Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

(Viskositas Zat Cair)

(PERCOBAAN – FP1)

Nama : R. Achmad Nafi’ Firdausi

NIM : 205090801111026

Fak/Jurusan : MIPA/Fisika

Kelompok : 06

Tgl.Praktikum : 11 Desember 2020

Nama Asisten : Dhafi Alvian Nugraha

LABORATORIUM FISIKA DASAR

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2020
LEMBAR PENILAIAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

(Viskositas Zat Cair)

Nama : R. Achmad Nafi’ Firdausi

NIM : 205090801111026

Fak/Jurusan : MIPA/Fisika

Kelompok : 06

Tgl. Praktikum : 11 Desember 2020

Nama Asisten : Dhafi Alvian Nugraha

Catatan :

…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………

Paraf Paraf Nilai


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan

Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah agar konsep dari hukum stokes dapat
dipahami oleh praktikan. Selain itu, koefisien kekentalan (viskositas) dari suatu zat cair
juga dapat ditentukan oleh peserta praktikum .

1.2 Dasar Teori


Viskositas merupakan karakteristik dasar dari semua jenis cairan dan juga
disebut sebagai gaya hambat atau ukuran gesekan fluida karena ketika cairan sedang
mengalir, maka cairan tersebut memiliki hambatan internal. Selain zat cair, terdapat
juga viskositas gas dan keduanya dapat berubah sesuai dengan suhu dan
tekanan.Viskositas dapat dinyatakan dalam dua bentuk yaitu viskositas absolut atau
dinamis dan viskositas kinematik. Viskositas dinamis adalah gaya tangensial per satuan
luas yang dibuthkan untuk bergeser ke satu lapisan ke lapisan lainnya sedangkan
viskositas kinematik adalah gaya yang dibutuhkan densitas zat cair pada suhu dan
tekanan tertentu (Viswanath dkk, 2007).
Viskositas juga dapat didefinisikan sebagai sifat fluida yang diberikan ketahanan
terhadap pergerakan satu lapisan fluida diatas lapisan fluida lainnya yang saling
berdekatan. Ketika dua lapisan fluida terpisahkan oleh suatu jarak, pergerakan antar
lapisan dengan kecepatan tertentu yang dapat disebabkan tegangan geser bekerja
diantara lapisan fluida. Tegangan geser lapisan bawah bisa berdekatan disebabkan oleh
lapisan atas, sedangkan tegangan geser lapisan atas bisa berdekatan disebabkan oleh
lapisan bawah (Pandhare & Jadhav, 2009).
Cairan nyata memiliki sejumlah gesekan internal yang disebut viskositas.
Viskositas ada di cairan dan gas, dan pada dasarnya gaya gesek antara lapisan fluida
yang berdekatan saat lapisan tersebut bergerak melewati satu lapisan lain. Dalam cairan,
viskositas disebabkan oleh gaya kohesif listrik antara molekul. Dalam gas, itu muncul
dari tumbukan antar molekul. Viskositas fluida yang berbeda dapat dinyatakan secara
kuantitatif dengan koefisien viskositas, (huruf kecil Yunani eta), yang didefinisikan
dalam cara berikut. Lapisan tipis cairan ditempatkan di antara dua pelat datar. Satu
piring tidak bergerak dan yang lainnya dibuat bergerak. Cairan langsung masuk kontak
dengan setiap pelat ditahan ke permukaan oleh gaya perekat antara molekul cairan dan
pelat. Jadi, permukaan atas dari fluida bergerak dengan kecepatan v yang sama dengan
lempeng atas, sedangkan fluida bersentuhan dengan plat stasioner tetap diam. Lapisan
stasioner fluida hambat aliran lapisan tepat di atasnya, yang pada gilirannya perlambat
aliran lapisan berikutnya, dan seterusnya. Dengan demikian kecepatan bervariasi terus
menerus dari 0 sampai v, seperti yang ditunjukkan. Kenaikan kecepatan dibagi jarak di
mana perubahan ini dilakukan disebut gradien kecepatan. Untuk pindahkan pelat atas
dibutuhkan gaya, yang dapat Anda verifikasi dengan cara dipindahkan piring datar
melintasi genangan sirup di atas meja. Untuk fluida tertentu, ditemukan bahwa gaya
yang dibutuhkan, F, sebanding dengan daerah fluida yang bersentuhan dengan setiap
pelat, A, dan dengan kecepatan, v, dan berbanding terbalik sebanding dengan pemisahan
pelat: Untuk cairan yang berbeda, semakin kental fluida tersebut, semakin besar gaya
yang dibutuhkan. Proporsionalitas konstanta untuk persamaan ini dapat didefinisikan
sebagai koefisien viskositas (Giancoli, 2014).
BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


Alat – alat yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain, mistar,
stopwatch, jangka sorong, beberapa buah bola yang terdiri dari bola besar dan bola kecil,
mikrometer sekrup, dan timbangan/neraca ohauss. Selain itu, bahan yang digunakan
yaitu 3 buah tabung yang berisi cairan berbeda yang terdiri dari sabun cuci/sunlight, oil,
dan gliserin.
2.2 Tata Laksana Percobaan

Diameter dalam tabung diukur dengan jangka sorong dan pengukuran ini
dilakukan beberapa kali dengan posisi yang berbeda.

Kemudian, massa bola ditimbang dan diameternya diukur dengan mikrometer


sekrup.

Lalu, jarak tempuh bola diukur dengan mistar dengan jarak 10 cm, 20 cm, dan 30
cm.

Selanjutnya, bola dijatuhkan ke dalam tabung dan waktu tempuhnya pada masing
– masing jarak diukur dengan stopwatch. Waktu dicatat sebagai data hasil
percobaan.

Langkah keempat juga dilakukan pada zat cair yang lain.


BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Hasil Percobaan


3.1.1 Diameter dan Massa Bola
No. Bola Besar Bola Kecil
d (cm) m (gr) d (cm) m (gr)
1. 3,01 18,7 2,16 9,3
2. 3,07 18,7 2,21 9,5
3. 3,08 19,4 2,14 9,2

3.1.2 Diameter Tabung (D)


No Tabung A (cm) Tabung B (cm) Tabung C (cm)
1. 6,2 6,2 6,18
2. 6,13 6,15 6,19
̅
𝐷 6,165 6,175 6,185
𝑅̅ 3,0825 3,0875 3,0925

3.1.3 Percobaan
3.1.3.1 Bola Besar
Tab Zat ̅
𝑫 ̅
𝑹 𝝆𝟎 Waktu Tempuh (s)
ung Cair (m) (m) (kg/ S t1 t2 t3 𝒕̅ ̅ (m/s2)
𝒗
m3 ) (m
Sabun 0,06 0,03 0,1 2,21 2,32 2,36 2,3 0,044 0,06
A cuci 165 083 930 0,2 2,08 2,11 2,24 2,14 0,093 8
sunlight 0,3 3,79 4,86 4,73 4,46 0,067
0,06 0,03 0,1 1,54 1,22 1,26 1,34 0,075 0,11
B Oli 175 088 890 0,2 1,45 1,22 1,1 1,25 0,159 8
0,3 2,92 2,42 2,09 2,47 0,121
0,06 0,03 0,1 8,36 8,29 8,35 8,33 0,012 0,02
C Gliserin 185 093 1260 0,2 9,46 9,49 9,5 9,48 0,021 1
0,3 10,25 10,13 10,18 10,2 0,029
3.1.3.2 Bola Kecil
Tab Zat ̅ (m)
𝑫 ̅
𝑹 𝝆𝟎 Waktu Tempuh (s)
ung Cair (m) (kg/ S ̅ (m/s2)
𝒗
m3 ) (m t1 t2 t3 𝒕̅
Sabun 0,061 0,03 0,1 0,55 1,27 1,57 1,13 0,088 0,09
A cuci 65 083 930 0,2 1,65 2,35 2,49 2,16 0,092 4
sunlig 0,3 2,96 2,37 3,53 2,95 0,102
-ht
0,061 0,03 0,1 0,82 0,9 0,88 0,86 0,115 0,17
B Oli 75 088 890 0,2 0,99 0,91 1,02 0,97 0,205 9
0,3 1,23 1,44 1,5 1,39 0,216
0,061 0,03 0,1 3,21 3,11 3,23 3,18 0,031 0,04
C Gliser 85 093 1260 0,2 4,38 4,45 4,48 4,36 0,045 3
-in 0,3 5,51 5,6 5,71 5,6 0,054

3.2 Perhitungan
3.2.1 Bola Besar
2
No d (m) |𝑑 − 𝑑̅ | (m) m (kg) |𝑚 − 𝑚
̅ |2 (𝑚) 𝑉 (𝑚 3 ) |𝑉 − 𝑉̅|2 (𝑚 3 )
1 0,0301 1,8778E-07 0,0187 5,44444E-08 1,42718E-05 3,96744E-13
2 0,0307 2,7778E-08 0,0187 5,44444E-08 1,51424E-05 5,79419E-14
3 0,0308 7,1111E-08 0,0194 2,17778E-07 1,52908E-05 1,51449E-13

Σ𝑑 0,301 + 0,0307 + 0,0308


𝑑̅ = = = 0,03053 𝑚
𝑛 3
2
Σ|𝑑 − 𝑑̅ | 2,8667 × 10−7
𝛿𝑑 = √ =√ = 0,00038 𝑚
𝑛−1 3−1
𝛿𝑑 0,00038
𝐾𝑟 𝑑 = × 100% = × 100% = 1,24%
𝑑̅ 0,03053
Σ𝑚 0,0187 + 0,0187 + 0,0194
𝑚
̅= × 100% = = 0,01893 𝑘𝑔
𝑛 3

̅ |2
Σ|𝑚 − 𝑚 3,26667 × 10−7
𝛿𝑚 = √ =√ = 0,0004 𝑘𝑔
𝑛−1 3−1
𝛿𝑚 0,0004
𝐾𝑟 𝑚 = × 100% = × 100% = 2,13%
𝑚̅ 0,01893
4 𝑑 3 4 0,0301 3
𝑉1 = 𝜋 ( ) = × 3,14 × ( ) = 1,427 × 10−5 𝑚3
3 2 3 2
4 𝑑 3 4 0,0307 3
𝑉2 = 𝜋 ( ) = × 3,14 × ( ) = 1,514 × 10−5 𝑚3
3 2 3 2
4 𝑑 3 4 0,0308 3
𝑉3 = 𝜋 ( ) = × 3,14 × ( ) = 1,529 × 10−5 𝑚3
3 2 3 2
Σ𝑉 4,4705 × 10−5
𝑉̅ = = = 1,49016 × 10−5 𝑚3
𝑛 3
𝑚 0,01893 𝑘𝑔
𝜌𝑏𝑜𝑙𝑎 = = = 1270,55
𝑉 1,49016 × 10−5 𝑚3
2𝑔𝑟 2 (𝜌𝑏𝑜𝑙𝑎 − 𝜌0 ) 2 × 9,8 × 0,0152 (1270,55 − 930) 𝑁𝑠
𝜂𝑠𝑢𝑛𝑙𝑖𝑔ℎ𝑡 = 𝑟 = = 2,27064 2
9𝑣̅ (1 + 0,24 𝑅) 0,015 𝑚
9 × 0,068 (1 + 0,24 × 0,03083)

2𝑔𝑟 2 (𝜌𝑏𝑜𝑙𝑎 − 𝜌0 ) 2 × 9,8 × 0,0152 (1270,55 − 890) 𝑁𝑠


𝜂𝑜𝑙𝑖 = 𝑟 = = 1,45955 2
9𝑣̅ (1 + 0,24 𝑅) 0,015 𝑚
9 × 0,118 (1 + 0,24 × )
0,03088
2𝑔𝑟 2 (𝜌𝑏𝑜𝑙𝑎 − 𝜌0 ) 2 × 9,8 × 0,0152 (1270,55 − 1260) 𝑁𝑠
𝜂𝑔𝑙𝑖𝑠𝑒𝑟𝑖𝑛 = 𝑟 = = 0,22973
9𝑣̅ (1 + 0,24 𝑅 ) 0,015 𝑚2
9 × 0,021 (1 + 0,24 × 0,03093)

3.2.2 Bola Kecil

No d (m) 2
|𝑑 − 𝑑̅| (m) m (kg) ̅ |2 (𝑚)
|𝑚 − 𝑚 𝑉 (𝑚 3 ) |𝑉 − 𝑉̅|2 (𝑚 3 )

1 0,0216 1E-08 0,0093 1,11111E-09 5,27399E-06 5,85967E-15


2 0,0221 1,6E-07 0,0095 2,77778E-08 5,64879E-06 8,89498E-14
3 0,0214 9E-08 0,0092 1,77778E-08 5,12885E-06 4,91491E-14

Σ𝑑 0,0216 + 0,0221 + 0,0214


𝑑̅ = = = 0,0217 𝑚
𝑛 3
2
Σ|𝑑 − 𝑑̅ | 2,6 × 10−7
𝛿𝑑 = √ =√ = 0,00036 𝑚
𝑛−1 3−1
𝛿𝑑 0,00036
𝐾𝑟 𝑑 = × 100% = × 100% = 1,66%
𝑑̅ 0,0217
Σ𝑚 0,0093 + 0,0095 + 0,0092
𝑚
̅= × 100% = = 0,00933 𝑘𝑔
𝑛 3

̅ |2
Σ|𝑚 − 𝑚 4,66667 × 10−8
𝛿𝑚 = √ = √ = 0,00015 𝑘𝑔
𝑛−1 3−1
𝛿𝑚 0,00015
𝐾𝑟 𝑚 = × 100% = × 100% = 1,63%
𝑚̅ 0,00933
4 𝑑 3 4 0,0216 3
𝑉1 = 𝜋 ( ) = × 3,14 × ( ) = 5,274 × 10−6 𝑚3
3 2 3 2
4 𝑑 3 4 0,0221 3
𝑉2 = 𝜋 ( ) = × 3,14 × ( ) = 5,648 × 10−6 𝑚3
3 2 3 2
4 𝑑 3 4 0,0214 3
𝑉3 = 𝜋 ( ) = × 3,14 × ( ) = 5,128 × 10−6 𝑚3
3 2 3 2
Σ𝑉 1,6051 × 10−5
𝑉̅ = = = 5,35054 × 10−6 𝑚3
𝑛 3
𝑚 0,00933 𝑘𝑔
𝜌𝑏𝑜𝑙𝑎 = = = 1744,37
𝑉 5,35054 × 10−6 𝑚3
2𝑔𝑟 2 (𝜌𝑏𝑜𝑙𝑎 − 𝜌0 ) 2 × 9,8 × 0,010852 (1744,37 − 930) 𝑁𝑠
𝜂𝑠𝑢𝑛𝑙𝑖𝑔ℎ𝑡 = 𝑟 = = 2,04427 2
9𝑣̅ (1 + 0,24 𝑅) 0,01085 𝑚
9 × 0,094 (1 + 0,24 × 0,03083)

2𝑔𝑟 2 (𝜌𝑏𝑜𝑙𝑎 − 𝜌0 ) 2 × 9,8 × 0,0152 (1744,37 − 890) 𝑁𝑠


𝜂𝑜𝑙𝑖 = 𝑟 = = 1,12915 2
9𝑣̅ (1 + 0,24 𝑅) 0,01085 𝑚
9 × 0,179 (1 + 0,24 × )
0,03088
2𝑔𝑟 2 (𝜌𝑏𝑜𝑙𝑎 − 𝜌0 ) 2 × 9,8 × 0,0152 (1744,37 − 1260) 𝑁𝑠
𝜂𝑔𝑙𝑖𝑠𝑒𝑟𝑖𝑛 = 𝑟 = = 2,64313
9𝑣̅ (1 + 0,24 𝑅 ) 0,01085 𝑚2
9 × 0,043 (1 + 0,24 × 0,03093)

3.3 Grafik
3.3.1 Bola Besar

CHART TITLE
2,5

1,5

0,5

0
0 0,02 0,04 0,06 0,08 0,1 0,12 0,14

Gambar 3.1 Grafik Bola Besar

Bola Besar Bola Kecil


Tabung
𝑣̅ (sb x) 𝜂 (sb y) 𝑣̅ (sb x) 𝜂 (sb y)
A 0,0680395 2,27064 0,09418 2,04427
B 0,1183029 1,45955 0,1789 1,12915
C 0,0208466 0,22973 0,04333 2,64313
3.3.2 Bola Kecil

CHART TITLE
3
2,5
2
1,5
1
0,5
0
0 0,05 0,1 0,15 0,2

Gambar 3.2 Grafik Bola Kecil

Bola Besar Bola Kecil


Tabung
𝑣̅ (sb x) 𝜂 (sb y) 𝑣̅ (sb x) 𝜂 (sb y)
A 0,0680395 2,27064 0,09418 2,04427
B 0,1183029 1,45955 0,1789 1,12915
C 0,0208466 0,22973 0,04333 2,64313

3.4 Pembahasan
3.4.1 Analisis Prosedur

3.4.1.1 Fungsi Alat

Fungsi setiap alat dan bahan dalam praktikum kali ini tentunya berbeda – beda.
Alat dan bahan yang digunakan antara lain, mistar, stopwatch, jangka sorong, beberapa
buah bola yang terdiri dari bola besar dan bola kecil, mikrometer sekrup,
timbangan/neraca ohauss, 3 buah tabung gelas yang berisi cairan yang berbeda. Mistar
berfungsi sebagai alat ukur pada pengukuran jarak yang akan ditempuh bola saat
dijatuhkan ke dalam tabung. Stopwatch digunakan sebagai alat ukur pada pengukuran
waktu tempuh bola saat dijatuhkan ke dalam tabung. Kemudian, jangka sorong berguna
sebagai alat ukur dalam pengukuran diameter dalam tabung gelas. Beberapa buah bola
yang berbeda ukuran berfungsi sebagai media percobaan dalam penentuan viskositas
suatu zat cair. Lalu, mikrometer sekrup sebagai alat ukur dalam penentuan diameter
bola. Timbangan berguna sebagai alat ukur dalam penimbangan massa bola yang akan
dicelupkan. Tabung gelas berfungsi sebagai wadah dari zat cair dan zat cair (sunlight,
oli, dan gliserin) berfungsi sebagai objek yang akan diuji koefisien kekentalannya.
3.4.1.2 Fungsi Perlakuan

Langkah pertama yaitu, diameter dalam tabung diukur dengan jangka sorong
dan pengukuran ini dilakukan beberapa kali dengan posisi yang berbeda yang
bermaksud agar diameter dalam tabung dapat diketahui nilainya yang tentunya akan
digunakan dalam perhitungan nantinya dan pengukuran tersebut dilakukan beberapa
kali karena semakin banyak pengukuran yang dilakukan maka hasil akhirnya akan
semakin mendekati nilai sebenarnya. Kemudian, massa bola ditimbang dan diameternya
diukur dengan mikrometer sekrup supaya massa jenis bola dapat diketahui karena sudah
diketahuinya nilai massa dan volume dari bola tersebut. Lalu, jarak tempuh bola diukur
dengan mistar dengan jarak 10 cm, 20 cm, dan 30 cm supaya didapatkan variasi data
dan dapat diperolehnya kecepatan rata – rata bola pada penempuhan jarak tertentu di
dalam suatu cairan. Selanjutnya, bola dijatuhkan ke dalam tabung dan waktu tempuhnya
pada masing – masing jarak diukur dengan stopwatch dan waktu dicatat sebagai data
hasil percobaan yang berfungsi agar viskositas dari zat cair tersebut dapat diketahui
karena waktu tempuh benda merupakan salah satu variabel yang dibutuhkan dalam
penentuan viskositas zat cair. Langkah sebelumnya juga dilakukan pada zat cair yang
lain supaya viskositas dari cairan yang lain juga dapat diketahui.

3.4.2 Analisis Hasil

Dari perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh variasi data yang cukup
banyak dan percobaan ini dilakukan sebanyak dua kali, yaitu untuk percobaan bola
besar dan percobaan bola kecil. Untuk bola besar, nilai diameter rata – ratanya diperoleh
sebesar 0,03053 m dengan persentase Kr d 1,24%. Selain itu, nilai massa rata – rata dari
bola besar adalah 0,01893 kg dengan persentase kesalahan ralat sebesar 2,13%.
Sedangkan, pada bola kecil didapatkan nilai diameter rata – rata senilai dengan 0,0217
serta persentase Kr sebesar 1,66% dan massa rata – rata sebesar 0,0093 kg dengan
Kesalahan ralat sebesar 1,63%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa,
pengukuran dan pengolahan data sudah dilakukan semaksimal mungkin sehingga nilai
dari kesalahan ralatnya cenderung kecil yang berarti hasil akhirnya mendekati nilai
sebenarnya. Selain itu, pada metode grafik pada percobaan bola besar didapatkan
bentuk grafik yang cukup unik, yaitu berbentuk seperti bumerang. Hal ini dikarenakan
nilai kecepatan rata – rata yang berperan sebagai sumbu x bersifat tidak konstan jika
diurutkan dari tabung C (gliserin) ke tabung A (sabun cuci). Hal yang sama juga terjadi
pada percobaan bola kecil, hanya saja bentuk grafiknya berbeda dengan bola besar.
Melalui metode perhitungan matematis, didapatkan nilai koefisien viskositas
dari sabun cuci sunlight sebesar 2,27 Ns/m2 pada bola besar dan 2,04 Ns/m2 pada bola
kecil. Sedangkan pada literatur, koefisien viskositas dari sabun cuci ini memiliki rentang
nilai sebesar 500 – 20000 cPs yang jika disamakan satuannya, hasilnya masih dapat
diterima karena masih masuk ke dalam rentang tersebut (Khairiady, A. (2017). Online
athttp://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/37374/1/AZUMARI%20K
HAIRIADY-FKIK.pdf, diakses pada 17 Desember 2020 pukul 1.15). Untuk viskositas
dari oli adalah sebesar 1,46 Ns/m2 untuk bola besar dan 1,13 Ns/m2 pada bola kecil.
Sedangkan pada literatur, viskositas dari oli pada suhu 0 oC adalah sebesar 110 x 10-3
Ns/m2 (https://pendidikan.co.id/pengertian-viskositas/. Diakses pada 17 Desember
2020 pukul 1.27). Dapat dilihat bahwa, nilai yang diperoleh pada perhitungan masih
kurang sesuai dan cukup jauh nilainya dengan viskoistas oli pada literatur. Koefisien
viskositas gliserin yang diperoleh dari perhitungan adalah 0,23 Ns/m2 pada bola besar
dan 2,64 Ns/m2 pada bola kecil. Sedangkan pada literatur, viskositas dari gliserin adalah
senilai 1,5 Ns/m2 (https://pendidikan.co.id/pengertian-viskositas/. Diakses pada 17
Desember 2020 pukul 1.40). Dapat disimpulkan bahwa nilai viskositas yang didapatkan
dari perhitungan ini masih realistis dan masuk akal karena masih berada dalam rentang
nilai tersebut.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi nilai dari viskositas suatu
zat cair, antara lain tekanan, temperatur, ukuran dan massa molekul, dan kekuatan
kohesi. Viskositas dari zat cair akan meningkat jika mendapatkan tekanan karena
tekanan dapat memengaruhi ikatan molekul suatu zat cair. Viskositas zat cair akan
menurun jika temperatur ditingkatkan karena pemanasan dapat menyebabkan kohesi
yang terjadi antar molekul melemah. Viskositas juga akan meningkat jika massa dari
suatu molekul juga makin besar. Selain itu, kekuatan gaya kohesi yang besar akan
meningkatkan viskositas dari zat cair tersebut (IBS, 2019. Online at
https://ibs.co.id/id/4-faktor-yang-akan-mempengaruhi-viskositas/. Diakses pada 17
Desember 2020 pukul 1.59).

Viskositas zat cair ini tentunya memiliki beberapa manfaat dan aplikasi di dalam
kehidupan manusia. Di bidang instrumentasi, viskositas zat cair dapat dimanfaatkan
sebagai oli untuk melindungi mesin sebagai pelumas pada mesin dengan menyerap
tekanan dan getaran. Contohnya adalah oli kendaraan. Tingkat kekentalan oli dapat
berkurang karena adanya panas pada molekul oli yang akhirnya tercampur dengan
bahan bakar.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Setelah melakukan praktikum ini, praktikan dapat memahami konsep dari


hukum stokes. Selain itu, koefisien kekentalan/viskositas dari suatu zat cair juga dapat
ditentukan oleh peserta praktikum. Disamping itu, praktikan juga dapat memahami
bagaimana menggunakan berbagai macam alat ukur seperti jangka sorong, mikrometer,
stopwatch¸dan lain – lain.

4.2 Saran

Di situasi pandemi saat ini, tentunya tidak memungkinkan untuk melaksanakan


praktikum secara offline yang menyebabkan praktikum dilaksanakan secara daring dan
dalam bentuk video. Jika langkah – langkah pelaksanaan praktikum dilakukan dalam
bentuk rekaman video, mungkin sebagian praktikan termasuk saya merasa mengalami
sedikit kesulitan dalam memahami langkah – langkah ataupun alat dan bahannya. Saya
menyarankan untuk praktikum kedepannya, video penjelasan praktikumnya dapat
diperjelas dengan cara mendekatkan kamera agar lebih dekat lagi dengan objek yang
direkam agar bentuk alat maupun langkah – langkah praktikum lebih mudah untuk
dimengerti.
DAFTAR PUSTAKA

Visnawath, Dabir S. Tushar K. Ghosh. 2007. Viscosity of Liquids :


Theory, Estimation, Experiment, and Data. Dordrecht: Springe

Giancoli, Douglas C. 2014. Physics Principles with Applications 7th


Edition. London: Pearson Education, Inc.

Pandhare, A. P., S. S. Jadhav. 2009. Fluid Mechanics. First Edition.


India: Technical Publications Pune.
LAMPIRAN

1. Screenshot ebook dasar teori

(Visnawath dkk, 2007)


(Giancoli, 2014)
(Pandhare & Jadhav, 2009)
2. Data Hasil Percobaan
3. Tugas Pendahuluan
Viskositas atau kekentalan adalah gaya gesekan yang terjadi antara molekul – molekul yang
menyusun suatu fluida. Molekul atau lapisan fluida ini bergesekan dengan kecepatan yang
berbeda – beda. Lapisan tipis zat cair yang paling luar atau yang menempel pada dinding pipa,
kelajuan fluidanya paling lambat/kecil dan bertambah secara seragam hingga didapatkan
kelajuan terbesar pada teras fluida. Hal ini dapat disebut dengan aliran laminer (berlapis –
lapis). Persamaan koefisien viskositas dari suatu fluida dapat dinyatakan sebagai berikut:

𝐹/𝐴 𝐹𝑙
𝜂= = 𝑣𝐴 ... (1)
𝑣/𝑙

Keterangan:

F = gaya (N)

A = luas penampang (m2)

v = kelajuan fluida (m/s)

l = jarak lembar fluida dari dinding pipa (m)

𝜂 = koefisien viskositas (N.s/m2 atau Pa.s)

Viskositas fluida dapat menimbulkan hambatan/pengereman pada benda yang bergerak


di suatu fluida. Hambatan ini disebut dengan gaya gesekan benda pada fluida (f). Persamaan
hukum stokes ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

𝑓 = −6𝜋𝜂𝑟𝑣 ... (2)

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerapan hukum stokes, antara
lain kecepatan v tidak besar, ruang tempat fluida tidak terbatas (ukurannya >> ukuran bola),
dan tidak terjadi aliran turbulensi dalam fluida.

Terdapat 2 cara dalam menentukan koefisien viskositas zat cair dalam metode
percobaan kali ini. Cara yang pertama yaitu dengan membandingkan grafik antara S versus t,
sehingga dapat diperoleh nilai 𝜂 dengan menggunakan persamaan:
0,24𝑟
9𝜂(1+ )
𝑅
𝑡 = 2𝑔𝑟 2(𝜌−𝜌 ) . 𝑆 ... (3)
0

0,24𝑟
Cara yang kedua adalah dengan membuat grafik 1/t versus 𝑟 2 /(1 + ), sehingga
𝑅

koefisien viskositas dapat diketahui nilainya, yaitu dengan persamaan:


1 2𝑔(𝜌−𝜌0)𝑟 2
= 0,24𝑟 ... (4)
𝑡 9𝜂𝑠(1+ )
𝑅

Berdasarkan video youtube tentang viskositas zat cair, alat yang dibutuhkan dalam
praktikum kali ini, yaitu mistar, stopwatch, jangka sorong, beberapa bola kecil dan bola besar,
mikrometer sekrup, dan timbangan/neraca ohauss. Sementara itu, bahan yang digunakan adalah
beberapa tabung yang isinya berbeda. Tabung pertama berisi sabun cuci piring atau sunlight,
tabung kedua berisi oli, dan tabung ketiga berisi gliserin.

Tahap pertama yang akan dilakukan adalah menentukan diameter dalam tabung dengan jangka
sorong dan dilakukan beberapa kali pada posisi yang berbeda. Kemudian, massa jenis bola
ditentukan. Lalu, menentukan jarak tempuh bola dengan 3 jarak yang berbeda dan
pengukurannya dilakukan dengan bantuan mistar. Langkah selanjutnya adalah menjatuhkan
bola tersebut ke dalam tabung dengan masing – masing jarak dan waktu tempuhnya diukur
dengan stopwatch. Langkah yang sama juga dilakukan pada tabung zat cair yang lain.

4. Posttest

Dalam penerapan atau aplikasi hukum stokes, diperlukan beberapa prasyarat, yaitu:

1. Tidak adanya aliran turbulensi di dalam fluida/zat cair.


Alasannya adalah karena turbulensi yang terdapat pada suatu fluida dapat
menyebabkan gaya inersia yang cukup besar sehingga dapat mengganggu/menghambat
pergerakan laju dari benda yang dicelupkan ke zat cair. Menurut hukum stokes nilai
turbulensi yang kecil juga dapat diabaikan. Selain itu, turbulensi yang cenderung besar
dapat menghasilkan aliran fluida yang tidak laminar (berlapis – lapis), melainkan
kompleks.
2. Ruang tempat fluida tidak terbatas (ukurannya >> ukuran bola).

Maksud dari persyaratan ini adalah agar aliran lintasan benda yang dicelupkan
tidak terganggu. Karena jika ruangnya terlalu terbatas, maka gaya gesek yang
dipantulkan oleh dinding ke bola akan mempengaruhi hasil pengukuran dari koefisien
viskositas zat cair tersebut.

3. Kecepatan v tidak besar.


Kecepatan v benda tidak boleh terlalu besar karena dapat menyebabkan
terganggunya aliran fluida sehingga timbul turbulensi pada fluida, dimana turbulensi
juga tidak boleh terjadi pada hukum stokes.

Anda mungkin juga menyukai