Anda di halaman 1dari 8

RANGKUMAN MATA KULIAH

MANAJEMEN PAJAK

Oleh:
NURFUADI (A031181511)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
2020
PSAK 46 PAJAK PENGHASILAN

DEFINISI PSAK 46
PSAK 46 adalah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 46 yang resmi
dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK ini mengatur cara perusahaan
melaporkan pajak penghasilan (PPh) dalam laporan keuangannya, baik dalam laporan
posisi keuangan maupun dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif
lainnya.

PRINSIP DASAR AKUNTANSI PPh BERDASARKAN PSAK 46


PSAK 46 menggunakan konsep akrual dalam mengakui beban, aset dan
kewajiban perpajakan. Akrual adalah cara dalam pembukuan yang menganggap biaya
dan pendapatan bukan jumlah yang dibayarkan atau diterima saja.
Sehingga setiap penghasilan menurut akuntansi, harus tetap memperhitungkan
dampak pajak yang harus dibayar di masa mendatang maupun yang telah dibayar pada
masa sekarang. Karena itu, timbul lah isitilah aset dan pajak tangguhan.
Dengan kata lain, prinsip dasar akuntansi pajak penghasilaan yang diatur dalam
PSAK 46 mengharuskan entitas mengakui pajak penghasilan yang kurang bayar dan
pajak penghasilan yang lebih bayar dalam tahun berjalan

KETENTUAN PPh YANG DIATUR PSAK 46


PSAK 46 mengatur perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan tentang bagaimana
konsekuensi pajak kini dan masa depan untuk hal-hal berikut ini:
1. Pemulihan atau penyelesaian masa depan jumlah tercatat aset (liabilitas) yang
diakui dalam laporan posisi keuangan perusahaan (entitas).
2. Transaksi dan peristiwa lain pada periode berjalan yang diakui dalam laporan
keuangan entitas.
Pernyataan standar akuntansi keuangan ini mensyaratkan entitas untuk menyamakan
cara menghitung konsekuensi pajak atas transaksi dan peristiwa lain, dengan cara hitung
transaksi dan peritiwa lain.
Jadi, untuk transaksi dan peristiwa lain yang diakui dalam laba rugi, dampak pajak dari
transaksi dan peristiwa tersebut juga diakui dalam laba rugi. Selanjutnya, segala dampak
pajak yang timbul pada transaksi dan peristiwa lain yang diakui di luar laba rugi akan
diakui di luar laba rugi juga.

TUJUAN PSAK 46
Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan.
Isu utama dalam perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan adalah bagaimana
menghitung konsekuensi pajak kini dan masa depan untuk hal berikut ini:
(a) pemulihan (penyelesaian) masa depan jumlah tercatat aset (liabilitas) yang
diakui dalam laporan posisi keuangan entitas; dan
(b) transaksi dan peristiwa lain pada periode berjalan yang diakui dalam laporan
keuangan entitas.
Pernyataan ini mensyaratkan entitas untuk menghitung konsekuensi pajak atas transaksi
dan peristiwa lain sama dengan cara entitas menghitung transaksi dan peristiwa lainnya.
Jadi, untuk transaksi dan peristiwa lain yang diakui dalam laba rugi, dampak pajak dari
transaksi dan peristiwa tersebut juga diakui dalam laba rugi.
Pernyataan ini juga mengatur pengakuan aset pajak tangguhan yang timbul dari rugi
pajak belum dikompensasi atau kredit pajak belum dimanfaatkan, penyajian pajak
penghasilan dalam laporan keuangan, dan pengungkapan informasi yang terkait dengan
pajak penghasilan.Ruang Lingkup
Pernyataan ini diterapkan pada akuntansi pajak penghasilan. Pajak penghasilan
mencakup seluruh pajak dalam negeri dan luar negeri yang didasarkan pada laba kena
pajak. Pajak penghasilan juga termasuk pajak-pajak, seperti pemotongan pajak (atas
distribusi kepada entitas pelapor) yang terutang oleh entitas anak, entitas asosiasi, atau
pengaturan bersama.

ISTILAH DALAM PSAK 46


 Aset pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan yang dapat dipulihkan pada
periode masa depan.
 Beban pajak (penghasilan pajak) adalah jumlah gabungan pajak kini dan pajak
tangguhan yang diperhitungkan dalam menentukan laba rugi pada suatu periode.
 Dasar pengenaan pajak atas aset atau liabilitas adalah jumlah teratribusi atas aset atau
liabilitas untuk tujuan pajak dengan aset atau liabilitas untuk tujuan pajak.
 Laba akuntansi adalah laba atau rugi selama suatu periode sebelum dikurangi beban
pajak.
 Laba kena pajak atau laba fiskal (rugi pajak atau rugi fiskal) adalah laba (rugi)
selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh
otoritas perpajakan atas pajak penghasilan yang terutang.
 Liabilitas pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan terutang pada periode
masa depan sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak.
 Pajak kini adalah jumlah pajak penghasilan yang terutang atas laba kena pajak (rugi
pajak) untuk suatu periode.
 Perbedaan temporer adalah perbedaan antara jumlah tercatat aset atau liabilitas
dalam laporan posisi keuangan dan dasar pengenaan pajaknya. Perbedaan temporer
dapat berupa:
(a) perbedaan temporer kena pajak yaitu perbedaan temporer menimbulkan jumlah
kena pajak dalam penentuan laba kena pajak (rugi pajak) periode masa depan
ketika jumlah tercatat aset atau liabilitas dipulihkan atau diselesaikan; atau
(b) perbedaan temporer dapat dikurangkan yaitu perbedaan temporer jumlah yang
dapat dikurangkan dalam penentuan laba kena pajak (rugi pajak) periode masa
depan ketika jumlah tercatat aset atau liabilitas dipulihkan atau diselesaikan.
Beban pajak (penghasilan pajak) terdiri dari beban pajak kini (penghasilan pajak kini)
dan beban pajak tangguhan (penghasilan pajak tangguhan).

DASAR PENGENAAN PAJAK


Dasar pengenaan pajak aset adalah jumlah yang dapat dikurangkan, untuk tujuan
pajak, terhadap setiap manfaat ekonomik kena pajak yang akan mengalir ke entitas
ketika memulihkan jumlah tercatat aset tersebut. Jika manfaat ekonomik tersebut tidak
akan dikenakan pajak, maka dasar pengenaan pajak aset tersebut sama dengan jumlah
tercatat aset.
Dasar pengenaan pajak atas liabilitas adalah jumlah tercatat liabilitas, dikurangi
dengan setiap jumlah yang dapat dikurangkan untuk tujuan pajak berkenaan dengan
liabilitas tersebut pada periode masa depan. Dalam hal pendapatan diterima di muka,
maka dasar pengenaan pajak yang ditimbulkan liabilitas tersebut merupakan jumlah
tercatat liabilitas dikurangi setiap jumlah pendapatan yang tidak dikenakan pajak pada
periode masa depan.

PERBEDAAN PERMANEN DAN PERBEDAAN TETAP DALAM PAJAK


1. Perbedaan Permanen
Perbedaan permanen adalah perbedaan pengakuan pajak yang timbul karena terjadi
transaksi-transaksi pendapatan dan biaya yang diakui menurut akuntansi komersial dan
tidak diakui menurut fiskal (pajak). Dimana pengakuan seperti hal tersebut biasanya
terdapat pada kategori dibwa ini, yaitu:
Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan sedangkan menurut ketentuan
PPh bukan penghasilan. Misalnya dividen yang diterima oleh Perseroan Terbatas
sebagai wajib pajak dalam negeri dari penyertaan modal sebesar 25% atau lebih pada
badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia. (Pasal 4 ayat 3 UU PPh).
Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan, sedangkan menurut ketentuan
PPh telah dikenakan PPh yang bersifat final. Penghasilan ini dikenakan pajak tersendiri
(final) sehingga dipisahkan (tidak perlu digabung) dengan penghasilan lainnya dalam
menghitung PPh yang terutang. Misalnya :
 Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek
 Penghasilan dari hadiah undian
 Penghasilan bunga tabungan, deposito, jasa giro dan diskonto BI
 Penghasilan bunga/diskonto obligasi yang dijual di bursa efek
 Penghasilan atas persewaan tanah dan bangunan
 Penghasilan dari jasa konstruksi (Pengusaha Konstruksi Kecil)
 Penghasilan WP perusahaan pelayaran dalam negeri
Menurut akuntansi komersial merupakan beban (biaya) sedangkan menurut ketentuan
PPh tidak dapat dibebankan (Pasal 9 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000), misalnya
biaya-biaya yang menurut ketentuan PPh tidak dapat dibebankan karena tidak
memenuhi syarat-syarat tertentu. Misalnya; daftar nominatif biaya entertainment, daftar
nominatif atas peghapusan piutang), pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk
apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi
kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi, dll
2. Beda Sementara
Beda sementara adalah perbedaan yang terjadi secara fiskal karena perbedaan
pengakuan waktu dan biaya dalam menghitung laba. adapun unsur-unsur yang menjadi
objek dalam beda sementara adalah
 Metode Penyusutan dan atau Amortisasi
 Metode penilaian persediaan
 Penyisihan piutang tak tertagih
 Rugi-laba selisih kurs
 Kompensasi Kerugian
 Penyisihan bonus

PENGERTIAN PAJAK TANGGUHAN


Pajak tangguhan pada prinsipnya merupakan dampak PPh di masa yang akan datang
yang disebabkan oleh perbedaan temporer (waktu) antara perlakuan akuntansi dan
perpajakan serta kerugian fiskal yang masih dapat dikompensasikan di masa datang (tax
loss carry forward) yang perlu disajikan dalam laporan keuangan dalam suatu periode
tertentu.
Dampak PPh di masa yang akan datang yang perlu diakui, dihitung, disajikan dan
diungkapkan dalam laporan keuangan, baik neraca maupun laba rugi. Suatu perusahaan
bisa saja membayar pajak lebih kecil saat ini, tapi sebenarnya memiliki potensi hutang
pajak yang lebih besar di masa datang. Atau sebaliknya, bisa saja perusahaan membayar
pajak lebih besar saat ini, tetapi sebenarnya memiliki potensi hutang pajak yang lebih
kecil di masa datang. Bila dampak pajak di masa datang tersebut tidak tersaji dalam
neraca dan laba rugi, maka laporan keuangan bisa saja menyesatkan pembacanya.

METODE PENANGGUHAN DALAM PAJAK PENGHASILAN


a. Deferred Method (Metode Penangguhan)
Metode ini menggunakan pendekatan laba rugi (Income Statement Approach) yang
memandang perbedaan perlakuan antara akuntansi dan perpajakan dari sudut pandang
laporan laba rugi, yaitu kapan suatu transaksi diakui dalam laporan laba rugi baik dari
segi komersial maupun fiskal. Pendekatan ini mengenal istilah perbedaan waktu dan
perbedaan permanen. Hasil hitungan dari pendekatan ini adalah pergerakan yang akan
diakui sebagai pajak tangguhan pada laporan laba rugi. Metode ini lebih menekankan
matching principle pada periode terjadinya perbedaan tersebut.
b. Asset-Liability Method (Metode Asset dan Kewajiban)
Metode ini menggunakan pendekatan neraca (Balance Sheet Approach) yang
menekankan pada kegunaan laporan keuangan dalam mengevaluasi posisi keuangan dan
memprediksikan aliran kas pada masa yang akan datang. Pendekatan neraca
memandang perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan dari sudut pandang neraca,
yaitu perbedaan antara saldo buku menurut komersial dan dasar pengenaan pajaknya.
Pendekatan ini mengenal istilah perbedaan temporer dan perbedaan non temporer.
c. Net-of-Tax Method (Metode Bersih dari Pajak)
Metode ini tidak ada pajak tangguhan yang diakui. Konsekuensi pajak atas perbedaan
temporer tidak dilaporkan secara terpisah, sebaliknya diperlakukan sebagai penyesuaian
atas nilai asset atau kewajiban tertentu dan penghasilan atau beban yang terkait. Dalam
metode ini, beban pajak yang disajikan dalam laporan laba rugi sama dengan jumlah
pajak penghasilan yang terhutang menurut SPT tahunan.

BAGAIMANA CARA MENENTUKAN PAJAK TANGGUHAN


a. Pengakuan (Recognition)
Standar yang mengatur bahwa dampak PPh atas perbedaan temporer dan tax loss carry
forward (TLCF) atau kompensasi rugi harus diakui dalam laporan keuangan. Pengakuan
ini menyiratkan bahwa perusahaan pelapor akan memulihkan nilai tercatat asset pajak
tangguhan atau deferred tax asset (DTA) dan akan melunasi nilai tercatat dalam
kewajiban pajak tangguhan atau deferred tax liability (DTL) tersebut.
b. Pengukuran (Measurement)
Cara menghitung jumlah yang harus dibukukan dalam buku besar perusahaan. Dalam
hal ini pajak tangguhan akan dihitung dengan menggunakan tarif yang berlaku atau
efektif akan berlaku di masa yang akan datang.
c. Penyajian (Presentation)
Standar yang menentukan cara penyajian di dalam laporan keuangan, baik dalam neraca
ataupun laba rugi. Asset pajak tangguhan (DTA) atau kewajiban pajak tangguhan (DTL)
harus disajikan secara terpisah dari asset atau kewajiban pajak kini dan disajikan dalam
unsur non current dalam neraca.
d. Pengungkapan (Disclosure)
Berkaitan dengan standar informasi yang perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan.Misalnya unsur-unsur utama perbedaan temporer yang menimbulkan pajak
tangguhan, unsur-unsur yang dibebankan langsung ke laba ditahan, perubahan tarif
pajak dan sebagainya.