Anda di halaman 1dari 7

BUSINESS ETHICS

Dian Kartika Rahajeng, Ph.D

CASE 7:
Dettol Disebut Bisa Bunuh Virus Corona

Disusun oleh:
Kelompok 3

Amal Fitria Iriansah 464989


Donny Wahyu Niagara 465025
Nabilla Sekarsari 465092

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2021
1. Summary

Beredar postingan di media sosial yang membagikan sebuah foto botol Dettol
Antiseptik. Di bagian belakang botol antiseptik itu terdapat tulisan "Human Coronavirus
dan RSV". Beberapa netizen mengartikan, Dettol Antiseptik bisa membunuh virus
Corona baru di Wuhan (2019-nCoV) yang muncul pada akhir Desember 2019 lalu.
Menanggapi hal tersebut, para ilmuwan menegaskan tidak ada bukti kalau produk
antiseptik tersebut dapat membunuh virus Corona baru di Wuhan, yang memiliki nama
resmi novel coronavirus (2019-nCoV). Paul Hunter, Profesor Health Protection and
Medicine, menjelaskan bahan aktif antiseptik ini adalah kloroksilenol yang digunakan
sebagai desinfektan secara luas. Penggunaannya adalah sebagai desinfektan pada kulit
dan luka. Ia juga meyakini, produk ini tidak diuji untuk mengatasi virus Corona baru di
Wuhan. Dikutip dari laman suara.com, produsen Dettol RB pun telah mengklarifikasi,
pihaknya tidak pernah mengeluarkan pernyataan Dettol Antiseptik mampu menangkal
2019 n-CoV. Unggahan Dettol Antiseptik bisa membunuh virus corona palsu lantaran
memuat informasi menyesatkan. Unggahan tersebut masuk dalam kategori Misleading
Content. Faktanya, salah satu khasiat Dettol mampu membasmi virus corona namun
bukan yang berjenis 2019 n-CoV, seperti yang muncul di Wuhan.

2. Dilemma etika:
● Dilema level individual: hanya terjadi pada kelompok pelanggan Dettol tertentu,
terutama terjadi pada kalangan yang mudah percaya dan salah
menginterpretasikan isi informasi. Hal ini menyebabkan terjadinya Misleading
Content pada kelompok tertentu pelanggan Dettol.
● Dilema level sistemik: tidak terjadi dilema sistemik, namun apabila membiarkan
isu ini terjadi makan berpotensi menimbulkan dilema sistemik. Perusahaan serupa
akan meningkatkan penjualannya dengan cara menggunakan kata “coronavirus”
pada komposisinya. Sehingga, hal ini akan menimbulkan dilema sistem sosial
bagi kelompok konsumen yang mudah terkena hoax.
● Dilema level korporasi: tidak terdapat dilema korporasi. Dibuktikan dengan aspek
“Kewajiban untuk Mematuhi” berupa produk yang aman untuk dipakai, sudah
dijalankan oleh Dettol karena sudah memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi,
dan yang mereka sadari. Disini informasi menjadi hal yang mahal maka Dettol
sudah menjalankan “Kewajiban untuk Mengungkapkan” dengan langkah
klarifikasi ke berbagai media dan situs resmi miliknya. Dettol menjalankan Teori
Due Care (berhati-hati agar orang lain tidak terluka) dengan memberikan
pernyataan dan gambaran jelas bahwa seluruh produknya tidak untuk dikonsumsi
masuk ke dalam tubuh manusia.

3. Siapakah stakeholders yang terdampak pada kasus tersebut?


Berdasarkan penjabaran kasus di atas, tampak banyak pihak yang mengkritik Dettol
karena dianggap memberikan informasi palsu terkait dengan manfaat produk. Dettol
dianggap melanggar duty of disclosure karena dianggap memberikan informasi yang
kurang tepat yaitu bisa membunuh coronavirus dan melanggar duty not to coerce yang
memanfaatkan ketakutan konsumen akan virus Covid-19.

Namun, perlu diperhatikan pula bahwa kemasan Dettol yang saat ini sedang disorot
merupakan keluaran 2016 dan coronavirus yang dimaksud adalah jenis virus di luar
Covid-19. Kehebohan ini terjadi akibat rasa panik yang melanda masyarakat akan varian
virus baru yang belum ada obatnya. Pada saat itu masyarakat masih belum memiliki
informasi dan edukasi yang cukup terkait coronavirus. Kombinasi kedua situasi tersebut
menimbulkan salah persepsi akan informasi yang ada pada kemasan Dettol.

Maka, bisa dikatakan bahwa sebenarnya tidak ada stakeholders yang dirugikan. Situasi
ini seolah mendukung kritik akan social cost views yang menyatakan bahwa konsumen
akan careless akan keselamatan dirinya jika semua tanggung jawab dibebankan pada
produsen. Akibatnya, konsumen mengambil kesimpulan secara sepihak dari packaging
Dettol yang dibuat pada tahun 2016 tanpa mencari tahu terlebih dahulu informasi yang
didapat.

Menanggapi kejadian ini, Dettol pun memberikan klarifikasi dengan membuat halaman
khusus pada websitenya. Sebagai author, Dettol menjelaskan kondisi sebenarnya bahwa
coronavirus yang dimaksudkan bukan 2019-nCoV dan memastikan bahwa tidak ada lagi
kesalahpahaman. Maka, jika dianalisis dari tanggung jawab moral advertising, Dettol
tidak memenuhi social effects, effects on desire, dan effects on belief. Kerugian yang
terjadi pada sekelompok konsumen murni karena kesalahan mereka dalam memahami
produk.

Covid-19 ditemukan akhir 2019, kehebohan terjadi pada kuartal awal 2020, dan kemasan
dibuat pada tahun 2016. Bisa dilihat dari timeline tersebut bahwa kehebohan ini terjadi
karena kesalahpahaman konsumen. Bisa disimpulkan bahwa kemasan tersebut tidak
sengaja dibuat untuk memanfaatkan ketakutan konsumen akan Covid-19, tidak sengaja
melakukan persuasi supaya konsumen membeli produk, dan tidak ada tendensi untuk
memberikan informasi menyesatkan.

4. Diskusikanlah kasus tersebut dengan menggunakan sudut pandang prinsip etika berikut
ini:
a. Utilitarian
Tindakan Dettol memberikan klarifikasi merupakan perwujudan dari the due care
theory karena sadar bahwa konsumen memiliki informasi yang kurang. Hal ini
sejalan dengan utilitarian karena semua pihak merasa diuntungkan. Reputasi
Dettol kembali membaik dan konsumen mendapatkan informasi yang tepat dan
dapat menjadi pertimbangan dalam membeli produk.
b. Rights
Semua orang memiliki hak positif untuk mendapatkan bantuan, maka Dettol pun
melakukannya dengan klarifikasi. Konsumen yang pada saat itu berada dalam
ketakutan akan Covid-19 membutuhkan penjelasan secara eksplisit terkait
manfaat dan penggunaan produk. Inilah yang kemudian mendasari Dettol
membantu konsumen untuk mendapat penjelasan terkait produk.
c. Justice
Kehebohan ini berawal dari mispersepsi konsumen akan kemasan produk. Maka,
apa yang dilakukan Dettol sesuai dengan teori etika keadilan, karena konsumen
sudah mendapatkan manfaat dari klarifikasi yang dilakukan. Penjelasan Dettol
menjadi titik terang konsumen akan manfaat produk terhadap Covid-19. Justru
jika Dettol melakukan penggantian atas kerugian konsumen dari mispersepsi
tersebut, tindakan itu dianggap melanggar compensatory justice. Pasalnya
kecelakaan tersebut merupakan tindakan yang bisa dihindari oleh konsumen.
d. Care
Dettol peduli akan keselamatan konsumennya sehingga perusahaan tidak segan
untuk memberikan klarifikasi dan cepat tanggap dalam menangani isu yang
beredar. Padahal bisa saja Dettol memanfaatkan keadaan dengan menyatakan
bahwa produknya secara uji klinis bisa melindungi dari Covid-19. Namun, Dettol
memilih untuk memberikan penjelasan yang mana tindakan ini mungkin bisa
menurunkan penjualan.
Hasil riset yang dilakukan pada kelompok kami, pada kemasan baru dengan
model pump, Dettol telah menghilangkan tulisan coronavirus. Dettol juga
menambahkan peringatan dengan tulisan yang lebih jelas terkait bahaya jika
produk tertelan. Hal ini menjadi bukti kepedulian Dettol akan keselamatan
konsumen dan mencegah misleading content.

Lampiran:
Dettol botol pump yang dijual di minimarket pada 5 Mei 2021.

Pada bagian depan botol sudah tidak


ditemukan tulisan Coronavirus.
Pada bagian belakang peringatan ditulis sebanyak 2 kali dengan penjelasan larangan
mengonsumsi produk.

Sedangkan pada botol antiseptik yang menjadi perbincangan terdapat penjelasan bahwa Dettol
dapat membasmi coronavirus, tidak ada peringatan bahaya jika tertelan, dan cara penggunaan.
Sumber:

Beredar Foto Label Cairan Antiseptik Keluaran 2016 Sudah Bisa Basmi Virus Corona, Produsen
Buka Suara. Tersedia di
https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-01337047/beredar-foto-label-cairan-antiseptik-k
eluaran-2016-sudah-bisa-basmi-virus-corona-produsen-buka-suara diakses pada 2 Mei 2021.

Info Coronavirus. Tersedia di https://www.dettol.co.id/info-coronavirus/ diakses pada 2 Mei


2021.

Disinformasi Dettol Antiseptik Bisa Membunuh Virus Corona yang Muncul di Wuhan. Tersedia
di
https://kominfo.go.id/content/detail/24160/disinformasi-dettol-antiseptik-bisa-membunuh-virus-c
orona-yang-muncul-di-wuhan/0/laporan_isu_hoaks diakses pada 2 Mei 2021.

Viral Ajakan Minum Dettol untuk Bunuh Virus Corona, Pihak Perusahaan Langsung Buru-buru
Keluarkan Pernyataan, Tulisan di Balik Botol Produk Ternyata Jadi Pemicunya. Terdapat di
https://hot.grid.id/read/182068130/viral-ajakan-minum-dettol-untuk-bunuh-virus-corona-pihak-p
erusahaan-langsung-buru-buru-keluarkan-pernyataan-tulisan-di-balik-botol-produk-ternyata-jadi-
pemicunya?page=all diakses pada 5 Mei 2021.