Anda di halaman 1dari 118

TESIS

HUBUNGAN MOTIVASI DAN BUDAYA


KESELAMATAN PASIENDENGAN PERILAKU
PENILAIANRISIKO JATUH LANSIA PADA
PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP
RSUP SANGLAH DENPASAR

K. ANIS PARAMITA

PROGRAM MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018
TESIS

HUBUNGAN MOTIVASI DAN BUDAYA


KESELAMATAN PASIENDENGAN
PERILAKUPENILAIANRISIKOJATUH LANSIA
PADA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP
RSUP SANGLAH DENPASAR

K. ANIS PARAMITA
NIM 1682111035

PROGRAM MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018

i
TESIS

HUBUNGAN MOTIVASI DAN BUDAYA


KESELAMATAN PASIENDENGAN PERILAKU
PENILAIANRISIKO JATUH LANSIA PADA
PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP
RSUP SANGLAH DENPASAR

Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister pada Program Magister,


Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana

K. ANIS PARAMITA
NIM 1682111035

PROGRAM MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018

ii
Lembar Persetujuan

USULAN PENELITIAN TESIS INI TELAH DISETUJUI

PADA TANGGAL

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. dr. RA Tuty Kuswardhani, Sp.PD, K-Ger. dr. Ni Made Sri Nopiyani, MPH.
FINASIM, M.Kes.
NIP. 195911041989032004 NIP. 198311042008012005

Mengetahui
Koordinator Program Studi Magister
Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana

Dr. Pande Putu Januraga, M.Kes.,DrPH


NIP. 197901102003121001

iii
Tesis Ini Telah Diuji dan Dinilai
Oleh Panitia Penguji pada Program Pascasarjana
Universitas Udayana
pada Tanggal 15 Januari 2019

Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana


No:
Tanggal

Panitian Penguji Tesis adalah


Ketua : Dr. dr. RA Tuty Kuswardhani, Sp.PD, K-Ger.FINASIM,
M.Kes.
Anggota :
1. dr. Ni Made Sri Nopiyani, MPH
2. Prof. dr. D.N. Wirawan, MPH.
3. Dr. drh. I Made Subrata, M.Erg
4. dr. I Made Ady Wirawan, MPH., PhD.

iv
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Nama : K. Anis Paramita


Nim : 1682111035
Progrma Studi : Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Judul Tesis : Hubungan Motivasi dan Budaya Keselamatan Pasiendengan
Perilaku Penilaian Risiko Jatuh Lansia pada Perawat di
Ruang Rawat Inap RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2018.

Dengan ini menyatakan bahwa tesis ini bebas plagiat. Apabila dikemudian hari
terbukti plagiat, maka saya akan bersedia menerima sanksi sesuai peraturan
Mendiknas RI Nomor: 17 Tahun 2010 dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Denpasar, 2018

K. Anis Paramita
NIM. 1682111035

v
KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMA KASIH

Kejadian pasien jatuh dapat menimbulkan kematian, tidak hanya itu namun juga
dapat berdampak terhadap rumah sakit karena dapat memperpanjang waktu rawat.
Lansia mempunyai kemungkinan jatuh lebih tinggi karena pada lansia sudah
terjadi gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekakuan
sendi. Sudah banyak yang dilakukan oleh rumah sakit untuk mengatasi masalah
pasien jatuh. Salah satunya adalah dengan mengevaluasi risiko jatuh dan langsung
bertindak pada pasien yang mempunyai risiko jatuh yang tinggi. Hal tersebut bisa
dilakukan dengan cara melaporkan bahwa pasien mempunyai potensi risiko jatuh
setelah dilakukan pengkajian dan mengisi form risiko jatuh sejak awal pasien
masuk ruang rawat inap. Penilaian risiko jatuh merupakan hal yang sangat penting
dalam menerapkan keselamatan pasiendi rumah sakit karena dapat menurunkan
angka jatuh pada pasien dan dapat meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
Dalam penilaian risiko jatuh pada pasien peran perawat sangat diperlukan karena
perawat akan merawat pasien selama 24 jam. Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui hubungan motivasi perawat dan budaya keselamatan pasienterhadap
penilaian risiko jatuh pada lansia.
Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak akan bisa berjalan tanpa adanya
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan baik ini dengan rasa
hormat dan ketulusan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh
pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan dalam proses penulisan
tesis ini. Kepada dr. Pande Putu Januraga, M.Kes.DrPH selaku Koordinator
Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana yang
selalu memperhatikan dan membimbingdalam masa perkuliahan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. dr. Tuty Kuswardhani, Sp.PD.
K-Ger, Finasim, M.Kes sebagai pembimbing I dan dr. Ni Made Sri Nopiyani,
MPH sebagai pembimbing II yang selalu meluangkan waktu untuk membimbing
sehingga proposal tesis ini dapat diselesaikan. Ucapan terima kasih penulis
sampaikan kepada Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. A.A Raka Sudewi,

vi
Sp.S (K) dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, dr. I Ketut
Suyasa, Sp.B. Sp.OT (K) atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada
penulis untuk mengikuti pendidikan Magister di Universitas Udayana. Terima
kasih penulis ucapkan kepada seluruh dosen dan staf karyawan Program Studi
Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat atas bimbingan dan dukungan selama masa
pendidikan. Kepada pihak rumah sakit terkait peneliti ucapkan terima kasih
karena telah berpartisipasi dalam penelitian ini.
Sebagai penghujung kata, penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan
keluarga dan teman-teman MIKM angkatan delapan atas motivasi yang diberikan
selama proses ini berlangsung.

Denpasar, 2018

Penulis

vii
ABSTRAK

HUBUNGAN MOTIVASI DAN BUDAYA KESELAMATAN PASIEN


DENGAN PERILAKU PENILAIAN RISIKO JATUH LANSIA PADA
PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP
RSUP SANGLAH DENPASAR

Perilaku perawat dalam mengisi penilaian risiko jatuh merupakan hal yang sangat
penting dalam menerapkan keselamatan pasiendi rumah sakit. Pasien lansia
mempunyai risiko jatuh lebih tinggi sehingga, hal tersebut dapat menurunkan
angka jatuh pada pasien dan dapat meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang dilaksanakan pada
bulan Juli –Agustus 2018. Sebanyak 106 responden terpilih dengan menggunakan
teknik systematic random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan survei
menggunakan kuesioner yang diisi oleh responden. Analisis data menggunakan
uji rank spearmandan uji ancova.
Perilaku penilaian risiko jatuh lansia mendapatkan skor rata-rata adalah 8,87
dengan nilai maksimum 11. Pada uji multivariat, motivasi mendapatkan nilai
signifikansi 0,000 yang berarti ada hubungan antara motivasi dengan perilaku
penilaian risiko jatuh lansia. Sedangkan variabel budaya keselamatan pasien tidak
berhubungan dengan perilaku penilaian risiko jatuh dengan nilai signifikansi
0,187.
Pihak rumah sakit perlu mengembangkan upaya meningkatkan perilaku perawat
dalam mengisi penilaian risiko jatuh pada lansia dengan memperhatikan motivasi
perawat dalam melakukan asuhan keperawatan.

Kata Kunci : Motivasi, Budaya Keselamatan Pasien, Perilaku Perawat.

viii
ABSTRACT

RELATIONSHIP BETWEEN MOTIVATION AND SAFETY CULTURE


OF PATIENTS WITH RISK ASSESSMENT BEHAVIOR OF ELDERLY IN
NURSES IN HOSPITALS
SANGLAH HOSPITAL DENPASAR

The behavior of nurses in filling in the risk assessment of falls is very important in
implementing patient safety in hospitals. Elderly patients have a higher risk of
falling so that it can reduce the number of falls in patients and can improve the
quality of hospital services.
       This study uses a cross sectional design that was carried out in July-August
2018. A total of 106 respondents were selected using systematic random sampling
technique. Data collection was carried out by survey using a questionnaire filled
by respondents. Data analysis used rank spearman test and ancova test.
       Fall risk assessment behavior of the elderly get an average score of 8.87 with
a maximum value of 11. In the multivariate test, motivation gets a significance
value of 0.000, which means there is a relationship between motivation and
behavior of risk assessment of falling elderly. While the variable of patient safety
culture is not related to risk assessment behavior falling with a significance value
of 0.187.
       The hospital needs to develop efforts to improve the behavior of nurses in
filling the risk assessment of falls in the elderly by paying attention to the
motivation of nurses in performing nursing care.

Keywords: Motivation, Patient SafetyCulture, Nurse Behavior

ix
DAFTAR ISI

Halaman
SAMPUL DEPAN ...................................................................................... i

SAMPUL DALAM ..................................................................................... ii

PERSYARATAN GELAR MAGISTER..................................................... iii

LEMBAR PERSETUJUAN........................................................................ iv

PENETAPAN PANITIA PENGUJI............................................................ v

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT............................................ vi

KATA PENGANTAR ................................................................................ vii

ABSTRAK................................................................................................... ix

ABSTRACT................................................................................................. x

DAFTAR ISI .............................................................................................. xi

DAFTARTABEL .......................................................................................xv

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................xvi

DAFTAR SINGKATAN.............................................................................xvii

DAFTAR LAMPIRAN................................................................................xix

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .....................................................................7

1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................7

1.3.1 Tujuan Khusus................................................................. 7

1.3.2 Tujuan Umum.................................................................. 7

1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................... 8

x
1.4.1 Manfaat Teoritis............................................................... 8

1.4.2 Manfaat Praktis ............................................................... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teoritis ........................................................................... 9

2.1.1 Perilaku Penilaian Risiko Jatuh pada Lansia .................. 9

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pengurangan


Risiko Jatuh pada Lansia......................................................11

2.2 Penelitian Terdahulu..................................................................14

2.2.1 Tingkat Budaya Keselamatan Pasien.............................. 14

2.2.2 Sikap dan Motivasi Perawat terhadap Budaya


KeselamatanPasien......................................................... 16

2.2.3 Budaya Keselamatan Pasien terhadap Risiko Pasien


Jatuh................................................................................ 18

BAB III KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Konsep Penelitian ...................................................................... 21

3.2 Hipotesis Penelitian ................................................................... 21

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan, Lokasi dan Waktu Penelitian ................................. 23

4.1.1 Rancangan Penelitian ...................................................... 23

4.1.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................... 23

4.2 Populasi, Sampel dan Kerangka Sampel ................................... 23

4.2.1 Populasi Penelitian .......................................................... 23

4.2.2 Sampel Penelitian ............................................................ 23

4.2.3 Besar Sampel ................................................................... 24

4.2.4 Teknik Pengambilan Sampel............................................25

xi
4.3 Penentuan Sumber Data, Instrumen Penelitian dan Cara
Pengumpulan Data ..........................................................................26

4.3.1 Penentuan Sumber Data .................................................. 26

4.3.2 Instrumen Penelitian......................................................... 26

4.3.3 Cara Pengumpulan Data................................................... 27

4.4 Variabel Penelitian .................................................................... 28

4.4.1 Identifikasi Variabel......................................................... 28

4.4.2 Definisi Operasional......................................................... 28

4.5 Analisa Data .............................................................................. 31

4.6 Etika Penelitian ......................................................................... 34

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik Responden Penelitian .......................................... 36

5.2Distribusi Motivasi Perawat ....................................................... 37

5.3 Distribusi Budaya Keselamatan Pasien ..................................... 39

5.4Proporsi Perilaku Perawat dalam Penilaian Risiko Jatuh

Lansia di RSUP Sanglah Denpasar ................................................. 42

5.5 Hasil Uji Normalitas Data ......................................................... 43

5.6Korelasi Spearman antara Motivasi, Budaya Keselamatan


Pasien, Umur, dan Lama bekerja dengan Perilaku Penilaian
Risiko Jatuh ...............................................................................44

5.7 Analisis Multivariat Hubungan Motivasi dan Budaya


Keselamatan Pasien dengan Perilaku Risiko Jatuh ......................... 47

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Hubungan Motivasi Perawat terhadap Perilaku Risiko Jatuh


Lansia di Ruang Rawat Inap........................................................... 48
6.2 Hubungan Variabel Luaran dengan Perilaku Penilaian Risiko Jatuh
Lansia oleh Perawat.................................................................. 51

xii
6.3 Keterbatasan Penelitian ............................................................. 53

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan ............................................................................... 55

7.2 Saran .......................................................................................... 55

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

xiii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Definisi Operasional.................................................................... 28

Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Responden Perawat di RSUP Sanglah. . 36

Tabel 5.2 Statistik Distribusi Karakteristik Responden Perawat di


RSUP Sanglah ........................................................................... 37

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Motivasi Perawat........................................ 37

Tabel 5.2 Mean, Median, Minimum, Maksimum, dan Standar Deviasi


Motivasi Perawat .......................................................................... 39

Tabel 5.5 Distribusi Jawaban Kuesioner Budaya Keselamatan Pasien ...... 39

Tabel 5.6Mean, Median, Minimum, Maksimum, dan Standar DeviasiBudaya


Keselamatan Pasien .................................................................... 42

Tabel 5.7Proporsi Responden yang Mengisi Item Penilaian Risiko Jatuh. . 42

Tabel 5.8Mean, Median, Minimum, Maksimum, dan Standar Deviasi


Perilaku Penilaian Risiko Jatuh Lansia....................................... 43

Tabel 5.9Hasil Uji Normalitas Data ........................................................... 44

Tabel 5.10Koefisien Korelasi Motivasi dan Budaya Keselamatan Pasien


terhadap Perilaku Penilaian Risiko Jatuh Lansia......................... 45

Tabel 5.11Mean, Standar Deviasi, dan Interval KepercayaanMotivasi


dan Budaya Keselamatan Pasien terhadap Perilaku Penilaian
RisikoJatuh Lansia....................................................................... 46

Tabel 5.12 Hasil Uji Analisis Multivariat Motivasi, Budaya Keselamatan


Pasien dan Lama Kerja terhadap Perilaku Penilaian Risiko
Jatuh Lansia.............................................................................. 47

xiv
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 3.1. Konsep penelitian .................................................................. 21

xv
DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN

AHRQ : Agency for Healthcare Research and Quality

AVLOS : Average Length of Stay

BAB : Buang Air Besar

BAK : Buang Air Kecil

BOR : Bed Occupancy Ratio

IKP : Insiden Keselamatan Pasien

IPSG : International Keselamatan pasien Goals

JCI : Joint Commission International

KNC : Kejadian Nyaris Cedera

KTC : Kejadian Tidak Cedera

KTD : Kejadian Tidak Diharapkan

KPC : Kejadian Potensi Cedera

NPSA : National Keselamatan pasien Agency

PNBP : Pendapatan Negara Bukan Pajak

PNS : Pegawai Negeri Sipil

PMK : Peraturan Menteri Kesehatan

RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat

SKP : Sasaran Keselamatan Pasien

SNARS : Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit

SPO : Standar Prosedur Operasional

TOI : Turn Over Interval

UPT : Unit Pelaksana Teknis

xvi
VIP : Very Important Person

xvii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar partisipasi penelitian

Lampiran 2. Lembar persetujuan menjadi responden

Lampiran 3. Kuesioner penelitian

Lampiran 4. Check list kelengkapan pengisian form pengkajian risiko jatuh

Lampiran 5. Jadwal pelaksanaan penelitian

Lampiran 6. Hasil Uji SPSS

Lampiran 7. Surat Keterangan Kelayakan Etik

Lampiran 8. Surat Ijin Penelitian Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Provinsi

Bali

Lampiran 9. Surat Ijin Penelitian RSUP Sanglah Denpasar

xviii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Prioritas utama yang harus dilaksanakan oleh rumah sakit adalah keselamatan

pasien, karena dapat memberikan perlindungan kepada pasien dari kejadian yang

tidak diharapkan. Kejadian ini dapat terjadi pada saat petugas kesehatan

memberikan pelayanan kesehatan melalui program di rumah sakit. Hal ini sangat

erat kaitannya terhadap mutu pelayanan rumah sakit tersebut (Departemen

Kesehatan, 2008).

Insiden keselamatan pasien (IKP) merupakan hal yang tidak sengaja dilakukan

dan suatu keadaan berakibat atau mempunyai potensi cedera yang dapat dicegah

pada pasien. Insiden tersebut antara lainkejadian tidak diharapkan (KTD) yaitu

suatu kejadian yang mengakibatkan seorang cedera dan hal tersebut tidak

diharapkan terjadi pada pasien karena tindakan (commission) atau karena tidak

melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan (ommision), kejadian nyaris

cedera (KNC) yaitu terjadi insiden tetapi belum terpapar ke pasien, kejadian tidak

cedera (KTC) yaitu kejadian yang sudah terpapar ke pasien namun tidak

mengakibatkan cedera pada pasien, dan kejadian potensi cedera (KPC) yaitu

keadaan yang sangat memiliki potensi untuk menimbulkan cedera tetapi belum

terjadi insiden(Kementerian Kesehatan, 2011).

Laporan Institute of Medicine di Amerika Serikat dengan judul “To err is

human: building a safer health system” menyebutkan 58%dari 98.000

1
kesalahan yang menyebabkan pasien meninggal dapat diantisipasi. Data tersebut

juga menjelaskan di rumah sakit Utah dan Colorado didapatkan kejadian tidak

diharapkan (KTD/ adverse event) sebanyak 2,9%terdapat 6,6%meninggal dunia

dan di New York sebanyak 3,7%dengan angka kematian 13,6%. Angka kematian

pada ruang rawat inap di Amerika Serikat yaitu 33,6 jiwa pada tahun 1997 dan di

New York sekitar 44.000 sampai 98.000 (Institute of Medicine, 1999).

Dalam memberikan perhatian keselamatan pada pasien, pemerintah

menerbitkan peraturan tentang keselamatan pasien di rumah sakit yang tertuang

dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 1691 tahun 2011. Terdapat

enam sasaran keselamatan pasien (SKP) yang terdapat dalam peraturan tersebut,

Salah satu sasaran keselamatan pasien yang terdapat didalamnya adalah

pengurangan risiko pasien jatuh. Pasien dengan risiko jatuh masih cukup tinggi

seperti yang dikemukakan oleh Schwendimann di Swiss ada pasien yang

mengalami cedera ringan sebanyak 30,1%dan 51%cedera berat yang dapat

menambah waktu rawat (Schwendimann, 2008).

National Patient Safety Agency (NPSA) di Inggrismelaporkan kejadian jatuh

lebih dari 200.000 yang dirawat selama 12 bulan.Pasien akan mengalami cedera

patah tulang panggul sebelum mengalami kematian yang sudah terjadi pada 26

kasus(NPSA, 2011).Meningkatnya kejadian jatuh pada pasien akan merugikan

rumah sakit dan pasien. Perawatan yang lama (length of stay/LOS) merupakan

dampak dari cedera ringan hingga terjadi kematian.

Rumah sakit memberikan pelayanan yang paripurna kepada pasien sejak baru

datang, melakukan pendaftaran, periksa dan hingga pasien pulang, namun saat

2
pasien berada di rumah sakit terkadang masih belum diperhatikan risiko yang

dapat terjadi pada pasien. Salah satu risiko tersebut adalah risiko jatuh (Sanjoto,

2014). Rumah sakit sudah melakukan upaya untuk mengatasi kejadian pasien

jatuh yang meliputi evaluasi risiko jatuh dan langsung bertindak agar risiko jatuh

dapat berkurang. Dalam pelayanan kesehatan hal tersebut dilakukan dengan cara

menuliskan atau melaporkan bahwa pasien mempunyai risiko jatuh dengan

mengisi lembar catatan pasien risiko jatuh(Ganz.,et al. 2013).

Pada usia lanjut sering mengalami jatuh, hal tersebut terjadi karena berbagai

faktor baik faktor intrinsik maupun ekstrinsik. Faktor intrinsik meliputi gangguan

gaya berjalan, kelemahan otot, ekstremitas bawah, kekakuan sendi. Sedangkan

faktor ekstrinsik adalah lantai licin, tersandung benda, penglihatan kurang yang

diakibatkan oleh cahaya. Angka kejadian jatuh pada lansia di Panti Wreda adalah

2-3 kali lebih tinggi dari pada kelompok lansia dwelling yaitu sekitar 1,7 kali jatuh

per tempat tidur per tahun (Ferdinan, 2011).

Salah satu rumah sakit negeri yang berada di kota Denpasar adalah Rumah

Sakit Umum Pusat (RSUP) tipe A pendidikan sesuai dengan Permenkes 1636

tahun 2005 dan sebagai rumah sakit rujukan di wilayah Bali, NTB, NTT. Hal

tersebut membuat RSUP Sanglah Denpasar selalu meningkatkan upaya dalam

peningkatan mutu pelayanan keperawatan salah satunya adalah keselamatan

pasien. Insiden terkait dengan keselamatan pasien dapat dilihat dari penerapan

budaya keselamatan pasien. Di rumah sakit tingkat insiden keselamatan yang

diharapkan adalah 0%(zero defect). RSUP Sanglah memiliki tempat tidur

sebanyak 758 dengan Bed Occupancy Ratio (BOR) pada bulan September 2017

3
menunjukan angka paling tinggi diantara bulan lainnya yaitu 97,66%. Sedangkan

rentang BOR sesuai Depkes yaitu 60-85%(Depkes, 2005). Ini menunjukan bahwa

jumlah pasien di RSUP Sanglah selalu banyak dan tempat tidur selalu terisi

penuh. Untuk rata-rata lamanya dirawat yang disebut Average Length of Stay

(AVLOS) pada bulan September 2017 yaitu 6,39 hari. Secara umum nilai AVLOS

yaitu 6-9 hari (Depkes, 2005). Rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati

dari telah diisi ke saat terisi berikutnya disebut Turn Over Interval (TOI) menurut

Depkes yaitu 1-3 hari (Depkes, 2005).

Tim keselamatan pasien melaporkan kejadian pada bulan Januari sampai

Desember 2017 sebagai berikut,kondisi potensial cedera (KPC) sebanyak 54

insiden, kejadian nyaris cedera (KNC) sebanyak 846 insiden, kejadian tidak

cedera (KTC) sebanyak 83 insiden, kejadian tidak diharapkan (KTD) sebanyak

213 insiden. Dilaporkan juga angka kejadian pasien jatuh sebanyak 11 pasien,

pasien risiko jatuh yang tidak menggunakan gelang kuning sebanyak 33 pasien,

salah penulisan rekam medis oleh perawat sebanyak 3 rekam medis. Pada usia 30

sampai dengan 65 tahun terjadi insiden sebanyak 681 pasien sedangkan usia diatas

65 tahun sebanyak 124 pasien(RSUP Sanglah Denpasar, 2017).

Data yang didapat ada beberapa kejadian pasien jatuh khususnya pada lansia

di beberapa ruangan rawat inap. Masih ada pasien yang belum menggunakan

gelang risiko jatuh. Dilihat dari beberapa catatan keperawatan pada form risiko

jatuh masih ada yang belum lengkap diisi oleh perawat. Sehingga pasien masih

mempunyai risiko jatuh khususnya pada lansia.

4
Pada standar nasional akreditasi rumah sakit (SNARS) dijelaskan bahwa

pasien pada pengkajian awal memiliki risiko jatuh rendah akan berubah menjadi

berisiko tinggi. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, seperti kondisi pasien,

gangguan fungsional pasien (gangguan keseimbangan dan gangguan penglihatan),

situasi lingkungan rumah sakit, dan konsumsi obat tertentu. Sehingga rumah sakit

bertanggung jawab dengan melakukan upaya mengurangi risiko pasien jatuh.

Rumah sakit menjalankan program pengurangan risiko jatuh dengan menetapkan

kebijakan dan prosedur yang sesuai dengan lingkungan dan fasilitas rumah

sakit(Komisi Akreditasi Rumah Sakit, 2018).

International Joint Commission International (JCI), sangat memperhatikan

secara khusus kejadian jatuh pada pasien di rumah sakit. Pada section II, chapter I

yaitu International Keselamatan pasien Goals (IPSG) yaitu terjadi cedera karena

kasus pasien jatuh terbanyak pada pasien rawat inap. Sehingga perlu dilakukan

penilaian risiko jatuh oleh pihak rumah sakit danmelakukan tindakan agar dapat

mengurangi kejadian jatuh. Dijelaskan dalam standar JCI sasaran ke 6 untuk

mengurangi kejadian pasien jatuh(JCI, 2013).

Motivasi perawat dan penerapan budaya keselamatan pasien (patient safety)

adalah salah satu langkah untuk meningkatkan pencapaian keselamatan pasien.

Budaya keselamatan pasien, nilai keyakinan, dan perilaku setiap orang di dalam

organisasi tentang keselamatan dan mengutamakan keselamatan pasien. Budaya

keselamatan pasienterdiri dari lima elemen yaitu terbuka (open), keadilan (just),

melaporkan (reporting), pembelajaran (learning), memberikan informasi

(informed) (Bowie, 2010).

5
Penelitian yang dilakukan oleh Pujilestari menunjukan bahwa, ada 37 perawat

(49,3%) dikategorikan dalam budaya keselamatan pasienrendah, 38 perawat

(50,7%) melaksanakan pelayanan yang tinggi. Berarti semakin tinggi tingkat

budaya keselamatan pasienyang dilakukan perawat maka berdampak pada mutu

pelayanan dan dapat menurunkan angka KTD di rumah sakit (Pujilestari, Maidin

and Anggraeni, 2013).

Salah satu upaya untuk menanggulangi risiko jatuh adalah melakukan

pengkajian dari awal pasien masuk rumah sakit dan melakukan pengkajian

berkala. Pengukuran untuk mengetahui risiko jatuh pasien dengan menggunakan

skala jatuh yaitu dengan Morse Falls Scale (MFS) merupakan instrumen untuk

mengidentifikasi pasien yang mempunyai risiko jatuh (Oktaviani, S and Rufaida,

2015). Catatan tersebut diisi oleh perawat di setiap awal pasien masuk rawat inap.

Penerapan budaya keselamatan pasienyang dilakukan perawat mencerminkan

kualitas kerja yang didukung oleh motivasi perawat. Motivasi yang baik dapat

mengaplikasikan budaya keselamatan pasiendengan baik. Seperti penelitian yang

dilakukan oleh Nivalinda yaitu ada pengaruh motivasi perawat terhadap

penerapan budaya keselamatan pasien sebesar 10,3%, ada pengaruh gaya

kepemimpinan kepala ruang terhadap penerapan budaya keselamatan pasien

sebesar 36,8%. Menunjukan bahwa motivasi perawat dan gaya kepemimpinan

kepala ruang memberikan pengaruh secara bersama-sama terhadap penerapan

budaya keselamatan pasien yaitu 39,2%(Nivalinda, 2013).

6
Berhubungan dengan akreditasi rumah sakit tentang pengurangan risiko jatuh,

maka peneliti ingin mengetahui hubungan motivasi perawat dan budaya

keselamatan pasienterhadap perilaku penilaian risiko jatuh lansia.

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian di atas, maka penelitian yang peneliti rumuskan adalah:

1. Apakah ada hubungan antara motivasi perawat denganperilaku penilaian risiko

jatuh pada lansia?

2. Apakah ada hubungan antara budaya keselamatan pasiendenganperilaku

penilaian risiko jatuh pada lansia?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penilaian

risiko jatuh lansia pada perawat.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui hubungan motivasi dengan perilaku penilaian risiko jatuh

lansia pada perawat.

2. Untuk mengetahui hubungan budaya keselamatan pasiendengan perilaku

penilaian risiko jatuh lansia pada perawat.

7
1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Membuka khasanah ilmu pengetahuan dibidang ilmu keperawatan tentang

peningkatan pemahaman hubungan motivasi dan budaya keselamatan pasien.

2. Sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.

1.4.2 Manfaat Praktis

Dapat menjadi masukan bagi RSUP Sanglah Denpasar untuk meningkatkan

kualitas layanan terutama terkait dengan pengkajian dan penilaian risiko jatuh

pada lansia.

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teoritis

2.1.1 Perilaku Penilaian Risiko Jatuh pada Lansia

Keselamatan pasien di rumah sakit adalah sistem dimana rumah sakit membuat

asuhan pasien lebih aman yang meliputi assesment risiko, identifikasi, dan

pengelolaan hal yang berkaitan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis

insiden. Kemauan untuk belajar dari insiden dan tindak lanjut serta pelaksanaan

solusi untuk mengurangi terjadinya risiko dan mencegah terjadinya karena

kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan

yang seharusnya (Departemen Kesehatan, 2011).

Kinerja tenaga kesehatan dipengaruhi oleh faktor individu yaitu motivasi dan

kepuasan kerja (Dieleman& Harnmeijer, 2006). Motivasi dapat mendorong dan

memberikan kekuatan pada seseorang untuk melakukan sesuatu. Dorongan ini

dapat memberikan rasa semangat dan tingkah laku pada individu kearah yang

lebih baik. Faktor yang mempengaruhi motivasi adalah faktor intrinsik dan faktor

ekstrinsik (Ridwan, 2013). Faktor intrinsik dapat mempengaruhi kinerja yaitu

tanggung jawab terhadap pekerjaan, pengakuan dari orang lain, prestasi. Faktor

ekstrinsik yang dapat mempengaruhi kinerja salah satunya adalah lingkungan

kerja (Sato et al., 2017).

Sasaran keselamatan pasien merupakan syarat yang harus diterapkan di

seluruh pelayanan kesehatan yang sudah diakreditasi oleh komisi akreditasi rumah

9
10

sakit. Menurut Joint Commission International (2013) terdapat enam sasaran

keselamatan pasien yaitu:

1. Indentifikasi pasien yang benar

2. Meningkatkan komunikasi yang efektif

3. Meningkatkan keamanan obat yang perlu diwaspadai

4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi

5. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

6. Pengurangan risiko pasien jatuh.

Salah satu cara pengkajian dalam mengukur risiko jatuh dengan menggunakan

Morse Fall Scale (Morse, 2009). Dengan menggunakan skala morse dapat melihat

derajat risiko jatuh pada lansia dengan menilai nol sampai tujuh risiko jatuh

rendah, delapan sampai 13 risiko jatuh tinggi, dan ≥14 risiko sangat tinggi.

Penilaian wajib ditulis pada kolom initial assesmentatau pengkajian awal.

Penilaian ini terdiri dari sembilan komponen yaitu usia (skor nol, satu, dan dua),

defisit sensori (skor nol, satu, dua, dan tiga), aktivitas (skor nol, dua, dan tiga),

riwayat jatuh (skor nol, satu, dua, dan tiga), kognisi (skor nol, dua, tiga),

pengobatan dan penggunaan alat kesehatan (skor satu dan dua), mobilitas (skor

nol, satu, dua, tiga, empat), pola BAB/BAK (skor nol, satu, dua, tiga), dan

komorbiditas (skor dua dan tiga). Penilaian risiko jatuh pada lansia dilakukan oleh

perawat sejak pertama pasien masuk ruang rawat inap. Tindakan perawat

pelaksana menerapkan budaya keselamatan pasien yang mencerminkan dimensi

budaya keselamatan pasien yaitu keterbukaan (open) dan melaporkan saat terjadi

insiden keselamatan pasien, keadilan antar perawat disaat terjadi


11

insidenkeselamatan pasien dan dapat menjadi pembelajaran terhadap suatu

kesalahan. Perawat yang secara aktif dan konstan menyadari potensial terjadinya

kesalahan dan dapat mengindentifikasi serta mengenali kejadian yang sudah

terjadi, dan dapat memperbaiki kesalahan tersebut merupakan penerapan budaya

keselamatan pasien.

2.1.2Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pengurangan Risiko Jatuh

pada Lansia

Faktor yang dapat mempengaruhi kejadian jatuh khususnya pada lansia adalah

faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik berupa faktor yang berasal

dari diri lansia seperti kondisi fisik, penurunan atau perubahan pendengaran,

neuromuskuler, penurunan visus, gaya berjalan karena proses penuaan. Pada

faktor ekstrinsik dapat berupa lingkungan sekitarnya yang kurang mendukung,

alat bantu jalan, penanda risiko jatuh.

Menurut Morse (2009) ada usaha untuk mencegah kejadian jatuh pada lansia

dengan mengatasi penyebab jatuh sesuai dengan tipe jatuhnya. Tipe jatuh antara

lain adalah jatuh kecelakaan (accidenet fall), jatuh fisiologis teratasi (anticipated

physiological falls), dan jatuh fisiologis tidak teratasi (un-anticipated

physiological fall). Jatuh kecelakaan misalnya jatuh karena lingkungan kurang

aman seperti lantai licin, tidak menggunakan tanda-tanda peringatan, dan tidak

ada alrm jika keadaan darurat. Jatuh fisiologis teratasi yaitu risiko jatuh yang

dapat diprediksi menggunakan skala morse (Morse Fall Scale). Jatuh fisiologis

tidak dapat teratasi disebabkan oleh suatu proses penyakit yang tidak dapat

diprediksi (Morse, 2009).


12

Menurut teori Behavior Based Safety yang dikemukakan oleh Geller (2001)

dalam buku The Psychology of Safety Handbook menyebutkan bahwa untuk

meningkatkan keselamatan kerja baik dari perspektif reaktif maupun proaktif

menggunakan pendekatan behavior based safety. Dalam teori ini dapat

dikelompokan dalam at risk behavior dan safe behavior. Terjadinya kerugian

ataupun kesuksesan suatu pekerjaan dapat dilihat dari at risk behavior dan safe

behavior. Dalam teori ini terdapat tiga domain yang disebut dengan total safety

culture yaitu faktor lingkungan, faktor manusia, dan faktor perilaku. Penjelasan

terkait dengan motivasi dan budaya keselamatan pasienpada perawat

menggunakan teori tersebut diatas sebagai berikut.

1. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan merupakan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi

motivasi yang dapat mendukung perawat dalam mengerjakan tugasnya

meliputi prosedur kerja dan formulir dalam penilaian risiko jatuh. Motivasi

perawat juga dipengaruhi oleh situasi lingkungan tempat bekerja. Salah satunya

untuk memberikan keselamatan kepada pasien tentunya juga didukung oleh

alat dan sarana yang dapat mendukung pelaksanaan kerja seperti tempat tidur

yang isi penyangga, gelang yang digunakan pasien untuk menandai pasien

mempunyai risiko jatuh (Menteri Kesehatan, 2017). Dalam penelitian ini, yang

terkait dengan faktor lingkungan adalah budaya keselamatan pasien.

2. Faktor manusia

Faktor manusia yaitu faktor internal yang dapat mempengaruhi motivasi

individu. Faktor internal meliputi sikap terhadap pekerjaan, bakat, minat,


13

kepuasan dan pengalaman (Wahjosumidjo, 2001). Dalam penelitian ini,

variabel yang terkait dengan faktor manusia adalah motivasi perawat dalam

membuat laporan penilaian risiko jatuh lansia.

Penelitian yang dilakukan oleh Mangole (2015) di Manado tentang

hubungan perilaku perawat dengan pendokumentasian asuhan keperawatan

mendapatkan hasil, perilaku yang baik dengan pendokumentasian lengkap

sebanyak 20 orang (66%) dan responden yang memiliki perilaku baik dengan

pendokumentasian tidak lengkap sebanyak 10 orang (33,3%), perilaku kurang

baik dengan pendokumentasian lengkap sebanyak 2 orang (20%) dan

pendokumetasian yang tidak lengkap sebanyak 8 orang (80%). Dalam

penelitian tersebut menggunakan 40 responden dengan desain deskriptif

analitik melalui pendekatan cross sectional. Uji statistik yang didapatkan

adalah nilai p= 0,025 dan OR= 8,000. Penelitian tersebut menunjukkan ada

hubungan signifikan perilaku perawat dengan pendokumentasian asuhan

keperawatan(Mangole, Rompas and Inmanto, 2015).

3. Faktor Perilaku

Pada penelitian ini yang termasuk dalam faktor perilaku adalah motivasi

perawat dan budaya keselamatan pasien. Faktor ini dapat melihat bagaimana

perawat melakukan tindakan agar dapat mengurangi risiko jatuh pada pasien,

khususnya pada lansia. Aspek yang dapat mempengaruhi motivasi antara lain

adalah dorongan internal dalam diri perawat dan eksternal yaitu dari

lingkungan, sedangkan aspek pada budaya keselamatan pasienadalah perilaku

perawat untuk mencegah terjadinya jatuh pada pasien.


14

Ketiga faktor tersebut bersifat dinamis dan aktif karena jika terjadi perubahan

pada salah satu faktor tersebut maka akan mempengaruhi faktor yang lain. Faktor-

faktor tersebut saling berpengaruh satu sama lainnya.

2.2 Penelitian Terdahulu

2.2.1 Tingkat Budaya Keselamatan Pasien

Pada penelitian yang dilakukan oleh Pujilestari di Instalasi Rawat Inap RSUP DR.

Wahidin Sudirohusodo tentang gambaran budaya keselamatan merupakan

penelitian deskriptif kuantitatif. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana

perawat dalam menerapkan budaya keselamatan pasien.Teknik mengambil sampel

menggunakan proportionate stratified random samplingdengan jumlah perawat

sebanyak 75 orang. Hasilnya menunjukan 37 responden (49,3%) menunjukan

budaya keselamatan rendah dan 28 responden (50,7%) menunjukan budaya

keselamatan tinggi. Terdapat 23 perawat (62,2%) perawat memberikan pelayanan

yang kurang baik, dan 14 perawat (37,8%) memberikan pelayanan yang

baik(Pujilestari, Maidin and Anggraeni, 2013).

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Nur Syarianingsih Syam dengan

judul “Implementasi Budaya Keselamatan Pasien oleh Perawat di Rumah Sakit

Ibnu Sina Makasar” dengan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan

studi kasus dengan rancangan deskriptif.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui gambaran implementasi budaya keselamatan pasienoleh perawat.

Hasilnya didapatkan bahwa respon perawat pada 12 dimensi pembentuk budaya

keselamatan pasien tergolong positif (87,9%). Dimensi ekspektasi supervisor atau

manajer dan keselamatan pasien mendapatkan presentase paling tinggi yakni


15

(82,3%). Unit perinatologi dan endoskopi menunjukan respon positif yaitu 100%.

Respon negatif tertinggi adalah dimensi respon non punitive (respon tidak

menghukum) yaitu sebesar51,8%(Syam, 2017).

Diny melakukan penelitian di RS PKU Muhammadiyah Unit II Gamping dengan

judul analisis budaya keselamatan pasien dengan menggunakan pendekatan mixed

method research,metode kualitatif dengan studi kasus dan rancangan deskriptif

sedangkan metode kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional.

Responden sebanyak 76 perawat atau bidan yang berhubungan langsung dengan

pasien. Pengukurannya dengan kuesioner AHRQ (Agency for Healthcare

Reseacrh and Quality) dan data wawancara laporan insiden keselamatan pasien.

Hasil penelitian didapatkan bahwa budaya keselamatan pasien dikategorikan

cukup dengan nilai mean sebesar 74,09. Gap pada penilaian insiden keselamatan

pasien terbukti belum dilakukan dengan baik proses dari sistem

pendokumentasian laporan insiden dan evaluasi. Hambatan yang ditemukan

adalah jumlah jam kerja yang tinggi, kurangnya pelaksanaan program

keselamatan pasien pada proses tahapan analisis sebuah insiden, dukungan

manajemen yang masih kurang (Vellyana, 2015).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Rivai di RSUD Ajjappannge Sopeng

pada tahun 2015 tentang faktor yang berhubungan dengan implementasi

keselamatan pasien mendapatkan hasil pada variabel budaya keselamatan pasien

(p= 0,905) tidak memiliki hubungan dengan implementasi keselamatan pasien

oleh perawat pelaksana. Pada variabel lainnya yaitu kepemimpinan (p= 0,015),
16

komunikasi (p= 0,004) dan supervisi (p=0,000) menunjukkan ada hubungan

dengan implementasi keselamatan pasien oleh perawat(Rivai, 2016).

2.2.2 Sikap dan Motivasi Perawat terhadap Budaya Keselamatan Pasien

Penelitian yang dilakukan oleh Nivalindayang melihat pengaruh motivasi perawat

dan gaya kepemimpinan kepal ruang terhadap penerapan budaya keselamatan

pasien. Tujuannya adalah untuk melihat pengaruh motivasi perawat pelaksana di

RS Pemerintah di Semarang dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur

untuk 105 responden. Jenis penelitian adalah kuantitatif non eksperimen

menggunakan pendekatan cross sectional. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa

budaya keselamatan pasien dipengaruhi oleh motivasi perawat sebesar 10,3%, dan

budaya keselamatan pasien dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan kepala yaitu

36,8%. Motivasi perawat dan gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap budaya

keselamatan pasien sebesar 39,2%(Nivalinda, 2013).

Penelitian yang berjidul “Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat dengan

Pelaksanaan Keselamatan Pasien (Patient Safety) di Ruang Rawat Inap RSUD

Liun Kendage Tahuna” mendapatkan hasil ada hubungan pengetahuan dengan

pelaksanaan keselamatan pasien dengan nilai p=0,014 (α<0,05) dan sikap perawat

berhubungan dengan pelaksanaan keselamatan pasien dengan nilai p=0,000

(α<0,05). Didapatkan hasil bahwa pengetahuan dan sikap yang baik dimiliki oleh

perawat dalam melaksanakan keselamatan pasien 95%.Desain penelitian ini

survey analitik rancangan cross sectional dan pemilihan sampel dengan purposive

sampling sebanyak 65 responden(Hamel, 2013).


17

Pada penelitian yang berjudul “Pengaruh Budaya Patient Safety terhadap Sikap

Melaporkan Insiden pada Perawat di Instalansi Rawat Inap Rumah Sakit Tk. II

dr. Soepraoen” penelitian ini non eksperimental dengan tujuan deskriptif korelatif

menggunakan desain cross sectioal. Penelitian tersebut mendapatkan hasil secara

simultan budaya keselamatan pasien berpengaruh signifikan terhadap sikap

melaporkan insiden. Dari segi parsial pembelajaran organisasi dan peningkatan

berkelanjutan dan tidak menghukum atas suatu kesalahan tidak berpengaruh

signifikan terhadap sikap melaporkan insiden, sedangkan keterbukaan komunikasi

berpengaruh signifikan terhadap sikap melaporkan insiden. Kerja sama tim

berpengaruh dominan terhadap sikap melaporkan insiden (Anggreni, Ahsan and

Azzuhri, 2016).

Setelah melakukan penelitian dengan analisis budaya keselamatan pasienoleh

Wijaya dengan menggunakan mixed methods research yaitu metode

kuantitatifdengan cross sectional dan metode kualitatif dengan study kasus

dengan rancangan deskriptif yangmendapatkan hasil kategori cukup dengan nilai

mean atau median 73,9. Didapatkan juga gap laporan insiden keselamatan pasien

dengan tim keselamatan pasien dan masih ditemukan blaming culture di setiap

unit.Responden dalam penelitian ini adalah 61 perawat yang bertugas memberikan

pelayanan kepada pasien. Pengukuran budaya keselamatan pasiendengan

kuesionerAHRQ (Agency for Healthcare Research and Quality) terdapat 12

dimensi dan 42 item pertanyaan serta data untuk melakukan wawancara dan

laporan insiden keselamatan pasien dari tim keselamatan pasien di rumah sakit

(Suparman, Arlina and Mawros, 2010).


18

Pada penelitian yang dilakukan oleh Juliani pada tahun 2007 di RSU Pirngadi

Medan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data

menggunakan kuesioner terhadap perawat dan observasi langsung. Dari penelitian

tersebut mendapatkan hasil dengan uji regresi linier untuk prestasi didapatkan p

value= 0,128 menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh secara signifikan.

Pengakuan orang lain didapatkan p value = 0,589 tidak terdapat pengaruh secara

signifikan, pengakuan orang lain terhadap kinerja perawat pelaksana, tanggung

jawab di dapat p value= 0,000 menunjukkan terdapat pengaruh signifikan

terhadap kinerja perawat pelaksana. Peluang untuk maju didapat p.value = 0,004

terdapat pengaruh signifikan terhadap kinerja perawat, untuk kepuasan kerja

didapatkan p value= 0,000 dapat pengaruh signifikan terhadap kinerja perawat

pelaksana.

2.2.3 Budaya Keselamatan Pasien terhadap Risiko Pasien Jatuh

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Budiono tentang bagaimana

pelaksanaan program manajemen pasien dengan risiko jatuh yang diawali dengan

menganalisis akar masalah, penetapan pilihan jalan keluar dan melakukan uji

program. Hasilnya menunjukan kebanyakan perawat sudah melakukan screening,

pemasangan gelang identitas pada pasien yang berisiko jatuh, memberikan

informasi kepada pasien dan keluarganya tentang perawatan dan penanganan

pasien dengan risiko jatuh, dan melaporkan insiden, melaksanakan semua

prosedur yang dibarengi bersama supervisi dan monitoring agar terlaksana

program tersebut dengan baik (Budiono, 2013).


19

Penelitian yang dilakukan oleh Supriyadi tentang penerapan manajemen

keselamatan pasiendalam usaha pencegahan kejadian jatuh bertujuan untuk

mengevaluasi penerapan menajemen keselamatan pasien dalam usaha pencegahan

kejadian pasien jatuh.Jenis penelitian dan rancangannya adalah kualitatif dengan

pendekatan critical insidents, teknik dengan purposive sampling. Hasil penelitian

ini menunjukan sudah berjalan dengan baik penerapan keselamatan pasien dengan

risiko jatuh. Namun perawat masih belum melakukan edukasi kepada pasien

maupun keluarganya, tidak ada perhatian yang berbeda antara pasien yang

memiliki risiko jatuh tinggi dan risiko jatuh rendah, dan yang terpenting tidak ada

penilaian insiden dari komite (Pramudio, 2017).

Pada penelitian yang berjudul “Penurunan Kejadian Lansia Jatuh Melalui

Penilaian Skala Jatuh Morse dan Penerapan Strategi Pencegahan Jatuh” dengan

tujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pencegahan jatuh dengan penilaian

skala jatuh morse terhadap kejadian lansia jatuh di Panti Wreda Nazareth

Bandung.Responden penelitian ini sebanyak 32 orang lansia. Dapat disimpulkan

bahwa penurunan kejadian jatuh pada lansia dipengaruhi oleh penerapan strategi

pencegahan jatuh dengan skala morse di Panti Wreda Nazareth Bandung dengan

nilai sig.(2-Tailed) adalah 0.000 (Ferdinan, 2011).

Pada penelitian yang dilakukan Mulyati (2014) tentang faktor determinan

yang mempengaruhi budaya keselamatan pasien mendapatkan hasil ada pengaruh

yang signifikan antara persepsi terhadap manajemen (p= 0.0005, OR= 21,3),

dukungan tim kerja (p= 0.0005, OR= 13,34), stres kerja (p= 0.006, OR= 3,94),

kepuasan kerja (p=0.002) dengan budaya keselamatan pasien. Teknik


20

pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik incidental sampling dengan

jumlah 88 responden (Mulyati et al.,2016).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Rahayu di RS Panti Wilasa Citarum

Semarang yang berjudul “Perbedaan Perilaku Perawat dalam Pencegahan Jatuh

pada Pasien yang Menggunakan Gelang Resiko Jatuh dan yang Tidak”

mendapatkan hasil bahwa perilaku perawat dalam pencegahan jatuh pada pasien

yang menggunakan gelang resiko jatuh sebagian besar perawat berperilaku baik

yaitu sebanyak 17 (89,5%) responden. Perilaku perawat dalam pencegahan resiko

jatuh pada pasien yang tidak menggunakan gelang perawat yang berperilaku baik

adalah sebanyak 6 (31,6%) responden. Ada perbedaan bermakna perilaku perawat

untuk pencegahan jatuh pada pasien yang menggunakan gelang resiko jatuh dan

yang tidak dengan nilai nilai p value <0,001 (≤0,05) (Astuti Rahayu, Suryani

Maria, 2015).
BAB III

KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Konsep Penelitian

Variabel yang akan diteliti adalah variabel independen dan dependen. Variabel

independen dalam penelitian ini adalah motivasi perawat dan budaya keselamatan

pasien. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku penilaian risiko

jatuh lansia oleh perawat. Kerangka konsep penelitian ini akan disajikan pada

Gambar 3.1 sebagai berikut.

Gambar 3.1 Konsep Penelitian

Variabel bebas
1. Motivasi perawat:
a) Intrinsik
b) Ekstrinsik Variabel tergantung
- Perilaku penilaian
2. Budaya Keselamatan Pasien: risiko jatuh pada
a) Personal lansia.
b) Perilaku organisasi
c) Lingkungan

Variabel luaran
Karakteristik Demografis:
1. Jenis kelamin
2. Umur
3. Pendidikan
4. Lama pengalaman kerja

21
3.2 Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian sebagai berikut:

1. Ada hubungan antara motivasi dengan perilaku penilaian risiko jatuh lansia

oleh perawat.

22
23

2. Ada hubungan antara budaya keselamatan pasiendenganperilaku penilaian

risiko jatuh lansia oleh perawat.


BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan, Lokasi dan Waktu Penelitian

4.1.1 Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik observasional dengan

rancangan cross sectional.

4.1.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Pada bulan Desember2017 sampai bulan Januari 2018 dilakukan pengambilan

data awal di RSUP Sanglah Denpasar. Dari bulan Juli sampaiAgustus 2018

dilakukan penelitian di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah

Denpasar.

Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah berdiri sejak tahun 1956 dan diresmikan

pada 30 Desember 1959 dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 150. Pada tahun

1993 menjadi rumah sakit swadana (SK Menkes No. 1133/Menkes/SK/VI/1994)

pada tahun 1997 menjadi rumah sakit Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP)

sesuai dengan peraturan Pemerintah tahun 2000. Pada tanggal 11 Agustus 2005

ditetapkan sebagai RS Pendidikan Tipe A sesuai dengan Permenkes 1936 tahun

2005.

Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar menjadi salah satu Unit Pelaksana

Teknis(UPT)Kementerian Kesehatan yang memiliki tugas untuk

menyelenggarakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara

serasi, terpadu, dan berkesinambungan melalui peningkatan kesehatan dan

24
25

pencegahan serta upaya rujukan. Dalam melaksanakan tugasnya, RSUP Sanglah

Denpasar memiliki aspek strategis antara lain lokasi RSUP Sanglah Denpasar

sebagai rumah sakit pendidikan tipe A yang berada di wilayah Indonesia tengah

yang menjadikan RSUP Sanglah Denpasar sebagai rumah sakit rujukan untuk

wilayah Bali, NTB, dan NTT.

RSUP Sanglah terdiri dari ruangan VIP dengan 164 jumlah tempat tidur (20,2%),

ruangan kelas I dengan 80 tempat tidur (9,3%), kelas II jumlah tempat tidur 106

yaitu 15,6%, kelas III dengan jumlah tempat tidur 339 yaitu 50,5%, kelas khusus

dengan tempat tidur 57 yaitu 6,4%. Jumlah perawat dengan statuspegawai negeri

sipil (PNS) sebanyak 747 orang dan jumlah perawat dengan status non PNS

sebanyak 295 orang.

4.2 Populasi, Sampel dan Kerangka Sampel

4.2.1 Populasi Penelitian

Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang menangani

pasien lansia. Populasi terjangkau penelitian ini adalah seluruh perawat yang

bertugas di ruang rawat inap RSUP Sanglah Denpasar menangani pasien lansia

pada bulan Juli sampai Agustus 2018.

4.2.2 Sampel Penelitian

Sampel dari penelitian ini adalah populasi yang dipilih berdasarkan cara tertentu

dan dianggap dapat mewakili populasinya (Sudigdo & Ismail, 2008). Sebelum

dijadikan sampel terlebih dahulu memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.


26

1. Kriteria inklusi adalah:

a) Perawat pelaksana yang bertugas di ruang rawat inapyang

menangani pasien lansia.

b) Perawat yang menangani pasien lansia pada saat pengumpulan

data.

c) Perawat yang sudah mendapatkan pelatihan keselamatan pasien.

d) Perawat yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian.

2. Kriteria ekslusi adalah:

a) Perawat yang sedang cuti sakit atau hamil.

b) Perawat yang sedang tugas belajar.

c) Perawat yang bertugas menjadi kepala ruangan.

d) Perawat yang tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian.

4.2.3 Besar Sampel

Perhitungan besaran sampel dalam penelitian ini adalah rumus besar

sampel dua reratasebagai berikut.

n1= n2= 2d2(Z1-α+Z1-β)2 = 48

(µ1 - µ2)2

Keterangan

n : Besar sampel minimal

d : Standar diviasi=8

µ1 : Rerataperilaku perawat dalam pencegahan pasien jatuh pada lingkungan

dengan budaya keselamatan pasien tinggi adalah 17,68 (Astuti Rahayu,

Suryani Maria, 2015)


27

µ2 : Rerataperilaku perawat dalam pencegahan pasien jatuh pada lingkungan

dengan budaya keselamatan pasien rendah adalah 14,42 (Astuti Rahayu,

Suryani Maria, 2015)

Za : Tingkat kemaknaan (ditetapkan)= 0,05

Zβ : Kekuatan penelitian (ditetapkan)= 80%

Berdasarkan hasil perhitungan sampel didapatkan sampel minimal pada

penelitian ini adalah sebanyak 48 responden. Sampel yang dibutuhkan pada

penelitian ini adalah sebanyak 106 responden yang didapatkan dari jumlah sampel

minimal dikalikan dua dan ditambah 10 %.

4.2.4 Teknik Pengambilan Sampel

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah probability

sampling dengan systematic random samplingyaitu sebagai berikut :

1. Membuat sampling frame perawat yang bekerja di seluruh ruang rawat

inap yang merawat pasien lansia antara lain Ruang Angsoka I, Angsoka II,

Angsoka III, Gandasturi, Lely, Mawar, Nagasari, Kamboja dan Wijaya

Kusuma RSUP Sanglah Denpasar dengan jumlah 176 perawat.

2. Untuk menentukan responden dihitung dengan interval. Cara menghitung

angka interval yaitu jumlah perawat (176 orang) dibagi dengan jumlah

sampel yang diteliti (106 orang). Didapatkan interval pada perhitungan ini

adalah 1,66. Pada sampling frame dipilih secara acak respondenpertama

dengan melakukan undian, terpilih nomor dua. Kemudian angka terpilih

nomor dua akan ditambah 1,66 mendapatkan hasil 3,66 maka yang terpilih

selanjutnya adalah nomor empat. Responden selanjutnya yaitu 3,66 akan


28

ditambah 1,66 yaitu 5,32 maka yang terpilih adalah responden nomor

lima. Selanjutnya angka terpilih 5,32 ditambah 1,66 yaitu 6,98 maka akan

terpilih nomor 7,dan seterusnya sampai pada respondennomor106. Jika

sampel yang mendapatkan pilihan tidak bersedia menjadi responden maka

akan dilewati dengan cara menambahkan 1,66.

4.3 Penentuan Sumber data, Instrumen Penelitian dan Cara

PengumpulanData

4.3.1Penentuan Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang didapatkan

langsung dari responden dan data sekunder yaitu data yang didapatkan dari

catatan keperawatan. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner

yang disiapkan oleh peneliti. Informasi yang dicari adalah pada variabel

independen yaitu motivasi perawat dan budaya keselamatan pasien. Pada data

sekunder dilihat pada catatan keperawatan penilaian risiko jatuh lansia yang diisi

oleh perawat.

4.3.2 Instrumen Penelitian

Pada variabel motivasi digunakan instrumen kuesioner motivasi terdiri dari dua

puluh tigapernyataan yaitu aspek manajemen sembilan pertanyaan, aspek

performancelima pertanyaan, aspek individu sembilan pertanyaan. Aturan dalam

pengisian kuesioner adalah dengan memberikan tanda rumput pada pilihan

jawaban sangat setuju, tidak setuju, setuju dan sangat setuju. Total skor terendah

satu dikalikan jumlah soal (23) adalah 23. Total skor tertinggi empat dikalikan 23

adalah 92.
29

Instrumen kuesioner budaya keselamatan pasien merupakan adopsi dari Hospital

Survey on Patient SafetyCulture Agency for Healthcare Reseacrh and Quality

(AHRQ) yang kemudian dikembangkan sesuai kondisi RSUP Sanglah

Denpasaryang terdiri dari 40 butir pernyataan (Agency for Healthcare Reseacrh

and Quality, 2004). Aturan dalam pengisian kuesioner adalahdengan memberikan

tanda rumput pada pilihanjawaban sangat setuju, tidak setuju, setuju dan sangat

setuju. Total skor terendah satu dikalikan jumlah soal (40) adalah 40. Total skor

tertinggi empat dikalikan 40 adalah 160.

4.3.3 Cara Pengumpulan Data

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data dapat dilakukan

sebagai berikut.

1. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan panduan kuesioner yang

akan diserahkan dan diisi oleh responden (self administered quetionnaire).

2. Dilakukan observasi pada catatan keperawatan yaitu pada form penilaian

risiko jatuh pada pasien lansia ≥60 tahun oleh perawat saat pasien baru

masuk ruang rawat inap. Observasi terhadap catatan tersebut dilakukan

pada akhir shift dari perawat tanpa sepengetahuan perawat tersebut.

3. Menjelaskan tujuan dan prosedur penelitian kepada responden terpilih.

4. Jika responden sudah bersedia menjadi responden, maka akan diberikan

informed consent lalu diberikan kuesioner yang akan diisi oleh responden.

Jika responden tidak bersedia, maka akan dipilih responden lain dengan

nomor urut dibawahnya.


30

5. Peneliti tetap berada di dalam ruangan tempat pengisian kuesioner agar

responden bisa bertanya jika ada hal yang kurang jelas.

6. Peneliti memeriksa kembali jika responden sudah selesai dalam mengisi

kuesioner. Jika masih ada data yang kurang lengkap, maka peneliti akan

menanyakan langsung kepada responden yang bersangkutan.

4.4 Variabel Penelitian

4.4.1 Identifikasi Variabel

Variabel penelitian adalah karakteristik responden yang diteliti dan mengalami

perubahan dari satu responden ke responden yang lain (Sastroasmoro&Ismail,

2014). Dalam penelitian terdapat varibale independen dan variabel dependen

sebagai berikut.

1. Variabel Independen (bebas)

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah motivasi perawat (dimensi

intrsinsik dan ekstrinsik) dan budaya keselamatan pasien(personal,

perilaku organisasi dan lingkungan).

2. Variabel Dependen (terikat)

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku penilaian risiko jatuh

lansia.
31

4.4.2Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Skala Cara/ alat Rencana


operasional pengukuran ukur analisis
1 Perilaku Tindakan perawat Interval Observasi Dianalisis
penilaian berupa penulisan dengan sebagai
risiko jatuh pengkajian penelusuran berikut:
pada lansia penilaian risiko dokumen - analisa
jatuh sejak awal pada saat bivariat yaitu
pasien masuk pasien baru rank
rawat inap masuk. spearman
- analisis
multivariat
dengan
ujiancova

2 Motivasi Motivasi intrinsik Interval Self Dianalisis


intrinsik dan yaitu faktor-faktor administered sebagai:
ekstrinsik dari dalam diri quetionnaire - analisa
perawat yang bivariat yaitu
mengarahkan dan rank
mendorong untuk spearman
menjalankan - analisis
perilaku penilaian multivariat
risiko jatuh yang dengan
terdiri dari aspek ujiancova
manajemen,
aspek
performance,
aspek individu.
Motivasi
ekstrinsik yaitu
faktor-faktor dari
luar individu
perawat seperti
lingkungan yang
mendorong untuk
menjalankan
perilaku penilaian
risiko jatuh yang
terdiri dariaspek
ruangan tempat
32

bekerja, atasan
atau manajer,
komunikasi,
frekuensi
pelaporan insiden,
dan di rumah
sakit.
3 Budaya Nilai persepsi Interval Self Dianalisis
keselamatan produk dari nilai, administered sebagai:
pasien sikap, persepsi, quetionnaire - analisa
kompetensi, dan bivariat yaitu
pola perilaku rank
responden spearman
terhadap - analisis
keselamatan multivariat
pasien dengan
ujiancova

4 Jenis Ciri fisik atau Kategorikal Self Dianalisis


kelamin biologis administered sebagai
responden questionnaire variabel
kategorikal
dikelompokan
menjadi laki-
laki dan
perempuan
5 Umur Umur responden Rasio Self Dianalisis
berdasarkan tahun adminis sebagai
lahir sampaiulang tered variabel rasio
tahun terakhir questio dikelompokan
nnaire sesuai dengan
sebaran data
6 Pendidikan Pendidikan Kategorikal Self Dianalisis
terakhir yang admini sebagai
diselesaikan oleh stered variabel
responden questi kategorikal
onnair dikelompokan
e sesuai dengan
sebaran data
7 Lama Lama waktu Interval Self Dianalisis
pengalaman responden bekerja administered sebagai
kerja sebagai perawat quetionnaire variabel
sejak awal sampai numerik
wawancara dikelompokan
berlangsung sesuai dengan
dihitung tahun sebaran data
33

4.5 Analisa Data

Peneliti melakukan pengolahan data sebelum melakukan analisa data yaitu

sebagai berikut.

1. Editing

Peneliti melakukan pemeriksaan kembali terhadap kelengkapan jawaban

kuesioner yang diisi oleh responden dan dilakukan langsung setelah

responden selesai mengisi jawaban dilakukan oleh peneliti. Editing

bertujuan agar peneliti benar-benar mendapat jawaban yang lengkap,

terbaca dengan baik.

2. Coding

Hasil instrumen yang sudah terkumpul dan telah diperiksa

kelengkapannya, kemudian diberikan kode tentang karakteristik sosio-

demografi responden, mencakup umur, jenis kelamin, status perkawinan,

pendidikan, dan masa kerja.

3. Scoring

Dalam tahap ini yang dilakukan oleh peneliti adalah memberikan skor

pada setiap jawaban responden. Data yang telah terkumpul diberikan skor

sesuai dengan variabel motivasi perawat dan budaya keselamatan

pasienmaupun variabel penilaian risiko jatuh pada lansia.

4. Entry Data

Semua data yang telah dilakukan editing, coding, dan scoring dimasukkan

ke dalam program komputer agar dapat memudahkan peneliti dalam

menganalisis data tersebut.


34

5. Cleaning Data

Peneliti melakukan pemeriksaan kembali pada data yang telah terkumpul

untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam pengkodean maupun

membaca kode. Setelah itu peneliti melakukan analisis data sesuai dengan

kebutuhan dalam penelitian.

Teknik analisa data yang digunakan terdiri dari tiga cara, yaitu univariat, bivariat

dan multivariat. Adapun penjabarannya masing-masing adalah sebagai berikut.

a. Uji normalitas dengan Kolmogorov-smirnof, data dinyatakan normal

apabila p> 0,05

b. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan secara deskriptif dari hasil pengumpulan data

pada variabel penelitian yaitu karakteristik responden, variabel dependen

dan variabel independen. Disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi

berupa presentase (%) pada setiap variabel disertai penjelasan tabel.

Analisis masing-masing variabel dijelaskan sebagai berikut.

1. Variabel motivasi, diukur dengan kuesioner yang terdiri dari 23

pertanyaan dengan empat pilihan jawaban sangat tidak setuju, tidak

setuju, setuju dan sangat setuju. Total skor adalah nilai terendah (1)

dikalikan jumlah soal (23) yaitu 23. Total skor tertinggi (4) dikalikan

jumlah (23) soal menjadi 92.

2. Variabel budaya keselamatan pasien,diukur dengan kuesioner yang

terdiri dari 40 butir pertanyaan dengan empat pilihan jawaban

yaitusangat tidak setuju, tidak setuju, setuju dan sangat setuju.Total


35

skor adalah nilai terendah (1) dikalikan jumlah soal (40) yaitu 40.

Total skor tertinggi adalah empat dikalikan jumlah (40) soal menjadi

160.

Hipotesis statistik adalah sebagai berikut.

a. H0: µ 1= µ2 (tidak terdapat hubungan motivasi dan budaya keselamatan

pasien dengan perilaku penilaian risiko jatuh lansia oleh perawat).

b. Ha: µ1≠ µ2 (terdapat hubungan motivasi dan budaya keselamatan pasien

dengan perilaku penilaian risiko jatuh lansia oleh perawat).

c. Analisis Bivariat

Tujuan analisis bivariat adalah untuk menilai hubungan variabel

independen dengan variabel dependen bermakna secara statistik, maka

dilakukan uji menggunakan analisis rank spearman. Uji ini termasuk

statistik nonparametrik karena data tidak berdistribusi normal. Dikatakan

bermakna secara statistik jika nilai p≤0,05. Jika nilai p>0,05 maka

hubungan antar variabel tidak bermakna secara statistik.

d. Analisis Multivariat

Analisis multivariat digunakan dengan tujuan untuk secara keseluruhan

hubungan variabel independen yaitu motivasi perawat dan budaya

keselamatan pasiendengan variabel dependen yaitu perilaku penilaian

risiko jatuh pada lansia. Disamping itu, tujuannya juga untuk melihat jenis

variabel independen yang paling besar hubungannya dengan variabel

dependen.Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji ancova

karena data tidak berdistribusi normal.


36

4.6 Etika Penelitian

Beberapa aspek etika yang diperhatikan dalam penelitian adalah sifat sukarela

responden untuk menandatangani informed concent, kerahasiaan data

responden, risiko yang diterima responden sangat rendah karena hanya

melakukan penelitian observasional tanpa memberikan tindakan apapun

terhadap responden. Pelaksanaan etika penelitian dilakukan dengan

mengajukan ijin kepada komite etika Fakultas Kedokteran Universitas

Udayana, Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasardengan

nomor 1499/UN14.2.2/PD/KEP/2018 tertanggal 2 Juli 2018, Gubernur Bali

cq. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Bali

dengannomor 070/02991/DPMTSP-B/2018.
BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik Responden Penelitian

Penelitian ini dilakukan di sembilan ruang rawat inap RSUP Sanglah Denpasar,

yaitu ruang rawat inap kelas I,II, dan III. Jumlah responden pada penelitian ini

adalah 106 perawat yang bekerja di ruang rawat inap. Gambaran karakteristik

sosio-demografis perawat di RSUP Sanglah Denpasar dalam penelitian ini

dijabarkan berdasarkan dari jenis kelamin, umur, pendidikan, dan masa kerja.

Karaktersitik responden disajikan pada Tabel 5.1 dan tabel 5.2

Tabel 5.1Distribusi Karakteristik Responden Perawat di RSUP Sanglah


Denpasar

Karakteristik Responden Frekuensi (orang) Proporsi (%)


Jenis Kelamin
Laki-laki 23 21,7
Perempuan 83 78,3
Umur
17-25 tahun 26 24,5
26-35 tahun 61 57,5
36-45 tahun 13 12,3
46-55 tahun 6 5,7
Pendidikan
Diploma 78 73,6
Profesi Ners 28 26,4
Lama Bekerja
1-5 tahun 71 67,0
6-10 tahun 20 18,9
>10 tahun 15 14,8

Pada Tabel 5.1 menunjukkan sebagian besar responden berjenis kelamin

perempuan sebesar 78,3%.Berdasarkan hasil analisis sebanyak 57,5% responden

berusia diantara 26-35 tahun. Hasil analisis pendidikan responden lebih banyak

37
38

diploma 73,6%. Berdasarkan lama bekerja responden dalam jangka waktu

terbanyak adalah 1-5 tahun(67,0%).

Hasil analisis deskriptif umur dan lama bekerja responden dapat di RSUP

Sanglah Denpasar dapat dilihat pada Tabel 5.2

Tabel 5.2 Mean, Median, Minimum, Maksimum, dan Standar Deviasi


Karakteristik Responden Perawat di RSUP Sanglah Denpasar

Karakteristik Mean Median Minimum Maximum Std Deviasi


Responden
Umur 30,84 29,00 22 57 7,191
Lama Bekerja 5,9 4,00 1,1 31,0 0,733

Pada Tabel 5.2 menunjukkan pada karakteristik umur mendapatkan nilai rata-

rata 30,84 dan nilai tengah umur 29 tahun. Umur minimum responden 22 tahun

dan umur maksimum adalah 57 tahun dengan standar deviasi 7,191. Dilihat dari

lama bekerja responden mendapatkan nilai rata-rata sebesar 5,9 dan nilai tengah

4,00 dengan standar deviasi 0,733. Lama bekerja responden paling lama adalah 31

tahun.

5.2DistribusiMotivasi Perawat

Hasil tabulasi data jawaban responden dari 23 pernyataan mengenai motivasi

perawat yang terdiri dari tiga aspek yaitu aspek manajameen, aspek performance

dan aspek individu yang dijawab oleh 106 responden dapat dilihat pada Tabel 5.3

Tabel 5.3Distribusi Frekuensi Motivasi Perawat


39

No AspekMotivasi Perawat Jumlah Jawaban Dan Persentase


Tidak Setuju Sangat Setuju Rata –
Setuju n(%) Rata
n(%) n(%) Skor
Aspek Manajemen
1 Fasilitas di RSUP Sanglah memadai untuk 7 (6,6) 95 (89,6) 4(3,8) 3,0
bekerja dengan baik
2 RSUP Sanglah segera memperbaiki sarana 20(18,9) 78(73,6) 8(7,5) 2,9
dan prasarana kalau mengalami kerusakan
3 Pedoman bagi perawat tentang pelayanan di 3(2,8) 89(84,0) 14(13,2) 3,1
RSUP Sanglah mudah untuk didapatkan
4 RSUP Sanglah memberikan pelatihan secara 1(0,9) 74(68,8) 31(29,2) 3,3
teratur kepada saya tentang patient safety
5 RSUP Sanglah memberikan penghargaan 12(11,3) 91(85,8) 3(2,8) 2,9
terhadap kemampuan saya
6 RSUP Sanglah memperhatikan kesejahteraan 2(1,9) 96(90,6) 8(7,5) 3,0
saya
7 Organisasi di RSUP Sanglah menerapkan 9(8,5) 93(87,7) 4(3,8) 2,9
sistem yang baik dalam menghargai karyawan
8 Atasan saya mengakui kemampuan saya 3(2,8) 101(95,3) 2(1,9) 3,0
9 Atasan saya memberikan dukungan untuk 4(3,8) 96(90,6) 6(5,7) 3,0
meningkatkan kinerja
Rata-rata 3,0
skor

Aspek Performance
10 Atasan saya selalu memberikan penjelasan 2(1,9) 87(82,1) 17(16,0) 3,1
tentang perkembangan tentang asuhan
keperawatan
11 Teman kerja saya memberikan dukungan 1(0,9) 97(91,5) 8(7,5) 3,1
dalam meningkatkan kinerja
12 Hubungan saya dengan teman di tempat kerja 0(0,0) 87(82,1) 19(17,9) 3,2
berlangsung baik
13 Hubungan saya dengan atasan berlangsung 0(0,0) 84(79,2) 22(20,8) 3,2
baik
14 Pekerjaan saya sesuai dengan kompetensi 1(0,9) 94(88,7) 11(10,4) 3,1
saya
Rata-rata 3,1
skor
Aspek Individu
15 Pemenuhan kebutuhan asuhan keperawatan 2(1,9) 88(83,0) 16(15,1) 3,1
setiap pasien merupakan tanggung jawab saya
16 Sayaselalu memperhatikan keselamatan 0(0,0) 79(74,5) 27(25,5) 3,3
pasien termasuk pasien lansia
17 Saya melaksanakan tugas sesuai dengan 1(0,9) 86(81,1) 19(17,9) 3,2
jadwal yang diberikan
18 Profesi saya membuat saya bekerja keras 0(0,0) 93(87,7) 13(12,3) 3,1
untuk menjagakeselamatan pasien
19 Saya memiliki usaha keras untuk selalu 1(0,9) 93(87,7) 12(11,3) 3,1
memberikan pelayanan kepada setiap pasien
20 Saya puas dengan fasilitas yang ada di tempat 26(24,5) 78(73,6) 2(1,9) 2,8
saya bekerja
21 Setiap tugas yang telah dibuat dan ditetapkan 0(0,0) 94(88,7) 12(11,3) 3,1
oleh atasan, saya lakukan dengan penuh
tanggung jawab
22 Saya selalu menyelesaikan tugas yang 3(2,8) 88(83,0) 15(14,2) 3,1
diberikan dengan sebaik-baiknya dan tepat
40

waktu
23 Saya sangat berhati-hati dalam bekerja untuk 0(0,0) 84(79,2) 22(20,8) 3,2
mengurangi kesalahan kerja

Rata-rata 3,1
skor

Pada Tabel 5.3menunjukkan bahwa rata-rata aspek manajemen adalah 3,0

aspek performance dan aspek individu dengan rata-rata 3,1. Pada aspek

manajemen pernyataan setuju paling banyak dijawab oleh responden sebesar

94,3%, pada aspek performance nilai tertinggi pada pernyataan setuju sebesar

92,5% dan aspek individu nilai tertinggi pada pernyataan setuju sebesar 88,7%.

Hasil analisis deskriptif motivasi perawat terhadap perilaku penilaian risiko

jatuh di RSUP Sanglah Denpasar dapat dilihat pada tabel 5.4

Tabel 5.4Mean, Median, Minimum, Maksimum, dan Standar


DeviasiMotivasi Perawat

Variabel Mean Median Minimum Maximum Std Deviasi


Motivasi 70,86 70,00 61 88 4,171

Pada Tabel 5.4 menunjukkan bahwa terdapat 106 responden dengan total

pernyataan kuesioner mendapat nilai rata-rata 70,86 nilai tengah70,00 nilai

terendah 61 dan nilai tertinggi adalah 88 dengan standar deviasi 4,171.

5.3DistribusiBudaya Keselamatan Pasien

Hasil tabulasi data jawaban responden dari 40 pernyataan mengenai budaya

keselamatan pasien yang dijawab oleh 106 responden dapat dilihat pada tabel 5.5

Tabel 5.5 Distribusi Jawaban Kuesioner Budaya Keselamatan Pasien


41

No Aspek Budaya Keselamatan Pasien Jumlah Jawaban Dan Persentase Rata –


Sangat Tidak Setuju Sangat Rata
Tidak Setuju Setuju Skor
Setuju
n(%) n(%) n(%) n(%)
Bagian A: Ruangan Tempat Kerja
1 Di ruangan saya, setiap orang saling mendukung 0(0,0) 3(2,8) 84(79,2) 19(17,9) 3,2
satu sama lain
2 Ruangan saya memiliki cukup staf/ tenaga untuk 2(1,9) 37(34,9) 67(63,2) 0(0,0) 2,6
menyelesaikan beban kerja
3 Saya akan mengerjakan sebagai suatu tim 0(0,0) 1(0,9) 97(91,5) 8(7,5) 3,1
bilasuatu pekerjaan harus diselesaikan dengan
cepat
4 Di ruangan ini setiap orang selalu hormat satu 0(0,0) 2(1,9) 90(84,9) 14(13,2) 3,1
sama lainnya
5 Staf di ruangan ini bekerja lewat jam karena 7(6,6) 64(60,0) 35(33,0) 0(0,0) 2,3
memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien
6 Saya selalu aktif bekerja demi meningkatkan 0(0,0) 0(0,0) 91(85,8) 15(14,2) 3,1
keselamatan pasien
7 Apabila ada kesalahan, pegawai merasa seolah 0(0,0) 23(21,7) 72(67,9) 11(10,4) 2,9
segala akibat dari kesalahan tersebut dilimpahkan
kepadanya sendiri
8 Setiap kesalahan menjadikan perubahan yang 1(0,9) 3(2,8) 98(92,5) 4(3,8) 3,0
baik di ruangan ini
9 Kesalahan yang serius tidak terjadi di ruangan ini 1(0,9) 4(3,8) 97(91,5) 4(3,8) 3,0
10 Ketika suatu area di ruangan ini sibuk, yang lain 0(0,0) 7(6,6) 90(84,9) 9(8,5) 3,0
akan membantu
11 Ketika melaporkan kejadian, yang dilaporkan 0(0,0) 2(1,9) 98(92,5) 6(5,7) 3,0
adalah pasien yang mengalami dan perawat yang
menangani
12 Setelah saya melakukan perubahan untuk 0(0,0) 1(0,9) 100(94, 5(4,7) 3,0
mengembangkan keselamatan pasien, saya 3)
mengevaluasi keefektifannya
13 Keselamatan pasien tidak pernah dikorbankan 1(0,9) 2(1,9) 96(90,6) 7(6,6) 3,0
dalam menyelesaikan banyak pekerjaan
14 Saya khawatir jika kesalahan saya tercatat dalam 3(2,8 53(50,0) 50(47,2) 0(0,0) 2,4
catatan kepegawaian
15 Saya mempunyai masalah keselamatan pasien di 1(0,9) 21(19,8) 79(74,5) 5(4,7) 2,8
ruangan ini
16 Saya sudah melakukan tindakan keperawatan 0(0,0) 0(0,0) 86(81,1) 20(18,9) 3,2
sesuai dengan standar operasional prosedur untuk
mencegah kesalahan
Rata-rata 2,9
skor
Bagian B: Atasan/ manajer
17 Atasan saya mengatakan bagus ketika beliau 0(0,0) 1(0,9) 97(91,5) 8(7,5) 3,1
melihat pekerjaan diselesaikan sesuai dengan
prosedur keselamatan pasien
18 Atasan saya sangat serius menanggapi saran staf 0(0,0) 5(4,7) 88(83,0) 13(12,3) 3,1
untuk mengembangan keselamatan pasien
19 Ketika ada tekanan atasan saya ingin sekali 1(0,9) 16(15,1) 84(79,2) 5(4,7) 2,9
bekerja cepat walaupun dengan jalan pintas
20 Atasan saya mengabaikan masalah keselamatan 4(3,8) 12(11,3) 73(68,9) 17(16) 3,0
pasien yang terjadi berulang
Rata-rata 3,0
skor

Bagian C: Komunikasi
42

21 Saya selalu diberikan umpan balik tentang 0(0,0) 4(3,8) 100(94, 2(1,9) 3,0
perubahan yang terjadi berdasarkan laporan 3)
kejadian
22 Saya bebas berbicara tentang sesuatu jika hal 5(4,7) 27(25,5) 70(66,0) 4(3,8) 2,7
tersebut dapat membahayakan keselamatan
pasien
23 Saya selalu diinformasikan tentang kesalahan 0(0,0) 3(2,8) 95(89,6) 8(7,5) 3,0
yang terjadi di ruangan ini
24 Saya bisa menanyakan kepada atasan tentang hal- 0(0,0) 19(17,9) 87(82,1) 0(0,0) 2,8
hal di luar kewenangan saya

25 Di ruangan ini sayabisa berdiskusi tentang cara 0(0,0) 2(1,9) 93(87,7) 11(10,4) 3,1
mencegah kesalahan agar tidak terjadi lagi
26 Saya takut untuk mengajukan pertanyaan kepada 0(0,0) 18(17,0) 84(79,2) 4(3,8) 2,9
atasan ketika sesuatu berjalan tidak semestinya
Rata-rata 2,9
skor

Bagian D: Frekuensi Pelaporan Insiden


27 Saya melaporkan kesalahan yang sudah saya 0(0,0) 2(1,9) 100(94, 4(3,8) 3,0
ketahui sebelum berimbas kepada pasien 3)
28 Saya melaporkan kepada atasan kondisi yang 0(0,0) 0(0,0) 101(95, 5(4,7) 3,0
sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera 3)
kepada pasien
29 Saya melaporkan kepada atasan kejadian yang 0(0,0) 0(0,0) 101(95, 5(4,7) 3,0
terjadi pada pasien walaupun tidak menimbulkan 3)
cedera
Rata-rata 3
skor

Bagian E: Rumah Sakit


30 Manajemen rumah sakit mengembangkan budaya 0(0,0) 0(0,0) 90(84,9) 16(15,1) 3,2
kerja yang berfokus pada keselamatan pasien
31 Staf antar ruangan dalam rumah sakit tidak 20(18,9) 64(60,4) 22(20,8) 0(0,0) 3,0
berkoordinasi dengan baik satu sama lain
32 Saat melakukan transfer pasien antar ruangan 3(2,8) 73(68,9) 29(27,4) 1(0,9) 2,3
merupakan kondisi yang sangat berisiko untuk
terjadi insiden
33 Terjadi kerjasama yang baik antar ruangan dalam 0(0,0) 3(2,8) 98(92,5) 5(4,7) 3,0
rumah sakit untuk melakukan tugas bersama
34 Informasi penting tentang pasien sering hilang 0(0,0) 14(13,2) 76(71,7) 16(15,1) 3,0
pada saat pergantian shift
35 Sangat sering terjadi ketidaknyamanan saat 1(0,9) 19(17,9) 89(75,5) 6(5,7) 2,9
bekerja di ruangan
36 Masalah sering terjadi saat pertukaran informasi 0(0,0) 14(13,2) 84(79,2) 8(7,5) 3,0
dalam ruangan
37 Tindakan manajemen rumah sakit 0(0,0) 3(2,8) 79(74,5) 24(22,6) 3,2
memperlihatkan bahwa keselamatan pasien
adalah prioritas utama
38 Manajemen rumah sakit terlihat antusias terhadap 3(2,8) 64(60,4) 28(26,4) 11(10,4) 2,4
keselamatan pasien hanya ketika terjadi kejadian
yang tidak diharapkan
39 Saya selalu mewujudkan pelayanan terbaik 0(0,0) 0(0,0) 83(78,3) 23(21,7) 3,2
terhadap semua pasien
40 Pergantian shift merupakan masalah bagi pasien 1(0,9) 9(8,5) 79(74,5) 17(16) 3,1
di rumah sakit
Rata-rata 2,9
skor
43

Berdasarkan Tabel 5.5 terlihat bahwa pada aspek ruangan tempat kerja,

komunikasi dan rumah sakit mendapatkan nilai rata-rata skor sebesar 2,9. Pada

aspek atasan atau manajer dan pelaporan insiden mendapatkan rata-rata skor

sebesar 3,0. Distribusi jawaban responden terhadap perilaku penilaian risiko jatuh

nilai rata-rata tertinggi 3,2 pada aspek ruangan tempat kerja dan aspek rumah

sakit. Pada aspek ruangan tempat kerja dan aspek rumah sakit juga didapatkan

nilai rata-rata terendah 2,3.

Hasil analisis deskriptif budaya keselamatan pasien terhadap perilaku

penilaian risiko jatuh di RSUP Sanglah Denpasar dapat dilihat pada tabel 5.6

Tabel 5.6 Mean, Median, Minimum, Maksimum, dan Standar Deviasi

Budaya Keselamatan Pasien

Variabel Mean Median Minimum Maximu Std Deviasi

m
Budaya Keselamatan 116,61 116,00 107 143 5,466
Pasien

Pada Tabel 5.6 menunjukan jumlah responden sebanyak 106 dengan nilai

rata-rata jawaban kuesioner budaya keselamatan pasien adalah 116,61 nilai tengah

sebesar 116,00 nilai terendah adalah 107 dan nilai tertinggi 143 dengan standar

deviasi 5,466.

5.4 Proporsi Perilaku Perawat dalam Penilaian Risiko Jatuh Lansia di RSUP

Sanglah Denpasar
44

Hasil tabulasi data penilaian risiko jatuh lansia oleh perawat dari 12 bagian yang

diisi oleh 106 responden di RSUP Sanglah Denpasar dapat dilihat pada Tabel 5.7

Tabel 5.7 Proporsi Responden yang Mengisi Item Penilaian Risiko Jatuh
Lansia

Diisi Tidak Diisi


Item Penilaian
n % n %
Usia 105 99,1 1 0,9
Defisit sensoris 39 36,8 67 63,2
Aktivitas 106 100,0 0 0,0
Riwayat jatuh 102 96,2 4 3,8
Kognisi 103 97,2 3 2,8
Pengobatan dan 40 37,7 66 62,3
penggunaan alat kesehatan
Mobilitas 106 100,0 0 0,0
Pola BAB/BAK 102 96,2 4 3,8
Komorbiditas 101 95,3 5 4,7
Total skor 27 25,5 79 74,5
Keterangan kategori risiko 106 100,0 0 0,0
jatuh
Nama/paraf 3 2,8 103 97,2

Pada Tabel 5.7terlihat bahwa pada bagian aktivitas, mobilitas dan keterangan

kategori risiko jatuh semua responden mengisidan mendapat nilai tertinggi yaitu

100%. Pada bagian nama atau paraf merupakan bagian yang paling banyak tidak

diisi yaitu 97,2%.

Hasil analisis deskriptif perilaku penilaian risiko jatuh lansia oleh perawat

dapat dilihat pada tabel 5.8

Tabel 5.8 Mean, Median, Minimum, Maksimum, dan Standar

DeviasiPerilaku Penilaian Risiko Jatuh Lansia


45

Variabel Mean Median Minimum Maximum Std Deviasi


Perilaku Penilaian 8,87 8,0 6 11 1,235
Risiko Jatuh

Pada Tabel 5.8terlihat bahwa nilai rata-rata sebesar 8,87 nilai tengahnya 8,0

nilai minimum 6 dan nilai maksimum adalah 11 dengan standar deviasi 1,235.

5.5 Hasil Uji Normalitas Data

Pada penelitian ini terdapat lima variabel yang dikumpulkan dengan skala

ukur interval, sehingga perlu dilakukan uji normalitas data terlebih dahulu agar

bisa menentukan uji statistik yang tepat dilakukan. Hasil uji normalitas data

terlihat dalam tabel 5.9

Tabel 5.9 Hasil Uji Normalitas Data

Variabel Kolmogorov-Smirnov
Koefisien df p
korelasi
Usia 0,150 106 0,000
Lama 0,239 106 0,000
bekerja
Motivasi 0,166 106 0,000
Budaya 0,236 106 0,000
Perilaku 0,316 106 0,000

Pada Tabel 5.9terlihat bahwa usia, lama bekerja, skor motivasi, skor budaya

keselamatan pasien, dan skor perilaku penilaian risiko jatuh tidak berdistribusi

normal dengan nilai p=0,000. Hasil uji normalitas data yang tidak berdistribusi

normal pada variabel terikat, sehingga pada bivariat digunakan uji rank

spearmandan pada multivariat digunakan uji ancova.


46

5.6 Korelasi Spearman antara Motivasi, Budaya Keselamatan Pasien, Umur,

dan Lama bekerja dengan Perilaku Penilaian Risiko Jatuh

Hasil analisis bivariat diuji dengan rank spearman pada variabel motivasi, budaya

keselamatan pasien, umur, dan lama bekerja karena skala interval. Uji bivariat

keempat variabel tersebut dapat dilihat pada tabel 5.10

Tabel 5.10Koefisien Korelasi Motivasi, Budaya Keselamatan Pasien, Umur


dan Lama Bekerja terhadap Perilaku Penilaian Risiko Jatuh Lansia

Perilaku Motivasi Budaya Umur Lama


Keselamatan Bekerja
Variabel
Pasien
r p r p r p r p r p
Perilaku 1,000 0,000 0,71 0,000 0,370 0,000 0,176 0,071 0,219 0,024
4
Motivasi 0,714 0,000 1,00 0,000 0,549 0,000 0,174 0,074 0,147 0,132
0
Budaya 0,370 0,000 0,54 0,000 1,000 0,000 0,042 0,667 0,029 0,770
9
Keselamata
n Pasien
Umur 0,176 0,071 0,17 0,074 0,042 0,667 1,000 0,000 0,725 0,000
4
Lama 0,219 0,024 0,14 0,132 0,029 0,770 0,725 0,000 1,000 0,000
7
Bekerja

Dilihat pada Tabel 5.10 menunjukkan keeratan hubungan antar variabel

sebagai berikut. Variabel motivasi dengan budaya keselamatan pasien mendapat

nilai r= 0,549 (p= 0,000) yang berarti mempunyai hubungan yang kuat. Motivasi

dengan perilaku penialain risiko jatuh mendapat nilai r= 0,714 (p= 0,000) yang

berarti motivasi mempunyai hubungan yang kuat dengan perilaku penilaian risiko

jatuh. Pada variabel budaya keselamatan pasien dengan perilaku mendapat nilai r=

0,370 (p= 0,000) yang artinya budaya keselamatan pasien mempunyai hubungan

yang cukup dengan perilaku. Variabel umur dengan lama bekerja mendapat nilai

r= 0,725 (p= 0,000) yang artinya mempunyai hubungan yang kuat. Umur dengan
47

perilaku mendapatkan niali r= 0,176 (p= 0,071) yang berarti mempunyai

hubungan yang lemah. Variabel lama kerja dengan perilaku mendapatkan nilai r=

0,219 (p= 0,024) yang artinya mempunyai hubungan yang sangat lemah.

Variabel jenis kelamin dan pendidikan digunakan uji bivariat dengan

anova karena skalanya adalah kategorikal, dapat dilihat pada tabel 5.11

Tabel 5.11 Mean, Standar Deviasi, dan Interval KepercayaanJenis Kelamin


dan Pendidikan terhadap Perilaku Penilaian Risiko Jatuh Lansia

Variabel Mean Std Deviasi 95% CI


Jenis Laki-laki 8,87 1,180 8,36-9,38
Kelamin Perempuan 8,87 1,257 8,50-9,14
Diploma 8,91 1,240 8,63-9,19
Pendidikan
Profesi 8,75 1,236 8,27-9,23

Pada Tabel 5.11 terlihat bahwa perilaku pada jenis kelamin laki-laki

mendapatkan nilai rata-rata 8,87 dengan standar deviasi 1,180 dan pada perilaku

jenis kelamin perempuan mendapat nilai rata-rata 8,87 dengan standar deviasi

1,257. Variabel pendidikan diploma mendapatkan nilai rata-rata 8,91 dengan

standar deviasi 1,240 dan pada pendidikan profesi nilai rata-ratanya adalah 8,75

dengan standar deviasi 1,236.

5.7Analisis Multivariat Hubungan Motivasi dan Budaya Keselamatan Pasien

dengan Perilaku Penilaian Risiko Jatuh

Analisis multivariat dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan secara

independent beberapa variabel yang ada pada analisis bivariat berhubungan


48

dengan perilaku penilaian risiko jatuh lansia. Analisis multivariat dalam penelitian

ini menggunakan ANCOVA yang disajikan pada tabel 5.12

Tabel 5.12 Hasil Uji Analisis Multivariat Motivasi, Budaya Keselamatan

Pasien dan Lama Kerja terhadap Perilaku Penilaian Risiko Jatuh Lansia

Variabel independen Variabel perilaku penilaian risiko jatuh


df F p
Motivasi 1 35,506 0,000
Budaya keselamatan 1 0,079 0,779
pasien
Lama kerja 1 0,744 0,390

Pada Tabel 5.12 yaitu uji analisis multivariat didapatkan hasil variabel motivasi

yang mendapatkannilai F sebesar 35,506 (p= 0,000) yang artinya ada hubungan

antara motivasi dengan perilaku penilaian risiko jatuh. Padavariabel budaya

keselamatan pasien didapatkan nilai p= 0,779dan variabel lama bekerja p=

0,390yang berarti tidak ada hubungan antara budaya keselamatan pasien dan lama

kerja dengan perilaku penilaian risiko jatuh lansia.


BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Hubungan Motivasi dan Budaya Keselamatan Pasien terhadap Perilaku

Penilaian Risiko Jatuh Lansia oleh Perawat

Perilaku perawat pada penelitian ini merupakan penilaian perawat terhadap

pelaksanaan penulisan catatan keperawatan risiko jatuh lansia. Pada penelitian ini

didapatkan bahwa rata-rata perilaku perawat adalah 8,87 (nilai maksimum 11)

yang menunjukkan bahwa perilaku perawat baik. Aspek nama atau paraf paling

banyak tidak diisi dengan proporsi 97,2%. Hal tersebut dapat mengakibatkan

susahnya mengidentifikasi atau mengetahui perawat yang bertanggung jawab atas

pasien yang ditangani. Penelitian yang dilakukan oleh Muh Ramli (2010) di

Rumah Sakit Provinsi Sulawesi Utara diperoleh kinerja pribadi tinggi sebesar

84,4% dan yang kinerja rendah sebesar 15%. Berbeda dengan penelitian yang

dilakukan oleh Pagala di Rumah Sakit X Kendari, bahwa perilaku kepatuhan

perawat dalam melaksanakan SOP risiko pasien jatuh lebih besar proporsi perawat

yang tidak patuh sebanyak 60,4% dibanding dengan proporsi perilaku perawat

dalam melaksanakan SOP risiko pasien jatuh yang patuh sebanyak 39,6% (Pagala,

2012).

Berdasarkan hasil analisis multivariat pada penelitian ini diketahui terdapat

hubungan antara motivasi dengan perilaku penilaian risiko jatuh lansia oleh

perawat dengan nilai sig. 0,000. Motivasi perawat pada penelitian ini merupakan

faktor yang mendorong perilaku perawat dalam penilaian risiko jatuh lansia.

49
50

Menurut Sutarto (1984) dikemukakan bahwa hubungan antara motivasi dengan

perilaku dapat terwujud jika perilaku dilandasi oleh sebuah motivasi. Didapatkan

nilai rata-rata terendah pada variabel motivasi adalah 2,3 yaitu pada aspek

ruangan tempat kerja pada pernyataan staf di ruangan ini bekerja lewat jam karena

memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien. Hal tersebut dapat menimbulkan

kelelahan pada perawat karena harus bekerja terlalu lama yang dapat

mengakibatkan kurangnya fokus dalam mengerjakan tugas.

Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nivalinda

(2013) di RS Pemerintah Semarang yang menunjukan bahwabudaya keselamatan

pasien dipengaruhi oleh motivasi perawat sebesar 10,3 % dengan nilai p=

0,001.Hasil penelitian yang dilakukan oleh Khodijah (2014) di Rumah Sakit Jiwa

Tampan Provinsi Riau, dengan menggunakan analisa univariat dan bivariat

dengan menggunakan uji chi-square. Diketahui adanya hubungan secara

signifikan antara motivasi kerja terhadap perilaku caring perawat di ruang rawat

inap dengan nilai p= 0,001.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ariyani (2008) menunjukkan

bahwa motivasi perawat berpengaruh terhadap penerapan program patient safety

di Instalasi Perawatan Intensif RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan nilai p=

0,020 (p<0,05), nilai rata-rata adalah 39,34. Nilai motivasi tinggi sebanyak 71,1%

dan nilai motivasi rendah adalah 28,9%. Jika dibandingkan dengan penelitian

sebelumnya pada penelitian ini mendapatkan hasil pada variabel motivasi

berpengaruh secara signifikan dengan perilaku penilaian risiko jatuh lansia. Hasil
51

analisis yang dilakukan pada penelitian ini mendapatkan nilai sig. 0,000 dengan

nilai rata-rata 70,71.

Budaya keselamatan pasien merupakan nilai dan kepercayaan yang dianut

bersama berkaitan dengan struktur organisasi serta sistem pengawasan dan

pengendalian untuk menghasilkan norma-norma perilaku. Budaya keselamatan

merupakan suatu faktor yang membentuk perilaku profesi kesehatan untuk

melihat keselamatan pasien menjadi prioritas utama. Untuk meningkatkan budaya

keselamatan pasien dibutuhkan dukungan dari manajemen dan seluruh staf.

Pada variabel budaya keselamatan pasien didapatkan hasil yang berbeda.Pada

penelitian ini digunakan analisis multivariat dengan nilai sig 0,187 yang berarti

bahwa tidak ada hubungan antara budaya keselamatan pasien dengan perilaku

penilaian risiko jatuh lansia. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Kusumapradja (2017) di Rumah Sakit Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta yang

mendapatkan hasil dengan uji regresi linier berganda ditemukan nilai p value

0,541 bahwa variabel komitmen pemimpin dan kerjasama tim tidak berpengaruh

secara bermakna terhadap budaya keselamatan pasien (Kusumapradja, 2017).

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni (2016) di

Instalansi Rawat Inap Rumah Sakit Tk. II dr. Soepraoen mendapatkan hasil secara

simultan budaya keselamatan pasien berpengaruh signifikan terhadap sikap

melaporkan insiden dengan nilai F sebesar 0,000. Secara parsial pembelajaran

organisasi dan peningkatan berkelanjutan tidak berpengaruh signifikan terhadap

sikap melaporkan insiden dengan nilai sebesar 0,319 (p> 0,05)(Anggraeni, 2016).
52

Penelitian yang dilakukan oleh Rivai (2015) di RSUD Ajjappannge Soppeng

Sulawesi Selatan menunjukkan dari 77 responden yang memiliki budaya

keselamatan pasien baik terdapat 53,8% dan yang memiliki budaya keselamatan

pasien kurang 53,3%. Hasil analisis mendapatkan hasil budaya keselamatan tidak

berhubungan dengan implementasi keselamatan pasien oleh perawat pelaksana

dengan nilai p= 0,905. Hal ini senada dengan penelitian saat ini bahwa budaya

keselamatan pasien tidak berhubungan dengan perilaku perawat untuk pengisian

form risiko jatuh dengan nilai p= 0,187.

6.2 Hubungan Variabel Luaran dengan Perilaku Penilaian Risiko Jatuh

Lansia oleh Perawat

Pada variabel umur responden dalam penelitian ini sebagian besar umur

responden berada pada rentang umur 26-35 tahun. Berdasarkan hasil analisis

dengan jumlah sampel 106 dengan nilai p= 0,182 dapat disimpulkan tidak ada

hubungan yang signifikan antara umur dengan perilaku perawat dalam penulisan

penilaian risiko jatuh lansia. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Iryanto yang menemukan bahwa tidak ada hubungan yang

signifikan antara umur perawat dengan perilaku kepatuhan peraat dalam

melaksanakan SOP resiko pasien jatuh di Rumah Sakit X Kendari (Pagala, 2012).

Penelitian yang sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Yanti tahun 2013,

bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan kinerja perawat dalam

pendokumentasian (Yanti,2013). Berlawanan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Mardiono tahun 2016 yang menyatakan bahwa umur berpengaruh terhadap

kinerja. Menurut Depkes RI tahun 2009 menyatakan bahwa umur responden pada
53

penelitian ini termasuk kategori produktif sehingga umur perawat di RSUP

Sanglah tidak berpengaruh terhadap perilaku dalam menjalankan peran dan

fungsinya.

Pada variabel jenis kelamin sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak

78,3%. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara

jenis kelamin dengan perilaku perawat. Penelitian ini sejalan dengan Muh Ramli

tahun 2010 yang menyatakan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin

dengan kinerja perawat, hal tersebut disebabkan karena kinerja seseorang bukan

merupakan karakteristik individu, melainkan perwujudan dari bakat dan

kemampuan (Ramli, 2010). Berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan

oleh Asmuji tahun 2010 yang mendapatkan hasil laki-laki memiliki rata-rata

kinerja lebih besar dibandingkan perawat perempuan(Asmuji, 2010). Salah satu

penyebab perbedaan penelitian yang dilakukan adalah karena perawat di RSUP

Sanglah memiliki tanggung jawab yang sama antara perawat laki-laki dan

perempuan.

Tingkat pendidikan merupakan jenjang pendidikan formal terakhir yang telah

diselesaikan oleh perawat. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat

pendidikan tidak ada hubungannya dengan perilaku perawat dengan nilai p=

0,558. Sejalan dengan penelitian Maulani pendidikan dibagi menjadi tingkat

pendidikan pemula dan profesional yang mendapatkan hasil tidak ada hubungan

tingkat pendidikan dengan kinerja perawat (Maulani, 2015). Penelitian

berlawanan yang dilakukan oleh Ratanto mendapatkan hasil tingkat pendidikan

berhubungan dengan kinerja perawat pelaksana dimana tingkat pendidikan


54

mencerminkan kemampuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan (Ratanto,

2013)

Pada variabel lama kerja sebagian besar responden bekerja rentang waktu 1-5

tahun sebanyak 67,0%. Hasil analisis yang dilakukan dalam penelitian ini

mendapatkan nilai p= 0,24 yang berarti tidak ada hubungan antara lama kerja

dengan perilaku perawat. Hal ini sejalan dengan penelitian Ramli dan Asmuji

yang menyatakan tidak ada hubungan masa kerja dengan kinerja perawat, akibat

dari kurangnya muncul kasus baru yang membuat perawat hanya mengandalkan

pengetahuan yang dimilikinya dalam memberikan perawatan kepada pasien.

Sehingga, masa kerja tidak dapat menghasilkan kinerja profesi yang optimal

(Ramli Muh, 2010). Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Noor tahun 2014

mendapatkan hasil bahwa lama kerja berhubungan dengan kinerja keselamatan

pasien yang dilakukan oleh perawat dengan nilai sig. 0.033(Noor and Sidin,

2014). Menurut Nursalam tahun 2014 menyebutkan semakin lama kerja seseorang

maka semakin banyak pengalaman dan pengetahuan dalam memberikan asuhan

keperawatan yang sesuai dengan standar prosedur operasional yang berlaku

(Nursalam Dr, 2014). Pada penelitian ini didapatkan perbedaan yang disebabkan

oleh perilaku perawat yang bekerja ≤10 tahun dan perawat yang bekerja >10

tahun memiliki perilaku yang sama sehingga tidak memiliki hubungan dengan

perilaku perawat.

6.3 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini adalah tidak dapatmenyimpulkan hubungan kausal

atau sebab akibat karena menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Di


55

RSUP Sanglah Denpasar sudah melaksanakan Joint Commission International

(JCI) sehingga, hasil penelitian tidak bisa digeneralisasikan dengan rumah sakit

lainnya. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang pernyataannya menilai

tentang diri sendiri sehingga kemungkinan jawaban yang diberikan bersifat

subjektif.
BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Skor rata-rata perilaku penilaian risiko jatuh yaitu 8,87 dan bagian yang paling

banyak tidak diisi dalam lembar penilaian risiko jatuh yaitu pada bagian nama

atau paraf (97,2%).

2. Ada hubungan antara motivasi dengan perilaku penilaian risiko jatuh lansia

oleh perawat.

7.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, dan simpulan dapat dirumuskan saran

sebagai berikut.

1. Bagi manajemen rumah sakit

Pihak manajemen rumah sakit perlu meningkatkan upaya perilaku penilaian risiko

jatuh perawat terutama pada bagian yang paling banyak tidak diisi oleh perawat

yaitu pada nama atau paraf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi

berhubungan dengan perilaku perawat sehingga, pihak manajemen rumah sakit

perlu meningkatkan motivasi perawat dengan meningkatkan sarana dan prasarana

serta memberikan penghargaan kepada perawat yang memiliki motivasi baik.

2. Bagi peneliti selanjutnya

Mengingat adanya keterbatasan penelitian, maka diharapkan penelitian ini dapat

dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya. Bagi peneliti selanjutnya,

56
57

diharapkan melakukan penelitian dengan metode objektif misalnya observasi dan

dapat melakukan penelitian dengan teknik wawancara mendalam menggunakan

metode kualitatif untuk menggali lebih dalam faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi perilaku penilaian risiko jatuh, khususnya dalam mengkaji

variabel budaya keselamatan pasien.


DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, D. (2016) Pengaruh Budaya Keselamatan Pasien terhadap Sikap


Melaporkan Insiden pada Perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Tk . II
dr . Soepraoen. Jurnal Aplikasi Manajemen. 14(66), pp. 309–321.

Anggreni, D., Ahsan and Azzuhri, M. (2016). Pengaruh Budaya Keselamatan


Pasien terhadap Sikap Melaporkan Insiden pada Perawat di Instalasi Rawat
Inap.Jurnal Aplikasi Manajemen, 14(2), pp. 309–321.

Asmuji (2010). Hubungan Faktor Kerakteristik Perawat dengan Kinerja Perawat


dalam Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Instalansi Rawat Inap RSU
DR.H.Koesnadi Bondowoso.The Indonesia Jornal, of Health Science, 1(1),
pp. 10–14.

Astuti Rahayu, Suryani Maria, I. U. (2015).Perbedaan Perilaku Perawat dalam


Pencegahan Jatuh pada Pasien yang Menggunakan Gelang Resiko Jatuh dan
yang Tidak (Studi di RS Panti Wilasa Citarum Semarang).(tesis). Universitas
Muhammadiyah Semarang.

Budiono, S. (2013). Pelaksanaan Program Manajemen Pasien dengan Risiko Jatuh


di Rumah Sakit.Jurnal Kedokteran Brawijaya, 28(1), pp. 78–83.

Departemen Kesehatan (2008) Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah


Sakit. Jakarta.

Ferdinan (2011) Penurunan Kejadian Lansia Jatuh Melalui Penilaian Skala Morse
dan Penerapan Strategi Pencegahan Jatuh.(tesis). Santo Borromeus.

Hamel, R. S. (2013). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat dengan


Pelaksanaan Keselamatan Pasien (patient safety) di Ruang Rawat Inap RSUD
Liun Kendage Tahuna. Jurnal Keperawatan. 1, pp. 1-7.

Institute of Medicine (1999). To err is human building a safer health system.

JCI (2013) Joint Commission International Accreditation Standards for Hospital.


5th edn. Illinois USA.

Kementerian Kesehatan (2011).Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011. Jakarta.

Komisi Akreditasi Rumah Sakit (2018).Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit.


Jakarta.

Kusumapradja, R. (2017). Analisis Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit


Daerah Khusus Ibukota Jakarta.(tesis). Universitas Esa Unggul.
Nursalam. 2014. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional. 4 ed. aklia suslia, ed. Jakarta: Salemba Medika.

Noor, N.B & Sidin, A.I. 2017. Hubungan Pendidikan, Masa kerja, dan Beban
Kerja dengan Keselamatan Pasien RSUD Haji Makasar. (serial online), [2018
Apr 20] Available from URL: https://core.ac.uk.download/pdf/77619631.pdf.

Mangole, E. J., Rompas, S. and Inmanto, Y. A. (2015). Hubungan Perilaku


Perawat dengan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan di Cardiovaskuler
and Brain Center RSUP Prof.DR.R.D.Kandou Manado. E-journal
Keperawatan, 3.

Maulani (2015). Hubungan Pendidikan, Motivasi Kerja, Supervisi Kepala


Ruangan dengan Kinerja Perawat RSUD H.Hanafie Muara Bungo.Jurnal
Wacana Kesehatan Akper Dharma Wacana, pp. 1–8.

Menteri Kesehatan (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia.


Jakarta.

Mulyati, L. et al. (2016). Faktor Determinan yang Mempengaruhi Budaya


Keselamatan Pasien di RS Pemerintah kabupaten Kuningan. Jurnal Stikes
kuningan. 4, pp. 179–190.

Nivalinda, D. (2013). Pengaruh Motivasi Perawat dan Gaya Kepemimpinan


Kepala Ruang terhadap Penerapan Budaya Keselamatan Pasien oleh Perawat
Pelaksana pada Rumah Sakit Pemerintah di Semarang. Jurnal Managemen
Keperawatan. 1(2), pp. 138–145.

Noor, N. B. and Sidin, A. I. (2014). Hubungan Pendidikan, Masa Kerja, dan


Beban Kerja dengan Keselamatan Pasien RSUD Haji Makasar. Jurnal
Universitas Hassanudin. pp. 1–8.

NPSA (2011).National Patient Safety Agency. London.

Nursalam Dr (2014).Manajemen Keperawatan. Edited by Suslia Aklia. Jakarta.

Oktaviani, H., S, D. S. and Rufaida, N. F. (2015). Hubungan Pengetahuan dengan


Kepatuhan Perawat dalam Pelaksanaan Standar Prosedur Operasional
Pencegahan Resiko Jatuh Pasien di Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta.
(tesis). Surakarta.

Pagala, I. (2012). Perilaku Kepatuhan Perawat Melaksanakan SOP terhadap


Kejadian Keselamatan Pasien di Rumah Sakit X Kendari.Jurnal Promosi
Kesehatan Indonesia, Vol. 12, pp. 138-149.

Pramudio, B. (2017).Penerapan Manajemen Keselamatan Pasien dalam Usaha


Pencegahan Kejadian Pasien Jatuh di Rumah Sakit Islam Klaten. (tesis).
Klaten.

Pujilestari, A., Maidin, A. and Anggraeni, R. (2013). Gambaran Budaya


Keselamatan Pasien oleh Perawat dalam Melaksanakan Pelayanan di Instalasi
Rawat Inap RSUP DR. Wahidin Sudirohusodo. Jurnal Universitas
Hassanudin. pp. 1–13.

Ramli Muh (2010). Hubungan Karakteristik Individu dan Beban Kerja dengan
Kinerja Perawat di Ruang Instalasi Rawat Inap RSU Haji Makassar.Jurnal
MIKM, 6(4), pp. 227–234.

Ratanto (2013). Pengembangan Karir = Faktor paling Mempengaruhi Kinerja


Perawat Pelaksana.Jurnal Husada Mahakam, III(5), pp. 200–262.

Ridwan, L. F. (2013).Pengaruh Motivasi Intrinsik dan Motivasi Ekstrinsik


terhadap Kinerja Perawat. (tesis). Universitas Padjadjaran. Bandung.

Rivai, F. (2016). Faktor yang Berhubungan dengan Implementasi Keselamatan


Pasien di RSUD Ajjappannge Soppeng Tahun 2015. Jurnal Kebijakan
Kesehatan Indonesia. 5(4), pp. 152–157.

RSUP Sanglah Denpasar (2017). Laporan Bulanan Tim KPRS RSUP Sanglah
Denpasar. Pedoman Penyelenggaraan Keselamatan Pasien di RSUP Sanglah
Denpasar. pp. 1–56.

Schwendimann, R. (2008). Characteristics of Hospital Inpatient Falls Across


Clinical Departments. (May 2015). doi: 10.1159/000129954.

Suparman Aris, Arlina, D. and Mawros, D. (2010). Analisis Budaya Keselamatan


Pasien di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. (tesis). Universitas
Muhammadiyah. Yogyakarta.

Syam, N. S. (2017). Implementasi Budaya Keselamatan Pasien Oleh Perawat di


Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar. Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat,
11(2), pp. 174–180.

Vellyana Diny (2015). Analisis Budaya Keselamatan Pasien dalam Pelayanan


Kesehatan di RS PKU Muhammadiyah Unit II Gamping. (tesis). Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.

Wahjosimidjo. (2001). Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.


Lampiran1. Lembar partisipasi penelitian

Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masayarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar
Formulir Partisipasi Penelitian (Informed Concent )

Saya K. Anis Paramita mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Kesehatan

Masyarakat (MIKM) konsentrasi Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas

Kedokteran Universitas Udayana. Saya akan melakukan penelitian yang tujuannya

untuk mengetahui hubungan motivasi dan budaya keselamatan pasiendengan

perilaku penilaian risiko jatuh lansia pada perawat di ruang rawat inap RSUP

Sanglah Denpasar 2018.

Sehubungan dengan hal tersebut maka saya mohon kesediaan Bapak/Ibu

untuk berpartisipasi dalam penelitian saya sebagai responden. Saya akan

menjelaskan terlebih dahulu prosedur penelitian yang akan dilakukan. Apabila

Bapak/Ibu bersedia menjadi responden maka dimohonkan untuk menandatangani

persetujuan menjadi responden. dipastikan Bapak/Ibu bersifat sukarela tanpa ada

paksaan dari manapun. Apabila Bapak/Ibu tidak berkenan dapat mengundurkan

diri tanpa ada sanksi.

Penelitian ini akan dilakukan dengan mengisi kuesioner. Diperkirakan akan

menghabiskan waktu selama 15-20 menit. Semua jawaban akan dirahasiakan dan

akan dijadikan hasil penelitian untuk kepentingan khasanah ilmu pengetahuan.

Apabila Bapak/Ibu ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut terkait

penelitian ini maka dapat menghubungi peneliti di nomor telepon 081916184090.


Peneliti mengucapakan terima kasih dan mohon maaf apabila ada yang kurang

berkenan di dalam pelaksanaan penelitian ini.


Lampiran 2.LembarPersetujuanMenjadi Responden

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi


Universitas Udayana, FakultasKedokteran
Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Jl. PB Sudirman, Denpasar 80232
Telpdan Fax (0361) 227499

Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : ……………………………………………………………………..

Alamat : ……………………………………………………………………..

Tanggal lahir : ……………………………………………………………………..

Pekerjaan : ……………………………………………………………………..

o Menyatakantelahdiberipenjelasantentangpenelitianini
o Menyatakantelahdiberikesempatanuntukbertanya
o Menyatakantelahdiberijawabanataspertanyaan yang diajukan
o Menyatakanbersediaberpartisipasidalampenelitian yang berjudul:
Hubungan Motivasi dan Budaya Keselamatan Pasien dengan
Perilaku Penilaian Risiko Jatuh Lansia pada Perawat di Ruang
Rawat Inap RSUP Sanglah Denpasar
Apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, maka saya berhak untuk
mengundurkan diri untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

Denpasar, 2018
Informan Peneliti Saksi

( ) K.Anis Paramita ( )
Lampiran 3. Kuesioner penelitian

Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar
Kuesioner penelitian

Pilihlah salah satu jawaban dengan memberikan tanda centang pada kolom
tersebut. Pilihlah:
1. Sangat tidak setuju, jika anda sangat tidak setuju dengan pernyataan
tersebut.
2. Tidak setuju, jika anda tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
3. Setuju, jika anda setuju dengan pernyataan tersebut.
4. Sangat setuju, jika anda sangat setuju dengan pernyataan tersebut.

No Seksi 1 Sangat Tidak Setuju Sangat


tidak setuju setuju
setuju
1 Fasilitas di RSUP Sanglah memadai untuk
bekerja dengan baik
2 RSUP Sanglah segera memperbaiki sarana
dan prasarana kalau mengalami kerusakan
3 Pedoman bagi perawat tentang pelayanan di
RSUP Sanglah mudah untuk didapatkan
4 RSUP Sanglah memberikan pelatihan secara
teratur kepada saya tentang patient safety
5 RSUP Sanglah memberikan penghargaan
terhadap kemampuan saya
6 RSUP Sanglah memperhatikan
kesejahteraan saya
7 Organisasi di RSUP Sanglah menerapkan
sistem yang baik dalam menghargai
karyawan
8 Atasan saya mengakui kemampuan saya
9 Atasan saya memberikan dukungan untuk
meningkatkan kinerja
10 Atasan saya selalu memberikan penjelasan
tentang perkembangan tentang asuhan
keperawatan
11 Teman kerja saya memberikan dukungan
dalam meningkatkan kinerja
12 Hubungan saya dengan teman di tempat
kerja berlangsung baik
13 Hubungan saya dengan atasan berlangsung
baik
No Seksi 1 Sangat Tidak Setuju Sangat
tidak setuju setuju
setuju
14 Pekerjaan saya sesuai dengan kompetensi
saya
15 Pemenuhan kebutuhan asuhan keperawatan
setiap pasien merupakan tanggung jawab
saya
16 Sayaselalu memperhatikan keselamatan
pasien termasuk pasien lansia
17 Saya melaksanakan tugas sesuai dengan
jadwal yang diberikan
18 Profesi saya membuat saya bekerja keras
untuk menjagakeselamatan pasien
19 Saya memiliki usaha keras untuk selalu
memberikan pelayanan kepada setiap pasien
20 Saya puas dengan fasilitas yang ada di
tempat saya bekerja
21 Setiap tugas yang telah dibuat dan
ditetapkan oleh atasan, saya lakukan dengan
penuh tanggung jawab
22 Saya selalu menyelesaikan tugas yang
diberikan dengan sebaik-baiknya dan tepat
waktu
23 Saya sangat berhati-hati dalam bekerja untuk
mengurangi kesalahan kerja

No Seksi 2 Sangat Tidak Setuju Sangat


tidak setuju setuju
setuju
1 Di ruangan saya, setiap orang saling
mendukung satu sama lain
2 Ruangan saya memiliki cukup staf/ tenaga
untuk menyelesaikan beban kerja
3 Saya akan mengerjakan sebagai suatu tim
bilasuatu pekerjaan harus diselesaikan
dengan cepat
4 Di ruangan ini setiap orang selalu hormat
satu sama lainnya
5 Staf di ruangan ini bekerja lewat jam karena
memberikan pelayanan yang terbaik bagi
pasien
6 Saya selalu aktif bekerja demi meningkatkan
keselamatan pasien
7 Apabila ada kesalahan, pegawai merasa
seolah segala akibat dari kesalahan tersebut
dilimpahkan kepadanya sendiri
No Seksi 2 Sangat Tidak Setuju Sangat
tidak setuju setuju
setuju
8 Setiap kesalahan menjadikan perubahan yang
baik di ruangan ini
9 Kesalahan yang serius tidak terjadi di
ruangan ini
10 Ketika suatu area di ruangan ini sibuk, yang
lain akan membantu
11 Ketika melaporkan kejadian, yang dilaporkan
adalah pasien yang mengalami dan perawat
yang menangani
12 Setelah saya melakukan perubahan untuk
mengembangkan keselamatan pasien, saya
mengevaluasi keefektifannya
13 Keselamatan pasien tidak pernah
dikorbankan dalam menyelesaikan banyak
pekerjaan
14 Saya khawatir jika kesalahan saya tercatat
dalam catatan kepegawaian
15 Saya mempunyai masalah keselamatan
pasien di ruangan ini
16 Saya sudah melakukan tindakan keperawatan
sesuai dengan standar operasional prosedur
untuk mencegah kesalahan
17 Atasan saya mengatakan bagus ketika beliau
melihat pekerjaan diselesaikan sesuai dengan
prosedur keselamatan pasien
18 Atasan saya sangat serius menanggapi saran
staf untuk mengembangan keselamatan
pasien
19 Ketika ada tekanan atasan saya ingin sekali
bekerja cepat walaupun dengan jalan pintas
20 Atasan saya mengabaikan masalah
keselamatan pasien yang terjadi berulang
21 Saya selalu diberikan umpan balik tentang
perubahan yang terjadi berdasarkan laporan
kejadian
22 Saya bebas berbicara tentang sesuatu jika hal
tersebut dapat membahayakan keselamatan
pasien
23 Saya selalu diinformasikan tentang kesalahan
yang terjadi di ruangan ini
24 Saya bisa menanyakan kepada atasan tentang
hal-hal di luar kewenangan saya
No Seksi 2 Sangat Tidak Setuju Sangat
tidak setuju setuju
setuju
25 Di ruangan ini sayabisa berdiskusi tentang
cara mencegah kesalahan agar tidak terjadi
lagi
26 Saya takut untuk mengajukan pertanyaan
kepada atasan ketika sesuatu berjalan tidak
semestinya
27 Saya melaporkan kesalahan yang sudah saya
ketahui sebelum berimbas kepada pasien
28 Saya melaporkan kepada atasan kondisi yang
sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera
kepada pasien
29 Saya melaporkan kepada atasan kejadian
yang terjadi pada pasien walaupun tidak
menimbulkan cedera
30 Manajemen rumah sakit mengembangkan
budaya kerja yang berfokus pada
keselamatan pasien
31 Staf antar ruangan dalam rumah sakit tidak
berkoordinasi dengan baik satu sama lain
32 Saat melakukan transfer pasien antar ruangan
merupakan kondisi yang sangat berisiko
untuk terjadi insiden
33 Terjadi kerjasama yang baik antar ruangan
dalam rumah sakit untuk melakukan tugas
bersama
34 Informasi penting tentang pasien sering
hilang pada saat pergantian shift
35 Sangat sering terjadi ketidaknyamanan saat
bekerja di ruangan
36 Masalah sering terjadi saat pertukaran
informasi dalam ruangan
37 Tindakan manajemen rumah sakit
memperlihatkan bahwa keselamatan pasien
adalah prioritas utama
38 Manajemen rumah sakit terlihat antusias
terhadap keselamatan pasien hanya ketika
terjadi kejadian yang tidak diharapkan
39 Saya selalu mewujudkan pelayanan terbaik
terhadap semua pasien
40 Pergantian shift merupakan masalah bagi
pasien di rumah sakit

Instrumen Budaya Keselamatan Pasien Diadaptasi dari Hospital Survey on


Keselamatan pasien Culture oleh Agency for Healhtcare Reseacrh and Quality
(AHRQ), 2004
A. Identitas responden
1. Kode responden .............................................
2. Jenis kelamin 1. Laki-laki
2. Perempuan
3. Tanggal lahir .............................................
4. Telepon/HP .............................................
5. Pendidikan terakhir 1= Diploma
2= Sarjana
3= Profesi Ners
6. Lama bekerja di ruangan ini ....... tahun
7. Ruang kerja Ruang ........

Lampiran 4. Check list kelengkapan pengisian form pengkajian risiko jatuh


Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar
Check list kelengkapan pengisian form pengkajian risiko
jatuh

Identitas perawat
Nama :__________________________________________
Ruangan :___________________________________________
Identitas pasien
Nama :__________________________________________
Usia : __________________________________________
Diagnosa :___________________________________________

No Item penilaian Skor Diisi(1) Tidak diisi(0)


1 Usia
a. Kurang dari 60 tahun 0
b. Lebih dari 60 tahun 1
c. Lebih dari 80 tahun 2
2 Defisit sensoris
a. Kacamata bukan 0
bifokal
b. Kacamata bifokal 1
c. Gangguan 1
pendengaran
d. Kacamata multifokal 2
e. Katarak/ Glaukoma 2
f. Hampir tidak melihat/ 3
buta
3 Aktivitas
a. Mandiri 0
b. ADL dibantu 2
sebagian
c. ADL dibantu penuh 3
4 Riwayat jatuh
a. Tidak pernah 0
b. Jatuh < 1 tahun 1
c. Jatuh < 1 bulan 2
d. Jatuh saat dirawat 3
5 Kognisi
a. Orientasi baik 0
b. Kesulitan mengerti 2
perintah
c. Gangguan memori 2
d. Kebingungan 3
e. Disorientasi 3
6 Pengobatan dan
penggunaan alat
kesehatan
a. > 4 jenis pengobatan 1
b. Antihipertensi/ 2
hipoglikemik/
antidepresan
c. Sedatif/ psikotropika/ 2
narkotika
d. Infus/ epidural/ 2
spinal/ dower catheter/
traksi
7 Mobilitas
a. Mandiri 0
b. Menggunakan alat 1
bantu berpindah
c. Koordinasi/ 2
keseimbangan buruk
d. Dibantu sebagian 3
e. Dibantu penuh 4
f. Lingkungan dengan 4
banyak furniture
8 Pola BAB/BAK
a. Teratur 0
b. Inkontinensia urine/ 1
feses
c. Nokturia 2
d. Urgensi/ frekuensi 3
9 Komorbiditas
a. Diabetes/ penyakit 2
jantung/ stroke/ ISK
b. Gangguan saraf pusat/ 3
perkinson
c. Pasca bedah 0-24 jam 3
10 Total skor
11 Keterangan:
Risiko rendah 0-7
Risiko tinggi 8-13
Risiko sangat tinggi ≥14
12 Nama/paraf
Jumlah
Lampiran 5. Jadwal pelaksanaan penelitian

JADWAL PENELITIAN HUBUNGAN MOTIVASI DAN BUDAYA KESELAMATAN


PASIEN DENGAN PERILAKU PENILAIAN RISIKO JATUH LANSIA PADA PERAWAT
DI RUANG RAWAT INAP RSUP SANGLAH DENPASAR
No Jenis Kegiatan Bulan
September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3
1 Pengajuan ide
usulan penelitian
2 Studi
kepustakaan
3 Pembuatan
penelitian
4 Ujian usulan
penelitian
5 Revisi usulan
penelitian
6 Pengurusan ijin
penelitian
7 Penelitian
8 Pengolahan data
dan analisis data
9 Penyusunan tesis
10 Ujian tesis
11 Perbaikan dan
pengumpulan
tesis
lampiran 6. Hasil Uji SPSS
Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar
Hasil Uji SPSS

ANALISIS FREKUENSI

Jenis Kelamin Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Laki-Laki 23 21.7 21.7 21.7

Perempuan 83 78.3 78.3 100.0

Total 106 100.0 100.0

Kelompok Umur

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 17-25 tahun 26 24.5 24.5 24.5

26-35 tahun 61 57.5 57.5 82.1

36-45 tahun 13 12.3 12.3 94.3

46-55 tahun 6 5.7 5.7 100.0

Total 106 100.0 100.0

Pendidikan Terakhir Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Diploma 78 73.6 73.6 73.6

Profesi NERS 28 26.4 26.4 100.0

Total 106 100.0 100.0


Lama Bekerja Di Ruangan Saat Ini

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1-5 Tahun 71 67.0 67.0 67.0

6-10 Tahun 20 18.9 18.9 85.8

>10 Tahun 15 14.2 14.2 100.0

Total 106 100.0 100.0

ANALISIS DESKRIPTIF
Statistics

Umur
Responden lamakerjatahun

N Valid 106 106

Missing 0 0

Mean 30.84 5.996

Median 29.00 4.000

Minimum 22 1.1

Maximum 57 31.0

ANALISIS FREKUENSI MOTIVASI


seksi1.1

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 7 6.6 6.6 6.6

3 95 89.6 89.6 96.2

4 4 3.8 3.8 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi1.2

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 20 18.9 18.9 18.9

3 78 73.6 73.6 92.5

4 8 7.5 7.5 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.3

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 3 2.8 2.8 2.8

3 89 84.0 84.0 86.8

4 14 13.2 13.2 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.4

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 1 .9 .9 .9

3 74 69.8 69.8 70.8

4 31 29.2 29.2 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi1.5

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 12 11.3 11.3 11.3

3 91 85.8 85.8 97.2

4 3 2.8 2.8 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.6

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 2 1.9 1.9 1.9

3 96 90.6 90.6 92.5

4 8 7.5 7.5 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.7

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 9 8.5 8.5 8.5

3 93 87.7 87.7 96.2

4 4 3.8 3.8 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.8

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 3 2.8 2.8 2.8

3 101 95.3 95.3 98.1

4 2 1.9 1.9 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi1.9

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 4 3.8 3.8 3.8

3 96 90.6 90.6 94.3

4 6 5.7 5.7 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.10

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 2 1.9 1.9 1.9

3 87 82.1 82.1 84.0

4 17 16.0 16.0 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.11

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 1 .9 .9 .9

3 97 91.5 91.5 92.5

4 8 7.5 7.5 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.12

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 87 82.1 82.1 82.1

4 19 17.9 17.9 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi1.13

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 84 79.2 79.2 79.2

4 22 20.8 20.8 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.14

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 1 .9 .9 .9

3 94 88.7 88.7 89.6

4 11 10.4 10.4 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.15

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 2 1.9 1.9 1.9

3 88 83.0 83.0 84.9

4 16 15.1 15.1 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.17

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 1 .9 .9 .9

3 86 81.1 81.1 82.1

4 19 17.9 17.9 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi1.18

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 93 87.7 87.7 87.7

4 13 12.3 12.3 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.19

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 1 .9 .9 .9

3 93 87.7 87.7 88.7

4 12 11.3 11.3 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.20

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 26 24.5 24.5 24.5

3 78 73.6 73.6 98.1

4 2 1.9 1.9 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.16

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 79 74.5 74.5 74.5

4 27 25.5 25.5 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi1.21

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 94 88.7 88.7 88.7

4 12 11.3 11.3 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.22

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 3 2.8 2.8 2.8

3 88 83.0 83.0 85.8

4 15 14.2 14.2 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi1.23

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 84 79.2 79.2 79.2

4 22 20.8 20.8 100.0

Total 106 100.0 100.0

Statistics

totalseksi1

N Valid 106

Missing 0

Mean 70.86

Median 70.00

Std. Deviation 4.171

Minimum 61

Maximum 88
ANALISIS FREKUENSI BUDAYA KESELAMATAN PASIEN

seksi2.1

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 3 2.8 2.8 2.8

3 84 79.2 79.2 82.1

4 19 17.9 17.9 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.2

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 2 1.9 1.9 1.9

2 37 34.9 34.9 36.8

3 67 63.2 63.2 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.3

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 1 .9 .9 .9

3 97 91.5 91.5 92.5

4 8 7.5 7.5 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.4

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 2 1.9 1.9 1.9

3 90 84.9 84.9 86.8

4 14 13.2 13.2 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.5

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 7 6.6 6.6 6.6

2 64 60.4 60.4 67.0

3 35 33.0 33.0 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.6

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 91 85.8 85.8 85.8

4 15 14.2 14.2 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.7

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 23 21.7 21.7 21.7

3 72 67.9 67.9 89.6

4 11 10.4 10.4 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.8

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 1 .9 .9 .9

2 3 2.8 2.8 3.8

3 98 92.5 92.5 96.2

4 4 3.8 3.8 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.9

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 1 .9 .9 .9

2 4 3.8 3.8 4.7

3 97 91.5 91.5 96.2

4 4 3.8 3.8 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.10

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 7 6.6 6.6 6.6

3 90 84.9 84.9 91.5

4 9 8.5 8.5 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.11

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 2 1.9 1.9 1.9

3 98 92.5 92.5 94.3

4 6 5.7 5.7 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.12

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 1 .9 .9 .9

3 100 94.3 94.3 95.3

4 5 4.7 4.7 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.13

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 1 .9 .9 .9

2 2 1.9 1.9 2.8

3 96 90.6 90.6 93.4

4 7 6.6 6.6 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.14

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 3 2.8 2.8 2.8

2 53 50.0 50.0 52.8

3 50 47.2 47.2 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.15

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 1 .9 .9 .9

2 21 19.8 19.8 20.8

3 79 74.5 74.5 95.3

4 5 4.7 4.7 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.16

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 86 81.1 81.1 81.1

4 20 18.9 18.9 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.17

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 1 .9 .9 .9

3 97 91.5 91.5 92.5

4 8 7.5 7.5 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.18

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 5 4.7 4.7 4.7

3 88 83.0 83.0 87.7

4 13 12.3 12.3 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.19

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 1 .9 .9 .9

2 16 15.1 15.1 16.0

3 84 79.2 79.2 95.3

4 5 4.7 4.7 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.20

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 4 3.8 3.8 3.8

2 12 11.3 11.3 15.1

3 73 68.9 68.9 84.0

4 17 16.0 16.0 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.21

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 4 3.8 3.8 3.8

3 100 94.3 94.3 98.1

4 2 1.9 1.9 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.22

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 5 4.7 4.7 4.7

2 27 25.5 25.5 30.2

3 70 66.0 66.0 96.2

4 4 3.8 3.8 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.23

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 3 2.8 2.8 2.8

3 95 89.6 89.6 92.5

4 8 7.5 7.5 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.24

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 19 17.9 17.9 17.9

3 87 82.1 82.1 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.25

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 2 1.9 1.9 1.9

3 93 87.7 87.7 89.6

4 11 10.4 10.4 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.26

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 18 17.0 17.0 17.0

3 84 79.2 79.2 96.2

4 4 3.8 3.8 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.27

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 2 1.9 1.9 1.9

3 100 94.3 94.3 96.2

4 4 3.8 3.8 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.28

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 101 95.3 95.3 95.3

4 5 4.7 4.7 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.29

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 101 95.3 95.3 95.3

4 5 4.7 4.7 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.30

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 90 84.9 84.9 84.9

4 16 15.1 15.1 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.31

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 20 18.9 18.9 18.9

2 64 60.4 60.4 79.2

3 22 20.8 20.8 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.32

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 3 2.8 2.8 2.8

2 73 68.9 68.9 71.7

3 29 27.4 27.4 99.1

4 1 .9 .9 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.33

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 3 2.8 2.8 2.8

3 98 92.5 92.5 95.3

4 5 4.7 4.7 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.34

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 14 13.2 13.2 13.2

3 76 71.7 71.7 84.9

4 16 15.1 15.1 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.35

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 1 .9 .9 .9

2 19 17.9 17.9 18.9

3 80 75.5 75.5 94.3

4 6 5.7 5.7 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.36

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 14 13.2 13.2 13.2

3 84 79.2 79.2 92.5

4 8 7.5 7.5 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.37

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2 3 2.8 2.8 2.8

3 79 74.5 74.5 77.4

4 24 22.6 22.6 100.0

Total 106 100.0 100.0


seksi2.38

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 3 2.8 2.8 2.8

2 64 60.4 60.4 63.2

3 28 26.4 26.4 89.6

4 11 10.4 10.4 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.39

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 3 83 78.3 78.3 78.3

4 23 21.7 21.7 100.0

Total 106 100.0 100.0

seksi2.40

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 1 .9 .9 .9

2 9 8.5 8.5 9.4

3 79 74.5 74.5 84.0

4 17 16.0 16.0 100.0

Total 106 100.0 100.0


Statistics

totalseksi2

N Valid 106

Missing 0

Mean 116.61

Median 116.00

Std. Deviation 5.466

Minimum 107

Maximum 143

ANALISIS PERILAKU

perilaku1

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 1 .9 .9 .9

1 105 99.1 99.1 100.0

Total 106 100.0 100.0

perilaku2

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 67 63.2 63.2 63.2

1 39 36.8 36.8 100.0

Total 106 100.0 100.0


perilaku3

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 106 100.0 100.0 100.0

perilaku4

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 4 3.8 3.8 3.8

1 102 96.2 96.2 100.0

Total 106 100.0 100.0

perilaku5

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 3 2.8 2.8 2.8

1 103 97.2 97.2 100.0

Total 106 100.0 100.0

perilaku6

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 66 62.3 62.3 62.3

1 40 37.7 37.7 100.0

Total 106 100.0 100.0

perilaku7

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 106 100.0 100.0 100.0


perilaku8

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 4 3.8 3.8 3.8

1 102 96.2 96.2 100.0

Total 106 100.0 100.0

perilaku9

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 5 4.7 4.7 4.7

1 101 95.3 95.3 100.0

Total 106 100.0 100.0

perilaku10

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 79 74.5 74.5 74.5

1 27 25.5 25.5 100.0

Total 106 100.0 100.0

perilaku11

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 106 100.0 100.0 100.0

perilaku12

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 103 97.2 97.2 97.2

1 3 2.8 2.8 100.0

Total 106 100.0 100.0


Statistics

totalperilaku

N Valid 106

Missing 0

Mean 8.87

Median 8.00

Std. Deviation 1.235

Minimum 6

Maximum 11

UJI NORMALITAS

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Umur Responden .150 106 .000 .856 106 .000

lamakerjatahun .239 106 .000 .705 106 .000

totalseksi1 .166 106 .000 .889 106 .000

totalseksi2 .236 106 .000 .827 106 .000

totalperilaku .316 106 .000 .833 106 .000

a. Lilliefors Significance Correction


UJI ANALISIS BIVARIAT RANK SPEARMAN

Correlations

Umur Lamakerja
totalperilaku totalseksi1 totalseksi2 Responden tahun

Spear totalperilaku Correlation 1.000 .714** .370** -.176 -.219*


man's Coefficient
rho
Sig. (2- . .000 .000 .071 .024
tailed)

N 106 106 106 106 106

totalseksi1 Correlation .714** 1.000 .549** -.174 -.147


Coefficient

Sig. (2- .000 . .000 .074 .132


tailed)

N 106 106 106 106 106

totalseksi2 Correlation .370** .549** 1.000 -.042 -.029


Coefficient

Sig. (2- .000 .000 . .667 .770


tailed)

N 106 106 106 106 106

Umur Responden Correlation -.176 -.174 -.042 1.000 .725**


Coefficient

Sig. (2- .071 .074 .667 . .000


tailed)

N 106 106 106 106 106

lamakerjatahun Correlation -.219* -.147 -.029 .725** 1.000


Coefficient

Sig. (2- .024 .132 .770 .000 .


tailed)

N 106 106 106 106 106

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).


ANALISIS BIVARIAT DENGAN ANOVA

Descriptives

totalperilaku

95% Confidence Interval for Mean


Std.
N Mean Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum

Laki-Laki 23 8.87 1.180 .246 8.36 9.38 7 11

Perempuan 83 8.87 1.257 .138 8.59 9.14 6 11

Total 106 8.87 1.235 .120 8.63 9.11 6 11

ANOVA

totalperilaku

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups .000 1 .000 .000 .994

Within Groups 160.151 104 1.540

Total 160.151 105

Descriptives

totalperilaku

95% Confidence Interval for Mean


Std.
N Mean Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum

Diploma 78 8.91 1.240 .140 8.63 9.19 6 11

Profesi 28 8.75 1.236 .234 8.27 9.23 7 11


NERS

Total 106 8.87 1.235 .120 8.63 9.11 6 11


ANOVA

totalperilaku

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups .529 1 .529 .345 .558

Within Groups 159.622 104 1.535

Total 160.151 105

ANALISIS MULTIVARIAT ANCOVA

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:totalperilaku

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 60.121a 3 20.040 20.435 .000

Intercept 2.118 1 2.118 2.159 .145

totalseksi1 34.820 1 34.820 35.506 .000

totalseksi2 .078 1 .078 .079 .779

lamakerja .730 1 .730 .744 .390

Error 100.030 102 .981

Total 8496.000 106

Corrected Total 160.151 105

a. R Squared = ,375 (Adjusted R Squared = ,357)

Anda mungkin juga menyukai