Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah .

   Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan
makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ini.
                Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat manfaatnya untuk
masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Makassar, 29 Februari 2020

1
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR......................................................................................1
DAFTAR ISI...................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN................................................................................3
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................3
1.2 Identifikasi Masalah........................................................................3
1.3 Tujuan Penulisan............................................................................5
BAB II HUBUNGAN BIAYA VOLUME LABA...............................................4
2.1 Dasar – Dasar Biaya Volume Laba.................................................4
2.2 Penerapan Titik Impas dan Analisis Target Laba............................11
2.3 Pertimbangan BVL dalam Memilih Struktur Biaya..........................15
2.4 Bauran Penjualan...........................................................................17
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN............................................................19
3.1 Kesimpulan.....................................................................................19
3.2 Saran..............................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................20

2
BAB 1 PENDAHULUAN

Analisis biaya volume laba (cost volume profit analysis – CVP analysis) merupakan
suatu alat yang sangat berguna untuk perencanaan dan pengambilan keputusan. Karena
analisis biaya volume laba (CVP) menekankan keterkaitan antara biaya, kuantitas yang
terjual, dan harga, semua informasi keuangan perusahaan terkandung di dalamnya. Analisis
cvp dapat menjadi suatu alat yang bermanfaat untuk mengidentifikasi cakupan dan
besarnya kesulitan ekonomi yang dihadapi suatu divisi dan membantu mencari
pemecahannya.

Analisis CVP juga dapat mengatasi banyak isu lainnya seperti jumlah unit yang harus
dijual untuk mencapai impas, dampak pengurangan biaya tetap terhadap titik impas, dan
dampak kenaikan harga terhadap laba. Selain itu analisis CVP memungkinkan para manajer
untuk melakukan analisis sensitivitas dengan menguji dampak dari berbagai tingkat harga
atau biaya terhadap laba.

Meskipun bab ini berkaitan dengan mekanika dan terminology analisis CVP, kita
harus ingat bahwa analisis CVP merupakan suatu bagian integral dari perencanaan
keuangan dan pengambilan keputusan. Setiap akuntan dan manajer harus mengenal
seluruh konsep-konsepnya, bukan hanya mekanikanya.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa Dasar-Dasar Biaya Volume Laba?

2. Apakah Penerapan Titik Impas dan Analisis Target Laba?

3. Apa Pertimbangan BVL dalam Memilih Struktur Biaya?

4. Apa Pengertian Bauran Penjualan ?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Mahasiswa Mengetahui Dasar-Dasar Biaya Volume Laba

2. Mahasiswa Penerapan Titik Impas dan Analisis Target Laba

3. Mahasiswa Mengetahui Pertimbangan BVL dalam Memilih Struktur Biaya

4. Mahasiswa Mengetahui Pengertian Bauran Penjualan

3
BAB II

HUBUNGAN BIAYA VOLUME LABA

2.1 Dasar - Dasar Biaya Volume Laba

Analisa Biaya-Volume-Laba adalah alat yang sangat berguna bagi manajer untuk
menjalankan fungsinya. Alat ini membantu mereka untuk memahami hubung-an antara
biaya, volume dan laba organisasi dengan memfokuskan hubungan lima elemen berikut: (1)
Harga produk; (2) Volume atau tingkat aktivitas; (3) Biaya variabel per unit; (4) Total biaya
tetap; (5) Bauran produk yang dijual.

Karena analis Biaya-Volume-Laba membantu manajer untuk memahami hubungan


antara biaya, volume dan laba, alat analisis ini sangat berguna dalam proses pembuatan
keputusan. Keputusan ini termasuk produk apa yang akan dibuat atau dijual, bagaimanakah
kebijakan penentuan harganya, apakah strategi pemasaran yang digunakan, tipe fasilitas
produksi apa yang diperlukan.

Ada beberapa asumsi yang mendasari analisis biaya-volume-laba, yaitu :

 Harga jual konstan dalam cakupan yang relevan.

 Biaya bersifat liniar dalam rentang cakupan yang cukup relevan dan dapat dibagi secara
akurat kedalam elemen biaya tetap dan biaya variabel.

 Dalam perusahaan dengan multi produksi, bauran penjualannya tetap.

 Dalam perusahaan manufaktur, persediaan tidak mengalami perubahan. Unit yang


diproduksi sama dengan unit yang terjual.

Laporan laba rugi dengan pendekatan kontribusi menekankan pada perilaku biaya dan
hasilnya akan sangat membantu manajemen untuk menentukan pengaruhnya terhadap laba
karena perubahan harga jual, biaya dan volume.

Acoustic Concepts, Inc.,


Laporan Laba Rugi Kontribusi
Untuk periode Juni
Total Per unit
Penjualan (400 speaker) 100.000 $ 250
Dikurangi biaya variabel 60.000 150
Margin kontribusi 40.000 100
Dikurangi biaya tetap 35.000

4
Laba bersih 5.000
Perhatikan bahwa penjualan, biaya variabel, dan margin kontribusi disajikan dalam
perhitungan per unit dan juga total. Praktik seperti ini umum dilakukan untuk laporan laba
rugi kontribusi yang akan digunakan oleh manajemen untuk melakukan analisis profitabilitas.

Contribution Margin

Adalah selisih antara nilai penjualan dengan biaya variabelnya. Jumlah tersebut akan
digunakan untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba periode tersebut. Semakin
besar marjin kontribusi yang diperoleh perusahaan dari setiap unit yang dijualnya, semakin
cepat perusahaan menutup biaya tetapnya dan mencapai laba yang diinginkan. Jika
perusahaan telah menjual sampai jumlah tertentu dimana seluruh biaya tetapnya dapat
ditutup, maka pada volume penjualan selanjutnya perusahaan tinggal memperoleh laba
usaha.

®       Ilustrasi 3.1 berikut ini mungkin dapat memperjelas keterangan sebelumnya:

PT. Mebelindo Pratama memproduksi meja komputer sebanyak 10.000 unit per tahun.
Setiap unit meja dijual dengan harga Rp750.000. Untuk memperoduksi seluruh meja
tersebut dibutuhkan biaya tetap sebesar Rp900.000.000, sedangkan biaya variabel setiap
unit produksi adalah Rp300.000.

Dengan harga jual sebesar Rp750.000 per unit dan biaya tetap tersebu sebesar
Rp900.000,  perusahaan akan mengeluarkan biaya variabel sebesar Rp300.000 jika hanya
dijual meja komputer sebanyak 1 unit. Hal ini akan mengakibatkan perusahaan memperoleh
marjin kontribusi sebesar Rp450.000. tetapi karena menanggung biaya tetap sebesar
Rp900.000.000, perusahaan akan mengalami kerugian sebesar Rp899.550.000.

Jika penjualan dinaikkan menjadi 10 unit, perusahaan akan memperoleh pendapatan


penjualan produk sebesar Rp7.500.000, dan biaya variabel sebesar Rp3.000.000 harus
dikeluarkan, yang akan mengakibatkan perusahaan memperoleh marjin kontribusi sebesar
Rp4.500.000. tetapi karena perusahaan harus menanggung biaya tetap sebesar
Rp900.000.000, maka perusahaan harus mengalami kerugian sebesar Rp895.500.000.

5
Jika penjualan dinaikkan lagi menjadi 100 unit, perusahaan akan memperoleh
pendapatan penjualan produk sebesar Rp75.000.000 dan biaya variabel sebesar
Rp30.000.000 harus dikeluarkan, yang akan mengakibatkan perusahaan memperoleh
marjin kontribusi sebesar Rp45.000.000. tetapi karena perusahaan harus menanggung
biaya tetap sebesar Rp900.000.000, maka perusahaan harus mengalami kerugian sebesar
Rp855.000.000

Jika penjualan dinaikkan lagi menjadi 1000 unit, perusahaan akan memperoleh
pendapatan penjualan produk sebesar Rp750.000.000 dan biaya variabel sebesar
Rp300.000.000 harus dikeluarkan, yang mengakibatkan perusahaan memperoleh marjin
kontribusi sebesar Rp450.000.000. tetapti karena perusahaan harus menanggung biaya
etap sebesar Rp900.000.000, maka perusahaan harus mengalami kerugian sebesar
Rp450.000.000.

Bahkan saat penjualan dinaikkan menjadi 1.500 unit, perusahaan masih harus
mengalami kerugian sebesar Rp225.000.000 walaupun marjin kontribusi yang diperoleh
adalah Rp675.000.000.

Tetapi pada saat penjualan mencapai volume 2.000 unit, perusahaan memperoleh
pendapatan penjualan sebesar Rp1.500.000.000 dan biaya variabel yang dikeluarkan
sebesar Rp600.000.000, sehingga memperoleh marjin kontribusi sebesar Rp900.000.000.
karena harus menanggung biaya tetap sebesar Rp900.000.000, maka pada volume ini
perusahaan tidak mengalami rugi tetapi juga tidak memperoleh laba sama sekali. Artinya
volume ini merupakan batas penjualan minimal agar perusahaan tidak mengalami kerugian.

Pada saat penjualan diatas 2.000 unit, setiap sumbangan marjin kontribusi per unit
berarti merupakan sumbangan terhadap laba perusahaan. Atau setiap tambahan marjin
kontribusi diatas Rp900.000.000 berarti tambahan terhadap laba usaha sebesar jumlah
yang sama.

6
Misalkan pada saar penjualan sebanyak 2.001 unit, perusahaan akan memperoleh
marjin kontribusi sebesar Rp900.50.000 sehingga akan memperoleh laba usaha sebesar
Rp450.000. ketika penjualan mencapai 2.100 unit, perusahaan memperoleh marjin
kontribusi sebesar Rp945.000.000 dan itu berarti laba usaha sebesar Rp45.000.000. pada
saat penjualan mencapai 5.000 unit, perusahaan akan memperoleh marjin kontribusi
sebesar Rp2.250.000.000 dan itu berarti terjadi laba usaha sebesar Rp1.350.000.000.
ketika 10.000 unit produk terjual, perusahaan akan memperoleh marjin kontribusi sebesar
Rp4.500.000.000 dan diperoleh laba usaha sebesar Rp3.600.000.000.

Dari ilustrasi tersebut jelas bahwa setiap perubahan volume penjualan akan diikuti
dengan perubahan besarnya biaya variabel toal, yang selanjutnya akan menghasilakn
perubahan perolehan marjin kontribusi. Perubahan marjin kontribusi akan berdampak
langsung pada perubahan perolehan laba usaha perusahaan.

CVP Relationship in Equation Form

Laba= (penjualan-beban variabel)-biaya tetap

CVP Relationship in Graphic Form

Grafik laba volume (profit-volume graph) menggambarkan hubungan antara laba dan
volume penjualan secara visual. Grafik laba volume merupakan grafik dari persamaan laba
operasi :

Laba operasi = (Harga x Unit) - (Biaya Variabel per Unit x Unit) – (Biaya Tetap).

Dalam grafik ini laba operasi merupakan variabel terikat yang diukur pada sumbu horizontal
dan unit merupakan variabel bebas yang diukur pada sumbu vertikal.

Contribution Margin Ration

7
Margin kontribusi sebagai persentasi penjumlahan adalah mengacu pada rasio margin
kontribusi dan dapat dihitung dengan menggunakan rasio berikut: 

Rasio margin kontribusi berguna khususnya dalam situasi dimana pengorbanan (trade off)
harus dilakukan dalam penjulan yang lebih banyak untuk satu produk atau dengan produk
yang lain.

Some Applications of CVP Concepts

Adanya penerapan pada analisis hubungan Biaya-Volume-Laba diharapkan akan


memberikan dampak pengaruh dari margin kontribusi terhadap perubahan dalam biaya
variabel, biaya tetap, harga jual, dan volume penjualan. Beberapa pengaruh penerapan
dalam analisis hubungan B-V-L:

1. Perubahan dalam Biaya Tetap dan Volume Penjualan

Manajemen perusahaan mempertimbangkan untuk meningkatkan anggaran iklan per bulan


sebesar $10,000 akan meningkatkan penjualan sebesar $30,000 dan 520 unit. Perubahan
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Asumsikan tidak ada faktor lain yang diperhitungkan maka peningkatan anggaran iklan akan
meningkatkan laba bersih sebesar $ 2,000. terdapat 2 cara cepat perhitungan diatas yaitu :

Perhitungan ini lebih singkat tidak perlu menyiapkan laporan laba rugi dan melibatkan
analisis perningkatan yang memperhitungkan faktor pendapatan, biaya dan volume yang
akan berubah jika terdapat perubahan diantara faktor-faktor diatas.

8
2. Perubahan dalam Biaya Variabel dan Volume Penjualan

Manajemen perusahaan mempertimbangkan penggunaan komponen berkualitas lebih tinggi


yang akan mengakibatkan naiknya biaya variabel sebesar $10 namun dengan perbaikan
komponen akan meningkatkan penjualan menjadi 480 unit per bulan. Perubahan tersebut
dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Dari hasil perhitungan disimpulkan


peningkatan biaya variabel dapat dilakukan karena dapat meningkatkan penjualan sehingga
meningkatkan total margin kontribusi dan laba bersih sebesar $ 3,200.

3. Perubahan dalam Biaya Tetap, Harga Jual dan Volume Penjualan

Manajemen perusahaan mempertimbangkan menurunkan harga jual sebesar $20 per unit dan
meningkatkan biaya iklan sebesar $15,000 per bulan namun dapat meningkatkan penjualan sebesar
50% atau menjadi 600 unit. Perubahan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

9
Perubahan seharusnya tidak dilakukan karena mengakibatkan penurunan laba bersih.

4. Perubahan dalam Biaya Variabel, Biaya Tetap dan Volume Penjualan

Manajemen perusahaan mempertimbangkan mengganti sistem kompensasi dari gaji tetap dengan
total $6,000 per bulan menjadi komisi sebesar $15 per unit sehingga dapat meningkatkan penjualan
sebesar 15% atau menjadi 460 unit. Perubahan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

10
Perubahan seharusnya dilakukan. Biaya tetap akan menurun sebesar $ 6,000 dari $35,000
menjadi $29,000 dan margin kontribusi per unit menurun menjadi $85. implikasi dari semua
itu akan meningkatkan laba bersih yang berasal dari penghematan biaya tetap tadi.

2.2 Penerapan Titik Impas dan Analisis Target Laba

Break Event Analysis

Titik impas (break-even point) adalah volume penjualan di mana jumlah pendapatan dan
jumlah biayanya sama; tidak terdapat laba maupun rugi bersih. Laba bersih akan diperoleh
bilamana volume penjualan berada di atas titik impas, sedangkan rugi bersih akan diderita
bila volume penjualan berada di bawah titik impas.

 Komputasi Titik Impas: Metode Persamaan (Equation Method)

Penjualan - Jumlah biaya = Laba bersih

atau,

Penjualan - Biaya variabel - Biaya tetap = Laba bersih

atau,

Penjualan = Biaya Variabel + Biaya tetap + Laba bersih

Contoh:

P.T. Istana Dewata, Harga jual per unit……………………Rp 250.000

Biaya variabel per unit…….............…Rp 150.000

Biaya tetap.............................................Rp 70.000.000

Titik impasnya dihitung sebagai berikut:

Penjualan = Biaya variabel + Biaya tetap + Laba bersih

11
250.000P = 150.000P + 70.000.000 + 0

100.000P = 70.000.000

P = 700 unit VCD player

P = Rp 175.000.000 (700 x Rp 250.000)

Di mana,

P = Titik impas penjualan VCD player

 Komputasi Titik Impas: Metode Kontribusi Unit (Unit Contibution Method)

Titik impas dalam unit = Biaya Tetap / Margin Kontribusi per Unit

atau,

Titik impas dalam unit = Biaya Tetap / Rasio Margin Kontribusi

Contoh: (P.T. Istana Dewata), Harga jual per unit…………………… Rp 250.000

Kurang: biaya variabel per unit……… Rp 150.000

Marjin kontribusi per unit………….... Rp 100.000

Rasio marjin kontribusi........................ 40%

Biaya tetap...........................................Rp 70.000.000

Maka:

Titik impas= Biaya tetap/Marjin kontribusi per unit) = (Rp 70.000.000/Rp 100.000) = 700 unit

atau,

Titik impas = (Biaya tetap/Rasio marjin kontribusi) = (Rp 70.000.000/40%) = Rp 175.000.000

Target Profit Analysis

Analisis target laba dalam aplikasi hubungan biaya volume dan laba pada dasarnya
sama dengan analisis titik impas. Perbedaannya hanya terletak pada jumlah laba yang
diperhitungkan dalam formulanya. Dalam perhitungan titik impas target laba sama dengan
nol, sementara dalam analisis target laba seperti yang dimaksudkan di atas jumlah laba
yang diperhitungkan dalam formulanya disesuaikan dengan jumlah laba yang diinginkan,
biasanya lebih besar dari pada nol.

Misalkan dari komposisi biaya dan penjualan dari laporan laba rugi di atas,
perusahaan menginginkan laba Rp. 100.000 maka dengan menggunakan formula metode
persamaan selanjutnya target penjualan untuk mendapatkan laba dimaksud dapat dihitung
sebagai berikut:

12
Misalkan:
            x    = jumlah unit terjual
3.500         = harga jual per unit
2.625         = biaya variabel per unit
75.000      = total biaya tetap
100.000    = laba bersih yang diinginkan

Metode persamaan: penjualan + biaya tetap + laba

Sehingga penjualan dalam unit menjadi:

3.500x                    = 2.625x + 75.000 + 100.000

3.500x – 2.625x   = 75.000 + 100.000

875x                       = 175.000

X                            = 175.000/875

Unit penjualan (x)     = 200 unit

Atau penjualan dalam rupiah:

x             = 0,75x + Rp. 75.000 + Rp. 100.000

0,25x     = Rp. 75.000 + Rp. 100.000

x            = Rp. 175.000/0,25

x            = Rp. 187.500

200 unit x Rp. 3.500     = Rp. 700.000

Metode marjin kontribusi:

Penjualan dalam unit        = (biaya tetap + target laba)/CM per unit

                = (75.000 + 100.000) / 875

                = 175.000/875

                = 200 unit

Penjualan dalam Rp        = (biaya tetap + target laba)/rasio marjin kontribusi

                = (75.000 + 100.000) / 25%

                = 175.000/25%

                = Rp 700.000

  Impas dalam satuan waktu. Bagi sebuah perusahaan yang baru beroperasi titik
impas ini tidak selalu dapat dicapai dalam waktu yang singkat, misalnya setahun.  Industri-
industri berat biasanya mencapai titik impas setelah beberapa tahun beroperasi. Proyeksi
pencapaian titik impas dalam satuan waktu ini dapat dihitung dengan formula-formula di
atas. Hasil perhitungannya dapat dihubungkan dengan biaya, volume dan laba tahunan. 

13
Misalnya sebuah perusahaan diperkirakan akan mencapai titik impas setelah menjual 300
unit produksi traktor mini. Bila dalam setahun diproduksi rata-rata 100 unit traktor maka titik
impas akan dicapai setelah genap beroperasi selama tiga tahun atau 300 traktor impas
dalam unit/100 traktor produksi pertahun x 1 tahun = 3 tahun.

Titik Impas Dalam Dolar Penjualan

Pada beberapa kasus yang menggunakan analisis CVP, manajer mungkin lebih suka
menggunakan pendapatan penjualan sebagai ukuran aktivitas penjualan daripada unit yang
terjual. Suatu ukuran unit yang terjual dapat dikonversikan menjadi suatu ukuran
pendapatan penjualan hanya dengan mengalikan harga jual per unit dengan unit yang
terjual.

Rasio biaya variable (variable cost ratio) sebesar 60 % pada contoh ini merupakan bagian
dari setiap dolar penjualan yang harus digunakan untuk menutup biaya variable. Rasio biaya
variable dapat dihitung dengan menggunakan data total maupun data per unit. Tentu saja,
persentase dari dolar penjualan yang tersisa setelah biaya variable tertutupi merupakan
rasio margin kontribusi. Rasio margin kontribusi (contribution margin ratio) adalah bagian
dari setiap dolar penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba.

Target Laba dan Pendapatan Penjualan

Secara umum dengan asumsi biaya tetap tidak berubah, rasio margin kontribusi dapat
digunakan untuk mengetahui dampak terhadap laba atas perubahan pendapatan penjualan.
Untuk memperoleh total perubahan dalam laba yang diakibatkan oleh perubahan
pendapatan, kalikan rasio margin kontribusi dengan perubahan dalam penjualan.

The Margin of Safety

Margin Keamanan adalah kelebihan dari penjualan yang dianggarkan diatas titik
impas volume penjualan. Margin keamanan menjelaskan jumlah dimana penjualan dapat
menurun sebelum kerugian mulai terjadi. Semakin tinggi margin keamanan, semakin rendah
resiko untuk tidak balik modal. Margin keamanan juga dapat disajikan dalam bentuk
presentase. Presentase ini didapat dengan membagi margin keamanan dalam dollar dengan
total penjualan.

Linking Margin of Safety Percentage with Break Event Percentage

Marjin pengaman penjualan dipandang sebagai ukuran kasar resiko. Selalu terdapat
kejadian-kejadian, yang tidak diketahui ketika rencana disusun yang dapat menurunkan
pejualan di bawah tingkat yang diharapkan sebelumnya.

14
Marjin pengaman penjualan = Penjualan dianggarkan – Penjualan impas atau

Persentase marjin pengaman penjualan= Marjin pengaman penjualan dalam rupiah /


Penjualan

2.3 Pertimbangan BVL dalam Memilih Struktur Biaya

Cost Structure and Profit Stability

1.     Struktur pendapatan

Setiap perusahaan dapat mempunyai struktur pendapatan yang berbeda-beda. Struktur


pendapatan menunjukkan perbandingan antara pendapatan yang sifatnya tetap dengan
pendapatan yang sifatnya dipengaruhi dengan tingkat kegiatan. struktur pendapatan di
golongkan menjadi dua:

a.       Perusahaan yang sebagian struktur pendapatannya merupaakan pendapatan tetap

Perusahaan tertentu memiliki struktur pendapatan tetap di samping pendapatan yang


tergantung pada tingkat kegiatan. Misalnya perusahaan listrik dan telepon mempunyai
pendapatan tetap dalam bentuk pendapatan langganan sedangkan pendapatan beban atau
pendapatan pemakai tergantung pada besarnya pemakai jasa.

Dalam rumus impas pendapatan tetap atau fikrd revenues (disingkat dengan simbol (FR)

b.      Perusahaan yang struktur pendapatannya dipengaruhi oleh tingkat kepadatan.

15
Pendapatan pada perusahaan tertentu dipengaruhi oleh tingkat kepadatan (load factor jasa
yang dijual kepada para pembeli. misalnya perusahaan jasa angkutan dipengaruhi oleh
kepadatan penumpang.

2.     Struktur Biaya

             Setiap perusahaan dapat mempunyai struktur biaya yang berbeda dengan


perusahaan lain.Struktur biaya adalah perbandingan relatif antara biaya tetap dan biaya
variabel dalam suatu perusahaan. Atas dasar struktur biayanya perusahaan dikelompokkan
menjadi

a.       Perusahaan yang struktur biaya variabelnya tinggi dan juga biaya tetapnya juga tinggi
b.      Perusahaan yang struktur biaya variabelnya rendah dan biaya tetapnya tinggi
c.       Perusahaan yang struktur biaya variabelnya tinggi dan  biaya tetapnya rendah
d.      Perusahaan yang struktur biaya variabelnya rendah dan juga biaya tetapnya juga
terendah.
Operating Leverage

Operating Leverage dipengaruhi oleh struktur biaya suatu perusahaan.Jika


perusahaan mempunyai struktur biaya tetap yang tinggi dan biaya variabel per unit yang
rendah maka operating leveragenya tinggi.Sebaliknya,jika perusahaan mempunyai struktur
biaya tetap yang rendah dan biaya variabel per  unit yang tinggi maka operating
leveragenya rendah.Karena tinggi rendahnya tingkat operatingleverage searah dengan
biaya tetap di suatu perusahaan,maka operating leverage juga didefinisikan sebagai suatu
pengukur tingkat biaya tetap yang digunakan dalam suatu perusahaan.

     Jika suatu perusahaan mempunyai operating leverage yang tinggi,maka laba sifatnya
sangat peka atau sensitif terhadap perubahan penjualan.Kenaikan penjualan dalam
presentase yang relatif kecil dapat menghasilkan presentase kenaikan laba yang
besar.Presentase kenaikan laba bersih dapat dihitung dengan mengalikan operating
leverage dengan presentase kenaikan penjualan yang diharapkan.

16
Dari tabel sebelumnya, perusahaan Gelora Samudra mempunyai proporsi biaya tetap yang
lebih tinggi dari segi biaya variabelnya dibandingkan P.T. Badai Gurun, kendatipun jumlah
biaya pada masing-masing kedua perusahaan tersebut (yakni Rp 360.000) sama pada
tingkat penjualan Rp 400.000. Namun, apabila penjualan pada masing-masing perusahaan
dinaikkan sebesar 10% (dari Rp 400.000 menjadi Rp 440.000), maka laba bersih P.T.
Gelora Samudra melonjak sebesar 70% (dari Rp 40.000 menjadi Rp 68.000), sedangkan
P.T. Badai Gurun mengalami kenaikan laba bersih hanya sebesar 40% (dari Rp 40.000
menjadi Rp 56.000).

Kadar/faktor tuasan operasi (degree of operating leverage) yang terdapat dalam perusahaan
pada tingkat penjualan tertentu dapat diukur melalui rumus berikut:

Faktor tuasan operasi = Margin Kontribusi / Laba Bersih

Faktor tuasan operasi (degree of operating leverage) di P.T. Badai Gurun dan P.T. Gelora
Samudra pada tingkat penjualan Rp 400.000 adalah:

Dengan membaca faktor tuasan operasi di atas, apabila penjualan meningkat sebesar 10%,
maka laba bersih P.T. Badai Gurun akan melonjak sebesar 4 kali lipat (atau 40%), dan laba
bersih P.T Gelora Samudra akan melambung 7 kali lipat (atau 70%).

2.4 Bauran Penjualan

The Definition of Sales Mix and Break Event Analysis

 Bauran Penjualan dan Analisis Titik Impas

Sebagian besar perusahaan pada umumnya menjual lebih dari satu lini produk pada
bermacam-macam harga jual. Selain itu, produk-produk yang dijual sering pula mempunyai
biaya-biaya variabel per unit yang berlainan. Harga jual dan biaya variabel yang berlainan di

17
antara lini produk tersebut akan membuat lini-lini produk yang ada mempunyai marjin
kontribusi yang berbeda-beda pula.

Analisis bauran penjualan (sales mix analysis) melibatkan penentuan kombinasi paling
menguntungkan dari penjualan produk pada saat perusahaan menjual lebih dari satu lini
produk.Yang sangat terkait dengan analisis bauran penjualan adalah kajian profitabilitas lini
produk yang dirancang untuk mencari produk-produk mana yang merugikan perusahaan.

Contoh:

P.T. Pedang Menoreh mempunyai dua lini produk: lini produk AS800 dan lini produk IBX005.
Untuk tahun 2001, penjualan, biaya, dan titik impas perusahaan tampak pada Tabel 1, dan
untuk tahun 2002 tampak pada Tabel 2

Komputasi titik impas: Biaya tetap Rp 1.080.000/ Rasio marjin kontribusi 45%

= Rp 2.400.000

Komputasi titik impas: Biaya tetap Rp 1.080.000/ Rasio marjin kontribusi 30%

= Rp 3.600.000

18
BAB III
PENUTUP

A.          Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Analisis biaya volume laba (cost-
volume-profit analysis) adalah analisis pola-pola prilaku biaya yang mendsari hubungan-
hubungan antara biaya,volume, dan laba. Analisi biaya-volume-laba kerap pula disebut
analisis impas (break-even analysis) karena signifikansisme mengacu pada sebuah pemicu
biaya aktivitas, seperti unit penjualan, yang diasumsikan berkorelasi dengan perubahan-
perubahan pendapatan, biaya, dan laba. Analisis biaya-volume-laba merupakan persoalan
yang kompleks karena hubungan-hubungan tersebut kerap dipengaruhi oleh faktor-faktor
yang seluruhnya atau sebagian diluar kendali manajemen.

Titik impas merupakan tingkat aktivitas dimana suatu organisasi tidak mendapatkan
laba dan juga tidak mendapatkan rugi. Titik impas juga dapat didefinisikan sebagai titik
dimana total pendapatan sama dengan total biaya atau sebagai titik dimana total marjin
kontribusi sama dengan total biaya tetap. Titik impas ini selanjutnya dapat dihitung dengan
menggunakan metode persamaan, metode marjin kontribusi, dan metode grafik, baik dalam
hitungan unit penjualan maupun penjualan dalam satuan mata uang tertentu yang
digunakan dalam transaksi bisnis. Dalam perencanaan analisis biaya volume laba dapat
dimanfaatkan dengan menggunakan 2 cara yaitu, analisis target laba dan analisis
sensitivitas.

Dengan mengetahui titik marjin keamanan tersebut maka manajemen dapat merumuskan
berbagai strategi, taktik, dan langkah-langkah operasional untuk bertahan agar penjualan
tidak mengalami abrasi sampai melebihi angka marjin keamanan.

B.          Saran

Setelah membahas dan mempelajari analisis biaya volume laba ini, diharapkan kita
dapat menganalisis biaya volume laba pada suatu perusahaan tertentu sebagai skill
penunjang bagi seorang manajer.

19
DAFTAR PUSTAKA

http://aristiyan.blogspot.com/2013/10/analisis-biaya-volume-laba.html

http://tugas123blig.blogspot.com/2018/11/analisis-biaya-volume-laba.html

https://docplayer.info/73270453-Makalah-manajemen-akuntansi-analisis-hubungan-biaya-
volume-laba-b-v-l.html

https://id.scribd.com/doc/221038000/Makalah-Akuntansi-Manajemen-Analisis-Biaya-
Volume-Dan-Laba#download

http://risnarizal.blogspot.com/2015/05/analisis-biaya-volume-laba.html

http://mujianggun.blogspot.com/2015/12/makalah-akuntansi-manajemen-cost-volume.html

https://www.academia.edu/24288641/ANALISIS_BIAYA-VOLUME-LABA

20