Anda di halaman 1dari 6

Nama : Sefryan Ardi Saputra, S.A.

P
NIM : 530066443

Jurnal #1 Nasional
Penulis Akhmad Fauzi dan Alex Oxtavianus
Judul Artikel Pengukuran Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia
Volume, Nomor, Bulan Volume 30, Nomor 1, Juni, 2014
dan Tahun Terbit
Alamat Jurnal https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/mimbar/article/view/445
Abstrak dan kata kunci Akhir Millennium Development Goals (MDGs) memunculkan
pemikiran untuk kembali mencari tujuan pembangunan yang
disepakati secara internasional. Sustainable Development Goals
(SDGs) atau tujuan pembanunan berkelanjutan adalah salah
satunya. Dalam penelitian ini, pembangunan berkelanjutan
dijabarkan sebagai keseimbangan pembangunan ekonomim,
sosial dan lingkungan. Capaian pembangunan berkelanjutan
diukur dengan dua pendekatan yang berbeda, indikator parsial
dan komposit. Penyusunan indeks komposit menggunakan tujuh
tahapan yang dimulai dari penyusunan kerangka teoritis hingga
diseminasil. Indikator pembangunan secara parsial menunjukkan
adanya kemajuan di bidang ekonomi dan sosial, namun
penurunan pada lingkungan. Indeks Pembangunan
Berkelanjutan (IPB), yang merupakan komposit dari PDRB,
IPM dan IKLH juga memberikan pesan yang sama. Dengan
menggunakanskenario kesimbangan antardimensi
pembangunan, sebagai skenario terpilih, pembangunan
berkelanjutan di Indonesia baru mencapai sekitar dua per tiga
dari target maksimum. Kemajuan yang cukup tinggi pada bidang
ekonomi dan sosial pada akhirnya terkoreksi oleh degradasi
lingkungan.

Kata Kunci: pembangunan berkelanjutan, indeks komposit,


paradoks pembangunan

JURNAL #2 Nasional
Penulis Retno Setianingtias, M.Baiquni, dan Andri Kurniawan
Judul Artikel Pemodelan Indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di
Indonesia
Volume, Nomor, Bulan Volume 27, Nomor 2, Desember, 2019
dan Tahun Terbit
Alamat Jurnal https://jurnalekonomi.lipi.go.id/JEP/article/view/323
Abstrak dan kata kunci Arah baru dalam proses pembangunan saat ini adalah
pelaksanaan Sustainable Development Goals (SDG)/Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Konsep pembangunan
berkelanjutan disusun atas empat dimensi, yaitu pembangunan
ekonomi, sosial, lingkungan dan kelembagaan. TPB hadir
dengan 17 tujuan dan sejumlah indikator untuk pengukurannya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar
indikator dan dimensi dalam pembangunan berkelanjutan.
Identifikasi indikator berasal dari publikasi Bappenas dan BPS,
serta hasil penelitian terdahulu. Unit analisis pada penelitian ini
adalah seluruh provinsi yang ada di Indonesia dengan
menggunakan data tahun 2015. Metode yang digunakan adalah
Struktural Equation Modelling menggunaan Partial Least Square
untuk mereduksi indikator serta melihat hubungan antar dimensi
sosial, ekonomi, lingkungan dan kelembagaan.
Hasil seleksi indikator menunjukkan dari lima puluh indikator,
menjadi sembilan belas indikator yang berpengaruh terhadap
pembangunan berkelanjutan. Permodelan dengan SEM PLS
memberikan gambaran bahwa antar dimensi ekonomi –
lingkungan, ekonomi –sosial, kelembagaan – ekonomi, ekonomi
– kelembagaan, kelembagaan – sosial, kelmbagaan – TPB,
Lingkungan – TPB, sosial – lingkungan, sosial - TPB dan TPB –
kualitas pembangunan menunjukkan hasil yang signifikan,
namun demikian terdapat hubungan yang tidak signifikan, yaitu
hubungan antara antara kelembagaan dan lingkungan.

Kata kunci: analisis faktor konfirmatori ordo dua, SEM PLS,


pembangunan berkelanjutan

JURNAL #3 Nasional
Penulis Rivanda Fadhila Indra Putra dan Vera Lisna
Judul Artikel Segitiga Kemiskinan – Pertumbuhan – Ketimpangan (PGI
Triangel): Pembangunan Keuangan, Pembangunan Manusia dan
Ketimpangan Pendapatan di Asia
Volume, Nomor, Bulan Volume 28, Nomor 2, Desember, 2020
dan Tahun Terbit
Alamat Jurnal https://jurnalekonomi.lipi.go.id/JEP/article/view/442/160
Abstrak dan kata kunci Salah satu isu yang dihadapi oleh negara-negara di Asia adalah
ketimpangan pendapatan. Solusi untuk ketimpangan adalah
melalui pembangunan ekonomi, termasuk di dalamnya
pembangunan keuangan (financial development). Sektor
finansial berperan penting dalam perekonomian suatu negara,
perkembangan sektor finansial secara tidak langsung akan
meningkatkan output dari sektor sektor lain sehingga
mengikatkan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atau dapat
dikatakan terjadi pertumbuhan ekonomi. Selain pemerataan
pendapatan dan pertumbuhan ekonomi, dalam pembangunan
ekonomi juga perlu dilihat kaitan keduanya dengan
pembangunan manusia sebagaimana dikatakan dalam segitiga
kemiskinan-pertumbuhan ekonomi-ketimpangan (poverty-
growthinequality triangle/PGI Triangle). Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk melihat gambaran dari ketimpangan distribusi
pendapatan, pembangunan keuangan, dan pembangunan
manusia di enam negara Asia. Analisis yang digunakan adalah
statistik deskriptif dan regresi data panel khususnya fixed effect
model (FEM) dan random effect model (REM). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara
pembangunan keuangan dan pembangunan manusia terhadap
ketimpangan pendapatan. Semakin tinggi pembangunan
keuangan akan mengurangi tingkat ketimpangan dari suatu
negara, sedangkan nilai pembangunan manusia yang tinggi
justru meningkatkan ketimpangan.

Kata kunci: pembangunan keuangan, ketimpangan,


pembangunan manusia, regresi panel

JURNAL #4 Nasional
Penulis Muhammad Suparmoko
Judul Artikel Konsep Pembangunan Berkelanjutan Dalam Perencanaan
Pembangunan Nasional dan Regional
Volume, Nomor, Bulan Volume 9, Nomor 1, April, 2020
dan Tahun Terbit
Alamat Jurnal https://journal.budiluhur.ac.id/index.php/ema/article/view/1112
Abstrak dan kata kunci Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep
pemangunan berkelanjutan beserta prinsipnya. Untuk menyusun
perencanaan pembangunan yang berbasis konsep pembangunan
berkelanjutan, perlu dipahami unsur apa saja yang diperlukan
serta faktor dan piranti apa saja yang diperlukan untuk
membangun secara berkelanjutan. Adapun pilar-pilar
pembangunan berkelanjutan berupa berkelanjutan ekonomi,
berkelanjutan sosial dan berkelanjutan lingkungan, yang
ketiganya harus berkembang secara seimbang; kalau tidak
pembangunan akan terjebak pada model pembangunan
konvensional yang menekankan pertumbuhan ekonomi saja dan
meninggalkan perkembangan sosial dan lingkungan. Disamping
itu, untuk keberhasilan pembangunan berkelanjutan, disyaratkan
pula perlunya modal sosial yang mampu memelihara hubungan
kerja sama yang baik antar berbagai lembaga pemerintahan baik
secara vertikal maupun horisontal, serta diperlukan pula sinergi
antara pemerintah, pihak swasta dan masyarakat dengan
pendekatan multi pihak dari ketiga kelompok tersebut dalam
penyusunan rencana dan kebijakan pembangunan yang
berwawasan lingkungan.

Kata kunci: Konsep Pembangunan Berkelanjutan, Pertumbuhan


Ekonomi, Perkembangan Sosial, Perkembangan Lingkungan

JURNAL #5 Internasional
Penulis Matthew Kelly, Phattaraphon Yutthaphonphinit, Sam-ang
Seubsman dan Adrian Sleigh
Judul Artikel Development Policy in Thailand: From Top-down to Grass
Roots
Volume, Nomor, Bulan Volume 8, Nomor 13, Oktober, 2012
dan Tahun Terbit
Alamat Jurnal http://www.ccsenet.org/journal/index.php/ass/article/view/21484
Abstrak dan kata kunci Top-down industrial development strategies initially dominated
the developing world after the second World War but were
eventually found to produce inequitable economic growth. For a
decade or more, governments and international development
agencies have embraced the idea of participatory grass roots
development as a potential solution. Here we review Thailand’s
experience with development strategies and we examine the
current focus on participatory approaches. Thai government
planning agencies have adopted “people centred development”
and a “sufficiency economy”, particularly emphasised since the
disruptions caused by the 1997 Asian financial crisis. They aim
to address the inequitable sharing of the benefits of decades of
rapid growth that was particularly unfair for the rural poor. Thai
policies aim to decentralise power to the local level, allowing
civil society and Non-Governmental Organisations (NGOs)
more of a voice in national decision making and promoting
sustainable farming practices aimed at enriching rural
communities. An example of this change in Thai government
policy is the Community Worker Accreditation Scheme which is
aiming to develop human resources at the local level by training
community based leaders and supporting networks of
community organisations. This enables autonomous local
development projects led by trained and accredited individuals
and groups. The political tensions notable in Thailand at present
are part of this modern transition driven by conflicting models
of top-down (industrial) development and the bottom-up
(participatory) development ideals described above. Once
resolved, Thailand will have few obstacles to moving to a new
economic level.

Keywords: development theory, development policy, Thailand,


developing countries, participatory development

Pembangunan Berkelanjutan di di Negara Berkembang dalam Perspektif


Teori Nilai Adam Smith

Konsep pembangunan berkelanjutan pada prinsipnya adalah pembangunan yang


dilakukan saat ini jangan sampai merugikan generasi yang akan datang baik dari segi ekonomi,
sosial dan lingkungan. Dalam rangka menyusun konsep pembangunan berkelanjutan, perlu
dipahami dan dicermati faktor- faktor yang mendukung untuk melaksanakan pembangunan
berkelanjutan. Tujuan dari penelitian jurnal Konsep Pembangunan Berkelanjutan dalam
Perencanaan Pembanguan Nasional dan Regional adalah untuk mengetahui konsep
pembangunan berkelanjutan beserta prinsipnya. Metode yang digunakan adalah metode
penelitian analisis referensi yang tersedia baik dari teori, buku hingga penelitian sebelumnya.
Hasil penelitian ini adalah:
- Pilar-pilar pembangunan berkelanjutan berupa berkelanjutan ekonomi, berkelanjutan
sosial dan berkelanjutan lingkungan berkembang secara seimbang.
- Pemerintah baik di pusat maupun di daerah perlu memiliki catatan mengenai cadangan
sumberdaya alam yang dimilikinya dan perubahan-perubahannya yang digunakan untuk
analisis mengenai perkembangan cadangan sumberdaya alam dan perannnya dalam
pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan.
- Belum banyak daerah yang memiliki kesadaran dalam menyusun PDB dan PDRB Hijau
- Belum diterapkan imbal jasa lingkungan dan interbalisasi biaya eksternal.
- IPM sudah menginternalkan biaya eksternal yang memperhitungkan nilai deplesi atau
kehilangan sumberdaya alam dan degradasi fungsi lingkungan.
- Dalam menyusun pembangunan berkelanjutan diperlukan modal pembangunan yang
memadai, yang berupa modal manusia yang handal, modal buatan manusia yang cukup
tersedia, serta modal lingkungan yang terdiri dari sumberdaya alam dan kualitas
lingkungan yang baik.
Kelebihan jurnal ini adalah:
1. Menjelaskan keterkaitan teori pertumbuhan dengan perencaan pembangunan.
Keterkaitan antara faktor- faktor yang mendukung dalam pertumbuhan ekonomi seperti
sumber daya manusia harus mengalami peningkatan kualitas dan lingkungan harus tetap
terpelihara.
2. Menjelaskan pentingnya pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki neraca
sumberdaya alam. Neraca sumberdaya alam digunakan sebagai salah satu dasar dalam
menyusun perencaan pembangunan berkelanjutan.
3. PDB dan PDRB hijau sebagai alternative untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. PDB
dan PDRB Hijau memasukkan dimensi lingkungan dalam menghitung pertumbuhan
ekonomi.
4. Internalisasi biaya eksternal perlu dilakukan dalam setiap pembangunan yang dilakukan.
Internaslisasi biaya eksternal termasuk dalam instrumen ekonomi adalah aplikasi dari
konsep “3P” (Polutters Pay Principle); yaitu konsep siapa saja yang mencemari
lingkungan diwajibkan membayar ganti kerugian akibat pencemaran lingkungan yang
diciptakannya. Pencemaran
Kekurangan jurnal ini:
1. Belum menggambarkan secara gamblang terkait kondisi pembangunan berkelanjutan
saat ini di Indonesia. Dalam menyusun suatu konsep tentu perlu memahami gambaran
umum pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
2. Dalam pembangunan berkelanjutan dikenal dengan 3 pilar yaitu ekonomi, sosial dan
lingkungan. Dalam jurnal ini hanya membahas secara mendalam terkait dengan faktor
lingkungan saja. Terkait dengan faktor sosial dan ekonomi tidak dibahas secara
mendalam.
3. Untuk mengukur pembangunan berkelanjutan dengan instrumen ekonomi lingkungan
hanya dijelaskan dengan menggunakan Paragraf 8, pasal 42 dan 43 Undang-Undang
Nomor 32, Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Tidak
dijelaskan instrumen lain sebagai pendukung indtrumen yang telah dijelaskan.
4. Jurnal ini tidak mencantumkan data yang mendukung mengenai argumen- argument
yang ditulis.
Teori nilai yaitu teori yang menyelidiki faktor- faktor yang menentukan nilai atau harga
suatu barang (Chalid, 2015:1.8). Dalam teorinya Adam Smith membagi pertumbuhan ekonomi
menjadi 5 tahap yang berurutan yaitu perburuan, tahap beternak, tahap bercocok tanam, tahap
berdagang dan tahap industri. Saat ini Indonesia telah memasuki pada tahapan industry bahkan
telah memasuki industry 4.0. Pada masa industry 4.0 akan mengkombinasikan system fisik-
cyber, internet of thing dan internet of system menjadi teknologi yang digunakan untuk
menggerakan roda industry. Hal ini sejalan dengan titik sentral pembahasan Teori Adam Smith
yaitu pembagian kerja merupakan titik sentral dalam pembahan teori ini yang merupakan salah
satu upaya untuk meningkatkan produktivitas kerja. Terciptanya spesialisasi dari tiap- tiap
pelaku ekonomi ini didorong oleh faktor- faktor (1) meningkatkan keterampilan pekerja dan (2)
penemuan mesin- mesin yang menghemat tenaga. Pertumbuhan penduduk yang tinggi
mendorong Indonesia untuk menggunakan teknologi- teknologi dalam industry untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat.
Proses pertumbuhan akan terjadi secara stimultan dan memiliki hubungan keterkaitan
satu dengan yang lain (Adam Smith dalam Chalid, 2015:1.10). Peningkatan pada satu faktor
akan mendorong daya tarik pada faktor- faktor lainnya yang menyebabkan pertumbuhan
ekonomi menjadi semakin pesat. Cahalid (2015:1.10) menyebutkan proses pertumbuhan
ekonomi sebagai suatu fungsi tujuan pada akhirnya harus tunduk terhadap fungsi kendala yaitu
keterbatasan sumber daya alam dan manusia. Dalam pembangunan berkelanjutan disebutkan
bahwa pertumbuhan ekonomi harus diimbangi dengan pertumbuhan sosial dalam hal ini kualitas
manusia dan kondisi lingkungan. Pembangunan di berbagai tempat di Indonesesia telah
menyababkan kerusakan lingkungan yang diakibatkan pertumbuhan lingkunagn tidak diimbangi
dengan pemeliharaan lingkungan. Salah satu yang terdampak adalah kondisi air bersih di
Indonesia. Air adalah salah satu elemen yang dibutuhkan makhluk hidup.

Neraca Ketersediaan Air dan Kebutuhan Air pada wilayah sungai di Indonesia

Sumber: BPS Indonesia, 2020

Dari table diatas diketahui bahwa kondisi kebutuhan air bersih di beberapa daerah
mengalami kritis dari level ringan sampai sedang. Hal ini bisa dipahami jika air bersih akan terus
berkurangs setiap tahunnya sedangkan kebutuhan terus bertambah seiring dengan pertambahan
penduduk.
Pertumbuhan ekonomi harus diimbangi dengan pertumbuhan sosial dalam hal ini kualitas
manusia agar manusi tetap mendukung akseslasi system produksi suatu negara. Lingkungan
hidup harus dipahami sebagai sumber daya yang memiliki keterbatasan oleh karena itu dalam
pengelolaannya perlu memerlukan perhitungan dan kehati- hatian. Pertumbuhan ekonomi suatu
negaraakan mulai mengalami perlambatan jika daya dukung alam dan keterampilan penduduk
tidak mampu lagi mengimbangi aktivitas ekonomi yang sedang berlangsung Chalid, 2015:1.10).
Selain memelihara sumber daya alam yang dimiliki saat ini, pemerintah perlu menemukan
sumber energy baru yang lebih ramah lingkungan untuk menggantikan enrgi berbahan fosil yang
selama ini digunakan. Dengan kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini dimana musim yang
tidak dapat diprediksi, kelangkaan air bersih di beberapa daerah serta intensitas bencana yang
lebih sering terjadi menjadikan pembangunan berkelanjutan di Indonesia tidak dapat ditawar
lagi. Jika terus melakukan pembangunan konvensional yang hanya memperhatikan faktor
ekonomi maka akan tiba saatnya sumber daya alam kan mencapai batas maksimal sehingga
menghambat pertumbuhan ekonomi.

Sumber:
Chalid, Pheni. 2015. Teori dan Isu Pembangunan. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka

Suparmoko, Muhammad.2020. Konsep Pembangunan Berkelanjutan Dalam Perencanaan


Pembangunan Nasional dan Regional. Volume 9, Nomor 1, April, 2020 Diakses April 2021
tersedia pada https://journal.budiluhur.ac.id/index.php/ema/article/view/1112

Tim Penyusun Badan Pusat Statistik. 2020. Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2020. Diakses
April 2021 tersedia pada https://www.bps.go.id/publication/2020/11/27/
5a798b6b8a86079696540452/statistik-lingkungan-hidup-indonesia-2020.html