulai dipakai pada awal abad ke-20. Dalam perkembangannya,
pemakaian dan jenis dari adsorben ini semakin beragam dan banyak dipakai
orang. Penggunaan adsorben ini dipilih karena berasal dari bahan-bahan non
pangan, sehingga tidak terpengaruh oleh ketersediaan pangan dan
kualitasnya cenderung sama. Dalam penelitian ini, adsorben yang dipakai
adalah silika gel dan molucular sieve.
a. Molecular sieve
Molecular sieve merupakan sintesis berpori dari kristal zeolit dan metal
aluminosilicates. Adsorben ini bisa menyerap semua air yang ada karena
luas permukaannya cukup luas. Sangkar kristal adsorben ini dapat menjebak
adsorbat sehingga dapat teradsorpsi. Ukuran diameter dipengaruhi oleh
komposisi kristal yang kemudian menentukan ukuran molekul yang dapat
terserap. Selain dapat memisahkan berdasarkan ukuran molekul, molekular
sieve juga dapat memisahkan berdasarkan tingkat polaritas molekul dan
derajat kejenuhan.Terdapat 9 ukuran yang tersedia dari 3 A hingga 10 A,
dalam wujud butir ataupun serbuk. Dapat digunakan untuk dehidrasi gas dan
cairan, separasi gas dan campuran hidrokarbon cairan. Gambar 2.3 adalah
contoh gambar molecular sieve (Treybal,1980).

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 19
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Gambar 2.3 Molecular sieve ukuran 4 A (www.alibaba.com)

b. Silika Gel
Keras, berisi butir kecil, sangat berpori, mudah diregenerasi, dan efisiensinya
tinggi. Terbuat dari presipitasi gel dengan ditambahkan asam dari larutan
sodium silikat. Biasa digunakan untuk dehidrasi dalam fasa uap. Gambar 2.4
adalah contoh dari silika gel (Treybal,1980).

Gambar 2.4 Silika gel (www.alibaba.com)

2.7.2.3. Berdasarkan Ukuran Pori

Berikut ini adalah penggolongan adsorben berdasarkan ukuran pori adsorben.

Tabel 2.6 Penggolongan adsorben berdasarkan ukuran pori (Perry, 1999)


Tipe Diameter Pori (ω) Karakteristik
Superimposed wall
Mikropori ω < 2 nm
potentials
Mesopori 2 nm < ω >50 nm Kondensasi kapiler
Makropori ω > 50 nm Efektif pada dinding tipis

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 20
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Pada mikropori, diameter antarpori sangat kecil sehingga terjadi tarik menarik antara
dinding pembentuk pori yang saling berlawanan. Tarik-menarik tersebut menimbulkan
energi potensial sehingga menghasilkan hasil penyerapan yang kuat. Pada makropori,
terjadi difusi molekul ke dalam partikel pori. Untuk adsorpsi fasa gas, molekul tidak
akan mengisi adsorbat sampai fasa gas menjadi jenuh.

2.7.3. Regenerasi Adsorben

Pengeringan zat padat adalah pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair dari bahan
sehingga mengurangi kandungan sisa zat cair di dalam zat padat itu sampai suatu nilai
rendah yang dapat diterima. Pengeringan biasanya merupakan langkah terakhir dari
sederetan operasi.

Kandungan zat cair dalam bahan yang dikeringkan berbeda dari satu bahan ke bahan
lain. Ada bahan yang tidak mempunyai kandungan zat cair sama sekali (bone dry). Pada
umumnya zat padat selalu mengandung sedikit fraksi air sebagai air terikat. Zat padat
yang akan dikeringkan biasanya terdapat dalam bentuk serpih (flake), bijian (granule),
kristal (crystal), serbuk (powder), lempeng (slab), atau lembaran sinambung (continous
sheet) dengan sifat-sifat yang berbeda satu sama lain.

Zat cair yang akan diuapkan mungkin terdapat pada permukaan zat padat seperti pada
kristal; dapat pula seluruh zat cair terdapat di dalam zat padat seperti pada pemisahan
pelarut dari lembaran polimer; atau dapat pula sebagian zat cair sebagian di luar dan
sebagian di dalam. Umpan pengering mungkin berupa zat cair di mana zat padat
melayang sebagai partikel, atau dapat pula berbentuk larutan. Hasil pengeringan ada
yang tahan terhadap penanganan mekanik kasar dan berada dalam lingkungan yang
sangat panas, ada pula yang memerlukan penanganan hati-hati pada suhu rendah atau
sedang.

Perbedaan pengering terutama terletak dalam hal cara memindahkan zat padat di dalam
zona pengering dan dalam proses perpindahan kalornya. Dalam operasi pengeringan
Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 21
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
pada sistem udara-air ada beberapa definisi yang lazim digunakan. Perhitungan teknis
biasanya didasarkan pada satuan massa gas bebas uap. Uap yang dimaksud adalah
bentuk gas dari komponen yang juga terdapat dalam fasa cair. Sedangkan gas adalah
komponen yang hanya terdapat dalam bentuk gas saja.

Adsorben yang bersenyawa polimer dapat diregenerasi / dikeringkan pada temperatur


rendah. Metode regenerasi yang bisa digunakan adalah dengan udara, N2, gelombang
mikro, maupun dengan temperatur vakum. Salah satu metode yang digunakan adalah
metode tanpa memindahkan adsorben.

Kukus dan gas inert panas dilewatkan ke dalam kolom adsorpsi untuk melucuti
pengotor pada adsorben. Kukus ataupun gas inert dapat dilewatkan baik secara counter-
current ataupun co-current. Sistem yang banyak digunakan sekarang ini adalah counter
current. Regenerasi menggunakan kukus ataupun gas panas terutama digunakan untuk
meregenerasi adsorben yang menyerap adsorbat berfasa uap. Sistem konfigurasi kukus
meliputi boiler, penyediaan air umpan, kondenser, tangki penyimpan. Untuk sistem gas
inert panas, penyimpan gas harus tersedia, pemanas gas, kondenser, dan penyimpan
kontaminan.

Sistem dengan kukus banyak digunakan dalam industri namun menyediakan energi
yang lebih rendah dibanding dengan gas inert panas. Kukus kurang baik untuk
menyerap kontaminan berupa air pada alkohol, aldehid, ataupun keton. Regenerasi yang
dilakukan memerlukan proses lanjutan berupa distilasi untuk memisahkan kukus dengan
kontaminan. Hal ini tentu membutuhkan biaya tambahan sehingga gas inert panas lebih
cocok untuk kontaminan berupa air. Keuntungan dari regenerasi tanpa memindahkan
adsorben ini adalah menghemat kerusakan adsorben dan tidak perlu mengeluarkan
adsorben.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 22
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
2.7.4. Molecular Sieve

Molecular sieve adalah adsorben pertama yang digunakan secara komersial. Senyawa
ini merupakan unit material dari logam alumino silikat yang terhubung secara tiga
dimensi dengan kristal silika dan alumina tetrahedral (Schweitzer, 1996). Adsorben ini
memiliki pori-pori kecil/halus dimana ukurannya sudah sangat terstandarisasi dan
seragam. Pori-pori tersebut dapat dengan selektif "melanjutkan" atau "menangkap"
molekul-molekul yang lewat berdasarkan besar-kecilnya ukuran molekul. Ukuran
diameter ini mempengaruhi senyawa apa yang akan ditangkap atau diteruskan.
Molecular sieve sering digunakan untuk menyerap air (jari-jari molekular air sekitar
0,28 nm). Kemampuannya untuk menyerap H2O cukup tinggi, yaitu sampai mencapai
25% beratnya sendiri. Berdasarkan bentuk molekulnya, molecular sieve terdiri dari dua
jenis, yaitu tipe A (yang berbentuk pellet dan serbuk) dan X. Bentuk molekul dari
molecular sieve dapat dilihat pada gambar 2.5.

Gambar 2.5 Bentuk molekul molecular sieve (Savary, 2004)

Kekurangan dari adsorben ini adalah kebutuhan energi yang dibutuhkan untuk
meregenerasi cukup besar. Besarnya energi tersebut disebabkan oleh tingginya
temperatur yang dibutuhkan untuk proses desorpsi air yang terjebak di pori-pori.
Namun, biaya yang dikeluarkan untuk kekurangan tersebut dapat segera ditutupi dengan
banyaknya adsorbat yang dapat diserap oleh molecular sieve.

Kemampuan penyerapan molecular sieve dapat berkurang akibat kontaminasi zat-zat


Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 23
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
seperti minyak, olefin, dan diolefin. Selain oleh zat-zat tersebut, kemampuan
penyerapan molecular sieve juga dapat berkurang akibat terbentuknya arang (coke)
dipermukaan molecular sieve dari proses regenerasi adsorben. Arang ini dapat menutupi
permukaan aktif sehingga mengurangi jumlah air yang dapat diserap.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 24
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Metodologi

Percobaan secara umum terbagi menjadi dua yaitu proses adsorpsi IPA 95%-v menjadi
IPA 99,8%-v dan regenerasi adsorben. Penelitian akan dilakukan dengan jenis variasi
yaitu variasi laju alir uap IPA saat proses adsorpsi dan variasi waktu regenerasi
(desorpsi). Data yang diperoleh pada proses adsorpsi adalah data komposisi isopropanol
tiap 15 menit sekali. Proses adsorpsi dilangsungkan hingga mencapai breakthrough
yaitu saat kualitas konsentrasi keluaran proses turun menjadi 99,8%-v. IPA 99,8%-v
yang dihasilkan diuji unjuk kerjanya.

3.2. Percobaan

3.2.1. Bahan

Bahan utama yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut.
1. Isopropil alkohol (IPA) 95%-v, 10 L tiap run,
2. Molecular sieve 4A,
3. Air sebagai fluida pendingin di kondenser,
4. Air sebagai fluida panas.

3.2.2. Alat

Kolom adsorpsi yang akan digunakan adalah kolom berbahan stainless-steel dengan
diameter luar 3 ½ inci, diameter dalam 2 ¼ inci, dan tinggi 150 cm. Kolom adsorber
didesain diapit oleh dua kolom untuk mengalirkan air panas pada temperatur tertentu
yang berguna untuk menjaga kondisi temperatur operasi. Skema alat penelitian dapat
dilihat pada gambar 3.1 dan 3.2 berikut.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 25
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Gambar 3.1 Gambar rancangan alat penelitian (adsorber)

Keterangan :
A : Kondensor G: adsorben
B : Air dingin masuk kondensor I: Boiler 15 L
C : Labu penampung J: Pompa
D : Air dingin keluar kondensor L: Alat pengambil sampel
E : Air panas masuk kolom adsober M : Support
F : Air panas keluar kolom adsober

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 26
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Bagian dalam kolom dilihat dari atas ditampilkan pada gambar 3.2.

Gambar 3.2 Proyeksi kolom adsorpsi tampak atas


Keterangan gambar

A: Unggun berisi air panas


B: Rongga berisi adsorben

Kolom terdiri dari dua bagian, bagian dalam dan bagian luar. Bagian dalam berdiameter
2 ¼ inci , tempat adsorben. Bagian luar memiliki diameter 3 ½ inci.

3.2.3. Prosedur

Pertama, umpan berupa IPA 95%-v dipanaskan di dalam labu pemanas pada set alat
kolom adsorpsi. Uap yang dihasilkan dari pemanasan tersebut akan bergerak ke atas
melewati unggun adsorben dimana proses adsorpsi terjadi. Temperatur adsorpsi dijaga
pada temperatur azeotropnya yaitu pada 83oC dengan cara mengalirkan air di antara
rongga kolom adsorpsi. Fungsi air tersebut adalah sebagai fluida pemindah panas.
Temperatur dapat dijaga konstan dengan cara mengatur temperatur air panas.
Kemudian, uap IPA yang keluar dari adsorber didinginkan dengan menggunakan
kondensor sehingga akan dihasilkan IPA cair yang ditampung dalam penampung. IPA
kering yang dihasilkan kemudian diuji unjuk kerjanya saat digunakan sebagai aditif
bahan bakar. Data pengujian ini adalah nilai bilangan oktan, RON, dan MON dari bahan
bakar yang sudah dicampur IPA kering tersebut.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 27
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Dalam penelitian ini akan digunakan adsorben molecular sieve dengan empat variasi
laju alir uap IPA dan tiga variasi waktu desorpsi. Penelitian akan dilakukan sebanyak 9
percobaan. Rancangan penelitian yang akan dilakukan disajikan pada tabel 3.1. Data
yang diperoleh pada proses adsorpsi adalah data komposisi isopropanol tiap 15 menit
sekali. Pengambilan data dimulai produk. Pengambilan sampel dihentikan saat kualitas
konsentrasi keluaran sudah turun menjadi kuran dari 99,8%-v.

Tahapan selanjutnya adalah tahap regenerasi adsorben. Regenerasi adsorben dilakukan


dengan cara membuka bagian bawah kolom dan mengeringkan adsorben dengan
menggunakan oven. Data yang diperoleh pada proses regenerasi adalah data berat
sampel adsorben dengan volume tertentu sebelum diregenerasi dan setelah diregenerasi.
Proses regenerasi dihentikan setelah waktu tertentu yang diinginkan sesuai variasi.
Setelah adsorben selesai diregenerasi, adsorben dimasukkan kembali ke dalam kolom
dari bagian atas. Setelah adsorben dimasukkan ke dalam kolom, penelitian berikutnya
kembali dilakukan dengan metode yang sama.

3.2.4. Variasi

Tabel 3.1 Variasi penelitian


Variasi Penelitian
No. Percobaan
Laju alir uap IPA,Q (mL/jam) Waktu desorpsi (jam)
1 740 3
2 1000 3
3 1200 3
4 1600 3
5 740 2
6 1000 2
7 1200 2
8 1600 2
9 740 1

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 28
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Tabel 3.1 (lanjutan) Variasi penelitian
Variasi Penelitian
No. Percobaan
Laju alir uap IPA,Q (mL/jam) Waktu desorpsi (jam)
10 1000 1
11 1200 1
12 1600 1
Keterangan :
t1 = 3 jam
t2 = 2 jam
t3 = 1 jam

Adsorben yang digunakan adalah molecular sieve ukuran 4 A.

3.3. Intepretasi Data

Intepretasi data ditinjau berdasarkan kurva breakthrough tiap variasi proses adsorpsi
dan variasi waktu regenerasi. Kondisi operasi yang paling optimum ditinjau dari volume
produk tertinggi yang dihasilkan dalam satu hari oleh suatu variasi. Parameter-
parameter yang digunakan untuk analisis ini adalah waktu siklus dan volume yang
dihasilkan dalam satu siklus. Satu siklus terdiri dari waktu regenerasi adsorben, waktu
loading, waktu start-up, waktu adsorpsi (hingga breakthrough), dan waktu unloading.
tsiklus = tregenerasi + tloading + tstart-up + tadsorpsi + tunloading (3.1)
Waktu adsorpsi tiap run berbeda-beda, bergantung dengan waktu breakthrough-nya.
Waktu loading dan unloading untuk semua run sama, yaitu diasumsikan 30 menit.
Sedangkan asumsi waktu yang dibutuhkan untuk start-up untuk semua run adalah 1
jam. Adapun volume produk adalah volume produk yang bisa terproduksi dalam satu
hari. Volume produk dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut.
24 jam
V produksi = ´ Vsiklus (3.2)
tsiklus
dimana Vproduksi = total volume IPA yang dapat diproduksi dalam satu hari (mL)
tsiklus = waktu siklus (jam)

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 29
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Vsiklus = volume IPA yang dapat diproduksi dalam satu siklus (mL)
Data test unjuk kerja IPA adalah angka RON dan data emisi dari bahan bakar yang telah
dicampur dengan IPA kering hasil dari adsorpsi. Kinerja pemisahan baik jika nilai RON
dan MON bahan bakar tersebut tinggi dan emisinya memenuhi standar Euro II.

3.4. Biaya

3.4.1 Anggaran Pengeluaran

Biaya Habis Pakai


1. IPA - teknis 50 x Rp. 20.250,00 = Rp. 1.012.500,00
2. IPA - PA 5 x Rp. 500.000 = Rp. 1.000.000,00
3. Molecular sieve 0,4 nm 2,5 kg = (tersedia)
4. Silika Gel 2,5 kg = (tersedia)
Total = Rp. 1.512.500

Biaya Pembuatan Alat


1. Asbes 1,5” 5,1 kg = Rp. 115.000,00
2. Boiler (unit) 1 x Rp. 250.000,00 = Rp. 250.000,00
3. Elemen Pemanas 1000 watt (unit) 1 x Rp.145.000,00 = Rp. 145.000,00
4. Jerigen 5 L (unit) 1 x Rp. 7.500,00 = Rp. 30.000,00
5. Jerigen 20 L (unit) 1 x Rp. 22.500,00 = Rp. 22.500,00
6. Kolom Adsorber 2 unit = Rp. 3.004.500,00
7. Lem Fox (kg) 0,5 x Rp. 17.500,00 = Rp. 17.500,00
8. Pompa (unit) 1 x Rp. 200.000,00 = Rp. 200.000,00
9. Selang 3/8” (meter) 20 x Rp. 3.750,00 = Rp. 75.000,00
10. Selotip Pipa (unit) 10 x Rp. 1.500,00 = Rp. 15.000,00
11. Supercon uk 400 (meter persegi) 3 x Rp. 21.000,00 = Rp. 63.000,00
12. Thermo controller 1 set = Rp. 300.000,00

13. Triplek (meter persegi) 12 x Rp. 12.500,00 = Rp.150.000,00


Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 30
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Total = Rp. 4.387.500,00

Analisis Sampel
1. Analisis dengan Karl Fisher 2 x Rp. 50.000,00 = Rp. 100.000,00
Total = Rp. 100.000,00
Total biaya pengeluaran keseluruhan = Rp. 6.000.000,00

3.4.2 Anggaran Pemasukan


1. Dana dari PT. Rekayasa Industri = Rp. 5.000.000,00
2. Dana dari Program Studi = Rp. 1.000.000,00
Total Pemasukan = Rp. 6.000.000,00

3.5 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

Penelitian yang akan dilakukan direncanakan akan berlangsung selama 4 bulan.


Kegiatan yang direncanakan akan dilakukan dibagi menjadi lima kegiatan utama, yaitu
pembuatan alat percobaan dan adsorber serta pembelian bahan, pengambilan data,
analisis data, pengolahan data, dan pembuatan laporan.

Tabel 3.2 Jadwal kegiatan penelitian


Kegiatan Bulan ke 1 Bulan ke 2 Bulan ke 3 Bulan ke 4
No Minggu ke 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Peminjaman alat laboratorium
2 Pembelian bahan dan alat
3 Pembuatan alat
4 Pelaksanaan penelitian
5 Analisis data
Pengolahan dan intepretasi
6 data
7 Pembuatan laporan akhir

Keterangan :
1. Peminjaman alat laboratorium
Tidak semua alat harus dibeli. Alat-alat yang telah tersedia di laboratorium
dapat dipinjam untuk keperluan penelitian ini. Proses peminjamannya cukup
Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 31
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
mudah, sehingga dialokasikan waktunya satu minggu saja.
2. Pembelian bahan dan alat
Tahap ini membutuhkan waktu relatif lebih lama. Bahan yang dibeli meliputi
IPA maupun adsorben. Alat yang dibeli seperti tabung stainless steel,
kerangan, dsb.
3. Pembuatan alat
Alat yang didesain cukup rumit sehingga membutuhkan waktu sekitar satu
bulan. Pembuatan alat akan dilakukan di Bengkel Logam Program Studi
Teknik Kimia ITB.
4. Pelaksanaan penelitian dan analisis data
Penelitian terdiri dari 12 kali percobaan. Satu percobaan diperkirakan
memakan waktu total satu hari (12 jam). Dengan pertimbangan kesibukan
perkuliahan, penelitian dan analisis data dialokasikan selama enam minggu.
5. Pengolahan dan intepretasi data
Tahap ini dilakukan tiap suatu data selesai dianalisis. Pada saat semua data
selesai dianalisis, akan dilakukan pembahasan secara menyeluruh mengenai
data-data tersebut untuk dianalisis sebagaimana metode di atas.
6. Pembuatan laporan kemajuan
Tahap ini, selain untuk kepentingan evaluasi, juga dapat digunakan sebagai
media analisis sementara bagi peneliti mengenai penelitian yang tengah
dilakukan.
7. Pembuatan laporan akhir
Pada tahap ini, dianalis semua hasil penelitian sekaligus diambil kesimpulan
dari penelitian yang dilakukan. Pembuatan laporan akan dilakukan sesuai
ketentuan yang berlaku.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 32
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Konstruksi Kolom Adsorpsi

Kolom adsorpsi dibangun berdasar rancangan pada gambar 3.1. Dari gambar 3.1, dibuat
detail rancangan kolomnya. Gambar 4.1 berikut adalah gambar detail perancangan yang
dibuat berdasar rancangan pada gambar 3.1.

Gambar 4.1 Detail perancangan kolom adsorpsi

Secara umum, rancangan kolom tersebut terdiri dari enam bagian utama, yaitu boiler,
water bath, pompa, kolom adsorpsi, kondensor, dan tabung gas untuk regenerasi
adsorben.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 33
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Hasil konstruksi dari rancangan tersebut adalah sebagai berikut.

Gambar 4.2 Hasil konstruksi kolom adsorpsi

Selain enam bagian utama tersebut di atas, kolom adsorpsi juga dilengkapi dengan dua
pengendali temperatur yang masing-masing terdiri dari termokopel dan termokontrol.
Pengendali temperatur tersebut berfungsi untuk mengendalikan temperatur di pemanas
umpan IPA (boiler) dan temperatur di pemanas air (water bath). Keduanya diset pada
temperatur 83oC.

Kolom adsorpsi tersebut berfungsi dengan baik untuk menjalankan proses adsorpsi.
Namun, kolom tersebut memiliki kendala dalam proses regenerasi adsorben.
Sebenarnya, proses regenerasi dirancang dilakukan di dalam kolom. Artinya, tidak ada

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 34
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
proses unloading adsorben. Gas nitrogen yang digunakan sebagai gas pengering
dialirkan dan dikontakkan dengan adsorben di dalam kolom.
Temperatur regenerasi diatur dengan mengatur temperatur pemanasnya. Regenerasi
molecular sieve membutuhkan temperatur tinggi yaitu 150-200oC. Dalam proses
konstruksinya, ternyata sistem perpipaan dan pompanya tidak kuat untuk menahan
temperatur tersebut. Akibatnya, regenerasi harus dilakukan dengan mengeluarkan
adsorben dari kolom untuk diregenari di oven pemanas. Oleh karena itu, pipa dan
pompa pada kolom sebaiknya diganti dengan pipa dan pompa yang tahan pada
temperatur tersebut.

Berikut adalah gambar detail dari bagian-bagian kolom adsorpsi.

Gambar 4.3 (a) Boiler tampak atas Gambar 4.3 (b) Boiler tampak samping

Boiler berfungsi untuk mengubah IPA cair menjadi uap. Boiler dilengkapi dengan
peralatan keselamatan proses seperti barometer dan safety valve. Barometer berfungsi
untuk mengetahui tekanan pada boiler sedangkan sefety valve berfungsi untuk
membuang gas secara otomatis bila tekanan di dalam boiler terlalu tinggi. Umpan IPA
dimasukkan dari atas (gambar 4.3a) dan dikeluarkan melalui kran yang berada di bagian
bawah boiler. Pemanasan dilakukan dengan menggunakan elemen listrik yang dipasang

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 35
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
di bagian bawah dalam kolom. Temperatur dijaga dengan termokontrol. Termokopel
dimasukkan melalui lubang tersumbat yang dipasang di bagian atas kolom.

Temperatur kolom diatur melalui fluida pemanas yang ditampung di dalam water bath.

Gambar 4.4 Boiler dan pompa

Fluida pemanas yang digunakan di dalam penelitian ini adalah air. Air dipanaskan di
dalam water bath menggunakan elemen listrik. Temperatur diset pada 85oC. Temperatur
kolom diatur menggunakan termokontrol yang terhubung dengan termokopel.

Air yang telah panas kemudian dialirkan ke dalam silinder kedua yang menyelubungi
silinder utama. Panas di dalam silinder luar akan berpindah di dalam silinder utama
sedemikian sehingga temperatur kolom memungkinkan proses adsorpsi fasa uap
berlangsung.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 36
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
4.2. Hasil Proses Adsorpsi

Variasi yang dilakukan adalah variasi laju alir dan variasi waktu regenerasi. Regenerasi
dilakukan pada 3 kondisi yaitu 3 jam, 2 jam, dan 1 jam. Sedangkan variasi laju alir
terdiri dari 740 mL/jam, 1000 mL/jam, 1200 mL/jam, dan 1600 mL/jam.

4.2.1. Pengaruh Variasi Waktu Regenerasi dan Laju Alir terhadap Kurva
Breakthrough

Gambar 4.5 berikut menunjukkan pengaruh variasi waktu regenerasi terhadap kurva
breakthrough.

Gambar 4.5 Pengaruh variasi waktu regenerasi terhadap kurva breakthrough

Sedangkan gambar 4.6 berikut menunjukkan pengaruh variasi waktu regenerasi


terhadap kurva breakthrough.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 37
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Gambar 4.6 Pengaruh variasi laju alir terhadap kurva breakthrough

Gambar 4.5 menunjukkan kurva breakthrough proses adsorpsi yang dilakukan pada laju
alir 740 mL/jam. Sedangkan gambar 4.6 menunjukkan kurva breakthorugh proses
adsorpsi yang dilakukan setelah adsorben diregenerasi selama 3 jam. Dari gambar 4.5
dam 4.6 di atas, dapat dilihat pengaruh waktu regenerasi terhadap perkembangan
konsentrasi produk dari waktu ke waktu. Absis adalah waktu (menit) dan ordinat adalah
C/Co dimana C adalah konsentrasi air di dalam produk tiap waktu dan Co adalah
konsentrasi air pada umpan.

Umpan dimasukkan secara partaian. Nilai C/Co = 0 menunjukkan bahwa IPA yang
dihasilkan adalah IPA murni. Seiring dengan berjalannya waktu, konsentrasi IPA di
dalam produk akan menurun. Proses adsorpsi sudah mencapai titik jenuhnya saat
konsentrasi IPA produk hanya mencapa 99,8%. Saat itu, konsentrasi air (C) adalah 0,2
%. Dengan konsentrasi umpan 96% (Co=4%), maka nilai C/Co saat jenuh adalah 0,05.
Dari grafik dapat dilihat bahwa proses adsorpsi telah mencapai titik jenuhnya saat kurva
breakthroughnya telah memotong ordinat 0,05. Hasil kurva breakthrough yang
dilakukan pada variasi yang lain selengkapnya dapat dilihat di dalam lampiran.

Dari gambar 4.5 dapat dilihat bahwa makin lama waktu regenerasi adsorben, makin

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 38
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
lama pula proses adsorpsi mencapai zona breakthrough. Selama proses regenerasi, air
yang terikat di dalam molecular sieve akan terlepas dan berpindah ke medium
pengering. Makin lama proses regenerasi yang dilakukan, jumlah air yang terikat di
dalam molecular sieve semakin berkurang. Kondisi tersebut akan berpengaruh pada
kadar air awal yang terkandung di dalam molecular sieve saat akan digunakan dalam
proses adsorpsi. Dengan kapasitas serap molecular sieve sekitar 28%-berat, maka kadar
air awal tersebut akan berpengaruh pada seberapa cepat kapasitas serap molecular sieve
mencapai titik jenuhnya.

Variasi ini perlu dilakukan untuk mengetahui waktu optimum regenerasi. Secara teori,
makin lama waktu regenerasi berarti makin banyak pula air yang berkurang di dalam
molecular sieve. Artinya, makin lama waktu regenerasi berarti makin baik digunakan
untuk proses adsorpsi selanjutnya. Namun, hal tersebut tidak selalu berlaku ditinjau dari
sisi efisiensinya. Bisa jadi, waktu breakthrough yang dihasilkan oleh regenerasi 2 jam
sama dengan regenerasi 3 jam, sehingga dalam kondisi tersebut regenerasi cukup
dilakukan selama 2 jam saja.

Dari gambar 4.5 di atas, dapat dilihat bahwa waktu regenerasi yang memberikan waktu
breakthrough yang paling lama ada adalah waktu regenerasi 3 jam. Perbedaan waktu
breakthrough dari proses regenerasi 1 jam, 2 jam, dan 3 jam adalah sekitar 150 menit,
sehingga perbedaan waktu regenerasi 1 jam hingga 3 jam memberikan efek
breakthrough yang masih signifikan di dalam proses adsorpsi.

Gambar 4.6 menunjukkan pengaruh laju alir terhadap kurva breakthroughnya. Dari
grafik dapat dilihat bahwa makin lambat laju alirnya, makin lama pula waktu
breakthrough tercapai. Di dalam kolom, terjadi kontak antara uap IPA-air dengan
molecular sieve. Ukuran molekul air yang lebih kecil dibandingkan dengan ukuran pori
molecular sieve membuat air akan terikat di dalam molecular sieve. IPA tidak dapat
terikat di dalam molecular sieve karena ukuran porinya lebih besar dibandingkan
dengan ukuran pori molecular sieve. Makin lambat laju alirnya, kontak pun akan
berjalan lebih lama sehingga proses penyerapan akan berjalan lebih sempurna.
Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 39
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Konsekuensinya adalah makin kecil laju alir, jumlah air yang terserap di dalam
adsorben dari waktu ke waktu lebih sedikit pula. Akibatnya, waktu breakthroughnya
pun menjadi lebih lama.

Variasi ini diperlukan untuk mengetahui laju alir mana yang memberikan waktu
breakhtrough paling lama. Waktu breakthrough yang makin lama memberikan peluang
pada proses adsorpsi untuk menghasilkan IPA kering dalam volume total yang lebih
besar. Namun, waktu breakthrough yang lama berarti laju alirnya kecil. Oleh karena itu,
jika proses dihentikan pada waktu tertentu, volume yang dihasilkan oleh laju alir yang
lebih kecil tentu saja lebih sedikit dibandingkan yang diproduksi oleh laju alir yang
lebih besar. Sehingga, perlu diketahui laju alir mana yang paling efektif. Efektifitas
tersebut ditinjau dari seberapa banyak volume IPA yang bisa dihasilkan dalam satu hari
operasi pabrik.

4.2.2 Analisis Laju Alir Adsorpsi dan Waktu Regenerasi yang Paling Optimum

Laju alir adsorpsi dan waktu regenerasi yang paling optimum disidik dengan
menggunakan persamaan (3.1) dan (3.2). Volume produk yang dihasilkan dalam satu
hari dapat dilihat pada tabel 4.1 hingga tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4.1 Volume produk dalam satu hari untuk waktu regenerasi 3 jam

Run Laju alir Waktu breakthrough Waktu siklus Volume produk/hari


ke- (mL/jam) (menit) (jam) (mL/hari)
1 738 330 9,00 10824
2 1000 210 7,00 12000
3 1200 140 5,83 11520
4 1667 90 5,00 12002

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 40
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Tabel 4.2 Volume produk dalam satu hari untuk waktu regenerasi 2 jam
Run Laju alir Waktu breakthrough Waktu siklus Volume produk/hari
ke- (mL/jam) (menit) (jam) (mL/hari)
5 733 210 6,00 10262
6 1000 123 4,55 10813
7 1200 70 3,67 9164
8 1625 56 3,43 10602

Tabel 4.3 Volume produk dalam satu hari untuk waktu regenerasi 1 jam
Run Laju alir Waktu breakthrough Waktu siklus Volume produk/hari
ke- (mL/jam) (menit) (jam) (mL/hari)
9 750 70 2,67 7875
10 1000 58 2,47 9405
11 1286 43 2,22 9979
12 1667 30 2,00 10002

Secara jelas, perbandingan volume yang dapat diproduksi dengan berbagai variasi
tersebut dapat dilihat pada gambar 4.7 berikut.

Gambar 4.7 Pengaruh waktu siklus terhadap total volume produksi dalam satu hari

Waktu siklus terdiri dari waktu regenerasi adsorben (desorpsi), waktu loading, waktu
start-up, waktu adsorpsi (hingga breakthrough), dan waktu unloading. Dengan

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 41
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
mengasumsikan bahwa waktu loading, waktu start-up, dan waktu unloading tetap untuk
setiap proses operasi, maka waktu siklus bergantung pada waktu desorpsi dan waktu
adsorpsi. Sedangkan waktu adsorpsi dipengaruhi oleh laju alir dan waktu desorpsi itu
sendiri.

Waktu desorpsi yang pendek berimplikasi pada waktu desorpsi yang pendek pula.
Artinya, waktu siklusnya pendek. Waktu desorpsi yang panjang berimplikasi pada
waktu adsorpsi yang panjang pula. Artinya, waktu siklusnya panjang. Namun, panjang
pendeknya satu siklus belum bisa memberikan penjelasan akan proses mana yang paling
optimum. Sebab, frekuensi untuk mengulang siklus pada siklus yang pendek lebih besar
dibandingkan dengan siklus yang panjang. Di sisi yang lain, siklus yang panjang
memberikan kesempatan untuk berproduksi secara maksimal pada waktu satu siklus
tersebut.

Parameter yang akan digunakan untuk mengoptimasi kinerja proses adalah volume
produk yang dapat dihasilkan. Gambar 4.7 menunjukkan bahwa siklus yang pendek
memberikan produktivitas yang rendah. Makin panjang siklus justru memberikan
produktivitas yang meninggi hingga mencapai titik optimum pada waktu siklus tertentu.
Dari gambar 4.7 didapat bahwa titik optimum berada pada 2 titik, yaitu pada run kedua
dengan waktu siklus 7 jam, waktu regenerasi 3 jam dan laju alir adsorpsi 1000 mL/jam
serta pada run keempat dengan waktu siklus 5 jam,waktu regenerasi 3 jam dan laju alir
adsorpsi 1667 mL/jam.

Run keempat (waktu siklus 5 jam) memberikan produktivitas sedikit lebih tinggi
dibandingkan dengan run kedua (waktu siklus 7 jam), yaitu sebesar 2 mL/hari produk.
Padahal, volume yang dihasilkan tiap satu siklus pada run kedua sebenarnya lebih
besar dibandingkan dengan produk yang dihasilkan pada run keempat. Namun, waktu
siklus 5 jam masih berkesempatan untuk mengulang prosesnya lebih lama pada rentang
waktu yang diberikan dibandingkan dengan waktu siklus 7 jam.

Permasalahan umum yang biasa dijumpai saat menggunakan molecular sieve sebagai
Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 42
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
adsorben adalah tingginya energi yang digunakan dalam proses regenerasi adsorben.
Dalam penelitian ini, proses regenerasi berlangsung di dalam oven pada temperatur
200oC. Apabila proses adsorpsi dijalankan sehari penuh maka waktu desorpsi yang
dibutuhkan pada run keempat adalah sekitar 15 jam. Sedangkan pada run kedua, waktu
yang dibutuhkan untuk proses desorpsi adalah sekitar 9 jam. Selisih waktu
menunjukkan energi yang digunakan untuk proses desorpsi pada run keempat lebih
banyak daripada energi yang digunakan pada run kedua. Besarnya energi yang
digunakan sebanding dengan peningkatan biaya operasional.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, satu siklus terdiri dari proses waktu adsorpsi,
desorpsi, loading, unloading dan start-up. Setiap kegiatan dalam siklus tersebut
membutuhkan tenaga yang dalam hal ini adalah tenaga manusia. Banyaknya siklus
menunjukkan semakin banyaknya tenaga yang dibutuhkan untuk mengulang tiap siklus.
Jumlah siklus dalam satu hari pada run kedua adalah sebanyak 3,5 kali. Sedangkan
jumlah siklus dalam satu hari pada run keempat sebanyak 4,8 kali. Dengan demikian,
tenaga yang dikeluarkan pada run kedua lebih sedikit daripada tenaga yang dikeluarkan
pada run keempat.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa keoptimuman proses tidak hanya
ditentukan oleh panjang waktu siklus, seberapa banyak volume yang dihasilkan dalam
satu siklus, atau seberapa sering suatu siklus tersebut diulang. Tetapi, keoptimuman
proses merupakan hasil optimasi dari keterkaitan faktor-faktor lain, seperti biaya dan
tenaga sehingga dapat dihasilkan produk yang cukup besar dengan pengeluaran (dari
sisi biaya dan tenaga) yang sedikit. Dari penelitian ini, waktu regenerasi dan laju alir
adsorpsi paling optimum adalah waktu regenerasi 3 jam dan laju alir adsorpsi 1000
mL/jam.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 43
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
4.3. Pengaruh Penambahan IPA pada Unjuk Kerja Bahan Bakar Kendaraan

4.3.1. Pengaruh pada Angka Oktan (RON)

Pengaruh penambahan IPA kering pada angka oktan bensin ditunjukkan pada tabel 4.4
berikut.
Tabel 4.4 Pengaruh penambahan IPA pada RON bensin
Sample No %-v IPA % -v Premium RON
A 0 100 86.7
B 5 95 89.3
C 10 90 91.3
D 15 85 94

4.3.2 Pengaruh pada Emisi yang dihasilkan

Uji emisi dilakukan berdasar emisi yang dihasilkan oleh mobil Toyota Kijang tahun
1991 dengan variasi volum IPA yang dicampurkan pada bensin premium. Sesuai
dengan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, konsentrasi CO yang
diijinkan adalah 3.5 %, HC 800 ppm

Tabel 4.5 Pengaruh pencampuran IPA pada emisi Kijang 1991


Sample CO (%) HC (ppm) CO2 (%) Lambda
A 8.73 920 7.8 0.896
B 5.12 872 8.3 0.916
C 4.78 810 8.4 0.967
D 2.63 670 9.5 0.984

Jika dibandingkan pengujian dengan kendaraan yang lain, yaitu, jenis Kijang Kapsul
tahun 2000 sistem EFI, hasil pengujian dengan komposisi A menghasilkan nilai-nilai
sebagai berikut.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 44
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Tabel 4.6 Perbandingan emisi pada Kijang 1991 dan Kijang 2000
Variasi
Kijang 1991 Kijang 2000
Parameter
CO (%) 8.73 0.08
CO2 (%) 7.8 8.6
O2 (%) 3.23 7.55
COcorr (%) 6.31 0.13
HC (ppm) 920 139

Dari tabel dapat dilihat perbandingan yang cukup jauh antara Kijang 1991 dan Kijang
2000 ditinjau dari sisi emisi yang ditimbulkan dengan menggunakan bahan bakar yang
sama, yaitu bahan bakar premium. Dengan menggunakan premium saja, mobil Kijang
2000 sudah menunjukkan emisi yang baik, apalagi jika dicampur dengan IPA tentu akan
memberikan kadar emisi yang jauh lebih baik.

Gambar 4.8 Toyota Kijang tahun 1991

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 45
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Proses adsorpsi isopropil alkohol dapat dilangsungkan dengan baik melalui
kolom adsorpsi yang dibangun dalam penelitian ini. Namun, proses regenerasi
secara langsung di dalam kolom belum dapat dilangsungkan karena pipa dan
pompa pengalir fluida pemanas yang terpasang tidak tahan pada temperatur
200oC.
2. Kondisi operasi yang terbaik dapat dioptimasi dengan menyidik volume IPA
anhidrat maksimum yang dapat diproduksi dalam satu hari operasi proses
adsorpsi. Waktu regenerasi dan laju alir adsorpsi paling optimum adalah waktu
regenerasi 3 jam dan laju alir adsorpsi 1000 mL/jam.
3. Pencampuran IPA anhidrat pada bensin terbukti dapat meningkatkan bilangan
oktan dan menurunkan kadar emisi gas buang kendaraan bermotor.

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan berdasar penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai
berikut.
1. Sistem pengaliran fluida pemanas yaitu pipa dan pompa sebaiknya diganti
dengan bahan yang tahan terhadap temperatur tinggi sehingga proses desorpsi
dapat dilaksanakan tanpa mengeluarkan adsorben terlebih dahulu.
2. Waktu regenerasi 3 jam dan laju alir 1000 mL/jam dapat digunakan sebagai
kondisi optimum untuk proses adsorpsi IPA menggunakan kolom adsorpsi yang
dibangun dalam penelitian ini.
3. Pressure valve pada boiler diganti dengan condenser agar uap yang berlebih
tidak terbuang percuma tetapi dapat direfluks kembali.
Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 46
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
4. Analisa sampel dilakukan dengan cepat karena semakin cepat analisa yang
dilakukan semakin akurat data yang didapat.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 47
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, “Adsorption of Weak Acids on Activated Charcoal-The Freundlich


Adsorption Isotherm”, Chemistry Department, University of Malta, 2004.
2. Benson, Tracy J., “Dehydration of An Ethanol/Water Mixture Using
Lignocellulosic Based Adsorbents”, Chemical Engineering, Mississipi state
university, 2003.
3. Geankoplis, Christie J., “Transport Processes and Unit Operations”, 3rd Ed.,
Prentice Hall P T R, New Jersey, 1993.
4. http://wikipedia.org/wiki/Adsorption
5. Knaebel, Kent S., “A ’How To’ Guide for Adsorber Design”, Adsorption Research,
Inc., Ohio.
6. Perry, Robert H.; Don W. G., “Chemical Engineers’ Handbook”, CD version.,
McGraw Hill com., New York, 1999.
7. Savary, Laurent., “From Purification to Liquefaction Gas Processing with Axens’
Technology”, 2004.
8. Seddon, Duncan, “Octane Enhancing Petrol Additives/Products”, Literature
Review and Analysis, Mount Eliza, Victoria, 2000.
9. Skoog, Douglas A.; West, Donald M.; Holler, F. James, “Analitical Chemistry”, 7th
Ed., International Ed., Saunders College Publishing, USA, 1996.
10. Smith, Robin, “Chemical Process Design”, McGraw Hill com., Singapore, 1995.
11. Treybal, R. E., “Mass Transfer Operations”, McGraw Hill Inc., 1968.
12. U.S. Army Corps of Engineers, “Adsorption Design Guide”, Department of The
Army, 2001.
13. www.alibaba.com
14. www.bio.umass.edu
15. www.wikipedia.org

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 48
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
DAFTAR SIMBOL

C : konsentrasi dari adsorbat yang tersisa dalam kesetimbangan


k : konstanta adsorben
m : massa dari adsorben (mg)
n : konstanta adsorben
tadsorpsi : waktu yang dibutuhkan proses adsorpsi hingga mencapai breakthrough (jam)
tb : waktu saat breakthrough tercapai, tadsorpsi (jam)
tloading : waktu yang dibutuhkan untuk memasukkan adsorben ke dalam kolom (jam)
tsiklus : waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan satu rangkaian siklus (jam)
tstart-up : waktu yang dibutuhkan dari mulai menghidupkan alat hingga proses adsorpsi
siap dimulai (jam)
tunloading : waktu yang dibutuhkan oleh (jam)
Vproduksi : total volume IPA yang dapat diproduksi dalam satu hari (mL)
Vsiklus : volume IPA yang dapat diproduksi dalam satu siklus (mL)
x : banyaknya zat terlarut yang teradsorpsi (mg)

Greek
ω : diameter pori (nm)
τ : waktu tinggal (min)

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 49
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
LAMPIRAN A
BIODATA KETUA KELOMPOK

Nama Jauhar Maghza Khaeruddin, ST


TTL Yogyakarta, 13 Mei 1986
E-mail 13003081@stud.che.itb.ac.id
Alamat
Asal Janturan UH 4 / 517 Yogyakarta 55164
Telp. (0274) 376967
Kost Jl. Sadang Subur 1 Blok V no 40 Bandung 40134
Telp. (022) 2501032 HP. 08156272982

Riwayat Pendidikan
TK ABA Gerso Trimurti Srandakan Bantul Yogyakarta (1990-1992)
SD Muhammadiyah Gerso (1992-1998)
SLTPN 2 Yogyakarta (1998-2001)
SMUN 1 Teladan Yogyakarta (2001-2003)
Departemen Teknik Kimia ITB (2003-2007)

Pengalaman Organisasi

ORGANISASI JABATAN TAHUN

Pramuka SLTPN2 Yogyakarta Bendahara Regu Kuda Terbang 1998-1999

OSIS SLTPN 2 Yogyakarta Wakil Sekretaris II 1999-2000

Remaja Masjid SLTPN 2 Yogyakarta Ketua Dewan Penasihat 2001

Teladan Science Club SMAN 1 Yogyakarta Ketua Angkatan L-21 2001-2003

ROHIS SMUN 1 Yogyakarta Koord. Divisi Seni Baca Al-Qur’an 2001-2003

All Nations Teenagers SMUN 1 Yogyakarta Anggota 2001-2003

Kelompok Studi Amaliah Islam SMAN 1 Anggota 2003-skrg

Keluarga Mahasiswa Islam Teknik Kimia ITB Anggota 2003-2004

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 50
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
ORGANISASI JABATAN TAHUN

April’04Mei’05
Dept.Pengabdian Masyarakat Kabinet KM-ITB Staf

KALAM Masjid Al-Muhajirin Sadang Serang Koord. Divisi BimBel Ag’04-Ag’05

Yayasan Islam Nurmadinah Direktur Bimbel Al-Uswah Study Club April-Juli’04

Juli’04-Sept’05
Yayasan Islam Nurmadinah Manager Personalia Al-Uswah Study Club

KALAM Masjid Al-Muhajirin Sadang Serang Staf Divisi Penelitian&Pengembangan Ag’05-skrg

Paguyuban Akselerasi SMAN 1Yogya Tim Konseptor Des.’04-skrg

Majelis Permusyawaratan Anggota Gamais ITB Anggota Mei’05-13 Mei ’06

Mei’05-Maret’06
Dept.Pengabdian Masyarakat Kabinet KM-ITB Deputi Menteri

Des’04-Feb’06
Keluarga Mahasiswa Islam Teknik Kimia ITB Ketua

Feb’06-skrg
Keluarga Mahasiswa Islam Teknik Kimia ITB Ketua Majelis Syuro’

Mei’06-skrg
Dept.Pengabdian Masyarakat Kabinet KM-ITB Wakil Menteri

Pengalaman Kepanitiaan
KEGIATAN PENYELENGGARA POSISI TAHUN
Tutup Tahun OSIS SLTPN 2 Yogya Bendahara 2 2000
Olimpiade MIPA Tk.SLTP se-DIY TSC-SMUN 1 Yogya Anggota Sie Publikasi Februari 2002
HUT-TSC TSC-SMUN 1 Yogya Ketua Umum Febi-Mei 2002
Perkemahan Teladan Bakti TSC OSIS SMUN 1 Yogya Anggota Div. Acara Feb-Juli 2002

Gladi Vidya Teladan SMUN 1 Yogya Anggota Sie Karya Ilmiah Maret-Ag 2002

Salam Awal Al-Uswah Rohis SMUN 1 Yogya Anggota Sie Pendamping Maret-Ag 2002

Forum Kerohanian Islam Rohis SMUN 1 Yogya Anggota Sie Pembicara April-Sept.2002
Naraya TSC-SMUN 1 Yogya Koord. Sie Bankomkam Juli-Sept. 2002
Syawalan Karang Taruna Koord. Sie Perlengkapan Feb.2003
Olimpiade MIPA Tk.SLTP se-DIY TSC-SMUN 1 Yogya Anggota Sie Perlengkapan Maret 2003
Pemilu KM-ITB
Kongres KM-ITB Anggota Komisi Disiplin Maret 2004

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 51
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
KEGIATAN PENYELENGGARA POSISI TAHUN

Kunjungan Pabrik Angk. 2003 Dept. T. Kimia ITB Koord. Sie Perijinan Mei 2004
Kongres Masjid Kampus Nasional YPM Salman ITB Anggota Divisi Akomodasi Mei 2004
Ramadhan Gamistek Gamistek-ITB Wakil Ketua Okt-Nov 2004
Training Diniyyah Gamistek-ITB Supervisor Feb’06
Talk Show ”Aplikasi Islam dalam
Gamistek-ITB Supervisor Feb’06
Teknik Kimia”
Home Tournament Gamistek-ITB Supervisor Maret’06
Self Development Training Gamistek-ITB Supervisor April’06
Talk Show ” Membangun
Masyarakat Berbasis Teknik Gamistek-ITB Supervisor Mei’06
Kimia”
Penyambutan Mahasiswa Baru Gamistek-ITB Supervisor Agustus’06
Ramadhan Gamistek Gamistek-ITB Supervisor Oktober’06
Turnamen Seni se-FTI ITB Gamistek-ITB Supervisor Desember’06
Kuliah Kerja Angk. 2003 Dept. T. Kimia ITB Anggota Div. Acara Januari 2006
Suksesi Gamistek Majelis Syuro Gamistek Tim Wawancara Januari 2006
Diklat Mahasiswa Muslim Gamais-ITB Staff Div. Materi Maret-Juni’06

Kejuaraan
Juara III Tartil Festival Anak Sholeh Tk. Kabupaten Bantul (1996)
Juara III Tartil MTQ Pelajar Tk. Kabupaten Bantul (1997)
Juara I CCA Tk. Prov. DIY (2000)
Juara I Lmb. MIPA SLTP oleh SMUN 3 Yogyakarta Tk. Provinsi (2001)
Juara I MTQ Se-Prov. DIY (2001)
Juara III MTQ Pelajar se-Kota Yogyakarta (2002)
Juara III MTQ Mahasiswa se-Kota Bandung (2005)
Juara II MTQ Tk. Remaja se-Kec. Coblong Bandung (2006)

Pengalaman Kerja
Direktur Bimbel Al-Uswah Study Club (April-Juli’04)
Manajer Personalia Al-Uswah Study Club (Juli’04-Sept’05)
Pimpinan Proyek Perkebunan Jagung Kerjasama Gamistek-CV Mitra Iqra’ (Mei-
Agustus’05)

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 52
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Asisten Dr.Yogi Wibisono B & Dr. Yazid Bindar untuk Kuliah Mekanika Fluida dan
Partikel (Feb.’06-Juni 2006)
Kerja Praktek di PT. Pertamina UP.IV Cilacap (Juli-Agustus 2006)
Asisten Laboratorium Instruksional Teknik Kimia Modul Pengeringan untuk Dosen Dr.
Azis Trianto (Sept.’06-Jan’07)

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 53
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
LAMPIRAN B
BIODATA ANGGOTA KELOMPOK

1. Nama : Edo Cathaputra


TTL : Jakarta, 30 Nopember 1984
E-mail : mizerododo@yahoo.com
Alamat :

Asal : Jl. Taruna Jaya I no.16 RT. 07/02, Kemayoran, Jakarta Pusat
Telp. : (021) 4214053

Kost : Jl. Kebon Bibit Utara no.349/58 RT.04/05, Taman Sari, Bandung
Telp. : (022) 2530514 HP. 0818 020 83523

Riwayat Pendidikan
TK Mawar Mekar (1989-1990)
SD Mawar Mekar (1990-1996)
SLTPN 59 Jakarta (1996-1999)
SMUN 8 Jakarta (1999-2002)
Departemen Teknik Kimia ITB (2003- ......)

Pengalaman Organisasi

Organisasi Jabatan Tahun

Teknologi dan Sound System Anggota divisi audio 1999-2000

Rohani Islam SMUN 8 Anggota 2000-2001

Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Anggota divisi kesejahteraan anggota 2003-2004

Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Wakil ketua divisi kesejahteraan anggota 2004-2006

Keluarga Mahasiswa Islam T.Kimia Wakil ketua 2004-2006

Dewan Syuro Keluarga Islam T.Kimia Anggota komisi C 2006-2007

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 54
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Pengalaman Kepanitiaan
Kegiatan Penyelenggara Posisi Tahun
Himpunan Mahasiswa
Buka Puasa Bareng HIMATEK Ketua 2003
Teknik Kimia
Himpunan Mahasiswa
Try Out SPMB 2004 Wakil 2 2004
Teknik Kimia
Keluarga Mahasiswa Islam
Penerimaan Mahasiswa Baru Ketua 2004
Teknik Kimia
Himpunan Mahasiswa
Training For Trainer Anggota divisi konsumsi 2004
Teknik Kimia
Lomba Rancang Pabrik Tingkat Himpunan Mahasiswa
Anggota divisi dokumentasi 2006
Nasional Teknik Kimia

Pengalaman Kerja
Asisten Laboratorium Kimia Dasar I (September 2005-Januari 2006)
Asisten Laboratorium Kimia Dasar II (Februari 2006-Juni 2006)
Asisten Dr. Isdiriayani Nurdin untuk Kuliah Bahan Konstruksi dan Korosi
(Feb.’07-Juni 2007)
Kerja Praktek di PT. Pupuk Kujang Cikampek, Dawuan (Juli-Agustus 2006)
Anggota Proyek Electroplatting Nikel dan Tembaga dalam Limbah Padat
kerjasama Laboratorium Keselamatan Proses dan Pencegahan Korosi ITB
dengan PT. Pasadena Engineering Indonesia (Agustus 2007-sekarang)

2. Nama Haryo Pandu Winoto


TTL Blitar, 1 Agustus 1987
E-mail haryowinoto@yahoo.com
Alamat
Asal Jl. Pupuk Raya RT 18 No. 12 Bontang
Telp.
Kost Jl. Cisitu Lama III No. 23/154 C
Telp. HP. 081322088417

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 55
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Riwayat Pendidikan
TK Pertiwi Blitar (1991-1993)
SDN 005 Bontang (1993-1999)
SLTP Yayasan Pupuk Kaltim Bontang(1999-2002)
SMU Yayasan Pupuk Kaltim Bontang (2002-2004)
Departemen Teknik Kimia ITB (2004-......)

Pengalaman Organisasi
Organisasi Jabatan Tahun

Karawitan SMP Anggota/Pemain 1999-2002

Karawitan SMU Anggota/Pemain 2002

HIMATEK ITB Anggota 2004

GAMISTEK ITB KaDept Syiar 2005

Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I/ITB KaStaf I 2006

Pengalaman Kepanitiaan
Kegiatan Penyelenggara Posisi Tahun
Lomba Rancang Pabrik Tingkat
HIMATEK ITB Logistik 2005
Nasional 2005
Lomba Rancang Pabrik Tingkat
HIMATEK ITB Logistik 2006
Nasional 2006
Pembekalan Dunia Kampus
HIMATEK ITB Seksi Acara 2005
Teknik Kimia
Latihan Kepemimpinan ITB ITB dan KODAM
Pelatih Pendamping 2006
2006 III/Siliwangi
Pendidikan dan Latihan Dasar Resimen Mahasiswa
Pelatih dan Provoost 2006
Menwa Mahawarman ITB

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 56
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Kejuaraan
Asah trampil Matematika tingkat Provinsi Kalimantan Timur Juara II

Pengalaman Kerja
Asisten Drs. Achmad Ali Syamsuriputra untuk Kuliah Dasar-dasar
Bioproses(Feb.’07-Juni 2007)
Kerja Praktek di PT. Pupuk Kalimantan Timur, Bontang (Juli-September 2007)

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 57
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
LAMPIRAN C
BIODATA PEMBIMBING

Nama Lengkap dan Gelar : Dr. Ir. Azis Trianto MSc.


Golongan Pangkat dan NIP : III/C, NIP.132046551
Jabatan Fungsional : Staf pengajar (Dosen)
Jabatan Struktural : Lektor
Fakultas/Program Studi : Fakultas Teknologi Industri/Teknik Kimia
Perguruan Tinggi : Institut Teknologi Bandung
Bidang Keahlian : Energi dan Sistem Pemroses
Waktu untuk Kegiatan PKM : 5 jam/minggu

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 58
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
LAMPIRAN D
MSDS ISOPROPANOL

Section I - IDENTIFICATION

PRODUCT: Isopropanol

SYNONYMS: Isopropyl alcohol, IPA, propan-2-ol, propanol-2

CHEMICAL FORMULA: CH3CH(OH)CH3

CHEMICAL ABSTRACT NO.: 67-63-0

PRODUCT CODE NO.: 13875

Section II - HAZARDOUS INGREDIENTS

COMPOSITION % TLV/TWA HAZARD

Isopropanol >99% 400 ppm Flammable

Section III - HEALTH & FIRST AID INFORMATION

INHALATION: May irritate upper respiratory tract. High concentrations may be


anesthetic and/or cause bronchopneumonia or pulmonary edema, or headaches,
sleepiness, nausea, confusion, loss of conciousness, digestive and visual disturbances
and death. Remove patient to fresh air. Provide oxygen if breathing is difficult,
administer artificial respiration if breathing ceases. Seek medical attention.

INGESTION: May be fatal or cause blindness. May cause nausea, vomiting and
abdominal pain, may be anesthetic and intoxicating. Guard against aspiration into lungs,
if vomiting occurs spontaneously, keep head below hips to prevent aspiration of liquid
into lungs. If patient is conscious, give 1 or 2 glasses of water and induce vomiting.
Seek medical attention.

EYE CONTACT: High vapour concentration of liquid contact with eyes causes
irritation, tearing and burning. Flush with water for at least 15 minutes with eyelids

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 59
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
open. Seek medical attention.

SKIN CONTACT: Prolonged and repeated contact may cause dryness and irritation.
Rinse with water for at least 15 minutes. Remove contaminated clothing and discard.

OTHER HEALTH INFORMATION:

LD50 = 5-15 g/kg (oral, human)

LD50 = 5.045 g/kg (acute oral, rat)

LD50 = 12.8 g/kg (acute dermal, rabbit)

LD50 = 3.6 g/kg (oral, mouse)

LC50 = 16,000 ppm (8 hour acute inhalation rat)

Human lethal dose, ca 250 ml

Pre-existing eye, skin and respiratory disorders may be aggravated by exposure to this
product. Prolonged or repeated contact with skin can cause defatting and drying of the
skin resulting in skin irritation and dermatitis.

Section IV - PHYSICAL DATA

BOILING POINT: 82.3oC

FREEZING POINT: -89°C - -86°C

FLASH POINT: 14°C (closed cup)

VAPOUR DENSITY (AIR=1): 2.07

VAPOUR PRESSURE: 33 MM Hg @ 20oC

EVAPORATION RATE (BUTYL ACETATE=1): 1.44

SOLUBILITY IN WATER: fully miscible

SPECIFIC GRAVITY (WATER = 1): 0.787

APPEARANCE AND ODOUR: Clear, colourless liquid with a distinctive medicinal

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 60
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
alcohol-like odour.

Section V - FIRE AND EXPLOSION HAZARDS

FLASH POINT & METHODS USED: 14oC (closed cup)

AUTOIGNITION TEMPERATURE: 399°C

FLAMMABLE LIMITS IN AIR; % BY VOL. LOWER: 2.3%

FLAMMABLE LIMITS IN AIR; % BY VOL. UPPER: 12.7%

NFPA RATING: HEALTH (1) FIRE (3) REACTIVITY (0)

EXTINGUISHING MEDIA: Alcohol foam, carbon dioxide, dry chemical

SPECIAL FIRE FIGHTING PROCEDURES & PRECAUTIONS: Use water fog,


"alcohol" foam dry chemical or CO2, wear self contained breathing apparatus and cool
fire-exposed containers with water. Closed containers may explode in fire. Always
stay away from ends of container due to explosive potential.

UNUSUAL FIRE & EXPLOSION HAZARDS: Beware of flashback along vapour


trail.

Section VI - REACTIVITY

STABILITY: stable

HAZARDOUS POLYMERIZATION: will not occur

CONDITIONS & MATERIALS TO AVOID: Avoid all possible sources of ignition,


avoid strong oxidizing agents. Avoid acids, strong acids or strong bases. May be
corrosive to lead and aluminum.

HAZARDOUS DECOMPOSITION PRODUCTS: Carbon dioxide, Carbon


monoxide, Formaldehyde oxides of carbon, and various unidentified organic
compounds.

Section VII - EMPLOYEE PROTECTION

CONTROL MEASURES: Use in a well ventilated area. Ensure electrical grounding of

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 61
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
metal containers.

RESPIRATORY PROTECTION: Wear an organic vapour mask of self contained


breathing apparatus if high vapour concentrations are likely.

PROTECTIVE CLOTHING: Wear plastic gloves and impervious clothing.

EYE PROTECTION: Wear safety goggles if splashing is likely. Ensure that eyewash
stations and safety showers are proximal to the workstation.

Section VIII - ENVIRONMENTAL PROTECTION

ENVIRONMENTAL PRECAUTIONS: Local exhaust is acceptable. Use explosion


proof ventilation to prevent vapour accumulation.

SPILL OR LEAK PRECAUTIONS: Shut off all possible sources of ignition. Dike
spill to prevent its spreading. Mop small spills up with water an run to waste diluting
greatly with water. For large spills, wear respiratory protection; transfer spill to salvage
container using either absorbent material or vacuum. May be harmful to aquatic life.

WASTE DISPOSAL: Small amounts may be run to waste greatly diluting with water,
large amounts must be retained for disposal according to local, provincial and federal
guidelines. Consult professional disposal service.

Section IX - REGULATORY CONTROLS

DEPT. OF TRANSPORTATION: Regulated under the Transport of Dangerous


Goods Act

DOT CLASSIFICATION: Class 3.2, UN 1219, PG II

DOT PROPER SHIPPING NAME: Isopropyl alcohol

OTHER DOT INFORMATION: none

WHMIS CLASSIFICATION: B2, D2B

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 62
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
Section X - PRECAUTIONS: HANDLING, STORAGE & USAGE

Store and use in cool, dry, well ventilated area, be cautious of static electricity and other
sources of ignition. Isopropanol may attack aluminum if the surface oxide film is
broken. Storage in aluminum containers is not recommended.

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 63
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
LAMPIRAN E
INVENTARISASI ALAT DAN BAHAN

NO INVENTARIS PERALATAN JUMLAH SUMBER

1 Asbes 5,1 kg Beli

2 Boiler 1 unit Buat

3 Elemen Pemanas 1000 watt 1unit Beli

4 Elemen Pemanas 1000 watt 1 unit Tersedia

5 Elemen Pemanas 2000 watt 1 unit Tersedia

6 Jerigen 5 L 1 unit Beli

7 Jerigen 10 L 1 unit Beli

8 Kolom Adsorber 2 unit Buat

9 Kondensor 1 unit Tersedia

10 Lem Fox 0,5 kg Beli

11 Pompa 1 unit Beli

12 Selang 3/8” 20 m Beli

13 Selotip Pipa 10 unit Beli

14 Supercon uk 400 3 m2 Beli

15 Thermo controller 1 set Beli

16 Triplek 12 m2 Beli

NO INVENTARIS BAHAN UNIT SUMBER

1 IPA – teknis 95%v 50 L Beli


2 IPA – PA 99,8%v 5L Beli
3 Molecular sieve 0,4 nm 2,5 kg Tersedia
4 Silika Gel 2,5 kg Tersedia

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 64
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
LAMPIRAN F
DATA PENELITIAN

Tabel F.1 Data penelitian


Run ke- Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Tanggal 29/03/07 12/04/07 17/04/07 09/04/00 23/04/07 25/04/07 26/04/07 01/05/07 03/05/07 04/05/07 07/05/07 07/05/07
Waktu
desorpsi 3 3 3 3 2 2 2 2 1 1 1 1
(jam)
Laju Alir
738 1000 1667 1200 733 1000 1200 1625 750 1000 1286 1667
(mL/jam)
umpan 96,00 96,00 96,00 96,00 96,00 96,00 96,00 96,00 96,00 96,00 96,00 96,00
0 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
15 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
%-IPA

30 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
45 100,00 100,00 99,88 100,00 100,00 100,00 100,00 99,92 100,00 100,00 99,76 97,33
60 100,00 100,00 99,86 100,00 100,00 100,00 100,00 99,76 100,00 99,77 99,61 97,15
75 100,00 100,00 99,85 100,00 100,00 100,00 99,70 99,71 99,63 99,72 99,58 97,06
90 100,00 100,00 99,81 100,00 100,00 99,99 99,70 99,69 99,55 99,53 99,53 97,04
105 100,00 100,00 99,75 100,00 100,00 99,98 99,66 99,47 99,32 99,50 99,49 96,95
120 100,00 100,00 99,67 100,00 100,00 99,95 99,57 99,09 99,21 99,38 99,45 96,89
135 100,00 100,00 99,64 100,00 100,00 99,15 99,57 98,94 99,07 99,34 99,30 96,87
150 100,00 100,00 99,33 99,61 100,00 99,10 99,25 98,69 98,88 99,23 99,19 96,63
165 100,00 99,98 98,88 99,60 100,00 98,70 99,23 98,65 98,32 98,95 99,06 96,51
180 100,00 99,92 98,80 99,54 100,00 97,97 99,22 98,45 98,30 98,81 98,83 96,21

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri 65
Gas Alam
Tabel F.1 (Lanjutan) Data penelitian
Run ke- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Waktu
Tanggal 29/03/07 12/04/07 17/04/07 09/04/00 23/04/07 25/04/07 26/04/07 01/05/07 03/05/07 04/05/07 07/05/07 07/05/07
Waktu
desorpsi 3 3 3 3 2 2 2 2 1 1 1 1
(jam)
Laju Alir
738 1000 1667 1200 733 1000 1200 1625 750 1000 1286 1667
(mL/jam)
195 100,00 99,90 97,65 99,43 100,00 99,14 98,08 98,31 98,60 96,20
210 100,00 99,81 99,41 99,72 98,83 97,77 97,78 98,28 96,03
225 100,00 99,44 99,30 99,25 98,70 97,67 97,75 95,56
240 99,97 98,48 99,18 98,64 97,59 97,19 95,11
255 99,94 98,32 98,09 96,76 94,92
%-IPA

270 99,94 98,08 97,87 96,63 94,14


285 99,94
300 99,85
315 99,84
330 99,80
345 99,79
360 99,65
375 99,65
390 99,61
405 99,61
420 99,42
435 98,88
450 98,58
465 98,43

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri 66
Gas Alam
LAMPIRAN G
HASIL ANTARA

Berikut adalah tampilan kurva breaktrough untuk berbagai variasi yang dilakukan.

0,50
0,45
v=738 mL/jam
0,40 v=1000 mL/jam
v=1200 mL/jam
0,35
v=1667mL/jam
0,30
waktu regenerasi 3 jam
C /C o

0,25
0,20
0,15
0,10
0,05
0,00
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
waktu (menit)

Gambar G.1 Kurva breakthrough untuk variasi regenerasi 3 jam

0,50

0,45
v=733 mL/jam
0,40
v=1000 mL/jam
0,35 v=1200 mL/jam
v=1625mL/jam
0,30
C/Co

0,25

0,20

0,15

0,10

0,05

0,00
0 50 100 150 200 250 300
waktu (menit)

Gambar G.2 Kurva breakthrough untuk variasi regenerasi 2 jam

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 67
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
0,50

0,45
v=750 mL/jam
0,40
v=1000 mL/jam
0,35 v=1286 mL/jam
0,30 v=1667mL/jam
C/Co

0,25

0,20

0,15

0,10

0,05

0,00
0 50 100 150 200 250 300
waktu (menit)

Gambar G.3 Kurva breakthrough untuk variasi regenerasi 1 jam

0,50

0,45 regenerasi 3 jam

0,40 regenerasi 2 jam


regenerasi 1 jam
0,35
0,30
laju alir 740 mL/jam
C /C o

0,25
0,20

0,15
0,10

0,05
0,00
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
waktu (menit)

Gambar G.4 Kurva breakthrough untuk variasi laju alir 750 mL/jam

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 68
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
0,50
0,45
regenerasi 3 jam
0,40
regenerasi 2 jam
0,35
regenerasi 1 jam
0,30
C/Co

0,25
0,20
0,15
0,10
0,05
0,00
0 50 100 150 200 250 300
w aktu (menit)

Gambar G.5 Kurva breakthrough untuk variasi laju alir 1000 mL/jam

0,50

0,45

0,40 regenerasi 3 jam


regenerasi 2 jam
0,35
regenerasi 1 jam
0,30
C /C o

0,25

0,20

0,15

0,10

0,05

0,00
0 50 100 150 200 250 300
waktu (menit)

Gambar G.6 Kurva breakthrough untuk variasi laju alir 1200 mL/jam

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 69
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam
0,50

0,45

0,40

0,35

0,30
C/Co

0,25

0,20 regenerasi 3 jam


regenerasi 2 jam
0,15
regenerasi 1 jam
0,10

0,05

0,00
0 50 100 150 200 250 300
w aktu (m enit)

Gambar G.7 Kurva breakthrough untuk variasi laju alir 1650 mL/jam

Produksi Isopropil Alkohol Murni untuk Aditif Bensin yang Ramah Lingkungan 70
sebagai Wujud Pemanfaatan Produk Samping pada Industri Gas Alam