Anda di halaman 1dari 8

Teman-teman silahkan Anda kerjakan tugas dua di bawah ini dengan cermat dan teliti.

Upload
tuas 2 di halaman tugas 2 yang telah kami sediakan. Hindari plagiasi dalam mengerjakan tugas.
Selamat mengerjakan:

1. Dalam wacana di atas tampak adanya permasalahan yang berkaitan dengan pendapat
umum yang muncul akibat pemberitaan media massa. Proses terbentuknya pendapat
umum tersebut dinilai oleh KPU dan Dewan Pers tidak melalui cara-cara yang benar
berdasarkan kaidah jurnalistik, sehingga pendapat umum yang terbentukpun dinilai
malah membingungkan masyarakat. Salah satu teori komunikasi massa yang berkaitan
dengan terbentuknya pendapat umum adalah teori Spiral Kebisuan (Spiral of Silence).
Analisislah permasalahan tersebut dengan menggunakan teori Spiral Kebisuan (Spiral
of Silence) Untuk itu, tahapan yang harus Anda lakukan adalah
a. Jelaskan pengertian dari teori Spiral of Silence !
b. Analisislah permasalahan yang berkaitan dengan pendapat umum
yang muncul akibat pemberitaan media massa tersebut dengan menggunakan teori
Spiral of Silence

2. Pada wacana disampaikan bahwa KPI dan Dewan Pers menyesalkan pemberitaan
media massa tentang kasus teror bom yang dikhawatirkan akan menimbulkan
kebingungan masyarakat. Menurut Anda bagaimana sebaiknya media massa
merancang program siaran berita untuk menyiarkan berita tersebut?, karena di satu sisi
berita tersebut selayaknya diketahui oleh masyarakat umum, namun di sisi lain harus
dicegah munculnya persepsi yang keliru di masyarakat, karena penyampaian berita
yang membingungkan? Gunakan model Framing Entman dalam merancang program
tersebut, dengan tahapan yang harus Anda lakukan sebagai berikut:
A. Jelaskan pengertian dari model Framing Entman beserta unsur-unsurnya
B. Buatlah perencanaan program siaran berita untuk menyiarkan berita terorisme yang
tidak membingungkan dan menimbulkan salah persepsi di kalangan masyarakat.

Jawaban no 1
Teori spiral keheningan memiliki tiga asumsi dasar yang membahas
bagaimana keberanian minoritas dipengaruhi oleh kelompok mayoritas dalam
mengemukakan pendapat. Fenomena spiral keheningan (spiral of
silence) secara teori dapat menjelaskan sebagai sebuah dampak dari media
massa dalam proses terbentuk opini publik. Selanjutnya teori ini juga
membahas bagaimana pandangan mayoritas yang menekan
pandangan minoritas.
Seseorang yang berada pada posisi minoritas sering merasa perlu
menyembunyikan pendapatnya ketika berada dalam kelompok mayoritas.
Sebaliknya, mereka yang berada di pihak mayoritas akan merasa percaya diri
dengan pengaruh dari pandangan mereka dan terdorong untuk
menyampaikannya kepada orang lain.
Maka dari itu, hal ini berangkat dari asumsi akan adanya ketakutan dari
individu-individu akan isolasi dari masyarakat. Ketakutan itu muncul jika
individu-individu mempunyai opini yang berbeda bahkan berseberangan
dengan opini mayoritas masyarakat.

Teori Spiral Keheningan (Spiral of


Silence)
Elisabeth Noelle-Neumann : Spiral Keheningan (Spiral of Silence)
Spiral keheningan memiliki empat unsur pokok. yaitu Media Massa,
Komunikasi Antar-pribadi dan jalinan interaksi sosial. Pernyataan individu
tentang suatu hal, dan Persepsi orang lain/kecenderungan pendapat tentang
suatu fenomena.
Secara sosiologis, teori Spiral keheningan mengakui bahwa
ketakutan individu akan isolasi ini hanya berlaku pada masyarakat kurang
terdidik dan miskin, irasional, dan tidak memiliki dedikasi untuk
mengemukakan pendapatnya secara bebas dan bertanggung jawab.

Asumsi Dasar Teori


Elisabeth Noelle-Neumann menjelaskan tiga asumsi teori spiral keheningan
(spiral of silence) sebagai dasar pemikirannya. Asumsi tersebut membahas
bagaimana keheningan terbentuk pada kelompok minoritas ketika berada
pada kelompok mayoritas.
1. Masyarakat mayoritas mengancam individu yang menyimpang dengan
adanya isolasi, dengan demikian kelompok minoritas akan merasa takut
terhadap isolasi orang-orang yang berkuasa.
2. Rasa takut akan isolasi membuat individu untuk setiap saat mencoba
menilai iklim opini. Dan ketiga, perilaku publik di pengaruhi oleh penilaian
akan opini publik.

Peran Media Massa


Media berfungsi menyebarluaskan opini publik yang menghasilkan pendapat
atau pandangan yang dominan. Sementara individu dalam hal menyampaikan
pandangannya akan bergantung pada pandangan yang dominan. Penemu
Teori Spiral of Silence, Noelle-meumann memaparkan bahwa media tidak
memberikan interpretasi yang luas dan seimbang terhadap peristiwa sehingga
masyarakat memiliki pandangan terhadap realita secara terbatas dan sempit.
Media memberikan kontribusi terhadap munculnya spiral keheningan (Spiral
of Silence) karena media memiliki kemampuan untuk menentukan dan
menyebarluaskan pendangan-pandangan yang mereka nilai lebih tepat. Oleh
karena itu mereka yang memiliki pandangan yang bertentangan dengan
pandangan khalayak umum, lebih sulit untuk mendapatkan tempat di media.
Ditambah lagi pandangan minoritas pun cenderung menjadi kambing
hitam oleh media.
Media massa memiliki tiga sifat atau karakteristik yang berperan membentuk
opini publik yaitu:
1. Ubikuitas: Mengacu pada fakta. Media merupakan sumber informasi yang
luas karena terdapat dimana saja, dengan kata lain, ubikuitas dapat
didefinisikan sebagai kepercayaan. Kepercayaan bahwa media terdapat
dimana-mana.
2. Kumulatif: Pengaruh timbal balik dalam membangun kerangka acuan.
Dalam hal ini media mengacu pada proses media yang selalu mengulang-
ulang apa yang diberitakan. Pengulangan terjadi disepanjang program, baik
pada satu media tertentu ataupun pada media lainnya, baik yang sejenis
maupun tidak.
3. Konsonan: Konsonan dihasilkan berdasarkan kecenderungan media untuk
menegaskan atau melakukan konfirmasi terhadap pemikiran dan pendapat
mereka sendiri dan menjadikan pemikiran dan pendapat itu seolah-olah
berasal dari masyarakat.

Kritik
Charles Salmon dan rekan (1985) mengemukakan sebuah kritik terhadap
teori spiral keheningan (spiral of silence) yang menyatakan bahwa teori ini
gagal mengakomodir keterlibatan ego seseorang dalam perkembangan
sebuah isu dan opini publik. Kadang-kadang, orang mungkin bersedia untuk
berbicara setiap munculnya keinginan mereka terlibat dan mengemukakan
pendapat dalam topik tersebut.
Carroll Glynn dan rekan (1985) mencatat dua kekurangan dan kritik teori
spiral keheningan (spiral of silence). Pertama, mereka percaya bahwa
ketakutan akan keterbatasan mungkin tidak dapat memotivasi orang untuk
mengekspresikan pendapat mereka. Kedua, mereka berpendapat bahwa
Noelle-Neumann tidak mengakui pengaruh masyarakat dan kelompok
sebagai referensi terhadap pendapat mereka dan hanya berfokus pada
media.
Lebih lanjut, teori ini terus di validasi oleh kalangan akademisi untuk
meramalkan dan menjelaskan fenomena komunikasi yang terjadi. Namun,
munculnya berbagai media seperti media sosial telah memberikan dampak
pada keberanian minoritas untuk mengemukakan pendapat. Dalam kondisi
ini, Teori Spiral Keheningan terasa tidak mampu menjelaskan fenomena
tersebut secara lengkap dan akurat.
Kelemahan teori yang terjadi karena bertambahnya media ini menjadi
pembuka jalan bagi para ahli untuk melahirkan pemikiran baru dalam
melakukan modifikasi teori maupun melahirkan teori baru. Teori yang tidak
dapat lagi menjelaskan fenomena secara lengkap akan merubah teori
tersebut menjadi sebuah asumsi saja.

Jawaban no 2
Robert M. Entman adalah salah seorang ahli yang meletakan dasar-dasar bagi analisis
framing untuk studi isi media. Konsep mengenai framing ditulis dalam sebuah artikel
untuk Journal of Political Communication. [1] Konsep framing, Entman sering digunakan untuk
menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media.
Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang
khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu lain. Framing
memberikan tekanan lebih pada bagaimana teks komunikasi ditampilkan dan bagian mana
yang ditonjolkan oleh pembuat teks.

Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan
aspek-aspek tertentu dari realitas. Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih
bermakna, lebih menarik, berarti, atau lebih diingat oleh khalayak. Dalam praktiknya, framing
dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain; dan
menonjolkan aspek dari isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana- penempatan
yang mencolok, pengulangan, pemakaian grafis yang mendukung dan memperkuat penonjolan,
pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol
budaya, generalisasi, simplifikasi. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta
apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan dan hendak dibawa ke mana berita
tersebut.

Aspek ini berhubungan dengan pemilihan fakta. Dari realitas yang kompleks dan
beragam itu, aspek mana yang diseleksi untuk ditampilkan? Dari proses ini selalu
Seleksi isu terkandung di dalamnya ada bagian berita yang dimasukan (included), tetapi ada
juga berita yang dikeluarkan (excluded). Tidak semua aspek atau bagian dari isu
ditampilkan, wartawan memilih aspek tertentu dari suatu isu.

Aspek ini berhubungan dengan penulisan fakta. Ketika aspek tertentu dari suatu
Penonjolan
peristiwa tersebut telah dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis? Hal ini sangat
aspek tertentu
berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk
dari isu
ditampilkan kepada khalayak.
Dalam konsep Entman, framing pada asarnya merujuk pada pemberitaan definisi, penjelasan,
evaluasi dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka berpikir tertentu
terhadap peristiwa yang diwacanakan. Wartawan memutuskan apa yang akan ia beritakan, apa
yang diliput dan apa yang harus dibuang, apa yang ditonjolkan dan apa yang harus disembunyikan
kepada khalayak.

Bagaimana suatu peristiwa/isu dilihat? Sebagai apa?


Define problems (Pendefinisian masalah)
Atau sebagai masalah apa?

Peristiwa itu dilihat disebabkan oleh apa? Apa yang


Diagnose causes (Memperkirakan dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah?
masalah atau sumber masalah) Siapa (aktor) yang dianggap sebagai penyebab
masalah?

Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan


Make moral judgement (Membuat
masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk
keputusan moral)
meligitimasi atau mendelegitimasi suatu tindakan?

Treatment Penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi


Recommendation (Menekankan masalah? Jalan apa yang ditawarkan dan harus
penyelesaian) ditempuh untuk mengatasi masalah?

Frame berita timbul dalam dua level. Pertama, konsepsi mental yang digunakan untuk memproses
informasi dan sebagai karakteristik dari teks berita. Kedua, perangkat spesifik dari narasi berita yang
dipakai untuk membangun pengertian mengenai peristiwa. Frame berita dibentuk dari kata kunci,
metafora, konsep, simbol, citra yang ada dalam narasi berita.
Define problems adalah elemen yang pertama kali dapat kita lihat mengenai framing, yang
merupakan master frame paling utama. Ia menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh
wartawan, ketika ada masalah atau peristiwa.
Diagnose causes merupakan elemen framing untuk membingkai siapa yang dianggap sebagai
aktor utama suatu peristiwa. Penyebab disini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti siapa
(who).
Make moral judgement adalah elemen framing yang dipakai untuk membenarkan argumentasi
pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat. Gagasan yang dikutip berhubungan dengan
sesuatu yang familiar dan dikenal oleh khalayak.
Treatment recommendation elemen ini dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki oleh
wartawan. Jalan apa yang dipilih untuk menyeleasikan masalah. Penyelesaian itu tentu saja sangat
tergantung pada bagaimana peristiwa itu dilihat dan siapa yang dipandang sebagai penyebab
masalah.

Media massa pada dasarnya adalah media diskusi publik tentang suatu masalah yang
melibatkan tiga pihak: wartawan, sumber berita dan khalayak. Ketiga pihak itu mendasarkan
keterlibatannya pada peran sosial masing-masing dan hubungan di antara mereka terbentuk
melalui operasionalisasi teks yang mereka konstruksi.Masing-masing pihak menyajikan
perspektif untuk memberikan pemaknaan terhadap suatu persoalan agar diterima oleh
khalayak. Media massa dilihat sebagai forum bertemunya pihak-pihak dengan kepentingan,
latar belakang dan sudut pandang yang berbeda pula.

Anda mungkin juga menyukai