Anda di halaman 1dari 18

REKAYASA IDE

PEMBUATAN LAPORAN KEUANGAN

Uang Dinar

DOSEN PENGAMPU:

.AKMAL HUDA NASUTION,.SE,.M.Si

MATA KULIAH:

Pengantar Akuntansi

DISUSUN OLEH:

M.Firmansyah

(7182220003)

AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

TAHUN 2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat,karunia serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan rekayasa
ide ini tentang solusi terbaik dalam mengatasi kesulitan menyusun laporan
mengapa dinar masih bertahan hingga saat ini dengan baik,meskipun masih
terdapat banyak kesalahan di dalamnya.Dan juga saya berterima kasih kepada
bapak nasirwan selaku dosen pengampu mata kuliah pengantar akuntansi.

Semoga makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai masalah ukm.Rekayasa ide ini mengkin terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu,saya berharap adanya
kritik, saran, dan usulan demi perbaikan Rekayasa Ide yang telah saya
buat,mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga Rekayasa Ide sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya
sendiri maupun orang membacanya.Sebelumnya saya mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan
saran yang membangun dari anda demi perbaikan Rekayasa Ide ini di waktu yang
akan datang.

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

RINGKASAN …………………………………………………………………….4

-Latar belakang…………………………………………………………………….4

-tujuan ………………………………………………………………………….…4

-landasan teori yang mendukung…………………………………………….……4

-metode penulisan ………………………………………………………………...4

-pembahasan ………………………………………………………………………4

-kesimpulan ……………………………………………………………………….5

-rekomendasi ……………………………………………………………………...5

PENDAHULUAN …………………………………………………………..……6

GAGASAN……………………………………………………………………..…7

KESIMPULAN……………………………………………………………………8

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………..…


9

LAMPIRAN …………………………………………………………………..…10

3
RINGKASAN

A. Latar belakang
Latar belakang dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami
fungsi dinar dan nilai dinar.
B. Tujuan
Untuk mengetahui mengapa nilai dinar dari dulu (zaman nabi) masih
bertahan hingga kini.
C. Teori

Secara bahasa, dinar berasal dari bahasa Yunani “denarius”, yaitu


mata uang yang terbuat dari emas. Dan dirham berasal dari kata
“drachma” yang terbuat dari perak. Dinar dan dirham berlaku
sebagai alat pembayaran.[1] Menurut hukum Islam, dinar yang
dipergunakan adalah setara 4,25 gram emas 22 karat dengan
diameter 23 milimeter. Standar ini telah dipergunakan oleh World
Islamic Trading Organization (WITO) hingga saat ini. Sedangkan
uang dirham setara dengan 2,975 gram perak murni.[2]

D. Metode penulisan
Metodologi penelitian yaitu seperangkat pengetahuan tentang langkah
langkah yang sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan
dengan
masalah tertentu yang diolah, dianalisis, diambil kesimpulan dan
selanjutnya dicarikan pemecahannya
E. Pembahsan
UKM (Usaha Kecil dan Menengah) merupakan kegiatan ekonomi yang
sangat nyata yang ada di Indonesia. UKM sangat berperan penting
terhadap kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya terhadap
perkembangan dan kemajuan perekonomian Indonesia. Selain itu, UKM
juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja, artinya UKM juga berperan
menciptakan lapangan pekerjaan. Menurut Keppres RI No. 99 Tahun 1998
pengertian UKM (Usaha Kecil dan Menengah) adalah “Kegiatan ekonomi
rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas

4
merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari
persaingan usaha yang tidak sehat” (Irriyanti, 2012).
F. Kesimpulan
Masih terdapatmya banyak UKM yang tidak memiliki pencatatan yang
lengkap mengenai siklus akuntansi yang menyebabkan adanya kekeliruan
dalam penghitungan rugi atau untung dari usaha tersebut.
G. Rekomendasi
Para pemilik UKM hendaknya membuat laporan keuanhan secara
sederhana minimal untuk dapat mengetahui dengan jelas keluar dan
masuknya modal tersebut dan bertambah atau malah berkurangnya laba
dari penjualan yang dilakukan oleh ukm tersebut.

5
PENDAHULUAN

(Alexander, 2002; Supardi 2008; Wuwei 2009). Usaha kecil dan menengah
(UKM) adalah salah satu bidang yang memberikan kontribusi yang segnifikan
dalam memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan daya serap
UKM terhadap tenaga kerja yang sangat besar dan dekat dengan rakyat kecil
(Kuncoro, 2008, Sripo, 2010). Masalah utama yang dihadapi oleh UKM adalah
pemasaran (Hafsah, 2004; Kuncoro, 2008; Kurniawan, 2009; Supardi, 2009).
Pemasaran dengan metode konvensional memerlukan biaya tinggi, misalnya
membuka cabang baru, ikut pameran, pembuatan dan penyebaran brosur dan
sebagainya. Berkembangnya internet menjadi sarana yang efisien untuk membuka
jalur pemasaran model baru bagi produk UKM. Di samping biayanya relatif
murah, dengan memanfaatkan internet penyebaran informasi akan lebih cepat dan
jangkauannya lebih luas(Supardi, 2009).

6
GAGASAN

Di Indonesia, definisi UMKM diatur dalam Undang-Undang Republik

Indonesia No.20 Tahun 2008 tentang UMKM.1Pasal 1 dari UU terebut,


dinyatakan

bahwa Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau
badan

usaha perorangan yang memiliki kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam
UU

tersebut.2 Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang

dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang buka merupakan anak

perusahan atau bukan anak cabang yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian,
baik

langsung maupun tidak langsung, dari usaha menengah atau usaha besar yang

memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam UU tersebut.3

Sedangkan usaha mikro adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri

yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak

perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi

bagian baik langsung maupun tidak langsung, dari usaha mikro, usah kecil atau
usaha

besar yangmemenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana dimaksud dalam UU

tersebut.4

Di dalam Undang-undang tersebut, kriteria yang digunakan untuk

mendefinisikan UMKM seperti yang tercantum dalam Pasal 6 adalah nilai


kekayaan

bersih atau nilai aset tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau hasil

7
penjualan tahunan. Dengan kriteria sebagai berikut:

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pendapat dan data mengenai nilai uang dinar yang dilakukan
oleh penulis maka dapat disimpulkan bahwa:

1.

8
DAFTAR PUSTAKA

Https://www.kompasiana.com

Https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/ohk0cu313

http://ekonomiislam1301.blogspot.com/2014/07/sejarah-dinar-dan-dirham.html

https://islamidia.com/dinar-dirham-harganya-sama-sejak-zaman-rasul-sampai-
sekarang/.

 islampos.com

Secara bahasa, dinar berasal dari bahasa Yunani “denarius”, yaitu mata
uang yang terbuat dari emas. Dan dirham berasal dari kata “drachma” yang
terbuat dari perak. Dinar dan dirham berlaku sebagai alat pembayaran.[1] Menurut
hukum Islam, dinar yang dipergunakan adalah setara 4,25 gram emas 22 karat
dengan diameter 23 milimeter. Standar ini telah dipergunakan oleh World Islamic
Trading Organization (WITO) hingga saat ini. Sedangkan uang dirham setara
dengan 2,975 gram perak murni.[2]

9
Wacana tentang isu penyatuan mata uang negara-negara di ASEAN menjelang
pemberlakuan MEA pada akhir tahun 2015 mendatang sedang menjadi isu hangat untuk
diperbincangkan. Dalam penyatuan mata uang tersebut dinar dan dirham dianggap
paling ideal untuk menjadi mata uang tunggal ASEAN. Dinar dan dirham yang terbuat
dari emas dan perak dinilai sebagai alternatif alat transaksi yang ideal karena dapat
menghindari risiko-risiko penggerusan nilai yang diakibatkan oleh inflasi, meskipun ada
beberapa kelemahan yang tetap harus dipertimbangkan.

Keunggulan Dinar dan Dirham

10
Penyatuan mata uang negara-negara ASEAN menjadi salah satu tujuan dari rumusan
awal cetak biru dalam pengembangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dimana
tujuan penyatuan tersebut adalah untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dengan
berkurangnya biaya transaksi dan meningkatkan transparansi harga sehingga ada
peningkatan aktivitas ekonomi di negara-negara ASEAN. Maka dari itu dinar dan dirham
dianggap paling ideal dalam penyatuan mata uang ASEAN untuk mewujudkan tujuan
tersebut

Dinar dan dirham memang telah dikenal sejak ratusan tahun lalu, pertama kali
diperkenalkan oleh bangsa Romawi kuno pada tahun 211 SM, di Indonesia sendiri
sejarah dinar sudah ditemukan sejak abad ke-13. Mengapa Dinar dan dirham? Karena
dinar dan dirham mempunyai keunggulan sebagai mata uang yang dipergunakan untuk
alat transaksi. Keunggulan pertama, uang dinar dan dirham memiliki nilai nominal (nilai
yang tertera dalam mata uang) yang sama dengan nilai instrinsiknya (nilai sebenarnya),
sehingga mempunyai nilai yang stabil. Pemerintah tidak dapat sesuka hatinya untuk
mencetak uang, berbeda dengan uang fiat, pemerintah bisa mencetak uang fiat
berapapun yang diinginkan karena uang fiat tidak mempunyai nilai instrinsik pada
dirinya sendiri. Misalnya, apabila disyaratkan pada setiap bank memiliki jumlah
cadangan sebesar 10%, dengan jumlah deposit Rp 1.000, maka bank bisa saja
menggandakan jumlah deposit menjadi Rp 10.000. Pemerintahbisa mendapatkan
keuntungan dari perbedaan biaya percetakan dan nilai legal uang. Sehingga pada
akhirnya juga akan menimbulkan inflasi karena penggandaan uang.

Kedua, nilai tukar mata uang dinar dan dirham lebih stabil, sehinggakita dapat terhindar
dari upaya-upaya spekulasi dipasar valas. Kestabilan pada uang dinar dan dirham juga
akan mampu mengurangi dan menghapus resiko nilai tukar, yang akan menghindarkan
para eksportir maupun importir dari ketidakpastian, yaitu kurs yang tidak tetap
(fluktuatif). Hal tersebut akan mendatangkan keuntungan pada aktivitas ekonomi
terutama perdagangan internasional. Keunggulan Ketiga, berapapun kuantitas uang
dinar dan dirham yang ada di suatu negara, banyak ataupun sedikit masih bisa
mencukupi kebutuhan pasar dalam pertukaran mata uang. Misalnya jumlah uang tetap,
tetapi barang dan jasa bertambah, maka uang yang ada masih mampu untuk membeli
barang dan jasa secara maksimal. Apabila jumlah uang tetap, tetapi barang dan jasa
berkurang, uang yang tersedia hanya akan menurunkan daya beli. Tidak seperti pada
sistem uang kertas, apabila negara mencetak semakin banyak uang kertas, maka daya
beli uang tersebut akan menurun dan terjadilah inflasi.

Sisi Lain Dari Dinar dan Dirham

Memang benar banyak keunggulan yang diberikan oleh uang dinar dan dirham, tetapi
dibalik keunggulan-keunggulan tersebut tersimpan sisi lain dari dinar dan dirham, yaitu
kelemahan-kelemahannya. Dinardan dirham ternyata mempunyai nilai yang kurang
stabil. Memang benar nilai intrinsik yang ada didalam dinar dan dirham akan membuat
nilai mata uangnya tetap stabil, tetapi hal tersebut tidak akan menjamin jumlah suatu
barang dan jasa yang dapat diperoleh dengan dinar dan dirham akan memiliki kuantitas

11
yang tetap sama selamanya. Misalnya, di dalam sebuah negara terdapat 100
dinar/diham yang beredar dan jumlah barang/jasa yang dihasilkan 100 itu berarti 1
barang/jasa dihargai 1 dinar/dirham. Kemudian terjadi kenaikan produksi barang/jasa
menjadi 150 dengan jumlah dinar/dirham yang tetap. Sehinggaakan terjadi deflasi 
karena harga satuan barang/jasa turun. Sebaliknya, apabila pemerintah mengedarkan
lebih banyak dinar/dirham menjadi 150 dinar/dirham sementara jumlah barang/jasa
yang diproduksi tetap sama yaitu 100, maka akan terjadi inflasi. Karena harga satuan
barang/jasa yang dihasilkan akan meningkat.

Dalam mempertahankan kestabilan nilai dinar dan dirham ketika terjadi kenaikan
produksi barang dan jasa, pemerintah harus menyediakan persediaan dinar dan dirham
dengan jumlah yang sebanding dengan jumlah barang dan jasa. Suatu hal yang tidak
mudah untuk negara-negara yang tidak memiliki tanah yang mengandung cukup
cadangan emas. Mereka akan kesulitan untuk mencukupi kekurangan persediaan dinar
dan dirham untuk negaranya. Selain itu mengenai masalah teknis penggunaan dinar dan
dirham, masyarakat akan merasa kesulitan apabila mereka harus membawa uang dalam
bentuk emas atau perak apabila akan bertransaksi. Dalam hal transaksi jual beli, kita
juga akan mengalami kesulitan, misalnya kita ingin membeli sebungkus krupuk atau
sebutir permen, berapa dinar/dirham yang harus kita bayar dan sekecil apa
dinar/dirham tersebut? Selain itu apabila kita akan membeli mobil, berapa banyak
dinar/dirham yang harus kita bayar dan bagaimana cara kita membawa dinar/dirham
sebanyak itu? Kita akan benar-benar kesulitan apabila mengalami hal tersebut.

Sekarang kita tahu kelemahan dan kekurangan dari dinar dan dirham, walaupun belum
sampai terperinci. Mungkinkah dinar dan dirham cocok apabila digunakan kembali di
zaman modern ini, sepertinya pemerintah di negara-negara ASEAN harus benar-benar
memikirkan dan mempertimbangkan untuk menggunakan dinar dan dirham menjadi
mata uang tunggal di ASEAN. Memang benar dinar dan dirham mempunyai banyak
keunggulan tetapi pemerintah juga harus memerhatikan sisi lain dari dinar dan dirham,
yaitu kelemahannya. Selain itu juga harus melihat kondisi perekonomian saat
inidimasing-masing negara, apakah memungkinkan untuk melakukan penggabungan
mata uang dengan menggunakan dinar atau dirham. Sepertinya dinar dan dirham tidak
cocok digunakan dizaman modern ini, karena terdapat banyak kelemahan. Tidak semua
negara ASEAN mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik, dan tidak semua
negara-negara di ASEAN mempunyai tanah yang cukup cadangan emas. Apakah akan
tetap setia pada uang fiat (uang kertas) atau akan kembalipada uang dinar dan
dirham? Kita tunggu saja, semoga masyarakat mendapatkan pilihan yang terbaik.

Sejarah

Sejarah Dinar dan Dirham

12
Secara bahasa, dinar berasal dari bahasa Yunani “denarius”, yaitu mata
uang yang terbuat dari emas. Dan dirham berasal dari kata “drachma” yang
terbuat dari perak. Dinar dan dirham berlaku sebagai alat pembayaran.[1] Menurut
hukum Islam, dinar yang dipergunakan adalah setara 4,25 gram emas 22 karat
dengan diameter 23 milimeter. Standar ini telah dipergunakan oleh World Islamic
Trading Organization (WITO) hingga saat ini. Sedangkan uang dirham setara
dengan 2,975 gram perak murni.[2]
Dinar dan dirham adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar
baik sebelum datangnya Islam maupun sesudahnya. Dalam bentuk yang
sederhana, uang emas dan perak diperkenalkan oleh Julius Cesar dari Romawi
sekitar tahun 46 SM. Julius Cesar pula yang memperkenalkan standar konversi
dari uang emas dan ke uang perak dengan perbandingan 1:12 emas terhadap
perak.[3]
Pada masa sebelum datangnya Islam, uang dinar merupakan uang yang
digunakan dalam transaksi perdagangan. Menurut keterangan Abdul Qadim
Zallum, dinar dan dirham telah dikenal oleh bangsa Arab sebelum datangnya
Islam. Mata uang ini diperoleh dari hasil perdagangan yang mereka lakukan di
negara-negara sekitarnya. Para pedagang jika pulang dari Syam membawa dinar
emas Romawi (Byzantium), dan dari Irak membawa dirham perak Persia
(Sassanid). Dengan demikian sudah banyak mata uang asing yang masuk berupa
dinar emas Romawi dan dirham perak Persia.[4]
Ketika Rasulullah SAW datang sebagai tanda kedatangan Islam, beliau
mengankui berbagai transaksi yang menggunakan dinar Romawi dan dirham
Persia, serta standar timbangan yang berlaku di kalangan kaum Quraysy untuk
menimbang berat dinar dan dirham. Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah
bersabda, “Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah
takaran penduduk Madinah” (HR. Abu> Dawu>d dan an-Nasa>’i).[5]
Dalam sejarah umat Islam, Rasulullah dan para sahabat menggunakan
dinar dan dirham sebagai mata uang mereka. Di samping sebagai alat tukar, dinar
dan dirham juga dijadikan sebagai standar ukuran hukum-hukum shar’i, seperti
kadar zakat dan ukuran pencurian. Kaum muslim terus menggunakan dinar
Romawi dan dirham Persia dalam bentuk cap dan gambar aslinya sepanjang hidup

13
Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh masa kekhalifahan Abu> Bakar dan pada
kekhalifahan ‘Umar bin Khat}t}a>b.[6]
Pada masa pemerintahannya, khalifah ‘Umar bin Khat}t}a>b pada
tahun 20 hijriah, yaitu tahun kedelapan kekhalifahan ‘Umar bin Khat}t}a>b
mencetak uang dirham baru berdasarkan pola dirham Persia. Berat, gambar,
maupun tulisan Balawinya (huruf Persia) tetap ada, hanya ditambah dengan lafazh
yang ditulis dengan huruf Arab gaya Kufi, seperti
lafaz Bismilla>h dan Bismilla>hi Rabbi>yang terletak pada tepi lingkaranya.
Beliau juga memberi gambar tambahan bertuliskan Alh}amdulilla>h  dan
dibaliknya bertuliskan Muh>ammad Rasu>lulla>h.[7]
Pada awal pemerintahan ‘Umar pernah muncul pemikiran untuk
mencetak uang dari kulit, namun dibatalkan karena tidak disetujui oleh para
sahabat yang lain. Mata uang khalifah Islam yang mempunyai cirian khusus baru
dicetak oleh khalifah Ali bin Abi T{a>lib, namun peredaranya sangat terbatas
karena kondisi politik pada masa tersebut.[8]
Mata uang dengan gaya Persia dicetak pula di zaman Mu’awiyah
dengan dicantumkan gambar dan nama kepala pemerintah pada mata uang. Mata
uang yang beredar pada waktu itu belum berbentuk bulat seperti uang logam
sekarang ini. Baru pada zaman Ibn Zubair dicetak untuk pertama kalinya mata
uang dengan bentuk bulat, namun peredarannya terbatas di Hijaz. Sampai dengan
zaman ini mata uang khalifah beredar bersama dengan dinar Romawi, dirham
Persia.[9]
Barulah pada zaman ‘Abd al-Ma>lik, pemerintah mendirikan tempat
percetakan uang, dan mata uang khalifah dicetak secara terorganisir dengan
pengawasan pemerintah.[10] Beliau mencetak dirham khusus bercorak Islam pada
tahun 75 Hijriah, dan meninggalkan pola dinar Romawi. Gambar-gambar dinar
lama diubah dengan tulisan dan lafaz-lafaz Islam, seperti Alla>h
Ah}ad danAlla>h Baqa’. Sejak itulah orang Islam memiliki dinar dan dirham
Islam yang secara resmi digunakan sebagai mata uangnya.[11] Dalam
perjalanannya sebagai mata uang yang digunakan, dinar dan dirham cenderung
stabil dan tidak mengalami inflasi yang cukup besar kurang waktu 1500 tahun.
[12]

14
Kemudian pada masa pemerintahan Bani Mamlu>k, beredar banyak
jenis mata uang dengan nilai kandungan logam mulia yang berlainan satu sama
lain. Ketika itu, beredar tiga jenis mata uang, yaitu dinar (emas), dirham (perak)
dan fullus (tembaga). Peredaran dinar sangat terbatas, peredaran dirham
berfluktuasi kadang-kadang malah menghilang, sedangkan yang beredar luas
adalah fullus.[13] Fenomena inilah yang dirumuskan oleh Ibn Taymiyah bahwa
uang dengan kualitas rendah akan menendang keluar kualitas yang baik.[14]
Dalam keadaan seperti itu, Ibn Taymiyah meminta Sultan untuk
menghentikan turunnya nilai uang dan menentang percetakan uang yang
berlebihan. Biaya percetakan haruslah menjadi beban anggaran negara yang
diambil dari bayt al-ma>l dan jangan negara berbisnis uang dengan membeli
tembaga kemudian mencetak fullus sehingga mendapat keuntungan dari
percetakan tersebut.[15]
Berdasarkan perkembangan sejarah ini, terdapat tiga mata uang yang
pernah digunakan dalam pemerintahan Islam, yaitu dinar dengan bahan dasar
emas, dirham dengan bahan dasar perak, dan fullus dengan bahan dasar tembaga.
Penggunaan dinar dan dirham telah menciptakan suatu stabilitas dalam
perekonomian di pemerintahan Islam pada masa itu, meskipun mengalami
kesulitan apabila harus menggunakannya untuk transaksi yang kecil. Sehingga
kemudian muncullah mata uang baru, yaitu fullus. Pada awalnya fullus membantu
mendorong perekonomian. Tetapi, semenjak pemerintahan Islam menjadikan
fullus sebagai objek untuk berbisnis uang serta pencetakan yang berlebihan, hal
itu telah menimbulkan instabilitas dalam perekonomian.[16]

[1] Mochtar Effendy, Ensiklopedi Agama dan Filsafa, jilid. 2 (Palembang:


Universitas Sriwijaya, 2001), 71.
[2] Nurul Huda, et al., Ekonomi Makro Islam: Pendekatan Teoritis (Jakarta: Kencana,
2008), 99.
[3] Muhaimin Iqbal, Dinar The Real Money: Dinar Emas, Uang dan
Investasiku (Jakara: Gema Insani Press, 2009), 29.
[4] Muhammad, Kebijakan Fiskal dan Moneter, 20.
[5] Suprayitno, Ekonomi Islam, 199.
[6] Nur Rianto, Teori Makroekonomi Islam, 67.
[7] Quthb Ibrahim Muhammad, Kebijakan Ekonomi ‘Umar bin Khattab, terj. Ahmad
Syarifuddin Shaleh (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), 142.
[8] Nur Rianto, Teori Makroekonomi Islam, 68.

15
“Ali bin Abdullah menceritakan pada kami, Sufyan menceritakan
pada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan pada kami, ia
berkata: saya mendengar penduduk bercerita tentang  Urwah,
bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan uang 1 Dinar kepadanya
agar dibelikan seekor kambing untuk beliau (H.R Bukhari).”

Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing
yang wajar di zaman Rasulullah SAW adalah 1 Dinar.

Jika 1 Dinar saat ini (2011) adalah Rp. 1.950.000 maka nilai Dinar
tetap cukup untuk untuk membeli 1 kambing dengan kualitas terbaik.
Kesimpulannya perbedaan waktu antara pada zaman Rasulullah
SAW sampai hari ini nilai daya belinya masih tetap 1 Dinar hal ini
merupakan bukti nyata jika kita menyimpan Dinar/Emas stabilitas
nilai daya belinya mampu menangkal  kenaikan barang dan jasa.

Coba kita bandingkan misalnya dengan nilai uang rupiah (IDR),


pada tahun 1970 jika harga seekor kambing dengan kualitas yang
bagus di kisararan Rp 7.000 (tujuh ribu rupiah) per ekornya. Tahun
2013 setelah terjadi perbedaan waktu 43 tahun dari 1970-2013,
situasinya berubah.

Uang Rp 7.000 tersebut tidak jadi kita belikan kambing pada saat itu,
kemudian kita simpan dan kita kebetulan lupa menaruhnya dan tiba–
tiba secara tidak sengaja kita menemukan uang yang kita simpan
tersebut di tahun 2013 ini, maka hal yang pasti terjadi uang tersebut
di jamin tidak laku karena cetakan mata uang telah berganti-ganti
seiring periode masa berlakunya yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia (BI).

Apabila uang tersebut kita paksakan untuk dibelanjakan pasti kita


dianggap kurang waras, jika kita tukarkan di BI untuk mendapatkan
nilai pecahan baru dengan nominal yang sama juga pasti akan
ditolak karena batas waktu penukaran dari masa berlakunya telah
habis, otomatis uang kita jadi uang kuno yang hanya berguna untuk
koleksi pribadi dan museum.

Coba kita balik cerita ini menjadi seperti ini, uang Rp 7.000 tersebut
kita belikan emas murni pada saat itu harga emas Rp 500/gr maka
akan mendapatkan 14 gr emas murni, lantas emas tersebut kita
simpan dan seiring dengan berjalannya waktu kita lupa menaruh
atau lupa memilikinya. Kemudian pada tahun 2011 emas murni kita

16
temukan, jika kita uangkan tetap akan laku dan sekaligus jadi
penolong keuangan kita jika harga 14 gr x Rp. 450.000 maka uang
yang kita terima Rp. 6.300.000.

Uang  Rp 7.000 tersebut jika disimpan di bank dalam kurun 41 tahun
maka bunga bank yang kita terima Rp 28.700 dengan asumsi (10%
tahun x 41 tahun) maka uang total pokok dan bunga kita terima
sebesar Rp 35.700 ditahun 2011, maka begitu kita keluar dari bank
uang tersebut yang rencananya kita  belikan 1 ekor kambing dengan
pasaran harganya ditahun 2011 Rp. 1.950.000  dipastikan uang kita
tidak akan cukup untuk membeli kambing tersebut, dengan langkah
lemas dan pasrah yang bisa kita lakukan adalah menuju warung
sate untuk membeli 1 porsi sate kambing plus minuman.

ITULAH gambaran ganasnya pencuri daya beli uang kita yang tidak
pernah dan tidak akan ditangkap polisi. Kalaupun polisi kita hadirkan
dijamin akan mengatakan sebagai berikut “Mana yang dicuri
uangnya? Kan jumlah uangnya benar tetap Rp. 7.000?“ maka
pulanglah polisi tersebut karena tidak cukup bukti dan saksi telah
terjadi tindak pidana pencurian sebagai mana diatur dalam pasal
362 KUHP serta siapa tersangka pelaku pencuriannya juga  tidak
ada. Jadi kasus gugur demi hukum karena alat bukti tidak
mencukupi.

Terkadang yang aneh bin ajaib kita pun tidak sadar merasa
kehilangan karena jumlah uang (nominal) yang tertera pada uang
kita tetap dan kita merasa baik-baik saja, tapi kenyataannya daya
beli uang yang kita simpan terus turun terhadap barang dan jasa.
Maka dari itu kita harus bisa menjadi polisi diri sendiri untuk
menangkap pencuri daya beli uang kita yang dinamai inflasi dengan
melindungi diri (hedging)investasi pada Emas dan Perak.

Dirham (Perak)
Mari kita lihat firman Allah SWT dalam surat Al- Kahfi ayat 19 :

“Dan demikianlah kami bangunkan mereka agar mereka saling


bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang
diantara mereka : “sudah berapa lamakah kamu berada (disini) “.
Mereka menjawab : “kita berada (disini) sehari atau setengah hari“.
Berkata yang lain lagi : “tuhan kamu lebih mengetahui berapa
lamanya kamu berada disini. Maka suruhlah salah seorang diantara
kamu pergi ke kota dengan membawa UANG PERAKMU ini, dan
hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka
hendaklah dia membawa makanan ini untukmu, hendaklah dia

17
berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu
kepada seseorangpun”

Dalam kisah pemuda yang tertidur ratusan tahun kemudian


terbangun ini dijelaskan bahwa UANG PERAK tersebut cukup untuk
membeli makanan. Lalu apakah uang tersebut juga cukup untuk
membeli makanan saat ini?

Anggap  saja pemuda itu mempunyai 1 Dirham, harga 1 Dirham saat


ini adalah Rp 37.000 dan nilai tersebut cukup untuk membeli
makanan. Kejadian ini terjadi sekitar abad ke 3 dan setelah 18 abad
tetap saja Dirham mempunyai daya beli yang sama.

Coba kita bandingkan dengan nilai rupiah, pada tahun 1970 harga
kerupuk sebesar 5 rupiah, setelah 40 tahun kemudian pada tahun
2011 sekarang harga satu krupuk seharga 500 rupiah, dan uang 5
rupiah tersebut sama sekali tidak ada nilainya pada masa sekarang

18