Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

(Indeks Bias Larutan)

(PERCOBAAN – OP2)

Nama : R. Achmad Nafi’ Firdausi

NIM : 205090801111026

Fak/Jurusan : MIPA/ Fisika

Kelompok : 06

Tgl.Praktikum : 3 Mei 2021

Nama Asisten : Awitta Yani

LABORATORIUM FISIKA DASAR

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2021
LEMBAR PENILAIAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

(Indeks Bias Larutan)

Nama : R. Achmad Nafi’ Firdausi

NIM : 205090801111026

Fak/Jurusan : MIPA/ Fisika

Kelompok : 06

Tgl. Praktikum : 3 Mei 2021

Nama Asisten : Awitta Yani

Catatan :

…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………

Paraf Paraf Nilai


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah prinsip kerja rekfraktometer Abbe
dan hubungan antara indeks bias dengan konsentrasi larutan gula dapat dijelaskan oleh
praktikan. Selain itu, kadar gula dalam suatu larutan yang tidak diketahui kensentrasinya
dapat ditentukan oleh peserta praktikum.
1.2 Dasar Teori
Pembiasan adalah suatu fenomena ketika pancaran cahaya melewati suatu
permukaan yang memisahkan dua medium dan cahaya tersebut akan dibiaskan. Kecuali
jika suatu sinar datang tegak lurus dengan permukaan yang dituju, maka pembiasan
akan mengubah arah datang sinar tersebut. Untuk hal ini, sinar dapat dikatakan bengkok
karena pembiasan. Pada gambar 1.1, tampak bahwa pembelokkan dapat terjadi apabila
cahaya dengan garis lurus melewati suatu permukaan air (Halliday, et al., 2018).

Gambar 1.1 Potret suatu sinar cahaya yang terpantulkan dan terbiaskan oleh
permukaan air yang datar (Halliday, et al., 2018).
Terdapat dua aspek penting pada perambatan cahaya, yaitu refleksi (pemantulan)
dan refraksi (pembiasan). Jika ada suatu permukaan yang memisahkan antara dua bahan
yang transparan (seperti gelas kaca dan air) yang dilewati gelombang cahaya, secara
umum gelombang tersebut akan terpantulkan sebagian dan sebagiannya lagi akan
terbiaskan. Jika gelombang cahaya bersentuhan dengan permukaan material yang kasar,
pantulan cahayanya akan tersebar ke segala arah. Pada geometri optik, terdapat faktor
yang sangat penting peranannya, yaitu indeks bias. Indeks bias dapat disimbolkan
dengan n dan secara matematis dapat dinyatakan dengan (Young & Freedman, 2020):
𝑐 (1.1)
𝑛=
𝑣
Dimana, c adalah kecepatan cahaya di ruang hampa, dan v adalah kecepatan
cahaya dari suatu material. Cahaya akan bergerak lebih lambat pada suatu bahan
dibandingkan dengan bergerak pada suatu ruang hampa, sehingga nilai n nya akan selalu
lebih besar dari satu. Jika pada ruang hampa, nilai n akan sama dengan 1 tanpa ada
angka di belakang koma (Young & Freedman, 2020).
Willebrord Snell (1591 – 1626) pada tahun 1621 telah menemukan hubungan
analitik antara 𝜃1 dan 𝜃2 yang ditemukan atas hasil percobaan dan hasil penemuan ini
dinamakan dengan hukum Snell, yang dapat dinyatakan dengan sebagai berikut
(Giancoli, 2014):
𝑛1 . sin 𝜃1 = 𝑛2 . sin 𝜃2 (1.2)

𝜃2 adalah sudut bias dan 𝜃1 adalah sudut datang dan 𝑛1 dan 𝑛2 menyatakan
indeks bias dari suatu materi/cahaya. Hukum Snell menjelaskan bahwa jika 𝑛2 > 𝑛1 ,
maka 𝜃2 < 𝜃1 ; artinya, jika cahaya memasuki medium di mana n lebih besar (dan
lajunya lebih kecil), sehingga berkas cahaya dibelokkan mendekati normal. Sedangkan
untuk 𝑛2 < 𝑛1 , maka 𝜃2 < 𝜃1 , sehingga berkas cahaya dibelokkan menjauhi normal
(Giancoli, 2014).
Pada tahun 1869, Ernst Abbe mengemukakan prinsip sudut kritis, ketika beliau
menemukan suatu alat optik yang dinamakan dengan Refraktometer Abbe. Alat ini
dapat mempermudah perhitungan karena sudut datang cahaya dapat mencapai sudut
90o, sehingga yang perlu diukur hanya sudut bias saja. Dalam penemuannya, Abbe
menambahkan beberapa fitur inovatif tambahan. Salah satunya adalah prisma ganda
yang terdiri atas prisma bercahaya dan prisma ganda (Rosenfeld, 2012).
Untuk menentukan nilai indeks bias yang tepat, dibutuhkan suatu cahaya
monokromatik karena memiliki bias cahaya dan panjang gelombang yang berbeda.
Pembiasan pada cahaya merah memiliki nilai yang lebih kecil jika dibandingkan dengan
violet, sehingga terjadi dispersi. Abbe menggunakan suatu cahaya putih dan cahaya
tersebut dikompensasi untuk dispersi yang dihasilkan dengan bantuan prisma-prisma
amici. Prisma ini merupakan kombinasi prisma yang emiliki indeks bias yang berbeda
dan dipasang secara terbalik (Rosenfeld, 2012).
BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain,
Refraktometer Abbe, lampu pijar, tabung reaksi, gelas ukur, pipet tetes, pengaduk,
neraca Ohauss, tissue, gula, dan air.

2.2 Tata Laksana Percobaan

Bagian-bagian dari Refraktometer Abbe dipahami dan dipelajari terlebih dahulu.

Larutan gula dengan konsentrasi 20%, 40%, dan 60% dibuat. Dalam pembuatan
konsentrasi 20%, dibutuhkan 16 mL air dan 4 gram gula.

Untuk penakaran 4 gram gula, dibutuhkan neraca Ohauss untuk pengukuran


massanya.

Sebelum digunakan, Neraca Ohauss dikalibrasi terlebih dahulu.

Gula dimasukkan ke tabung reaksi dan dicampur dengan 16 mL air, lalu diaduk.

Permukaan prisma pada Refraktometer Abbe dibersihkan dengan tissue terlebih


dahulu.

Larutan gula yang sudah dibuat diambil dengan bantuan alat pipet tetes.

Larutan tersebut diteteskan beberapa tetes pada permukaan prisma dan ditutup
dengan penutup prisma.
Lampu pijar dinyalakan

Lensa Refraktometer Abbe diamati dan indeks bias larutannya dicari.

Nilai indeks bias dicatat.

Langkah-langkah percobaan ini diulangi pada larutan gula dengan konsentrasi


40% (6 gram gula + 9 mL air) dan konsentrasi 60% (6 gram gula + 4 mL air).
BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Hasil Percobaan


Indeks Bias (n)
Persentase Larutan (%) n1 n2 n3
20 135,35 135,85 135,60
40 137,45 137,35 137,55
60 139,35 139,30 139,50

3.2 Perhitungan
3.2.1 Persentase Larutan 20%
ke n |𝑛 − 𝑛̅|2
1 135,35 0,0625
2 135,85 0,0625
3 135,6 0
𝛴 406,8 0,125

Σ𝑛 406,8
𝑛̅ = = = 135,6
𝑛 3

Σ|𝑛 − 𝑛̅|2 0,0625 + 0,0625 + 0 0,125


𝛿𝑛 = √ =√ =√ = 0,25
𝑘−1 3−1 2
𝛿𝑛 0,25
𝐾𝑟 𝑛 = × 100% = × 100% = 0,18%
𝑛̅ 135,6
𝑛 = (𝑛̅ ± 𝛿𝑛) = (135,6 ± 0,25)
3.2.2 Persentase Larutan 40%

ke n |𝑛 − 𝑛̅|2
1 137,45 0
2 137,35 0,01
3 137,55 0,01
𝛴 412,35 0,02

Σ𝑛 412,35
𝑛̅ = = = 137,45
𝑛 3

Σ|𝑛 − 𝑛̅|2 0 + 0,01 + 0,01 0,02


𝛿𝑛 = √ =√ =√ = 0,1
𝑘−1 3−1 2
𝛿𝑛 0,1
𝐾𝑟 𝑛 = × 100% = × 100% = 0,072%
𝑛̅ 137,45
𝑛 = (𝑛̅ ± 𝛿𝑛) = (137,45 ± 0,1)
3.2.2 Persentase Larutan 60%

ke n |𝑛 − 𝑛̅|2
1 139,35 0,00111
2 139,3 0,00694
3 139,5 0,01361
𝛴 418,15 0,02167

Σ𝑛 418,15
𝑛̅ = = = 139,383
𝑛 3

Σ|𝑛 − 𝑛̅|2 0,00111 + 0,00694 + 0,01361 0,02167


𝛿𝑛 = √ =√ =√ = 0,10408
𝑘−1 3−1 2
𝛿𝑛 0,10408
𝐾𝑟 𝑛 = × 100% = × 100% = 0,074%
𝑛̅ 139,383
𝑛 = (𝑛̅ ± 𝛿𝑛) = (139,383 ± 0,10408)
3.3 Grafik

Gambar 3.1 Grafik perbandingan antara konsentrasi larutan dengan nilai rata-rata indeks
biasnya.

Persentase (%) 𝑛̅
20 135,6
40 137,45
60 139,383
133,45
𝑥ҧ 𝑦̅ 𝑥1 𝑥2 𝑦1 𝑦2 𝑦𝑎 𝑦𝑏
40 137,478 35 45 136,6 137,8 138,5 136

∆𝑦 𝑦2 − 𝑦1 137,8 − 136,6 1,2


tan 𝜃 = = = = = 0,12
∆𝑥 𝑥2 − 𝑥1 45 − 35 10

𝛿𝑔 𝑦𝑎 − 𝑦𝑏 138,5 − 136
𝐾𝑟 𝑔 = × 100% = × 100% = × 100% = 0,9%
𝑔 2𝑦̅ 2 × 137,478

𝑌 = tan 𝜃 + 𝑛 𝑎𝑖𝑟 = 0,12 + 133,33 = 133,45 = 133,45 × 100% = 133,45%

3.4 Pembahasan

3.4.1 Analisis Prosedur

Setiap alat yang digunakan pada praktikum kali ini tentunya terdapat fungsi dan
kegunaannya masing-masing. Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini
antara lain, Refraktometer Abbe yang berfungsi sebagai alat pengukur indeks bias
larutan gula. Kemudian lampu pijar digunakan sebagai sumber cahaya pada
Refraktometer Abbe agar hasil indeks biasnya dapat terlihat dengan jelas. Lalu, tabung
reaksi berfungsi sebagai wadah dari larutan gula. Dalam pembuatan larutan gula,
dibutuhkan gelas ukur agar takaran dari air yang digunakan dapat lebih akurat. Agar
lebih mudah dalam pengambilan larutan gula, maka sebagai alat bantunya digunakanlah
pipet tetes. Kemudian pengaduk digunakan sebagai pengambil gula dari wadahnya.
Lalu, neraca Ohauss berfungsi sebagai alat pengukur massa gula. Tissue digunakan
sebagai pembersih permukaan prisma pada Refraktometer Abbe. Gula digunakan
sebagai bahan utama yang digunakan untuk dijadikan larutan. Serta air sebagai bahan
pelarut dalam pembuatan larutan gula.

Dari tiap langkah-langkah yang dilakukan pada praktikum kali ini tentunya
terdapat maksud dan tujuannya masing-masing. Langkah pertama yaitu, bagian-bagian
dari Refraktometer Abbe dipahami dan dipelajari terlebih dahulu supaya larutan gula
dapat terukur dengan benar serta fungsi dari tiap bagian refraktometer dapat
dipergunakan dengan benar oleh praktikan. Lalu, larutan gula dengan konsentrasi 20%,
40%, dan 60% dibuat supaya diperoleh variasi data indeks bias larutannya dan
perbedaan nilai indeks biasnya dapat dianalisis. Dalam pembuatan konsentrasi 20%,
dibutuhkan 16 mL air dan 4 gram gula. Kemudian, untuk penakaran 4 gram gula,
dibutuhkan neraca Ohauss untuk pengukuran massanya agar nilai massanya dapat
diketahui. Sebelum digunakan, Neraca Ohauss dikalibrasi terlebih dahulu supaya hasil
pengukurannya lebih tepat dan akurat. Lalu, gula dimasukkan ke tabung reaksi dan
dicampur dengan 16 mL air, lalu diaduk agar gula dapat terlarut dengan air. Kemudian,
permukaan prisma pada Refraktometer Abbe dibersihkan dengan tissue terlebih dahulu
supaya permukaan prisma bersih dan terhindar dari residu atau benda asing. Larutan
gula yang sudah dibuat diambil dengan bantuan alat pipet tetes dan larutan tersebut
diteteskan beberapa tetes pada permukaan prisma dan ditutup dengan penutup prisma
agar larutan gula dapat diamati indeks biasnya oleh Refraktometer Abbe. Kemudian
lampu pijar dinyalakan supaya Refraktometer Abbe dapat terkena cahaya sehingga
pembacaan indeks bias larutan dapat dibaca dengan jelas. Lalu, lensa Refraktometer
Abbe diamati dan indeks bias larutannya dicari supaya nilai indeks biasnya dapat
diperoleh. Setelah itu nilai indeks bias dicatat agar dapat dipergunakan sebagai data hasil
percobaan dan dapat digunakan dalam analisis perhitungan. Serta, langkah-langkah
percobaan ini diulangi pada larutan gula dengan konsentrasi 40% (6 gram gula + 9 mL
air) dan konsentrasi 60% (6 gram gula + 4 mL air) agar dapat diperoleh variasi data
indeks bias larutan dari perbedaan konsentrasi larutan.

3.4.2 Analisis Hasil

Setelah melakukan percobaan, diperoleh beberapa data indeks bias dari suatu
larutan gula dengan konsentrasi yang berbeda-beda, yaitu dengan konsentrasi 20%,
40%, dan 60%. Pada setiap konsentrasinya, diperoleh data-data indeks bias larutan rata-
rata yang diukur sebanyak tiga kali. Dilakukan pengukuran beberapa kali supaya dapat
meminimalisir error atau kesalahan pengukuran, sehingga hasil pengukuran semakin
mendekati ke nilai yang sebenarnya. Pada perhitungan, terdapat beberapa variabel yang
perlu dihitung, seperti deviasi n (𝛿𝑛), indeks bias larutan rata-rata (𝑛̅), persentase
kesalahan ralat (Kr n), dan nilai akhir indeks bias larutan (n). Setiap variabel tentunya
memiliki fungsinya masing-masing. Nilai 𝑛̅ berfungsi sebagai variabel yang mewakili
hasil-hasil pengukuran yang diambil beberapa kali sehingga memudahkan proses
perhitungan. Kemudian, 𝛿𝑛 berfungsi sebagai variabel yang mewakili simpangan data
atau error pengukuran dan variabel ini memiliki hubungan yang berbanding lurus
dengan persentase Kr n. Dari data-data tersebut, dapat diamati bahwa semakin tinggi
konsentrasi larutan gula, maka semakin besar pula nilai indeks bias larutannya. Jika
makin besar konsentrasi suatu larutan, maka molekul dan komponen penyusunnya akan
semakin banyak, sehingga celah antar molekulnya semakin sempit yang menyebabkan
cahaya semakin sulit untuk menembus atau melewati larutan tersebut. Jika hal ini
terjadi, otomatis kecepatan cahaya saat melewati larutan atau medium tersebut akan
melambat atau kecil. Hal ini sesuai dan relevan dengan teori yang berlaku yaitu, semakin
kecil kecepatan cahaya saat melewati suatu medium, maka nilai indeks biasnya akan
semakin besar karena kedua hal ini saling berbanding terbalik. Selain itu, pada setiap
analisis perhitungan per konsentrasi larutan yang berbeda telah diperoleh persentase Kr
atau kesalahan ralat. Untuk konsentrasi 20% diperoleh persentase Kr sebesar 0,18%,
konsentrasi 40% didapatkan persentase Kr sebesar 0,07%, dan konsentrasi 60% yang
juga diperoleh persentase Kr sebesar 0,07%. Dapat diamati bahwa, persentase Kr dari
ketiga konsentrasi tersebut tergolong sangat kecil yang berarti minimnya error pada
pengukuran dan mendekati nilai real. Hal ini dikarenakan instrumen atau alat ukur
berada dalam kondisi yang sangat baik dan sudah terkalibrasi dengan benar serta
pengamat/pengukur yang handal dan teliti saat mengukur indeks bias larutan tersebut.

Pada praktikum kali ini, diperoleh satu buah grafik yang mebandingkan antara
nilai indeks bias rata-rata yang sebagai sumbu Y dan persentase konsentrasi larutan
sebagai sumbu X. Berdasarkan grafik yang sudah dibuat, diperoleh titik sentroid (40;
137,478), x1 sebesar 35, x2 sebesar 45, y1 senilai 136,6, y2 senilai 137,8, ya senilai 138,5,
dan yb senilai 136. Dapat dilihat bahwa, bentuk grafik dari kumpulan data tersebut
adalah naik secara konstan tanpa adanya fluktuasi dikarenakan besar konsentrasi larutan
akan berbanding lurus dengan nilai indeks biasnya. Pada analisis grafik, juga
menentukan nilai konsentrasi yang tidak diketahui dengan cara menambahkan nilai
tan 𝜃 dengan indeks bias air yang bernilai 133,33. Hingga akhirnya konsentrasi yang
tidak diketahui tersebut diperoleh sebesar 133,45% yang notabenenya sangat besar.
Selain itu, persentase Kr dari grafik ini juga diperoleh yang senilai 0,9%. Persentase
kesalahan ralat yang kecil ini dikarenakan pengukuran dalam pembuatan grafik minim
akan kesalahan dan data-data sumbu X dan sumbu Y diambil dari data analisis
perhitungan yang persentase Kr nya juga sangat kecil, yaitu di bawah 1% untuk semua
konsentrasi larutan.

Refraktometer merupakan suatu alat yang berguna untuk mengukur konsentrasi


dari suatu bahan yang terlarut. Contoh bahan yang dapat diukur oleh alat ini antara lain,
garam, gula, protein, dan lain-lain. Salah satu jenis dari refraktometer adalah
refraktometer Abbe. Refraktometer Abbe adalah jenis refraktometer yang memiliki
kegunaan untuk mengukur indeks bias suatu larutan. Sayangnya, Refraktometer Abbe
tidak dianjurkan untuk mengukur indeks bias suatu larutan yang berbentuk padatan
karena tingkat ketelitiannya akan berkurang dan hasil pengukuran menjadi kurang
akurat. Prinsip kerja dari refraktometer adalah dengan memanfaatkan pembiasan cahaya
dengan bantuan prisma yang terdapat di dalamnya untuk menentukan nilai indeks bias
larutan. Prinsip kerjanya dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu prisma, sampel, dan papan
skala. Dimana, nilai indeks bias dari prisma yang digunakan itu jauh lebih besar dari
nilai indeks bias sampel yang diuji. Misalkan, suatu larutan dengan konsentrasi rendah
dijadikan sampel, maka sudut sudut pembiasan akan melebar yang disebabkan oleh
adanya perbedaan nilai indeks bias antara prisma dengan sampel yang besar.

Terdapat beberapa hal atau faktor yang dapat mempengaruhi nilai indeks bias
dan konsentrasi dari larutan. Hal-hal yang mempengaruhi suatu indeks bias di antaranya
adalah kerapatan larutan, konsentrasi larutan, sudut kritis, dan kecepatan cahaya pada
udara maupun kecepatan cahaya saat melewati larutan. Jika kerapatan dan konsentrasi
larutan makin besar, maka komponen penyusun dan molekul-molekulnya akan semakin
banyak dan berdempetan sehingga nilai indeks biasnya akan makin kecil karena cahaya
akan semakin sulit menembus larutan. Selain itu, indeks bias juga dipengaruhi oleh
kecepatan cahaya, dimana indeks bias akan berbanding lurus dengan kecepatan cahaya
di udara dan berbanding terbalik dengan kecepatan cahaya saat melewati suatu medium
tertentu. Semakin besar kecepatan cahaya saat melewati suatu medium (v), maka indeks
biasnya akan makin kecil. Lalu, hal-hal yang dapat mempengaruhi konsentrasi dari
larutan adalah massa/kuantitas dari zat terlarut, massa/volume dari zat pelarut, massa
jenis zat, besar molekul relatif zat (Mr), mol zat terlarut maupun zat pelarut. Semakin
banyak zat terlarutnya, maka konsentrasi larutan akan makin tinggi (pekat).

Indeks bias tentunya memiliki beberapa aplikasi atau penerapan dalam


kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah indeks bias digunakan untuk
menguji kemurnian atau keaslian dari oli. Semakin banyak campuran pada oli, maka
densitasnya juga makin besar pula. Jika densitasnya makin besar, tentunya perambatan
cahaya pada medium oli akan terhambat dan makin kecil nilai cepat rambat cahayanya.
Hal inilah yang menyebabkan nilai indeks bias larutan dari oli yang tidak murni ini
memiliki nilai yang tinggi. Dalam catatan, pengaruh temperatur dan absorbansi
dianggap sama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, untuk mengetahui perbedaan
antara oli murni dengan oli oplosan dapat didasari dengan nilai indeks biasnya.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Setelah melaksanakan praktikum ini, praktikan dapat menjelaskan prinsip kerja
dari Refraktometer Abbe, yaitu dengan memanfaatkan pembiasan cahaya oleh prisma
yang tertanam di dalamnya untuk mengetahui indeks bias suatu larutan. Peserta
praktikum dapat membuat hubungan atau korelasi antara indeks bias larutan dengan
konsentrasi larutan gula, dimana semakin tinggi konsentrasi maka makin tinggi pula
nilai indeks biasnya. Hal ini dikarenakan cahaya akan sulit merambat pada larutan
dengan konsentrasi tinggi yang jumlah molekulnya akan menghambat pergerakan dari
cahaya. Selain itu, praktikan juga dapat menentukan kadar gula dalam suatu larutan
yang tidak diketahui konsentrasinya, yaitu dengan cara melakukan analisis metode
grafik.
4.2 Saran
Karena kondisi pandemi saat ini, tentunya tidak memungkinkan untuk
melakukan kegiatan praktikum secara luring/offline. Sehingga terpaksa harus
dilaksanakan secara daring. Sayangnya, terkadang ditemukan beberapa kekurangan
pada video praktikum. Seperti cara pengambilan gambarnya yang masih kurang baik,
sehingga alat praktikum yang disorot tidak terlalu jelas. Tentunya hal ini, dapat
membuat praktikan merasa kurang paham ataupun kurang jelas. Diharapkan untuk ke
depannya, kualitas video praktikum dapat ditingkatkan lagi dari segala aspeknya. Selain
itu, praktikan seharusnya dapat lebih fokus lagi dalam melaksanakan praktikum, supaya
tujuan-tujuan pada praktikum kali ini dapat tercapai dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, D. C. 2014. Fisika Prinsip dan Aplikasi. Edisi ketujuh. Jakarta : Erlangga

Halliday, D., Resnick R., & Walker J. Fundamental of Physics. Tenth Edition. Hoboken: John
Wiley & Sons, Inc

Rosenfeld, L. 2012 Origins of Clinical Chemistry. First Edition. London: Elsevier Science

Young, H. D. & Freedman, R. A. 2020. University Physics with Modern Physics. Fifteenth
Edition. London: Pearson Education
LAMPIRAN

Screenshot Dasar Teori

(Halliday, et al., 2018).


(Young & Freedman, 2020).
(Young & Freedman, 2020).

(Giancoli, 2014).
(Rosenfeld, 2012).
Data Hasil Percobaan

Gambar DHP
Tugas Pendahuluan

1. Berapakah molar larutan gula 50%, 40%, 30%, 20%, 10% ?


Jawab:
Mr gula/glukosa (C6H12O6) = 180 gram/mol
Massa jenis glukosa = 1,56 g/cm3
𝜌 × % × 10
𝑀=
𝑀𝑟
𝜌 = massa jenis
a. Larutan gula 50%:
𝜌 × % × 10 1,56 × 50 × 10
𝑀= = = 4,3 𝑀
𝑀𝑟 180
b. Larutan gula 40%:
𝜌 × % × 10 1,56 × 40 × 10
𝑀= = = 3,46 𝑀
𝑀𝑟 180
c. Larutan gula 30%:
𝜌 × % × 10 1,56 × 30 × 10
𝑀= = = 2,6 𝑀
𝑀𝑟 180
d. Larutan gula 20%:
𝜌 × % × 10 1,56 × 20 × 10
𝑀= = = 1,73 𝑀
𝑀𝑟 180
e. Larutan gula 10%:
𝜌 × % × 10 1,56 × 10 × 10
𝑀= = = 0,86 𝑀
𝑀𝑟 180
2. Apa yang dimaksud dengan konsentrasi larutan gula dan dapat dinyatakan dalam satuan
apa saja?
Jawab:
Konsentrasi larutan gula merupakan besaran yang menunjukkan kepekatan larutan
campuran dari air dan gula yang memiliki perbandingan antara pelarut (air) dan zat terlarut
(gula). Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dalam beberapa satuan, yaitu persen massa,
persen volume, persen massa per volume, molalitas, molaritas, dan fraksi mol.
3. Berapa ml air yang harus dicampurkan dengan 5 gram gula untuk membuat larutan gula
50%, 40%, 30%, 20% dan 10%?
Jawab:
a. Larutan gula 50%:
50% = 5𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑔𝑢𝑙𝑎 + 𝑋𝑏 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑔𝑢𝑙𝑎 5
50% = × 100 = × 100 = 10
% 50
𝑋𝑏 = 10 − 5 = 5 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
b. Larutan gula 40%:
40% = 5𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑔𝑢𝑙𝑎 + 𝑋𝑏 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑔𝑢𝑙𝑎 5
40% = × 100 = × 100 = 12,5
% 40
𝑋𝑏 = 12,5 − 5 = 7,5 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
c. Larutan gula 30%:
30% = 5𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑔𝑢𝑙𝑎 + 𝑋𝑏 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑔𝑢𝑙𝑎 5
30% = × 100 = × 100 = 16,66
% 30
𝑋𝑏 = 16,66 − 5 = 11,66 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
d. Larutan gula 20%:
20% = 5𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑔𝑢𝑙𝑎 + 𝑋𝑏 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑔𝑢𝑙𝑎 5
20% = × 100 = × 100 = 25
% 20
𝑋𝑏 = 25 − 5 = 20 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
e. Larutan gula 10%:
10% = 5𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑔𝑢𝑙𝑎 + 𝑋𝑏 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑔𝑢𝑙𝑎 5
10% = × 100 = × 100 = 50
% 10
𝑋𝑏 = 50 − 5 = 45 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
Lembar Pretest

Gambar lembar jawaban pretest.

Anda mungkin juga menyukai