LAPORAN PENELITIAN PENELITIAN PENELITI MUDA (LITMUD) UNPAD

PENGUKURAN KUALITAS PELAYANAN ADMINISTRASI PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN GARUT

Oleh: Tjipto Atmoko, Drs, S.U. Hj. Jenny Ratna Suminar, Dra., M.Si. Dr. Dede Mariana, Drs., M.Si.

Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran 2007 Berdasarkan SPK No. 258a/J06.14/LP/PL/2007 Tanggal 3 April 2007

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

Pusat Penelitian Kebijakan Publik dan Pengembangan Wilayah Universitas Padjadjaran November 2007

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN PENELITI MUDA (LITMUD) UNPAD SUMBER DANA DIPA UNPAD TAHUN ANGGARAN 2007 : Pengukuran Kualitas Pelayanan Administrasi Penanaman Modal di Kabupaten Garut b. Macam Penelitian : ( ) Dasar ( ) Terapan ( V ) Pengembangan c. Kategori : III 2. Ketua Peneliti : a. Nama Lengkap dan Gelar : Tjipto Atmoko, Drs., S.U. b. Jenis Kelamin : Laki-laki c. Pangkat/Gol/NIP : Pembina/IV/a/130814481 d. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala e. Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/Kesejahteraan Sosial f. Bidang Ilmu yang diteliti : Ilmu Sosial 3. Jumlah Tim Peneliti : 2 (dua) orang 4. Lokasi Penelitian : Kabupaten Garut 5. Bila penelitian ini merupakan peningkatan kerja sama kelembagaan sebutkan : a. Nama Instansi :b. Alamat :6. Jangka Waktu Penelitian : 6 (enam) bulan Biaya Penelitian : Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah) Bandung, November 2007 Ketua Peneliti Mengetahui : Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Publik dan Pengembangan Wilayah Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran 1.a. Judul penelitian

Dr. H. Dede Mariana,Drs.,M.Si NIP. 131760499

Tjipto Atmoko, Drs., S.U. NIP. 130814481

Menyetujui, Ketua Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran

Prof. Oekan S. Abdoellah, M.A., Ph.D NIP. 130 937 900

PEDOMAN WAWANCARA

Informan: Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal Kabupaten Garut Pertanyaan 1. Apa saja jenis pelayanan penanaman modal yang diberikan oleh Dinas ini (mohon dilampirkan data)? 2. Bagaimana prosedur pelayanan penanaman modal? (mohon dilampirkan data)? 3. Berapa jumlah masyarakat yang dilayani rata-rata per hari (mohon dilampirkan data)? 4. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk melayani masyarakat sampai izin yang diperlukan diterbitkan (mohon dilampirkan data)? 5. Berapa biaya yang diperlukan untuk setiap jenis pelayanan (mohon dilampirkan data)? 6. Bagaimana kapasitas kelembagaan dinas dalam menangani pelayanan penanaman modal? 7. Apa kendala yang dihadapi dalam pelayanan? 8. Bagaimana mengatasi kendala-kendala tersebut? 9. Bagaimana tingkat keluhan yang diajukan masyarakat? 10. Bagaimana tindak lanjut terhadap keluhan tersebut? 11. Apakah ada upaya untuk mensosialisasikan jenis-jenis pelayanan penanaman modal kepada masyarakat? Bila ada, apa saja? Bila tidak, mengapa? 12. Upaya apa yang dilakukan Dinas untuk meningkatkan kualitas pelayanan penanaman modal? 13. Apakah ada insentif khusus yang diberikan untuk masyarakat pengguna jasa? Bila ada, apa saja?

INSTANSI PENYELENGARA PELAYANAN PEMERINTAH DEP/LPND/PROV/KAB/KOTA/BUMN/BUMD *): ..................................... SURVEI KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN PUBLIK BIDANG UNIT PELAYANAN ALAMAT : ...................................................................................... : ...................................................................................... : ...................................................................................... : TELEPON/FAX ............................................................ ( …………,…………………… 20…. )

PERHATIAN 1. 2. 3. 4. 5. Tujuan survei ini adalah untuk memperoleh gambaran secara obyektif mengenai kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik. Nilai yang diberikan oleh masyarakat diharapkan sebagai nilai yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil survei ini akan digunakan untuk bahan penyusunan indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik yang sangat bermanfaat bagi pemerintah maupun masyarakat. Keterangan nilai yang diberikan bersifat terbuka dan tidak dirahasiakan. Survei ini tidak ada hubungannya dengan pajak ataupun politik. Diisi Oleh Petugas

I. DATA MASYARAKAT (RESPONDEN) (Lingkari kode angka sesuai jabatan masyarakat/responden

Nomor Responden

………………………………

Umur

…………………… tahun

Jenis Kelamin

1. Laki - laki 1. SD Kebawah

2. Perempuan 4. D1 – D3 – D4 5. S – 1 6. S – 2 Keatas 4. Pelajar/Mahasiswa 5. Lainnya

Pendidikan Terakhir

2. SLTP 3. SLTA 1. PNS/TNI/POLRI

Pekerjaan Utama

2. Pegawai Swasta 3. Wiraswasta/Usahawan

II. DATA PENCACAH/PENGUMPUL DATA NAMA NIP/DATA LAIN

Ill.

PENDAPAT RESPONDEN TENTANG PELAYANAN PUBLIK P *) P *) 8. Bagaimana pendapat Saudara tentang keadilan untuk mendapatkan pelayanan disini a. Tidak adil b. Kurang adil c. Adil d. Sangat adil 9. 1 2 3 4 Bagaimana pendapat Saudara tentang kesopanan dan keramahan petugas dalam memberikan pelayanan b. Tidak sopan dan ramah c. Kurang sopan dan ramah d. Sopan dan ramah e. Sangat sopan dan ramah

1.

Bagaimana pemahaman Saudara tentang kemudahan prosedur pelayanan di unit ini ? a. Tidak mudah b. Kurang mudah c. Mudah d. Sangat mudah Bagaimana pendapat Saudara tentang kesamaan persyaratan pelayanan dengan jenis pelayanannya? a. Tidak sesuai b. Kurang sesuai c. Sesuai d. Sangat sesuai Bagaimana pendapat Saudara tentang kejelasan dan kepastian petugas yang melayani a. Tidak jelas b. Kurang jelas c. Jelas d. Sangat jelas Bagaimana pendapat Saudara tentang kedisiplinan petugas dalam memberikan pelayanan a. Tidak disiplin b. Kurang disiplin c. Disiplin d. Sangat disiplin Bagaimana pendapat Saudara tentang tanggung jawab petugas dalam memberikan pelayanan a. Tidak bertanggung jawab b. Kurang bertanggung jawab c. Bertanggung jawab d. Sangat bertanggung jawab Bagaimana pendapat Saudara tentang kemampuan petugas dalam memberikan pelayanan a. Tidak mampu b. Kurang mampu c. Mampu d. Sangat mampu Bagaimana pendapat Saudara tentang kecepatan pelayanan di unit ini a. Tidak cepat b. Kurang cepat c. Cepat d. Sangat cepat

1 2 3 4

1 2 3 4

2.

1 2 3 4

3.

1 2 3 4

10. Bagaimana pendapat Saudara tentang kewajaran biaya untuk mendapatkan pelayanan a. Tidak wajar b. Kurang wajar c. Wajar d. Sangat wajar 11. Bagaimana pendapat Saudara tentang kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan a. Selalu Tidak sesuai b. Kadang – kadang sesuai c. Banyak sesuainya d. Selalu sesuai 12. Bagaimana pendapat Saudara tentang ketepatan pelaksanaan terhadap jadwal waktu pelayanan a. Selalu Tidak tepat b. Kadang – kadang tepat c. Banyak tepatnya d. Selalu tepat 13. Bagaimana pendapat Saudara tentang kenyamanan di lingkungan unit pelayanan a. Tidak nyaman b. Kurang nyaman c. Nyaman d. Sangat nyaman 14. Bagaimana pendapat Saudara keamanan pelayanan di unit ini a. Tidak aman b. Kurang aman c. Aman d. Selalu aman tentang

1 2 3 4

4.

1 2 3 4

1 2 3 4

5.

1 2 3 4

1 2 3 4

6.

1 2 3 4

1 2 3 4

7.

1 2 3 4

1 2 3 4

*) keterangan : P = nilai pendapat masyarakat di isi oleh petugas.

IV. SARAN
Apa yang harus dilakukan Pemda dalam meningkatkan kualitas pelayanan administrasi penanaman modal?

ARTIKEL

PENGUKURAN KUALITAS PELAYANAN ADMINISTRASI PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN GARUT* Oleh: Tjipto Atmoko** Jenny Ratna Suminar*** Dede Mariana****

ABSTRAK Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang berfokus pada pengembangan potensi agribisnis, Kabupaten Garut berupaya mendorong masuknya investasi. Karena itu melakukan pengukuran kualitas pelayanan administrasi penanaman modal menjadi penting untuk mengevaluasi kinerja pelayanan yang telah dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang bersangkutan. Kegiatan survei IKM akan difokuskan untuk menjawab identifikasi tentang kondisi eksisting pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut, hasil pengukuran kepuasan masyarakat untuk jenis pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut, dan upaya untuk memperbaiki kinerja pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut. Secara operasional, studi ini akan dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis berbagai fenomena yang terjadi dalam proses penyelenggaraan otonomi daerah. Data-data sesuai dengan indikator penelitian terdiri dari data primer kualitatif yang diperoleh langsung dari sumbernya, yakni dari hasil wawancara dan focus group discussion dengan narasumber, seperti aparat Dinas Industri, Perdagangan, dan Penanaman Modal dan Kadin Kabupaten Garut. Secara keseluruhan, nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) untuk pelayanan perizinan yang terkait dengan pelayanan penanaman modal di Kabupaten Garut adalah 71,16. Kategori Baik berada pada rentang nilai 62,51 – 81,25, sehingga nilai IKM untuk pelayanan penanaman modal yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal tergolong baik. Nilai kepuasan tertinggi adalah untuk unsur prosedur pelayanan (3.273) dan nilai kepuasan terendah adalah untuk unsur kepastian biaya pelayanan (2.455). Prosedur pelayanan memperoleh penilaian kepuasan tertinggi karena masyarakat pengguna jasa merasa bahwa prosedur pelayanan perizinan sangat
*

Penelitian dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Padjadjaran Tahun Anggaran 2007 Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran *** Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran **** Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran
**

1

jelas karena prosedur tersebut dipasang di kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal, serta dimuat pula di internet sehingga mudah dibaca oleh masyarakat yang akan mengurus perizinan. Sebaliknya, nilai kepuasan terendah, yakni kepastian biaya pelayanan karena masyarakat menilai masih ada peluang terjadinya manipulasi biaya pelayanan, sekalipun besaran tarif setiap jenis pelayanan telah diumumkan, namun adanya praktik percaloan menyebabkan tarif ini bisa berubah. Kata-kata kunci: pelayanan publik, indeks kepuasan masyarakat

ABSTRACT

Garut is one region that has agribusiness potency in West Java. In order to develops its potential sector, Garut make serious efforts to pull investors come in. So in that case, quality measurement of investment administration is a must to evaluate public service performance in related government institutions. People satisfaction measurement (IKM) survey focused to identified existing condition of IKM in Garut, measures IKM for investment administration service in Garut, and government efforts to make investment administration service in Garut going better. This research used both qualitative and quantitative approach to analyse kinds of phenomenas exist in region autonomy implementation. Qualitative data was fall in directly from informants through interview and focus group discussion with officers in Garut Official of Industry, Trading, and Investment (Dinas Indag Kab. Garut). Quantitative data collected through quesionaire spread to people who use public service in Dinas Indag Kab. Garut. Overall, IKM in public service which carried out by Dinas Indag Kab. Garut is quite good. The best mark gained in sort of service procedure and the worst is in definite cost. People feel quite satisty with clarity of procedures that dispayed in official building and publish it via internet so it so easy to read the information. On the contrary, people consider the cost of registration fee is never clear for them. Keywords: public service, satisfaction index

2

Pendahuluan Pemerintah Pusat menerbitkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Ketentuan ini menjadi acuan untuk mengukur indeks kepuasan masyarakat sebagai tolok ukur untuk menilai tingkat kualitas pelayanan. Data indeks kepuasan masyarakat dapat menjadi bahan penilaian terhadap unsur pelayanan yang masih perlu perbaikan dan menjadi pendorong setiap unit penyelenggara pelayanan untuk meningkatkan kualitas pelayanannya. Pelayanan administrasi penanaman modal merupakan salahsatu pelayanan penting karena menjadi salahsatu sumber Pendapatan Asli Daerah yang cukup potensial. Pelayanan ini juga penting sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan adanya investasi, maka lapangan kerja dapat diperluas, pendapatan masyarakat dapat meningkat yang pada gilirannya akan meningkatkan daya beli dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Pengukuran kualitas pelayanan administrasi penanaman modal menjadi penting untuk dilakukan untuk mengevaluasi kinerja pelayanan yang telah dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang bersangkutan. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang berfokus pada pengembangan potensi agribisnis, Kabupaten Garut berupaya mendorong masuknya investasi. Pencapaian nilai investasi tahun 2005 sebesar Rp. 1.918,64 Milyar dengan laju investasi sebesar 17,49%, atau meningkat dibandingkan investasi pada tahun 2004 yang mencapai Rp. 1.633,04 Milyar (www.garut.go.id). Peningkatan investasi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan sektor-sektor ekonomi produktif di Kabupaten Garut. Upaya ini tentu perlu diimbangi dengan pengembangan kapasitas pelayanan SKPD yang bertugas memberikan pelayanan administrasi penanaman modal, yakni Dinas Industri, Perdagangan, dan Penanaman Modal Kabupaten Garut. Kapasitas pelayanan yang dimaksud antara lain menyangkut kejelasan prosedur investasi, dan ketersediaan informasi mengenai peluang investasi yang dapat mendorong masuknya investasi ke Kabupaten Garut. Penelitian ini diarahkan untuk mengukur kualitas pelayanan administrasi penanaman modal yang selama ini telah dilaksanakan oleh Dinas Industri,

3

Perdagangan, dan Penanaman Modal Kabupaten Garut sebagai bahan evaluasi dan peningkatan kualitas kinerja pelayanan. Berdasarkan uraian permasalahan dalam latarbelakang, maka kegiatan survei IKM akan difokuskan untuk menjawab identifikasi: 1. Bagaimana kondisi eksisting pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut? 2. Bagaimana hasil pengukuran kepuasan masyarakat untuk jenis pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut? 3. Bagaimana upaya untuk memperbaiki kinerja pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut? Metode Penelitian Secara operasional, studi ini akan dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis berbagai fenomena yang terjadi dalam proses penyelenggaraan otonomi daerah. Data-data sesuai dengan indikator penelitian terdiri dari data primer kualitatif yang diperoleh langsung dari sumbernya, yakni dari hasil wawancara dan focus group discussion dengan narasumber, seperti aparat Dinas Industri, Perdagangan, dan Penanaman Modal dan Kadin Kabupaten Garut. Data primer kuantitatif yaitu berupa hasil kuantifikasi dari keadaan kualitatif yang merupakan penilaian masyarakat atas pelayanan penanaman modal, didapat melalui hasil survei dengan instrumen kuesioner. Kuesioner disebar kepada masyarakat pengguna layanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut. Analisis data menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif, yang terjadi secara bersamaan mulai dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik penafsiran digunakan untuk menafsirkan makna di balik informasi dan data yang diperoleh serta berusaha untuk menarik kesimpulan dari informasi dan data tersebut. Pengolahan data dihitung dengan menggunakan “nilai rata-rata tertimbang” masing-masing unsur pelayanan. Karena itu untuk pengolahan data dilakukan dengan cara:

4

1. Membuat scoring untuk setiap alternatif jawaban (x) sebagai berikut : alternatif jawaban ‘a’ diberi nilai 1, ‘b’ diberi nilai 2, ‘c’ diberi nilai 3 dan ‘d’ diberi nilai ‘4’. 2. Tetapkan bobot nilai rata-rata tertimbang dengan rumus: Bobot nilai rata-rata tertimbang = jumlah bobot = 1 = 0,062 jumlah unsur 16 3. Tetapkan nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) unit pelayanan IKM = Total dari nilai persepsi per unsur x Nilai penimbang Total Unsur yang terisi 4. Untuk memudahkan interpretasi terhadap nilai IKM (antara 25 – 100), hasil penilaian dikonversikan dengan nilai dasar 25 dengan rumus sebagai berikut: IKM Unit Pelayanan x 25 Berdasarkan rumus tersebut, analisis kualitas pelayanan adalah sebagai berikut : Tabel 4.1 Pengukuran Kualitas Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan
Nilai Persepsi 1 2 3 4 Nilai Interval 1.00 – 1.75 1.76 – 2.50 2.51 – 3.25 3.26 – 4.00 Nilai Interval Konversi 25 – 43.75 43.76 – 62.50 62.51 – 81.25 81.26 – 100.00 Mutu Pelayanan D C B A Kinerja Unit Pelayanan Tidak baik Kurang baik Baik Sangat baik

Hasil Penelitian dan Pembahasan Pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut belum sepenuhnya dilaksanakan karena masih ada tarik-menarik kewenangan bidang penanaman modal antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Meskipun demikian, sebagai penunjang pelayanan penanaman modal, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal sebagai leading sector berupaya menyederhanakan prosedur perizinan, khususnya perizinan usaha untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan penanaman modal. Hal ini dilakukan untuk mendorong pengembangan potensi investasi di Kabupaten Garut. Kabupaten Garut bukan merupakan kawasan industri, tetapi merupakan kawasan pertanian. Oleh karena itu, sebagaimana visi Kabupaten Garut dalam mewujudkan daerah 5

argoindustri maka jenis industri terbesar yang ada di Kabupaten Garut adalah industri Argo dan Hasil Hutan. Jumlah unit usaha jenis industri ini mencapai 72% dari jenis industri lainnya dengan jumlah tenaga kerja mencapai 66% dari tenaga kerja pada industri lainnya. Jenis-jenis pelayanan perizinan usaha yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal, antara lain mencakup: a. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) b. Tanda Daftar Perusahaan (TDP) c. Tanda Daftar Industri/Izin Usaha Industri (TDI/IUI) d. Tanda Daftar Gudang (TDG) Jumlah masyarakat yang dilayani rata-rata per harinya adalah sekitar 8 orang. Perizinan baik yang berada di bawah kewenangan Bagian Perdagangan menargetkan jumlah masyarakat yang mengurus perizinan pada angka 1.200 pengaju permohonan. Dalam pelaksanaannya, sering kali jumlah masyarakat yang melakukan pengurusan ijin melampaui target sekitar 13%. Khusus pengurusan izin di bidang industri, terdapat periode waktu tertentu di mana semua perusahaan banyak yang memperpanjang izin, yaitu bulan Juni-Agustus. Pada bulan-bulan tersebut, biasanya pengaju permohonan izin jumlahnya bertambah drastis hingga 150 pengaju per bulannya. Sedangkan pada periode waktu lainnya, jumlah pengaju pengurusan izin rata-rata 100 hingga 140 yang mengurus perijinan. Hasil pengukuran Indeks Pelayanan Perizinan Penanaman Modal di Kabupaten Garut dapat dilihat dari tabel berikut ini.

6

Tabel 1 Hasil Pengukuran Indeks Pelayanan Perizinan Penanaman Modal di Kabupaten Garut No. U1 U2 U3 U4 U5 U6 U7 U8 U9 UNSUR PELAYANAN Prosedur pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas pelayanan Kedisiplinan petugas pelayanan Tanggung jawab petugas pelayanan Kemampuan petugas pelayanan Kecepatan pelayanan Keadilan mendapatkan pelayanan Kesopanan dan keramahan petugas NILAI RATA-RATA 3.273 3.182 2.909 2.636 2.909 2.818 3.000 2.909 3.000 2.727 2.455 2.636 2.818 2.818

U10 Kewajaran biaya pelayanan U11 Kepastian biaya pelayanan U12 Kepastian jadwal pelayanan U13 Kenyamanan lingkungan U14 Keamanan pelayanan Sumber: Hasil Penelitian, 2007

Secara keseluruhan, nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) untuk pelayanan perizinan yang terkait dengan pelayanan penanaman modal di Kabupaten Garut adalah 71,16. Kategori Baik berada pada rentang nilai 62,51 – 81,25, sehingga nilai IKM untuk pelayanan penanaman modal yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal tergolong baik. Nilai kepuasan tertinggi adalah untuk unsur prosedur pelayanan (3.273) dan nilai kepuasan terendah adalah untuk unsur kepastian biaya pelayanan (2.455). Prosedur pelayanan memperoleh penilaian kepuasan tertinggi karena masyarakat pengguna jasa merasa bahwa prosedur pelayanan perizinan sangat jelas karena prosedur tersebut dipasang di kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal, serta dimuat pula di internet sehingga mudah dibaca oleh masyarakat yang akan mengurus perizinan. Sebaliknya, nilai kepuasan terendah, yakni kepastian biaya pelayanan karena masyarakat menilai masih ada peluang terjadinya manipulasi biaya pelayanan, sekalipun besaran tarif setiap jenis pelayanan telah diumumkan, namun adanya praktik percaloan menyebabkan tarif ini bisa berubah. 7

Hasil ini diperkuat oleh hasil wawancara dengan masyarakat pengguna jasa yang menyatakan bahwa kapasitas aparat Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal dalam melaksanakan fungsi pelayanan penanaman modal terhadap masyarakat dirasakan sudah cukup memadai. Meskipun demikian, pernah terdapat beberapa oknum aparat yang melakukan pelanggaran disiplin dalam melaksanakan pelayanan terhadap para pelaku usaha. Akan tetapi oknum tersebut telah dimutasi karena mengganggu optimalisasi fungsi dinas dalam melayani perizinan. Tingkat keluhan masyarakat terhadap proses pelayanan perizinan dirasakan pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal cukup rendah. Beberapa keluhan yang biasanya terjadi adalah permasalahan dengan pihak perantara. Masih ada sebagian masyarakat yang lebih mempercayakan masalah pengurusan pelayanan kepada perantara, padahal pihak perantara terkadang malah mengabaikan kepentingan pengurusan izin si pemohon. Akibatnya, pengurusan izin tidak pernah selesai hingga berminggu-minggu. Biasanya si pemohon meminta pertanggungjawaban langsung dengan mendatangi kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal. Untuk mengatasi masalah seperti ini, pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal segera membantu si pemohon dengan mengurus perizinannya dengan sesegera mungkin. Para perantara biasanya terdiri dari oknum aparat terkait maupun oknum masyarakat. Pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal menyatakan bahwa oknum aparat yang melakukan tindakan indisipliner seperti demikian telah ditindak. Kendala yang paling dirasakan dalam melaksanakan pelayanan adalah prosesnya yang masih parsial, sehingga menghambat kemudahan bagi masyarakat pelaku usaha dalam mengurus perizinan. Pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal berpandangan bahwa proses pelayanan perizinan “satu atap” seyogyanya mulai diberlakukan dengan segera. Selama ini, masyarakat harus mengurus perizinan dari dua tempat yang berbeda yang cukup memakan waktu tempuh yang lama. Dengan pelayanan satu atap, diharapkan masyarakat para pelaku usaha lebih mudah untuk mengurus perijinannya. Kendala eksternal yang mempengaruhi terhadap proses pelayanan adalah prioritas fungsi pembinaan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal. Fungsi 8

utama dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal adalah melakukan pembinaan terhadap para pelaku usaha, terutama pelaku usaha yang bermodal kecil atau Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Dalam program pembinaan, masyarakat pelaku usaha atau calon pelaku usaha diberikan bekal berupa pelatihan keterampilan dan juga sekaligus diberikan sosialisasi mengenai segala peraturan bagi pelaku usaha, yang di antaranya mengenai perizinan. Sewaktu melakukan pembinaan, masih banyak para pengusaha yang belum memiliki izin usaha. Hal itu dikarenakan mereka masih dalam tahap merintis usahanya, sehingga belum mampu untuk mengurus perizinan. Di satu sisi, perizinan merupakan syarat mutlak bagi para pelaku usaha agar mereka dapat mengembangkan usahanya lebih maju, misalnya pihak bank mensyaratkan perizinan bagi pelaku usaha yang hendak mengajukan kredit. Berbagai program pemberian kredit bagi para pelaku usaha pun mensyaratkan adanya izin bagi pelaku usaha yang mengajukan kredit. Namun di sisi lain perizinan tersebut tidak bisa dipaksakan karena mereka belum mampu membiayainya. Upaya untuk mengatasi proses pelayanan yang terbagi di dua tempat yang cukup jauh adalah dengan mengerahkan aparat Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal untuk terjun langsung ke masyarakat pelaku usaha. Sedangkan bagi para pelaku usaha mikro dan kecil yang belum memiliki izin, pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal memberikan toleransi bagi para pelaku usaha kecil atau mikro yang belum memiliki izin untuk sedikit lebih mengembangkan usahanya dalam kurun waktu tertentu sehingga mereka sanggup membiayai perizinan. Selama proses pembinaan, para pelaku usaha kecil dan mikro yang belum memiliki izin diberikan pengarahan dan informasi tentang prosedur perizinan, termasuk manfaat perizinan bagi kelangsungan usaha mereka. Selama ini upaya sosialisasi masih berjalan seiring dengan proses pembinaan terhadap para pelaku usaha/industri kecil dan mikro. Kesimpulan dan Rekomendasi Berdasarkan hasil analisis pada bab-bab sebelumnya, maka sejumlah poin penting yang menjadi kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1. Kondisi pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut belum dilaksanakan secara optimal karena urusan penanaman modal belum sepenuhnya 9

terealisasi akibat tarik-menarik kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, namun Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal telah berupaya melakukan perbaikan dalam pelayanan perizinan untuk meningkatkan minat investasi di Kabupaten Garut. Pelayanan perizinan yang diberikan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal Kabupaten Garut terdiri dari pelayanan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP); Tanda Daftar Perusahaan (TDP); Tanda Daftar Industri/Izin Usaha Industri (TDI/IUI); dan Tanda Daftar Gudang (TDG). 2. Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) untuk pelayanan yang diberikan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal adalah 71,16 yang termasuk dalam kategori “Baik”, di mana nilai kepuasan tertinggi adalah untuk unsur prosedur pelayanan (3.273) dan nilai kepuasan terendah adalah untuk unsur kepastian biaya pelayanan (2.455). 3. Upaya untuk memperbaiki kinerja pelayanan terutama difokuskan untuk mengatasi kendala internal, yakni proses pelayanan yang masih parsial, sehingga menghambat kemudahan bagi masyarakat pelaku usaha dalam mengurus perizinan, serta kendala eksternal, yakni belum banyaknya masyarakat yang mengurus perizinan akibat lingkup usahanya yang masih terbatas sehingga merasa belum perlu mengurus perizinan. Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka sejumlah rekomendasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan penanaman modal adalah: 1. Perlu disusun kebijakan strategis mengenai manajemen pelayanan penanaman modal untuk mengantisipasi pembagian urusan sesuai dengan PP no. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota, yang di dalam kebijakan strategis tersebut mencakup standarisasi pelayanan penanaman modal serta mekanisme insentif bagi para calon ivestor, misalnya kemudahan perizinan, keringan pajak, kepastian hukum, dan dukungan politik dari DPRD maupun masyarakat. 10

2. Menerapkan sistem pelayanan terpadu satu pintu untuk memudahkan pelayanan perizinan, sehingga pelayanan menjadi lebih cepat dan efisien. 3. Meningkatkan kinerja pelayanan Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Penanaman Modal dengan merumuskan kebijakan mutu yang dijadikan motto kinerja yang harus dicapai, sekaligus sebagai acuan dalam melaksanakan kinerja pelayanan. 4. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan terutama untuk unsur-unsur kepuasan yang masih berada di posisi bawah dari ke-14 unsur penilaian, maka perlu dilakukan upaya-upaya konkret dan tegas untuk: a. Menerapkan sanksi yang tegas bagi aparat yang terlibat percaloan dalam pengurusan perizinan, misalnya berupa sanksi administratif mutasi. Sanksi ini juga dapat diterapkan untuk aparat yang melalaikan tugasnya dalam memberikan pelayanan. b. Menerapkan sistem penilaian mutu kinerja secara obyektif melalui penyusunan dan penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Operasional Prosedur (SOP), sehingga kapasitas kerja dari tiap aparat dapat dipantau dan kemungkinan penyimpangan dapat dihindarkan sedini mungkin. c. Mensosialisasikan dan melembagakan budaya kerja profesional melalui penerapan sistem insentif berbasis kinerja, sehingga aparat pelayanan didorong untuk bersikap profesional dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dengan jaminan mendapatkan imbalan yang memadai, misalnya dengan memberikan reward bagi aparat yang berprestasi dalam kinerja pelayanan, melakukan pemilihan employee of the month untuk menumbuhkan semangat kompetisi di antara aparat pelayanan, dll. d. Meningkatkan kapasitas pelayanan aparat melalui keikutsertaan dalam berbagai program pendidikan dan pelatihan serta kursus-kursus

11

manajemen pelayanan publik, sehingga akan terbentuk mindset aparat pelayanan yang mendahulukan kepuasan pelanggan (customer oriented). 5. Mendorong berbagai inovasi dalam pelayanan penanaman modal, misalnya dengan menggunakan teknologi informasi, sehingga proses pengurusan pelayanan dapat dilakukan secara terintegrasi, terkomputerisasi, dan on-line. Untuk itu, infrastruktur sistem informasi perlu disiapkan untuk mendukung upaya ini.

12

DAFTAR PUSTAKA

Fitzsimmons, James A. dan Mona J. Fitzsimmons. (1994). Service Management for Competitive Advantage. New York : McGraw-Hill Inc. Lembaga Administrasi Negara. (2000). Sistem Manajemen Pemerintah Daerah. Bandung : Pusat Kajian dan Diklat Aparatur LAN. Moenir, H.A.S. (2002). Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Bandung: Bumi Aksara. Mohamad, Ismail. (1999). “Kualitas Pelayanan Masyarakat: Konsep dan Implementasinya”. Dalam Miftah Thoha (ed). Administrasi Negara, Demokrasi, dan Masyarakat Madani. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Pratikno. (2002). Politik Keuangan Daerah. Yogyakarta:Program Pascasarjana Politik Lokal dan Otonomi Daerah UGM. Purnaweni, Hartuti. (2003). “Capacity Building dalam Pelayanan Prima”. Dalam Warsito dan Teguh Yuwono (eds). Otonomi Daerah: Capacity Building dan Penguatan Demokrasi Lokal. Semarang: Puskodak UNDIP. Ramalia, Mid. (2001). “Etika Pelayanan Masyarakat (Pelanggan): Upaya Membangun Citra Birokrasi Modern”. Dalam Sugiyanto (ed). Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Saefullah, A. Djadja. (1999). “Konsep dan Metode Pelayanan Umum yang Baik”. Dalam Publik Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Vol.1 No. 1, Oktober. Sobari, Wawan, dkk. (2004). Inovasi sebagai Referensi: Tiga Tahun Otonomi Daerah dan Otonomi Award. Surabaya: Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi. Suryanto, Adi. (2001). “Ekonomi Politik Pelayanan Publik Era Otonomi Daerah (Analisis Perspektif Public Choice)”. Dalam Sugiyanto (ed). Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Widjaja, A.W. (1990). Etika Administrasi Negara. Jakarta : Rajawali Press. Zeithaml, Valerie A., A. Parasuraman, Leonard L. Berry. (1990). Delivering Quality Service : Balancing Customer Perceptions and Expectations. New York : The Free Press.

13

ABSTRAK

Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang berfokus pada pengembangan potensi agribisnis, Kabupaten Garut berupaya mendorong masuknya investasi. Karena itu melakukan pengukuran kualitas pelayanan administrasi penanaman modal menjadi penting untuk mengevaluasi kinerja pelayanan yang telah dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang bersangkutan. Kegiatan survei IKM akan difokuskan untuk menjawab identifikasi tentang kondisi eksisting pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut, hasil pengukuran kepuasan masyarakat untuk jenis pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut, dan upaya untuk memperbaiki kinerja pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut. Secara operasional, studi ini akan dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis berbagai fenomena yang terjadi dalam proses penyelenggaraan otonomi daerah. Data-data sesuai dengan indikator penelitian terdiri dari data primer kualitatif yang diperoleh langsung dari sumbernya, yakni dari hasil wawancara dan focus group discussion dengan narasumber, seperti aparat Dinas Industri, Perdagangan, dan Penanaman Modal dan Kadin Kabupaten Garut. Secara keseluruhan, nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) untuk pelayanan perizinan yang terkait dengan pelayanan penanaman modal di Kabupaten Garut adalah 71,16. Kategori Baik berada pada rentang nilai 62,51 – 81,25, sehingga nilai IKM untuk pelayanan penanaman modal yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal tergolong baik. Nilai kepuasan tertinggi adalah untuk unsur prosedur pelayanan (3.273) dan nilai kepuasan terendah adalah untuk unsur kepastian biaya pelayanan (2.455). Prosedur pelayanan memperoleh penilaian kepuasan tertinggi karena masyarakat pengguna jasa merasa bahwa prosedur pelayanan perizinan sangat jelas karena prosedur tersebut dipasang di kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal, serta dimuat pula di internet sehingga mudah dibaca oleh masyarakat yang akan mengurus perizinan. Sebaliknya, nilai kepuasan terendah, yakni kepastian biaya pelayanan karena masyarakat menilai masih ada peluang terjadinya manipulasi biaya pelayanan, sekalipun besaran tarif setiap jenis pelayanan telah diumumkan, namun adanya praktik percaloan menyebabkan tarif ini bisa berubah. Kata-kata kunci: pelayanan publik, indeks kepuasan masyarakat

i

ABSTRACT

Garut is one region that has agribusiness potency in West Java. In order to develops its potential sector, Garut make serious efforts to pull investors come in. So in that case, quality measurement of investment administration is a must to evaluate public service performance in related government institutions. People satisfaction measurement (IKM) survey focused to identified existing condition of IKM in Garut, measures IKM for investment administration service in Garut, and government efforts to make investment administration service in Garut going better. This research used both qualitative and quantitative approach to analyse kinds of phenomenas exist in region autonomy implementation. Qualitative data was fall in directly from informants through interview and focus group discussion with officers in Garut Official of Industry, Trading, and Investment (Dinas Indag Kab. Garut). Quantitative data collected through quesionaire spread to people who use public service in Dinas Indag Kab. Garut. Overall, IKM in public service which carried out by Dinas Indag Kab. Garut is quite good. The best mark gained in sort of service procedure and the worst is in definite cost. People feel quite satisty with clarity of procedures that dispayed in official building and publish it via internet so it so easy to read the information. On the contrary, people consider the cost of registration fee is never clear for them. Keywords: public service, satisfaction index

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas ridhanya laporan yang berjudul “Pengukuran Kualitas Pelayanan Administrasi Penanaman Modal di Kabupaten Garut” telah selesai. Penelitian ini merupakan Penelitian Muda (Litmud) Universitas Padjadjaran yang dibiayai dari sumber dana DIPA UNPAD Tahun Anggaran 2007. Laporan Akhir ini memuat deskripsi mengenai hasil penelitian tentang pengukuran kualitas pelayanan penanaman modal yang diukur melalui kinerja pelayanan perizinan yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Garut, serta upaya-upaya untuk memperbaiki kualitas pelayanan tersebut. Harapan kami, mudah-mudahan Laporan Akhir ini dapat memberikan manfaat bagi pihak yang memerlukan. Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan Program Penelitian Peneliti Muda (Litmud) Universitas Padjadjaran yang telah memungkinkan penelitian ini terlaksana.

Bandung, November 2007 Ketua Peneliti

Tjipto Atmoko, Drs., S.U. NIP. 130814481

iii

DAFTAR ISI LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian 1.2 Perumusan Masalah TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelayanan Publik 2.2 Pengukuran Kualitas Pelayanan 2.3 Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3.1 Tujuan Penelitian 3.2 Manfaat Penelitian METODE PENELITIAN 4.1 Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data 4.2 Jadwal Pelaksanaan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Eksisting Pelayanan Administrasi Penanaman Modal Kabupaten Garut 5.2 Hasil Pengukuran Kepuasan Masyarakat untuk Jenis Pelayanan Administrasi Penanaman Modal di Kabupaten Garut 5.3 Upaya untuk Memperbaiki Kinerja Pelayanan Administrasi Penanaman Modal di Kabupaten Garut KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 6.1 Kesimpulan 6.2 Rekomendasi

i ii iii iv v 1 1 4 5 5 6 11 14 14 14 15 15 17 18 18 30 39

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

42 42 43 46

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

iv

DAFTAR TABEL Halaman Pengukuran Kualitas Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan 17 Kapasitas Industri Berdasarkan Jenis di Kabupaten Garut 15 Tahun 2004 Kondisi Lahan dan Jarak Lokasi dari Ibukota Garut 21 Persyaratan Pembuatan Tanda Daftar Gudang (TDG) 26 Persyaratan Penerbitan Tanda Daftar Industri 28 Hasil Pengukuran Indeks Pelayanan Perizinan Penanaman 36 Modal di Kabupaten Garut Hasil Pengolahan Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat 37

Tabel 4.1 Tabel 5.1 Tabel 5.2 Tabel 5.3 Tabel 5.4 Tabel 5.5 Tabel 5.6

v

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian Otonomi daerah sebagai salahsatu bentuk desentralisasi kewenangan bertujuan untuk mengembangkan potensi daerah dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat di daerah. Perluasan kewenangan ini memungkinkan daerah untuk mengembangkan berbagai praktik inovatif, baik dalam penyelenggaraan fungsi regulasi, pemberdayaan masyarakat, maupun pelayanan publik. Saat ini paradigma otonomi daerah telah bergeser, tidak lagi terfokus pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah juga diukur dari kualitas pelayanan publik yang dinikmati masyarakat. Hal ini sejalan dengan misi otonomi daerah, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah. Pelayanan masyarakat berkaitan dengan pemenuhan kepentingan umum atau publik. Kepentingan umum menjadi dasar dari pelayanan publik karena setiap kegiatan yang dilakukan pemerintah guna memenuhi kepentingan orang banyak pada dasarnya merupakan bentuk pelayanan publik. Pelayanan publik adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materiil melalui sistem, prosedur, dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya. Berkaitan dengan hak-hak yang melekat pada publik, pelayanan publik adalah pengertian yang

1

ditujukan kepada suatu pelayanan terhadap kebutuhan yang bersifat umum dari masyarakat dan karena itu dapat dituntut agar dilaksanakan. Penilaian terhadap kualitas pelayanan bukan didasarkan atas pengakuan atau penilaian dari pemberi pelayanan, tetapi diberikan oleh pelanggan atau pihak yang menerima pelayanan. Salahsatu indikator kualitas pelayanan adalah client satisfaction and perceptions, misalnya ditunjukkan dengan ada tidaknya keluhan dari pengguna jasa pelayanan. Hasil dari pengukuran kualitas akan menjadi landasan dalam membuat kebijakan perbaikan kualitas secara keseluruhan. Sejalan dengan perkembangan zaman, tuntutan akan peningkatan kualitas pelayanan semakin meningkat. Apalagi dikaitkan dengan konteks global yang ditandai dengan tingkat kompetisi yang tinggi, instansi pemerintah (baik di pusat maupun di daerah) dituntut untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanannya agar mampu bersaing. Dalam rangka merespon tuntutan tersebut, Pemerintah Pusat kemudian menerbitkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Ketentuan ini menjadi acuan untuk mengukur indeks kepuasan masyarakat sebagai tolok ukur untuk menilai tingkat kualitas pelayanan. Di samping itu, data indeks kepuasan masyarakat dapat menjadi bahan penilaian terhadap unsur pelayanan yang masih perlu perbaikan dan menjadi pendorong setiap unit penyelenggara pelayanan untuk meningkatkan kualitas pelayanannya. Berdasarkan asumsi tersebut, perlu dilakukan pengukuran indeks kepuasan masyarakat untuk jenis-jenis pelayanan publik, baik yang termasuk pelayanan dasar maupun pelayanan administratif. Pelayanan administrasi penanaman modal merupakan

2

salahsatu pelayanan penting karena menjadi salahsatu sumber Pendapatan Asli Daerah yang cukup potensial. Di sisi lain, pelayanan ini juga penting sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan adanya investasi, maka lapangan kerja dapat diperluas, pendapatan masyarakat dapat meningkat yang pada gilirannya akan meningkatkan daya beli dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Sebaliknya, pelayanan administrasi penanaman modal yang bertele-tele dan birokratis akan menurunkan minat investor untuk menanamkan modal di daerah yang bersangkutan. Karena itu, pengukuran kualitas pelayanan administrasi penanaman modal menjadi penting untuk dilakukan untuk mengevaluasi kinerja pelayanan yang telah dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang bersangkutan. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang berfokus pada pengembangan potensi agribisnis, Kabupaten Garut berupaya mendorong masuknya investasi. Pencapaian nilai investasi tahun 2005 sebesar Rp. 1.918,64 Milyar dengan laju investasi sebesar 17,49%, atau meningkat dibandingkan investasi pada tahun 2004 yang mencapai Rp. 1.633,04 Milyar (www.garut.go.id). Peningkatan investasi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan sektor-sektor ekonomi produktif di Kabupaten Garut. Upaya ini tentu perlu diimbangi dengan pengembangan kapasitas pelayanan SKPD yang bertugas memberikan pelayanan administrasi penanaman modal, yakni Dinas Industri, Perdagangan, dan Penanaman Modal Kabupaten Garut. Kapasitas pelayanan yang dimaksud antara lain menyangkut kejelasan prosedur investasi, ketersediaan informasi mengenai peluang investasi, dll yang dapat mendorong masuknya investasi ke Kabupaten Garut. Penelitian ini diarahkan untuk mengukur kualitas pelayanan administrasi penanaman modal yang selama ini telah dilaksanakan oleh Dinas Industri,

3

Perdagangan, dan Penanaman Modal Kabupaten Garut sebagai bahan evaluasi dan peningkatan kualitas kinerja pelayanan.

1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian permasalahan dalam latarbelakang, maka kegiatan survei IKM akan difokuskan untuk menjawab identifikasi masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana kondisi eksisting pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut? 2. Bagaimana hasil pengukuran kepuasan masyarakat untuk jenis pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut? 3. Bagaimana upaya untuk memperbaiki kinerja pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut?

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pelayanan Publik Kemajuan otonomi daerah sebagai suatu kebijakan dapat diukur dari berbagai dimensi. Namun, secara konkret, hasil dari otonomi daerah yang langsung dapat dinikmati oleh masyarakat adalah yang terkait dengan pelayanan publik. Asumsinya, perluasan kewenangan (desentralisasi) akan berkonsekuensi pada tumbuhnya kreativitas dan inovasi dalam menggali dan mengembangkan potensi daerahnya, sehingga alokasi pendapatan daerah dapat lebih banyak ditujukan bagi peningkatan kualitas pelayanan publik. Secara konseptual, pelayanan mencakup dimensi yang luas karena meliputi wilayah privat (private sector) maupun wilayah publik (public domain). Albrecht (dalam Pusdiklat LAN, 2000) mendefinisikan pelayanan sebagai …a total organizational approach that makes quality of service as perceived by the customer, the number one driving force for the operation of the bussiness. Pendapat ini menunjukkan dimensi privat dari pelayanan yang dikaitkan dengan kegiatan bisnis dan apa yang diterima oleh pelanggan atau konsumen. Sementara dimensi publik dari pelayanan tampak dari pendapat yang dikemukakan Thoha (dalam Pusdiklat LAN, 2000), bahwa pelayanan masyarakat adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang dan/atau kelompok orang atau instansi tertentu untuk memberikan bantuan dan kemudahan kepada masyarakat dalam rangka pencapaian suatu tujuan tertentu.

5

Dengan kata lain, pelayanan masyarakat dalam pendapat Thoha berkaitan dengan pemenuhan kepentingan umum atau publik. Kepentingan umum merupakan konsep yang multiinterpretatif khususnya menyangkut siapa yang dimaksud dengan umum atau publik tersebut. Shepherd dan Wilcox (dalam Saefullah, 1999) memberikan pengertian bahwa publik adalah the whole community, individuals, sharing citizenship, responsibilities, and benefits. Dalam kaitannya dengan pemerintahan, kata umum atau publik mengandung arti sebagai masyarakat umum sehingga kepentingan umum diartikan sebagai kepentingan masyarakat luas, sebagaimana dikemukakan Moenir (2002:15) yang mengartikan kepentingan umum sebagai suatu bentuk kepentingan yang menyangkut orang banyak atau masyarakat, tidak bertentangan dengan norma dan aturan, yang kepentingan tersebut bersumber pada kebutuhan (hajat/hidup) orang banyak atau masyarakat. Pelayanan publik terdiri dari dua kategori, yakni pelayanan dasar (substantif) dan pelayanan administrasi. Pelayanan dasar menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar manusia, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, permukiman, dll., sedangkan pelayanan administrasi menyangkut pelayanan pendataan sebagai konsekuensi dari status sebagai warga negara, seperti pelayanan KTP, Kartu Keluarga, perizinan usaha, dll.

2.2 Pengukuran Kualitas Pelayanan Penilaian terhadap kualitas pelayanan bukan didasarkan atas pengakuan atau penilaian dari pemberi pelayanan, tetapi diberikan oleh langganan atau pihak yang menerima pelayanan. Namun demikian, tidak ada suatu standar yang dapat dipakai sebagai ukuran umum tentang kualitas pelayanan. Hal ini disebabkan unsur subyektivitas dalam diri penerima pelayanan, seseorang mungkin menilai suatu pelayanan yang

6

diterimanya sudah memuaskan tetapi belum memuaskan bagi orang lain. Ketiadaan standar kualitas pelayanan yang sifatnya universal hendaknya tidak menjadi alasan bagi pemberi pelayanan untuk tidak memperhatikan kualitas pelayanannya. Pengukuran kualitas pelayanan merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk tujuan peningkatan kualitas pelayanan. Untuk mengetahui aspek-aspek mana yang harus menjadi prioritas dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan maka diperlukan pengukuran terhadap kualitas dari pelayanan yang diberikannya. Untuk bekerja secara sistematis dalam upaya menemukan dan meyelesaikan masalah-masalah utama benar-benar mengetahui dampak dari perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang waktu, diperlukan ukuran-ukuran untuk membandingkan kualitas kinerja pelayanan yang diberikan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan dan digunakan metode yang tepat untuk mengukur kualitas pelayanan. Terdapat dua tipe pengukuran kualitas pelayanan publik, yakni pengukuran kuantitatif dan pengukuran kualitatif, yang keduanya saling melengkapi. Metode kuantitatif bertujuan untuk mengukur fakta obyektif, seperti lamanya seorang pasien harus menunggu saat dioperasi, berapa lama seseorang harus menunggu untuk dilayani, dan sebainya. Dengan kata lain, pengukuran obyektif merupakan standar teknis dalam pelayanan publik. Sementara pengukuran kualitatif tidak memiliki presisi yang sama tetapi dapat memberikan informasi yang tidak dapat diperoleh dari metode kuantitatif. Metode kualitatif membantu untuk memahami harapan dan kebutuhan masyarakat. Pengukuran kualitatif mencalup proses mendengarkan, mempelajari, menganalisis, dan

menginterpretasikan pernyataan pelanggan.

7

Ada empat langkah dalam mengukur kualitas pelayanan publik, terdiri dari: a) Langkah pertama adalah mendefinikan konsep kualitas untuk mengukur kualitas itu sendiri. Kualitas dirasakan oleh pelanggan artinya pelanggan diberi konsep mengenai kualitas. Maka pemberi jasa pelayanan mendefinisikan konsep kualitas bagi pelanggan berdasarkan pada faktor reliabilitas, kepercayaan, dan recovery; b) Langkah kedua, adalah membuat para pengguna jasa pelayanan agar mau merinci faktor-faktor tadi menjadi variabel. Variabel sebaiknya dirumuskan semaksimal mungkin berdasarkan pernyataan pelanggan itu sendiri; c) Langkah ketiga, adalah membuat skala ukuran penilaian untuk setiap variabel, misalnya pengukuran didasarkan atas skala ukuran 1 sampai 5, Hal ini akan membantu pemahaman pandangan pengguna jasa terhadap pelayanan yang ideal; d) Langkah keempat adalah mengarahkan pelanggan untuk menilai pelayanan pada saat ini. Hasil penilaian atau pengukuran tersebut akan memberikan informasi untuk menyusun sasaran-sasaran kualitas yang didasarkan pada variabel dan faktor kualitas mendasar bagi pelanggan. Hasil dari pengukuran kualitas akan menjadi landasan dalam membuat kebijakan perbaikan kualitas secara keseluruhan. Oleh karena itu, kondisi yang diperlukan untuk mendukung pengukuran kualitas yang sahih (valid) antara lain adalah: 1. Pengukuran harus dimulai pada permulaan program; 2. Pengukuran kualitas dilakukan pada keseluruhan sistem; 3. Melibatkan semua individu yang terkait dengan proses; 4. Seharusnya dapat memunculkan data;

8

5. Pengukuran kualitas yang menghasilkan informasi-informasi utama seharusnya dicatat tanpa distorsi, yang berarti harus akurat; 6. Perlu adanya komitmen secara menyeluruh untuk pengukuran performansi kualitas dan perbaikannya; 7. Program-program pengukuran dan perbaikan kualitas seharusnya dapat dipecahpecah atau diuraikan dalam batas-batas yang jelas sehingga tidak tumpang tindih dengan program yang lain. Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, maka pengukuran kualitas dapat dilakukan pada 3 tingkat, yakni pada tingkat proses, tingkat output, dan tingkat outcome. Pengukuran pada tingkat proses dilakukan pada setiap langkah atau aktivitas dalam proses. Tujuannya untuk mengidentifikasi perilaku yang mengatur setiap langkah dalam proses dan menggunakan ukuran-ukuran ini untuk mengendalikan operasi serta memperkirakan output pelayanan yang akan dihasilkan. Pengukuran pada tingkat output dilakukan dengan mengukur karakteristik output pelayanan yang dihasilkan dibandingkan dengan spesifikasi karakteristik yang diinginkan masyarakat pengguna jasa pelayanan. Beberapa contoh ukuran pada tingkat output adalah kesesuaian output dengan keinginan masyarakat, tingkat efektivitas dan efisiensi produksi, kualitas dari produk yang dihasilkan, dan lain-lain. Pengukuran pada tingkat outcome mengukur bagaimana baiknya suatu produk memenuhi kebutuhan dan ekspektasi pengguna jasa layanan. Jadi mengukur tingkat kepuasan pengguna jasa dalam mengkonsumsi produk yang disediakan. Pengukuran pada tingkat outcome merupakan tingkat tertinggi dalam pengukuran kualitas. Beberapa contoh ukuran pada tingkat outcome adalah banyaknya keluhan pelanggan yang diterima,

9

tingkat ketepatan waktu penyerahan produk sesuai dengan waktu yang dijanjikan, dan sejenisnya. Pelayanan publik sudah seharusnya memperhatikan kualitas pelayanan karena pelayanan yang baik adalah awal bagi tumbuhnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, yang selanjutnya akan menjadi penentu pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks ini, pengukuran mengenai kualitas pelayanan merupakan perbandingan antara pelayanan yang diharapkan (expected service) dengan pelayanan yang diterima (perceived service). Dalam metode pengukuran ini, penilaian masyarakat selaku konsumen berperan penting dalam mengukur kualitas pelayanan publik. Menurut Zeithaml-Parasuraman-Bery (1990 : 23), pengukuran kualitas pelayanan publik didasarkan pada indikator-indikator: 1. Tangibles, artinya kualitas pelayanan yang berupa sarana fisik perkantoran, ruang tunggu, dan lain-lain; 2. Reliability, yakni kemampuan dan keandalan untuk menyediakan pelayanan yang terpercaya; 3. Responsiveness, yakni kesanggupan untuk membantu dan menyediakan pelayanan secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap keinginan konsumen; 4. Assurance, yakni kemampuan dan keramahan serta sopan santun pegawai dalam meyakinkan dan menumbuhkan kepercayaan konsumen; 5. Emphaty, yakni sikap tegas tetapi penuh perhatian dari pegawai terhadap konsumen. Kelima indikator inilah yang kemudian dijabarkan dalam sejumlah tolok ukur IKM untuk menilai kualitas pelayanan publik yang diberikan unit layanan pemerintah. IKM adalah data dan informasi tentang tingkat kepuasan masyarakat yang diperoleh dari

10

hasil pengukuran secara kuantitatif dan kualitatif atas pendapat masyarakat dalam memperoleh pelayanan dari aparatur penyelenggara pelayanan publik dengan membandingkan antara harapan dan kebutuhannya. Pemerintah melalui Keputusan Menpan No. 25/KEP/M.PAN/2/2004 telah menyusun 14 indikator standar penilaian IKM yang harus dilakukan oleh instansi pemerintah untuk menilai kinerja pelayanan publik di instansinya, yang meliputi: prosedur pelayanan; persyaratan pelayanan; kejelasan petugas pelayanan; kedisiplinan petugas pelayanan; tanggung jawab petugas pelayanan; kemampuan petugas pelayanan; kecepatan pelayanan; keadilan mendapatkan pelayanan; kesopanan dan keramahan petugas; kewajaran biaya pelayanan; kepastian biaya pelayanan; kepastian jadwal pelayanan; kenyamanan lingkungan; serta keamanan pelayanan. Unsur-unsur ini dipandang cukup representatif untuk mengukur kelima dimensi kualitas pelayanan publik sebagaimana dikemukakan oleh Parasuraman dkk. Pelayanan publik sebagai salahsatu bentuk barang publik (public goods) yang diberikan pemerintah sudah selayaknya diimbangi dengan kualitas layanan yang baik, sehingga masyarakat akan menaruh kepercayaan kepada pemerintah. Pelayanan publik yang prima akan menghasilkan kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah, yang selanjutnya akan mendorong masyarakat untuk mendukung dan mentaati pemerintah karena kesadaran dan kesukarelaan, bukan karena paksaan.

2.3 Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja pelayanan administrasi penanaman modal terdiri dari 14 (empat belas) unsur yang menjadi indikator kepuasan

11

masyarakat terhadap suatu bentuk pelayanan publik. Keempat indikator tersebut terdiri dari : 1. Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan. 2. Persyaratan pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administratif yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya. 3. Kejelasan petugas pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang memberikan pelayanan (nama, jabatan serta kewenangan dan tanggung jawabnya). 4. Kedisiplinan petugas pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan, terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku. 5. Tanggung jawab petugas pelayanan, yaitu kejelasan wewenang dan tanggung jawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian pelayanan. 6. Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan keterampilan yang dimiliki petugas dalam memberikan/menyelesaikan pelayanan kepada masyarakat. 7. Kecepatan pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan. 8. Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani. 9. Kesopanan dan keramahan petugas, yaitu sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati. 10. Kewajaran biaya pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit pelayanan.

12

11. Kepastian biaya pelayanan, yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan. 12. Kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 13. Kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih, rapi, dan teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada penerima pelayanan. 14. Keamanan pelayanan, yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan unit penyelenggara pelayanan ataupun sarana yang digunakan sehingga masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap resiko-resiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanan. Indikator-indikator tersebut didasarkan pada unsur-unsur pengukuran kepuasan pelayanan publik yang termuat dalam Keputusan Menpan No. 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat.

13

BAB III TUJUAN DAN MAFAAT PENELITIAN

3.1 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kualitas pelayanan administrasi pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut, yang secara rinci adalah sebagai berikut: 1. Mendeskripsikan kondisi eksisting pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut. 2. Menganalisis hasil pengukuran kepuasan masyarakat untuk jenis pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut. 3. Merumuskan upaya untuk memperbaiki kinerja pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut.

3.2 Manfaat Penelitian Kegiatan ini diharapkan akan menghasilkan luaran berupa IKM untuk jenis pelayanan administrasi penanaman modal sebagai bahan pengambilan kebijakan bagi Pemerintah Kabupaten Garut untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, khususnya di bidang pelayanan administrasi penanaman modal. Selain itu, informasi yang diperoleh mengenai penghambat dan pendukung kinerja pelayanan publik dapat menjadi masukan bagi SKPD terkait untuk lebih meningkatkan kinerja pelayanannya di masa mendatang.

14

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data Secara operasional, studi ini akan dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis berbagai fenomena yang terjadi dalam proses penyelenggaraan otonomi daerah. Untuk kebutuhan tersebut, maka kajian ini mencoba menggali berbagai informasi berkenaan dengan: 1. Existing condition. Kondisi yang ada pada saat ini, terkait dengan pemahaman dan pelaksanaan otonomi daerah; 2. Problem encountered. Berbagai masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan otonomi daerah; 3. Best practice. Berbagai temuan menyangkut inovasi dalam pelaksanaan otonomi daerah yang dapat dikembangkan atau diterapkan di daerah lain untuk mencapai tujuan otonomi daerah; 4. Expectation. Harapan yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Data-data sesuai dengan indikator penelitian terdiri dari data primer kualitatif yang diperoleh langsung dari sumbernya, yakni dari hasil wawancara dan focus group discussion dengan narasumber, seperti aparat Dinas Industri, Perdagangan, dan Penanaman Modal dan Kadin Kabupaten Garut. Data primer kuantitatif yaitu berupa hasil kuantifikasi dari keadaan kualitatif yang merupakan penilaian masyarakat atas pelayanan penanaman modal, didapat melalui hasil survei dengan instrumen kuesioner. Kuesioner disebar kepada masyarakat pengguna layanan administrasi penanaman modal di 15

Kabupaten Garut, menggunakan indeks skor 1 sampai 4. Untuk kategori tidak baik diberi nilai persepsi 1; kurang baik diberi nilai persepsi 2; baik diberi nilai persepsi 3; sangat baik diberi nilai persepsi 4. Untuk melengkapi data primer, dikumpulkan pula data sekunder dalam bentuk berbagai dokumen perencanaan pembangunan daerah yang diperoleh dari instansi yang bersangkutan. Analisis data menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif, yang terjadi secara bersamaan mulai dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik penafsiran digunakan untuk menafsirkan makna di balik informasi dan data yang diperoleh serta berusaha untuk menarik kesimpulan dari informasi dan data tersebut. Responden dipilih secara acak dengan ukuran responden ditetapkan sebesar 150 responden dengan dasar perhitungan (jumlah unsur + 1) x 10 = (14 + 1) x 10 = 150 responden. Lokasi penelitian adalah Dinas Industri, Perdagangan, dan Penanaman Modal Kabupaten Garut sebagai SKPD pelaksana tugas pokok pelayanan administrasi penanaman modal. Pengolahan data dihitung dengan menggunakan “nilai rata-rata tertimbang” masing-masing unsur pelayanan. Karena itu untuk pengolahan data dilakukan dengan cara: 1. Membuat scoring untuk setiap alternatif jawaban (x) sebagai berikut : alternatif jawaban ‘a’ diberi nilai 1, ‘b’ diberi nilai 2, ‘c’ diberi nilai 3 dan ‘d’ diberi nilai ‘4’. 2. Tetapkan bobot nilai rata-rata tertimbang dengan rumus: Bobot nilai rata-rata tertimbang = jumlah bobot = 1 = 0,062 jumlah unsur 16 3. Tetapkan nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) unit pelayanan IKM = Total dari nilai persepsi per unsur x Nilai penimbang Total Unsur yang terisi 16

4. Untuk memudahkan interpretasi terhadap nilai IKM (antara 25 – 100), hasil penilaian dikonversikan dengan nilai dasar 25 dengan rumus sebagai berikut: IKM Unit Pelayanan x 25 Berdasarkan rumus tersebut, analisis kualitas pelayanan adalah sebagai berikut : Tabel 4.1 Pengukuran Kualitas Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan
Nilai Persepsi 1 2 3 4 Nilai Interval 1.00 – 1.75 1.76 – 2.50 2.51 – 3.25 3.26 – 4.00 Nilai Interval Konversi 25 – 43.75 43.76 – 62.50 62.51 – 81.25 81.26 – 100.00 Mutu Pelayanan D C B A Kinerja Unit Pelayanan Tidak baik Kurang baik Baik Sangat baik

Dalam peningkatan kualitas pelayanan, diprioritaskan pada unsur yang mempunyai nilai paling rendah, sedangkan unsur yang mempunyai nilai cukup tinggi harus tetap dipertahankan.

4.2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ini akan dilaksanakan selama 6 bulan, yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut : No. 1. 2. 3. Kegiatan Penyusunan proposal penelitian, studi pustaka, studi instrumen penelitian Pengurusan perizinan, survei lapangan Evaluasi, pelaporan, penggandaan laporan, dan seminar Total Waktu 1 bulan 2 bulan 3 bulan 6 bulan

17

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Kondisi Eksisting Pelayanan Administrasi Penanaman Modal di Kabupaten Garut Pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut belum sepenuhnya dilaksanakan karena masih ada tarik-menarik kewenangan bidang penanaman modal antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Meskipun demikian, sebagai penunjang pelayanan penanaman modal, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal sebagai leading sector berupaya menyederhanakan prosedur perizinan, khususnya perizinan usaha untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan penanaman modal. Hal ini dilakukan untuk mendorong pengembangan potensi investasi di Kabupaten Garut. Kabupaten Garut bukan merupakan kawasan industri, tetapi merupakan kawasan pertanian. Oleh karena itu, sebagaimana visi Kabupaten Garut dalam mewujudkan daerah argoindustri maka jenis industri terbesar yang ada di Kabupaten Garut adalah industri Argo dan Hasil Hutan. Jumlah unit usaha jenis industri ini mencapai 72% dari jenis industri lainnya dengan jumlah tenaga kerja mencapai 66% dari tenaga kerja pada industri lainnya. Adapun jumlah sentra, unit usaha, tenaga kerja, investasi, dan nilai produksi dari empat jenis industri di Kabupaten Garut dipaparkan dalam tabel berikut ini.

18

Tabel 5.1 Kapasitas Industri Berdasarkan Jenis di Kabupaten Garut Tahun 2004
Industri Argo & Hasil Hutan Jumlah Sentra Jumlah Unit Usaha Formal Non Formal Total Tenaga Kerja Formal Non Formal Total Investasi (000 Rp) Formal Non Formal Total Nilai Produksi (000 Rp) Formal Non Formal Total 64.561.848 174.756.999 239.318.847 56.188.820 100.467.350 156.656.170 5.746.875 102.470.875 108.217.780 69.661.662 63.955.500 128.617.162 191.159.205 441.650.724 632.809.929 2.279.411 5.748.453 8.027.864 4.340.075 8.337.000 12.677.075 2.065.236 4.842.498 6.908.236 20.851.730 17.631.000 38.482.730 29.536.954 36.558.951 66.095.905 3.568 32.273 35.841 3.878 4.377 8.255 876 7.228 8.104 669 1.713 2.382 8.991 45.591 54.582 431 7.729 8.160 131 1.006 1.137 152 1.598 1.750 52 482 534 766 10.815 11.581 177 Industri Tekstil, Kulit dan Aneka 44 Industri Industri Kimia Logam & Bahan Galian 45 5 Jumlah 271

Sumber : Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal Kabupaten Garut, 2005

Berdasarkan data di atas, tampak bahwa pengembangan investasi di Kabupaten Garut diarahkan pada sektor industri agro dan hasil hutan. Secara rinci, potensi investasi untuk sektor ini mencakup sektor-sektor sebagai berikut: 1. Agribisnis Sapi Potong, tujuannya memenuhi permintaan pasar daging yang masih belum terpenuhi, mendorong timbulnya industri lain yang berbahan baku daging, kulit tulang dan bahan ikutannya. Peluang investasi meliputi: a. Penggemukan Sapi Potong

b. Pembibitan Sapi Potong

19

Sentra produksi di Kecamatan Pameungpeuk; Kecamatan Cikelet; Kecamatan Cibalong; dan Kecamatan Cisewu. Jenis produk yang dihasilkan ternak sapi siap konsumsi, produk ikutan dan limbah berupa pupuk. Target pemasaran : a. Daging : Pabrik makanan, pabrik pengalengan daging, rumah makan dan rumah tangga. b. Kulit : Pabrik penyamakan kulit. c. Tulang : Pengolahan pakan ternak, ikan, udang serta industri kerajinan. d. Limbah Kandang : Pupuk kandang e. Sarana Produksi : Induk sapi, sapi bakalan, HMT, konsentrat dan obatobatan. f. Skala Usaha Penggemukan / Pembibitan : • • • Skala Kecil 2 s.d 50 ekor Skala Menengah 51 s.d 100 ekor Skala Besar Lebih dari 100 ekor

2. Sarana dan Prasarana Wilayah Sarana Produksi: Tersedia kecuali konsentrat. Sarana Transportasi: Tersedia (Jalan, Angkutan umum, dll). Lahan Penggembalaan dan Lahan Hijau Makanan Ternak (HMT) tersedia 6.547 Ha.

20

Tabel 5.2 Kondisi Lahan dan Jarak Lokasi dari Ibukota Garut Kecamatan Jenis Tanah Ketinggian Jarak Bungbulang Podsolik M/K 0 - 400 m dpl 73 Km Cisompet Inceptisol 150 - 600 dpl 70 Km Talegong Andisol 850 m dpl 36 Km Pakenjeng Andisol 950 m dpl 42 Km Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal Kabupaten Garut, 2005 Prasarana • • • • RPH tersedia di Kecamatan Cikajang Perekonomian : Pedagang perantara, pasar, koperasi, bank Listrik dan Telekomunikasi : tersedia di beberapa Kecamatan Jalan provinsi dan kabupaten dalam kondisi baik

Jenis-jenis pelayanan perizinan usaha yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal, antara lain mencakup: a. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) b. Tanda Daftar Perusahaan (TDP) c. Tanda Daftar Industri/Izin Usaha Industri (TDI/IUI) d. Tanda Daftar Gudang (TDG) Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dikenakan retribusi pelayanan izin usaha industri dan perdagangan yang merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas pemberian izin usaha penyelenggaraan perdagangan, yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah. Persyaratan untuk membuat SIUP dibedakan untuk tiap jenis perusahaan yang mengajukan permohonan. Untuk perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), diwajibkan untuk melengkapi permohonan

21

dengan dokumen-dokumen: Salinan Akta Notaris Pendirian Perusahan; Salinan Surat Pengesahan Badan Hukum dari Mentri Kehakiman bagi Perseroan Terbatas; Salinan Kartu Tanda Penduduk(KTP) Pemilik/Direktur Utama/Penanggung jawab Perusahaan; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); dan Salinan Surat Izin Tempat Neraca Perusahaan. Persyaratan untuk perusahaan berbentuk koperasi terdiri dari: Salinan Akte Pendirian Koperasi yang telah mendapatkan pengesahaan dari instansi yang berwenang; Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung jawab koperasi; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU); dan Salinan Neraca Perusahaan. Perusahaan yang tidak berbentuk perseroan terbatas dan koperasi diwajibkan memenuhi persyaratan sebagai berikut: Salinan Surat Akte Pendirian/Akte Notaris yang didaftarkan pada Pengadilan Negeri; Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Perusahaan; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU); dan Salinan Neraca Perusahaan. Untuk perusahaan perseorangan, persyaratan yang wajib dipenuhi untuk membuat Surat Izin Usaha Perdagangan adalah: Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Perusahaan; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); dan Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU). Prosedur pelayanan diawali dengan pengisian formulir permohonan penerbitan SIUP oleh pemohon, disertai berkas persyaratan. Petugas memeriksa formulir permohoan dan berkas persyaratan. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, permohonan disahkan dan pemohon dikenakan biaya administrasi, dengan besaran sebagai berikut:

22

a. Perusahaan kecil Rp. 15.000,00 b. Perusahaan menengah Rp. 50.000,00 c. Perusahaan besar Rp. 200.000,00 Setelah SIUP diterbitkan, pemohon dapat mengambil dengan menunjukkan bukti pembayaran. SIUP berlaku selama 3 (tiga) tahun terhitung mulai tanggal persetujuan prinsip diterbitkan dan dapat diperpanjang. Penerbitan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dikenakan retribusi pelayanan izin usaha industri dan perdagangan yang merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas pemberian izin usaha penyelenggaraan perdagangan, yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah. Persyaratan untuk pengajuan TDP dibedakan untuk setiap pemohon, seperti pada permohonan pembuatan SIUP. Untuk perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), diwajibkan menyertakan Salinan Akta Notaris Pendirian Perusahan; Salinan Surat Pengesahan Badan Hukum dari Menteri Kehakiman bagi Perseroan Terbatas; Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pemilik/Direktur Utama/Penanggung jawab Perusahaan; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); Salinan Surat Izin Tempat; dan Neraca Perusahaan. Perusahaan berbentuk koperasi diwajibkan menyertakan Salinan Akte Pendirian Koperasi yang telah mendapatkan pengesahaan dari Instansi yang berwenang; Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung jawab Koperasi; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU); dan Salinan Neraca Perusahaan. Perusahaan yang tidak berbentuk Perseroan Terbatas dan Koperasi diwajibkan menyertakan persyaratan berupa Salinan Surat Akte Pendirian/Akte Notaris yang

23

didaftarkan pada Pengadilan Negeri; Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Perusahaan; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU); dan Salinan Neraca Perusahaan. Bagi perusahaan perseorangan, persyaratan yang wajib dipenuhi dalam pengajuan pembuatan TDP adalah Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Perusahaan; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); dan Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU). Prosedur pelayanannya, pemohon mengisi formulir permohonan penerbitan TDP disertai berkas persyaratan. Petugas memeriksa formulir permohoan dan berkas persyaratan. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, permohonan disahkan dan pemohon dikenakan biaya administrasi, dengan besaran biaya berbeda, tergantung pada bentuk perusahaan. Biaya retribusi untuk PT ditetapkan sebesar Rp. 100.000,00; untuk Koperasi sebesar Rp. 5.000,00; untuk CV sebesar Rp. 25.000,00; dan untuk perusahaan perseorangan sebesar Rp. 10.000,00. Setelah TDP diterbitkan, pemohon dapat mengambil dengan menunjukkan bukti pembayaran. TDP berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang kembali. Penerbitan Tanda Daftar Industri (TDI) dikenakan retribusi pelayanan izin usaha industri dan perdagangan yang merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas pemberian izin usaha penyelenggaraan perdagangan, yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah. Persyaratan yang diperlukan untuk mengajukan permohonan perizinan tersebut juga berbeda untuk tiap pemohon. Untuk perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), persyaratan yang harus disiapkan adalah Salinan Akta Notaris Pendirian Perusahan; Salinan Surat Pengesahan Badan Hukum dari Menteri

24

Kehakiman

bagi

Perseroan

Terbatas;

Salinan

Kartu

Tanda

Penduduk(KTP)

Pemilik/Direktur Utama/Penanggung Jawab Perusahaan; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU); Salinan Izin Gangguan (HO); Amdal; dan Neraca Perusahaan. Untuk perusahaan berbentuk Koperasi, diperlukan persyaratan berupa Salinan Akte Pendirian Koperasi yang telah mendapatkan pengesahaan dari Instansi yang berwenang; Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Koperasi; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU); Salinan Izin Gangguan (HO); Amdal; dan Salinan Neraca Perusahaan. Untuk perusahaan yang tidak berbentuk Perseroan Terbatas dan Koperasi, persyaratan yang harus disiapkan adalah: Salinan Surat Akte Pendirian/Akte Notaris yang didaftarkan pada Pengadilan Negeri; Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Perusahaan; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU); Salinan Izin Gangguan (HO); Amdal; dan Salinan Neraca Perusahaan. Untuk perusahaan perseorangan, persyaratan yang diperlukan adalah: Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Perusahaan; Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU); dan Salinan Izin Gangguan. Prosedur pelayanan untuk pengurusan perizinan ini adalah pemohon mengisi formulir permohonan penerbitan TDI disertai berkas persyaratan, selanjutnya petugas memeriksa formulir permohoan dan berkas persyaratan. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, permohonan disahkan dan pemohon dikenakan biaya administrasi yang ditetapkan

25

sebesar Tanda Daftar Industri, Izin Usaha Industri, Izin Perluasan 1 Permil dari besarnya investasi pemungutan tidak termasuk Tanah Bangunan Tempat Usaha. Setelah TDI diterbitkan, pemohon dapat mengambil dengan menunjukkan bukti pembayaran. TDP berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang kembali. Penerbitan Tanda Daftar Gudang (TDG) dikenakan retribusi pelayanan izin usaha industri dan perdagangan yang merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas pemberian izin usaha penyelenggaraan perdagangan, yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah. Persyaratan untuk mengajukan perizinan ini juga berbeda-beda untuk tiap pemohon, seperti pada tabel berikut ini. Tabel 5.3 Persyaratan Pembuatan Tanda Daftar Gudang (TDG)
No. 1 Jenis Perusahaan Perusahaan yang berbentuk (Perseroan Terbatas) Persyaratan PT a. Salinan Akta Notaris Pendirian Perusahan b. Salinan Surat Pengesahan Badan Hukum dari Mentri Kehakiman bagi Perseroan Terbatas c. Salinan Kartu Tanda Penduduk(KTP) Pemilik/Direktur Utama/Penanggung jawab Perusahaan d. Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) e. Salinan Surat Ijin Tempat Usaha (SITU) f. Salinan Ijin Gangguan (HO) g. Perjanjian Pemakaian Gudang h. Neraca Perusahaan a. Salinan Akte Pendirian Koperasi yang telah mendapatkan pengesahaan dari Instansi yang berwenang b. Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung jawab Koperasi c. Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) d. Salinan Surat ijin Tempat Usaha (SITU) e. Salinan Ijin Gangguan (HO) f. Perjanjian Pemakaian Gudang g. Salinan Neraca Perusahaan

2

Perusahaan berbentuk Koperasi

26

No. 3

4

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal, 2005

Jenis Perusahaan Persyaratan Perusahaan yang tidak berbentuk a. Salinan Surat Akte Pendirian/Akte Notaris Perseroan Terbatas dan Koperasi yang didaftarkan pada Pengadilan Negeri b. Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Perusahaan c. Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) d. Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU e. Salinan Ijin Gangguan (HO) f. Perjanjian Pemakaian Gudang g. Salinan Neraca Perusaha Perusahaan Perseorangan a. Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Perusahaan b. Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) c. Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) d. Salinan Ijin Gangguan e. Perjanjian Pemakaian Gudang

Prosedur pelayanan untuk pengajuan Tanda Daftar Gudang adalah pemohon mengisi formulir permohonan penerbitan TDG disertai berkas persyaratan. Petugas memeriksa formulir permohoan dan berkas persyaratan. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, permohonan disahkan dan pemohon dikenakan biaya administrasi. Setelah TDG diterbitkan, pemohon dapat mengambil dengan menunjukkan bukti pembayaran. Biaya retribusi yang ditetapkan untuk jenis pelayanan ini ditentukan oleh luas gudang yang akan didaftarkan, dengan klasifikasi sebagai berikut: a) luas s/d 36 m2 Rp. 10.000 b) luas 37 m2 s/d 100 m 2 Rp. 15.000 c) luas 101 m2 s/d 250 m 2 Rp. 20.000 d) luas 251 m2 s/d 500 m2 Rp. 25.000 e) luas 501 m2 s/d – 100 Rp. 30.000 f) di atas 1001 Rp. 50.000 Penerbitan Tanda Daftar Industri (TDI) dikenakan retribusi pelayanan izin usaha industri dan perdagangan yang merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas 27

pemberian izin usaha penyelenggaraan perdagangan, yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah. Persyaratan untuk mengajukan penerbitan TDI adalah sebagai berikut: Tabel 5.4 Persyaratan Penerbitan Tanda Daftar Industri No. Jenis Perusahaan 1 Perusahaan yang berbentuk PT (Perseroan Terbatas) Persyaratan a. Salinan Akta Notaris Pendirian Perusahan b. Salinan Surat Pengesahan Badan Hukum dari Mentri Kehakiman bagi Perseroan Terbatas c. Salinan Kartu Tanda Penduduk(KTP) Pemilik/Direktur Utama/Penanggung jawab Perusahaan d. Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) e. Salinan Surat Ijin Tempat Usaha (SITU) f. Salinan Ijin Gangguan (HO) g. AMDAL h. Neraca Perusahaan Perusahaan berbentuk Koperasi a. Salinan Akte Pendirian Koperasi yang telah mendapatkan pengesahaan dari Instansi yang berwenang b. Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung jawab Koperasi c. Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) d. Salinan Surat ijin Tempat Usaha (SITU) e. Salinan Ijin Gangguan (HO) f. AMDAL g. Salinan Neraca Perusahaan Perusahaan yang tidak berbentuk a. Salinan Surat Akte Pendirian/Akte Notaris Perseroan Terbatas dan Koperasi yang didaftarkan pada Pengadilan Negeri b. Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Perusahaan c. Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) d. Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU e. Salinan Ijin Gangguan (HO) f. AMDAL g. Salinan Neraca Perusahaan

2

3

28

No. Jenis Perusahaan 4 Perusahaan Perorangan

a. b.

c. d. Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, 2007

Persyaratan Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan/Penanggung Jawab Perusahaan Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Salinan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) Salinan Ijin Gangguan dan Penanaman Modal Kabupaten Garut,

Prosedur pelayanan untuk mengajukan penerbitan TDI adalah dengan mengisi formulir permohonan penerbitan TDI disertai berkas persyaratan. Petugas memeriksa formulir permohoan dan berkas persyaratan. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, permohonan disahkan dan pemohon dikenakan biaya administrasi. Setelah TDI diterbitkan, pemohon dapat mengambil dengan menunjukkan bukti pembayaran. Biaya retribusi ditetapkan sebesar Tanda Daftar Industri, Izin Usaha Industri, Izin Perluasan 1 Permil dari besarnya investasi pemungutan tidak termasuk Tanah Bangunan Tempat Usaha. Jumlah masyarakat yang dilayani rata-rata per harinya adalah sekitar 8 orang. Perizinan baik yang berada di bawah kewenangan Bagian Perdagangan menargetkan jumlah masyarakat yang mengurus perizinan pada angka 1.200 pengaju permohonan. Dalam pelaksanaannya, sering kali jumlah masyarakat yang melakukan pengurusan ijin melampaui target sekitar 13%. Khusus pengurusan izin di bidang industri, terdapat periode waktu tertentu di mana semua perusahaan banyak yang memperpanjang izin, yaitu bulan Juni-Agustus. Pada bulan-bulan tersebut, biasanya pengaju permohonan izin jumlahnya bertambah drastis hingga 150 pengaju per bulannya. Sedangkan pada periode waktu lainnya, jumlah pengaju pengurusan izin rata-rata 100 hingga 140 yang mengurus perijinan.

29

5.2 Hasil Pengukuran Kepuasan Masyarakat untuk Jenis Pelayanan Administrasi Penanaman Modal di Kabupaten Garut Penelitian kinerja yang dilakukan di lingkungan Dinas Perindustrian,

Perdagangan, dan Penanaman Modal mencakup dan kepuasan masyarakat yang dilayani dalam pengurusan perizinan usaha dengan menggunakan kuesioner yang dirancang sesuai dengan KepmenPAN No. Kep/25/M.PAN/2/2004. Selain itu dilakukan wawancara dengan pihak-pihak terkait termasuk dengan masyarakat yang dilayani. Survei yang dilakukan di Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal mencakup: 1. Survei terhadap kepuasan masyarakat yang dilayani dengan menggunakan kuesioner yang telah dirancang sesuai dengan KepmenPAN, kemudian dilakukan wawancara dengan pihak-pihak terkait, termasuk dengan masyarakat yang dilayani. Enumerator kemudian memberikan penilaian terhadap kondisi yang ada dengan mencantumkan angka 0 sampai dengan 4 yang menggambarkan derajat keberadaan standar di organisasi tersebut. 2. Data-data yang diperlukan dikumpulkan untuk mengukur kinerja pelayanan perizinan penanaman modal di Kabupaten Garut. Salahsatu indikator penilaian kinerja suatu organisasi adalah kebijakan mutu, yaitu bentuk komitmen tertulis organisasi terhadap mutu yang ingin dicapai. Selain tertulis, kebijakan mutu juga harus terdokumentasikan agar komitmen ini dapat diketahui oleh seluruh unit organisasi. Bentuk konkretnya dapat berupa motto atau pernyataan mengenai target kualitas yang ingin dicapai. Di Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal, kebijakan mutu belum dipahami secara mendalam, hanya dengan penjelasan praktis pengertian kebijakan mutu dapat dimengerti. Komitmen kebijakan

30

mutu yang dijadikan acuan pelayanan di Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal tidak dijumpai, sehingga informasi kepada publik berupa slogan atau semboyan mengenai kebijakan mutu yang ditempel di lingkungan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal belum dijumpai. Sesuai dengan KepmenPAN No. Kep/25/M.PAN/2/2004, ke-14 pertanyaan penelitian IKM yang meliputi prosedur pelayanan, persyaratan pelayanan, kejelasan petugas pelayanan, kedisiplinan petugas pelayanan, tanggung jawab petugas pelayanan, kemampuan petugas pelayanan, kecepatan pelayanan, keadilan mendapatkan pelayanan, kesopanan dan keramahan, kewajaran biaya pelayanan, kepastian biaya pelayanan, kepastian jadwal pelayanan, kenyamanan lingkungan, dan keamanan pelayanan, secara ringkas dijelaskan sebagai berikut:

Prosedur pelayanan Prosedur pelayanan yang dimaksud dalam survei ini difokuskan pada pertanyaan mengenai prosedur yang berkaitan dengan perizinan usaha perdagangan, izin ruang penyimpanan, dan izin tanda daftar perusahaan. Kepada responden ditanyakan tentang bagaimana kemudahan prosedur yang harus dilalui oleh warga masyarakat dalam pengajuan kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal. Hasil survei terhadap unsur pelayanan ini menunjukkan bahwa pada umumnya responden menilai prosedur pelayanan mudah dipenuhi dan dinilai baik dengan nilai 3.273, meskipun keputusan ditetapkan berdasarkan prioritas tertentu disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

31

Persyaratan pelayanan Persyaratan pelayanan yang dimaksud dalam survei ini adalah persyaratan yang harus dipenuhi oleh masyarakat dalam mengajukan izin usaha perdagangan, izin ruang penyimpanan, dan izin tanda daftar perusahaan. Persyaratan pelayanan yang dimaksud dapat berupa persyaratan administrasi maupun persyaratan lainnya. Kepada responden ditanyakan tentang tingkat kemudahan warga masyarakat untuk memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal. Hasil survei terhadap unsur pelayanan ini menunjukkan bahwa pada umumnya responden menilai persyaratan pelayanan sesuai dengan pelayanan perizinan yang diberikan dengan nilai 3.182. Kejelasan petugas pelayanan Kejelasan petugas pelayanan yang dimaksud adalah petugas dalam pengurusan pelayanan perizinan. Pertanyaan yang diajukan kepada responden adalah apakah terdapat petugas khusus yang melayani kebutuhan masyarakat, misalnya dengan atribut tertentu atau lokasi pendaftaran, penyampaian keluhan dan lain lain. Skor yang diperoleh untuk unsur pelayanan kejelasan petugas pelayanan adalah 2.909 yang berati petugas yang memberikan pelayanan jelas atau mudah dikenali oleh pengguna. Kedisiplinan petugas pelayanan Kedisiplinan petugas pelayanan adalah kedisiplinan petugas dalam melaksanakan tugasnya misalnya kedisiplinan petugas administrasi dalam melayani pengajuan, kedisiplinan petugas dalam mengerjakan proses pengajuan permohonan, kedisiplinan petugas melayani, sehingga masyarakat tidak menunggu terlalu lama. Pertanyaan yang

32

diajukan kepada responden adalah seberapa jauh petugas layanan memiliki kedisiplinan dalam mengerjakan tugas pokok dan fungsinya. Skor yang diperoleh untuk unsur pelayanan kedisiplinan petugas pelayanan adalah 2.636 yang berarti petugas memiliki kedisiplinan dalam menjalankan tugasnya. Tanggung jawab petugas pelayanan Tanggung jawab petugas pelayanan yang dimaksud dalam survei ini adalah rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh petugas dalam melaksanakan tugasnya di lapangan. Skor untuk unsur pelayanan tanggung jawab petugas pelayanan adalah 2.909 (baik) yang berati petugas tersebut memiliki rasa tanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. Kemampuan petugas pelayanan Kemampuan petugas pelayanan yang dimaksud dalam survei ini adalah kemampuan petugas dalam menjalankan tugasnya. Skor untuk unsur pelayanan kemampuan petugas adalah 2.818 (baik) yang berarti pengguna pelayanan menilai bahwa petugas pelayanan memiliki kemampuan dalam menjalankan tugasnya, misalnya dalam menjawab pertanyaan responden mengenai persyaratan dan prosedur pelayanan pengurusan suatu perizinan. Kecepatan pelayanan Kecepatan pelayanan yang dimaksud dalam survei ini lebih difokuskan kepada kecepatan pelayanan pada saat melaksanakan tugas. Skor untuk unsur kecepatan pelayanan adalah 3.000 (baik). Penilaian ini didasari oleh argumen bahwa setelah persyaratan lengkap dipenuhi oleh pengguna jasa, waktu yang diperlukan untuk

33

memperoleh perizinan yang dimaksud sesuai dengan standar waktu yang dipublikasikan, yakni 1-10 hari. Keadilan mendapatkan pelayanan Keadilan mendapatkan pelayanan yang dimasud dalam survei ini adalah perlakuan yang sama ketika mengajukan permohonan perizinan. Skor hasil penelitian yang diperoleh adalah 2.909 (baik). Kesopanan dan keramahan Kesopanan dan keramahan yang dimaksud dalam survei ini adalah kesopanan dan keramahan petugas dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya di lapangan. Skor yang diperoleh dari hasil penelitian adalah 3.000 (baik). Ini berarti kesopanan dan keramahan petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dinilai baik sopan dan ramah. Kewajaran biaya pelayanan Kewajaran biaya pelayanan yang dimaksud adalah kewajaran biaya yang harus dikeluarkan dalam proses pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh dari pertanyaan mengenai kewajaran biaya pelayanan adalah 2.727 (baik) yang berarti masyarakat menilai retribusi perizinan masih wajar. Kepastian biaya pelayanan Kepastian biaya pelayanan yang dimaksud adalah kepastian biaya yang harus dibayar oleh masyarakat untuk satu periode tertentu misalnya biaya per jenis perizinan sesuai dengan kategorinya. Skor yang diperoleh dari hasil penelitian sebesar 2.455 (baik).

34

Kepastian jadwal pelayanan Kepastian jadwal pelayanan yang dimaksud adalah kepastian jadwal pelayanan yang berkaitan dengan kapan permohonan perizinan dipenuhi. Hasil penelitian yang berkaitan dengan pertanyaan kepastian jadwal pelayanan memiliki skor terkecil dari 14 pertanyaan yang diajukan yaitu 2.455 (baik). Menurut pejabat Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal hal ini dapat dimengerti mengingat keluarnya suatu izin tidak hanya ditentukan oleh dinas ini, tetapi juga perlu berkoordinasi dengan dinasdinas lain yang terkait, sehingga sekalipun telah ada standar waktu yang diperlukan untuk suatu jenis pelayanan, tetapi bila menyangkut koordinasi dengan dinas lain sulit untuk dipastikan. Kenyamanan lingkungan Kenyamanan lingkungan yang dimaksudkan dalam survei ini adalah kenyamanan lingkungan yang berkaitan dengan kenyamanan menggunakan fasilitas pelayanan perizinan. Kenyamanan bisa menyangkut kualitas dan kuantitas sarana di Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal. Skor hasil kajian menunjukkan angka 2.818 (baik). Keamanan pelayanan Keamanan pelayanan yang dimaksud dalam survei ini adalah keamanan di lingkungan unit pelayanan perizinan, sehingga masyarakat merasa nyaman dan aman dalam mengurus perizinan. Hasil penelitian berkenaan dengan pertanyaan keamanan pelayanan diperoleh skor 2.818 (baik).

35

Hasil pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat di bidang pelayanan penanaman modal dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 5.5 Hasil Pengukuran Indeks Pelayanan Perizinan Penanaman Modal di Kabupaten Garut No. U1 U2 U3 U4 U5 U6 U7 U8 U9 UNSUR PELAYANAN Prosedur pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas pelayanan Kedisiplinan petugas pelayanan Tanggung jawab petugas pelayanan Kemampuan petugas pelayanan Kecepatan pelayanan Keadilan mendapatkan pelayanan Kesopanan dan keramahan petugas NILAI RATA-RATA 3.273 3.182 2.909 2.636 2.909 2.818 3.000 2.909 3.000 2.727 2.455 2.636 2.818 2.818

U10 Kewajaran biaya pelayanan U11 Kepastian biaya pelayanan U12 Kepastian jadwal pelayanan U13 Kenyamanan lingkungan U14 Keamanan pelayanan Sumber: Hasil Penelitian, 2007

Dengan menggunakan metode perhitungan dalam KepmenPAN tentang IKM, maka hasil nilai per unsur tersebut selanjutnya diolah untuk memperoleh nilai IKM secara keseluruhan.

36

Tabel 5.6 Hasil Pengolahan Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat
U1 ΣNilai /Unsur NRR / Unsur NRR tertbg/ unsur 0.232 0.226 0.207 0.187 0.207 0.200 0.213 0.207 0.213 0.194 0.174 0.187 0.200 0.200 2.846 **) IKM Unit pelayanan 3.273 3.182 2.909 2.636 2.909 2.818 3.000 2.909 3.000 2.727 2.455 2.636 2.818 2.818 *) 360 350 320 290 320 310 330 320 330 300 270 290 310 310 U2 U3 U4 U5 U6 U7 U8 U9 U10 U11 U12 U13 U14

Sumber: Hasil Penelitian, diolah, 2007 Secara keseluruhan, nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) untuk pelayanan

71.161

perizinan yang terkait dengan pelayanan penanaman modal di Kabupaten Garut adalah 71,16. Kategori Baik berada pada rentang nilai 62,51 – 81,25, sehingga nilai IKM untuk pelayanan penanaman modal yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal tergolong baik. Nilai kepuasan tertinggi adalah untuk unsur prosedur pelayanan (3.273) dan nilai kepuasan terendah adalah untuk unsur kepastian biaya pelayanan (2.455). Prosedur pelayanan memperoleh penilaian kepuasan tertinggi karena masyarakat pengguna jasa merasa bahwa prosedur pelayanan perizinan sangat jelas karena prosedur tersebut dipasang di kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal, serta dimuat pula di internet sehingga mudah dibaca oleh masyarakat yang akan mengurus perizinan. Sebaliknya, nilai kepuasan terendah, yakni kepastian biaya pelayanan karena masyarakat menilai masih ada peluang terjadinya manipulasi biaya pelayanan, sekalipun

37

besaran tarif setiap jenis pelayanan telah diumumkan, namun adanya praktik percaloan menyebabkan tarif ini bisa berubah. Hasil ini diperkuat oleh hasil wawancara dengan masyarakat pengguna jasa yang menyatakan bahwa kapasitas aparat Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal dalam melaksanakan fungsi pelayanan penanaman modal terhadap masyarakat dirasakan sudah cukup memadai. Meskipun demikian, pernah terdapat beberapa oknum aparat yang melakukan pelanggaran disiplin dalam melaksanakan pelayanan terhadap para pelaku usaha. Akan tetapi oknum tersebut telah dimutasi karena mengganggu optimalisasi fungsi dinas dalam melayani perizinan. Tingkat keluhan masyarakat terhadap proses pelayanan perizinan dirasakan pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal cukup rendah. Beberapa keluhan yang biasanya terjadi adalah permasalahan dengan pihak perantara. Masih ada sebagian masyarakat yang lebih mempercayakan masalah pengurusan pelayanan kepada perantara, padahal pihak perantara terkadang malah mengabaikan kepentingan pengurusan izin si pemohon. Akibatnya, pengurusan izin tidak pernah selesai hingga berminggu-minggu. Biasanya si pemohon meminta pertanggungjawaban langsung dengan mendatangi kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal. Untuk mengatasi masalah seperti ini, pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal segera membantu si pemohon dengan mengurus perizinannya dengan sesegera mungkin. Para perantara biasanya terdiri dari oknum aparat terkait maupun oknum masyarakat. Pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal menyatakan bahwa oknum aparat yang melakukan tindakan indisipliner seperti demikian telah ditindak.

38

5.3 Upaya untuk Memperbaiki Kinerja Pelayanan Administrasi Penanaman Modal di Kabupaten Garut Kendala yang paling dirasakan dalam melaksanakan pelayanan adalah prosesnya yang masih parsial, sehingga menghambat kemudahan bagi masyarakat pelaku usaha dalam mengurus perizinan. Pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal berpandangan bahwa proses pelayanan perizinan “satu atap” seyogyanya mulai diberlakukan dengan segera. Selama ini, masyarakat harus mengurus perizinan dari dua tempat yang berbeda yang cukup memakan waktu tempuh yang lama. Dengan pelayanan satu atap, diharapkan masyarakat para pelaku usaha lebih mudah untuk mengurus perijinannya. Kendala eksternal yang mempengaruhi terhadap proses pelayanan adalah prioritas fungsi pembinaan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal. Fungsi utama dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal adalah melakukan pembinaan terhadap para pelaku usaha, terutama pelaku usaha yang bermodal kecil atau Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Dalam program pembinaan, masyarakat pelaku usaha atau calon pelaku usaha diberikan bekal berupa pelatihan keterampilan dan juga sekaligus diberikan sosialisasi mengenai segala peraturan bagi pelaku usaha, yang di antaranya mengenai perizinan. Sewaktu melakukan pembinaan, masih banyak para pengusaha yang belum memiliki izin usaha. Hal itu dikarenakan mereka masih dalam tahap merintis usahanya, sehingga belum mampu untuk mengurus perizinan. Di satu sisi, perizinan merupakan syarat mutlak bagi para pelaku usaha agar mereka dapat mengembangkan usahanya lebih maju, misalnya pihak bank mensyaratkan perizinan bagi pelaku usaha yang hendak mengajukan kredit. Berbagai program pemberian kredit bagi para pelaku

39

usaha pun mensyaratkan adanya izin bagi pelaku usaha yang mengajukan kredit. Namun di sisi lain perizinan tersebut tidak bisa dipaksakan karena mereka belum mampu membiayainya. Upaya untuk mengatasi proses pelayanan yang terbagi di dua tempat yang cukup jauh adalah dengan mengerahkan aparat Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal untuk terjun langsung ke masyarakat pelaku usaha. Sedangkan bagi para pelaku usaha mikro dan kecil yang belum memiliki izin, pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal memberikan toleransi bagi para pelaku usaha kecil atau mikro yang belum memiliki izin untuk sedikit lebih mengembangkan usahanya dalam kurun waktu tertentu sehingga mereka sanggup membiayai perizinan. Selama proses pembinaan, para pelaku usaha kecil dan mikro yang belum memiliki izin diberikan pengarahan dan informasi tentang prosedur perizinan, termasuk manfaat perizinan bagi kelangsungan usaha mereka. Selama ini upaya sosialisasi masih berjalan seiring dengan proses pembinaan terhadap para pelaku usaha/industri kecil dan mikro. Upaya yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan perijinan yaitu dengan cara “jemput bola”, artinya aparat Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal terjun langsung ke masyarakat untuk mengecek kelengkapan izin sekaligus mengingatkan bagi yang belum memiliki izin atau perpanjangan izin usaha. Sedangkan upaya lain yang sekiranya akan dilakukan adalah dengan menciptakan pelayanan perizinan satu pintu. Upaya ini terutama ditujukan bagi pelaku usaha yang hendak mengurus perizinan di bidang industri, karena mengurus izin industri harus sekaligus dilengkapi dengan izin perdagangan. Selain memproduksi atau mengolah,

40

industri juga harus menjual produknya, oleh karena itu izin perdagangan harus dimiliki oleh industri. Para pelaku usaha industri harus mengurus kedua jenis izin tersebut di dua kantor yang lokasinya berjauhan, yaitu kantor bidang perdagangan dan kantor bidang industri.

41

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis pada bab-bab sebelumnya, maka sejumlah poin penting yang menjadi kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1. Kondisi pelayanan administrasi penanaman modal di Kabupaten Garut belum dilaksanakan secara optimal karena urusan penanaman modal belum sepenuhnya terealisasi akibat tarik-menarik kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, namun Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal telah berupaya melakukan perbaikan dalam pelayanan perizinan untuk meningkatkan minat investasi di Kabupaten Garut. Pelayanan perizinan yang diberikan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal Kabupaten Garut terdiri dari pelayanan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP); Tanda Daftar Perusahaan (TDP); Tanda Daftar Industri/Izin Usaha Industri (TDI/IUI); dan Tanda Daftar Gudang (TDG). 2. Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) untuk pelayanan yang diberikan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal adalah 71,16 yang termasuk dalam kategori “Baik”, di mana nilai kepuasan tertinggi adalah untuk unsur prosedur pelayanan (3.273) dan nilai kepuasan terendah adalah untuk unsur kepastian biaya pelayanan (2.455).

42

3. Upaya untuk memperbaiki kinerja pelayanan terutama difokuskan untuk mengatasi kendala internal, yakni proses pelayanan yang masih parsial, sehingga menghambat kemudahan bagi masyarakat pelaku usaha dalam mengurus perizinan, serta kendala eksternal, yakni belum banyaknya masyarakat yang mengurus perizinan akibat lingkup usahanya yang masih terbatas sehingga merasa belum perlu mengurus perizinan.

6.2 Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka sejumlah rekomendasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan penanaman modal adalah: 1. Perlu disusun kebijakan strategis mengenai manajemen pelayanan penanaman modal untuk mengantisipasi pembagian urusan sesuai dengan PP no. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota, yang di dalam kebijakan strategis tersebut mencakup standarisasi pelayanan penanaman modal serta mekanisme insentif bagi para calon ivestor, misalnya kemudahan perizinan, keringan pajak, kepastian hukum, dan dukungan politik dari DPRD maupun masyarakat. 2. Menerapkan sistem pelayanan terpadu satu pintu untuk memudahkan pelayanan perizinan, sehingga pelayanan menjadi lebih cepat dan efisien. 3. Meningkatkan kinerja pelayanan Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Penanaman Modal dengan merumuskan kebijakan mutu yang dijadikan motto 43

kinerja yang harus dicapai, sekaligus sebagai acuan dalam melaksanakan kinerja pelayanan. 4. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan terutama untuk unsur-unsur kepuasan yang masih berada di posisi bawah dari ke-14 unsur penilaian, maka perlu dilakukan upaya-upaya konkret dan tegas untuk: a. Menerapkan sanksi yang tegas bagi aparat yang terlibat percaloan dalam pengurusan perizinan, misalnya berupa sanksi administratif mutasi. Sanksi ini juga dapat diterapkan untuk aparat yang melalaikan tugasnya dalam memberikan pelayanan. b. Menerapkan sistem penilaian mutu kinerja secara obyektif melalui penyusunan dan penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Operasional Prosedur (SOP), sehingga kapasitas kerja dari tiap aparat dapat dipantau dan kemungkinan penyimpangan dapat dihindarkan sedini mungkin. c. Mensosialisasikan dan melembagakan budaya kerja profesional melalui penerapan sistem insentif berbasis kinerja, sehingga aparat pelayanan didorong untuk bersikap profesional dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dengan jaminan mendapatkan imbalan yang memadai, misalnya dengan memberikan reward bagi aparat yang berprestasi dalam kinerja pelayanan, melakukan pemilihan employee of the month untuk menumbuhkan semangat kompetisi di antara aparat pelayanan, dll.

44

d. Meningkatkan kapasitas pelayanan aparat melalui keikutsertaan dalam berbagai program pendidikan dan pelatihan serta kursus-kursus

manajemen pelayanan publik, sehingga akan terbentuk mindset aparat pelayanan yang mendahulukan kepuasan pelanggan (customer oriented). 5. Mendorong berbagai inovasi dalam pelayanan penanaman modal, misalnya dengan menggunakan teknologi informasi, sehingga proses pengurusan pelayanan dapat dilakukan secara terintegrasi, terkomputerisasi, dan on-line. Untuk itu, infrastruktur sistem informasi perlu disiapkan untuk mendukung upaya ini.

45

DAFTAR PUSTAKA

Fitzsimmons, James A. dan Mona J. Fitzsimmons. (1994). Service Management for Competitive Advantage. New York : McGraw-Hill Inc. Lembaga Administrasi Negara. (2000). Sistem Manajemen Pemerintah Daerah. Bandung : Pusat Kajian dan Diklat Aparatur LAN. Moenir, H.A.S. (2002). Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Bandung: Bumi Aksara. Mohamad, Ismail. (1999). “Kualitas Pelayanan Masyarakat: Konsep dan Implementasinya”. Dalam Miftah Thoha (ed). Administrasi Negara, Demokrasi, dan Masyarakat Madani. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Pratikno. (2002). Politik Keuangan Daerah. Yogyakarta:Program Pascasarjana Politik Lokal dan Otonomi Daerah UGM. Purnaweni, Hartuti. (2003). “Capacity Building dalam Pelayanan Prima”. Dalam Warsito dan Teguh Yuwono (eds). Otonomi Daerah: Capacity Building dan Penguatan Demokrasi Lokal. Semarang: Puskodak UNDIP. Ramalia, Mid. (2001). “Etika Pelayanan Masyarakat (Pelanggan): Upaya Membangun Citra Birokrasi Modern”. Dalam Sugiyanto (ed). Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Saefullah, A. Djadja. (1999). “Konsep dan Metode Pelayanan Umum yang Baik”. Dalam Publik Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Vol.1 No. 1, Oktober. Sobari, Wawan, dkk. (2004). Inovasi sebagai Referensi: Tiga Tahun Otonomi Daerah dan Otonomi Award. Surabaya: Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi. Suryanto, Adi. (2001). “Ekonomi Politik Pelayanan Publik Era Otonomi Daerah (Analisis Perspektif Public Choice)”. Dalam Sugiyanto (ed). Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Widjaja, A.W. (1990). Etika Administrasi Negara. Jakarta : Rajawali Press. Zeithaml, Valerie A., A. Parasuraman, Leonard L. Berry. (1990). Delivering Quality Service : Balancing Customer Perceptions and Expectations. New York : The Free Press.

46

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful