Anda di halaman 1dari 19

Akuntansi Manajemen

Pelaporan Segmen Dan Desentralisasi

OLEH:

KELOMPOK 7
Dirza Tri Astari Az Zahra Rachman A031181041
Aran Anugrah Marannu A031181352
Yunita Anggraeni Widyanti A031181362
Dimas jody setyawan A031181506
Nurfuadi A031181511
Indah Handayani A031181521

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia
serta hidayah-
Nya dalam kehidupan ini. Shalawat serta Salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi
Besar kita yaitu Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Manajemen mengenai
Pelaporan Segmen dan Desentralisasi serta untuk memberi pemahaman kepada pembaca terkait
materi yang disampaikan.
Makalah ini telah kami buat dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi tugas Akuntansi
Manajemen. Kami berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita tentang Pelaporan Segmen dan Desentralisasi.
Makalah ini memang jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangatlah diharapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, 13 April 2020

Kelompok 7
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan, banyak perusahaan memilih untuk
desentralisasi. perusahaan tersebut melakukan desentralisasi karena para manajer lokal
mampu membuat keputusan yang lebih baik berdasarkan informasi lokal. Manajer lokal juga
mampu memberikan tanggapan tepat waktu untuk kondisi-kondisi yang berubah. Dalam
kondisi terdesentralisasi, para manajer memiliki peran yang lebih besar dalam pembuatan
keputusan dan pengimplementasiannya, serta menjadikan manajemen lebih bertanggung
jawab terhadap aktivitas unit kerja yang dipimpin. Adanya desentralisasi ini akan
menyebabkan para manajer yang dikenai limpahan wewenang membutuhkan informasi yang
berkualitas serta relevan untuk mendukung kualitas keputusannya. Selain itu, desentralisasi
untuk perusahaan besar digunakan untuk perusahaan besar diperlukan karena keterbatasan
kognitif karena tidak mungkin ada orang yang dapat memahami secara utuh setiap pasar dan
produk. Alasan lainnya adalah sebagai wadah untuk melatih dan memotivasi manajer
lokaldan membebaskan manajemen puncak dari masalah-masalah operasional sehari-
harisehingga mereka dapat menggunakan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang bersifat
jangka panjang seperti perencanaan strategis.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian desentralisasi?
2. Apa saja alasan-alasan untuk melakukan desentralisasi, keunggulan dan kelemahan
desentralisasi?
3. bagaimana menyiapkan laporan laba rugi segmen?
4. Apa saja akuntansi pertanggung jawaban?
5. Bagaimana menghitung ROI, RI, dan EVA?
6. Bagaimana kaitannya desentralisasi dan pelaporan segmen?
7. Bagaimana peran penetapan harga transfer pada perusahaan yang terdesentralisasi?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian desentralisasi
2. Untuk mengetahui apa saja alasan-alasan untuk melakukan desentralisasi, Mengetahui
apa keunggulan dan kelemahan desentralisasi.
3. Menjelaskan menyiapkan laporan laba rugi segmen.
4. Untuk mengertahui apa saja akuntansi pertanggung jawaban pada perusahaan yang
terdesentralisasi.
5. Menghitung dan menjelaskan pengembalian atas investasi (return on Investment – ROI)
laba residu (Residual Income - RI) dan nilai tambah ekonomi (economic value added –
EVA).
6. Untuk mengetahui bagaimana kaitannya desentralisasi dan pelaporan segmen.
7. Menjelaskan peran penetapan harga transfer pada perusahaan yang terdesentralisasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Desentralisasi
Desentralisasi adalah pendelegasian wewenang dalam membuat keputusan dan kebijakan
kepada manajer atau orang-orang yang berada pada level bawah dalam suatu struktur organisasi.
Pada saat sekarang ini banyak perusahaan atau organisasi yang memilih serta menerapkan sistem
desentralisasi karena dapat memperbaiki serta meningkatkan efektifitas dan produktifitas suatu
organisasi.
Dapat disimpulkan bahwa Desentralisasi Organisasi adalah Sebuah organisasi yang
terdesentralisasi (decentralized organization), wewenang pengambilan keputusannya tidak
diserahkan pada beberapa orang eksekutif puncak, melainkan disebarkan diseluruh organisasi. Di
satu sisi ekstrem, organisasi yang terdesentralisasi secara kuat adalah organisasi yang
memberikan kebebasan kepada manajer-manajer tingkat yang lebih rendah ataupun karyawan
untuk membuat suatu keputusan. Pada sisi lainnya, di suatu organisasi yang sangat
tersentralisasi, manajer-manajer tingkat yang lebih rendah memiliki sedikit kebebasan untuk
membuat suatu keputusan.
Pada pengambilan keputusan terdesentralisasi memperkenankan manajer pada jenjang yang
lebih rendah untuk membuat dan mengimplementasikan keputusan-keputusan penting yang
berkaitan dengan wilayah pertanggungjawaban mereka.Jadi singkatnya Desentralisasi adalah
praktik pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada jenjang yang lebih rendah.
Perusahaan yang memiliki beberapa pusat pertanggungjwaban biasanya memilih salah satu
dari dua pendekatan pengambilan keputusan untuk mengelola kegiatan mereka yang rumit dan
beragam: tersentralisasi atau terdesentralisasi. Pada pengambilan keputusan tersentralisasi,
berbagai keputusan dibuat pada tingkat manajemen puncak dan manajer pada jenjang yang lebih
rendah bertanggungjawab atas pengimplementasian keputusan-keputusan tersebut. Sedangkan
pengambilan keputusan terdesentralisasi, memperkenankan manajer pada jenjang yang lebih
rendah untuk membuat dan mengimplementasikan keputusan-keputusan penting yang berkaitan
dengan wilayah pertanggungjawaban mereka. Desentralisasi adalah praktik pendelegasian
wewenang pengambilan keputusan kepada jenjang yang lebih rendah.
Divisi-divisi dalam perusahaan yang terdesentralisasi
Desentralisasi biasanya diwujudkan melalui pembentukan unit-unit yang disebut divisi. Satu
cara pembagian divisi adalah berdasarkan jenis barang atau jasa yang diproduksi. Divisi-divisi
dapat juga diciptakan menurut garis geografis. Kehadiran divisi-divisi yang membentang di satu
atau beberapa wilayah menciptakan kebutuhan akan evaluasi kinerja yang mampu
mempertimbangkan perbedaan lingkungan divisi.
Cara ketiga untuk membedakan divisi adalah berdasarkan jenis pertanggungjawaban yang
diberikan kepada manajer divisi. Saat perusahaan tumbuh, manajemen puncak biasanya
menciptakan berbagai area pertanggungjawaban yang dikenal sebagai pusat pertanggungjawaban
dan menugaskan manajer di bawahnya untuk menangani wilayah tersebut. Pusat
pertanggungjwaban merupakan suatu segmen bisnis yang manajernya bertanggungjawab
terhadap serangkaain kegiatan-kegiatan tertentu. Hasil-hasil dari pusat pertanggungjawaban bisa
diukur berdasarkan informasi yang dibutuhkan manajer untuk mengoperasikan pusat
pertanggungjwaban mereka. Berikut jenis utama pusat pertanggungjawaban :
1. Pusat Biaya (cost center),manajernya bertanggungjawab hanya terhadap biaya.
2. Pusat pendapatan (revenue center),manajernya bertanggungjawab hanya terhadapa penjualan.
3. Pusat laba (profit center),manajernya bertanggungjawab terhadap penjualan dan biaya.
4. Pusat investasi (investment center),manajernya bertanggungjawab terhadap penjualan,biaya
dan investasi modal.

B. Alasan-Alasan untuk Melakukan Desentralisasi dan Keunggulan dan


Kelemahan Desentralisasi
Perusahaan memutuskan untuk melakukan desentralisasi karena berbagai alasan diantaranya:
1. Mengumpulkan dan Menggunakan Informasi lokal.
Kualitas dari berbagai keputusan dipengaruhi oleh kualitas informasi yang tersedia. Sejalan
dengan pertumbuhan perusahaan dan penambahan operasi dipasar dan area yang
berbeda,manajemen pusat mungkin tidak memahami kondisi lokal. Akan tetapi,para manajer
tingkat rendah yang berhubungan dengan kondisi operasional langsung memiliki akses terhadap
informasi ini.Akibatnya,mereka sering berada dalam suatu posisi yang lebih baik untuk membuat
keputusan lokal.
2. Memfokuskan Manajemen Pusat
Dengan mendesentralisasikan keputusan-keputusan operasional, manajemen pusat bebas
menangani perencanaan dan pengambilan keputusan strategis. Keberlangsungan jangka panjang
dari perusahaan harus lebih penting bagi manajemen pusat dari operasional sehari-hari.
3. Melatih dan Memotivasi Para Manajer
Organisasi selalu membutuhkan manajer yang terlatih untuk menggantikan posisi manajer
jenjang lebih tinggi yang keluar untuk mengambil keuntungan dari peluang yang lain.peluang
seperti itu juga memungkinkanmanajer puncak mengevaluasi kemampuan para manajer
lokalnya. Manajer-manajer yang menghasilkan keputusan terbaik adalah manajer yang bisa
dipromosikan.
4. Meningkatkan daya saing
Pada perusahaan yang sangat tersentralisasi,margin laba secara keseluruhan mampu menutupi
ketidakefisienan yang terjadi di berbagai divisinya. Perusahaan-perusahaan besar sekarang
menemukan bahwa mereka tidak mampu mempertahankan suatu divisi yang tidak berdaya saing.
Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kinerja sebuah divisi atau pabrik adalah
memperkenalkannya lebih jauh pada kekuatan-kekuatan pasar.

Keunggulan dan Kelemahan Desentralisasi


Desentralisasi memiliki lima keunggulan utama:
1. Manajemen puncak dibebaskan dari pemecahan persoalan sehari-hari yang banyak sehingga
memiliki peluang untuk berkonsentrasi pada strategi, pada perbuatan keputusan yang
tingkatnya lebih tinggi dan pada kegiatan-kegiatan koordinasi.
2. Manajer tingkat lebih rendah umumnya memiliki informasi yang lebih terperinci dan lebih
baru mengenai kondisi setempat dibandingkan dengan para manajer puncak
3. Pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada manajer pada tingkat yang lebih
rendah membuat mereka dapat lebih cepat memberikan respons kepada para pelanggan.
4. Desentralisasi memberikan pengalaman pengambilan keputusan kepada para manajer tingkat
lebih rendah yang nantinya diperlukan jika mereka dipromosikan ketingkatan yang lebih
tinggi.
5. Pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada manajer tingkat lebih rendah
seringkali meningkatkan motivasi mereka,sehingga dapat meningkatkan kepuasan kerja dan
tingkat retensi karyawan,serta membaiknya kinerja.
Desentralisasi memiliki empat kelemahan utama:
1. Manajer-manajer pada tingkat yang lebih rendah mungkin membuat keputusan-keputusan
tanpa sepenuhnya memahami gambaran besar (menyeluruh).
2. Di suatu organisasi yang betul-betul terdesentralisasi,mungkin terjadi kurang koordinasi
diantara manajer yang memiliki otonomi.
3. Manajer tingkat yang lebih rendah mungkin memiliki tujuan yang berbeda dari tujuan
perusahaan secara keseluruhan.
4. Dalam suatu organisai yang sangat terdesentralisasi,mungkin lebih sulit untuk secara efektif
menyebarkan gagasan-gagasan yang inovatif.

C. Laporan Laba Rugi Segmen dengan Menggunakan Perhitungan Biaya


Variabel
Perhitungan biaya variabel berguna dalam menyiapkan laporan laba rugi segmen karena
perhitungan ini menyediakan informasi penting mengenai beban variabel dan tetap.Akan
tetapi,dalam laporan laba rugi segmen,beban tetap dibagi menjadi dua kategori :
1. Beban tetap langsung (direct fixed expenses)
Adalah beban tetap yang secara langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen. Beban ini
terkadang disebut sebagai beban tetap yang dapat dihindari (avoidable fixed expenses) atau
beban yang dapat ditelusuri (traceable fixed expenses) karena beban ini akan hilang jika segmen
ditutup atau dibungkus.

2. Beban tetap umum (common fixed expenses)


Disebabkan oleh dua atau lebih segmen secara bersamaan. Beban-beban ini tetap muncul,
bahkan ketika salah satu segmen dihapus.
Pembagian tambahan ini menggaris bawahi biaya yang dapat dikendalikan dengan biaya
yang tidak dapat dikendalikan dengan meningkatkan kemampuan manajer untuk mengevaluasi
kontribusi setiap segmen terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan. Kontribusi laba yang
dihasilkan setiap segmen untuk menutupi biaya tetap umum perusahaan disebut margin segmen
(segment margin). Suatu segmen harus mampu menutup paling tidak biaya variabel dan biaya
tetap langsungnya sendiri. Laba segmen yang negatif mengurangi total laba perusahaan. Untuk
menghapus segmen tersebut, dibutuhkan pertimbangan. Dengan mengabaikan setiap pengaruh
yang dimiliki suatu segmen terhadap penjualan segmen lainnya, margin segmen dapat mengukur
perubahan laba perusahaan yang mungkin terjadi jika segmen dihapus.
Pembagian seluruh beban tetap dalam dua kategori: beban tetap langsung dan beban tetap
umum, memberikan informasi tambahan bagi manajer. Pembagian tambahan ini menggaris
bawahi biaya yang dapat dikendalikan dengan biaya yang tidak dapat dikendalikan dan
meningkatkan kemampuan manajer untuk mengevaluasi setiap kontribusi segmen terhadap
kinerja perusahaan secara keseluruhan. Karena beban tetap langsung dapat ditelusuri ke suatu
segmen, beban ini disebabkan oleh keberadaan dari segmen itu sendiri, jika segmen atau lini
produk dihapus, maka beban tetap ini akan hilang. Hal ini memberikan suatu gambaran yang
lebih tepat kepada manajer mengenai profitabilitas segmen.
Di lain pihak, beban tetap umum disebabkan oleh dua atau lebih segmen. Jika salah satu
segmen ini dihapus, beban tetap umum ini tetap ada dan dalam tingkat yang sama dengan yang
sebelumnya. Biaya tetap yang merupakan biaya tetap langsung pada suatu segmen mungkin
dapat menjadi biaya tetap tak langsung atau umum pada segmen lain.

D. Desentralisasi dan Pelaporan Segmen


Suatu segmen adalah suatu bagian atau aktivitas suatu organisasi dan manajer-manajer akan
menginginkan data biaya, penerimaan atau laba dari bagian organisasi tersebut. Laporan laba
rugi berguna dalam menganalisis profitabilitas segmen dan dalam mengukur prestasi-prestasi
manajemen segmen.
1. Pusat Pertanggungjawaban
Pusat pertanggung jawaban adalah suatu sistem unit organisasi yang dipimpin oleh seorang
manajer yang bertanggung jawab. Berdasarkan karakteristik masukan dan keluaran, pusat
pertanggung jawaban dalam perusahaan dibagi menjadi tiga tipe pusat pertanggung jawaban,
yaitu sebagai berikut :
a. Pusat Biaya (Expanse Center)
Pusat biaya adalah pusat pertanggung jawaban yang diukur prestasinya atas dasar masukan
atau biaya. Setiap pusat pertanggung jawaban mempunyai masukan dan keluaran dalam hal
hubungan pusat biaya, keluarannya tidak dapat atau perlu diukur dengan dalam wujud
pendapatan.
b. Pusat Pendapatan (Revenue Center)
Pusat Laba, Manajer sebagai pusat laba memiliki kendali atas biaya maupun pendapatan.
Seperti halnya manajer pusat biaya, manajer suatu pusat laba tidak memiliki kendali atas dana-
dana investasi. Manajer pusat laba sering kali dievaluasi dengan membandingkan laba aktual
dengan laba yang ditargetkan atau dianggarkan.
c. Pusat Investasi (Investment Center)
Pusat Investasi, Manajer sebuah pusat investasi memiliki kendali atas biaya, pendapatan, dan
investasi di aktiva operasi. Manajer pusat investasi biasanya dievaluasi dengan menggunakan
ukuran imbal hasil atas investasi (ROI) atau laba residu (RI).

E. Return On Invesment (ROI), Residual income (RI), dan Economic Value


Added (EVA)
Definisi ROI
Return On Invesment merupakan rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva yang
digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen. Rasio ini
menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikan dengan mengabaikan sumber
pendanaan, rasio ini biasanya diukur dengan persentase.
Faktor yang Dapat Memengaruhi ROI Diantaranya:
1. Turnover dari operating assets atau tingkat perputaran aktiva yang digunakan untuk kegiatan
operasional, yaitu kecepatan berputarnya operating assets dalam suatu periode tertentu.
2. Profit margin, adalah besarnya keuntungan operasi yang dinyatakan dalam bentuk persentase
dan jumlah penjualan bersih. Profit margin dapat mengukur tingkat keuntungan perusahaan dan
dihubungkan dengan penjualannya.
ROI sebagai bentuk teknik analisa rasio profitabilitas sangat penting dalam suatu perusahaan
karena dengan mengetahui ROI, pengusaha dapat mengetahui seberapa efisien perusahaan guna
memanfaatkan aktiva untuk kegiatan operasional dan dapat memberikan informasi ukuran
profitabilitas perusahaan.
Kegunaan Analisis Return On Invesment (ROI)
1. Jika perusahaan telah menjalankan praktik akuntansi yang baik, maka manajemen dengan
menggunakan teknik analisa ROI dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang bekerja,
efisiensi produksi, dan efisiensi bagian penjualan.
2. Apabila perusahaan mempunyai data industri sehingga dapat diperoleh rasio industri, maka
dengan analisa ROI dapat dibandingkan efisiensi penggunaan modal pada perusahaannya dengan
perusahaan lain yang sejenis, sehingga dapat diketahui apakah perusahaannya berada di bawah,
sama, atau di atas rata-rata. Dengan demikian akan dapat diketahui di mana kelemahan dan
kekuatan perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis.
3. Analisa ROI juga dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang
dilakukan oleh masing-masing divisi atau bagian, yaitu dengan mengalokasikan semua biaya dan
modal ke dalam bagian yang bersangkutan.  
4. Analisa ROI juga dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing produk
yang dihasilkan oleh perusahaan.
5. ROI selain berguna untuk keperluan kontrol, juga berguna untuk keperluan perencanaan.
Misalnya ROI dapat digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan jika perusahaan
akan mengadakan ekspansi.
Kelemahan Analisis Return On Investment (ROI)
1. Salah satu kelemahan ROI adalah sulitnya dalam membandingkan ROI suatu perusahaan
dengan perusahaan lain yang sejenis. Hal ini karena terkadang praktik akuntansi yang digunakan
oleh masing-masing perusahaan berbeda-beda. Perbedaan metode dalam penilaian berbagai
aktiva antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain dapat memberi gambaran yang
salah.
2. Kelemahan lain dari teknik analisa ini adalah terletak pada adanya fluktuasi nilai dari uang
(daya belinya).  
Cara menghitung ROI
ROI bisa juga diartikan sebagai rasio laba bersih terhadap biaya. Rumus menghitung ROI adalah
sebagai berikut:
ROI =    (Total Penjualan-Investasi) Investasi x 100%
Misalnya, jika investasi sebesar Rp10.000.000 menghasilkan penjualan sebesar Rp15.000.000,
berarti diperoleh laba sebesar Rp5.000.000. Maka secara sederhana perhitungan ROI dalam
presentase adalah
ROI = (Rp15.000.000-Rp10.000.000) Rp 10.000.000 x 100%
ROI= 50%
Dari perhitungan di atas, dapat disimpulkan tingkat ROI adalah sebesar 50%.
Seringkali kita hanya berfokus pada margin keuntungan atas produk atau jasa. Tetapi kita
seharusnya juga menghitung ROI secara akurat untuk mendapatkan kepastian dan keyakinan
bahwa bisnis yang dijalankan mampu berkembang. Dalam menjalankan bisnis, seorang
pengusaha harus memerhatikan jumlah dana yang harus diinvestasikan dalam mencapai target
penjualan, jumlah margin keuntungan yang diperoleh, dan bagian dari margin keuntungan
tersebut yang akan digunakan untuk mengembangkan bisnis.
Apabila investasi yang dilakukan hanya menghasilkan margin keuntungan yang sedikit,
maka bisnis tersebut akan mengalami kesulitan untuk berkembang di masa yang akan datang dan
bahkan dalam jangka panjang akan mengalami kegagalan.

Definisi RI
Residual income yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai laba residu, seringkali
digunakan dalam aktivitas finansial di dalam sebuah usaha / bisnis. residual income itu sendiri
adalah laba usaha (operating income) yang mampu dihasilkan sebuah pusat investasi di atas
penghasilan (return) minimum aset-asetnya.
Keunggulan Laba Residu (RI)
Penggunaan laba residu mendorong para manajer untuk menerima proyek apa pun yang
menghasilkan tingkat di atas minimum.
Kelemahan Laba Residu (RI)
Masalah lainnya dengan laba residu tidak seperti ROI, laba residu adalah ukuran absolut dari
profitabilitas.Jadi,perbandingan langsung dari kinerja pada dua pusat investasi yang berbeda
menjadi sulit karena tingkat investasinya bisa berbeda.
Cara Menghitung RI
Laba residu = laba usaha bersih – (tingkat penghasilan minimum dari investasi x aset operasional
total)
Tingkat penghasilan (rate of return) minimum seringkali didasarkan pada rata-rata tertimbang
biaya modal (weighted-average cost of capital) suatu perusahaan.
Contoh
Asumsikan bahwa aset operasional (operating asset) suatu perusahaan adalah $100.000.000, laba
bersih usaha sebesar $18.000.000, dan minimum return on asset adalah 13%. Maka, laba residu
adalah:
Laba Residu= $18.000.000 – (13% x $100.000.000) = $5.000.000
Definisi EVA
Pendekatan yang lebih baru dalam penilaian saham adalah dengan menghitung Economic Value
Added (EVA) suatu perusahaan. EVA merupakan salah satu ukuran kinerja operasional yang
dikembangkan pertama kali oleh G. Bennet Stewart & Joel M. Stren yaitu seoarang analis
keuangan dari perusahaan Sten Stewart & Co pada tahun 1993. Di Indonesia metode EVA
dikenal dengan sebutan metode NITAMI (Nilai Tambah Ekonomi).
Economic Value Added (EVA) merupakan keuntungan operasional setelah pajak, dikurangi
biaya modal yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dengan memperhatikan secara
adil harapan-harapan para pemegang saham dan kreditur.
Keunggulan dan Kelemahan Economic Value Added (EVA)
keunggulan EVA

1. EVA memfokuskan penilaian pada nilai tambah dengan memperhitungkan beban sebagai
konsekuensi investasi.
2. EVA merupakan alat perusahaan dalam mengukur harapan yang dilihat dari segi ekonomis
dalam pengukurannya, yaitu dengan memperhatikan harapan penyandang dana secara adil
dimana derajat keadilan dinyatakan dengan ukuran tertimbang dari struktur modal yang ada dan
berpedoman pada nilai pasar dan bukan pada nilai buku.
3. Perhitungan EVA dapat dipergunakan secara mandiri tanpa memerlukan data pembanding
seperti standar industri atau data perusahaan lain sebagai konsep penilaian.
4. Konsep EVA dapat digunakan sebagai dasar penilaian pemberian bonus pada karyawan
terutama pada divisi yang memberikan EVA lebih sehingga dapat dikatakan bahwa EVA
menjalankan stakeholders satisfaction concepts.
5. Pengaplikasian EVA yang mudah menunjukan bahwa konsep tersebut merupakan ukuran
praktis, mudah dihitung dan mudah digunakan sehingga merupakan salah satu bahan
pertimbangan dalam mempercepat pengambilan keputusan bisnis.
Kelemahan EVA
Menurut Iramani dan Febrian (2005), EVA mempunyai kelemahan yaitu:
1. EVA hanya mengukur hasil akhir (result) dan tidak mengukur aktivitas-aktivitas penentu,
seperti loyalitas dan tingkat retensi konsumen.
2. EVA terlalu bertumpu pada keyakinan bahwa investor sangat mengandalkan pendekatan
fundamental dalam mengkaji dan mengambil keputusan untuk menjual dan membeli saham
tertentu.
Manfaat Economic Value Added (EVA)
Terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh perusahaan dalam menggunakan EVA sebagai
alat ukur kinerja dan nilai tambah perusahaan. Menurut Iramani dan Febrian (2005), manfaat
EVA adalah sebagai berikut:
1. EVA merupakan suatu ukuran kinerja perusahaan yang dapat berdiri sendiri tanpa
memerlukan ukuran-ukuran lain baik berupa perbandingan dengan menggunakan perusahaan
sejenis atau menganalisis kecenderungan (trend).
2. Hasil perhitungan EVA mendorong mengalokasikan dana perusahaan untuk investasi dengan
biaya modal yang rendah.
Cara Menghituung EVA
EVA = Laba operasi setelah pajak – (Persentase biaya modal aktual x Total modal yang dipakai)
Jika EVA > 0, hal ini menunjukan terjadi nilai tambah ekonomis bagi perusahaan.

Jika EVA < 0, hal ini menunjukan tidak terjadi nilai tambah ekonomis bagi perusahaan.
Jika EVA = 0, hal ini menunjukan posisi “impas” karena laba telah digunakan untuk membayar
kewajiban kepada penyandang dana baik kreditur maupun pemegang saham.

F. Kaitannya Desentralisasi dengan Pelaporan Segmen


Desentralisasi yang efektif memerlukan adanya pelaporan tersegmen. Selain laporan laba
rugi perusahaan secara keseluruhan, juga diperlukan laporan untuk masing-masing segmen
organisasi. Segmen (segment) merupakan bagian atau aktivitas organisasi yang memuat data
biaya, penjualan atau laba yang diperlukan oleh manajer. Contoh segmen adalah divisi sebuah
perusahaan, wilayah penjualan, unit-unit toko, pusat layanan, pabrik, departemen pemasaran,
pelanggan individu, dan lini produk. Operasi perusahaan dapat tersegmentasi dengan banyak
cara. Laporan laba rugi tersegmen ini bermanfaat untuk menganalisis profibilitas usaha dan
mengukur kinerja manajer.
Laporan Segmen adalah laporan rugi laba yang menyajikan informasi tentang laporan rugi
laba untuk setiap segmen usaha. Dengan adanya laporan segmen maka akan diketahui bagaimana
kinerja dari masing-masing segmen usaha tersebut. Output dari metode absorption berupa
laporan rugi laba konvensional memberikan informasi untuk penyusunan laporan segmen,
maksudnya laporan rugi laba konventional kita olah lagi dengan menggunakan analisa perilaku
biaya yang menghasilkan laporan segmen. Selanjutnya kita akan mempelajari bagaimana
menyusun laporan laba rugi untuk segmen usaha. Laporan laba rugi tersegmen ini bermanfaat
untuk menganalisis profitabilitas segmen dan mengukur kinerja manajer segmen.
 Menyusun Laporan Laba Rugi Tersegmen
 Tingkatan Laporan Tersegmen
 Penjualan dan Margin Kontribusi
 Biaya Tetap yang Dapat Ditelusuri dan Biaya Tetap Umum
 Biaya yang Dapat Ditelusuri Dapat Menjadi Biaya Umum
 Margin Segmen
 Informasi Keuangan Tersegmen di Laporan Eksternal
Laporan Laba Rugi Bersegmen dan Pendekatan Kontribusi
1. Beban Tetap yang Dapat Ditelusuri dan Umum dan Margin Segmen
Dalam menyiapkan laporan laba rugi bersegmen menggunakan laporan laba rugi bersegmen
pendekatan kontribusi-traceable fixed cost, common fixed cost, segment margin
a. Beban tetap dapat ditelusuri (traceable fixed cost) dari segmen adalah biaya tetap yang
terjadi karena adanya segmen. Jika segmen tidak pernah ada biaya tetap tidak akan pernah
terjadi dan jika segmen dihilangkan, beban tetap akan hilang. Contohnya adalah gaji manajer
produksi di Frito perusahaan PepsiCo adalah biaya tetap yang dapat ditelusuri dari segmen
bisnis Frito dari perusahaan PepsiCo.
b. Biaya tetap umum (common fixed cost) adalah biaya tetap yang menunjang operasi satu atau
lebih segmen tetapi tidak dapat ditelusuri keseluruhan atau sedikit dari satu segmen. Bahkan
bila segmen tersebut dihilangkan. Dan tidak ada perubahan di dalam biaya tetap umum.
Contohnya adalah gaji komisaris di General Motors adalah biaya tetap umum dari berbagai
divisi di General Motors.
Untuk menyiapkan laporan laba rugi bersegmen, beban variabel dikurangi dari penjualan
dan menghasilkan margin kontribusi segmen. Margin kontribusi berguna untuk membuat
keputusan yang memerlukan informasi mengenai kapasitas yang tersisa untuk mengerjakan
pesanan khusus. Jenis keputusan ini hanya memerlukan informasi biaya variabel dan
pendapatan-dua komponen dari margin kontribusi.
c. Margin segmen (segment margin) didapat dari biaya tetap segmen yang dapat ditelusuri
dikurangi Margin Kontribusi Segmen. Margin segmen adalah alat terbaik untuk mengukur
laba jangka panjang segmen karena hanya mencakup biaya-biaya yang disebabkan. Jika
sebuah segmen tidak dapat menutupi biayanya maka seharusnya segmen tersebut harus
ditutup.
2. Mengidentifikasi Biaya Tetap yang Dapat Ditelusuri
Perbedaan jelas antara biaya tetap yang dapat ditelusuri dan biaya tetap umum adalah
penting dalam laporan segmen karena biaya tetap yang dapat ditelusuri dibebankan ke segmen.
Ketika membebankan biaya ke segmen, hal yang harus dihindari adalah mengalokasikan
biaya tetap yang umum dan tetap akan ada walaupun segmen itu ada atau tidak.
Laporan Laba Rugi Bersegmen – Kesalahan Umum
1. Menghilangkan Sebagian Biaya
Biaya yang dibebankan ke segmen harus meliputi semua biaya yang berperan terhadap
segmen tersebut dari keseluruhan perusahaan. Semua fungsi perusahaan dari Riset dan
Pengembangan, desain produk, pabrikan, pemasaran, penyaluran, dan layanan pelanggan
diharapkan bekerja dengan baik menyediakan barang atau jasa kepada pelanggan dan
menghasilkan pendapatan.
Akan tetapi hanya biaya produksi yang ada di biaya produk dengan metode biaya
penyerapan yang memang disyaratkan dalam laporan keuangan eksternal. Untuk menghindari
dua system perhitungan dan memberi konsistensi antara pihak luar (eksternal) dan internal
(manajemen), banyak perusahaan menggunakan Biaya Penyerapan untuk tujuan internalnya
seperti Laporan Laba Rugi Bersegmen. Akibatnya banyak perusahaan menghilangkan analisis
laba (profitability analysis) sebagai bagian dari biaya yang besar dari suatu produk.
2. Metode yang Kurang Tepat dalam Membebankan Biaya Yang Dapat Ditelusuri di antara
Segmen-Segmen
Perusahaan membebankan secara tidak tepat biaya-biaya tetap yang dapat ditelusuri ke
pusat-pusat pertanggungjawaban dengan dua cara. Pertama, mereka mungkin gagal menelusuri
biaya ke pusat-pusat pertanggungjawaban meskipun hal ini masih dapat dilakukan. Kedua,
mereka bergantung pada dasar alokasi yang tidak tepat untuk membebankan biaya tetap yang
dapat ditelusuri. Seharusnya biaya dialokasikan ke segmen untuk kepentingan pengambilan
keputusan internal hanya jika dasar alokasinya benar-benar menyebabkan timbulnya biaya yang
sedang dialokasikan.
3. Pembagian yang Tidak Jelas untuk Biaya Tetap Umum di antara Segmen yang Ada
Praktik bisnis ketiga yang mengakibatkan biaya segmen terdistorsi adalah praktik
membebankan biaya yang tidak dapat ditelusuri ke segmen. Tidak ada hubungan sebab akibat
antara biaya bangunan kantor pusat dengan keberadaan suatu produk apapun. Konsekuensinya,
setiap alokasi biaya bangunan kantor pusat ke produk pasti bersifat tidak jelas.
Laporan Laba Rugi – Laporan untuk Pihak Luar
Dalam praktiknya laporan laba rugi biaya penyerapan disyaratkan oleh U.S. GAAP
(Generally Accepted Accounting Principle). Sehingga, IFRS (International Financial Reporting
Standards) juga mensyaratkan penggunaan laporan laba rugi biaya penyerapan juga. Mungkin
karena penghematan biaya dan mengurangi kebingungan membuat dua system biaya – satu
untuk pihak luar, satu untuk pihak dalam – kebanyakan perusahaan menggunakan laporan laba
rugi biaya penyerapan untuk pengguna eksternal dan internal.
Informasi Keuangan Bersegmen
U.S.GAAP dan IFRS mensyaratkan bahwa perusahaan yang sahamnya diperdagangkan
memasukan informasi keuangan bersegmen dan data lainnya dalam laporan tahunannya dan
bahwa laporan bersegmen yang disusun untuk pengguna eksternal harus menggunakan metode
dan definisi yang sama dengan yang digunakan perusahaan untuk laporan segmen internal yang
disusun untuk membantu pemgambilan keputusan operasi. Persyaratan ini menciptakan insentif
untuk perusahaan yang sahamnya diperdagangkan menghindari penggunaan format kontribusi
untuk laporan segmen internal. Laporan laba rugi format kontribusi segmen mencakup informasi
penting yang mana perusahaan tidak mau melaporkan kepada umum (terutama pesaingnya).
Sehingga persyaratan ini menciptakan masalah dalam merekonsiliasi laporan internal dan
eksternal.

G. Penetapan Harga Transfer


Harga transfer adalah harga yang dibebankan untuk suatu komponen oleh divisi penjual
pada divisi pembeli perusahaan yang sama.
a. Dampak Penetapan Harga Transfer terhadap Divisi dan Perusahaan secara
Keseluruhan
Ketika satu divisi dari suatu perusahaan menjual pada divisi lain,kedua divisi tersebut dan
perusahaan secara keseluruhan terkena pengaruhnya.Harga yang dikenakan untuk barang yang
ditransfer memengaruhi biaya divisi pembeli dan pendapatan divisi penjual.Artinya,laba kedua
divisi tersebut,sebagaimana juga evaluasi dan kompensasi oara manajer mereka,dipengaruhi oleh
harga transfer.
Meskipun harga transfer aktual tidak memengaruhi perusahaan sebagai satu
kesatuan,penetapan harga transfer ternyata mampu memengaruhi tingkat laba yang dihasilkan
perusahaan multinasional melalui pajak badan dan persyaratan hukum lainnya yang ditetapkan
negara tempat berbagai divisi beroperasi.
b. Penetapan Harga Transfer
Perusahaan yang terdesentralisasi memungkinkan lebih banyak wewenang pengambilan
keputusan di tingkat manajemen yang lebih rendah.Hal tersebut akan menjadi kurang produktif
bagi perusahaan yang terdesntralisasi untuk kemudian memutuskan harga transfer aktual antara
dua divisi.akibatnya,manajemen puncak menetapkan kebijakan penetapan harga transfer,tetapi
divisi boleh memutuskan untuk menyetujui transfer tersebut tidak.
Dalam penyusunan sebuah kebijakan penetapan harga transfer,kedua pandangan dari divisi
penjual dan divisi pembeli harus dipertimbangkan.Pendekatan biaya peluang mencapai tujuan
tersebut dengan mengidentifikasi biaya minimum yang ingin diterima divisi penjual dan biaya
maksimum yang ingin dibayar divisi pembeli.Harga-harga minimum dan maksimum tersebut
sesuai dengan biaya peluang transfer internal.Berikut harga-harga yang ditetapkan di setiap
divisi:
1. Harga transfer minimum adalah harga transfer yang akan membuat keadaan divisi penjual
tidak menjadi lebih buruk jika barang dijual pada divisi internal daripada dijual pada pihak
luar.Hal in terkadang disebut “batas bawah (floor)” dari rentang penawaran.
2. Harga transfer maksimum adalah harga transfer yang akan membuat keadaan divisi pembeli
tidak menajdi lebih buruk-jika suatu input dibeli dari divisi internal daripada jika barang
yang sama dibeli secara eksternal.Hal ini terkadang disebut “batas atas (ceiling)” dari
rentang penawaran.
Transfer internal sebaiknya dilakukan saat biaya peluang (harga minimum) divisi penjual
lebih rendah dari biaya peluang (harga maksimum) divisi pembeli.Dari definisinya,pendekatan
ini menjamin tidak seorang manajer pun yang dirugikan oleh transfer internal.
Beberapa kebijakan penetapan harga transfer digunakan dalam praktik.Kebijakan penetapan
harga transfer ini mencakup harga pasar,harga transfer berdasarkan biaya dan harga transfer yang
dinegosiasikan.
c. Harga Pasar
Jika terdapat pasar luar dengan persaingan sempurna untuk produk yang ditransfer,maka
harga transfer yang paling sesuai adalah harga pasar.Pada situasi demikian,berbagai tindakan
manajer divisi akan mengoptimalkan laba divisi dan laba perusahaan secara simultan.Lagi
pula,tidak ada divisi yang memperoleh manfaat di atas beban divisi lain.Bila
demikian,manajemen pusat tidak akan tertarik untuk melakukan campur tangan.
Jika tersedia,harga pasar adalah pendektan terbaik untuk penetapan harga transfer.Karena
divisi penjual mampu menjual produknya pada harga pasar,transfer internal pada harga yang
lebih rendah dari harga pasar akan mengakibatkan divisi tersebut merugi.Divisi pembeli yang
selalu mampu membeli barang pada harga pasar mungkin juga tidak akan bersedia membayar
lebih tinggi dari harga pasar untuk barang yang ditransfer secara internal.
d. Harga Transfer berdasarkan Biaya
Harga pasar luar kerap tidak tersedia.Hal tersebut bisa terjadi karena produk yang akan
ditransfer menggunakan desain hak paten yang dimiliki perusahaan induk.Dalam hal
ini,perusahaan bisa menggunakan pendekatan penetaoan harga transfer berdasarkan biaya.
e. Harga transfer yang dinegosiasikan
Akhirnya manajemen tingkat atas bisa mengizinkan manajer divisi pembeli dan penjual
untuk menegosiasikan harga transfer.Secara khusus,pendekatan ini berguna saat kondisi pasar
tidak sempurna,seperti kemampuan divisi di dalam perusahaan untuk menghindari biaya
penjualan dan distribusi.Dalam hal ini,biaya yang dihemat bisa dibagi di antara dua divisi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah makalah ini disusun dan diuraikan, maka berdasarkan hal tersebut dapatlah penulis
mengambil kesimpulan yang merupakan penutup dari penyusunan makalah ini yaitu sebagai
berikut:
1. Desentralisasi adalah wewenang pengambilan keputusannya tidak diserahkan pada beberapa
orang eksekutif puncak, melainkan disebarkan diseluruh organisasi.
2. Desentralisasi adalah wewenang pengambilan keputusannya tidak diserahkan pada beberapa
orang eksekutif puncak, melainkan disebarkan diseluruh organisasi.
3. Laporan laba rugi segmen dapat memberikan informasi untuk pengevaluasian profitabilitas
dan kinerja divisi, lini produk, wilayah penjualan, dan segmen segmen lain dari suatu
perusahaan
Inti dari desentralisasi adalah kebebasan pengambilan keputusan. Alasan dilakukannya
desentralisasi karena para manajer lokal mampu membuat keputusan yang lebih baik
berdasarkan informasi lokal. Selain itu manajer lokal juga mampu memberikan tanggapan
secara tepat waktu pada kondisi-kondisi yang berubah. Alasan lainnya juga sebagai wadah
untuk melatih dan memotivasi manajer lokal serta membebaskan manajemen puncak dari
masalah-masalah operasional sehari-hari sehingga mereka dapat menggunakan waktunya untuk
memikirkan hal-hal yang bersifat jangka panjang seperti perencanaan strategis.
ROI adalah rasio laba operasi terhada aktiva operasi rata-rata. Laba residu adalah perbedaan
antara laba dan tingkat pengembalian minimum yang diminta perusahaan dikalikan dengan
modal yang dipakai. EVA sangat mirip dengan laba residu, tetapi laba setelah pajak dan
persentase aktual dari biaya modal digunakan dalam perhitungan.
Harga transfer adalah pendapatan bagi divisi yang menjual dan biaya bagi divisi yang
membeli. Ada 3 kebijakan penetapan harga transfer yang lazim digunakan, yaitu harga pasar,
harga transfer berdasarkan biaya dan harga transfer yang dinegosiasikan.
B. Saran
Dengan penulisan makalah ini diharapkan masyarakat terutama mereka yang bekerja di
perusahaan, agar dapat mengetahui tentang apa itu desentralisasi dan bagaimana pelaporan
segmen. Untuk semua yang menjabat dalam perusahaan, baik manajer yang paling bawah
ataupun manajer yang paling atas ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam mengelola
perusahaan. Selain itu dengan mengetahui hal ini, diharapkan para manajer bisa lebih memahami
dan mampu melaksanakan kerjasama yang baik antar manajer dalam satu lingkup perusahaan
tersebut demi menjalankan misi perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
Garison, Ray H.Noreen, Eric W. Brewer, Perer C. 2013, Akuntansi Manajerial, Penerbit Salemba
Empat, Jakarta.
Hansen, Don R dan Maryanne M. Mowen. Akuntansi Manajerial : edisi 8 buku 1. 2012. Jakarta :
Salemba Empat.
https://www.academia.edu/23567836/AKUNTANSI_MANAJEMEN
https://www.jurnal.id/id/blog/2017-definisi-dan-cara-menghitung-roi-dengan-benar/
https://www.portalinvestasi.com/pengertian-dan-rumus-residual-income/

http://kumpulanliteratur.blogspot.com/2011/11/pengertian-economic-value-added-eva.html