Anda di halaman 1dari 37

Laporan Praktikum Kimia Dasar

KESELAMATAN DAN KETERAMPILAN KERJA DI LABORATORIUM

FIORELLA BADZLI IRHEN LIE

H041201088

LABORATORIUM KIMIA DASAR


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
Laporan Praktikum Kimia Dasar

KESELAMATAN DAN KETERAMPILAN KERJA DI LABORATORIUM

Disusun dan diajukan oleh:

FIORELLA BADZLI IRHEN LIE

H041201088

Makassar, 1 November 2020


Asisten Praktikan,

SULTAN FIORELLA BADZLI


SSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSIRHEN LIE
NIM. H031 17 1009 NIM. H041 20 1088
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Laboratorium merupakan salah satu tempat berkembangnya ilmu

pengetahuan melalui berbagai penelitan dan percobaan, dalam kegiatan

penelitian/percobaan tentunya menggunakan bermacam-macam jenis alat dan

bahan kimia untuk menunjang kegitannya dan beberapa fasilitas pendukung

lainnya seperti air, gas, listrik dan almari asam tentunya alat, bahan kimia dan

fasilitas laboratorium beserta aktivitasnya sangat berpotensi dalam

menimbulkan terjadinya suatu kecelakaan. Potensi bahaya yang terjadi di

laboratorium kimia diantaranya saat pengambilan reagen dari lemari asam

potensi bahaya yang terjadi seperti keracunan, sesak nafas, iritasi mata, iritasi

kulit, dan luka bakar. Kemudian pada saat pengisian buret potensi bahaya yang

terjadi sepeti luka, iritasi mata, dan tertelan bahan kimia. Penggunaan gelas ukur

yang sudah menggumpal mengakibatkan luka gores. Penggunaan oven yang

berisiko menyebabkan kebakaran. Pengambilan reakgen dari lemari/gudang

penyimpanan bahan kimia potensi bahaya yang terjadi ada pusing, mual, sakit

tenggorokan, iritasi mata, dan sesak nafas (Syakbania dan Wahyuningsih, 2017).

Bahkan, data dari OSHA (Occupational Safety and Health Administration)

menyatakan bahwa terjadi hampir sepuluh ribu kasus kecelakaan

(accident) di laboratorium penelitian selama tahun 2005, yang melukai 2 dari

100 ilmuan. (Muafiroh dkk., 2017).


1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari percobaan ini adalah:

1. apa itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)?

2. apakah penting untuk menerapkan K3 di laboratorium kimia?

3. apa fungsi dari MSDS?

4. apa saja bahan kimia yang berbahaya?

5. apa saja alat-alat keselamatan kerja di laboratorium?

6. apa saja alat-alat kimia di laboratorium?

1.3 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.3.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah untuk memperkenalkan kepada

praktikan mengenai keselamatan kerja di Laboratorium Kimia agar tercipta

pelaksanaan praktikum yang benar dan aman.

1.3.2 Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah

1. memahami prinsip-prinsip keselamatan kerja di Laboratorium Kimia.

2. mengenal simbol bahaya bahan kimia dan cara penanganannya.

3. mengenal alat-alat keselamatan dan mengetahui fungsi masing-masing

1.4 Manfaat Percobaan

Manfaat dari percobaan ini adalah menambah wawasan praktikan seputar

K3 Laboratorium, bahan kimia berbahaya, peralatan keselamatan, hingga

peralatan kimia laboratorium.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (3K)

Menurut International Labour Organization (ILO) kesehatan keselamatan

kerja atau Occupational Safety and Health adalah meningkatan dan memelihara

derajat tertinggi semua pekerja baik secara fisik, mental, dan kesejahteraan sosial

di semua jenis pekerjaan, mencegah terjadinya gangguan kesehatan yang

diakibatkan oleh pekerjaan, melindungi pekerja pada setiap pekerjaan dari risiko

yang timbul dari faktor-faktor yang dapat mengganggu kesehatan, menempatkan

dan memelihara pekerja di lingkungan kerja yang sesuai dengan kondisi fisologis

dan psikologis pekerja dan untuk menciptakan kesesuaian antara pekerjaan

dengan pekerja dan setiap orang dengan tugasnya Definisi K3 yang disampaikan

oleh ILO berbeda dengan yang disampaikan oleh Occupational Safety Health

Administrasi (OSHA). Pengertian K3 menurut OSHA adalah kesehatan dan

keselamatan kerja adalah aplikasi ilmu dalam mempelajari risiko keselamatan

manusia dan properti baik dalam industri maupun bukan. Kesehatan keselamatan

kerja merupakan mulitidispilin ilmu yang terdiri atas fisika, kimia, biologi dan

ilmu perilaku dengan aplikasi pada manufaktur, transportasi, penanganan material

bahaya. (Sujoso, 2012).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3 adalah segala bentuk

kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan

tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat

kerja.Lingkungan kerja yang tidak memenuhi syarat Keselamatan dan


Kesehatan Kerja, proses kerja tidak aman, dan sistem kerja yang semakin

komplek dan modern dapat menjadi ancaman tersendiri bagi keselamatan

dan kesehatan pekerja. Kondisi lain adalah, masih kurangnya kesadaran

dari sebagian besar masyarakat perusahaan, baik pengusaha maupun tenaga

kerja akan arti pentingnya K3 merupakan hambatan yang sering dihadapi.

(Ciptaningsih dkk., 2014).

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan suatu kesatuan integral

dalam perencanaan, penyiapan, dan implementasi program science. Keamanan

kerja adalah unsur-unsur penunjang yang mendukung terciptanya suasana kerja

aman, baik berupa materil maupun non materil. Unsur penunjang keamanan

bersifat materil yaitu: jas laboratorium, helm, kacamata pelindung, sarung tangan

dan sepatu. Penunjang keamanan bersifat non-materil berupa buku petunjuk

penggunaan alat, rambut-rambtu dan isyarat bahaya, himbauan-himbauan serta

petugas keamanan. Kesehatan kerja adalah kondisi kesehatan bertujuan pekerja

memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya.. Bekerja dengan selamat dan

aman berarti menurunkan resiko kecelakaan. (Yuliani, 2014).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah salah satu bentuk upaya untuk

menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan,

sehingga dapat mengurangi dan bebas dad kecelakaan keda serta penyakit akibat

kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan prcduktifitas kerja.

Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi

bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara

menyeluruh, rnerusak lingkungan yaog pada akhimya akan berdampak pada

masyarakat luas. Laboratorium umumnya digunakan untuk berbagai kegiatan,


misalnya praktikum, penelitian, dan kegiatan pengujian atau kalibrasi. Oleh

karena dalam laboratorium melibatkan banyak orang, maka risiko bahaya kerja di

laboratorium juga dapat melibatkan banyak orang, sehingga semua yang terlibat di

Iaboratorium harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang keselamatan dan

kesehatan kerja di laboratorium. Masalah keamanan dan keselamatan kerjaa di

laboratorium diberikan perhatian dan penekanan yang cukup sejalan dengan

pelaksanaan kegiatan pendidikan, penelitian dan analisis. Perlu kiranya terus

diupayakan pemberian informasi yang jelas, terperinci dan menyeluruh tentang

bahaya di laboratorium serta berupaya menciptakan keselamatan kerja di

labortorium (Salawati, 2010).

Penyebab terjadinya gangguan kesehatan dan keselamatan kerja, yang

disebabkan oleh faktor manusia (mahasiswa) adalah perilaku mahasiswa dalam

melakukan praktik kerja, kompetensi yang belum dikuasai dengan baik oleh

mahasiswa, prosedur kerja yang tidak diikuti dengan benar, dan kurangnya

pengalaman.Faktor-faktor yang dapat menjadi sumber gangguan kesehatan dan

keselamatan kerja adalah kelelahan fisik berlebihan pada mahasiswa, peralatan

dan bahan-bahan yang digunakan untuk praktik tidak memenuhi syarat/tidak layak

pakai, selain itu peralatan yang tidak dikontrol penggunaannya, seperti melebihi

batas waktu pemakaian sehingga peralatan over heat. Peralatan yang digunakan

tidak sebagaimana mestinya, seperti digunakan sebagai peralatan pengganti atau

digunakan tidak sesuai dengan kegunaannya (Trianti dan Siregar, 2017).

2.2 MSDS
Kecelakaan kerja paling banyak disebabkan oleh perilaku tidak aman,

sisanya adalah kondisi yang tidak aman. Menurut hasil penelitian National Safety

Council (2011), penyebab kecelakaan kerja karena unsafe behavior/perilaku tidak

aman (88%), unsafe condition/kondisi yang tidak aman (10%), dan tidak diketahui

penyebabnya (2%). Oleh karena itu, semua yang akan melakukan praktikum, yaitu

praktikan, wajib menggunakan alat pelindung, memahami penanganan bahan

kimia, maupun alat yang digunakan. Untuk mengetahui penanganan bahan kimia

yang digunakan, praktikan harus sudah membaca Material Safety Data Sheet

(MSDS). (Hidayah dan Maharani, 2018).

Seseorang yang bekerja menggunakan bahan kimia berbahaya atau bahan

berbahaya harus mengetahui risiko yang dibawa oleh bahan tersebut agar dapat

mengelola keamanan diri sendiri dan lingkungannya. Untuk mendapat informasi

keselamatan, seseorang harus membaca lembar data keamanan bahan (material

safety data sheet, disingkat MSDS) terlebih dahulu. Material Safety Data Sheet

(MSDS) adalah dokumen yang berisi informasi tentang potensi bahaya

(kesehatan, kebakaran, reaktivitas dan lingkungan) bahan kimia dan bagaimana

bahan-bahan tersebut dapat berdampak pada kesehatan dan keselamatan di tempat

kerja. Tujuan penyediaan MSDS adalah untuk memberikan informasi tentang

penyimpanan bahan yang tepat, pertolongan pertama, respon tumpahan,

pembuangan yang aman, toksisitas, tingkat kemudahan terbakar, dan informasi

tambahan yang berguna.

Menurut sejarahnya, MSDS biasa digunakan oleh ahli kesehatan dan

profesional keselamatan (safety proffesional), tapi sekarang penggunaan MSDS


meliputi peneliti, pengusaha, supervisor, perawat, dokter, dan personel gawat

darurat. MSDS memberikan informasi bagaimana orang harus menangani atau

bekerja menggunakan materi atau bahan dengan cara yang aman.

Dengan pertimbangan bahwa keselamatan adalah perhatian utama, terdapat

lima informasi utama yang harus digarisbawahi pada MSDS. Informasi tersebut

meliputi:

 Identitas kimia

 Kesehatan dan bahaya fisikokimia

 Prosedus penanganan dan penyimpanan yang aman

 Prosedur darurat

 Pertimbangan pembunangan

Dalam lingkup bahan berbahaya, MSDS juga mengandung simbol yang

mewakili jenis dan tingkat bahaya tertentu. Simbol adalah jalan pintas untuk

meningkatkan kedasaran tentang bahaya suatu zat. Umumnya dua style simbol

diterapkan dalam MSDS, yaitu National Fire Protection Association (NFPA) dan

Hazard Material Information System (HMIS). NFPA mempunyai format berlian

dan HMIS mempunyai format persegi panjang. Setiap warna dari masing-masing

format menunjukkan tingkat bahaya yang berbeda, sebagai berikut:

Biru = bahaya kesehatan

Merah = bahaya kebakaran

Kuning = bahaya reaktivitas

Putih = bahaya khusus atau alat pelindung personal


Warna biru, merah, dan kuning juga berisi nomor/angka yang

menunjukkan tingkat bahaya. Angka baha berkisar 0-4, masing-masing angka

memiliki makna sebagai berikut:

0 = berbahaya minimal 3 = berbahaya serius

1 = berbahaya sedikit 4 = berbahaya parah

2 = berbahaya moderat

Salah satu contoh perbedaan tingkat bahaya pada NFPA dan HMIS terdapat

pada bahan 2-Mercaptoetanol. Menurut NFPA, reaktivitas (warna kuning) bahan

tersebut memiliki nomor 1, sedangkan menurut HMIS, bahan tersebut memiliki

angka 0. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa NFPA dan HMIS memiliki

pertimbangan yang sedikit berbeda untuk menentukan tingkat bahaya suatu bahan.

(Harijati dkk., 2017).

Gambar 1. Contoh perbedaan simbol bahaya berdasarkan NFPA dan HMIS

A.Berdasarkan NFPA. B.Berdasarkan HMIS (Menurut MSDS


ScienceLab.com untuk bahan 2-Mercaptoetanol)
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Bahaya di Laboratorium

Potensi bahaya di laboratorium diantaranya adalah bahaya kimia

termasuk di dalamnya agen penyebab kanker (karsigonik), racun, iritan, polusi,

bahan yang mudah terbakar, asam dan basa kuat, dll. Potensi bahaya biologi

bisa berasal dari darah dan cairan tubuh, spesimen kultur, jaringan tubuh,

hewan percobaan, maupun pekerja lainnya. Potensi bahaya fisik termasuk di

dalamnya radiasi ion dan non ion, ergonomi, kebisingan, tekanan panas,

pencahayaan, listrik, api (Cahyaningrum, 2020). Sumber bahaya tersebesar

berasal dari bahan-bahan kimia sehingga diperlukan pemahaman mengenai jenis

bahan-bahan kimia tersebut. Selain disebabkan oleh bahan kimia, kecelakaan

kerja di laboratorium juga dapat terjadi karena peralatan dan cara kerja. Bahaya

peralatan paling umum banyak terjadi di laboratorium berasal dari peralatan

berdaya listrik dan perangkat untuk menangani gas mampat, tekanan tinggi atau

rendah dan suhu tinggi atau rendah. Kecelakaan juga dapat terjadi karena prosedut

dan perawatan peralatan laboratorium yang tidak benar. (Yuliani, 2014). Salah

satu risiko yang sulit diprediksi dan paling berbahaya yang dihadapi di dalam

laboratorium adalah kadar racun berbagai bahan kimia. Di laboratorium kimia,

tidak ada satu zat pun yang sepenuhnya aman dan semua bahan kimia

menghasilkan efek beracun jika zat tersebut dalam jumlah yang cukup tersentuh

oleh sistem hidup. Banyak bahan kimia memiliki lebih dari satu jenis kandungan

racun. (Moran dan Masciangioli, 2010).


3.2 Simbol Bahan Kimia Berbahaya

Piktogram adalah label berbahaya yang membawa informasi spesifik

tentang bahaya bahan kimia dengan menggunakan simbol ditambah elemen grafis

lainnya, seperti border, pola latar belakang, atau warna. Piktogram memiliki tiga

tempat pelabelan. Pertama, label pada wadah (container) atau tempat kerja. Yang

kedua, label selama pengantaran atau transportasi barang berbahaya, dan yang

ketiga, muncul pada lembar MSDS. Piktogram yang biasa digunakan sesuai

dengan style Euro (Harijati dkk., 2017).

Tabel 1. Simbol zat kimia berbahaya

No Simbol Bahaya Penanganan

1 Bersifat mudah meledak Menghindari bahan-

dengan adanya panas bahan tersebut dari

atau percikan bunga api, pukulan/benturan,

Explosive (Mudah gesekan atau benturan. gesekan, pemanasan,

Meledak) api dan sumber nyala

lain bahkan tanpa

oksigen atmosferik.

2 Bersifat mudah menguap Menghindari bahan-

dan mudah terbakar bahan tersebut dari

melalui oksidasi atau panas dan reduktor.

Oxidizing (Mudah mudah menghasilkan

Teroksidasi) oksigen pada suhu panas

atau pada suhu kamar


3 Bersifat mudah Menjauhkan bahan-

mengakibatkan bahan tersebut dari

kebakaran jika benda-benda yang

Flammable (Mudah berinteraksi atau bereaksi berpotensi

Terbakar) langsung dengan O2 mengeluarkan api.

4 Bersifat korosif, dapat Menghindari kontak

merusak jaringan hidup, langsung antara bahan-

dapat mengiritasi kulit, bahan tersebut dengan

Corrosive (Korosif) gatal-gatal hingga kulit kulit atau dari benda

terkelupas. bersifat logam.

5 Kode Xn : dapat Menghindari kontak

memberikan resiko pada langsung antara bahan-

pernafasana dan kontak bahan tersebut dengan

Harmful Irritant secara langsung. kulit.

(Bahaya Iritasi) Kode Xi : dapat

menyebabkan resiko

inflamasi.

6 Dapat menyebabkan Jangan menelan dan

keracunan yang bersifat jangan mnghirup

akut dan kronis yang bahan-bahan tersebut

Toxic (Beracun) paling parah dan mengjindari kontak

menimbulkan kematian. langsung dengan kulit.


7 Bahan kimia tersebut Tidak membuah limbah

dapat berdampak dalam bahan kimia langsung

kurung waktu lama yang secara bebas.

Dangerous for The kurang baik ataupun Melainkan perlu diolah

Environment efeknya buruk bagi dan perlu penanganan

(Berbahaya bagi kelangsungan ekologi khusus terlebih dahulu.

Lingkungan) (pencemaran air, tanah,

udara, dan juga

mikroorganisme yang

hidup di sekelilingnya).

3.3 Alat-Alat Keselamatan Kerja di Laboratorium

Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan.

Biasanya kecelakaan menyebabkan kerugian material dan penderitaan dari yang

paling ringan sampai pada yang paling berat. Untuk menghindari risiko dari

kecelakaan dan terinfeksinya petugas laboratorium sebaiknya dilakukan tindakan

pencegahan seperti pemakaian APD, apabila petugas laboratorium tidak

menggunakan alat pengaman, akan semakin besar kemungkinan petugas

laboratorium terinfeksi bahan berbahaya. (Perwitasari dan Anwar, 2006). Oleh

karena itu, perlu di ketahui alat-alat keselamatan Kerja yang digunakan

dilaboratorium adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Alat-Alat Keselamatan Kerja di Laboratorium


No Nama Alat Gambar Fungsi

1 Lab coat (Jas lab) Melindungi diri dari

percikan bahan kimia

berbahaya.

2 Safety goggles Melindungi mata dari

(Kacamata keselamatan) percikan larutan kimis

yang berbahaya dan panas.

3 Gas mask (Masker gas) Melindungi organ

pernafasan agar gas

berbahaya tidak terhirup

oleh tubuh.

4 Safety gloves (Kaos Melindungi tangan dari

tangan keselamatan) ceceran larutan kimia yang

berpotensi membuat tangan

gatal/melepuh.

5 Safety shoes (Sepatu Melindungi kaki dari

keselamatan) larutan atau bahan kimia

yang tumpah.

3.4 Alat-Alat Kimia di Laboratorium


Alat merupakan salah satu pendukung dari pada keberhasilan suatu

pekerjaan di laboratorium. Sehingga untuk memudahkan dan melancarkan

berlangsaungnya praktikum pengetahuan mengenai penggunaan alat sangat

diperlukan. Pengenalan alat-alat laboratorium penting dilakukan untuk

keselamatan kerja saat melakukan penelitian. Alat-alat laboratorium biasanya

dapat rusak atau bahkan berbahaya jika penggunaannya tidak sesuai dengan

prosedur. Pentingnya dilakukan pengenalan alat-alat laboratorium adalah agar

dapat diketahui cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar, sehingga

kesalahan prosedur pemakaian alat dapat diminimalisasi sedikit mungkin.

(Andriani, 2016). Berikut adalah alat-alat kimia di laboratorium:

Tabel 3. Alat-Alat Kimia di Laboratorium

No Nama Alat Kimia Gambar Fungsi

1 Labu ukur Mengencerkan larutan

sampai volume tertentu

dengan ketelitian yang

tinggi.

2 Erlenmeyer Sebagai tempat

menampung bahan

kimia untuk sementara

dan sebagai tempat

menghomogenkan

larutan.
3 Gelas kimia Sebagai tempat

menampung, mengaduk,

mencampur dan

memanaskan cairan.

4 Tabung reaksi Sebagai tempat

pengenceran dan

penyimpanan media.

5 Rak tabung reaksi Tempat meletakkan

tabung reaksi.

6 Pipet tetes Mengambil bahan dalam

jumlah sedikit

7 Pipet volume Menambil bahan dan

mengukur volume

larutan hanya satu kali

skala ukuran dengan

ketelitian tinggi.
8 Bulb Menyedot larutan

dengan cara

disambuungkan dengan

pipet ukur atau pipet

volume.

9 Gelas ukur Alat ukur volume cairan

dengan ketelitian

rendah.

10 Termometer Mengukur suhu

larutan/cairan yang

sedang dipanaskan.

11 Botol semprot Tempat penyimpanan

aquades.
12 Penjepit tabung Menjepit tabung reaksi

saat proses pemanasan.

13 Kasa asbes Sebagai alas pada

pemanasan alat-alat

kaca yang berisi cairam

agar panasnya merata.

14 Bunsen Sebagai alat pembakar

yang menghasilkan

nyala api untuk

memanaskan larutan.

15 Kaki tiga Sebagai penyangga alat

dalam proses

pemanasan.
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum ini dapat disimpulkan bahwa Laboratorium

memiliki potensi bahaya yang cukup tinggi dan telah banyak memakan korban

akibat kecelakaan kerja. Namun, kecelakaan terrsebut dapat dihindari dengam

cara menerapkan K3 Laboratorium dengan benar. Kesehatan dan Keselamatan

Kerja (3K) Laboratorium merupakan pondasi pengenalan yang sangat penting

untuk diketahui oleh baik praktikan maupun tenaga kerja laboratorium (laboran).

Kecelakaan yang terjadi di laboratorium terjadi akibat tidak dipatuhinya K3

Laboratorium. Oleh karena itu, pentingnya edukasi mengenai alat-alat

keselamatan laboratorium serta alat-alat kimia laboratorium yang akan digunakan

dengan tujuan agar praktikum dapat berjalan dengan sehat dan aman.

4.2 Saran

4.2.1 Saran Untuk Laboratorium

Kedepannya agar lebih memperhatikan kualitas serta kuantitas dari alat-

alat kimia laboratorium serta agar segera melengkapi peralatan praktikum yang

belum lengkap.

4.2.2 Saran Untuk Praktikum

Dapat dilakukan pembelajaran lebih mendalam mengenai cara-cara

perawatan dan penyimpanan peralatan praktikum.


4.2.3 Saran Untuk Asisten

Lebih mendekatkan diri kepada para praktikan agar suasana praktikum

menjadi lebih menyenangkan dan tetap menjadi pribadi yang baik yang dapat

dipanuti oleh para praktikan.


DAFTAR PUSTAKA

Syakbania, N., dan Wahyuningsih, A.S., 2017, Program Keselamatan dan Kesehatan
Kerja di Laboratorium Kimia, HIGEA I, 1(2); 51

Muafiroh, D.F., Suroto, dan Ekawati, 2017, Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Upaya Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) di Laboratorium Kimia Departemen X Fakultas Y Universitas
Diponegoro, Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(5); 105-106.
Ciptaningsih, F., Ekawati, dan Kurniawan, B., 2014, Evaluasi Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di Perusahaan Industri Baja,
Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2(4); 260.

Cahyaningrum, D., 2020, Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium


Pendidikan, Jurnal Pengelolaan Laboratorium Pendidikan, 2(1); 2.

Yuliani, H.R., 2014, E-Learning Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Deepublish,


Yogyakarta.

Hidayah, R., dan Maharani, D.K., 2018, Pengembangan Buku Petunjuk Praktikum Kimia
Anorganik yang Disertai dengan Material Safety Data Sheet, Jurnal
Pembelajaran Kimia, 3(1); 14.

Moran, L., dan Masciangioli, T., 2010, Keselamatan dan Keamanan Laboratorium
Kimia: Panduan Pengelolaan Kimia dengan Bijak, diterjemahkan oleh
Martoprawiro, M.A., The National Academies Press, Washington DC.

Harijati, N., Samino, S., Indriyani, S., dan Soewondo, A., 2017, Mikroteknik Dasar, UB
Press, Malang.

Salaswati, L., 2010, Hubungan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dengan
Terjadinya Kecelaksan Kerja di Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit
Umum Dr.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2009, Jurnal Kedokteran Syiah
Kuala, 10(1); 20.

Andriani, R., 2016, Pengenalan Alat-Alat Laboratorium Mikrobiologi Untuk Mengatasi


Keselamatan Kerja dan Keberhasilan Praktikum, Jurnal Mikrobiologi, 1(1);
1.

Sujoso, A.D.P., 2010, Dasar-Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja, UPT Penerbitan
UNEJ, Jember.

Trianti, A., dan Siregar, I.P., 2017, Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Pada Laboratorium Tata Rias dan Kecantikan, HEJ (Home Economics
Journal), 1(1); 29-30.

Perwitasari, A., dan Anwar, A., 2006, Tiingkat Resiko Pemakaian Alat Pelindung Diri
dan Higene Petugas di Laboratorium Klinik RSUPN Ciptomangunkusumo,
Jakarta, Jurnal Ekologi Kesehatan, 5(1); 2.
Lampiran