Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN MINGGUAN

PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK

ARGENTOMETRI

Oleh :
Nama : Lia Marliana Fasha
NRP : 083020032
Kelompok/ Meja : III (tiga)/01 (Satu)
Asisten : Vita Hediana P
Tgl. Percobaan : 21 November 2009

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK


JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2009
I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang


Percobaan, (2) Tujuan Percobaan, dan (3) Prinsip
Percobaan, dan (4) Reaksi Percobaan.

1.1. Latar Belakang


Argentometri adalah titrasi dengan menggunakan
perak nitrat sebagai titran dimana akan terbentuk garam
perak yang sukar larut. Jika larutan perak nitrat
ditambahkan pada larutan kalium sianida maka mula-mula
akan terbentuk endapan putih yang pada pengadukan
akan larut membentuk larutan kompleks yang stabil
(Anonim 2009).
Reaksi pengendapan telah digunakan secara meluas
dalam kimia analisis, dalam titrasi-titrasi, dalam penetapan
gravimitri, dan dalam memisahkan suatu sampel menjadi
komponen-komponennya. Titrasi yang melibatkan reaksi
pengendapan hampir tak sebanyan titrasi yang melibatkan
reaksi asam basa dalam analisis titrimetri. Presipitimetri
adalah cara titrasi dimana terjadi endapan.
Contoh : AgNO3 + NaCl → AgCl + NaNO3
Makin kecil kelarutan garam yang terbentuk, makin
sempurna reaksinya. Argentometri merupakan titrasi-titrasi
yang menyangkut penggunaan larutan AgNO3.
Argentometri dimana terbentuk endapan (ada juga
argentometri yang tergolong pembentukan kompleks)
dibedakan menjadi tiga macam cara berdasarkan indikator
yang digunakan untuk penentuan titik akhir, yaitu cara atau
metode Mohr, metode Volhard, dan metode Fajans. Dalam
tiga cara tersebut, titran masing-masing tertentu, indikator
dan pH pada metode Mohr dan Volhard tertentu,
sedangkan dalam cara Fajans indikator tidak harus tertentu
dan pH disesuaikan dengan indikator, sehingga
penggunaan “indikator adsorpsi” dilakukan pada
penerapan cara ini ( Underwood, 1980).
Argentometri adalah urutan suatu pengendapan
dengan menggunakan prinsip AgNO3 sebagai larutan baku.
Argentometri dimana terbentuk endapan (ada juga
argentometri yang tergolong pembentukan kompleks)
dibedakan menjadi tiga macam cara dasar indikator yang
dipakai untuk penentuan titik akhir yaitu pada cara Mohr;
indikator K2CrO4, titrant adalah AgNO3, cara Volhard;
indikator Fe3+, titrant KSCN atau NH4SCN dan cara Fajans
indikatornya ialah salah satu indikator adsorpsi menurut
macam anion yang diendapkan oleh Ag+, titrant AgNO3, pH
tergantung dari macam anion dan indikator yang dipakai.
Dalam tiga cara tersebut masing-masing tertentu, indikator
dan pH untuk cara Mohr dan dan Volhard tertentu sedang
dalam cara Fajans indikator tidak harus tertentu dan pH
disesuaikan dengan indikator (Harjadi, 1990).
1.2. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan
konsentrasi suatu sampel dengan titrasi argentrometri
dimana AgNO3 berperan sebagai pentiternya, dan sebagai
indikatornya digunakan kalium kromat, Fe3+, dan indikator
adsorpsi sehingga penggunaan ke tiga metode (metode
mohr, metode volhard, metode fajans) dapat diterapkan
dalam percobaan ini dengan baik dan praktikan menjadi
mengerti terhadap percobaan ini.

1.3. Prinsip Percobaan


Prinsip dari percobaan ini berdasarkan pada reaksi
pengendapan zat yang cepat mencapai kesetimbangan
pada setiap penambahan titran, tidak ada pengotor yang
mengganggu dan diperlukan indicator untuk melihat akhir
titrasi. Adapun pentiter yang digunakan adalah larutan
baku AgNO3. percobaan ini juga berdasarkan reaksi :
Ag+ + X- → Ag X ↓
Titrasi argentometri ini dapat dilakukan dengan tiga macam
metode, yaitu :
Cara Mohr :
Dilakukan dalam suasana netral sedikit basa,
sebagai indikatornya digunakan kalium kromat. Titik akhir
titrasi dengan cara ini adalah merah bata.
Cara Volhard :
Dilakukan dalam suasana asam dengan indikator
Fe3+ dan titik akhir titrasi dengan cara ini adalah merah
yang berasal dari Fe(SCN)2+.
Cara Fajans :
Dilakukan dalam suasana sedikit asam, indikatornya
adalah indikator adsorpsi misalnya Flourescein dan titik
akhir titrasinya adalah endapan merah atau rose.

1.4. Reaksi Percobaan


Cara Mohr :
CrO42- + 2 Ag+ → AgCrO4 ↓
(Kuning) (Merah Bata)
Ag2CrO4 + 2 Cl → 2 AgCl + CrO42-
-

Cara Volhard :
Ag+ + CNS → AgCNS ↓
Fe3+ + 3 CNS → Fe(CNS)3
(Berlebih)
Fe + CNS- → Fe (CNS)3+
(Merah)
Cara Fajans :
+ -
Ag + Cl → AgCl ↓
AgCl + n Ag+ → AgCl n Ag+
AgCl n Ag+ + n Fe → AgCl n Ag+ Fe-
(Putih) (Kuning Hijau) (Merah)
II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menguraikan mengenai : (1) Pengertian


Argentometri, (2) Pembentukan Kompleks Berwarna,
(3) Metode Mohr, (4) Metode Volhard, (5) Metode Fajans,
dan (6) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan.

2.1. Pengertian Argentometri


Argentometri adalah urutan suatu pengendapan
dengan menggunakan prinsip AgNO3 sebagai larutan baku.
Argentometri dimana terbentuk endapan (ada juga
argentometri yang tergolong pembentukan kompleks)
dibedakan menjadi tiga macam cara dasar indikator yang
dipakai untuk penentuan titik akhir yaitu pada metode
Mohr, metode Volhard dan metode Fajans
(Harjadi, 1990).
Metode Mohr (1856) : indikator K2CrO4, titrant ialah
AgNO3, pada metode Volhard : indikator Fe3+, titrant KSCN
atau NH4SCN dan pada metode Fajans indikator ialah
salah satu indikator adsorpsi menurut macam anion yang
diendapkan oleh Ag+, titrant AgNO3, pH tergantung dari
macam anion dan indikator yang dipakai. Dalam tiga cara
tersebut masing-masing tertentu, indikator dan pH untuk
cara Mohr dan dan Volhard tertentu sedang dalam cara
Fajans indikator tidak harus tertentu dan pH disesuaikan
dengan indikator (Harjadi, 1990).
Endapan perak klorida (AgCl) yang terbentuk dari
larutan perak nitrat dan natrium klorida dapat digunakan
dalam menentukan titik akhir dalam titrasi volumetrik. Titik
akhir tersebut ditandai dengan habisnya semua klorida
diendapkan menjadi perak klorida. Reaksi tersebut
merupakan suatu reaksi pengendapan yang dapat
dimanfaatkan dalam penetapan kadar secara
volumetrik.Penetapan kadar dari suatu obat yang
mengandung natrium bromida atau kalium iodida dapat
dilakukan dengan argentometri dan juga dapat dilakukan
untuk menetapkan kadar ion-ion halide (Anonim, 2009)

2.2. Pembentukan Kompleks Berwarna


Pembentukan kompleks berwarna dalam titrasi
pengendapan ini merupakan cara Volhard. Cara Volhard
didasarkan pada pengendapan perak tiosianat dalam
larutan asam nitrat, dengan menggunakan ion besi (III)
untuk meneliti ion tiosianat berlebih. Cara ini dapat
digunakan untuk titrasi langsung dari ion perak dengan
larutan tiosianat standar atau untuk titrasi tak langsung dari
ion klorida. Pada keadaan terakhir ini perak nitrat berlebih
ditambahkan dan kelebihanya dititrasi dengan tiosianat
standar. Anion-anion asam lemah seperti bromida dan
iodida dapat ditentukan dengan prosedur sama.
Anion-anion asam lemah seperti oksalat, karbonat, dan
arsenat, dengan garam-garam peraknya yang larut dalam
asam, dapat ditentukan dengan pengendapan pada pH
lebih tinggi dan penyaringan garam peraknya. Endapan
kemudian dilarutkan dalam asam nitrat dan perak dititrasi
langsung dengan tiosianat (Underwood, 1980).
Cara Volhard secara luas digunakan untuk perak
dan Cl- karena kenyataan bahwa titrasi dapat dilakukan
dalam larutan asam. Sebenarnya adalah layak untuk
menggunakan suatu medium asam untuk mencegah
hidrolisa indikator ion Fe (III). Cara-cara umum lain untuk
perak dan klorida memerlukan larutan hampir netral agar
titrasi berhasil baik. Banyak kation mengendap dalam
keadaan demikian, dan karenanya mengganggu pada cara
ini. Merkuri adalah satu-satunya yang mengganggu pada
cara ini. Sesungguhnya merkuri dapat ditentukan secara
titrasi dengan tiosianat. Kation lain yang mengganggu
adalah konsentrasi tinggi dari ion berwarna, seperti Kobal
(II), Nikel (II), dan Cu (II), menyebabkan kesukaran pada
pengamatan titik akhir (Underwood, 1980).
Percobaan pada titrasi langsung dari perak dengan
tiosianat ada dua sumber kesalahan yang keduanya
kurang penting. Pada tempat pertama, perak tiosianat
menyerap perak pada permukaanya, menyebabkan TA
terjadi terlalu cepat. Kesulitan ini dapat diatasi sebagian
besar dengan pengadukan kuat campuran dekat titik akhir
titrasi. Kedua perubahan warna yang menandai titik akhir
terjadi pada suatu konsentrasi tiosianat sedikit berlebih dari
konsentrasi pada titik ekivalen (Svehla, 1985).
Metode-metode lain yang lazim untuk perak dan
klorida memerlukan larutan yang hampir netral agar
titrasinya sukses. Banyak kation mengendap pada kondisi
semacam ini dan karena itu menggangu dalam metode-
metode ini (Anonim, 2009).

2.3. Metode Mohr


Metode Mohr ini, titrasi halida dengan AgNO3,
dilakukan dengan indikator Na2CrO4. Pada titrasi ini akan
membentuk endapan baru yang berwarna. Pada titik akhir
titrasi, ion Ag yang berlebih diendapkan sebagai Ag2CrO4
yang berwarna merah bata. Larutan harus bersifat netral
atau sedikit basa, tetapi tidak boleh terlalu basa sebab Ag
akan diendapakan sebagai Ag(OH)2. Jika larutan terlalu
asam, maka titik akhir titrasi tidak telrihat sebab
konsentrasi CrO4- berkurang, yaitu dengan terjadinya reaksi
:
H+ + CrO42- → HCrO4-.
Percobaan pada kondisi yang cocok, metode Mohr
cukup akurat dan dapat digunakan pada konsentrasi
klorida yang rendah. Pada jenis titrasi ini, endapan
indikator berwarna harus lebih larut dibanding endapan
utama yang larut dalam titrasi. Akan tetapi tidak terlalu
banyak larut, kerana akan diperlukan lebih banyak pereaksi
dari yang seharusnya. Indikator tersebut biasanya
digunakan pada titrasi sulfat dengan BaCl2, dengan titik
akhir ditentukan dengan terbentuknya endapan garam Ba
yang berwarna merah. Juga digunkan dalam analisis air.
Pengendalian pH sangat diperlukan untuk memberikan
konsentrasi yang tepat dari anion indikator tanpa
mengendapan zat-zat yang tidak diinginkan terlebih dahulu
(Khopkar, 1990).
Metode Mohr dapat juga diterapkan untuk titrasi ion
bromida dengan perak, dan juga ion sianida dalam larutan
yang sedikit agak basa. Efek absorpsi menyebabkan titrasi
ion iodida dan tiosianat tidak layak. Perak tak dapat dititrasi
langsung dengan ion klorida, dengan menggunakan
indikator kromat. Endapan perak kromat yang telah ada
sejak awal, pada titik kesetaraan melarutkan kembali
dengan lambat (Underwood, 1980).
Metode Mohr (1856) : indikator K2CrO4, titrant ialah
AgNO3. Terutama untuk menentukan garam klorida
dengan titrasi langsung atau menentukan garam perak
dengan titrasi kembali setelah ditambah dengan larutan
baku NaCl berlebih. pH harus diatur agar tidak terlalu asam
atau basa (antara 6 dan 10) (Harjadi, 1990).
Indikator menyebabkan terjadinya reaksi pada titik
akhir dengan titrant sehingga terbentuk endapan berwarna
merah bata, yang menunjukkan titik akhir karena warnanya
berbeda dari warna endapan analat dengan Ag+. Pada
analisa Ag+ mula-mula terjadi reaksi :
Ag+ + Cl- AgCl ↓
Sedang pada titik akhir, titrant juga bereaksi menurut
reaksi:
2Ag+ + CrO4= Ag2CrO4 ↓
konsentrasi CrO4= yang ditambahkan sebagai indikator
tidak boleh sembarang tetapi harus dihitung berdasarkan
ksp AgCl dan ksp Ag2CrO4 (Harjadi, 1990).
Dari pengertian kelarutan dan Ksp jelas bahwa :
1. Ag2CrO4 harus mempunyai kelarutan yang sesuai
dibandingka dengan endapan analat, maka konsentrasi
CrO4= yang digunakan dapat membentuk endapan
indikator tidak jauh dari titik ekivalen.
2. Ag2CrO4 harus lebih mudah larut dari endapan analat.
Kalau tidak, maka indikator mengendap lebih dulu dari
pada analat atau jauh sebelum titik ekivalen tercapai.
3.Untuk analat yang berbeda perlu digunakan konsentrasi
indikator yang berbeda pula, agar titik akhir tidak terlalu
jauh dari titik ekivalen (Harjadi, 1990).

2.4. Metode Volhard


Titrasi Ag dengan NH4SCN dengan garam Fe(III)
sebagai indikator adalah contoh metode Volhard, yaitu
pembentukan zat berwarna di dalam larutan. Selama
titrasi, Ag(SCN) terbentuk sedangkan titik akhir tercapai
bila NH4SCN yang berlebih bereaksi dengan Fe(III)
membentuk warna merah gelap (FeSCN)++. Jumlah
tiosianat yang menghasilkan warna harus kecil. Jadi
kesalahan pada titik akhir sangat kecil, tetapi larutan harus
dikocok dengan kuat pada titik akhir, agar Ag yang
teradsorpsi pada endapan dapat didesorpsi. Pada metode
volhard unutk menentukan ion klorida, suasana haruslah
asam karena pada suasana basa Fe3+ akan terhidrolisis.
AgNO3 berlebih bila ditambahkan ke larutan klorida
tentunya tidak bereaksi. Larutan Ag tersebut kemudian
ditirasi balik dengan menggunakan Fe(III) sebagai
indikator, tetapi cara ini menghasilkan kesalahan, karena
AgSCN kurang larut dibanding AgCl sehingga:
AgCl + SCN → AgSCN + Cl-
Akibat lebihnya banyak NH4SCN diperlukan sehingga
kendungan Cl seakan-akan mengeluarkan endapan AgCl
sebelum titrasi balik berlangsung atau menambahkan
sedikit nitrobenzena, sehingga melindungi AgCl dari reaksi
dengan tiosianat tetapi nitrobenzena akan memperlambat
reaksi. Hal ini dapat dihindari jika Fe(NO3) dan sedikit
NH4SCN yang diketahui ditambahkan dahulu ke larutan
bersama-sama HNO3. Kemudian campuran tersebut
dititrasi dengan AgNO3 sampai warna merah hilang
(Khopkar, 1990).
Metode Volhard digunakan secara meluas untuk
perak dan klorida karena titrasi itu dapat digunakan dalam
larutan asam. Memang digunakan untuk medium asam
untuk mencegah hidrolisis indikator ion-besi (III).
Metode-metode lain yang lazim untuk perak dan klorida
memerlukan larutan yang hampir netral adag titrasinya
sukses. Banyak kation mengendap pada kondisi semacam
ini dan karena itu mengganggu dalam metode merkurium
(II) tiosianat merupakan senyawa yang sangat sedikit
sekali terdisosiasi. Konsentrasi yang tinggi dari kation
berwarna, seperti kobalt (II), nikel (II), dan tembaga (II)
menimbulkan kesulitan dalam mengamati titik akhir. Asam
nitrit mengganggu dalam titrasi, karena bereaksi dengan
tiosianat dengan menghasilkan warna merah peralihan
(Underwood, 1980).
Metode Volhard indikator Fe3+, titrant KSCN atau
NH4SCN. Untuk menentukan garam perak dengan titrasi
langsung atau garam-garam klorida, bromida, iodida,
tiosianat, dengan titrasi kembali setelah ditambah larutan
baku AgNO3 berlebih juga untuk anion-anion lain yang
lebih mudah larut dari AgSCN, tetapi dengan usaha
khusus. pH harus cukup rendah kira-kira 0,3 M H+ agar
Fe3+ tidak terhidrolisa (Harjadi, 1990).
Cara Volhard menggunakan NH4SCN atau KSCN
sebagai titrant dan larutan Fe3+ sebagai indikator. Sampai
dengan titik ekivalen harus terjadi reaksi antara titrant dan
Ag membentuk endapan putih.
Ag+ + SCN AgSCN ↓ (putih)
Sedikit kelebihan titrant kemudiann bereaksi dengan
indikator membentuk ion kompleks yang sangat kuat
warnanya (merah).
SCN+ + Fe3+ FeSCN++
Yang larut dan mewarnai larutan yang semula tidak
berwarna karena titrantnya SCN- dan reaksinya
+
berlangsung dengan Ag maka dengan cara volhard, titrasi
langsung hanya dapat digunakan untuk penentuan Ag+
atau SCN-, sedang untuk anion-anion lain harus ditempuh
dengan cara titrasi kembali.
Penerapan terpenting cara Volhard ialah untuk
penentuan secara tidak langsung ion-ion halogenida, perak
nitrat standar berlebih yang diketahui jumlahnya
ditambahkan kepada contoh dan kelebihannya ditentukan
dengan titrasi kembali dengan larutan tiosianat baku
keadaan larutan yang harus asam sebagai syarat titrasi
Volhard merupakan keuntungan dibandingkan dengan
cara-cara lain penentuan ion halogenida karena ion-ion
karbonat, oksalat dan arsenat tidak mengganggu sebab
garamnya larut dalam keadaan asam pada saat
pencampuran zat (Harjadi, 1990).
2.5. Metode Fajans
Bila suatu senyawa organik yang berwarna
diadsorpsi pada permukaan suatu endapan, dapat terjadi
modifikasi struktur organik, dan warna itu sangat diubah
dan dapat menjadi lebih tua. Gejala ini dapat digunakan
untuk mendeteksi titik akhir pengendapan garam perak.
Senyawa organik yang digunakn dengan cara demikian
dirujuk sebagai indikator adsorpsi.
Mekanisme bekerjanya indikator semacam itu
berbeda dari mekanisme apapun. Fajans yang
menentukan fakta bahwa flouresein dan beberapa
flouresein tersubstitusi dapat bertindak sebagai indikator
untuk titrasi perak. Bila perak nitrat ditambahkan ke dalam
suatu larutan natrium klorida, partikel perak klorida yang
sangat halus itu cenderung memegangi pada
permukaannya (mengadsorpi) sejumlah ion klorida berlebih
yang ada dalam larutan itu. Ion-ion klorida ini dikatakan
membentuk lapisan teradsorpsi primer dan dengan
demikian menyebabkan partikel koloidal perak klorida itu
bermuatan negatif (Underwood, 1980).
Indikator pada metode Fajans ialah salah satu
indikator adsorpsi menurut macam anion yang diendapkan
oleh Ag+, titrant AgNO3, pH tergantung dari macam anion
dan indikator yang dipakai (Harjadi, 1990).
Percobaan dalam titrasi Fajans digunakan indikator
adsorpsi. Indikator adsorpsi ialah zat yang dapat diserap
pada permukaan endapan (diadsorpsi) dan menyebabkan
timbulnya warna. Penyerapan ini dapat diatur agar terjadi
pada titik ekivalen antara lain dengan memilih macam
indikator yang dipakai dan pH (Khopkar, 1990).
Cara kerja indikator adsorpsi yaitu indikator ini
adalah asam lemah atau basa lemah organik yang dapat
membentuk endapan dengan ion perak. Misalnya fluoresin
yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan,
fluoresin akan mengion, yaitu
HFI H+ + FI-
Ion FI inilah yang diserap oleh endapan Ag dan
menyebabkan endapan berwarna merah muda. Karena
penyerapan terjadi pada permukaan, dalam titrasi ini
diusahakan agar permukaan endapan itu seluas mungkin
supaya perubahan warna juga tampak sejelas mungkin,
maka endapan harus berukuran koloid. Penyerapan terjadi
apabila endapan yang koloid itu bermuatan positif, dengan
perkataan lain setelah sedikit kelebihan titrant (ion Ag+)
(Harjadi, 1990).

2.6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan


Faktor-faktor penting yang mempengaruhi kelarutan
padatan kristalin adalah suhu, sifat pelarut, dan adanya
ion-ion lain di dalam larutan. Di dalam golongan yang
belakang disertakan ion-ion yang mungkin sama atau tidak
di padatan, dan ion-ion yang membentuk molekul yang
terdisosiasi sedikit atau ion kompleks dengan ion-ion
padatannya.
2.7.1 Suhu
Kebanyakan garam anorganik yang kita minati,
bertambah kelarutannya apabila suhu dinaikkan. Biasanya
menguntungkan untuk melakukan proses pengendapan
titrasi, dan pencucian dengan larutan panas. Partikel besar
dapat dihasilkan, penyaringan lebih cepat, dan kotoran
terlarut lebih mudah. Karena itu petunjuk-petunjuk sering
mengharuskan penggunaan larutan panas dalam
keadaaan-keadaan yang kelarutan endapan masih dapat
diabaikan pada suhu-suhu tinggi. Akan tetapi dalam hal
senyawa yang cukup larut seperti magnesium ammonium
fosfa, maka larutan harus didinginkan dalam air es
sebelum penyaringan. Jumlah yang cukup banyak dari
senyawa ini dapat hilang, andaikan larutan disaring
sewaktu masih panas (Underwood, 1980).
2.7.2 Pelarut
Kebanyakan garam anorganik lebih larut dalam air
daipada dalam pelarut organik. Air mempunyai momen
dwikutub besar dan tertarik ke kedua kation dan anion
untuk membentuk ion terhidrat. Kita telah menunjukkan
misalnya bahwa ion hidrogen dalam air terhidrasi. Kita
telah menunjukkan misalnnya ion hidrogen dalam air
terhidrasi sempurna, dengan membentuk ion H3O+. Semua
ion pasti terhidrasi sampai beberapa jauh dalam larutan
berair, dan energi yang dilepaskan oleh interaksi ion dan
pelarut membantu mengatasi gaya tarik yang mencoba
menahan ion-ion di dalam kisi padatan. Ion di dalam
sebuah kristal tidak mempunyai tarikan demikian besar
untuk pelarut organik karenanya kelarutannya biasannya
lebih kecil di dalam air (Underwood, 1980).
2.7.3 Pengaruh Ion Sama
Sebuah endapan biasanya lebih larut dalam air murni
daripada dalam sebuah larutan yang mengandung salah
satu ion dari endapan. Dalam larutan perak klorida
misalnya, perkalian konsentrasi ion-ion perak dan klorida
tidak dapat melampaui harga tetapan hasil kali kelarutan
-10
sebesar 1 x 10 . Dalam air tiap ion mempunyai
-5
konsentrasi 1 x 10 M, tetapi jika cukup perak nitrat untuk
membuat konsentrasi ion perak 1 x 10-4 M maka
konsentrasi ion klorida harus berkurang sampai suatu
harga 1 x 10 -6 M. Reaksinya adalah :
Ag+ + Cl- ↔ AgCl(p)
Dipaksa berlangsung ke kanan oleh ion perak berlebih,
menghasilkan pengendapan garam tambahan, dan
menurunkan jumlah klorida yang tinggal di dalam larutan
(Underwood, 1980).
III BAHAN, ALAT DAN METODE PERCOBAAN

Bab ini menguraikan mengenai : (1) Bahan yang


digunakan, (2) Alat yang digunakan, dan (3) Metode
percobaan.

3.1. Bahan yang Digunakan


Bahan yang digunakan antara lain larutan AgNO3,
larutan indikator K2CrO4, NaCl, dan larutan sampel .

3.2. Alat yang Digunakan


Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah
buret,statif dan klem, gelas kimia yang ditutup oleh karbon
250ml, labu erlenmeyer 250ml, gelas ukur 50ml, pipet
gondok seukuran 25ml, labu takar 100ml, dan botol
semprot.

3.3. Metoda Percobaan


3.3.1. Membuat Larutan Baku Primer NaCl 0,05 N
Langkah pertama pada percobaan ini adalah dengan
membuat larutan baku primer NaCl dengan konsentrasi
0,03N dibuat dengan melarutkan 0,293 gr NaCl lalu
ditambahkan aquadest pada labu takar 100 ml sampai
tanda batas.
3.3.2. Pengenceran AgNO3
Langkah kedua adalah dengan pengenceran AgNO3
dari konsentrasi 0,05N menjadi 0,01N. AgNO3 dipipet
sebanyak 30 ml pada gelas kimia dan tambahkan dengan
aquadest sampai 200 ml.
3.3.3 Pembakuan AgNO3
Larutan NaCl ditambah kan K2CrO4 sebanyak
1 ml. Dimasukan kedalam buret sampai garis batas
(50 ml). Lalu larutan NaCl yang telah ditambahkan
K2CrO4 dititrasi dengan larutan AgNO3 sampai warnanya
merah bata. Pada titrasi ini lakukan duplo.
3.3.4. Penentuan Konsentrasi Sampel (R)
Sampel diambil dengan menggunakan pipet gondok
berukuran 250 ml. Lalu dimasukan kedalam erlenmayer,
ditambahkan dengan K2CrO4 sebanyak 1 ml. Kemudian
dititrasi dengan larutan AgNO3 yang berada pada buret.
Sampai terbentuk endapan merah bata. Untuk sampel
tidak perlu Lakukan duplo pada percobaan ini.
Gambar 1.Metode Argentometri
IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan mengenai : (1) Hasil
Pengamatan, dan (2) Pembahasan.

4.1. Hasil Pengamatan


Hasil yang didapat dari pengamatan pada percobaan
argentometri adalah :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Pembuatan Larutan Baku
Primer NaCl
Gr NaCl BE N Pelarut
0,175 58,5 0,03 100 ml aquades
(Sumber: Lia Marliana Fasha, Meja 1, 2009)
Tabel 2. Hasil Pengamatan Pembakuan Larutan AgNO3
V AgNO3 N AgNO3 V NaCl N NaCl
11,4 0,05 20 0,03
(Sumber: Lia Marliana Fasha, Meja 1, 2009)
Tabel 3. Hasil Pengamatan Sampel Q
V Sampel Q N Sampel Q V AgNO3 N AgNO3
20 0,017 6,8 0,05
(Sumber: Lia Marliana Fasha, Meja 1, 2009).

4.2. Pembahasan
Percobaan yang dilakukan oleh praktikan dalam
pengujian sampel kali ini dilakukan dengan metode fajans.
Metode fajans adalah metode pengujian argentometri
dengan penggunaan fluorencens sebagai indikator
absorbsi.
Penggunaan metode fajans dilakukan agar hasil dari
reaksi larutan yang dititrasi menjadi warna merah bata,
tetapi yang terjadi adalah perubahan warna merah yang
tidak jelas. Hal ini disebabkan oleh pencampuran terhadap
indikator absorbs yaitu Fajans yang sudah rusak karena
kadar luarsa sehingga hasil yang didapat kurang begitu
maksimal.
Praktikan melakukan penghitungan di awal titrasi
dengan indikator yang rusak karena waktu yang kurang
mencukupi dalam melakukan praktikum sehingga
pengecekan lebih lanjut tidak bisa dilakukan. Dengan
waktu yang lebih panjang pengecekan lebih lanjut
mengenai indikator maupun penitran dapat dilakukan
perbandingan hasil dengan metode lain tapi dengan
batasan menggunakan penitran yang sama sehingga dapat
diketahui larutan mana yang rusak dan tidak bisa
dimanfaatkan lagi dalam percobaan kali ini.
Karena faktor-faktor tersebutlah maka praktikan
mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan teori,
sehingga keakuratan pun berkurang penghitunganpun
berkurang.
Perbedaan dari metode yang digunakan oleh
praktikan yaitu metode Fajans dengan metode percobaan
yang ada dalam argentometri hanya terdapat perbedaan
dalam penggunaan indikator, peniter dan suasana
pengujian. Yang dimaksud suasana pengujian adalah
suasana keasaman dari larutan yang dititer oleh penitran.
Pada metoda fajans dilakukan suasana sedikit asam.
Metode Fajans: Pada metode ini digunakan indikator
absorbsi. senyawa yang biasa digunakan adalah fluoresein
dan eosin (Anonim, 2008)
Senyawa organik yang berwarna digunakan untuk
mengadsorpsi pada permukaan suatu endapan sehingga
mengubah struktur organiknya dan warna tersebut masih
memungkinkan untuk mengubah diri menjadi lebih tua lagi
sehingga sering digunakan sebagai pendeteksi titik akhir
titrasi pada endapan perak disebut sebagai indikator
adsorpsi (Anonim, 2008)
Fluoresein tersubstitusi dapat bertindak sebagai
indikator untuk titrasi perak dengan memanfaatkan
kelebihan elektron/ion pada klorida jika perak nitrat
ditambahkan kedalam larutan natrium klorida. Ion-ion
klorida ini dikatakan membentuk lapisan teradsorpsi primer
dan dengan demikian menyebabkan partikel koloidal perak
klorida itu bermuatan negatif. Partikel negatif ini kemudian
cenderung menarik ion-ion positif dari dalam larutan untuk
membentuk lapisan adsorpsi skunder yang terikat lebih
longgar. Jika perak nitrat terus-menerus ditambahkan
sampai ion peraknya berlebih, ion-ion inilah akan
menggantikan ion klorida dalam lapisan primer. Maka
partikel-partikel menjadi bermuatan positif, dan anion
adalam larutan ditarik untuk membentuk lapisan skunder
(Anonim, 2008)
Reaksi dalam suasana asam :

2CrO42- + 2H+ → 2HCrO4 + Cr2O72- + H2O


(jingga)
Warna jingga yang terbentuk akan mengganggu saat
pengamatan titik akhir, selain itu konsentrasi kromat akan
mengecil sehingga konsentrasi yang diharapkan tidak
tercapai.
Reaksi dalam suasana basa :

2 OH- + 2Ag+ → Ag2O + H2O


(merah coklat)
Terbentuknya warna merah coklat tersebut
mengakibatkan sukarnya pengamatan pada titik akhir,
karena warnanya dan selain itu pemakaian larutan standar
akan lebih banyak dari yang seharusnya karena ada yang
bereaksi dengan OH-. Pemakaian larutan standar yang
lebih banyak menyebabkan kesalahan yang
ditimbulkannyapun lebih besar (Khopkar, 1990).
V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini menguraikan mengenai : (1) Kesimpulan dan


(2) Saran.

5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan argentometri metode
Fajans bahwa pada pembuatan larutan baku primer NaCl
0,03 N di dapat NaCl yang harus ditimbang sebanyak
0,175 gram, pada sampel Q diperoleh konsentrasi sampel
sebesar 0,017 N.
Perbedaan metode yang dilakukan dari tiap praktikan
hanya berbeda penggunaan indikator, suasana larutan dan
warna yang dihasilkan dalam pereaksian.

5.2. Saran
Saran pada percobaan argentometri adalah
disarankan kepada para praktikan untuk lebih berhati-hati
dalam melakukan penambahan indikator supaya terhindar
dari kesalahan dalam pentitrasiannya. Serta praktikan
harus memahami dengan jelas metode yang akan
digunakan pada percobaan argentometri supaya tidak
terjadi kekeliruan dalam pemakaian zat atau bahan karena
bisa berakibat berbahaya.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (2009), www.blogspot.com,-ArGeNTOmeTRi


_Mengembalikan Jati Diri Bangsa.htm. 21-
November-2009.
Anonim, (2009), www.medikafarma.com,
argentometri.html,21-November-2009.
Harjadi, W. , (1990), Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT.
Gramedia, Jakarta.
Khopkar, S.M., (1990) Konsep Dasar Kimia Analitik,
Universitas Indonesia, Jakarta..
Svehla, (1985)., Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan
Semimikro., Cetakan kesatu., PT. Kalman Media
Pusaka., Jakarta.
Underwood, A. L dan Day, R. A , (1980), Analisis Kimia
Kualitatif, Edisi kelima, Erlangga, Jakarta.